Anda di halaman 1dari 19

Tugas Laporan Praktikum Mikrobiologi Perikanan

Sterilisasi Peralatan dan Bahan Praktikum

Disusun Oleh : Widi Restu Gumelar (230110110094) Kelas : A

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran 2012 Jatinangor


i|MIKROPER

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan Laporan Praktikum Sterilisasi Peralatan dan Bahan Praktikum, Penyusunan laporan ini bertujuan untuk melengkapi tugas mata kuliah Mikrobiologi Perikanan pada semester III di Program Studi/Jurusan Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran. Dalam penyusunan laporan praktikum ini, saya menyadari sepenuhnya apabila tanpa bantuan, bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak tidak akan dapat terselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih kepada bapak/ibu dosen pembimbing dan Asdos Mikrobiologi Perikanan yang telah member izin kepada saya dalam proses penyusunan laporan ini dan membimbing kami selama Praktikum Kami menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu saran dan kritik kami harapkan dari pembaca agar laporan ini menjadi lebih baik. Demikian, semoga Laporan Mikrobiologi Perikanan ini dapat bermanfaat.

Jatinangor, 25 Oktober 2012

Penulis

i|MIKROPER

DAFTAR ISI

Kata pengantar............................................................................................................................... i Daftar isi ......................................................................................................................................... ii Daftar gambar ................................................................................................................................ iii Daftar tabel ..................................................................................................................................... iv Bab I Pendahuluan ........................................................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang ............................................................................................................. 1 1.2 Tujuan........................................................................................................................... 2 1.3 Landasan teori .............................................................................................................. 2 Bab II Metodologi Praktikum .......................................................................................................... 6 2.1 Alat Praktikum .............................................................................................................. 6 2.2 Prosedur Kerja .............................................................................................................. 9 Bab III Hasil dan pembahasan ......................................................................................................... 10 3.1 Hasil ............................................................................................................................... 10 3.2 Pembahasan.................................................................................................................... 11 3.3 Pendalaman .................................................................................................................... 12 Bab IV Kesimpulan.......................................................................................................................... 14 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................................... 15

ii | M I K R O P E R

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1......................................................................................................................................... 6 Gambar 2......................................................................................................................................... 6 Gambar 3......................................................................................................................................... 6 Gambar 4......................................................................................................................................... 7 Gambar 5........................................................................................................................................ 7 Gambar 6......................................................................................................................................... 7 Gambar 7......................................................................................................................................... 7 Gambar 8......................................................................................................................................... 8 Gambar 9.......................................................................................................................................... 8 Gambar 10....................................................................................................................................... 8 Gambar 11....................................................................................................................................... 8 Gambar 12....................................................................................................................................... 9

iii | M I K R O P E R

DAFTAR TABEL

Tabel hasil praktikum .......................................................................................................

10-11

iv | M I K R O P E R

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kontaminasi adalah terjadinya pencemaran oleh kontaminan. Komponen yang menjadi penyebab kontaminasi sangat beragam, baik yang berupa benda mati atau mahluk hidup. Kotoran dan senyawa kimia merupakan benda mati yang berperan sebagai kontaminan, sedangkan mikroba merupakan kontaminan berupa mahluk hidup. Kontaminasi sering terjadi dalam berbagai tahapan kegiatan. Dalam mikrobiologi perairan, kontaminasi umumnya disebabkan oleh kehadiran mikroba yang tidak diharapkan. Ikan, produk perikanan, pekerja dan peralatan yang digunakan dapat mengalami kontaminasi oleh mikroba yang tidak diinginkan kehadirannya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi terjadinya kontaminan adalah sterilisasi, baik terhadap bahan, peralatan atau pekerja yang terlibat. Sterilisasi adalah suatu cara untuk mendapatkan suatu kondisi bebas mikroba atau setiap proses yang dilakukan baik secara fisika, kimia, dan mekanik untuk membunuh semua bentuk kehidupan terutama mikroorganisme. Dalam bidang mikrobiologi baik dalam pengerjaan penelitian atau praktikum, keadaan steril merupakan syarat utama berhasil atau tidaknya pekerjaan kita dilaboratorium. Pengetahuan tentang prinsip dasar sterilisasi dan cara pengerjaannya sangat diperlukan untuk praktikan sebelum memulai percobaan dengan bahan yang sebenarnya, aga didapat hasil yang sesuai dengan yang diharapkan. Metoda sterilisasi yang dilakukan diupayakan berlangsung secara cepat dan efisien sesuai dengan prosedur agar dapat meminimalkan atau menghilangkan potensi kontaminasi mikroba seefektif mungkin. Proses sterilisasi yang tidak sempurna dapat menyebabkan munculnya kontaminasi mikroba baik yang berasal dari peralatan tersebut atau kontaminasi mikroba dari lingkungan. Teknik sterilisasi yang digunakan berbeda antara satu dengan lainnya, tergantung dari jenis material yang digunakan. Pada umumnya proses sterilisasi dapat dilakukan secara kering dan basah sesuai dengan jenis bahan yang akan disterilisasi. Untuk peralatan yang terbuat dari logam dan gelas tahan panas dapat dilakukan sterilisasi kering. Bahan yang tidak tahan panas, seperti media kaldu dan media agar, proses sterilisasinya dilakukan secara basah. Bahan berbentuk cair seperti larutan gula, garam fosfat, ammonium, trace metal, vitamin, dapat disterilisasi

menggunakan pemanasan dan penyaringan.


Berdasar dari hal tersebut diatas, maka diadakanlah praktikum Sterilisasi Peralatan dan Bahan Praktikum guna memberikan pemahaman tentang hal-hal yang berkaitan dengan sterilisasi serta menambah pengetahuan dan keterampilan praktikan tentang teknik atau tata cara sterilisasi dalam mikrobiologi. 1|MIKROPER

1.2 Tujuan
Setelah melaksanakan kegiatan praktikum, praktikan dapat memahami dan memiliki kemampuan untuk melakukan proses sterilisasi, baik terhadap bahan atau peralatan yang akan digunakan untuk menangani mikroba.

1.3 Landasan Teori


Sebelum melakukan percobaan dengan mikroorganisme, diperlukan proses dekontaminasi terlebih dahulu untuk meminimalisir organisme yang aktif dari suatu sistem bakteri atau virus. Dekontaminasi adalah proses menghilangkan atau membunuh mikroorganisme sehingga objek aman untuk ditangani, tujuannya untuk melindungi praktikan yang melakukan percobaan menggunakan bakteri atau semacamnya. Hal penting yang harus diperhatikan dalam melakukan dekontaminasi : 1. Target mikroorganisme. 2. Dekontaminan yang digunakan (bentuk dan target yang diinginkan). 3. Tingkat inaktivasi yang diperlukan. 4. Adanya substrat organik seperti darah, agar, dsb. 5. Tipe permukaan dari target seperti : padat, berpori atau mudah diterbangkan udara. 6. Konsentrasi tertinggi dari sel yang dapat ditanggulangi dengan inaktivasi. 7. Kemampuan dekontaminan kontak dengan mikroorganisme. 8. Prosedur antisipasi yang diperlukan dalam dekontaminasi agar efisien dalam waktu dan konsentrasi yang digunakan. 9. Toksisitas dari dekontaminan yang dapat membahayakan praktikan di area tersebut. Ada beberapa metode dekontaminasi, yaitu: 1. Sterilisasi : proses penghancuran secara lengkap semua mikroba hidup dan spora-sporanya. 2. Desinfeksi : metode untuk memusnahkan atau menghancurkan mikroorganisme patogen. 3. Sanitasi : metode untuk mengurangi tingkat organisme yang hidup. Praktikum kedua adalah tentang dekontaminasi dengan metode Sterilisasi, dimana sterilisasi ini merupakan proses penghancuran secara lengkap semua mikroba hidup dan spora-sporanya, atau secara lengkap sterilisasi adalah suatu proses untuk membunuh semua jasad renik yang ada, sehingga jika ditumbuhkan di dalam suatu medium tidak ada lagi jasad renik yang dapat berkembang biak. Sterilisasi harus dapat membunuh jasad renik yang paling tahan panas yaitu spora bakteri (Fardiaz, 1992). Sterilisasai adalah tahap awal yang penting dari proses pengujian mikrobiologi. Sterilisasi adalah suatu proses penghancuran secara lengkap semua mikroba hidup dan spora-sporanya. Ada 5 metode umum sterilisasi yaitu : A. Sterilisasi uap (panas lembap) 2|MIKROPER

B. Sterilisasi panas kering C. Sterilisasi dengan penyaringan D. Sterilisasi gas E. Sterilisasi dengan radiasi Metode yang paling umum digunakan untuk sterilisasi alat dan bahan pengujian mikrobiologi adalah metode sterilisasi uap (panas lembap) dan metode sterilisasi panas kering. A. Sterilisasi Uap Sterilisasi uap dilakukan dengan autoklaf menggunakan uap air dalam tekanan sebagai pensterilnya. Bila ada kelembapan (uap air) bakteri akan terkoagulasi dan dirusak pada temperature yang lebih rendah dibandingkan bila tidak ada kelembapan. Mekanisme penghancuran bakteri oleh uap air panas adalah karena terjadinya denaturasi dan koagulasi beberapa protein esensial dari organism tersebut.: Prinsip cara kerja autoklaf Seperti yang telah dijelaskan sebagian pada bab pengenalan alat, autoklaf adalah alat untuk memsterilkan berbagai macam alat & bahan yang menggunakan tekanan 15 psi (2 atm) dan suhu 1210C. Untuk cara kerja penggunaan autoklaf telah disampaikan di depan. Suhu dan tekanan tinggi yang diberikan kepada alat dan media yang disterilisasi memberikan kekuatan yang lebih besar untuk membunuh sel dibanding dengan udara panas. Biasanya untuk mesterilkan media digunakan suhu 1210C dan tekanan 15 lb/in2 (SI = 103,4 Kpa) selama 15 menit. Alasan digunakan suhu 1210C atau 249,8 0F adalah karena air mendidih pada suhu tersebut jika digunakan tekanan 15 psi. Untuk tekanan 0 psi pada ketinggian di permukaan laut (sea level) air mendidih pada suhu 1000C, sedangkan untuk autoklaf yang diletakkan di ketinggian sama, menggunakan tekanan 15 psi maka air akan memdididh pada suhu 1210C. Ingat kejadian ini hanya berlaku untuk sea level, jika dilaboratorium terletak pada ketinggian tertentu, maka pengaturan tekanan perlu disetting ulang. Misalnya autoklaf diletakkan pada ketinggian 2700 kaki dpl, maka tekanan dinaikkan menjadi 20 psi supaya tercapai suhu 1210C untuk mendidihkan air. Semua bentuk kehidupan akan mati jika dididihkan pada suhu 1210C dan tekanan 15 psi selama 15 menit. Pada saat sumber panas dinyalakan, air dalam autoklaf lama kelamaan akan mendidih dan uap air yang terbentuk mendesak udara yang mengisi autoklaf. Setelah semua udara dalam autoklaf diganti dengan uap air, katup uap/udara ditutup sehingga tekanan udara dalam autoklaf naik. Pada saat tercapai tekanan dan suhu yang sesuai, maka proses sterilisasi dimulai dan timer mulai menghitung waktu mundur. Setelah proses sterilisasi selesai, sumber panas dimatikan dan tekanan dibiarkan turun perlahan hingga mencapai 0 psi. Autoklaf tidak boleh dibuka sebelum tekanan mencapai 0 psi.

3|MIKROPER

Untuk mendeteksi bahwa autoklaf bekerja dengan sempurna dapat digunakan mikroba pengguji yang bersifat termofilik dan memiliki endospora yaitu Bacillus stearothermophillus, lazimnya mikroba ini tersedia secara komersial dalam bentuk spore strip. Kertas spore strip ini dimasukkan dalam autoklaf dan disterilkan. Setelah proses sterilisai lalu ditumbuhkan pada media. Jika media tetap bening maka menunjukkan autoklaf telah bekerja dengan baik. B. Sterilisasi Panas Kering Sterilisasi panas kering biasanya dilakukan dengan menggunakan oven pensteril. Karena panas kering kurang efektif untuk membunuh mikroba dibandingkan dengan uap air panas maka metode ini memerlukan temperature yang lebih tinggi dan waktu yang lebih panjang. Sterilisasi panas kering biasanya ditetapkan pada temperature 160-170oC dengan waktu 1-2 jam. Sterilisasi panas kering umumnya digunakan untuk senyawa-senyawa yang tidak efektif untuk disterilkan dengan uap air panas, karena sifatnya yang tidak dapat ditembus atau tidak tahan dengan uap air. Senyawa-senyawa tersebut meliputi minyak lemak, gliserin (berbagai jenis minyak), dan serbuk yang tidak stabil dengan uap air. Metode ini juga efektif untuk mensterilkan alat-alat gelas dan bedah. Karena suhunya sterilisasi yang tinggi sterilisasi panas kering tidak dapat digunakan untuk alat-alat gelas yang membutuhkan keakuratan (contoh:alat ukur) dan penutup karet atau plastik. C. Sterilisasi dengan penyaringan Sterilisasi dengan penyaringan dilakukan untuk mensterilisasi cairan yang mudah rusak jika terkena panas atu mudah menguap (volatile). Cairan yang disterilisasi dilewatkan ke suatu saringan (ditekan dengan gaya sentrifugasi atau pompa vakum) yang berpori dengan diameter yang cukup kecil untuk menyaring bakteri. Virus tidak akan tersaring dengan metode ini. D. Sterilisasi gas Sterilisasi gas digunakan dalam pemaparan gas atau uap untuk membunuh mikroorganisme dan sporanya. Meskipun gas dengan cepat berpenetrasi ke dalam pori dan serbuk padat. Sterilisasi adalah fenomena permukaan dan mikroorganisme yang terkristal akan dibunuh. Sterilisasi gas biasanya digunakan untuk bahan yang tidak bisa difiltrasi, tidak tahan panas dan tidak tahan radiasi atau cahaya. E. Sterilisasi dengan radiasi Radiasi sinar gama atau partikel elektron dapat digunakan untuk mensterilkan jaringan yang telah diawetkan maupun jaringan segar. Untuk jaringan yang dikeringkan secara liofilisasi, sterilisasi radiasi dilakukan pada temperatur kamar (proses dingin) dan tidak mengubah struktur jaringan, tidak meninggalkan residu dan sangat efektif untuk membunuh mikroba dan virus sampai batas tertentu. Sterilisasi jaringan beku dilakukan pada suhu -40 derajat Celsius. Teknologi ini sangat aman untuk diaplikasikan pada jaringan biologi.

4|MIKROPER

BAB II METODOLOGI PRAKTIKUM

2.1 Alat Praktikum


Adapun peralatan utama yang dibutuhkan dalam proses sterilisasi peralatan dan bahan antara lain adalah : a. Peralatan gelas: 1. Tabung reaksi

Gambar 1 Sebagai alat yang disterilikan.


2. Cawan petri

Gambar 2 Sebagai alat yang disterilikan.


3. Gelas ukur

Sebagai alat yang disterilikan. Gambar 3


5|MIKROPER

4. Pipet hisap

Gambar 4 Sebagai alat yang disterilikan.


5. Labu Erlenmeyer

Gambar 5 Sebagai alat yang disterilikan.


6. Gelas beker

Gambar 6 Sebagai alat yang disterilikan


b. Peralatan logam: 1. Jarum ose

Gambar 7 Sebagai alat yang disterilikan.


6|MIKROPER

2. Pinset

Gambar 8 Sebagai alat yang disterilikan.


c. Oven listrik

Gambar 9 Adalah alat pemanas yang dapat digunakan untuk sterilisasi peralatan secara kering
d. Mortir dan Stamper

Gambar 10 Sebagai alat yang disterilikan.


2.2 Bahan Bahan utama yang digunakan dalam proses sterilisasi peralatan dan bahan antara lain adalah : a. Kertas coklat

Gambar 11
Digunakan untuk membungkus alat yang akan di sterilkan.

7|MIKROPER

b. Tali

Gambar 12
Digunakan untuk mengikat alat yang sebelumnya telah di bungkus kertas coklat.

2.2 Prosedur Kerja


Adapun prosedur kerja tahapan sterilisasi menggunakan oven adalah sebagai berikut :

a. Mencatat dan memperhatikan apa yang disapaikan dosen pembimbing dan juga asisten lab. b. Sebelumnya peralatan gelas dan logam telah cuci bersih menggunakan air bersih yang mengalir. Pergunakan sabun dan sikat halus untuk menghilangkan noda. Peralatan yang sudah dicuci bersih di tiriskan sampai semua air menguap dan peralatan menjadi kering. c. Membungkus peralatan gelas dan logam yang telah ditiriskan menggunakan kertas coklat. Pembungkusan dilakukan secara benar, sehingga dapat membedakan mana cawan petri yang bagian tutup (atas) atau alas (bawah). Pembungkusan dilakukan sedemikian rupa sehingga pembungkus tetap mudah dibuka pada saat akan digunakan, dan diikat dengan tali. d. Sebelum dilakukan pembungkusan menggunakan kertas coklat, cairan yang mungkin masih ada pada bagian mulut pipet hisap harus dikeringkan menggunakan gumpalan kapas. e. Susun peralatan yang telah dikemas ke dalam oven. Panaskan oven hingga suhunya mencapai 121 oC dan proses sterilisasi di lakukan selama 20 menit. Selanjutnya oven di matikan. f. Setelah dingin, peralatan tersebut di pindahkan ke wadah yang telah disediakan dalam keadaan tetap terbungkus.

8|MIKROPER

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Data yang telah diperoleh dari hasil penelusuran dan informasi selama kegiatan praktikum disajikan dalam tabel berikut ini. Hasil sterilisasi Peraatan Prinsip dapat Keterangan Sterilisasi Sterilisasi disimpan lama Y T Oven menggunakan udara panas kering untuk melakukan sterilisasi, Melakukan hal ini menyebabkan mikroba sterilisasi kontaminasi mati. Dengan keadaan dengan yang kering dan tertutup kertas maka Oven penggunakan kontamina dari udara tidak akan udara panas mudah masuk dan mencemari. Alat dengan tenaga yang disterilkan akan tetap tahan listrik lama, asalkan kertas pembungkus dibuka hanya pada saat akan digunaan saja Pada pelaksanaannya sterilisasi dengan Waterbath sangat berbeda Melakukan dengan Oven, dimana Oven sterilisasi menggunakan udara panas kering dengan sedangkan Waterbath menggunakan menggunakan air panas, juga sterilisasi dengan Waterbath panas dari uap waterbath tidak ada pembungkusan air pada suhu alat. Tidak ada pembungkusan alat dibawah tekanan menyebabkan alat yang steril tidak normal (1 atm). dapat bertahan lama, karena itu stelah steril sebaiknya alat langsung digunakan. Sterilisasi Alasannya sama dengan sterilisasi Autoklaf pada oleh Waterbath dimana Autoklaf ini dasarnya sama juga menggunakan udara panas basah dengan dari uap untuk sterilisasi, tidak ada Waterbath yaitu pembungkusan alat, sehingga pada Autoklaf dengan saat dikeluarkan alat langsung menggunakan behubungan dengan udara bebas. uap air, bedanya Tidak ada pembungkusan alat Autoklaf menyebabkan alat yang steril tidak menggunakan dapat bertahan lama, karena itu stelah tekanan yang steril sebaiknya alat langsung
9|MIKROPER

Lampu Bunsen

Alkohol

lebih besar daripada waterbath yaitu (15 psi) Sterilisasi dengan lampu bunsen, adalah dengan menggunakan panas api yang beraasal dari pembakaran spirtus. Sterilisasi dengan menggunkan cairan yang dapat membasmi mikroba kontaminan.

digunakan.

Sterilisasi dengan lampu bunsen pada dasarnya hanya dilakukan pada saat tertentu saja, contohnya pada saat memindahkan sampel pada media kultur, dan itu dilakukan sesegera mungkin untuk menghindari kontaminasi lewat udara juga.

Sterilisasi sementara, karena langsung berinteraksi kembai dengan lingkungan, seperti sentuhan, udara, keringat, ataupun yang lainnya.

Tabel hasil praktikum

3.2 Pembahasan Dalam Praktikum kedua yaitu Sterilisasi Peralatan dan Bahan Praktikum kita membahas mengenai sterilisasi alat-alat dan bahan yang ada dilaboratorium. Diantaranya adalah Tabung reaksi, pipet, Cawan petri, Jarum Ose, Otoclaf, oven, dll. Sterilisasi alat khususnya dalam bidang mikrobiologi perikanan baik dalam pengerjaan
penelitian atau praktikum merupakan suatu hal yang sangat penting. Alat atau bahan yang tidak terlebih dahulu disterilkan akanmenyebabkan kesalahan bahkan kegagalan dalam praktikum, itu karena sampel dapat terkontaminasi oleh mikroba lain yang terdapat dalam alat atau media kultur. Sterilisasi dapat dilakukan dengan dua metode yaitu Sterilisasi kering dan sterilisasi basah. Namun pada praktikum ini sterilisasi yang dilakukan adalah sterilisasi kering menggunakan Oven. Oven (Hot Air Sterilizer), digunakan untuk mensterilisasi alat-alat yang terbuat dari kaca dan kertas atau alat-alat yang tahan terhadap suhu tinggi. Alat alat gelas seperti erlenmeyer, cawan petri, tabung reaksi atau alat gelas lainnya yang ingin dipanaskan harus dibungkus dengan kertas dahulu untuk mencegah terjadi keretakan karena bertumpukkan dengan alat lainnya dan agar tidak terjadi kontaminasi pada saat pensterilan. Alat yang telah dibungkus dengan kertas dimasukkan ke dalam oven, dengan temperatur yang digunakan 120O C selama 20 menit. Setelah pemanasan selesai, 10 | M I K R O P E R

mematikan oven dan menunggu hingga suhunya turun sampai mencapai suhu kamar. Hal ini dilakukan untuk menghindari keretakan alat atau masuknya udara yang mengandung partikel debu. Oven merupakan alat sterilisasi secara fisik yaitu panas kering.
Tahapan pada sterilisasi ini ialah: 1. Tahap pencucian Berfungsi sebagai penghilang kotoran-kotoran dan zat-zat kimia yang menempel pada peralatan tersebut 2. Tahap pembungkusan alat Pembungkusan alat dilakukan dengan pembungkus kertas berwarna coklat, dengan sisi halus berada di dalam dan sisi kasar berada di luar, fungsinya adalah agar tidak terkonaminasi oleh mikroba lain (terkontaminasi). Pembungkusan merupakan hal yang penting dalm proses sterilisasi, karena pembungkusan ini harus dapat menjamin alat tetap steril sampai waktunya digunakan. 3. Tahap pengeringa Tahapan pengeringan ini menggunakan oven. Sebelumnya oven di set sesuai suhu yang ditetapkan dalam prosedur yanitu 121OC. Kemuadia alat yang telah dibungkus dapat langsung dimasukan ke dalam oven. Fungsi pengeringan ini adalah tidak lain yaitu selain untuk pengeringan juga supaya dapat membunuh mikroba kontaminan sehingga bebas dari kontaminasi dan ada dalam keadaan steril. 4. Pengangkatan alat Alat diangkat setelah oven dimatikan dan dibiarkan sampai suhu turun, untuk menghindari kerusakan pada alat akibat menerima panas dan dingan tiba-tiba. Dan di pindahkan pada wadah yang telah disediakan.

3.3 Pendalaman
Untuk meningkatkan pemahaman mengenai sterilisasi bahan dan peralatan, praktikan diwajibkan menjawab pertanyaan berikut ini : a. Apa tujuan utama membungkus peralatan gelas menggunakan kertas coklat, sebelum proses sterilisasi dilakukan?
Untuk mencegah terjadi keretakan karena bertumpukkan dengan alat lainnya dan agar tidak terjadi kontaminasi pada saat pensterilan. Selain itu juga agar alat yang di sterilkan dapat disimpan sampai waktu penggunaan.

b. Apa tujuan utama penggunaan aluminium foil sebagai pembungkus tutup Labu Erlenmeyer dalam sterilisasi media kaldu dan media agar? Agar media kaldu dan media agar tidak menguap saat dipanaskan, dan alumunium foil tahan terhadap panas. c. Jelaskan mekanisme penggunaan oven listrik dan waterbath terhadap proses sterilisasi yang terjadi.

11 | M I K R O P E R

Oven Listrik: oven listrik menggunakan energi listrik untuk menghasilkan panas, dimana udara di dalam oven akan menjadi panas. Oven di set pada suhu 121OC yang berperan dalam proses sterilisasi selama 20 manit. Sterilisasi menggunakan Oven ini merupakan sterilisasi kering. Waterbath: Penggunaan waterbath untuk proses sterilisasi memiliki prinsip yang sama dengan autoclave, namun berlangsung di bawah tekanan normal (1 atm). Waterbath akan memanaskan air hingga mencapai suhu yang diinginkan. Selanjutnya air panas inilah yang akan berperan dalam proses sterilisasi. Sterilisasi dengan menggunakan waterbath ini merupakan sterilisasi basah, karena menggunakan air panas. d. Meskipun labu Erlenmeyer telah ditutup dan proses sterilisasi secara dilakukan secara baik, namun masih sering dijumpai terjadinya kontaminasi pada media kaldu maupun media agar. Jelaskan oleh Saudara kemungkinan utama penyebab kontaminasi tersebut. Hal ini kemungknan disebabkan karena pengaruh udara lingkungan yang membawa kontaminan. Kontaminan ini masuk pada saat pemindahan sampel pada media kultur, karena pemanasan dengan bunsen yang penggunaannya kurang tepat. Atau hal ini juga dapat disebabkan pada saat penyimpanan media dalam wadah yang telah disterilkan tidak dilakukan pembalikan, dimana bagian bawah menjadi di bagian atas dan sebaliknya, yang mana hal tersebut mengakibatkan uap air di dalam wadah tertutup tersebut. e. Saudara jelaskan, mengapa ujung pipet hisap yang akan disterilisasi selalu dimasukkan atau disumbat dengan kapas sebelum dibungkus?

Fungsinya untuk menghindari kontaminasi dari mulut pipet setelah itu dibungkus kertas pada saat pemanasan akan timbul uap pada ujung pipet dan kapas ini akan menyerap uap air tersebut.
f. Mengapa hasil sterilisasi ada yang bersifat tahan lama ada yang tidak? Karena hal tersebut tergantung padaa perlakuan pada saat sterilisasi dan setelah aterilisasi. Contohnya sterilisasi dengan alkohol hanya bersifat sementara saja karena akan langsung berhubungan secara langsung dengan keadaan lingkungan, serta tidak dimaksudkan untuk penyimpanan. Sedang dengan oven dilakukan pembungkusan sebelum pemanasan dengan oven, hal ini agar alat dapat disimpan sampai waktu penggunaan. g. Sebutkan dan jelaskan metode strerilisasi paling tepat untuk peralatan yang terbuat dari gelas? Sterilisasi kering atau juga basah, seperti dengan Oven atau juga Autoklaf biasanya digunakan untuk alat-alat gelas, karena pada umumnya alat-alat gelas memiliki tingkat ketahanna yang tinggi terhadap suhu panas. h. Sebutkan dan jelaskan metode paling tepat untuk sterilisasi media kultur. Dengan metode pemanasan basah yaitu dengan autoklaf, atau juga dengan sterilisasi kering dengan oven. Jika menguap akan tertahan oleh alumunium voil sebagai penutup.
12 | M I K R O P E R

IV KESIMPULAN
Dari hasil praktikum yang telah dillakukan, dapat disimpulkan bahwa : 1. Sterilisasi merupakan suatu proses pemusnahan kehidupan khususnya mikroba dalam suatu

wadah ataupun peralatan laboratorium. 2. Teknik sterilisasi yang digunakan pada percobaan ini yaitu sterilisasi dengan cara fisik panas kering dengan mengunakan oven (Hot Air Sterilizer)

13 | M I K R O P E R

DAFTAR PUSTAKA

Yusuf, Ferawati 2009. Laporan Praktikum Sterilisasi http://fheeyraredzqiiy.wordpress.com/2009/12/08/laporan-praktikum-sterilisasi/ (di akses pada tanggal 24 Oktober 2012)

Nobertus 2011. Teknik Sterilisasi Alat http://noberanagbio.blogspot.com/2011/11/bab-ipendahuluan_13.html (di akses pada tanggal 24 Oktober 2012) Bahar, Ardiansyah. Sterilisasi Alat. http://arbaa-fiveone.blogspot.com/2009/02/sterilisasi-alat.html (Diakses pada tanggal 07 November 2009). Dwidjoseputro, D. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta: Penerbit Djambatan, 1998. Irianto, Koes. Mikrobiologi Jilid 1. Bandung: Yrama Widya, 2006 Irwanto, Sterilisasi dan Desinfeksi. http://irwanto-fk04usk.blogspot.com/2009/08/sterilisasi-dandesinfeksi.html (Diakses pada tanggal 24 Oktober 2012).

14 | M I K R O P E R