Anda di halaman 1dari 30

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Computed Assisted Tomografi (CAT) atau Computed Tomografi (CT) diperkenalkan sejak tahun 1968 oleh Goldfrey Housfield dan di Indonesia digunakan sejak tahun 1970. CT-Scan merupakan perpaduan antara teknologi sinar-x, komputer, dan televisi sehingga mampu menampilkan gambar anatomis tubuh manusia dalam bentuk irisan atau slice. (Rasad, 1992) Prinsip kerja dari CT-Scan yaitu hanya dapat men-scaning tubuh dengan irisan melintang tubuh (potongan axial). Namun dengan memanfaatkan teknologi komputer maka gambaran axial yang telah didapatkan dapat diformat kembali hingga didapatkan gambaran coronal, sagital, oblique, diagonal bahkan bentuk tiga dimensi dari objek tersebut. (Tortorici,1995) Keunggulan dari teknologi inilah yang dimanfaatkan untuk dapat memberikan diagnosa yang lebih tepat dibandingkan dengan radiografi konvensional karena dapat membedakan soft tissue, lemak, udara dan tulang pada irisan cossectional dan dapat direformat menjadi tiga dimensi sehingga terlihat jelas tanpa terhalang oleh jaringan. Salah satu manfaatannya yaitu untuk pemeriksaan CT-Scan kepala. Untuk melihat kelainan-kelainan yang terjadi dibagian kepala biasanya dilakukan pemeriksaan radiologi konvensional, angiografi CT-Scan ataupun MRI. Pemeriksaan radiologi konvensional dilakukan jika peralatan yang tersedia hanya konvensional atau karena kelainan yang diderita pasien mudah dideteksi, misalnya karena trauma ringan. Akan tetapi, untuk kasus trauma kepala yang disertai penurunan kesadaran atau gejala neurologis lainnya seperti pada kasus cedera kepala sedang (CKS) dianjurkan untuk dilakukam pemeriksaan penunjang awal dengan CTScan. Pada pemeriksaan CT-Scan diperlukan suatu teknik untuk menentukan daerah dan luas lapangannn yang akan discanning. Untuk pemeriksaan CT-Scan kepala teknik yang digunakan adalah dua range. Range pertama dimulai dari basis cranii sampai pars petrosum, sedangkan range kedua dari pars petrosum sampai vertex. Ketebalan range pertama lebih tipis dibandingkan dengan range kedua. (Naseth, 2000)
1

Pada pasien kecelakaan dengan kasus cidera kepala sedang (CKS), pelaksanaan pemeriksaan CT-Scan di RSUD Tidar Magelang tidak menggunakan media kontras. Di RSUD Tidar Magelang menggunakan CT-Scan double slice dengan slice thickness 8 mm, jumlah slice 24 dan scanogram 1 gambar. Berdasarkan hal tersebut di atas penulis ingin mengkaji lebih lanjut mengenai pemeriksaan CT-Scan di RSUD Tidar Magelang dengan membuat laporan kasus yang berjudul: TEKNIK PEMERIKSAAN CT-SCAN KEPALA NON KONTRAS DENGAN KASUS CEDERA KEPALA SEDANG (CKS) DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD TIDAR MAGELANG.

B. Rumusan Masalah Laporan kasus ini disusun dengan rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana teknik pemeriksaan CT-Scan Kepala non kontras dengan kasus Cedera Kepala Sedang (CKS) di Instalasi Radiologi RSUD Tidar Magelang? 2. Bagaimana nilai informasi diagnos pada pemeriksaan CT-Scan Kepala non kontras dengan kasus Cedera Kepala Sedang (CKS) di Instalasi Radiologi RSUD Tidar Magelang?

C. Tujuan Penulisan Adapun tujuan laporan kasus ini yaitu: 1. Mengetahui teknik pemeriksaan CT-Scan Kepala dengan kasus Cedera Kepala Sedang (CKS) di Instalasi Radiologi RSUD Tidar Magelang. 2. Mengetahui nilai informasi diagnosa pada pemeriksaan CT-Scan Kepala non kontras dengan kasus Cedera Kepala Sedang (CKS) di Instalasi Radiologi RSUD Tidar Magelang.

D. Manfaat Penulisan Penulisan laporan kasus ini diharapkan bermanfaat:

1. Bagi penulis dapat mengetahui lebih lanjut tentang prosedur Teknik pemeriksaan CT-Scan Kepala dengan kasus Cedera Kepala Sedang (CKS) di Instalasi Radiologi RSUD Tidar Magelang. 2. Bagi Akademi sebagai bahan masukan bagi penulis laporan kasus dengan topic yang sama. 3. Bagi Rumah Sakit dapat dijadikan literatur yang dapat membantu dalam menegakkan diagnosa sesuai dengan teori yang ada.

E. Sistematika Penulisan Untuk mempermudah dalam memahami isi laporan kasus ini, maka penulis menyajikan dalam beberapa pokok bahasan yang terdiri: BAB I PENDAHULUAN Berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, dan sistematika penulisan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Berisi tentang anatomi dan fisiologi, CT-Scan, Cedera Kepala Sedang (CKS), prosedur pemeriksaan CT-Scan kepala. BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN Berisi tentang hasil dan pembahasan. BAB V PENUTUP Berisi kesimpulan dan saran. DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI DAN FISIOLOGI 1. Anatomi Fisiologi Kepala Tengkorak dibentuk oleh beberapa tulang picak yang bentuknya melengkung, satu sama lain, dan berhubungan erat sekali. Tengkorak terdiri atas dua bagian yaitu: tengkorak otak dan tengkorak wajah. a. Gubah tengkorak, yang terdiri atas tulang-tulang: 1) Os Frontal (bagian depan) 2) Os Parietal (bagian tengah) 3) Os Occipital (bagian belakang) b. Dasar tengkorak, yang terdiri atas tulang-tulang: 1) Os Sphenoidalis, tulang yang terdapat di tengah-tengah dasar tengkorak dan berbentuk seperti kupu-kupu, dengan tiga pasang sayap. 2) Os Ethmoidalis, terletak di sebelah depan dari Os Sphenoidalis di antara lekuk mata. Selain kedua tulang di atas, dasar tengkorak dibentuk pula oleh tulangtulang lain seperti tulang kepala belakang, tulang dahi, dan tulang pelipis. c. Samping tengkorak, yang dibentuk oleh tulang-tulang: 1) Tulang pelipis 2) Sebagian tulang dahi 3) Tulang ubun-ubun 4) Tulang baji d. Tengkorak wajah Tengkorak wajah pada manusia bentuknya lebih kecil dari tengkorak otak. Di dalam tengkorak wajah terdapat rongga-rongga yang membentuk rongga mulut (cavuum oris), rongga hidung (cavum nasi), dan rongga mata (cavum orbita). Tengkorak wajah terdiri dari dua bagian: 1) Bagian hidung
4

a) Os Lacrimal (tulang mata), letaknya di sebelah kanan atau kiri pangkal hidung, di sudut mata. b) Os Nasal (tulang karang hidung), letaknya di dalam rongga hidung dan bentuknya berlipat-lipat. c) Septum Nasi (sekat rongga hidung) adalah sambungan dari tulang tapis yang tegak.

2) Bagian rahang a) Os Maksilaris (tulang rahang atas) b) Os Zygomaticum, tulang pipi yang terdiri dari dua tulang kiri dan kanan. c) Os Palatum (tulang langit-langit), terdiri dari dua buah tulang kiri dan kanan. d) Os Mandibularis (tulang rahang bawah), terdiri dari dua bagian yaitu bagian kiri dan kanan yang kemudian bersatu dipertengahan dagu. Di bagian depan dari mandibula terdapat prosesus coracoid, tempat melekatnya otot. Tulang-tulang tengkorak kepala dihubungkan satu sama lain oleh tulang bergerigi yang disebut sutura. Sutura-sutura itu adalah: 1) Sutura Coronalis, yaitu yang menghubungkan antara os frontal dan os parietal. 2) Sutura Sagitalis, yaitu yang menghubungkan os parietal kiri dan kanan. 3) Sutura Lambdoidea, yaitu yang menghubungkan antara os parietal dan os occipital.

2. Anatomi Fisiologi Otak a. Otak (Brain) Otak adalah suatu alat tubuh yang sangat penting karena merupakan pusat komputer dari semua alat tubuh. Otak merupakan dari saraf sentral
5

yang terletak didalam rongga tengkorak (kranium) yang dibungkus oleh suatu lapisan yang kuat. Otak terdiri dari otak besar (Cerebrum), batang otak (Trunchus Enchepali), dan otak kecil (Cerebellum). (Syaifudin, 1997) 1) Otak Besar (Cerebrum) Otak besar merupakan bagian yang terluas dan terbesar dari otak, berbentuk telur, mengisi penuh bagian depan atas rongga tengkorak. Otak mempunyai dua permukaan yaitu permukaan atas dan permukaan bawah. Kedua permukaan ini dilapisi oleh lapisan kelabu (zat kelabu) yaitu pada bagian korteks cerebral dan zat putih terdapat pada bagian dalam yang mengandung serabut saraf. (Syaifudin, 1997) Fungsi Otak Besar, yaitu: Mengingat pengalaman-pengalaman yang lalu. Pusat persarafan yang menangani aktifitas mental, akal, intelegensi, keinginan dan memori. Pusat menangis, buang air besar dan buang air kecil.

Gambar 1. Penampang melintang otak (Syaifudin, 1997)

Keterangan gambar 1:

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Medulla oblongata Pons Otak tengah Meningens Otak depan Cerebrum

7. Konvolusi 8. Dienchepalon 9. Cerebellum 10. Hind brain 11. Medulla spinalis

2) Batang Otak (Truncus Enchepali) Batang otak terdiri dari beberapa bagian. a) Disenchepalon, bagian batang otak paling atas terdapat diantara cerebellum dengan mesenchepalon. (Syaifudin, 1997) Fungsi disenchepalon: Vase konstruktor, mengecilkan pembuluh darah. Respiratory, membantu proses persarafan. Mengontrol kegiatan refleks. Membantu pekerjaan jantung.

b) Mesenchepalon, atap dari mesenchepalon terdiri dari empat bagian yang menonjol ke atas, dua di sebelah atas disebut corpus kuadrigeminus superior dan dua di sebelah bawah disebut corpus kuadrigeminus inferior. (Syaifudin, 1997) Fungsi mesenchepalon: Membantu pergerakan mata dan mengangkat kelopak mata. Memutar mata dan pusat pergerakan mata.

c) Pons varoli, brakium pontis yang menghubungkan mesenchepalon dengan pons naroli dan cerebellum terletak di depan cerebellum diantara otak tengah dan medulla oblongata, disini terdapat premoktosid yang mengatur gerakan pernafasan dan refleks.

(Syaifudin, 1997) Fungsi pons varoli:


7

Penghubung antara kedua bagian cerebellum dan juga antara medulla oblongata dengan cerebellum atau otak besar.

Pusat saraf nervus trigeminus.

d) Medulla oblongata, bagian batang otak paling bawah yang menghubungkan pons varoli dengan medulla spinalis. (Syaifudin, 1997) Fungsi medulla oblongata: Mengontrol pekerjaan jantung. Mengecilkan pembuluh darah (vase konstruktor). Pusat pernafasan (respiratory). Mengontrol kegiatan refleks.

e) Otak Kecil (Cerebellum) Cerebellum terletak pada bagian paling bawah dan belakang tengkorak, dipisahkan dengan cerebrum oleh fisura trans versalis dibelakangi oleh pons varoli dan di atas medulla oblongata. (Syaifudin, 1997) Fungsi otak kecil: Arkhiocerebellum (vestibulocerebellum), untuk keseimbangan dan rangsangan pendengaran otak. Paleacerebellum (spinocerebellum), sebagai pusat penerima impuls dan nervus vagus kelopak mata rahang atas, rahang bawah, dan otot pengunyah. Neocerebellum (pontocerebellum), korteks cerebellum menerima informasi tentang gerakan yang sedang dan yang akan dikerjakan dan mengatur gerakan sisi badan.

Gambar 2. Otak dengan piameter (Syaifudin, 1997)

Keterangan gambar: 1. Vena-vena serebri superior 2. Lobus frontalis 3. Vena serebri media 4. Vena-vena serebri inferior 5. Rolandi 6. Serebellum 7. Medulla oblongata 8. Lobus temporalis

b. Selaput Otak (Meningen) Selaput yang membungkus otak dan sumsum tulang belakang, melindungi struktur saraf halus yang membawa pembuluh darah dan cairan sekresi (cairan cerebro spinalis). Memperkecil benturan atu gerakan yang terdiri dari tiga lapisan. ( Syaifudin, 1997) 1) Durameter (lapisan sebelah luar) Selaput keras pembunaringgkus otak yang berasal dari jaringan ikat dan kuat dibagian tengkorak terdiri dari selaput tulang tengkorak dan durameter propia dibagian dalam di canalis vertebralis, kedua lapisan ini terpisah. (Syaifudin, 1997)
9

2) Arakhnoid (lapisan tengah) Merupakan selaput halus yang memisahkan durameter dengan piameter membentuk sebuah kantong atau balon berisi cairan otak yang meliputi seluruh susunan saraf sentral. (Syaifudin, 1997)

3) Piameter (lapisan sebelah dalam) Merupakan selaput tipis yang terdapat pada permukaan jaringan otak. Piameter berhubungan dengan arakhnoid melalui struktur-struktur jaringan ikat yang disebut trakekel. (Syaifudin, 1997)

c. Ventrikel Otak Ventrikel merupakan rangkaian dari empat rongga dalam otak yang saling berhubungan dan dibatasi oleh ependima (semacam sel epitel yang membatasi semua rongga otak dan medulla spinalis) dan mengandung CSF

(Cerebrospinal Fluid). Ventrikel otak terdiri dari ventrikel lateral, ketiga dan keempat. (Price Sylvia, 1995)

d. Cairan Serebrospinal Cairan serebrospinal adalah hasil sekresi plexus khoroid kedalam ventrikel-ventrikel yang ada dalam otak. Cairan tersebut masuk kedalam kanalis sentralis sumsum tulang belakang dan juga kedalam ruang subarachnoid melalui celah-celah yang terdapat pada ventrikel ke empat. Jumlah cairan serebrospinal dalam ventrikel dan ruang subarachnoid berkisar antara 120-180 ml pada orang dewasa, 100-140 ml pada anak umur 8-10 tahun, dan 40-60 ml pada bayi. Pada orang dewasa, produksi cairan serebrospinal selama 24 jam berjumlah 430-500 ml, ini berarti dalam 24 jam cairan serebrospinal diganti sebanyak tiga kali. (Woodruff WW, 1993)

10

B. PATOLOGI CEDERA KEPALA SEDANG (CKS) 1. Definisi Cedera kepala adalah serangkai kejadian patofisiologik yang terjadi setelah trauma kepala, yang dapat melibatkan kulit kepala, tulang, dan jaringan otak atau kombinasinya. (Standar Pelayanan Medis, RS Dr. Sardjito) Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan lalu lintas. (Mansjoer Arif,dkk: 2000) 2. Etiologi Kecelakaan lalu lintas Kecelakaan kerja Trauma pada olah raga Kejatuhan benda Luka tembak

3. Klasifikasi Klinis Berat ringannya cedera kepala bukan didasarkan berat ringannya gejala yang muncul setelah cedera kepala. Ada beberapa klasifikasi yang dipakai dalam menentukan derajat cedera kepaka. Cedera kepala diklasifikasikan dalam berbagi aspek ,secara praktis dikenal 3 deskripsi klasifikasi yaitu berdasarkan: a. Mekanisme Cedera Kepala Berdasarkan mekanisme, cedera kepala dibagi atas cedera kepala tumpul dan cedera kepala tembus. Cedera kepala tumpul biasanya berkaitan dengan kecelakaan mobil-motor, jatuh atau pukulan benda tumpul. Cedera kepala tembus disebabkan oleh peluru atau tusukan. Adanya penetrasi selaput durameter menentukan apakah suatu cedera termasuk cedera tembus atau cedera tumpul.

11

b. Beratnya Cedera Glascow coma scale ( GCS) digunakan untuk menilai secara kuantitatif kelainan neurologis dan dipakai secara umum dalam deskripsi beratnya penderita cedera kepala. 1) Cedera Kepala Ringan (CKR) GCS 13 15, dapat terjadi kehilangan kesadaran ( pingsan ) kurang dari 30 menit atau mengalami amnesia retrograde. Tidak ada fraktur tengkorak, tidak ada kontusio cerebral maupun hematoma. 2) Cedera Kepala Sedang ( CKS) GCS 9 12, kehilangan kesadaran atau amnesia retrograd lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 24 jam. Dapat mengalami fraktur tengkorak. 3) Cedera Kepala Berat (CKB) GCS lebih kecil atau sama dengan 8, kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam. Dapat mengalami kontusio cerebral, laserasi atau hematoma intracranial. c. Morfologi Cedera Secara Morfologi cedera kepala dibagi atas : 1) Fraktur Kranium Fraktur kranium dapat terjadi pada atap atau dasar tengkorak, dan dapat terbentuk garis atau bintang dan dapat pula terbuka atau tertutup. Fraktur dasar tengkorak biasanya merupakan pemeriksaan CT Scan untuk memperjelas garis frakturnya. Adanya tanda-tanda klinis fraktur dasar tengkorak menjadikan petunjuk kecurigaan untuk melakukan pemeriksaan lebih rinci. Tanda-tanda tersebut antara lain : - Ekimosis periorbital ( Raccoon eye sign) - Ekimosis retro aurikuler (Battle`sign ) - Kebocoran CSS ( rhonorrea, ottorhea) dan - Parese nervus facialis ( N VII )
12

2) Lesi Intrakranial Lesi ini diklasifikasikan dalam lesi loKal dan lesi difus, walaupun kedua jenis lesi sering terjadi bersamaan. Termasuk lesi lesi local ; - Perdarahan Epidural - Perdarahan Subdural - Kontusio (perdarahan intra cerebral) Cedera otak difus umumnya menunjukkan gambaran CT Scan yang normal, namun keadaan klinis neurologis penderita sangat buruk bahkan dapat dalam keadaan koma. Berdasarkan pada dalamnya koma dan lamanya koma, maka cedera otak difus dikelompokkan menurut kontusio ringan, kontusio klasik, dan Cedera Aksona Difus ( CAD). a) Perdarahan Epidural Hematoma epidural terletak diantara dura dan calvaria. Umumnya terjadi pada regon temporal atau temporopariental akibat pecahnya arteri meningea media ( Sudiharto 1998). Manifestasi klinik berupa gangguan kesadaran sebentar dan dengan bekas gejala (interval lucid) beberapa jam. Keadaan ini disusul oleh gangguan kesadaran progresif disertai kelainan neurologist unilateral. Kemudian gejala neurology timbul secara progresif berupa pupil anisokor,

hemiparese, papil edema dan gejala herniasi transcentorial. Perdarahan epidural difossa posterior dengan perdarahan berasal dari sinus lateral, jika terjadi dioksiput akan menimbulkan gangguan kesadaran, nyeri kepala, muntah ataksia serebral dan paresis nervi kranialis. Cirri perdarahan epidural berbentuk bikonveks atau menyerupai lensa cembung.

b) Perdarahan subdural Perdarahan subdural lebih sering terjadi daripada perdarahan epidural( kira-kira 30 % dari cedera kepala berat). Perdarahan ini sering terjadi akibat robeknya vena-vena jembatan yang terletak
13

antara kortek cerebri dan sinus venous tempat vena tadi bermuara, namun dapat terjadi juga akibat laserasi pembuluh arteri pada permukaan otak. Perdarahan subdural biasanya menutupi seluruh permukaan hemisfer otak dan kerusakan otak dibawahnya lebih berat dan prognosisnya jauh lebih buruk daripada perdarahan epidural.

c) Kontusio dan perdarahan intracerebral Kontusio cerebral sangat sering terjadi di frontal dan lobus temporal, walau terjadi juga pada setiap bagian otak, termasuk batang otak dan cerebellum. Kontusio cerebri dapat saja terjadi dalam waktu beberapa hari atau jam mengalami evolusi membentuk perdarahan intracerebral. Apabila lesi meluas dan terjadi

penyimpangan neurologist lebih lanjut.

d) Cedera Difus Cedera otak difus merupakan kelanjutan kerusakan otak akibat akselerasi dan deselerasi, dan ini merupakan bentuk yang lebih sering terjadi pada cedera kepala.

4. Pemeriksaan Penunjang - Pemeriksaan laboratorium - X-Ray, foto tengkorak 3 posisi - CT scan - Foto cervical bila ada tanda-tanda fraktur cervical

5. Komplikasi a. Perdarahan intra cranial-Epidural Subdural Sub arachnoid Intraventrikuler

14

b. Malformasi faskuler Fistula karotiko-kavernosa Fistula cairan cerebrospinal Epilepsi Parese saraf cranial Meningitis atau abses otak Sindrom pasca trauma

C. CT-SCAN 1. Definisi CT-Scan CT-Scan merupakan perpaduan antara teknologi sinar-x, komputer dan televisi sehingga mampu menampilkan gambar anatomis tubuh manusia dalam bentuk irisan atau slice. (Rasad, 1992) Prinsip kerja CT-Scan hanya dapat men-scanning tubuh dengan irisan melintang (potongan axial). Namun dengan memanfaatkan teknologi komputer maka gambaran axial yang telah didapatkan dapat diformat kembali sehingga didapatkan gambaran coronal, sagital, oblique, diagonal bahkan bentuk tiga dimensi dari objek tersebut. (Tortorici, 1995)

2. Perkembangan CT-Scan Godfrey Hounsfield seorang insinyur dari EMI Limited London dengan James Ambrose seorang teknisi dari Atkinson Morleys Hospital di London, Inggris pada tahun 1970 memperkenalkan Computed Tomography Scanning atau CT-Scan. (Ballinger, 1995) a. Scanner Generasi Pertama Prinsip scanner generasi pertama menggunakan pancaran sinar-x model pencil yang diterima oleh satu atu dua detector. Waktu yang dicapai 4,5 menit untuk member informasi yang cukup pada satu slice dari rotasi tabung dan detector sebesar 180 derajat.

15

b. Scanner Generasi Kedua Scanner generasi ini mengalami perbaikan besar dan terbukti pancaran sinar-x model kipas dengan menaikkan jumlah detector sebanyak 30 buah dengan waktu scanning yang sangat pendek, yaitu 15 detik per slice atau 10 menit untuk 49 slice. c. Scanner Generasi Ketiga Scanner generasi ketiga ini dengan kenaikan 960 detektor yang meliputi bagian tepi berhadapan dengan tabung sinar-x yang saling rotasi memutari pasien dengan membentuk lingkaran 360 derajat secara sempurna untuk menghasilkan satu slice data jaringan. Waktu scanning hanya berkisar satu detik. d. Scanner Generasi Keempat Sekitar tahun 1980 scanner generasi ini diperkenalkan dengan teknologi fixed-ring yang mempunyai 4800 detektor. Saat pemeriksaan berlangsung, tabung sinar-x berputar 360 derajat mengelilingi detector yang diam. (Bontrager, 2000) Generasi terakhir dari CT-Scan disebut CT Helical atau CT spiral. Kelebihan dari tipe ini penggambaran organ akan lebih cepat dan radiographer dapat mengolah data menjadi gambar tiga dimensi melalui pengolahan komputer. (PROTEKSI, 1998)

3. Komponen Dasar CT-Scan CT-Scan mempunyai dua komponen utama yaitu scan unit dan operatir konsul. Scan unit biasanya berada didalam ruang pemeriksaan sedangkan operator konsul letaknya terpisah dalam ruang kontrol. Scan unit terdiri dari dua bagian yaitu gentry dan couch (meja pemeriksaan). a. Gentry Didalam CT-Scan, pasien berada di atas meja pemeriksaan dan meja tersebut bergerak menuju gentry. Gentry ini terdiri dari beberapa perangkat

16

yang keberadaannya sangat diperlukan untuk menghasilkan suatu gambaran, perangkat keras tersebut antara lain tabung sinar-x, kolimator dan detector. 1) Tabung Sinar-x Berdasarkan strukturnya, tabung sinar-x sangat mirip dengan tabung sinar-x konvensional namun perbedaannya terletak pada

kemampuannya untuk menahan panas dan output yang tinggi.

2) Kolimator Kolimator berfungsi untuk mengurangi radiasi hambur membatasi jumlah sinar-x yang sampai ke tubuh pasien serta untuk meningkatkan kualitas gambaran. Tidak seperti pada pesawat radiografi konvensional, CT-Scan menggunakan dua buah kolimator. Kolimator pertama diletakkan pada rumah tabung sinar-x yang disebut pre-pasien kolimator. Dan kolimator kedua diletakkan diantara pasien dan detector yang disebut predetektor kolimator atau post pasien kolimator.

3) Detektor Selama eksposi berkas sinar-x (foton) menembus pasien dan mengalami perlemahan (atenuasi). Sisa-sisa foton yang telah ter-atenuasi kemudian ditangkap oleh detector. Detector memiliki dua tipe, yaitu detektor solide state dan detektor isian gas.

b. Couch (Meja Pemeriksaan) Meja pemeriksaan merupakan tempat untuk memposisikan pasien. Meja ini biasanya terbuat dari fiber karbon. Dengan adanya bahan ini maka sinar-x yang menembus pasien tidak terhalangi jalannya untuk menuju ke detector. Meja ini harus kuat dan kokoh mengingat fungsinya untuk menopang tubuh pasien selama meja bergerak kedalam gentry.

17

Konsul tersedia dalam beberapa variasi. Model yang lama msih menggunakan dua sistem konsul yaitu untuk pengoperasian CT-Scan sendiri dan untuk perekaman dan percetakan gambar. Model yang baru sudah memakai sistem satu konsul dimana banyak memiliki kelebihan dan fungsi. Bagian dari sistem konsul yaitu: sistem control, sistem pencetak gambar, dan sistem perekam gambar. a. Sistem Kontrol Pada bagian ini petugas dapat nengontrol parameter-parameter yang berhubungan dengan beroperasinya CT-Scan seperti pengaturan kV, mA, waktu scanning, ketebalan irisan (slice thicknes), dan lain-lain. Juga dilengkapi dengan keyboard untuk memasukkan data pasien dan pengontrolan fungsi tertentu pada komputer.

b. Sistem Pencetakan Gambar Setelah gambaran CT-Scan diperoleh, gambaran tersebut dipindahkan ke dalam bentuk film. Pemindahan ini dengan menggunakan kamera

multiformat. Cara kerjanya yaitu kamera merekam gambaran di monitor dan memindahkannya ke dalam film. Tampilan gambar di film dapat mencapai 224 gambar tergantung ukuran filmnya (biasanya 8x10 inchi atau 14x17 inchi).

c. Sistem Perekaman Gambar Merupakan bagian penting yang lain dari CT-Scan. Data-data pasien yang telah ada disimpan dan dapat dipanggil kembali dengan cepat.

Gambar 2.5 Gantry dan Couch ( Bontrager, 2001 )


18

Gambar 2.6 Komputer dan console ( Bontrager, 2001 ) 4. Parameter CT-Scan Beberapa parameter untuk pengontrolan eksposi dan output gambar yang optimal antara lain: b. Slice thickness Slice thickness adalah tebalnya irisan atau potongan dari objek yang diperiksa. Nilainya dapat di pilih antara 1mm-10mm sesuai dengan keperluan klinis. Ukuran yang tebal akan menghasilkan gambaran dengan detai yang rendah sebakliknya ukuran yang tipis akan menghasilkan detai yang tinggi. Jika ketebalan meninggi akan timbul artefak dan bila terlalu tipis akan terjadi noise. c. Range Range adalah perpaduan atau kombinasi dari beberapa slice thickness. Pemanfaatan range adalah untuk mendapatkan ketebalan irisan yang berbeda pada satu lapangan pemeriksaan. d. Volume Investigasi Volume investigasi adalah keseluruhan lapangan dari objek yang diperiksa. Lapangan objek ini diukur dari batas awal objek hingga batas akhir objek yang akan diiris semakin besar. e. Faktor Eksposi Faktor eksposi adalah factor-faktor yang berpengaru terhadap eksposi meliputi tegangan tabung (kV), arus tabung (mA), dan waktu eksposi (s).
19

Biasanya tegangan tabung bisa dipilih secara otomatis pada tiap-tiap pemeriksaan. f. Filed Of View (FOV) FOV adalah diameter maksimal dari gambaran yang akan direkonstruksi. Biasanya bervariasi dan biasanya berada pada rentang 12-50 cm. FOV yang kecil akan meningkatkan resolusi karena FOV yang kecil mampu mereduksi ukuran pixel, sehingga dalam rekonstruksi matriks hasilnya lebih teliti. Namun bila ukuran FOV lebih kecil, maka area yang mungkin dibutuhkan untuk keperluan klinis menjadi sulit untuk dideteksi. g. Gantry tilt Gantry tilt adalah sudut yang dibentuk antara bidang vertikal dengan gentry (tabung sinar-x dan detektor). Rentang penyudutan antara -25 derajat sampai +25 derajat. penyudutan gentry bertujuan untuk keperluan diagnosa dari masing-masing kasus yang dihadapi. Disamping itu bertujuan untuk mengurangi dosis radiasi terhadap organ-organ yang sensitif. h. Rekonstruksi Matriks Rekonstruksi matrikxs adalah deretan baris dari kolom picture elemen (pixel) dalam pproses perekonstruksian gambar. Rekonstruksi matriks ini merupakan salah satu struktur elemen dalam lemori komputer yang berfungsi untuk merekonstruksi gambar. Pada umumnya matriks berpengaruh terhadap resolusi gambar. Semakin tinggi matriks yang dipakai maka semakin tinggi resolusinya. i. Rekonstruksi Algorithma Rekonstruksi algorithma adalah prosedur matematis yang digunakan dalam merekonstruksi gambar. Penampakan dan karakteristik dari gambar CT-Scan tergantung pada kuatnya algorithma yang dipilih maka semakin tinggi resolusi yang gambar yang akan dihasilkan. Dengan adanya metode ini maka gambaran seperti tulang, soft tissue, dan jaringan-jaringan lain dapat dibedakan dengan jelas pada layar monitor.

20

j. Window Width Window width adalah rentang nilai computed tomography yang di konversi menjadi gray levels untuk di tampilkan dalam TV monitor. Setelah komputer menyelesaikan pengolahan gambar melalui rekonstruksi matriks dan algorithma maka hasilnya akan di konversi menjadi sekala numerik yang dikenal dengan nama nilai computed tomography. k. Window Level Window level adalah nilai tengah dari window yang digunakan untuk penampilan gambar. Nilainya dapat dipilih dan tergantung pada karakteristik pelemahan dari struktur obyek yang diperiksa. Window level menentukan densitas gambar.

D. PROSEDUR PEMERIKSAAN CT-SCAN KEPALA NON KONTRAS 1. Indikasi Pemeriksaan a. Penyakit bawaan (kelainan kongenital) b. Kejang c. Peredaran darah yang tidak normal d. Tumor e. Inflamasi f. Kelainan pada sistem tulang belakang (sistem saraf)

2. Persiapan pemeriksaan a. Persiapan Pasien Tidak ada persiapan khusus bagi pasien, hanya melepaskan benda-benda asesoris yang mengandung logam karena akan menyebabkan artefak dan memberi penjelasan tentang prosedur pemeriksaan agar pasien dapat
21

bekerjasama demi kelancaran pemeriksaan. Untuk kenyamanan pasien mengingat pemeriksaan dilakukan pada ruangan ber-AC sebaiknya tubuh pasien diberi selimut.

b. Persiapan Alat dan Bahan 1) Pesawat CT-Scan 2) Dry view (pencetak radiograf) 3) Tabung oksigen 4) Selimut

c. Teknik pemeriksaan Posisi Pasien : supine di atas meja pemeriksaan dengan posisi kepala dekat dengan gantry. Posisi Objek : kepala fleksi dan diletakkan pada head holder. Kepala diposisikan sehingga mid sagital plane tubuh sejajar dengan lampu indikator longitudinal dan meatus acusticus externus setinggi lampu indikator horisontal. Kedua lengan pasien diletakkan di atas perut atau di samping tubuh. Untuk mengurangi pergerakan, dahi dan tubuh pasien sebaiknya difiksasi dengan sabuk khusus pada head holder dan meja pemeriksaan.

d. Scan parameter Scanogram Range : kepala lateral : range I dari basis cranii sampai pars petrosus dan range II dari pars petrosus sampai vertex. Slice thickness : 2-5 mm (range I) dan 5-10 mm (range II).
22

FOV Gantry tilt

: 24 cm : sudut gantry tergantung pada besar kecilnya sudut yang terbentuk oleh orbito meatal line (OML) dengan garis vertikal.

kV mA

: 120 : 130

Reconstruction algorithm : soft tissue Window width : 0-90 HU (otak supratentorial) 110-160 HU (otak pada fossa posterior) 2000-3000 HU (tulang) Window level : 40-45 HU (otak supra tentorial) 30-40 HU(otak pada fossa posterior) 200-400 HU (tulang)

e. Indikasi pemeriksaan CT-Scan kepala yaitu: 1) Suspect neoplasma, massa, lesi atau tumor pada otak 2) Metastase pada otak 3) Pendarahan intrakranial 4) Aneurysma 5) Abses 6) Atrofi kepala 7) Posttraumatic abnormalities 8) Acquired atau kelainan kongenital 9) Cidera kepala 10) Stroke
23

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN 1. Identitas Pasien Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Pemeriksaan Nomor Foto Diagnosa : Sdr. Y : 19 Th : Laki-laki : Salaman : CT-Scan Kepala : 1247 : Cedera Kepala Sedang (CKS)

2. Riwayat Pasien Pada hari Jumat, 04 November 2011 Sdr. Y datang ke Instalasi Radiologi RSUD Tidar Magelang dengan membawa surat rujukan dari RS Lestari Raharja Magelang untuk dilakukan pemeriksaan CT-Scan kepala dengan klinis Cedera Kepala Sedang (CKS).

3. Prosedur Pemeriksaan a. Persiapan alat dan bahan Pesawat CT-Scan Pencetak radiograf Selimut Head holder dan perekat badan
24

: Philips Mx8000 Dual : Fuji Film Image Dry Pix 7000

b. Persiapan Pasien Tidak ada persiapan khusus bagi pasien, assesoris yang menempel pada objek disingkirkan karena dapat mengganggu gambaran radiograf. Dan memberi penjelasan kepada pasien tentang prosedur pemeriksaan. Untuk kenyamanan pasien mengingat pemeriksaan dilakukan pada ruangan ber-AC sebaiknya tubuh pasien diberi selimut.

c. Teknik Pemeriksaan Posisi pasien : Supine di atas meja pemeriksaan dengan kepala di dekat gantry Posisi Objek : Kepala fleksi dan diletakkan pada head holder. Kepala diposisikan sehingga mid sagital plane kepala sejajar dengan lampu indikator longitudinal dan meatus acusticus externus setinggi lampu indikator horisontal. Kepala difiksasi dengan head klem. Kedua lengan pasien diletakkan di samping tubuh dan difiksasi dengan sabuk khusus. Tubuh pasien diberi selimut. Dengan batas atas pemeriksaan adalah vertex dan batas bawah basis cranii. d. Scan Parameter 1) Scanogram Scanogram Range Slice Thickness FOV Table height Gantry tilt View angle Surview length : Lateral : 1 range : 8 mm : 350,0 mm : 158 mm : 0,0 degrees : 90 degrees : 279,8 mm
25

Surview time kV mA Kolimasi

: 2,8 sec : 120 kV : 30 mA : 1,00 mm

2) Routine Brain Scanogram Range Slice Thickness FOV Gantry tilt Scan angle Scan length kV mAs Waktu scan Kolimasi : Axial : 1 range : 8 mm : 250,0 mm : -8,0 degrees : 420 degrees : 144,0 mm : 120 kV : 400 mAs/slice : 1,8 sec : 2x8 mm

26

e. Hasil Radiograf

Hasil radiograf CT-Scan kepala f. Hasil Pemeriksaan Tampak garis fraktur linier os frontal dextra Tampak lesi hiperdens di daerah lobus frontal bilateral Tak tampak midline shifting Sulci dan cistern dbn Sistema ventrikel dbn Cerebellum dan pons tak tampak kelainan Kesan: o Fraktur linier frontotemporal dextra

o ICH frontal bilateral o Pneumocephal lobus frontal dextra

27

B. PEMBAHASAN Pelaksanaan pemeriksaan CT-Scan kepala dengan kasus cedera kepala sedang (CKS) di RSUD Tidar Magelang dilakukan dengan posisi supine di atas meja pemeriksaan sehingga Mid Sagital Plane (MSP) kepala sejajar terhadap lampu indikator longitudinal dan lampu indikator horizontal setinggi Meatus Acusticus Externus (MAE) sehingga gambaran akan menjadi simetris. CT-Scan mempunyai beberapa spesifikasi slice antara lain single slice, double slice, 16 slice, dan 64 slice. Namun demikian, di Instalasi Radiologi RSUD Tidar Magelang jenis CT-Scan yang digunakan adalah jenis double slice dengan slice thickness 8 mm, khusus untuk kasus cedera kepala sedang (CKS) ini dalam satu lembar film berisi 24 slice yang terdiri dari scanogram 1 gambar, 11 slice dalam tampilan bone untuk melihat kelainan pada tulang kepala, dan 12 slice berikutnya dalam tampilan brain untuk melihat kelainan pada soft tissue. Pelaksanaan CT-Scan di Instalasi Radiologi RSUD Tidar Magelang hanya menggunakan 1 range. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang ada yaitu menggunakan 2 range. Teknik pemeriksaan CT-Scan kepala dengan kasus cedera kepala sedang (CKS) ini dilakukan tanpa menggunakan media kontras dikarenakan indikasi untuk

dilaksanakan pemeriksaan CT-Scan kepala menggunakan media kontras yaitu dengan kasus adanya tumor, infeksi, kelainan vascular, mencari AVM, dan aneurysma. Dengan demikian, teknik pemeriksaan CT-Scan pada kasus cedera kepala sedang (CKS) di Instalasi Radiologi RSUD Tidar Magelang dengan menggunakan slice thickness 8 mm, 1 range, dan tanpa media kontras sudah dapat untuk menegakkan diagnosa dengan memperlihatkan kelainan yang diderita pasien yaitu dalam tampilan bone tampak fraktur linier os frontal dextra dan pada tampilan brain diketahui adanya pneumocephal lobus frontal dextra dan ICH frontal bilateral.

28

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan Dari laporan kasus ini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Teknik pemeriksaan CT-Scan kepala pada kasus cedera kepala sedang (CKS) di Instalasi Radiologi RSUD Tidar Magelang menggunakan slice thickness 8 mm, 1 range, dan tidak menggunakan media kontras. 2. Hasil pemeriksaan CT-Scan kepala dengan slice thickness 8 mm, 1 range, dan tanpa menggunakan media kontras sudah cukup memberi informasi diagnosa. Hal ini dibuktikan dengan sudah terlihatnya kelainan akibat cedera kepala sedang (CKS).

B. Saran Untuk pemeriksaan CT-Scan kepala pada kasus cedera kepala sebaiknya menggunakan 2 range.

29

DAFTAR PUSTAKA

Ballinger, P.W. 1995. Radiographic Positioning and Radiographic Procedures Volume One, Ninth Edition. St. Louis Missori : Te CV Mosby Company. Bontranger, K.L. 2001. Text Book of Radiographic Positioning and Related Anatomy Fifth Edition. St. Louis Missori : The CV Mosby Company. Pearce, C Evelyn. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: PT Gramedia Rasad, dkk. 1999. Radiologi Diagnostik,Gaya baru. Jakarta. Syaifuddin, B.A.C. 1997. Anatomi Fisiologi untuk Siswa Perawat. Edisi ke-2. Penerbit Buku Kedokteran. EGC : Jakarta. Sylvia A, Price, 1995, Patofisiologi Konsep Klinis Proses Proses Penyakit, Edisi IV, Buku Kedokteran EGC: Jakarta. Tortorici, M, R, 1995, Advanced Radiographic and Angiographic Procedures with an Introduction to Spealized Imaging, F. A Davis Company, Philadelphia.

30