Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM GEOLOGI STRUKTUR Disusun Oleh : Subhan Arif 101.101.052 JURUSAN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI

Disusun Oleh :

Subhan Arif

101.101.052

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI AKPRIND YOGYAKARTA

2012

HALAMAN PENGESAHAN

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Prakti kum Geologi Struktur semester I II pada Jurusan Teknik Geolog Fakultas Tek nologi Mineral Institu t Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakar ta

Penyusun : Subhan Arif NIM. 10.110.10.52 Disetujui Oleh : 1. Robby Wahy udi Asisten Praktikum
Penyusun :
Subhan Arif
NIM. 10.110.10.52
Disetujui Oleh :
1. Robby Wahy udi
Asisten Praktikum Geologi Struktur
(……………
)
2. Kristoforus H asan Djou
(……
………
)
3. Yayang Angg un Dwi Adi
(……………
)
4. Yorim Kristia n Lolo
(…… ………
)
5. Abdullah Hap is
(……………
)
Mengetahui,
Kepala Laboratorium Geologi Dinamik

Ir. H. Siwi Sanjoto, M.T NIK. 86.555.31.E

ii

HALAMAN PERSEMBAHAN

HALAMAN PERSEMBAHAN Laporan ini pe nyusun persembahkan untuk: Pertama kepada ALLAH SWT dengan rahmat dan hidayatnya

Laporan ini pe nyusun persembahkan untuk:

Pertama kepada ALLAH SWT dengan rahmat dan hidayatnya laporan d apat selesaika n dengan tepat
Pertama
kepada ALLAH SWT
dengan
rahmat
dan
hidayatnya
laporan
d apat
selesaika n dengan tepat waktu.

dan Rosuln ya, karena

saya

Kedua ora ng tua saya yang sangat saya sayang dan cintai ya ng telah berdoa dan memberik an apa saja yang sa ya butuhkan sehingga s aya dapat menyelesa ikan laporan resmi ini.

Kepada st af dosen asdos semester 3 ya ng bersedia membagi i lmunya.

Seluruh t eman saya yang telah membantu saya dalam menyelesa ikan laporan ini.

iii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun haturkan kepada AllaH SWT atas berkat dan perlindungannya penyusun dapat menyelesaikan laporan praktikum geologi struktur ini dengan baik. Penyusun pun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada para staf asisten geologi struktur dan teman-teman yang telah membantu penyusun selama menyusun laporan ini. Laporan geologi struktur ini di buat sebagai pelengkap praktikum yang telah di laksanakan di laboratorium maupun di luar laboratorium jurusan teknik geologi Institute Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta. Namun penyusun menyadari bahwa tentunya masih terdapat beberapa kekuangan dalam penyusunan laporan ini, baik dalam secara penyajian maupun yang lainnya yang kurang memuaskan bagi para pembaca. Akhirnya penyusun berharap semoga laporan praktikum sedimentologi ini dapat bermanfaat bagi kita semua, terutama para pembaca.

Penyusun
Penyusun

Yogyakarta, 4 Januari 2012

iv

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL HALAMAM PENGESAHAN

HALAMAN PERSEMBAHAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL BAB I PENDAHULUAN

i

ii

iii

iv

v vii viii 1 1.1 Langkah Kerja 3 1.2 Lembar Kerja 4 1.3 Kesimpulan 4
v
vii
viii
1
1.1 Langkah Kerja
3
1.2 Lembar Kerja
4
1.3 Kesimpulan
4
BAB II STRUKTUR BIDANG
5
II.1
Langkah Kerja
6
II.2
Lembar Kerja
6
II.3 Kesimpulan
BAB III STRUKTUR GARIS
III.1 Langkah Kerja
III.2 Lembar Kerja
7
8
9
9
III.3 Kesimpulan
BAB IV TEBAL DAN KEDALAMAN
9
10
IV.
1 Langkah Kerja
11
IV.
2 Lembar Kerja
11
IV.
3 Kesimpulan
12
BAB V PROYEKSI STEREOGRAFIS DAN PROYEKSI KUTUB
13

V.

1

Langkah Kerja

15

V.

2

Lembar Kerja

16

V.

3 Kesimpulan

16

v

BAB VI METODE STATISTIK DAN KEKAR

18

VI. 1 Langkah Kerja 19 VI. 2 Lembar Kerja 20 VI. 3 Kesimpulan 20 BAB
VI.
1 Langkah Kerja
19
VI.
2 Lembar Kerja
20
VI.
3 Kesimpulan
20
BAB VII SESAR
22
VII.
1 Langkah Kerja
24
VII.
2 Lembar Kerja
25
VII.
3 Kesimpulan
25
BAB VIII LIPATAN
VIII.1 Langkah Kerja
VIII.2 Lembar Kerja
VIII.3 Kesimpulan
BAB IX PENUTUP
26
27
27
28
29
IX.1
IX.2
Kesimpulan umum
Kritik dan Saran
29
30
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
31

vi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Simbol-simbol struktur Gambar 2. Struktur bidang dalam blok tiga dimensi Gambar 3. Struktur garis dalam blok tiga dimensi Gambar 4. Pengukuran tebal dengan lebar singkapan tidak tegak lurus strike Gambar 5. Proyeksi Struktur Bidang Gambar 6. Proyeksi Struktur Garis Gambar 7. Macam-macam sesar

4

5

8

10

Gambar 5. Proyeksi Struktur Bidang Gambar 6. Proyeksi Struktur Garis Gambar 7. Macam-macam sesar 4 5

14

14

23

vii

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Struktur Bidang dan Struktur Garis

2

DAFTAR TABEL Tabel 1. Struktur Bidang dan Struktur Garis 2 viii

viii

BAB I PENDAHULUAN

Geologi struktur adalah studi mengenai distribusi tiga dimensi tubuh batuan dan permukaannya yang datar ataupun terlipat, beserta susunan internalnya.Geologi struktur mencakup bentuk permukaan yang juga dibahas pada studi geomorfologi, metamorfisme dan geologi rekayasa. Dengan mempelajari struktur tiga dimensi batuan dan daerah, dapat dibuat kesimpulan mengenai sejarah tektonik, lingkungan geologi pada masa lampau dan kejadian deformasinya. Hal ini dapat dipadukan pada waktu dengan menggunakan kontrol stratigrafi maupun geokronologi, untuk menentukan waktu pembentukan struktur tersebut. Secara lebih formal dinyatakan sebagai cabang geologi yang berhubungan dengan proses geologi dimana suatu gaya telah menyebabkan transformasi bentuk, susunan, atau struktur internal batuan kedalam bentuk, susunan, atau susunan intenal yang lain.Untuk memahami struktur geologi yang ada dan bagaimana proses terjadinya maka sangatlah perlu diadakan pengamatan secara langsung. Cara mempelajari dan mengamati geologi struktur dapat dibuat menjadi dua tahapan, yaitu :

Tahapan lapangan meliputi langkah-langkah secara berurutan yaitu :

observasi lapangan, pencatatan dan perekaman data. Tahap laboratorium meliputi analisa dan sintesa geologi. Cara penulisan simbol struktur bidang dan struktur garis :

1. Struktur bidang Penulisan struktur bidang dinyatakan dengan :

a) Jurus kemiringan Sistem Azimuth : N Xº E / Yº

o

o

X = jurus/strike, besarnya 0 0 - 360 0

Y = kemiringan/dip, besarnya 0 0 - 90 0

1

2

Sistem Kwadran : (N/S) Aº (E/W) / Bº C

o

A = strike

o

B = dip

o

C = dip direction, menunjukan arah dip dapat dengan SW, NE dll.

b) Besar kemiringan Misalnya dalam sistem azimuth ditulis dengan notasi N X 0 E / Y 0 , maka penulisan berdasarkan sistem “dip direction” dapat ditulis dengan notasi Y 0 , N X 0 E. Petunjuk praktis : arah kemiringan/dip direction = jurus + 90 0 . 2. Struktur Garis Penulisan struktur garis dinyatakan dengan :

System Azimuth : Yº, N Xº E System Kwadran : tergantung pada posisi kwadran

Tabel 1. Struktur Bidang dan Struktur Garis

posisi kwadran Tabel 1. Struktur Bidang dan Struktur Garis Aplikasi yang dapat dilakukan di dunia pertambangan

Aplikasi yang dapat dilakukan di dunia pertambangan diantaranya adalah :

a. Dengan kemampuan pemahaman, penggunaan dan pembacaan kompas dengan baik dan benar, maka penyusun akan mampu untuk mengukur kedudukan-kedukan litologi batuan, kemudian untuk mengetahui penyebaran litologi batuan di suatu daerah.

b. Mampu membuat peta geologi dengan mengetahui batas-batas satuan batuan tiap daerah yang pada akhirnya dapat digunakan sebagai metode atau acuan penambangan.

3

c. Mengeplotkan kedudukan lapisan-lapisan batuan dalam peta lintasan sebagai acuan daerah-daerah penambangan sehingga penyusun dapat mengetahui metode atau model penambangan. d. Dengan mengetahui kedudukan dari kekar (fracture), penyusun dapat mengetahui perkembangan struktur geologi yang ada pada daerah tersebut serta daerah-daerah ini merupakan zona hancuran akibat adanya struktur geologi, maka proses penambangan pada daerah seperti ini akan berbeda dengan daerah normal yang tidak dikenai oleh struktur geologi.

e.

Mengetahui perkembangan struktur geologi (sesar/patahan) yang ada pada daerah tersebut yang di indikasikan dengan kedudukan yang tidak beraturan. Sehingga dengan adanya indikasi seperti hal tersebut di atas.

f.

Bedasarkan kedudukan-kedudukan dari fracture, maka penyusun dapat mengetahui jalar-jalur mineralisasi, migrasi minyak bumi karena bagian ini merupakan zona-zona lemah yang terbuka, sehingga fluida dan mineral akan berada di sepanjang jalar ini hingga mencapai ke permukaan bumi.

I.1

Langkah Kerja

a. Mengubah dari sistem azimuth menjadi sistem kwadran dan sebaliknya.

b. Mengubah notasi dari sistem azimuth menjadi sistem kwadran dan sebaliknya.

c. Membuat simbol-simbol Untuk menggambarkan jenis struktur bidang pada peta, telah ditentukan simbol dari berbagai jenis struktur

4

4 Gambar 1. Simbol-simbol struktur I.2 Lembar Kerja Terlampir I.3 Kesimpulan a. Penyusun dapat menggunakan sistem

Gambar 1. Simbol-simbol struktur

I.2 Lembar Kerja Terlampir

I.3 Kesimpulan

a. Penyusun dapat menggunakan sistem azimuth dan sistem kwadran dalam penulisannya serta merubah sistem azimuth ke kwadran maupun sebaliknya.

b. Penyusun dapat menentukan arah strike dan dip dari kedudukan suatu batuan.

c. Penyusun dapat mengenali dan mengaplikasikan simbol-simbol yang digunakan dalam struktur geologi dalam peta geologi.

BAB II STRUKTUR BIDANG

Beberapa unsur struktur geologi secara geometri dapat dianggap sebagai struktur bidang. Struktur geologi tersebut adalah bidang perlapisan, bidang kekar, bidang sesar, bidang belahan, bidang foliasi dan sejenisnya. Jurus/strike : arah dari garis horizontal yang merupakan perpotongan bidang yang bersangkutan dengan bidang horizontal. Dip : sudut kemiringan yang dibentuk oleh bidang miring dengan bidang horizontal yang diukur tegak lurus strike. Apperent dip : sudut kemiringan yang dibentuk bidang bersangkutan dengan bidang horizontal dengan pengukuran tidak tegak lurus strike. Dip direction : arah tegak lurus jurus yang sesuai dengan arah miringnya bidang yang bersangkutan diukur dari arah utara.

dengan arah miringnya bidang yang bersangkutan diukur dari arah utara. Gambar 2. Struktur bidang dalam blok

Gambar 2. Struktur bidang dalam blok tiga dimensi

5

6

Contoh penulisan kedudukan bidang:

N 245 0 E / 45 0 SW

Pembacaan kompas dengan skala 0 0 – 360 0 JURUS dibaca azimutnya yaitu 245 0 dari arh utara (N) ke arah timur (E)

kompas dengan skala 0 0 – 360 0 JURUS dibaca azimutnya yaitu 245 0 dari arh

KEMIRINGAN setelah didapatkan besaran kemiringan (45 0 ) kemudian ditentukan kwadrannya (SW). Apabila dinyatakan dengan kemiringan dan arah kemiringan, arah kemiringannya ditentukan dan bidang yang sama, maka akan

dinyatakan 45 0 , N 215 0 E.

N 70 0 E / 20 0 SE atau S 70 0 W / 20 0 SE

JURUS dihitung 70 0 dari arah utara (N) ke arah barat (E) atau dari arah selatan (S) ke arah timur (E).Kwadran dari arah kemiringan harus ditentukan (SE atau yang lain), apabila akan dinyatakan sebagai besaran kemiringan dan arah kemiringan, bidang ini akan dinyatakan

Pembacaan kompas dengan skala (0 0 – 90 0 )

20 O SE, S 70 0 W.

II.1. Langkah kerja Langkah pertama :

1. Membuat garis utara dan membuat kemiringan semu sebesar N 320 o E dari arah utara, kemudian membuat dip dari strike sebesar 23 o .

2. Membuat garis strike kedua dengan sebesar N 300 o E dan membuat garis dipnya dengan sudut sebesar 15 o dari strikenya.

3. Membuat garis tegak lurus dari masing-masing strikenya (5 cm) , dip dengan 1,5 cm dan seterusnya sebanyak yang dibutuhkan.

II.2. Lembar kerja ( Terlampir )

7

II.3. Kesimpulan

1. Kedudukan pada struktur bidang dilambangkan dengan strike dan Dip.

2. Strike adalah arah dari garis horizontal yang merupakan perpotongan antara bidang yang bersangkutan dengan bidang horizontal yang diukur

dari arah utara.

3. Dip adalah sudut terbesar yang dibentuk oleh bidang miring dengan bidang horizontal yang diukur tegak lurus jurus.

4. Mengetahui arah dip terhadap strike dapat menggunakan kaidah tangan kiri

BAB III STRUKTUR GARIS

Seperti halnya metode grafis dalam Geologi Struktur dapat dibedakan

menjadi struktur garis riil dan struktur garis semu. Struktur garis semu adalah semua struktur garis yang arah atau kedudukannya ditafsirkan dari orientasi unsur untuk struktur yang membentuk kelurusan atau liniasi. Struktur garis riil adalah struktur garis yang arah dan kedudukannya diamati langsung dilapangan. Berdasarkan saat pembentukannya struktur garis dibedakan :

Struktur garis semu dan struktur garis sekunder.

o

Yang termasuk struktur garis semu / primer : liniasi.

o

Yang termasuk struktur garis sekunder

: arah liniasi.

Istilah dalam struktur garis:

Arah penunjaman adalah : jurus dari bidang vertikal yang melalui garis dan menunjukan arah penunjaman arah garis tersebut. Arah kelurusan adalah : jurus bidang perlapisan vertikal yang melalui garis tetapi tidak menunjukan arah penunjaman garis tersebut. Rake adalah : besar sudut antara garis horisontal yang diukur pada bidang

dimana garis tersebut besarnya rake sama atau lebih kecil dari 90.

garis tersebut besarnya rake sama atau lebih kecil dari 90 ∞ . Gambar 3. Struktur Garis

Gambar 3. Struktur Garis dalam Blok Tiga Dimensi

8

9

III.1. Langkah kerja Langkah pertama

a. Mempersiapkan alat dan bahan yang akan dipergunakan (alat tulis, jangka, busur, penggaris 1 paket dan sebagainya)

b. Menentukan arah utara

c. Mengeplot penunjaman (plunge/trend), tepat sesuai arah pengukuran pembacaan kompas dititik lokasi struktur bidang di ukur 30 o .

d. Mengeplot tanda kemiringan (bearing ( N 30 o E)) tegak lurus searah jarum

jam dengan ukuran 1/3 panjang garus jurus ditambah tanda panah pada ujung garis untuk mengetahui bahwa itu merupakan bearing.

e. Menuliskan besar penunjaman (plunge/trend) pada ujung tanda panah tersebut.

III.2. Lembar kerja ( Terlampir )

III.3. Kesimpulan

1. Dalam pembacaan struktur garis terdapat istilah plunge, bearing

2. Berdasarkan pada pembentukannya struktur garis dibagi menjadi :

a. Struktur garis primer

b. Struktur garis sekunder.

3. Menentukan "Plunge" dan "bearing" sebuah garis pada suatu bidang

secara azimuth dan kuadran.

BAB IV TEBAL DAN KEDALAMAN

Ketebalan Pengukuran s ecara langsung dapat dilakukan pada suatu

keadaan tertentu,

misalnya pada lapisa n yang tersingkap (horosontal) pada tebing vertikal, lapisan vertikal yang tersing kap pada topografi datar, dan bila penguku ran rumit maka dilakukan pengukura n tidak langsung. Pendekatan lain untuk men gukur ketebalan secara tidak langsun g dapat dilakukan dengan mengukur jarak a ntara titik, yang

Untuk mencari

kemiringan lereng y ang tegak lurus jurus lapisan dapat dilakuka n beberapa cara

yaitu dengan men ggunakan “Aligment Nomograph” denga n menganggap kemiringan lereng s ebagai kemiringan semu dan kemiringan le reng tegak lurus jurus sebagai kemirin gan sebenarnya. Kedalaman Menghitung kedalam an lapisan ada beberapa cara antara lain :

merupakan batas lap isan sepanjang lintasan tegak lurus jurus.

Menghitung s ecara matematis.

Dengan “Alig nment Diagram”.

Secara grafis.

Rumus Umum kedal aman : D = m ( Sin ± Cos tan )

Rumus Umum kedal aman : D = m ( Sin ± Cos tan ) Gambar 4.

Gambar 4. Pengu kuran tebal dengan lebar singkapan tidak tega k lurus strike

10

11

IV.1. Langkah kerja Tugas

a. Mempersiapkan alat dan bahan yang akan dipergunakan (alat tulis, jangka, busur, penggaris 1 paket dan sebagainya)

b. Soal Pada lapisan daerah Kulonprogo dengan kedalaman N270 0 E/25 0 . Dari lapisan tersebut dilakukan arah lintasan N285 0 E sepanjang 300 m ada batubara, 250 m batu pasir, 350 batu lempung. Morfologi daerah tersebut relatif datar. Skala 1 : 10.000. Berapa tebal dan kedalaman secara grafis dan matematis? 250 m, 300 m, 350 m. dari titik pertama. Berapa kedalamannya?

c. Metode grafis Menentukan arah utara. Menarik garis dengan azimuth 270 0 . Menarik garis FL tegak lurus dengan garis azimuth tersebut, kemudian menarik garis Dip sebesar 25 0 dari FL itu. Menarik garis lintasan sebesar 285 0 dari arah utara, kemudian membuat

batas pada

garis ini sepanjang 2,85 cm dari titik pusat.

Menarik garis sejajar azimuth dengan arah lintasan (2,85 cm). Menarik gari tegak lurus dari Dip, sehingga memotong titik pertemuan antara garis FL dengan garis sejajar Dip. Membuat garis sejajar Dip. Menentukan tebal dan kedalaman lapisan.

d. Metode matematis Menentukan nilai sin 15 0 hasilnya merupakan nilai x Menentukan nilai tan 25 0 hasilnya merupakan nilai kedalaman 1 Menentukan nilai sin 25 0 hasilnya merupakan nilai tebal Menentukan kedalaman 2 dan seterusnya

1V.2. Lembar kerja ( Terlampir )

12

IV.3. Kesimpulan

1. Ketebalan ialah jarak tegak lurus antara bidang (2 bidang) sejajar yang

merupakan lapisan batuan. Ketebalan lapisan bisa ditentukan dengan beberapa cara, baik secara langsung maupun tidak langsung.

2. Kedalaman ialah jarak vertikal dari ketinggian tertentu (umumnya permukaan bumi) kearah bawah terhadap suatu titik garis bidang. Kedalaman dapat ditentukan dengan cara langsung maupun tidak langsung.

3. Besar dan bentuk pola singkapan tergantung oleh beberapa faktor antara lain:

Ketebalan lapisan kemiringan lapisan

bentuk morfologi bentuk struktur lipatan.

4. Ketebalan lapisan dapat ditentukan dengan beberapa cara, baik secara langsung maupun tidak langsung.

5. Perhitungan kedalaman dapat menggunakan dua metode yaitu perhitungan berdasarkan pengukuran tegak lurus jurus lapisan dan perhitungan berdasarkan tidak tegak lurus dengan jurus. Jika tebal dan kedalaman berlawanan dengan arah kemiringan maka akan terjadi penipisan dan sebaliknya akan menambah ketebalan

6. Dalam praktikum yang dilakukan, metode yang digunakan yaitu metode grafis dan metode matematis.

BAB V PROKYEKSI STEREOGRAFIS DAN PROYEKSI KUTUB

Proyeksi Stereografis adalah proyeksi yang didasarkan pada perpotongan

bidang/garis bantu suatu permukaan bola. Macam-macam proyeksi stereografis yang digunakan dalam praktikum adalah sebagai berikut :

1. Equal Angle Projection atau Wulff Net

2. Equal Area Projection net atau Schimth Net

3. The Polar Equal Area Net

4. Kalsbeek Counting Net

Dalam proyeksi ini, menggunakan ketiga jaring tersesbut pada prinsipnya sama, yaitu : di mulai dari lingkaran primitif dan 90 o dipusat lingkaran.

1. Proyeksi Stereografis

a. Struktur bidang Stereogramnya diwakili oleh lingkaran bearing, sehingga besar sudut kemiringan (dip) selalu diukur pada arah E-W jaring, yaitu 0 o pada lingkaran primitif dan 90 o dipusat lingkaran. Untuk arah strikenya diukur 0 o dari arah utara (N).

b. Struktur Garis

Stereogramnya akan berupa suatu garis lurus dari pusat lingkaran, besarnya plunge dihitung 0 o pada lingkaran primitf dan 90 o dipusat lingkaran. Dan diukur pada kedudukan bearing berimpit dengan N-S atau E-S dari jaring.

1. Proyeksi Kutub Dasarnya sama dengan proyeksi stereografis, dimana unsur struktur digambarkan pada permukaan bola di bagian bawah proyeksi kutub suatu bidang garis, digambarkan sebagai titik. Proyeksi kutub bidang merupakan hasil proyeksi titik tembus dari garis normal bidang bola terhadap permukaan bola. Sedangkan proyeksi kutub garis merupakan suatu titik tembus suatu garis terhadap permukaan bola pada bidang horizontal.

13

14

a. Struktur bidan g Pembacaan st rike 0 o dimulai dari West (W), sedangkan

arah dipnya 0 o

diukur dari p usat kearah tepi. Untuk proyeksi kutub struk tur garis berupa titik.

tepi. Untuk proyeksi kutub struk tur garis berupa titik. Gambar 5. Proyeksi Struktur Bidang b. Struktur

Gambar 5. Proyeksi Struktur Bidang

b. Struktur garis Langkah-lang kah yang dilakukan sama seperti dengan

proyeksi kutub,

hanya saja s tereonet yang digunakan adalah “Polar E qual Area Net”. Struktur garis yang diperoleh berupa titik.

adalah “Polar E qual Area Net”. Struktur garis yang diperoleh berupa titik. Gambar 6. Proyeksi Struktur

Gambar 6. Proyeksi Struktur Garis

15

V.1 Langkah Kerja Mempersiapkan alat dan bahan yang akan dipergunakan (alat tulis, spidol OHP min. 4 warna, kertas kalkir secukupnya, penggaris 1 paket dan sebagainya).

Tugas 1 Struktur Bidang

a. Membuat lingkaran dengan arah utara menggunakan Wulf net.

b. Membuat proyeksi stereografis dengan titik pada kedudukan N 122 0 E dimulai dari arah utara.

c. Kemudian bawa titik tersebut diputar berlawanan arah dengan arah jarum jam, hingga berhimpit dengan arah utara (N).

d. Tentukan nilai 33 0 dari titik arah timur (E) dan diukur masuk kearah pusat.

e. Membuat garis lengkung mengikuti nilai 33 0 lurus pada titik tersebut.

f. Agar penyusun dengan mudah memahami, maka dapat dibuat garis potong lingkaran yang kedua titiknya mengikuti nilai 33 0 tadi.

g. Bila perlu berikan keterangan pada garis lengkung nilai struktur bidang.

Tugas 2 Struktur Garis

a. Membuat lingkaran dengan arah utara menggunakan Wulf net.

b. Membuat proyeksi stereografis dengan titik pada kedudukan N 185 0 E dimulai dari arah utara.

c. Kemudian bawa titik tersebut diputar searah dengan arah jarum jam, hingga berhimpit dengan arah timut (E).

d. Tentukan nilai 54 0 dari titik arah timur (E) dan diukur masuk kearah pusat.

e. Membuat garis lurus dari titik pusat hingga titik nilai 54 0 , kemudian garis putus-putus setelah melewati nilai 54 0 hingga akhir lingkaran.

f. Beri keterangan nilai struktur garis disamping garis yang telah dibuat.

16

Tugas 3 Menentukan Apparent dip

a. Pertama kali membuat struktur bidang dengan kedudukan N 47 0 E / 55 0 langkahnya sama seperti pada Tugas 1.

b. Membuat apparent dip dengan arah kedudukan N 112 0 E, menentukan garis lurus hingga titik pertemuan dengan garis lengkung (dip) 55 0 kemudian garis putus setelah melewati dari garis lengkung tersebut.

c. Untuk nilai bearing yaitu N 112 0 E

d. Menentukan nilai plunge dengan cara, bawa garis apparent ke arah timur (E) kemudian lihat nilai pertemuan antara garis lengkung (dip) dengan garis apparent dip, didapat nilai plunge 50 0 .

e. Menentukan rake dengan menggunakan busur, titik sudut ditentukan pertemuan antara garis lengkung (dip) dengan garis apparent dip yaitu sebesar 73 0 .

Tugas 4 Menentukan kedudukan bidang dari 2 kemiringan semu

a. Membuat struktur bidang dengan kedudukan N 336 0 E / 38 0 langkahnya sama seperti pada Tugas 1.

b. Membuat struktur garis dengan kedudukan masing-masing 25 0 , N 10 0 E dan 34 0 N 100 0 E langkahnya sama seperti pada Tugas 2 dan 3.

V.2 Lembar Kerja Terlampir

V.3 Kesimpulan

a. Proyeksi stereografis adalah gambaran dua dimensi atau proyeksi dari permukaan bola.

b. Proyeksi hanya dapat dipakai untuk memecahkan masalah-masalah geometri bidang dan garis yang besar merupakan besar sudut atau arah.

c. Stereonet terdiri dari : Wulff Net, Schmidt Net, Polar Equal Area Net dan

Klassbeek Counting Net.

17

d. Pada proyeksi stereografis dengan menggunakan Wulff Net yang menghasilkan bidang dan garis. e. Pada proyeksi kutub dengan menggunakan Polar Equal Area net yang menghasilkan berupa pola 2 atau titik

18

BAB VI

KEKAR

Kekar merupakan suatu rekahan yang relatif tanpa mengalami pergeseran

pada bidang rekahannya. Penyebab terjadinya kekar dapat disebabkan oleh gejala tektonik maupun tektonik. Dalam analisa struktur geologi, yang diperlukan adalah kekar yang disebabkan oleh gejala tektonik. Jadi dilapangan baru dapat dibedakan dua jenis kekar tersebut. Klasifikasi kekar ada beberapa macam, tergantung dasar klasifikasi yang digunakan diantaranya :

a) Berdasarkan bentuknya.

b) Berdasarkan urutannya.

c) Berdasarkan kerapatannya.

d) Berdasarkan cara terjadinya.

Klasifikasi kekar berdasarkan genesanya :

Shear joint Tension joint Tegangan utamanya terbesar akan membagi dua sama besar sudut lancip yang dibentuk oleh dua Shear Joint. Tegasan terkecil akan membagi dua sama besar sudut tumpul yang dibentuk oleh Shear Joint. Untuk mengoptimalkan hasil yang dicapai dalam analisa struktur-struktur geologi maka digunakan metode analisa yang dapat mendukung penafsiran tentang kinematika dan mekanisme pembetukannya yang dianalisa sehingga penafsirannya mendekati hal yang sebenarnya. Sampai saat ini metode yang dianggap telah dapat memenuhi maksud dan tujuan seperti yang telah disebut diatas adalah metode statistik, yaitu suatu metode yang diterapkan untuk mendapatkan kisaran harga-harga rata-rata atau harga maksimum dari sejumlah harga acak satu jenis struktur. Dari sini kemudian dapat diketahui kecenderungan- kecenderungan bentuk pola ataupun kedudukan umum dari jenis struktur yang dianalisa.

19

Metode statistik yang akan diuraikan disini adalah metode-metode yang umum dipakai dalam kegiatan analisa struktur, terdiri dari dua metode yang pengelompokannya didasarkan atas banyaknya parameter, yakni :

1) Pembuatan diagram yang didasarkan atas sejumlah data struktur hanya memiliki satu parameter saja.

Metode statistik dengan dua parameter, yakni pembuatan diagram-diagram berdasarkan jumlah data struktur yang memiliki dua parameter.

2)

VI.1. Langkah kerja Menentukan arah umum dengan menggunakan Diagram Kipas dan Histogram

Metode statistik yaitu : suatu metode yang diterapkan untuk mendapatkan harga-h.

1. Diagram Kipas Pembuatan diagram kipas adalah sebagai berikut :

Panjang jari-jari adalah jumlah prosentase tertinggi, dimana pada prosentase tertinggi tersebut merupakan titik terluar dari diagram kipas, selanjutnya setiap interval dibuat busur dengan 0 o sepanjang jari-jari sama dengan interval yang bersangkutan. Kemudian membagi sisi paling luar dari busur sesuai dengan pembagian arahnya. Melalui pembagian interval tersebut, tariklah garis kearah pusat busur tersebut dari setiap unsur struktur dari hasil pengukuran. Langkah ini termasuk pembuatan prosentase, sehingga dapat hasil analisanya. Harga rata-rata atau arah umum dari sejumlah data acak satu jenis struktur adalah interval data yang memiliki jumlah terbesar, kemudian diambil nilai tengah dari interval tersebut, kemudian dijumlahkan dengan batas bawah dari kelas interval, maka akan diperoleh arah umum shear joint tersebut.

20

Menentukan Diagram Kontur Dan Kedudukan Umum dari Shear Joint.

1. Meletakkan kalkir diatas Polar Equal Area Net, kemudian menentukan N, E, S dan W sesuai yang ada pada stereonet.

2. Setelah itu kedudukan titik-titik shear joint tersebut kedalam kertas kalkir tersebut. Untuk pembacaan 0 o mulai dari West (W)

3. Setelah seluruh data yang ditentukan kedudukannya, maka akan diperoleh titik-titik yang merupakan struktur bidang dari shear joint itu. Kemudian titik-titik ini diplotkan kekertas kalkir lain untuk dibuat diagram konturnya.

4. Setelah diplot, data tersebut dibawa ke “Kalssbeek Counting Net” untuk dibuat diagram konturnya.

5. Kemudian dihitung berapa jumlah titik yang masuk dalam tiap-tiap jaring segi enam yang terdapat dalam Kalsbeek Counting Net tersebut.

6. Setelah itu titik-titik tersebut dihubungkan satu dengan lainnya yang memilki jumlah ketinggian yang sama , maka akan terbentuklah kontur.

7. Kontur tersebut dibawa ke “Polar equal Area Net” untuk dibaca kedudukan umumya. Kedudukan umum ini merupakan puncak atau kontur tertinggi dalam diagram kontur tersebut.

8. Dari diagram kontur tersebut diperoleh dua arah umum dari shear joint.

VI.2. Lembar kerja ( Terlampir )

VI.3. Kesimpulan Dari hasil pengamatan data-data serta pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Kekar merupakan rekahan yang relatif tanpa mengalami pergeseran pada bidang rekahannya.

2. Dari data kelurusan umumnya, kita dapat mengetahui arah tegasan yang bekerja pada sebuah kekar.

21

4. Dari diagram kipas, kita dapat mengaetahui arah kelurusan umum dari data-data yang kita peroleh.

5. Perbedaan diagram roset dan diagram kipas adalah pada diagram kipas pengkuran dapat dilakukan dua arah, sedangkan pada diagram roset pengukuran dilakukan hanya pada satu arah.

6. Pada diagram roset dan diagram kipas mengenai pembagian intervalnya adalah sama, dimana semakin kecil intervalnya, maka akan memberikan ketelitian yang semakin baik.

22

BAB VII

SESAR

Sesar sudah dikenal sejak abad 18, di lingkungan tambang batubara di

Inggris. Fault = salah (karena offset lapisan). Sesar/Fault/ Patahan adalah rekahan/retakan/kekar yg kelihatan pergeseran lapisan (offset) disebabkan oleh perpindahan sejajar (parallel) pada permukaan rekahan (Davis & Reynolds, 1996) Sesar adalah suatu rekahan/kekar yang telah mengalami pergeseran (dari salah satu muka yg berhadapan) arahnya paralel dengan zona permukaan (Twiss & Moores, 1992). Sesar adalah rekahan yang telah mengalami pergeseran yang arahnya relatif sejajar dengan bidang rekahan (bergeser pada bidang sesar). Terbentuk struktur ini, karena tegasan yang bekerja pada batuan, sehingga membentuk kekar. Klasifikasi kekar berdasarkan ganesanya maupun secara deskriptif ada beberapa ahli yang telah mengelompokkannya, antara lain : Richard (1972), Anderson (1951) membagi sesar menjadi tiga, yaitu :

a. Sesar Normal Sesar dengan poros tegasan utama maksiumum 1 vertikal poros tegasan

utama intermediate ( 2 ) dan poros utama minimum ( 3 ) horizontal.

b. Sesar Naik. Sesar dengan poros tegasan utama minimum ( 3 ) vertikal, poros tegangan

utama maksimum ( 1 ) dan poros tegasan utama intermediate ( 2 ) horizontal.

c. Sesar geser mendatar. Sesar dengan poros tegangan utama intermediate ( 2 ) vertikal poros tegangan

utama maksimum ( 2 ) dan poros tegangan utama minimum ( 3 ). horizontal. Berkaitan dengan dinamika kerak bumi dan rentang waktu geologi yang panjang, kehadiran sesar dapat dibedakan menjadi sesar mati dan sesar aktif. Sesar mati adalah sesar yang sudah tidak (akan) bergerak lagi, sedangkan sesar aktif adalah sesar yang pernah bergeser selama 11.000 tahun terakhir dan berpotensi akan bergerak di waktu yang akan datang (Yeats, Sieh & Allen, 1997).

23

23 Gambar 7. Macam-macam sesar Sifat pergeseran sesa r a. Pergeseran semu ( separation ) Jarak

Gambar 7. Macam-macam sesar

Sifat pergeseran sesa r

a. Pergeseran semu (separation)

Jarak tegak l urus antara bidang yang terpisah oleh gejala sesar dan diukur pada bidang sesa r. Komponen dari separation diukur pada ar ah tertentu, yaitu

(dip separation).

sejajar jurus (str ike separation) dan arah kemiringan sesar Sedangkan total pergeseran semu ialah net separation.

b. Pergeseran relat if (slip)

ke lainnya pada

bidang sesar da n merupakan pergeseran titik yang sebelu mnya berhimpit. Total pergeseran disebut Net Slip.

Pergeseran

relatif pada sesar, diukur dari blok satu

Unsur-unsur dalam s esar

c. Bidang sesar (f ault plane) adalah suatu bidang sepanjang batuan yang terg eserkan.

rekahan dalam

d. Jurus sesar (stri ke) adalah arah dari suatu garis horizontal perpotongan anta ra bidang sesar dengan bidang horizontal.

yang merupakan

e. Kemiringan ses ar (dip) adalah sudut antara bidang sesar

dengan bidang

horizontal dan di ukur tegak lurus jurus sesar.

f. Atap sesar (han ging-wall) adalah blok yang terletak diat as bidang sesar apabila bidang s esarnya tidak vertikal.

g. Foot-wall adalah blok yang terletak dibawah bidang sesar.

24

h. Hade adalah sudut antara garis vertical dengan bidang sesar dan merupakan penyiku dari dip sesar.

i. Heave adalah komponen horizontal dari slip / separation, diukur pada bidang vertical yang tegak lurus jurus sesar.

j. Throw adalah kompenen vertical dari slip / separation, diukur pada bidang vertical yang tegak lurus jurus sesar.

k. Strike-slip fault yaitu sesar yang mempunyai pergerakan sejajar terhadap arah jurus bidang sesar kadang-kadang disebut wrench faults, tear faults / transcurrent faults.

l. Dip-slip fault yaitu sesar yang mempunyai pergerakan naik atau turun sejajar terhadap arah kemiringan sesar.

m. Oblique-slip fault yaitu pergerakan sesar kombinasi antara strike-slip dan dip- slip,.

n. Slickensides yaitu kenampakan pada permukaan sesar yang memperlihatkan pertumbuhan mineral-mineral fibrous yang sejajar terhadap arah pergerakan.

VII.1. Langkah kerja Menentukan arah umum masing-masing data.

Mengeplotkan semua data kelurusan fraksi breksi, shear fracture dan gash fracture pada kertas kalkir diatas “Polar Equal Area Net”. Kemudian dibaca arah umumnya pada Schmidt Net, untuk kelurusan frgamen breksi menggunakan diagram kipas, setelah dilakukannya tabulasi. analisa sesar untuk data diatas.

1. Plot kedudukan umum dari breksi, Shear Fracture N 360 o E/ 60 o dan Gash Fracture N 264 o E / 62 o

2. Perpotongan Shear farcture dan Gash fracture adalah 2

3. Plot breksiasi N 22,5 E bawa keutara. Kemudian tentukan dipnya 77 o

sesuai dengan titik garis bujur yang segaris dengan titik 2 ’ kearah utara selatan. Bidang yang terbentuk adalah bidang sesar.

25

5. Perpotongan bidang bantu dengan bidang sesar akan diperoleh Net Slip, Rake 15 o , Plunge 34 o dan Bearing N 196 o E.

6. Perpotongan bidang bantu dengan Gash Fracture adalah 1.

7. 3 = 1 + 90 o , kearah yang memungkinkan

8. 1 diperoleh dari perpotongan antarabidang bantu dengan bidang sesar, 30 o menuju sudut lancip yang dibentuk oleh bidang sesar dengan Gash Fracture.

9. 3 = 1 + 90 o

10. Arah pergerakan sesar selalu menuju kearah sudut lancip.

Menentukan Jenis Sesar Nama sesar adalah Normal Right Slip Fault

VII.2. Lembar kerja ( Terlampir )

VII.3. Kesimpulan Dari hasil percobaan, maka dapat disimpulkan adalah sebagai berikut :

1. Ciri-ciri suatu batuan jika dijumpai sesar adalah memberikan kenampakan adanya gores garis, adanya bidang sesar, adanya off set lithologi, adanya jalur breksiasi

2. Kita dapat mengetahui bagaimana sesar itu terjadi.

3. Kita dapat memberikan nama jenis sesar dari hasil analisa diatas.

4. Kita dapat mengetahui bahwa sesar itu mempunyai karakteristik tersendiri.

BAB VIII

LIPATAN

Lipatan adalah merupakan hasil perubahan bentuk dari suatu bahan yang

ditunjukan sebagai lengkungan atau kumpulan dari lengkungan atau kumpulan dari lengkungan yang ditunjukannya pada unsur garis atau bidang didalam bahan tersebut, pada umumnya unsur yang terlibat pada lipatan adalah bidang perlipatan, foliasi dan liniasi. Mekanisme gaya yang menyebabkan ada dua macam :

a. Buckling (melipat) disebabkan oleh gaya tekan yang arahnya sejajar dengan permukaan lempeng.

b. Bending (pelengkungan) disebabkan oleh gaya tekan yang arahnya tegak lurus permukaan lempeng. Berdasarkan proses lipatan dan jenis batuan yang terlipat dapat dibedakkan

menjadi 4 macam lipatan, yaitu :

1)

Flexure / competent folding.

2)

Flow / incompetent folding.

3)

Shear folding.

4)

Flexure and flow folding. Jenis-jenis lipatan :

a)

Antiklin, struktur lipatan dengan bentuk convek kanan yang tua dibagian bawah.

b)

Antiform, struktur lipatan seperti antiklin namun umurnya tidak diketahui.

c)

Sinklin, struktur lipatan dengan bentuk concav keatas yang tua dibagian bawah.

d)

Sinform, struktur lipatan sperti sinklin namun umur lapisan tidak diketahui.

e)

Dome, suatu jenis tertentu antiform dengan kemiringan batuan kesegala arah.

f)

Basin, jenis sinform dengan kemiringan ke satu titik.

26

27

g) Antiformal sinklin, struktur lipatan sperti antiklin dengan batuan tua yang diatas.

h) Sinformal antiklin, struktur lipatan seperti sinklin dengan lapisan batuan tua dibagian atas.

VIII.1. Langkah kerja Langkah pertama

1. Memasukkan semua data kedalam “Polar Equal Area Net” untuk

kemudian membuat diagram kontur.

2. Menentukan arah umum sayap lipatan dari diagram kontur.

3. Masukkan arah umum sayap lipatan, perpotongannya merupakan Q 2 .

4. Q 2 dibawa ke arah E-W, kemudian membuat bidang bantu, seperti pada analisa kekar.

5. Perpotongan antara dua sayap lipatan titik tengahnya merupakan Q 2 (baik lancip maupun tumpul), Q 1 dibuat 90 o dari Q 2.

6. membuat Hinge surface dengan menghubungkan Q 2 dan Q 3.

7. membaca kedudukan hinge surface dan Hinge linenya, serta menentukan jenisnya dengan menggunakan skala Richard atau Flewty.

Langkah kedua

1. Menarik garis tegak lurus dan sama panjang dari batas lithologi yang sama, yaitu dari A(A-OA) dan B(B-D), sehingga berpotongan dititik C.

2. Menghubungkan titik D dengan titik OA dan membuat bisektor D-OA, sehingga memotong garis BD di OB.

3. Menarik garis OA-OB sampai melewati garis bujur yang akan dibuat.

4. Membuat busur dari titik A dengan pusat OA sampai memotong garis OA- OB

5. Membuat busur dari titik B dengan pusat OB dan memotong garis OA- OB.

VIII.2. Lembar kerja ( Terlampir )

28

VIII.3. Kesimpulan

1. Lipatan

merupakan

hasilnya

dari

perubahan

bentuk

suatu

bahan

yang

ditunjukkan dengan lengkungan dalam bahasa tersebut.

2. Lipatan dapat dibedakan menjadi 4 macam :

a. Competent Folding

b. Incompetent Folding

c. Snear Folding

d. Flexure dan Flow Folding

e. Bending (perlengkungan)

3. Gaya yang bekerja ada dua :

a. Buckling (melipat)

b. Bending (perlengkungan)

29

BAB IX

PENUTUP

IX.1

Dari pelaksanaan praktikum geologi struktur dapat disimplkan bahwa :

Kesimpulan Umum

1. Geologi struktur adalah studi mengenai distribusi tiga dimensi tubuh batuan dan permukaannya yang datar ataupun terlipat, beserta susunan internalnya.

2. Struktur geologi perlu di pelajari karena pada daerah ini merupakan tempat terperangkapnya mineral-mieral berharga.

3. Besar dan bentuk dari pola singkapan tergantung dari beberapa hal, yakni:

a. Tebal lapisan.

b. Topografi/morfologi.

c. Besar kemiringan (Dip) lapisan.

d. Bentuk struktur lipatan.

4. Pola singkapan adalah suatu bentuk penyebaran batuan dan struktur yang tergambarkan dalam peta geologi.

5. Unsur-unsur struktur secara geometris pada dasarnya hanya terdiri dari dua unsur geometris yaitustruktur bidang dan struktur garis dimana struktur bidang terdiri dari Bidang perlapisan kekar, sesar, foliasi dan sumbu perlipatan sedangkan struktur garis terdiri dari gores-garis, perpotongan dua bidang, liniasi dan lain-lain. Banyak masalah-masalah yang tercangkup dalam bidang geologi struktur

yang memerlukan analisa-analisa geometri dalam tiga dimensi yang sangat teliti. Kita mengenal ada dua cara yang dapat diterapkan untuk mempelajari struktur geologi, yaitu :

1. Dengan cara mengenal jenis dari pada struktur dan kemudian

menginterprestaikan kedalam keadaan yang sebenarnya, (kekar, sesar, lipatan). Jadi terutama ditekankan cara mengenalnya, yaitu :

a. Mengukur kedudukan dan memetakannya.

b. Menggambar bentuk dan ukurannya.

c. Menganalisa cara pembentukannya.

30

Untuk mempelajari struktur tersebut , kemudian membuat peta penampang tegak, diagram blok dan keterangannya. 2. Dengan cara menggambarkan diametri dari struktur dan ditekankan sebagai kelompok statistik yang keseluruhannya akan memberikan suatu pola struktur dari batuan. Study pola struktur demikian didasarkan pada banyak pengamatan dan catatan yang kemudian diubah dalam diagram pola. Kedua cara diatas bila diterapkan dan dianalisa, maka akan saling mengisi dalam memepelajari struktur geologi suatu daerah, tetapi yang paling diutamakan adalah tempat dan kedudukan dari struktur yang sebenarnya.

IX.1 Keritik Dan Saran Semoga untuk praktikum selanjutnya dapat lebih baik lagi dan lebih bijaksana didalam mengambil kebijakan-kebijakan untuk praktikan. Sepertinya kalau kelapangan untuk struktur geologi hanya sekali masih kurang.

31

DAFTAR PUSTAKA

Danang Endarto. 2005. Pengantar Geologi Dasar. LPP dan UNS Press Iyan Hardiyanto. 2002. Modul Geologi Struktur. Bandung Petunjuk Praktikum geologi Struktur. UPN Veteran Ragan, M. Donal. 1984. Structural geology An introduction to geometrical techniques. John Wiley & Sons, Inc. New Yok Staff pengajar & staff asisten Lab. Geologi UPN. Buku pAnduan Praktikum Geologi Struktur. 2007. Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta.