Anda di halaman 1dari 3

Pokok Bahasan 1 PEMAHAMAN TATA KELOLA

1. Pengantar

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 7 Tahun 2006 dan Permendagri No. 61 Tahun 2007, Pola Tata Kelola merupakan peraturan internal yang dimaksudkan sebagai upaya untuk menjadikan lembaga pelayanan publik menjadi lebih efisien, efektif dan produktif. Pola tata kelola ini akan mengatur mengenai organisasi, tata laksana, akuntabilitas dan transparansi organisasi yang menerapkan PPK BLUD.

2.

Tujuan Pembelajaran Umum

Setelah mengikuti pembelajaran ini diharapkan para peserta mampu untuk memahami tentang konsep pola tata kelola.

Khusus
Diharapkan para peserta mampu: Memahami mengenai definisi pola tata kelola khususnya bagi lembaga usaha non for profit. Memahami latar belakang perlunya pola tata kelola bagi lembaga usaha non for profit. Menjelaskan kepada organisasi atau orang lain mengenai konsep tata kelola.

3.

Pokok Bahasan
a. Definisi Tata Kelola

Istilah Tata Kelola atau Tata Pemerintahan Perusahaan di Indonesia merupakan terjemahan dari Corporate Governance. Secara etimologis kata Governance berasal dari bahasa Perancis kuno Gouvernance yang berarti pengendalian (control) atau regulated dan dapat dikatakan merupakan suatu keadaan yang berada dalam kondisi terkendali (the state of being governed). Sering kali metafora yang digunakan untuk menggambarkan esensi dari pengertian ini adalah mengendalikan dan menahkodai sebuah kapal (the idea of steering or captaining a ship) (Farrar, 2001). Secara harfiah Governance di tanah air kerap diterjemahkan sebagai pengaturan, akan tetapi sebenarnya masih diperlukan kajian untuk mencari istilah yang tepat dalam bahasa Indonesia yang benar. Perlu juga dipahami bahwa menurut Winarno (2000) Governance tidak bisa atau tidak tepat diterjemahkan sebagai pemerintah, sekalipun banyak pihak yang mengartikan demikian. Dalam konteks Tata

Kelola yang baik (Good Corporate Governance) sering juga disebut Tata Pamong atau Penadbiran. Kata terakhir tadi ditelinga terasa terdengar janggal, maklum istilah tersebut berasal dari kata Melayu. Sedangkan untuk istilah Corporate jikalau dilihat dari segi etimologis merupakan turunan dari bahasa latin Corpus yang berarti sekumpulan peraturan dan undang-undang. Erate yang berarti sesuatu yang dihargai atau dipatuhi. Menurut The Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) Tata Kelola (Corporate Governance) didefinisikan sebagai berikut: Corporate Governance is the system by which business corporations are directed and controlled. The corporate Governance structure specifies the distribution of rights and responsibilities among different participants in the corporation, such as the board, the managers, shareholder and other stakeholders, and spells out the rules and procedure for making decisions and corporate affairs. By doing this, it also provides the structure through which the company objectives are sets and the means of attaining those objectives and monitoring performance Sesuai dengan definisi di atas Tata Kelola adalah sistem yang dipergunakan untuk mengarahkan dan mengendalikan kegiatan bisnis perusahaan. Tata Kelola mengatur pembagian tugas, hak dan kewajiban mereka terhadap kehidupan perusahaan, termasuk para pemegang saham, Dewan Pengurus, para manajer dan semua anggota stakeholders nonpemegang saham. Tata Kelola juga mengetengahkan ketentuan dan prosedur yang harus diperhatikan oleh Dewan Pengurus-Board of Directors dan direksi dalam pengambilan keputusan yang bersangkutan dengan kehidupan perusahaan. Pembagian tugas, hak dan kewajiban juga berfungsi sebagai pedoman mengevaluasi kinerja Board of Directors dan manajemen perusahaan. Dari berbagai definisi yang dikembangkan oleh para pakar dapat disimpulkan bahwa Tata Kelola yang baik merupakan: 1) Suatu struktur yang mengatur pola hubungan yang harmonis tentang peran Dewan Komisaris, Direksi, Rapat Umum Pemegang Saham dan para stakeholder lainnya. 2) Suatu sistem Check and balance mencakup perimbangan kewenangan atas pengendalian perusahaan yang dapat membatasi munculnya pengelolaan yang salah dan penyalahgunaan aset perusahaan. 3) Suatu proses yang transparan atas penentuan tujuan perusahaan, pencapaian dan pengukuran kinerjanya. Tata Kelola yang baik mempunyai lima macam tujuan utama yaitu: 1) Melindungi hak dan kepentingan pemegang saham, 2) Melindungi hak dan kepentingan anggota the stakeholder non pemegang saham, 3) Meningkatkan nilai preusan dan para pemegang saham, 4) Meningkatkan efisiensi dan efektifitas kerja Dewan Pengurus atau Board of Directors dan manajemen preusan dan

5) Meningkatkan mutu hubungan Board of Directors dengan manajemen senior perusahaan. b. Latar Belakang Perlunya Tata Kelola bagi Lembaga Usaha Non For Profit Lembaga usaha non for profit (atau di beberapa referensi lain disebut sebagai non profit) secara umum dapat digambarkan sebagai organisasi yang bertujuan lebih kepada memberikan pelayanan pada publik dibandingkan dengan mengumpulkan keuntungan bagi para pemiliknya. Ini yang membedakan lembaga usaha non for profit dengan organisasi yang bertujuan mengumpulkan laba. Bisnis bagi lembaga usaha non for profit adalah upaya atau aktivitas untuk memuaskan pengguna. Meskipun bukan semata bertujuan untuk mengumpulkan keuntungan (finansial), lembaga non for profiti pun perlu menerapkan tata kelola yang baik. Hasil analisis di banyak negara oleh berbagai organisasi internasional, sebab utama terjadinya tragedi ekonomi dan bisnis diyakini muncul karena lemahnya Tata Kelola atau kegagalan penerapan Tata Kelola yang baik. Penyebab tersebut diantaranya, sistem hukum yang payah, standar akuntansi dan audit yang tidak konsisten, praktek perbankan yang lemah, pandangan Board of Director (BOD) yang kurang peduli terhadap hak-hak pemegang saham minoritas. Cadburry Report (UK) dan Treadwat Report (US) secara mendasar menyebutkan bahwa keruntuhan perusahaan-perusahaan publik tersebut dikarenakan oleh kegagalan strategi, praktek curang dari manajemen puncak yang berlangsung tanpa terdeteksi dalam waktu yang cukup lama yang disebabkan karena lemahnya pengawasan independen oleh corporate board. Tujuan utama dari pengelolaan kelembagaan yang baik adalah untuk memberikan perlindungan yang memadai dan perlakuan yang adil kepada para stakeholder lembaga melalui peningkatan nilai lembaga secara maksimal (Yasni, 2005). Lembaga non profit memiliki kelemahan utama yaitu sulit mengukur kinerjanya dibandingkan dengan lembaga for profit. Kinerja lembaga for profit diukur dengan keuntungan (SHU) dan dikaitkan dengan harga saham. Namun untuk lembaga non for profit bukan hanya indikator keuangan saja, melainkan pencapaian misi juga menjadi salah satu indikator kinerja (mission driven). Hal ini karena kembaga pelayanan publik yang not for profit mempunyai misi yang didasari nilai-nilai tertentu. Oleh karena itu dalam pemilihan anggota dewan pengawas diperlukan adanya anggota yang memahami nilai-nilai yang diemban tersebut.