Anda di halaman 1dari 23

Jul 05, 20112 Commentsby lusa

Kehamilan merupakan proses alami

yang

akan

membuatperubahan baik fisik maupun psikologis. Perubahan kondisi fisik danem osional yang kompleks, memerlukan adaptasi terhadap proseskehamilan yang terjadi. Hubungan Episode Kehamilan dengan Reaksi Psikologi Hubungan episode kehamilan dengan reaksi psikologi yaitu:

Trimester pertama : timbul fluktuasi lebar aspek emosionalsehingga periode ini mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya pertengkaran atau rasa tidak nyaman.

Trimester

kedua

fluktuasi emosional sudah hamil lebih terjadi

mulai

mereda

dan pada

perhatian wanita

berfokus

berbagai perubahan tubuh yang dikandungnya.

selama kehamilan,

kehidupan seksual, keluarga dan hubungan batiniah dengan bayi yang Trimester ketiga : berkaitan dengan bayangan

resiko kehamilan dan proses persalinan sehingga wanita hamil sangat emosional dalam upaya mempersiapkan atau mewaspadai segala sesuatu yang mungkin akan dihadapi. Kehamilan bagi keluarga dan khususnya seorang wanita merupakan peristiwa yang penting, meskipun demikian kehamilan juga merupakan saat saat krisis bagi keluarga di mana terjadi perubahan identitas dan peran ibu, ayah, serta anggota keluarga lainnya. Tugas ibu pada masa kehamilan : 1. Menerima kehamilannya
2. Membina hubungan dengan janin 3. Menyesuaikan perubahan fisik 4. Menyesuaikan perubahan hubungan suami istri 5. Persiapan melahirkan dan menjadi orang tua

Kehamilan dapat sebagai : 1. Krisis 2. Stresor 3. Transisi peran Krisis Krisis merupakan ketidakseimbangan psikologis yang dapat disebabkan oleh situasi atau oleh tahap perkembangan. Stresor Model dengan konseptual menyatakan bahwa krisis psikologis dan sosial nyata. merupakan juga dipertimbangkan, sebagai kejadian yang kritis tapi tidak selalu ditunjukkan masalah psikologis dan interpersonal yang terjadi pada seseorang stresor, dapat yang Setiapperubahan yang dapat dinyatakan

stresor. Kehamilan membawa perubahan yang signifikan pada ibu sehingga sebagai mempengaruhi psikologis anggotakeluarga lainnya. Transisi peran Terjadi perubahan interaksi rutin dalam keluarga, dengan adanya anggota keluarga yang baru sehingga terjadi perubahan peran masing-masing anggota keluarga; ayah, ibu, dan anggota keluarga yang lainnya. Tahapan Perubahan Peran dalam Kehamilan Perubahan psikologis selama kehamilan terjadi usia kehamilan dan oleh karena semakin bertambahnya adanya adaptasi peran selama kehamilan menurut Reva

barunya. Tahapan perubahan peran Rubin adalah sebagai berikut:


1. Tahap antisipasi atau anticipatory stage

2. Tahap honeymoon atau honeymoon stage 3. Tahap stabil atau plautau stage 4. Tahap akhir atau disengagement/termination stage

Tahap antisipasi atau anticipatory stage Tahap antisipasi merupakan tahap sosialisasi atau latihan untuk penampilan peran yang diasumsikan pasangan peran (suami/istri) barunya berkaitan merubah dengan peran fantasi. Wanita akan mengawali dengan

sosialnya

melalui latihan informal

dan informasi melalui yang

model lainnya

peran. akan

Meningkatnya

frekuensiinteraksi dengan

mempercepat proses adaptasi dalam penerimaan peran barunya sebagai ibu. Tahap honeymoon atau honeymoon stage Tahap honeymoon merupakan tahap dimana wanita mengasumsikan peran yang harus ditampilkan, melakukan pendekatan dan eksplorasi terhadap sikap yang dibutuhkan untuk penampilan peran, mulai melakukan latihan peran. Pada tahap suami. ini, wanita sudah Hal dapat menerima peran barunya dengan cara menyesuaikan diri dan muncul kebutuhan akan kasih sayang baik ibu-bayi, ibulain yang mempengaruhi tahapan honeymoon adalah kesiapan menghadapi kelahiran bayinya serta dukungan dari orang-orang terdekat. Tahap stabil atau plautau stage Tahap stabil merupakan tahapan dimana wanita hamil dapat melihat penampilan dalam peran barunya. Pada tahap ini, pasangan memvalidasikan apakah peran yang akan ditampilkan adekuat/tidak, yang semuanya tergantung pada bagaimana mereka atau yang lainnya membentuk peran yang harus ditampilkan. Wanita hamil akan melakukan kegiatan-kegiatan yang positif dan berfokus pada kehamilannya dan hal yang berguna bagi kesehatan keluarga. Tahap akhir atau disengagement/termination stage Tahap ini merupakan tahap terminasi/pengakhiran peran. Peran pasangan pada kehamilan berakhir setelahproses persalinan selanjutnya pasangan memasuki tahap peran lainnya. Tahap ini disebut juga sebagai tahap perjanjian. Perjanjian ini dilakukan agar wanita hamil sedapat mungkin menepati janjinya yang berkaitan dengan peran barunya kelak. Teori Ramona Marcer Teori ini lebih menekankan pada stress antepartum (sebelum melahirkan) dalam pencapaian peran ibu, Marcer membagi teorinya menjadi dua pokok bahasan:
1. Efek stress antepartum

2. Pencapaian peran ibu Efek stress anterpartum Stress anterpartum adalah komplikasi dari resiko kehamilan dan pengalaman negatif dari hidup seorangwanita. Sehingga dukungan selama kehamilan sangat

diperlukan untuk mengurangi rasa ketidak percayaan seorang calon ibu. Penelitian

Marcer

menunjukkan

ada

enam faktor yang

berhubungan

dengan status kesehatan ibu, yaitu: Hubungan interpersonal Peran keluarga Stress anterpartum Dukungan sosial Rasa percaya diri Penguasaan rasa takut, ragu dan depresi

Pencapaian peran ibu Peran ibu dapat dicapai bila ibu menjadi dekat dengan bayinya termasuk mengekspresikan kepuasan dan penghargaan peran, lebih lanjut Marcer menyebutkan tentang stress anterpartum terhadap fungsi keluarga, baik yang positif manupun yang negatif. Bila fungsi keluarganya positif maka ibu hamil dapat mengatasistress anterpartum, stress anterpartum mempengaruhi ibu dapat mengurangi karena atau dapat resiko kehamilan dapat mengatasi stress anterpartum. Perubahan yang kepada ibu adalah:

persepsi kesehatan,

dengan dukungan keluarga dan bidan maka dialami hamil agar oleh ibu ibu,

selama kehamilan terkadang dapat menjalani

menimbulkan stress anterpartum, sehingga bidan harus memberikan asuhan kehamilannya secarafisiologis (normal), perubahan yang dialami oleh ibu hamil antara lain Ibu cenderung lebih tergantung dan lebih memerlukan perhatian sehingga dapat

berperan

sebagai

calon

ibu

dan

dapat

memperhatikan perkembangan bayinya Ibu memerlukan sosialisasi Ibu cenderung merasa khawatir terhadap perubahan yang terjadi pada tubuhnya

Ibu memasuki masa transisi yaitu dari masa menerima kehamilan ke masa menyiapkan kelahiran dan menerima bayinya

Empat tahapan dalam melaksanakan peran ibu menurut Marcer: 1. Anticipatory 2. Formal 3. Informal 4. Personal Anticipatory Saat sebelum wanita menjadi ibu, dimana wanita mulai melakukan penyesuaian sosial dan psikologisdengan mempelajari segala sesuatu yang dibutuhkan menjadi seorang ibu. Formal Wanita memasuki peran ibu yang sebenarnya, bimbingan peran dibutuhkan sesuai dengan kondisi sistem sosial. Informal Dimana wanita telah mampu menemukan jalan yang unik dalam melaksanakan perannya. Personal Merupakan peran terakhir, dimana wanita telah mahir melakukan perannya sebagai ibu. Referensi bidandesa.com/psikologi-pada-ibu-hamil.html diunduh 25 april 2011 10:19 PM Depkes RI. 1993. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Dalam Konteks Keluarga. Cetakan Ke III. Jakarta. Kusmiyati, Y. 2010. Perawatan Ibu Hamil. Yogyakarta: Fitramaya ocw.gunadarma.ac.id/course/diploma-three-program/study-program-of-midwifepractices-d3/asuhan/perubahan-dan-adaptasi-psikologis-dalam-kehamilan diund uh 25 april 2011 10:16 PM patriani-gift.blogspot.com/2009/03/perubahan-psikologi-pada-ibu-hamil.html diunduh 25 april 2011 11:02 PM Pusdiknekes. 2001. Panduan Pengajaran Asuhan Kebidanan Fisiologis Bagi Dosen Diploma III Kebidanan. Buku 2 Asuhan Antenatal. Sulistyowati, A. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan. Jakarta:

Salemba Medika Widyastuti, S. Adaptasi Psikososial Pada Masa Kehamilan. scribd.com/doc/37479306/Adaptasi-Psikososial-Pada-MasaKehamilan

Konsep Dasar Penyakit


Kehamilan adalah suatu proses yang normal akan tetapi kebanyakan wanita akan mengalami perubahan baik dari segi psikologis maupun emosional selama kehamilan. Sering kali kita mendengar betapa bahagianya dia karena akan menjadi seorang ibu tetapi tidak jarang ada wanita yang merasa khawatir kalau terjadi masalah selama kehamilannya misalnya ibu takut dengan anak yang akan dilahirkannya apakah normal ataukah tidak atau mungkin ibu takut kehilangan kecantikannya. Sedangkan gangguan psikologis adalah Perubahan psikologi pada ibu hamil merupakan hal yang normal dan merupakan hal yang individual. Didasarkan pada teoriRevarubin. Teori ini menekankan pada pencapaian peran sebagai ibu, dimana untuk mencapai peran ini diperlukan proses belajar melalui serangkaian aktifitas. Perubahan dan Adaptasi Psikologis selama Masa Kehamilan Perubahan Peran Selama Kehamilan Seiring dengan bertambahnya usia kehamilan, ibu akan mengalami perubahan psikologis dan pada saat ini pula wanita akan mencoba untuk beradaptasi terhadap peran barunya melalui tahapan sebagai berikut : 1. Tahap Antisipasi Dalam tahap ini wanita akan mengawali adaptasi perannya dengan merubah peran sosialnya melalui latihan formal (misalnya kelas-kelas khusus kehamilan) dan informal melalui model peran (role model). Meningkatnya frekuensi interaksi dengan wanita hamil dan ibu muda lainnya akan mempercepat proses adaptasi untuk mencapai penerimaan peran barunya sebagai seorang ibu. 2. Tahap Honeymoon (menerima peran, mencoba menyesuaikan diri) Pada tahap ini wanita sudah mulai menerima peran barunya dengan cara mencoba menyesuaikan diri. Secara internal wanita akan mengubah posisinya sebagai penerima kasih sayang dari ibunya menjadi pemberi kasih sayang terhadap bayinya. Untuk memenuhi kebutuhan akan kasih sayang, wanita akan menuntut dari pasangannya. Ia akan mencoba menggambarkan figur ibunya dimasa kecilnya dan membuat suatu daftar hal-hal yang positif dari ibunya untuk kemudian ia daptasi dan terapkan kepada bayinya nanti. Aspek lain yang berpengaruh dalam tahap

ini adalah seiring dengan sudah mapannya beberapa persiapan yang berhubungan dengan kelahiran bayi, termasuk dukungan semangat dari orang-orang terdekatnya. 3. Tahap Stabil (bagaimana mereka dapat melihat penampilan dalam peran) Tahap sebelumnya mengalami peningkatan sampai ia mengalami suatu titik stabil dalam penerimaan peran barunya. Ia akan melakukan aktivitas-aktivitas yang bersifat positif dan berfokus untuk kehamilannya, seperti mencari tahu tentang informasi seputar persiapan kelahiran, cara mendidik dan merawat anak, serta hal yang berguna untuk menjaga kondisi kesehatan keluarga. 4. Tahap Akhir (perjanjian) Meskipun ia sudah cukup stabil dalam menerima perannya, namun ia tetap mengadakan perjanjian dengan dirinya sendiri untuk sedapat mungkin menepati janji mengenai kesepakatan-kesepakatan internal yang telah ia buat berkaitan dengan apa yang akan ia perankan sejak saat ini sampai bayinya lahir kelak. Perubahan Psikologis Trimester I (Periode Penyesuaian) : Ibu merasa tidak sehat dan kadang merasa benci dengan kehamilannya. Kadang muncul penolakan, kekecewaan, kecemasan, dan kesedihan. Bahkan kadaang ibu berharap agar dirinya tidak hamil saja. Ibu akan selalu mencaari tanda-tanda apakah ia benar-benar hamil. Hal ini dilakukan sekedar untuk meyakinkan dirinya. Setiap perubahan yang terjadi dalam dirinya akan selalu mendapat perhatian dengan seksama. Oleh karena perutnya, masih kecil, kehamilan merupakan rahasia seorang ibu yang mungkin akan diberitahukannya kepada orang lain atau malah mungkin dirahasiakannya. Hasrat untuk melakukan hubungan seks berbeda-beda pada tiap wanita, tetapi kebanyakan akan mengalami penurunan. Perubahan Psikologis Trimester II (Periode kesehatan yang baik) Ibu merasa sehat, tubuh ibu terbiasa dengan kadar hormon yang tinggi. Ibu sudah dapaat menerima kehamilan. Merasakan gerakan anak. Merasa terlepas dari ketidaknyamanan dan kekhawatiran. Libido meningkat. Menuntut perhatian untuk cinta. Merasa bahwa bayi sebagai individu yang merupakan bagian dari dirinya. Hubungan seksual meningkat dengan wanita hamil lainnya atau pada orang lain yang baru menjadi ibu. Ketertarikan dan aktifitasnya terfokus pada kehamilan, kelahiran, dan persiapan untuk peran baru. Perubahan Psikologis Trimester III (penantian dengan penuh kewaspadaan) Rasa tidak nyaman timbul kembali, merasa dirinya jelek, aneh, dan tidak menarik.

1. 2. 3. 4. 5. 6.

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 1.

2. Merasa tidak menyenangkan ketika bayi tidak lahir tepat waktu. 3. Takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang timbul pada saat melahirkan, khawatir akan keselamatannya. 4. Khawatir bayi yang akan dilahirkan dalam keadaan tidak normal, bermimpi yang mencerminkan perhatian dan kekhawatirannya. 5. Merasa sedih akan terpisah dari bayinya. 6. Merasa kehilangan perhatian. 7. Perasaan mudah terluka atau sensitif. 8. Libido menurun.

MASALAH EMOSI SELAMA KEHAMILAN


Prinsip dasar Kehamilan merupakan episode dramatis terhadap kondisi biologis, perubahan psikologis dan adaptasi dari seorang wanita yang pernah mengalaminya. Sebagian besar kaum wanita menganggap bahwa kehamilan merupakan peristiwa kodrat yang harus dilalui tetapi sebagian lagi menganggap sebagai peristiwa khusus yang sangat menentukan kehidupan selanjutnya. Perubahan kondisi fisik dan emosional yang komplek, memerlukan adaptasi terhadap penyesuaian pola hidup dengan proses kehamilan yang terjadi. Konflik antara keinginan prokreasi, kebanggaan yang ditumbuhkan dari norma norma sosiokultural dan persoalan dalam kehamilan itu sendiri, dapat merupakan pencetus berbagai reaksi psikologis, mulai dari reaksi emosional ringan hingga ketingkat gangguan jiwa yang berat. Dukungan psikologik dan perhatian akan memberi dampak terhadap pola kegiatan sosial ( keharmonisan, penghargaan, pengorbanan, kasih sayang dan empati) pada wanita hamil dan dari aspek teknis, dapat mengurangi aspek sumber daya (tenaga ahli), cara penyelesaian persalinan normal, akselerasi, kendali nyeri dan asuhan neonatal), Hubungan episode kehamilan dengan reaksi psikologis yang terjadi.: Trimester 1 : Sering terjadi fluktuasi lebar aspek emosional sehingga perode ini mempunyai resiko tinggi untuk terjadi pertengkaran atau rasa tidak nyaman. Trimester II : Fluktuasi emosional sudah mulai mereda dan perhatian wanita hamil lebih terfokus pada berbagai perubahan tubuh yang terjadi saat kehamilan, kehidupan seksual keluarga dan hubungan bathiniah dengan bayi yang dikandungannya. Trimester III : Berkaitan dengan bayangan resiko kehamilan dan proses persalinan sehingga wanita hamil sangat emosional dalam upaya mempersiapkan atau mewaspadai segala sesuatu yang akan dihadapi. Masalah

Aspek psikologik dan pengaruhnya pola kehidupan keluarga dan tahapan trimester. Gangguan emosional dapat mengganggu kesehatan ibu dan janin yang dikandungnya. Hambatan asuhan neonatal pasca persalinan. Penanganan umum Reaksi cemas Gangguan ini ditandai dengan rasa cemas dan ketakutan yang berlebihan, terutama sekali terhadap hal-hal yang masih tergolong wajar. Kecemasan baru terlihat apabila wanita tersebut mengungkapkannya karena gejala klinik yang ada, sangat tidak spesifik (twitchung, tremor, berdebar-debar, kaku otot, gelisah dan mudah lelah, insomnia) Timbul gejala-gejala somatik akibat hiperaktifitas otonom (palpitasi, sesak nafas, rasa dingin ditelapak tangan, berkeringat dingin, pusing, rasa terganjal pada leher). Tenangkan dengan psikoterapi. Walau kadang-kadang upaya ini kurang memberi hasil tetapi prosedur ini sebaiknya paling pertama dilakukan. Hanya pada pasien dengan reaksi cemas berat, berikan diazepam 3 x 2 mg per hari. Bila pasien tidak mampu untuk melakukan kegiatan sehari-hari atau kekurangan asupan kalori/gizi maka harus dilakukan rawat inap di rumah sakit. Reaksi panik Ditandai dengan rasa takut dan gelisah yang hebat, terjadi dalam periode yang relatif singkat dan tanpa sebab-sebab yang jelas. Pasien mengeluhkan nafas sesak atau rasa tercekik, telinga berdenging, jantung berdebar, mata kabur, rasa melayang, takut mati atau merasa tidak akan tergolong lagi. Pemeriksaan fisik menunjukkan pasien gelisah dan ketakutan, muka pucat pandangan liar, pernafasan pendek dan cepat dan takhikardi. Tenangkan secara verbal, sebelum psikoterapi atau medikamentosaa. Sebaiknya pasien dirawat untuk observasi tehadap reaksi panik ulangan dan pemberian terapi. Karena reaksi panik hanya berlangsung dalam waktu yang relatif singkat, cukup diberikan dosis tunggal diazepam 5 mg IV. Reaksi Obsesif-Kompulsif Gambaran spesifik dari gangguan ini adalah selalu timbulnya perasaan, rangsangan ataupun pikiran untuk melakukan sesuatu, tanpa objek yang jelas, diikuti dengan perbuatan yang dilakukan secara berulang kali. Pengulangan perbuatan tersebut dapat mencelakai dirinya, bayi yang dikandung atau orang lain. Adanya potensi gawat darurat pada wanita hamil dengan reaksi obsesif-kompulsif menjadi alasan untuk dirawat di rumah sakit atau dalam pengawasan tim medis yang memadai. Psikoterapi cukup membantu untuk mengembalikan wanita ini pada status emosional yang normal. Pada kasus yang berat, beri diazepam 5 mg IV dan observasi ketat.

Depresi berat Depresi pada wanita hamil, ditandai oleh perasaan sedih, tidak bergairah, menyendiri, penurunan berat badan, insomnia, kelemahan, rasa tidak dihargai dan pada kasus yang berat, ada keinginan untuk melakukan bunuh diri. Penelitian di RS Dr. Sutomo, Surabaya (1990) menunjukkan angka kejadian Depresi Pascapersalinan (Postpartum Blues) sebesar 15,2 % (persalinan fisiologis) dan 46,2 % (persalinan patologis). Sulit untuk melakukan komunikasi karena mereka cenderung menarik diri, tidak mampu berkonsentrasi, kurang perhatian dan sulit untuk mengingat sesuatu . Gunakan anti depresan Amitryptyline 2 x 10 mg oral. Terapi kejutan listrik (ECT) digunakan apabila psikofarmaka gagal dan reaksi depresi membahayakan pasien. Perasaan panik/ gelisah Berkaitan dengan kemampuanya untuk menjaga kehamilan sampai saat persalinan sebagai seorang ibu hamil yang baik. Respon-respon psikologis tersebut terjadi karena ibu merasa bahwa kehamilannya ini merupakan suatu ancaman, kegawatan, ketakutan dan bahaya bagi dirinya dan sebagai akibat yang akan terjadi pada dirinya, sehingga mereka akan bersikap tidak hanya menolak kehamilannya tetapi juga akan berusaha menggugurkan kehamilannya bahkan kadang-kadang mencoba bunuh diri.

Gambaran Kondisi Psikologis pada Wanita Hamil


Selama kehamilan banyak wanita yang mengalami perasaan perasaan : Marah Tertekan Bersalah Bingung Was was Kesal Pilu Khawatir Hal ini biasanya ditandai dengan gejala gejala : Kehabisan tenaga atau kebanyakan gerak. Tidak bisa tidur walaupun mempunyai kesempatan. Menangis tidak tertahan dan mata terasa berlinang. Menyadari bahwa perasaan amat cepat berubah. Sangat judes atau peka terhadap bunyi dan sentuhan.

Senantiasa berfikiran negatif. Tanpa berwujud merasa tidak mampu. Tiba-tiba takut atau gugup. Tidak bisa memusatkan perhatian. Lebih sering lupa. Rasa bingung dan bersalah. Makan amat sedikit atau amat banyak. Asik dengan fikiran yang menghantui dan mengerikan. Kehilangan kepercayaan dan harga diri. Apabila kondisi - kondisi ini terjadi secara beruntun sedikitnya selama 2 minggu maka akan menimbulkan kondisi psikologis yang bermasalah yang sifatnya memerlukan adanya pengobatan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi psikis pada masa hamil : 1. Sudah punya banyak anak Banyak anak sebagian orang merasakan sebagai beban finansial yang harus di tanggung, belum lagi di tambah kerepotan - kerepotan lainnya, apalagi jika dalam keluarga sudah ada anak dengan jumlah lebih dari cukup. 2. Khawatir berubah penampilan Bagi sebagian perempuan, penampilan merupakan nilai jual, perubahan bentuk wajah dan tubuh akibat kehamilan dan persalinan dianggap akan mengurangi keindahan penampilan. 3. Kemampuan finansial dirasa tidak memadai. Jika si kecil lahir di saat kondisi keuangan keluarga tengah morat marit memang merepotkan, kondisi ini merupakan hal yang sangat menganggu kondisi psikologis seorang ibu hamil. 4. Keluhan sulit tidur Sulit tidur di malam hari dapat membuat kondisi ibu hamil menurun, konsentrasi berkurang, mudah lelah, badan terasa pegal, tidak mood bekerja dan cenderung emosional. Keluhan tidur umumnya muncul saat usia kandungan memasuki trimester ketiga dimana janin sudah tumbuh sedemikian besar sehingga terasa menyesakkan. Ditrimester pertama, kadar hormon dalam tubuh ibu sedang mengalami perubahan drastis yang sering memunculkan keluhan muntah muntah, sehubungan dengan itu, keluhan sulit tidur biasanya muncul karena sebab sebagai berikut : Stres Perubahan hormon Dihantui kecemasan Gangguan psikis KOMPLIKASI EMOSIONAL Masalah kesehatan jiwa dapat mengakibatkan komplikasi selama periode kehamilan, kelahiran bayi, dan periode pascapartum. Stres psikologis dan fisik yang terkait dengan kehamilan atau

kewajiban baru sebagai ibu dapat juga mengakibatkan krisis emosional (affonso,1984). Gangguan emosional terutama mengakibatkan komplikasi kehamilan adalah gangguan mood.

Cara

Mengatasi

Gangguan

Psikologis

Kehamilan

Ibu yang sedang hamil, pasti akan mengalami berbagai macam perubahan bukan hanya perubahan secara fisik namun juga secara psikologis. Jangan heran jika ibu yang hamil tiba-tiba menangis atau marah. Ini terjadi karena adanya perubahan hormonal yang lazim dialami oleh ibuibu yang sedang hamil. Untuk itu ibu-ibu yang kini sedang mengandung buah hati, harus selalu menjaga kondisi psikologisnya agar tetap baik dan seimbang. Jika kondisi psikologis sang ibu baik pastinya sang ibu akan lebih tenang atau rileks saat menjalani masa-masa kehamilannya. Berikut beberapa cara yang dapat menyeimbangkan kondisi psikologis saat ibu sedang mengandung: 1. Informasi Cari informasi seputar kehamilan terutama mengenai perubahan yang terjadi dalam diri ibu termasuk hal-hal yang perlu dihindari saat sedang mengandung agar janin tumbuh sehat. Pengetahuan atau informasi yang tepat akan membuat ibu merasa lebih yakin sekaligus bisa mengurangi rasa cemas yang sering muncul karena ketidaktahuan mengenai perubahan yang terjadi. 2. Komunikasi dengan suami Bicarakan perubahan yang terjadi selama hamil dengan sang suami, sehingga ia juga tahu dan dapat memaklumi perubahan yang terjadi. Apabila sudah dikomunikasikan, sang suami akan memberikan dukungan psikologis yang dibutuhkan. 3. Rajin chek-up Periksakan kehamilan secara teratur. Cari informasi dari dokter atau bidan terpercaya mengenai kehamilan. Jangan lupa, ajaklah suami saat berkonsultasi ke dokter atau bidan. 4. Makan Sehat Pahami benar pengetahuan mengenai asupan makanan yang sehat bagi perkembangan janin. Hindarilah mengonsumsi bahan yang dapat membahayakan janin, seperti makanan yang mengandung zat-zat aditif, alkohol, rokok, atau obat-obatan yang tidak dianjurkan bagi ibu hamil. Jauhkan juga zat berbahaya seperti gas buang kendaraan yang mengandung timah hitam yang berbahaya bagi perkembangan kecerdasan otak janin. 5. Jaga Penampilan Perhatikanlah penampilan fisik dengan menjaga kebersihan dan berpakaian yang sesuai dengan kondisi badan yang sedang berbadan dua. Jangan lupa untuk melakukan latihan fisik ringan, seperti berenang atau jalan kaki ringan untuk memperlancar persalinan. 6. Kurangi Kegiatan Lakukanlah penyesuaian kegiatan dengan kondisi fisik saat hamil. Memasuki masa persalinan, ibu hamil dan suami harus sudah siap dengan berbagai perubahan yang akan terjadi setelah

kelahiran sang bayi. 7. Dengarkan Musik Upayakan berbagai cara agar terhindar dari stres. Atasilah kecemasan maupun emosi negatif lainnya dengan mendengarkan musik lembut, belajar memusatkan perhatian, berzikir, yoga atau relaksasi lainnya. 8. Senam Hamil Bergabunglah dengan kelompok senam hamil sejak usia kandungan menginjak usia 5-6 bulan. Jangan lupa untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter kandungan. Senam hamil tidak hanya bermanfaat melatih otot-otot yang diperlukan dalam proses persalinan, melainkan juga memberi manfaat psikologis. Pertemuan sesama calon ibu biasanya diisi dengan acara berbagi pengalaman yang dapat dijadikan pelajaran positif. Melalui kegiatan itu pula secara perlahan kesiapan psikologis calon ibu dalam menghadapi persalinan menjadi semakin mantap. 9. Latihan Pernafasan Lakukanlah latihan relaksasi dan latihan pernapasan secara teratur. Latihan ini bermanfaat untuk ketenangan dan kenyamanan sehingga kondisi psikologis bisa lebih stabil. Kesimpulan : Perubahan dan adaptasi psikologis pada kehamilan trimester I, pada kehamilan trimester II, pada kehamilan trimester III dapat disimpulkan sebagai berikut : Trimester I ? Terbuka atau diam-diam. ? ? Perasaan ambivalent terhadap kehamilannya. ? ? Berkembang perasaan khusus, mulai tertarik karena akan menjadi ibu. ? ? Antipati karena ada perasaan tidak nyaman terutama pada ibu yang tidak menginginkan kehamilan. ? ? Perasaan gembira. ? ? Ada perasaan cemas karena akan punya tanggung jawab sebagai ibu. ? ? Menerima atau menolak perubahan fisik. ? Trimester II ? Mengalami perubahan fisik yang lebih nyata. ? ? Ibu merasakan adanya pergerakan janin karenanya ia menerima dan menganggap sebagai bagian ? dari dirinya. ? Dorongan seksual dapat meningkat atau menurun. ? ? Mencari perhatian suami. ? ? Berkonsentrasi pada kebutuhan diri dan bayinya. ? ? Perasaan lebih berkembang sehingga ibu mulai mempersiapkan perlengkapan bayinya. ? ? Perasaan cenderung lebih stabil. ? Trimester III

? Kecemasan dan ketegangan semakin meningkat oleh karena perubahan postur tubuh atau terjadi ? gangguan body image. ? Merasa tidak feminim menyebabkan perasaan takut perhatian suami berpaling atau tidak ? menyenangi kondisinya. ? 6-8 minggu menjelang persalinan perasaan takut semakin meningkat, merasa cemas terhadap ? kondisi bayi dan dirinya. ? Adanya perasaan tidak nyaman. ? ? Sukar tidur oleh karena kondisi fisik atau frustasi terhadap persalinan. ? ? Menyibukan diri dalam persiapan menghadapi persalinan. ?

Asuhan Keperawatan Ibu Hamil Dengan Gangguan Psikologis/Perilaku


Proses Keperawatan 1. Pengkajian Riwayat Obstetri Memberikan informasi yang penting mengenai kehamilan sebelumnya agar perawat dapat menentukan kemungkinan masalah pada kehamilan-sekarang. Riwayat Obstetri meliputi hal-hal di bawali ini : a. Gravida, para-abortus, dan anak hidup (GPAH). b. Berat badan bayi waktu lahir dan usia gestasi. c. Pengalaman persalinan, jenis persalinan, tempat persalinan, dan penolong persalinan. d. jenis anestesi dan kesulitan persalinan. e. Komplikasi maternal seperti diabetes, hiperlensi, infeksi, dan perdarahan. f. Komplikasi pada bayi. g. Rencana menyusui bayi. Riwayat Kontrasepsi Beberapa bentuk konirasepsi dapat berakibat buruk pada janin, ibu, atau keduanya. Riwayat kontrasepsi yang lengkap harus didlapatkan pada saat kunjungan pertama. Penggunaan kontrasepsi oral sebelum kelahiran dan berlanjut Riwayat Penyakit dan Operasi Kondisi kronis (menahun/terus menerus) seperti DM, hipertensi, dan penyakit ginjal bisa berefek buruk pada kehamilan. Oleh karena itu adanya penyakit infeksi, prosedur infeksi dan trauma pada persalinan sebelumnya harus didokumentasikan. Riwayat Kesehatan Riwayat kesehatan yang dikaji meliputi hal-hal sebagai berikut : a. Usia, ras, dan latar belakang etnik (berhubungan dengan kelompok risiko tinggi untuk masalah genelis seperti anemia sickle sel, talasemia). b. Penyakit pada niasa kanak-kanak dan imunisasi. c. Penyakit kronis (menahun/terus-menerus), seperti asma dan jantung. d. Penyakit sebelumnya, prosedur operasi, dan ccdera (pelvis dan pinggang). e. Infeksi sebelumnya seperti hepatitis, penyakit menular seksual, dan tuberkulosis. f. Riwayat dan perawalan anemia. g. Fungsi vesika urinaria dan bowel (fungsi dan perubahan). h. Jumlah konsumsi kafein tiap hari seperti kopi, teh, coklat, dan minuman ringan. i. Merokok (Jumlah batang per hari). j. Kontak dengan hewan peliharaan seperti kucing dapat meningkatkan risiko terinfeksi toxoplasma. k. Alergi dan sensitif dengan obat.

l. Pekerjaan yang berhubungan dengan risiko penyakit. m. Riwayat keluarga. Memberikan informasi tentang kesehatan keluarga, termasuk penyakit kronis (menahun/terus-menerus) seperti diabetes melilus dan jantung, infeksi seperti tuberkulosis dan hepatitis, serta riwayat kongenital yang perlu dikumpulkan. n. Riwayat kesehatan pasangan. Untuk menentukan kemungkinan masalah kesehatan yang berhubungan dengan masalah genetik, penyakit kronis, dan infeksi. Penggunaan obat-obatan seperti kokain dan alkohol akan berpengaruh pada kemampuan keluarga untuk menghadapi kehamilan dan persalinan. Rokok yang digunakan oleh ayah akan berpengaruh pada ibu dan janin, terulama risiko mengalami komplikasi. Pernapasan akibat sebagai perokok pasif. Golongan darah dan tipe Rhesus ayah penting jika ibu dengan Rh negatif dan kemungkinan inkompabilitas darah dapat terjadi. Pemeriksaan Fisik a. Tanda-Tanda Vital 1). Tekanan darah Posisi pengambilan tekanan darah sebaiknya ditetapkan, karena posisi akan memengaruhi tekanan darah pada ibu hamil. Sebaiknya tekanan darah diukur pada posisi duduk dengan lengan sejajar posisi jantung. Pendokumentasian perlu dicatat posisi dan tekanan darah yang didapatkan. 2). Nadi Frekuensi nadi normalnya 60-90 kali per menit. Takikardi bisa terjadi pada keadaan cemas, hipertiroid, dan infeksi. Nadi diperiksa selama satu menit penuh untuk dapat menentukan keteraturan detak jantung. Nadi diperiksa untuk menentukan masalah sirkulasi tungkai, nadi seharusnya sama kuat dan teratur.

3). Pernapasan Frekuensi pernapasan selama hamil berkisar antara 16-24 kali per menit. Takipnea terjadi karena adanya infeksi pernapasan atau penyakit jantung. Suara napas hams sama bilateral, ekspansi paru simetris, dan lapangan paru bebas dari suara napas abdominal. 4). Suhu Suhu normal selama hamil adalah 36,2-37,6C. Peningkatan suhu menandakan terjadi infeksi dan membutuhkan perawatan medis. b. Sistem Kardiovaskuler Bendungan vena Pemeriksaan sistem kardiovaskular adalah observasi terhadap bendungan vena, yang bisa berkembang menjadi varises. Bendungan vena biasanya terjadi pada tungkai, vulva, dan rektum. Edema

Edema pada tungkai merupakan refleksi dari pengisian darah pada ekstremitas akibat perpindahan cairan intravaskular ke ruang intertisial. Ketika dilakukan penekanan dengan jari atau jempol menyebabkan terjadinya bekas tekanan, keadaan ini disebut pitting edema. Edema pada tangan dan wajah memerlukan pemeriksaan lanjut karena merupakan tanda dari hipertensi pada kehamilan. c. Sistem Muskuloskeletal 1). Postur Mekanik tubuh dan perubahan postur bisa terjadi selama kehamilan. Keadaan ini mengakibatkan regangan pada otot punggung dan tungkai. 2). Tinggi dan berat badan Berat badan awal kunjungan dibutuhkan sebagai data dasar untuk dapat menentukan kenaikan berat badan selama kehamilan. Berat badan sebelum konsepsi kurang dari 45 kg dan tinggi badan kurang dari 150 cm ibu berisiko melahirkan bayi prematur dan berat badan lahir rendah. Berat badan sebelum konsepsi lebih dari 90 kg dapat menyebabkan diabetes pada kehamilan, hipertensi pada kehamilan, persalinan seksio caesarea, dan infeksi postpartum. 3). Pengukuran pelviks Tulang pelviks diperiksa pada awal kehamilan untuk menentukan diameternya yang berguna untuk persalinan per vaginam. 4). Abdomen Kontur, ukuran, dan tonus otot abdomen perlu dikaji. Tinggi fundus diukur jika fundus bisa dipalpasi diatas simfisis pubis. Kandung kemih harus dikosongkan sebelum pemeriksaan dilakukan untuk menetukan keakuratannya. Pengukuran metode Mc Donald dengan posisi ibu berbaring. d. Sistem neurologi Pemeriksaan neurologi lengkap tidak begitu diperlukan bila ibu tidak memiliki tanda dan gejala yang mengindikasikan adanya masalah. Pemeriksaan refleks tendon sebaiknya dilakukan karena hiperefleksi menandakan adanya komplikasi kehamilan. e. Sistem Integumen Warna kulit biasanya sama dengan rasnya. Pucat menandakan anemis, jaundice menandakan gangguan pada hepar, lesi, hiperpigmentasi seperti cloasma gravidarum, serta linea nigra berkaitan dengan kehamilan dan strie perlu dicatat. Penampang kuku berwarna merah muda menandakan pengisian kapiler baik. f. Sistem endokrin Pada trimester kedua kelenjar tiroid membesar, pembesaran yang berlebihan menandakan hipertiroid dan perlu pemeriksaan lebih lanjut. g. Sistem Gatsrointestinal Mulut

Membran mukosa berwarna merah muda dan lembut. Bibir bebas dari ulserasi, gusi berwarna kemerahan, serta edema akibat efek peningkatan estrogen yang menyebabkan hiperplasia. Gigi terawat dengan baik, ibu dapat dianjurkan ke dokter gigi secara teratur karena penyakit periodontal menyebabkan infeksi yang memicu terjadinya persalinan prematur. Trimester kedua lebih nyaman bagi ibu untuk melakukan perawatan gigi. Usus Stetoskop yang hangat untuk memeriksa bising usus lebih nyaman untuk ibu hamil. Bising usus bisa berkurang karena efek progesteron pada otot polos, sehingga menyebabkan konstipasi. Peningkatan bising usus terjadi bila menderita diare. h. Sistem Urinarius Protein Protein seharusnya tidak ada dalam urine. Jika protein ada dalam urine, hal ini menandakan adanya kontaminasi sekret vagina, penyakit ginjal, serta hipertensi pada kehamilan. Glukosa Glukosa dalam jumlah yang kecil dalam urine bisa dikatakan normal pada ibu hamil. Glukosa dalam jumlah yang besar membutuhkan pemeriksaan gula darah. Keton Keton ditemukan dalam urine setelah melakukan aktivitas yang berat atau pemasukan cairan dan makanan yang tidak adekuat. Bakteri Peningkatan bakteri dalam urine berkaitan dengan infeksi saluran kemih yang biasa terjadi pada ibu hamil. i. Sistem reproduksi 1). Ukuran payudara, kesimetrisan, kondisi puling, dan pengeluaran kolostrum perlu dicatat. Adanya benjolan dan tidak simetris pada payudara membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. 2). Organ reproduksi eksternal Kulit dan membran mukosa perineum, vulva, dan anus perlu diperiksa dari eksoriasi, ulserasi, lesi, varises, dan jaringan parut pada perineum. 3). Organ reproduksi internal Serviks berwarna merah muda pada ibu yang tidak hamil dan berwarna merah kebiruan pada ibu hamil yang disebut tanda Chadwik. Beberapa tahapan aktifitas penting seseorang menjadi ibu : 1. Taking On Seorang wanita dalam pencapaian peran sebagai ibu akan memulainya dengan meniru dan melakukan peran ibu. 2. Taking In

Seorang wanita sudah mulai membayangkan peran yang dilakukan 3. Letting Go Wanita mengingat kembali proses dan aktifitas yang sudah dilakukannya.

Kehamilan pada trimester I ini cenderung terjadi pada tahapan aktifitas yang dilalui seorang ibu dalam mencapai perannya yaitu pada tahap taking on. Pada trimester pertama seorang ibu akan selalu mencari tanda - tanda untuk lebih meyakinkan bahwa dirinya memang hamil. Setiap perubahan yang terjadi pada tubuhnya akan selalu diperhatikan dengan seksama. Karena perutnya masih kecil, kehamilan merupakan rahasia seorang ibu yang mungkin diberitahukannya kepada orang lain atau dirahasiakannya. Para wanita juga mungkin akan mengalami ketakutan dan fantasi selama kehamilan, khususnya tentang perubahan pada tubuhnya. Mereka khawatir terhadap perubahan fisik dan psikologisnya, jika mereka multigravida, kecemasan berhubungan dengan pengalaman yang lalu. Banyak wanita hamil yang mimpi seperti nyata, dimana hal ini sangat menggangu. Mimpinya seringkali tentang bayinya yang bisa diartikan oleh ibu apalagi bila tidak menyenangkan. Perubahan dan adaptasi psikologis pada kehamilan trimester II 1. Pembagian perubahan psikologis pada trimester II Trimester kedua dapat dibagi menjadi dua fase; prequickeckening (sebelum adanya pergerakan janin yang dirasakan ibu) dan postquickening (setelah adanya pergerakan janin yang dirasakan oleh ibu), yang dapat dilihat pada penjelasan berikut : A. Fase prequickening Selama akhir trimester pertama dan masa preqiuckening pada trimester kedua, ibu hamil mengevaluasi lagi hubungannya dan segala aspek di dalammya dengan ibunya yang telah terjadi selama ini. Ibu menganalisa dan mengevaluasi kembali segala hubungan interpersonal yang telah terjadi dan akan menjadi dasar bagaimana ia mengembangkan hubungan dengan anak yang akan dilahirkannya. Ia akan menerima segala nilai dengan rasa hormat yang telah diberikan ibunya, namun bila ia menemukan adanya sikap yang negatif, maka ia akan menolaknya. Perasaan menolak terhadap sikap negatif ibunya akan menyebabkan rasa bersalah pada dirinya. Kecuali bila ibu hamil menyadari bahwa hal tersebut normal karena ia sedang mengembangkan identitas keibuannya. Proses yang terjadi dalam masa pengevaluasian kembali ini adalah perubahan identitas dari penerima kasih sayang (dari ibunya) menjadi pemberi kasih sayang (persiapan menjadi seorang ibu). Transisi ini memberikan pengertian yang jelas bagi ibu hamil untuk mempersiapkan dirinya sebagai ibu yang memberikan kasih sayang kepada anak yang akan

dilahirkannya. Trimester kedua sering dikatakan periode pancaran kesehatan. Ini disebabkan selama trimester ini wanita umumnya merasa baik dan terbebas dari ketidaknyamanan kehamilan. B. Fase postquickening Setelah ibu hamil merasakan quickening, identitas keibuan yang jelas akan muncul. Ibu hamil akan fokus pada kehamilannya dan persiapan menghadapi peran baru sebagai seorang ibu. Perubahan ini bisa menyebabkan kesedihan meninggalkan peran lamanya sebelum kehamilan, terutama pada ibu yang mengalami hamil pertama kali dan wanita karir. Ibu harus diberikan pengertian bahwa ia tidak harus membuang segala peran yang ia terima sebelum kehamilannya. Pada wanita multigravida, peran baru artinya bagaimana ia menjelaskan hubungan dengan anaknya yang lain dan bagaimana bila nanti ia harus meninggalkan rumahnya untuk sementara pada proses persalinan. Pergerakan bayi yang dirasakan membantu ibu membangun konsep bahwa bayinya adalah individu yang terpisah dari dirinya. Hal ini menyebabkan perubahan fokus pada bayinya. Pada saat ini, jenis kelamin bayi tidak begitu dipikirkan karena perhatian utama adalah kesejahteraan janin (kecuali beberapa suku yang menganut sistem patrilineal/matrilineal). Perubahan dan adaptasi psikologi pada kehamilan trimester III Gerakan bayi dan membesarnya perut merupakan dua hal yang mengingatkan ibu akan bayinya. Kadang - kadang ibu merasa khawatir bahwa bayinya akan lahir sewaktu - waktu. Ini menyebabkan ibu meningkatkan kewaspadaannya akan timbulnya tanda dan gejala akan terjadinya persalinan. Ibu seringkali merasa khawatir atau takut kalau - kalau bayi yang akan dilahirkannya tidak normal. Kebanyakan ibu juga akan bersikap melindungi bayinya dan akan menghindari orang atau benda apa saja yang dianggapnya membahayakan bayinya. Seorang ibu mungkin mulai merasa takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang akan timbul pada waktu melahirkan. Rasa tidak nyaman akibat kehamilan timbul kembali pada trimester ketiga dan banyak ibu yang merasa dirinya aneh dan jelek. Disamping itu ibu mulai merasa sedih karena akan berpisah dari bayinya dan kehilangan perhatian khusus yang diterima selama hamil. Pada trimester inilah ibu memerlukan keterangan dan dukungan dari suami, keluarga dan bidan. Trimester ketiga sering kali disebut periode menunggu / penantian dan waspada sebab pada saat itu ibu merasa tidak sabar menunggu kelahiran bayinya. Trimester III adalah waktu untuk mempersiapkan kelahiran dan kedudukan sebagai orang tua seperti terpusatnya perhatian pada kehadiran bayi. Trimester ketiga merupakan saat persiapan aktif untuk kelahiran bayi yang akan dilahirkan dan bagaimana rupanya. Mungkin juga nama bayi yang akan dilahirkan juga sudah dipilih. Trimester ketiga adalah saat persiapan aktif untuk kelahiran bayi dan menjadi orang tua. Keluarga mulai menduga - duga tentang jenis kelamin bayinya ( apakah laki- laki atau perempuan ) dan akan mirip siapa.

Tanda dan Gejala psikologis pada ibu hamil : Kehabisan tenaga atau kebanyakan gerak. Tidak bisa tidur walaupun mempunyai kesempatan. Menangis tidak tertahan dan mata terasa berlinang. Menyadari bahwa perasaan amat cepat berubah. Sangat judes atau peka terhadap bunyi dan sentuhan . Senantiasa berfikiran negatif. Tanpa berwujud merasa tidak mampu. Tiba-tiba takut atau gugup. Tidak bisa memusatkan perhatian. Lebih sering lupa Rasa bingung dan bersalah. Makan amat sedikit atau amat banyak. Asik dengan fikiran yang menghantui dan mengerikan. Kehilangan kepercayaan dan harga diri.

Diagnosa keperawatan

No Diagnosa Intervensi Rasional Evaluasi / Kriteria Hasil Keperawatan citra Terima persepsi diri klien dan 1. 1. Untuk memvalidasi Klien menerima perubahan 1. Gangguan tubuh b.d perubahanberikan jaminan bahwa ia dapatperasaannya. Klien berpartisipasi dalam b penampilan. mengatasi krisis ini. perawatan dan dalam 2. Dorong klien melakukan keputusan tentang perawatan perawatan diri. Klien mengkomunikasika 3. Kaji kesiapan klien, kemudian Untuk meningkatkan rasaterhadap perubahan citra tubu libatkan klien dalamkemandirian dan kontrol. Klien menyatakan peras pengambilan keputusan tentang Keterlibatan dapat memberikanterhadap dirinya sendiri. perawatan bila memungkinkan. rasa kontrol dan meningkatkan 4. Berikan kesempatan kepadaharga diri. klien untuk menyetakan perasaan tentang citra tubuhnya. Agar klien dapat

Bimbing dan kuatkan fokusmengungkapkan keluhannya dan klien pada aspek-aspek positifmemperbaiki kesalahpahaman. dari penampilannya dan Untuk mendukung adaptasi dan 5. upayanya dalam menyesuaikankemajuan yang berkelanjutan diri dengan perubahan citra tubuhnya.

2.

Ketakutan ketidakbiasaan

Berikan informasi sesuai tingkat pemahaman atau penerimaan Untuk mengurangi ansietas klien klien . Orientasikan klien ke lingkungandan meningkatkan kerja sama. Untuk berorientasi terhadap sekitar. waktu, tempat, orang, kejadian. Tindakan ini dapat membantu b.d Orientasikan keluarga padamemberikan dukungan yang Klien dapat mengidentifik kebutuhan khusus klien danefektif. sumber ketakutan. izinkan anggota keluarga Klien mengungkapkan ra berpartisipasi dalam dengan lingkungan sekitarny memberikan perawatan. membantu klien Klien tidak memperlihatkan 4. Atur anggota keluarga untuk Untuk mengurangi ketakutannya. fisik atau gejala-gejala ketak tinggal bersanma klien.

3.

aktif dapat Berikan kesempatan klien untuk Mendengar membantu menentukan mendiskusikan keluhan yang penyebab kesulitan tidur. mungkin menghalangi tidur. Rencanakan asuhan keperawatan rutin yang memungkinkan 2. pasien tidur tanpa terganggu Tindakan ini memungkinkan asuhan keperawatan yang selama beberapa jam. konsisten dan memberikan waktu untuk tidur tanpa Berikan bantuan tidur, kepada Gangguan pola tidurklien, seperti bantal, manditerganggu. b.d faktor psikologis sebelum tidur, makanan atau Susu dan beberapa kudapan 3. tinggi protein, seperti keju dan minuman, dan bahan bacaan. Ciptakan lingkungan tenangkacang, higiene pribadi secara Klien mengidentifikasi fakto rutin, yang dapat mempermudahdapat menghalangi atau yang kondusif untuk tidur. tidur. Berikan pendidikan kesehatantidur. 4. kepada klien tentang teknik Tindakan ini dapat mendorong Klien dapat tidur beberapa hari. istirahat dan tidur. relaksasi. 5. Upaya relaksasi yang bertujuan Klien dapat mengungkapk biasanya dapat membantucukup beristirahat. meningkatkan tidur. Klien tidak menunjukkan fisik deprivasi tidur. Kaji tingkat ansietas (ringan, Klien tidak menunjukkan ge

sedang, berat, panik). Beri kenyamanan dan ketentraman hati pada klien. 1. Singkirkan stimulasi yang Untuk mengurangi kecemasan. berlebihan.

yang berkaitan dengan t gelisah. Klien melakukan latiha tingkatsebelum tidur.

2. Untuk mengurangi rasa khawatir klien. 3. Agar klien menjadi lebih tenang.

4.

5.

Sediakan lingkungan yang tidak mengancam, dan dorong klien untuk bertanya tentang seksualitas pribadi. Ansietas b.d ancaman terhadap Berikan kesempatan klien Tindakan ini mendorong klien konsep diri ataumengungkapkan perasaan secarauntuk bertanya tentang hal status peranterbuka dalam lingkungan yangkhusus yang berkaitan dengan sekunder akibattidak mengancam. keadaan saat ini. kehamilan 2. Tindakan ini meningkatkan Anjurkan klien untuk mendiskusikan keluhannyakomunikasi dan pemahaman Ansietas berkurang, dibukt diantara klien dan pemberimenunjukan keterampilan in dengan suami atau istri atau yang efektif. asuhan. pasangan. 3. Untuk berbagi keluhan dan Menunjukkan kontrol ansie 4. Berikan dukungan untuk suami memperkuat hubungan mempertahankan penampilan atau istri atau pasangan Disfungsi seksual Meneruskan aktivitas yan b.d perubahan 4. Mengkomunikasikan keluhanmeskipun ada kecemasan. struktur atau fungsi perhatian dan penerimaan tubuh

Klien mengakui adanya m kemungkinan masalah da seksual Klien menyatakan perasaa perubahan seksualitas Klien mengungkapkan mengenai penyebab disfungs Klien mengungkapkan kein mendapatkan konseli