Anda di halaman 1dari 49

Sistematika modul pelaksanaan dan pemantauan PMTCT

Apakah PMTCT itu? Bagaimana tata cara pelaksanaannya Bagaimana melakukan pemantauan
pelaksanaannya Bagaimana menganalisa hasil pelaksanaannya

Bagaimana tata cara pelaksanaannya:


a. Secara medis
i. Pengetahuan pelaksanaan ii. Ketrampilan pelaksanaan iii. Pedoman pelaksanaan (SOP)

b. Secara administratif
i. Pencatatan (di semua fasilitas pemberi pelayanan) 1. Rekam medik pasien 2. Register pasien 3. Stok obat (jumlah dan jenis) 4. Penggunaan obat (jumlah dan jenis) ii. Pelaporan (bermanfaat untuk kompilasi wilayah) 1. Jumlah pasien 2. Jumlah dan jenis obat iii. Kebutuhan data di luar pelaksanaan: 1. Estimasi ibu hamil dengan HIV + (dalam 1 tahun) 2. Estimasi persalinan (dalam 1 tahun)

3. Bagaimana melakukan pemantauan pelaksanaannya

a. Keteraturan pencatatan (rekam medik, register)


b. Kompilasi data c. Indikator cakupan

4. Bagaimana menganalisa hasil pelaksanaannya


a. Apakah sistem berjalan b. Bagaimana kualitas pelayanan (ketersediaan obat tertentu bagi keadaan tertentu, kepatuhan pada SOP) c. Akses ibu hamil dengan HIV+ ke klinik ANC (semakin besar akses, semakin besar upaya pencegahan vertikal) i. Milik pemerintah, swasta

ii. Ketersediaan ARV di klinik-klinik tersebut


iii. Tingkat Stigma di kilinik pelayanan d. Pola prevalensi urban-rural

pelaksanaan & pemantauan PMTCT


Budi Enoch 15 Juni 2011

Perbandingan penderita HIV+ total dan penderita ibu rumah tangga tahun 2005 s/d 2010

191

123 109

131

134

83 23 29 33 11

19 3

2005

2006

2007 Total

2008

2009

2010

Ibu Rumah Tangga

Penderita HIV anak-anak 2005 s/d 2010

Meninggal dengan ARV, 3, 13%

Meninggal tanpa ARV 4 17%

Rujuk keluar, 1, 4%

Masih menerima ARV, 15, 62%

Penderita HIV anak-anak = 24

The sexy issues is.PMTCT Mengapa ?

Menurunkan infeksi HIV baru pediatrik Meningkatkan kesehatan orang dewasa, ibu2, bayi

dan anak, terutama kalau di-integrasikan dengan benar kedalam sistim penanganan kesehatan ibu, bayi dan anak pada daerah dimana kontribusi HIV terhadap morbiditas dan mortalitas sangat signifikan Meningkatkan kewaspadaan status infeksi wanita dan partnernya dan memfasilitasi asses pada pelayanan komprehensif CST Mengidentifikasi bayi/anak dari ibu HIV (+) yang juga mungkin perlu ditest dan kalau perlu memberikan asses pada CST

Mencegah infeksi HIV yang baru pada wanita dan

partner lelakinya melalui pendekatan pencegahan secara individu Mencegah kehamilan yang tidak diinginkan bagi ibu HIV (+) Mempromosikan pelayanan kespro yang selayaknya termasuk KB bagi wanita HIV (+) yang tidak mau hamil lagi, dan mencegah penularan vertikal untuk ibu yang ingin hamil lagi. Berkontribusi dalam menurunkan stigma dan diskriminasi melalui pasangannya, keluarga dan komunitas dengan melakukan edukasi dan usaha2 penyadaran

Mengurangi akibat2 yang tidak proporsionil dari

HIV pada wanita dan gadis. Memperkuat jaringan/hubungan antara pelayanan terapi dewasa dan anak melalui pelayanan yang tersedia dan PMTCT Membangun peningkatan kepasitas untuk pelayanan HIV, MNCH dan kespro melalui : 1. edukasi dan pelatihan bagi tenaga kesehatan, 2. meningkatkan ketrampilan laboratorium 3. perbaikan infrastruktur sistim data, ANC, kamar bersalin 4. memperkuat sistim monitoring dan evaluasi.

Prevention of Mother-to-Child Transmission of HIV: Executive Summary of the Expert Panel Reportand Recommendations to the U.S. Congress and U.S. Global AIDS Coordinator, January 2010

Badan Kesehatan Dunia mempromosikan pendekatan strategis yang komprehensif dalam upaya mencegah terjadinya infeksi HIV pada bayi dan anakanak, yang terdiri dari 4 (empat) komponen:
Antiretroviral drugs for treating pregnant women and preventing HIV infections in infants: Toward universal access. Recommendation for a public health approach. WHO, 2006

1. Pencegahan infeksi HIV primer 2. Pencegahan kehamilan yang tidak

direncanakan pada ibu-ibu yang menderita HIV 3. Pencegahan penularan HIV dari ibu dengan HIV kepada bayinya 4. Perawatan, pengobatan dan dukungan bagi ibu dengan HIV, anak-anaknya dan keluarganya

Seluruh komponen tersebut harus diterapkan dalam upaya mengoptimalkan efektifitas program dan mencapai tujuan secara keseluruhan dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak berkaitan dengan HIV. Pendekatan komprehensif ini dilakukan pada kegiatan rutin konseling dan testing HIV pada semua ibu hamil, pemberian ARV profilaksis untuk PMTCT serta konseling dan dukungan untuk pemberian makanan pada bayi.

"There had been for a long time this artificial dichotomy or artificial tension between treatment versus prevention. Now it is very clear that treatment is prevention and treatment is an important part of a multifaceted combination strategy," Dr. Anthony Fauci, director of the National Institute of Allergy and Infectious Diseases division of the National Institutes of Health (NIH), 2011

AIDS remained "a metaphor for inequality" as the vast majority of patients live in Africa, where every year nearly 400,000 babies are born with HIV. "If you're privileged to be born in the North, you will not die from HIV. It you're privileged to be born in the North, you will not have a baby born with HIV," "Countries need to start looking at innovative financing. We need to have drugs which are not just for the rich market." Michel Sidibe UNAIDS Executive Director (2011)

Apa yang harus dilakukan untuk memulai PMTCT ?


1. Membangun fasilitas care, support dan treatment (CST) 2. Membangun klinik VCT yang dikenal luas di masyarakat setempat 3. Mengikis stigma dan diskriminasi dengan cara informasi, edukasi, pemberian contoh (terutama dikalangan medis), dan leadership dari pemimpin di semua level 4. Membangun jaringan (networking) 5. Menawarkan test HIV pada ibu hamil, sebaiknya setiap ibu hamil

Keadaan di tempat kita


LSM
RS HC Klinik Mawar RS HC

HC

Together we can make a difference

together all the things will be easier

Bagaimana dengan SC ?
Sebelum berkembangnya HAART, wanita HIV
(+) hamil melahirkan dengan cara SC, karena persalinan pervaginam sedikit meningkatkan resiko penularan virus ke bayinya Dengan berkembangnya HAART, dinegara maju banyak klien menginginkan persalinan pervaginam Beberapa peneliti ingin mengetahui apakah proses kehamilan dan persalinan, termasuk komplikasi, adalah sama antara ibu hamil HIV (+) dengan ibu hamil tanpa infeksi
International Journal of Gynecology & Obstetrics Volume 111, Issue 2 , Pages 161-164, November 2010
For Pregnant HIV-Positive Women, Vaginal Delivery Can Be As Safe And Successful As For Uninfected Women

Panduan terbaru US, persalinan pervaginam

direkomendasikan pada wanita HIV (+) hamil yang telah mendapat prenatal-care dan viralload nya < 1000/cc pada minggu ke 36 kehamilan Kalau viral-loadnya > 1000/cc atau tidak diketahui, SC tetap menjadi pilihan SC direkomendasikan untuk wanita yang tidak mendapat prenatal-care sampai minggu ke 36 kehamilan, atau yang tidak mendapat ARV Pada penelitian tersebut, wanita HIV (+) yang tidak ada kontraindikasi untuk persalinan pervaginam, kelihatannya hasil perjalanan persalinannya sama dengan wanita yang tidak terinfeksi, dengan syarat wanita tersebut mendapat ARV selambat2nya pada minggu ke 36

Aunti Ira with Nevirawati Ramadhani

The first PMTCT baby, born with SC in 28th September 2006

29 Juni 2009

29 Mei 2011

Rumah Sakit
Membentuk tim PMTCT di rumah sakit (terdiri dari dokter spesialis kebidanan & kandungan, dokter spesialis anak, dokter spesialis penyakit dalam, dokter umum, serta perawat/bidan dan petugas laboratorium) Menyediakan tenaga konselor VCT Menyediakan ARV (profilaksis & terapi) Menyediakan kebutuhan operasi sesar Membentuk sistem rujukan kasus antara rumah sakit, puskesmas, dan LSM

Puskesmas
Membentuk tim PMTCT di puskesmas (terdiri dari kepala puskesmas, dokter umum, serta perawat/bidan dan petugas laboratorium) Menyediakan tenaga konselor VCT Membentuk sistem rujukan kasus antara puskesmas, rumah sakit, dan LSM

LSM
Membentuk tim PMTCT di LSM (terdiri dari manajer program, konselor VCT, manajer kasus, relawan pendamping Odha, dan lainnya) Memproduksi materi KIE tentang PMTCT ataupun menginventarisir materi KIE yang telah ada sebagai bahan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat/ibu hamil tentang risiko penularan HIV dari ibu ke bayi Melatih tenaga kader masyarakat (ibu-ibu PKK/posyandu, dan lainnya) tentang kehamilan sehat, HIV dan AIDS, PMTCT dan VCT Membantu kelancaran tugas tenaga kader masyarakat dalam memotivasi ibu hamil untuk mengikuti penyuluhan HIV dan AIDS, PMTCT dan VCT di lingkungannya Membentuk sistem rujukan dengan puskesmas dan rumah sakit sehingga ibu hamil bisa menjalani VCT, serta intervensi pengurangan risiko penularan HIV ke bayi (ARV profilaksis, operasi sesar) bagi ibu hamil HIV positif

Tingkat daerah : Apa yang harus dilakukan untuk memulai PMTCT ?


Pengumpulan data dan informasi Menyusun kegiatan komprehensif

PMTCT tingkat kabupatan/kota Menyusun alur pelayanan PMTCT di Rumah Sakit, Puskesmas dan yang berbasis masyarakat

Pengumpulan data dan informasi

Menginventarisasi kabupaten/kota dengan

prevalensi HIV yang terkonsentrasi dan umum/generalized berdasarkan data laporan, estimasi dan proyeksi. Menginvetarisasi Rumah Sakit Rujukan Odha di kabupatan atau kota terkait Menginventarisasi puskesmas yang sudah dapat memberikan layanan VCT di wilayah kerja Rumah Sakit terkait. Menginventarisasi LSM yang melaksanakan program penanggulangan HIV dan AIDS dan penjangkauan pada sub populasi perilaku berisiko

Melaksanakan pengumpulan data sub

populasi berisiko yang berkontribusi pada penularan HIV dari ibu ke bayinya di wilayah kerja Puskesmas terkait, misalnya:
Kelompok berisiko tertular (highly affected) Kelompok dengan perilaku berisiko (misalnya
pengguna napza suntik, berganti pasangan seksual) Kelompok dengan kemungkinan risiko tertular yaitu : Pasangan dari penasun Pasangan dari pelanggan penjaja seksual,
transgender.

Mengumpulkan data sekunder jumlah ibu

hamil di kabupaten/kota tempat puskesmas terkait Jumlah tenaga kesehatan, LSM dan kader terkait yang ada, terlatih dan belum terlatih dalam PMTCT

Menyusun kegiatan komprehensif PMTCT tingkat kabupatan/kota


- Membentuk PMTCT task force di tingkat Propinsi/Kabupaten/Kota dan di Rumah Sakit - Membentuk Tim PMTCT di Rumah Sakit. - Melaksanakan pertemuan berkala oleh PMTCT task force Propinsi, Kabupaten/Kota dan di Rumah Sakit - Melaksanakan pelatihan PMTCT bagi tenaga program terkait di Dinas Kesehatan Propinsi, Kabupaten dan Kota terkait

Melaksanakan pelatihan PMTCT bagi tenaga kesehatan dan konselor di Rumah Sakit rujukan ARV Melaksanakan pelatihan PMTCT bagi tenaga kesehatan dan konselor di dua Puskesmas terkait yang mempunyai pelayanan VCT atau belum Melaksanakan pelatihan PMTCT bagi kader dan LSM Melaksanakan penjangkauan kepada sasaran yang terkait dengan PMTCT oleh kader dan LSM terkait Melaksanakan supervisi dan monitoring

Menyusun alur pelayanan PMTCT di Rumah Sakit, Puskesmas dan yang berbasis masyarakat Menyusun alur pelayanan termasuk sistem rujukan PMTCT antar unit dan eksternal pelayanan terkait di Rumah Sakit , Puskesmas dan pelayanan berbasis masyarakat - Menyusun sistem pencatatan dan pelaporan pelayanan PMTCT yang diintegrasikan pada sistem pencatatan dan pelaporan KIA di Rumah Sakit dan Puskesmas

Pelaporan dan pencatatan (monitoring dan evaluasi)


Indikator program PMTCT Indikator Kegiatan PMTCT

Indikator program PMTCT


Indikator Pelayanan PMTCT yang dimaksud adalah persentase dari : Bumil yang ANC mendapat konseling HIV Bumil yang mendapat konseling, melakukan uji HIV Bumil seroreaktif HIV, mendapatkan terapi ARV Bumil seroreaktif HIV, bersalin di fasilitas kesehatan /RS rujukan HIV Ibu hamil bersalin ditolong oleh tenaga kesehatan terampil (APN dengan UP/HIV) Layanan KIA yang melaksanakan Kewaspadaan Universal/Universal Precaution Kejadian Unmet-need menurun 25% dari kondisi awal

Indikator Kegiatan PMTCT Jumlah pengambil kebijakan yang sudah

terpapar dan/atau melaksanakan lokakarya PMTCT Jumlah dan persentase tempat pelayanan PMTCT yang melaporkan seluruh indikator sesuai Pedoman Nasional Jumlah tenaga kesehatan yang telah menerima informasi dasar mengenai PMTCT Jumlah tenaga kesehatan swasta yang terlatih PMTCT Jumlah orang yang melakukan tes HIV dan mengetahui hasilnya Jumlah dan persentase RS Rujukan Odha tempat pelayanan VCT PMTCT yang melaporkan tersedianya peralatan tes HIV

Jumlah RS Rujukan Odha yang melaksanakan

Standar Pelayanan Minimal dalam PMTCT Jumlah dan persentase fasilitas kesehatan terpilih untuk melakukan pelayanan PMTCT yang disupervisi secara teratur Persentase wanita hamil HIV-positif yang teridentifikasi dan menerima regimen ARV lengkap (tidak putus pengobatan) Jumlah organisasi atau pusat layanan publik yang membantu mengadakan CST bagi anak yatim-piatu dan rentan Persentase bayi dan anak yang terlahir dari ibu Odha yang menerima Kotrimosaksol profilaksis

Pemantauan

Prevention of Mother-to-Child Transmission


Tujuan :Menilai kemajuan upaya pecegahan penularan
HIV secara vertikal Penerapan : Di semua negara Frekuensi pengumpulan data : Data harus dikumpulkan secara terus menerus di semua tingkat pelayanan. Data harus diagregasi secara berkala, lebih baik setiap bulan atau tiga bulan sekali. Alat pengukuran : Untuk numerator: alat-alat pemantauan program. Untuk denominator: surveilens di klinik antenatal atau model estimasi.

Cakupan
Perklinik Perdaerah Nasional
: 100% ? : ? : ?

Cara pengukuran
Jumlah ibu hamil HIV+ yang
menerima antiretroviral (ARV) untuk mengurangi resiko MTCT selama 12 bulan terakhir, diperoleh dari pencatatan pemantauan progam yang dikumpulkan dari rekam medik pasien dan register

Numerator:
Jumlah ibu hamil HIV + yang menerima ARV selama 12 bulan terakhir untuk mengurangi resiko MTCT Denominator: Perkiraan jumlah ibu hamil dengan HIV+ selama 12 bulan terakhir

Penjelasan mengenai numerator


Ada empat opsi umum pengobatan ARV yang dapat
diterima oleh ibu dengan HIV+ untuk upaya PMTCT: 1. Nevirapine dosis tunggal 2. Regimen profilaksis menggunakan kombinasi dua ARV 3. Regimen profilaksis menggunakan kombinasi tiga ARV 4. ART untuk ibu hamil dengan HIV+ yang memenuhi syarat untuk perawatan (eligible for treatment) Ibu dengan HIV+ yang menerima salah satu dari empat opsi ini , memenuhi kriteria definisi sebagai numerator

Yang perlu diperhatikan mengenai numerator

Menghitung jumlah keseluruhan ibu hamil

dengan HIV+ yang memperoleh ART jenis apapun dari ke empat opsi di atas . Pada opsi nomor empat, ibu hamil dengan HIV+ yang memenuhi syarat menerima ART dan memperoleh regimen pengobatan , juga akan mendapatkan manfaat efek profilaksis bagi PMTCT, jadi dengan demikian dapat dimasukkan sebagai numerator

Penjelasan mengenai Denominator

Denominator dibuat dengan melakukan

estimasi jumlah ibu dengan HIV+ yang hamil selama selama 12 bulan terakhir. Estimasi ini didasarkan pada data surveilens dari klinik-klinik antenatal Ada dua metoda untuk membuat estimasi denominator

Metoda membuat estimasi denominator

Estimasi dibuat dengan sebuah model

proyeksi seperti Spectrum Cara perkalian : (a) x (b) (a) jumlah total ibu melahirkan selama 12 bulan terakhir, yang dapat diperoleh dari kantor BPS atau Dinas Kesehatan setempat (b) estimasi nasional terbaru prevalensi ibu hamil dengan HIV, yang dapat diperoleh dari estimasi HIV sentinel surveillance klinik antenatal

Interpretasi
Dampak obat-obat ARV terhadap MTCT,

sehingga dapat dibuatkan model yang didasarkan pada efikasi regimen yang bersangkutan. Memantau kecenderungan penyediaan obat ARV yang digunakan untuk PMTCT Regimen ARV untuk mengurangi MTCT harus disertai oleh regimen untuk bayi, jadi dapat dipantau ketersediaan regimen untuk bayi Memantau besarnya akses ibu hamil dengan HIV+ ke pelayanan klinik antenatal (faktor yang mempengaruhinya antara lain adalah ketersediaan ARV, tingkat stigma yang ada)

Penutup
PMTCT merupakan bagian program
yang sangat cepat berkembang. Oleh sebab itu, metoda untuk memantau cakupan pelayanan ini juga berkembang Akses untuk mendapatkan informasi terkini : http://www.who.int/hiv/pub/guidelines/pmt ct/en/index.html

Terimakasih anda telah melakukan pmtct kepada saya