Anda di halaman 1dari 13

PEMBELAJARAN BERBASIS INKUIRI

MAKALAH DAN RANCANGAN PEMBELAJARAN Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Belajar dan Pembelajaran Biologi

oleh Kelas B Program Magister Ika Rifqiawati Hendarly

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2012

PEMBELAJARAN BERBASIS INKUIRI

A. Pengertian Inkuiri Dalam bahasa Inggris, kata inkuiri bermakna penyelidikan, dan kata inkuiri juga dapat bermakna sebagai pertanyaan. Dalam Sanjaya (2009) dinyatakan bahwa inkuiri sering juga dinamakan heuristic, yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu heuriskin yang memiliki arti saya menemukan. Terlepas dari arti kata inkuiri yang berarti penyelidikan, dan heuristic yang berarti penemuan, sebenarnya dua arti tersebut dapat saling berhubungan. Sanjaya (2009) menyatakan bahwa inkuiri adalah suatu metode pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang dipertanyakan. Berdasarkan pendapat Sanjaya, maka dapat mengartikan bahwa inkuiri adalah metode yang memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran melalui percobaan maupun eksperimen sehingga melatih siswa berkreativitas dan berpikir kritis untuk menemukan sendiri suatu pengetahuan yang pada akhirnya mampu menggunakan pengetahuannya tersebut dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Winataputra (1992) menambahkan pengertian pembelajaran berbasis inkuiri adalah metode yang dapat mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsepkonsep sains sebagaimana para saintis mempelajari dunia alamiah. Dari pernyataan tersebut, maka inkuiri yang diterapkan dalam pembelajaran akan membuat siswa dapat merasakan diri sebagai ilmuwan, dengan melakukan kegiatan-kegiatan ilmiah, sehingga siswa dapat lebih memahami konsep. Ide pokok pembelajaran inkuiri berasal dari pemikiran Dewey. Namun dengan istilah yang berbeda yaitu berpikir reflektif yang mempunyai maksud sebagai kemampuan berpikir dalam melakukan usaha yang aktif, hati-hati, dan pengujian secara tepat terhadap keyakinan seseorang atau pengetahuan tertentu berdasarkan dukungan dan kenyataan. Ide pokok yang disampaikan oleh Dewey ini kemudian digunakan oleh pakar psikologi, dan berbagai istilah kemudian digunakan oleh ahli pendidikan untuk maksud yang dama, yaitu inkuiri.

Di Indonesia sendiri diperkenalkannya model pengajaran IPA yang mengembangkan kemampuan berinkuiri pada tahun sekitar 1980-an. Model inkuiri yang diperkenalkan saat itu yaitu Model Latihan Inkuiri (MLI) yang diturunkan dari model inkuiri Suchman, dan undangan inkuiri (invitations into inquiry) dari Schwab (Rustaman: 2005). Inkuiri akhirnya berkembang dan diterapkan pada beberapa bidang studi, karena dinilai membawa dampak positif bagi siswa dan pendidikan pada umumnya.

B. Perbedaan Discovery dan Inkuiri Menurut beberapa ahli, istilah discovery dan inquiry terbagi dalam dua pendapat, yaitu: 1. Istilah-istilah discovery dan inquiry dapat diartikan dengan maksud yang sama dan dalam prosesnya dapat digunakan secara terpisah (bergantian) atau bersamaan. 2. Istilah discovery sekalipun secara umum menunjuk kepada pengertian yang dama dengan inqury, namun pada hakikatnya mengandung perbedaan. Sukarto menuliskan dalam artikelnya bahwa John Dewey menyatakan inkuiri dan discovery pada dasarnya saling berkaitan. Inkuiri dapat diartikan sebagai penyelidikan, sedangkan discovery sendiri mempunyai arti yaitu penemuan. Sehingga kaitannya adalah ketika siswa melakukan proses penyelidikan, yang akhirnya dapat memperoleh suatu penemuan. Sejalan dengan pernyataan John Dewey, Suryosubroto dalam Trianto juga berpendapat bahwa inkuiri merupakan perluasan proses discovery, yang digunakan lebih mendalam. inkuiry yang dalam bahasa Inggris Inquiry berarti pertanyaan, atau pemeriksaan, penyelidikan. Inkuiri sebagai suatu proses umum yang dilakukan manusia untuk mencari atau memahami informasi. Moh. Amien juga menyatakan demikian, bahwa inkuiri adalah perluasan dari proses-proses discovery yang digunakan dalam cara dewasa. Dalam inkuirimengandung proses-proses mental yang lebih tinggi tingkatannya misalnya merumuskan masalah, merancang eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganilisis data, menarik kesimpulan, mempunyai sikap-sikap objektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka, dan sebagainya.

C. Karakteristik Inkuiri Menurut Sanjaya (2009) bahwa pembelajaran inkuiri memiliki beberapa ciri utama, yaitu: 1. Inkuiri menekankan pada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, akan tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri. 2. Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri yang sifatnya sudah pasti dari sesuatu yang sudah dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sifat percaya diri. Dalam pembelajaran inkuiri, guru bukan sebagai sumber belajar tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa. 3. Tujuan dari penggunaan pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis. Sedangkan menurut pendapat Hinrichen dan Jannet dalam Zulfiani (2009), inkuiri memiliki empat karakteristik, yaitu: 1. Koneksi Dalam pembelajaran inkuiri, siswa mampu menghubungkan pengetahuan sains pribadi dengan konsep komunitas sains, yang didapatkan dari diskusi bersama dan eksplorasi fenomena. Guru mendorong untuk mendiskusikan dan menjelaskan pemahaman mereka bagaimana fenomena bekerja, menggunakan contoh dari pengalaman pribadi, menemukan hubungan dengan literatur. Proses melalui konsiliasi, pertanyaan, dan observasi. 2. Desain Karakteristik kedua yaitu desain, dalam pelaksanaannya siswa membuat perencanaan mengumpulkan data yang bermakna yang ditujukan pada pertanyaan (integrasi konsep sains dengan proses sains). Kemudian siswa berperan aktif mendiskusikan prosedur, persiapan materi, menentukan variabel kontrol, pengukuran. Guru memantau ketepatan aktivitas siswa. Proses melalui prosedur-materi.

3. Investigasi Siswa dapat membaca data secara akurat, mengorganisasi data dalam cara yang logis dan bermakna, dan memperjelas hasil. Proses melalui koleksi dan mempresentasikan data.
4. Membangun pengetahuan

Konsep yang dilakukan dengan eksperimen akan memberi arti yang lebih bermakna dan melatih kemampuan berpikir kritis. Siswa harus menghubungkan antara interpretasi data, interpretasi saintifik yang diterima. Siswa dapat mengaplikasikan pemahamannya pada situasi baru yang mengembangkan

inferensi, generalisasi, dan prediksi. Guru melakukan sharing pemahaman siswa. Proses melalui refleksi-konstruksi-prediksi. D. Komponen Inkuiri Pembelajaran inkuiri memiliki beberapa komponen. Sebagaimana yang dikemukakan Garton (dikutip dalam Ahmad) bahwa pembelajaran dengan inkuiri memiliki 5 komponen yang umum, yaitu: 1. Question. Pembelajaran biasanya dimulai dengan sebuah pertanyaan pembuka yang memancing rasa ingin tahu siswa dan atau kekaguman siswa akan suatu fenomena. 2. Student Engangement. Dalam metode inkuiri, keterlibatan aktif siswa merupakan suatu keharusan dalam menciptakan sebuah produk dalam mempelajari suatu konsep. 3. Cooperative Interaction. Siswa diminta untuk berkomunikasi, bekerja

berpasangan atau dalam kelompok, dan mendiskusikan berbagai gagasan. 4. Performance Evaluation. Dalam menjawab permasalahan, biasanya siswa diminta untuk membuat sebuah produk yang dapat menggambarkan

pengetahuannya mengenai permasalahan yang sedang dipecahkan. Melalui produk-produk ini guru melakukan evaluasi. 5. Variety of Resources. Siswa dapat menggunakan bermacam-macam sumber belajar, misalnya buku teks, website, televisi, video, poster, wawancara dengan ahli, dan lain sebagainya.

E. Tahapan Inkuiri Inkuiri dapat menjadi pendekatan, karena sebagai teknik pembelajaran. Namun dapat juga disebut sebagai model karena sudah memiliki sintak (tahapan) yang jelas. Adapun sintak/tahapan inkuiri dalam Alberta (2004), yaitu: Fase Planning Domain Kognitif Mendapatkan gambaran keseluruhan proses beserta tiap bagiannya, Merencanakan keseluruhan proses Menghasilkan topik permasalahan Memikirkan sumber Mencari sumber Memahami perbedaan pola penyelidikan Dimulai dari fokus Mengenali perbedaan informasi yang relevan dengan informasi yang terkait secara langsung Mengenali pengaruh yang potensial kepada orang lain Mengorganisasikan informasi Memilih format Membuat produk pengetahuan baru Memikirkan audience mereka Merespon audience sewajarnya Menanyakan apa yang telah mereka pelajari mengenai konten dari topik Menanyakan aoa yang telah mereka pelajari mengenai proses inkuiri Domain Afektif Merasa optimis, keraguan, dan khawatir Memahami bahwa perasaan ini akan berubah selama proses berlangsung Merasa bingung, ragu, marah, dan terkadang merasa terancam

Retrieving

Processing

Pada awalnya merasa optimis dan percaya diri akan kemampuan mereka untuk menyelesaikan tugas Merasa minat bertambah Merasa kewalahan Merasa bergairah dan tertarik tapi juga merasa tertekan untuk menyelesaikan produk Merasa bergairah dan tertarik tapi juga merasa tertekan untuk tampil di depan audience Merasa lega Merasa puas atau tidak puas Memahami bagaimana perasaan mereka berubah selama inkuiri

Creating

Sharing

Evaluating

Eggen & Kauchak dalam Trianto (2009) menyatakan tahapan pembelajaran inkuiri sebagai berikut:

Fase 1. Menyajikan pertanyaan atau masalah 2. Membuat hipotesis

Perilaku Guru Guru membimbing siswa mengidentifikasi masalah dan masalah dituliskan di papan. Guru membagi siswa dalam kelompok. Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk curah pendapat dalam membentuk hipotesis. Guru membimbing siswa dalam menentukan hipotesis yang relevan dengan permasalahan dan memproiritaskan hipotesis mana yang menjadi prioritas penyelidikan. Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menentukan langkah-langkah yang sesuai dengan hipotesis yang akan dilakukan . Guru membimbing siswa mengurutkan langkah-langkah percobaan Guru membimbing siswa mendapatkan informasi melalui percobaan Guru memberi kesempatan kepada setiap kelompok untuk menyampaikan hasil pengolahan data yang terkumpul. Guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan.

3. Merancang percobaan

4. Melakukan percobaan untuk memperoleh informasi 5. Megumpulkan dan menganilisis data 6. Membuat kesimpulan

Sanjaya (2008) dalam bukunya juga membahas tahapan pembelajaran inkuiri, penjelasannya dapat dilihat pada tabel berikut: Fase 1. Fase orientasi Kegiatan Guru Guru menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa. Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan. Dijelaskan juga langkah-langkah inkuiri pada siswa. Guru membawa siswa pada persoalan yang mengandung permasalahan. Guru juga mendorong siswa untuk mencari jawabannya. Permasalahan yang diberikan kepada siswa yaitu masalah yang mengandung konsep yang jelas harus dicari dan ditemukan.

2. Fase merumuskan masalah

3. Fase mengajukan hipotesis

4. Fase mengumpulkan data

5. Fase menguji hipotesis

6. Fase merumuskan kesimpulan

Guru mendorong siswa untuk membuat hipotesis dengan mengajukan pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalah yang dikaji pada fase merumuskan masalah. Guru mendorong siswa untuk mencari informasi yang dibutuhkan melalui eksperimen. Disini siswa merancang eksperimen, melaksanakan eksperimen, dan melakukan pengumpulan data. Guru mengarahkan siswa untuk menganilis data eksperimen dan menguji hipotesis yang telah mereka ajukan sebelum siswa menarik kesimpulan. Guru membimbing siswa menarik kesimpulan dari data eksperimen yang sudah dianalisis. Kemudian, siswa menyampaikan kesimpulan dalam diskusi kelas

F. Jenis-jenis Inkuiri Beberapa ahli menggolongkan inkuri dalam jenis-jenis yang berbeda. Callahan dalam Suyanti (2010) membagi inkuiri menjadi dua jenis yaitu inkuiri tingkat pertama (guided inquiry), dan inkuiri bebas (free inquiry). Sedangkan Sund dan Trowbridge dalam Mulyasa (2006) membagi inkuiri dalam tiga jenis, yaitu: 1. Inkuiri terpimpin (Guide inquiry) Inkuiri terpimpin digunakan terutama bagi siswa yang belum mempunyai pengalaman belajar dengan inkuiri. Dalam hal ini guru memberikan bimbingan dan pengarahan yang cukup luas. Dalam pelaksanaannya, sebagian besar perencanaan dibuat oleh guru dan para siswa tidak merumuskan permasalahan. Dalam jenis ini, pelaksanaan penyelidikan dilakukan oleh siswa berdasarkan petunjuk guru. Petunjuk diberikan pada siswa berupa pertanyaan pembimbing. Pelaksanaan pembelajaran dimulai dari pertanyaan, kemudian siswa menjawabnya. Dari jawaban yang dikemukakan siswa, guru mengajukan berbagai pertanyaan pelacak, dengan tujuan mengarahkan siswa ke suatu titik kesimpulan yang diharapkan. Selanjutnya siswa melakukan percobaan-percobaan untuk

membuktikan pendapat yang dikemukakan proses inkuiri.

2. Inkuiri bebas (Free inquiry). Pada inkuiri bebas siswa melakukan penelitian sendiri bagaikan seorang ilmuwan. Pada pengajaran ini, siswa harus dapat mengidentifikasi dan merumuskan berbagai topik permasalahan yang hendak diselidiki. Metodenya adalah inquiry role approach yang melibatkan siswa dalam kelompok tertentu, setiap anggota kelmpok tugas memiliki tugas sebagai, misalnya koordinator kelompok, pembimbing teknis, pencatatan data, dan pengevaluasi proses. 3. Inkuiri bebas yang dimodifikasi (Modified free inquiry) Pada inkuiri ini guru memberikan permasalahan atau problem kemudian siswa diminta untuk memecahkan permasalahan tersebut melalui pengamatan, eksplorasi, dan prosedur penelitian untuk membuktikan kebenarannya. Trowbridge dan Bybee dalam Rustaman (2005) juga mengemukakan tiga tingkatan inquiri berdasarkan tingkat kompleksitasnya pembelajaran dengan inkuiri, yaitu: 1. Tingkatan pertama adalah pembelajaran penemuan (discovery) Dalam pembelajaran penemuan siswa diajak melakukan pencarian konsep melalui kegiatan yang melibatkan pertanyaan, inferensi, prediksi, berkomunikasi, interpretasi dan menyimpulkan. 2. Tingkatan kedua adalah pembelajaran inkuiri terbimbing (guided inquiry) Dalam pembelajaran inkuiri terbimbing masalah dimunculkan oleh pembimbing atau oleh guru. 3. Tingkatan paling kompleks adalah inkuiri terbuka atau bebas (open inquiry) Dalam pembelajaran inkuiri terbuka atau inkuiri bebas, masalah berasal dari siswa dengan bantuan arahan dari guru sampai siswa menemukan apa yang dipertanyakan dan mungkin berakhir dengan pertanyaan atau masalah baru yang perlu ditindaklanjuti pada kegiatan pembelajaran berikutnya. Perbedaan tiga tingkatan inkuiri dapat digambarkan pada tabel di bawah ini: Tingkatan inkuiri Discovery Guided inquiry Open inquiry Guru Identifikasi permasalahan dan proses Mengajukan permasalahan Memberi konteks penyelesaian masalah Siswa Menentukan proses penyelesaian Identifikasi dan menyelesaikan masalah Identifikasi alternatif hasil.

Selain memiliki perbedaan, ketiga pembelajaran tersebut memiliki kesamaan. Kesamaannya ketiganya melibatkan keterampilan proses sains dan atau kemampuan dasar bekerja ilmiah. Moh. Amien dalam Jajang (2006) menguraikan tentang tujuh jenis inqurydiscovery, yaitu: 1. Guided discovery-inqury lab. Lesson Jenis ini lebih menekankan peran guru dalam menyediakan bimbingan atau petunjuk yang cukup luas kepada siswa. Dalam hal ini, guru yang membuat perencanaan, dan memberikan petunjuk yang cukup luas tentang bagaimana menyusun dan mencatat, rumusan masalah juga diberikan oleh guru. 2. Modified discovery-inquiry Dalam metode ini guru hanya memberikan masalah saja. Biasanya bahan atau alat-alat yang diperlukan juga disediakan, kemudian siswa diminta untuk memecahkannya melalui pengamatan, eksplorasi, atau melalui prosedur penelitian untuk memperoleh jawabannya. Pemecahan masalah dilakukan atas inisiatif dan caranya sendiri. 3. Free inquiry Metode ini diterapkan pada siswa yang pernah melakukan modified discovery-inquiry dan kepada siswa yang telah mempelajari dan memahami bagaimana cara memecahkan masalah dan telah memperoleh pengetahuan cukup tentang bidang studi tertentu. Dalam metode ini, siswa harus mengidentifikasi dan merumuskan masalah yang akan dipelajari atau dipecahkan. 4. Invitation into inquiry Metode ini hampir sama dengan free inquiry, namun siswa merumuskan masalah berdasarkan suatu undangan (invitation) yang berupa pertanyaan masalah yang telah direncanakan dengan hati-hati. Undangan berupa pertanyaan ini diberikan dengan maksud agar siswa dapat melakukan kegiatan layaknya ilmuwan, yaitu merancang eksperimen, merumuskan hipotesis, menetapkan kontrol, menentukan sebab akibat, menginterpretasi data, membuat grafik, menentukan peranan diskusi, kemudian menarik kesimpulan.

5. Inquiry role approach (I.R.A) Metode ini sebenarnya merupakan pelaksanaan pemecahan masalah dari invitation into inquiry, namun siswa dibentuk dalam kelompok yang terdiri dari empat anggota. Setiap anggota memiliki perananan yang berbeda yaitu sebagai koordinator kelompok, penasehat teknis (technical advisor), pencatat data (data recorder), dan evaluator proses. 6. Pictorial riddle Pemberian riddle biasanya berupa gambar atau peragaan yang ditempel di papan tulis, papan poster, atau diproyeksikan, kemudian guru mengajukan pertanyaan berkaitan dengan riddle tersebut. Teknik atau metode ini untuk mengembangkan motivasi dan minat siswa dalam diskusi kelompok, yang akan meningkatkan cara berpikir kritis dan kreatif siswa. 7. Synetics lesson Synetics ini diperkenalkan oleh William J.J. Gordon dan rekan kerjanya, dengan tujuan untuk memberikan suatu cara menstimulasi bakat-bakat kreatif siswa. Kebanyakan kegiatan synetics dinilai dengan kegiatan-kegiatan kelompok yang tidak rasional, yang kemudian berkembang menuju kepada masalah dan pemecahannya yang rasional.

G. Kelebihan dan Kekurangan Inkuiri Kelebihan inkuiri menurut Suyanti (2010) yaitu: 1. Dianggap membantu siswa dalam mengembangkan atau memperbanyak persediaan dan penguasaan keterampilan proses kognitif siswa. 2. Penemuan membangkitkan gairah siswa. 3. Memberi kesempatan pada siswa untuk bergerak maju sesuai dengan kemampuannya. 4. Siswa dapat mengarahkan sendiri cara belajarnya. 5. Membantu memperkuat pribadi siswa. 6. Inkuiri menekankan pembelajaran yang berpusat pada anak. 7. Membantu perkembangan siswa menuju skeptisisme yang sehat dan menemukan kebenaran akhir dan mutlak.

Alberta (2004) juga memberikan pernyataan tentang kelebihan dari inkuiri, yaitu: 1. Inkuiri mampu mengembangkan keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan siswa. 2. Siswa mempunyai kemampuan untuk mempelajari agar permasalan yang belum mendapat solusi dapat teratasi. 3. Memberi perubahan dan tantangan kepada siswa untuk memahami. 4. Siswa dapat membentuk penyelidikan untuk menemukan solusi, sekarang dan masa depan. Selain memiliki kelebihan, inkuiri juga memiliki kelemahan. Winataputra (1992) merincikan kelemahan inkuiri, yaitu: 1. Dalam mengubah kebiasaan belajar bukanlah suatu hal yang mudah dilakukan. 2. Umumnya guru belum merasa puas dalam mengajar, jika belum banyak menyajikan informasi secara ceramah. 3. Membutuhkan penyediaan berbagai sumber belajar dan fasilitas yang memadai dan biasanya sukar untuk penyediaannya. 4. Jumlah siswa yang relatif banyak membuat penggunaaan inkuiri sukar untuk dikembangkan dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Alberta. (2004). Focus on Inquiry: A Teachers Guide to Implementing Inquiry Base Learning. Canada: Edmonton. Diakses pada 25 September 2012 dari

http://www.Irc.learning.Gov.ab.ca/ Jaelani, jajang. (2005). Pengaruh Pengembangan Model Pembelajaran Inkuiri dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Pokok Bahasan Suhu dan Kalor. Skripsi pada FMIPA UPI Bandung. Tidak diterbitkan. Rustaman, N.Y. (2005). Perkembangan Penelitian Pembelajaran Berbasis Inkuiri dalam Pendidikan Sains. Makalah dipresentasikan pada Seminar Nasional II Himpunan Ikatan Sarjana dan Pemerhati Pendidikan Ipa Indonesia. Di FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia, tanggal 22-23 Juli 2005. Sanjaya, Wina. (2008). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Prenada Media. Sanjaya, Wina. (2009). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Prenada Media. Sukarto. Metode Pembelajaran Discovery dan Inkuiri. Diakses pada 25 September 2012, dari http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2098069-metode-

pembelajaran-inkuiri-dan-discovery/#ixzz28QSrNozz Suryanti, R.D. (2010). Strategi Pembelajaran Kimia. Yogyakarta: Graha Ilmu. Trianto, 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif berorientasi konstruktivis. Prestasi Pustaka.Jakarta Trianto. (2009). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Jakarta: Prenada Media. Winataputra, S, Udin. (1992). Materi Pokok Strategi Belajar Mengajar IPA. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Zulfiani. (2009). Model Inkuiri (Powerpoint slides). Tidak diterbitkan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Indonesia.