Anda di halaman 1dari 11

TEKNIK HIBRIDISASI UNTUK MEMPEROLEH GENOTIPE KACANG TANAH (ARACHIS HYPOGAEA) TAHAN PENYAKIT BERCAK Diajukan untuk memenuhi

tugas Mata Kuliah Rekayasa Tanaman II

Disusun Oleh: Kelompok 1 Agroteknologi B

Annisaa Ramadhini Rifina Chairunisa Mardiah Hayati P. Yusup Sholihin

150510110011 150510110032 150510110033 150510110034

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2012

1.1

Latar Belakang Di Indonesia, kacang tanah merupakan komoditas utama kedua setelah

kedelai. Dengan kandungan minyak dan protein yang tinggi, yaitu masing-masing 42% dan 22%, kacang tanah merupakan sumber lemak dan protein nabati yang penting. Pada umumnya kacang tanah diperlukan untuk kebutuhan konsumsi, dan hanya sebagian kecil digunakan sebagai pakan ternak ataupun diproses menjadi minyak. Namun, komoditas tersebut belum banyak disentuh oleh programprogram pembangunan pertanian yang dilakukan oleh pemerintah (Saleh, 2010). Peningkatan jumlah penduduk dan berkembangnya industri pangan dan pakan di Indonesia mengakibatkan setiap tahun pemerintah harus mengimpor kacang tanah rata-rata 141.842 ton karena peningkatan kebutuhan tersebut tidak dapat dicukupi dari produksi dalam negeri. Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya produktivitas kacang tanah di Indonesia adalah: (1) cara budidaya kacang tanah masih menggunakan teknologi sederhana; (2) keterbatasan modal dan pengetahuan petani; (3) sebagian besar kacang tanah dibudidayakan di lahan kering dengan kesuburan tanah yang rendah; dan (4) gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT) terutama penyakit yang belum dapat diatasi. Penyakit bercak daun dan karat merupakan penyakit endemis dengan intensitas serangan yang bervariasi dari musim ke musim dan antardaerah. Bercak daun merupakan salah satu penyakit utama pada kacang tanah yang menurunkan hasil sampai 60%. Penyakit ini sering dijumpai di lapangan, tetapi pengendaliannya jarang dilakukan. Efisiensi produksinya dapat ditingkatkan dengan merakit genotipe kacang tanah yang tahan penyakit bercak daun. Jusfah (1985) menyatakan bahwa bergantung pada cepat atau lambatnya penyakit timbul dan varietas tanaman yang terserang. Serangan penyakit bercak daun dapat menurunkan jumlah polong, jumlah biji, dan bobot biji per tanaman. Pada varietas Pe-landuk yang tergolong peka, kehilangan hasil yang disebabkan oleh penyakit bercak daun dapat mencapai 60%. Tingkat kehilangan hasil ini berkorelasi positif dengan intensitas serangan dan tingkat defoliasi daun. Selain kehilangan hasil, penyakit bercak daun juga dapat menurunkan kualitas biji (ukuran dan kandungan minyak).

Oleh karena itu, diperlukan perakitan kultivar kacang tanah yang selain memiliki daya hasil tinggi juga tahan terhadap penyakit terutama penyakit bercak daun yang merupakan penyakit utama pada komoditas kacang tanah melalui teknik persilangan buatan. Tujuan dari persilangan ini adalah untuk menghasilkan kultivar baru kacang tanah tahan penyakit bercak daun sehingga diharapkan dapat membantu negara dalam menyediakan pasokan kacang tanah dalam negeri. Karena selama ini, dengan adanya pertumbuhan penduduk dan perkembangan industri pangan dan pakan mengakibatkan pemerintah harus mengimpor kacang tanah rata-rata 141.842 ton per tahunnya. Dengan adanya kacang tanah kultivar ini juga diharapkan dapat membantu petani dalam membudidayakan dan

menghasilkan kacang tanah yang memiliki daya hasil tinggi dan tahan penyakit sehingga mendapat keuntungan yang maksimal. Persilangan dapat dilakukan antara kacang tanah varietas gajah yang memiliki daya hasil tinggi dengan spesies liar kacang tanah Arachis cardenasii yang tahan terhadap penyakit bercak daun, karat daun, dan layu bakteri. Hibridisasi (persilangan) adalah penyerbukan silang antara tetua yang berbeda susunan genetiknya. Pada tanaman menyerbuk sendiri hibridisasi merupakan langkah awal pada program pemuliaan setelah dilakukan pemilihan tetua. Umumnya program pemuliaan tanaman menyerbuk sendiri dimulai dengan menyilangkan dua tetua homozigot yang berbeda genotipenya. Pada tanaman menyerbuk silang, hibridisasi biasanya digunakan untuk menguji potensi tetua atau pengujian ketegaran hibrida dalam rangka pembentukan varietas hibrida. Selain itu, hibridisasi juga dimaksudkan untuk memperluas keragaman. Tujuan utama melakukan persilangan adalah (1) Menggabungkan semua sifat baik kedalam satu genotipe baru; (2) Memperluas keragaman genetik; (3). Memanfaatkan vigor hibrida; atau (4) Menguji potensi tetua (uji turunan). Dari keempat tujuan utama ini dapat disimpulkan bahwa hibridisasi memiliki peranan penting dalam pemuliaan tanaman, terutama dalam hal memperluas keragaman. Seleksi akan efektif apabila populasi yang diseleksi mempunyai keragaman genetik yang luas. (Rahmi Yunianti, Sriani Sujiprihati, Muhamad Syukur) Selain itu, hibridisasi juga dimaksudkan untuk memperluas keragaman. Mekanisme inkompatibilitas diri, berpusat pada gagasan bahwa serbuk sari yang

inkompatibel dengan jaringan tangkai putik tidak akan berkecambah pada tangkai putik atau akan menghasilkan tabung serbuk sari yang tumbuh secara lambat. Dalam hal ini pembuahan hanya terbatas pada serbuk sari yang kompatibel pada tangkai putik sehingga berkecambah dan menghasilkan serbuk sari yang tumbuh normal walaupun kedua jenis serbuk sari dapat mendarat pada kepala putik secara serentak. Istilah inkompatibilitas atau kompatibilitas dipergunakan bagi mekanisasi system genetic baik pada jantan maupun pada betina. (James R.Welsh dan Johanis P.Mogea, 1991:63).

1.2

Biologi Bunga Pada Kacang Tanah

Kacang tanah merupakan tanaman semusim atau yang biasa disebut annual dengan karakteristik batangnya tidak berkayu, memiliki bulu halus, dan bercabang hingga 1538cm. Sedangkan karakteristik daunnya berupa daun majemuk dengan bentuk pinnatus dengan 4 anak daun berpasang-pasangan dengan letak alternate. Cabang-cabang alat reproduksi seperti bunga, terbentuk masing-masing baik diketiak katafil maupun diketiak daun pada cabang vegetatif. Pada beberapa forma, alat reproduksinya berada dibuku yang lebih tinggi pada batang utama, dimana masing-masing perbungaan memiliki 25 kuntum bunga. Bunga kacang tanah berbentuk seperti kupu-kupu dengan warna kuning. Bunga keluar dari

ketiak-ketiak daun setelah 46 minggu atau kurang lebih setelah 50 hari setelah perkecambahan). Polongnya berkembang dari gynophor, gynophor ini tumbuh ke arah tanah dengan membawa bakal buah di ujungnya, yang kemudian mengeras menjadi topi pelindung sementara gynophor itu menembus tanah. Panjang gynophor tergantung kepada jarak awal bunga itu dari tanah, tetapi jika lebih dari 15 cm, gynophor biasanya gagal mencapai tanah dan ujungnya akan mati. Diameter dari polong ini antara 10 mm20 mm, dengan jumlah biji per polong : a. tipe tegak : 2 biji per polong b. tipe menjalar : lebih dari 2 biji per polong Kulit luar polong atau perikarp diantara 2 biji berbentuk pinggang dan besarnya bervariasi, mesokarpnya yang mengeras tertutup oleh kulit biji. Warna biji beragam, mulai merah sampai berwarna merah muda yang terbungkus oleh testa yang sangat tipis. Umumnya biji tersusun atas 2-4 biji yang besar, satu epikotil beserta plumulla dan calon kuncup, satu hipokotil, dan akar tunggang. Kacang tanah memiliki protein 25 30%, dan kadar lemak 4048%. Kacang tanah bisa dijadikan sebagai sumber protein karena memiliki protein yang tinggi hampir sama dengan kedelai. Selain bijinya, daun kacang tanah juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak, dan sebagai alat pemfiksasi N.

1.3

Alat dan Bahan pisau kecil yang tajam gunting kecil pinset dengan ujung yang runcing jarum yang panjang dan lurus alkohol (75-85%) atau spiritus dalam botol wadah untuk tempat benang sari sikat kuas kaca pembesar kantong dari kain, kelambu, kantong plastik yang telah diberi lubanglubang

label dari kertas yang tebal dan kedap air berbagai warna

1.4

Pelaksanaan Persilangan meliputi kegiatan persiapan, kastrasi, emaskulasi, isolasi,

pengumpulan serbuk sari, penyerbukan dan pelabelan.

Persiapan Persiapan untuk melakukan penyerbukan silang siapkan alat dan bahan yang sudah disebutkan diatas. Untuk membungkus bunga sebelum dan sesudah dilakukan penyerbukan dapat dipakai kantong dari kain, kelambu, kantong plastik yang telah diberi lubang-lubang kecil untuk pernafasan (peredaran udara) atau isolatif, sesuai dengan ukuran bunga. Selain itu perlu disediakan label dari kertas yang tebal dan kedap air. Label-label tersebut diberi nomor urut menggunakan pinsil atau bolpoint yang tintanya tidak luntur karena air. Untuk keperluan penyerbukan silang antara jenis-jenis tertentu sebaiknya kertas label mempunyai warna tertentu, misalnya untuk persilangan A X B warna labelnya merah, untuk A X C warna labelnya putih, untuk D X B warnanya hijau dan seterusnya dengan warna lain.

Kastrasi Kastrasi merupakan kegiatan untuk membersihkan bagian tanaman yang ada disekitar bunga yang akan diemaskulasi dari kotoran, serangga, kuncupkuncup bunga yang tidak dipakai serta organ tanaman lain yang mengganggu kegiatan persilangan. Membuang mahkota dan kelopak juga termasuk kegiatan kastrasi. Kastrasi umumnya menggunakan gunting, dan pinset.

Emaskulasi Emaskulasi meupakan proses untuk membuang alat kelamin jantan atau stamen pada tetua betina, sebelum bunga mekar atau sebelum terjadi penyerbukan sendiri. Emaskulasi biasanya dilakukan pada tanaman berumah satu yang hermaprodit dan fertil. Cara emaskulasi tergantung pada morfologi bunganya. Beberapa metode emaskulasi yang umum digunakan yaitu:

1. Metode Kliping atau Pinset Tahap pertama, kuncup bunga menggunakan pinset atau dipotong dengan gunting, kemudian anther atau stamen dibuang menggunakan pinset. Cara ini umunya digunakan pada bunga yang relatif besar, misalnya bunga pada tamanan cabai, kedelai, tomat dan tembakau. Kelebihan cara emaskulasi adalah mudah dan praktis, murah dan mudah dilakukan, namun kekurangannya resiko rusaknya putik dan pecahnya anther sangat besar, sehingga terjadi penyerbukan sendiri. Adapun cara melakukan emaskulasi menggunakan metode ini yaitu : a. Bunga betina, bagian ujung kuncup bunga dipotong dengan pisau silet atau gunting, sehingga kepala putiknya kelihatan jelas dari atas. Dalam melakukan pemotongan ini, harus dengan hati-hati jangan sampai putiknya ikut terpotong atau rusak. b. Mahkota dari kuncup bunga dibuka perlahan-lahan satu persatu dengan menggunakan pinset sampai semua benang sari terlihat jelas dari luar. Bila perlu semua mahkota dibuang. c. Benang sari dapat dibuang satu per satu sampai habis menggunakan pinset. d. Pinset, atau gunting kecil dan alat lain yang dipakai untuk emaskulasi bunga harus steril. Setiap dipakai, alat tersebut harus dicelupkan ke spiritus atau alkohol 75-85% dan kemudian dikeringkan. e. Setelah melakukan emaskulasi, pada tangkai bunga segera digantungkan sebuah label yang telah diberi nomor. 2. Metode Pompa Isap (Sucking Method) Menggunakan metode bisa dibilang cukup mahal. Karena menggunakan alat khusus. Keuntungan menggunakan metode ini adalah kemungkinan rusaknya kepala putik atau stigma dan pecahnya anther dan kemungkinan penyerbukan sendiri sangat kecil. Caranya dengan ujung bunga dibuka menggunakan gunting, kemudian anter dihisap keluar dengan alat pompa hisap. 3. Metode Pencelupan dengan Air Panas, Air Dingin atau Alkohol Cara ini biasanya digunakan untuk tanaman yang bunganya kecil-kecil, seperti sorghum, rumput-rumputan dan pakan. Cara emaskulasi untuk jenis bunga

ini dengan bunga dicelupkan ke air hangat dengan suhu 43-530C selama 1-10 menit. Kelemahan cara ini mahal dan tidak praktis. Hal yang sama bisa dilakukan pada air dingin atau alkohol. 4. Metode Kimia Beberapa bahan kimia dapat mendorong terbentuknya mandul jantan. Bahan kimia tersebut diantaranya adalah GA, sodium dichloroasetat, ethrel, GA 4/7, 2,4 D, NAA. Dengan cara penyemprotan pada bunga yang sedang kuncup. 5. Metode Jantan Mandul Untuk tanaman menyerbuk sendiri seperti barley, sorghum, atau padi pelaksanaan emaskulasinya sulit. Sebagai gantinya bisa meggunakan tanaman mandul jantan yaitu yang anthernya steril dan tidak menghasilkan polen yang viabel. Sifat ini bisa dikendalikan secara genetik maupun sitoplasmik.

Isolasi Cara isolasi dilakukan pada bunga yang telah diemaskulasi supaya tidak terserbuki oleh serbuk sari asing. Baik bunga jantan maupun betina harus ditutupi dengan kantung yang terbuat dari kertas tahan air, kain, plastik, atau selotipe. Kantong tersebut harus memenuhi syarat-syarat berikut : 1. 2. 3. 4. 5. Kuat dan tahan hujan, angin dan panas terik matahari. Tidak mengganggu respirasi bunga yang dibungkus Saat terkena air dapat lekas kering, airnya cepat menguap Bahan yang dipakai untuk kantong tidak menarik bagi serangga Kantongnya cukup besar, sehingga bila ada hujan turun, bunganya tidak akan menempel pada kantong. Kantong sebaiknya berbentuk silinder, dengan kerangka dari kawat atau bambu.

Pengumpulan Serbuk Sari Pengumpulan dari pohon tetua jantan biasanya dilaksanakan beberapa jam sebelum kuncup-kuncup bunga mekar. Jika letak pohon tetua betina jauh dari pohon tetua jantan, maka pengangkutan dari tetua jantan ke tetua betina akan memakan waktu yang lama. Agar kuncup bunga tidak mudah layu dan tahan

lama dalam keadaan segar, maka sebaiknya kuncup dipetik dan diangkut pada pagi hari atau pada sore hari agar tidak terlalu terkena sinar matahari berlebih. Serbuk sari mempunyai umur terbatas dan akhirnya akan mati pada waktu dan kondisi tertentu. Mutu serbuk sari dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya : 1. Kelembaban udara: pada kelembaban udara relatif tinggi, serbuk sari biasanya tidak tahan disimpan terlalu lama. Penyimpanan pada kondisi udara lembab akan berakibat buruk, karena bisa terjangkit cendawan dan bakteri yang dapat menyebabkan serbuk sari cepat mati. 2. Umur serbuk sari: semakin tua, maka semakin lambat perkecambahannya dan tabung sari akan lebih pendek. Selain itu, persentase butir-butir serbuk sari yang hidup akan terus menurun sampai tidak ada lagi yang dapat berkecambah. 3. Suhu udara: udara kering dan dingin, membuat serbuk sari dapat disimpan lebih lama dalam kondisi tertutup. Di laboratorium, serbuk sari biasanya disimpan pada suhu antara 2-80C dan pada kelembaban udara antara 10% sampai 50%. Tahapan penyimpanan yang biasa dilakukan: pertama serbuk sari dimasukkan kedalam tabung gelas. Kemudian tabungnya diletakkan dalam exsicator (desiccator) yang telah diisi dengan CaCl2 atau dengan larutan H2SO4 dengan konsentrasi tertentu, misalnya antara 10-70%. Hal ini dilakukan agar dapat menyerap uap air dari udara cukup banyak.

Penyerbukan Penyerbukan buatan dilakukan antara tanaman yang genetiknya berbeda. Tahapannya yaitu pengumpulan polen (serbuk sari) yang viabel atau anther dari tanaman tetua jantan yang sehat, kemudian menyerbukannya ke stigma tetua betina yang telah dilakukan emaskulasi. Cara melakukan penyerbukan : 1. Menggunakan kuas, pinset, tusuk gigi yang steril, yaitu dengan mencelupkan alat-alat tersebut ke alkohol pekat, dikeringkan kemudian celupkan ke polen dan oleskan kestigma. 2. Meletakkan bunga jantan di atas bunga betina dan diguncangkan, agar polen jantan jatuh ke stigma bunga tetua betina yang telah di emaskulasi.

Pemberian Label Bentuk dan ukuran label berbeda-beda. Umumnya, label terbuat dari kertas keras tahan air, atau plastik. Pada label tertulis informasi tentang: (1) Nomor yang berhubungan dengan lapangan, (2) Waktu emaskulasi, (3) Waktu penyerbukan, (4) Nama tetua jantan dan betina, dan (5) Kode pemulia atau penyilang.

Pendeteksian Keberhasilan Persilangan Buatan Menurut Rahmi Yunianti (2009), keberhasilan suatu persilangan buatan dapat dilihat sekitar satu minggu setelah penyerbukan dilakukan. Jika calon buah mulai membesar dan tidak rontok, maka kemungkinan telah terjadi pembuahan. Sebaliknya, jika calon buah tidak membesar atau rontok maka kemungkinan terjadi kegagalan pembuahan. Keberhasilan penyerbukan buatan diikuti oleh pembuahan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut: kompatibilitas tetua, ketepatan waktu reseptif betina dan antesis jantan, kesuburan tanaman, serta faktor lingkungan. Kompatibilitas tetua terkait dengan gen-gen yang terkandung pada tetua jantan dan betina. Waktu reseptif betina dan antesis jantan dilihat dari ciri morfologi bunga. Bunga terbaik adalah bunga yang akan mekar pada hari tersebut. Sementara itu, faktor lingkungan yang berpengaruh pada keberhasilan persilangan buatan adalah curah hujan, cahaya mahatari, kelembaban dan suhu. Curah hujan dan suhu tinggi menyebabkan rendahnya keberhasilan persilangan buatan. Pada persilangan buatan tanaman hermaprodit atau tanaman lainnya, biji yang dihasilkan belum tentu hasil persilangan buatan. Namun biji tersebut merupakan hasil selfing (untuk bunga hermaprodit) atau hasil persilangan tanaman lain (karena prosesisolasi yang tidak sempurna). Hal tersebut dapat dideteksi dengan bantuan penanda, berupa penanda morfologi dan penanda molekuler. Sifat kualitatif tanaman dapat digunakan sebagai penanda morfologi.

DAFTAR PUSTAKA

Sujiprihati, S., M. Syukur, dan R. Yunianti. 2008. Pemuliaan tanaman. Bagian Genetika danPemuliaan Tanaman. Departemen Agronomi dan Hotikultura IPB. Bogor. 356 hal. Syukur, M., S. Sujiprihati, dan R. Yunianti. 2009. Teknik pemuliaan tanaman. BagianGenetika dan Pemuliaan Tanaman. Departemen Agronomi dan Hotikultura IPB.Bogor. 284 hal. Yunianti, R. 2007. Analisis Genetik Pewarisan Sifat Ketahanan Cabai (Capsicum annuumL.) terhadap Phytophthora capsici Leonian. Disertasi. Sekolah Pascasarjana, IPB.Bogor. 125 hal. AAK.2007. Kacang Tanah. Yogyakarta : Kanisius http://pustaka.litbang.deptan.go.id/publikasi/bt072027.pdf