Anda di halaman 1dari 28

1

I. JUDUL:

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL KOPERATIF TIPE JIGSAW SISWA KELAS XI IPA 1 SMA NEGERI 1 MATTIRO BULU KAB.PINRANG.

A. Latar Belakang Undang undang sistem pendidikan Nasional menunjukkan dengan jelas

betapa berat tanggung jawab yang diemban oleh para pendidik. Tanggung jawab tersebut dilaksanakan dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila di bidang pendidikan dan mengusahakan pembentukan manusia Indonesia yang berkualitas dan mandiri serta memberikan dukungan bagi perkembangan masyarakat Indonesia. Perlu disadari bahwa Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang paling penting mengingat peranannya dalam kehidupan manusia. Baik dari sisi teknologinya maupun dalam kehidupan sehari-hari. Mengingat hal tersebut di atas kiranya dalam pendidikan Matematika, guru perlu membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang bermamfaat guna menjawab tantangan masa depan. Sehubungan hal tersebut Arif Arya Setyaki (2008: 86) mengemukakan bahwa matematika merupakan salah satu ilmu yang mendasari pengembangan teknologi. Al-Khawarismi adalah seorang ilmuan yang pertama kali membuat simbol untuk angka 0, tanpa penemuan angka 0, mungkin teknologi komputer tidak akan pernah ditemukan karena komputer menggunakan sistem biner yang sangat tergantung pada angka 0 dan 1. Menurut Djaali (2010: 186) Dalam abad 20 ini, seluruh kehidupan manusia sudah mempergunakan matematika, baik matematika ini sangat sederhana hanya

untuk menghitung satu, dua, tiga, maupun yang sampai sangat rumit, misalnya perhitungan antariksa. Demikian pula ilmu-ilmu pengetahuan, semuanya sudah mempergunakan matematika, baik sebagai pengembangan aljabar maupun statistik. Sejalan dengan itu Soedjadi (1995: 2) mengemukakan bahwa matematika sebagai salah satu ilmu dasar baik aspek terapannya maupun aspek penalarannya mempunyai peranan yang amat penting dalam upaya penguasaan ilmu dan teknologi. Ini berarti bahwa sampai batas tertentu matematika perlu dikuasai oleh segenap warga negara Indonesia, baik penerapannya maupun pola pikirnya. Lebih lanjut soedjadi mengemukakan bahwa matematika yang dipilih atas dasar kepentingan pengembangan kemampuan dan kepribadian peserta didik serta perkembangan ilmu pegetahuan dan teknologi perlu selalu dapat sejalan dengan tuntutan kepentingan

peserta didik menghadapi masa depan. Hudojo (1995: 1) mengatakan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus di dasari oleh penguasaanm matematika, karena dengan menguasai matematika merupakan kunci utama dalam menguasai ilmu dan teknologi. Sebagaimana peranan matematika yang memiliki peranan yang sangat penting dan telah menjadi salah satu mata pelajaran yang masuk ujian nasional (UN) baik dari sekolah dasar hingga sekolah menengah. Pada dasarnya belajar matematika merupakan belajar konsep-konsep dengan kesatuan yang bulat dan

berkesinambungan. Berdasarkan observasi yang telah dilaksanakan di SMAN 1 Mattiro Bulu kelas XI IPA 1 pada proses pembelajaran masih ada 42% siswa memperoleh nilai di bawah 65 dari KKM yang ditetapkan sekolah. Beberapa siswa mengatakan bahwa belajar matematika sangat tidak menarik dan sangat

membosankan. Akibatnya siswa menjadi tidak antusias dan mudah bosan dalam proses pembelajaran sehingga hasil belajar matematika siswa tidak maksimal. Salah satu alrenatif dari masalah diatas yaitu, seorang guru harus mampu memilih model yang cocok diterapkan dalam proses pembelajaran, salah satunya model kooperatif tipe Jigsaw. Melalui model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw diharapkan dapat menghilangkan rasa bosan siswa dalam belajar, siswa tidak pasif, siswa dapat saling bertukar pikiran dengan teman. Selain itu dengan menggunakan skor perkembangan dapat membuat siswa lebih termotivasi untuk menyumbangkan skor pada kelompoknya untuk mendapatkan penghargaan kelompok. Dengan belajar secara kooperatif, siswa mempunyai pengalaman sendiri untuk langsung

menanamkan konsep di dalam memori jangka panjang siswa. Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk meneliti dengan judul Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Melalui Model Kooperatif Tipe Jigsaw Siswa Kelas XI IPA 1 SMAN 1 Mattiro Bulu Kab.Pinrang. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan, maka rumusan masalah secara umum dalam penelitian ini adalah Apakah Hasil Belajar Matematika Dapat Ditingkatkan Melalui Model Kooperatif Tipe Jigsaw Siswa Kelas XI IPA 1 SMAN 1 Mattiro Bulu Kab.Pinrang?.

C. Tujuan penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan maka tujuan penelitian ini adalah untuk dapat Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Melalui Model

Kooperatif Tipe Jigsaw Siswa Kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Mattiro Bulu Kab.Pinrang.

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi siswa: Dengan menerapkan pelatihan soal, diskusi, dan persentase pada mata pelajaran matematika diharapkan dapat meningkatkan kreativitas dalam memecahkan masalah matematika 2. Bagi guru: Sebagai bahan pertimbngn dalm pembelajaran matematika di kelas sehingga dapat memudahkan siswa dalam memhami materi. 3. Bagi peneliti: Sebagai gambaran tentang keadaan sistem pembelajran disekolah sehingga dapat menjadikan sebagai acuan dalam pengembangan ide ide dalam transfer nilai. 4. Bagi sekolah: Sebagai masukan untuk mendapatkan strategi pembelajaran yang aktif dalam proses belajar mengajar. II. KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR

A. Kajian Pustaka 1. Hakikat Belajar Matematika Belajar merupakan bagian dari penindakan yang merupakan suatu usaha untuk mendapatkan kepandaian dan merupakan suatu usaha proses kegiatan yang mengaitkan banyak faktor. Beberapa pakar pendidikan mendefinisikan belajar sebagai berikut:

a. Gagne Belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas, perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara alamiah. b. Travers Belajar adalah proses menghasilkan penyesuaian tingkah laku. c. Cronbach Learning is shown by a change in behavior as result of experience. (Belajar adalah perubahan tingkah laku). d. Morgan Learning is any relatively permanen change in behavior that is a result of past experience. (belajar adalah perubahan prilaku yang bersifat pemanen sebagai hasil dari pengalaman). Sebagaimana yang dikemukakan Ahmadi(2004: 128) bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Hamalik (2007: 27) menyajikan dua definisi yang umum tentang belajar yaitu: a. Belajar adalah modifkasi atau memperteguh melalui pengalaman (learning is defined as the modification srengthering of behavior trhough experiencing). b. Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalaui interaksi dengan lingkungannya.

Untuk lebih memahami prinsip proses pembelajaran sebaiknya diuraikan proses belajar dan mengajar. Pengertian proses dalam tulisan ini merupakan interaksi semua komponen atau unsur yang terdapat dalam belajar mengajar yang satu sama lain saling berhubungan dalam ikatan mencapai suatu tujuan (Usman, 1990: 17). Menurut Djaali, (2008: 101) adapun faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah motivasi, sikap, minat, kebiasaan belajar, dan konsep diri. Matematika adalah istilah yang berasal dari bahasa yunani mathematikos berarti ilmu pasti ataumathesis yang berarti ajaran pengetahuan abstrak dan deduktif yang dimana kesimpulan tidak ditarik dari kaedah-kaedah tertentu melalui deduksi. Jadi belajar matematika adalah segala usaha untuk menguasai pengetahuan abstrak dan deduktif. Menurut Masud (2009: 25) Matematika merupakan dasar ilmu pengetahuan. Perkembangan ilmu dan technologi tidak luput dari peranan matematika. Matematika ratu dari semua ilmu dan sekaligus sebagai pelayan. Belajar matematika adalah bentuk belajar yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan terencana yang dalam pelaksanaannya dibutuhkan suatu proses yang aktif individu untuk memperoleh pengalaman atau pengetahuan baru hingga menyebabkan perubahan tingkah laku. Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar matematika dilaksanakan secara hierarkis, sistematis dan logis dengan proses yang aktif dalam melibatkan semua komponen atau unsur yang terdapat dalam proses pembelajaran yang satu sama lain saling berhubungan dalam mencapai tujuan. 2. Hasil belajar

Dalam proses pembelajaran di sekolah baik sekolah dasar, sekolah menengah, maupun perguruan tinggi sering kali ada dijumpai beberapa siswa/mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam belajar dengan demikian masalah kesulitan dalam belajar itu sudah merupakan problema umum yang khas dalam proses pembelajaran. Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan keterampilan. Merujuk dalam pemikiran Gagne(Agus Suprijono, 2008: 5) hasil belajar berupa: 1. Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tulisan. 2. Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempersentasekan konsep dan lambing. 3. Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. 4. Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani. 5. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut. Menurut Bloom (Agus Supridjono, 2008: 6) hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Domain kognitif adalah knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh), Application (menerapkan), analysis (menguraikan, menentukan hubungan) synthesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan baru), dan evaluation (menilai).

Sehubungan dengan hasil belajar siswa untuk ranah kognitif yang digunakan adalah pengetahuan dan penerapan. Ranah psikomotor menurut klasifikasi Simpson ( Winkel, 2005 ) meliputi : 1) Persepsi (perception), mencakup kemampuan untuk mengadakan diskriminasi yang tepat antara dua perangsang atau lebih, berdasarkan pembedaan antara ciriciri fisik yang khas pada masing-masing rangsangan seperti dalam menyisihkan benda yang berwarna merah dari yang berwarna hijau. 2) Kesiapan (set), mencakup kemampuan untuk menempatkan dirinya dalam keadaan akan memulai suatu gerakan atau rangkaian gerakan. Kemampuan ini dinyatakan dalam bentuk kesiapan jasmani dan mental, seperti dalam mempersiapkan diri untuk menggerakkan kendaraan yang ditumpangi, setelah menunggu beberapa lama di depan lampu merah. 3) Gerakan terbimbing (guided response), mencakup kemampuan untuk melakukan suatu rangkaian gerak-gerik, sesuai dengan contoh yang diberikan. Kemampuan ini dinyatakan dalam menggerakkan anggota tubuh, menurut contoh yang diperlihatkan atau diperdengarkan, seperti meniru urutan gerakan tari atau meniru bunyi suara. 4) Gerakan terbiasa (mechanical response), mencakup kemampuan untuk

melakukan suatu rangkaian gerak-gerik dengan lancar, karena sudah dilatih secukupnya, tanpa memperhatikan lagi contoh yang diberikan. Kemampuan ini dinyatakan dalam menggerakkan anggota / bagian tubuh, sesuai dengan prosedur yang tepat.

5) Gerakan

kompleks

(complex

response),

mencakup

kemampuan

untuk

melaksanakan suatu keterampilan, yang terdiri atas beberapa komponen, dengan lancar, tepat dan efisien. 6) Penyesuaian pola gerakan (adjustment), mencakup kemampuan untuk

mengadakan perubahan dan menyesuaikan pola gerak-gerik dengan kondisi setempat atau dengan menunjukkan suatu taraf keterampilan yang telah mencapai kemahiran. 7) Kreativitas (creativity), mencakup kemampuan untuk melahirkan aneka pola gerak-gerik yang baru, seluruhnya atas dasar prakarsa dan inisiatif sendiri. Menurut klasifikasi Simpson hasil belajar psikomotor siswa yang meliputi persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan yang kompleks, penyesuaian pola gerakan dan kreativitas yang masing-masing mempunyai tingkatan tersendiri. Dalam penelitian ini hasil belajar siswa untuk ranah psikomotor berisi

serangkaian kinerja yang harus dilakukan oleh siswa dalam kelompoknya dalam menyelesaikan LKS yang diberikan oleh guru. 3. Model pembelajaran kooperatif Menurut Slavin (1995: 86) mengatakan bahwaSelama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan belajar. Pada pembelajaran koperatif diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerja sama didalam kelompoknya seperti menjadi pendengar yang baik, memberi penjelasan kepada teman sekelompok dengan baik, siswa diberi lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang diajarkan untuk diajarkan.

10

Menurut Lungdren (Isjoni, 2007: 46) Keterampilan-keterampilan kooperatif sebagai berikut: a. Keterampilan kooperatif tingkat awal 1. Menggunakan kesepakatan 2. Menghargai kontribusi 3. Mengambil giliran dan berbagi tugas 4. Berada dalam kelompok 5. Berada dalam tugas 6. Mendorong partisipasi 7. Mengundang orang lain 8. Menyelesaikan tugas dalam waktunya 9. Menghormati perbedaan individu b. Keterampilan tingkat menengah Keterampilan ini meliputi menunjukkan penghargaan dan simpati,

mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara dapat diterima, mendengarkan dengan arif, bertanya, membuat ringkasan, menafsirkan, mengorganisir, dan mengurangi ketegangan. c. Keterampilan tingkat mahir Keterampilan tingkat mahir meliputi mengelaborasi, memeriksa

dengancermat, menanyakan kebenaran, menetapkan tujuan, dan berkompromi. Langkah langkah pembelajaran kooperatif Terdapat 6 fase dalam model pembelajaran kooperatif. Keenam fase model pembelajaran kooperatif dirangkum dalam tabel berikut :

11

Tabel 3.1 Fase-fase Model Pembelajaran Kooperatif Fase Kegiatan Guru Fase-1 Guru menyampaikan semua tujuan Menyampaikan tujuan dan pelajaran yang ingin dicapai pada memotivasi siswa pelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar Fase-2 Guru menyajikan informasi kepada Menyajikan informasi siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan Fase-3 Guru menjelaskan kepada siswa Mengorganisasikan siswa ke bagaimana caranya membentuk dalam kelompok-kelompok kelompok belajar dan membantu setiap belajar kelompok agar melakukan transisi secara efisien Fase-4 Guru membimbing kelompok-kelompok Membimbing kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan bekerja dan belajar tugas mereka Fase-5 Guru mengevaluasi hasil belajar tentang Evaluasi materi yang telah dipelajari atau masingmasing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya Fase-6 Guru mencari cara-cara untuk Memberikan penghargaan menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok (Ibrahim dkk, 2000:10) Berdasarkan tabel 3.1 di atas langkah utama di dalam model pembelajaran kooperatif yaitu dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Tahap ini diikuti dengan penyampaian informasi secara lisan atau dalam bentuk bacaan, selanjutnya dilakukan pengelompokan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar. Tahap selanjutnya guru memberikan bimbingan pada saat siswa bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan secara berkelompok dan dilanjutkan dengan presentasi hasil akhir dari tugas yang diselesaikan secara berkelompok dan memberikan penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu.

12

4. Model kooperatif tipe Jigsaw A. Teori-teori Pendukung Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Model pembelajaran kooperatif jenis Jigsaw juga diperkenalkan oleh Aronson, Blaney, Stephan, dan Snapp, 1978; Aronson, Bridgemen & Geffner, 1978). Metode itu adalah strategi belajar kooperatif dimana setiap siswa menjadi seorang anggota dalam bidang tertentu. Kemudian membagi pengetahuannya kepada anggota lain dari kelompoknya agar setiap orang pada akhirnya dapat mempelajari konsepkonsep. Menurut Aronson, para siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok, masingmasing anggota kelompok diberikan satu tugas untuk dikerjakan atau bagian-bagian dari materi-materi penelitian untuk dikoreksi dan ditinjau ulang. Selaras dengan pendapat Aronson (1997), tehnik belajar kooperatif jenis Jigsaw lebih menyangkut kerjasama dan saling ketergantungan antara siswa. Pertama kalinya dikembangkan untuk menghadapi isu yang disebabkan perbedaan sekolahsekolah di Amerika Serikat yang sering terjadi antara tahun 1964 dan 1974. Dalam hal ini, Soejadi (2000) mengemukakan, jumlah anggota dalam satu kelompok apabila makin besar, dapat mengakibatkan makin kurang efektif kerjasama antara para anggotanya. Pembelajaran kooperatif jigsaw merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal. Dalam model belajar ini terdapat tahap-tahap dalam penyelenggaraannya. Tahap pertama siswa

dikelompokkan dalam bentuk kelompok-kelompok kecil. Pembentukan kelompokkelompok siswa tersebut dapat dilakukan guru berdasarkan pertimbangan tertentu.

13

B. Kaitan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dengan Pembelajaran Matematika Model belajar kooperatif tipe Jigsaw memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat melakukan kerja sama dengan anggota kelompoknya dalam menghadapi segala persoalan yang dihadapi. Dalam pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw siswa didorong untuk lebih aktif dan setiap pembelajaran yang dilakukannya pun akan lebih bermakna. Hal ini juga dikemukakan oleh Lie, Anita (2003:68). Hudoyo (Arifin, 2007: 4) mengemukakan bahwa matematika berkenaan dengan ide-ide atau gagasan, struktur-sturktur dan hubungannya diatur secara logis sehingga matematika itu berkaitan dengan konsep-konsep abstrak. Orton (2009:5) mengemukakan bahwa hendaknya siswa tidak belajar matematika hanya dengan menerima dan menghafalkan saja, tetapi harus belajar secara bermakna. Dengan menganalisis hubungan antara model belajar kooperatif tipe Jigsaw dengan pembelajaran matematika dapat di simpulkan bahwa dalam pembelajran kooperatif tipe Jigsaw siswa lebih ditekankan untuk lebih aktif dalam pembelajaran sehingga cara belajaranyapun lebih bermakna dengan belajar berkelompok dan saling bertukar ilmu pengetahuan dan berdiskusi tentang matematika dalam kelompoknya. Mereka dapat berinteraksi dengan teman sebayanya dan juga dengan gurunya sebagai pembimbing. Dalam model pembelajaran tipe jigsaw mampu memberikan peluang dalam memudahkan pemahan mendalam baik secara individu maupun kelompok secara sistematis dan berkesinambungan. C. Langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam pembelajaran matematika

14

Menurut Slavin(2009: 238), pelaksanaan model kooperatif tipe jigsaw terdiri dari tahap persiapan dan jadwal kegiatan sebagai berikut Persiapan 1. Materi Pilihlah satu atau dua bab, cerita atau unit-unit lainnya masing-masing mencakup materi untuk dua atau tiga hari. 2. Membagi siswa kedalam tim Membagi para siswa kedalam heterogen yang terdiri dari empat sampai enam anggota. 3. Penentuan skor awal pertama Berikan skor awal pertama siswa persis seperti dalam STAD. Gunakan lembar skor kuis untuk mencatat skor-skor tersebut.

Jadwal kegiatan 1. Membaca Para siswa menerima topik ahli dan membaca materi yang diminta untuk menemukan informasi. 2. Diskusi kelompok-ahli Para siswa dengan keahlian yang sama bertemu untuk mendiskusikannya dalam kelompok-kelompok ahli. 3. Laporan tim Para ahli kembali dalam kelompok mereka masing-masing untukmengajari topictopik mereka kepada teman satu timnya. 4. Tes/kuis Para siswa mengerjakan kuis-kuis individual yang mencakup semua topic. 5. Rekognisi tim Skor tim dihitung berdasarkanskor kemajuan.

15

Sebagaimana langkah-langkah pelaksanaan yang dikemukakan sehingga pada penerapannya dapat di ilustrasikan sebagai berikut: Gambar 4.1 Ilustrasi Pelaksanaan Model Kooperatif Tipe Jgsaw

ILUSTRASI PELAKSA
1.Kelompok Asal (heterogen)
Kelompok tambah Kelompok kurang Kelompok bagi

a b c d e

a b c d e

a b c d e

2.Diskusi Kelompok Ahli

a a a a a
a b c d e Kelompok
tambah

b b b b b
a b c d e Kelompok
kurang

c c c c c
a b c d e Kelompok
bagi

3.Diskusi kelompok asal

Keterangan : a,b,c,d,dan e adalah siswa warna huruf adalah karakteristik sisw

16

Roger dan Johnson (Lie, Anita, 2003:31) menyatakan bahwa ada lima unsur model pembelajaran kerja sama yang harus diterapkan yaitu: 1. Saling ketergantungan positif Dalam interaksi kooperatif ini, guru memberikan motivasi kepada siswa untuk menciptakan suasana belajar yang saling membutuhkan. Adanya interaksi yang saling membutuhkan ini disebut saling ketergantungan positif. 2. Tanggung jawab perseorangan Jika setiap tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran Cooperative Learning, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Pengajaran yang efektif dalam model pembelajaran Cooperative Learning membuat persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota kelompok harus

melaksanakan tanggung jawabnya sendiri-sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan. 3. Tatap muka Setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Inti dari sinergi adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan masing-masing. 4. Komunikasi antar anggota Unsur ini juga menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi. Sebelum menugaskan siswa dalam kelompok,

17

pengajar perlu mengajarkan cara-cara berkomunikasi. Tidak setiap siswa mempunyai keahlian mendengarkan dan berbicara. Keberhasilan suatu kelompok juga tergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka. 5. Evaluasi proses kelompok Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk

mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.

B. Kerangka Berpikir Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran diantaranya tujuan siswa belajar, pengajar, fasilitas, serta struktur mata pelajaran. Tetapi siswalah banyak menentukan keberhasilan suatu proses pembelajaran. Sehingga kualitas lebih banyak bermanfaat atau leih banyak berpengaruh. Metode merupakan salah satu usuha dalam peningkatan kualitas pengajaran. Oleh sebab itu guru perlu menerapakan teknik mengajar yang sesuai dengan karaktristik mata pelajaran yang bisa mengoptimalkan siswa dalam proses belajar mengajar. Kenyataan di lapangan banyak menghadapi kendala dalam belajar dan menggunakan strategi, model, pendekatan, dan metode yang hanya menggunakan satu alternative pada semua materi. Menurut Nur dan Wikandari (1999: 6) Alternatif pembelajaran yang dapat menjadikan siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran adalah model pembelajaran kooperatif. Menurut Suherman, dkk (2001:218) menyebutkan bahwa pembelajaran kooperatif mencakupi suatu kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah

18

masalah, menyelesaikan tugas atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya. Salah satu upaya yang harus dilakukan oleh guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa adalah bagaimana seorang guru mampu menciptakan suatu pembelajaran dimana siswa diajak untuk bergerak aktif Oleh karena itu, dalam memilih model pembelajaran yang tepat, haruslah memperhatikan kondisi siswa, sifat materi bahan ajar, fasilitas, media yang tersedia dan kondisi guru itu sendiri.

C. Hipotesis Penelitian Berdasarkan kerangka berpikir di atas maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah :Jika Model Kooperatif Tipe Jigsaw diterapkan pada Siswa Kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Mattiro Bulu Kab.Pinrang akan Meningkatkan Hasil Belajar Matematika.

III. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian yang digunakan adalah Classroom Action Research (CAR) jenis partisipan yaitu jenis penelitian tindakan kelas dimana penelitian yang dilakukan dengan keterlibatan langsung peneliti dari awal sampai akhir proses pembelajaran. B. Setting Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI IPA 1 SMA Neg.1 Mattiro Bulu Kab.Pinrang tahun ajaran 2010/2011 sebanyak 38 siswa yang terdiri dari 15 laki-laki dan 23 perempuan. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap.

19

C. Faktor yang Diselidiki Faktor yang diselidiki dalam penelitian ini adalah : 1. Faktor siswa Dengan meneliti aktivitas kelas atau kegiatan siswa dalam proses pembelajaran di kelas, seperti kehadiran, aktifitas, dan persentase siswa. Aktifitas siswa dibedakan atas aktifitas kelompok dan aktifitas individual. 2. Faktor guru Dengan memperhatikan kegiatan yang telah dilakukan oleh guru pada proses pembelajaran, misalnya: a. Bagaimana guru menggunakan bahasa yang jelas dan mudah dipahami dalam mengajar. b. Bagaimana guru membagi kelompok dalam keheterogen. c. Bagaimana guru memberikan arahan atau bimbingan bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar. d. Bagaimana guru menguasai strategi pembelajaran. e. Bagaimana guru mengimplementasikan strategi belajar yang sesuai dengan materi yang diajarkan. f. Bagaimana guru membuat tes hasil belajar sesuai dengan indikator yang ingin dicapai. 3. Faktor hasil belajar Dengan melihat hasil tes atau evaluasi siswa pada setiap siklus.

D. Defenisi Operasional Variabel

20

Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu sistem pembelajaran memiliki kelompok asal dan membentuk kelompok ahli dari tiap kelompok untuk mendiskusikan materi kemudian kembali ke kelompok asal untuk mengajarkan kepada anggotanya masing-masing tentang hasil diskusi dari kelompok ahli. Meminimalkan kesulitan belajar matematika yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah tingkat belajar siswa baik dalam diskusi kelompok maupun tugas individual sehingga siswa menjadi aktif dalam pembelajaran.

E. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang digunakan untuk pengumpulan data terdiri atas lembar observasi dan tes hasil belajar siswa pada saat proses pembelajaran sampai pada akhir pembelajaran atau evaluasi. 1. Lembar observasi Lembar observasi ini terdiri dari dua bagian, yaitu lembar observasi aktivitas siswa dan lembar observasi aktivitas guru. a. Lembar observasi aktivitas siswa Lembar observasi aktifitas siswa terbagi menjadi dua yaitu aktifitas kelompok siswa dan aktifitas individual siswa. Indikator-indikator yang akan diobservasi berkaitan dengan aktivitas kelompok siswa adalah sebagai berikut: 1) Siswa yang bertanya pada saat proses pembelajaran. 2) Siswa yang menjadi kelompok ahli. 3) Siswa yang mempersentasekan hasil diskusi kelompok. 4) Siswa yang memberi tanggapan terhadap pertanyaan dari siswa lain. 5) Siswa yang menyimpulkan materi pelajaran pada akhir proses pembelajaran.

21

Indikator-indikator yang akan diobservasi berkaitan dengan aktivitas individu siswa adalah sebagai berikut: 1) Siswa yang hadir dalam proses pembelajaran. 2) Siswa yang mengerjakan PR. 3) Keaktifan siswa mengerjakan LKS b. Lembar observasi aktivitas guru Komponen-komponen utama yang akan diobservasi berkaitan dengan aktivitas guru adalah sebagai berikut: 2. Tes hasil belajar Tes hasil belajar ini berbentuk essay yang dibuat sendiri oleh peneliti bekerja sama dengan guru bidang studi matematika dengan memperhatikan indikator pada rencana pelaksanaan pembelajaran dan kurikulum yang berlaku pada tingkat SMP, khususnya kelas VII1 semester genap. Tes yang telah disusun hendaknya terlebih dahulu divaliditasi oleh beberapa orang validator yang sudah dianggap mengetahui dan memahami tentang materi tersebut yang menyatakan bahwa instrumen ini dapat digunakan dalam pengumpulan data penelitian.

F. Prosedur Penelitian Prosedure penelitian tindakan kelas ini direncanakan menggunakan dua siklus yang terdiri dari empat komponen utama yakni, perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. 1. Siklus I

22

Kegiatan dalam siklus 1 berlangsung selama empat kali pertemuan tiap kali tatap muka: a. Planning Pada tahap ini akan dilaksanakan adalah: 1) Menganalisis kurikulum perencanaan 2) Membuat RPP yang disesuaikan dengan tahapan penerapan pembelajaran kontekstual. 3) Sarana pendukung yang diperlukan. 4) Membuat lembaran observasi yaitu untuk melihat bagaimana keaktifan siswa dikelas selama proses pembelajaran berlangsung. b. Action Langkah-langkah yang akan dilaksanakan pada tahap ini sebagai berikut: 1) Kegiatan awal: Bagaimana guru mengawali proses pembelajaran baik membuka pertemuan dalam kelas hingga masuk pada kegiatan inti. 2) Kegiatan inti: Dalam kegiatan inti yang termuat pada tahap ini sesuai dengan sintaks pembelajaran kooperatif yang terdiri dari enam fase yaitu: Fase1. Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa. Fase2. Menyajikan informasi. Fase3. Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar. Fase4. Membantu kerja kelompok dalam belajar atau membimbing. Fase5. Mengetes materi atau evaluasi.

23

Fase6.Memberikan penghargaan 3) Kegiatan akhir Pada kegiatan akhir guru memberikan arahan kepada kelompok ahli selanjutnya untuk mengembangkan hasil diskusi rumah (PR) sebagai tugas individual siswa. c. Observasi Dilakukan observasi pada saat proses pembelajaran berlangsung yang disesuaikan dengan lembar observasi siswa pada instrumen penelitian baik keaktifan kelompok maupun keaktifan individu siswa. d. Reflection Hasil yang diperoleh pada tahap observasi, dianalisis untuk mengetahui sejauh mana hal-hal yang telah diselidiki telah dicapai dan kekurangan yang terdapat pada bagian ini dapat diperbaiki kemudian menentukan tindakan pada siklus II dalam rangka pencapaian tujuan akhir. dan memberikan pekerjaan

2.

Siklus II Kegiatan dalam siklus II berlangsung selama 3 kali pertemuan tatap muka.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada siklus II pada umumnya relatif sama yang dilakukan pada siklus I. Apabila terjadi peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II G. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

24

1. Data kuantitatif tentang peningkatkan pemahaman konsep pecahan diambil dari tes setiap siklus. 2. Data kualitatif tentang aktifitas siswa pada saat berlangsung pembelajaran di dalam kelas dan kehadiran siswa. 3. Data respon siswa diperoleh dengan cara menyiapkan lembar angket dan membagikan lembar angket kepada siswa. Angket ini diberikan penulis dan diisi oleh siswa setelah pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan menggunakan alat peraga pada sub materi pokok persegipanjang dan persegi. Guru juga meminta siswa untuk mengisi angket dengan jujur dan menginformasikan bahwa tidak akan mempengaruhi nilai yang telah diperoleh

H. Teknik Analisis Data Data yang diperoleh dalam penelitian ini dikumpulkan dan dianalisis dengan cara sebagai berikut : 1. Analisis aktivitas guru Data hasil pengamatan aktivitas guru dianalisis dengan mendeskripsikan aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung dengan cara :
Banyaknyaaktivitas yang muncul dan teramati x 100 % Jumlah aktivitaskeseluruhan ( Azizah, 1998 )

Pr esentase

2. Analisis aktivitas siswa Data hasil pengamatan aktivitas siswa selama mengelola pembelajaran dianalisis dengan cara :

25

data hasil penilaian pengamat untuk aktivitas dan kehadiran selama proses pembelajaran dianalisis dengan menggunakan rumus (Buhaerah, 2009: 102) sebagai berikut: = 100%

Keterangan:

= persentase aktivitas siswa untuk melakukan suatu jenis aktivitas = jumlah jenis aktivitas yang dilakukan siswa setiap pertemuan. = jumlah seluruh aktivitas setiap pertemuan

Adapun Penskoran kinerja siswa dapat dilihat dari banyaknya kegiatan yang harus dikerjakan siswa di dalam kelompoknya dalam keperluan analisis kualitatif akan digunakan teknik kategori dengan skala lima dengan berdasarkan pada tehnik kategorisasi yang disusun Nurkancana (Masud, 2008: 16) yaitu: Skor 54 55 64 65 79 80 89 90 100 Kategori Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi

I.

Indikator Keberhasilan Adapun yang menjadi indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas

ini adalah meningkatnya hasil belajar setelah diterapkan model kooperatif tipe Jigsaw yang dapat dilihat dari: 1. Meningkatnya skor rata-rata hasil belajar matematika siswa dari siklus I ke siklus II.

26

2. Meningkatnya aktivitas siswa dari siklus I ke siklus II. 3. Meningkatnya presentase ketuntasan belajar siswa dari siklus I ke siklus II apabila terdapat 85 % siswa yang mencapai nilai 75(kriteria ketuntasan minimal) maka kelas tersebut telah mencapai ketuntasan belajar. 4. Adanya respon siswa yang positif mengenai model yang digunakan dengan dinyatakan dalam angket.

27

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono. 2007. Pendidikan Bagi Anak yang Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta Arikunto, Suharsimi dkk. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara Arsyad, azhar. 2009. Media Pembelajaran Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Badolo, Masud. 2008. Pedoman dan Teknik Penulisan Skripsi. Parepare: Djaali. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara Hadi, Amirul dan Haryono. 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia Hamalik, oemar. 2007. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT. bumi aksara. Ibrahim, dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : University Press UNESA Kunandar. 2009. Guru Profesonal Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran (KTSP) dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: Rajawali Pers. ________, 2010. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: Rajawali Pers. Kelas Sebagai

Lie, Anita. 2010. Cooperatif Learning(Memperaktekkan Cooperatif Learning di Ruang-Ruang Kelas). Jakarta: Grasindo. Muslich, Masnur. 2009. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi Dan Kontesktual. Jakarta: Bumi Aksara Nur, M dan Wikandari, P. 1999. Pengajaran Berpusat Kepada Siswa dan Pendekatan Konstruktivis Dalam Pengajaran. Surabaya : University Press Unesa Slavin, Robert. 2009. Cooperative Learning: Teori, Riset, dan Praktik. Bandung: Nusa Media Sudjana, Nana. 2001. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja rosdakarya. Solihatin Etin, Raharjo. 2008. Cooperative Learning: Analisis Model Pembelajaran IPS. Jakarta: Rieneka Cipta

28

Suherman, erman. Dkk. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: FMIPA UPI. Suprijono, Agus. 2008. Cooperative Learning: teori dan Aplikasi Paikem.