Anda di halaman 1dari 150

Ayat Ayat Cinta Novel Pembangun Jiwa Karya Habiburrahman Saerozi Alumnus Universitas Al Azhar, Cairo 1.

Gadis Mesir Itu Bernama Maria Tengah hari ini, ota Cairo sea an membara. Matahari berpijar di tengah petala l angit. Seumpama lidah api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi. Tanah dan pasir menguap an bau nera a. Hembusan angin sahara disertai debu yang bergulung-gulun g menambah panas udara sema in tinggi dari deti e deti . Pendudu nya, banya y ang berlindung dalam flat yang ada dalam apartemen-apartemen berbentu ubus den gan pintu, jendela dan tirai tertutup rapat. Memang, istirahat di dalam flat sambil menghidup an pendingin ruangan jauh lebih nyaman daripada berjalan e luar rumah, mes i se adar untu shalat berjamaah di masjid. Panggilan azan zhuhur dari ribuan menara yang bertebaran di seantero o ta hanya mampu menggugah dan menggera an hati mere a yang benar-benar tebal ima nnya. Mere a yang memili i te ad beribadah sesempurna mung in dalam segala musim dan cuaca, seperti arang yang tega berdiri dalam deburan omba , terpaan badai , dan sengatan matahari. Ia tetap teguh berdiri seperti yang dititah an Tuhan s ambil bertasbih ta enal esah. Atau, seperti matahari yang telah jutaan tahun memba ar tubuhnya untu memberi an penerangan e bumi dan seantero mayapada. Ia tiada pernah mengeluh, tiada pernah mengerang sedeti pun menjalan an titah Tuha n. Awal-awal Agustus memang punca musim panas. Dalam ondisi sangat tida nyaman seperti ini, a u sendiri sebenarnya sangat mal as eluar. Ramalan cuaca mengumum an: empat puluh satu derajat celcius! Apa tida gila!? Mahasiswa Asia Tenggara yang tida tahan panas, biasanya sudah mimisan, hidungnya mengeluar an darah. Teman satu flat yang langganan mimisan di punca musim panas adalah Saiful. Tiga hari ini, memasu i pu ul sebelas siang sampai pu ul tujuh petang, darah selalu merembes dari hidungnya. Padahal ia tida eluar flat sama se ali. Ia hanya diam di dalam amarnya sambil terus menyala an ipas angin. Sese ali ia ung um, mendingin an badan di amar mandi. Dengan te ad bulat, setelah mengusir segala rasa aras-arasen1 a u bersiap untu eluar. Tepat pu ul dua siang a u harus sudah berada di Masjid Abu Ba ar Ash-Shi diq yang terleta di Shubra El-Khaima, ujung utara Cairo, untu talaqqi2 pada Sy ai h Utsman Abdul Fattah. Pada ulama besar ini a u belajar qiraah sab ah3 dan ushu l tafsir4. Beliau adalah murid Syai h Mahmoud Khushari, ulama legendaris yang me ndapat julu an Syai hul Maqari Wal Huffadh Fi Mashr atau Guru Besarnya Para Pemba ca dan Penghafal Al-Qur an di Mesir. 1 Rasa malas mela u an sesuatu. Jadwal u mengaji pada Syai h yang ter enal sangat disiplin itu seminggu dua ali . Setiap Ahad dan Rabu. Beliau selalu datang tepat wa tu. Ta enal ata absen. Ta enal cuaca dan musim. Selama tida sa it dan tida ada uzur yang teramat pe nting, beliau pasti datang. Sangat tida ena ji a a u absen hanya arena alasan panasnya suhu udara. Sebab beliau tida sembarang menerima murid untu talaqqi qiraah sab ah. Siapa saja yang ingin belajar qiraah sab ah terlebih dahulu a an beli au uji hafalan Al-Qur an tiga puluh juz dengan qiraah bebas. Boleh Imam Warasy. Bo leh Imam Hafsh. Atau lainnya. Tahun ini beliau hanya menerima sepuluh orang muri d. A u termasu sepuluh orang yang beruntung itu. Lebih beruntung lagi, beliau s angat mengenal u. Itu arena, di samping seja tahun pertama uliah a u sudah me nyetor an hafalan Al-Qur an pada beliau di serambi masjid Al Azhar, juga arena di antara sepuluh orang yang terpilih itu ternyata hanya diri u seorang yang bu an orang Mesir. A u satu-satunya orang asing, se aligus satu-satunya yang dari Ind

onesia. Ta heran ji a beliau meng-ana emas- an diri u. Dan teman-teman dari Mes ir tida ada yang merasa iri dalam masalah ini. Mere a semua simpati pada u. Itu lah sebabnya, ji a a u absen pasti a an langsung ditelpon oleh Syai h Utsman dan teman-teman. Mere a a an bertanya enapa tida datang? Apa sa it? Apa ada halan gan dan lain sebagainya. Ma a a u harus tetap berusaha datang selama masih mampu menempuh perjalanan sampai e Shubra, mes ipun panas membara dan badai debu ber gulung-gulung di luar sana. Mes ipun jara yang ditempuh se itar lima puluh ilo meter lebih jauhnya. Kuambil mushaf tercinta. Kucium penuh ta zim. Lalu umasu an e dalam sa u depan tas cang long hijau tua . Mes ipun butut, ini adalah tas bersejarah yang setia menemani diri u menuntut ilmu seja di Madrasah Aliyah sampai saat ini, saat menempuh S.2. di universitas tertua di dunia, di delta Nil ini. A u mengambil satu botol ecil berisi air pu tih di ul as. Kumasu an dalam plasti hitam lalu umasu an dalam tas. A u sel alu membiasa an diri membawa air putih ji a bepergian, selain sangat berguna jug a merupa an salah satu bentu penghematan yang sangat terasa. Apalagi selama men empuh perjalanan jauh dari Hadaye Helwan sampai Shubra El-Khaima dengan metro5, tida a an ada yang menjual minuman. 2 Belajar langsung face to face dengan seorang syai h atau ulama. 3 Membaca Al-Qur an dengan riwayat tujuh Imam. 4 Ilmu tafsir paling po o . A u sedi it ragu mau membu a pintu. Hati u etar- etir. Angin sahara terdengar m endesau-desau. Keras dan acau. Ta bisa dibayang an betapa acaunya di luar san a. Panas disertai gulungan debu yang berterbangan. Suasana yang jauh dari nyaman . Namun niat harus dibulat an. Bismillah tawa altu ala Allah6, pelan-pelan ubu a pintu apartemen. Dan... Wuss! Angin sahara menampar mu a u dengan asar. Debu bergumpal-gumpal bercampur pasir menari-nari di mana-mana. Kututup embali pintu apartemen. Rasanya a u melupa a n sesuatu. Mas Fahri, udaranya terlalu panas. Cuacanya buru . Apa tida sebai nya istirahat saja di rumah? saran Saiful yang baru eluar dari amar mandi. Darah yang merembe s dari hidungnya telah ia bersih an. Insya Allah tida a an terjadi apa-apa. A u sangat tida ena pada Syai h Utsman ji a tida datang. Beliau saja yang sudah berumur tujuh puluh lima tahun selalu datang. Tepat wa tu lagi. Ta enal cuaca panas atau dingin. Padahal rumah belia u dari masjid ta urang dari dua ilo, tu as u sambil bergegas masu amar emba li, mengambil topi dan aca mata hitam. Allah yubari fi 7, Mas, ujarnya sera . Tangan anannya mengusap an sapu tangan pa da hidungnya. Mung in darahnya merembes lagi. Wa iyya um!8 balas u sambil mema ai aca mata hitam dan mema ai topi menutupi opi ah putih yang telah menempel di epala u. 5 Kereta listri , disebut juga trem. 6 Dengan menyebut nama Allah, a u berserah diri epada Allah. 7 Semoga Allah melimpah an ber ah padamu. 8 Dan semoga melimpah an (ber ah-Nya) pada alian semua. Sudah bawa air putih, Mas? A u menganggu . Saif, Rudi minta dibangun an pu ul setengah dua. Tadi malam dia lembur bi in ma a lah. Kelihatannya dia baru tidur jam setengah sepuluh tadi. Terus tolong nanti b ilang sama dia untu beli gula, dan minya goreng. Hari ini dia yang pi et belan ja. Oh ya, hampir lupa, nanti sore yang pi et masa Hamdi. Dia paling su a masa oseng-oseng wortel campur ofta9. Kebetulan wortel dan oftanya habis. Bilang s ama Rudi se alian. Sebagai yang dipercaya untu jadi epala eluarga mes ipun tanpa seorang ibu rumah tangga a u harus jeli memperhati an ebutuhan dan esejahteraan anggota. Dalam fl at ini ami hidup berlima; a u, Saiful, Rudi, Hamdi dan Mishbah. Kebetulan a u y ang paling tua, dan paling lama di Mesir. Secara a ademis a u juga yang paling t inggi. A u tinggal menunggu pengumuman untu menulis tesis master di Al Azhar. Y ang lain masih program S.1. Saiful dan Rudi baru ting at tiga, mau masu ting at

empat. Sedang an Misbah dan Hamdi sedang menunggu pengumuman elulusan untu me mperoleh gelar Lc. atau Licence. Mere a semua telah menempuh ujian a hir tahun p ada a hir Mei sampai awal Juni yang lalu. Awal-awal Agustus biasanya pengumuman eluar. Namun sampai hari ini, pengumuman belum juga eluar. Dan hari ini, ebetulan yang ada di flat hanya tiga orang, yaitu a u, Saiful dan Rudi. Adapun Hamdi sudah dua hari ini punya egiatan di Do i, tepatnya di Masj id Indonesia Cairo. Ia diminta untu memberi an pelatihan epemimpinan pada rema ja masjid yang semuanya adalah putera-puteri para pejabat KBRI. Siang ini atany a selesai, dan nanti sore dia pulang. Sedang an Mishbah sedang berada di Rab ah El -Adawea, Nasr City. Katanya ia harus menginap di Wisma Nusantara, di tempatnya M as Khalid, untu merancang draft pelatihan e onomi Islam bersama Profesor Maulan a Husein Shahata, pertengahan September depan. Masing-masing penghuni flat ini p unya esibu an. A u sendiri yang sudah tida a tif di organisasi manapun, juga m empunyai jadwal dan esibu an. Membaca bahan untu tesis, talaqqi qiraah sab ah, m enerjemah, dan dis usi intern dengan teman-teman mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh S.2. dan S.3. di Cairo. Urusan-urusan ecil seperti belanja, memasa d an membuang sampah, ji a tida diatur dengan bija dan bai a an menjadi masalah . Dan a an mengganggu eharmonisan. Kami berlima sudah seperti saudara andung. Saling mencintai, mengasihi dan mengerti. Semua punya ha dan ewajiban yang sam a. Tida ada yang diistimewa an. Semboyan ami, baiti jannati. Rumah u adalah su rga u. Tempat yang ami tinggali ini harus benar-benar menjadi tempat yang menye nang an. Dan sebagai yang paling tua a u bertanggung jawab untu membawa mere a pada suasana yang mere a ingin an. 9 Daging yang telah dicincang halus dengan mesin. A u melang ah e pintu. Saif. Jangan lupa pesan u tadi! embali a u mengingat an sebelum membu a pintu. Insya Allah, Mas. Di luar sana angin terdengar mendesau-desau. Benar ata Saiful, cuaca sebetulnya urang bai . Ah, alau tida ingat bahwa ela a an ada hari yang lebih panas dari hari ini dan lebih gawat dari hari ini. Hari eti a manusia digiring di padang Mahsyar de ngan matahari hanya satu jeng al di atas ubun-ubun epala. Kalau tida ingat, ba hwa eberadaan u di ota seribu menara ini adalah amanat. Dan amanat a an dipert anggungjawab an dengan pasti. Kalau ta ingat, bahwa masa muda yang sedang a u j alani ini a an dipertanya an ela . Kalau ta ingat, bahwa tida semua orang dib eri ni mat belajar di bumi para nabi ini. Kalau tida ingat, bahwa a u belajar d i sini dengan menjual satu-satunya sawah warisan dari a e . Kalau tida ingat b ahwa a u dilepas dengan linangan air mata dan sela sa doa dari ibu, ayah dan san a saudara. Kalau ta ingat bahwa jadwal adalah janji yang harus ditepati. Kalau ta ingat itu semua, shalat zhuhur di amar saja lalu tidur nyantai menyala an ipas dan mendengar an lantunan lagu El-Himl El-Arabi atau El-Hubb El-Haqiqi, at au untaian shalawatnya Emad Rami dari Syiria itu, tentu rasanya nyaman se ali. A palagi ji a diselingi minum ashir10 mangga yang sudah didingin an satu minggu di dalam ul as atau ma an buah semang a yang sudah dua hari didingin an. Masya Al lah, alang ah segarnya. Kubu a pintu apartemen perlahan. 10 Juice Wuss! Angin sahara embali menerpa wajah u. A u melang ah eluar lalu menuruni tangga satu per satu. Flat ami ada di ting at tiga. Gedung apartemen ini hanya enam ti ng at dan tida punya lift. Sampai di halaman apartemen, jilatan panas matahari sea an menembus topi hitam dan opiah putih yang menempel di epala u. Seandainy a tida mema ai aca mata hitam, sinarnya yang benderang a an terasa perih meny ilau an mata. Kulang ah an a i e jalan. Psst..psst...Fahri! Fahri! Kuhenti an lang ah. Telinga u menang ap ada suara memanggil-manggil nama u dari atas. Suara yang sudah u enal. Kupicing an mata u mencari asal suara. Di ting a t empat. Tepat di atas amar u. Seorang gadis Mesir berwajah bersih membu a jend ela amarnya sambil tersenyum. Matanya yang bening menatap u penuh binar.

Hei Fahri, panas-panas begini eluar, mau e mana? Shubra. Talaqqi Al-Qur an ya? A u menganggu . Pulangnya apan? Jam lima, insya Allah. Bisa nitip? Nitip apa? Beli an dis et. Dua. A u malas se ali eluar. Bai , insya Allah. A u membali an badan dan melang ah. Fahri, istanna suwayya!11 Fi eh aman?12 A u urung melang ah. Uangnya. Sudah, nanti saja, gampang. Syu ran Fahri. 13 11 Tunggu sebentar. 12 Ada apa lagi? Afwan. A u cepat-cepat melang ah e jalan menuju masjid untu shalat zhuhur. Panasnya b u an main. Gadis Mesir itu, namanya Maria. Ia juga senang dipanggil Maryam. Dua nama yang m enurutnya sama saja. Dia puteri sulung Tuan Boutros Rafael Girgis. Berasal dari eluarga besar Girgis. Sebuah eluarga Kristen Kopti yang sangat taat. Bisa di ata an, eluarga Maria adalah tetangga ami paling a rab. Ya, paling a rab. Flat atau rumah mere a berada tepat di atas flat ami. Indahnya, mere a sangat sopan dan menghormati ami mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Al Azhar. Maria gadis yang uni . Ia seorang Kristen Kopti atau dalam bahasa asli Mesirnya qibthi, namun ia su a pada Al-Qur an. Ia bah an hafal beberapa surat Al-Qur an. Di antaranya surat Maryam. Sebuah surat yang membuat dirinya merasa bangga. A u mengetahui hal itu pada su atu esempatan berbincang dengannya di dalam metro. Kami ta sengaja berjumpa. I a pulang uliah dari Cairo University, sedang an a u juga pulang uliah dari Al Azhar University. Kami dudu satu bang u. Suatu ebetulan. Hei namamu Fahri, iya an? Benar. Kau pasti tahu nama u, iya an? Iya. A u tahu. Namamu Maria. Puteri Tuan Boutros Girgis. Kau benar. Apa bedanya Maria dengan Maryam? Maria atau Maryam sama saja. Seperti David dengan Daud. Yang jelas nama u tertuli s dalam itab sucimu. Kitab yang paling banya dibaca umat manusia di dunia sepa njang sejarah. Bah an jadi nama sebuah surat. Surat esembilan belas, yaitu sura t Maryam. Hebat bu an? Hei, bagaimana au mengata an Al-Qur an adalah itab suci paling banya dibaca umat manusia sepanjang sejarah? Dari mana amu tahu itu? selidi u penuh rasa aget d an penasaran. 13 Terima asih. Jangan aget alau a u ber ata begitu. Ini namanya obje tif. Memang enyataannya demi ian. Charles Francis Potter mengata an seperti itu. Bah an jujur u ata an, Al-Qur an jauh lebih dimulia an dan dihargai daripada itab suci lainnya. Ia lebih dihargai daripada Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. Pendeta J. Shillidy dala m bu unya The Lord Jesus in The Koran memberi an esa sian seperti itu. Dan pada enyataannya ta ada bu u atau itab di dunia ini yang dibaca dan dihafal oleh jutaan manusia setiap deti melebihi Al-Qur an. Di Mesir saja ada se itar sepuluh ribu Ma had Al Azhar. Siswanya ratusan ribu bah an jutaan ana . Mere a semua sedan g menghafal an Al-Qur an. Karena mere a ta a an lulus dari Ma had Al Azhar ecuali harus hafal Al-Qur an. A u saja, yang seorang Kopti su a o menghafal Al-Qur an. B ahasanya indah dan ena dilantun an, cerocosnya santai tanpa ada eraguan.

Kau juga su a menghafal Al-Qur an? Apa a u tida salah dengar? heran u. Ada yang aneh? A u diam tida menjawab. A u hafal surat Maryam dan surat Al-Maidah di luar epala. Benar ah? Kau tida percaya? Coba au sima bai -bai ! Maria lalu melantun an surat Maryam yang ia hafal. Anehnya ia terlebih dahulu me mbaca ta awudz14 dan basmalah. Ia tahu adab dan tata cara membaca Al-Qur an. Jadilah perjalanan dari Mahattah15 Anwar Sadat Tahrir sampai Tura El-Esmen uhabis an u ntu menyima seorang Maria membaca surat Maryam dari awal sampai a hir. Nyaris ta ada satu huruf pun yang ia lupa. Bacaannya cu up bai mes ipun tida sebai mahasiswi Al Azhar. Dari Tura El-Esmen hingga Hadaye Helwan Maria mengaja berb incang e mana-mana. A u ta menghirau an tatapan orang-orang Mesir yang heran a u a rab dengan Maria. Itulah Maria, gadis paling aneh yang pernah u enal. Mes ipun a u sudah cu up ba nya tahu tentang dirinya, bai melalui ceritanya sendiri saat ta sengaja berte mu di metro, atau melalui cerita ayahnya yang ramah. Tapi a u masih menganggapny a aneh. Bah an misterius. Ia gadis yang sangat cerdas. Nilai ujian a hir Se olah Lanjutan Atasnya adalah terbai edua ting at nasional Mesir. Ia masu Fa ultas Komuni asi, Universitas Cairo. Dan tiap ting at selalu meraih predi at mumtaz a tau cumlaude. Ia selalu terbai di fa ultasnya. Ia pernah ditawari jadi reporter Ahram, oran ter emu a di Mesir. Tapi ia tola . Ia lebih memilih jadi penulis b ebas. Ia memang gadis Kopti yang aneh. Menurut penga uannya sendiri, ia paling su a dengar suara azan, tapi pergi e gereja tida pernah ia tinggal an. Se ali lagi, ia memang gadis Kopti yang aneh. A u tida tahu jalan pi irannya. 14 Yaitu membaca A udzubillahi minasy syaithaanir rajiim. 15 Stasiun, terminal. Selama ini, a u hanya mendengar dari bibirnya yang tipis itu hal-hal yang positi f tentang Islam. Dalam hal eti a berbicara dan bergaul ia ter adang lebih Islami daripada gadis-gadis Mesir yang menga u muslimah. Jarang se ali udengar ia ter tawa ce i i an. Ia lebih su a tersenyum saja. Pa aiannya longgar, sopan dan rapa t. Selalu berlengan panjang dengan bawahan panjang sampai tumit. Hanya saja, ia tida mema ai jilbab. Tapi itu jauh lebih sopan etimbang gadis-gadis Mesir seus ianya yang berpa aian etat dan bercelana etat, dan tida jarang bagian perutny a sedi it terbu a. Padahal mere a banya yang menga u muslimah. Maria su a pada Al-Qur an. Ia sangat mengaguminya, mes ipun ia tida pernah menga u muslimah. Peng hormatannya pada Al-Qur an bah an melebihi beberapa intele tual muslim. Ia pernah cerita, suatu ali ia i ut dis usi tentang aspe ebahasaan Al-Qur an di Fa ultas Sastra Universitas Cairo. Pema alahnya adalah seorang do tor filsafat jebolan Sorbonne Perancis. Maria merasa risih se ali dengan epongahan do tor it u yang mengata an Al-Qur an tida sa ral arena dilihat dari aspe ebahasaan ada etida beresan. Do tor itu mencontoh an dalam Al-Qur an ada rang aian huruf yang t ida di etahui ma nanya. Yaitu, alif laam miim, alif laam ra, haa miim, yaa siin , thaaha nuun, af ha ya ain shaad, dan sejenisnya. Maria ber ata pada u, Fahri, a u geli se ali mendengar per ataan do tor dari Sorbonne itu. Dia itu oran g Arab, juga muslim, tapi bagaimana bisa mengata an hal yang stupid begitu. A u saja yang Kopti bisa merasa an betapa indahnya Al-Qur an dengan alif laam miim-ny a. Kurasa rang aian huruf-huruf seperti alif laam miim, alif laam ra, haa miim, yaa siin, nuun, af ha ya ain shaad adalah rumus-rumus Tuhan yang dahsyat ma nan ya. Susah diung ap an ma nanya, tapi eagungannya bisa ditang ap oleh mere a yan g memili i cita rasa bahasa Arab yang tinggi. Ji a susunan itu dianggap sebagai suatu etida beresan, orang-orang afir Quraisy yang sangat tida su a pada Al-Q ur an dan memusuhinya seja dahulu tentu a an mengambil esempatan adanya etida b eresan itu untu menghancur an Al-Qur an. Dan tentu mere a sudah mencela bahasa Al -Qur an habis-habisan sepanjang sejarah. Namun enyataannya, justru sebali nya. Me re a menga ui eindahan bahasanya yang luar biasa. Mere a menganggap bahasa Al-Q ur an bu an bahasa manusia biasa tapi bahasa yang datang dari langit. Jadi u ira do tor itu benar-benar stupid. Tida semestinya seorang do tor se elas dia menga ta an hal seperti itu.

A u lalu menjelas an epada Maria segala hal ber aitan dengan alim laam miim dal am Al-Qur an. Leng ap dengan segala rahasia yang digali oleh para ulama dan ahli t afsir. Ma nanya, hi mahnya, dan pengaruhnya dalam jiwa. Juga uterang an bahwa p endapat Maria yang mengata an huruf-huruf itu ta lain adalah rumus-rumus Tuhan yang maha dahsyat ma nanya, dan hanya Tuhan yang tahu persis ma nanya, ternyata merupa an pendapat yang dicenderungi mayoritas ulama tafsir. Maria girang se ali mendengarnya. Wah pendapat yang terlintas begitu saja dalam bena o bisa sama dengan pendapat mayoritas ulama tafsir ya? omentarnya sambil tersenyum bangga. A u i ut tersenyum. Di dunia ini memang banya se ali rahasia Tuhan yang tida bisa dimengerti oleh manusia lemah seperti diri u. Termasu enapa ada gadis seperti Maria. Dan a u pun tida merasa perlu untu bertanya padanya enapa tida mengi uti ajaran Al-Q ur an. Pertanyaan itu urasa sangat tida tepat dituju an pada gadis cerdas sepert i Maria. Dia pasti punya alasan atas pilihannya. Inilah yang membuat u mengangga p Maria adalah gadis aneh dan misterius. Di dunia ini banya se ali hal-hal mist erius. Masalah hidayah dan iman adalah masalah misterius. Sebab hanya Allah saja yang berha menentu an siapa-siapa yang patut diberi hidayah. Abu Thalib adalah paman nabi yang mati-matian membela da wah nabi. Cinta nabi pada beliau sama de ngan cinta nabi pada ayah andungnya sendiri. Tapi masalah hidayah hanya Allah y ang berha menentu an. Nabi tida bisa berbuat apa-apa atas nasib sang paman yan g amat dicintainya itu. Juga hidayah untu Maria. Hanya Allah yang berha member i annya. Mung in, seja azan ber umandang Maria telah membu a daun jendela ayunya. Dari bali aca ia melihat e bawah, menunggu a u eluar. Begitu a u tampa eluar me nuju halaman apartemen, ia membu a jendela acanya, dan memanggil dengan suara s etengah berbisi . Ia tahu persis bahwa a u dua ali tiap dalam satu minggu elua r untu talaqqi Al-Qur an. Tiap hari Ahad dan Rabu. Berang at setelah azan zhuhur ber umandang dan pulang habis Ashar. Dan ini hari Rabu. Sering ali ia titip sesu atu pada u. Biasanya tida terlalu merepot an. Seperti titip membeli an dis et, memfotocopy an sesuatu, membeli an tinta print, dan sejenisnya yang mudah utuna i an. Banya to o alat tulis, tempat foto copy dan to o perleng apan omputer di Hadaye Helwan. Ji a tida ada di sana, biasanya di Shubra El-Khaima ada. Suhu udara benar-benar panas. Wajar saja Maria malas eluar. To o alat tulis yan g juga menjual dis et hanya berjara lima puluh meter dari apartemen. Namun ia l ebih memilih titip dan menunggu sampai a u pulang nanti. Ini memang punca musim panas. Laporan cuaca meramal an a an berlangsung sampai minggu depan, rata-rata 39 sampai 41 derajat celcius. Ini baru di Cairo. Di Mesir bagian selatan dan Su dan entah berapa suhunya. Tentu lebih menggila. Ubun-ubun u terasa mendidih. Panggilan iqamat16 terdengar bersahut-sahutan. Panggilan mulia itu sangat menent ram an hati. Pintu-pintu meraih ebahagiaan dan esejahteraan masih terbu a leba r-lebar. Kupercepat lang ah. Tiga puluh meter di depan adalah Masjid Al-Fath AlIslami. Masjid esayangan. Masjid penuh enangan ta terlupa an. Masjid tempat a u mencurah an su a dan derita u selama belajar di sini. Tempat a u menitip an r ahasia erinduan u yang memunca , tujuh tahun sudah a u berpisah dengan ayah ibu . Tempat a u mengadu pada Yang Maha Pemberi riz i saat berada dalam eadaan rit is ehabisan uang. Saat hutang pada teman-teman menumpu dan belum terbayar an. Saat uang honor terjemahan terlambat datang. Tempat a u menata hati, merancang s trategi, mempertebal azam dan eteguhan jiwa dalam perjuangan panjang. 16 Tanda bahwa shalat berjamaah segera didiri an. Begitu masu masjid... Wusss! Hembusan udara seju yang dipancar an lima AC dalam masjid menyambut ramah. Alha mdulillah. Ni mat rasanya ji a sudah berada di dalam masjid. Puluhan orang sudah berjajar rapi dalam shaf shalat jamaah. Kuleta an topi dan tas cang long u di bawah tiang de at a u berdiri di barisan shaf edua. Kedamaian menjalari seluruh syaraf dan gelega jiwa begitu uang at ta bir. Udara seju yang berhembus tera sa mengelus-elus leher dan mu a u. Juga mengusap eringat yang tadi mengalir der as. A u merasa tenteram dalam elusan asih sayang Tuhan Yang Mahapenyayang. Dia terasa begitu de at, lebih de at dari urat leher, lebih de at dari jantung yang

berdeta . 2. Peristiwa di dalam Metro Usai shalat, a u menyalami Syai h Ahmad. Nama leng apnya Syai h Ahmad Taqiyyuddi n Abdul Majid. Imam muda yang selama ini sangat de at dengan u. Beliau tida per nah menyembunyi an senyumnya setiap ali berjumpa dengan u. Beliau masih muda, u murnya baru tiga puluh satu, dan baru setengah tahun yang lalu ia meraih Magiste r Sejarah Islam dari Universitas Al Azhar. Ana nya baru satu, berumur dua tahun. Kini beliau be erja di Kementerian Urusan Wa af sambil menempuh program do tora lnya. Beliau juga menjadi dosen Sejarah Islam di Ma had I dadud Du at17 yang di elola oleh Jam iyyah Syar iyyah be erjasama dengan Fa ultas Da wah, Universitas Al Azhar. Di seluruh Mesir sampai se arang ma had ini baru ada dua: di Ramsis dan di Hadaye Helwan. Mes ipun masih muda, namun edalaman ilmu agama dan efashihannya membaca serta mentafsir an Al-Qur an membuat masyara at memanggilnya Syai h . Kerendahan hati, dan omitmennya yang tinggi membela ebenaran membuat soso nya dicintai dan dihormat i semua lapisan masyara at Hadaye Helwan dan se itarnya. Yang menari , dia de a t dengan awula muda. Panggilan Syai h tida membuatnya lantas merasa canggung unt u i ut sepa bola setiap Jum at pagi bersama ana -ana muda. Ji a Maria adalah ga dis Kopti yang aneh. A u merasa Syai h Ahmad adalah ulama muda yang uni . A h18 Fahri, mau e mana? tanya Syai h ramah dengan senyum menghiasi wajahnya yang bersih. Jenggotnya tertata rapi. Kutatap wajah beliau sesaat. Sejatinya Syai h Ahmad memang tampan. Ta alah dengan Kazem Saheer, penyanyi tenar asal Ira yan g digandrungi gadis-gadis remaja seantero Timur Tengah. Nada suaranya juga indah berwibawa. Ta heran ji a beliau disayangi semua orang. Seandainya suara indah Kazem Saheer diguna an untu membaca Al-Qur an seperti Syai h Ahmad mung in a an l ain cerita belanti a selebritis Mesir. Seperti biasa Syai h, e Shubra, jawab u datar. 17 Se olah Tinggi Juru Da wah. 18 Saudara. Beliau langsung paham a u mau e mana dan mau apa. Sebab Syai h Ahmad dulu juga belajar qiraah sab ah pada Syai h Utsman di Shubra. Sese ali bah an masih datang e sana. Cuacanya buru . Sangat panas. Apa tida sebai nya istrirahat saja? Jara yang a an au tempuh itu tida de at. Pi ir an juga esehatanmu, A h, lanjut beliau samb il meleta an tangan anannya dipunda iri u. Semestinya memang begitu Syai h. Tapi saya harus omitmen dengan jadwal. Jadwal adalah janji. Janji pada diri sendiri dan janji pada Syai h Utsman untu datang. Masya Allah, semoga Allah menyertai lang ahmu. Amin, sahut u pelan sambil meliri jam dinding di atas mihrab. Wa tunya sudah mepet. Syai h, saya pamit dulu, ata u sambil bang it berdiri. Syai h Ahmad i ut berdiri. Kucang long tas, upa ai topi dan aca mata. Syai h Ahmad tersenyum melihat penampilan u. Dengan topi dan aca mata hitammu itu au seperti bintang film Hong Kong saja. Ta tampa sedi it pun au seorang mahasiswa pascasarjana Al Azhar yang hafal Al-Q ur an. Syai h ini bisa saja, sahut u sambil tersenyum, mohon doanya. Assalamu alai um. Wa alai umussalam warahmatullah wa bara atuh. Di luar masjid, teri matahari dan gelombang angin panas langsung menyerang. Cep at-cepat uayun an a i, berlari-lari ecil menuju mahathah metro yang berada ti ga puluh lima meter di hadapan u. Ups, sampai juga a hirnya. A u langsung menuju lo et penjualan ti et. Ya Kapten, wahid Shubra! 19 seru u pada penjaga lo et ber epala bota dan gemu . Wa jahnya penuh eringat, mes ipun tepat di bela angnya ada ipas angin ecil berpu tar-putar. Ia tampa ber enan usapa dengan apten. Memang untu menyapa lela i yang tida di enal cu up mema ai ya apten bisa juga ya basya atau alau aga tua ya ammu . Ji a ira- ira sudah haji mema ai ya haj . 19 Kapten, Shubra satu!

Masyi ya Andonesy, 20 jawab penjaga lo et sambil mengulur an arcis ecil warna un ing epada u. Ia mengambil uang satu pound yang uberi an dan memberi embalian 20 piesters. Di pintu masu arcis a u masu an untu membu a pintu penghalang. Setelah melewati pintu penghalang arcis itu uambil lagi. Sebab tanpa arcis it u saya tida a an bisa eluar di Shubra nanti. Dan ji a ada pemeri saan di dalam metro arcis itu harus a u tunju an. Ji a tida bisa menunju an, a an ena de nda. Biasanya sepuluh pound. Itu pun setelah dima i-ma i oleh petugas pemeri sa. Bagi pendudu Mesir, hususnya Cairo, metro bisa di ata an transportasi ebangga an. Lumayan canggih. Mahattah bawah tanah yang ada di Attaba, Tahrir dan Ramsis elihatan modern dan canggih. Itu wajar. Sebab arsite nya, semuanya orang Peranc is. Orang-orang Mesir sering menyombong an diri begini, Kalau Anda berada di mahattah metro Tahrir atau Ramsis itu sama saja Anda berada di salah satu mahattah metro ota Paris. Benar ah? A u tida tahu, sebab a u tida pernah pergi e Paris. Tapi a u pernah membaca s ebuah majalah, memang ada stasiun bawah tanah di ota Paris yang dibuat bernuans a Mesir uno. Dinding-dindingnya diu ir dengan Hieroglyph, huruf-huruf Mesir un o. Beberapa sisinya dihiasi dengan patung-patung dan simbol-simbol Mesir uno, s eperti tugu Alexandria, unci pyramid yang se ilas tampa seperti salib, patung Tutan hmoun, Tutmosis, Ramses III, Amenophis III, Cleopatra dan lain sebagainya. Nuansa seperti itu sangat ental di mahattah metro Anwar Sadat-Tahrir, yang ber ada tepat di jantung ota Cairo. Sebuah metro biru usam datang. Pintu-pintunya terbu a perlahan. Beberapa orang turun. Setelah itu, barulah para penumpang yang menunggu nai . A u masu gerbong nomor lima. A u ya in se ali a an dapat tempat dudu . Dalam cuaca panas seperti ini pasti penumpang sepi. Begitu sampai di dalam, a u langsung mengedar an pand angan mencari tempat dudu . Sayang, semua tempat dudu telah terisi. Bah an ada lima penumpang yang berdiri. Sungguh mengheran an, bagaimana mung in ini terjadi ? Di hari-hari biasa yang tida panas saja sering ali ada tempat dudu osong. 20 Bai , Orang Indonesia. A u mengerut an ening. Dapat tempat dudu adalah juga riz i. Ji a tida dapat tempat dudu berarti belu m riz inya. A u menggeser diri e de at pintu di mana ada ipas angin berputar-p utar di atasnya. Namun ipas itu nyaris ta berguna. Udara panas yang diputar te tap saja panas. Metro melaju encang. Udara yang masu dari jendela juga panas. Padang pasir seperti mendidih. Semua penumpang basah oleh air peluh. Seorang pemuda berjenggot tipis yang berdiri ta jauh dari tempat a u berdiri me mandangi diri u dengan tersenyum. A u membalas senyumnya. Ia mende at dan mengul ur an tangannya. Ana a hu um, 21 Ashraf, ia memper enal an diri dengan sangat sopan. Ia mengguna an alimat a hu um berarti ia sangat ya in a u seorang muslim seperti dirinya. Ana a hu um, Fahri, jawab u. Min Shin? 22 Orang Mesir terlalu susah membeda an orang Asia Tenggara dengan orang China. La. Ana Andonesy. 23 Kami pun lantas berbincang-bincang. Mula-mula a u memancingnya dengan masalah bo la. Orang Mesir paling su a berbicara masalah bola. Terutama membicara an persai ngan tiga lub besar Mesir yaitu Ahli, Zamale dan Ismaili. Ia ternyata pendu un g Zamale . Dengan bangga ia ber ata, Syai h Muhammad Jibril juga pendu ung setia Zamale . A u hanya tersenyum. A u tida perlu mempertanya an lebih lanjut ebenar an ata- atanya. Tida penting. Pendu ung fanati sebuah lub a an mencari banya data untu mendu ung lub esayangannya. Ma a a u langsung menyambungnya denga n memuji ehebatan beberapa pemain andalan Zamale . Terutama Hosam Hasan. Ia tam pa senang. Tujuan u memang membuat dia merasa senang. Ta lebih. A u merasa ta rugi membaca bu u-bu u Syai h Abbas As-Sisi tentang bagaimana caranya mengambil hati orang lain. Pembicaraan terus melebar e mana-mana. Ia sangat senang eti a tahu bahwa a u mahasiswa pascasarjana Al Azhar. Lebih aget eti a ia tahu a u henda e Shubra untu talaqqi pada Syai h Utsman. 21 A u saudaramu.

22 Dari China? 23 Tida . A u orang Indonesia. Ia ber ata, Di Helwan saya belajar qiraah riwayat Imam Hafsh pada Syai h Hasan yang ta lain adalah murid Syai h Utsman. Ber ali- ali Syai h Hasan meminta u untu i ut belaj ar qiraah sab ah langsung pada Syai h Utsman, tapi a u ta ada wa tu. A u sudah te rlalu sibu dengan pe erjaan dan eluarga. Jadi, au termasu orang yang beruntu ng, orang Indonesia. Metro terus berjalan. Ta terasa sudah sampai daerah Tha anat Maadi. A h Ashraf, amu mau turun di mana? tanya u eti a metro perlahan berhenti dan beb erapa orang bersiap turun. Sayyeda Zaenab. Insya Allah. Pintu metro terbu a. Beberapa orang turun. Dua ursi osong. Kalau mau, a u bisa mengaja Ashraf mendudu inya. Namun ada seorang bapa setengah baya masih berdi ri. Dia memandang e luar jendela, tida melihat ada dua bang u osong. Kupersil a an dia dudu . Dia mengucap an terima asih. Kursi masih osong satu. Sangat de at dengan u. Kupersila an Ashraf dudu . Dia tida mau, malah mema sa u dudu . T iba-tiba mata u menang ap seorang perempuan berabaya biru tua, dengan jilbab dan cadar biru muda nai dari pintu yang satu, bu an dari pintu de at yang ada di d e at u. Kuurung an niat untu dudu . Masih ada yang lebih berha . Perempuan berc adar itu upanggil dengan lambaian tangan. Ia paham ma sud u. Ia mende at dan du du dengan mengucap an, Syu ran! Metro atau ereta listri terus melaju. Ashraf embali mengaja u berbincang. Kali ini tentang Ameri a. Ia geram se ali pada Ameri a. Seribu alasan ia beber an. Kata- atanya menggebu seperti Presiden Gamal Abdul Naser berorasi memberi semangat dunia Arab dalam perang 1967. Ayatollah Khomeini benar, Ameri a itu setan! Setan harus dienyah an! atanya berap i-api. Orang Mesir memang su a bicara. Kalau sudah bicara ia merasa paling benar sendiri. A u diam saja. Kubiar an Ashraf berbicara sepuas-puasnya. Hanya sese a li, pada saat yang tepat a u menyela. Sese ali a u menyapu an pandangan melihat eadaan se eliling. Juga e luar jendela agar tahu metro sudah melaju sampai di mana. Se ilas ujung mata u menang ap perempuan bercadar biru mengeluar an mushaf dari tasnya, dan membacanya dengan tanpa suara. Atau mung in dengan suara tapi sangat lirih sehingga a u tida mendengarnya. Orang-orang membaca Al-Qur an di met ro, di bis, di stasiun dan di terminal adalah pemandangan yang tida aneh di Cai ro. Apalagi ji a bulan puasa tiba. Metro sampai di Maadi, awasan elite di Cairo setelah Heliopolis, Do i, El-Zama le dan Mohandesen. Sebagian orang malah mengata an Maadi adalah awasan paling elite. Lebih elite dari Heliopolis. Tida terlalu penting membanding an satu sam a lain. Nama-nama itu semuanya nama awasan elite. Masing-masing punya elebihan . Do i ter enal sebagai tempatnya para diplomat tinggal. Mohandesen tempatnya p ara pengusaha dan selebritis. Sedang an Maadi mung in adalah awasan yang paling teratur tata otanya. Dirancang oleh olonial Inggris. Jalan-jalannya lebar. Se tiap rumah ada tamannya. Dan de at sungai Nil. Tinggal di Maadi memili i prestis e sangat tinggi. Prestise-nya seumpama tinggal di Paris dibanding an dengan ting gal di ota- ota besar lainnya di Eropa. Itu eterangan yang a u dapat dari Tuan Boutros, ayahnya Maria yang be erja di sebuah ban swasta di Maadi. Masalah pre stise memang sangat subje tif. Orang yang tinggal di awasan aga umuh Sayyeda Zaenab merasa lebih prestise dibanding an dengan tinggal di awasan lain di Cair o. Alasan mere a arena de at dengan ma am Sayyeda Zaenab, cucu Baginda Nabi Saw . Demi ian juga yang tinggal di de at masjid Amru bin Ash. Mere a merasa lebih b eruntung dan selalu bangga bisa tinggal di de at masjid pertama yang didiri an d i benua Afri a itu. Begitu pintu metro terbu a, beberapa penumpang turun. Lalu beberapa orang nai -m asu . Mata u menang ap ada tiga orang bule masu . Yang seorang nene -nene . Ia m ema ai aos dan celana pende sampai lutut. Wajahnya tampa pucat. Mung in aren a epanasan. Ia diiringi seorang pemuda dan seorang perempuan muda. Mung in ana nya atau cucunya. Keduanya mema ai ransel. Pemuda bule itu mema ai topi berbende ra Ameri a dan ber aca mata hitam. Ia juga hanya ber aos sport putih dan celana pende sampai lutut. Yang perempuan mema ai aos etat tanpa lengan, you can see

. Dan bercelana pende etat. Semua bagian tubuhnya menonjol. Le a -le u nya jel as. Bagian pusarnya elihatan. Ia seperti tida berpa aian. Mere a berdua mengit ar an pandangan. Mencari tempat dudu . Sayang, ta ada yang osong. Beberapa ora ng justru berdiri termasu diri u. A u tersenyum pada Ashraf sambil ber ata, Ashraf au mau titip pesan pada Presiden Ameri a ngga ? Apa ma sudmu? Itu, mumpung ada orang Ameri a. Minggu depan mere a mung in sudah embali e Amer i a. Kau bisa titip pesan pada mere a agar presiden mere a tida bertinda bodoh seperti yang au ata an tadi. Ashraf menoleh e anan dan memandang tiga bule itu dengan raut tida senang. Ti ba-tiba ia berteria , Ya Amri aniyyun, la natullah alai um! 24 Kontan para penumpang yang mendengar per ataan Ashraf itu melongo e arah tiga bule yang baru masu itu. Gera an persis ana -ana ayam yang aget atas edatang an musang di andangnya. Kusisir wajah orang-orang Mesir. Raut-raut urang simpa ti dan tida senang. Apalagi pa aian perempuan muda Ameri a itu bisa di ata an t ida sopan. Orang-orang Mesir memang menganggap Ameri a sebagai biang erusa an di Timur Tengah. Orang-orang Mesir sangat marah pada Ameri a yang mencoba mengad u domba umat Islam dengan umat Kristen Kopti . Ameri a pernah menuduh pemerintah Mesir dan aum muslimin berla u semena-mena pada umat Kopti . Tentu saja tuduha n itu membuat gerah seluruh pendudu Mesir. Bapa Shnouda, pemimpin tertinggi dan harismati umat Kristen Kopti serta merta memberi an eterangan pers bahwa tu duhan Ameri a dusta bela a. Sebuah tuduhan yang bertujuan henda menghancur an s endi-sendi persaudaraan umat Islam dan umat Kopti yang telah uat menga ar bera bad-abad lamanya di bumi Kinanah.25 Untung etiga orang Ameri a itu tida bisa bahasa Arab. Mere a elihatannya tida terpengaruh sama se ali dengan ata- ata yang diucap an Ashraf. Memang, alau sedang jeng el orang Mesir bisa mengata an apa saja. Di pasar Sayyeda Zainab a u pernah melihat seorang penjual i an marah-marah pada isterinya. Entah arena ap a. Ia menghujani isterinya dengan sumpah serapah yang sangat asar dan tida nya man di dengar telinga. Di antara ata- ata asar yang udengar adalah: Ya bintal haram, ya syarmuthah, ya bintal hinzir...!26 Bulu roma u sampai berdiri. Nger i mendengarnya. Sang isteri juga ta mau alah. Ia membalas dengan caci ma i dan serapah yang ta alah eras dan otornya. Dan sumpah serapah yang mengandung l a nat adalah termasu paling asar. 24 Hai orang-orang Ameri a, la nat Allah untu alian! 25 Kinanah: salah satu julu an untu bumi Mesir. Telinga u paling tida su a mendengar caci mencaci, apalagi umpatan mela nat. Ta ada yang berha mela nat manusia ecuali Tuhan. Manusia jelas-jelas telah dimu lia an oleh Tuhan. Tanpa membeda an siapa pun dia. Semua manusia telah dimulia a n Tuhan sebagaimana tertera dalam Al-Qur an, Wa laqad arramna banii Adam. Dan tel ah Kami mulia an ana eturunan Adam! Ji a Tuhan telah memulia an manusia, enap a masih ada manusia yang mencaci dan mela nat sesama manusia? Apa ah ia merasa l ebih tinggi martabatnya daripada Tuhan? Tinda an Ashraf mela nat tiga turis Ameri a itu sangat a u sesal an. Tinda annya jauh dari eti a Al-Qur an, padahal dia tiap hari membaca Al-Qur an. Ia telah menama t an qiraah riwayat Imam Hafsh. Namun ia berhenti pada cara membacanya saja, tid a sampai pada penghayatan ruh andungannya. Semoga Allah memberi an petunju di hatinya. Yang a u heran an, dalam ondisi panas seperti ini, enapa bule-bule itu ada di dalam metro. Seandainya mau bepergian enapa tida mema ai limousin atau ta si y ang ber-AC. Dalam hati a u merasa asihan pada mere a. Mere a seperti tersi sa. Basah oleh eringat. Wajah dan ulit mere a emerahan. Yang paling asihan adala h yang nene -nene . Beberapa ali ia menengga air mineral. Mu anya tetap saja p ucat. Mere a tida biasa epanasan seperti ini. A u jadi teringat Majidov, teman dari Rusia. Ia sangat tida tahan dengan panasnya Mesir. Ia tinggal di Madinatu l Bu uts, atau biasa disebut Bu uts saja. Yaitu asrama mahasiswa Al Azhar dari selur uh penjuru dunia. Di Bu uts tida ada AC-nya. Ji a musim panas tiba dia a an heng ang dari Bu uts dan menyewa flat bersama beberapa temannya di awasan Rab ah El-Adaw

ea. Mencari yang ada AC-nya. Tapi tida semua mahasiswa dari Rusia seperti Majid ov. Banya juga yang tahan dengan musim panas. 26 Ya bintal haram (Hai ana haram/ana hasil perzinaan), Ya Syarmuthah (Hai pel acur), Ya bintal hinzir (Hai ana babi). Ta ada yang bergera mempersila an nene bule itu untu dudu . Ini yang a u ses al an. Beberapa lela i muda atau setengah baya yang masih uat tetap saja tida mau berdiri dari tempat dudu mere a. Biasanya, begitu melihat orang tua, apalag i nene -nene , beberapa orang langsung berdiri menyila an dudu . Tapi ali ini t ida . Lela i bule itu mengaja bicara seorang pemuda Mesir berbaju ota - ota l engan pende yang dudu di de atnya. Se ilas di antara deru metro utang ap ma s ud per ataan si bule. Ia minta epada pemuda Mesir itu memberi esempatan pada i bunya yang sudah tua untu dudu . Mere a bertiga a an turun di Tahrir. Tapi pemu da Mesir itu sama se ali tida menanggapinya. Entah enapa. Apa arena dia tida paham bahasa Inggris, atau arena etida su aannya pada orang Ameri a? A u tida tahu. Nene bule itu elihatannya tida uat lagi berdiri. Ia henda dudu menggelosor di lantai. Belum sampai nene bule itu benar-benar menggelosor, tiba-tiba perem puan bercadar yang tadi upersila an dudu itu berteria mencegah, Mom, wait! Please, sit down here! Perempuan bercadar biru muda itu bang it dari dudu nya. Sang nene dituntun dua ana nya beranja e tempat dudu . Setelah si nene dudu , perempuan bule muda be rdiri di samping perempuan bercadar. A u melihat pemandangan yang sangat ontras . Sama-sama perempuan. Yang satu auratnya tertutup rapat. Ta ada bagian dari tu buhnnya yang membuat jantung lela i berdesir. Yang satunya mema ai pa aian sanga t etat, semua le a -le u tubuhnya elihatan, ditambah basah eringatnya bule i tu nyaris seperti telanjang. Than you. It s very ind of you! Perempuan bule muda mengung ap an rasa terima asi h pada perempuan bercadar. You re welcome, lirih perempuan bercadar. Bahasa Inggrisnya bagus. Sama se ali ta uduga. Keduanya lalu ber enalan dan berbincang-bincang. Perempuan bercadar minta maaf atas perla uan saudara seiman yang mung in urang ramah. Ternyata lebih da ri yang unilai. Perempuan bercadar itu benar-benar berbicara sefasih orang Ing gris. Biasanya orang Mesir sangat susah berbahasa Inggris dengan fasih. Kata frie nd selalu mere a ucapan bren . Huruf f jadi b . A u sering geli mendengarnya. Tapi perem uan bercadar ini sungguh fasih. Lebih fasih dari pembaca berita Nile TV. Perempu an bule tersenyum dan ber ata, Oh not at all. It s all right. Cuaca memang panas dan melelah an. Semuanya lelah. D alam eadaan lelah ter adang susah untu mengalah. Dan itu sangat manusiawi. Busyit! Hei perempuan bercadar, apa yang au la u an! Pemuda berbaju ota - ota bang it dengan mu a merah. Ia berdiri tepat di sampin g perempuan bercadar dan membenta nya dengan asar. Rupanya ia mendengar dan men gerti perca apan mere a berdua. Perempuan bercadar aget. Namun a u tida bisa menang ap raut agetnya sebab mu anya tertutup cadar. Yang bisa utang ap adalah gera an epalanya yang terperang ah, edua matanya yang sedi it menciut, ulit putih antara dua matanya sedi it m eng erut, alisnya seperti mau bertemu. Hal a..ana hata ? 27 Ucap perempuan bercadar tergagap. Ia mema ai bahasa fusha28, bu an bahasa amiyah.29 Ma sudnya bisa dipahami, tapi susunannya janggal. Apa ah mun g in arena dirinya terlalu aget atas benta an pemuda Mesir itu. Mendengar jawaban seperti itu si pemuda malah sema in nai pitam. Ia embali mem benta dan mema i-ma i secara asar dengan bahasa amiyah, Ya hrab baiti !30 Kau telah menghina seluruh orang Mesir yang ada di metro ini. K au sungguh eterlaluan! Kelihatannya saja bercadar, so alim, tapi sebetulnya a u perempuan bangsat! Kau ira ami tida tahu sopan-santun apa? Sengaja ami men gacuh an orang Ameri a itu untu sedi it memberi pelajaran. Ee..bu annya au men du ung ami. Kau malah mempersila an setan-setan bule itu dudu . Dan seolah pali ng bai , au so jadi pahlawan dengan meminta an maaf atas nama ami semua. Kau ini siapa, heh? 27 Hal ana hata ? Ma sudnya, apa ah saya salah? Susunannya yang tepat adalah Hal ana mu hthi ah?

28 Bahasa Arab yang fashih secara gramati al, bu an bahasa pergaulan. 29 Bahasa Arab pergaulan, yang biasa diguna an dalam perca apan harian. 30 Ya hrab baiti ! (Artinya secara bahasa semoga rumahmu roboh, biasanya diguna an untu mengumpat dalam bahasa Jawa senada dengan ata- ata: Bajingan! Dancou ! Dan sejenisnya). Pemuda itu sudah eterlaluan. A u berharap ada yang bertinda . Ashraf dan seoran g lela i setengah baya berpa aian abu-abu mende ati pemuda dan perempuan bercada r. A u sedi it lega. Kau memang sungguh urang ajar perempuan! Kau membela bule-bule Ameri a yang tela h membuat bencana di mana-mana. Di Afganistan. Di Palestina. Di Ira dan di mana -mana. Mere a juga tiada henti-hentinya menggoyang negara ita. Kau ini muslimah macam apa, hah!? Ashraf marah sambil menuding-nuding perempuan bercadar itu. A u aget bu an main. A u ta mengira Ashraf a an ber ata se asar itu. Kelegaan u berubah jadi e ecewaan mendalam. Mes i au bercadar dan membawa mushaf e mana-mana, nilaimu ta lebih dari seoran g syarmuthah! 31 umpat lela i berpa aian abu-abu. Ini sudah eterlaluan. Menuduh seorang perempuan bai -bai sehina pelacur tida bisa dibenar an. A u membaca istighfar dan shalawat ber ali- ali. A u sangat ecewa pada mere a. Perempuan bercadar itu diam seribu bahasa. Matanya ber aca- aca. Benta an, cacia n, tudingan dan umpatan yang dituju an padanya memang sangat menya it an. A u ta bisa diam. Kucopot topi yang menutupi opiah putih u. Lalu a u mende ati mere a sambil mencopot aca mata hitam u. Ya jama ah, shalli alan nabi, shalli alan nabi! 32 ucap u pada mere a sehalus mung in. Cara menurun an amarah orang Mesir adalah dengan mengaja membaca shalawat. Enta h riwayatnya dulu bagaimana. Di mana-mana, di seluruh Mesir, ji a ada orang bert eng ar atau marah, cara melerai dan meredamnya pertama-tama adalah dengan mengaj a membaca shalawat. Shalli alan nabi, artinya bacalah shalawat e atas nabi. Car a ini biasanya sangat manjur. Benar, mendengar ucapan u spontan mere a membaca shalawat. Juga para penumpang m etro lainnya yang mendengar. Orang Mesir tida mau di ata an orang ba hil. Dan t iada yang lebih ba hil dari orang yang mendengar nama nabi, atau diminta bershal awat tapi tida mau mengucap an shalawat. Begitu penjelasan Syai h Ahmad wa tu utanya an ihwal cara aneh orang Mesir dalam meredam amarah. Justru ji a ada oran g sedang marah lantas ita bilang padanya, La taghdhab! (yang artinya: jangan ma rah!) ter adang malah a an membuat ia sema in marah. 31 Syarmuthah: Pelacur. 32 Wahai Jamaah (untu menyapa orang banya )! Bacalah shalawat e atas nabi, bac alah shalawat e atas nabi! Lalu a u menjelas an pada mere a bahwa yang dila u an perempuan bercadar itu ben ar. Bu anya menghina orang Mesir, justru sebali nya. Dan umpatan-umpatan yang di tuju an padanya itu sangat tida sopan dan tida bisa dibenar an. A u beber an a lasan-alasan emanusiaan. Mere a bu annya sadar, tapi malah embali nai pitam. Si pemuda marah dan mencela diri u dengan sengit. Juga si bapa berpa aian abu-a bu. Sementara Ashraf bilang, Orang Indonesia, sudahlah, au jangan i ut campur ur usan ami! A u embali mengaja mere a membaca shalawat. A u nyaris ehabisan a al. A hirn ya usitir beberapa hadits nabi untu menyadar an mere a. Tapi orang Mesir serin g ali muncul besar epalanya dan merasa paling menang sendiri. Pemuda Mesir malah menu as senga , Orang Indonesia, au tahu apa so mengajari a mi tentang Islam, heh! Belajar bahasa Arab saja baru emarin sore. Juz Amma enta h hafal entah tida . So pintar amu! Sudah au diam saja, belajar bai -bai sel ama di sini dan jangan i ut campur urusan ami! A u diam sesaat sambil berpi ir bagaimana caranya menghadapi ana turun Fir aun ya ng sombong dan eras epala ini. A u meliri Ashraf. Mata ami bertatapan. A u b erharap dia berla u adil. Dia telah ber enalan dengan u tadi. Kami pernah a rab mes ipun cuma sesaat. Kupandangi dia dengan bahasa mata mencela. Ashraf menundu an epalanya, lalu ber ata, Kapten, au tida boleh ber ata seperti itu. Orang Indonesia ini sudah menyelesai an licence-nya di Al Azhar. Se arang dia sedang menempuh program magisternya. W

alau bagaimana pun, dia seorang Azhari. Kau tida boleh mengecil an dia. Dia haf al Al-Qur an. Dia murid Syai h Utsman Abdul Fattah yang ter enal itu. Pembelaan Ashraf ini sangat berarti bagi u. Pemuda berbaju ota - ota itu melir i epada u lalu menundu . Mung in dia malu telah berla u tida sopan epada u. Tetapi lela i berpa aian abu-abu elihatannya tida mau menerima begitu saja. Dari mana au tahu? Apa au teman satu uliahnya? tanyanya. Ashraf tergagap, Tida . A u tida teman uliahnya. A u tahu saat ber enalan denga nnya tadi. Kau terlalu mudah percaya. Bisa saja dia berbohong. Program magister di Al Azhar tida mudah. Jadi murid Syai h Utsman juga tida mudah. Lela i itu mencela Ashraf . Dia lalu berpaling e arah u dan ber ata, Hei orang Indonesia, alau benar au S.2. di Al Azhar mana artumu!? Lela i itu membenta seperti polisi intel. Berurusan dengan orang awam Mesir yan g eras epala memang harus sabar. Tapi ji a mere a sudah tersentuh hatinya, mer e a a an bersi ap ramah dan luar biasa bersahabat. Itulah salah satu eistimewaa n wata orang Mesir. Terpa sa ubu a tas cang long u. Kuserah an dua artu se al igus. Kartu S.2. Al Azhar dan artu eanggotaan talaqqi qiraah sab ah dari Syai h Utsman. Tida hanya itu, a u juga menyerah an selembar tashdiq33 resmi dari uni versitas. Tasdiq yang a an uguna an untu memperpanjang visa Sabtu depan. Lela i setengah baya lalu meneliti dua artu dan tashdiq yang masih gres itu den gan se sama. Ia manggut-manggut, emudian menyerah annya pada pemuda berbaju ot a - ota yang eras epala yang ada di sampingnya. Kebetulan saat ini saya sedang menuju masjid Abu Ba ar Ash-Shiddiq untu talaqqi. Kalau ada yang mau i ut menjumpai Syai h Utsman boleh menyertai saya. Ujar u ten ang penuh emenangan. Kulihat wajah mere a tida sepitam tadi. Sudah lebih mencair. Bah an ada gurat r asa malu pada wajah mere a. Ji a ebenaran ada di depan mata, orang Mesir mudah luluh hatinya. Maaf an elancangan ami, Orang Indonesia. Tapi perempuan bercadar ini tida pant as dibela. Ia telah mela u an tinda an bodoh! ata pemuda Mesir berbaju ota - ot a sambil menyerah an embali dua artu dan tashdiq epada u. 33 Tashdiq adalah surat eterangan resmi dari Universitas, bahwa pemili nya bena r-benar mahasiswa pada fa ultas, jurusan dan program tertentu di universitas itu . Tashdiq biasanya diperlu an untu urusan-urusan resmi. Misalnya perpanjangan v isa belajar, pengambilan visa haji, meminta atau memperpanjang beasiswa pada sua tu lembaga dan lain sebagainya. A u menghela nafas panjang. Metro melaju encang menembus udara panas. Sese ali debu masu berhamburan. Terus terang, a u sangat ecewa pada alian! Ternyata sifat alian tida seperti yang digambar an baginda Nabi. Beliau pernah bersabda bahwa orang-orang Mesir sa ngat halus dan ramah, ma a beliau memerintah an epada shahabatnya, ji a ela m embu a bumi Mesir henda nya bersi ap halus dan ramah. Tapi ternyata alian sanga t asar. A u ya in alian bu an asli orang Mesir. Mung in alian sejatinya seban gsa Bani Israel. Orang Mesir asli itu seperti Syai h Muhammad Mutawalli Sya rawi y ang ramah dan pemurah, ucap u datar. A u ya in a an membuat hati orang Mesir yang mendengarnya bagai an tersengat aliran listri . Maaf an ami, Orang Indonesia. Kami memang emosi tadi. Tapi jangan au ata an a mi bu an orang Mesir. Jangan pula au ata an ami ini sebangsa Bani Israel. Kam i asli Mesir. Kami satu moyang dengan Syai h Sya rawi rahimahullah, lela i setengah baya itu tida terima. Syai h Sya rawi memang seorang ulama yang sangat mera yat. Sangat dicintai orang Mesir. Hampir semua orang Mesir mengenal dan mencintai be liau. Mere a sangat bangga memili i seorang Sya rawi yang dihormati di seantero pe njuru Arab. Yang a u tahu, selama ini, orang Mesir asli sangat memulia an tamu. Orang Mesir a sli sangat ramah, pemurah, dan hatinya lembut penuh asih sayang. Sifat mere a s eperti sifat Nabi Yusuf dan Nabi Ya qub. Syai h Sya rawi, Syai h Abdul Halim Mahmud, Syai h Muhammad Ghazali, Syai h Muhammad Hasan, Syai h Kisy , Syai h Muhammad J ibril, Syai h Athea Shaqr, Syai h Ismail Diftar, Syai h Utsman dan ulama lainnya adalah contoh nyata orang Mesir asli yang berhati lembut, sangat memulia an tam u dan sangat memanusia an manusia. Tapi apa yang baru saja alian la u an?! Kali

an sama se ali tida memanusia an manusia dan tida punya rasa hormat sedi it pu n pada tamu alian. Orang bule yang sudah nene -nene itu adalah tamu alian. Me re a bertiga tamu alian. Tetapi enapa alian malah mela natnya. Dan eti a sau dari ita yang bercadar ini berla u sebagai seorang muslimah sejati dan sebagai seorang Mesir yang ramah, enapa malah alian cela habis-habisan!? Kalian bah an menyumpahinya dengan per ataan asar yang sangat menusu perasaan dan tida lay a diucap an oleh mulut orang yang beriman! Tapi Ameri a sudah eterlaluan! Apa salah ji a ami sedi it saja mengung ap an e jeng elan ami dengan memberi pelajaran sedi it saja pada orang-orang Ameri a it u?! Lela i setengah baya masih berusaha membenar an tinda annya. A u tida merasa aneh. Begitulah orang Mesir, selalu merasa benar. Dan nanti a an luluh ji a ber hadapan dengan ebenaran yang seterang matahari. Kita semua tida menyu ai tinda ezhaliman yang dila u an siapa saja. Termasu y ang dila u an Ameri a. Tapi tinda an alian seperti itu tida benar dan jauh dar i tuntunan ajaran baginda Nabi yang indah. Lalu ami harus berbuat apa dan bagaimana? Ini mumpung ada orang Ameri a. Mumpung ada esempatan. Dengan sedi it pelajaran mere a a an tahu bahwa ami tida meny u ai ezhaliman mere a. Biar nanti alau pulang e negaranya mere a bercerita pa da tetangganya bagaimana tida su anya ami pada mere a! Justru tinda an alian yang tida dewasa seperti ana -ana ini a an menguat an op ini media massa Ameri a yang selama ini beranggapan orang Islam asar dan tida punya peri emanusiaan. Padahal baginda Rasul mengajar an ita menghormati tamu. Apa ah alian lupa, beliau bersabda, siapa yang beriman epada Allah dan hari a hir ma a hormatilah tamunya. Mere a bertiga adalah tamu di bumi Kinanah ini. Har us dihormati sebai -bai nya. Itu ji a alian merasa beriman epada Allah dan har i a hir. Ji a tida , ya terserah! La u anlah apa yang ingin alian la u an. Tapi jangan se ali- ali alian menama an diri alian bagian dari umat Islam. Sebab t inda an alian yang tida menghormati tamu itu jauh dari ajaran Islam. Lela i setengah baya itu diam. Pemuda berbaju ota - ota menundu . Ashraf membi su. Para penumpang yang lain, termasu perempuan bercadar juga diam. Metro terus berjalan dengan suara bergemuruh, sese ali mencericit. Coba alian jawab pertanyaan u ini. Kenapa alian berani menya iti Rasulullah?! ta nya u sambil memandang etiga orang Mesir bergantian. Mere a aga ter ejut mende ngar pertanyaan u itu. A hi, mana mung in ami berani menya iti Rasulullah yang ami cintai, jawab Ashraf . Kenapa alian ela di hari a hir berani berseteru di hadapan Allah melawan Rasul ullah? tanya u lagi. A hi, au melontar an pertanyaan gila. Kita semua di hari a hir ela mengharap s yafaat Rasulullah, bagaimana mung in ami berani berseteru dengan beliau di hada pan Allah! jawab Ashraf. Tapi alian telah mela u an tinda an sangat lancang. Kalian telah menya iti Rasul ullah. Kalian telah menantang Rasulullah untu berseteru di hadapan Allah ela di hari a hir! ucap u tegas sedi it eras. Lela i setengah baya, Ashraf, pemuda berbaju ota - ota dan beberapa penumpang metro yang mendengar ucapan u semuanya tersenta aget. Apa ma sudmu, Andonesy? Kau jangan bicara sembarangan! jawab lela i setengah baya sedi it emosi. Paman, a u tida ber ata sembarangan. A u a an sangat malu pada diri u sendiri ji a ber ata dan bertinda sembarangan. Bai lah, biar a u jelas an. Dan setelah a u jelas an alian boleh menilai apa ah a u ber ata sembarangan atau bu an. Harus alian mengerti, bahwa etiga orang bule ini selain tamu alian mere a sama den gan ahlu dzimmah. Tentu alian tahu apa itu ahlu dzimmah. Disebut ahlu dzimmah arena mere a berada dalam jaminan Allah, dalam jaminan Rasul-Nya, dan dalam jami nan jamaah aum muslimin. Ahlu dzimmah adalah semua orang non muslim yang berada di dalam negara tempat aum muslimin secara bai -bai , tida ilegal, dengan mem bayar jizyah dan mentaati peraturan yang ada dalam negara itu. Ha mere a sama d engan ha aum muslimin. Darah dan ehormatan mere a sama dengan darah dan ehor matan aum muslimin. Mere a harus dijaga dan dilindungi. Tida boleh disa iti se di it pun. Dan alian pasti tahu, tiga turis Ameri a ini masu e Mesir secara r

esmi. Mere a membayar visa. Kalau tida percaya coba saja lihat paspornya. Ma a mere a hu umnya sama dengan ahlu dzimmah. Darah dan ehormatan mere a harus ita lindungi. Itu yang diajar an Rasulullah Saw. Tida ah alian dengar sabda belia u, Barangsiapa menya iti orang zhimmi (ahlu zhimmah) ma a a u a an menjadi seteru nya. Dan siapa yang a u menjadi seterunya dia pasti alah di hari iamat. 34 Belia u juga memperingat an, Barangsiapa yang menya iti orang dzimmi, dia telah menya i ti diri u dan barangsiapa menya iti diri u berarti dia menya iti Allah. 35 Begitul ah Islam mengajar an bagaimana memperla u an non muslim dan para tamu asing yang masu secara resmi dan bai -bai di negara aum muslimin. Imam Ali bah an ber a ta, Begitu membayar jizyah, harta mere a menjadi sama harus dijaganya dengan hart a ita, darah mere a sama nilainya dengan darah ita. Dan para turis itu telah me mbayar visa dan ong os administrasi lainnya, sama dengan membayar jizyah. Mere a menjadi tamu resmi, tida ilegal, ma a harta, ehormatan dan darah mere a wajib ita jaga bersama-sama. Ji a tida , ji a ita sampai menya iti mere a, ma a ber arti ita telah menya iti baginda Nabi, ita juga telah menya iti Allah. Kalau ita telah lancang berani menya iti Allah dan Rasul-Nya, ma a siapa ah diri ita ini? Masih pantas an ita menga u mengi uti ajaran baginda Nabi? Lela i setengah baya itu tampa ber aca- aca. Ia beristighfar ber ali- ali. Lalu mende ati diri u. Memegang epala u dengan edua tangannya dan mengecup epala u sambil ber ata, Allah yaftah alai , ya bunayya! Allah yaftah alai ! Jaza allah aira! 36 Ia telah tersentuh. Hatinya telah lembut. Setelah itu giliran Ashraf merang ul u. Senang se ali a u bertemu dengan orang sepertimu, Fahri! atanya. A u tersenyum, ia pun tersenyum. Pemuda berbaju ota - ota lalu mempersila an p ria bule yang berdiri di de at nene nya untu dudu di tempat dudu nya. Dua pemu da Mesir yang dudu di depan nene bule berdiri dan mempersila an pada perempuan bercadar dan perempuan bule untu dudu . Begitulah. Salah satu eindahan hidup di Mesir adalah pendudu nya yang lembut hatinya. Ji a sudah tersentuh mere a a an memperla u an ita seumpama raja. Mere a ter adang eras epala, tapi ji a sudah jina dan luluh mere a bisa mela u an ebai an sep erti malai at. Mere a alau marah meleda -leda tapi alau sudah reda benar-bena r reda dan hilang tanpa be as. Ta ada dendam di bela ang yang diingat sampai tu juh eturunan seperti orang Jawa. Mere a mudah menerima ebenaran dari siapa saj a. 34 Diriwayat an oleh Al-Khathib dengan sanad bai . 35 Diriwayat an oleh Imam Thabrani dengan sanad bai . 36 Semoga Allah membu a hatimu (menambah an ilmumu) Ana u! Dan semoga Allah mem balasmu dengan ebai an! Metro terus melaju. Ta terasa sudah sampai mahattah Mar Girgis. Ashraf mende at an diri e pintu. Ia bersiap-siap. Mahattah depan adalah El-Mali El-Saleh, set elah itu Sayyeda Zeinab dan ia a an turun di sana. A u menghitung masih ada tuju h mahattah baru sampai di Ramsis. Setelah itu a u a an pindah metro jurusan Shub ra El-Khaima. Perjalanan masih jauh. Metro embali berjalan. Pelan-pelan lalu se ma in encang. Ta lama emudian sampai di El-Mali El-Saleh. Metro berhenti. Pi ntu dibu a. Beberapa orang turun. Lela i setengah baya henda turun. Sebelum tur un ia menyalami diri u dan mengucap an terima asih sambil mulutnya tiada henti mendoa an diri u. A u mengucap an amin ber ali- ali. Topi dan aca mata hitam u embali a u pa ai. Ta jauh dari u, perempuan bercadar nampa asyi berbincang d engan perempuan bule. Sedi it-sedi it telinga u menang ap isi perbincangan mere a. Rupanya perempuan bercadar sedang menjelas an semua yang tadi terjadi. Kejeng elan orang-orang Mesir pada Ameri a. Ke eliruan mere a serta pembetulan-pembetu lan yang a u la u an. Perempuan bercadar juga menjelas an ma sud dari hadits-had its nabi yang tadi a u ucap an dengan bahasa Inggris yang fasih. Perempuan bule itu menganggu -anggu an epala. Sampai di Sayyeda Zeinab, Ashraf turun setelah terlebih dahulu melambai an tangan pada u. Seorang ibu yang dudu di samping nen e bule turun. Kursinya osong. A u bisa dudu di sana alau mau. Tapi ulihat s eorang gadis ecil membawa tas belanja masu . Langsung upersila an dia dudu . Metro embali melaju. Perempuan bercadar dan perempuan bule masih berbincang-bin cang dengan a rabnya. Tapi ali ini a u tida mendengar dengan jelas apa yang me

re a perbincang an. Angin panas masu melalui jendela. A u memandang e luar. Ru mah-rumah pendudu tampa ota - ota ta teratur seperti ardus bertumpu an ta teratur. Metro masu e lorong bawah tanah. Suasana gelap sesaat. Lalu lampu-la mpu metro menyala. Ta lama emudian metro sampai mahattah Saad Zaghloul dan ber henti. Beberapa orang turun dan nai . Tiga bule itu bersiap henda turun, juga p erempuan bercadar. Berarti mere a mau turun di Tahrir. Perempuan bercadar masih berca ap dengan perempuan bule. Keduanya sangat de at dengan u. A u bisa mendeng ar dengan jelas apa yang mere a bicara an. Tentang asal mere a masing. Perempuan bercadar itu ternyata lahir di Jerman, dan besar juga di Jerman. Namun ia berda rah Jerman, Tur i dan Palestina. Sedang an perempuan bule lahir dan besar di Ame ri a. Ia berdarah Inggris dan Spanyol. Keduanya bertu ar artu nama. Perempuan bule tepat berada di depan u. Wajahnya masih menghadap perempuan berca dar. Metro bercericit mengerem. Gerbong sedi it goyang. Tubuh perempuan bule ber goyang. Saat itulah dia melihat diri u. Ia tersenyum sambil mengulur an tanganny a epada u dan ber ata, Hai Indonesian, than s for everything. My name s Alicia. Oh, you re welcome. My name is Fahri, jawab u sambil menang up an edua tangan u di depan dada, a u tida mung in menjabat tangannya. Ini bu an berarti saya tida menghormati Anda. Dalam ajaran Islam, seorang lela i tida boleh bersalaman dan bersentuhan dengan perempuan selain isteri dan mahra mnya. A u menjelas an agar dia tida salah faham. Alicia tersenyum dan berseloroh, Oh, never mind. And this is my name card, for yo u. Ia memberi an artu namanya. Than s, ujar u sambil menerima artu namanya. It s a pleasure. Metro berhenti. Alicia, nene nya dan saudaranya mende ati pintu henda eluar. Perempuan bercada r masih berdiri di tempatnya. Ia melihat e arah orang-orang yang henda turun. Perlahan pintu dibu a. Keti a orang-orang mulai turun, perempuan bercadar itu be rgera melang ah, ia menyempat an untu menyapa u, Indonesian, than you. A u teringat dia orang Jerman. A u iseng menjawab dengan bahasa Jerman, Bitte! Aga nya perempuan bercadar itu aget mendengar jawaban u dengan bahasa Jerman. I a urung melang ah e pintu. Ia malah menatap diri u dengan sorat mata penuh tand a tanya. Sprechen Sie Deutsch? 37 tanyanya dengan bahasa Jerman. Ia mung in ingin langsung m eya in an dirinya bahwa apa yang tadi ia dengar an dari u benar-benar bahasa Jer man. Bahwa a u bisa berbahasa Jerman. Bahwa ia tida salah dengar. Ja, ein wenig.38 Alhamdulillah! jawab u tenang. Kalau se adar berca ap dengan baha sa Jerman insya Allah tida terlalu susah. Kalau a u disuruh membuat tesis denga n bahasa Jerman baru menyerah. Sind Sie Herr Fahri? 39 A u tersenyum mendengar pertanyaannya. Ia bertanya seperti itu. Berarti ia benar -benar mendengar an dengan bai pendebatan u dengan tiga orang Mesir tadi sehing ga tahu nama u. Atau dia mendengar an a u ber enalan dengan Alicia. Ja. Mein name ist Fahri. 40 Jawab u. Mein name ist Aisha, sahutnya sambil menyerah an artu nama. Ia lalu menyodor an b u u notes ecil dan pulpen. Bitte, schreiben Sie ihren namen! 41 atanya. Kuterima bu u notes ecil dan pulpen itu. A u paham ma sud Aisha, tentu tida se adar nama tapi dileng api dengan alamat atau nomor telpon. Masinis metro membun yi an tanda alarm bahwa sebentar lagi pintu metro a an ditutup dan metro a an me nerus an perjalanan. A u hanya menulis an nama dan nomor handphone- u. Lalu use rah an embali padanya. Aisha langsung bergegas turun sambil ber ata, Dan e, auf wiedersehn! 42 Auf wiedersehn! jawab u. Metro embali berjalan. Ada tempat osong. Saatnya a u dudu . Sudah separuh perj alanan lebih. Sudah setengah dua lebih lima menit. Wa tu masih cu up. Insya Alla h sampai di hadapan Syai h Utsman tepat pada wa tunya. Kalaupun terlambat hanya

beberapa menit saja. Masih dalam batas yang bisa dimaaf an. Dengan dudu a u mer asa lebih tenang. Ini saatnya a u mengulang dan memperbai i hafalan Al-Qur an yang a an a u setor an pada Syai h Utsman. 37 Kau berbicara bahasa Jerman. 38 Ya. Sedi it-sedi it. 39 Apa ah Anda tuan Fahri. 40 Ya nama saya Fahri. 41 Maaf, bisa tulis an nama Anda. 42 Terima asih, sampai bertemu lagi. 3. Keributan Tengah Malam A u sampai di flat jam lima lebih seperempat. Siang yang melelah an. Ubun-ubun epala u rasanya mendidih. Cuaca benar-benar panas. Yang berang at talaqqi pada S yai h Utsman hanya tiga orang. A u, Mahmoud dan Hisyam. Syai h Utsman jangan dit anya. Disiplin beliau luar biasa. Mes ipun cuma tiga yang hadir, wa tu talaqqi t etap seperti biasa. Jadi, ami bertiga membaca tiga ali lipat dari biasanya. Ja tah membaca Al-Qur an sepuluh orang ami bagi bertiga. Untungnya masjid Abu Ba ar Ash-Shiddiq ber-AC. Ji a tida , a u ta tahu seperti apa menderitanya ami. Mung in onsentrasi ami a an beranta an, dan ami tida bisa membaca seperti yang d iharap an. Seperti mengerti einginan ami, begitu selesai talaqqi, Amu Farhat, ta mir masj id yang bai hati itu membawa an empat gelas tamar hindi43 dingin. Bu an main se garnya eti a minuman segar itu menyentuh lidah dan tenggoro an. Selesai minum a u pulang. Mahmoud, Hisyam, Amu Farhat dan Syai h Utsman menerus an perbincangan menunggu ashar. Perjalanan pulang ternyata lebih panas dari berang at. Antara pu ul setengah emp at hingga pu ul lima adalah punca panas siang itu. Berada di dalam metro rasany a seperti berada dalam oven. Kondisi itu nyaris membuat u lupa a an titipan Mari a. A u teringat eti a eluar dari mahattah Hadaye Helwan. Ada dua to o alat tu lis. Kucari di sana. Dua-duanya osong.. A u melang ah e Pyramid Com. Sebuah re ntal omputer yang biasanya juga menjual dis et. Malang! Rental itu tutup. Terpa sa a u embali e mahattah dan nai metro e Helwan. Di ota Helwan ada pasar d an to o-to o cu up besar. Di sana udapat an juga dis et itu. A u beli empat. Du a untu Maria. Dan dua untu diri u sendiri. Kusempat an mampir e masjid yang b erada tepat di sebelah barat mahattah Helwan untu shalat ashar. Teri matahari masih menyengat eti a a u eluar masjid untu pulang. Di tengah perjalanan a u melewati Universitas Helwan yang lengang. Hanya seorang polisi be rpa aian lusuh yang menjaga gerbangnya. Tampangnya mengenas an. Masih muda, tapi urus ering. Seperti pohon pisang ering. Atau seperti dendeng di Saudi ala m usim haji. Mu anya tampa ering. Panas sahara seperti menghisap habis darahnya . Ia pasti prajurit wajib militer yang biasa disebut duf ah. Polisi paling menderi ta arena bertugas dengan sangat terpa sa. Tanpa gaji memadai. Hanya beberapa po und saja. Wajar ji a tampangnya mengenas an. Bisa jadi ia masih berstatus mahasi swa. Karena memang seluruh la i-la i Mesir ter ena wajib militer. Seorang umsar i44 mende at. Ia gemu , epalanya bulat penuh eringat. Perutnya buncit seperti balon mau meletus. Beda se ali dengan polisi penjaga gerbang universitas itu. Du nia ini memang penuh perbedaan-perbedaan dan hal-hal ontras yang ter adang tida mudah dimengerti. Metro terus melaju. 43 Air buah asam. Sampai di flat, tenaga u nyaris habis. Kulepas sepatu dan aos a i lalu masu amar. Sampai di amar langsung unyala an ipas angin, ulepas tas, topi, aca mata hitam, dan emeja putih u. Kuusap mu a u dengan tissu. Hitam. Banya debu m enempel. A u lalu beranja e ruang tengah, membu a lemari es, mencari yang ding in-dingin untu menyegar an badan. Begitu membu a pintu lemari es mata u membela la berbinar. Ada sebotol ashir ashab.45 Dingin. Kutuang an untu satu gelas. Sa mbil membawa gelas berisia ashir ashab a u berteria , Siapa nih yang beli ashir ashab. Pengertian se ali. Syu ran ya. Semoga umurnya di ber ahi Allah. Rudi eluar dari amarnya dengan wajah ceria.

Mas. Ashir ashab itu bu an ami yang beli. Terus dapat dari mana? Tadi diberi oleh Maria. Apa? Diberi oleh Maria? Iya. Katanya untu Mas. Ma anya masih utuh satu botol. Kami tida menyentuhnya se belum dapat izin dari Mas. Se arang ami boleh i ut mencicipi an Mas? Ah amu ini ada-ada saja. Kalau ambil ya ambil saja. Yang penting a u disisain. P a ai menunggu izin segala. 44 Konde tur. 45 Sari air tebu. (Minuman paling memasyara at di Mesir saat musim panas). Masalahnya ini dari Maria, Mas. Sepertinya puteri Tuan Boutros itu perhatian se a li sama Mas. Jangan-jangan dia jatuh hati sama Mas. Hus jangan ngomong sembarangan! Mere a itu memang tetangga yang bai . Seja awal ita tinggal di sini mere a sudah bai sama ita. Bu an se ali ini mere a member i sesuatu pada ita. Tapi enapa Maria bilang untu Mas. Bu an untu ita semua? Lha etahuan an? Kau cemburu, jangan-jangan au yang jatuh cinta. Ya udah nanti b iar usampai an sama Maria dan Tuan Boutros ayahnya, alau memberi sesuatu biar yang disebut namamu hehehe. Jangan Mas. Bu an itu ma sud u? Terus? Tapi Maria sepertinya punya perhatian lebih pada Mas. A h Rudi, amu jangan berprasang a yang bu an-bu an. Kamu an tahu. Maria berbuat begitu atas nama eluaganya, atas petunju ayahnya yang bai hati itu. Dan aren a epala eluarga di rumah ini adalah a u, ma a tiap ali memberi ma anan, minum an atau menyampai an sesuatu ya selalu lewat a u, as a leader here. Dia menyampa i an sesuatu atas nama eluarganya dan a u dianggap representasi alian semua. J adi ini bu an hanya intera si dua person saja, tapi dua eluarga. Bah an lebih b esar dari itu, dua bangsa dan dua penganut eya inan yang berbeda. Inilah eharm onisan hidup sebagai umat manusia yang beradab di mu a bumi ini. Sudahlah au ja ngan memi ir an hal yang terlalu jauh. Tugas ita di sini adalah belajar. Kita b elajar sebai -bai nya. Di antaranya adalah belajar bertetangga yang bai . Karena ita telah diberi, ya nanti ita gantian memberi sesuatu pada mere a. Wa idza h uyyitum bi tahiyyatin fa hayyu bi ahasana minha! 46 Saya mengerti, Mas. Afwan ji a ucapan saya tadi ada yang urang ber enan. Udah jangan dipi ir. Emm..bagaimana ma alahmu? Sudah selesai? Alhamdulillah, Mas. Kapan dipresentasi an? Sabtu sore. 46 Dan ji a amu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, ma a balaslah penghormatan itu dengan yang lebih bai daripadanya (QS. An-Nisaa : 86) Di mana? Di Wisma Nusantara. Ma at taufiq. 47 A u melang ah e amar sambil membawa segelas ashir ashab. Kuselonjor an a i u di atas arpet. Punggung u usandar an e pinggir tempat tidur. Untung tembo ap artemen ini tebal. Jendelanya rapat. Sehingga udara panas di luar apartemen tida mudah menembus masu . Mes ipun aga hangat tapi tida sepanas di luar. Dan den gan ipas angin sudah cu up membuat udara yang hangat itu menjadi seju . Kutegu ashir ashab. Perlahan. Dingin mengaliri tenggoro an. Oh luar biasa ni matnya. D i awasan beri lim panas, seperti Mesir dan negara Timur Tengah lainnya, air din gin memang sangat menyenang an. Ji a air dingin itu membasahi tenggoro an yang ering rasanya seperti menegu air seju dari surga, ta dapat dilu is an dengan ata- ata. Orang yang ehausan di tengah sahara yang paling ia damba dan ia cint a adalah air dingin penawar dahaga. Ta ada yang lebih ia cinta dari itu. Di sin ilah baru bisa urasa an betapa dahsyat doa baginda Nabi, Ya Allah jadi anlah cinta u epada-Mu melebihi cinta u pada harta, eluarga dan a ir yang dingin . Beliau meminta agar cintanya epada Allah melebihi cintanya pada air yang dingin , yang sangat dicintai, disu ai, dan diingini oleh siapa saja yang ehausan di m

usim panas. Di daerah yang beri lim panas, cinta pada air yang seju dingin dira sa an oleh siapa saja, oleh semua manusia. Ji a cinta epada Allah telah melebih i cintanya seseorang yang se arat ehausan di tengah sahara pada air dingin, ma a itu adalah cinta yang luar biasa. Sama saja dengan melebihi cinta pada nyawa s endiri. Dan memang semestinya demi ianlah cinta sejati epada Allah Azza Wa Jall a. Ji a direnung an benar-benar, baginda Nabi sejatinya telah mengajar an idiom cinta yang begitu indah. Setelah eringat hilang, dan ubun-ubun epala mulai dingin a u bang it henda me ngambil handu . A u harus mandi, badan rasanya tida nyaman. Harus dibersih an d an disegar an. Baru menyentuh handu , handphone- u memeri sing at. Ada sms masu . Kubu a. Dari Maria, 47 Semoga su ses. Sudah pulang ya? Bagaimana dengan titipan u, dapat? Langsung ujawab, Dapat. Terima asih atas ashir ashabnya. Kuleta an handphone- u di atas meja. A u langsung bergegas mandi. Baru menutup amar mandi yang bersebelahan dengan amar u, udengar si handphone meme i lag i. Maria pasti mengirim pesan bali . Ah, biar, nanti saja setelah mandi. Kuputar ran wastafel. A u ingin cuci tangan. Air mengalir. Kusentuh. Hangat se ali. Be rarti pipa-pipa yang berada di dalam tanah berpasir yang mengalir an air dari ta ndon ra sasa itu telah panas. A u jadi teringat saat umrah e Saudi di punca mu sim panas tahun lalu. Bai siang atau pun malam, alau henda mandi harus mendin gin an air dulu di ember besar. Sebab air yang eluar dari ran sangat panas. Ha rus ditampung di ember besar dan ditunggu sampai dingin. Kulihat bath-tub penuh dengan air. Alhamdulillah, teman-teman sangat pengertian dan cerdas. A u bisa la ngsung mandi tanpa menunggu air dingin. Keti a air menyiram seluruh tubuh rasa s egar itu susah diung ap an dengan bahasa verbal. Habis mandi tenaga rasanya puli h embali. Usai berganti pa aian urebah an diri u di atas asur. Oh, alang ah ni matnya. I ni saatnya istirahat. Kunyala an tape ecil di samping tempat tidur. Ena nya ada lah memutar murattal48 Syai h Abu Ba ar Asy-Syathiri. Suaranya yang sangat lembu t dan indah penuh penghayatan dalam membaca Al-Qur an sering membawa terbang imaji nasi u e tempat-tempat seju . Ke sebuah danau bening di tengah hutan yang penuh buah-buahan. Kadang e suasana senja yang indah di tepi pantai Ageeba, pantai l aut Mediterania yang mena jub an di Mersa Mathruh. Bah an bisa membawa u e duni a lain, dunia indah di dalam laut dengan i an-i an hias dan bebatuan yang sepert i permata-permata di surga. Dalam eadaan lelah selalu saja suara Syai h Abu Ba ar Asy-Syathiri menjadi musi pengantar tidur yang paling ni mat. Mes i ter adan g a u harus terlebih dahulu menetes an air mata, ala mendengar Syai h Syathiri sesengu an menangis dalam bacaannya. Kunyala an murattal Syai h Syatiri. Suarany a yang indah langsung mengelus-elus syaraf-syaraf u. Mata u mulai liyer-liyer he nda terpejam. Tiba-tiba handphone- u embali meme i . A u teringat sesuatu. Tit ipan Maria. Kubaca pesan Maria. 48 Kaset yang mere am Al-Qur an dibaca secara tartil. Ada tiga pesan: Bu a jendela se arang. A u a an turun an eranjang. Kau sedang apa? A u sudah turun an eranjang. Lama se ali. Kenapa tida ada respons? Aduh, asihan Maria. Dia tadi sudah lama membu a jendelanya dan menurun an eran jang. Langsung ujawab, Afwan. Tadi saya langsung mandi. Jadi tiga pesanmu tera hir baru ubu a setelah m andi. Afwan. Se arang bisa au turun an eranjang. Kutunggu respons darinya. Ta lama pesannya masu , O, begitu. Ta apa-apa. Ini uturun an eranjangnya. A u bang it dari tempat tidur. Mengambil dua dis et dalam tas. Lalu menuju jende la. Kubu a jendela. Hawa panas langsung masu . Sebuah eranjang ecil dijulur an dengan tambang ecil putih dari atas. Ada uang sepuluh pound di dalamnya. Kulet a an dua dis et itu dalam eranjang tanpa menyentuh uang sepuluh pound itu sama se ali.

Kamar Maria memang tepat di atas amar u, dan jendela amarnya tepat di atas jen dela amar u. Orang Mesir yang berada di atas lantai dua biasanya memili i eran jang ecil yang sering ali diguna an untu suatu eperluan tanpa harus turun e bawah. Ji a ibu-ibu Mesir belanja buah-buahan atau sayur-sayuran pada penjual bu ah atau penjual sayur eliling, biasanya mere a mengguna an eranjang ecil itu, tanpa harus turun dari rumah mere a yang berada di atas. Mere a cu up pesan ber apa ilo, setelah sepa at harganya mere a menurun an eranjang ecil yang di dal amnya sudah ada uang untu membayar barang yang dipesannya. Tu ang buah atau tu ang sayur a an mengisi eranjang itu dengan barang yang dipesan setelah mengambi l uangnya. Ji a uangnya lebih, mere a a an mengembali annya se aligus bersama ba rang yang dipesan. Barulah si ibu mengang at eranjangnya seperti orang menimba. Transa si yang pra tis. Pertama ali melihat a u heran. Yang a u heran an adala h begitu amanah-nya penjual buah itu. Mere a tida curang. Tida berusaha na al. Maria atau ibunya juga biasa membeli sayur atau buah dengan cara seperti itu. Maria mengang at eranjangnya. A u menutup jendela. Ta lama emudian handphoneu embali bertulalit. Maria lagi, Harganya berapa? Uangnya o tida diambil, enapa? Kujawab, Harganya zero, zero, zero pound. Jadi ta perlu dibayar. Ia menjawab, Jangan begitu. Itu tida wajar. Kujawab, Harganya seperti biasa. Uangnya au simpan saja. Kalau au buat Ruzz bil laban49 titip ya. Boleh an? Ia menjawab, Bai lah alau begitu. Dengan senang hati. Syu ran! Kujawab, Afwan. Kli . Handphone unona tif an. A u ingin tidur. Pada saat yang sama, udengar s uara pintu terbu a. Lalu suara Hamdi mengucap an salam. Kujawab lirih. Alhamduli llah dia pulang. Dia nanti a an masa oseng-oseng wortel campur ofta. A u senan g bahwa teman-teman satu rumah ini mengerti dengan ewajiban masing-masing. Kewa jiban memasa sesibu apa pun adalah hal yang tida boleh ditinggal an. Sepertin ya remeh tapi sangat penting untu sebuah tanggung jawab. Masa tepat pada wa tu nya adalah bu ti paling mudah sebuah rasa cinta sesama saudara. Ya inilah persau daraan. Hidup di negeri orang harus saling membantu dan meleng api. Tanpa orang lain mana mung in ita bisa hidup dengan bai . Sambil rebahan uni mati suara Syai h Syathiri membaca Al-Qur an mengalun indah. M aghrib masih lama. Dalam musim panas, siang lebih panjang dari malam. A u harus beristirahat. Nanti malam harus embali memeras ota . Menerjemah untu biaya men yambung hidup. Ya, hidup ini ata Syauqi, sang raja penyair Arab adalah eya inan da n perjuangan. Dan perjuangan seorang mu min sejati ata Imam Ahmad bin Hanbal tida a an berhenti ecuali eti a edua a inya telah menginja pintu surga. 49 Ruzz bil laban: Bubur dari beras yang dibuat dengan susu. Setelah dingin dima su an dalam ul as. * * * Seperti biasa, usai shalat maghrib berjamaah di masjid ami ber umpul di ruang t engah untu ma an bersama. Kali ini ami hanya berempat. Masih urang satu, yait u Si Mishbah. Ia belum pulang. Ia masih di Wisma Nusantara yang menjadi sentral egiatan mahasiswa Indonesia. Gedung yang diwa af an oleh Yayasan Abdi Bangsa it u terleta di Rab ah El-Adawea, Nasr City. Hamdi baru pulang dari Masjid Indonesia. Ia banya bercerita tentang ana -ana p ara pejabat KBRI yang lucu-lucu dan manja-manja. Dibanding an yang ada di negara lain, KBRI di Cairo bisa dibilang termasu yang beruntung. Komunitas yang mere a urusi adalah mahasiswa Al Azhar. Kegiatan eislaman dan pengajian antaribu-ibu KBRI juga berjalan lancar. Tiap Ramadhan ada tarawih bersama. Juga ada pesantre n ilat untu putera-puteri mere a. Semuanya dipandu oleh mahasiswa dan mahasisw i Al Azhar. Masalah yang dihadapi KBRI Cairo tida serumit yang dihadapi oleh KB RI di Saudi Arabia misalnya, yang setiap hari berurusan dengan TKI atau TKW deng

an setumpu masalahnya yang sangat memua an. Misalnya, tida dibayar maji an, d isi sa maji an, diper osa maji an, diperla u an seperti buda oleh maji an, diha mili oleh sesama tenaga erja dari Indonesia, ditang ap polisi arena tida puny a izin tinggal resmi, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya. Masjid Indonesia yang dibangun oleh para pejabat KBRI bah an telah memili i perp usta aan yang cu up mengasyi an bagi putera-puteri mere a. Manajemen masjidnya lumayan bai . Te s hutbah Jum atnya dibu u an tiap tahun. Masjid Indonesia bah an biasa menjadi tempat re reasi para mahasiswa yang ingin melepas penat pi iran. Mere a yang mayoritasnya tinggal di Nasr City, ji a merasa bosan bisa main e Do i. Silaturrahmi e rumah pejabat KBRI yang di enal. Atau e Masjid Indonesia y ang terleta di Mousadda Street. Pergi e Do i pada hari Jum at sangat tepat. Sel ain shalat Jum at bersama dan bersilaturrahim dengan sesama orang Indonesia, usai shalat Jum at biasanya ada ma an bersama di bela ang masjid. Ma anan disedia an ol eh para pejabat KBRI muslim secara bergiliran. Ji a eadaan ini terus bertahan n iscaya sangat indah untu di isah an dan di enang. Usai ma an, a u mela u an rutinitas u di depan omputer. Mengalihbahasa an itab berbahasa Arab e dalam bahasa Indonesia. Kali ini yang a u garap adalah itab lasi arya Ibnu Qayyim, yaitu itab Miftah Daris Sa adah. Dua jilid besar. Kitab berat. Menggarap itab ini benar-benar menguras pi iran dan tenaga. A u harus e stra serius dan hati-hati pada saat Ibnu Qayyim membahas masalah ilmu perbintan gan, horos op, pengaruh planet-planet, ramalan nasib, dan lain sebagainya. Bahas a ilmu fala dan astronomi adalah bahasa yang tida mudah. A u terpa sa membu a amus lasi ber ali- ali. Apalagi bahasa yang dipa ai Ibnu Qayyim adalah bahasa Arab lasi . Itu saja tida cu up, harus juga didampingi dengan amus dan bu u astronomi modern. Dan tat ala yang ditulis Ibnu Qayyim telah terang ma sudnya, a u bagai an menemu an mutiara tida ternilai harganya. Ibnu Qayyim ternyata juga seorang astronom yang luar biasa. Menerjemah an sebuah itab lasi ter adang terasa sangat menjemu an. Namun eti a rasa jemu bisa teratasi egiatan itu a an berubah menjadi sebuah re reasi yan g sangat mengasyi an. Andai an Ibnu Rusyd masih hidup, a u ingin bertanya, rasa nya seperti apa eti a dia sedang menerjemah an arya- arya Aristoteles. Dan sep erti apa rasanya eti a telah selesai semuanya? Malam ini jadwal u sampai jam dua belas. Berhenti eti a shalat Isya. A hir bula n nas ah harus sudah a u irim e Ja arta. Setelah itu ada dua bu u yang siap di terjemah. Bu u ontemporer, bahasanya lebih mudah. Seorang teman pernah mencibir diri u, bahwa menjadi penerjemah sama saja menjadi mesin pengalih bahasa. A u t a peduli dengan segala cibiran mere a. A u merasa ni mat dengan apa yang a u e rja an. A u bisa belajar menambah ilmu, mentransfer ilmu pengetahuan dan berarti i ut serta mencerdas an bangsa. A u bisa ber arya, se ecil apa pun bentu nya. B erda wah, dengan emampuan seadanya. Dan yang terpenting a u bisa hidup mandiri dengan royalti yang a u terima. Tida seperti mere a yang bisanya mencibir saja. Menuruti ata orang tida a an pernah ada habisnya. Kamu tida a an mung in bis a memenuhi segala esesuaian dengan hati semua manusia! Kata- ata Imam Syafii me ngingat an diri u. * * * Pu ul 22.00 wa tu Cairo. Handphone- u berdering. Ada sms masu . Dari Musthafa, t eman Mesir satu elas di pasca. Ia memberi an abar gembira, Mabru . Kamu lulus. Kamu bisa nulis tesis. Tadi sore pengumumannya eluar. A u merasa seperti ada hawa dingin turun dari langit. Menetes deras e dalam ubu n-ubun epala u lalu menyebar e seluruh tubuh. Se eti a itu a u sujud syu ur de ngan berlinang air mata. A u merasa seperti dibelai-belai tangan Tuhan. Setelah puas sujud syu ur u a u mengung ap an rasa gembira u pada teman-teman satu rumah . Mere a semua menyambut dengan riang gembira. Dengan tasbih, tahmid dan istighf ar. Dengan mata yang berbinar-binar. Ku ata an pada mere a, Malam ini juga ita syu uran. Kita beli firoh masywi50 dua. Leng ap dengan ashir mangga. Kita ma an nanti tengah malam, bersama-sama di sutuh sana. Bagaimana. Eh ra yu um51? Kalau ini sih usul yang susah ditola ! sahut Saiful senang. Siapa yang tida senan g diaja ma an ayam ba ar gratis. Ku eluar an uang lima puluh pound.

Biar a u sama Saiful saja yang beli. Mas Fahri sama Hamdi di rumah saja. Kalian m asih cape an arena perjalanan tadi siang. O ay? Rudi menawar an diri. O ay. Oh ya jangan cuma ashir mangga, beli juga tamar hindi ya? Jangan lupa! sahut Hamdi. Ia memang paling su a sama tamar hindi. Wa tu musim dingin saja ia menca ri tamar hindi, apa tida aneh. Beres bos, seru Saiful. Keduanya membu a pintu dan eluar. Mas a u buat sambal sama menana sedi it nasi ya? ata Hamdi. Sip. Kita buat bareng, sambut u sambil mengacung an edua jempol u. Memang, tanpa membuat sambal ala Indonesia urang mantap. Ayam ba ar Mesir tida pa ai sambal. Padahal ami berempat adalah orang yang doyan sambal, terutama Hamdi. Dia jebol an pesantren Lirboyo, harus pa ai sambal. 50 Ayam ba ar. 51 Apa pendapat alian. Saat melang ah e dapur a u teringat Mishbah. Tida adil rasanya ami berempat b erpesta tampa mengi utserta an dia. Namanya eluarga, eti a senang harus dirasa an bersama. A u tersenyum. Masalah yang mudah. Kutelpon Wisma. A u minta disamb ung an pada Mishbah. Kuberitahu an padanya orang satu rumah a an syu uran atas elulusan u. Ia berteria gembira, Mas apa a u pulang saja se arang? Pa ai ta si an cepat! Kerjamu sudah selesai? tanya u. Belum sih se arang a u lagi membuat estimasi dana sama Mas Khalid. Kalau begitu au selesai an saja pe erjaanmu. Kalau au pulang e Hadaye Helwan au a an terlalu cape . Begini saja A hi, au aja saja Mas Khalid istirahat e Babay atau e mana terserah. Aja ma an firoh masywi. Pa ai uangmu atau uangnya Mas Khalid dulu. Nanti a u ganti. Jadi adil, bagaimana? Kalau begitu siiip-lah Mas. Po o nya alfu mabru deh. Suaranya terdengar girang. A u tersenyum. Ah, musim panas yang menyenang an, mes ipun melelah an. Dalam segala musim, Tuhan selalu Penyayang. Itu yang a u rasa an. * * * Tepat tengah malam ami pergi e suthuh.52 Membawa ti ar, nampan besar, empat ge las plasti , ashir mangga, tamar hindi, dan dua bung us firoh masywi yang masih hangat dan sedap baunya. Kami benar-benar berpesta. Dua cidu nasi hangat digelar di atas nampan. Sambal ditumpah an. Lalu dua ayam ba ar di eluar an dari bung usnya. Ta lupa acar dan lalapan timun. Satu ayam untu dua orang. Se ali- ali ita jadi orang Mesir beneran, satu ayam untu dua orang, omentar Rud i. Kalau ini bu an ma an nasi lau ayam. Ini ma an ayam lau nasi. Nasinya di it se ali. Mbo ditambah di it, sambung Saiful. 52 Lantai apartemen paling atas dan menghadap langit (atap apartemen). Tujuannya memang ita ma an ayam ba ar. Nasi peleng ap saja untu melestari an bu daya Indonesia. Bagi yang mau tambah nasi ambil saja sendiri. Benar ngga Mas? sa hut Hamdi. Se arang bu an saatnya dis usi. Kalau mau dis usi beso Sabtu di Wisma Nusantara. Rudi presentatornya. Bismillah, ayo jangan banya cingcong langsung ita ganyan g saja! ucap u sambil mencomot daging ayam di hadapan u. Serta merta mere a mela u an hal yang sama. Kami ma an sambil ngobrol, di belai udara malam yang tida d ingin dan tida panas. Semilir seju . Keindahan musim panas memang pada wa tu ma lam. Kala langit cerah. Bulan terang. Bintang-bintang gemerlapan. Dan debu tida berhamburan. Meni mati suasana alam di atas suthuh apartemen sangat menyenang an. Nun jauh di sana cahaya lampu-lampu rumah dan gedung-gedung de at sungai Nil tampa ber erlap- erlip diterpa angin. Sayup-sayup ami mendengar bunyi irama m usi ra yat mengalun di ejauhan sana. Mung in ada yang sedang pesta. Alunan itu diting ahi puja-puji syair sufi. Sangat has senandung malam di delta Nil. Suasana nyaman ini a an jadi enangan tiada terlupa an. Dan ela eti a ami su dah embali e Tanah Air, ami pasti a an merindu an suasana indah malam musim p anas di Mesir seperti ini. Usai ma an ami tida langsung turun. Kami tetap berceng erama ditemani semilir

angin dari sungai Nil dan satu botol air segar tamar hindi. Kami bercerita tenta ng malam-malam ber esan yang pernah ami lewati. Rudi Marpaung yang berasal dari Medan mencerita an pengalamannya menginap bersama teman-temannya eti a masih a liyah di Brastagi. Menyewa vila dan mengada an shalat tahajjud bersama dalam din ginnya malam. Suasana jadi sema in asyi eti a Hamdi mengisah an pengalamannya yang menegang an selama tersesat di lereng Gunung Lawu selama dua hari. Kami berempat belas. Dibagi dalam dua elompo . Kami mencoba jalur baru. Kelompo ami istirahat terlalu lama. Kami mengejar elompo pertama. Sayang urang omp a . Kami bertiga tertinggal dan terlunta selama dua hari dalam hutan Gunung Lawu . Hanya pertolongan dari Allah yang membuat ami tetap hidup. Sedang an Saiful yang wa tu SMP pernah diaja ayahnya e Tur i bercerita tentang indahnya malam di telu Borporus. Ia bercerita detil telu Borporus. Lalu menga ja ami membayang an bagaimana Sultan Muhammad Al-Fatih merebut Konstantinopel dengan memindah an puluhan apal di malam hari lewat daratan dan menjadi an apa l itu jembatan untu menembus benteng pertahanan Konstantinopel. Di tengah asyi nya berceng erama, tiba-tiba ami mendengar suara orang ribut. Su ara lela i dan perempuan bersumpah serapah berbaur dengan suara jerit dan tangis seorang perempuan. Suara itu datang dari bawah. Kami e tepi suthuh dan melihat e bawah. Benar, di gerbang apartemen ami melihat seorang gadis diseret oleh seorang lela i hitam dan ditendangi tanpa ampun oleh seorang perempuan. Gadis yang diseret i tu menjerit dan menangis. Sangat mengiba an. Gadis itu diseret sampai e jalan. Ji a au tida mau mendengar ata- ata ami, jangan se ali- ali au inja rumah ami. Kami bu an eluargamu! sengit perempuan yang menendangnya. Kami enal gadis itu. Kasihan benar dia. Malang nian nasibnya. Namanya Noura. Na ma yang indah dan canti . Namun nasibnya selama ini ta seindah nama dan paras w ajahnya. Noura masih belia. Ia baru saja nai e ting at a hir Ma had Al Azhar put eri. Se arang sedang libur musim panas. Tahun depan ji a lulus dia baru a an ul iah. Sudah berulang ali ami melihat Noura dizhalimi oleh eluarganya sendiri. Ia jadi bulan-bulanan e asaran ayahnya dan dua a a nya. Entah enapa ibunya ti da membelanya. Kami heran dengan apa yang ami lihat. Dan malam ini ami meliha t hal yang membuat hati miris. Noura disi sa dan diseret tengah malam e jalan o leh ayah dan a a perempuannya. Untung tida musim dingin. Tida bisa dibayang an ji a ini terjadi pada punca musim dingin. Noura sesengu an di bawah tiang lampu mer uri. Ia dudu sambil mende ap tiang la mpu itu seolah mende ap ibunya. Apa yang ini dirasa an ibunya di dalam rumah. T ida ah ia melihat ana nya yang menangis tersedu dengan nada menyayat hati. Ta ada tetangga yang eluar. Mung in sedang lelap tidur. Atau sebenarnya terjaga ta pi telah merasa sudah sangat bosan dengan ejadian yang erap berulang itu. Ayah Noura yang bernama Bahadur itu memang eterlaluan. Bicaranya asar dan tida bi sa menghargai orang. Seluruh tetangga di apartemen ini dan masyara at se itar ja rang yang mau berurusan dengan Si Hitam Bahadur. Kulitnya memang hitam mes ipun tida sehitam orang Sudan. Hanya ami yang mung in masih sese ali menyapa ji a b erjumpa. Itu pun ami ter adang merasa jeng el juga, sebab eti a disapa e spres i Bahadur tetap dingin seperti algojo ulit hitam yang berwajah batu. Seja ami tinggal di apartemen ini belum pernah Si Mu a Dingin Bahadur tersenyum pada am i. Kalau suara tawanya yang terbaha -baha memang sering ami dengar. A u paling tida tahan mendengar perempuan menangis. Kuaja teman-teman turun e mbali e flat. Mere a bertanya apa yang harus dila u an untu menolong Noura. A u diam belum menemu an jawaban. A u masu amar, ubu a jendela, angin malam sem ilir masu . Noura masih terisa -isa di bawah tiang lampu. A u dan teman-teman t ida mung in turun e bawah menolong Noura. Mes ipun dengan sepatah ata untu m enghibur hatinya. Atau untu memberitahu an padanya bahwa sebenarnya ada yang pe duli padanya. Tida mung in. Ji a ada yang salah persepsi urusannya bisa penjara . Apalagi Si Hitam Bahadur bisa mela u an apa saja tanpa pertimbangan a al sehat nya. A u teringat Maria. Ia gadis yang bai hatinya. Rasa iba u pada Noura menggera an tangan u untu mencoba mengirim sms pada Maria. Maria. Apa au bangun. Kau dengar suara tangis di bawah sana? Kutunggu. Lima menit. Ta ada jawaban. Kuulangi lagi. Kutunggu lagi. Ada jawaban

. Ya a u bangun. A u mendengarnya. A u lihat dari jendela Noura memelu tiang lampu . Apa au tida asihan padanya? Sangat asihan. Apa au tida tergera untu menolongnya. Tergera . Tapi itu tida mung in. Kenapa? Si Hitam Bahadur bisa mela u an apa saja. Ayah u tida mau berurusan dengannya. Tida ah au bisa turun dan menye a air matanya. Kasihan Noura. Dia perlu seseora ng yang menguat an hatinya. Itu tida mung in. Kau lebih memung in an daripada ami. Sangat susah ula u an! Maria menola . Kumohon turunlah dan usaplah air matanya. A u paling tida tahan ji a ada perempu an menangis. A u tida tahan. Kumohon. Andai an a u halal baginya tentu a u a an turun mengusap air matanya dan membawanya e tempat yang jauh dari linangan air mata selama-lamanya. Untu yang ini jangan pa sa a u, Fahri! A u tida bisa! Kumohon, demi rasa cintamu pada Al-Masih. Kumohon! Bai lah, demi cinta u pada Al-Masih a an ucoba. Tapi au harus tetap mengawasi d ari jendelamu. Ji a ada apa-apa au harus berbuat sesuatu. Jangan uatir. Tuhan menyertai orang yang berbuat ebaji an. Benar dugaan u. Sebenarnya banya tetangga yang terbangun oleh teria an-teria an Bahadur dan jeritan Noura. Tapi mere a tida tahu harus berbuat apa. Pernah seo rang tetangga memanggil polisi, tapi Noura tida mau ayahnya diper ara an, Noura malah menga u dia yang salah dan ayahnya berha marah. Mau bagaimana? Noura sep ertinya tida mau dibela padahal apa yang dila u an ayahnya padanya telah melewa ti batas. Tuan Boutros, ayah Maria pernah menegur Si Hitam Bahadur atas perla ua nnya yang tida bai pada ana bungsunya. Tapi apa yang terjadi? Bahadur malah m elontar an sumpah serapah yang tida ena didengar telinga. Dari jendela a u melihat Maria berjalan mende ati Noura. Ia mema ai jubah biru tua. Rambutnya yang hitam tergerai ditiup angin malam. Maria lalu dudu di sampi ng Noura. Ia elihatannya berbicara pada Noura sambil mengelus-elus epalanya. N oura masih memelu tiang lampu. Maria terus berusaha. A hirnya ulihat Noura mem elu Maria dengan tersedu-sedu. Maria memperla u an Noura seolah adi nya sendiri . Sambil memelu Noura Maria menengo e arah u. A u menganggu an epala. Kulih at jam dinding, pu ul dua empat puluh lima menit. Teman-teman sudah terlelap. Me re a e enyangan ma an. Maria masih memelu Noura. Cu up lama mere a berpelu an. Maria melepas an pelu annya. Tangan anannya memenjet handphone-nya dan meleta an di telingannya. Handphone u menjerit. Maria bertanya, Se arang apa yang harus ula u an? Tida bisa ah au aja dia e amarmu? A u uatir Bahadur tahu. A u ya in dia sudah terlelap. Dan biasanya a an bangun se itar jam sepuluh pagi. Dia pe erja malam. Tadi jam setengah dua baru pulang terus membuat eributan. Bai lah a an ucoba. Tunggu! Se alian au buju Noura mencerita an apa yang sebenarnya dialaminya sela ma ini, agar ita semua para tetangga yang peduli pada nasibnya bisa menolongnya dengan bija sana. A an ucoba. Sebenarnya Maria bisa bicara langsung tanpa melalui handphone. Tapi dia harus be rsuara sedi it eras, dan itu a an mengganggu tetangga yang tidur. Maria memang tida seperti Mona dan Suzana, dua a a perempuan Noura yang genit dan eras bi caranya. Sering ali Mona atau Suzana memanggil orang di rumah mere a dari bawah dengan suara eras. Tida siang tida malam. Padahal rumah mere a hanya di lanta i dua tapi suaranya seperti memanggil orang di lantai tujuh. Kulihat Maria berhasil membuju Noura untu i ut dengannya dan berjalan memasu i gerbang apartemen. Hati u sedi it lega. Masih ada wa tu satu jam setengah sampa

i subuh tiba. Kupasang be er. A u ingin melelap an mata sebentar saja. * * * 4. Air Mata Noura Mes ipun cuma terlelap satu jam setengah, itu sudah cu up untu meremaja an selu ruh syaraf tubuh u. Setelah satu rumah shalat shubuh berjamaah di masjid, ami m embaca Al-Qur an bersama. Tadabbur sebentar, bergantian. Teman-teman sangat melest ari an egiatan rutin tiap pagi ini. Selama ada di rumah, membaca Al-Qur an dan ta dabbur tetap berjalan, mes ipun pagi ini ulihat mata Saiful dan Rudi mele mere m menahan antu . Usai tadabbur Saiful, Rudi, dan Hamdi merebah an diri di tempat tidur masing-mas ing. Di musim panas, arena malamnya pende , tidur selepas shubuh adalah hal bia sa bagi ebanya an mahasiswa Indonesia. Tida putera, tida puteri, semua sama. Wa bil husus para a tivis yang sering begadang sampai shubuh. Mere a para raja d an para ratu tidur pagi hari. Orang Mesir pun juga banya mela u an hal yang sam a. Begitu mendengar azan shubuh mere a yang tida mau berjamaah langsung shalat lalu tidur dan bangun se itar pu ul setengah sembilan. Kantor- antor dan instans i benar-benar membu a pelayanan setelah jam sembilan. To o-to o juga banya yang baru bu a jam sembilan. Mes ipun tida semua. Ada beberapa instansi dan to o ya ng telah bu a seja jam tujuh. Yang paling disiplin bu a pagi adalah warung penj ual roti isy dan ful.53 Mere a telah bu a seja pagi-pagi se ali. Kebiasaan tidur setelah shalat shubuh urang bai ini sering disindir para Imam. Dalam sebuah hutbah Jum at, imam muda ami, yaitu Syai h Ahmad Taqiyyuddin perna h mengata an, Seandainya Israel menggempur Mesir pada jam setengah tujuh pagi ma a mere a tida a an mendapat an perlawanan apa-apa. Mere a a an sangat mudah se ali memasu i ota Cairo dan membunuh satu per satu pendudu nya. Karena pada saat itu seluruh r a yat Mesir sedang terlelap dalam tidurnya dan baru a an benar-benar bangun pu u l sembilan. Kata- ata itu mung in tida seratus persen benar, tapi cu up mewa ili untu meng gambar an elengangan ota Cairo pada jam setengah tujuh di musim panas. Padahal pada saat yang sama, di Ja arta sedang sibu -sibu nya orang berang at erja, da n emacetan terjadi di mana-mana. 53 Roti Isy dan Ful adalah ma anan po o orang Mesir. A u termasu orang yang anti tidur langsung setelah shalat shubuh. A u tida mau ber ah yang dijanji an baginda Nabi di wa tu pagi lewat begitu saja. Hal ini ju ga utanam an pada teman-teman satu rumah. Jadi seandainya semalam begadang dan mata sangat lelah, tetaplah diusaha an shalat shubuh berjamaah, membaca Al-Qur an, dan sedi it tadabbur. Semoga yang sedi it itu menjadi ber ah. Barulah tidur. Ji a bisa tahan dulu sampai wa tu dhuha datang, shalat dhuha baru tidur. Kunyala an omputer untu embali menerjemah. Baru setengah halaman bel berbunyi . Ada tamu. Ternyata Tuan Boutros dan Maria. Kupersila an eduanya dudu . Fahri, maaf menganggu. Ada yang perlu ita bicara an, ata Tuan Boutros. Apa itu Tuan? Noura. Maria langsung menyahut, Begini Fahri. A u sudah berusaha eras. Tapi Noura tida mau mencerita an segalan ya. Dia hanya bilang telah diusir oleh ayah dan a a nya arena tida bisa mela u an hal yang ia tida bisa mela u annya. Hal yang ia tida bisa mela u an itu ma sudnya apa? tanya u. Ia tida mau menga u. Hanya itu yang bisa udapat. Kami se eluarga hanya bisa mem bantu sampai di sini. Terus terang sebelum Si Bahadur bangun, Noura harus sudah meninggal an rumah ami ? sahut Tuan Boutros. Bu annya ami tida peduli. Kau tentu tahu sifat Si Bahadur itu. Di samping itu N oura memang ingin pergi untu sementara. Ia elihatan eta utan dan cemas se ali . Ia tida mau ayahnya tahu alau ia ada di rumah ami, sambung Maria. Lantas apa yang harus ita la u an? tanya u. Untu itulah ami berdua emari. Mau tida mau, pagi ini Noura memang harus pergi

. Untu ebai an dirinya, dan untu ebai an seluruh penghuni apartemen ini. Ji a sampai ia masih ada di sini, ayahnya a an embali membuat eributan. Noura a a n jadi bulan-bulanan. Masalahnya, semua orang sudah bosan. Yang jadi pi iran am i adalah Noura harus pergi e mana. Kami tida tega dia pergi tanpa tujuan dan t anpa rasa aman, jelas Tuan Boutros. Anda benar Tuan Boutros. Dia harus pergi e suatu tempat yang aman dan tinggal di sana beberapa wa tu sampai eadaan membai . Hmm..apa ah dia tida punya sana s audara. Paman, bibi, atau nene misalnya? Di Cairo ini dia tida memili i siapa-siapa selain eluarga yang telah mengusirny a. Dia masih punya paman dan bibi. Tapi sangat jauh di Mesir selatan, de at Aswa n sana. Tepatnya di daerah Naq El-Mamariya yang terleta beberapa puluh ilo di sebelah selatan Luxor. Bahadur dan isterinya yaitu Madame Syaima berasal dari sa na. Tapi Noura tida bisa e sana. Katanya, seingatnya ia baru dua ali e sana dan tida tahu jalannya. Ia tida bisa sendirian e sana, jawab Maria. Teman se olahnya? tanya u. Kami sudah memberi an saran itu padanya. Tapi Noura tida mau. Ia ingin pergi e tempat yang tida a an ditemu an ayah dan edua a a nya sementara wa tu. Seluru h rumah temannya telah di etahui ayahnya. Dia pernah diseret ayahnya saat tidur di rumah salah seorang temannya di Tha anat Maadi. Itu a an membuatnya malu pada setiap orang. Begitu atanya. A u mengerut an ening. Bagaimana dengan saudara atau enalan alian? Pasti alian punya saudara dan ena lan yang tida a an terlaca oleh ayahnya Noura. Dan itu bisa membantu Noura, sel oroh u. Tuan Boutros dan Maria sedi it aget mendengar usul u. Keduanya berpandangan. Fahri, mohon au mengertilah posisi ami. Sungguh ami ingin menolong Noura. Tapi menempat an Noura di rumah ami, atau rumah saudara dan enalan ami itu tida mung in ami la u an. Karena ini a an menambah masalah? Ma sud Tuan Boutros? Fahri, sebetulnya bisa saja ami membawa Noura e tempat saudara ami. Tapi alau nanti sampai etahuan Bahadur masalahnya a an runyam. Bah an alau ada orang ti da bertanggung jawab yang su a memancing i an di air eruh masalahnya bisa ber embang tida hanya antara ami dan Bahadur. Bisa lebih gawat dari itu. Kau an ta hu, ami se eluarga ini penganut Kristen Kopti . Bahadur se eluarga adalah musli m. Seluruh sana saudara dan olega ami yang paling de at adalah orang-orang Ko pti . Ji a Noura bersembunyi di rumah ami atau rumah saudara ami bisa mendatan g an masalah. Mes ipun ami tida mela u an apa-apa ecuali menyedia an tempat d ia berlindung. Kami nanti bisa dianggap mere ayasa meng-Kristen- an Noura. Kami harus menjaga perasaan Noura sendiri dan perasaan semuanya. Kau tentu tahu Noura siswi Ma had Al Azhar. Dia tentu a an merasa asing di rumah orang yang bu an satu eya inan dengannya. Dia a an merasa canggung untu shalat, membaca Al-Qur an dan lain sebagainya. Di rumah ami saja yang tetangganya, yang enal bai dengannya , dia merasa canggung. Untu shalat dia merasa tida ena . Tadi ami yang memper sila an dia untu shalat. Kami tida ingin ini terjadi pada Noura. Apa pun alasa nnya, yang paling bija adalah menempat an Noura di tempat orang yang satu eya inan dengannya. Yang bisa mengerti eadaannya. Terus terang untu ini ami minta bantuanmu. Mes ipun amu bu an orang Mesir tapi amu tentu punya enalan orang Mesir yang muslim. Menurut ami semua orang muslim itu bai ecuali Si Bahadur itu, jelas Maria panjang lebar. A u merenung an penjelasan Maria. Sungguh bija dia. Kata- ata adalah cerminan i si hati dan eadaan jiwa. Kata- ata Maria menyinar an ebersihan jiwanya. Sebesa r apa pun ei hlasan untu menolong tapi masalah a idah, masalah eimanan dan e ya inan seseorang harus dijaga dan dihormati. Menolong seseorang tida untu men ari seseorang mengi uti pendapat, eya inan atau jalan hidup yang ita anut. Me nolong seseorang itu arena ita ber ewajiban untu menolong. Titi . Karena ita manusia, dan orang yang ita tolong juga manusia. Kita harus memanusia an manus ia tanpa menyentuh sedi it pun emerde aannya meya ini agama yang dianutnya. Ta lebih dan ta urang. Ah, andai an umat beragama sedewasa Maria dalam memanusia an manusia, dunia ini tentu a an damai dan tida ada rasa saling mencurigai. Di am-diam a u bersimpati pada si ap Maria.

A u lalu berpi ir sejena mencari jalan eluar. Sebenarnya a u bisa e tempat S yai h Ahmad. Tapi masalahnya, wa tu sangat mendesa . Noura harus segera pergi se belum eluarganya bangun. Dan dia harus pergi sendiri, agar tida ada yang disal ah an, atau terseret e dalam pusaran masalahnya dengan eluarganya. A u teringa t sesuatu. Oh ya a u ada ide, ata u. Apa itu? tuan Boutros dan Maria menyahut bareng. Bagaimana alau sementara wa tu Noura tinggal di salah satu rumah mahasiswi Indon esia di Nasr City. Saya ira ini usul yang bagus. Mung in mahasiswi Indonesia itu bisa mende atinya dan Noura bisa mencerita an semua derita yang dialaminya. Setelah itu bisa dicar i an pemecahan bersama yang lebih bai . Sebab dia elihatannya sudah benar-benar dimusuhi eluarganya. Noura ber ata, bah an ibunya sendiri yang dulu sering mem belanya ini berbali i ut memusuhinya. Kita tida tahu apa yang terjadi pada No ura sebenarnya, ujar Maria. Bai lah a u a an menghubungi seorang mahasiswi Indonesia di Nasr City. Lebih cepat lebih bai . Wa tunya sema in sempit. A u langsung bergegas mengambil gagang telpon dan memutar nomor rumah Nurul, Ket ua Wihdah, indu organisasi mahasiswi Indonesia di Mesir. Seorang temannya berna ma Farah yang menerima, memberitahu an Nurul baru sepuluh menit tidur, sebab tad i malam ia bergadang di se retariat Wihdah. Tolong, ini sangat mendesa ! pa sa u. A hirnya beberapa menit emudian Nurul berbicara, Ada apa sih Ka . Tumben nelpon emari? A u lalu mengutara an ma sud u, meminta bantuannya, agar bisa menerima Noura ber sembunyi di rumahnya beberapa hari. Mula-mula Nurul menola . Ia ta ut ena masal ah. Di samping itu, tinggal bersama gadis Mesir belum tentu mengena an. A u jel as an ondisi Noura. A hirnya Nurul menyerah dan siap membantu. Begini saja Ka Fahri. Si Noura suruh turun di depan Masjid Rab ah. A u dan Farah a an menjemputnya tepat pu ul setengah sembilan. Bai lah. Hasil pembicaraan u dengan Nurul a u jelas an pada Tuan Boutros dan Maria. Mere a tersenyum lega. Mere a mengaja u e atas e flat mere a untu menjelas an seg alanya pada Noura. Di ruang tamu rumah Tuan Boutros, Noura menundu dengan wajah sedih. Ada be as biru lebam di pipinya yang putih. Matanya memerah arena terla lu banya menangis. A u meya in an, dia a an aman di tempat Nurul. Mere a semua mahasiswi Al Azhar dari Indonesia yang halus perasaannya dan bai -bai semua. No ura mengucap an terima asih atas pertolongan dan meminta maaf arena merepot an . Kujelas an di mana dia a an dijemput Nurul dan Farah. Biar cepat, au nai metro sampai Ramsis. Setelah itu nai Eltramco jurusan Hayyu l Asyir atau Hayyu Sabe yang lewat masjid Rab ah. Turun di masjid Rab ah dan cari dua mahasiswi Indonesia. Kau tentu tahu an mu a orang Indonesia. Nurul mema ai aca mata jilbabnya panjang. Farah tida pa ai aca mata, dia su a jilbab ecil. Dit unggu setengah sembilan tepat. Ini nomor telpon rumahnya, ata u sambil menyerah an selembar ertas bertulis an nomor telpon dan selembar uang dua puluh pound. Te rimalah untu ong os perjalanan dan untu menelpon alau ada apa-apa. Noura terlihat ragu. Jangan ragu. A u tida berma sud apa-apa. Kita ini satu atap dalam payung Al Azha r. Sudah selaya nya saling menolong, ata u meya in an. Noura, terimalah. Fahri ini orang yang bai . Dia hafal Al-Qur an. Apa amu tida pe rcaya dengan orang yang hafal Al-Qur an? ucap Maria meya in an Noura. A hirnya Noura mau menerima ertas dan uang dua puluh pound itu dengan mata berl inang. Bibirnya bergetar mengucap an rasa terima asih. Pagi itu juga Noura perg i e Nasr City dengan lang ah gontai. Saat menatap Maria ia mengucap an rasa ter ima asih dan berusaha tersenyum. * * * Pu ul sembilan Nurul menelpon, Noura sudah berada di tempatnya. Dia minta saya d atang, sebab ada seorang anggota rumahnya yang belum bisa menerima Noura tinggal di sana. Terpa sa saat itu juga a u meluncur e Nasr City. Sampai di sana a u m enjelas an panjang lebar apa yang menimpa Noura. A u jelas an penderitaannya sep

erti yang telah ber ali- ali a u lihat. Tentang ayahnya, ibunya dan a a peremp uannya yang tiada henti menyi sa fisi dan batinnya. Tentang betapa bai nya elu arga Maria dan betapa dewasanya mere a menyaran an agar Noura tinggal di rumah o rang yang seiman dengannya agar lebih at home. Mendengar itu semua mere a meniti an air mata dan siap menerima Noura. Dari Nasr City a u langsung e ampus Al Azhar di Maydan Husein. Langsung e syu u n thullab dirasat ulya.54 Mere a mengucap an selamat atas elulusan u. A u dimin ta segera mempersiap an proposal tesis. Setelah itu a u e to o bu u Dar El-Sala m yang berada di sebelah barat ampus, tepat di samping Khan El-Khalili yang san gat ter enal itu. Untu melihat bu u-bu u terbaru Dar El-Salam adalah tempat yan g paling tepat dan nyaman. Bu u terbaru Prof. Dr. M. Said Ramadhan El-Bouthi men ari untu dibaca. Kuambil satu. Keluar dari Dar El-Salam matahari sudah sangat tinggi mende ati pusar langit. Ud ara sangat panas. Ta jauh dari Dar El-Salam ada penjual tamar hindi. A u ta bi sa menge ang einginan u untu minum. Satu gelas saja rasanya luar biasa segarny a. A u pulang lewat Attaba. A u teringat jadwal belanja. Kusempat an mampir di p asar ra yat Attaba. Dua ilo rempelo ayam, satu ilo ibdah55 dan dua ilo suguq 56 u ira cu up untu lau beberapa hari. Begitu masu mahattah metro, azan zhuhur ber umandang. Dalam perjalanan, panas m atahari embali memanggang. Sampai di rumah pu ul dua urang seperempat. A u mas u amar dengan ubun-ubun epala terasa mendidih. Musim panas memang melelah an. Sampai di flat a u langsung teler. Telentang di arpet dengan dada telanjang me ni mati belaian hawa seju yang dipancar an ipas angin esayangan yang membuat u terlelap sesaat. Dalam lelap, a u melihat Noura di puca Sant Catherin, Jabal Tursina. Ia melepas jilbabnya, rambutnya pirang, wajahnya bagai pualam, ia tersenyum pada u. A u a get, bagaimana mung in Noura berambut pirang, padahal ayah dan ibunya mirip oran g Sudan. Hitam dan rambutnya negro. A u menatap Noura dengan heran. Lalu Nurul d atang. Ia menangis pada u, lalu marah-marah pada Noura. A u terbangun membaca ta a wudz dan beristighfar ber ali- ali. Jam setengah tiga. A u belum shalat. Setan m emang su a memanfaat an elemahan manusia. Ta pernah merasa asihan. Untung wa tu zhuhur masih panjang. A u beranja untu shalat. 54 Syuun thullab dirasat ulya: Bagian yang mengurusi mahasiswa pascasarjana. 55 Hati. 56 Semacam sausage, bentu nya bundar memanjang. Usai shalat a u embali menelentang an badan. Kali ini di atas tempat tidur, ent ah enapa epala u terasa nyut-nyut. Atau mung in arena elelahan dua hari ini. Mimpi bertemu Noura masih ada dipi iran. Juga Nurul, enapa ia menangis dan mar ah. Apa ah ini hanya ebetulan, atau jangan-jangan betulan. A u jarang se ali be rmimpi yang bu an-bu an. Mimpi bertemu perempuan bagi u adalah mimpi yang bu anbu an. A u masih bisa menghitung berapa ali a u bermimpi bertemu perempuan. Ta ada sepuluh ali. Semuanya bertemu perempuan yang satu, yaitu ibu u. Kali ini a u bertemu Noura yang memperlihat an rambutnya yang pirang dan Nurul yang menang is dan marah. Yang upi ir an adalah Nurul. Apa ah Nurul sejatinya menerima eha diran Noura dengan terpa sa. Hati u tida tenang. A u bang it. Tida jadi tidur lagi. Kutelpon Nurul. Tida ada acara Nur? Sore ini tida ada Ka . Jadwalnya istirahat. Bagaimana dengan Noura? Bai . Dia se arang sedang tidur di amar u. Benar atamu Ka , dia memang patut di asihani. Punggungnya penuh lu a cambu . Benar ah? Ya. Apa dia sudah bercerita banya pada alian? Belum. Masih dalam taraf mencoba saling enal. Tapi dia tida tahan merasa an sa it di punggungnya a hirnya dia sedi it bercerita alau ayahnya su a mencambu nya dengan i at pinggang. Ayah yang ejam! Sudah dibawa e do ter? Belum, rencananya nanti sore. Nur, boleh a u tanya sedi it. Ini soal pribadi.

Apa itu Ka ? Apa au sedang marah? Marah enapa? Karena Noura. Apa alian menerimanya dengan terpa sa? Jangan suudhan pada saya dan teman-teman Ka . Keberadaan Noura di sini tida ada masalah o . Kenapa sih Ka a terlalu berprasang a begitu? Ya a u uatir saja alian merasa terganggu dan direpot an. Ngga . Ngga apa-apa. Sure ngga apa-apa. Jangan uatir! Syu ran alau begitu. Afwan. Benar, tadi itu yang datang dalam lelap u dari setan. Nurul tida apa-apa. Suaranya juga bening ceria seperti biasa. Tida ada rasa jeng el atau marah sedi it pun. Se arang Noura berambut pirang. Benar ah? Selama ini a u tida pernah m elihat Noura lepas jilbab. Dari mana a u a an cari info. Tanya pada ibu atau ed ua a a nya, gila apa. Tanya Maria. Ya Maria, mung in dia tahu. A u bali e am ar. Mengambil handphone dan mengirim pesan pada Maria. Maria boleh tanya? Lima menit emudian, Boleh. Tanya apa? Jangan aget ya? Mung in pertanyaan aneh. Apa itu? Apa Noura berambut pirang? Pertanyaanmu memang aneh. Jawabnya ya, dia berambut pirang. Kenapa au tanya an i tu? Ingin tahu saja. Tapi ji a dia berambut pirang memang aneh. Aneh bagaimana? Orang Mesir biasa berambut pirang. Bu an itu ma sud u. Bu an ah ayah dan ibunya seperti orang Sudan? Hitam dan beram but negro? Kau ingin mengata an Noura bu an ana mere a. Entahlah. Ini hanya firasat. Tapi firasatmu mung in ada benarnya. Hanya Tuhan yang tahu. A u embali menelentang an badan di atas asur. Saatnya tidur. Baru dua deti ma ta terpejam, handphone u menjerit. Nomor ta u enal. Siapa ya? Kuang at, Assalamu alai um. Suara bening perempuan. Logatnya aga aneh. Siapa ? Wa aila umussalam. Ini siapa ya? jawab u bali bertanya. Sind Sie Herr Fahri? 57 Dia malah bali bertanya dengan bahasa Jerman. A u langsung teringat perempuan bercadar biru muda yang emarin bertemu di dalam metro. Dia pasti Aisha. Ja. Sie Aisha? jawab u dengan bahasa Jerman. Ja. Herr Fahri, haben Sie zeit?58 Pertanyaannya mengandung ma sud mengaja bertemu . Heute? 59 Ja. Heute, ba da shalat el ashr. 60 A u ingin tertawa mendengar dia mencampur bahasa Jerman dengan bahasa Arab. Tapi memang tepat. Kata- ata shalat sejatinya susah diterjemah an e dalam bahasa la in secara pas. Nein dan e, heute ba da shalat el ashr habe ich leider eine Zeit! Ich habe schon e ine verabredung! 61 Ma sud u adalah janji pada jadwal untu menerjemah. Aisha lalu menjelas an ia ingin bertemu dengan u secepatnya. Ia minta a u bisa m eluang an sedi it wa tu. Karena sangat penting. Ber aitan dengan Alicia yang at anya ingin berbincang seputar Islam dan ajaran moral yang dibawanya. Alicia ingi n se ali bertanya banya hal pada u seja ejadian di atas metro itu. Aisha memo hon dengan sangat, sebab menurutnya ini esempatan yang bai untu menjelas an I slam yang sebenarnya pada orang Barat. Aisha mengata an Alicia seorang reporter berita. Ia wartawan dan ini esempatan emas. Mau ta mau a u mengiya an dan mena war an bagaimana ji a bertemu beso . Ia senang se ali mendengarnya. Kami membuat esepa atan bertemu di mahattah metro bawah tanah Maydan Tahrir tepat jam seten

gah sebelas. A u minta padanya untu datang tepat wa tu. Ia tertawa. Sedi it ia melede , bu an ah seharusnya dia yang meminta pada u untu datang tepat wa tu. A u tersenyum ecut. Memang orang Indonesia ter enal jam aretnya. A u tida sang a alau orang seperti Aisha tahu a an hal itu. A u tida perlu bertanya padanya dari mana ia tahu itu. Sebuah pertanyaan bodoh di dunia global seperti se arang ini. Bu an ah dengan ecanggihan te nologi jarum jatuh di peloso Merau e sana bisa terdengar sampai e New Yor dan e seluruh penjuru dunia? 57 Apa ah Anda Tuan Fahri. 58 Tuan Fahri, apa ah au punya wa tu? 59 Hari ini? 60 Ya. Hari ini setelah shalat ashar. 61 Tida , terima asih, sayang a u tida ada wa tu selepas shalat ashar! A u pun ya janji. A u langsung menulis janji bertemu Aisha pada planning egiatan eso hari. Terny ata padat. Beso jadwal hutbah di masjid Indonesia. Berarti nanti malam mempers iap an bahan hutbah. Pagi di eti dan langsung di-print. Lantas istirahat. Tida e mana-mana. Tida juga sepa bola. Untu stamina hutbah. Kalaupun ingin mel a u an sesuatu lebih bai menerjemah beberapa halaman. Jam sembilan berang at. S ampai di Tahrir ira- ira jam sepuluh. Kalau misalnya metro sedi it terlambat, a u bisa tetap datang tepat wa tu. Lantas berbincang dengan Aisha dan Alicia samp ai jam sebelas. Setelah itu pergi e Do i untu hutbah. A u harus datang di aw al wa tu biar tida gugup. Begitu rencananya. Ji a tida dibuat outline yang jel as seperti itu a an membuat hidup tida terarah dan banya wa tu terbuang percum a. Kulihat alender. Melihat alender adalah hal yang paling usu a. Karena bagi u dengan melihatnya optimisme hidup itu ada. Jum at tanggal sembilan dan Sabtu tanggal sepuluh. Ada tanda pada tanggal sepuluh. Hmm.. apan a u memberi tanda dan untu apa? Jangan-jangan a u ada janji dengan seseorang. A u berusaha mengingat-ingat. Rancangan egiatan satu bulan a u lihat . Juga tida ada janji husus. Terus itu tanda apa ya? Hari Minggunya, tanggal s ebelas juga ada tanda yang sama. Dua hari berturut-turut. A u teringat sesuatu. Ya itu tanda yang a u bubuh an tiga bulan lalu begitu tahu tanggal lahir seluruh eluarga Tuan Boutros. A u berniat memberi an hadiah untu mere a, tepat di har i ulang tahun mere a. Madame Nahed, ibunya Maria, ulang tahun tanggal 10 Agustus . Si Yousef adi lela i Maria tanggal 11 Agustus, satu hari setelah ibunya. Seda ng an Tuan Boutros 26 O tober, dan Maria 24 Desember. Tanggal-tanggal itu telah a u beri tanda. A u paling su a memberi ejutan pada teman atau enalan. Teman s atu rumah sudah mendapat an hadiah mere a pada hari istimewa mere a. Berarti bes o egiatannya bertambah satu, mencari an hadiah untu Madame Nahed dan Yousef. Hadiah yang sederhana saja. Se adar untu memberi an rasa senang di hati tetangg a. Tiba-tiba a u berpi ir ingin memberi an hadiah pada Si Mu a Dingin Bahadur, a yah Noura yang mirip orang Sudan itu. Apa rea sinya ira- ira? * * * 5. Pertemuan di Tahrir Jam 10.10 a u sampai di mahattah metro bawah tanah Maydan Tahrir. Sesuai dengan janji, ami a an bertemu di jalur metro menuju Giza Suburban. Tempatnya lebih ny aman. Lebih indah. A u mencari tempat dudu yang paling mudah dilihat. Janjinya tepat setengah sebelas. A u datang dua puluh menit lebih awal. Sambil menunggu a u membaca embali bahan hutbah yang telah upersiap an. Keadaan mahattah tida terlalu ramai. Menjelang shalat Jum at seperti ini biasanya memang aga lengang. Seorang polisi bersiaga dengan senjata di pinggang. Petugas ebersihan berseraga m menyapu pelan-pelan. Seorang perempuan berjubah hitam bercadar hitam datang. K u ira dia Aisha, ternyata bu an. Perempuan itu tida melihat e arah u sama se a li. Begitu metro datang, ia langung nai dan hilang. Sudah pu ul sebelas Aisha belum juga datang. A u a an menunggu sampai seperempat jam e depan ji a ia tida datang a u a an langsung pergi e Do i. Pu ul sebel as lima menit ada seorang perempuan berabaya co elat tua dengan jilbab dan cadar di epalanya. Ia melang ah tergesa e arah u. Ia mengucap an salam dan a u menj awabnya.

Nehmen Sie platz! 62 upersila an dia dudu . Dan e schon. 63 Selorohnya sambil bergera dudu di samping anan u. Bitte. 64 Aisha melihat jam tangannya. Dia minta maaf datang terlambat. A u hanya tersenyu m. Kami lalu mulai berbincang-bincang. Aisha memilih pa ai bahasa Jerman. Wo ist Alicia? 65 Tanya u arena a u tida juga melihat bule Ameri a itu datang. Insya Allah, dia a an datang sepuluh menit lagi. Dia sedang dalam perjalanan dari wawancara dengan Ibrahem Nafe , Pemimpin Reda si Harian Ahram. 62 Sila an dudu . 63 Terima asih banya . 64 Kembali. 65 Di mana Alicia? A u bisa mema lumi, namun a u perlu menjelas an padanya bahwa tepat setengah dua belas a u harus meninggal an Tahrir. Se ali lagi Aisha minta maaf atas eterlam batannya dan eterlambatan Alicia. Dalam hati a u senang, bahwa memang perlu se ali- ali orang Barat minta maaf pada orang Indonesia, arena mere a datang tida tepat wa tu. Ma anya, jangan main-main dengan murid Syai h Utsman yang ter enal disiplin. Semoga lima belas menit cu up bagi Alicia untu mendapat an jawaban atas etida t ahuannya a an Islam, ata Aisha dengan nada sedi it menyesal. Sebetulnya saya senang diaja berbincang untu menjelas an eindahan Islam. Tapi ali ini saya ada jadwal hutbah. Maaf an saya. Kalau wa tunya tida cu up, anggaplah ini pertemuan pengantar saja. Semoga Anda t ida eberatan seandainya Alicia minta wa tu lagi, entah apan. Insya Allah. Dengan senang hati. Aisha lalu bertanya-tanya tentang saya. Tentang Indonesia. Tentang Jawa. Dia pun sempat sedi it mengenal an dirinya. Dia baru empat bulan di Cairo. Tujuannya un tu belajar bahasa Arab dan memperbai i bacaan Al-Qur annya. Di Jerman ia sudah ti ng at a hir Fa ultas Psi ologi. Ayahnya asli Jerman. Ibunya asli Tur i. Dari ibu nya ia memili i darah Palestina. Sebab nene nya atau ibu ibunya adalah wanita as li Palestina. Ibunya bilang, nene nya lahir di Giza. A u bertanya seja apan me ma ai jilbab dan cadar. Ia menjawab mema ai jilbab seja SMP dan mema ai cadar s eja tiba di Mesir, mengi uti bibinya. Sementara ia memang tinggal di Maadi bers ama bibi dan pamannya. Bibinya sedang S.2. di Kuliyyatul Banat Universitas Al Az har, beliau adi bungsu ibunya. Sedang an pamannya sedang S.3., juga di Al Azhar . A u mengenal beberapa orang Tur i yang ada di program pascasarjana. A u tering at sebuah nama. A u enal seorang mahasiswa Tur i. Dia cu up a rab dengan u. Dia pernah bilang ti nggal di de at Kentuc y Maadi, mung in pamanmu enal, ata u. De at Kentuc y? Siapa namanya? Coba nanti a u tanya an pada paman, Aisha penasaran . Namanya Eqbal Ha an Erba an? Siapa? Eqbal Ha an Erba an. La ilaaha illallah! Kenapa? Itu paman u. So ein zufall!66 Dunia begitu sempit bu an? Ta u ira au enal paman u. Sampai an salam u untu nya. Kata an saja dari Fahri Abdullah Shiddiq, teman i ti af di masjid Helmeya Zaitun tahun lalu. Juga sampai an salam u pada bibimu dan ed ua puteranya yang lucu; Amena dan Hasan. Insya Allah dengan senang hati. Dari ejauhan a u melihat seorang perempuan bule datang. Apa ah dia Alicia? Kelihatannya. Penampilannya memang berbeda dengan wa tu a u melihatnya di metro dua hari yang lalu. Se arang tampa lebih sopan. Mema ai hem lengan panjang. Tida aos etat dengan bagian perut terlihat. Ia menyapa ami dengan tersenyum. Aisha menjelas a n wa tu yang ada sangat sempit, arena jam setengah dua belas a u harus cabut e

Masjid Indonesia di Do i. Alicia bisa mengerti dan minta maaf atas eterlambat an. Ia langsung membu a dengan sebuah pertanyaan, Begini Fahri, di Barat ada sebuah opini bahwa Islam menyuruh seorang suami memu u l isterinya. Katanya suruhan itu terdapat dalam Al-Qur an. Ini jelas tinda an yang jauh dari beradab. Sangat menghina martabat aum wanita. Apa ah au bisa menjel as an masalah ini yang sesungguhnya? Benar ah opini itu, atau bagaimana? A u menghela nafas panjang. A u tida aget dengan pertanyaan Alicia itu. Opini yang sangat mendis redit an itu memang sering ali dilontar an oleh media Barat. Dan arena etida mengertiannya a an ajaran Islam yang sesungguhnya banya masya ra at awam di Barat yang menelan mentah-mentah opini itu. Dengan emampuan yang ada a u berusaha menjelas an sebenarnya. A u berharap Alicia bisa memahami bahas a Inggris u dengan bai , 66 Sungguh suatu ebetulan. Tida benar ajaran Islam menyuruh mela u an tinda an tida beradab itu. Rasululla h Saw. dalam sebuah haditsnya bersabda, La tadhribu imaallah! 67 Ma nanya, Jangan lian pu ul aum perempuan! Dalam hadits yang lain, beliau menjelas an bahwa sebai -bai lela i atau suami adalah yang berbuat bai pada isterinya.68 Dan memang, di dalam Al-Qur an ada sebuah ayat yang memboleh an seorang suami memu ul isteriny a. Tapi harus diperhati an dengan bai untu isteri macam apa? Dalam situasi sep erti apa? Tujuannya untu apa? Dan cara memu ulnya bagaimana? Ayat itu ada dalam surat An-Nisa, tepatnya ayat 34: Sebab itu, ma a Wanita yang saleh ialah yang ta'at epada Allah lagi memelihara d iri eti a suaminya tida ada, oleh arena Allah telah memelihara (mere a). Wani ta-wanita yang amu uatir an nusyuznya, ma a nasihatilah mere a dan pisah anlah mere a dari tempat tidur dan pu ullah mere a. Kemudian ji a mere a mentaatimu, ma a janganlah amu mencari-cari jalan untu menyusah annya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar. Jadi seorang suami diperboleh an untu memu ul isterinya yang telah terlihat tan da-tanda nusyuz. Alicia menyela, Nusyuz itu apa? Nusyuz adalah tinda an atau perila u seorang isteri yang tida bersahabat pada su aminya. Dalam Islam suami isteri ibarat dua ruh dalam satu jasad. Jasadnya adala h rumah tangga. Keduanya harus saling menjaga, saling menghormati, saling mencin tai, saling menyayangi, saling mengisi, saling memulia an dan saling menjaga. Is teri yang nusyuz adalah isteri yang tida lagi menghormati, mencintai, menjaga d an memulia an suaminya. Isteri yang tida lagi omitmen pada i atan suci perni a han. Ji a seorang suami melihat ada gejala isterinya henda nusyuz, henda menod ai i atan suci perni ahan, ma a Al-Qur an memberi an tuntunan bagaimana seorang su ami harus bersi ap untu mengembali an isterinya e jalan yang benar, demi menye lamat an eutuhan rumah tangganya. Tuntunan itu ada dalam surat An-Nisaa ayat 34 tadi. Di situ Al-Qur an memberi an tuntunan melalui tiga tahapan, 67 Hadits shahih diriwayat an oleh Imam Abu Daud, Nasai dan Ibnu Majah. 68 Sebagaimana diriwayat an oleh Imam Tirmidzi dan Ibnu Hibban. Pertama, menasihati isteri dengan bai -bai , dengan ata- ata yang bija sana, a ta- ata yang menyentuh hatinya sehingga dia bisa segera embali e jalan yang lu rus. Sama se ali tida diper enan an mencela isteri dengan ata- ata asar. Bagi nda Rasulullah melarang hal itu. Kata- ata asar lebih menya it an daripada tusu an pedang. Ji a dengan nasihat tida juga mempan, Al-Qur an memberi an jalan edua, yaitu pis ah tempat tidur dengan isteri. Dengan harapan isteri yang mulai nusyuz itu bisa merasa dan interospe si. Seorang isteri yang benar-benar mencintai suaminya dia a an sangat terasa dan mendapat an teguran ji a sang suami tida mau tidur deng annya. Dengan teguran ini diharap an isteri embali salehah. Dan rumah tangga te tap utuh harmonis. Namun ji a ternyata sang isteri memang bebal. Nuraninya telah tertutupi oleh haw a nafsunya. Ia tida mau juga berubah setelah diingat an dengan dua cara tersebu t barulah mengguna an cara etiga, yaitu memu ul. Yang sering tida dipahami oleh orang banya adalah cara memu ul yang di ehenda i Al-Qur an ini. Tida boleh sembarangan. Suami boleh memu ul dengan syarat: Pertama, telah mengguna an dua cara sebelumnya namun tida mempan. Tida diperb

oleh an langsung main pu ul. Isteri salah sedi it main pu ul. Ini jauh dari Isla m, jauh dari tuntunan Al-Qur an. Dan Islam tida bertanggung jawab atas tinda an elaliman seperti itu. Kedua, tida boleh memu ul mu a. Sebab mu a seseorang adalah segalanya bagi manu sia. Rasulullah melarang memu ul mu a. Ketiga, tida boleh menya it an. Rasulullah Saw. bersabda, Berta walah epada All ah dalam masalah perempuan (isteri). Mere a adalah orang-orang yang membantu al ian. Kalian punya ha pada mere a, yaitu mere a tida boleh menyentuh an pada te mpat tidur alian lela i yang alian benci. Ji a mere a mela u an hal itu ma a alian boleh memu ul mere a dengan pu ulan yang tida menya it an (ghairu mubrah) . Dan alian punya ewajiban pada mere a yaitu memberi riz i dan memberi pa aian yang bai . 69 Para ulama ahli fiqih dan ulama tafsir menjelas an riteria ghairu m ubrah atau tida menya it an yaitu tida sampai meninggal an be as, tida sampai me mbuat tulang reta , dan tida di bagian tubuh yang berbahaya ji a ena pu ulan. 69 Diriwayat an oleh Imam Muslim dalam itab Shahihnya. Dengan menghayati benar-benar andungan ayat suci Al-Qur an itu dan ma na hadits-h adits Rasulullah itu a an jelas se ali seperti apa sebenarnya ajaran Islam. Apa ah seperti yang dituduh an dan diopini an di Barat yang menghina an wanita? Apa ah tuntunan mulia seperti itu, yang bertujuan menyelamat an bahtera rumah tangga arena ada gejala isteri henda nusyuz, tida lagi bersahabat pada suaminya, he nda menodai i atan suci perni ahan dianggap tiada beradab? Kapan seorang suami diperboleh an memu ul? Pada isteri macam apa? Syaratnya memu ulnya apa saja? Tujuannya apa? Itu semua haruslah diperhati an dengan se sama. Memu ul seorang isteri jahat ta tahu diri dengan pu ulan yang tida menya it an agar ia sadar embali demi eutuhan rumah tangga, apa ah itu tida jauh lebih m ulia daripada membiar an isteri berbuat seena nafsunya dan menghancur an rumah tangga? Ya inilah ajaran Islam dalam mensi api seorang isteri yang berperila u tida ter puji. Islam sangat memulia an perempuan, bahwa di telapa a i ibulah surga ana lela i. Hanya seorang lela i mulia yang memulia an wanita. Demi ian Islam menga jar an. Rasanya sudah cu up panjang a u menjelas an. Alicia tampa menganggu -anggu an epala. Se ilas ulihat mata Aisha ber aca- aca. Entah enapa. Sebenarnya a u in gin memapar an ratusan data tentang perla uan tida manusiawi orang-orang Eropa pada isteri-isteri mere a. Namun uurung an. Biarlah suatu saat nanti sejarah se ndiri yang membeber an pada Alicia dan orang-orang seperti Alicia. Di Inggris, b eberapa abad yang lalu isteri tida hanya boleh dipu ul tapi boleh dijual dengan harga beberapa poundsterling saja. Ada seorang Perdana Menteri Jepang yang meng ata an bahwa cara terbai memperla u an wanita adalah dengan menamparnya. Dengan bangga Perdana Menteri itu menga u sering menampar isteri dan ana perempuannya . Ia bah an menasihati suami puterinya agar tida segan-segan menampar isterinya . Untungnya Inggris dan Jepang bu an negara yang mayoritas pendudu nya muslim. J i a mere a negara Islam atau mayoritas pendudu nya muslim pastilah protes eras atas perla uan tida beradab pada perempuan itu a an datang bagai an gelombang b adai. A u menengo jam tangan. Pu ul 11.35. Maaf. A u harus pergi se arang. A u sudah terlambat lima menit dari rencana, ucap u pada Alicia dan Aisha sambil bang it dari dudu . Dari jawaban yang au beri an a u mendapat an masu an yang sama se ali baru a u m engerti. Sebenarnya masih ada banya hal yang ingin a u tanya an epadamu.Tentan g Islam memperla u an perempuan. Tentang Islam memperla u an non-Islam. Tentang Islam dan perbuda an dan lain sebagainya. Dan a u berharap a an mendapat an jawa ban yang bai dalam perspe tif yang adil, Alicia mengung ap an harapannya. Saya senang berjumpa dengan orang seperti Anda Nona Alicia. Sebisa mung in saya a an memenuhi harapan Anda itu, insya Allah. Tapi terus terang, bulan ini saya sa ngat sibu . Saya harus omitmen dengan jadwal yang telah ada. Anda tentu bisa me ma lumi. Apalagi saya sedang menyelesai an magister saya. Jadi terus terang saya a an berusaha mencuri-curi wa tu. Saya ada ide. Bagaimana alau semua pertanyaa n yang ingin Anda sampai an, Anda tulis saja dalam sebuah ertas. Anda print. Da n nanti serah an pada saya. Saya a an menjawabnya di sela-sela wa tu senggang sa

ya. Ji a sudah terjawab semua a an saya serah an embali pada Anda. Lalu ita be rtemu dalam suatu tempat dan ita dis usi an masalah yang belum clear. Bagaimana ? Saya ira ini ide yang bagus. Saya a an tulis an pertanyaan saya secepatnya. Dala m dunia jurnalisti wawancara tertulis lazim juga diguna an. Terus bagaimana it a bisa bertemu lagi. Mes ipun cuma sebentar untu menyerah an pertanyaan-pertany aan saya itu? A u berpi ir sesaat. Mengingat jadwal a u eluar. Anda se arang tinggal di mana? tanya u setelah a u ingat jadwal eluar dari Hadaye Helwan dalam wa tu de at. Saya menginap di Nile Hilton Hotel. Sampai apan? Kira- ira masih sembilan hari di Mesir. Bai . Bagaimana alau ita berjumpa beso Senin, tepat pu ul sebelas pagi? O ey. Di mana? Di afetaria National Library. Leta nya di Kornes Nil Street ta jauh dari hotel Anda. Semua orang Mesir di hotel Anda, yang Anda tanya pasti tahu. Bai lah. A u boleh datang an? sela Aisha. Tentu saja, jawab u dan Alicia hampir bersamaan. Kalau begitu a u pamit dulu. Bye! A u beranja pergi meninggal an eduanya tepat pada saat sebuah metro dari Shubr a El-Khaima datang. Perlahan berhenti. Perlahan-lahan terbu a. Kutunggu orang-or ang yang turun habis. Baru a u nai . Ada banya tempat dudu osong. A u pilih p aling de at. Dudu melihat e arah jendela. Masinis membunyi an tanda. Ding dung ...ding dung! Tanda metro sebentar lagi berjalan. Tiba-tiba a u mendengar suara seseorang perempuan menyapa u dengan bahasa Arab m inta izin dudu , Hal tasmahuli an ajlis! A u menengo e asal suara. Perempuan bercadar. Aisha! A u sedi it aget. A u me nggeser tempat dudu u. Aisha dudu di samping u. Mau e mana? tanya u. Kali ini ami berbincang dalam bahasa Arab. A u berusaha men gguna an alimat- alimat fusha yang mudah dipahami olehnya. Kuhindari bahasa amiy ah sama se ali. A u perlu i ut amu e Masjid Indonesia, jawabnya. Untu apa? Metro mulai berjalan. Dua menit lagi metro a an melintas di bawah sungai Nil. Sa yangnya pemandangan di luar jendela hanya gelap berseling cahaya lampu neon mene mpel di dinding terowongan. A u ingin tahu omunitas orang Indonesia di Mesir. Siapa tahu a u bisa dapat baha n untu tesis psi ologi sosial S.2.- u ela . A u lagi meleng api data tentang m asyara at Jawa. Jadi mumpung ada esempatan. A u tida a an melewat an begitu sa ja. Siapa tahu nanti di masjid ada mahasiswi atau muslimah Indonesia, a u bisa enalan. Dan beso -beso ji a a u ada perlu, bisa datang sendiri. O, begitu. Kalau ingin bertemu mahasiswi Indonesia, seandainya di masjid nanti ti da ada, namun semoga ada, insya Allah a u bisa bantu. Terima asih. A u dengar dari paman, di Nasr City banya mahasiswi Indonesia. Benar. Mahasiswa Asia Tenggara mayoritas tinggal di sana. Tadi au bilang mau buat proposal tesis. Boleh tahu rencananya tema apa yang hend a au garap? Mung in Metodologi Tafsir Syai h Badiuz Zaman Said An-Nursi. Ulama pembaru dari Tur i itu? Benar. Pasti a an sangat menari . Kebetulan eluarga ami di Tur i adalah pengi ut setia jamaah Syai h Said An-Nursi rahimahullah. A u tahu, Eqbal Ha an pernah cerita pada u. Di rumahnya banya bu u-bu u arangan Syai h An-Nursi. Ya. Suatu saat a u a an e sana ji a a u perlu data tambahan. Apa au ya in se arang tida perlu data tambahan? Untu se adar proposal mengaju an judul, onsepnya sudah matang dan tinggal saya eti . Saya sudah punya empat ratus referensi. Ji a diterima oleh tim penilai, b

arulah perlu bahan seleng ap-leng apnya untu penyusunan tesis. Semoga diterima. Ji a ela tesismu jadi siapa tahu bisa diterbit an di Tur i. Amin. Metro sampai di mahattah Do i. Kita turun? tanya Aisha. Tida , mahattah depan. Tapi tida ada salahnya siap-siap. Kami beranja e de at pintu. Kami berdiri berde atan. Di aca pintu metro a u m elihat bayangan u sendiri. Sama tingginya dengan Aisha. Mung in a u lebih tinggi sedi it. Satu atau dua sentimeter saja. Metro berjalan lagi. Ta lama emudian sampai di mahattah El-Behous. Antara mahattah Do i dan mahattah El-Behous jara nya memang tida terlalu jauh. Keduanya masih dalam satu awasan, yaitu awasan Do i. Metro berhenti. Kami turun. Mahattah El-Behous berada se itar dua puluh lima met er di bawah tanah. Dengan es alator ami nai e atas. Kami eluar e permu aan seperti vampire eluar dari sarangnya di siang bolong. Sinar matahari terasa san gat menyilau an. Panasnya menyengat dan menyi sa. Cepat-cepat uambil aca mata hitam dari tas cang long u. Lumayan, untu menyeju an ornea mata. A u berjalan dengan lang ah cepat menuju Mousadda Street. Aisha mengimbangi lang ah dua mete r di bela ang u. Kami diam seribu bahasa. 11.30.14 wa tu Cairo, ami tiba di Masjid Indonesia yang ta lain adalah lantai dasar sebuah gedung yang disebut Se olah Indonesia Cairo atau biasa disebut SIC. Lantai dasar itu cu up luas dan benar-benar laya disebut masjid. Beberapa ali Bapa Duta Besar Indonesia di Cairo mengundang diplomat negara lain yang muslim untu shalat Jum at di masjid ini. Dari gerbang masjid a u menang ap suara riuh a na -ana mengeja Al-Qur an. Mere a adalah putera-puteri para pejabat KBRI yang bel ajar mengaji dibimbing oleh mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang sedang belaja r di Al Azhar. Kupersila an Aisha masu . Kulihat ada dua elompo ana -ana mengaji. Di sebelah selatan de at mihrab, el ompo putera dibimbing oleh Fathurrahman dan Hasyim, eduanya mahasiswa Al Azhar yang mengabdi an diri menjadi ta mir. Di sebelah utara, elompo puteri dibimbi ng oleh seorang perempuan bercadar, a u tida tahu namanya dan seorang mahasiswi yang a u enal yaitu Nurul, Ketua Wihdah. Diam-diam a u salut pada Nurul. Mes i pun ia jadi etua umum organisasi mahasiswi Indonesia paling bergengsi di Mesir, tapi ia tida pernah segan untu menyempat an wa tunya mengajar ana -ana memba ca Al-Qur an. Setelah bersalaman dengan Fathurrahman dan Hasyim, uaja Aisha mene mui Nurul yang sedang mengajar, dan beberapa ali melihat e arah ami. Mung in ia heran melihat a u datang bersama seorang perempuan bercadar. Selama ini a u d i enal tida pernah jalan bersama seorang perempuan mana pun. Ku enal an Aisha pada Nurul dan Nurul pada Aisha. Kujelas an siapa Aisha pada Nu rul dan ujelas an siapa Nurul pada Aisha. Nurul menyambut Aisha dengan senyum m engembang. Setelah mere a berbincang beberapa alimat, barulah a u minta diri pa da mere a untu mempersiap an hutbah. Sebelumnya a u jelas an pada Aisha ji a m asih ingin berbincang, selepas shalat Jum at ada wa tu, mes ipun sebentar. Mes ipun telah mandi, a u merasa perlu mandi lagi agar segar embali. Musim pana s selalu membuat u ingin mandi ber ali- ali. A u langsung e ruang ta mir yang t ida asing lagi bagi u. Melepas pa aian ganti sarung dan mandi. Masjid ini bisa di ata an sangat leng ap peralatannya. Mulai dari peralatan ibadah, sound system , dan lain sebagainya. Bah an peralatan dapur pun ada. Masjid memili i dapur yan g integral dengan dapur SIC. Memang elebihan materi ji a dialir an untu ibadah membuat segalanya jadi indah. Usai mandi a u embali e amar ta mir. Hasyim me minjam an sarung baru, jas, serban dan opiah putih. A u memang sudah memesannya Jum at yang lalu. Hasyim sudah paham, di antara se ian banya mahasiswa yang mend apat jadwal hutbah hanya a u yang paling aneh. Datang mema ai pa aian santai. M andi dan merapi an diri di masjid. Sebab perjalanan dari Hadaye Helwan sampai D o i cu up mema an wa tu. A u tida mau ribet. Pu ul 12.00 pengajian ana -ana selesai. Pu ul 12.20 Hasyim membaca Al-Qur an deng an mujawwad menunggu jamaah datang. Pu ul 12.35 ritual ibadah shalat Jum at di mu lai. Bapa Duta ada di barisan etiga. Beliau datang aga terlambat. Tema hutba h yang diberi an ta mir epada u adalah Indahnya Cinta Karena Allah. Selesai pu ul 13.20. Kami lalu ma an bersama di bela ang masjid. Menunya adalah Coto Ma asar dan Es Buah.

Usai ma an a u mende ati Aisha dan Nurul untu pamitan. Kutanya an pada Aisha ap a masih ada yang bisa ubantu. Sebuah pertanyaan basa-basi. Dia bilang tida . Ku tanya an apa mau pulang bersama. Sebab jalurnya sama. Se ali lagi sebuah pertany aan basa-basi. Dia jawab masih ada yang dibicara an dengan Nurul. Lalu A u terin gat Noura. Nur, bagaimana abar Noura? Dia sudah mulai de at dengan ita- ita dan bisa tertawa. Dia cerita tentang dirinya ngga ? Ya. Tapi baru sebatas se olahnya. Tentang perla uan eluarganya padanya? Belum. Tolong de ati dia. Sepertinya dia memendam masalah serius. Perla uan eluarganya selama ini tida wajar. Kata Tuan Boutros, ita tida a an bisa membantu alau d ia tida jujur menjelas an masalahnya. Kenapa malam-malam sampai dicambu dan di usir ayahnya. Dia cerita pada Maria, ayah dan dua a a perempuan menyuruh dia m ela u an suatu pe erjaan yang dia tida bisa mela u annya. Pe erjaan apa itu? Da n enapa dia tida bisa mela u annya? Apa masalah dia sesungguhnya. Kalau ayahny a menuntut dia harus erja untu dapat uang, Madame Nahed, ibunya Maria menawar an dia bisa erja di lini nya sore hari. Tolong Nur, au de ati dia dan bicaral ah dari hati e hati. A u paling tida tahan alau melihat ada orang tertindas d an menderita di depan mata u. Insya Allah Ka . Oh ya, ini, untu biaya ma an Noura satu bulan. Semoga cu up, a u mengulur an ampl op yang baru uterima dari ta mir. Tida usah Ka . Sudah jangan pa ewuh. Kita sama-sama mahasiswa. Kita ma an juga iuran. Kalau uang dapur ngepres ita juga etar- etir. Ayo terimalah! Apalagi Noura orang Mesir, dia tida bisa selalu ma an masa an alian. Dia harus ma an ma anan Mesir dan it u perlu biaya an? Terimalah! A hirnya Nurul mau menerimanya. Bagaimana mung in a u yang sudah merepot an mere a masih juga membeban an biaya pada mere a. Da wah ya da wah. Ibadah ya ibadah. Tapi elo ah ong os da wah dan ibadah dibeban an orang lain? A u jadi teringat sepenggal episode perjalanan hijrah Nabi. Keti a a an berang a t hijrah e Madinah beliau diberi see or onta oleh Abu Ba ar. Namun beliau tida mau menerimanya dengan cuma-cuma. Beliau mau menerima dengan syarat onta itu be liau beli. Abu Ba ar inginnya memberi an secara cuma-cuma untu perjalanan hijra h Nabi. Tapi baginda Nabi tida mau beban sarana da wah dipi ul oleh Abu Ba ar y ang ta lain adalah umatnya. Baginda Nabi tida mau mengguna an esempatan pengo rbanan orang lain. Abu Ba ar punya eluarga yang harus dihidupi. Da wah harus be rjalan profesional mes ipun pengorbanan-pengorbanan tetap diperlu an. Dan Nabi m encontoh an profesional dalam berda wah. Beliau tida mau menerima onta Abu Ba a r ecuali dibayar harganya. Mau ta mau Abu Ba ar pun mengi uti einginan Nabi. Onta itu dihargai sebagaimana umumnya dan Baginda Nabi membayar harganya. Barula h eduanya berang at hijrah. Itulah pemimpin sejati. Tida seperti para iai di Indonesia yang menyuruh umat mengeluar an shadaqah jariyah, bah an menyuruh sant rinya ber eliling daerah mencari sumbangan dana dengan berbagai macam cara terma su menjual alender, tapi dia sendiri cuma ong ang-ong ang a i di masjid atau di pesantren. Keti a seseorang telah disebut iai dia lalu merasa malu untu turun e ali menga ng at batu. Mes ipun batu itu untu membangun masjid atau pesantrennya sendiri. Dia merasa hal itu tugas orang-orang awam dan para santri. Tugasnya adalah menga ji. Baginya, emampuan membaca itab uning di atas segalanya. Dengan membaca an itab uning ia merasa sudah memberi an segalanya epada umat. Bah an merasa te lah menyumbang an yang terbai . Dengan hutbah Jum at di masjid ia merasa telah pa ling berjasa. Banya orang lalai, bahwa baginda Nabi tida pernah membaca an it ab uning. Da wah nabi dengan perbuatan lebih banya dari da wah beliau dengan hutbah dan per ataan. Ummul Mu minin, Aisyah ra. ber ata, A hla Nabi adalah Al-Qur a n! Nabi adalah Al-Qur an berjalan. Nabi tida canggung mencari ayu ba ar untu par a sahabatnya. Para sahabat meneladani apa yang beliau contoh an. A hirnya mere a

juga menjadi Al-Qur an berjalan yang menyebar e seluruh penjuru dunia Arab untu dicontoh seluruh umat. Tapi memang, tida mudah meneladani a hla Nabi. Menuntu t orang lain lebih mudah daripada menuntut diri sendiri. Nanti alau ada apa-apa, atau ada yang urang bilang saja. Juga alau Noura sudah mencerita an masalahnya, langsung onta secepatnya! ata u pada Nurul. Nurul menganggu . A u minta diri. A u berdoa semoga masalah Noura segera selesai dan gadis malang itu tida lagi menanggung derita yang mengenas an. Bagaimana m ung in seorang ayah tega menyambu ana gadisnya sampai mengelupas punggungnya. Di mana rasa asih sayangnya? Apa ah dia tiada pernah mendengar sabda nabi, siap a yang tida memili i rasa asih sayang dia tida a an disayang oleh Allah? * * * Dari El-Behous a u langsung e Attaba. A u harus mencari hadiah untu Madame Nah ed dan Yousef menyambut hari istimewa mere a. Mes ipun sederhana, pasti a an jad i ejutan tersendiri, bahwa tetangganya dari Indonesia memberi an hadiah yang ti ada disang a. A u ingat acara dunia wanita yang ditayang an Nile TV. Di antara benda-benda yan g disu ai wanita adalah tas tangan. Kurasa tida salah alau a u menghadiahi Mad ame Nahed dengan tas tangan. Dan untu Yousef a u a an beli an aset perca apan bahasa Perancis dan amusnya. Kuharap dia senang. Sebab dia pernah bilang ji a uliah nanti ingin mengambil sastra Perancis. Attaba adalah pasar ra yat terbesar di Mesir. Semua ada. Harganya relatif lebih murah dibanding an tempat yang lain. Mes ipun begitu, seni menawar dan bergurau tetap penting untu memperoleh harga miring. Orang Mesir paling su a dengan lelu con dan guyonan. Teater ra yat di Mesir sampai se arang masih e sis, penontonnya selalu penuh melebihi gedung bios op. Itu arena sandiwara humornya. Film Shaid i Fi Jamiah Amri a atau Orang Kampung di Universitas Ameri a adalah film yang su s es besar arena oca nya. Mona Za i bintang Lux Mesir itu tampil oca di film i tu. A u sering mengumpul an pepatah-pepatah oca Mesir yang membuat orang Mesir a an ter aget dan tertawa saat uaja bicara. Mere a a an terheran-heran a u da pat pepatah itu dari mana. Universitas Al Azhar tida mung in mengajar annya. Pe rnah, seorang pedagang gendut yang elihatannya ena diaja guyon usapa dengan Y a Kapten, aif hal waz zaman syurumburum! 70 Ia aget dan terheran-heran. A u ter tawa dia pun tertawa. Kata- ata syurumburum adalah ata- ata aneh. Cara menyapa aneh ini a u dapat dari seorang pemili qahwaji71di Sayyeda Zaenab. Ohoi, sebetulnya hidup di Mesir sangat menyenang an. Penuh seni dan hal-hal meng ejut an. Di to o tas dan sepatu mili seorang lela i muda bermu a bundar a u berhasil mem bawa tas tangan putih canti dengan harga 50 pound. Padahal di tiga to o sebelum nya tas yang sama mer dan bentu nya tida boleh 70 pound. Itu arena guyonan re nyah. Keti a berbincang-bincang a u tahu dia penggemar a tor omedi legendaris I smael Yaseen. Kubilang padanya a u ini cucu Ismael Yaseen. Lalu a u perlihat an ting ah, mimi dan gaya bicara seperti Ismael Yasin. Dia terping al. Dan tas itu pun ena. Setelah dapat tas a u mencari aset dan amus untu Yousef. Kutemu an yang murah di to o aset Sono Cairo. Dalam perjalanan pulang di dalam metro ada ana ecil berjualan oran. A u ambil dua, Ahram dan A hbar El-Yaum. 70 Hei Kapten, apa abar, zaman o syurumburum (ngga jelas begini). 71 Kedai opi. Menjelang Ashar a u tiba di flat dengan tenaga yang nyaris habis dan darah mengu ap epanasan. Benar-benar lemas. Rudi tahu a u pulang dan sangat elelahan. Ia m embawa an segelas ari ade dingin. Rasanya sangat segar. Mes ipun Rudi orang Med an yang alau berbicara tida bisa sehalus orang Jawa, tapi hatinya halus dan pe nuh pengertian. Melihat bung usan yang a u bawa dia penasaran. Ia minta izin mem bu anya. Dia aget a u beli tas wanita. Untu siapa ini Mas? Sudah punya calon rupanya? Diam-diam menghanyut an. Tapi mem ang sudah saatnya. Oh iya, tadi Nurul nelpon. Jangan-jangan dia nih calonnya. Te rus ini beli aset perca apan bahasa Perancis segala, memangnya mau S.3. e Sorb onne apa? A u jadi ingat wawancara di bulletin Citra bulan lalu, Si Ketua Wihdah itu atanya juga sedang ursus bahasa Perancis di Ain Syams. Pas buanget. Benar lah ata orang Inggris, love and a cough cannot be hid. Cinta dan batu tida da

pat disembunyi an! Sudahlah A hi. A u lagi cape se ali. Nanti habis maghrib a u jelas an semua. Tid a usah berprasang a yang bu an-bu an. Ana muda di mana-mana sama. Mata u sudah liyer-liyer. Rudi bang it, A h, a u istirahat sebentar. Jam lima sep erempat dibangun an ya? Kalau ada telpon dari Nurul bagaimana? Sudah jangan terus menggoda. Congratulation Mas. She is the star, she is the true coise, she will be a good w ife! Ana ini alau menggoda ta ada habisnya. Aga eterlaluan sebenarnya. Tapi a u malas meladeninya. A u memejam an mata. Ta perlu utanggapi se arang, nanti ju ga dia a an tahu yang sesungguhnya. 6. Hadiah Pere at Jiwa Senja musim panas sungguh indah mes ipun tetap tida seindah musim semi. A u me mbu a jendela amar lebar-lebar. Semburat mega emerahan menghiasi langit. Bau u ap pasir masih terasa. Angin bertiup semilir seolah menghapus hawa panas. Jende la Maria elihatannya juga terbu a. Habis maghrib paling ena memang membu a jen dela. Membiar an angin semilir mengalir. Sayup-sayup a u mendengar Maria bernyan yi. Kalimatin laisat al alimaat! Ia melantun an lagu Majida Rumi dengan sangat indah. Suara Maria memang seindah suara penyanyi tersohor dari Lebanon itu. Di amar sebelah Saiful masih membaca An-Naml. Spontan a u menang ap ma na ayatayat yang dibaca Saiful. See or semut berseru pada teman-temannya, Hai semut-semu t se alian cepat masu lah e dalam liang alian. Sebentar lagi Sulaiman dan bala tentaranya a an lewat, alian bisa terinja a i mere a dan mere a sama se ali tida merasa menginja alian! Nabi Sulaiman ternyata mendengar dan mengerti apa yang diucap an semut itu. Nabi Sulaiman tersenyum. A u pun tersenyum. A u dudu di depan meja belajar. Menulis beberapa baris alimat indah untu You sef dan Madame Nahed dalam dua ertas berbeda. Masing-masing umasu an amplop. Dan umasu an dalam dua ardus ecil yang siap ubung us. Hamdi dan Rudi masu . Katanya mau membuat onferensi pers Mas? canda Hamdi. Rudi cengar-cengir. Panggil Saiful se alian! sahut u tenang. Aga nya Saiful mendengar pembicaraan ami . Dia menyudahi bacaan Al-Qur annya dan menyahut, I m coming! Rud, tolong sambil au bantu membung us yang satu! Kau an jagonya membung us ado , pinta u pada Rudi. Beres Mas. Sambil membung us ado a u menjelas an untu siapa ado ini sebenarnya. Kita meng amal an hadits Nabi, Tahaadu tahaabbu! Salinglah alian memberi hadiah ma a ali an a an saling mencintai! Ini wa tu yang tepat untu memberi an ejutan pada tet angga ita yang bai itu. Mere a sering se ali memberi ma anan dan minuman epad a ita. Mere a juga perhatian pada ita. Jadi begitu sesungguhnya. Bu an untu c alon isteri. Jangan berprasang a sebab sebagian prasang a itu dosa! Mere a semua menganggu an epala. Rudi minta maaf. Kubalas dengan senyum. Kapan ado ini a an disampai an Mas? tanya Saiful. Insya Allah nanti menjelang mere a tidur, jawab u. Bagaimana ita tahu mere a mau tidur? sahut Hamdi. Ji a a u mendengar Maria menutup jendela, biasanya dia siap untu tidur. Dan Mari a bilang mamanya selalu tidurnya lebih lambat darinya. * * * Kira- ira pu ul sebelas udengar suara jendela ditutup. Itu Maria. Dua menit em udian u irim pesan e nomor handphone-nya: Kalau mau tidur jangan lupa doa! Semoga mimpi bertemu Al-Masih. Ta lama emudian datang balasan, Bagaimana amu tahu a u a an tidur? Kujawab,

Firasat orang beriman banya benarnya. Kau benar. Selamat malam. Saatnya telah tiba. Kuaja teman-teman semua e atas. Ke rumah Maria. A u ya in Yousef dan Madame Na hed belum tidur. Tuan Boutros mung in baru a an tidur. Kami mene an bel dua ali . Yousef membu a pintu dan melongo . Oh alian. Ada perlu? tanya Yousef. Ia belum melihat hadiah yang ami bawa. Mama ada? Kami perlu bicara dengan beliau, tu as u. Ayo masu . Yousef e dalam memanggil mamanya. Ta lama emudian Madame Nahed eluar dengan sedi it aget. Biasanya ami selalu berurusan dengan Tuan Boutros atau Maria. Ja rang se ali dengan beliau. Malam-malam begini mencari saya ada apa ya? Apa ada yang sa it? tanya beliau yang memang seorang do ter, tapi tida pra te di rumah. Maaf an ami Madame, ji a edatangan ami mengganggu. Kami datang untu mengung a p an rasa cinta dan hormat ami pada eluarga ini. Kebetulan ami telah menyiap an hadiah ala adarnya. Ini untu Madame dan yang satunya untu Yousef. Hadiah s ederhana untu ulang tahun Madame dan Yousef. Kami mendoa an semoga Madame dan Y ousef bahagia dan berjaya. A u menjelas an ma sud edatangan u dan teman-teman. Madame Nahed benar-benar ter ejut. Ia menerima hadiah itu dengan mata ber aca- a ca. Yousef mengucap an terima asih tiada terhingga. Setelah itu ami mohon diri mes ipun Madame Nahed ingin ami minum opi dulu. Kami tahu sudah saatnya istirahat. Kami tida ingin istirahat Madame dan Yousef t erganggu. Madame Nahed tida bisa mengucap an apa-apa ecuali terima asih ber ali- ali. S aat ami menuruni tangga, ami mendengar Madame Nahed berteria -teria senang me manggil Maria dan Tuan Boutros. Selanjut an ami tida tahu apa yang terjadi dal am rumah Madame Nahed itu. Keti a a u bersiap untu tidur, handphone- u meme i . Ada pesan masu . Kubaca. D ari Maria, Apa yang alian la u an sampai membuat Mama menangis haru? A u merasa tida perlu menjawab. Hati u mengucap ah puji syu ur epada Tuhan ber ali- ali. Tida sia-sia rasanya panas-panas e Attaba. Maria embali mengirim pesan, Hai orang Indonesia, enapa tida dijawab? Kau sudah tidur ya? A u jawab, Ya. Apa pesan masu lagi. Tida ulihat. A u harus istirahat. Tiba-tiba mata u ber a ca- aca a u belum pernah memberi an ado pada ibu u sendiri di Indonesia. Sebelu m enal Kairo a u adalah orang desa yang tida enal yang namanya ado. Di desa hadiah adalah membagi riz i pada tetangga agar semua mencicipi suatu ni mat anug erah Gusti Allah. Ji a ada yang panen mangga ya semua tetangga di asih biar i ut merasa an. Ulang tahun tida pernah diingat-ingat oleh orang desa. Yang diingat adalah netu, atau hari lahir menurut hitungan Jawa, misalnya Kamis Pon, Jum at Wa ge dan seterusnya. Pada hari itu, seperti yang uingat wa tu ecil dulu, ibu a a n membuat bubur merah atau ma anan leng ap dengan lau -pau nya di leta an di at as tampah yang telah dialasi dengan daun pisang. Tampah adalah wadah seperti nam pan bundar besar yang terbuat dari bambu Di bawah daun pisang ibu meleta an uan g recehan banya se ali. Setelah siap semua teman-teman u dipanggil untu ma an bersama. Sebelum ma an ibu mengingat an agar ami tida lupa membaca basmalah bersama. Ji a Mbah San ebetulan ada, ibu a an minta Mba Ehsan berdoa dan ami, ana -ana , mengamininya. Barulah ami ma an berramai-ramai. Setelah ma anannya habis ami a an membu a daun pisang yang tadi dibuat alas ma an. Lalu ami berebutan mengam bil uang receh dengan serunya. Semua ebagian. Sebab ji a ada yang dapat uang le bih dan ada yang tida dapat ma a sudah jadi ewajiban yang dapat lebih untu me mbaginya pada yang tida dapat. Biasanya ibu sudah menghitung jumlah ana yang a an diundang dan uangnya sesuai dengan jumlah ana itu. Jadi semuanya dapat jata h sama. Sebenarnya ami tahu jatah uang logamnya satu-satu. Tapi selalu saja dib uat rebutan dahulu. Masa ecil yang seru. Begitulah cara ibu-ibu di desa u menye nang an hati ana -ana ecil. Kenangan indah yang tiada terlupa an. Lebih indah

dari pesta meniup lilin dan bernyanyi happy bird day to you. Pernah ada iai muda dalam suatu pengajian di surau melarang ibu-ibu membuat pes ta untu ana -ana seperti itu. Katanya itu bid ah. Ibu-ibu bingung dan lapor pada Mbah Ehsan. Mbah Ehsan yang pernah belajar di Pesantren Mambaul Ulum Sura arta itu hanya tersenyum dan bilang tida apa-apa, tida bid ah, malah dapat pahala men yenang an ana ecil. Kanjeng Nabi adalah teladan. Beliau paling su a menyenang an hati ana ecil. Keti a a u sudah sampai Mesir, dan setelah membaca itab Al I tisham arangan Imam Syathibi dan itab As-Sunnah Wal Bid ah yang ditulis Syai h Yusuf Qaradhawi a u m erenung an embali jawaban Mbah Ehsan. Sungguh suatu jawaban yang sangat arif. S ungguh tida mudah untu membid ah an suatu perbuatan terpuji yang tiada larangan dalam Al-Qur an dan Sunnah. Sungguh tida bija bertinda sembarangan menghu umi o rang. Pada enyataannya, ibu-ibu di desa tida pernah menganggap pesta pada netu ana n ya sebagai suatu ewajiban agama yang harus dila u an. Yang ji a dila u an dapat pahala ji a tida dapat dosa. Atau sebagai ibadah sunah, ji a dila u an dapat p ahala ji a ditinggal tida apa-apa. Tida ada anggapan itu masu bagian dari aja ran agama. Apa yang dila u an ibu-ibu di desa ta lebih dari ung apan rasa sayan gnya pada ana nya. Ia ingin ana nya merasa senang. Dan teman ana -ana nya juga s enang. Itu saja. Orang desa adalah orang yang hidupnya susah dan pas-pasan. Ji a punya elebihan riz i sedi it saja ingin berbagi epada sesama. Ibu-ibu ingin menanam an hal itu dalam jiwa ana -ana nya. Keti a seorang ibu di desa memili i riz i ia ingin mem bahagia an ana nya. Membuat an sesuatu yang istimewa untu ana nya. Tapi ia juga ingin ana nya membagi ebahagiaan dengan teman-temannya. Ma a dibuatlah ma anan yang aga banya untu dibanca bersama-sama. Adapun itu dipas an dengan hari n etu ana nya adalah agar ana nya merasa memili i sesuatu istimewa. Ia merasa diho rmati, dicintai dan disayangi. Hari itu ia merasa memili i rasa percaya diri. Ia merasa ada sebagai manusia. Ia didoa an oleh teman-temannya yang mengamini doa Mbah Ehsan. Atau ia merasa eti a seluruh teman-temannya membaca basmalah bersam a-sama, itu adalah doa mere a untu dirinya. Pada hari itu ana orang paling mis in di suatu desa se alipun a an tumbuh rasa percaya dirinya. Sebab ana orang aya i ut serta ma an satu nampan dengan seluruh ana -ana yang ada. Ana orang aya ma an pada nampan yang dibuat ibunya untu dirinya pada hari istimewanya. Ia tida merasa rendah diri. Seluruh ana -ana desa merasa sama. Ma an bersama. Cu il mencuil tempe. Saling tari menari secuil ramba . Dan tertawa bersama. Lalu rebutan uang receh dan saling berbagi. Orang-orang desa adalah orang-orang susah dan mere a aya a an cara menutupi esusahan mere a dan menyulapnya menjadi eb ahagian yang bisa dirasa an bersama-sama. * * * Pagi usai shalat shubuh ada orang mene an bel. Ternyata Yousef. Ia datang untu se ali lagi mengucap an terima asih dan mengabar an ami sesuatu, Mama ingin membuat pesta ulang tahun ami berdua di sebuah Villa di Alexandria. Kalian satu rumah ami undang. Semua ong os perjalanan jangan dipi ir an Mama su dah siap an, ucapnya dengan mata berbinar-binar. Kulihat wajah teman-teman cerah. Wisata gratis e Alexandria siapa tida mau. Lain dengan diri u. Bulan ini jadw al u padat se ali. Terjemahan belum selesai. Proposal tesis. Mengaji dengan Syai h Utsman yang sangat sayang ji a a u tinggal an, mes ipun cuma satu hari. Dan l ain sebagainya. A u merasa tida bisa i ut. Tapi a u pura-pura bertanya, Kapan? Minggu depan. Menurut ramalan cuaca sudah tida terlalu panas. Rencananya berang at Sabtu, setengah dua siang. Menginap di sana semalam. Minggu sore sebelum magh rib baru pulang. Bagaimana, alian bisa an? Kalian an masih libur? ata Yousef. Mes ipun wajah teman-teman tampa cerah, tapi mere a tida spontan menjawab. Mer e a sangat menghargai diri u sebagai epala rumah tangga dan sebagai yang tertua . Kurasa teman-teman bisa i ut. Tapi mohon maaf, saya tida bisa. Sebab jadwal saya padat se ali. Terus terang saya sedang menyelesai an proye terjemahan dan seda ng menggarap proposal tesis. Sampai an hal ini pada Mama ya? jawab u. Mas, enapa tida diluang an satu hari saja sih. Kasihan mere a an? sahut Rudi.

Rud, semua orang punya s ala prioritas. Banya hal penting di hadapan ita, tapi ita tentu memilih yang paling penting dari yang penting. A u punya ewajiban me nyelesai an ontra . Itu yang harus a u dahulu an daripada i ut e Alex. Ji a ad a rencana yang tertunda dua hari saja, ma a a an banya rencana yang rusa . Tolo nglah pahami a u. Sila an alian i ut a u tida apa-apa. Sungguh! jelas u mohon p engertian teman-teman satu rumah. Yousef mengerti semua yang a u ata an sebab R udi dan a u mengata annya dalam bahasa Arab. Bai lah. A an a u sampai an ini pada Mama, ujar Yousef sambil bang it minta diri. A u beranja e amar untu menyala an omputer. Sementara Saiful e dapur untu pi et masa . Rudi dan Hamdi tetap di ruang tamu membaca-baca oran yang emarin ubeli. Baru saja a u mengeti tujuh baris. Bel embali berbunyi. Mas Fahri, Yousef! teria Hamdi. A u bergegas e depan. Begini Fahri. Setelah a u beritahu an semuanya, Mama memutus an untu membatal an rencana e Alex, ucap Yousef dengan erut mu a sedi it ecewa. Kenapa? Karena au tida bisa i ut. Kan acara tetap bisa berjalan dengan bai tanpa ei utsertaan u. Po o nya itu eputusan mama. Ana asif jiddan! Wallahi, ana asif jiddan!72 ucap u sedih. Sebetulnya a u tida in gin mengecewa an siapapun juga. Ta apa-apa. Mama ingin menggantinya dengan sebuah acara yang tida a an menyita wa tu banya . Dan untu acara ini mama minta dengan sangat alian bisa i ut semu a. Se ali lagi dengan sepenuh permohonan, tida boleh ada yang tida bisa. Acaranya apa, dan apan? Kami se eluarga a an mengaja alian se eluarga e sebuah restaurant di Maadi unt u ma an malam. Kalian tida boleh menola . Begitu pesan mama. A u berpi ir sejena . Sudahlah Mas. Untu yang ini sedi it toleranlah. Masa jadwal menerjemahnya etat buanget sih! desa Hamdi. Bai lah. Insya Allah, ami se eluarga bisa. Jam berapa ita berang at? ulihat waj ah Yousef lebih cerah. Ia tersenyum. Setelah alian shalat maghrib ita langsung berang at. Biar tida emalaman, ucapn ya senang. Wa tu yang tepat se ali, gumam u. Kalau begitu a u nai dulu. Terima asih atas esediaannya. Terima asih atas aja annya. 72 A u menyesal se ali. Demi Allah, saya sangat menyesal. Hamdi, Rudi, dan Saiful tersenyum riang. Wah lumayan. Pengiritan uang dapur, ata Saiful. Se ali- ali ita ma an di restaurant mewah, masa cuma bisa ma an qibdah 35 piast er, sahut Rudi. Memang ena nya punya tetangga bai , tu as Hamdi. Hei, jangan lupa sama teman. Si Mishbah diberi tahu suruh pulang. Harus sampai r umah sebelum maghrib. Seloroh u sambil berjalan masu amar untu embali menerje mah. Ta lama emudian udengar Si Hamdi berbicara di telpon. Mishbah a an pulan g selepas shalat ashar. Baru lima halaman Rudi berteria , Mas Fahri telpon from the true coise! Rudi itu m asih melede a u rupanya ia menyebut Nurul the true coise . The true coise bagi sia pa? A u mendesah panjang. Pagi-pagi mau tenang sedi it saja tida bisa. Kuang at gagang telpon, Halo. Siapa ya? Alah, udah tahu pura-pura tanya pula! celetu Rudi dengan logat Medannya yang memb uat telinga u terasa gatal. Ana ini rese se ali. Ini Nurul. Ini dengan Ka Fahri ya? suara di seberang sana. Ya. Kemarin atanya nelpon ya?Ada apa? Ah engga . Kemarin sebetulnya ada yang ingin Nurul tanya an, tapi jawabannya suda h etemu. Lha ini nelpon ada apa? Tentang Noura.

Ada apa dengan Noura? Tadi malam dia sudah mencerita an semuanya pada saya. Dia memang gadis yang malan g. Ceritanya sangat mengenas an. Bagaimana ceritanya? Maaf Ka , a u tida bisa mencerita annya se arang. Sangat panjang. Oh a u paham. Kau tutup saja telponmu. Biar a u yang telpon. Bu an pulsa masalahnya Ka . Terus ena nya bagaimana? Sore nanti ami, pengurus Wihdah diundang Pa Atdi bud di rumahnya yang de at SIC . Ka a bisa ngga e SIC jam lima? Sayang ngga bisa Nur. Terus bagaimana? Minggu-minggu ini jadwal u padat. Susah meluang an wa tu buat appoinment baru. Ba gaimana alau segala yang dicerita an Noura au tulis saja semuanya. Pa ai tulis an tangan tida apa-apa. Kulihat cerpenmu pernah nampang di bulletin Citra. Kaya nya lebih pra tis. Lebih ena . Tapi alau bisa secepatnya. A an Nurul usaha an. Kapan Ka a ingin mengambilnya? A u berpi ir sejena . Kapan a u a an eluar e Nasr City. Satu minggu lagi. Terl alu lama. Oh ya, a u ingat, Mishbah masih di wisma dia a an pulang selepas shala t ashar. Dan Rudi setelah ma an pagi nanti a an pergi e Wisma untu dis usi. Kalau au bisa menulisnya se arang juga, habis zhuhur a u bisa minta teman untu mengambilnya. Insya Allah bisa. Siapa nanti yang mengambil Ka ? Kalau tida Mishbah ya Rudi. Bilang jangan lebih jam tiga. A u sudah tida dirumah. Itu saja Ka ya. Terima asih Nur. Kembali. A u menutup gagang telpon dengan hati penasaran. Apa sesungguhnya yang dialami o leh gadis Mesir yang lemah lembut bernama Noura itu. A u berharap nanti sore ata u nanti malam sudah mengetahuinya. 7. Di Cleopatra Restaurant Dia benar-benar ana pelacur sial! Dia benar-benar ana setan! Ana ta tahu diun tung. Kalau sampai tampa batang hidungnya a an urajah-rajah mu anya biar tahu rasa! Kami mendengar Si Mu a Dingin Bahadur menyumpah serapah dari dalam flatnya denga n suara seperti guntur. Entah ada apa lagi. Lalu ami mendengar suara perempuan membenta ta alah sengitnya. Ia menyalah an Si Mu a Dingin dan mema inya habis -habisan. Itu mung in suara Madame Syaima, isteri Si Mu a Dingin. Madame Syaima tida terima dibilang pelacur. Lalu terdengar tamparan dan jeritan. Beberapa bar ang pecah. Kami berlima sudah sampai di halaman. Baru Yousef yang turun menyusul . Pa aiannya fung y betul. Tuan Boutros, Madame Nahed dan Maria belum turun. Maaf ya aga terlambat. Biasa, perempuan dandan dulu, ata Yousef. Kami manggut-manggut saja. Ta lama emudian Tuan Boutros, Madame Nahed dan Mari a tampa menuruni tangga apartemen satu persatu. Mere a berjalan mende ati ami. Tuan Boutros tampa lebih muda dari biasanya. Ia mema ai emeja warna rem deng an lengan diling is. Madame Nahed berpenampilan seperti aristo rat Perancis. Paf umnya menyengat. Ini yang a u tida su a. Wanita Mesir alau mema ai parfum seol ah harus tercium dari jara seratus meter. Yang paling menawan tentu saja Maria. Dengan gaun malam merah tua dan menggelung rambutnya ia terlihat sangat canti . Wajah pualamnya seperti bersinar di egelapan malam. Mere a benar-benar siap e pesta. Kami berlima berpa aian biasa saja. Si Rudi malah mema ai celana trening warna biru muda. Trening yang ter adang buat main sepa bola. Memang benar-bena r seadanya. Tuan Boutros mengatur siapa yang i ut mobilnya dan siapa yang i ut mobil Yousef. Keluarga itu memang memili i dua mobil. Jeep Chero e hijau metali yang biasa d ibawa Tuan Boutos erja dan sedan forsa hitam yang sering ali dibawa Yousef. Emp at orang dari ami i ut mobil Yousef. Madame Nahed dan Maria i ut Tuan Boutros. A u melang ah e arah mobil Yousef. Namun Tuan Boutros memanggil, Fahri, au i u

t a u! Ya, au nai sini Fahri! seru Madame Nahed. Terpa sa a u belo e mobil Cheero e. Madame Nahed nai di depan dan dudu di sa mping Tuan Boutros. Maria di bela ang. Masa a u harus dudu di samping Maria. D an parfumnya itu. Nurani u tida setuju. Satu mobil ta apa, tapi selama tempat dudu bisa di atur lebih aman di hati enapa tida . A u mende ati Madame Nahed d an berbicara dengan halus, Maaf Madame, boleh saya dudu di depan. Saya ingin berbincang-bincang dengan Tuan Boutros selama dalam perjalanan. Madame Nahed tersenyum, Oh ya, dengan senang hati. Dia lalu turun dan pindah e bela ang dudu di samping puterinya. A u nai dan d udu di samping Tuan Boutros. Belum sempat Tuan Boutros menyala an mesin terdeng ar suara Si Mu a Dingin memanggil dengan suara mengguntur, Hai Boutros tunggu! Kami semua menoleh e asal suara. Si Mu a Dingin datang dengan tergopoh. Di mana Noura au sembunyi an, Boutros! Kami berpandangan. Si Mu a Dingin telah berdiri di de at Tuan Boutros. Dengan te nang Tuan Boutros menjawab, Apa saya tida memili i urusan yang lebih penting dar i mengurusi ana mu, heh? Kau pasti tahu di mana Noura berada? Siapa yang peduli dengan ana mu? Malam itu sebelum tidur Mona melihat Maria turun menghibur Noura di jalan. Kalian pasti tahu se arang di mana Noura berada! Malam itu malam itu apa? A u tida tahu! Kalau begitu tanya saja sama Maria. Jang an tanya a u! Hai Maria bicara au! Kalau tida usumpal mulutmu dengan sandal! si Mu a Dingin m enyala eras seperti anjing. Dada u panas se ali mendengar alimat Si Mu a Dingin yang tida tahu sopan santu n ini. Tuan Boutros ulihat menggerutu an giginya, ia tentu marah puterinya dib enta asar begitu, tapi mu anya tetap tenang memandang e depan. Ia tida menja wab sepatah ata pun. Tuan Bahadur, memang benar, malam itu a u turun menghibur Noura. Tapi Noura tida bisa dihibur. Ia menangis terus dan tida berbicara sepatah ata pun pada u. A u jeng el, lalu ya utinggal dia. Setelah itu a u tida tahu emana dia. Ku ira dia embali e rumah Anda. Hmm...jadi begitu. Ana itu memang eras epala dan menjeng el an bu an? Kau saja dibuat jeng el. A u ayahnya dibuat jeng el setiap hari. Kalau etemu a an ubun uh ana itu biar tida membuat jeng el lagi! Sudah cu up bicaramu Bahadur? Kami ada urusan! Kata Tuan Boutros. Si Mu a Dingin tida menjawab. Ia hanya pergi begitu saja sambil mengepal an tin junya, ia mendesis Kalau embali ana itu a an u uliti biar tahu rasa! Puji pada Tuhan, Si Brengse itu tida macam-macam. Madame Nahed mendesah lega. Tu an Boutros cepat-cepat menyala an mesin. Lalu perlahan menjalan an mobil meningg al an halaman apartemen dibuntuti oleh Yousef. Selama dalam perjalanan Tuan Bout ros banya bercerita tentang hal menjeng el an Si Mu a Dingin. A u meminta belia u tida usah menerus an. A u minta topi pembicaraan yang menari , yang mengasyi an, yang menyenang an seirama dengan malam ebahagiaan Madame Nahed. Maria mem uji usul u. Madame Nahed lalu bercerita tentang Maria ecil. Hal-hal ecil yang Maria la u an. Maria sese ali menjerit manja minta mamanya tida menerus an. Ia malu atanya. Tapi Madame Nahed malah seperti tertantang untu mencerita an sema in banya . Tuan Boutros se ali menimpal isah yang dicerita an isterinya. Maria jadi la on. A u diam saja. Hanya sese ali bertanya, benar ah? Maria a an langsu ng menyahut, tida benar, mama bohong! Madame Nahed dan Tuan Boutros a an menyah utnya dengan tawa terping al-ping al. Maria ini wa tu ecil sampai umur empat tahun masih menete . Umur lima tahun masi h ngompol apa ngga menyebal an! ata Madame Nahed memperolo puterinya. Benar ah itu? sahut u santai sambil memandang sinar purnama yang epera an di atas ria sungai Nil yang memanjang di samping iri jalan. Ah itu bohong. Ta mung in itu terjadi! tu as Maria cepat setengah teria . Itu benar. Kalau tida percaya nanti alau bibinya yang bernama Latefa datang tan

ya an padanya, ata Tuan Boutros membela isterinya. Itu bu an sesuatu yang tida bai . Tida apa-apa. Menete pada ibu dalam wa tu ya ng lama malah membuat cerdas. Begitu yang ubaca pada sebuah majalah, sahut u. Maria berterima asih pada u arena a u membelanya. A hirnya Tuan Boutros memar ir mobilnya di halaman sebuah restaurant mewah. Cleo patra Restaurant. Terleta di pinngir sungai Nile. Bersebelahan dengan Good Shot dan Maadi Yacht Club. Pantas saja mere a berpa aian dan berpenampilan serius. K ami berlima berpandang-pandangan. Santai saja. Kita ini turis. Turis an biasa berpa aian santai? bisi Hamdi dalam b ahasa Indonesia. Tapi masa pa ai trening yang sudar pudar warnanya begitu? lirih Saiful sambil mer ingis memandang Rudi. A u tersenyum. Baru ali ini ulihat Rudi tida percaya di ri. Mu a ana Medan ini seperti epiting rebus. Di antara ami berlima yang berp a aian paling mengenas an memang dia. Hamdi lumayan necis, tapi sandal ulit but utnya membuat hati yang melihatnya tida tahan. Sudah ber ali- ali a u mengingat an agar eduanya membuang jauh-jauh adat lowor yang mere a bawa dari pesantren tradisional. Tapi mere a masih saja su a lowor, padahal baginda Nabi mencontoh an erapian, ebersihan dan penampilan yang meya in an. Memang tida mudah meru bah wata dan gaya hidup. Namun Rudi dan Hamdi jauh lebih bai dari saat pertama ali a u mengenal dan serumah dengannya. Se arang sudah mulai bisa membagi wa t u dan disiplin. Kalau mau dis usi mau menyeteri a baju biar sedi it rapi. Tapi a u sangat menyayang an mere a tadi tida mau mendengar nasihat u agar berpenampi lan sedi it necis. Mere a hanya menyahut, Alah cuma mau ma an saja o repot-repo t! Untung Saiful dan Mishbah mengerti nasihat u. A u sendiri berpa aian tida bagus se ali namun juga tida a an memalu an. Kaos atun hijau muda dan rompi santai hijau tua, warna esayangan. Ta alah fung ynya dengan Yousef . Tuan Boutros membawa ami masu restoran dan memilih an tempat dudu yang paling menjoro e sungai Nil seperti de apal. Terbu a tanpa atap, bintang-bintang elihatan. Restauran ini ada dua bagian. Bagian tertutup dan bagian terbu a. Meja nya juga berane a. Namun warnanya sama. Ada yang untu dua orang. Empat orang. D an ada yang bundar untu enam orang. Kami memilih dua meja bundar yang berde ata n. Tuan Boutros, Madan Nahed, dan Maria telah dudu satu meja terlebih dahulu. A u mengaja Yousef dudu di meja yang satunya. Teman-teman mengi uti a u. Pas en am orang. Tuan Boutros meminta satu di antara ami dudu satu meja dengan mere a . Kusuruh Rudi. Dia tida mau. Kupa sa Saiful. Dengan aga ragu-ragu a hirnya di a beranja juga. Kulihat para pengunjung yang ada. Mere a berpa aian bagus-bagus . Ada sepasang orang bule. Yang lela i pa ai jas yang perempuan pa ai gaun malam resmi. Di pojo anan orang Mesir gemu bota dengan isterinya. Keduanya rapi. Yousef berbisi epada u, Ini restauran orang besar. Para diplomat dan bisnisman sering emari. Lihat siapa yang ada di meja de at lampu hias itu, au pasti meng enalnya! A u melihat e arah yang ditunju an Yousef. A u nyaris tida percaya dengan apa yang ulihat. Di sana ada Adel Imam dan Yusra sedang menyantap ma anan dan berb incang. Dua artis Mesir itu ma an malam di restauran ini. Teman-teman melongo e arah eduanya. Yousef mengingat an, Jangan terlalu elihatan heboh! Restauran i ni menjaga etenangan dan enyamanan pelanggannya. Seorang pelayan menanya an menu. Madame Nahed ber ata epada ami, Sila an pilih sendiri menunya. Jangan malu-malu. Hai Hamdi, au pilih apa? Hamdi bingung. Ini baru pertama alinya dia ma an di restauran elite. Menunya ju ga asing semua. Semua masa an has Timur Tengah ada, bisi Yousef. Tiba-tiba Saiful beranja mende ati a u dan berbisi , Mas, tolong au saja yang s atu meja dengan Tuan Boutros, a u tida ena . A u tida bisa bicara banya . Wajahnya ulihat pucat. A u merasa asihan juga melihatnya. Kalau dia sampai mal u, dan pulang masih lapar padahal baru saja dari restauran besar, apa tida asi han. A u jadi teringat dengan cerita teman satu pondo dulu. Namanya Bayu. Pa de nya dari ibu dapat isteri alangan eraton Kasunanan dan tinggal di awasan elit e Ja arta. Suatu ali ia liburan e tempat Pa denya itu. Di sana semua serba ter atur. Wa tu tidur, wa tu belajar, wa tu istirahat, baju tidur, baju santai, dan

ma annya juga teratur wa tu dan tata caranya. Saat itu dia elas tiga SMP. Dia y ang biasa di desa serba tida teratur jadi grogi. Biasa ma an tanpa sendo tanpa meja ma an, tanpa garpu dan lain sebagainya jadi serba grogi. Dia sebenarnya in gin tambah arena masih lapar, tapi tida berani. Padahal menunya sangat ni mat. Menu yang jarang se ali ia ma an di desanya. Ia ta ut untu tambah. Keti a hend a tidur ia merasa masih lapar. Ia tida bisa tidur dengan perut lapar. A hirnya ia minta izin pada Pa denya untu eluar rumah sebentar. Ia pergi e warteg dan ma an sampai enyang. Ternyata ana pa denya yang paling besar melihatnya saat baru pulang dari rumah temannya. Ia pun ditanya sama budenya enapa jajan padaha l telah tersedia banya ma anan, apa ma anan di rumah budenya tida ena ? Ia tid a bisa menjelas an, malah menangis. A u tida mau teman-teman mengalami nasib t ragis seperti Bayu ecil itu. Sebelum beranja e meja Tuan Boutros, a u berpesan pada teman-teman dengan baha sa Indonesia, Nanti ma an yang banya santai saja. Ji a masih ingin tambah ya tam bah saja seperti di rumah sendiri. Tuan Boutros heran Saiful pindah tempat dudu . Kubilang ia ingin berbincang deng an Yousef. Tuan Boutros menganggu an epala. Pelayan restauran beralih mende ati a u dan bilang, Anda pesan apa? Teman-teman Anda i ut Anda? Madame Nahed tersenyum. Maria elihatannya ingin tahu a u su a menu apa. Untung a u pernah diaja ma an malam e sebuah restauran ta alah elitenya di Mohandes en oleh Bapa Atdi bud yang jadi etua ta mir masjid Indonesia di Cairo. Jadi, a u tida merasa asing se ali dengan menu yang tertulis. Minumnya Seasonal Fresh Fruits. Ma annya Chic en Mugharabieh with Valanciane Rice dan menu penutupnya minta Pineapple Gateau, ata u mantap. Itu adalah menu yang dipilih Ibu Atdi bud yang wa tu itu tida a u rasa an. Sebab wa tu itu a u memil ih menu utama Onion and Cheese Omelette yang ta jauh beda dengan telur dadar, c uma lebih besar dan tebal. Wa tu itu a u sedi it menyesal memilih menu yang eli ru. Ih jadi geli mengingatnya. Se arang a u ya in se ali, a u tida eliru pilih menu. Fathi, au memilih menu esu aan u, omentar Maria, ia lalu bilang pada pelayan, a u sama dengan dia. Tuan Boutros pilih Lamb Stew sedang an Madame Nahed pesan Chic en Kofta with Tomato Sauce dan Yousef su a Kabab Lahmul Ghanam73. Begitu hidan gan tersedia ami menyantap dengan tenang sambil meni mati semilir angin sungai Nil dan sese ali melihat riang gelombangnya yang epera an diterpa sinar rembula n. Keti a ami sedang asyi ma an seorang lela i berdasi menghampiri Tuan Boutro s. Tuan Boutros berdiri dan berjabat tangan. Fahri, this is Mr. Rudolf from German, and Mr. Rudolf, this is Fahri from Indone sia! Tuan Boutros memper enal an enalannya dengan pengucapan yang sangat berloga t Arab. Mr. Rudolf menjabat tangan u erat. Pleased to meet you Mr. Rudolf. Sapa u pada bule di hadapan u dengan tersenyum. La lu a u berbasa-basi padanya dengan bahasa Jerman, Sin Sie Tourist? 74 Mr. Rudolf aga nya ter ejut mendengar pertanyaan u. Nein. Sprechen Sie Deutsch? 75 Mr. Rudolf bali bertanya dengan nada heran apa a u bisa berbahasa Jerman. Ja. Jawab u sambil tersenyum. Lalu ami berbincang sesaat lamanya dengan bahasa Je rman. Ia menerang an dirinya adalah staf ahli atase perdagangan Jerman di Kairo. Dia bertanya apa a u seorang diplomat. Kujelas an status u di Mesir. Tuan Boutr os menawar an pada Mr. Rudolf untu dudu bersama ami. Mr. Rudolf mengucap an t erima asih, ia ditunggu isterinya di meja yang lain, lalu beranja pergi. Madam e Nahed menanya an di mana a u belajar bahasa Jerman. Dan menyayang an Tuan Bout ros yang tida bisa berbahasa Jerman padahal banya oleganya yang berasal dari Jerman. Maria mengusul an agar ayahnya belajar bahasa Jerman pada u saja. Tuan B outros hanya tersenyum mendengar celoteh isteri dan puterinya. Usai ma an ami tida langsung pulang. Madame Nahed memesan o tail dan mengaja ami semua e bagian dalam, di sana ada hiburan musi lasi . A u sebenarnya i ngin langsung pulang. Tapi Madame Nahed dan Tuan Boutros mema sa, Kita lihat sebe ntar saja. 73 Sate ambing.

74 Apa ah Anda turis? 75 Tida , au bisa bicara bahasa Jerman? Di bagian dalam, di tengah ruangan ada panggung ecil setinggi setengah meter. B entu nya bundar. Di atas panggung bundar itu ada seorang perempuan muda berambut pirang menggese an biola dengan penuh penghayatan. Yang ia main an se arang ini arya Bedhoven. Perempuan itu pemain biola ter enal dari Rumania. Seorang pelayan restoran ber ata pada seorang wanita setengah baya yang berada ta begitu jauh dari u. Satu lagu selesai. Pengunjung bertepu tangan. Pemain biola perempuan itu emba li menggese biolanya. Kali ini bernada riang. Beberapa orang pengunjung berdiri dari ursinya menuju e de at panggung. Mere a berdansa. Orang Mesir bota yang tadi ulihat juga berdansa dengan isterinya. Tuan Boutros meraih tangan Madame Nahed. Madame Nahed tersenyum dan menengo pad a Maria, Maria, ayo cobalah au berdansa. Se ali ini saja. Coba aja Fahri atau s iapa terserah! A u ter ejut mendengarnya. Tuan Boutros menimpal, Ya Fahri, Maria itu tida perna h mau berdansa. Coba au aja dia! Mung in alau au yang mengaja dia mau. A u diam. Kuliri teman-teman. Mere a senyam-senyum. Tuan Boutros dan Madame Nah ed sudah larut dalam irama musi dan berdansa mesra. Maria mende ati u. Fahri, mau coba berdansa dengan u? Ini ali pertama a u mencoba berdansa, lirihnya malu. A u harus berbuat apa. Apa ah a u harus i ut budaya Eropa. A u teringat isah awal-awal Syai h Abdul Halim Mahmud muda saat belajar di Perancis. Beliau j uga mendapat godaan yang tida jauh berbeda dengan a u saat ini. Dan Syai h Abdu l Halim Mahmud muda mampu melewati ujian itu dengan bai . Beliau yang di enal se bagai ulama sufi modern yang arif billah itu a hirnya dipilih sebagai Grand Syai h Al Azhar. Ji a ada ahli ibadah dan wali di punca gunung tanpa godaan itu bu an sesuatu yang mengagum an. Tapi ji a ada ahli ibadah bisa berintera si dengan bai di tengah ota metropolitan dengan segala hiru pi u budaya hedonisnya itu mengagum an. Begitu Syai h Ahmad ber ata pada u. Tawaran Maria bagi seorang pem uda adalah tawaran menari . Siapa tida su a bergandeng tangan dan berdansa deng an gadis secanti dia. Di sinilah leta ujiannya. Maaf a u tida bisa, jawab u sambil tersenyum dan menang up an dua tangan di depan dada. Sama, a u juga tida bisa. Kita belajar bersama pelan-pelan. Mari ita coba! sahut Maria yang belum memahami sepenuhnya penola an u. Maaf an a u Maria. Ma sud u a u tida mung in bisa mela u annya. Ajaran Al-Qur an d an Sunnah melarang a u bersentuhan dengan perempuan ecuali dia isteri atau mahr am u. Kuharap au mengerti dan tida ecewa! terang u tegas. Dalam masalah sepert i ini a u tida boleh membu a ruang eraguan yang membuat setan masu e dalam a liran darah. Oh begitu. Maaf, a u tida tahu. Kalau tahu, a u ta mung in menawar an hal ini epadamu. A u salut atas etegasanmu menjaga apa yang au ya ini, ata Maria. Ta ada gurat ecewa di wajahnya. Maria a u eluar dulu. A u mau meni mati eindahan sungai Nil. Ji a ayahmu sudah selesai panggil saja a u di luar, pesan u pada Maria sebelum a u melang ah eluar . Yousef dan teman-teman membuntuti u. Lima belas menit emudian Maria memanggil ami untu pulang. Pu ul 22.45 ami sampai di halaman apartemen. Teman-teman me muji menu yang upilih an. A u ya in mere a enyang. * * * Sampai di flat teman-teman tida langsung tidur, mere a berbincang di ruang tam u. Sementara a u masu amar dan membaca surat Nurul yang mengisah an apa yang d ialami oleh Noura yang malang. Nurul menulis, bahwa Noura menga u sampai berumur delapan tahun sangat bahagia d an disayang ayah ibunya yaitu Si Mu a Dingin Bahadur dan Madame Syaima. Keduanya bah an sangat menyayanginya melebihi dua a a nya. Dia memang berbeda dengan e dua a a nya. Seja ecil di enal cerdas, ber ulit putih bersih, berambut pirang , lincah dan canti . Tida seperti dua a a nya yang hitam seperti orang Sudan. Peta a itu datang eti a a a sulungnya Mona pulang dari se olah dan menangis s ejadi-jadinya. Setelah dibuju ayah dan ibunya Mona menga u dihina oleh teman sa tu bang unya di se olah. Mona dihina sebagai ana syarmuthah. Hinaan itu disebar

e seluruh elas. Temannya itu mengata an, Tida mung in ibumu itu tida melacur . Bu tinya adi bungsumu ber ulit putih bersih dan berambut pirang. Dari mana bi sa begitu alau tida melacur dengan orang lain. Ayahmu an ulitnya hitam dan ne gro seperti amu dan ibumu! ta ayal itu adalah penghinaan yang sangat menya it a n. Pada hari yang sama ayahnya sedang dipecat dari erjanya di pabri baja. Dan pecahlah prahara itu. Malam harinya ayahnya mema i-ma i ibunya dan mencelanya se bagai pelacur. Ayahnya seja itu tida lagi menyayanginya. Apalagi sebelumnya me mang sering ali orang heran dengan etida samaan Noura dengan edua orang tua da n a a nya. Seja itu Noura jadi bulan-bulanan edua a a nya dan ayahnya. Ibuny a sering ali melindungi dirinya. Namun eti a ayahnya membawa perempuan lain yan g canti dan tida hitam e rumah, ibunya menjadi terganggu pi irannya. Ia jadi seperti orang tida waras. Kadang menangis, marah, ngomel sendiri dan lain sebag ainya. Kadang menyayangi Noura dan ter adang tida jarang i ut menya itinya. Aya hnya a hirnya dapat pe erjaan sebagai tu ang pu ul di sebuah Nigh Club yang meng apung di atas sungai Nil. Mona, a a sulungnya i ut erja di sana. Sedang an Su zan atanya erja di sebuah losmen di Sayyeda Zaenab. Berang at menjelang maghri b dan pulang se itar jam dua dini hari. Menurut bisi -bisi para gadis tetangga edua a a Noura itu erjanya ta lain adalah menjual diri. Beberapa ali Noura melihat Mona membawa teman lela i e rumah dan diaja tidur di amarnya. Ayahny a malah senang, sedang an ibunya sudah sema in buru ingatannya mes ipun sese al i datang esadarannya dan menatapi nasib dirinya dan nasib Noura. Di rumah itu N oura diperla u an laya nya pembantu rumah tangga. Memasa , mencuci, mengepel sem ua tanggung jawab Noura. Untungnya Noura masih diboleh an ayahnya se olah di Ma ha d Al Azhar, itu pun arena se olah di sana gratis dan alau pulang aga terlamba t a an mendapat an hu uman dari ayah dan edua a a nya. Beragam bentu si saan ia terima dari orang yang ia anggap eluarganya. Punca derita Noura adalah enam bulan tera hir ini, eti a ayahnya mema sanya dia agar i ut be erja di Night Cl ub seperti a a nya. Bah an ayahnya dapat tawaran dari manajernya agar Noura mau jadi penari perut tetap di Night Clubnya. Bos ayahnya memang pernah e rumahnya se ali dan melihat Noura. Ayahnya pada wa tu itu cerita pada bosnya alau Noura saat TK dulu pernah menang lomba menari. Jelas Noura tida bisa memenuhi eingi nan ayahnya itu. Seja itu ia sangat menderita. Punca nya adalah malam itu. Sore sebelum berang at erja, ayahnya mema sanya untu i ut Mona berang at setelah m aghrib, ada turis asing yang memesan perawan Mesir. Noura dihargai sepuluh ribu pound. Harga yang menurut ayah dan edua a a nya sangat tinggi. Ia menola . Aya hnya lalu mencambu punggungnya ber ali- ali. Ia tida tahan, a hirnya ia pura-p ura mau. Ayahnya berang at. Tapi begitu shalat maghrib ia mengurung diri di ama r. Tida mau eluar. Tida mau membu a an pintu. Bagaimana mung in dia yang musl imah dan se olah di Al Azhar a an mela u an perbuatan dosa besar itu. Mona tida bisa berbuat apa-apa. Tengah malam ayahnya pulang dan terjadilah penyi saan dan pengusiran itu. Ayah menyumpahinya sebagai ana setan, ana haram, ana tida t ahu diuntung. Mona menampar mu anya dengan sandal ber ali- ali sambil ber ata, Ka u ini siapa? Kau ana siapa hah? Kau bu an adi ami dan bu an eluarga ami? A u a an bu ti an nanti lewat test DNA au bagian dari eluarga ami! A u meniti an air mata membaca isah penderitaan yang dialami Noura. A u tida melihat be as-be as cambu an di punggungnya, tapi a u bisa merasa an sa itnya. A u tida melihat wajahnya saat itu tapi hati u bisa menang ap rintihan batinnya yang remu redam. A u seolah i ut merasa an ecemasan, eta u an dan esendirian nya selama ini dalam nera a yang dicipta Si Mu a Dingin Bahadur. A u tiba-tiba m erasa Noura itu seperti adi andung u sendiri. Entah bagaimana a u bisa merasa an begitu, padahal a u tida memili i adi . A u ana tunggal. Tapi a u seperti m erasa an apa yang dirasa an Noura. Seandainya dia adi u tentu tida a an a u bi ar an ada orang jahat menyentuh ulitnya. A an a u orban an nyawa u untu melin dunginya. A u embali meniti an air mata. Oh Noura, semoga Allah menjagamu di dunia dan d i a hirat. Gadis berwajah putih dan innocence itu selalu berjalan menundu . Ji a berpapasan ami hanya bersapa dengan tatapan mata se ilas. Tanpa ata- ata. Tap i ami merasa de at dan saling enal. A u tida mung in membiar an Noura terus j adi bulan-bulanan para serigala ber epala manusia. A u harus mela u an sesuatu. Tapi apa? Dan sampai sejauh mana lang ah u? A u adalah orang asing di sini. A u

menari nafas panjang. Diam memejam an mata dengan pi iran terus mengembara menc ari jalan eluar. A u tida bisa, dan tida a an mampu bertinda sendiri. A an a u serah an masalah ini pada Syai h Ahmad, dia adalah intele tual muda yang sang at peduli pada siapa saja. Beliau pasti mau membantu Noura. 8. Getaran Cinta Setelah shalat shubuh a u tida langsung pulang, tapi menemui Syai h Ahmad. Ku a bar an pada beliau elulusan u dan rencana u membuat proposal tesis. Imam muda b erhati lembut itu mengecup epala u ber ali- ali. Begitulah cara orang Arab memb eri an tanda penghormatan yang tinggi. Penghormatan orang yang dianggap sangat d e at. Dari bibirnya eluar ucapan selamat dan doa tiada henti. Beliau bah an men awar an agar ji a nas ah proposal selesai ususun diserah an terlebih dahulu pad anya untu dilihat bahasanya. Ji a ada gaya bahasa yang mung in urang tepat bel iau a an mentashihnya. A u sangat senang mendengarnya. Barulah a u jelas an pad anya isah derita Noura panjang lebar dan mendetail seperti yang a u lihat dan a u etahui. Beliau meniti an air mata mendengarnya. Di Mesir ini, banya se ali orang menga ui muslim tapi a hla nya tida muslim. Me nga u Islam tapi sangat jauh dari cahaya Islam. Bagaimana mung in seorang ayah y ang menga u umat Muhammad bisa begitu ejam pada ana nya, pada seorang gadis yan g semestinya dia lindungi dan dia sayangi. Fahri, menghantar an eseju an ruh Is lam e dalam hati semua pemelu nya memang tida semudah membali edua telapa t angan. Tapi ita tida boleh berpang u tangan, apalagi berputus asa. Sebisa ita , ita harus terus berusaha, ata Syai h Ahmad sambil menari nafas. Tida hanya di Mesir saja Syai h, di Indonesia juga ada. Bah an di Indonesia lebi h parah. Ada lela i yang meniduri ana gadisnya dengan pa sa. Lebih parah lagi a da yang tega menjual isteri dan ana gadisnya pada lela i hidung belang. Setan m emang ada di mana-mana. Dengan segala tipu dayanya, setan selalu berusaha membut a an hati manusia sehingga mere a beranggapan tinda an yang eji menjadi terpuji . Laa haula wa laa quwwata illa billah! ucap Syai h Ahmad sambil memejam an mata. Be liau lalu menepu punda u dan mengata an dirinya a an terjun langsung membantu Noura secepatnya. Sebelum musim masu se olah tiba derita Noura harus dia hiri. Syai h Ahmad berterima asih atas segala yang telah ami la u an. Beliau meminta agar jam sembilan nanti a u mengantar an beliau menemui Noura di Nasr City. Bel iau henda mengambil Noura dan menempat annya di tempat yang aman. Menurut belia u ji a sampai nanti ayahnya tahu Noura berada di tempat mahasiswi Indonesia a an membuat masalah. Kasihan para mahasiswi ji a terganggu belajarnya. Noura harus secepatnya dipindah an e tempat yang tepat. Kami sepa at untu bertemu di depan mahattah Hadaye Helwan. A u segera pulang dan menelpon Nurul, memberitahu an rencana Syai h Ahmad. A u m inta padanya untu tida pergi. Se itar pu ul sepuluh, ami insya Allah, sampai. Tepat pu ul sembilan a u sampai di tempat yang dijanji an. Syai h Ahmad telah m enunggu di dalam mobil Fiat tuanya. Seorang wanita berjilbab panjang dudu di sa mping beliau. Syai h Ahmad memang hidup sederhana mes ipun ata masyara at belia u orang berada. Isteri beliau seorang do ter yang membu a pra te di Helwan dan membantu orang tida mampu dengan membu a pra te di lini masjid. Syai h Ahmad mengemudi an mobilnya dengan ecepatan sedang. Pu ul sepuluh lebih sepuluh ami sampai di ediaman Nurul dan awan- awannya yan g berada di ting at enam. Para mahasiswi itu dipelu oleh isteri Syai h Ahmad de ngan penuh ehangatan. Keti a memelu Noura, isteri Syai h Ahmad menangis tersed u-sedu. Ber ali- ali ia mencium pipi gadis innocent itu. Syai h Ahmad menjelas a n ma sud edatangan dia dan isterinya. Semuanya mengerti termasu Noura. Noura a an dibawa i ut serta e ampung halaman Syai h Ahmad. Ke rumah orang tua Syai h Ahmad di desa Tafahna El-Ashraf, Zaqaziq. Noura menurut. Setelahlah Noura siap terjadilah perpisahan yang mengharu an. Nurul dan teman-temannya terisa dan ber gantian memelu Noura. Noura juga menangis sambil mengucap an terima asih ta t erhingga. Nurul bilang pada Noura, Noura au juga harus mengucap an terima asih tiada terhingga pada A h Fahri. Noura menatap u se ilas dengan mata ber aca lalu menundu dan dengan suara lirih dia menyampai an rasa terima asih dari hati yang terdalam. Kalau dia adi u pa

sti sudah upelu dengan penuh rasa sayang. A u hanya menganggu dan membesar an hatinya bahwa Syai h Ahmad dan isterinya a an membu a an jalan yang bai baginy a. Mere a berdua orang-orang yang bai dan berhati lembut. Agar tida mencuriga an, Noura diminta Syai h Ahmad mema ai cadar. Nurul dan teman-temannya diminta t ida turun e bawah. Cu up melihat dari jendela saja. Kami berempat turun. Syai h Ahmad masu mobil dii uti isteri dan Noura. A u mengucap an salam dan selamat jalan. Kali ini Noura memandang diri u aga lama. A u tida tahu apa yang ada di dalam hatinya. A u terus berdoa semoga ia terbebas dari derita yang membelenggu nya. A u embali e Hadaye Helwan dengan hati lega. Syai h Ahmad a an mengurus segalanya. * * * Sampai di rumah a u langsung melihat jadwal. A u harus talaqqi e Shubra. A u me ncela diri u sendiri enapa setelah dari Rab ah El-Adawea tadi tida langsung e S hubra saja. Namanya juga lupa. Telpon berdering. Nurul menelpon menanya an bagai mana dengan uang yang telah a u beri an padanya. Padahal Noura hanya beberapa ha ri tinggal di rumahnya dan uang yang a u beri an padanya nyaris belum diguna an untu apa-apa. A u bilang tida usah dipi ir an dan di embali an, terserah mau d iapa an yang penting untu ebai an. Nurul dan teman-temannya orang yang jujur d an amanah. Keuangan negara tida a an bocor ji a ditangani oleh orang-orang sepe rti mere a. A u salut padanya. Tiba-tiba a u teringat lede an Si Rudi emarin, Ja ngan-jangan dia orangnya!.... Congratulation Mas. She is the star, she is the tr ue coise, she will be a good wife! . Ah, tida mung in! Kutepis jauh-jauh pi iran yang henda masu . Memili i isteri shalihah adalah dambaan. Tapi..ah, a u ini pungu dan dia adalah bulan. A u ini gembel otor dan dia adalah bidadari tanpa noda. A u melang ah mengambil air wud hu. Tadi pagi a u baru membaca seperempat juz, a u harus menyelesai an wirid u. Nanti habis zhuhur a u harus e Shubra. Syai h Utsman urang ber enan ji a ada h afalan yang salah, mes ipun satu huruf saja. A u membu al mushaf. Handphone- u berdering. Ternyata Aisha. Dia mengingat an ja nji bertemu dengan Alicia di National Library. A u mengucap an terima asih tela h diingat an. Dan siang itu a u embali menantang panas sahara untu mengaji AlQur an di Shubra yang jauhnya ira- ira lima puluh ilo dari apartemen u. Hadaye Helwan tempat a u tinggal ada di ujung selatan ota Cairo sementara Shubra ada d i ujung utara. Menjelang maghrib a u baru pulang dengan ubun-ubun epala seperti ering tanpa ada darah mengalir di sana, telah menguap sepanjang siang. A u ben ar-benar cape . Satu hari ini mela u an perjalanan hampir sejauh seratur ilo me ter. Pagi bola -bali Hadaye Helwan-Nasr City. Habis zhuhur bola -bali Hadaye Helwan-Shubra. Ba da shalat maghrib a u merasa epala u ta bisa diang at. Terasa berat dan sa it . A u panggil Saiful, a u minta padanya untu mengompres epala u. Saifu menempe l an telapa tangannya e ening u, Panas se ali Mas. Ia lantas bergegas memenuhi permintaan u. Saiful dudu disamping u sambil memija t edua a i u. Dia tahu persis apa yang ula u an seharian ini. Hamdi i ut sert a memijat-mijat. Teman-teman memang sangat bai dan perhatian. Kami sudah sepert i saudara andung. Seandainya Mishbah dan Rudi datang eduanya pasti juga i ut m enunggui atau membeli an buah yang usu a. Mishbah embali e Wisma untu urusan pelatihannya. Dan Rudi pergi e se retariat Kelompo Studi Walisongo atau KSW d ia mewa ili Himpunan Mahasiswa Medan atau HMM untu membicara an erjasama menga da an tour e tempat-tempat bersejarah di Mesir. Bel berbunyi. Yousef mencari a u. Hamdi membawanya masu e amar u. Yousef meny entuh tangan u. Ia ragu mengata an sesuatu. Ia tersenyum dan mendoa an semoga ti da apa-apa dan segera pulih lalu embali e rumahnya. Ta lama emudian bel em bali berbunyi. Hamdi beranja membu anya. Hamdi melongo di pintu amar dan bila ng, Tuan Boutros se eluarga Mas. Bagaimana? Apa mere a boleh masu emari? Kalau epala u tida seberat ini a u pasti eluar menemui mere a. A u mengisyara t an pada Hamdi agar mempersila an mere a masu . Pa Boutros masu membawa satu botol madu. Madame Nahed membawa peralatan do ternya. Dan Maria membawa nampan e ntah apa isinya. Tuan Boutros menyentuh pipi u. Panas. Nahed, coba au peri sa! atanya pada isterinya. Madame Nahed meminta izin pada u untu memeri sanya. Sambil memasang te anan dar

ah di lengan anan u, dia menanya an apa yang urasa an. Kujelas an semua dengan pelan. Saiful memberitahu an diri u mela u an perjalanan panjang di tengah teri siang, dari pagi sampai sore. Aga nya au terlalu memforsir dirimu. Banya -banya lah istirahat. Ada gejala heat stro e. Kau harus minum yang banya dan ma an buah-buahan yang segar. Istirahat lah dulu, jangan bepergian menantang matahari! ata Madame Nahed lembut. Heat stro e itu apa, Madame? tanya Saiful. Heat stro e adalah sengatan panas, yaitu penya it yang terjadi a ibat penumpu an panas yang berlebihan di dalam badan yang ditimbul an oleh eadaan cuaca panas. Tapi tida usah uatir baru gejala, jawab Madame Nadia. Dia lalu menulis resep da n minta puteranya Yousef untu eluar membelinya. Cepat ya. Sama ashir mangga! Yousef, sebentar! ujar u. Kepala u sema in berat. Tolong Saif ambil an uang di domp et u. Ada di lemari. Saiful mengambil uang seratus pound dan menyerah an pada Yo usef. Tapi Tuan Boutros mencegahnya. A u tida bisa berbuat apa-apa. Yousef elu ar. Maria mende at. Fathi, ini a u buat an ruz billaban untu mu, lirih Maria. Lha untu ami mana? Masa untu A h Fahri saja, sahut Hamid. Ma sud u juga untu alian, ucap Maria aga tersipu. Maria meleta an nampan beris i ruz billaban di atas meja belajar u. Saat itu ulihat dia memandang dua lembar ertas arton besar yang menempel di depan meja belajar. Oi Farhi, apa ini? Rancangan hidupmu? Sepuluh tahun e depan. Dan planning tahun ini, atanya setengah aget. Maria, jangan au baca! Aib! Madame Nahed mengingat an. Biar an. Ngga apa-apa! ata u. Yang utempel memang arah hidup sepuluh tahun e depan. Target-target yang harus udapat dan apa yang harus ula u an. Lalu peta hidup satu tahun ini. Ku tempel di depan tempat belajar untu penyemangat. Dan memang utulis dengan bahasa Ara b. Wow. Targetmu dua tahun lagi selesai master. Empat tahun beri utnya selesai do to r dan telah menerjemah lima puluh bu u serta memili i arya minimal lima belas arya. Dan empat tahun beri utnya atau sepuluh tahun dari se arang targetmu adala h guru besar. Fantasti . Hai Fahri apan rencanamu awin. Kenapa tida au tulis dalam peta hidupmu? celoteh Maria. Madame Nahed geleng-geleng epala. Baca yang teliti! lirih u. Maria membaca dengan teliti, ta lama emudian ia ber ata, O ey a u setuju. Keti a au menulis tesis magister. Ya, untu menemani perjuanganmu yang melelah an! Berarti sudah de at. Mung in tahun ini mung in tahun depan. Karena dia sudah lulu s ujian dan sudah diminta universitas membuat proposal tesis. sahut Saiful. Serta merta Tuan Boutros, Madame Nahed, dan Maria mengucap an selamat. Mere a senang mendengar a u mulai menulis tesis. Madame Nahed menanya an apa a u sudah ada cal on. Kepala u nyut-nyut. Kupa sa an untu tersenyum. Lalu a u bergurau, Kebetulan tida ada gadis yang mau de at dengan u. Ta ada yang mau mengenal u dan bai de ngan u. Yang bai pada u malah Maria. Bagaimana Madame, alau calonnya Maria? Madame Nahed tersenyum, Boleh saja. Tapi usaran an tida sama dia, dia gadis yan g a u. Beda dengan dirimu yang ulihat bisa romantis, bisa membuat ejutan- eju tan yang menyenang an. Kemarin dalam perjalanan pulang ami mendapat cerita yang banya tentang dirimu dari Rudi. Dia bercerita tentang esan- esannya padamu. D ia juga menjelas an sesungguhnya yang merancang dan membeli an hadiah ulang tahu n untu u dan untu Yousef itu amu. A u ta ut au ecewa dapat Maria. Dia gadis manja dan a u. Saya ta tahu dia bisa romantis apa tida . Dia itu gadis yang t ida pernah jatuh cinta. Ta su a di unjungi teman lela i. Ta su a diaja pergi encan. Kau harus mendapat an gadis yang bisa mengimbangi elembutan hatimu dan e uatan visimu mengarungi hidup. Kulihat au pemuda yang sangat ber ara ter da n uat memegang prinsip namun penuh toleransi. Kau jangan sembarangan memilih pa sangan hidup, itu saran dari Madame. Terima asih Madame atas sarannya, doa an saja. jawab u. Kuliri Maria. Sesaat mu anya merona tapi ia segera dapat menguasai dirinya. Fahri, enapa sih au buat peta hidup e depan segala, bu an ah hidup ini ena nya mengalir bagai an air? tanya Maria. Kepala u sebenarnya sema in nyut-nyut tapi a u selalu tida bisa membiar an ece

wa orang yang bertanya pada u. Maaf, setiap orang berbeda dalam memandang hidup ini dan berbeda caranya dalam me nempuh hidup ini. Peta masa depan itu saya buat terus terang saja berang at dari semangat spiritual ayat suci Al-Qur an yang saya ya ini. Dalam surat Ar Ra ad ayat sebelas Allah berfirman, Sesungguhnya Allah tida a an merubah nasib suatu aum ecuali aum itu sendiri yang mengubah nasibnya. Jadi nasib saya, masa depan say a, mau jadi apa saya, sayalah yang menentu an. Su ses dan gagalnya saya, sayalah yang mencipta an. Saya sendirilah yang mengariste i apa yang a an saya raih dal am hidup ini. Belum selesai a u bicara Maria menyela, Kalau begitu di mana ta dir Tuhan? Ta dir Tuhan ada di ujung usaha manusia. Tuhan Mahaadil, Dia a an memberi an sesu atu epada umat-Nya sesuai dengan adar usaha dan i htiarnya. Dan agar saya tida tersesat atau melang ah tida tentu arah dalam beri htiar dan berusaha ma a sa ya membuat peta masa depan saya. Saya su a dengan ata- ata bertenaga Thomas Car lyle: Seseorang dengan tujuan yang jelas a an membuat emajuan walaupun melewati jalan yang sulit. Seseorang yang tanpa tujuan, tida a an membuat emajuan walau pun ia berada di jalan yang mulus! Peta hidup ini saya buat untu mempertegas ara h tujuan hidup u sepuluh tahun e depan. Ini bagian dari usaha dan i htiar dan s etelah itu semuanya saya serah an sepenuhnya epada Tuhan. Maria menganggu -anggu an epala. Apa ubilang, Fahri seorang visioner yang tegas. Tida seperti dirimu Maria, hidu p manja tanpa visi. Kau ini sudah berada di jalan yang mulus. Di aruniai ota ya ng cerdas, hidup ber ecu upan, disayang eluarga. Tapi au tida a an membuat e majuan tanpa visi yang jelas. sahut Madame Nahed. A u tida ena mendengarnya. A u tida tahu seperti apa wajah Maria, mung in mem erah arena malu mendapat teguran dari ibunya yang ceplas-ceplos seperti itu. A u memejam an epala merasa an rasa nyeri di dalam tempurung epala u. Tuan Boutros menanya an emana Rudi dan Mishbah, eduanya tida elihatan. Hamdi menjelas an dengan rinci. Pembicaraan lalu beralih epada Hamdi dan Saiful. A u mendengar an dengan mata terpejam. Tangan Saiful masih memijit a i u. Ta lama emudian Yousef datang membawa obat dan satu botol ashir mangga. Madame Nahed m emberi an petunju cara meminum obatnya. Berapa hari se ali. Dia berpesan agar a u istirahat dulu sampai pulih embali. Mere a lalu pamitan. Saat mau pergi Mari a ber ata, Syu ran Fahri, a u mendapat an ilmu yang mahal se ali. Benar ata pepatah de at d engan penjual minya a an mendapat an wanginya. Setelah mere a embali e flatnya, a u ma an ruz billaban pemberian Maria. Ena . Lalu minum obat dan bersiap tidur. A u telah meminta Hamdi menyetel be er jam t iga. A u bersyu ur memili i teman-teman yang bai dan tetangga yang bai . Saiful memijat-mijat diri u sampai a u terlelap. Dalam tidur a u mendengar Maria menan gis. Air matanya membasahi a i u. Jam tiga a u terbangun. Heran dengan mimpi u. Sebelum tidur a u sudah baca shalawat dan doa. A u ta tahu mimpi itu tafsirnya apa. Kalau Ibnu Sirin masih hidup tentu a u tanya an padanya. A u beristighfar ber ali- ali memohon ampunan epada Allah ji a guyonan u pada Madame Nahed tadi tida semestinya a u la u an. Jangan-jangan menya iti hati Maria. A u bang it. K epala u terasa lebih ringan. A u tadi memang epanasan dan elelahan. Ya Allah, ulihat Saiful tidur di arpet. Ia begitu setia menunggui a u. Ana uhibbu a fill ah ya A hi!76 A u harus shalat Isya. Malam terasa sunyi. A u teringat ayah bund a di ampung sana, di tanah air tercinta. Terbayang mata bening bunda. selalu saja urindu abad-abad terus berlalu berjuta ali berganti baju nun jauh di sana mata bening menatap u haru penuh rindu mata bunda u yang selalu urindu 76 A u mencintaimu arena Allah, Saudara u! Dalam sujud umenangis epada Tuhan, memohon an rahmat esejahteraan tiada berpe nghabisan untu bunda, bunda, bunda dan ayahanda tercinta. Usai shalat Isya dan Witir a u tidur lagi. A u bermimpi lagi. Bertemu ayah ibu, berpelu an dan menang

is haru. * * * Pagi hari a u merasa segar embali. A u melihat jadwal. Ada janji di National Li brary. Kalau ta ada janji sebenarnya a u ingin istirahat saja. Kasihan tubuh in i, epanasan setiap hari. Tapi janji harus ditepati. Mes ipun harus merang a a an a u jalani. Janjinya jam sebelas. A u harus berang at jam sepuluh masih ada t iga jam. Lumayan untu mengejar terjemahan. Pu ul sepuluh a u berang at. Matahari sudah mulai menyengat. Sampai di halaman M aria memanggil nama u dari jendelanya. Ia mengingat an agar a u tida pergi. Ku ata an padanya a u ada janji. A u harus menepatinya mes ipun untu itu a u harus mati. Untung a u dapat tempat dudu . Lebih bai daripada berdiri. Di tengah per jalanan seorang pemuda Mesir mema ai jubah lusuh nai . Ia membawa arung. Entah apa isinya. Sampai di dalam metro membu a arungnya. Mengeluar an bone a panda. Ia menawar an pada penumpang barang dagangannya. Bone a dan mainan ana -ana . Ia menawar an dari ujung e ujung. Ia bilang harga promosi jauh lebih murah dari y ang di to o resmi. Ta ada yang beli. Ia mende ati u dan menawat an bone a panda itu pada u. Ku ata an padanya a u belum punya ana . Penjual mainan itu menjawab , Belilah, udoa an au mendapat an isteri yang shalihah dan canti seperti bidadar i dan memili i ana yang shalih shalihah, juga udoa an umurmu ber ah riz imu me limpah sehingga au dan ana cucumu tida a an perlu berjualan di jalan seperti diri u. Belilah untu penyemangat hidup u! Siapa yang tida terenyuh mendengar ata- ata penuh muatan doa seperti itu. Hati u luluh. A u a hirnya membeli bone a panda dan pistol air. Cuma sepuluh pound. Bone a enam pound dan pistol airnya empat pound. Pemuda itu tampa berbinar mata nya, ia mengucap an terima asih. Setelah a u membeli ada seorang ibu setengah b aya tertari dan membeli. A u memandangi bone a panda warna co lat dan putih di tangan u. Bone a yang cant i . Kepada siapa a an uberi an? A u tersenyum sendiri. Biar nanti ugantung di atas tempat tidur. Pemuda itu masih di dalam metro ia belum turun. Mung in turun di mahatah depan. Keringatnya bercucuran. A u teringat masa ecil u eti a a u masih SD. Kami eluarga susah. Ka e hanya mewaris an sepeta sawah, ira- ira l uasnya setengah bahu. Dibagi dua dengan adil untu ayah dan paman. Ayah tida se olah, dia hanya sampai elas tiga se olah SR. Hanya bisa baca dan menulis saja. Demi ian juga dengan ibu. Lain dengan paman. Dia dise olah an oleh a e dengan bantuan ayah sampai SPG. Dia jadi guru. Karena paman sudah dise olah an ma a ru mah a e diberi an epada ayah. Selama paman se olah ayahlah yang menggarap saw ah untu membiayai paman. Dan paman sangat pengertian, sebenarnya dia tida mint a apa-apa. Apa yang dia punya sudah cu up. Dia ebetulan mendapat an isteri tema n se olahnya, ana penili se olah jadi lebih tercu upi. Tapi ayah tetap meminta epada paman agar sawah sepeta itu dibagi dua. Paman tida boleh menola nya. A hirnya yang ami punya adalah rumah peninggalan a e yang sangat sederhana dan sawah seperempat bahu. Apa yang bisa diharap an dari sawah setengah bahu. Ayah tetap menggarap sawah itu dengan menanam padi. Hasilnya di ma an sendiri. Untu eperluan lain ibu jualan gorengan di pasar dan ayah jualan tape77 dengan ber e liling dari ampung e ampung. Ji a hari minggu a u diaja ayah i ut serta. Ber jalan ber ilo- ilo. Ji a telah de at dengan rumah pendudu ayah a an berteria , P e tape! Pe tape! Pe tape! Ji a ayah lelah ma a a ulah yang bergantian berteria menawar an tape. Ji a ada yang beli hati senangnya bu an main. Rasa lelah seperti hilang begitu saja. Apal agi ji a ada yang memborong sampai belasan bung us, ami a an merasa menjadi ora ng paling beruntung di dunia. Mata u basah mengingat itu semua. Pu ul sebelas urang lima menit a u sampai di National Library. A u langsung men uju afetaria. Alicia dan Aisha sudah ada di sana. Alicia tersenyum pada u entah Aisha a u tida tahu sebab ia bercadar. Mere a telah memesan minuman. A u pesan segelas ari ade dingin. Alicia menyerah an dua lembar ertas berisi pertanyaan nya. Kubaca se ilas. Pertanyaan yang sangat serius. A u menjanji an a an menyera h an jawabannya hari Sabtu, di tempat dan wa tu yang sama. Alicia setuju. Kami l alu berbincang-bincang. Alicia banya bertanya tentang studi u. Aisha bercerita tentang pamannya yang senang se ali mendapat an salam dari u, dan mengirim salam

bali , juga dua epona annya yang masih ingat pada u. Katanya si Amena menyebut u Ammu Fahri Al Andonesy! 78 Aisha juga bertanya apa ah a u telah ber eluarga? Set elah selesai master apa yang a an a u erja an di Indonesia? Apa ah a u a an mel anjut an S3? A u menjawab apa yang bisa ujawab. Sebelum berpisah a u teringat b one a dan pistol air yang a u beli di dalam metro. Kutitip an pada Aisha untu epona annya, Si Amena dan Hasan yang lucu dan menggemas an. Melihat bone a panda yang canti mata Aisha membesar dan ber ata, Wow canti se ali, Amena pasti sena ng menerimanya dan dia a an terus mengingat pamannya dari Indonesia. 77 Ma anan dibuat dari sing ong rebus yang telah di beri ragi. Sangat mirip deng an payem Bandung. A u hanya tersenyum mendengarnya. Sudah setengah tahun a u tida bertemu dua jun di ecil itu. Amena mung in sudah hafal juz dua puluh sembilan. Dan Si Hasan sud ah bisa membaca tulisan. A u tida tahu sama se ali bahwa bone a panda yang a u beli tanpa sengaja itu suatu saat nanti a an membawa u e a i langit cinta yang tiada tara indahnya. Ka i langit cinta orang-orang yang bercinta arena Allah S ubhanahu wa Ta ala. 78 Paman Fahri dari Indonesia. 9. Merancang Peta Hidup Dari National Library a u langsung pulang. Di dalam metro a u mema sa an diri m embaca dengan se sama pertanyaan-pertanyaan yang diaju an nona Alicia dari Ameri a itu. Rasa penasaran mengalah an perut lapar belum sarapan dan badan yang tera sa meriang. Lembar pertama berisi pertanyaan tentang bagaimana Islam memperla u an wanita. Tentang beberapa hadits yang dianggap merendah an wanita. Tentang pol igami, warisan dan lain sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan yang tida asing namun terus menerus ditanya an. Pertanyaan yang sering ali memang dipa ai oleh mere a yang tida bertanggung jawab untu mendis redit an Islam. Di Barat masalah poli gami dalam Islam dipertanya an. Mere a menganggap poligami merendah an wanita. M ere a lebih memilih ana puterinya berhubungan di luar ni ah dan umpul ebo den gan ratusan lela i bah an yang telah beristeri se alipun daripada hidup ber elua rga secara resmi secara poligami. Menurut mere a pelacur yang memuas an nafsu bi ologisnya secara bebas dengan siapa saja yang ia su a lebih bai dan lebih terho rmat daripada perempuan yang hidup ber eluarga bai -bai dengan cara poligami. Untu semua pertanyaan tentang bagaimana Islam memperla u an perempuan a u sudah membayang an semua jawaban yang a u a an tulis, leng ap dengan sejarah perla ua n manusia terhadap perempuan. Seja zaman Yunani uno sampai zaman postmo. A u i ngat bahwa para pendeta di Roma sebelum Islam datang, pernah sepa at untu menga nggap perempuan adalah ma hlu yang najis dan bone a perang ap setan. Mere a bah an mempertanya an, perempuan sebetulnya manusia apa bu an? Punya ruh apa tida ? Sementara Baginda Nabi sangat memulia an ma hlu yang bernama perempuan, beliau pernah bersabda bahwa siapa memili i ana perempuan dan mendidi nya dengan bai ma a dia masu surga. A u tinggal mering as jawaban yang telah banya ditulis para sejarawan, cende ia wan dan ulama Mesir. Pertanyaan yang ber aitan dengan perempuan a u anggap seles ai. Nanti malam a an a u jawab leng ap dengan data dan dalil-dalil utama dalam A l-Qur an dan Sunnah. Hadits yang ditanya an Alicia yang mengata an atanya Nabi pe rnah bersabda perempuan adalah perang ap setan adalah bu an hadits. Itu adalah p er ataan seorang Sufi namanya Basyir Al Hafi. Sebagaimana dijelas an dengan se s ama dalam itab Kasyful Khafa. Itu adalah pendapat pribadi Basyir Al Hafi yang emung inan besar terpengaruh oleh per ataan para pendeta Roma. Itu bu an hadits tapi disiar an oleh orang-orang yang tida memahami hadits sebagai hadits. Bagai mana mung in Islam a an menghina an perempuan sebagai perang ap setan padahal da lam Al-Qur an jelas se ali penegasan yang berulang-ulang bahwa penciptaan perempua n sebagai pasangan hidup aum lela i adalah termasu tanda-tanda ebesaran Tuhan . Dalam surat Ar Ruum ayat dua puluh satu Allah berfirman: Dan di antara tanda-tanda e uasaan-Nya ialah Dia mencipta an untu mu isteri-iste ri dari jenismu sendiri, supaya amu cenderung dan merasa tenteram epadanya, da n dijadi an-Nya di antaramu rasa asih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demi ia n itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi aum yang berpi ir.

Ji a perempuan adalah perang ap setan atau panah setan bagaimana mung in baginda nabi menyuruh memperla u an perempuan dengan bai . Bah an beliau bersabda dalam hadits yang shahih, Orang pilihan di antara alian adalah yang paling berbuat ba i epada perempuan (isteri)nya. 79 Baginda nabi juga menyuruh umatnya untu mengu tama an ibunya daripada ayahnya. Ibu disebut nabi tiga ali. Ibumu, ibumu, ibumu , baru ayahmu!. Pada lembaran edua, Alicia bertanya bagaimana Islam memperla u an nonmuslim? Ba gaimana Islam memandang Nasrani dan Yahudi? Apa sebetulnya yang terjadi antara u mat Islam dan umat Kopti di Mesir, sebab media massa Ameri a memandang umat Isl am berla u tida adil? Bagaimana pandangan Islam terhadap perbuda an? Dan lain s ebagainya. A u teringat sebuah bu u yang menjawab semua pertanyaan Alicia ini. Bu u apa, da n siapa penulisnya? A u terus mengingat-ingat. Ota u terus berputar, dan a hirn ya etemu juga. Bu u itu ditulis oleh Prof. Dr. Abdul Wadud Shalabi yang pernah menjadi se retaris Grand Syai h Al Azhar, Syai h Abdul Halim Mahmud. A u merasa sebai nya menerjemah an bu u berjudul Limadza ya haafunal Islam80 itu e dalam b ahasa Inggris untu menjawab pertanyaan Alicia. Supaya Alicia dan orang-orang Ba rat tahu jawabannya dengan jelas dan gamblang. Supaya mere a lebih tahu begaiman a sebenarnya Islam memulia an manusia. 79 Hadits ini diriwayat an oleh Imam Tirmidzi, beliau ber ata: Hadits hasan shah ih. Juga diriwayat an oleh Imam Ibnu Majah, Imam Baihaqi dan Thabrani. Untu pertanyaan, apa sebetulnya yang terjadi antara umat Islam dan umat Kopti di Mesir, yang paling tepat sebenarnya, biarlah umat opti Mesir sendiri yang m enjawabnya. Dan Pope Shenouda pemimpin tertinggi umat risten opti Mesir sudah membantah semua tuduhan yang bertujuan tida bai itu. Pope Shenouda tida a an bisa melupa an masa ecilnya. Dia adalah ana yatim di sebuah peloso desa Mesi r yang disusui oleh seorang wanita muslimah. Dan wanita muslimah itu sama se ali tida mema sa Shenouda untu mengi uti eya inannya. Wanita muslimah itu mengal ir an air susunya e tubuh si ecil Snouda murni arena panggilan Ilahi untu me nolong bayi tetangganya yang membutuh an air susunya. Ada ah toleransi melebihi apa yang dila u an ibu susu Pope Shenouda yang muslimah itu? Dalam sejarah pemerintahan Mesir, pada tanggal 10 Mei 1911 ada laporan olonial Inggris e London yang menjelas an hasil sensus di Mesir. Dari sensus pendudu w a tu itu jumlah umat Islam 92 persen, umat risten opti hanya 2 persen, selebi hnya Yahudi dan lain sebagainya. Pada wa tu itu jumlah pegawai yang be erja di ementerian seluruhnya 17.569 orang. Dengan omposisi 9.514 orang dari aum musli min yang berarti 54,69 persen, dan selebihnya dari aum opti , yaitu 8.055 oran g dan berarti, 45,31 persen. Bagaimana mung in jumlah umat opti yang cuma 2 pe rsen itu mendapat an jatah 45,31 persen di departemen-departemen ementerian. Da n umat Islam mesir tida pernah mempesoal an omposisi yang sangat mengana emas an umat risten opti ini. Apa ah tida wajar ji a para pendeta opti ebih dah ulu bersuara lantang menola tuduhan Ameri a sebelum Al Azhar bersuara? Ulama-ulama besar dan ter emu a Mesir tida pernah menyapa umat risten opti s ebagai orang lain. Mere a dianggap dan disapa sebagai i hwan sebagai saudara. Saud ara setanah air, se ampung halaman, sepermainan wa tu ecil, bu an saudara dalam eya inan dan eimanan. Syai h Yusuf Qaradhawi menyapa umat opti dengan i hwan una al Aqbath , saudara-saudara ita umat opti . Sebuah sapaan yang telah diajar an oleh Al-Qur an. Al-Qur an menga ui adanya persaudaraan di luar eimanan dan eya inan. Dalam sejarah nabi-nabi, aum nabi Nuh adalah aum yang mendusta an para r asul. Mere a tida mau seiman dengan nabi Nuh. Mes ipun demi ian, Al-Qur an menyeb ut Nuh adalah saudara mere a. Tertera dalam surat Asy Syuara ayat 105 dan 106: Ka um Nuh telah mendusta an para rasul. Keti a saudara mere a (Nuh) ber ata pada me re a, Mengapa amu tida berta wa? Apa ah ajaran yang indah dan sangat humanis sep erti ini masih juga dianggap tida adil? Kalau tida adil juga ma a seperti apa ah eadilan itu? Apa ah seperti ajaran Yahudi yang menganggap orang yang bu an Y ahudi adalah buda mere a. Atau ajaran yang diya ini ratu Isabela yang memancung jutaan umat Islam di Spayol arena tida mau mengi uti eya inannya? 80 Kenapa mere a ta ut epada Islam? A u merasa isi bu u Prof. Dr. Abdul Wadud Shalabi harus dibaca masyara at Ameri a, Eropa, dan belahan dunia lainnya yang masih sering tida bisa memahami ruh aj

aran Islam. Termasu juga masyara at Indonesia. Tapi a u bimbang, apa ah a u pun ya wa tu yang cu up untu menerjemah an bu u itu. Kontra terjemahan harus seger a a u tuntas an. Ja arta sedang menunggu nas ah yang a u erja an. Proposal tesi s juga harus segera uaju an e universitas. Dan ondisi esehatan yang sedi it terganggu. * * * Metro yang utumpangi sampai di Hadaye Helwan pu ul dua. Panas sengatan matahar i sema in urang ajar dan urang ajar. A u eluar mahattah dengan mema ai lang a h cepat. Di perempatan jalan de at rental dan to o peralatan omputer Pyramid Co m, a u mendengar seseorang memanggil nama u. Suara yang tida terlalu asing. A u menengo e anan, e arah Pyramid Com. Seorang gadis Mesir sambil memegang pay ung berjalan cepat e arah u. A u terus saja berjalan ta begitu mempeduli an di rinya. Sebab udara panas menyengat mu a. Hai Fahri, tunggu, baru pulang ya? Kepanasan? Ini pa ai saja payung u nanti au s a it lagi? Gadis Mesir berpipi lesung alau tersenyum itu telah berhasil mengejar lang ah u . Ia berjalan sejajar dengan u dan menawar an payungnya pada u. Sudahlah Maria, au jangan berla u begitu! sahut u sambil mempercepat lang ah. Mar ia terus berusaha mengimbangi ecepatan lang ah u. Ia berusaha memayungi diri u dari sengatan matahari. Beberapa orang Mesir yang berpapasan dengan ami melihat ami dengan pandangan heran. Maria mela u an sesuatu yang tida biasanya dila u an gadis Mesir. Juga tida a an pernah ada lela i di Mesir mema ai payung untu melindungi dari sengatan matahari. Maria, please, hormatilah a u. Jangan bersi ap seperti itu! Maria menari payungnya dan mengguna an untu melindungi dirinya. A u heran send iri dengan perla uan puteri Tuan Boutros ini pada u. Mamanya bilang Maria tida su a didatangi teman-teman lela inya. Juga tida su a pergi atau encan dengan m ere a. Tida su a menerima telpon dari mere a. Tida bisa mesra atanya, tapi e napa dia bersi ap sedemi ian perhatian pada u. A u merasa ia seolah-olah menungg u epulangan u di jalan yang pasti ulewati. Janji sama siapa Fahri, alau a u boleh tahu? tanyanya. A u mempercepat lang ah. J ara apartemen dan mahattah metro se itar seratus dua puluh lima meter. Sama teman. Kau panas-panas begini e Pyramid Com ada apa? Kau an paling malas e luar di tengah panas yang menggila seperti ini? tanya u tanpa memandang epadanya . Itu tida mung in ula u an ecuali terpa sa misalnya eti a berjumpa begitu s aja. Atau refle menengo arena dia memanggil nama u. Terpa sa. Tinta print u habis. Padahal a u harus ngeprint banya saat ini. Sialny a sto Pyramid Com juga habis. A u mau e Helwan malas se ali? jawabnya dengan n ada ecewa. Kebetulan tinta u masih penuh. Baru beli. Pa ai saja mili u. Terima asih Fahri. Kebetulan se ali alau begitu. A u perlu se ali. Kalau a u ta hu itu a u tida a an cape -cape begini. Kelihatannya au sangat sibu minggu dan banya tugas minggu ini, Maria? Iya, seja empat hari emarin a u sibu mengedit umpulan tulisan u yang tersebar di beberapa media selama satu tahun ini. Hari ini juga harus a u print. Sebab h abis maghrib nanti a an diambil Wafa untu diminta an ata pengantar pada Anis M ansour, lalu diterbit an. Setelah itu sampai uliah a tif embali a u osong. Ad a apa au tanya seperti itu. Ada yang bisa a u bantu? Ya. Kalau au ber enan. A u perlu bantuanmu. Apa itu? Kalau a u mampu, dengan senang hati. A u lalu menjelas an pertemuan u dengan Alicia dan segala pertanyaannya. A u men jelas an einginan u menyampai an isi bu u yang ditulis Prof. Dr. Abdul Wadud Sh alabi. Tapi elihatannya a u tida punya wa tu yang cu up. Bu u itu setebal 143 halaman. Dan Maria bahasa Inggrisnya sangat bagus. Selama di se olah menengah ia ursus di British Council, dan pernah terpilih pertu aran pelajar e S otlandia selama setengah tahun. Kapan dead linenya? Jawaban harus a u sampai an pada Alicia hari Sabtu depan. Kalau bisa malam Jum at s udah selesai diterjemah an sehingga a u juga ada esempatan membacanya? Bai lah. Nanti beri an bu u itu pada u. A u berjanji Kamis pagi selesai.

Than s, Maria. Forget it. Ta terasa ami telah sampai di halaman apartemen. A u mempercepat lang ah. A u tida mau nai tangga di bela ang Maria. A u harus di depan, a u teringat isah nabi Musa dan dua gadis muda pencari air. Nabi Musa tida mau berjalan di bela a ng eduanya demi menjaga pandangan dan menjaga ebersihan jiwa. Sampai di dalam flat, Saiful menyambut u dengan segelas ashir mangga. A u langsu ng meminumnya. Rasa segar menjalar e seluruh tubuh. A u langsung masu amar da n menyala an ipas angin. Maria mengirim sms agar tinta dan bu u yang henda dit erjemah segera usiap an. Lima menit lagi ia a an menurun an eranjang. A u lang sung mencari bu u itu di ra . Ketemu. Jendela ubu a. Angin panas masu serta me rta. Maria telah menunggu dengan eranjang ecilnya. Tinta dan bu u umasu an e dalamnya. Dan ia mengang atnya. A u langsung shalat dan istirahat sampai ashar tiba. * * * Mishbah pulang dari Nasr City jam enam sore. Keti a a u sedang asyi membaca beb erapa bu u untu menjawab pertanyaan Alicia. Ia membawa pesan dari Nurul yang se cara tida sengaja bertemu di depan Wisma agar a u menelpon dia sebelum maghrib tiba. Kembali Rudi menggoda u, Tida salah lagi. Pasti ada sesuatu. She is the tr ue coise! A u beristighfar dalam hati. Semoga Allah melindungi dari godaan setan yang ter utu yang menyesat an manusia dengan berbagai macam cara. Dalam hati a u menegas an, a u tida a an menelponnya. Setengah tujuh telpon berdering. Dari Nurul. Ia minta pada u agar e rumah Ustad z Jalal, atanya Ustadz Jalal ingin minta tolong dan membicara an sesuatu yang p enting pada u. Ku ata an minggu ini a u tida bisa. Ia bilang tida apa-apa, tap i minta diusaha an alau ada esempatan langsung e sana. Ustadz Jalal masih ada hubungan erabat dengan Nurul, mes ipun aga jauh. Mere a bertemu di ayah a e alias buyut. Sudah lama a u tida bertemu Ustadz Jalal. Beliau dosen Fa ultas U shuluddin IAIN Sunan Kalijaga yang mengambil S3 di Sudan, dan selama menulis dis ertasi do toralnya beliau tinggal di Kairo bersama isteri dan etiga ana nya. A u a rab dengan beliau dimulai seja ami umrah bersama dua tahun yang lalu. Kami mengarungi laut merah untu mencapai Jeddah dengan apal Wadi Nile. Saat itu be liau baru setengah tahun di Cairo. Ana beliau baru dua. Ana nya yang bungsu lah ir di Cairo tujuh bulan yang lalu. Apa yang beliau ingin an dari u? Apa ah belia u a an meminta tolong untu i ut menta hrij hadits lagi? A u ta tahu pasti. Jaw abnya adalah eti a a u bertemu dengannya. Sebenarnya yang membuat u sedi it her an, enapa Ustadz Jalal tida langsung menelpon u, enapa berputar lewat Nurul. Benar, rumahnya tida ada telponnya, tapi dia tentunya bisa menelpon lewat Minat el yang tersebar di setiap sudut ota Cairo. Keadaan dan jalan berpi ir seseoran g ter adang memang susah dimengerti. Usai mengang at telpon a u tida menerus an pe erjaan u sebelumnya, yaitu membac a. Tapi a u merasa perlu meninjau embali planning bulan ini. Utamanya adalah mi nggu yang sedang a u jalani ini. A u melihat jadwal eluar rumah. Ada lima egia tan. Kurasa harus a u pang as semua. A u harus istirahat dan mengejar terjemahan . Pengajian ibu-ibu KBRI hari Selasa. Pembanding dalam dis usi yang diada an FOR DIAN, Forum Studi Ilmu Al-Qur an, di Buuts, hari Rabu pagi. Pergi e warnet. Dan r apat Dewan Asaatidz Pesantren Virtual, di mahattah Shurthah, Nasr City, Kamis ma lam Jum at. Semuanya harus a u batal an. Yang perlu pengganti harus a u cari an ga nti. Bah an untu talaqqi pada Syai h Utsman hari Rabu a u ingin izin, se ali in i. A u benar-benar ingin di rumah minggu ini, menghindari perjalanan panjang yan g membuat ubun-ubun terasa mendidih. Sore itu juga a u telpon ta mir masjid Indonesia yang mengurusi pengajian ibu-ib u KBRI agar mengganti jadwal u dan memundur an satu bulan e bela ang. Pada oor dinator FORDIAN a u minta diganti, utawar an sebuah nama. Pada Gus Ochie El-Anw ari sang penggagas rapat Dewan Asaatidz a u minta izin, a u sampai an beberapa i de dan po o pi iran yang mengganjal di epala. Setelah semua beres a u merasa l ega. Langsung usambung dengan menulis jawaban atas pertanyaan Alicia seputar Is lam dan Perempuan. A u hanya istirahat untu shalat, ma an malam, dan minum air putih. Te ad u bulat harus tuntas malam ini. Ta ada bedanya dengan membuat ary a ilmiah. Jawaban dengan bahasa Inggris itu selesai juga. Tepat pu ul tiga malam

. Dengan bahasa Inggris. Setebal empat puluh satu halaman spasi satu Microsoft W ord, Times New Roman, Font 12. Seandainya tida mema ai bahasa Inggris urasa pu ul satu malam sudah selesai. Beberapa ali a u harus membu a amus Al Maurid un tu sebuah osa ata yang a u urang ya in etepatannya. Seja itu a u tida eluar rumah ecuali untu shalat berjamaah. Wa tu u habis d i dalam amar, di depan omputer. A tifitas u adalah menerjemah, menyelesai an p roposal, sese ali ma an, e amar mandi dan tidur. Hari Selasa sore Maria member i tahu bu u Prof. Dr. Abdul Wadud Shalabi telah selesai ia terjemah an e dalam bahasa Inggris. Hanya saja ia tida berani menerjemah an hadits dan ayat suci Al -Qur an ta ut salah. Maria memberi an dis et berisi terjemahannya. Ke urangannya utambal. Jawaban u dan hasil terjemahan Maria langsung a u print dan eti a shal at shubuh a u beri an epada Syai h Ahmad untu diperi sa. Kebetulan bahasa Ingg ris beliau bagus tida seperti Imam masjid lainnya. Beliau bah an pernah diutus oleh Al Azhar e Australia untu menjadi Imam di masjid Mali Faishal yang terle ta di Common Wealth Street, Surry Hills, Sidney selama satu tahun. A u jelas an pada beliau pertemuan u dengan Miss. Alicia dari Ameri a dan apan jawaban itu harus a u serah an. A u ingin beliau mengore si dengan se sama. Beliau sangat se nang dengan apa yang a u la u an. Beliau menjanji an malam Jum at ba da shalat Isya bisa a u ambil sehingga bisa diedit lagi dan diprint ulang. Ke ejaman pada diri sendiri untu be erja eras menampa an hasilnya. Hari Jum at terjemahan selesai. Tinggal menunggu diedit saja. Proposal tesis juga selesai, s iap untu diaju an e tim penilai. Ji a laya nanti piha fa ultas a an mencari an promotor yang sesuai. Dan jawaban untu semua pertanyaan Alicia yang telah di ore si dan diberi tambahan Syai h Ahmad sudah a u print, a u fotocopy dan a u j ilid jadi empat. Untu Alicia, untu Aisha, untu Maria, dan untu arsip pribadi u. A u menatap peta hidup bulan ini. A u tersenyum penuh rasa syu ur. Ku ata an pada diri u sendiri, Man jadda wajad! 81 A u merasa bersyu ur epada Allah yang mengilham an untu merubah strategi peran g u minggu ini. Memang ter adang ita harus ejam pada diri sendiri. Dan sedi it tegas pada orang lain. A tifitas yang penting tetapi tida terlalu penting bisa dibuang atau di-pending. * * * Keti a a u mengambil nas ah yang di ore si Syai h Ahmad, beliau bercerita sedi i t tentang Noura. Gadis innocent itu senang di Tafahna. Kebetulan satu hari sebel umnya, Ummu Aiman, isteri Syai h Ahmad menjengu e sana. Syai h Ahmad sedang me laca sebenarnya siapa Si Mu a Dingin Bahadur itu. Apa ah benar ayahnya atau bu an? Syai h Ahmad mendapat an informasi Noura dilahir an di lini bersalin Helio polis. Bagaimana sejarahnya Noura bisa terlahir di lini elite di awasan elite itu? Syai h Ahmad sedang menyelidi inya dengan bantuan Ridha Shahata, sepupunya yang menjadi staf intelijen Dewan Keamanan Negara atau yang disebut Mabahits Amn Daulah . A u ya in ta lama lagi Noura embali hidupnya yang penuh etenteraman. Sebelum a u pulang beliau menyerah an sepucu surat epada u, beliau bilang, Sura t ini yang membawa Ummu Aiman, dari Noura, atanya ucapan terima asih padamu! 81 Pepatah Arab ter enal, artinya: Siapa bersungguh-sungguh dia mendapat! Inilah untu pertama alinya a u mendapat an surat dari orang Mesir. Asli. Dari gadis Mesir lagi. Mes ipun cuma ucapan terima asih. A u penasaran ingin tahu a ta- ata apa yang ditulis oleh gadis innocent itu. Seperti apa tulisannya. Ingin rasanya ubu a se eti a itu, tapi pada Syai h Ahmad a u merasa malu. Kumasu an surat itu begitu saja e dalam sa u. 10. Sepucu Surat Cinta Ini malam Sabtu. Beso pagi a u harus pergi. Memasu an proposal tesis e ampu s. Menemui Alicia dan Aisha di National Library. Dan mengirim an nas ah terjemah an e reda si sebuah penerbit di Ja arta melalui email. Perjalanan yang aga mel elah an elihatannya. Semua telah siap, ecuali nas ah terjemahan. Belum selesai di edit. A u ingin beso pagi semuanya berjalan seperti rencana. Se ali mela u an perjalanan banya yang diselesai an. Malam ini mau tida mau a u harus sedi i t eras pada diri u sendiri. A u harus erja lembut mengedit hasil terjemahan u sampai benar-benar matang.

Kepada Fahri bin Abdillah, seorang mahasiswa dari Indonesia yang lembut hatinya dan berbudi mulia Assalamu alai um warahmatullah wa bara atuh. Kepadamu u irim an salam terindah, salam sejahtera para penghuni surga. Salam y ang harumnya melebihi esturi, seju nya melebihi embun pagi. Salam hangat sehang at sinar mentari wa tu dhuha. Salam suci sesuci air telaga Kautsar yang ji a dir egu a an menghilang an dahaga selama-lamanya. Salam penghormatan, asih dan cin ta yang tiada pernah pudar dan berubah dalam segala musim dan peristiwa. Wahai orang yang lembut hatinya, Entah dari mana a u mulai dan menyusun ata- ata untu mengung ap an segala sedu sedan dan perasaan yang ada di dalam dada. Saat au baca surat u ini anggaplah a u ada dihadapanmu dan menangis sambil mencium telapa a imu arena rasa terim a asih u padamu yang tiada taranya. Wahai orang yang lembut hatinya, Seja a u ehilangan rasa aman dan asih sayang serta merasa sendirian tiada mem ili i siapa-siapa ecuali Allah di dalam dada, aulah orang yang pertama datang memberi an rasa simpatimu dan asih sayangmu. A u tahu au telah meniti an air mata untu u eti a orang-orang tida meniti an air mata untu u. Wahai orang yang lembut hatinya, Keti a orang-orang di se itar u nyaris hilang epe aan mere a dan masa bodoh den gan apa yang menimpa pada diri u arena mere a diselimuti rasa bosan dan jeng el atas ejadian yang sering berulang menimpa diri u, au tida hilang rasa peduli mu. A u tida memintamu untu menga ui hal itu. Karena orang i hlas tida a an p ernah mau mengingat ebaji an yang telah dila u annya. A u hanya ingin mengung a p an apa yang saat ini udera dalam relung jiwa. Wahai orang yang lembut hatinya,

Untu persiapan lembur ini, a u telah menyiap an dopping andalan. Madu murni, su su ambing murni yang dibeli an oleh Hamdi dari para penggembala ambing yang bi asa lewat di Wadi Hof, dan telur ayam ampung. Agar suasana segar a u membu a je ndela dan pintu amar terbu a lebar-lebar. Pelan-pelan usetel nasyid Athfal Fil istin. Semangat bocah-bocah cili Palestina yang membara dengan celoteh mere a y ang menggemas an menyanyi an lagu-lagu perjuangan dan intifadhah membuat diri u bersemangat dan tida mengantu . A u sudah minta izin teman-teman untu membunyi an nasyid ini sampai tengah malam. A u minta mere a menutup pintu amar masingmasing agar tida terganggu tidurnya. Ternyata mere a malah asyi meminjam film Ashabul Kahfi dari seorang teman di Na sr City. Dan menontonnya di amar Rudi. Mere a memerlu an wa tu 16 jam untu men onton film yang dibuat Iran dan Lebanon itu. Sebab film Ashabul Kahfi adalah fil m yang diputar bersambung oleh stasiun TV Lebanon selama bulan Ramadhan tahun e marin. Hanya yang memili i parabola yang bisa menontonnya. Malam ini mere a meny edia an wa tu husus untu menontonnya. A u belum pernah menontonnya, sebetulnya sangat ingin. Tapi apa ah semua einginan harus dipenuhi? Komentar teman-teman yang sudah menontonnya, film Ashabul Kahfi luar biasa indahnya, mampu menambah eimanan dan memperhalus jiwa. Lain ali semoga ada esempatan menontonnya. Malam ini adalah malam erja. Malam ini, sementara teman-teman terbang e zaman Ashabul Kahfi, mere a berdialo g dengan pemuda-pemuda pilihan itu, a u malah berlayar di lautan ata- ata yang disusun Ibnu Qayyim. A u harus membaca dengan teliti dan mengedit tulisan sebany a 357 halaman. Tengah malam a u elelahan. A u istirahat dengan mela u an shala t. Keti a sujud epala terasa ena . Darah mengalir e epala. Syaraf-syarafnya m enjadi lebih segar. Kudengar teman-teman bertasbih atas apa yang mere a lihat di film itu. A u melemas an otot-otot dengan menelentang an badan di atas asur. M enari nafas dalam-dalam dan mengeluar annya pelan-pelan. A u bang it henda men erus an pe erjaan. Ta sengaja a u melihat sepucu surat permintaan mengisi pela tihan terjemah dari sebuah elompo studi. A u jadi teringat dengan sepucu sura t dari Noura yang masih berada di sa u baju o o yang tergantung di dalam almari . A u belum membacanya. Segera uambil surat itu dan ubaca.

Malam itu a u mengira a u a an jadi gelandangan dan tida memili i siapa-siapa. A u nyaris putus asa. A u nyaris mau mengetu pintu nera a dan menjual segala e hormatan diri u arena a u tiada uat lagi menahan derita. Keti a setan nyaris m embali eteguhan iman u, datanglah Maria menghibur dengan segala elembutan hat inya. Ia datang bagai an malai at Jibril menurun an hujan pada ladang-ladang yan g sedang se arat menanti ematian. Di amar Maria a u terharu a an etulusan hat inya dan eberaniannya. A u ingin mencium telapa a inya atas elusan lembut tan gannya pada punggung u yang sa it tiada tara. Namun apa yang terjadi Fahri? Maria malah menangis dan memelu u erat-erat. Dengan jujur ia mencerita an semua nya. Ia sama se ali tida berani turun dan tida berniat turun malam itu. Ia tel ah menutup edua telinganya dengan segala eributan yang ditimbul an oleh ayah u yang ejam itu. Dan datanglah permintaanmu melalui sms epada Maria agar ber en an turun menye a air mata du a u. Maria tida mau. Kau terus mema sanya. Maria t etap tida mau. Kau mengata an pada Maria: Kumohon tuturlah dan usaplah air mata . A u menangis ji a ada perempuan menangis. A u tida tahan. Kumohon. Andai an a u halal baginya tentu a u a an turun mengusap air matanya dan membawanya e tem pat yang jauh dari linangan air mata selama-lamanya. Maria tetap tida mau. Dia m enjawab: Untu yang ini jangan pa sa a u, Fahri! A u tida bisa. Kemudian dengan n ama Isa Al Masih au mema sa Maria, au ata an, Kumohon, demi rasa cintamu pada Al Masih. Lalu Maria turun dan au mengawasi dari jendela. A u tahu semua arena Maria membeber an semua. Ia memperlihat an semua ata- atamu yang masih tersimpa n dalam handphone-nya. Maria tida mau a u cium a inya. Sebab menurut dia seben arnya yang pantas a u cium a inya dan ubasahi dengan air mata haru u atas emu liaan hatinya adalah au. Seja itu a u tida lagi merasa sendiri. A u merasa ad a orang yang menyayangi u. A u tida sendirian di mu a bumi ini. Wahai orang yang lembut hatinya, Anggaplah saat ini a u sedang mencium edua telapa a imu dengan air mata haru u. Kalau au ber enan dan Tuhan mengizin an a u ingin jadi abdi dan buda mu deng an penuh rasa cinta. Menjadi abdi dan buda bagi orang shaleh yang ta ut epada Allah tiada jauh berbeda rasanya dengan menjadi puteri di istana raja. Orang sha leh selalu memanusia an manusia dan tida a an menzhaliminya. Saat ini a u masih dirundung ecemasan dan eta utan ji a ayah u mencari u dan a hirnya menemu an u. A u ta ut dijadi an santapan serigala. Wahai orang yang lembut hatinya, Sebenarnya a u merasa tiada pantas sedi it pun menulis an ini semua. Tapi rasa h ormat dan cinta u padamu yang tiap deti sema in membesar di dalam dada terus me ma sanya dan a u tiada mampu menahannya. A u sebenarnya merasa tiada pantas menc intaimu tapi apa yang bisa dibuat oleh ma hlu dhaif seperti diri u. Wahai orang yang lembut hatinya, Dalam hati u, einginan u se arang ini adalah a u ingin halal bagimu. Islam mema ng telah menghapus perbuda an, tapi demi rasa cinta u padamu yang tiada ter ira dalamnya terhunjam di dada a u ingin menjadi buda mu. Buda yang halal bagimu, y ang bisa au se a air matanya, au belai rambutnya dan au ecup eningnya. A u tiada berani berharap lebih dari itu. Sangat tida pantas bagi gadis mis in yang nista seperti diri u berharap menjadi isterimu. A u merasa dengan itu a u a an menemu an hidup baru yang jauh dari cambu an, ma ian, ecemasan, eta utan dan ehinaan. Yang ada dalam bena u adalah meninggal an Mesir. A u sangat mencintai Mesir tanah elahiran u. Tapi a u merasa tida bisa hidup tenang dalam satu bumi dengan orang-orang yang sangat membenci u dan selalu mengingin an esengsaraan, ehancuran dan ehinaan diri u. Mes ipun saat ini a u berada di tempat yang ten ang dan aman di tengah eluarga Syai h Ahmad, jauh dari ayah dan dua a a u yan g ejam, tapi a u masih merasa selalu diintai bahaya. A u ta ut mere a a an mene mu an diri u. Kau tentu tahu di Mesir ini angin dan tembo bisa berbicara. Wahai orang yang lembut hatinya, Apa ah a u salah menulis ini semua? Segala yang saat ini menderu di dalam dada dan jiwa. Sudah lama a u selalu menanggung nestapa. Hati u selalu elam oleh pen deritaan. A u merasa au datang dengan seber as cahaya asih sayang. Belum perna h a u merasa an rasa cinta pada seseorang se uat rasa cinta u pada dirimu. A u t ida ingin mengganggu dirimu dengan enistaan ata- ata u yang tertoreh dalam le mbaran ertas ini. Ji a ada yang bernuansa dosa semoga Allah mengampuninya. A u

sudah siap seandainya a u harus terba ar oleh panasnya api cinta yang pernah mem ba ar Laila dan Majnun. Biarlah a u jadi Laila yang mati arena obaran cintanya , namun a u tida berharap au jadi Majnun. Kau orang bai , orang bai selalu di sertai Allah. Doa an Allah mengampuni diri u. Maaf an atas elancangan u. Wassalamu alai um, Yang dirundung nestapa, Noura Ta terasa mata u basah. Bu an arena inilah untu pertama alinya a u menerima surat cinta yang menyala dari seorang gadis. Bu an arena ata- ata Noura yang m engutara an apa dirasa annya terhadap u. A u menangis arena betapa selama ini N oura menderita te anan batin yang luar biasa. Ia sangat eta utan, merasa tida memili i tempat yang aman. Ia merasa berada dalam egelapan yang ber epanjangan. Tanpa cahaya cinta dan asih dari eluarganya. Ia merasa tida ada yang peduli padanya. Ia telah ehilangan epercayaan dirinya sebagai manusia merde a tanpa b elenggu nestapa. Sesungguhnya te anan psi is yang menderanya selama ini lebih be rat dari si saan fisi yang ia terima. Ma a eti a ada sedi it saja cahaya yang masu e dalam hatinya, ada rasa simpati yang diberi an orang lain epadanya, ia merasa cahaya dan rasa simpati itu adalah segalanya baginya. Ia langsung memega ngnya erat-erat dan tida mau ehilangan cahaya itu, tida mau ehilangan simpat i itu dan ia sangat percaya dan menemu an hidupnya pada diri orang yang ia rasa telah memberi an cahaya dan rasa simpati. A u menye a air mata ulipat ertas surat itu dan umasu an e dalam amplopnya . Setelah shalat shubuh a u harus menyampai an hal ini pada Syai h Ahmad. Gadis itu perlu terus diberi semangat hidup dan di o oh an ruhaninya. Gadis itu perlu diya in an bahwa dia a an mendapat an rasa aman dan asih sayang selama berada d i tengah-tengah orang yang beriman. A u mengambil air wudhu untu menenang an ha ti dan pi iran. A u harus embali menyelesai an pe erjaan. Keti a azan shubuh be r umandang seluruh terjemahan telah selesai a u edit. Langsung upecah menjadi e mpat file. Kumasu an e dalam dis et. Mata u terasa berat dan perih. Seperti ad a eri il mengganjal di sana. A u belum memicing an mata sama se ali. A u bang i t uaja teman-teman untu turun e masjid.

Kepada Syai h Ahmad a u beri an surat Noura untu beliau baca. Jamaah shalat sh ubuh sudah banya yang pulang. Kecuali beberapa a e - a e yang beri ti af dan me mbaca Al-Qur an menunggu sampai wa tu dhuha tiba. A u diaja Syai h Ahmad masu e dalam amar imam. A u memohon epada beliau untu memperla u an gadis itu denga n lebih bai dan bija . A u memohon epada beliau agar gadis itu jangan dicela a tas apa yang ditulis dan dila u annya. Gadis itu memang sedi it berbohong eti a mengata an surat itu ucapan terima asih semata. Gadis itu perlu di o oh an sem angat hidupnya dan diya in an dia tida a an mendapat an perla uan buru lagi. D ia a an aman di Mesir. Syai h Ahmad membaca surat itu dan meniti an air mata. A an a u minta epada Ummu Aiman untu mencurah an perhatian yang lebih padanya. D ia memang memerlu an rasa aman dan asih sayang yang selama ini hilang. Dan dia sepertinya belum merasa ya in dia a an mendapat an rasa aman dan asih sayang di sini. Syai h Ahmad berjanji a an menyelesai an masalah Noura sebai -bai nya dan meminta diri u agar tida terganggu dan onsentrasi pada tesis. Dan surat Noura itu a u beri an pada Syai h. A u tida mau menyimpannya. Baru a u pulang. Sampai di rumah a u baca Al-Qur an satu halaman. A u ingin memejam an mata seteng ah jam saja. A u pesan pada Saiful agar membangun an a u sampai a u benar-benar bangun pada pu ul setengah tujuh. Pu ul setengah tujuh a u dibangun an. Keri il di mata belum sepenuhnya hilang. A u mandi. Sarapan belum jadi. A u mempersiap an segalanya untu pergi. Jawaban u ntu Alicia. Proposal tesis. Dan dis et berisi nas ah terjemahan. Karena perjala nan panjang a u harus berang at pagi. Di metro a u tida dapat tempat dudu . Met ro penuh oleh orang-orang yang berang at erja. Turun di Tahrir a u langsung men cari Eltramco menuju Hayyu Sabe. Tujuan u adalah @lfenia. Warnet yang di elola t eman-teman mahasiswa dari Indonesia. Pu ul delapan a u sampai di sana. Bertemu F

11. Dijengu

Sahabat Nabi

urqon, penjaga warnet yang sudah seperti saudara sendiri. Furqon memelu u dan b er ata, Pucat se ali sampean Mas. Begadang ya? A u menganggu an epala. Furqon mempersila an a u memilih sendiri tempat yang uingin an. Hanya ada tiga orang yang sedang berlayar di dunia maya. A u memilih yang paling de at dari tempat u berdiri. Membu a Yahoomail. Mengirim nas ah terj emahan dengan attachment. Membu a beberapa message di mailist Mutarjim, Qahwaji, dan Indonesia Cinta Damai. Melihat Ahram, Time, Republi a, Media Indonesia, Sua ra Merde a dan Islam-online. Satu jam a u di @lfenia. Furqan menyuguh an segelas teh Arousa. Teh paling mera yat di Mesir. Ji a dibuat ental dan minum masih da lam eadaan aga panas pelan-pelan. Sruput demi sruput. Teh Arousa mampu meringa n an epala yang berat dan menyegar an pi iran. Dari @lfenia a u langsung nai b is 926 menuju ampus Al Azhar di Maydan Husein. Kuserah an proposal tesis epada Syuun Thullab Dirasat Ulya Fa ultas Ushuluddin. A u merasa a u a an terlambat sa mpai di National Library. A u onta Aisha memberitahu an posisi eberadaan u da n meminta mere a menunggu ji a a u terlambat. Benar a u terlambat sepuluh menit. A u minta maaf. Ku eluar an jawaban atas pert anyaan Alicia yang telah ujilid. Semua pertanyaan tentang perempuan dalam Islam saya jawab dalam empat puluh halam an. Pertanyaan lainnya saya jawab dengan menerjemah an bu u yang ditulis oleh Pr of.Dr. Abdul Wadud Shalabi. Alicia dan Aisha berdeca aget dan gembira atas eseriusan u. A u jelas an siap a sebenarnya yang menerjemah an bu u Prof. Shalabi e dalam bahasa Inggris. Saha m u dalam terjemahan itu hanyalah membaca ulang dan mengore sinya serta menerjem ah an hadits dan meleng api terjemahan Al-Qur an yang ditinggal an Maria. Kore tor a hir atas semuanya adalah Syai h Ahmad Taqiyyuddin. Lalu ami berdis usi selam a dua jam setengah. Saat berdis usi a u merasa badan u terasa meriang se ali. Ke pala u berat tapi a u tahan dan a u uat- uat an. Alicia minta data diri u dan a lamat leng ap u. Dua hari lagi rencananya ia a an embali e Ameri a. Aisha ber ata suatu saat nanti a an mengaja diri u untu berdis usi lagi. Kami berpisah. Di luar gedung teri panas benar-benar menggila. A u nai metro. Sampai di Maadi setengah tiga.A u belum shalat. Terpa sa a u turun untu shalat di masjid yang ada di luar mahattah. A u menerus an perjalanan. Ubun-ubun epala u terasa sangat nyeri. Di Tura El-Es men badai panas bergulung menebar debu e dalam metro. Sangat tida nyaman. Turu n di Hadaye Helwan a u merasa tida uat untu berjalan e apartemen. A u pangg il ta si. Kepala u nyeri se ali. Tubuh seperti remu . A u lupa belum sarapan sej a pagi. Sampai di halaman apartemen a u sempat melihat jam tangan. Pu ul tiga s eperempat. Kepala u seperti ditusu tomba ber arat. Sangat sa it. Begitu membu a pintu rumah a u merasa tida uat melang ah an a i. Kepala terasa seperti dig encet palu godam. Lalu a u tida tahu apa yang terjadi. Mata u menang ap ilatan cahaya putih lalu gelap. * * * Dalam eremangan gelap a u melihat ada cahaya. Perlahan a u membu a mata. A u m elihat langit-langit berwarna putih. Bu an langit-langit amar u. Langit-langit amar u biru muda. Kepala u masih berat. Alhamdulillah. Kau sudah tersadar Mas, suara Saiful sera . A u memandang wajahnya. A..a u di...di mana? lidah u terasa elu se ali. Di rumah sa it Mas, lirih Saiful. Kenapa? Sudah lah Mas istirahat dulu. Jangan memi ir an apa-apa dulu. Kepala u terasa nyeri embali. A u berusaha berpi ir, mengingat-ingat apa yang terjadi pada u sehingga ada di rumah sa it ini. Perjalanan melelah an, epanasan dengan perut osong. Membu a pintu dengan epala sa it luar biasa seperti dihan tam palu godam. Lalu gelap. Saiful menatap u dengan mata ber aca. Jam be..berapa? tanya u padanya. Setengah tiga malam Mas. A u teringat belum shalat Ashar, Maghrib dan Isya. A u ingin bang it tapi seluru h tubuh u terasa lumpuh. Kepala u tiba-tiba terasa sa it se ali. Aduuh! Astaghfirullah! a u menahan sa it tiada ter ira.

Kenapa Mas? Semuanya embali terasa gelap. A u berlayar dalam gelap dan eheningan. Mengarun gi dunia yang tiada a u tahu namanya. A u mendengar suara magic Syai h Utsman Ab dul Fattah. Fahri, baca surat Al Anbiya! Kubaca surat Al Anbiya. Terus an Surat Al Hajj, pa ai qiraah Imam Warasy.82 A u membaca dengan qiraah Warasy sampai se lesai. Semuanya gelap embali. A u tida mendengar apa tida melihat apa-apa. A u embali mendengar suara Syai h Utsman, beliau membaca surat Al Furqan dengan q iraah Imam Hamzah a u mendengar dengan se sama efasihan tajwidnya. Sampai ayat enam puluh lima beliau membaca dengan menangis tersedu-sedu. A u i ut menangis. Beliau tiada uasa untu melanjut annya. A u membacanya dan melanjut annya denga n qiraah yang sama. Selesai. Syai h Utsman meminta a u menerus an satu surat lag i. A u memenuhi titah beliau, ubaca surat Asy Syuara. Sampai pada ayat seratus delapan puluh empat daun telinga u menang ap suara isa tangis sayup-sayup. A u merasa ada sentuhan halus di pipi u. A u mengerjap an mata u. Fahri, au sudah sadar Fahri. Kau bangun Fahri. Ini a u, suara halus perempuan. A u coba membu a mata lebih lebar. Sema in terang. A u melihat wajah putih bersih. Dia dudu di ursi de at dengan dada u Ma..Maria?! a u memanggil namanya, tapi cuma bibir u yang urasa bergera tanpa su ara. Ya a u Maria, ia mende at an wajahnya e wajah u. . Astaghfirullah! lirih u. Ada apa Fahri? Ma..mana Saiful? Sedang eluar, dia usuruh sarapan. Jam berapa? Jam delapan pagi. Maria tiada ber edip memandangi diri u yang terbujur tiada berdaya seperti bayi. Matanya ber aca- aca, hidungnya memerah dan pipinya basah. Kenapa au emari, Maria? A u ingin tahu eadaanmu. A u mencemas anmu. Kau menangis Maria? 82 Imam Warasy, seorang Imam Qiraah yang ter enal, mengambil qiraahnya dari Imam Nafi bin Abdurrahman Al-Madani yang mengambil qiraah dari Imam Abu Ja far Al-Qari dan tujuh puluh tabiin. Dan mere a semua mengambil qiraah dari Ibnu Abbas dan A bu Hurairah dari Ubay bin Kaab dari Rasulullah Saw. Kau membuat u menangis Fahri. Kau mengigau terus dengan bibir bergetar membaca ay at-ayat suci. Wajahmu pucat. Air matamu meleleh tiada henti. Melihat eadaanmu i tu apa a u tida menangis, sera Maria sambil tangan anannya bergera henda men yentuh pipi u yang urasa basah. Jangan Maria tolong, ja..jangan sentuh! Maaf, a u lupa. Keadaan haru sering membuat orang lupa. A u melihat di samping iri u ada tiang besi putih, ada tabung infus tergantung di sana. Di bawah tabung ada selang ecil mengalir an air infus e dalam nadi ta ngan iri u. Air infus terus menetes seperti embun di musim penghujan. A u emba li merasa an nyeri dalam tempurung epala u. Seperti ada ratusan pa u menancap. A u berusaha menahan dengan memejam an mata dan otot rahang menegang. Ta uat j uga a u mengaduh, mes ipun lirih. Ada apa Fahri, apa yang au rasa an? suara Maria sera . Kepala u nyeri se ali. Biar upanggil an petugas, telinga u menang ap suara lang ah a i Maria. Ta lama emudian ia datang dengan seorang do ter lela i. Do ter itu memasang menempel an tangannya di ening u. Memeri sa te anan darah u. Memasang termometer sebesar p ena di etia u. Dan dengan suara yang lembut menanyai apa yang urasa an serta membesar an hati u. Ia mengambil termometer dan melihatnya. Lalu menulis an sesu atu di dalam ber as yang di bawanya. Kemudian menyunti an sesuatu lewat jarum s elang infus yang menancap di tangan iri u. Sunti an untu mereda an rasa sa it. Kau a an cepat sembuh, ata do ter itu. Maria mengamati dengan se sama apa yang dila u an do ter itu pada u. Ia berdiri di sa mping ranjang. Rambutnya yang hitam ter ucir rapi. Setelah mendapat sunti an itu rasa sa it di epala u terasa mulai ber urang. Saiful datang tepat saat do ter

setengah baya yang mengenal an dirinya bernama Ramzi Sha ir itu henda pergi. Sa iful menyalami do ter Ramzi dan berbincang sebentar dengannya. Maria dudu di u rsi di samping ranjang. Saiful mende at. Ia mengucap an salam dan tersenyum. Maria, boleh a u bicara empat mata dengan Saiful? lirih u pada Maria. Maria menganggu dan melang ah eluar. Ia tida membawa serta tas ecilnya. Saif, enapa au tinggal an a u sendirian dengan Maria? Kenapa dia yang menunggui a u? Dia bu an mahram u. A u mema sa an diri untu bersuara aga eras. Saiful s epertinya tahu alau a u marah dan tida ber enan. Maaf an saya Mas. Keadaannya darurat. A u belum tidur sama se ali semalam dan per ut u perih se ali. Kebetulan Maria datang, jawabnya. Teman-teman yang lain mana? Saiful lalu mencerita an ejadian itu. Saat Mas pulang dan terjatuh ta sadar an diri di pintu, yang ada di rumah cuma s aya seorang. Saya langsung mengonta Mishbah yang saat itu ada di Wisma agar pul ang. Sedang an Hamdi dan Rudi, hari itu sedang dalam perjalanan i ut rihlah83 e Luxor yang diada an Majlis A la. Mere a tida mung in dihubungi. Saya bingung, sa ya nai e atas. Untung saat itu Yousef dan Maria ada. Maria langsung menelpon m amanya, Madame Nahed, yang sedang erja di Rumah Sa it Maadi. Madame Nahed memin ta pada Maria agar se eti a itu juga membawa Mas Fahri e rumah sa it. Madame Na hed mengurusi semuanya dan memilih an amar elas satu. Dia juga yang memilih an do ter. Madame Nahed tida bisa langsung menanganimu sebab dia do ter spesialis ana . Mas ta sadar an diri dalam wa tu yang lama se ali. Mas baru sadar jam se tengah tiga malam. Setelah itu ta sadar an diri lagi. Mishbah sampai di rumah s a it jam lima sore i ut menunggui sampai jam satu malam. Saya dan Mishbah sepa a t membuat jadwal. Malam itu saya minta Mishbah istirahat di rumah, arena dia te rlihat sangat elelahan. Dan saya minta dia datang pu ul sembilan pagi untu gan tian jaga. Pu ul setengah delapan tadi Maria datang tepat eti a saya merasa an perut ini sedemi ian perih arena seja sore emarin belum emasu an apa-apa. Me lihat wajah saya pucat Maria minta saya eluar eluar untu ma an dan membersih an badan. Jadilah Maria menjaga Mas sendirian. Mendengar cerita itu a u ma lum adanya. Saiful berjanji a an menjaga diri u seba i -bai nya bergantian dengan Mishbah. Dan tida a an membiar an diri u dijaga o leh orang lain. 83 re reasi. Maria mengetu pintu minta izin masu . A u minta Saiful untu mempersila an dia masu . Maria datang dengan menenteng antong plasti putih. Ia dudu dan mengelu ar an isinya; satu botol air mineral, satu ota susu Juhayna isi satu ilo, sat u ota ashir mangga, sebung us roti tawar, satu aleng vitrac rasa strawberry, satu aleng co elat, se ota eju president, dan satu ota tissue meja. Ia mena tanya di atas meja yang masih osong tida ada apa-apa. Maria menawari u ma an a tau minum. A u sama se ali tida berselera. Ia mengambil selembar roti tawar, me ngoles an eju dan co elat dan menutupnya dengan selembar roti tawar di atasnya dan menyerah an pada Saiful. Saiful tida bisa menola nya. Maria embali mengamb il roti tawar. Kali ini untu dirinya. Lalu ia mengambil dua gelas dan bertanya pada Saiful mau minum apa. Saiful menjawab, air putih saja. Maria menuang an air mineral e dalam gelas dan menyerah an pada Saiful. Ia sendiri menuang an ashir mangga. Kudengar mere a berdua berbincang sambil ma an roti. Saiful mengucap an rasa ter ima asih atas ebai an Maria. Dengan sangat hati-hati ia menjelas an masalah ma hram epada Maria. Dengan bahasa halus ia meminta agar ji a bisa Maria datang be rsama ayah atau adi nya. Jadi seandainya berbincang atau berada dalam satu ruang an seperti itu ada mahram yang menemaninya. Bu an arena tida percaya pada Mari a tapi demi edamaian jiwa. A u diam saja. Sebab perlahan a u embali merasa an epala u mulai bersenut-senut. A u masih bisa mendengar Saiful menyitir beberapa sabda Rasul yang memberi an tuntunan cara berintera si pria dengan wanita. Bata san boleh dan tida nya. A u juga mendengar pertanyaan Maria tentang boleh tida nya perempuan menjengu p ria yang di enalnya yang sa it. A u mendengar Saiful menjawab boleh, mendasar an jawabannya bahwa Imam Bu hari dalam itab shahihnya secara husus menulis Bab Pe rempuan Membesu Lela i . Beliau mengata an, Ummu Darda menjengu seorang lela i ahl

i masjid dari alangan Anshar. Dalam sebuah riwayat juga disebut an bahwa eti a Ka ab bin Mali Al Anshari sa it eras dan de at dengan ematiannya, Ummu Mubasyir binti Al Barra bin Ma rur Al Anshariyyah menjengu nya. Ma a tida ada masalah seo rang perempuan menjengu saudaranya yang lela i selama masih menjaga adab esopa nan yang diajar an Rasulullah. Setelah itu a u tida mendengar lagi apa yang mere a bicara an. A u embali mera sa an nyeri yang luar biasa dalam tempurung epala u. A u mengaduh. Lalu semuany a terasa gelap. * * * Keti a a u sadar, a u tida menemu an Saiful dan Maria. Yang ada di sisi u adala h Mishbah dan beberapa teman dari Nasr City yang u enal bai . Ada Mas Khalid, K ang Kaji, Mas Junaedi, Sofwan, Iswan, Khalil, Bimo dan Cha im. Mere a semua ters enyum pada u mes ipun a u menang ap guratan sedih dalam wajah mere a. Mere a men de at satu persatu dan memelu u pelan sambil berbisi , Syafa allah syifaan ajila n, syifaan la yughadiru ba dahu saqaman. 84 Kutanya an pada Mishbah jam berapa se arang. Mishbah menjawab jam satu siang. Ap a ah ini hari Ahad? Mishbah menjawab iya. A u minta pada Mishbah untu menghubun gi Syai h Utsman. Rabu lalu a u sudah tida datang. A u minta Mishbah menjelas a n ondisi u pada beliau dan memohon agar beliau memberi an doanya. Mishbah elua r. A u mencoba mengang at tangan u. Tida bisa juga. Rasanya seperti lumpuh. A u menetes an air mata. A u belum berani bertanya sa it apa a u sebenarnya. A u minta pada Mishbah dan teman-teman agar tida mengabar an sa it u ini e Ind onesia. A u merasa ingin buang air ecil. A u ata an itu pada Mas Khalid. Mas K halid mengambil an pispot. Teman-teman yang lain eluar. Mas Khalid memasu an p ispot e bali selimut u. Tangannya meraba tanpa membu a aurat u dan berusaha a u bisa buang air ecil di dalam pispot. A u tida bisa membayang an alau dalam eadaan seperti ini yang ada di samping u hanyalah Maria seperti tadi pagi. Apa ah a u harus buang air ecil begitu saja di atas asur seperti wa tu a u masih b ayi dulu, atau ah a u a an meminta tolong padanya untu memasang an pispot. Sele sai buang air ecil, a u minta pada Mas Khalid mentayamumi a u.85 Tangan u sama se ali tida bisa digera an. Lalu a u shalat dengan mengguna an isyarat mata da n tubuh terlentang tiada berdaya seperti seorang balita. 84 Semoga Allah menyembuh anmu secepatnya, dengan esembuhan yang tiada sa it se telahnya. 85 Tayamum adalah bersuci dengan mengguna an debu sebagai ganti wudhu. Teman-teman menemani sampai jam besu habis. Tinggal Mishbah seorang yang tetap menunggui diri u. Mishbah memberi tahu habis maghrib, insya Allah, Syai h Utsman Abdul Fattah a an datang. A u menetes an air mata, diri u telah menyusah an ban ya orang. Mishbah mengusap air mata yang meleleh dipipi u dengan tissue yang di beli Maria, baunya wangi. Sambil menghibur u bahwa semuanya a an embali seperti sedia ala, a u a an sembuh dan sehat embali serta bisa main bola lagi. Saiful datang membawa bantal. Ia bilang seja se arang ia dan Mishbah a an menjaga u b erdua. Tidur dan istirahat bergantian di dalam amar elas satu ini. Memang di amar yang tida terlalu luas ini hanya a u seorang pasiennya. A u tida tahu bag aimana nanti membayar ong osnya. Kepala u terasa berat lalu nyeri dan semuanya embali terasa gelap. Dalam gelap a u tida tahu berada di alam apa. Tiba-tiba a u berjumpa dengan ora ng yang urus dan bercahaya wajahnya, orang yang belum pernah a u berjumpa denga nnya. Dia mengenal an dirinya sebagai Abdullah bin Mas ud. A u tersenta aget. Ab dullah bin Mas ud adalah satu-satunya sahabat, yang Baginda Nabi ingin mendengar b acaan Al-Qur an darinya. Abdullah bin Mas ud adalah Guru Besar Tafsir dan Qiraah di ota Kufah. Imam-imam besar dari alangan tabiin banya yang belajar membaca AlQur an darinya. Abdullah bin Mas ud tersenyum pada u serta merta a u mencium tangann ya, ia menyambut u dan memelu diri u. A u bisa berdiri, a u tida lumpuh. Ibnu Mas ud membisi an syafa allah e telinga u. A u mencium bau harum dari jubah dan tubuhnya. Beliau melepas an pelu annya dan meminta u membaca Al Baqarah. A u membacanya de ngan hati bahagia. Beberapa ali dia membetul an bacaan u. A u membaca sampai a hir Al Baqarah. Abdullah bin Mas ud meminta u berhenti. Abdullah bin Mas ud mencium ening u dan henda pergi. A u menahannya. A u ata an a u ingin menanya an sesu

atu padanya. Beliau tersenyum dan menyila an a u bertanya. A u tanya an padanya, Apa ah benar riwayat yang mengata an Anda tida menga ui mu shaf Utsmani? Abdullah bin Mas ud tersenyum pada u dan ber ata dengan suara yang sangat berwibaw a, Yang tida menga ui mushaf Utsmani dan tida su a dengannya adalah orang-orang mu nafi dan orang-orang yang memusuhi agama Allah. Mere a mencatut nama u untu me mbela tujuan-tujuan mere a yang jahat. Apa yang ada di dalam mushaf Utsmani dari Al Fatihah sampai An Naas adalah wahyu yang diturun an Allah melalui malai at J ibril epada Baginda Nabi. Tertulis utuh dan sempurna. Tida ber urang dan tida bertambah mes ipun cuma satu huruf. Dan apa yang ada dalam mushaf Utsmani itula h yang a u ajar an pada para tabiin dan mere a mengajar an pada murid-muridnya. Begitu seterusnya hingga sampai epadamu dan epada jutaan umat Muhammad di selu ruh penjuru dunia. Al-Qur an terjaga easliannya. Memang a an selalu ada orang-ora ng jahat yang berusaha meragu an ebenaran dan merusa esucian Al-Qur an. Namun etahuilah usaha mere a a an sia-sia. Sebab Allah sendiri yang a an menjaga eutu han dan esuciannya sampai hari a hir. Dan orang-orang pilihan Allah di dunia in i adalah mere a yang disebut Ahlul Quran. Orang-orang yang hatinya selalu terpat ri pada Al-Qur an, mengimani Al-Qur an, dan berusaha mengajar an dan mengamal an isi Al-Qur an dengan penuh ei hlasan. Sahabat nabi, Abdullah bin Mas ud tersenyum. A u pun tersenyum. A u ingin i ut den gannya, tapi beliau tida memperboleh annya. A u lalu titip padanya salam sejaht era, rasa cinta dan rasa rindu tiada ter ira untu Baginda Nabi shallallahu alaih i wa sallam. Sahabat nabi itu lalu meninggal an diri u. Sema in lama sema in jau h. Mengecil. Menjadi titi . Dan hilang. A u merasa ehilangan dan sedih. Mata u basah. 12. Siapa Malai at Itu? Wajah itu Nurul. Ya Nurul. Keti a a u terbangun dari etida sadaran, a u meliha tnya, ta jauh dari a i u bersama teman-temannya. Kulihat se ilas wajahnya sen du. Ada juga etua dan pengurus PPMI, Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia. Saiful dudu di de at epala u. Ia paling de at dengan u. Tangannya mengusap pi pi u yang basah. Alhamdulillah, Mas Fahri sadar. A u mendengar mere a memuji Allah. Sabar Mas Ya? Insya Allah segera sembuh, lirih Saiful dengan mata ber aca- aca. A u sa it apa atanya Saif? Do ter belum menjelas annya Mas. Zaimul Abrar, Ketua PPMI, mende at, mendoa an, dan atas nama seluruh mahasiswa i ut merasa sedih atas sa it yang menimpa u. Lalu gantian Nurul mewa ili teman-t emannya, eti a de at dengan diri u ia menatap u dengan penuh iba dan sorot mata yang a u tida tahu ma nanya. Kedua matanya ber aca- aca dan sendu. Cepat sembuh Ka . Cepat selesai an masternya dan cepat mengabdi di tanah air tercinta, atany a terbata-bata. A u mendengarnya dengan sese ali memejam an mata. Mas ami pamit. Kami sudah lama di sini. Syafa allah! ucap Zaim. Kami juga minta diri Ka , i ut Nurul. Mere a pun pulang. A u merasa wujud u benar-benar ada dan berarti. A u merasa d iperhati an, disayang, dan dicintai semua orang. Dua menit setelah mere a eluar, Syai h Ahmad datang bersama Ummu Aiman. Syai h Ahmad berusaha tersenyum pada u. Beliau memelu u pelan sambil mendoa an esemb uhan u. Ia tahu a u sa it dari Mishbah yang eti a shalat shubuh mengabar an pad anya. Syai h Ahmad memberi an sedi it tadz irah yang membesar an hati u dan meng uat an jiwa u. Pintu-pintu surga terbu a lebar untu orang yang sabar menerima ujian dari Allah! Syai h Ahmad tida lama berada di sisi u. Ta lebih dari seperempat jam. Setelah itu pamitan. Beliau membawa dua ilo anggur yang sangat segar. * * * Menjelang maghrib Do ter Ramzi Sha ir memberi tahu setelah melihat hasil foto r ontgen epala u, a u harus dioperasi. Ada gumpalan darah be u yang harus di elua

r an. Rencananya operasi beso pagi pu ul delapan. A u diminta untu puasa malam ini. A u mung in a an tinggal di rumah sa it se itar satu bulan lamanya. A u me niti an air mata. Saiful dan Mishbah menghibur, mes ipun ulihat mere a berdua juga meniti an air mata. Menjelang Isya, Syai h Utsman Abdul Fattah benar-benar datang bersama beberapa t eman Mesir yang mengaji qiraah sab ah pada beliau. Syai h Utsman mengusap epala u , persis seperti ayah u mengusap epala u. Beliau tersenyum pada u. Beliau memin ta epada semuanya untu eluar sebentar. Beliau ingin berbicara hanya berdua de ngan u. Saiful, Mishbah dan teman-teman Mesir eluar meninggal an ami. Syai h U tsman dudu di ursi de at dada u. Sambil mengelus rambut epala u beliau ber ata, Ana u, cerita an pada u apa yang dila u an sahabat nabi yang mulia, Abdullah bi n Mas ud padamu? A u aget bu an main. Bagaimana Syai h Utsman tahu alau a u bertemu sahabat na bi Abdullah bin Mas ud dalam pingsan u. Tadi malam jam tiga saat a u tidur setelah tahajjud a u didatangi Abdullah bin Mas ud radhiyallahu anhu. A u hanya sempat bersalaman saja. Beliau bilang a an men jengu mu sebelum a u menjengu mu. Syai h Utsman seperti mengerti eheranan u, bel iau menjelas an bagaimana beliau tahu a u edatangan Abdullah bin Mas ud. Bagaimana Syai h bisa ya in a u benar-benar di datangi Abdullah bin Mas ud? tanya u dengan suara sera untu lebih meya in an diri u. Seperti eya inan Rasulullah eti a bermimpi a an berhaji dan membu a ota Ma a h. Jawaban sing at Syai h Utsman menyadar an diri u a an e uatan mimpi orang-oran g shaleh yang dicintai Allah subhanahu wa ta ala. Untung a u sudah membaca dan men elaah Kitab Ar Ruuh yang ditulis oleh Imam Ibnu Qayyim Al Jauzi. Murid utama Ima m Ahmad bin Hambal dan ulama ter emu a pada zamannya itu membahas masalah ruh de ngan tuntas disertai dalil-dalil yang tida bisa diragu an. Bahwa ruh orang yang telah wafat bisa bertemu dengan ruh orang yang masih hidup. Semuanya atas izin dan e uasaan Allah Swt. Kisah para sahabat dan ulama salafush shalih menjadi bu ti dan enyataan yang terang tiada eraguan seperti terangnya cahaya matahari d i wa tu siang. Di antaranya, Imam Ibnu Qayyim menulis an isah nyata, dengan sanad yang shahih , dari Imam Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari Shahr bin Hausyab: Bahwa dua orang sahabat nabi yaitu Sha b bin Jitsamah dan Auf bin Mali adalah be rsaudara. Sha b ber ata epada Auf, Saudara u, ji a salah satu di antara ita mati dahulu ma a harus berusaha datang menemui dalam mimpi. Auf ber ata, Apa ah itu mung in? Sha ab menjawab, Ya. Kemudian meninggallah Sha b. Dan Auf melihatnya di dalam mimpi seolah Sha b mengunju nginya. Auf menyapa, Wahai Saudara u! Ya. Jawab Sha ab. Apa yang terjadi denganmu? tanya Auf. Beberapa dosa u telah diampuni. Jawab Sha ab. Auf melihat ada noda hitam di lehar Sha ab. Ia langsung bertanya, Saudara u, ini ap a? Sha b menjawab, Ini adalah sepuluh dinar yang a u pinjam dari lela i Yahudi (dan be lum a u embali an). Sepuluh dinar itu ada di dalam tandu mili u, beri anlah p adanya. Ketahuilah Saudara u, semua ejadian yang menimpa eluarga u setelah e matian u telah u etahui abarnya, termasu ucing yang meninggal beberapa hari yang lalu. Dan etahuilah, puteri u a an meninggal enam hari lagi, ma a berwasia tlah yang bai untu nya. Keti a bangun Auf ber ata, Dalam mimpi ini ada pemberitahuan. Auf lalu mendatangi eluarga Sha b. Mere a menyambutnya dengan hangat dan ber ata, Selamat datang Auf, apa ah seperti ini perla uanmu pada eluarga yang ditinggal saudaramu? Kau tida mendatangi ami seja dia meninggal. Auf memberi an alasan s eperti orang-orang memberi alasan. Lalu melihat tandu dan menurun an dari tempa tnya. Dan menemu an antung berisi dinar di dalamnya. Lalu membawanya e tempat orang Yahudi.

Auf bertanya pada orang Yahudi, Apa ah Sha b punya hutang padamu? Orang Yahudi menjawab, Semoga Allah merahmati Sha b. Dia termasu sahabat nabi yan g utama. Hutang u ui hlas an untu nya. Auf mendesa , Kata anlah pada u berapa dia berhutang padamu? Orang Yahudi menjawab, Sepuluh dinar. Auf lalu menyerah an antong berisi sepuluh dinar itu pada orang Yahudi. Auf be r ata, Ini yang pertama! Kemudian Auf embali menemui eluarga Sha b dan bertanya, Apa ah ada suatu ejadia n di rumah alian setelah ematian Sha b? Mere a menjawab, Ya, ucing ami mati beberapa hari yang lalu! Auf ber ata, Ini yang edua! Lantas Auf bertanya, Mana ana perempuan Saudara u? Dia sedang bermain. Jawab mere a. Auf lalu mendatanginya dan mengusap-usapnya, ana puteri itu ternyata sedang de mam. Auf ber ata pada mere a, Berwasiat bai lah untu nya. Dan ana perempuan itu m eninggal enam hari emudian. Kisah serupa sangat banya terjadi di zaman sahabat nabi dan zaman tabiin. Imam Ibnu Abdul Bar yang mengarang itab Al Tamhid penjelas itab Muwatta Imam Mali me nutur an isah tsabit bin Qaish bin Syamas yang mati syahid dan mendatangi Abu B a ar dalam mimpinya arena punya hutang. Abu Ba ar pun menjalan an wasiat Tsabit . Syai h Utsman masih menunggu jawaban u. Ana u, apa yang au dapat dari Abdullah bin Mas ud yang mendatangimu. Cerita anla h pelan-pelan, a u ingin tahu? Syai h Utsman embali mengulangi pertanyaannya. A u lalu mencerita an semuanya. Syai h Utsman meniti an air mata dan ber ata, Alla h yubari fi ya bunayya! 86 Lalu beliau berpesan agar a u tida mencerita an mimp i ini epada siapa-siapa, ecuali orang-orang yang bisa dipercaya. Mimpi seperti ini tida semua orang su a mendengarnya, dan tida semua orang mempercayainya. 86 Allah member ahimu, Ana u. Syai h Utsman lalu mengeluar an botol ecil dari sa u jubahnya. Ini a u bawa an air zamzam. Tida banya , namun semoga bermanfaat. Minumlah denga n terlebih dahulu membaca shalawat nabi dan berdoa minta esembuhan dan ilmu yan g manfaat. Ucap beliau. A u belum bisa menggera an tangan u. Syai h Utsman aga nya tahu. Beliau sendiri yang meminum an air zamzam itu e mulut u. Setelah itu beliau berpesan agar a u memperbanya istighfar dan shalawat. Agar a u mengi uti semua petunju do ter d an minum obat yang teratur. A u beber an semua ecemasan u pada beliau, terutama tentang epala u yang mau dioperasi. Beliau menenang an diri u. Beliau minta e pada u agar beso pagi minta epada do ter untu memfoto rontgen se ali lagi. Ji a tida ada perubahan dan memang harus dioperasi ya harus dijalani. Beliau a an berdoa semoga Allah memberi an jalan esembuhan yang lebih mudah. Beliau menciu m ening u seperti seorang a e mencium cucunya. Setelah itu memanggil embali teman-teman untu masu . Teman-teman Mesir berusaha menghibur. Si Mahmoud bercer ita tentang Juha yang lucu, a u tersenyum mendengarnya. Pu ul setengah sepuluh S yai h Utsman dan teman-teman Mesir pamitan. Menjelang tidur Himam datang. Ia bersama Hamim dan Mahmudi. Himam pernah satu bu lan satu rumah dengan u di Hayyul Asyir sebelum a u pindah e Hadaye Helwan. Ia punya bu u pijat refle si dan su a mencoba-coba pada teman-teman satu rumah yan g elelahan. Itu pula yang dila u an Himam terhadap u. Ia menyiba selimut di a i u dan mencoba-coba mencari syaraf yang ia rasa ganjil di telapa a i. Himam memijat dan a u menahan sa it. Begitu berulang-ulang. Lalu Himam memijit dengan santai e seluruh a i u, sampai a u tertidur. * * * Pagi hari a u merasa badan u lebih ena . Kepala u lebih ringan. Jam enam pagi, a u minta Mishbah memberi tahu an pada do ter atau petugas bahwa a u minta diron tgen ulang. A u tida a an menandatangani surat esediaan operasi sebelum diront gen ulang dan hasilnya dilihat embali dengan teliti. Dengan senang hati, Do ter Ramzi memenuhi permintaan u. A u digelede e ruang

rontgen. Dua orang perawat mengang at u e meja yang menyatu dengan alat foto be ru uran besar itu. Seorang petugas mengepas an titi fo us di epala u. A u di f oto dalam tiga posisi. Lalu dibawa embali e amar. Sampai di amar sudah ada Maria dan eluarganya. Maria menatap u dengan wajah s edih, juga Yousef, Tuan Boutros dan Madame Nahed. Mere a tahu alau pagi ini a u a an dioperasi ma a mere a datang untu melihat u sebelum masu e ruang operas i. Maria meniti an air mata ia ta ut terjadi apa-apa pada u. A u bilang pada me re a semua, insya Allah, tida a an terjadi apa-apa dan a u a an sembuh seperti sedia ala. Pu ul setengah sembilan Do ter Ramzi datang dengan wajah cerah. Beliau menyerah an hasil rontgen dan membawa abar gembira, Entah ini mu jizat atau apa, gumpalan darah be u di bawah tempurung epalanya itu telah tiada. Do ter Ramzi minta a u mencoba menggera an tangan u, mes ipun sangat pelan a u bisa. Ta perlu operasi, au a an sembuh seperti sedia ala. Tinggal perawatan medis secara intensif unt u penyembuhan. A u mengucap an syu ur ber ali- ali epada Allah atas anugerah ini. Kudengar Tua n Boutros memuji tuhannya; Bapa, Yesus dan Roh Kudus. Kuminta epada Saiful dan Mishbah untu sujud syu ur. Madame Nahed masih melihat foto rontgen. Dia memband ing an foto pertama dan foto edua. Bibirnya berdesis, Mahabesar e uasaan Tuhan, ini mu jizat! Do ter Ramzi bilang a u telah melewati masa ritis, dia mengucap an selamat epa da u. Seja itu eadaan u sema in membai . Teman-teman mahasiswa Indonesia banya yang berdatangan menjengu . Beberapa staf KBRI yang enal bai juga menjengu . Teman-teman dari Malaysia, Patani dan Singapura juga. Hari elima a u sudah bisa bang it dari tempat tidur. A u sudah bisa ma an send iri dengan edua tangan u. Dari hari e hari per embangan esehatan u terus memb ai . Hari e sembilan a u sudah bisa e toilet sendiri. Hari e sebelas a u suda h bisa jalan-jalan eluar amar, e taman dan dudu -dudu di sana ditemani Saifu l dan Mishbah. Hari itu juga Rudi, dan Hamdi pulang dari Luxor. Mere a sangat te r ejut dan menyesal tida berada di sisi u melewati masa ritis. A u minta epad a Saiful untu bertanya apan a u boleh pulang dan ira- ira biaya semuanya bera pa? Saiful memberi tahu dua hari lagi bisa pulang dan biaya semuanya se itar ser ibu dua ratus dollar. A u mengerut an ening. Dalam tabungan u hanya ada lima ra tus dollar. A u bertanya mere a berempat ada uang berapa. Hamdi osong, tinggal dua puluh lima pound saja. Rudi ada cadangan seratus dollar. Saiful lima puluh d ollar. Dan Mahmoud juga lima puluh dollar. Berarti semua baru ada enam ratus dol lar. Masih urang enam ratus dollar. Dan bisa jadi totalannya nanti lebih dari i tu. Mau tida mau harus mencari pinjaman. A u minta pada Rudi untu menemui Pa Jayid Hadiwijaya, Atase Pendidi an yang bai hatinya, agar meminjam uang secu up nya dari beliau untu biaya perawatan rumah sa it. Siang Rudi berang at, sore e mbali dengan membawa uang seribu dollar. Pagi hari H a u boleh pulang e rumah sa it Saiful mengurusi semua administrasi. Ia embali e amar dengan wajah heran. Mas, biayanya semua sudah dilunasi seseorang, lapornya dengan wajah ceria bercampu r bingung. Siapa yang melunasinya? tanya u heran. Piha rumah sa it tida mau menyebut an namanya, jawabnya. Rudi yang bertugas mencari mobil embali bersama Tuan Boutros dan eluarganya. Ta usah repot cari mobil, ami datang untu menjemputmu pulang, demi ian Tuan Bout ros. A u ta menjawab apa-apa. Mere a sangat bai , seperti eluarga sendiri, sep erti bu an orang lain. A u teringat biaya yang sudah dilunasi, jangan-jangan mer e a. Sebelum pulang a u mohon ejujuran alian. Apa ah alian yang telah melunasi selu ruh biaya perawatan saya? tanya u sambil memandang Tuan Boutros dan Madame Nahed bergantian. Tida . Bu an ami, jawab Madame Nahed. Kumohon demi asih Isa Al Masih, alian harus berterus terang, a u tida a an ten ang, desa u. Kami benar-benar tida melunasinya. Kami memang berniat melunasinya tapi sudah te rlambat. Sudah ada yang mendahului ami. Ku ira alian sendiri yang telah meluna

sinya. Kami ber ata yang sebenarnya, terang Madame Nahed. Semoga Allah membalas dia dengan pahala yang tiada hentinya, lirih u mendoa an ora ng yang telah membayar seluruh biaya perawatan u. * * * Hari itu ami pulang e Hadaye Helwan. Selama perjalanan Madame Nahed memberi t ahu sa it apa a u sebenarnya. Do ter Ramzi mengata an au ter ena Heat Stro e dan Meningitis se aligus. Tapi se arang sudah sembuh. A u sudah tahu heat stro e itu apa. Madame Nahed pernah menerang annya. Tapi men ingitis, a u belum tahu jenis penya it apa itu. Apa itu meningitis, Madame? Meningitis, adalah penya it radang selaput ota yang menular disebab an oleh uma n meningo occal. Kuman penya it ini cepat menular pada suhu tinggi atau rendah. Cara penularan penya it Meningitis Meningo occal adalah melalui onta langsung, ter ena perci an air ludah, daha , ingus, cairan bersin dan cairan dari tenggor o an penderita penya it Meningitis Meningo occal. Tanda-tanda orang yang ter ena meningitis adalah panas mendada , sa it epala luar biasa, emerahan di ulit d an a u udu . Tapi au tida usah uatir. Kau sudah sembuh dan terbebas dari u man meningo occal. Do ter Ramzi mengata an begitu. Kau sudah diterapi dengan pen gobatan propila sis mema ai cyproflovacin terbai . Yang se arang harus au la u an adalah menjaga esehatanmu. Jangan eluar rumah dulu. Jaga ondisi tubuh supa ya tetap segar. Istirahat yang cu up 6-8 jam sehari semalam. Jangan menantang pa nas. Minum yang cu up. Jangan se ali- ali minum dari ran air minum umum di ping gir jalan seperti orang-orang, sebab ebersihannya urang. Gelasnya cuma satu un tu minum bergantian. Sangat ris an terjadi penularan uman. Banya ma an buah-b uahan segar seperti anggur, jeru , apel, mangga, semang a, dan lain sebagainya. M adame Nahed memberi penjelasan yang cu up dan sangat berguna bagi diri u. * * * Seja pulang dari rumah sa it, a u merubah peta hidup yang telah urancang satu bulan e depan. A u lebih banya di rumah. Kegiatan menerjemah sementara a u tin ggal dulu. Wa tu u uhabis an untu bu u-bu u yang ber aitan dengan materi penul isan tesis. Syai h Utsman memberi u izin tida i ut mengaji sampai musim panas b enar-benar reda. A u masih penasaran siapa yang melunasi biaya rumah sa it itu. A u dan teman-tem an meraba-raba beberapa emung inan. Saiful menduga yang membayar Syai h Utsman, bisa murni dari sa u beliau bisa jug a beliau menyalur an za at mal para dermawan. Beliau adalah to oh yang memili i banya one si dan a ses. Sedang an Hamdi berpendapat yang melunasi mung in Syai h Ahmad. Karena beliau da n isterinya di enal aya, dermawan, dan su a menolong orang. Rudi lain lagi, dia menduga yang melunasi adalah piha KBRI. Mung in diam-diam Pa Atase Pendidi an mengucur an dana dari anggaran emasyara atan. Mishbah tida berpendapat apa-apa, tapi dia ber omentar yang paling tida mung i n adalah pendapat Rudi. Bagaimana mung in Atase Pendidi an mengeluar an dana unt u biaya seorang mahasiswa yang sa it sedang an diminta dana untu pelatihan e o nomi Islam saja seretnya bu an main. Itu alasan Mishbah yang sedi it ecewa deng an KBRI. Entahlah siapa sebenarnya dia yang berhati putih itu. Mata hati u ber ata, yang membayar bu an yang disebut teman-teman itu. Tapi orang lain. Dan orang lain itu adalah orang yang berhati i hlas, mengenal u, sangat perhatian pada u, dan a u tida tahu siapa dia. A u tida bisa menduga sebuah nama. A u hanya berdoa, agar suatu saat nanti Allah membu a rahasia siapa malai at itu sebenarnya. A u berha rap bisa membalas ebai annya. 13. Keti a Hati Berdesir-desir Ta terasa sudah memasu i pertengahan September. Suhu musim panas mulai turun. Paling tinggi 32 derajat celcius. Bulan O tober nanti adalah bulan peralihan dar i musim panas e musim dingin. Si Musthafa Fathullah Said, teman Mesir satu ela s di pascasarjana yang juga sedang mengaju an proposal tesis memberitahu an, bah wa dua hari lagi a u harus e ampus untu ujian proposal tesis yang uaju an. A

u terfo us pada ujian yang sangat menentu an itu. Ji a proposal u ditola ma a a u harus menunggu setengah tahun lagi untu mengaju an proposal baru. As you sow, so will you reap! Demi ian pepatah Inggris mengata an. Seperti apa y ang anda tanam, sebegitu itulah yang a an anda peti . Rasanya tida sia-sia apa yang telah u erja an selama ini. Membuat jadwal etat, bola -bali e National Library, e perpusta aan IIIT di Zamale , dan mengumpul an bahan. Membaca litera tur-literatur lasi ber aitan Ilmu Quran, berdis usi dengan teman-teman pascasa rjana. Kerja yang melelah an. Mengantu . Pusing. Mual. Kurang tidur. Semuanya te rasa bagai an simponi hidup yang indah setelah tim penilai yang terdiri para gur u besar menerima proposal tesis yang a u aju an. A u jadi menulis tentang Metodol ogi Tafsir Syai h Badiuz Zaman Said An-Nursi . A u memang pengagum ulama terbesar Tur i abad 20 itu. Dia termasu to oh dunia Islam yang menurut Syai h Yusuf Al Q aradhawi laya disebut mujaddid umat Islam abad 20 disamping Hasan Al Banna. Pem bimbing u juga telah ditentu an yaitu Syai h Prof. Dr. Abdul Ghafur Ja far. A u se perti mendapat durian runtuh sebab beliau memang profesor idola u. Ter enal pali ng mudah ditemui dan paling senang dengan mahasiswa dari Asia Tenggara. A u belu m di enal oleh beliau, tapi a u a an berusaha menjadi muridnya yang bai sehingg a beliau a an mengenal u dengan bai sebagaimana Syai h Utsman mengenal u. Dan sebagai rasa syu ur a u harus embali memeras ota dan be erja eras untu m enyelesai an tesis ini. Pe erjaan yang tida ringan, sebab a u juga harus menerj emah. Tanpa menerjemah dari mana sumber penghidupan a an a u dapat an. A u emba li menata peta hidup dua tahun e depan. A u teliti dan a u al ulasi dengan se sama. Target-target dan cara pencapaiannya. Ada satu target yang masih mengganja l. Yaitu meni ah. A u mentarget an saat menulis tesis a u harus meni ah. Umur u sudah 26 tahun menginja 27. A u meng al ulasi emampuan mencari dana setiap bulan. Sebelum menulis tesis a u sanggup merampung an bu u setebal 200-300 halaman setiap bulan. Itu berarti a u a an mendapat masu an se itar 250 dollar perbulan. Dan a u hanya bisa menyisa a n 100 dollar dan ter adang malah cuma 50 dollar. Setiap ali masu to o bu u a u tida bisa menahan diri untu membeli bu u atau itab. Keti a onsentrasi u ter pusat pada menulis tesis ma a emampuan u menerjemah a an ber urang. Mung in a u hanya a an mampu menerjemah 150-200 halaman saja perbulan. Uang yang a u terima dari bayaran menerjemah hanya cu up untu memenuhi biaya sehari-hari. Bagaimana ? Apa ah a an tetap ne ad meni ah? Tunggu dulu! Bang Aziz yang mengais naf ah dengan membuat tempe dan mendistribus i annya e rumah-rumah mahasiswa itu berani meni ah. Bang Aziz bercerita dengan pemasu an 150 dollar perbulan sudah berani meni ah. Hidup sederhana dan menyewa rumah sederhana di awasan Hayyu Thamin, atau jauh di Zahra sana. Apalagi ji a m encari isteri mahasiswi yang ebetulan dapat beasiswa. Mes ipun beasiswa ta seb erapa tapi sangat membantu arena datangnya tetap. A hirnya upi ir dengan matang, bahwa umur tida bisa dihargai dengan materi. Ji a menemu an perempuan shalihah dan mau menerima diri u seutuhnya dan siap hidup berjuang bersama, dalam su a dan du a, ma a a u tida a an menyia-nyia an esem patan untu menyempurna an separo agama. Kutetap an tahun ini bisa meni ah, tapi tida mencari. Lho bagaimana? Siapa tahu ada yang menawari. Kalau sampai selesa i magister tida ada yang menawari ya berarti memang nasib u tida meni ah di Ca iro dengan mahasiswi Al Azhar. Mung in nasib u adalah meni ah di Indonesia, deng an seorang a hwat berjilbab yang ghirah eislamannya bagus, yang ada di UI, atau di UGM, atau di UNDIP, atau di UNS. Atau malah gadis dari pesantren yang masih sangat virgin. Atau, ta tahunya ana tetangga sendiri, teman gebyuran di sungai wa tu ecil. Jadi tida asing lagi, seja ecil sudah sama-sama tahu. A u jadi teringat puisi u sendiri, yang utulis jele se ali di bu u harian suat u malam di musim semi setahun yang lalu: Bidadari u, Namamu ta teru ir Dalam catatan harian u Asal usulmu ta hadir Dalam dis usi ehidupan u Wajah wujudmu ta terlu is Dalam s etsa mimpi-mimpi u

Indah suaramu ta tere am Dalam pita batin u Namun au hidup mengaliri Pori-pori cinta dan semangat u Sebab Kau adalah hadiah agung Dari Tuhan Untu u Bidadari u Seorang perempuan shalihah yang a an jadi bidadari u, yang a an a u cintai sepen uh hati dalam hidup dan mati, yang a an a u harap an jadi teman perjuangan meren da masa depan, dan menapa i jalan Ilahi, itu siapa? A u ta tahu. Ia masih berad a dalam alam ghaib yang belum dibu a an oleh Tuhan untu u. Ji a wa tunya tiba s emuanya a an terang. Hadiah agung dari Tuhan itu a an datang. * * * Di layar TV Channel 2 ada pengumuman nama-nama orang hilang, leng ap dengan dat a sing at, ciri-ciri dan fotonya. Nama yang tera hir di tampil an adalah Noura b inti Bahadur Gonzouri, leng ap dengan fotonya. Saat itu pu ul setengah sepuluh m alam. Kami satu rumah aget. Si Mu a Dingin Bahadur rupanya masih mencari Noura untu ia jual epada serigala -serigala berwajah manusia. Kami satu rumah cemas ji a urusannya a an sampai ep ada polisi dan menyeret Syai h Ahmad. Ji a Si Mu a Dingin Bahadur punya hubungan dengan seorang pembesar di bagian intelijen eamanan negara urusannya benar-ben ar bisa merepot an. Saat itu juga a u menelpon Syai h Ahmad. Beliau minta a u te nang saja dan tida usah uatir. Noura sedang berada di pintu gerbang emerde aa n dan ebahagiaannya. Beso pagi setelah shalat shubuh beliau a an menjelas an s emuanya. Usai shalat shubuh, Syai h Ahmad menjelas an epada u bahwa masalah Noura sedang ditangani diam-diam oleh Ridha Shahata, saudara sepupunya yang bertugas di bagi an intelijen eamanan negara. Ridha Shahata menemu an informasi berharga bahwa N oura dilahir an di sebuah rumah sa it elite di awasan elite Heliopolis. Pada mi nggu yang sama Noura dilahir an hanya ada lima bayi. Dan pada hari yang sama Nou ra lahir cuma ada dua bayi di sana. Yaitu dia dan bayi satunya bernama Nadia. Se telah dilaca . Nadia ini tinggal di Heliopolis, ayah dan ibunya dosen di Univer sitas Ains Syams. Yang sedi it aneh Nadia ber ulit hitam sementara ayah dan ibun ya ber ulit putih. Kolonel Ridha Shahata sedang menyiap an surat pemanggilan unt u tes DNA pada Si Mu a Dingin Bahadur dan isterinya. Juga pada Nadia dan edua orang tuanya. Sebab memang sangat mencuriga an dua bayi itu tertu ar. Ji a benar tertu ar nanti a an dicari siapa saja perawat yang bertugas wa tu itu. Tertu ar nya sengaja atau tida . Tes DNA itulah yang a an jadi bu ti uat ejelasan asus Noura. Namun seandainya tida terbu ti ada pertu aran bayi, Noura a an tetap di lindungi. Kolonel Ridha Shahata juga telah menyiap an bu ti untu menyeret Si Mu a Dingin Bahadur e penjara. Kolonel Ridha Shahata adalah intelijen yang sangat profesional, dia pernah menang ap seorang turis Spanyol yang ternyata adalah ma ta-mata Mossad. Syai h Ahmad meminta saya tenang. Wa man yattaqillaha yaj al lahu ma hraja. Siapa yang berta wa epada Allah ma a Dia a an menjadi an untu nya jalan eluar. A u l ega. Begitu sampai dirumah, a u mendapat telpon dari Nurul. Ia rupanya juga melihat t ayangan nama orang hilang tadi malam. Ia cemas alau Noura tertang ap dan urusan nya melebar. A u lalu menjelas an apa yang dijelas an Syai h Ahmad epada u. Nur ul merasa lega. Sebelum menga hiri pembicaraannya dia bertanya apa ah a u sudah e tempatnya Ustadz Jalal. Kubilang seja sa it a u belum e mana-mana. A u mint a pada Nurul agar menyampai an pada Ustadz Jalal permohonan maaf u belum bisa e sana. Dan a u titip pesan seandainya beliau ada wa tu supaya menghubungi a u la ngsung. Biar a u tahu sebenarnya beliau mau minta tolong apa. A u juga menjelas an pada Nurul saat ini sudah onsentrasi menulis tesis. Alhamdulillah judul tesi snya sudah diterima. Nurul menyata an rasa gembira dan senangnya. * * * A u teringat ini hari Ahad. Sudah lama a u tida tida mengaji pada Syai h Utsm

an. A u benar-benar rindu pada beliau. Ramalan cuaca siang ini Cairo tida terla lu panas. Hanya 30 derajat celcius. A u berang at setengah sebelas. A u ingin s halat zhuhur di Shubra. Baru eluar sampai di halaman apartemen, a u dicegah ole h Maria dari atas, dari jendelanya. Dia minta agar a u tida pergi dulu, di ruma h dulu. A u heran apa ha nya melarang a u. A u jelas an padanya a u harus belaja r qiraah sab ah. A hirnya dia menyuruh adi nya, Si Yousef untu mengantar a u e t empat a u ngaji. A u merasa heran dengan diri sendiri, eluarga Tuan Boutros beg itu bai dan besar perhatiannya epada ami. Hari itu Yousef mengantar a u sampa i di depan masjid Abu Ba ar Shiddiq, Shubra. Ia juga berjanji a an menjemput u p u ul setengah lima sore. A u mengucap an terima asih padanya. Syai h Utsman dan teman-teman menyambut u dengan penuh ehangatan. Kami mempra te an qiraah Imam Warasy dengan membaca surat Al Mujaadilah, Al Hasyr, Al Mumta hanah, Ash Shaf dan Al Jumu ah. Selesai mengaji Syai h Utsman mengaja u masu e amar beliau yang husus disedi an oleh ta mir masjid. Beliau ingin berbicara ma salah husus. Ana u, au sudah sehat betul? tanya beliau lembut. Alhamdulillah, Syai h, jawab u dengan menundu an epala, a u tida berani memand ang beliau. Segan. Alhamdulillah. Terus bagaimana dengan uliahmu? Alhamdulillah. Judul tesis magister sudah diterima Syai h. Se arang sedang mengu mpul an bahan lebih leng ap untu menulis. Alhamdulillah. Kau menulis tentang apa? Metodologi Tafsir Syai h Badiuz Zaman Said An-Nursi. Bagus se ali. Said An-Nursi memang ulama luar biasa yang harus di aji elebihan yang diberi an Allah epadanya. Lantas siapa pembimbingmu? Prof. Dr. Abdul Ghafur Ja far. Yang tinggal di de at masjid Rab ah El-Adawea, Nasr City itu? Benar Syai h. Alhamdulillah. Kau insya Allah a an mendapat bimbingan dan emudahan dari beliau . Beliau adalah salah seorang murid u ang atan pertama. Beliau mengambil sanad d an ijazah qiraah sab ah dari u. Nanti a an a u telpon beliau agar memberi an bimbi ngan terbai epadamu. Dan agar amu benar-benar menjadi pembela dan penyebar ag ama Allah di tanah airmu ela . Suara Syai h Utsman bernada optimis dan bahagia. Diam-diam a u sangat agum pada beliau yang sangat memperhati an semua muridnya. Beliau memang tida mau mengambil murid terlalu banya . Tapi yang sedi it itu b enar-benar beliau curahi perhatian yang luar biasa. Ana u. A u mau bertanya masalah penting padamu. Apa ah au mau meni ah? Pertanyaan Syai h Utsman itu bagai an guntur yang menyambar gendang telinga u. A u aget. Hati u bergetar hebat. Ji a yang bertanya orang semacam Rudi, Hamdi, dan Saiful a u a an menjawabnya dengan santai, bah an a u bisa menjawabnya denga n guyon. Tapi ini yang bertanya adalah ulama ter emu a, gurunya para guru besar di Mesir. Ma sud Syai h bagaimana? Apa ah au mau meni ah dalam wa tu de at ini. Kalau mau, ebetulan ada orang sha lih datang epada u. Ia memili i epona an yang shalihah yang bai agamanya dan minta dicari an pasangan yang tepat untu epona annnya itu. A u melihat au ada lah pasangan yang tepat untu nya. Keringat dingin u eluar. Tapi a u mahasiswa mis in Syai h, tida punya biaya. Baginda nabi dulu meni ah dalam eadaan mis in. Sayyidina Ali bin Abi Thalib jug a meni ah dalam eadaan mis in. A u sendiri meni ah dalam eadaan mis in. Begini Ana u, au pi ir anlah dengan matang. La u anlah shalat isti harah. Gadis shal ihah ini benar-benar shalihah, dia mencari pemuda yang shalih bu an pemuda yang aya. Se arang pulanglah, pi irlah dengan matang. Ji a au mantap dengan jawaban mu siap meni ah atau tida secepatnya datanglah au menemui u. Ji a au mantap, ma a a an a u pertemu an au dengan walinya dahulu, ji a tida , ma a a u a an me ncari an yang lain. Kata- ata Syai h Utsman yang berwibawa itu merasu dan mendes ir hebat dalam jiwa u. Sampai di rumah hati u masih terasa bergetar atas pertanyaan sa ral yang diaju an Syai h Utsman. Jiwa u masih terasa berdesir. Apa yang beliau tawar an bu an s

embarang tawaran. Yang beliau tawar an adalah sebai -bai riz i bagi seorang pem uda. Ada ah riz i lebih agung dari seorang gadis shalihah yang ji a dipandang me nyeju an jiwa bagi seorang pemuda? A u belum bisa mempercayai apa yang a u alam i hari ini. Baru saja target dan peta hidup dibuat, tawaran untu meni ah datang sedemi ian cepat. Siap. Atau tida . A u harus minta penerang dari Allah Swt. 14. Badai Kegelisahan Tiga hari berturut-turut a u shalat isti harah. Yang terbayang adalah wajah ibu yang sema in menua. Sudah tujuh tahun lebih a u tida berjumpa dengannya. Oh ib u, ji a eng au adalah matahari, a u ta ingin datang malam hari. Ji a eng au ada lah embun, a u ingin selalu pagi hari. Ibu, durha alah a u, ji a ditelapa a im u tida a u temui sorga itu.87 Ma a uputus an untu minta persetujuan ibu. Ibu adalah segalanya bagi u. Ji a b eliau meridhai ma a a u a an melang ah maju. Ji a tida ma a a u pun tida . A u telpon e Indonesia. Ayah dan ibu tinggal jauh di desa. Ta ada telpon di s ana. A u menelpon e rumah Pa Zainuri, mertua paman yang penili se olah dan ti nggal di ota ecamatan. Rumah paman ta jauh dari beliau. Selama ini, ji a a u ingin menghubungi ayah dan ibu caranya memang lewat Pa Zainuri dulu. Pa Zainur i a an menghubungi paman dan paman a an menghubungi ayah ibu. Kalau a u mengirim surat pun a u lebih su a mengalamat annya e rumah Pa Zainuri lebih cepat samp ainya. Sebab ji a dialamat an e desa, surat u bisa bertapa dulu di balai desa, atau di rumah Pa RW dalam wa tu ta tentu. Masalah transportasi dan omuni asi global memang aga susah ji a hidup di desa. Kepada paman a u jelas an semuanya. Siapa Syai h Utsman dan apa yang beliau taw ar an epada diri u. Paman adalah orang yang wawasannya luas, ia guru SMP telada n se abupaten. Paman banya bertanya tentang seandainya benar-benar meni ah den gan muslimah yang bu an dari Indonesia. A u jelas an, ji a dia gadis yang shalih ah semuanya a an mudah. A u jelas an pada paman, tida semua orang mendapat an t awaran sedemi ian terhormatnya dari Syai h Utsman. Di Indonesia, alau mendapat an tawaran untu meni ah dengan ana seorang iai mushalla saja dianggap suatu eberuntungan yang luar biasa. Juga ujelas an hasil isti harah u. A u minta pada paman agar mengaja musyawarah ayah dan ibu. Disamping itu a u juga minta ayah ibu juga mela u an shalat isti harah. Apa pun hasilnya itulah eputusan yang a a n a u ambil. Dua hari lagi pada jam yang sama a u a an menelpon menanya an hasil nya. Dan a u ingin langsung mendengar dari lisan ibu. 87 Dari penggambungan dua peti an saja Fatin Hamama berjudul A u ingin ibu dan Ibu (3) yang terdapat dalam umpulan puisinya Papyrus . Dua hari emudian. Pada wa tu yang dijanji an a u menelpon e tanah air. A u me ndengar suara ibu, Ji a isterimu nanti mau diaja hidup di Indonesia, tida terlalu jauh dari ibu, ma a meni ahlah dan ibu merestui, ibu ya in a an penuh ber ah. Tapi ji a tida b isa dibawa e Indonesia tida usah, cari saja gadis shalihah yang dari Indonesia ! Air mata u meleleh mendengar eputusan ibu. Sebuah eputusan yang sangat bija s ana. A u memang tida mung in hidup dan berjuang selain di tanah air tercinta. H ari itu juga a u menemui Syai h Utsman dan memberitahu an eputusan u. Beliau be rpesan agar hari beri utnya datang e tempat beliau lagi, untu mengetahui abar selanjutnya. Hari beri utnya a u datang. Syai h Utsman menyambut u dengan senyu m dan pelu an penuh ehangatan. A u seperti seorang cucu yang beliau sayangi. Semoga gadis shalihah ini menjadi riz imu di dunia dan di a hirat. Dia siap au bawa berjuang di mana saja dan walinya menyetujuinya. Ini ada dua album foto dia , au bawalah pulang! Kau lihat-lihat. Kau isti harah lagi. Ji a au mantap au a an a u pertemu an dengan gadis shalihah ini dan walinya. A u pulang dengan membawa dua album foto yang umasu an dalam tas cang long u. A u merasa seperti memi ul beban satu ton. Tas cang long itu terasa berat se al i. Sampai di amar a u memegang album itu dengan tangan gemetar, dan hati bergetar . A u a an melihat wajah calon bidadari yang menemani hidup u selamanya. A u a a n melihat wajah calon belahan jiwa. Tapi entah enapa a u tida berani membu any a sama se ali. Dua album itu cuma a u pegang dan tanpa ubu a sedi itpun. A u te

rsenta , a u belum tahu namanya. Kenapa tida a u tanya an namanya pada Syai h U tsman? A u ingin membu anya, siapa tahu di dalam Album itu ada namanya. Tapi uru ng. A u tida berani. Entah enapa. A u shalat isti harah, yang datang adalah ib unda tercinta. Beliau ber ata sing at, Meni ahlah ibu merestui. Hari beri utnya a u embali menemui Syai h Utsman dan u ata an emantapan u un tu meni ahi gadis itu. Syai h Utsman ber ata, A u sudah menduga dan a u sangat ya in au a an mengata an itu. A u memang belum melihat gadis itu, tapi isteri u, Ummu Fathi, yang melihat foto-foto dalam albu m itu memuji-muji ecanti annya. Ummu Fathi malah bilang ji a au sampai tida m au, ma a ia meminta u agar menjodoh an dengan cucu u yang sedang uliah di Peran cis. A u geli se ali mendengar per ataan Ummu Fathi. Dan au nanti a an aget a rena tadi malam walinya bilang gadis itu sangat mengenalmu, dan au mung in tela h mengenalnya. Kau sudah melihatnya, au mengenalnya bu an? A u tida tahu harus menjawab apa. A u sama se ali belum melihat album itu dan a u sama se ali tida tahu namanya. A u diam saja. Gadis itu jadi rasa penasaran dalam hati yang luar biasa. A u telah menyata an emantapan u tapi a u belum ta hu siapa dia. A u menjadi orang yang paling penasaran di dunia. Syai h Utsman mi nta epada u agar beso datang tepat setelah shalat Ashar, alau bisa shalat Ash ar di Shubra. Jadwal mengaji qiraah sab ah diundur hari beri utnya. Beso a u a an dipertemu an dengan gadis itu bersama walinya. Untu saling melihat dan saling mengenal sebelum ata sepa at untu a ad ni ah diputus an. Malam itu, malam sepulang dari rumah Syai h Utsman adalah malam paling menyi sa dalam hidup u. Namun ada eseju an yang sedemi ian lembut mengaliri relung-relu ng hati u. Keseju an itu apa a u tida tahu namanya. Saiful rupanya sangat mempe rhati an esibu an u selama ini. Dia bertanya ini itu tapi masalah diri u sedan g proses e gerbang perni ahan sama se ali tida a u beritahu an padanya, juga p ada siapa saja. Malam itu a u tida bisa tidur, a u menutup amar, dan berada di amar seperti orang linglung. Siapa gadis itu? Dia mengenal u dan a u mengenaln ya, siapa dia? Jangan-jangan gadis itu bu an gadis Mesir. A u membodoh-bodoh an diri u enapa tida melihat dua album yang telah berada di tangan u. Jangan-jang an dia gadis Indonesia. Walinya tahu a u mengaji pada Syai h Utsman dan minta ag ar menjodoh an epona annya dengan u. Tapi, siapa gadis Indonesia yang ecanti a nnya laya dipuji oleh isteri Syai h Utsman dan dia memili i wali di sini? Seingat u mahasiswi Indonesia yang disertai erabatnya hanya ada tiga orang. Rai hana disertai a a andungnya. Fauzia disertai adi nya. Dan Nurul, ia disertai pamannya, tapi paman jauh. Tiba-tiba hati u berdesir, jantung u mau copot. Yang paling canti memang Nurul. Tapi a u merasa itu tida a an terjadi. Tida mung i n. Dia adalah puteri seorang iai besar, pengasuh pesantren besar di Jawa Timur. Dan seorang iai biasanya telah memilih besan seja ana nya masih belum bisa be rjalan. Tapi enapa Ustadz Jalal meminta u datang? A u sema in didera badai ege lisahan yang dahsyat. A u mengumpat diri u sendiri. Seandainya a u melihat foto dalam album a u tida a an dirajam penasaran yang menggila ini. A u berusaha men gurangi rasa gelisah dan penasaran dengan bersujud dan menangis epada Tuhan. Da lam sujud a u berdoa sebagaimana doa nabi hamba pilihan Allah dalam Al-Qur an, Rabbana hab lana min azwaajina wa dzurriyyatina qurrata a yun wal alna lil muttaqiin a imaama! Wahai Tuhan ami, anugerah anlah epada ami isteri-isteri ami dan e turunan ami sebagai penyeju hati ami, dan jadi anlah ami imam bagi orang-ora ng yang bertaqwa! 88 88 Surat Al-Furqaan: 74 15. Pertemuan

A u sampai di masjid Abu Ba ar Shiddiq tepat saat azan Ashar ber umandang. Selu ruh tubuh u bergetar tida seperti biasanya. Keringat dingin u eluar. A u tida tahu shalat u ali ini husyu apa tida . Yang jelas mata u basah. Dalam sujud a u menangis memohon epada Allah agar diberi umur yang penuh ber ah, pertemuan dengan calon belahan jiwa yang penuh ber ah, a ad ni ah yang penuh ber ah, malam zafaf yang penuh ber ah, dan masa depan yang penuh ber ah. Selesai shalat a u m asih dudu meniti an air mata. A u meya in an diri u bahwa a u tida sedang ber mimpi. Sebentar lagi a u a an bertemu dengan dia. Dia yang a u belum tahu namany

a dan belum tahu wajahnya seperti apa. Dia yang telah lama urindu. A u minta e uatan epada Allah. Syai h Utsman menyentuh punda u beliau tersenyum. Beliau mengaja u i ut serta dalam mobil beliau. Dari masjid Abu Ba ar sampai e rumah beliau memang aga ja uh. Syai h Utsman memili i seorang sopir bernama Faruq. Selama dalam perjalanan Syai h Utsman bercerita masa mudanya dulu. Beliau dan Ummu Fathi asalnya juga ti da saling enal. Bertemu dalam majlis hitbah. Dan cinta itu hadir begitu saja setelah a ad ni ah, begitu uatnya. Ana u, au pasti panas dingin se arang. Iya an? A u dulu juga merasa an hal yan g sama. Dalam perjalanan bersama eluarga e rumah Ummu Fathi, untu bertemu per tama alinya se aligus hitbah hati u berdesir, jantung u berdegup, eringat din gin eluar. Tapi itulah saat-saat yang ta terlupa an. Dan eti a ami bertemu. Ummu Fathi eluar mengeluar an minuman dengan tangan bergetar. Mata ami se ilas bertemu dan hati diliputi rasa malu yang luar biasa. Itu adalah eni matan luar biasa. Keni matan istimewa yang jarang dirasa an ana muda se arang, ecuali ya ng benar-benar menjaga diri dan menjaga hubungan lela i perempuan dalam adab-ada b syar i. Kulihat mu amu pias, au pasti sedang panas dingin. Ana u, tunggulah na nti sebentar lagi eti a au sudah dudu di ruang tamu dan gadis itu masu bersa ma walinya au a an merasa an panas dingin yang luar biasa. Panas dingin yang be lum pernah au rasa an. Apalagi ala au dan dia nanti sese ali mencuri pandang. Suasana hatimu tida a an bisa au lupa an seumur hidupmu. Inilah eindahan Isl am. Dalam Islam hubungan lela i perempuan disuci an sesuci-sucinya namun tanpa m engurangi eindahan romantisnya. Kata- ata Syai h Utsman menambah tubuh u sema in dingin. Syai h Utsman seperti masih muda. Beliau juga menasihati u agar majelis pertemuan nanti benar-benar dimanfaat an sebai -bai nya untu mengenal an diri dan mengenal gadis itu. Syai h Utsman dan wali gadis itu hanya a an menjadi pemb awa acara. * * * Memasu i ruang tamu Syai h Utsman a i u seperti lumpuh. A u hampir tida bisa mengang at a i u. Tubuh u gemetar. Ruang tamu yang penuh dengan itab- itab la si ini a an menjadi sa si penting dalam sejarah hidup u. Syai h Utsman mempersi la an a u dudu di sofa busa yang menghadap e barat. Di sebelah selatan ada sof a panjang menghadap utara untu dua orang. Di sebelah barat ada sofa menghadap e timur untu satu orang. Di sebelah utara ada dua sofa menghadap e selatan. Pi ntu ada de at tempat a u dudu . Ummu Fathi eluar membawa nampan berisi dua gelas air putih. Untu ami berdua. Ana u, ayo diminum dulu. Kau tampa nya ehausan, ucap Syai h Fathi. A u menegu sedi it. Lima menit lagi, mere a insya Allah datang! sambung beliau. Jantung u ber degup encang. Panas dingin tubuh u sema in uat terasa. A u banya beristighfar di dalam hati untu menenang an diri. Bel berbunyi. Itu mere a datang. Kau tetaplah dudu di tempatmu! ata Syai h Fathi. A u tida b isa lagi menang ap nuansa yang menyergap hati u. Berbagaimacam perasaan bercampu r menjadi satu; penasaran, rindu, malu, gugup, ta ut, cemas, tida percaya diri, optimis, senang, dan bahagia. Ummu Fathi mengambil dua gelas berisi air putih i tu. Sementara Syai h Fathi beranjang membu a an pintu. Suara pintu di bu a. A u sama se ali tida berani memandang e arah pintu yang hanya dua meter di samping u. Assalamu ai um! Hati u berdesir eras. Suara lela i. Bu an suara orang Indonesia, t api suara itu memang sangat has dan a u sangat mengenalnya. A u masih menundu . Wa alai umussalam wa rahmatullah. Ahlan wa sahlan. Ayo masu ! Fahri, berdirilah sa mbutlah calon pamanmu! Suara Syai h Utsman membuat u tergagap. A u berdiri. Dan . Subhanallah! Lela i yang berdiri di hadapan u adalah Eqbal Ha an Erba an. Dia tersenyum pada u. Hati u terasa dingin se ali. A u berusaha tersenyum. A u ta tahu seperti ap a raut mu a u. A u sungguh-sungguh ter ejut. Kami berang ulan erat se ali. Kaif h ala ya aris! Eqbal membisi an ata sapaan pada u, yang dalam ata sapaan ada at a- ata yang menggoda. Dia sudah memanggil u ya aris , wahai pengantin pria. Alhamdulillah, lirih u.

Di bela ang Eqbal ada dua perempuan bercadar dan dua ana ecil yang lucu. A u enal dengan dua ana ecil itu. Amena dan Hasan. Amena membawa bone a panda. A u jadi teringat itu bone a yang utitip an lewat Aisha. Dan Hasan membawa pistol air mainan. Dua perempuan bercadar itu menatap u se ilas, lalu beranja menyala mi Ummu Fathi. Mere a berpelu an bergantian. Eqbal menari tangan Amena dan Hasa n agar bersalaman dengan u. A u berjong o . Melihat Amena dan Hasan yang lucu r asa grogi u sedi it ber urang. A u cium ening Amena yang baru berumur lima tahu n itu juga ening Hasan yang baru tiga tahun. Eqbal minta pada Amena untu berte rima asih pada u atas hadiahnya. Syu lon alal hadieh el jamileh, Am amu Andonesy. 89 Lirih Amena terbata-bata dengan suara aga cedal. Kontan Syai h Utsman tertawa. A u tersenyum saja. Ummu Fathi, isteri Syai h Utsman mempersila an yang bernama Aisha agar dudu di sofa yang menghadap e timur. Dan mempersila an isteri Eqbal dudu di de at Ais ha, sofa yang menghadap e selatan. Beliau sendiri dudu tepat di depannya. Syai h Utsman dudu di sampingnya, de at dengan u. Dan Eqbal dudu berhadapan dengan Syai h Utsman, juga berde atan dengan u. Si ecil Amena dudu di pang uan ibuny a. Dan si ecil Hasan berdiri di depan ayahnya. 89 Terima asih atas hadiahnya yang canti , Paman dari Indonesia. Pembicaraan di mulai. Jantung u mulai berdegup encang. Tubuh u panas dingin. K ini a u tahu gadis itu adalah Aisha. Kepona an Eqbal Ha an Erba an. Syai h Utsma n benar, Aisha telah mengenal u dan a u telah mengenalnya. Per enalan yang begit u sing at. Aisha mung in tahu banya tentang diri u. Ia mung in telah mendapat b anya info dari Eqbal. Sebab selama bersahabat dengan Eqbal dan selama i ti af di masjid Helmeya Zaitun ami sudah seperti eluarga sendiri. Eqbal banya cerita t entang dirinya dan eluarganya. Masa ecilnya. Bagaimana bisa e Mesir. Bagaiman a bisa meni ah dengan Sarah yang ini jadi isterinya. Sarah yang dari eluarga onglomerat Tur i namun sangat uat penghayatannya atas Islam. A u pun telah ceri ta banya pada Eqbal. Tentang eluarga u yang mis in. Tentang bagaimana diri u d atang e Mesir dengan menjual sawah warisan a e . Harta satu-satunya yang dimil i i eluarga. Tentang awal-awal di Mesir yang penuh derita. Ta ada beasiswa. Ta ada pemasu an. Kerja membantu Bang Aziz mendistribusi an tempe e rumah-rumah mahasiswa dari Indonesia dan Malaysia. Jualan beras dengan cara mengambil beras dari peloso Mesir seperti Zaqaziq dan menjual e teman-teman mahasiswa. Dan lai n sebagainya. Aisha mung in telah tahu banya tentang diri u, tapi a u apa yang a u etahui tentang dirinya. Melihat mu anya saja belum. Sarah, isteri Eqbal berbicara dengan Ummu Fathi. Sese ali Syai h Fathi dan Eqba l menimpali. Sarah mencerita an siapa Aisha ini. A u memandang e arah Aisha, pada saat yang sama dua matanya yang bening di bal i cadarnya juga sedang memandang e arah u. Pandangan ami bertemu. Dan ces! Ad a setetes embun dingin menetes di hati u. Kurasa an tubuh u bergetar. A u cepatcepat menundu an epala. Dia elihatannya mela u an hal yang sama. Ku ira Aisha tida setegang diri u, sebab dia merasa lebih santai. Wajahnya tersembunyi di b ali cadarnya. Sementara diri u, a u tida tahu seperti apa bentu mu a u. A u h arus mencari cara untu menghilang an etegangan ini. Si ecil Hasan memandangi a u. A u tersenyum padanya. Kutari dia e pang uan u. Dia menurut. Dengan adanya Hasan di pang uan u a u jadi merasa lebih nyaman. A u bisa membela i-belai rambutnya. Hasan ana yang penurut. Kelihatannya ia benar-benar masih in gat pada u. Sese ali ia berceloteh dan a u menanggapi lirih sambil mencium epal anya gemas. Dan di bali cadar, mata bening Aisha memperhati an apa yang a u la u an. Ini adalah majelis ta aruf90 untu dua orang yang sedang berniat untu melangsung a n perni ahan. Menurut ajaran nabi, seorang pemuda boleh melihat wajah perempuan yang henda dini ahinya. Untu melihat daya tari dan untu menyeju an hati. Ma a lebih bai nya Ana u Aisha membu a cadarnya. Mes ipun Fahri sudah melihat waj ahmu lewat album foto. Tetapi dia harus melihat yang asli sebelum melangsung an a ad ni ah. Bu an ah begitu Ummu Amena? Kata- ata Ummu Fathi ini membuat jantung u berdesir. Sebentar lagi Aisha a an menanggal an cadarnya, dan a u..masya Allah ..a u a an melihat wajah calon isteri u. A u memandang Aisha. Dia memandang u lalu menundu . Kelihatannya dia sangat malu dan salah ting ah.

Aisha, bu alah cadarmu! Calon suamimu berha melihat wajah aslimu, desa Sarah, bi binya. Sambil mende ap Hasan a u menya si an tangan anan Aisha perlahan-lahan membu a cadarnya. Ada hawa seju mengalir dari atas. Masu e ubun-ubun epala u dan men yebar e seluruh syaraf tubuh u. Wajah Aisha perlahan terbu a. Dan wajah putih b ersih menundu tepat di depan u. Subhanallah. Yang ada di depan u ini seorang bi dadari atau ah manusia biasa. Mahasuci Allah, Yang mencipta an wajah seindah itu . Ji a seluruh pemahat paling hebat diseluruh dunia bersatu untu mengu ir wajah seindah itu ta a an mampu. Pelu is paling hebat pun ta a an bisa mencipta an lu isan dari imajinasinya seindah wajah Aisha. Keindahan wajah Aisha adalah ary a seni mahaagung dari Dia Yang Maha Kuasa. A u benar-benar merasa an saat-saat y ang istimewa. Saat-saat untu pertama ali melihat wajah Aisha. Bagaimana apa ah alian sudah benar-benar siap membangun rumah tangga berdua? Pert anyaan Syai h Fathi membuat diri u mendonga an epala. Aisha juga mela u an hal yang sama. Pandangan ami bertemu. Dan ces! Hati u seperti ditetesi embun dingi n dari langit. Entah hati Aisha. Lalu ami embali menundu an epala. A u diam tida menjawab. 90 Per enalan A h Fahri, bagaimana, au siap menerima Aisha sebagai isterimu? tanya Eqbal dengan suara tegas. A u malah menetes an air mata. A h Eqbal, semestinya bu an a u yang au tanya. Tanyalah Aisha, apa ah dia siap m emili i seorang suami seperti a u? Kau tentu sudah tahu siapa a u. A u ini mahas iswa yang mis in. Ana seorang petani mis in di ampung peloso Indonesia, jawab u terbata-bata sambil terisa . Apa ah a u ufu dengannya? A u merasa tida pantas bersanding dengan epona anmu itu. A u tida ingin dia ecewa di bela ang hari, lanjut u. Bai lah, biar Aisha sendiri yang menjawabnya. Bicaralah Aisha, jangan malu, ujar E qbal. A u mencuri pandang melihat Aisha. Ia menundu an epalanya. Bulu matanya yang l enti bergera -gera . Bai lah, a u a an bicara dari hati u yang terdalam. Fahri, dengan disa si an semu a yang hadir di sini, u ata an a u siap menjadi pendamping hidupmu. A u sudah m engetahui banya hal tentang dirimu. Dari Paman Eqbal, dari Nurul dan orang-oran g satu rumahnya. Dari Ustadzah Maemuna isteri Ustadz Jalal. Dari Ruqoyya, isteri Aziz. A u a an sangat berbahagia menjadi isterimu. Dan memang a ulah yang memin ta Paman Eqbal untu mengatur bagaimana a u bisa meni ah denganmu. A ulah yang m inta. Aisha menjawab dengan bahasa Arab fusha yang ter adang masih ada sususan ta ta bahasa yang eliru namun tida mengurangi pemahaman orang yang mendengarnya. Suaranya terasa lembut dan indah, lebih lembut dari suaranya saat ber enalan di Metro dan beberapa ali bertemu, di Tahrir dan di National Library. A u tida ta hu enapa. Apa ah arena a u ini telah jatuh cinta padanya? Jatuh cinta untu y ang pertama alinya. Dan semoga juga yang tera hir alinya. Bagaimana Fahri, Kau sudah mendengar sendiri dari Aisha, se arang au bagaimana? u jar Eqbal sambil memandang e arah u. Semua mata tertuju e arah u, ecuali mata si ecil Amena dan Hasan. A u memberani an diri untu menatap wajah Aisha, aga sedi it lama. Aisha memandang u, ia menanti jawaban u. A u merasa ta mampu men ahan air mata yang meleleh. Ji a Aisha sedemi ian mantapnya dan percaya pada u, ma a, bismillah, a u pun mant ap menerima Aisha untu jadi isteri u, pendamping hidup u dan ibu dari ana -ana u, a u a an sepenuh hati percaya padanya, ata u dengan suara parau bergetar, de ngan mata tetap menatap Aisha. A u melihat mata Aisha ber aca- aca. Suasana heni ng dan haru menyelimuti ruangan itu. A u jadi teringat lima puluh tahun yang lalu, saat meng hitbah Ummu Fathi, suasan anya ta jauh berbeda. Penuh dengan perasaan cinta dan nuansa indah yang ta bis a dilu is an dengan ata- ata. Suara Syai h Utsman memecah an eheningan dan eha ruan. Syai h Utsman lalu bercerita tentang hari-hari pertamanya membangun rumah tangga. Banya hal lucu penuh hi mah yang beliau isah an. Ter adang Ummu Fathi yang juga sudah tua menyela. Suasana jadi lebih hidup. Pembicaraan terus berlanjut e masalah ami berdua, masalah diri u dan masalah A isha. Syai h Utsman mampu menggiring ami untu membu a diri. A u berterus teran

g tentang sa it u sebulan yang lalu. Aisha membu a dirinya pernah sa it Asma. A u ung ap an embali persyaratan ibu u, bahwa isteri u mau tida mau harus hidup dan berjuang di Indonesia. Diri u sudah a u wa af an di jalan Allah. A u siap hidup dan berjuang di mana saj a mendampingi perjuangan suami u tercinta. Tegas Aisha tanpa ragu sedi itpun. Kami lalu berbicara tentang harapan masing-masing. Cita-cita dan idealisme masin g-masing. A u merasa apa yang diharap an dan dicita-cita an Aisha tida ada yang berseberangan jauh dengan apa yang a u harap an dan a u cita-cita an. Dia ingin suami yang sepenuh hati mencintainya, menjadi an dirinya satu-satunya isterinya , setia dalam su a dan du a, perhatian pada eluarga, dan tida melalai an tugas berjuang di jalan Allah. Itu adalah juga yang a u ingin an dari isteri u. A u i ngin isteri yang shalihah, setia dan tida meng hianati Allah dan Rasul-Nya. Setelah pembicaraan berlangsung lama, rasa canggung tida lagi penghalang untu mengung ap an segala yang ingin diung ap an. A u bah an tanpa perlu malu, dan d engan penuh eterus-terangan membu a emampuan u mencari naf ah saat ini. Andala n u adalah terjemahan. Dan arena sedang onsentrasi penulisan tesis, a u tida bisa menerjemah sebanya yang emarin. A u jelas an nominal yang ira- ira masu tiap bulan. Itu pun ter adang terlambat pembayarannya. Juga uang yang a u punya saat ini. Aisha menjawab dengan tenang, Alhamdulillah a u sudah mempelajari sifat perempuan Jawa. A u sangat agum pada m ere a. Mere a adalah perempuan yang sangat setia, dan peduli pada eluarga. Di J awa seorang isteri terlibat sepenuhnya dalam masalah eluarga. Isteri i ut memi ir an bagaimana dapur mengepul. Perempuan Jawa bisa hidup sederhana. Seperti Fat imah Zahra puteri Rasulullah bisa hidup sangat sederhana, yang mengambil air dan membuat roti sendiri. Padahal dia puteri seorang nabi agung. A u siap untu hid up seperti Fatimah Zahra. A u sudah meneliti mahasiswa Indonesia, hususnya dari Jawa yang ber eluarga di Cairo. Mere a hidup sangat sederhana. Mengatur uang ya ng ada sebai -bai nya. Saling meleng api. A u siap hidup seperti mere a. Menurut Ruqoyya isteri seorang mahasiswa bernama Aziz yang berjualan tempe. Dengan uang 150 dollar ia sudah bisa hidup normal mes ipun sangat sederhana dengan menyewa rumah yang sederhana. A u bah an siap untu hidup lebih buru dari itu. A u siap dalam su a maupun du a. A u mantap dengan apa dengar dari Aisha. Semoga apa yang ia ata an adalah apa y ang eluar dari hatinya. Kata- ata adalah cermin jiwa. Lalu a u mengutara an masalah cadar yang dipa ai Aisha. Bu an a u tida setuju a tau menentangnya. Tapi untu fiqh da wah di Indonesia lebih hi mah tida pa ai c adar. A u jelas an ondisi masyara at di desa u dan se itarnya. Perempuan bercad ar a an dianggap sangat aneh dan mencuriga an. Jangan uatir. Aisha dan Sarah isteri u adalah muslimah-muslimah moderat. Itu tid a a an menjadi masalah. Sarah sendiri alau pulang e Tur i tida mema ai cadar . Menurut mayoritas Ulama, menutup wajah bagi perempuan tida wajib. Yang wajib adalah menutup seluruh aurat ecuali telapa tangan dan wajah, jelas Eqbal. Ya. Paman Eqbal benar, sahut Aisha. Setelah segala yang bersifat pribadi dirasa cu up, dan ami merasa benar-benar a an bisa menjadi pasangan hidup yang serasi, bisa saling mengisi dan meleng api, pembicaraan berlanjut e masalah a ad ni ah dan pesta walimatul ursy. Aisha ingi n a ad dan pesta dila sana an secepatnya. Setelah di al ulasi dan timbang paling cepat a ad dila sana an satu minggu lagi dan pestanya dua hari setelahnya. A hi rnya ditetap an a ad ni ah a an dila sana an Jum at depan, tanggal 27 Sepetember, di masjid Abu Ba ar Shiddiq setelah shalat Ashar. Karena nantinya Aisha a an tin ggal di Indonesia, ma a a u harus mengurusi segalanya yang ber aitan dengan do u men perni ahan yang dia ui di Indonesia. A u jelas an itu mudah. Eqbal a an mele ng api semua do umen Aisha yang diperlu an untu Kedutaan Besar Republi Indones ia. Aisha bilang ia juga a an mencatat an perni ahannya e edutaan Jerman. Aisha meminta agar uang yang a u mili i saat ini disiap an untu mahar dan pengu rusan surat ni ah KBRI. Adapun biaya yang lainnya biar paman Eqbal yang mengurus i. Tempat pesta walimatul ursy juga ditetap an saat itu juga. Yaitu di Darul Mun asabat91 masjid Rab ah El-Adawea, Nasr City. Itu adalah tempat yang paling coco . Leta nya strategis. De at dengan tempat tinggal umumnya mahasiswa Indonesia dan

mahasiswa Tur i. Jumlah orang indonesia yang a an diundang se alian di tentu an. Tentunya undangan terbatas. Karena di piha Aisha juga mengundang orang Tur i. Undangan disesuai an dengan apasitas tempat dudu . Jenis hidangan yang disaji a n juga ditetap an. Tida terlalu mewah tapi juga tida terlalu sederhana. Yang d icari adalah bara ahnya. Malam zafaf juga ditentu an. Tida setelah a ad, tapi setelah walimah. Tempatnya di mana, Aisha dan Sarah yang a an merancangnya. A u diminta tinggal menerima j adi saja. Sebab suasana amar pengantin a an dibuat suasana Tur i. Sarah adalah seorang da iyah di alangan mahasiswi Tur i, arenanya a u ya in mes ipun di tata ala Tur i tapi tida a an menyimpang dari sunnah nabi. Saat itu juga Eqbal mengu ur tubuh u untu mencari pa aian pengantin yang a an d ipa ai saat walimah nanti. Sesuai einginan Aisha, rencananya ami berdua a an m ema ai busana pengantin muslim Tur i. Hal-hal seperti itu bagi u tida ada masal ah. Semua panitia a an ditangani oleh teman-teman dari Tur i. Eqbal hanya minta bantuan beberapa orang untu penyambut tamu dan penyaji hidangan. 91 Auditorium, balai pertemuan. Perbincangan selesai tepat saat azan maghrib ber umandang. Sore itu sejarah baru hidup u telah dirancang dengan matang. Aisha sempat tersenyum pada u sebelum i a dan eluarganya meninggal an ruang tamu Syai h Utsman. A u tida bisa mengung ap an rasa cinta u yang membuncah memenuhi segenap ruang hati u. A u melang ah a n a i dengan perasaan bahagia tiada ter ira, mes ipun a u tida menging ari ad a sedi it rasa cemas. Cemas yang terlahir dari e urangpercayaan pada apa yang a u alami. Yang a u alami tadi sungguh ah ejadian nyata atau ah se adar mimpi be la a? Ter adang orang yang terlalu bahagia melihat apa yang dialaminya seperti m impi. Ter adang wa tu berjalan sedemi ian cepatnya tanpa memberi ita esempatan untu berpi ir sebenarnya apa yang sedang terjadi pada diri ita sendiri.

16. Cobaan Teladan orang-orang yang bercinta adalah Baginda Nabi. Cinta sejati adalah cint anya sepasang pengantin yang telah diridhai Tuhan dan didoa an seratus ribu mala i at penghuni langit. Ta ada perpaduan asih lebih indah dari perni ahan, demi ian sabda baginda Nabi. Setelah melihat Aisha yang tiada lain adalah calon bidadari u, belahan jiwa yan g a an mendampingi hidup u, ta bisa upung iri a u didera rasa cinta yang membu ncah-buncah. Inilah cinta u yang pertama, dan Aisha adalah gadis pertama yang me nyentuh hati u dan menjajahnya. Wa tu di Aliyah dulu, a u pernah na sir pada seorang gadis tapi ta pernah sampa i menyentuh hati. Ta pernah sampai merindu dendam. A u bah an ta punya eberan ian untu se adar menyapanya atau mengingat namanya. Diri u yang saat itu hanya berstatus sebagai hadim romo iai, batur para santri, ta berani se adar mendon ga an epala epada seorang santriwati. Juga selama di Kairo, sampai Aisha membu a cadarnya di rumah Syai h Utsman. Kua ui ada satu nama yang membuat u selalu bergetar bila mendengarnya, namun ta leb ih dari itu. A u merasa sebagai see or pungu dan seluruh mahasiswi Indonesia di Kairo adalah bulan. A u tida pernah berusaha merindu annya. Dan ta a an perna h uizin an diri u merindu annya. Karena a u merasa itu sia-sia. A u ta mau mel a u an hal yang sia-sia dan membuang tenaga. A u lebih memilih mencurah seluruh rindu dendam, haru biru rindu dan deru cinta u untu belajar dan menggandrungi Al-Qur an. Telah usumpah an dalam diri u, a u t a a an mengulur an tangan epada seorang gadis ecuali gadis itu yang menari t angan u. A u juga ta a an membu a an hati u untu mencintai seorang gadis ecua li gadis itu yang membu anya. Bu an suatu eang uhan tapi arena rasa rendah dir i u yang selalu menggelayut di epala. A u selalu ingat a u ini siapa? Ana peta ni ere. Ana penjual tape. A u ini siapa? a u adalah lumpur hitam yang mendebu

menempel di sepatu dan sandal hinggap di atas aspal terguyur hujan terpelanting masu comberan siapa sudi memandang atau mengulur an tangan? tanpa uluran tangan Tuhan a u adalah lumpur hitam yang malang Tuhan telah mengucap an un! Lumpur hitam pun dijelma menjadi ma hlu yang dianu gerahi eni matan cinta yang membuncah-buncah dan rindu yang berdebam-debam. Seo rang bidadari bermata bening telah disiap an untu nya. Fa bi ayyi alaai Rabbi um a tu adziban! Ma a ni mat Tuhan amu yang mana ah yang amu dusta an. Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang bai -bai lagi canti -canti . Ma a ni mat Tuhan amu yang mana ah yang amu dusta an. Bidadari-bidadari yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah. Ma a ni mat Tuhan amu yang mana ah yang amu dusta an.92 Belum juga masu surga, Tuhan telah begitu pemurah memperlihat an seorang bidada ri yang bai dan canti , bidadari yang putih bersih bernama Aisha. Ma a ni mat T uhan amu yang mana an yang amu dusta an? Ma a tiada henti menangis epada Tuhan, merasa terlalu agung anugerah yang dilim pah an oleh-Nya epada u yang lumpur hitam. Mengiba-iba epadaNya iranya anuger ah ini bu an bentu istidraj, bu an bentu ni mat yang sejatinya azab. Dalam suj ud tangis di eheningan malam uisa an seribu doa dari ratapan jiwa. Doa Adam, doa Ibrahim, doa Ayyub, doa Ya qub, doa Daud, doa Sulaiman, doa Za ariya, doa Muha mmad, doa seribu nabi, doa seribu wali, dan doa seribu sufi yang telah meregu c inta ha i i dan melahir an sejuta generasi rabbani. 92 Surat Ar-Rahman: 70-73. * * * Dua hari menjelang hari H, barulah teman-teman satu rumah a u beritahu. Semua u rusan di KBRI sudah selesai. Mahar telah a u beli; seuntai alung, sebuah cincin dan mushaf mahar. A u juga telah membeli satu stel jas yang pantas. A u meminta epada teman-teman untu mengundang teman-teman terde at. Ta lebih dari empat puluh orang. Mohon esediaan datang di acara a ad ni ah Jum at depan, di masjid Ab u Ba ar Ash-Shiddiq, Shubra El-Khaima. Seperti biasa Rudi nyeletu , Nurul d . diundang ngga Mas? Untu a adnya tida usah. Tapi walimahnya ya, jawab u dengan tegas. Sebagai abar gembira uberitahu an pada teman-teman bahwa Bapa Atase Pendidi an dan Kebudaya an (Atdi bud) secara husus telah uminta untu menjadi sa si, dan beliau telah menyata an esediaannya. A u juga minta pada teman-teman untu mengundang dua ra tus orang. Seratus lima puluh putera dan lima puluh puteri untu datang di acara walimatul ursy. Teman-teman satu rumah sepertinya masih tida percaya pada apa y ang a u abar an. Namun mere a mau tida mau harus percaya sebab a u tida perna h main-main untu urusan serius. A u datangi rumah Tuan Boutros. Kosong. Saiful bilang, saat a u dua hari tida di rumah, Tuan Boutros se eluarga pergi re reasi e Pantai Hurgada. Dua hari yang lalu a u memang sibu di Nasr City mem bantu teman-teman Tur i mempersiap an segalanya. A u merasa tida leng ap ji a s ampai pesta walimatul ursy nanti eluarga Tuan Boutros tida menya si an. Mere a adalah orang terde at selama tiga tahun ini. A u mencoba menghubungi nomor hand phone Maria. Jawabannya, nomor yang anda hubungi sedang berada di luar area! Sed ih! A u minta pada Rudi agar terus mencoba menghubungi Maria, memberitahu an aca ra paling bersejarah dalam hidup u ini pada eluarganya. Mohon mere a bisa datan g pada saat pesta walimah. Yang a u belum bisa mengerti adalah di mana ah nanti a u setelah meni ah? A u t elah berusaha menyewa rumah di Hayyu Tsamin tapi Eqbal tida mengizin annya. Kat anya rumahnya telah disiap an oleh Aisha. A u ingin tahu rumahnya di mana dan se

wanya perbulan berapa, tapi dia juga tida mau memberitahu annya, atanya biar s urprise sesuai permintaan Aisha. Yang jelas, ata dia, rumah itu memang sangat l aya untu tinggal memadu asih bersama Aisha. A u pasrah saja, a u tida meragu an etulusan mere a. Satu hari menjelang a ad ni ah Eqbal dan dua orang Tur i datang dengan membawa mobil pic up. Dia bilang a an mengang ut barang-barang u untu di tata di rumah baru. Aisha yang memintanya. Komputer, beberapa stel pa aian, dan puluhan jilid bu u dan itab penting diang ut. A u tida boleh i ut. Insya Allah, semuanya a an beres dan aman. Saat ini au adalah raja yang tida bo leh susah. Kami berusaha memberi an yang terbai untu alian berdua. Dan jangan lupa selesai shalat Jum at au langsung e rumah u di Maadi. Kita a an berang at e Shubra bersama, ata Eqbal yang sebentar lagi harus upanggil paman. Keti a melihat amar u yang berubah dan ehilangan banya isinya a u meniti an air mata. Wa tu terus berjalan. Manusia tida bisa menentang perubahan. Ta lama lagi a u a an meninggal an amar tercinta ini. A u a an meninggal an teman-tema n dan membu a lembaran hidup baru bersama seorang isteri bernama Aisha. berjalan di titian odrat (apa yang harus ita ata an) ji a berharap Dia menentu an93 * * * Keti a fajar Jum at mere ah di ufu timur, a u ber ata dalam hati, Inilah hari u. T iada sabar rasanya menunggu ashar tiba. Matahari seperti diganduli malai at. Har i terasa berat. Wa tu sepertinya berjalan begitu lambat. Usai shalat shubuh teman-teman telah bersiap. Mere a ubagi tugas. Rudi shalat J um at di Masjid Indonesia menjadi petunju jalan bagi Pa Atdi bud. Mishbah e Wis ma Nusantara menjadi petunju jalan bagi bus yang disedia an untu teman-teman u ndangan. Jara Nasr City-Shubra tida de at. Sedang an Hamdi dan Saiful nanti be gitu selesai shalat Jum at langsung e Shubra. A u sendiri usai shalat Jum at langsu ng e rumah Eqbal Ha an Erba an. 93 Dipeti dari saja berjudul Tuhan dan Titahnya arya Fatin Hamama. Pu ul delapan tepat telpon berdering, u ira dari Eqbal. Ternyata tida . Dari U stadz Jalal. Katanya beliau dan isterinya telah sampai di mahattah metro Hadaye Helwan. Beliau datang untu membicara an masalah yang dulu pernah beliau pesan an melalui Nurul. Kuminta Saiful untu menjemput Ustadz Jalal. A u jadi merasa t ida ena tida mengundang beliau secara langsung untu menghadiri a ad ni ah. K utanya an pada teman-teman apa ah undangan walimah untu beliau sudah sampai. Ti da tahu, mung in belum, sebab undangan itu dititip an pada Mas Khalid. Dan renc ananya Mas Khalid a an menyampai annya usai shalat Jum at nanti. Mes ipun ter esan sangat mepet dan mendada terpa sa nanti Ustadz Jalal a an umohon untu datang e acara a ad ni ah. Ustadz Jalal dan ustadzah Maemuna, isterinya, sampai dengan wajah cerah. Mere a datang cuma berdua, tida membawa etiga ana mere a. Mana epona an- epona an u Ustadz? Kenapa tida dibawa serta? tanya u basa-basi. Hamdi datang dengan nampan berisi tiga gelas teh Arousa panas dan satu piring ro ti bolu. Entah dapat bolu dari mana ana itu. Se ali- ali ami ingin bepergian berdua tanpa diganggu ana -ana . Biar bisa sedi it mesra. Pagi ini ami benar-benar meni mati perjalanan dengan metro. Dari Ram sis sampai Hadaye Helwan sepi, hawanya juga seju , jawab Ustadz Jalal. Mere a ditinggal sendirian di rumah? heran u. Tida . Kebetulan Nurul dan teman-temannya usai shalat shubuh tadi datang e ruma h. Jadi mere a yang menjaga, sahut Ustadzah Maemuna. O begitu, syu urlah. Ngomong-ngomong Ustadz dan Ustadzah menyempat an untu ber unjung emari ada yang bisa saya bantu? ucap u. Ustadz Jalal memberi tahu ada masalah sangat penting dan rahasia yang ingin bel iau bicara an dengan u. Beliau minta tempat yang aman. Kubawa beliau dan Ustadza h Maemuna e dalam amar u yang beranta an. Pintu ututup rapat. Ko beranta an begini. Komputermu dan itab- itabmu tida ada. Mau pindahan nih, atau malah sedang pindahan? omentar Ustadz Jalal.

Nanti setelah masalah Ustadz selesai a an a u cerita an, insya Allah. Sila an Us tadz bicara, jawab u. Kami berdua datang emari memohon bantuanmu menyelesai an suatu masalah serius. Tida masalah ami sebenarnya, tapi masalah seseorang yang de at dengan ami. Da n yang paling tepat untu ami minta pertolongan adalah eng au, Fahri. Kami sang at berharap eng au bisa membantu, ata Ustadz Jalal. Kau saya diberi emampuan untu itu. Insya Allah. Masalah apa itu Ustadz? Ini masalah serius yang mengancam jiwa Nurul? Mendengar hal itu pi iran u langsung tertuju pada buntut peristiwa Noura bersem bunyi di rumah Nurul. Jangan-jangan Si Mu a Dingin Bahadur tahu itu dan memper ara annya, tapi alau itu masalahnya enapa diri u tida i ut diper ara an?. Bagaimana jiwa Nurul bisa terancam Ustadz? Apa yang terjadi padanya, dan apa yan g bisa saya la u an untu membantunya? Kau tahu Nurul adalah puteri tunggal Bapa KH. Ja far Abdur Razaq, pengasuh pesant ren besar di Jawa Timur. Selain canti dia juga cerdas dan halus budi. Seja mas ih elas satu aliyah sudah banya iai besar yang melamar Nurul untu puteranya. Nurul tida mau. Keti a a hirnya Nurul belajar di Al Azhar pinangan itu justru sema in banya . Kiai Ja far ayah Nurul ber ali- ali menelpon Nurul agar segera men entu an pilihan pendamping hidupnya. Beliau merasa sangat tida ena menola pin angan terus menerus. Apalagi ji a pinangan itu datangnya jadi iai yang lebih se nior dari beliau atau dari guru beliau. Ji a Nurul sudah tunangan atau meni ah d engan seseorang yang dipilihnya tentu edua orang tua Nurul a an lebih tenang. D an ji a berjumpa dengan para iai- iai di Jawa Timur tida a an terbebani oleh s indiran-sindiran halus dari para iai yang meminang puterinya. Dua bulan yang la lu ayahnya menelpon ada pinangan dari Kiai Rahmad untu puteranya Gus Anwar. Kia i Rahmad ini adalah gurunya ayah Nurul wa tu mondo di Bandar Kidul Kediri. Ayah Nurul tida bisa menola nya ecuali Nurul sudah memili i seorang calon di Mesir . Ji a tida , ma a Nurul terpa sa harus menerima pinangan itu. Inilah masalahnya . Nurul sendiri bagaimana? Saya mendengar ada beberapa mahasiswa yang su a dengann ya. Memang ada beberapa mahasiswa yang mende ati dia secara bai -bai . Ada yang seca ra langsung. Ada juga yang lewat ami atau teman satu rumahnya. Tapi ta ada yan g coco di hatinya. Ternyata seja dua tahun yang lalu diam-diam Nurul telah ag um dan jatuh hati pada seseorang. Tapi sayangnya Nurul tida berani mengung ap a nnya arena rasa malunya yang tinggi. Ia berharap orang yang dicintainya terbu a hatinya dengan dan meminangnya tapi sepertinya orang yang dicintainya tida tah u alau Nurul mencintainya. Rasa cinta Nurul padanya membuncah dan ta bisa dia sembunyi an seja dua bulan yang lalu. Seja ayahnya menelponnya untu menerima Gus Anwar atau mencari calon sendiri di Mesir yang shalih. Saat itu dia menangis pada isteri u. Ia mengung ap an seluruh isi hatinya. Ia minta epada isteri u u ntu membantunya. Isteri u memberi saran untu berterus terang saja pada orang y ang dicintainya itu. Tapi Nurul tida mau, ia sangat malu. Nurul minta pada iste ri u agar a u yang bicara dengan orang itu. A u sangat sibu se ali dan a u mera sa tida tepat untu bicara pada orang yang dicintai Nurul itu. A hirnya a u mer asa a u perlu minta bantuanmu. Kau sangat de at dengan orang itu. Sudah ber aliali Nurul bertanya pada u bagaimana hasilnya. A u tida bisa menjawabnya. Sebab a u belum bertemu denganmu. Kau sibu a u pun sibu . Baru ali ini a u bisa ber temu denganmu. A u sangat berharap au bisa membantu. Asal saya mampu, insya Allah Ustadz. Dia mahasiswi yang bai . Saya salut dan ag um padanya. Mes ipun telah menjabat sebagai Ketua Wihdah tapi dia masih mau melu ang an wa tu mengajar ana -ana baca Al-Qur an di Masjid Indonsia. Dia juga orang yang mudah diminta tolong. Sangat asihan memang alau orang sebai dia tida me ndapat an apa yang dicintainya. Namanya orang alau sudah cinta itu susah untu tida dipertemu an. Abu Ba ar saja eti a ada seorang buda perempuan merana ar ena mencintai Muhammad bin Qasim bin Ja far bin Abi Thalib hati beliau luluh. Beli au langsung menemui tuan pemili buda itu dan membelinya, lalu mengirimnya e M uhammad bin Qasim bin Ja far bin Abi Thalib. Hal serupa juga dila u an Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Cinta memang tida mudah. Orang Inggris bilang, Lo ve is a sweet torment. Cinta adalah si saan yang mengasyi an. Tapi ji a orang t

erus tersi sa arena cinta, ia bisa binasa seperti Laila dan Majnun. Kebinasaan paling tragis adalah yang disebab an oleh cinta, jawab u. Ustadzah Maemuna menyahut, Dan ami ta ingin melihat Nurul binasa arena cintanya pada pujaan hatinya. Memangnya rasa cinta Nurul sampai seperti itu? heran u. Seja dua bulan yang lalu. Seja ia menangis di pang uan u, Nurul sering menangi s sendiri. Ber ali- ali dia cerita pada u a an hal itu. Ia ingin se ali orang it u tahu bahwa dia sangat mencintainya, lalu orang itu membalas cintanya dan langs ung mela sana an sunnah Rasulillah. Nurul anti pacaran. Tapi rasa cinta di dalam hati siapa bisa mencegahnya. A u tahu benar Nurul siap ber orban apa saja untu ebai an orang yang dicintainya itu. Bantulah ami membu a hati orang itu? ata Ustadzah Maemuna. Insya Allah. Saya paling ta tahan melihat seseorang tersi sa batinnya. Jadi sia pa ah orang yang sangat beruntung itu, orang yang dipuja dan dicintai gadis shal ihah seperti Nurul? tu as u tenang. Dalam hati a u merasa bersyu ur bahwa a u men dapat an seorang biadadari yang ucintai tanpa harus melalaui si saan batin seru mit Nurul. Tenyata menjadi seorang gadis tida semudah menjadi seorang pemuda. Kau sangat mengenalnya uharap au tida aget mendengar namanya usebut, ata Us tadz Jalal. Santai saja Ustadz, insya Allah saya a an biasa saja, jawab u santai. Orang yang dicintai Nurul, yang namanya selalu dia sebut dalam doa-doanya, yang membuat dirinya satu minggu ini tida bisa tidur entah enapa, adalah FAHRI BIN ABDULLAH SHIDDIQ! Mendengar nama u yang disebut a u bagai an mendengar gelegar petir menyambar te linga u. A u tida percaya dengan apa yang baru saja a u dengar dari lisan ustad z Jalal. Siapa Ustadz, mung in ustadz salah ucap? tanya u meya in an apa yang a u dengar. A u tida salah ucap Fahri. Kaulah orangnya. Nurul sangat mencintaimu. Ber aliali dia bicara denganmu langsung atau lewat telpon tapi dia tida berani mengata an itu. Dan sudah ber ali- ali dia minta ami menemuimu mengung ap an isi hatin ya padamu, tapi baru ali ini a u sempat. Bagaimana Fahri au bisa membantu Nuru l bu an? A u menetes an air mata. Tetesan itu ma in lama ma in deras. A upun tergugu. Ke napa jalan ta dirnya seperti ini? Kenapa berita yang sebenarnya sangat membahagi a an hati u ini datang terlambat. Satu-satu nama seorang gadis yang bila udenga r hati u bergetar adalah Nurul. Nurul Az iya. Berita yang seharusnya membuat hat i u berbunga-bunga itu ini justru membuat hati u terasa pilu. Dalam hati a u me nyumpahi ebiasaan buru orang Jawa. Alon-alon waton ela on! Jadinya selalu ter lambat. Ji a dua bulan yang lalu Nurul mengucap an tiga ata saja: mau ah amu m eni ahi a u? Ta a an ada epedihan ini. Seja bertemu mu a dengan Aisha hati u sepenuhnya dipenuhi rasa cinta epadanya. Dan beberapa jam lagi i atan suci yang menyatu an cinta ami a an terjadi, insya Allah. Dengan terisa -isa u ata an pada Ustadz Jalal dan Ustadzah Maemunah, Oh, andai an wa tu bisa diputar embali. It is no use crying over spilt mil . Ta ada gun anya menangisi susu yang telah tumpah! Lalu ucoba menenang an diri dan ujelas an semuanya yang telah terjadi atas dir i u. A u ta bisa menyembunyi an tangis u saat mencerita an semuanya. Pertemuan dengan Aisha di Metro, dis usi dengan Alicia, tawaran Syai h Utsman, pertemuan d engan Aisha dan eluarganya, sampai rencana a ad ni ah dan walimah yang tinggal menunggu jam D nya. Apa yang bisa a u la u an untu Nurul Ustadz, apa. Seandainya Ustadz jadi diri u apa yang bisa Ustadz la u an? ata u sambil tergugu, hati u merasa pilu. Seandain ya Nurul dan Aisha datang bersamaan, a u ta perlu isti harah untu memilih Nuru l. A u lebih mengenal Nurul daripada Aisha. Tapi siapa bisa menari mundur wa tu yang telah berjalan. Ustadz Jalal dan Ustadzah Maemuna menangis terisa -isa . Ustadz Jalal merasa san gat menyesal dan sangat bersalah pada Nurul. Sudah ber ali- ali Nurul mendesa ny a untu menemui a u dan menjelas an masalah itu tapi Ustadz Jalal selalu mengulu r wa tu arena onsentrasi memperbai i disertasi do toralnya. Yang ia sesal an a dalah enapa beliau tida menyempat an sepuluh menit saja untu menilpun u membe

ri an se adar isyarat ada seorang yang mencintai u. Ustadzah Maemuna menangis te rsedu-sedu, ia ta bisa membayang an pilunya hati Nurul. Hanya arena sebuah et erlambatan sesuatu yang paling berharga bagi jiwanya tida ia dapat an. Dalam tangis u a u merasa masalah Nurul ini adalah cobaan besar bagi omitmen u atas semua ata- ata u di rumah Syai h Utsman. Cobaan atas cinta dan esetiaan u pada Aisha. Bisa saja a u ne ad membatal an esepa atan dan semua rencana yang telah ditetap an seperti dalam film India. A ad Ni ah toh belum terjadi. Mahar b elum a u bayar an. A u juga sama se ali belum pernah menyentuh Aisha. Melihat wa jahnya juga baru satu ali. Tapi ji a a u mela u an hal itu, nama u a an ditulis dengan lumpur hitam berbau busu oleh sejarah. A u a an menjadi orang munafi p aling menya it an hati orang-orang yang ucintai dan uhormati seperti Syai h Ut sman, Ummu Fathi, Eqbal Ha an Erba an dan isterinya, dan tentunya paling sa it d an terzalimi adalah Aisha. Kemudian seluruh mahasiswa Tur i di Mesir a an mela n at perbuatan u. Dan ela eti a a u berjumpa dengan Baginda Nabi beliau a an mu r a pada u arena a u telah menya iti perasaan se ian banya umatnya. A u ta ma u itu terjadi. Lebih dari itu a u tida tahu seberapa panjang umur u ini. Ji a a u membatal an perni ahan yang telah dirancang matang, a u tida tahu apa ah All ah masih a an memberi an esempatan pada u untu mengi uti sunnah Rasul. Atau ah a u justru tida a an punya esempatan menyempurna an separo agama sama se ali. Tida selamanya perasaan harus dituruti. A al sehat adalah juga wahyu Ilahi. 17. I atan Suci Apa yang terjadi antara diri u dan Nurul adalah tragedi yang sangat memilu an. A u ta memung iri, di dalam ta si selama perjalanan menuju rumah Eqbal Ha an Er ba an, hati u menangis. A u ini siapa? Nurul sungguh terlalu. Apa ah dia bu an o rang Jawa? A u ini orang Jawa. Di Jawa, seorang hadim iai dan batur santri, an a petani ere, mana mung in berani mendonga an epala apalagi mengutara an cin ta pada seorang puteri iai. Dia sungguh terlalu menunggu hal itu terjadi pada u . Semestinya dialah yang harus mengulur an tangannya. Dia sungguh terlalu berula ng ali etemu tida se alipun mengung ap an perasaannya yang mung in hanya memb utuh an wa tu satu menit. Atau alau malu hanya dengan beberapa baris tulisan ta ngannya tragedi ini tida a an terjadi. Menyata an cinta untu meni ah di jalan Allah bu anlah suatu perbuatan tercela. Dia sungguh terlalu. Tapi dia tida eli ru. Dia telah menempuh jalan yang benar. Dia benar-benar gadis shalihah yang pem alu. Yang terlalu sesungguhnya adalah Ustadz Jalal dan Ustadzah Maemuna. Mere a berdua sungguh terlalu. Atau justru a u yang terlalu dan begitu dungu. rinai tangis dalam hati u bagai rinti hujan di ota apa gerangan ma na lesu yang menyusup masu albu u?94 Sampai di halaman rumah Eqbal a u melihat tiga mobil mewah berjajar. Rumahnya a da di lantai tiga sebuah villa mewah ta jauh dari KFC Maadi. Sebelum masu uha pus air mata, utata hati dan jiwa. A u berusaha tersenyum. A u disambut hangat oleh Eqbal dan tiga lela i Tur i. Rumahnya tida terlalu ramai. Eqbal memper ena l an tiga lela i Tur i yang berpa aian rapi itu. Ini Ismael A htar, Ketua Umum Persatuan Mahasiswa Tur i di Mesir, ini se jennya Ali Naar, sedang an ini yang baru tiba dari Tur i tadi pagi adalah calon pamanmu A bar Ali Faroughi, adi andung ibunya Aisha. 94 Dari penggalan puisi Lagu Hujan arya penyair Perancis Paul Verlaine (1844-1896 ) terdapat dalam Puisi Dunia, Balai Pusta a, 1952, hal. 88. A bar Ali yang gagah itu memelu u erat dan berbisi , Senang memili i epona an seperti dirimu. Aisha sudah banya bercerita tentangmu pada u. Selamat datang di eluarga besar Ali Faroughi. Di ruang tamu itu ami berbincang-bincang sambil menunggu Aisha yang sedang ber dandan. A bar Ali mencerita an silsilah eluarga besarnya agar a u tahu jelasnya . Ali Faroughi ayahnya dan juga a e Aisha adalah asli Tur i. Beliau lahir di ota Izmir dari eluarga pedagang ain. Lulus se olah menengah langsung diminta a yahnya merantau e Istambul dan membu a to o ain di sana. Beliau menuruti anjur an ayahnya. Ba at bisnisnya luar biasa besar. To onya maju pesat sampai a hirnya

bisa membuat pabri te stil ecil- ecilan. A hir tahun 1948 beliau meni ah di Y ordan dengan seorang gadis pengungsi Palestina sebatang ara yang seluruh eluar ganya telah tewas dibantai Israel dan harta e ayaannya juga dirampas. Gadis Pal estina itu beliau bawa e Istanbul. Enam tahun emudian, yaitu tahun 1954, lahir lah ana mere a yang pertama diberi nama Alia Ali Faroughi. Alia itulah ibu and ung Aisha. Empat tahun emudian lahirlah A bar Ali Faroughi dan jauh setelah itu , lima belas tahun emudian baru lahir Sarah Ali Faroughi yang se arang meni ah dengan Eqbal Ha an Erba an. Ali Faroughi adalah pengi ut setia Al-Imam Asy-Syai h Al-Mujaddid Badiuz Zaman Sa id An-Nursi. Ali Faroughi wafat pada tahun 1993 pada usia 73 tahun, meninggal an tiga buah perusahaan besar. Di antara etiga ana ny a itu yang paling cerdas dan ulet adalah Alia. Dia selalu terbai di se olah men engah. Dia do ter terbai lulusan Istanbul University tahun 1976 dan langsung me ndapat beasiswa e Jerman tahun itu juga. Di Jerman Alia mengambil spesialis jan tung. Setelah tiga tahun di Jerman ia meni ah dengan seorang muallaf Jerman nama nya Rudolf Greimas, seorang pemili swalayan. Tahun 1981 Aisha lahir. Dan tahun 1982 Alia memperoleh gelar do tornya dengan predi at summa cumlaude dan mengambi l eputusan untu tinggal dan be erja di Jerman. Yang menyedih an tujuh tahun ya ng lalu, Alia tewas dalam sebuah ecela aan lalu lintas di sebuah jalur cepat ya ng berada pinggir ota Munchen, meninggal an Aisha yang masih belia. A u baru ta hu sebenarnya Aisha telah lama ehilangan seorang ibu. Kira- ira setengah jam sebelum azan ashar ber umandang, Sarah Ali Faroughi, mem beri tahu semuanya telah siap. A u minta tolong pada Eqbal agar bisa melihat waj ah Aisha sebelum berang at. A u ingin mengisi embali energi cinta u. A u ingin menghilang an segala galau dan melenyap an segala pilu yang masih terasa menyeli muti hati u. A u ta mau tragedi Nurul menoreh an noda dalam hati u. A u harus m elihat wajah Aisha yang sinarnya a an menerangi semua isi dan relung hati u. Ke seju annya a an menyiram jiwa u. Eqbal tersenyum pada u dan menari lengan u. Dia membawa u masu e sebuah ama r di sana hanya ada tiga perempuan Tur i semuanya telah mema i cadar. Eqbal mint a agar Aisha membu a cadarnya. Seorang perempuan yang mema ai abaya paling indah perlahan membu a cadar uning eemasannya. Perlahan wajah yang bercahaya itu ta mpa dan tersenyum pada u. A u memandangnya le at-le at. A u tersihir oleh peson anya. Tanpa sadar hati u bertasbih dan berpuisi: alang ah manis gadis ini bu an main elo dan ayu calon isteri u matanya berbinar-binar alang ah indahnya Setelah urasa cu up, a u meminta Aisha mema ai embali cadarnya. Kami pun beran g at dengan mengguna an tiga sedan Mercy. A u bersama Eqbal dan isterinya. Aisha bersama pamannya A bar dan isterinya. Ketua Persatuan Mahasiswa Tur i bersama s e jennya. Selama dalam perjalanan a u lebih banya mengucap an istighfar. A u be rharap saat ini eluarga di Indonesia mengirim an sela sa doa untu u. Mere a su dah a u beri tahu deti -deti ini a u a an membu a lembaran hidup baru. Dalam pe rjalanan sempat a u eluar an pertanyaan yang mengganjal pada Eqbal, Ayah Aisha, Tuan Rudolf Greimas, bu an ah masih hidup. Apa ah beliau a an datang? Beliau memang masih hidup tapi tida a an datang dan Aisha juga tida terlalu men gingin an dia datang. Yang jelas dia sudah tahu puterinya a an meni ah dengan ma hasiswa Indonesia. Tentang Rudolf Greimas nanti tanya anlah sendiri pada Aisha, enapa sampai dia tida mengharap an edatangannya, jawab Eqbal Ha an. * * * Tepat saat adzan ashar ber umandang ami sampai di masjid tempat a ad ni ah a a n dilangsung an. Sudah banya teman-teman mahasiswa Indonesia dan mahasiswa Tur i yang sampai di sana. Aisha dan dua bibinya langsung menuju lantai dua tempat j amaah wanita. A u menyalami teman-teman. Mere a semua tersenyum dan mengucap an selamat pada u. Usai shalat ashar acara a ad ni ah dimulai. Acara dilangsung an di depan mihrab masjid. Syai h Ustman, Syai h Prof.Dr. Abdu l Ghafur Ja far, Bapa Atdi bud, Eqbal Ha an Erba an, A bar Ali dan beberapa syai h Mesir yang diundang Syai h Ustman dudu dengan hidmat tepat di depan mihrab m enghadap e arah jamaah dan hadirin yang memenuhi masjid. Rupanya saat shalat Ju

m at tadi telah diumum an a an ada acara a ad ni ah antara mahasiswa Indonesia dan muslimah Tur i, sehingga orang Mesir yang ada di se itar masjid penasaran dan m asjidpun penuh. A u dudu di sebelah anan A bar Ali. Di barisan depan hadirin t ampa etua PPMI dan pengurusnya, teman-teman satu rumah, Syai h Ahmad Taqiyyudd in, teman-teman Mesir di program pasca dan Bapa M. Saeful Anam dari bagian Kons uler KBRI yang a an mencatat ejadian penting ini untu mengeluar an surat ni ah resmi. Rudi yang paling su a pegang tustel sibu membidi an ameranya. Dua ora ng mahasiswa Tur i juga sibu mengabdi an peristiwa bersejarah ini dengan handyc am dan amera. Yang menjadi pembawa acara adalah Ismael A htar, Ketua Umum Persatuan Mahasiswa Tur i di Mesir. Bahasa Arab fushanya indah. Acara dibu a dengan basmalah dan pe mbacaan alam Ilahi. Lalu sambutan sing at dari eluarga mempelai perempuan yang disampai an Eqbal. Sambutan sing at dari eluarga mempelai pria oleh Syai h Uts man. Barulah a ad ni ah. Piha wali perempuan mewa il an Syai h Prof. Dr. Abdul Ghafur Ja far untu meni ah an Aisha. Syai h Abdul Ghafur Ja far, yang ta lain adalah pembimbing u menulis tesis itu m aju dan dudu di tengah ling aran. A bar Ali dan Eqbal Ha an menuntun u maju dan dudu di hadapan Syai h. Mere a berdua mendamping u. Pa Atdi bud juga maju, du du di samping Syai h sebagai sa si. Ismael A htar juga maju sebagai sa si. Saif ul i ut maju membawa an mahar. A u sempat meliri e lantai dua. Aisha dan edua bibinya serta ratusan muslimah di sana memandang e bawah. Ke arah prosesi sa r al ini dilangsung an. Sebelum memulai menga ad Syai h Abdul Ghafur meminta epada semua hadirin untu beristighfar, mensuci an hati dan jiwa. Lalu meminta epada semuanya untu bers ama-sama membaca dua alimat syahadat. A u menetes an air mata, hati u basah. A u belum pernah merasa an suasana sedemi ian sa ralnya. Syai h Abdul Ghafur menja bat tangan u erat, lalu mewa ili wali meni ah an diri u dengan Aisha. Dan dengan suara terbata-bata namun jelas a u menjawab dengan penuh emantapan hati: Qabiltu ni ahaha wa tazwijaha bi mahril madz ur, ala manhaji itabillah wa sunna ti Rasulillah! A u terima ni ah dan awin dia (Aisha binti Rudolf Kremas) dengan mahar yang telah disebut, di atas manhaj itab Allah dan sunnah Rasulullah! Spontan dari lantai dua terdengar wanita-wanita Mesir melantun an zaghrudah95 y ang meleng ing indah. Dan Syai h Abdul Ghafur membimbing seluruh hadirin untu m engucap an doa yeng telah diajar an oleh Rasulullah Saw.: Baralallahu la a wa bara a alai a wa jama a baina uma fi hair! 96 Masjid pun berdengung-dengung oleh doa seluruh hadirin. Hati u terasa seju se ali. Air mata u terus meleleh tiada henti. A u tiada henti mengucap an hamdalah dalam hati. Setelah itu disambung hutbah ni ah yang dibawa an Syai h Ahmad. Khu tbah yang sing at, padat, namun membuat hati u bergetar hebat. Dia hiri dengan d oa yang dipimpin Syai h Utsman, doa yang membuat diri u lebur dalam eagungan ta nda-tanda e uasaan Tuhan. Selesai doa, Syai h Utsman membimbing hadirin untu melantun an thalaal badru, lagu ebahagiaan yang dinyanyi an aum Anshar saat menyambut edatangan Nabi Muh ammad Saw. dan Abu Ba ar Ash-Shiddiq di madinah setelah menempuh perjalanan hijr ah yang panjang dan melelah an. Para hadirin berdiri, menyalami dan merang ul u satu persatu sambil membisi an doa bara ah diiringi lantunan thalaal badru. Ger imis di hati u tida mau berhenti. Air mata terus saja meleleh. A u ini telah m emili i seorang isteri. Subhanallah, wal hamdulillah, wa laa ilaaha illallah, Al lahu a bar! 95 Siulan has wanita Arab sebagai ung apan egembiraan. 96 Semoga ber ah Allah tetap untu mu, dan semoga ber ah Allah tetap e atasmu da n semoga Allah mengumpul an alian berdua dalam ebai an. (Hadits diriwayat an o leh Imam Tirmidzi, Abu Daud, dan Ahmad) * * * Seperti esepa atan setelah a ad ni ah ami tida langsung zafaf. Malam zafaf a dalah setelah walimah. Dua hari lagi. Sampai rumah teman-teman menggoda u habishabisan. A u tanya an pada mere a apa sudah bisa menghubungi eluarga Tuan Boutr os. Belum bisa. Tida ena rasanya ji a mere a tida menghadiri walimah nanti. M es ipun berbeda agama mere a sudah seperti eluarga sendiri. Pu ul dua belas malam teman-teman sudah tidur. Tapi a u sama se ali tida bisa

memejam an mata. A u ingat banya hal. A u menelusuri embali perjalanan hidup u . Seja masih SD, jualan tape. Lalu masu pesantren menjadi hadim Romo Kiai sam bil melanjut an se olah di Tsanawiyah dan Aliyah mili pesantren. Dan a hirnya d engan susah payah bisa sampai Mesir. A u menangis sendiri ditemani sepi. Tiba-tiba handphone- u berdering. Kulihat ada yang memanggil. Aisha! Hati u ber degup encang. A u menye a air mata dan menata perasaan. Kuang at: Fahri? Ya. Kasih u, a u ya in au belum tidur. Kau tida bisa tidur. Kau pasti sedang memi ir an a u. Ya an? Dan li . Diputus. A u belum sempat menjawab. A u gemes se ali padanya. Pada Aisha. Ia menggoda u. Ku irim sms padanya. Sebab ji a utelpon ta ut tida dia ang at. Percuma. Aisha, a u sangat merindu anmu. Tulis u. A u sudah tahu. Bersabarlah. Allah mencintai orang-orang yang bersabar. Jawab Ais ha. A u menghela nafas panjang. A u ingin shalat malam. * * * Pagi hari, usai shalat shubuh, di masjid Al Fath Al Islami, seluruh jamaah yang mengenal u mengucap an selamat. Rupanya Syai h Ahmad telah memberi tahu mere a. Dan Syai h Ahmad mengaja u e amarnya di bela ang mihrab. Beliau memberi an abar bahagia mengenai Noura. Alhamdulillah ebenaran itu ter uat juga. Dari tes DNA, gen Noura tida sama den gan gen Si Mu a Dingin Bahadur dan isterinya yaitu Madame Syaima. Gen Noura just ru sama dengan mili suami isteri bernama Tuan Adel dan Madame Yasmin yang ini jadi dosen di Ains Syam University yang saat itu melahir an bayinya bersamaan ha rinya dengan Madame Syaima. Dan Nadia gadis yang selama ini mere a besar an deng an penuh asih sayang sama gennya dengan Si Mu a Dingin Bahadur dan Madame Syaim a. Dua bayi itu tertu ar. Noura memang mirip se ali dengan Madame Yasmin dan Si Nadia mirip dengan Madame Syaima. Mere a telah menemu an orang tua masih-masing. Noura bahagia dan Nadia nelangsa. Untungnya Tuan Adel dan Madame Yasmin tetap m eminta Nadia tinggal bersama mere a. Sebab Nadia telah dianggap sebagai ana nya sendiri. Si Mu a Dingin Bahadur sedang diproses atas segala ejahatannya. Menden gar abar bahagia itu a u merasa sangat bahagia. Gadis innocent yang lembut itu a hirnya benar-benar menemu an taman ebahagiaan yang selama ini hilang. Usai dari masjid a u mengaja musyawarah teman-teman satu rumah. Ta lama lagi a u a an meninggal an mere a. Iuran sewa rumah bulan depan a u bayar se alian. Ja di mere a tida bertambah beban mes ipun a u tida lagi satu rumah dengan mere a . Namun a u minta tolong epada mere a agar bulan beri utnya sudah ada yang meng ganti an a u. Teman-teman rela melepas an a u dan mendoa an semoga hidup bahagia . Mere a minta agar a u tida segan dan masih sering main e Hadaye Helwan. Mer e a bertanya a u a an tinggal di mana. A u menjawab, Belum tahu. Semua yang mengu rus isteri tercinta! Kontan mere a menyahut bareng, Ena nya punya isteri gadis Tur i yang shalehah seperti Aisha! A u tersenyum mendengarnya. Pu ul sembilan Paman Eqbal setelah a ad ni ah a u harus memanggilnya paman dan tiga mahasiswa Tur i datang embali dengan pic up. Henda mengang ut semua barang u yang tersisa. Dia belum juga mau mengata an rumah yang a an ami tempati itu di mana. Nanti au a an tahu juga! jawabnya enteng. Hari beri utnya adalah pesta walimatul ursy di Darul Munasabat Masjid Rab ah El-Ad awea, Nasr City. Seja ashar a u telah berada di rumah mahasiswa Tur i yang tela h ber eluarga di Hadidar Toni Street. Namanya Subhan Tibi. Isterinya bernama Lai la Belardi. Mere a teman bai Paman Eqbal dan Bibi Sarah. Di rumah mere a yang l eta nya ira- ira satu ilometer dari lo asi walimah, a u dan Aisha dirias ala pengantin Tur i. Aisha benar-benar seperti bidadari. Tapi elo wajahnya tersembu nyi di bali cadar tipis eemasan. Dan inilah untu pertama ali ami dudu bers anding di dalam mobil mewah. Selama dalam perjalanan menuju tempat walimah a u t a berani menyentuhnya. Kelihatannya Aisha gemes melihat etida beranian u. Ia m eleta an tangannya di atas telapa tangan u. Dengan ragu-ragu a u memegang tang annya. Dan hati u berdesir hebat. Itulah untu pertama alinya a u memegang tang an halus seorang gadis. Pesta walimah sangat meriah. Di mulai tepat setelah ashar. Ada panggung di depan . Tempat lela i dan wanita di pisah dengan satir. Pengantin lela i berbaur denga

n undangan lela i dan pengantin wanita berbaur bersama pengantin wanita. Panggun g yang indah itu rupanya untu hiburan. Tim Shalawat Tur i menunju an ebolehan nya. Juga tim nasyid Indonesia. Ada juga pantomim, sumbangan dari teman-teman KS W. Tadz irah di sampai an oleh Dr. A ram Ridha, pa ar psi ologi yang juga seoran g dai ter emu a di Kairo. Semua berjalan dengan sangat mengesan bagi siapa saja yang hadir malam itu. Setelah acara bera hir, dan tamu undangan telah banya yang pulang, Paman Eqbal membawa u e tempat pengantin wanita. Di sana ternyata ada pelaminan yang telah dihias indah. Aisha sudah dudu manis dudu di sana. A u diminta untu dudu di sampingnya untu diabadi an dalam foto dan video. Aisha minta dipang u dan disuapi ue. Lalu minta dibopong dan digendong. Ia juga minta difoto dalam gaya-gaya dansa. Ada-ada saja. Ia sangat mesra dan manja. Ta pi ia sangat tahu menjaga diri, ia tida minta dicium saat itu. Kemesraan ami y ang ta lama itu tida ada yang melihat ecuali beberapa muslimah, Paman Eqbal d an Paman A bar Ali. Saat adzan maghrib ber umandang dari menara masjid. A u dan Aisha telah berada di dalam Limousin meluncur menuju tempat untu malam zafaf. M enjadi sopir ami adalah Paman Eqbal Ha an Erba an, isterinya Sarah dudu disamp ingnya dengan si ecil Hasan di pang uannya. Di bela ang ami mobil Paman A bar Ali membuntuti. Ia bersama isterinya dan si ecil Amena. Selama dalam perjalanan ami diam tanpa bicara apa-apa namun tangan ami erat berpegangan. Mobil ami terus melaju. Lampu-lampu telah menyala seperti bintang-bintang. Lang it merah bersemburat indah. Mobil melaju diatas jalan layang yang membelah Ramsi s. Terus e Barat. Apa ah Paman Eqbal a an membawa ami e hotel? A u tida tahu . Semua mahasiswa Indonesia yang meni ah di Cairo tida ada yang menghabis an ma lam pertama di hotel. Semuanya menghabis an malam pertama di rumah ontra an yan g sederhana. Di depan sudah tampa sungai Nile. Kami melewati Ramses Hilton. Mob il terus melaju. Aisha menyandar an epalanya di punda u. A u merasa an suasana yang sangat indah. Kami berada di atas Jembatan 6th O tober yang menyeberangi s ungai Nil. Restauran dan night club terapung telah menyala an lampunya. Di depan sana aga e selatan di tengah daratan seperti pulau di tengah sungai Nil tampa Cairo Tower menjulang tinggi. Daratan yang di elilingi sungai Nile itu disebut daerah El-Zamali . Kawasan yang sangat elite dan indah. Eqbal membelo an mobil dan turun dari jembatan e El-Gezira Street. Kami berada di daerah El-Zamali . Mobil terus berjalan e utara menyusuri pinggir sungai Nil. Melewati Cairo Marr iot Hotel. Melewati Kedutaan Swedia. A hirnya sampai di Muhamad Mazhar Street. D i sebuah gedung berting at dua belas yang berada tepat di pinggir sungai Nile a mi berhenti. Paman Eqbal membawa ami masu . Di dalam gedung de at tangga nai dan lift ada d ua penjaga berdasi dan membawa senapan otomatis. Paman Eqbal berbincang dengan m ere a sebentar lalu menari lengan u. Ini saudara saya, Fahri Abdullah dari Indonesia, dia nanti yang a an menempati f lat nomor 21 bersama isterinya. Mere a berdua a an mengganti an Mr. Edward Minni ch yang telah pindah bulan yang lalu. Kata Paman Eqbal memper enal an diri u. Dua penjaga itu tersenyum dan menjabat tangan u sambil ber ata, Selamat datang di apa rtemen ini pengantin baru! Penampilan u dan Aisha memang mudah se ali diteba . Kami lalu masu lift dan nai e lantai tujuh. Tiap lantai ada tiga flat. Flat n omor, 19, 20 dan 21 berada dalam satu lantai. Paman Eqbal membu a pintu flat nom or 21. Kami masu . Paman Eqbal menyala an lampu. Dan tampa lah sebuah ruangan ta mu yang mewah. Lebih mewah dari rumah Bapa Atase Pendidi an di Do i. Kami dudu di sofa yang empu . Ta lama emudian Paman A bar Ali dan isterinya masu . Mer e a langsung dudu . Gimana pengantin baru, alian sudah siap? tanya Paman Eqbal sambil tersenyum. A u diam tida menjawab ecuali dengan senyum. Bai lah Fahri, au berbahagialah malam ini bersama isterimu. Kami tida a an lama -lama di sini. Ini uncinya peganglah. Dua penjaga itu yang hitam namanya Hosam dan yang uning namanya Magdi. Kau sudah lama di Mesir jadi au tida a an asing berada di sini. Ji a ada apa-apa telpon a u. Kami pamit dulu. Semoga umur alia n penuh ber ah. Pamit Paman Eqbal sambil berdiri dari dudu nya. Aisha dan au Fahri, ami juga pamit. Malam ini juga ami a an terbang e Istanbu l. Sudah tiga hari ami di sini. Nanti alau ada wa tu ami a an mengunjungi al

ian, ata A bar Ali Faraughi, paman Aisha. Aisha memelu pamannya dengan mata ber aca- aca. Lalu gantian a u memelu nya, dan dia berbisi , Jaga dia bai -bai Fahr i, a u percaya padamu! Insya Allah, paman. Doanya. Salam buat seluruh eluarga di Tur i. jawab u. Kulihat Aisha lalu berpelu an dengan Elena Hashim, isteri A bar Ali. Setelah itu ia mem elu bibinya, Sarah Ali Faraughi dengan tangis pecah. Aisha au sudah hidup di dunia baru. Kuat anlah dirimu dengan ta wa. Minta tolon glah epada Allah dengan shalat dan esabaran. Dan layanilah suamimu dengan seba i -bai nya. Ridha suamimu adalah surgamu, suara Bibi Sarah terdengar parau. Mere a lalu beranja eluar. Satu persatu meninggal an pintu. Kami mengantar sam pai di pintu. Tera hir Paman Eqbal memelu diri u sambil ber ata, Fahri, au tent u ingat pelajaran hadits di uliah, Rasulullah bersabda, Orang pilihan di antara alian adalah yang paling berbuat bai epada perempuan (isteri)nya. Kumohon, mul ia anlah isterimu. Bawalah dia hidup di jalan yang diridhai Allah! Insya Allah, doa anlah ami, jawab u. Ta lama emudian mere a hilang di telan pintu lift. Kami masu embali e dalam flat dan menutup pintu. * * * Mere a telah pergi meninggal an ami berdua. Kami salah ting ah. Wajah Aisha me rona. Tubuh u panas dingin. Kami merasa sama-sama canggung mau berbuat apa. Tapi ami merasa itulah indahnya. Kita belum shalat maghrib, lirih Aisha. Ia masih berdiri ta jauh di depan u deng an wajah menundu . A u tersadar, wa tu sudah mepet, a u harus segera memberani a n diri mela u an sesuatu. Ada sunnah Rasulullah yang harus a u amal an eti a un tu pertama alinya berada dalam satu amar atau satu rumah dengan pengantin u. A u bergera mende ati Aisha dan menggamit tangannya. Kamar ita di mana, Sayang? tanya u pelan. Sini, jawab Aisha sambil melang ah e sebuah amar. Pintu ubu a. Gelap. Lampu unyala an, tampa lah amar pengantin yang berhias i ndah, wangi dan sangat romantis. Kuaja Aisha dudu di ranjang. A u membaca basm alah dengan segenap penghayatan a an e-MahaRahman-an dan e-Maharahim-an Allah. Lalu upegang ubun-ubun epala Aisha dengan penuh asih sayang sambil berdoa se perti yang diajar an baginda Nabi, Allaahumma, inni asalu a min hairiha wa hairi ma jabaltaha, wa a udzubi a min sy arriha wa syarri ma jabaltaha! Ya Allah, sesungguhnya a u mohon epada-Mu ebai annya dan ebai an wata nya. Dan a u mohon perlindungan-Mu dari ejahatannya dan ejahatan wata nya. Amin. 97 Kulihat Aisha memejam an edua matanya dan dari mulutnya terdengar amin..amin.. amin, ber ali- ali. Ia sudah mengerti bagaimana memasu i malam zafaf agar perni ahan penuh ber ah. Setelah itu ulanjut an dengan doa yang diriwayat an oleh Ima m Nawawi dalam itabnya Al Adz aar, Baara allaahu li ulli waahidin minna fi shaahibihi. Semoga Allah membara ahi mas ing-masing di antara ita terhadap teman hidupnya. 97 Sebagaimana terdapat dalam hadits yang diriwayat an Imam Bu hari, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Sinni. Lalu u ecup ubun-ubunnya sambil menangis dan mengulang doa itu ber ali- ali. A isha terus mengucap an amin..amin..amin, dengan air mata meleleh di pipinya. Barulah uaja Aisha untu mengambil air wudhu dan shalat maghrib berjamaah. Set elah shalat maghrib membaca dzi ir, shalat sunnah ba diyah, membaca wirid dan doa rabithah. Menjelang Isya uaja Aisha untu shalat sunnah bersama sebagaimana di la u an salafush shalih, agar perni ahan ami ini penuh bara ah. Selesai shalat a u membaca doa sebagaimana diajar an baginda nabi dalam sebuah hadits yang diri wayat an Abdullah bin Mas ud, Allaahumma baari li fi ahli, wa baari lahum fiyya. Allaahumma ijma bainana ma j ama ta bi hair, wa farriq bainana idza farraqta ila hair. Ya Allah, bara ahilah b agi u dalam eluarga u, dan berilah bara ah mere a epada u. Ya Allah, umpul an antara ami apa yang eng au umpul an dengan ebai an, dan pisah an antara ami ji a eng au memisah an menuju ebai an. Amin. Di bela ang u Aisha husyu mengucap an amin..amin..amin, abul an ya Allah, abu l an ya Allah, abul an ya Allah, dengan rahmat dan asih-Mu.

Usai shalat dan berdoa a u berbali menghadap Aisha, a u henda mengelus epalan ya. Aisha malah mencium tangan u sambil terisa -isa . Adzan Isya ber umandang. K upegang epala Aisha dengan edua tangan u. Kupandangi le at-le at wajahnya yang jelita. Kuse a air mata yang melelah di pipinya. Fahri, a u mencintaimu. Ia mengucap annya dengan penuh esungguhan. A u juga mencintaimu, Aisha, jawab u sambil mengecup eningnya penuh cinta. Kecupan pertama yang ta a an pernah ulupa, lirih Aisha. Aisha, cinta Tuhan memanggil-manggil ita. Saatnya shalat Isya. A u e masjid dul u untu shalat berjamaah. Kau shalat di rumah saja ya. Dalam suasana seperti apa pun shalat fardhu adalah utama. Dia menganggu . Tapi selesai shalat langsung pulang. Jangan lama-lama di masjid. Shalat sunnahnya di rumah saja. 18. Saat-saat Indah di Tepi Sungai Nil Di masjid a u bertemu Magdi penjaga apartemen. A u sangat senang ada polisi yang rajin berjamaah seperti dia. A u berbincang dengannya sebentar. Dia ternyata se olah menengahnya dulu di Ma had Al Azhar, Damanhur. Dan dia bu an satpam biasa, t api polisi husus yang ditugas an untu menjaga eamanan beberapa diplomat yang tinggal di apartemen itu. Keti a u enal an diri u dia sangat senang se ali. Lal u a u di enal an pada imam masjid yang bernama Syai h Abdurrahim Hasuna. Beliau senang se ali ber enalan dengan u. Beliau bah an mempersila an diri u untu meli hat perpusta aan pribadinya ji a a u memerlu annya. A u senang dengan tawarannya . Selesai shalat berjamaah dan berdzi ir secu upnya a u langsung pulang. Shalat su nnah di rumah saja. A u ta ingin Aisha menunggu lama. Usai shalat sunnah Aisha telah siap dengan penampilan yang membuat seorang suami senang. Penuh pesona. Pa rfumnya segar. Ia benar-benar mengerti hu um mema ai parfum. Selama mema ai gaun pengantin di acara walimah, ia sama se ali tida mema ai parfum. Justru eti a di rumah berduaan dengan u ia mema ainya. Aisha mengaja u e bal on. Ia telah mempersiap an segalanya. Isteri yang bai . Lampu bal on ia mati an. Kaca riben menutup bal on rapat. Ini aca husus, aman dari pandangan luar tapi tida mengurangi jernihnya ita me mandang eluar, bah an menambah ejernihan pandangan di malam hari. Kalau mau i ta juga bisa membu a aca ini. Kata Aisha sambil seluruh menyiba sebagian gorden yang masih menutupi bal on. Dan tampa lah panorama sungai Nil malam hari. Posisi bal on rumah ami sangat strategis. Tepat menghadap e sungai Nil Dari e tinggian lantai tujuh ami bisa melihat erlap- erlip lampu gedung-gedung nun ja uh di sana. Kami bisa melihat indahnya ria sungai Nil tertimpa cahaya lampu ot a. Gemerlap lampu-lampu hias dari perahu-perahu ecil yang bergera pelan. Mobil -mobil yang seperti semut di sepanjang ornes Nil sana. Pesona Cairo Plaza Tower yang menjulang megah. Juga Imbaba Brige, salah satu jembatan terpenting yang me lintas di atas sungai Nil. Apartemen di mana ami berada memang terleta di ujung utara pulau di tengah sun gai Nil. Inilah salah satu eindahan ota Cairo. Kota Cairo dibelah oleh sungai Nil yang mengalir dari selatan e utara. Dan di tengah ota Cairo sungai Nil ini terbelah menjadi dua, di mulai dari selatan di de at Tahrir dan embali menyatu di de at Imbaba. Daratan mirip pulau Samosir berbentu pisang yang berada diten gah belahan sungai Nil ini terbagi dua awasan, yang selatan disebut El-Gezira d an yang utara di sebut El-Zamali . Di daratan yang a u lebih su a menyebut pulau d i tengah sungai Nil ini berdiri bangunan-bangunan penting. Di ujung selatan berdir i hotel mewah Gezira Sheraton dan El-Burg. Juga Cairo Opera House, Cairo Tower, Egyptian Civilization Musium, National Sporting Club dan Nile Aquarium and Grott o ada di pulau ini. Se ali lagi a u lebih senang menyebutnya pulau. Di de at 26 July Bridge yang melintas di atas pulau ini berdiri Cairo Marriott Hotel yang me wah. Beberapa edutaan negara asing seperti Jerman, Belanda, Swedia, Albania, Ar gentina, Pa istan dan lain sebagainya ada di pulau ini. Di ujung utara, ta terl alu jauh dari aparteman ami berdiri President Hotel. Memang sangat nyaman mengh abis an malam di tempat yang nyaman dan romantis seperti ini.

Di bal on, ada ursi malas has Mesir yang sangat nyaman untu bermesraan berdu a. Orang-orang menyebutnya ursi Cleopatra. Ada dua bantal di atasnya. Di sampin gnya ada meja ayu ecil di mana Aisha meleta an dua gelas susu. Mula-mula ami berdua dudu biasa. Kami masih canggung. Kami salah ting ah. Kami ta tahu dari mana ami mulai. Ta sepatah ata pun eluar menjadi perantara. Ta terasa eri ngat dingin malah mulai eluar. Ada rasa gelisah yang entah menyusup dari mana. Mung in Aisha mengalami hal yang sama. Ta mung in dia yang memulai. A u mencoba menghilang an egelisahan dan ecanggungan u dengan mengambil minum an yang dibuat Aisha. Kucicipi sedi it. Kenapa susunya rasanya asin seperti diberi garam ya? Pelan u pada Aisha. Be..benar ah? Aisha sedi it aget. Iya. Coba au rasa an! Aisha mengambil gelas dari tangan u dan merasa annya. Ah, manis. Tida asin, atanya. Gelas itu embali uminta dan urasa an. Sayang, asin begini o dibilang manis. Mung in bu an gula yang au masu an tap i garam. Coba au rasa an lagi! Aisha embali mencicipi. Dia memandang u dengan s edi it heran. Ini manis Fahri, tida asin! Aisha u sayang ini asin! Cobalah julur an lidahmu dan masu an e dalam minuman itu. Lalu rasa anlah dengan se sama. Pasti au a an merasa an asinnya. Kau terla lu sedi it mencicipinya. Lidahmu mung in urang pe a. Aisha menuruti ata- ata u. Ia menjulur an lidahnya e dalam gelas. Sesaat lida hnya seperti mengadu -adu air susu di dalam gelas itu. Tida Fahri, tida asin! Lidahmu yang mati rasa, bu an lidah u! Suaranya terdenga r lebih tegas. Benar ah? Coba! Nih. A u lalu meminumnya sampai tiga tegu . Hmm..setelah lidahmu menyentuhnya dan mengadu -adu nya, minuman ini jadi manis s e ali. Belum pernah a u meminum minuman semanis ini. Memang benar sabda nabi ji a seorang bidadari di surga meludah e samudera ma a airnya a an jadi tawar rasa nya. Dan lidahmu mampu merubah susu yang asin ini jadi manis, Bidadari u. Sialan au Fahri, au mengerjai u ya! seru Aisha sambil mencubit paha u manja. Suasana jadi cair dan romantis. Rasa canggung pun hilang. Aisha menyandar an epalanya e dada u. A u beringsut merubah posisi dudu . Kupa sang bantal di epala dan urebah an tubuh u e sandaran ursi yang dilapisi bus a empu . Kutari tubuh Aisya rebahan di dada u. A u bebas membelai-belai rambut nya atau memelu nya. Di langit sana bintang-bintang edap- edip seperti mata par a bidadari yang mengerling cemburu epada ami. Hati terasa seju dan bahagia. I nilah yang membeda an yang halal dan yang haram. Bermesraan dengan perempuan yan g halal, istri yang sah, adalah ibadah yang dipuji Tuhan. Sedang an bermesraan dengan perempuan yang tida halal adalah dosa yang dila nat Tuhan. Tuhan telah membu a an pintu-pintu eni matan yang mendatang an pahala, ma a ala ng ah bodohnya manusia yang menyia-nyia annya. Lebih bodoh lagi yang memilih pin tu dosa dan nera a. Sambil memandang eindahan panorama sungai Nil malam hari, tanpa uminta Aisha m ulai bercerita tentang dirinya, ibunya dan ayahnya, Kurasa ibu u adalah wanita paling mulia di dunia. Ia muslimah sejati yang menempa t an ibadah dan da wah di atas segalanya. Dan a u sangat beruntung terlahir dari rahimnya. Keti a berumur 22 tahun ibu u menjadi lulusan terbai fa ultas edo t eran Universitas Istanbul. Saat itu beliau dilamar ana pejabat yang menjanji an nya a an membuat an rumah sa it terbesar di Tur i. Tapi beliau tola , sebab ana pejabat itu sangat se uler dan sama se ali tida menghargai ajaran agama. Dalam padangan beliau, seandainya meni ah dengannya sangat sedi it se ali peluang unt u menari nya e jalan yang lurus hanya a an membuang tenaga. Beliau memilih men gambil beasiswa e Jerman. Dalam eya inan ibu, mene uni bidang ilmu dengan seri us adalah da wah. Dalam wa tu dua tahun beliau mampu meraih gelar master untu s pesialis jantung. Padahal master di Jerman rata-rata empat tahun. Saat itu juga beliau diterima be erja di sebuah rumah sa it di Munchen sambil menerus an progr

am do tor. Di Tur i, pinangan untu ibu silih berganti berdatangan dari olega d an enalan bisnis a e . Tapi ibu ingin perni ahannya ada nilai da wahnya. Ibu i ngin mendapat an ehormatan yang lebih bai dari terbitnya matahari, yaitu menja di sebab datangnya hidayah bagi seseorang. Ibu pernah ber unjung e Swiss dan ber enalan dengan Wafa Al Banna, puteri Hasan Al Banna yang saat itu tinggal di sana bersama suaminya Dr. Said Ramadhan. Sebu ah per enalan yang berarti bagi ibu untu sema in mantap menapa di jalan da wah . Berislam, menurut ibu tida berarti harus memusuhi Barat. Tetapi justru memper juang an Islam lewat Barat. Ibu sering ali bertanya pada orang-orang muslim di E ropa, di Jerman hususnya, Apa ontribusi yang telah diberi an seorang muslim di Barat untu dunia? A hirnya pada tahun 1979 ada seorang onglomerat pemili swalayan di beberapa o ta besar di Jerman mendatangi Islamic Centre dan menyata an etertari annya epa da Islam. Ia tertari epada Islam arena hu um eluarga dalam syariat Islam yan g indah. Yang mengatur sedemi ian detil ha dan ewajiban suami isteri. Dalam sy ariat Islam peseling uhan adalah dosa besar. Dan syariat telah memberi an pagar yang uat yang ji a pagar itu tida dilanggar ma a tida a an ada perseling uhan yang merusa tatanan eluarga dan masyara at. Konglomerat itu sangat tertari d engan itu semua. Dia secara materi memang cu up tapi batinnya ering. Dia telah meni ah dengan tiga orang wanita Eropa tapi semuanya berseling uh dan per awinan nya dengan mere a selalu gagal. Dia ingin seorang isteri yang setia. Dia ingin m embu ti an apa ah benar wanita muslimah adalah wanita yang setia. Dia siap masu Islam ji a ada seorang muslimah yang bersedia jadi isterinya yang setia. Menden gar hal itu ibu langsung menyata an esediaannya meni ah dengan lela i setengah baya itu. Umur ibu saat itu 25 tahun dan umur lela i itu 45 tahun. Terpaut 20 ta hun. Jadi onglomerat itu lebih pantas menjadi ayah ibu. Banya orang menyayang an eputusan ibu. A u sendiri, seandainya jadi ibu tida a an se uat itu. Keluar ga di Tur i hampir semua tida setuju ecuali nene . Wanita asli Palestina itu s atu-satunya yang justru setuju. Demi da wah, nyawa pun dipertaruh an, ata nene saat itu. A hirnya a e merestui juga. Jadilah ibu meni ah dengan onglomerat itu. Fahri, apa ah au tahu siapa onglomerat itu? A u membelai rambut Aisha. Sese ali mengecup epalanya. Bau rambutnya yang hitam sangat has dan wangi. A u belum pernah mencium bau seperti rambut Aisha. Fahri, enapa au diam saja? Kau mendengar an cerita u apa tida ? Aisha meraju ma nja. Mendengar an dengan se sama.Konglomerat itu, u ira adalah ayahmu, Tuan Rudolf Gr eimas? Benar. Nama ayahmu mengingat an a u pada seorang to oh? Siapa dia? AJ. Greimas, filsuf stru turalis Perancis. Ada hubungan darah dengannya? Tida . Ayah bah an aslinya berdarah Tunis. Ka e ayah lahir di Tunisia. Namanya O mar. Jadi nama ayah leng apnya Rudolf Greimas Omar. Jadi semestinya sebutan untu ayahmu adalah Rudolf Omar. Omar dijadi an nama elu arga. Bu an Greimas. Semestinya begitu, tapi entahlah ayah tida mau. Ibu pernah menggugat masalah itu . Tapi ayah ta menanggapinya. Terus bagaimana isah ibumu dengan ayahmu setelah meni ah. Apa ah tujuan ibumu un tu berda wah berhasil? Dalam penilaian u ibu berhasil. Setelah meni ah dengan ayah, beliau memberi an se mua yang dimili inya pada ayah. Dalam diri ibu, ayah mendapat an segala yang dii ngin an seorang suami pada isterinya, seorang e asih pada pacarnya, seorang lel a i pada wanita, dan seorang yang haus pada penawar dahaganya. Ayah menga ui ibu adalah wanita terbai , isteri terbai dan teman terbai yang beliau mili i. A h irnya ayah te un beribadah dan tida malu menampa an identitas emuslimanannya. Banya pe erja swalayannya yang tertari epada Islam dan masu Islam. Dengan i tu semua ibu mampu menyalur an dana untu lembaga da wah di Jerman. Tahun 1981, dua tahun setelah meni ah, ibu melahir an a u. Ayah sangat gembira se ali. Tiga isterinya terdahulu tida memberinya apa-apa selain peng hianatan. Sebagai hadia h ayah membuat an lini esehatan di sebuah awasan elite ota Munchen untu ib

u. Ibu tentu saja senang. Dan beliau meminta agar epemili an lini bersalin it u atas nama u. Ayah setuju. Tahun beri utnya ibu meraih gelar do tor untu spesi alis jantung dengan predi at tertinggi. Beliau langsung diminta mengajar di Univ ersitas Munchen. Seja itu, menurut cerita ayah, seja itu ibu sangat sibu . Tapi ibu mampu menga tur wa tu dengan bai . Mengasuh a u, mengurus suami, mengurus lini , menjadi wa il dire tur rumah sa it, dan mengajar di universitas. Tida hanya itu ibu masih bisa menyempat an wa tu untu mengada an penelitian di laboratorium. Hasilnya a dalah, beliau menemu an tiga jenis obat yang sangat berguna bagi dunia edo tera n. Tiga jenis obat itu telah dipaten an atas nama ibu dan ini diguna an di selu ruh dunia. Dalam eadaan sesibu itu, ibu masih sangat perhatian pada ayah. Bagi ibu ayah a dalah segalanya. Ayah adalah cintanya yang pertama dan tera hir. Ini tentu membu at ayah merasa tersanjung bu an main. Ji a suatu eti a ayah mengada an pertemua n dengan oleganya, banya oleganya yang iri pada ayah yang memili i seorang is teri yang canti , masih muda, berpendidi an tinggi, dan sangat setia. Ayah sendi ri yang menutur an hal ini pada u. Ibu tida pernah menuntut atau meminta sesuat u pada ayah. Dan semua einginan ayah ji a ibu mampu, dan selama tida melanggar syariat ibu pasti a an memenuhinya. Bagi ibu memulia an suami adalah da wah pal ing utama bagi seorang isteri. Hasilnya, ayah sering ali menjadi pembela epentingan aum muslim di Jerman. Aya h juga memberi an beasiswa untu mahasiswa muslim yang belajar di Jerman. Banya mahasiswa muslim yang meraih do tornya di Jerman dengan tunjangan beasiswa dari ayah. Dan mere a saat ini memili i peran-peran signifi an di negaranya. Kalau b oleh a u mengata an, secara tida langsung itu semua adalah atas ei hlasan hati ibu mewa af an dirinya di jalan da wah. Kalau seandainya ibu mau meni ah dengan ayah arena materi, ma a ibu sendiri tida e urangan materi. Keti a ibu meni a h dengan ayah, perusahaan a e di Tur i telah maju pesat. Perusahaan garmennya telah mengisi pasar di seluruh penjuru Timur Tengah dan Asia Selatan. Dan ibu ma mpu untu mencari suami yang lebih muda dan lebih aya dari ayah di Tur i. Tapi pertimbangan ibu pada wa tu itu adalah onstribusinya di jalan da wah. Itu yang a u agumi dari ibu dan a u tida a an mampu menirunya. A u tida mung in mau me ni ah dengan seorang lela i yang telah tiga ali awin cerai dan umurnya 20 tahu n lebih tua dari u. Ayah sangat beruntung se ali memperistri ibu. Bagaimana au tahu begitu banya tentang ibumu, tentang pi irannya dan lain sebag ainya padahal au masih belia saat ibumu meninggal? Sebagian a u tahu dari apa yang ulihat dan udengar dari ibu. Sebagian dari pama n A bar, dari nene , dari bibi Sarah, dari ayah, dan dari beberapa muslimah di J erman yang menjadi teman bai ibu serta dari belasan diary ibu. Ibu orang yang p aling su a mencurah an isi hatinya, dan hari-hari yang dialaminya e dalam diary nya. A u jadi sangat agum pada ibumu. Seandainya dia masih hidup au a an sangat bahagia bertemu dengannya. Dia tumbuh di Tur i, memperoleh pendidi an tinggi dan ber iprah di Jerman, tapi dia tetap t itisan perempuan Palestina. Jiwanya jiwa pejuang sejati. Kalau ayahmu, masih ada? Masih. Kenapa dia tida datang? Inilah yang ingin a u cerita an. Ayah u se arang tida seperti ayah wa tu ibu mas ih hidup. Ma sudmu? A u sedih setiap ali mengingatnya. Ayah telah rusa embali seperti sebelum meni ah dengan ibu. Ia telah meninggal an Islam dan su a bergonta-ganti pasangan hid up. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Mulanya adalah ecela aan yang menewas an ibu pada tahun 1995. Saat itu hujan leb at, ibu pulang dari mengisi seminar eislaman di pinggir ota Munchen. Dia menge ndarai mobil sendiri. Ada mobil melaju encang di bela ang ibu. Mobil itu selip dan menambra mobil ibu. Mobil ibu terbali dan terlempar lima meter dari ruas j alan. Ibu meninggal se eti a. Saat itu umur u baru empat belas tahun. Mendengar

abar itu ayah sangat terpu ul. Ayah merasa ehilangan cahaya hidupnya dan ehil angan segalanya. Berbulan-bulan lamanya ayah linglung. Untung paman A bar Ali me ngetahui ondisi yang tida bai bagi u ini. Beliau a hirnya mengambil u dan men itip an pada sahabat arib ibu wa tu di Istanbul yang tinggal di Zurich, Swiss. Juga seorang do ter. Namanya Khaleda. A u memanggilnya Madame Khaleda. Kebetulan beliau tida memili i ana . Beliau mencurah an segala asih sayangnya pada u. M unchen-Zurich tida jauh. Ayah sering menengo a u. Dan Madame Khaleda juga seri ng mengaja u menengo ayah. A u melanjut an pendidi an di Zurich. Sementara aya h masih belum bisa menerima enyataan yang dialaminya sampai dua tahun setelah i tu. Lalu ada sebuah peristiwa ecil yang menggoncang iman ayah. Pada tahun 1997 ayah mengunjungi eluarga di Tur i. Saat itu bibi Sarah ebetulan sedang pulang berl ibur dari Mesir. Bibi Sarah memang sangat mirip dengan ibu. Ayah melihat bibi Sa rah seperti melihat ibu. Saat itu umur bibi Sarah tepat 24 tahun. Dan saat ibu m eni ah dengan ayah tahun 1979 umurnya 25 tahun. Jadi ayah seolah melihat ibu et i a baru menjadi isterinya dulu. Se eti a itu juga ayah melamar bibi Sarah untu dijadi an isteri mengganti an ibu. Sebelumnya ayah memang tida pernah melihat bibi Sarah. Wa tu ayah sering ber unjung ber unjung e Tur i awal-awal delapan p uluhan bibi Sarah masih ingusan. Dan eti a berjumpa dengan bibi tahun 1997, bib i telah menjelma menjadi gadis dewasa yang matang dan telah menyelesai an Licenc enya di Al Azhar. Wajahnya, suaranya dan lemah lembutnya sangat mirip dengan ibu . Ayah benar-benar tergila-gila pada bibi Sarah. Ayah menganggap bibi Sarah adal ah rein arnasi ibu. Saat itu ayah sudah 63 tahun, sama dengan umur baginda Nabi saat meninggal dunia. Dengan tegas bibi menjawab tida bisa menerima lamaran ayah. Dan itu sangat masu a al. Bagaimana mung in bibi mau meni ah dengan seorang a e - a e . Jawaban b ibi ternyata tida bisa dima lumi ayah. Ayah merasa direndah an dan tida diharg ai. Ayah merasa orang yang terhormat di Jerman. Belum pernah ditola wanita. Men urut ayah seharusnya bibi Sarah yang telah belajar di Al Azhar seperti ibu. Bers edia menjadi isteri ayah dan mencari suami tida memandang umur. Tapi memandang prospe da wah dan pengabdian seperti ibu. Bibi membantah anggapan ayah itu, pin tu da wah terbu a lebar-lebar di mana saja. Prospe da wah tida hanya dengan me ni ah dengan ayah yang telah renta. Ayah sangat terpu ul dengan jawaban bibi. Sebagai pelariannya, tanpa pi ir panjang, ayah meni ah dengan siapa saja yang ma u meni ah dengannya. Keislaman ayah ternyata belum uat mes ipun telah hidup 16 tahun bersama ibu. Lama-lama arena hidup sering berganti pasangan hidup eislam anannya luntur. Dan tahun 1999 beliau meni ah dengan seorang gadis di sebuah ger eja di Yunani. Itu terjadi tepatnya dua bulan setelah a u embali e Jerman. Mad ame Khalida embali e Tur i saat a u selesai se olah menengah u. Beliau menyara n an agar a u melanjut an uliah di Jerman sambil menjaga ayah yang sudah tua. A u sangat sedih mendapati ayah yang sangat lain dengan yang u enal dulu. Beliau tida lagi menyayangi u seperti dulu. Beliau lebih bersi ap acuh ta acuh. A u berusaha mengembali an ayah u yang hilang. Tapi usaha eras u elihatannya tida a an membuah an hasil. Perni ahan itu tida berumur panjang. A hirnya ayah meni ahi seorang janda setengah baya berambut pirang bernama Jeany . Janda ini pandai se ali mengambil hati ayah. Se uat tenaga dia mempertahan an per awinannya dengan ayah. Ia mengingin an harta ayah. Di luar sepengetahuan aya h Jeany memili i teman umpul ebo di Stuttgart. Setiap ali a u mengingat an ba i -bai hal ini ayah marah besar. Ia menuduh u henda merusa hubungannya dengan Jeany. Ayah sudah melupa an ibu sama se ali seja ditola oleh bibi Sarah. Semu a permintaan Jeany dituruti oleh ayah. Ayah bah an sudah membuat wasiat di notar is ji a ia mati semua aset e ayaan yang tertulis atas namanya a an menjadi ha Jeany. Ayah memang tergila-gila pada Jeany. Untungnya lini , empat swalayan di Munchen dan Hamburg, pabri farmasi, dan rumah mewah yang saat ini ditempati aya h telah diatasnama an diri u oleh mendiang ibu. Jeany terus berusaha agar semua harta yang telah teratasnama an diri u bisa jadi mili nya. Dia mengguna an cara yang tida sehat dan sangat memusuhi u. Dalam ondisi yang sedemi ian tida nya mannya a u tetap berusaha bertahan, demi ba ti seorang ana pada ayahnya. Mes ip un ayah tida lagi satu iman dengan u. A u ingin menjadi ana ibu yang shalihah yang berba ti pada ayahnya.

Dari per awinannya dengan suami pertama, Jeany memili i seorang ana lela i bern ama Robin. Dia mengaja Robin tinggal di rumah mewah itu. Dan ayah menyetujuinya mes ipun a u tida setuju. Seja Robin tinggal satu rumah dengan u a u merasa s eperti di nera a. Diam-diam Jeany merancang agar a u meni ah dengan Robin, yang dituju adalah segala aset e ayaan yang ini atas nama diri u. A u jelas tida m au. Tapi Robin terus mengejar u. Ter adang dia aga eterlaluan. Misalnya tiba-t iba masu amar u saat a u sedang belajar. Tentu saja a u tida sedang mema ai j ilbab. A u sangat marah padanya. Kela uannya uadu an pada ayah. Tapi ayah sama se ali tida membela u. Ayah bu an ayah yang u enal dulu. A u tetap bertahan. D i hari tua ayah, a u ingin tetap berada di samping ayah.. Seja itu a u selalu m engunci amar u untu berhati-hati. Tapi Robin sungguh eterlaluan. Entah bagaimana caranya dia bisa memasang amera di amar mandi u. Suatu malam dia menghadiah an aset itu pada u. Langsung a u putar aset itu. Betapa terperanjatnya a u melihat apa yang dilayar aca. Yang ulihat adalah diri u sedang goso gigi dan mandi. A u sangat marah pada Robin, a u merasa harga diri u diinja -inja . Untungnya, Allah Swt masih menyelamat an ehormatan u. Dalam re aman itu, aurat paling aurat yang umili i sama se ali tida terbu a. Tertutup rapat. Untu itu a u sangat berterima asih epada ibu dan nene . Seja ecil ibu mengajari u aga r memili i rasa malu epada Allah melebihi rasa malu pada manusia. Ibu menanam a n seja ecil untu tida telanjang bulat di manapun juga. Mes ipun sedang sendi rian di amar tidur atau amar mandi. Ji a mandi ibu mengajar an untu tetap mem a ai basahan. Orang-orang pilihan, ata ibu, ji a mandi tetap mema ai basahan, t ida telanjang bulat. Ibu ber ata, Ji a ita malu aurat ita dilihat orang, ma a pada Allah ita harus lebih merasa malu. Menurut cerita ibu, dan ibu dari dari nene , di zaman nabi dulu, eti a nabi tah u ada orang mandi tida mema ai sarung, beliau langsung nai mimbar dan menyuruh umatnya untu menutup aurat eti a mandi. Alhamdulillah seja sebelum a il baligh a u telah terbiasa untu mandi dengan te tap mema ai basahan yang menutup aurat atas dan aurat bawah. Dan memang inilah t radisi perempuan di eluarga ami, eluarga Palestina. Nene mendapat an ajaran seperti itu dari ibunya. Lalu nene mengajar an pada ana nya. Dan ana nya mengaj ar an pada ana nya. Nene , ibu, bibi Sarah dan a u, tida a an bisa mandi tanpa basahan. Malu rasanya. Yang tere am oleh amera Robin adalah a u menggoso gigi dan mulai mandi. Durasi nya hanya sepuluh menit setelah itu putus. Mung in aset pere amnya habis. A u b ersyu ur epada Allah atas perlindungannya. Sebab satu jam setelah mandi itu a u buang air ecil. Ji a egiatan sangat pribadi seperti itu tere am, a u a an mer asa menjadi wanita paling malang di dunia. Kejahatan Robin a u lapor an e polis i. Polisi langsung mengusut dan menahannya. Tinda annya termasu riminal serius . Dia dijeblos an e dalam penjara. Namun satu minggu emudian dia eluar. Terny ata justru ayah yang membebas annya dengan tebusan dan jaminan atas permintaan J eany. Seja itu a u sangat marah pada ayah. Ji a ayah mencintai mendiang ibu, semestin ya dia melindungi ana gadisnya. Bu an malah membebas an seorang bajingan yang m encoba membu a aurat ana gadisnya. A u merasa sudah tida perlu lagi tinggal be rsama mere a. Diri u bisa binasa. A u heng ang dari rumah dan menyewa flat di de at ampus dan seja itu tida pernah lagi menginja rumah itu. Tapi rumah itu t ida mung in ubiar an jatuh e tangan Jeany. Sebetulnya a u bisa saja mengusir mere a semua. Tapi itu sama saja a u mengusir ayah. A u tida mau itu. Nanti, ji a tiba saatnya rumah itu a an embali jadi rumah yang ena disinggahi. A u meng habis an masa ecil bersama ibu di sana. Se arang a u hanya bisa berdoa semoga A llah embali memberi an hidayah-Nya epada ayah. A u mengelus pipi Aisha yang basah. Maaf an a u Fahri, suasananya jadi sedih. Se arang a u ini adalah dirimu Aisha, bu an orang lain. Tapi a u merasa sangat ce mburu se ali. Kenapa? Robin itu. Ingin se ali a u menghajarnya. Terima asih Fahri, love is never without jealousy. Cinta selalu disertai rasa ce

Malam merambat begitu cepat. Jam berapa se arang, Sayang? tanya u pada Aisha. Mung in jam setengah sebelas, jawabnya sambil menggeliat dan bang it. Sudah malam sudah wa tunya ita masu e dalam, yu ! sambungnya sambil menari ta ngan u. A u bang it menuruti aja an Aisha. Se ilas ulayang an pandangan eluar. Kornes Nil masih ramai. Mobil-mobil masih banya yang lalu lalang dengan sorot lampu seperti cahaya meteor. Aisha mengaja u masu amar pengantin yang semerba wangi. Kami di tepi ranjan g. A u puas-puas an meni mati eelo an wajahnya. Kedua matanya sangat indah. Kam i berpandangan saling menyelami. Terngiang dalam diri sabda Nabi, Sebai -bai isteri adalah ji a amu memandangnya membuat hatimu senang, ji a amu perintah dia mentaatimu, dan ji a amu tinggal ma a dia a an menjaga untu mu harta dan dirinya.98I Aisha, au canti se ali, memandang wajahmu sangat menyenang an! lirih u. Aisha tersenyum sambil meling ar an edua tangannya di leher u. Fahri, au pria terbai yang pernah utemui, aulah cinta pertama dan tera hir u . A u punya sebuah puisi untu mu. Mau ah au mendengarnya? A u menganggu an epala. Kuperhati an dengan se sama gera bibirnya. Apa yang a an diucap annya. Dia malah diam lama se ali lalu tersenyum. A u gemes dibuatny a. Dengarlah bai -bai Ke asih u, jangan sampai ada satu huruf yang terlewat an. Pu isi ini lebih berharga dari dunia ini seisinya. Kehilangan satu huruf saja au a an sangat menyesalinya: agar dapat melu is an hasrat u, e asih, taruh bibirmu seperti bintang di langit ata- atamu, ciuman dalam malam yang hidup, dan deras lenganmu memelu da u seperti suatu nyala bertanda emenangan mimpi upun berada dalam benderang dan abadi99 Aisha luar biasa romantisnya. Kupandangi le at-le at wajahnya sambil terus memuj i eagungan Tuhan. Hasrat yang terlu is diwajahnya dapat ubaca dengan jelas. De ngan suara pelan ubalas puisinya: alang ah manis bidadari u ini bu an main elo pesonanya 98 Hadits riwayat Ibnu Jarir. 99 Dipeti dari puisi berjudul Ke asih arya Paul Eluard, Penyair Perancis abad e -19 paling ter emu a dari golongan surealis. matanya berbinar-binar alang ah indahnya bibirnya, mawar mere ah di taman surga Kami lalu memain an melodi cinta paling indah dalam sejarah percintaan umat manu sia, dengan mengharap pahala jihad fi sabilillah, dan mengharap lahirnya generas i pilihan yang bertasbih dan mengagung an asma Allah Azza wa Jalla di mana saja ela mere a berada. Ma a ni mat Tuhanmu yang mana ah yang amu dusta an? Sea an-a an bidadari itu seperti permata Yajut dan marjan. Ma a ni mat Tuhanmu yang mana ah yang amu dusta an? Tida ada balasan ebai an ecuali ebai an pula.100 100 Ar-Rahmaan: 57-60. 19. Rencana-rencana Aisha, berapa hari ita a an tinggal di flat mewah ini, dan setelah itu ita a a n tinggal di mana? tanya u pada Aisha setelah shalat Dhuha. Dia belum memberi tah u rumah yang disewa untu hidup berdua.

mburu. Tanpa rasa cemburu cinta itu tiada. Kau memang suami yang * * *

uidam an!

Menurutmu, flat di pinggir Nil seperti ini nyaman apa tida ? Aisha malah bali be rtanya. Nyaman. Aman tida ? Aman. Kondusif tida untu belajar, menulis atau menerjemah? Sangat ondusif. Kalau begitu a u ingin tinggal di flat ini selama ada di Cairo, Sayang. Mendengar jawaban Aisha itu a u bagai an disambar gelede . Kaget bu an main. Da ri mana a u a an mendapat an biaya untu menyewa flat yang sangat mewah ini. Mes ipun a u baru melihat ruang tamu, amar utama, bal on dapur dan amar mandi dan belum melihat amar- amar yang lain tapi flat ini sangat mewah. Kamar utamanya saja yang ini jadi amar pengantin ta alah mewahnya dengan amar Sheraton Hot el yang pernah ulihat saat menemui seorang anggota DPR yang sedang mela u an la watan di Cairo. Ruang tamunya lebih mewah dari ruang tamu rumah Bapa Atdi bud. Berapa sewanya perbulan? Rumah Pa Atdi bud saja yang leta nya di Do i harga se wanya atanya ta urang dari enam ribu pound perbulan. Dan flat mewah ini yang terleta di pinggir sungai Nil bisa tiga ali lipat mahalnya. Delapan belas ribu pound atau se itar lima ribu dollar perbulan. Bah an bisa lebih. Itu adalah hon or menerjemah mati-matian selama dua tahun full. Tiba-tiba a u merasa sangat mal ang. A u tida mung in bisa memenuhi permintaan Aisha. A u sangat sedih. Air mat a u meleleh. Kenapa au menangis Sayang? A u menjelas an semuanya pada Aisha yang bergola dalam hati u. A u sangat menc intainya. Tapi a u tida a an mampu menuruti einginannya. Kujelas an embali si apa diri u dan sebatas mana emampuan u. Aisha malah menangis. Suami u, alang ah cela anya a u alau sampai a u membuatmu sedih. Kalau sampai a u meminta sesuatu yang di luar emampuanmu. Alang ah cela anya diri u. Suami u, ita a an tinggal di sini tanpa mengeluar an biaya sepeser pun ecuali biaya li stri , gas, air, eamanan, dan ebersihan. Hanya itu yang a an ita eluar an pe rbulan. Tida lebih? Ma sudmu ita tinggal di sini gratis? Aisha mengangggu . A u ta bisa ita tinggal atas belas asih orang lain Aisha. Apa ah bagimu a u orang lain suami u? Jadi au yang membayar sewanya Aisha. Tida bisa Aisha, itu a an sangat menyi sa diri u? Bu an a u yang membayarnya suami u. Lantas siapa? Ta ada yang membayarnya. Itu namanya gratis, dan a u tida mau ita tinggal di rumah orang lain gratis. Mes ipun rumah itu rumah mili isterimu, dan isterimu adalah mili mu? Apa ma sudmu Aisha, a u jadi bingung. Aisha bang it dari sajadah dan menari lengan u. Dia membawa u memasu i amar d i samping amar utama. Lihatlah isi amar ini. Ini adalah perpusta aan dan ruang erjamu. A u melihat amar dengan itab- itab dan bu u-bu u yang tersusun rapi. Kitab- itab itu a u mengenalnya. Itu itab- itab u. Juga ada omputer di de at jendela. Itu omputer butut u. A u mende ati jendela, menyiba gordennya dan mel ongo . Panorama sungai Nil di wa tu dhuha sangat indahnya. Di sinilah insya Allah au a an menulis tesismu, menerjemah dan menghasil an ar ya- arya besar yang bermanfaat bagi umat. Dan a u a an menjadi pendampingmu sian g malam. Suami u, flat ini dibeli oleh ibu u dua tahun sebelum beliau meninggal. Keti a beliau diminta mengajar di Fa ultas Kedo teran Cairo University selama t iga semester. Wa tu itu a u baru berumur sebelas tahun. Selama enam bulan ami t inggal di rumah ini. Dan amar yang ita jadi an perpusta aan ini adalah amar t idur u wa tu itu. Setelah ami embali e Jerman, rumah ini disewa an epada hom e staff Kedutaan Jerman. Yang tera hir menyewa adalah Mr. Edward Minnich, Atase Perdagangan. Apartemen ini memang dihuni oleh orang-orang penting. Tepat di bawa h ita adalah pejabat edutaan Argentina. Di atas ita sutradara ter emu a Mesir . Di samping ita, flat nomor 20, pemili Wadi Nile Travel.

A u baru mengerti. Dan a u tida tahu apa yang urasa an dalam hati. Bagaimana gegernya teman-teman mahasiswa nanti mengetahui di mana a u tinggal. Berapa harga sewa flat ini, Sayang? Mr. Minnich menyewa dengan harga sembilan ribu dollar perbulan. Ha? Sembilan ribu dollar perbulan? A u aget mendengar ang a nominal itu. Ya. Sembilan ribu dollar perbulan. Dan itu termasu murah. Sebab pasaran hargany a semestinya sepuluh ribu dollar e atas. Ini arena ami sama-sama dari Jerman jadi sedi it di bawah standar. Aisha, isteri u yang ucintai, harga sewa flat ini begitu tinggi. Apa tida seba i nya ita sewa an saja. Lalu ita menyewa flat di Nasr City yang lebih murah. D engan seribu dollar saja, ita sudah bisa menyewa flat yang ta alah mewahnya d i awasan Abbas El-A ad. Hanya saja di sana ita tida bisa melihat panorama su ngai Nil. Tapi enyamanan dan etenangannya ta jauh berbeda. Sisanya bisa ita guna an untu bermacam amal di jalan Allah, ucap u sambil memandang e arah sunga i Nil. Kurasa an Aisha memelu u dari bela ang. Dagunya ia leta an di punda u. Tingginya memang hampir sama dengan u. A u hanya lebih tinggi tiga senti dariny a. Sudah uduga. Kau a an mengata an demi ian. Suami u, seandainya bu an ibu u yang membeli flat ini dan seandainya tida ada enangan yang indah dalam flat ini, t entu sebelum au saran an a u sudah mela u annya. A u sangat mencintai ibu dan s etelah rumah di Jerman itu, flat ini adalah tempat edua yang paling indah dalam enangan u bersama ibu. A u ingin ita berdua tinggal di sini selama di Cairo. Dan flat ini mili ita, ita lebih tenang daripada menyewa. Kau tahu sifat oran g Mesir an? Tida semuanya bai . Tida semua tuan rumah bai . A u tida mau memb uang energi dan etenangan arena masalah sepele dengan tuan rumah yang tida ba i . Kau tahu teman paman Eqbal ada yang diusir tuan rumahnya tengah malam musim dingin, tanpa sebab yang jelas. A u ta mau itu terjadi pada ita. Kalau ita me nemu an tuan rumah yang bai alhamdulillah, alau ebetulan menemu an tuan rumah yang su a rewel, tentu sangat tida ena . Tapi au adalah imam u, suami u. Ji a au tetap memutus an tida tinggal di flat ini a u a an menurutimu. Kaulah yang harus memutus an apa yang menurutmu terbai untu hidup ita berdua, dan untu ana -ana ita seandainya ita punya ana . Sebagai isteri a u telah memberi an m asu an. A u ya in au a an memutus an yang terbai . Aisha lalu memelu u erat-era t. Nanti ita isti harah, jawab u lirih. Aisha lalu membawa u melihat-lihat seluruh sisi rumah. Sebuah rumah yang mewah dan sangat nyaman untu tempat tinggal. Ruang tamu yang luas dengan shofa husus didatang an dari Perancis. Dua bal on. Ruang santai. Satu amar utama dengan a mar mandi di dalamnya. Dua amar mandi, di de at ruang tamu dan de at dapur. Dan tiga amar u uran sedang. Yang satu telah disulap Aisha menjadi ruang erja dan perpusta aan. Kamar paling de at dengan ruang tamu telah dipersiap an oleh Aish a seandainya ada eluarga, atau teman yang ingin menginap. Aisha lalu embali me ngaja u e perpusta aan dan mengaja u dudu di lantai yang dialasi arpet teba l. Ia dudu bersila di hadapan u. Suami u, ita ini satu jiwa. Kau adalah a u. Dan a u adalah au. Kita a an menga rungi ehidupan ini bersama. Du amu du a u. Du a u du amu. Su amu su a u. Su a u su amu. Cita-citamu cita-cita u. Cita-cita u cita-citamu. Senangmu senang u. Se nang u senangmu. Bencimu benci u. Benci u bencimu. Kurangmu urang u. Kurang u urangmu. Kelebihanmu elebihan u. Kelebihan u elebihanmu. Mili mu mili u. Mili u mili mu. Hidupmu hidup u. Hidup u hidupmu. Hati u sangat tersentuh dan terharu mendengar per ataannya itu. Suami u, pada u ada dua ATM. Mohon Kau pilihlah satu! Aisha meleta an dua artu ATM di depan u. A u ragu. Suami u, alau au mencintai u, benar-benar mencintai u dan memandang diri u ada lah mili mu ma a ambillah jangan ragu! A u ta bisa tahan menatap sorot matanya yang teduh. Dengan mengucap an basmala h dalam hati a u mengambil yang paling de at. Terima asih Suami u, au tida menganggap diri u orang lain. A u a an menjelas semua hal ber aitan dengan ATM itu dan apa yang a u mili i saat ini. A u ingin au yang mengaturnya sepenuhnya. Sebab au adalah imam u dan a u sangat percaya p

adamu. Suami u, ATM yang au pilih se arang berisi dana 3 juta empat ratus tiga puluh ribu dollar! A u tersenta mendengarnya. Itu adalah riz i yang diberi an Allah epada ita melalui perusahaan eluarga di Tur i. Ceritanya begini. Ka e u, Ali Faroughi, atas emurahan Allah adalah bis nisman berhasil yang memili i tiga perusahaan. Yaitu perusahaan te stil, travel, dan susu. Sebelum meninggal beliau memanggil tiga ana nya yaitu ibu u, paman A bar, dan bibi Sarah. Beliau membagi dan menyuruh masing-masing memilih perusahaa n mana yang disu ai. Beliau menyuruh yang paling muda yaitu bibi Sarah untu mem ilih lebih dulu. Bibi Sarah memilih perusahaan susu arena dia paling su a minum susu. Lalu paman A bar memilih travel arena dia orang yang hobinya melancong. Dan ibu dengan sendirinya mendapat jatah perusahaan te stil. Ka e orang yang bija sana dan berpandangan jauh e depan. Beliau tida memberi an masing-masing perusahaan itu secara individual penuh. Beliau ingin etiga ana nya dan eturunannya masih erat rasa persaudaraan dan saling memili inya. Ma a beliau memberi an dengan sistem epemili an saham. Pabri Susu beliau beri an e pada bibi Sarah dengan epemili an saham sebesar 60 persen. Selebihnya paman A b ar diberi jatah epemili an saham 20 persen, juga ibu. Begitu juga travel, 60 pe rsen mili paman A bar, yang 40 persen mili ibu dan bibi. Juga perusahaan te st il 60 persen mili ibu yang 40 persen mili paman dan bibi. Tujuan a e mengatu r seperti itu adalah agar semuanya tetap masih merasa saling memili i. Juga biar rasa solidaritasnya tetap ada. Ka e berharap semua ana nya a an tetap hidup la ya . Seandainya ada salah satu perusahaan yang bang rut atau gulung ti ar ma a p emili nya masih memili i masu an dari dua perusahaan lain. Se arang semua perusahaan dibawah ontrol paman A bar. Beliau soso yang berba a t dan profesional seperti a e . Setiap bulan laba bersih perusahaan diaudit. Ma sudnya bersih memang benar-benar bersih setelah dipotong za at dan paja . Sepul uh persennya diberi an epada para pemili saham. Dan sembilan puluh persennya d i embali an e perusahaan untu diputar lagi. Sepuluh persen dari laba perusahaa n itu dibagi an pada pemili saham sesuai dengan besarnya saham yang dia mili i. Bulan lalu dari pabri te stil masu nominal sebesar 60.000 dollar. Berarti lab a bersih perusahaan bulan itu 1 juta dollar. Sepuluh persennya 100.000 dollar di bagi tiga. 60 persen untu diri u sebagai pengganti ibu, 20 persen paman A bar d an 20 persen bibi Sarah. Dari perusahaan travel bulan lalu masu dana 57 ribu do llar, padahal jatah ita hanya dua puluh persen dari sepuluh persen laba perusah aan atau dua persen saja dari laba perusahaan. Dan dari perusahaan susu masu 78 ribu dollar. Perusahaan travel dan susu memang sudah sangat maju. Perusahaan tr avel malah sudah merambah perhotelah dan perusahaan susu sudah merambah produ si bahan ma anan. Rencananya tahun ini perusahaan te stil a an mencoba melebar an sayap dengan mendiri an ana perusahaan di Malaysia. Jadi bulan lalu masu dana 195 ribu dollar dari Tur i e ATM itu. Dan ira- ira tiap bulan a an masu dana sebesar itu. Bisa lebih bisa urang. Bagi orang dunia etiga, itu jumlah yang sa ngat besar. Tapi bagi pemili perusahaan ra sasa di negara-negara maju itu jumla h yang sangat ecil se ali. Suami u, terserah mau au atur bagaimana ATM yang ada ditanganmu itu. ATM yang a u pegang ini berisi dana dari aset bisnis di Jerman. Se arang telah terisi dana 7 juta dollar. Sistemnya a u buat seperti yang di Tur i. Tiap bulan Cuma sepulu h persen dari laba bersih perusahaan yang masu e pemili perusahaan. Dan yang ini tida a an ita ota -ati dulu sampai nanti eti a ita tinggal di Indonesia . Kita a an mengguna annya sebai mung in bersama-sama. Jadi a u tida a an meng uti -uti ATM yang ada di tangan u. Lapar enyang u adalah atas ebija anmu. Kau lah yang menjatah dana untu diri u. Kaulah yang menentu an besarnya dana belanj a tiap bulan. Kalau a u minta sesuatu ma a a u a an minta padamu. Kaulah imam u . Mendengar apa yang ditutur an Aisha a u jadi sedih, pucat merinding dan bergetar . A u memegang ATM senilai $ 3.430.000,- atau ira- ira sebesar 30 milyar rupiah . A u merasa gunung Merapi henda menimpa u. Kenapa mu amu jadi berubah warna suami u? Apa ah a u mela u an sesuatu yang menyi nggungmu? tanya Aisha. Tida Aisha. A u tiba-tiba memi ul beban amanah sedemi ian beratnya, yang tida p

ernah a u bayang an. Dirimu adalah amanah bagi u. Dan apa yang au mili i yang au leta an di tangan u adalah amanah yang sangat berat bagi u. A u ta tahu apa ah bisa memi ul amanah seberat ini? A u percaya padamu Suami u. Bahwa a u suatu saat a an menjadi imam bagi isteri u dan ela ana -ana u adala h hal yang sudah a u bayang an. A u a an jadi suami seorang muslimah Tur i juga telah a u bayang an setelah bertemu Aisha di rumah Syai h Utsman dan a u sudah m embayang an bagaimana suasana rumah tangga nanti. Sederhana seperti teman-teman Indonesia. Namun a u a an menjadi imam dan penentu jalan hidup seorang jet set s halihah pemili perusahaan di Tur i dan Jerman yang mewa af an diri dan hartanya di jalan Allah tida pernah terbayang an sama se ali. A u merasa ilmu, iman dan pengalaman u belum cu up untu hidup mendampingi seora ng Aisha yang ini a u tahu sebenarnya siapa dia. A u harus meminta saran, nasih at dan pertimbangan pada orang-orang yang lebih uat jiwanya dan lebih luas ca r awala pandang dan pengalamannya. A u mengaja Aisha untu shalat hajat agar Alla h memberi an rahmat, taufi dan belas asihnya sehingga semua amanat dapat ditun ai an dengan bai . Hari itu juga a u menelpon Syai h Ahmad Taqiyuddin. A u minta wa tu bertemu beli au a u ingin onsultasi pada beliau secepatnya. Beliau melarang diri u pergi e Hadaye Helwan. Beliau dan isterinya yang justru a an mendatangi ami. Sore itu selepas ashar beliau datang. Aisha dan Ummu Aiman, isteri beliau, berbi ncang di ruang tamu. Sementara beliau uaja e perpusta aan, a u cerita an semu a masalah u pada beliau terutama masalah amanat yang dibeban an Aisha. Syai h, a u sangat ta ut dengan sindiran Allah dalam Al-Qur an, Dan ji alau Allah m elapang an riz i epada hamba-hamba-Nya tentulah mere a a an melampaui batas di mu a bumi, tetapi Allah menurun an apa yang di ehenda i-Nya dengan u uran.101 A u ta ut alau sampai melampaui batas Syai h, ucap u pada Syai h Utsman. A hi, yang melampaui batas adalah mere a yang tida memili i rasa ta wa dan tida merasa diawasi oleh Allah. Selama seseorang masih memili i rasa ta ut dan diawa si Allah ma a, insya Allah, dia tida a an sampai melampaui batas. Masalah mengi nfa an harta yang dalam tuntunan Al-Qur an au pasti sudah tahu, jawab beliau. Kemudian beliau banya memberi an nasihat dan saran, terutama yang ber aitan den gan perjalanan hidup dengan seorang isteri. Bahwa dalam bersuami-isteri ada sela lu ada dua emauan, wata , sifat yang ter adang berbeda. Seni mengolah perbedaan menjadi sebuah eharmonisan ibadah itulah yang harus diperhati an. Menurut beliau a u tida perlu pindah dari flat yang telah a u tempati. Karena tida menyewa dan mili Aisha. Ini se aligus untu menyenang an hati Aisha yang memili i enangan indah di flat ini bersama ibunya. Apalagi flat ini terleta di tempat yang sangat tenang dan ondusif untu menulis tesis. Ta jauh dari flat ini ada perpusta aan IIIT. Hanya dengan berjalan a i sepuluh menit sudah sampai e sana. Juga de at dengan salah satu ampus Universitas Helwan. Masjid juga de at. Tinggal bersyu ur epada Allah. Beliau juga meminta epada u untu terus me nggali semua pengalaman hidup yang telah dijalani Aisha. Agar a u bisa bersi ap arif pada Aisha. Beliau meminta epada u untu mengetahui gaya hidupnya seja e cil. Beliau meminta agar a u bija sana tida mema sa an Aisha mengi uti gaya dan standar hidup u yang memang sangat seja ecil sederhana. Beliau meminta untu hidup sewajarnya. Zuhud tida berarti tida mau menyentuh sama se ali ni mat yan g telah diberi an oleh Allah Swt, tapi zuhud adalah memperguna an ni mat itu unt u ibadah. Tida selamanya orang yang ma an dengan hanya roti ering dan setegu air lebih bai dari orang yang ma an roti co elat dan segelas susu. Ji a dengan ma an roti co elat badan menjadi sehat dan segar, ibadah husyu dan tenang, bis a be erja dengan lebih bai dan bersemangat serta merasa an eagungan Allah yan g telah memberi an ni mat tentu lebih bai dengan yang ma an roti ering tapi le mas dan ber eluh esah saja erjanya. Tida selamanya yang berjalan a i lebih b ai dari yang nai mobil. Ji a dengan nai mobil lebih bisa mengefisien an wa tu , ibadah lebih tenang arena tida cape dan lebih bisa banya mela u an egiata n yang bermanfaat tentu sangat bai . 101 Asy Syura: 27. Jangan terlalu pelit dan jangan terlalu boros. Dua ela uan itu bera ibat penyesa lan dan sangat dicela Allah Swt, firman-Nya dalam Al-Qur an, Dan jangan amu jadi a

n tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan amu terlalu mengulur annya aren a itu amu menjadi tercela dan menyesal. 102 Beliau lalu memberi tahu hal-hal yang sangat disu ai oleh seorang isteri. Beliau menyuruh agar tida segan-segan mengung ap an perasaan cinta. Seorang isteri pa ling su a dipuja dan dicinta. Juga tida segan mengaja isteri e to o pa aian d an to o perhiasan. Sering-sering minta pendapat, suatu ehormatan bagi seorang i steri merasa dirinya sangat penting bagi pengambilan eputusan sang suami. Dari unjungan Syai h Ahmad a u banya mendapat an banya se ali pelajaran ehidupan yang berarti. A u merasa lebih siap dengan hidup yang sedang a u jalani. Ada at a- ata beliau yang sangat menyentuh diri u, A u pernah mengalami hal yang sama dengan dirimu. Ummu Aiman adalah puteri tungga l onglomerat di Maadi. Ia menyerah an e ayaannya sepenuhnya di tangan u. A u d ulu juga bingung, a u pergi e tempat seorang ulama dan beliau memberi an nasiha t seperti apa yang a u nasihat an padamu. Ada satu hal yang harus au ingat bai -bai . Banya lela i yang menjadi erdil setelah memili i isteri yang canti dan aya raya. Semangat juang dan erja erasnya luntur. Tapi ita mempunyai telada n yang mulia yaitu Rasulullah Saw. Isteri beliau, Sayyeda Khadijah, adalah ongl omerat Ma ah pada zamannya, dan itu tida membuat beliau erdil tapi justeru se bali nya dengan e ayaan isterinya itu beliau menega an agama Allah. Ma a au t ida boleh erdil. Kau harus terus be erja, menerjemah dan ber arya lebih eras! 102 Al-Israa: 29 Malamnya a u aja Aisha berbincang-bincang di perpusta aan sambil mendengar an d endangan nasyid Rasailul Asywaq103 yang indah dibawa an ana -ana Mesir. Kami du du di lantai beralas arpet. A u bentang an dua ertas arton berisi rancangan peta hidup yang telah a u buat beberapa bulan yang lalu sebelum meni ah. Peta hi dup sepuluh tahun e depan. Dan rancangan satu tahun. Tentunya peta hidup itu ha rus dirubah. Melihat apa yang a u gelar mata Aisha terbelala . Subhanallah! Bagaimana mung in ita memili i ebiasaan yang sama. Ibu u seja ec il telah mengajar an hal seperti ini pada u. Dan a u juga memili i peta dan ranc angan seperti ini. Rancangan peta hidup sepuluh tahun e depan. Rancangan egiat an tahunan, bulanan, mingguan, dan harian. Tunggu sebentar ya Sayang! Aisha beran ja menuju amar utama. Lalu embali dengan membawa agenda biru. Ini telah peta hidup u sepuluh tahun e depan. Memang ita harus membuat peta hid up bersama, ata Aisha gembira. Kami pun lalu merancang bersama. Dalam rancangan Aisha, awal April embali e Mu nchen untu menyelesai an S1. Lalu S2 di Sorbonne University dan S3 di Bonn Univ ersity. Sementara a u masih harus menulis tesis, alau lancar baru dua tahun lag i selesai dan langsung S3 di Al Azhar. Harus ada ompromi- ompromi. Ji a Aisha t ransfer S1 e Mesir, bu an tida mung in tapi sangat susah. Proses administrasi universitas-universitas Mesir sangat melelah an. Ji a a u i ut e Jerman juga bu an tida mung in, tapi susah, target selesai master dua tahun lagi bisa molor. Di Jerman tida ada bahan yang cu up untu menulis tesis disiplin ilmu tafsir. H arus ada jalan eluar. A hirnya ami sepa at mela u an ompromi. Jalan tengahnya adalah Tur i. Di Tur i semua target bisa di ejar. Rencananya bulan April tahun depan berang at e sana . Aisha bisa transfer S1 e Istanbul University. Prosesnya mudah. Aisha bah an t ida perlu repot mengurus sendiri. Ia bisa minta tolong seorang temannya di Munc hen untu mengurus ber asnya yang mengirimnya e alamat pamannya di Istanbul. Ja di Aisha bisa tetap selesai S1 tahun depan dan selama di Tur i a u bisa mendapat an bahan tentang Syai h Said An-Nursi. Selama di Tur i juga a an menambah eratn ya persaudaraan dengan eluarga besar di Tur i. Setelah selesai S1 Aisha mengala h untu embali e Mesir menemani a u sampai selesai S2. Sebenarnya a u mempersi la an alau dia mau langsung e Sorbonne, tapi dia tida mau berpisah dengan u s ama se ali. Tapi setelah master a u yang harus mengalah. A u harus mengi uti Ais ha e Sorbonne. Setelah upi ir tida masalah S3 di Sorbonne sementara Aisha S2. Toh, Almarhum Syai h Abdullah Darraz, Guru Besar Tafsir Universitas Al Azhar me ngambil S3 nya juga di Sorbonne. Setelah selesai S3 barulah pulang dan merencana an hidup di Indonesia, Aisha mengalah untu tida langsung S3. Bah an seandainy a terpa sa S3 di Indonesia tida apa-apa. Tapi dia membuat cadangan S3 di Austra lia yang de at dengan Indonesia.

103 Risalah Kerinduan Kami lalu merancang agenda setengah tahun ini. Awal bulan depan Aisha minta e A lexandria, satu minggu saja, masih dalam rang aian bulan madu. Dia juga minta um rah dan selama bulan puasa sampai hari raya ada di tengah eluarga di Indonesia. A hirnya sepa at awal Ramadhan pergi umrah, sepuluh hari di tanah suci dan lang sung terbang e Indonesia. Lalu ami membuat rencana satu bulan e depan. Lebih banya di rumah. Aisha memb uat jadwal ami bermain cinta. Nai perahu berdua di sungai Nil. Menya si an pag elaran musi ra yat Palestina di Opera House. Melihat pertunju an drama omedi d i Ballon Teater. Pergi e El-Mo men Restaurant. Ke Masjid Musthofa Mahmud mendenga r an ceramah Syai h Muhammad Said Ramadhan Al Buthi yang rencananya lima hari la gi a an datang dari Syiria. A u menambah jadwal talaqqi qiraah sab ah pada Syai h Utsman dan ber unjung e rumah Syai h Abdul Ghafur Ja far. Aisha mene an an: Dan e Alexandria! Kami lalu membuat jadwal harian. Kapan baca Al-Qur an dan tadabbur bersama. Shalat dhuha. Shalat malam. Wa tu menerjemah dan wa tu yang tepat untu bercinta. Begi tu selesai membuat rancangan peta hidup Aisha ber ata, Sayang, a u punya puisi indah untu mu dengar an: agar dapat melu is an hasrat u, e asih, taruh bibirmu seperti bintang di langit ata- atamu A u langsung menyahut dengan suara lantang seperti Antonius merayu Cleopatra: ciuman dalam malam yang hidup, dan deras lenganmu memelu da u seperti suatu nyala bertanda emenangan mimpi upun berada dalam benderang dan abadi Di tepi sungai Nil, hari-hari yang indah ami lalui bersama. Semua serba indah. Dunia terasa mili ami berdua. Keni matan demi eni matan, ebahagiaan demi eb ahagiaan ami regu bersama. Seperti di surga. Muncul ebiasaan baru Aisha, ia t ida bisa tidur ecuali a u membelai-belai rambutnya dan mengelus-elus ubun epa lanya, seperti seorang ibu menidur an bayinya. A u juga sema in banya tahu wata dan ara ter Aisha, ting ahnya alau meraju , tida su a, marah, caranya memuj i, hal-hal yang ia su ai dan ia benci, juga pengalaman hidupnya seja ecil. Sua tu ali sebelum tidur Aisha bercerita, Ibu sering mengajari u agar berdoa dalam s ujud saat shalat malam: Ya Allah, leta anlah dunia di tangan u, jangan di hati u. 20. Surat dari Nurul Dua hari menjelang eberang atan e Alexandria ami belanja e Attaba. Pasar ra yat paling besar di Mesir. Ta ada trasnportasi langsung dari e sana. Kami nai bis mini dari mahattah Abul Fida yang ta begitu jauh dari apartemen ami menu ju Tahrir. Sampai di Tahrir ami nai metro bawah tanah e Attaba. Aisha iseng m inta diaja melihat to o-to o bu u loa an. Dua jam ami di sana. A u menemu an b eberapa bu u yang bisa dijadi an referensi. Aisha hanya melihat-lihat dan membol a -bali bu u. A hirnya ia membeli empat bundel omi Donald Bebe . Kau aneh se ali, untu apa Sayang? heran u. Bagaimana tida heran, orang secerdas dan sedewasa dia o beli omi Donald Bebe . Untu belajar bahasa Arab. Ini an omi bahasa Arab. A u ingin tahu alimat- ali mat yang lucu. Nanti alau ita punya ana ini juga ada gunanya. A u su a ana u nanti tertawa-tawa renyah. Karena tertawa adalah musi nya jiwa. Dan rumah ita nanti tida sepi, jawab Aisha santai. Cara berpi ir Aisha yang mahasiswi psi olog i ter adang menari dan mengejut an. Sampai di rumah ulihat Aisha sangat elelahan. Perjalanan dari Attaba sampai r umah memang sangat melelah an. Padahal sebenarnya tida terlalu jauh. Transporta sinya yang memang melelah an. Metro bawah tanah penuh sesa orang yang pulang e rja. Juga bis mininya. Kami berdua berdesa an. A u sangat hati-hati menjaga Aish a. A u ta ingin ada tangan jahil menyentuhnya. Setelah membu a cadar dan jilbab nya, Aisha langsung menyala an AC dan membanting tubuhnya di sofa. Ia mengatur n afasnya. Mu anya yang putih memerah dan pucat. Kuambil an air mineral dingin unt

u nya. Ia menerima dengan tersenyum. Dan e, mein Mann, 104 lirihnya. Bitte. 105 Selama ini ami memang ber omuni asi dengan tiga bahasa; Jerman, Arab, dan Ingg ris. Lebih banya pa ai bahasa Arab. Aisha yang memintanya untu terus memperbai i bahasa Arabnya. Ji a dia ehabisan osa ata ia a an mengata annya dalam baha sa Inggris atau Jerman. 104 Terima asih, suami u. 105 Terima asih embali. Sayang, cape ya berdiri dan berdesa an, tanya u sambil menuang an air mineral e dalam gelas. Ya. Di Jerman alau berang at uliah gimana? Sering berdesa an seperti tadi ngga ? Transportasi di Jerman sangat bai tida seperti di Mesir. Dan ebetulan a u jar ang nai ang utan umum. Terus? Jalan a i? Apa ontra anmu de at dengan ampus? Tida juga. A u menyewa rumah lima ilo dari ampus. Dan alhamdulillah a u punya mobil sendiri. A u langsung tahu apa yang harus a u la u an. Sangatlah zhalim diri u alau a u membiar an isteri u sedemi ian tersi sa dan berdesa an sementara di tangan u ad a tiga juta dollar lebih. A u jadi teringat nasihat Syai h Ahmad, Jangan au pa s a an isterimu mengi uti standar hidupmu yang sangat sederhana. Jangan pelit dan jangan boros! Mobilmu apa, Sayang? Land Cruiser. A u su a model Jeep. A u menawar an, bagaimana alau membeli mobil. Ternyata sebenarnya itu juga ing in dia bicara an pada u seja tiga hari yang lalu. Cuma dia maju mundur a hirnya tida berani bicara. Ta ut alau a u tida setuju. A u te an an padanya untu t ida menyembunyi an einginan apa pun dari u. Mes ipun usembunyi an toh elihatannya au bisa membaca einginan u. Kau memang suami yang bai , pujinya. A u harus mencari orang yang tahu selu belu mobil di Mesir. Biar tida ena t ipu. Biar urusan dengan epolisian mudah dan lain sebagainya. A u teringat Youse f, adi nya Maria. Bagaimana abar mere a? Sudah pulang dari Hurgada apa belum ya ? Sudah tahu a u meni ah apa belum? A u perlu menghubungi Yousef. Ia elihatanny a tahu selu belu mobil. Selama jadi tetangganya ulihat sudah tiga ali ganti mobil. Hallo. Yousef? Ya. Ini siapa? Fahri. Kapan pulang? Baru tadi pagi. Selamat ya atas perni ahannya. A u sudah diberi tahu sama Rudi. Sayang se ali. Kami menyesal. Seharusnya ami menelpon alian begitu tiba di san a dan memberi an nomor telpon hotel ami menginap. O tida apa-apa. Mama dan papa juga sudah pulang juga? Belum. Mere a masih a an di sana satu minggu lagi. Tapi Maria sudah pulang. Mau b icara sama dia? Tida . Lain ali saja. Salam buat dia. Oh ya, a u mau minta tolong padamu. Bagaim ana ita secepatnya bisa bertemu? Kau se arang ada di mana? Di Zamali . Muhammad Mazhar Street. Kedutaan Swedia? Lurus e utara ada Apartemen tertinggi di ujung pulau. Flat nomor 21. Malam ini juga a u e sana. A u sudah rindu ingin etemu padamu se alian a u bawa an ado istimewa. Terima asih, utunggu. * * * Pu ul delapan malam Yousef datang bersama Maria. Yousef masih seperti biasa, ce rah dan ceria melihat u. Maria aga lain, dia sama se ali tida cerah. Dingin. T ersenyum pun tida . Mung in belum hilang lelahnya dari Hurgada.

Ini ado sederhana dari a u dan Maria. Maaf tida bisa memberi yang mewah-mewah m a lum ami belum punya penghasilan, ata Yousef menyerah an ado ecil yang dibun g us manis. Maria lebih banya menundu . Sepertinya ia lesu se ali. Kami berbincang sambil m eni mati ari ade hangat. A u jelas an pada Yousef rencana u membeli mobil. Dia sangat senang mendengarnya. Dia bertanya riterianya. Kujawab model jeep, tangan edua, masih bagus dan normal semua. Dia berjanji paling lambat beso sore dia a an menghubungi. Hanya setengah jam mere a berada di rumah ami. A u minta tolong pada Yousef men jelas an pada Rudi dan teman-temannya route rumah ami. Sebab seja acara walima h itu a u belum ber omuni asi dengan mere a lagi. Dan itu atas permintaan mere a . Sebelum satu minggu tida boleh menghubungi Hadaye Helwan. Pengantin baru satu minggu penuh harus tenang, ata mere a. A hirnya malah ebablasan, dan mere a te rlupa an. Begitu Yousef dan Maria pulang a u langsung membu a adonya. Kurang ajar, Yousef dan Maria itu! umpat u. Apa sih isinya? Kenapa sampai mengumpat segala? heran Aisha mendengar a u mengump at. Ia melihat isi ado. Botol berisi serbu . Serbu apa ini, Fahri? tanya Aisha. A u ragu untu menjelas annya. Tapi Aisha ter us mendesa . Serbu Dhab Mashri, jawab u. Apa itu Dhab Mashri? ejarnya. Aduh bagaimana ini. Terpa sa a u jelas an juga. Dhab Masri adalah adal Mesir, dan hasiatnya untu obat uat yang ata orang-orang yang pernah mencobanya lebih dahsyat dari Viagra, t elah diguna an oleh para raja dan pangeran Mesir uno. Mendengar penjelasan u Ai sha salah ting ah, pipi merona merah, lalu tersenyum indah se ali. * * * Atas bantuan Yousef, ami berhasil membeli Nissan Terrano hitam metali yang ma sih baru dengan harga sangat miring. Baru dipa ai pemili nya setengah tahun. Ais ha senang se ali. Hari itu juga ami berdua berjalan-jalan mengelilingi ota Cai ro. Tentu saja a u tida bisa menyetir. Yang menyetir Aisha. Ia juga punya SIM I nternasional. A u jadi guidenya. Tujuh tahun di Kairo a u sudah hafal selu belu ota Cairo. Acara jalan-jalan pun lancar dan mengasyi an. Malam sebelum eberang atan e Alexandria, Mishbah datang bersama Mas Khalid. M ere a memberitahu an dua hari lagi Pelatihan E onomi Islam a an dila sana an sel ama satu minggu di Wisma Nusantara. A u ira pelatihan itu sudah selesai ternyat a diundur. A u diminta menjadi salah satu moderator se aligus pendamping dosen-d osen yang semuanya dari Mesir. A u tida bisa memutus an sendiri. A u harus berm usyawarah dengan Aisha. Tida apa-apa, penuhi saja permintaan mere a. Kita tunda berang atnya setelah pelatihan saja. A u juga ingin tahu onsep e onomi Islam it u seperti apa. Jawab Aisha. Selama satu minggu setiap hari ami i ut pelatihan. Dan sudah tentu, seperti ya ng a u predi si, mahasiswa Indonesia geger melihat a u datang dan pergi dengan m embawa mobil, disopiri oleh seorang isteri bercadar. Mana ada mahasiswa Indonesi a mema ai mobil? Kecuali beberapa gelintir dan bisa dihitung dengan jari. Terobosan, bulletin mahasiswa Indonesia di Cairo paling vo al, embali usil. Tan pa sepengetahuan u mere a berusaha mewawancarai Aisha mengenai proses perni ahan ami. Mere a sungguh reatif. Untung saja Aisha isteri yang bai , ia tida mau ber omentar sama se ali, dan menyuruh ru Terobosan langsung mewawancarai u. Kep ada mere a a u isah an prosesnya yang sungguh sangat sederhana. Dua hari setelah itu Terobosan terbit. Segala eterangan yang a u beri an tertul is jelas. Yang membuat u geli adalah tanggapan-tanggapan dari beberapa alangan a tifis yang pro dan ontra. Yang memandang positif dan negatif peni ahan ami. Yang paling menggeliti hati u dan justru paling usu ai adalah omentar seorang mahasiswi a tifis gender: A u ya in si Aisha, isteri Fahri dari Tur i itu pasti jele . Kalau canti mana m ung in dia mau. Apalagi atanya dia itu aya, punya flat mewah di pinggir Nil se gala. Ya in deh pasti wajahnya jele . Dan enapa Fahri tetap mau dengan gadis je le ? Karena Fahri mengejar e ayaannya. Jadi mes ipun isterinya jele dia mau sa ja, yang penting aya. Dan untu menutupi jele nya ma anya Fahri menyuruhnya mem

a ai cadar dengan dalil agama. A u su a se ali membaca omentar itu. Kalau mere a tahu ecanti an Aisha sema i n geger suasananya. Biarlah a u seorang yang tahu ecanti an Aisha. Tapi ada om entar sing at yang membuat hati u merasa tida ena . Komentar dari Nurul sebagai Ketua Wihdah: Perni ahan Fahri (Indonesia) dengan Aisha (Tur i berdarah Palestina) menunju an universalitas Islam. A u tahu siapa Aisha. Sebelum dia meni ah dengan Fahri dia pernah banya bertanya pada u tentang budaya Indonesia, hususnya masyara at Ja wa. Selamat buat Fahri yang berhasil menyunting muslimah Tur i yang shalehah dan jelita. Nurul ternyata juga i ut pelatihan. Dalam satu esempatan, saat pulang, a u dan Aisha bertemu dengannya di gerbang W isma. A u tida menyapanya dan dia juga tida menyapa u. Namun Nurul bisa berbin cang-bincang santai dengan Aisha seolah tida pernah terjadi apa-apa. Hati u leg a. Semoga dia telah menemu an jalan eluar atas masalahnya. Sebelum berpisah Nur ul memberi an selembar surat pada Aisha. Di mobil Aisha menyerah an sepucu sura t itu pada u sambil bergumam, Katanya ini pesan dari seseorang untu mu dan minta di baca ji a sudah sampai di rumah. Sampai di rumah langsung a u baca surat itu. Untu Ka Fahri Yang sedang berbahagia Bersama isterinya Assalamu alai um wr. wb. Kutulis surat ini dengan lelehan air mata u yang tiada berhenti dari deti e de ti . Kutulis surat ini ala hati tiada lagi menahan nestapa yang mendera-dera pe rihnya luar biasa. Ka Fahri, a u ini perempuan paling bodoh dan paling malang d i dunia. Bahwa mengandal an orang lain sungguh tinda an paling bodoh. Dan a u ha rus menelan epahitan dan egetiran tiada tara atas ebodohan u itu. Kini a u di dera penyesalan tiada habisnya. Semestinya a u ata an sendiri perasaan u padamu . Dan apa ah yang ini bisa ula u an ecuali menangisi ebodohan u sendiri. A u berusaha membuang rasa cinta u padamu jauh-jauh. Tapi sudah terlambat. Semestin ya seja semula a u bersi ap tegas, mencintaimu dan berterus terang lalu meni ah atau tida sama se ali. A u mencintaimu diam-diam selama berbulan-bulan, memera mnya dalam diri hingga cinta itu mendarahdaging tanpa a u berani berterus terang . Dan eti a au tahu apa yang urasa semuanya telah terlambat. Ka Fahri, Kini perempuan bodoh ini sedang berada dalam jurang penderitaannya paling dalam. Dan ji a ia tida berterus terang ma a ia a an menderita lebih berat lagi. Pere mpuan bodoh ini ternyata tiada bisa membuang rasa cinta itu. Membuangnya sama sa ja menari seluruh jaringan sel dalam tubuhnya. Ia a an binasa. Saat ini, Ka Fa hri mung in sedang dalam saat-saat paling bahagia, namun perempuan bodoh ini ber ada dalam saat-saat paling menderita. Ka Fahri, Apa ah tida ada jalan bagi perempuan bodoh ini untu mendapat an cintanya? Untu eluar dari eperihan dan epiluan hatinya. Bu an ah ajaran agama ita adalah ajaran penuh rahmah dan asih sayang. Ka Fahri adalah orang shalih dan isteri K a Fahri yaitu Aisha adalah juga orang yang shalihah. Bagi orang shalih semua ya ng tida melanggar syariah adalah mudah. Ka Fahri, Sungguh maaf a u sampai hati menulis surat ini. Namun ji a tida ma a a u a an s ema in menyesal dan menyesal. Bagi seorang perempuan ji a ia telah mencintai seo rang pria. Ma a pria itu adalah segalanya. Susah melupa an cinta pertama apalagi yang telah menyumsum dalam tulangnya. Dan cinta u padamu seperti itu adanya tel ah mendarah daging dan menyumsum dalam diri u. Ji a masih ada esempatan mohon b u a anlah untu u untu sedi it menghirup manisnya hidup bersamamu. A u tida in gin yang melanggar syariat a u ingin yang seiring dengan syariat. Kalian berdua orang shalih dan paham agama tentu memahami masalah poligami. Apa ah eadaan yan g menimpa u tida bisa dimasu an dalam eadaan darurat yang memboleh an poligam

i? Memang tida semua wanita bisa menerima poligami. Dan tenyata ji a Aisha term asu yang tida menerima poligami ma a a u tida a an menyalah annya. Dan biarla h a u mengi uti jeja puteri Zein dalam novel yang ditulis Syai h Muhammad Ramad han Al Buthi yang membawa cintanya e jalan sunyi, jalan orang-orang sufi, setia pada yang dicintai sampai mati. Wassalam, Nurul Az iya Air mata u mengalir deras membaca surat Nurul. A u ta tahu harus berbuat apa. Hati u i ut pilu. Sayang, apa isinya sampai au menangis? tanya Aisha sambil mengusap air mata dipi pi u dengan ujung jilbabnya. Kutatap wajah isteri u. Harus ah a u berterus teran g padanya? A u ta ingin membuat dirinya acau dan cemburu. A u harus melindungi etenangan jiwanya. Yang jelas a u sama se ali tida mau meng hianatinya. Bisa jadi ji a a u berterus terang, dia bisa menerima usulan Nurul, tapi a u telah be rjanji pada diri u sendiri bahwa a u tida a an memadu isteri u. Aisha adalah pe rempuan u yang pertama dan tera hir. Kenapa diam Sayang? Apa isinya? tanya Aisha embali. Bacalah sendiri! Aisha melihat surat itu. Ia mengerut an eningnya. Kau bercanda. Ini bahasa Indonesia an? Mana a u tahu ma sudnya. Apa yang ditulis nya sampai au menangis? Ah tida apa-apa. Isinya nasihat. Agar a u menjagamu dengan bai . Berusaha memah amimu dan mema lumi perbedaan-perbedaan di antara ita yang memang berbeda latar bela ang budaya dan pendidi an. Dia juga menasihati agar a u mengajarimu bahasa dan adat istiadat masyara at Indonesia agar ela ji a pulang e Indonesia au bisa beradaptasi dan diterima dengan bai . Tera hir dia menasihati u agar menyem pat an wa tu untu menengo edua orang tua di Indonesia, jangan terlalu asyi d i Mesir. A u teringat ibu u. Terpa sa a u berbohong, a u ta ingin etenangan hat inya terusi . A u harus melindungi eluarga u dari segala gangguan. Aisha menganggu -anggu an epala mendengar penjelasan u. Nasihat yang bai se ali. Dia memang muslimah yang bai . Se ali- ali ita harus undang dia dan teman-temannya emari. Dia memulia an diri u saat a u ber unjung e rumahnya, ujar Aisha. * * * Se eti a itu juga a u menulis surat balasan untu Nurul. Kepada Nurul Az iya Cahaya orang-orang yang bersih hatinya Di bumi perjuangan mulia Assalamu alai um wa rahmatullah wa bara atuh Saat menulis surat ini hati u gerimis. Tiada henti uberdoa semoga Allah menyej u an hatimu, menerang an pi iranmu, membersih an jiwamu, dan mengang at dirimu dari segala jenis penderitaan dan epiluan. Nurul, Terima asih atas suratnya. A u sudah membacanya dengan se sama dan a u memaham i semua ata- ata yang au tulis. Kalau au merasa harus setia pada cintamu. Ma a a u merasa harus setia pada isteri u, pada belahan jiwa u. Kalau au memili i anggapan poligami bisa menjadi jalan eluar dalam masalah ini, bisa jadi ada ben arnya. Poligami memang diperboleh an oleh syariat, tapi a u tida mung in menemp uhnya. A u perlu menjelas an, di antara syarat yang telah ami sepa ati sebelum a ad ni ah adalah a u tida a an memadu Aisha. A u sudah menyepa ati syarat itu. Kau tentu tahu hu umnya, a u harus menepatinya. Hu umnya wajib. Nurul, Dalam hidup ini, cinta bu an segalanya. Masih ada yang lebih penting dari cinta . Sebenarnya ji alau ita bercinta ma a seharusnya itu menjadi salah satu pintu menjalan an ibadah. Janganlah terlalu au turut an perasaanmu. Guna anlah a al s ehatmu, arena a al sehat adalah termasu bagian dari wahyu. Kau masih memili i

Surat itu umasu an dalam amplop dan uberi an epada Aisha untu diberi an e pada Nurul beso paginya saat pelatihan. Aisha bertanya, Isinya apa? Kujawab, Ucapan terima asih. A u gantian menasihatinya untu segera meni ah. Benar. Dia sudah saatnya meni ah, sebentar lagi selesai uliah. Semoga dia dapat suami yang bai dan shalih, ujar Aisha polos sambil tersenyum. 21. Di San Stefano, Alexandria Selesai pelatihan ami mempersiap segala sesuatu untu pergi e Alexandria. Deng an cermat Aisha mendata semua eperluan yang harus dibawa. Termasu la topnya. S elama satu minggu di sana ia berencana menulis biografi ibunya. Ia pernah e Ale xandria bersama ibunya. Jadwal di Alexandria telah tersusun bai . Di antaranya a dalah pergi e perpusta aan Universitas Alexandria untu mencari tambahan refere nsi dan menemui Syai h Za aria Orabi, seorang imam masjid yang menurut eteranga n Syai h Utsman pernah berjumpa dengan Syai h Badiuz Zaman Said An-Nursi. Dengan Nissan Terrano ami sampai di ota Alexandria. Kota ebanggaan ra yat Me sir. A u tida hafal betul route ota budaya ini. Setelah bertanya beberapa ali a hirnya ami sampai di San Stefano Hotel. Sebenarnya a u ingin nai bis saja. Tapi Aisha mema sa mengguna an mobil pribadi. Keti a a u sedi it ragu a an eput usannya. Ia meya in an diri u dengan ber ata: Di Jerman a u sering eluar ota dengan mobil pribadi. A u bah an pernah menempuh jara Munchen-Hamburg dengan mobil sendiri. Kau jangan uatir, insya Allah sela mat. Apalagi Cairo-Alexandria cuma 177 m, jalannya pun lebar dan lurus, dengan ecepatan santai tiga-empat jam sampai! Karena dia merasa ya in se ali semuanya a an bai -bai saja. Dia juga ingin se a li ber eliling Alexandria dengan mobil sendiri ma a a u pun menyetujuinya. Untu menginap sebenarnya sudah a u tawar an padanya menginap di rumah husus tamu mi li mahasiswi Malaysia, tapi Aisha tida mau. Aisha Aisha ingin menginap di hote l San Stefano dan di amar yang ia dan ibunya dulu pernah menginap. Sudah jauh-j

masa depan yang luar biasa cerahnya. Kau ditunggu oleh ribuan generasi di tanah air. Jadilah au seorang Nurul seperti sebelum mengenal u. Nurul yang bersih dan bercahaya, seperti namanya Nurul Az iya , Cahaya bagi orang-orang yang bersih h atinya. Nurul, Apa ah au sadar dengan apa yang au la u an saat ini? Dengan tetap menuruti pe rasaanmu untu menyesal dan membodoh-bodoh an diri au telah merusa dirimu send iri. Ajaran agama ita yang hanif melarang manusia membinasa an dirinya sendiri dengan cara dan alasan apa pun. Memasung diri sampai menderita dengan alasan set ia pada cinta adalah perbuatan yang tida seirama dengan sunnah nabi. Kau jangan salah tafsir pada novel yang ditulis oleh Syai h Muhammad Said Ramadhan Al Buth i. Dengan novel itu beliau ingin menghibur dan menyeju an orang-orang yang mere gu pahitnya cinta arena elaliman orang-orang yang tida mengerti cinta. Belia u membela orang yang semestinya dibela, dan mencela orang-orang lalim yang semes tinya dicela. Adapun Puteri Zein yang membawa cintanya sampai e liang lahat itu bu an atas ehenda nya. Berbeda dengan dirimu. Ji a au membawa cintamu sampai mati ma a itu atas ehenda mu, dan itu sama saja dengan bunuh diri. Nurul, Cinta sejati dua insan berbeda jenis adalah cinta yang terjalin setelah a ad ni ah. Yaitu cinta ita pada pasangan hidup ita yang sah. Cinta sebelum meni ah a dalah cinta semu yang tida perlu disa ral an dan diagung-agung an. Nurul, dunia tida selebar daun anggur. Masih ada jutaan orang shalih di dunia ini yang belu m meni ah. Pilihlah salah satu, meni ahlah dengan dia dan au a an mendapat an c inta yang lebih indah dari yang pernah au rasa an. Ter adang, tanpa sengaja ita telah menyengsara an orang lain. Itulah yang mung in ula u an padamu. Maaf anlah a u. Semoga Allah masih terus ber enan memberi an hidayah dan rahmatnya, juga maghfirahnya epada ita semua. Wassalam, Fahri Abdullah.

auh hari ia pesan amar itu. Ia ingin bernostalgia sambil menulis biografi ibuny a. Itulah untu pertama alinya a u menginap di hotel berbintang. Sudah empat a li a u e Alexandria dan tida pernah menginap di hotel. Dua ali i ut mu hayyam 106 musim panas yang diada an oleh Universitas Al Azhar. Dan yang dua ali bers ama teman-teman Malaysia dan menginap di rumah husus tamu mili organisasi maha siswi Malaysia di Alexandria. 106 Per emahan. Hotel San Stefano terleta tepat di garis pantai laut Mediterania. Bal on ami ami menghadap e laut. Malam pertama di San Stefano Aisha berbisi , Sayang, Dhab Mashrinya dicoba yu ! A u tersenyum. Aisha selalu berterus terang. Apa ah arena dia bu an perempuan J awa? Tapi eterusterangannya membuat a u senang. A u teringat per ataan Sayyidin a Muhammad Al Baqir, Wanita yang terbai di antara amu adalah yang membuang peri sai malu eti a ia membu a baju untu suaminya, dan memasang perisai malu eti a ia berpa aian lagi! Dan Aisha adalah wanita seperti itu. Dhab Mashrinya tida ubawa? Kenapa? A u ta ut menjelma jadi adal. Aisha tertawa geli. Di Alexandria ami melewati hari-hari indah. Tida terlalu alah indahnya dengan hari-hari di tepi sungai Nil. Tapi tepi sungai Nil tetaplah lebih ter esan, ar ena ami menghabis an malam paling indah sepanjang hayat di sana. Satu minggu te lah berlalu, tapi Aisha ingin menambah satu minggu lagi untu menuntas an biogra fi ibunya. Ternyata dengan memandang laut yang indah Aisha merasa pi irannya leb ih jernih. Banya enangan yang bersama ibunya yang terus ber elabat di epalany a. Ia sudah menulis tiga ratus halaman dan biografi itu belum juga selesai. A u merasa tida ada masalah menambah hari lagi. Sementara dia sibu dengan biografi ibunya, a u sibu talaqqi itab hadits Shahih Bu hari di Masjid Imam Abdul Hali m Mahmud yang diajar oleh Syai h Zainuddin El-Maula. Suatu malam ada sms masu e handphone- u. Dari Yousef . Kubu a: Maria sa it, mama minta agar memberi tahu amu. A u tersenyum. Madame Nahed masih menganggap a u bagian dari eluarganya. Puter inya sa it langsung memberi abar. A u tida membalas apa-apa. A u hanya berdoa dalam hati semoga Maria segera sembuh. Dan nanti ji a sudah embali e Cairo, a u a an mengaja Aisha mengunjungi mere a, se alian mengunjungi teman-teman seper juangan di Hadaye Helwan. Setelah dua minggu di Alexandria, wa tu pulang pun tiba. Dari mengaji pada Syai h Zainuddin a u mendapat an pengetahuan tentang fiqhul hadits yang sangat berha rga. Dari Syai h Za aria Orabi a u mendapat an isah perjalanan hidup Said An-Nu rsi, juga beberapa lembar te s hutbah Jum atnya yang ditulis tangan oleh Syai h Z a aria. Dan Aisha berhasil menyelesai an biografi ibunya. Tertulis dalam bahasa Jerman sebanya 545 halaman satu spasi, Microsoft Word, Times New Roman, font 12 . Sehari menjelang pulang e Cairo ami jalan-jalan e awasan El-Manshiya yang merupa an pusat ota Alexandria dan disebut juga Alexandria lama. Di El-Manshiya itulah tepatnya ota Alexandria uno berada. Puing-puing peninggalan Romawi mas ih ada di sana. Misalnya dapat di lihat be asnya di Graeco-Roman Museum dan Acha eological and Roman Amphitheatre. Kami juga belanja di sana, ta lupa ami membe li dua ja et untu Hosam dan Magdi, dua penjaga eamanan apartemen ami. Se adar sebagai hadiah dan pengi at jiwa. Tera hir ami berziarah e ma am Luqman Al Ha im yang namanya disebut dalam Al-Q ur an dan dijadi an nama surat etiga puluh satu. Ma am Luqman berdampingan dengan ma am Nabi Daniyal. Berada di goa bawah tanah masjid Nabi Daniyal, ta jauh dar i terminal utama Alexandria. Selama menatap ma am Luqman air mata u meleleh teri ngat nasihat Luqman pada ana nya: "Hai ana u, janganlah amu memperse utu an Allah, sesungguhnya memperse utu an (Allah) adalah benar-benar ezaliman yang besar". "Hai ana u, sesungguhnya ji a ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan be rada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah a an mendatang annya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai ana u, diri anlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerja an yang bai dan c

egahlah (mere a) dari perbuatan yang mung ar dan bersabarlah terhadap apa yang m enimpa amu.Sesungguhnya yang demi ian itu termasu hal-hal yang diwajib an (ole h Allah).107I Luqman seperti masih hidup dan menasihati diri u dengan suaranya yang penuh wiba wa dan mengetar an jiwa. Ji a a u punya ana ela , a u ingin mendidi nya sepert i Luqman mendidi ana nya. A u ingin menasihatinya seperti Luqman menasihati ana nya. A u ingin bersi ap bija sana padanya seperti Luqman bersi ap bija sana pad a ana nya. Ya Tuhan, abul an. 107 Surat Luqman: 13,16, dan 17. 22. Penang apan Dalam perjalanan pulang entah enapa a u merasa an ecemasan yang menyusup begi tu saja dalam jiwa. Selama melewati jalan lurus yang membelah lautan padang pasi r a u terus berdoa agar diberi eselamatan sampai tujuan. Kupandang le at-le at wajah Aisha yang sedang onsentrasi mengemudi an endaraan. Dalam hati a u ber a ta: A u cemas bila ehilangan au A u cemas pada ecemasan u108 Aisha terus mengebut dengan tenang. 90 m/jam. Semua endaraan berjalan cepat. T a ada yang lambat. Bus West Delta menyalib dengan ecepatan gila. Memasu i Giza , awal masu ota Kairo dari arah Alexandria, ami mampir di sebuah restoran unt u ma an malam dan sedi it membeli oleh-oleh buat Si Hosam dan Magdi. Dua penjag a apartemen yang dalam wa tu sing at sudah sangat a rab dengan ami. Tepat pu ul sembilan malam ami tiba di gerbang apartemen. Dua malam sebelum Ramadhan tiba. Rencana berang at umrah awal Ramadhan terpa sa diundur satu minggu. Baru masu rumah sms dari Yousef datang, mengabar an ondisi Maria sema in memburu dan ter pa sa harus dirawat di rumah sa it Maadi. Kondisi ami sangat lelah. Tida mung in langsung meluncur e Maadi. A u membalas dengan mengabar an baru tiba dari Al exandria dan insya Allah beso pagi a an datang menjengu . Selesai membersih an badan dengan air hangat ami shalat berjamaah. Selesai sha lat a u turun e bawah membawa oleh-oleh untu Hosam dan Magdi. Dua bung us ayam panggang dan dua ja et baru. Mere a senang se ali menerimanya. A u embali nai dan mengaja Aisha istirahat. Keti a mata baru saja a an terlelap, Aisha terban gun dan berlari e amar mandi. Ia muntah-muntah. Kubuntuti dia. Kupijit-pijit t eng u nya. Mu anya pucat. Dalam pi iran u dia masu angin dan elelahan. Ia tela h be erja eras, memforsir tenaga dan pi irannya untu menulis biografi ibunya s elama di Alexandria. Ia juga harus onsentrasi selama tiga jam mengendarai mobil . A u merasa sangat asihan pada isteri u. A u berniat a u harus bisa menyetir a gar isteri u tida elelahan. Kugoso punggungnya dengan minya ayu putih. Tela pa tangan, a i, perut dan lehernya uolesi minya ayu putih. Kubuat an ramuan obat andalan u ji a lelah dan meriang. Segelas madu hangat diberi habbah bara a h. Rasulullah pernah memberi tahu bahwa habbah bara ah bisa menjadi obat segala penya it. Setelah meminum ramuan itu Aisya uaja tidur. 108 Peti ah puisi berjudul Saja arya Penyair Ameri a, John Cornford, diterjemah an oleh Chairil Anwar. Pagi hari ia tampa segar. Pu ul sembilan saat a u bersiap mengaja nya e rumah sa it Maadi. Tiba-tiba dia embali muntah-muntah. A u bingung. A u ta ut ia ter ena penya it yang orang Jawa bilang masu angin asep, yaitu masu angin yang b ertumpu -tumpu dan parah. A u urung e Maadi, dengan ta si ubawa Aisha e lin i terde at. Seorang do ter berjilbab memeri sanya. Hampir setengah jam lamanya Aisha berada dalam amar peri sa dengan do ter berjilbab. Keti a eduanya eluar , do ter berjilbab itu tersenyum, Selamat! Setelah ami peri sa air seninya dan ami lanjut an dengan USG, isteri anda positif hamil! Wajah Aisha cerah. Kepada u ia mengerling an mata anannya. A u merasa an ebah agiaan luar biasa. Begitu sampai di flat Aisha ber ata dengan wajah cerah, Melodi cinta yang au main an sungguh ampuh suami u. Dan memang saat malam pertam a dan malam-malam indah setelah itu adalah saat a u sedang berada dalam masa sub ur. Allah telah mengatur sedemi ian indahnya. Segala puji bagi-Nya yang telah me mberi an anugerahNya yang agung ini pada ita berdua. A u tersenyum dan langsung mencium pipinya yang bersih. Aisha menggeliat manja.

Ia lalu mengang at telpon memberi tahu bibinya, Sarah. Ia juga memberi tahu A ba r Ali, pamannya di Tur i. A u melihat alender. Ta terasa ami telah hidup bers ama seja malam pertama itu selama satu bulan lebih. Hari-hari indah selalu berl alu begitu saja tanpa terasa. Rasanya a u baru sehari bersama Aisha. Untu menghayati eagungan ni mat yang telah Tuhan beri an, uaja Aisha sujud s yu ur dan shalat dhuha. Kepadanya a u berpesan untu tida banya bera tifitas eluar rumah. Menjelang zhuhur a u bersiap untu menjengu Maria yang sa it. Aish a uminta di rumah. Dia pesan dibeli an buah pir dan orma. Tiba-tiba ada orang membunyi an bel dengan asar se ali. A u bergegas membu a pintu dibuntuti Aisha yang penasaran siapa yang membunyi an bel seperti orang gila itu. Begitu pintu ubu a. Tiga orang polisi berbadan e ar menerobos masu tanpa permisi dan mengha rdi , Kau yang bernama Fahri Abdullah?! Ya benar, ada apa? Kami mendapat an perintah untu menang apmu dan menyeretmu e penjara, ya Mugrim ! 109 benta polisi yang ber umis tebal. Kalian bawa surat penang apan dan apa esalahan u? Ini suratnya, dan esalahanmu lihat saja nanti di pengadilan! A u membaca selembar ertas itu. A u ditang ap atas tuduhan memper osa. Bagaima na ini bisa terjadi. Ini tida mung in! Ini pasti ada esalahan. Saya tida mau ditang ap! bantah u. Jangan macam-macam, atau ami guna an e erasan! benta polisi Mesir. A u sangat g eram pada si apnya yang sangat jauh dari sopan dan elihatan sangat ang ut. Aish a cemas dan memegangi tangan u. Polisi Mesir itu ber ata- ata dengan suara eras seperti anjing menyala . Ayo i ut ami! tegas polisi urus hitam sambil memegang erat-erat tangan anan u. A u menari tangan u tapi polisi hitam menceng eramnya uat- uat dan memasang bo rgol. Tangan iri u dipegang Aisha, dia menangis. Ada apa ini Fahri, ada apa!? tanya Aisha dengan mu a pucat. Polisi ber umis menari tangan iri u dari pegangan Aisha dan mema sa memborgol u. Sebentar Kapten biar an a u sedi it bicara pada isteri u!? ucap u dengan suara teg as. Boleh. Dua menit saja! ata Si Kumis. A u lalu menjelas an pada Aisha, hal seperti ini sering terjadi di Mesir. Polisi Mesir tida mema ai azas praduga ta bersalah. Tapi praduga bersalah. Ji a dicu rigai langsung ditang ap a an dibebas an alau terbu ti tida bersalah. A u berp esan pada Aisha untu bersabar dan langsung menghubungi Paman Eqbal, teman-teman PPMI, dan Kedutaan Besar Republi Indonesia. Surat penang apannya uminta untu a u beri an epada Aisha. Tujuan u agar nanti mudah dilaca eberadaan u. Tapi polisi itu tida memperboleh annya. A u pun pasrah digelandang tiga polisi itu. Kulihat Aisha terisa -isa . A u dibawa turun melalui lift. Di halaman mobil era ng eng besi menunggu u. Sebelum masu mobil erang eng a u sempat mendonga an epala e arah jendela flat lantai 7. Di sana ulihat wajah Aisha yang basah air mata. A u tida tahu a an dibawa e mana. Dalam beberapa jam saja egembiraan ya ng a u rasa an berubah menjadi esedihan dan ecemasan. Kota Cairo yang indah ti ba-tiba terasa seperti sarang monster yang mena ut an. 109 Wahai penjahat. 23. Dalam Penjara Bawah Tanah A u dibawa e mar as polisi Abbasea. Diseret seperti anjing urap. Lalu diinter ogasi habis-habisan, dibenta -benta , dima i-ma i dan disumpahserapahi dengan a ta- ata otor. Dianggap ta ubahnya ma hlu najis yang menjiji an. Tuduhan yang dialamat an epada u sangat menya it an: memper osa seorang gadis Mesir hingga hamil hampir tiga bulan. Orang Indonesia au sungguh ana haram. Saat mengandung dirimu, ibumu ma an apa heh? Ma an bang ai anjing ya? Kau pura-pura menolong gadis malang itu ternyata au mener amnya. Kau berani menginja -inja ehormatan perempuan ami. Kau ini ma hasiswa Al Azhar, atanya belajar agama, ternyata manusia bejat berwata serigal

a! Seorang polisi hitam besar membenta u lalu menampar mu a u dengan seluruh e uatan tangannya. Kurasa an darah mengalir dari hidung u. A ui saja, au yang memper osa gadis bernama Noura yang jadi tetanggamu di Haday e Helwan pada jam setengah empat dini hari Kamis 8 Agustus yang lalu? A ui saja , atau ami pa sa au untu menga u! Ji a au menga uinya ma a urusannya a an ce pat. Kata- ata polisi itu membuat u aget bu an main. Noura hamil dan a u yang ditud uh memper osanya. Sungguh cela a! Dengan tetap berusaha ber epala dingin a u mencoba menjelas an epada mere a it u adalah sebuah tuduhan eji. Lalu ujelas an semua ronologis ejadian malam it u. Seja mendengar jeritan Noura disi sa ayah dan a a nya sampai paginya dititi p an e rumah Nurul. Tapi penjelasan u dianggap seolah suara eledai. Mere a mal ah tertawa. Dan menjadi an a u bulan-bulanan oleh hinaan, ma ian dan tamparan ya ng membuat bibir u pecah. Kami memili i bu ti uat aulah pemer osa gadis malang itu. Dia sangat menyesal mengi uti buju rayumu. Dia telah mencerita an semuanya. Dan dia juga punya sa s i au mela u an perbuatan ter utu yang merusa masa depannya itu. Kau sudah tah u bahwa hu uman pemer osa di negara ini adalah hu uman gantung. Se arang au han ya memili i dua pilihan. Menga ui perbuatanmu itu, dan au mung in a an mendapat eringanan atas erja samamu. Sehingga au mung in tida a an dihu um gantung. Atau au tetap bersi eras menging arinya dan terpa sa nanti pengadilan a an meng gantungmu. Pilih mana? Polisi hitam besar embali menggerta . Hati u sempat ciut. A u teringat ulama-ulama yang mengalami nasib tragis di tangan para algojo nega ra ini. Apa pun jalannya, ematian itu satu yaitu mati. Allah sudah menentu an a jal seseorang. Ta a an dimaju an dan dimundur an. Ma a ta ada gunanya bersi ap lemah dan ta ut menghadapi ematian. Dan a u tida mau mati dalam eadaan menga ui perbuatan biadab yang memang tida pernah a u la u an. Kapten, a u memilih membu ti an di pengadilan bahwa a u tida bersalah. A u ya i n negara ini punya undang-undang dan hu um. A u minta disedia an pengacara! Tinda an bodoh! Di pengadilan au a an alah! Kau a an dihu um gantung! Lebih da ri itu au a an masu surat abar! Kau a an diteria i orang-orang sebagai pemer osa! Kenapa au tida memilih menga uinya dan ita tutup asus ini diam-diam. Ki ta buat esepa atan- esepa atan dengan eluarga Noura se arang. Kalau mere a mem aaf an au mung in a an bernasib lebih bai .Kami masih sedi it berbelas asihan padamu arena au orang asing. Kalau au orang Mesir sudah ami binasa an! benta polisi hitam dengan mata melotot. A u bu an pela u pemer osaan itu Kapten! A u a an bu ti an bahwa a u tida bersa lah! tegas u. Bai lah a u a an memberimu wa tu berpi ir dua hari. Ji a au tetap bersi eras ti da mau menga u dan mengambil jalan ompromi ma a terpa sa au ami seret e mej a hijau dan jangan salah an ami ji a nasibmu bera hir di tiang gantungan dan na mamu dila nat semua orang! Yang berha mela nat hanya Allah. Dan hanya Allahlah yang tahu segalanya. A u ti da a an ta ut dengan caci ma i manusia selama a u merasa berada di jalan yang b enar! Hahaha au ini so pintar! Jalan benar apa? Apa memper osa itu jalan yang benar? K au ini sudah selesai S.1. di Al Azhar. Gadis-gadis Indonesia saja banya enapa eti a itu au tida memilih meni ah dengan salah satu dari mere a. Kenapa au m alah memilih memper osa gadis malang itu dengan pura-pura mau menolong? Dan itu au anggap jalan yang benar? Dasar ana anjing! Dasar ana pelacur! Polisi hitam itu mengumpat-umpat asar. Entah enapa mendengar alimat umpatan tera hir darah u mendidih. Kau yang ana anjing! Wajahmu hitam penuh dosa! Kau yang ana pelacur! Ya hrab b aita ! balas u mengumpat dengan sama asarnya. Wajah polisi itu sema in gosong. G iginya gemerutu seperti monster mau menelan u. Ia pun melayang an tangan anann ya e mu a u. Bawa dia e penjara dan cambu sepuluh ali atas penghinaannya pada u! Perintahny a pada tiga ana buahnya yang tadi menang ap u. Tiga polisi itu lalu menggelanda ng u e penjara. Inilah untu pertama alinya a u masu penjara. Kami melewati s el-sel yang berisi tahanan yang semuanya orang Mesir. Mere a semua terheran-hera

n melihat ehadiran u. Tiga polisi itu terus menggelandang u hingga sampai diseb uah ruangan osong. Ada sebuah ursi ayu usam dan didindingnya tergantung bebe rapa alat penyi sa. Cambu . Pentungan dari aret. Ganco. Tali. Dan lain sebagain ya. Polisi gendut melepas pa aian u. Lalu menyuruh u berdiri menghadap tembo . Sete lah itu a u merasa an sabetan cambu yang perih di punggung u. Tida sepuluh al i tapi lima belas ali. A u merasa an sa it luar biasa. Mere a lalu melepas borg ol u dan menyeret u e sebuah ruangan, melucuti semua pa aian u ecuali pa aian dalam. Juga sepatu u. Dalam eadaan hanya mema ai celana dalam mere a menggundul i u. Lalu melempar seragam tahanan e arah u. Cepat-cepat a u menutup aurat. Si Kumis menyuruh a u berdiri tegap dengan tangan dileta an dibela ang punggung. S i Hitam memegang edua tangan u yang ulipat dibela ang punggung uat- uat. Seme ntara Si Gendut mengi at edua a i u. Lalu dengan sangat urang ajar Si Kumis m empermain an emaluan u. A u menjerit-jerit dan meronta-ronta. Meludahi Si Kumis . Tapi mere a terus saja terbaha -baha seperti setan. Ini yang diguna an untu m emper osa itu oh..oh..oh! Burung a a tua..hehehe.. ecil se ali ta ada apa-apa nya dengan mili u hehehe..tapi berani urang ajar ya hehehe..hahaha! Sungguh perla uan yang sangat tida manusiawi. A u merasa an penghinaan yang lua r biasa. A u belum pernah merasa an diri u dihina dan ehormatan u dinista an se nista itu. A u lebih su a dirajam daripada dihina seperti itu. Ji a a u sampai t erlihat mengucur an air mata, ma a etiga setan itu a an sema in gila tertawanya . A u merintih dalam hati. Batin u menangis sejadi-jadinya memohon eadilan epa da Allah. Agar mere a diganjar atas e urangajaran mere a. A u terus menjadi bul an-bulanan mere a sampai a u tida sadar an diri. * * * Keti a sadar, a u berada di sebuah amar gelap dan pengap. Alhamdulillah, au sudah sadar. Suara orang yang urasa sangat tua. Di eremangan cahaya buram lampu di luar amar yang masu melalui jeruji pintu sel a u bisa m enang ap wajah orang tua berjenggot putih dudu di de at u.lalu empat orang lain nya. Dua setengah baya dan dua lainnya muda. Mere a semua mema ai pa aian tahana n yang lusuh. Kelihatannya au bu an orang Mesir? tanya a e tua ramah. A u sedi it tenang men dengar suaranya yang lembut. Tapi a u uatir dengan yang empat, alau mere a ora ng-orang yang jahat a u bisa jadi bulan-bulanan di penjara ini. A u pernah mende ngar adanya hu um rimba di dalam penjara. Apalagi a u asing sendiri di sini. Dari Indonesia. Siapa namamu? Fahri Abdullah Shiddiq. Nama yang bagus. Nama u Abdur Rauf. Apa yang au la u an di Mesir? Hanya belajar. Di mana? Di Al Azhar. Masya Allah. Lantas bagaimana ceritanya au bisa masu penjara ini? Musibah ini datang begitu saja. A u dituduh memper osa gadis Mesir, padahal a u tida pernah mela u an perbuatan eji itu. Bagaimana mung in a u a an mela u ann ya padahal a u memili i seorang ibu, bibi, isteri dan nanti mung in seorang ana perempuan. A u ter adang tida bisa memahami sistem yang berla u di negara ini? Di mana au ditang ap? Di rumah. Nasibmu masih lebih bagus dari u Ana muda. A u ditang ap disaat sedang menguji tesis magister di universitas. Di depan se ian banya orang a u diperla u an sep erti ti us. Jadi Anda seorang guru besar? Pemuda berwajah putih yang seja tadi mematung di pojo ruangan menyahut sambil mende at, Beliau adalah Prof. Dr. Abdur Rauf Manshour, guru besar e onomi pemba ngunan di Universitas El-Menya. Beliau emung inan ditang ap arena riti - riti tajamnya di oran! Oh ya per enal an nama u Ismail, mahasiswa edo teran tahun etiga Universitas Ains Syam, ditang ap arena memimpin demonstrasi di dalam a mpus mengutu tinda an Ariel Sharon menginja -inja Masjidil Aqsha dan perla uan

ejam tentara Israel pada ana -ana Palestina terutama penemba an Muhammad Al D orrah dua tahun lalu. Jadi au sudah dua tahun mende am di sini? Ya. Dan hanya arena memimpin demonstrasi di dalam ampus? Ya. A u lebih tragis lagi! Pemuda yang satunya menyahut, a u tida mela u an apa-apa j uga ditang ap. Kau tentu tahu demonstrasi di masjid Al Azhar usai shalat Jum at sa tu tahun yang lalu yang menentang agresi Ameri a e Afganistan. Demonstrasi itu tida besar. Bisa di ata an bu an demonstrasi malah. Lebih tepat di ata an prote s. Keti a orang-orang berta bir a u i ut berta bir. Hanya itu. Keluar masjid a u ditang ap dan mende am di sini sampai se arang. Kenal an nama u Ahmad biasa dip anggil Hamada. A u tida uliah, lulus SLTA langsung be erja di penerbit Muassas a Resala. Muassasa Resala di de at Abidin Attaba itu? tanya u. Benar. Kami lalu berbincang banya dan saling mengenal satu sama lain. Dua lela i sete ngah baya bernama Haj Rashed, dia epala se olah SD dan imam sebuah masjid ecil di Mathariyah. Ditang ap dua bulan lalu arena hutbah Jum atnya yang pedas. Yang satunya bernama Marwan, mantan pegawai jawatan ereta api, dipenjara seja sete ngah tahun lalu arena membunuh tetangganya yang menggoda isterinya. A u ini orang paling besar cemburunya di dunia. Sebenarnya a u sudah bersabar da n beberapa memberi peringatan pada pria urang ajar itu. Tapi dia sungguh eterl aluan. Rumah ami dua ting at di atasnya. Suatu eti a isteri u belanja, eti a pulang satu lift dengannya. Di dalam lift itulah dia menggerayangi isteri u. Ist eri u lapor pada u. Se eti a itu juga udatangi dia dan upancung dia. Dia elir u alau menganggap diri u tida bisa berbuat sesuatu. Seandainya dengan perbuata n u ini a u a an dihu um mati a u a an menerimanya dengan senang hati. A u meras a puas arena a u telah membela ehormatan isteri u. Cerita Marwan langsung mengingat an diri u pada Aisha. Oh Aisha, dia tentu sang at sedih se arang. Dia sendirian di flat memi ir an nasib u dengan penuh ecemas an. A u meniti an air mata dan berdoa epada Allah agar memberi an etabahan pa da Aisha dan agar melindunginya dari segala mara bahaya. Orang Indonesia, siap anlah mentalmu! Kau a an menghadapi hari-hari yang mence a m. Hari-hari yang tida au etahui apa ah au masih hidup atau telah mati. Kama r ita ini hanya beru uran tiga ali tiga. Kau lihat a u berdiri di atas genanga n Air. Padahal se arang sudah mulai masu musim dingin. Setengah ruangan ini ter genang air. Kau ini dudu dibagian yang ering. Selama ini ita tidur bergantia n. Ter adang tidur sambil berdiri. Kita diberi esempatan e WC dan amar mandi sehari se ali menjelang shubuh. Itupun dalam antrean yang panjang dan ter adang ita sama se ali tida punya esempatan e WC arena wa tu yang diberi an telah habis. Siap anlah mentalmu! ata Professor Abdul Rauf. Gelap dan pengap. Apa ah ita berada di bawah tanah? tanya u. Benar! Oh ya, tadi au pingsan cu up lama. Kelihatannya au belum shalat ashar, j awab Professor Abdul Rauf. Astaghfirullah. Pu ul berapa se arang? tanya u. Pastinya tida tahu, tapi sebentar lagi maghrib datang. Tayammum? Ya. A u lalu tayammum dan shalat. Selesai shalat Professor Abdul Rauf memimpin ami membaca doa dan dzi ir sore hari. Ditutup doa rabithah yang dibaca oleh Haj Ras hed. Ta lama setelah itu azan maghrib ber umandang. Adil bergumam lirih, Ya Allah, inilah saat malam-Mu datang menjelang, dan siang-Mu telah berlalu, dan inilah suara dari para penyeru-Mu ma a ampunilah ami. Karena tempat yang sempit ami tida bisa berjamaah se aligus. Terpa sa dibagi dua jamaah bergantian. A u diminta menjadi imam jamaah edua, dengan alasan a u satu-satunya yang dari Al Azhar. A u membaca surat Yusuf, ayat-ayat yang menceri ta an nabi mulia itu dipenjara di Mesir arena tuduhan Zulai ha. Sungguh nasib u ta jauh berbeda dengan Yusuf. Noura menga u a u telah memper osanya. A u menan gis dalam shalat.

Bacaan Al-Qur anmu indah dan tartil, di mana au talaqqi? tanya Haj Rashed Di Shubra. Pada Syai h Ustman Abdul Fattah. Yang di masjid Abu Ba ar itu? Benar. Pantas. Beso malam sudah mulai tarawih. Kau saja imamnya ya? Pertanyaannya embali mengigat an a u pada Aisha. Dia a an menjalani Ramadhan s endirian dengan hati sedih. Rencana umrah e tanah suci dan berhari raya di Indo nesia tida jadi. Oh begitu cepat perubahan terjadi. Kemarin malam a u masih tid ur nyaman di hotel berbintang di Alexandria bercinta dengan Aisha begitu mesrany a. Malam ini a u mering u edinginan di penjara bawah tanah. A u nyaris tida b isa memejam an mata. Seluruh tulang terasa ngilu, ulit edinginan, punggung per ih bu an main, dan emaluan sa it luar biasa. Bayang-bayang ematian mengintai d i semua sudut ruangan, tapi a u bersi eras untu bertahan. Keeso an harinya terdengar lang ah sepatu bot. Lalu suara orang membenta sambi l menggedor pintu sel, Tahanan nomor 879! Ta ada yang menjawab. Semua diam. Ismail dan Haj Rashed berpandangan. Hai tahanan 879! Anjing! Dungu ya? Sipir penjara itu marah se ali. Ismail menepu punda u. Coba lihat nomormu! Pelannya. Ia lalu mende at an matany a e dada u. Dalam eremangan gelap tertulis di sana nomor 879. Berarti a u yang dima sud. A u lalu beranja menuju pintu yang telah dibu a. Sipir itu langsung menari u dengan asar dan menendang u, Dungu au! A u embali dibawa e ruang interogasi. Polisi hitam besar yang emarin mengint rogasi u telah menunggu dengan segelas teh ental di tangan anannya. Begitu a u masu ia tersenyum sinis. Dua orang polisi yang emarin menang ap u juga ada di situ. Si Hitam dan Si Gendut. A u tida melihat Si Kumis yang urang ajar itu. Bagaimana orang Indonesia? Kau mau menga ui perbuatanmu? A u berjanji a an mengu saha an eringanan hu umannya? tanyanya. A u tida berubah pi iran. A u tida mela u an perbuatan dosa itu. Bagaimana mun g in a u a an menga uinya. A u a an bu ti an bahwa a u tida bersalah! jawab u te gas. Semua penjahat selalu ber ata begitu. Kau sungguh bodoh! Ji a au sampai e meja hijau au a an alah. Bu ti au bersalah sangat uat! Kau a an digantung! Kau m asih punya esempatan satu hari untu berpi ir. Sipir beri dia sedi it sarapan p agi biar pi irannya cerah! Dua ana buahnya itu lalu membawa u e ruangan penyi saan. A u disuruh berdiri tega . Si hitam mengang at ursi ayu, dua a i bela ang ursi itu dileta an di atas telapa a i u. Dan Si Polisi Gendut lalu mendudu i ursi itu. Terang saja a u menjerit esa itan. Telapa a i u terasa remu tulang-tulangnya. Dan eti a a u menjerit Si Hitam menjejal an roti eras e mulut u hingga menyodo tenggor o an u. A u mau muntah tapi raoti ering itu tetap dijejal an e mulut u. Keti a a u sudah tida tahan dan nyaris pingsan ia menari roti itu dan si gendut bang it dari ursi itu. A u dibiar an istirahat sebentar, lalu disuruh menghadap e dinding dan dicambu lima ali. Belum juga puas, mere a lalu menyodo perut u ya ng masih osong dengan popor bedil tiga ali sampai a u muntah. Rupanya itu yang dima sud dengan sedi it sarapan pagi. Dengan tubuh lemas a u diseret dan dilemp ar embali di sel bawah tanah. Dan a u jatuh tertelung up di dalam sel ta sada r an diri. 24. Tangis Aisha Yang ulihat pertama ali adalah wajah Ismail eti a a u bangun. Kepala u ada d i atas pahanya. Ia tersenyum pada u. A u merasa haus se ali. Seja emarin tengg oro an u belum ter ena setetes air sama se ali. A u haus se ali, lirih u sambil menahan rasa sa it dise ujur tubuh u. Hamada, ambil an susu itu! Kata Professor Abdul Rauf. Hamada mengambil botol berisi susu dan meminum an pada u. A u menengga tiga te gu . Sudah, ata u. Minumlah lagi, biar tubuhmu segar! pa sa Ismail. A u menengga tiga tegu lagi. Sudah! ata u.

Apa yang mere a perla u an terhadapmu? Dengan suara terbata a u mencerita an semua bentu penyi saan yang a u terima s eja emarin sampai tadi pagi. Juga perla uan mere a yang eji atas emaluan u. Mere a sungguh biadab! geram Ismail mendengar cerita u. Mere a memang sangat biadab. Lebih biadab dari Iblis! Dan apa au terima masih b elum seberapa dibanding an para ulama yang disi sa habis-habisan tahun enam pulu han. Bah an ada dua orang ulama yang ditelanjangi dan dipa sa mela u an perbuata n aum nabi Luth. Tentu saja mere a tida mau mela u an perbuatan ter utu itu. A hirnya mere a berdua mati syahid jadi santapan anjing ganas yang lapar. Kisah P rofessor Abdul Rauf dengan suara bergetar. A u bergidi mendengarnya. Perla uan mere a yang eji pada u terbayang embali. Membuat hati u perih dan sa it se ali. A u ta bisa membayang an sa itnya seoran g perempuan diper osa. Kehormatannya dinodai. Betapa sa itnya mere a. Gilanya a u dituduh mela u an perbuatan bejat yang menya it an perempuan itu. Perbuatan ya ng sangat ubenci dan u utu , tida mung in a u la u an. Rasa gilu dan sa it be rgumul dalam hati bercampur marah, bertumpu -tumpu , mendera-dera, menyesa -nyes a dalam dada. Sudahlah ita ma an dulu. Alhamdulillah, ada sedi it riz i dari Allah Swt.! ata Professor Abdul Rauf. Haj Rashed mengambil bung usan dari pojo ruangan. Tiga roti isy yang empu dan lebar, satu ayam panggang digelar dan satu plasti apel. A u bang it dudu perla han. Apa ah semewah ini jatah dari penjara? tanya u. Ta lama lagi au a an tahu seperti apa jatah penjara, sahut Hamada. Lebih laya untu santapan binatang! tu as Marwan. Haj Rashed ber ata: Yang ita ma an ini adalah iriman dari isteri Professor Abdul Rauf. Untu bisa memasu an ma anan ini e penjara dia harus membayar seratus pound epada petuga s. Kirimannya juga dirampas setengahnya. Aslinya adalah dua botol susu, enam lem bar roti Isy, dua buah ayam ba ar dan dua ilo apel. Tapi para sipir itu minta s eparo bagian. Tida setiap saat eluarga ami boleh mengirim ma anan. Satu bulan hanya diizin an dua ali saja. Ma anan ini sudah datang seja tadi pagi. Bebera pa menit setelah amu dibawa eluar. Kami tida mung in ma an tanpa menunggumu. Kami ya in au pasti sudah lapar. Wajahmu sedemi ian pucatnya. Rasulullah tida mengizin an perut ita enyang sementara orang terde at ita elaparan. Penjelasan Haj Rashed membuat diri u terharu. Bahwa diri u berada di tengah-ten gah orang bai . Mere a begitu perhatian pada u. Kami pun ma an bersama penuh ni mat dengan diselimuti rasa persaudaraan yang uat. Setelah ma an dan minum beber apa tegu susu tubuh u terasa memili i e uatan embali. Ta lama setelah itu seorang sipir menggedor pintu dan dari jeruji atas ia mele mpar an enam roti isy ering. Ia melempar roti itu seperti melempar ma anan pada anjing. Isy itu melayang bertebaran. Ada yang mengenai mu a Professor. Ada yang jatuh di a i Ismail dan ada yang masu air yang menggenang di sebagian lantai. Ini jubnahnya! 110 teria sipir itu melempar bung usan hitam. Ismail memunguti isy itu dan mengumpul annya. Yang jatuh e genangan air ia pis ah an. Ia mengambil selembar Isya yang sudah ering itu serta bung usan hitam da n menyerah annya pada u. 110 Jubnah: eju putih seperti tahu. Inilah jatahnya. Sehari se ali. Coba au lihat! ujarnya pada u. A u pegang isy itu. Kering dan a u. Kubu a plasti hitam, baunya sudah tida aruan. Tapi ita tetap harus menerimanya dengan sabar. Yang jatuh e dalam genangan air otor itu pun suatu eti a ada gunanya. Dahulu baginda nabi dan para sahabat per nah sampai ma an rerumputan dan a ar pepohonan, lanjut Ismail. Kembali a u teringat hari-hari indah bersama Aisha. Ma an tida pernah urang. S elama di Alexandria selalu di restoran hotel. Semua ena dan penuh gizi. Dan tib a-tiba ini a u harus siap dengan ma anan yang laya nya untu ti us dan ecoa. A u masih merasa an Allah Maha Pemurah, ma an pertama di penjara adalah ayam pang gang leng ap dengan sebutir apel merah yang segar.

Malam harinya ami tarawih. Kami mengatur sedemi ian rupa agar ami tetap bisa s halat tarawih berjamaah bersama. Haj Rashed minta satu juz dalam delapan ra aat. Inilah untu pertama alinya a u jadi imam tarawih di Mesir. Dan di dalam penja ra. Setengah tiga ami bangun, tahajjud sebentar lalu sahur. Apalagi yang ami m a an alau bu an jatah tadi siang. A u hampir muntah tapi utahan-tahan. Kulihat Professor dan teman-teman lainnya ma an dengan santai. Di pojo ruangan ada emb er plasti . Kami bergantian minum dari air yang ada di ember itu. Kita beruntung minum dari ember. Di amar paling pojo sana tempat airnya adalah aleng be as yang sudah aratan, ata Hamada. A u teringat Aisha, bagaimana ah dia se arang. Apa ah juga sedang sahur, atau ah sedang menangis sendirian. A u sangat merindu annya. * * * Sampai hari etiga ditahan, belum juga ada yang menjengu u. Mes ipun diinterog asi dan dipa sa seperti apapun a u tetap bersi u uh tida mau menga ui da waan i tu. A u tetap memilih membu ti an tida bersalah di pengadilan. Pengadilan perta ma a an digelar tiga hari lagi. A u cemas. A u perlu pengacara dan sa si yang me mbela u bahwa a u tida bersalah. Teman-teman satu rumah di Hadaye Helwan. Kelu rga Tuan Boutros. Nurul dan teman-temannya. Dan Syai h Ahmad. Mere a bisa menjad i sa si. Tapi bagaimana a u bisa menghubungi mere a. Isteri u, Aisha yang sangat urindu an belum juga datang menjengu . KBRI atau PPMI belum juga tampa batan g hidungnya. A u sangat gelisah dan sedih. A u uatir mere a tida mau mengerti arena terma an oleh fitnah eji itu. A u ta ut Aisha tida percaya pada u dan m embenci u. A u ta uat memendam semua egelisahan dan e uatiran ini. A hirnya uutara an semuanya pada Profesor Abdul Rauf dan teman-teman. Fahri, au jangan uatir. A u ya in mere a semua sudah tahu dan sudah bergera . Cuma memang piha epolisian yang sengaja mengulur wa tu agar au tida segera b isa bertemu dengan mere a. Dulu, wa tu a u ditang ap, satu bulan eluarga u menc ari u ingin bertemu tapi tida bisa. Baru bulan edua mere a menemu an u. Isteri mu mung in se arang sedang pontang-panting dipermain an para polisi tida bertan ggung jawab itu. Mung in sudah sampai di antor penjara ini. Tapi piha eamanan a an bilang sudah dipindah e Tahrir. Nanti yang Tahrir a an bilang dipindah e Nasr City. Dan seterusnya. Begini saja nanti ibu u mau menjengu u. Beri anlah nomor handphone isterimu, biar ibu u memberitahu dia bahwa au ada dipenjara ini , ata Ismail memberi saran. Untung a u ingat nomor handphone Aisha. A u beritahu nomor itu pada Ismail sampai dia hafal betul. Dan nanti ibunya a an menghafal n omor itu. Ji a satu ang a saja salah ma a nasib u a an sema in buru . * * * Hari eempat. Setelah menerima sarapan pagi dari sipir penjara berupa cambu an, pu ulan dan t amparan a u mendapat panggilan. Seorang sipir menggelandang u dengan tergesa-ges a e balai pengobatan penjara. Seorang do ter militer dan dua perawat membersih an mu a dan beberapa bagian tubuh u yang lu a. Penampilan u mere a perbai i sede mi ian rupa. Lalu a u diaja e sebuah ruangan. Di sana ada tiga soso menunggu u, Paman Eqbal, Magdi penjaga apartemen ami dan seorang perempuan bercadar yang a u ya in dia adalah Aisha. Begitu melihat soso u perempuan bercadar itu berha mbur e arah u. Ia memelu u erat-erat sambil menangis. A u pun menangis. Ia men atap u dalam-dalam dan meraba wajah u dengan edua tangannya yang halus. Bagaimana eadaanmu, Fahri, Suami u? A u bai -bai saja. Kau bagaimana? Aisha menangis tersedu-sedu dalam pelu an u. Apa dosa ita berdua Fahri sampai ita harus menanggung cobaan seberat ini. A u nyaris ehilangan sesuatu yang pali ng berharga yang a u mili i alau seandainya tida diselamat an oleh Magdi. Kau harus berterima asih padanya. Dia telah menyelamat an esucian isterimu ini Fah ri. Aisha ber ata sambil terisa -isa . Apa sebenarnya yang terjadi setelah hari itu? tanya u penasaran. A u ta sanggup mencerita annya. Tanya anlah pada Magdi? jawab Aisha dengan tetap memelu erat diri u. Kami lalu dudu . Kutanya an apa yang terjadi pada Aisha pada Magdi. Dengan tena ng Magdi, polisi yang sering ujumpai shalat berjamaah di masjid de at apartemen itu bercerita:

Sebelumnya maaf an diri u, a u tida bisa membantumu saat au ditang ap. Karena mere a membawa surat penang apan leng ap. Mes ipun a u secara pribadi tida ya i n a an ebenaran tuduhan yang diguna an sebagai alasan penang apanmu. Dan anggap an u ini aga nya benar. Satu hari setelah au ditang ap, se itar jam sepuluh pag i polisi ber umis yang i ut menang apmu itu embali datang. Ia minta izin mau be rtanya sedi it pada Madame Aisha, isterimu. A u menanya an surat izinnya. Dia bi lang tida bawa tapi ini tugas penting yang harus di erja annya. Dia hanya a an bertanya beberapa hal pada Aisha, membutuh an wa tu ta lebih dari sepuluh menit saja. A hirnya uizin an dia nai . Namun a u dan Hosam punya firasat tida bai dan curiga dengan tinda -tandu nya. Diam-diam ami nai juga e atas membuntuti nya mema ai lift satunya. Sampai di lantai 7 ami aget oleh teria an Madame Ais ha. Kami berdua langsung mendobra pintu se uat tenaga. Dan ami melihat Si Kumi s sedang mengejar Madame Aisha di ruang tamu henda memper osanya. Se eti a itu juga dia ami be u ! Darah u mendidih, a u nyaris tida bisa menguasai amarah u mendengar cerita Mag di. Kurang ajar! A an ucari dan ubunuh eparat itu! teria u dengan mengepal an tan gan uat- uat. Bagi u ehormatan isteri u adalah segala-galanya, jauh diatas eh ormatan diri u sendiri. Kesucian isteri u sama dengan esucian itab suci, tida boleh ada seorang pun yang menodainya apalagi menginja -inja nya. Kesucian iste ri u adalah nyawa u. Keti a ada orang yang berusaha menjamah esuciannya ma a ny awa u a an upertaruh an untu membelanya. Seandainya a u punya seribu nyawa a a n a u orban an semuanya untu menjaga esucian isteri u tercinta. Mati seribu ali lebih ringan bagi u daripada ada orang yang menjamah esuciannya. Malai at m aut pun a an a u hajar ji a dia mencoba-coba menodainya. A u rela dijulu i apa s aja untu membela esucian isteri u tercinta. Insya Allah, au tida a an lagi bertemu dengannya! ata Magdi sambil tersenyum. Ma sudmu? tanya u. Dia sedang diproses e tiang gantungan. Dia terlalu bodoh. Dia salah perhitungan . Dia mengira isterimu adalah orang Indonesia. Dan au tentu tahu banya perempu an Indonesia diper osa di mana-mana, di Saudi, di Singapura, di Malaysia, di Hon g ong, di Taiwan, juga beberapa ali di Mesir dan para pemer osanya tida tersen tuh hu um sama se ali. Diplomasi Indonesia sangat lemah. Si Kumis itu beranggapa n begitu. Dia merasa perbuatannya a an aman-aman saja sebab yang a an ia per osa adalah perempuan Indonesia. Dia menganggap ami berdua seperti penjaga aparteme n biasa yang tida a an berani mengusi nya. Tapi dia eliru. Kami tida a an mem biar an siapa pun berbuat jahat di apartemen yang ami jaga. Dia langsung ami b e u begitu tertang ap basah henda mela u an perbuatan jahat itu. Madame Aisha langsung mengonta Mr. Minnich, Atase Politi Kedutaan Jerman. Kedutaan Jerman l angsung mengonta ementerian luar negeri meminta agar penjahat yang mencoba men ya iti warganya ditinda tegas sesuai hu um yang berla u di Mesir yaitu hu uman gantung. Si Kumis itu dalam tahanan ami masih bisa tertawa arena ia ya in a an ada yang membebas annya. Benar, lima jam setelah itu ada perintah untu membeba s annya. Namun belum sempat ami bebas an sudah ada perintah lagi untu memprose snya secara hu um. Yang ami tahu Jerman mengancam a an mengopini an di negarany a dan di Eropa bahwa Mesir tida aman ji a polisi brengse itu tida ditinda te gas. Jerman juga mengancam a an membatal an beberapa erjasama perdagangan dan p erindustrian dengan Mesir. Menurut Mr. Minnich eselamatan seorang warganya sama dengan eselamatan presidennya. Ta ada pilihan bagi pemerintah Mesir ecuali m eninda tegas seorang o num tida bertanggung jawab itu. Tapi setelah ami selid i i aga nya memang ada s enario jahat yang ingin menghancur an dirimu dan eluar gamu, Fahri! jawab Magdi. Ma sudmu? A u sudah bertemu Syai h Ahmad. Beliau meya in an pada u bahwa au tida mung in mela u an hal itu. Selama tiga hari emarin di samping menangani asus Si Kumis , a u dan Eqbal berusaha mencari di mana au berada. Si Kumis bilang di serah an e penjara Tahrir. Piha Tahrir bilang sudah dibawa e Nasr City. Nasr City bil ang sudah diambil Abbasea. Piha Abbasea bilang sudah dibawa lagi e Tahrir. Ada orang yang cu up punya uasa yang mendalangi semua ini, emung inan dia seorang o num dari Keamanan Negara, sampai a u nyaris tida berdaya dan para polisi itu

juga ta ut memberi an eterangan jelas mengenai eberadaanmu. Piha Kedutaan In donesia juga alot di Tahrir. Untung tadi pagi Aisha mendapat telpon dari seorang perempuan yang mengata an ana nya satu sel denganmu. Dan ami langsung meluncur emari. Kasus Aisha sudah beres, au tinggal menunggu abar penjahat itu digant ung. Se arang tinggal masalahmu. Masalah yang tida mudah. Coba cerita anlah pad a u bagaimana sebenarnya yang terjadi sampai au dituduh memper osa gadis bernam a Noura itu? A u lalu menjelas an semua yang terjadi malam itu, dimulai dari abar elulusan u, ma an ayam panggang di Sutuh bersama teman-teman, jeritan Noura, minta tolon g Maria, sampai menitip an Noura pada Nurul di Masa in Utsman. Juga a u cerita a n sepucu surat cinta dan ucapan terima asih dari Noura. Di mana surat itu se arang? A u beri an pada Syai h Ahmad. Seorang polisi memberi tahu wa tu ber unjung telah habis. Aisha memberi an bung usan berisi ma anan. Dia mengaja u e pojo ruangan. Di sana dia membu a cadar nya sehingga a u bisa menatap wajahnya. Dia menangis dan tampa sedih. A u menci um pipinya. Jaga diri bai -bai , jaga esehatanmu dan andunganmu, teruslah berdo a dan mende at an diri pada Allah agar semua masalah ini dapat teratasi. A u san gat mencintaimu, isteri u. Aisha terisa , A u juga sangat mencintaimu. Kau besar anlah jiwamu suami u, a u berada disampingmu. A u tida a an terma an tuduhan jahat itu. A u ya in a an e sucianmu. Kalau seandainya au mengizin an a u ingin dipenjara bersamamu agar a u bisa menyedia an sahur dan bu a untu mu. Kau jangan berpi ir seperti itu. Kau tenang anlah pi iranmu. Ya inlah semuanya a an selesai dengan bai . Banya orang bai yang a an membantu ita. Se arang yan g harus au prioritas an adalah perhatianmu pada andunganmu. Se arang au tingg al di mana? Apa sendirian di Zamale ? Tida . Seja ejadian itu a u tinggal bersama bibi Sarah dan paman Eqbal. Bagus. Kau a an lebih tenang di sana. Aisha embali memasang cadarnya. Paman Eqbal dan Magdi mende ati ami. Mere a p amitan. A u merang ul paman Eqbal dan minta doanya. Juga merang ul Magdi dan men gucap an banya terima asih padanya. Mere a lalu eluar. A u beranja mengambil bung usan besar berisi ma anan. Tiba-tiba Magdi embali. Sst..Fahri cerita an pada u au diinterogasi bagaimana? A u mencerita an semuanya. Pa saan untu menga ui perbuatan itu dan a u bersi u uh tida mau menga uinya. Keputusan yang tepat se ali. Sebab ji a au menga u dan menandatangani ber as pe nga uan ma a sangat sulit diselamat an. A u dan Eqbal a an mencari pengacara yan g bai untu mu. Kapan sidangnya? Tiga hari lagi. Si saan apa yang au terima selama tiga hari ini? A u mencerita an semuanya. Termasu e urangajaran Si Kumis mempermain an emal uan u. Juga si saan setiap pagi. Tapi umohon au jangan cerita an si saan-si saan ini pada Aisha atau paman Eqba l mere a a an sedih. Biarlah nanti ucerita an sendiri setelah eluar dari penja ra ini. Yang au terima itu masih termasu ringan. Jangan uatir. Sa it hatimu pada Si K umis itu biar teman-teman u yang nanti membalasnya. Dia memang polisi urang aja r. A u a an mencoba berbicara pada epala penjara ini. Dan ma anan ini, ji a dir ampas sama sipir penjara nanti bilang. Terus ciri-ciri sipir itu bagaimana? A u a an mengurusnya. Sudah ya satu hari sebelum sidang, insya Allah a u dan pengaca ra yang a an membelamu a an datang emari. A u pamit dulu. Selamat beribadah oh ya ada salam dari Syai h Abdurrahim Hasuna, imam masjid ita. Beliau i ut berbel a sung awa atas musibah yang menimpamu dan beliau a an i ut serta mendoa anmu. Terima asih atas segalanya Magdi, salam bali untu beliau. Magdi pergi. A u embali e sel. A u beritahu mere a apa yang terjadi. Mere a s emua i ut senang dan berdoa semoga a u cepat bebas dari penjara ini. Bisa emba li belajar dan pulang e Indonesia mengamal an ilmu yang udapat di bumi para na bi ini. Ismail membu a bung usan besar yang ubawa. Ia heran bagaimana a u bisa membawa ma anan sebanya itu. Kujelas an semuanya.

Alhamdulillah, di dunia ini masih ada polisi bai seperti Magdi, gumam Ismail. Dia SLTA di ma had Al Azhar Damanhur, sahut u. Pantas. Tapi Si Noura, gadis itu juga ma had Al Azhar, enapa dia bisa berbuat sejahat itu ? heran u. A u ya in itu bu an semata-mata emauan Noura. Setida nya ada sesuatu yang mene annya. Puteri u yang nomor tiga juga di Al Azhar, dan dia sangat jujur, tu as Haj Rashed. Belum puas ami berbincang terdengar lang ah sepatu bot dan pintu ami digedor. Tahanan 879! teria nya seperti anjing menyala . Ya! jawab u dengan suara eras. Ayo i ut! A u dibawa e ruang penerimaan tamu. Di sana sudah ada Staf Konsuler KBRI dan Ke tua PPMI. Keduanya memelu u erat-erat. Mere a berdua ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi dengan u. A u cerita an ronologis penang apan u dan da waan yang d ialamat an epada u. Staf onsuler berjanji a an membantu se uat tenaga membebas an a u dengan upaya diplomatis, mes ipun dengan nada yang aga pesimis, Tahun 1995 pernah ada mahasiswa ita yang mengalami nasib mirip denganmu. Dia nai lift. Di dalam lift ada ana ecil Mesir. Entah enapa ana ecil itu menangis . Ana ecil itu melapor pada edua orang tuanya ta ut pada mahasiswa ita itu. Orang tuanya melapor pada polisi menuduh mahasiswa ita mencoba mencabuli ana ny a. Padahal mahasiswa ita tida berbuat demi ian, dia hanya menyapanya dan menga ja nya bicara seperti alau bertemu dengan ana -ana di Indonesia. Polisi lebih percaya pada pengaduan orang tua ana itu. Orang Mesir ji a sudah menyinggung e hormatan perempuan sangat sensitif. Menyiul perempuan berjalan saja bisa ditang ap polisi ji a perempuan itu merasa terhina dan tida terima. A hirnya mahasiswa ita itu dipenjara beberapa bulan. Ia di eluar an dari Al Azhar dan dideportasi . Ia tida dihu um gantung arena setelah divisum ana ecil itu memang tida ap a-apa. Bayang an, hanya arena mengaja bicara ana ecil di dalam lift, mahasis wa ita dipenjara. Dan piha KBRI tida bisa berbuat apa-apa. A hirnya mahasiswa ita itu harus eluar dari Mesir. Se arang ia belajar di Tur i. Bah an i ut mem bantu staf KBRI di sana. Juga menjadi pemandu travel bagi orang Indonesia yang m elancong e Tur i yang biasanya satu pa et dengan umrah. Di sana dia malah aya dan ma mur se arang. Untu asusmu ini, ita a an berusaha se uat tenaga. Tapi ita tida bisa menjamin eberhasilannya. Kata- ata staf onsuler KBRI itu membuat hati u ciut. A u tiba-tiba ingin jadi w arga negara Ameri a saja. Ji a a u warga negara Ameri a pasti polisi Mesir tida berani berbuat macam-macam. Menyentuh ulit u saja mere a tida a an berani apa lagi mengancam hu uman gantung. Ji a a u jadi warga negara Ameri a, mung in sean dainya benar-benar memper osa pun, tetap selamat. Sebab presiden Ameri a a an i ut bicara membela warganya seperti eti a Clinton membela warganya yang dicambu di Singapura. Lain Ameri a lain Indonesia. Apa yang dibela oleh presiden Indone sia alau bu an jabatan dan perutnya sendiri? Mana mung in dia mendengar rintiha n dan rasa sa it u dicambu tiap pagi dan membe u edinginan di bawah tanah dala m musim dingin yang membuat tulang ngilu? Apalagi diri u yang jauh di Mesir. Sed ang an ribuan gadis Indonesia dijual, dirobe -robe ehormatannya dan diperla u an seperti binatang di Singapura saja presiden diam saja? Kapan dalam sejarahnya ada Presiden Indonesia membela ra yatnya? Kecuali Soe arno di zaman mempertahan an emerde aan. Kalau ami, apa yang bisa ami bantu menurut Mas Fahri? ata Ketua PPMI. Pertama, a u ingin du ungan seluruh teman-teman dari Indonesia. Demi Allah yang m engetahui apa yang tersembunyi di langit dan di bumi, a u tida mela u an perbua tan yang dituduh an epada u itu. A u ingin du ungan moral dari teman-teman semu a. Tolong disosialisasi an isah yang sebenarnya. Orang satu rumah dengan u dan Nurul tahu a an hal itu. Ji a nanti ada wartawan Mesir mewawancarai tolong opini an yang bai mengenai diri u, tolong! Juga teman-teman yang jadi oresponden me dia massa di tanah air tolong isah an yang sebenarnya jangan yang malah menimbu l an interpretasi yang macam-macam. Kedua, epada PPMI dan KBRI mohon erjasama dengan pengacara u nanti. Se arang isteri u dan seorang polisi Mesir yang bai s

edang mencari pengacara untu membela u. Tolong bantu mere a. Ketiga, mohon doa teman-teman Indonesia semuanya, eti a sahur, eti a tarawih, eti a shalat mala m. Doa an a u selamat dari ujian berat ini. Itu saja harapan u saat ini. Jelas u dengan sedi it terisa , sebab masalah yang a u hadapi sangat serius. Nyawa u sed ang terancam. Staf KBRI dan Ketua PPMI berjanji a an memenuhi einginan u itu. A u mengucap an terima asih atas unjungan mere a. Mere a minta maaf terlambat t api itu arena piha epolisian Mesir yang membuat urusan berbelit-belit. Sesedih apapun, unjungan KBRI dan PPMI menambah e uatan dalam diri. Kedatanga n mere a berdua seolah berisi dorongan moral dari seluruh saudara setanah air di Indonesia. Di negeri orang, orang satu tanah air yang berlainan pulaupun menjad i seperti saudara sendiri. Apalagi yang satu pulau. Satu propinsi. Satu abupate n. Satu ecamatan. A u merasa diperhati an oleh dua ribu lima ratus lebih mahasi swa Indonesia yang ada di Mesir. Rasa cinta u pada mere a sema in membulat, juga pada segenap saudara di KBRI. * * * Satu hari menjelang sidang Aisha, paman Eqbal, dan Magdi datang membawa seoran g pengacara bernama Amru. Dia mengingin an diri u mencerita an semua hal yang i ra ber aitan dengan masalah yang sedang a u hadapi. A u mencerita an semuanya da ri ejadian ribut malam itu sampai berita tera hir dari Syai h Ahmad bahwa Noura telah menemu an orang tuanya yang asli setelah melalui test DNA. Amru dan Magdi a an membantu se uat tenaga untu membebas an a u dari segala tuduhan itu. Semu a sa si dan bu ti yang ira- ira bisa membela diri u a an dia guna an. Amru juga mengingat an diri u agar dalam sidang beso bersi ap tenang dan tida terpancin g emosi. Sebab ja sa penuntut a an mengguna an teror ata- ata dan psi ologis un tu melemah an diri u dan menjeba u. A u mung in a an sangat dihina oleh epand aiannya bersilat lidah dan berargumentasi tapi a u tida boleh terbawa oleh iram a permainannya. Kemung inan besar beso adalah sidang untu mendengar an penga u an Noura dan penga uan u. Serta teror investigasi dengan per ataan dan pertanyaa n di depan sidang. A u mengucap an terima asih atas segala bantuannya. Amru ter senyum. Mes i berli u, a u ya in ebenaran a an menang. Apa pun yang terjadi pada a hirn ya ebenaran a an menang. Jangan uatir, Saudara u. Nanti malam perbanya lah sha lat dan memohon pertolongan epada Allah. Kata Amru mengingat an. Mere a pamitan. Seperti saat mengunjungi sebelumnya sebelum pergi, Aisha mengaja u e pojo ru angan. Dia membu a cadarnya agar a u dapat melihat wajahnya. Kami berang ulan da lam tangis. Fahri, uat anlah dirimu. A u sangat mencintaimu. A u tida mau ehilangan dirim u. A u ta ingin bayi u ini lahir tanpa dirimu disisi u. Isa Aisha yang membuat hati u bagai diremas-remas. A u merasa langit-langit ruangan itu basah, dan dind ing-dindingnya meleleh an air mata. Kuusap air matanya dengan ujung jilbabnya, p elan ubisi an padanya sebuah harapan: Sayang, tancap an dalam hati walau ta ini eso insya Allah terjadi ita a an bulan madu lagi ber ali ali lebih indah dari yang telah ita lalui apalagi di sorga nanti walau ta ini eso insya Allah terjadi selama cinta ita ta pernah mati selama iman masih terpatri dalam diri 25. Persidangan

Nona Noura, saya persila an Anda mengisah an apa yang menimpa pada diri Anda? Ha im gemu dengan rambut hitam bercampur uban mempersila an Noura yang sudah berdi ri dipodium untu berbicara. Sementara a u berada di tempat terda wa yang berben tu seperti erang eng. Ratusan mata memandang Noura dengan se sama. A u melihat orang-orang yang u enal turut serta menghadiri sidang pertama u ini. Teman-tem

an satu rumah di Hadaye Helwan ; Rudi, Saiful, Hamdi dan Mishbah dudu dibagian aga bela ang. Beberapa puluh mahasiswa Indonesia, Ketua dan pengurus PPMI, Pen gurus Wihdah termasu Nurul sang etua juga datang. Se itas a u memandang e arah Nu rul, mata ami bertemu. Ia ta bisa menyembunyi an matanya yang ber aca- aca. Pe ngacara u dudu bersama Maqdi. Di bela angnya ada Aisha, paman Eqbal, Syai h Ahm ad dan isterinya. Bibi Sarah tida datang. Keluarga Tuan Boutros juga tida satu pun yang elihatan. Di barisan de at ja sa penuntut banya se ali orang Mesir. Mung in mere a eluarga Noura. Beberapa wartawan sibu mere am dan membidi an amera. A u pasrah pada apa yang a an ditulis mere a. Ji a ada etida adilan dala m tulisan mere a a u a an menuntutnya ela di a herat sana. Saya a an mencerita an dengan sejujurnya tragedi yang menimpa diri saya. Tragedi yang menginja -inja ehormatan saya dan menghancur an masa depan saya. Kata Nou ra dengan terisa . Air matanya meleleh. A u tida tahu apa yang a an dia ata an . Apa ah dia a an mengata an dengan sejujurnya siapa yang mengamili dirinya atau ah justru a an menghabisi diri u dengan sandiwaranya seperti Zulai ha pura-pura menangis dan menjeblos an Yusuf e dalam penjara. Pada hari Rabu, 7 Agustus yang lalu saya masih hidup bersama eluarga Bahadur. H ari itu sore hari setelah a u shalat ashar, Bahadur yang saat itu masih saya ang gap sebagai ayah mema sa u untu i ut Mona selepas maghrib e sebuah Nigh Club m engapung di sungai Nil, tempat di mana Badahur dan Mona be erja. Bahadur sebagai pu ang tu ul dan Mona sebagai penari dan wanita penghibur. Saya tida mau. Baha dur mengancam a an membunuh saya ji a sampai jam sembilan malam tida sampai di sana bersama Mona. Saat itu juga ia menjamba rambut saya uat- uat dan menyambu punggung saya dengan i at pinggang. Saya tida tahan, a hirnya saya pura-pura mau. Bahadur lalu berang at erja dengan sebuah ancaman saya a an mati ji a tida datang. Saya bertanya pada Mona apa erja saya di sana. Dia bilang, Seperti per tama a u erja di sana. Menyerah an eperawanan pada turis bule dengan imbalan s epuluh ribu pound! Jawaban Mona membuat saya merinding. Saya tida mung in mela u an perbuatan ter utu itu. Saya berte ad lebih bai mati daripada menjual diri. A hirnya begitu shalat maghrib saya mengurung diri di amar. Pintu amar dan je ndela saya unci. Mona berteria -teria dan menggedor-gedor tida saya peduli an . Mona pun berang at sendirian. Saya terus di amar sampai tengah malam. Jam set engah satu ayah pulang bersama Noura dengan emarahan meluap. Pintu amar u dido bra dan saya disi sanya habis-habisan lalu diusir dan diseret e jalan. Ternyat a saya tida dibunuhnya hanya diusir saja. Tapi malam itu saya merasa sangat mer ana. Saya meratapi nasib saya sambil memelu tiang lampu di jalan, depan apartem en. Saya meratap sendirian aga lama. Lalu, ira- ira pu ul setengah dua datangl ah Maria menghibur saya. Ia juga mengaja saya nai dan tidur di amarnya, saya pun i ut. Di amar Maria a u mencurah an semua esedihan u padanya. Yang tida uduga Maria mencerita an sebenarnya yang membuatnya turun menghibur u adalah Fah ri, mahasiswa dari Indonesia yang malam itu ebetulan tida tidur. Sebenarnya Ma ria ta ut se ali pada Bahadur. Keluarga Maria juga tida mau berurusan dengan Ba hadur. Maria meminta bagaimana alau malam itu menginap sementara di rumah Fahri . Saya merasa ediaman Fahri adalah tempat yang aman untu sementara. A hirnya t epat pu ul tiga Maria mengantar an a u turun e tempat Fahri. Fahri sendiri yang masih bangun. Ia membu a an pintu dan mempersila an a u masu e amarnya. Mari a embali e rumahnya. Mulanya Fahri banya menghibur. Dia lalu merayu u dan mem buju u dengan ata- ata Manis. Entah dari mana ia tahu alau a u mau dijual pad a turis bule. Fahri menawari saya untu awin dengannya dan a an diaja hidup ba hagia di Indonesia. Ia berjanji a an membuat hidup u bahagia. A an mencurah an s egala asih sayang dan cintanya pada u. Fahri juga mengung ap an sebenarnya dia telah lama jatuh cinta pada saya. Fahri mampu memanfaat an eadaan saya yang sed ih, yang selama itu belum pernah merasa an asih sayang dan cinta. Malam itu say a menangis dalam pelu an Fahri. Saya merasa an Fahri adalah dewa penyelamat. Ent ah bagaimana prosesnya malam itu saya telah menyerah an ehormatan saya padanya. Saya terhipnotis oleh manisnya janji yang ia beri an. Keti a masjid melantun an azan pertama saya tersadar. Saya menangis sejadi-jadinya atas apa yang menimpa diri saya. Saya melihat Fahri sedang tertidur. Saya pun eluar dan embali e te mpat Maria. Saya menangis Maria bertanya pada saya ada apa. Saya tida menjawabn ya. Saya malu untu mencerita annya. Pu ul tujuh pagi Fahri datang e tempat Mar

ia. Keluarga Maria minta agar saya meninggal an rumah mere a sebelum Bahadur ban gun. A hirnya Fahri menyuruh saya untu menginap di tempat mahasiswi Indonesia b ernama Nurul. Sebelum berang at Fahri memberi uang sebanya dua puluh pound untu ong os jalan. Beberapa hari di rumah Nurul saya dijemput Syai h Ahmad dan iste rinya dan diaman an di Tafahna, Zaqaziq. Syai h Ahmad membantu saya menemu an sa ya dengan orang tua saya asli yang ternyata bernama Adel dan Yasmin. Beliau berd ua dosen di Ain Syams University. Seja itu saya tinggal bersama mere a. Suatu h ari setelah satu minggu tinggal bersama mere a saya muntah-muntah. Mama Yasmin m embawa saya e do ter dan saya etahuan hamil satu bulan setengah. Mama mendesa untu mengata an siapa yang menghamili saya. Saya tida mau mengata annya. Ayah mengancam a an mengusir saya ji a tida mengata an siapa yang menghamili saya. Terpa sa saya jelas an siapa sebenarnya yang menghamili saya. Ta lain dan ta b u an adalah Fahri Abdullah. Dia manusia berhati serigala pura-pura menolong tern yata mener am. Saya telah beberapa ali minta pertanggung jawabannya dan menyele sai an masalah ini dengan bai -bai . Saya menuntut janjinya mau mengawini saya t ernyata ia ber elit. Ia bah an menuduh saya pelacur. Uang dua puluh pound yang d ia beri an itu ternyata dianggap sebagai harga diri saya. Betapa remu dan hancu r hati saya. Dia malah meni ah dengan seorang gadis Tur i. Dia benar-benar manus ia yang sangat busu hatinya. Saya minta epada pengadilan untu memberi an hu u man yang setimpal dengan perbuatan ter utu nya! Noura lalu menangis terisa -isa di podium. Orang-orang Mesir yang tida tahu m asalah sesungguhnya terba ar emosinya. Mere a berteria -teria minta epada ha i m menggantung diri u. A u sendiri sangat terpu ul mendengar semua yang di ata an Noura. A u tida percaya bahwa yang dipodium itu adalah Noura. Gadis innocent y ang sangat pendiam yang dulu sangat a u asihani. Kini Noura seperti puteri jaha t yang siap mencincang u dengan belati beracun yang ia sembunyi an di bali baju nya. A u melihat e arah orang-orang yang simpati pada u. Wajah Syai h Ahmad tampa marah. Aisha jatuh pingsan. Tiba-tiba Nurul berteria lantang dan mema i-ma i No ura yang tida tahu balas budi dan mengarang cerita bohong. Ha im mengetu palun ya ber ali- ali meminta semuanya untu tenang. Dia lalu meminta tanggapan u. Den gan emosi yang utahan a u menola tuduhan Noura. A u jelas an bahwa Noura sama se ali tida pernah masu amar u. A u bah an belum pernah menyentuh ulit Noura . Malam itu Noura bersama Maria sampai pagi. Tiba-tiba Noura berteria mengangg ap diri u yang bohong. Ha im menenang an Noura. Piha ja sa mengaju an sa si. Se orang lela i ce ing bernama Gamal. Ha im mempersila an sa si itu bicara setelah disumpah. Seorang lela i menga u melihat a u membu a an pintu dan mengaja Noura masu rumah jam tiga dini hari, Kamis 8 Agustus 2003. Amru pengacara u mengintrogasi sa si itu. Sang sa si bersi u uh melihat dengan jelas Noura masu rumah u. Amru bertanya posisinya di mana dan sedang apa dia sa mpai begitu jelas melihat Noura masu rumah u. Dia menjawab dia seorang pemburu burung hantu. Hobinya berburu pada wa tu malam. Kebetulan ia melintas di apartem en dan di situ melihat ada burung hantu. Ia henda menemba nya dari jara de at dengan cara nai e sutuh melalui tangga. Keti a ia nai itulah dari jara tiga meter ia melihat Noura masu flat di lantai tiga. A u heran dengan lela i ce ing bernama Gamal. Bagaimana mung in dia berani memb uat esa sian palsu seperti itu. Belum pernah a u mendengar ada seorang yang hob inya sedemi ian aneh. Untu apa burung hantu diburu? Tubuh u tiba-tiba terasa di ngin dan gemetaran. A u ya in eluarga Noura telah mengguna an segala cara untu menggantung diri u. Yang a u tida bisa mengerti adalah perubahan diri Noura. B eberapa wa tu yang lalu ia menulis surat sangat mencintai u. Kini tiba-tiba ia i ngin membunuh u. Apa dosa dan salah u padanya? Apa ah arena a u tida menanggap i perasaannya dia lalu dendam yang ingin membunuh u? Kenapa dia begitu eji memf itnah u. Kapan sebenarnya dirinya ehilangan egadisannya sehingga hamil? Dan si apa sebenarnya yang menghamili dirinya? Semua pertanyaan itu bagai an palu yang menghantam-hantam bato epala u. A u nyaris ta sanggup menega an epala u. Ha im memutus an melanjut an sidang minggu depan. A u turun dari erang eng terda wa dengan di awal dua polisi. Orang-orang Mesir mencacima i diri u dengan ataata otor. Seorang ibu setengah baya bah an melempar botol air mineral dan menge nai mu a u. Polisi yang mengawal u tida begitu peduli. A u dibawa embali e pe

njara. Di dalam penjara a u teringat Aisha yang tadi jatuh pingsan. A u ta ut o ndisi psi isnya berpengaruh pada janin yang di andungnya. * * * Sampai di dalam penjara, Profesor Abdul Rauf menanya an jalannya sidang. A u ce rita an semuanya dari awal masu ruang sidang sampai dilempar botol mineral oleh seorang wanita setengah baya saat berjalan meninggal an ruang sidang. Profesor, perla uan wanita setengah baya itu a u ma lumi dia tida tahu masalah sebenarnya . Yang a u heran dan belum bisa umengerti adalah Noura. Gadis itu pernah menuli s surat ucapan terima asih dan perasaan cinta pada u dengan sedemi ian tulusnya . Tapi dipengadilan itu ia menjadi orang yang sama se ali ta u enal. Ia tampa sangat membenci a u dan ingin se ali membinasa an diri u. A u juga heran dengan lela i ce ing bernama Gamal. Bagaimana mung in dia bisa setega itu memberi an esa sian palsu untu membinasa an orang? Apa ah dia sudah tida punya nurani? Kat a u. Noura itu sebenarnya sangat mencintaimu. Karena dia tida mendapat an apa yang dia ingin an darimu dia berubah membencimu. Cinta yang berubah jadi ebencian ti ada tara itu sering ali terjadi dalam sejarah ehidupan manusia, jawab Profesor A bdul Rauf. Dan orang seperti Gamal jangan au heran an eberadaannya di zaman yang telah e hilangan nurani emanusiaannya seperti se arang. Uang menjelma menjadi tuhan. Ua ng adalah segalanya. Demi uang begundal seperti Gamal siap mengerja an apapun sa ja, sahut Haj Rashed. Berbicara tentang emanusiaan, a u jadi teringat sebuah film su ses yang dibuat oleh Spielberg yaitu ET. Lewat film itu Spielberg ingin menunju an bahwa mung i n tempat terbai untu untu menemu an nilai-nilai emanusiaan adalah diang asa, tida di bumi. Suara Ismail terdengar parau. Tadi malam ia menjadi bulan-bulanan para algojo penjara. Kau su a menonton film Ameri a juga rupanya? Haj Rashed aga urang senang. Sebenarnya tida juga. A u menonton film itu arena penasaran pada analisa Profe sor A bar S. Ahmad dalam aryanya Postmodernism and Islam. Dan memang seperti it u ironi yang dibangun Spielberg dalam film ET. Nilai-nilai emanusiaan di bumi s ema in punah, jJawab Ismail. Tapi, insya Allah, selama masih ada yang teguh u uh mengamal an Al-Qur an dan As Sunnah, nilai-nilai emanusiaan tida a an hilang dari mu a bumi ini! tu as Profe ssor Abdul Rauf Manshour mantap. Insya Allah, sahut ami semua hampir ompa . Tiba-tiba pintu digedor. Tahanan nomor 543! Kali ini sipir bersuara cempreng yang memanggil. Mes ipun suaranya cempreng tapi alau menyi sa para tahanan ta ena l belas asihan. Menurut cerita Hamada ia pernah menya si an dengan mata epala sendiri bagaimana Si Cempreng itu memasu an mata ganco e dalam lubang hidung s eorang tahanan yang tangan dan a inya dii at lalu menari ganco itu uat- uat. Ta ayal hidung tahanan mis in itu sobe ta aruan bentu nya. Tahanan mis in it u sudah lama tiada abarnya. Mung in telah mati. Hai, eledai 543 apa au dungu!? Apa a u perlu menyeretmu dengan ganco? Si Cempre ng embali mendesis seperti ular. Ya saya! jawab Marwan santai sambil melang ah e pintu. Setelah pintu terbu a. Ka mi mendengar suara: bu ! bu ! Doa anlah Marwan, semoga dia tida cedera berat! Suara Profesor Abdul Rauf membua t hati ami gerimis. Setiap hari selalu ada yang jadi mainan para algojo penjara . A u bersyu ur bahwa setelah edatangan Magdi, KBRI, dan PPMI si saan yang ute rima sebagai sarapan pagi sema in ringan. * * * Satu hari menjelang persidangan edua Syai h Utsman datang menjengu bersama P aman Eqbal. Syai h Utsman banya memberi siraman jiwa. Kau harus i hlas menerima cobaan ini. Kau tida boleh sedi itpun merasa ragu a an asih sayang Allah epad amu. Kau tentu tahu, Allah sangat mencintai Nabi Yahya. Dan Nabi Yahya itu epal anya dipenggal untu dihadiah an epada seorang pelacur. Husein cucu baginda Nab i juga dipenggal epalanya. Ditancap an diujung tomba dan diara di ota Kufah. Mere a tetaplah manusia-manusia mulia mes ipun elihatannya dinista an dan dihi na. Orang yang divonis salah oleh pengadilan dunia belum tentu salah di pengadil

an a hirat dan sebali nya. De at anlah dirimu epada Allah! Kunjungan Syai h Uts man sangat berarti bagi u. Nasihat beliau bagai an embun menetes di pagi hari mu sim semi. A u sema in mempersiap an diri untu menerima apapun yang terjadi. Setelah Syai h Utsman, tanpa uduga Madame Nahed, dan Yousef menjengu . Mere a berdua menetes an air mata melihat eadaan u. Madame, maaf an a u yang tida sempat menjengu Maria. Ta masalah. Sungguh sangat tragis nasibmu, Ana u. Kau menolong dia tapi dia ma lah membalasnya dengan fitnah yang eji se ali. A u sudah membaca semuanya di o ran. Seluruh oran yang memuat berita persidangan itu ta ada yang membelamu. An dai an Maria sehat dia pasti a an menulis membelamu. Sayang dia...ah! Madame Nahe d terisa . A u ta ut sesuatu telah terjadi pada Maria. Kenapa Maria, Madame? tanya u cemas. Sa itnya sangat parah. Empat hari ini dia oma. Hanya adang- adang dia seperti sadar, mulutnya ber omat- amit mengata an sesuatu. Dan apa ah au tahu apa yang dia ata an, Ana u? Suara Madame Nadia terbata-bata. Apa Madame? Dia menyebut-nyebut namamu. Hanya namamu, Ana u. Dia ternyata sangat mencintaim u! Kalimat yang diucap an Madame Nahed bagai an guntur yang menyambar epala u. Ta mung in itu terjadi, Madame! bantah u. Yousef langsung menyahut: Benar Fahri, Maria sangat mencintaimu. A u telah membaca diary hususnya. Dia me nulis semua perasaan cintanya padamu di sana. Dalam diarynya itu a u juga menemu an witansi pembayaran semua biaya pengobatanmu. Maria diam-diam mengambil tabu ngannya dan membayar pengobatanmu tanpa ada satupun dari ami yang tahu. Dia san gat mencintaimu. Sayang diarynya tida a u bawa. Nanti a an a u bawa emari agar au bisa membacanya sendiri. Keterangan Yousef membuat hati u mau runtuh. Air mata u tanpa terasa meleleh. B aru a u tahu bahwa malai at itu adalah Maria. Kenapa dia tida mengung ap an isi hatinya pada u? lirih u. Dia malu. Dia menunggu saat yang tepat untu membangun eberaniannya tapi terlam bat. Keti a tahu au telah meni ah dengan Aisha yang baru beberapa bulan enal d enganmu dia sangat terpu ul. Dia sangat menyesal. Padahal dirinya telah mengenal mu jauh lebih lama dan lebih dalam dari Aisha. Itu ia tulis setelah pulang dari Hurgada dan tahu abar perni ahanmu. A u baru tahu enapa dia selalu murung dan tida bersemangat hidup. Maria menulis dibaris tera hir, when some one is in lov e he cannot thin of anything else. Bila seseorang dimabu asmara, dia ta bisa memi ir an hal yang lain. Dia tida bisa lepas untu memi ir an dirimu, memi ir an cintanya, sampai a hirnya jatuh sa it. Yousef menetes an air mata. Ana u, a u ta ut dia a an mati..hi s..hi s! Madame Nahed terisa -isa . A u jadi melupa an nasib u sendiri. Mata u basah melihat esedihan Madame Nahed . Dan Maria, oh, enapa semua ini bisa terjadi!? Oh, andai an a u bisa membantu. A u merasa menjadi manusia paling tiada berguna arena tida bisa berbuat apa-apa. A u sendiri se arang dibayang-bayangi vonis h u uman gantung. Oh apa yang bisa a u la u an? Ucap u sedih. Yousef mengeluar an tape ecil dari ja etnya dan ber ata, Kata do ter, Maria har us dirangsang dengan suara atau sentuhan dari orang-orang yang dicintainya. Dia sepertinya telah ehilangan gairah untu hidup. Suara orang yang dicintainya har us mendorongnya untu hidup, harus memberi an harapan-harapan yang indah baginya . Fahri tolonglah, bicaralah pada Maria apa saja. Ini salah satu usaha menolong dia. Nanti a an ami perdengar an suaramu di telinganya. Iya ana u tolonglah! Maria sangat mencintaimu dan merindu an suaramu, desa Mada me Nahed. Demi sebuah nyawa a u memenuhi permintaan Yousef dan Madame Nahed. Dengan sua ra upa sa an ebiasa-biasanya, a u berbicara apa saja pada Maria. Ter adang a u berusaha tertawa. Atau mengingat an sesuatu yang ira- ira ber esan baginya. Ha nya satu yang tida uucap an di sana yaitu alimat a u mencintaimu. Ta mung in , arena alimat itu hanya berha untu Aisha seorang. A u berharap suara u berg una untu membantu menyembuh an Maria. Bahwa di dalam penjara se ali pun a u bis a mela u an sesuatu untu orang lain. Namun begitu mengingat ata- ata Madame Na

hed dan Yousef bahwa Maria sa it arena mencintai u a u jadi sedih se ali. A u j adi tida mengerti apa itu cinta sebenarnya? Yang utahu cinta adalah apa yang t erjadi antara diri u dengan Aisha. Itu saja. Tapi apa yang dirasa an Nurul. Yang dirasa an Noura dan yang dirasa an Maria a u tida tahu. Apa ah itu cinta? Ah c inta. Semacam du a. Mengiris jiwa. * * * Persidangan edua sangat menegang an. Tuan Boutros hadir memberi an esa sianny a. Beliau membantah eterangan Noura yang mengata an malam itu masu di amar u. Jam lima pagi eti a saya bangun, saya menemu an Noura bersama Maria di amarnya . Dan Maria bercerita Noura seja tengah malam ada di amarnya. Penuntut bertanya pada Tuan Boutros, Apa ah antara jam 2 sampai jam 5 anda tida tidur, jadi anda tahu persis Noura selalu bersama Maria, misalnya mendengar sua ra mere a dalam rentang wa tu itu? Tuan Boutros dengan jujur menjawab, Tida saya sedang tidur. Bah an jeritan Nour a dipu ul Bahadur juga tida saya dengar. Saya terlelap dan bangun setengah lima . Noura diminta bicara. Maria ber ata tida benar alau a u bersamanya terus. Yang benar pu ul tiga Maria mengantar u e tempat Fahri yang hanya berada di bawahny a. Di amar Fahri pemer osaan atas diri u terjadi. Dan eti a azan pertama ber u mandang, a u embali e tempat Maria. Saat itu seluruh isi rumah Maria masih tid ur, termasu Tuan Boutros, ecuali Maria. Kata Noura. Teman-teman satu rumah yang pada malam ejadian itu ada di rumah i ut memberi a n esa sian. Mere a semua menola tuduhan Noura. Tapi mere a juga jujur menjawab eti a ditanya sedang apa antara jam tiga sampai azan pertama? Jawabnya tidur. Hamdi masih berusaha membela, Saya ini termasu manusia yang sangat sensitif. Ser ing ali dalam eadaan tidur ji a pintu dibu a saya terbangun. Ji a Noura masu r umah pasti saya terbangun. Saya tida terbangun malam itu? Penuntut malah tersenyum dan ber ata, Menurut cerita Fahri alian malam itu berp esta hingga enyang, benar ah? Benar! jawab Hamdi. Itulah salah satu penyebab enapa au tida terbangun eti a Noura masu . Karena au terlalu enyang. Dan itu sudah sangat wajar terjadi! Nurul memberi an esa sian dengan suara terbata-bata menahan emosi. Ia mencerit a an cerita yang di isah an sendiri oleh Noura epadanya eti a Noura menginap b eberapa hari di rumahnya. Cerita yang sangat berbeda dengan yang di ata an Noura di sidang pengadilan. Saya ya in Noura saat ini sedang berbohong. Apa yang dia ata an di pengadilan ini dusta. Dia bercerita malam itu di amar Maria dan baru bertemu Fahri pu ul tujuh pagi. Dan uang dua puluh pound itu diberi an epadanya bu an sebagai harga atas egadisannya. Itu fitnah. Fahri tida mung in mela u a n ejahatan seperti itu. Dia menyentuh tangan perempuan saja tida mau. Noura menola esa sian Nurul dan ber ata dengan tenang, Memang seperti itu yang a u isah an pada Nurul. Saat itu a u tida mung in dengan jujur mencerita an a pa yang terjadi pada diri u di amar Fahri. A u tida mung in mencerita an aib. Aib diri u dan aib orang yang a an jadi suami u, arena dia memang berjanji a an meni ahi u. Sebenarnya yang terjadi adalah seperti apa yang a u cerita an. Saat itu a u juga mengira uang dua puluh pound itu i hlas diberi an oleh Fahri sebag ai ong os pergi e Masa in Utsman. A u tida mengira sama se ali saat itu alau itu adalah sebagai harga a an egadisan u yang direnggut Fahri. A u tahu ebusu annya setelah dia terang-terangan tida mau meni ahi u dan malah mengata an dir i u pelacur sebab telah ia bayar dengan dua puluh pound saja mau. Di a hir sidang terjadi sesuatu yang sangat mengejut an. Bahadur memberi an es a sian bahwa dia atanya pernah melihat u beberapa ali menyiuli Noura dari jend ela amar u. Saat itu a u sebenarnya sangat marah pada penjahat itu. Tapi a u mas ih menghormatinya sebagai tamu di negeri ini dan a u mengira itu hanyalah iseng ana muda. Apalagi dia ulihat juga rajin e masjid. A u tida menyang a alau d ia sebenarnya serigala. Dan a u ya in dialah yang menodai Noura. Dia harus dihu um yang seberat-beratnya! Ha im lalu bertanya pada pengacara u apa ah masih ada sa si atau bu ti untu me mbela diri u. Pengacara u bilang masih. Yaitu esa sian Syai h Ahmad dan isterin ya, surat yang ditulis Noura untu u, dan Maria. Ha im memutus an sidang a an di

lanjut an satu minggu setelah hari raya Idul Fitri. Itu berarti a u a an menjala ni hari raya terberat selama hidup. Amru, Magdi dan paman Eqbal mengi uti u sampai e penjara. Di ruang tamu penjar a mere a mangaja u berbicara. Eqbal terus meminta u untu tabah dan besar hati. Magdi dan Amru menganalisa jalannya sidang yang telah terjadi. Sa si yang ita aju an adalah orang-orang yang sangat jujur. Mulai dari Tuan Bou tros sampai teman-temanmu. A u salut atas ejujuran itu, mes ipun dalam asus in i ejujuran teman-temanmu tida membantu. Kalau mere a ada yang berani bohong se di it saja, misalnya pu ul tiga terbangun untu shalat malam dan mendapati eada an rumah dalam eadaan sepi seperti biasa tida ada Noura di amarmu. Karena am armu berde ataan dengan amar mandi tempat wudhu, da waan Noura a an runtuh, ucap Amru sambil memandang lurus epada u. Tapi insya Allah ejujuran itu tetap a an membantu. Setida nya membantu e uatan moral ita. Kebersihan nurani ita. Dan semoga dengan ejujuran itu Allah membe ri an jalan eluar yang lebih bai , sahut Eqbal. Dalam sejarah ejahatan selalu dilancar an dengan segala cara. Dan ebenaran sel alu dipertahan an dengan cara-cara yang jantan dan bersih, imbuh Magdi. Bisa jadi sidang setelah hari raya adalah sidang penentuan. Dan dalam sidang itu ita harus membali eadaan dan meruntuh an semua tuduhan dan re ayasa mere a. Senjata ita yang tersisa adalah surat cinta Noura yang disana dia mengung ap an semua penga uannya secara jujur dan penga uan Maria. Yang paling penting sebena rnya adalah esa sian Maria. Sebab dialah yang paling tahu. Dialah yang dalam penu turan Noura mengantar an dirinya e tempatmu. Dan dia juga yang membu a an pintu eti a Noura embali lagi nai . Adapun esa sian Syai h Ahmad dan isterinya e ua tannya ta a an berbeda dengan esa sian Nurul yang memang malam itu tida tahu apa-apa. Marialah sebenarnya sa si unci, tapi sayang dia se arang sedang oma. j elas Amru. Bagaimana dengan surat Noura itu? tanya Eqbal. Cu up uat, ji a benar-benar bisa dibu ti an itu tulisan tangannya. Tapi surat i tu se arang ada di mana masih jadi masalah. Oleh Fahri surat itu diberi an epad a Syai h Ahmad. Syai h Ahmad memberi an epada isterinya. Isterinya memberi an epada Noura wa tu masih di Tafahna. Se arang sedang dicari di Tafahna, siapa tah u ditinggal oleh Noura di sana. Ji a surat itu ternyata dibawa Noura ya ita tid a bisa berbuat apa-apa selain menunggu mu jizat Maria bisa membai dan pada sid ang setelah hari raya nanti bisa memberi an esa sian, jelas Amru. Mendengar semua pembicaraan itu a u merasa nasib u benar-benar berada di ujung tandu . Ji a nyawa u a hirnya harus melayang dengan sedemi ian tragisnya, a u pa srah saja epada Yang Maha uasa. A u teringat nasihat Syai h Utsman agar selalu menjaga ei hlasan menerima ta dir Ilahi setelah berusaha se uat tenaga. Yang di vonis salah dalam pengadilan dunia tida selamanya salah di pengadilan a hirat. Kepala Nabi Yahya dipenggal dan dihadiah an epada seorang pelacur. Dalam hati a u berdoa, ji a a u harus mati di tiang gantungan, ma a Allaahumma amitni alasy s yahaadati fi sabili .Amin. 111 111 Ya Allah mati anlah diri u dalam eadaan mati syahid di jalanMu. Amin. Apa tida ada jalan lain untu membu ti an bahwa yang menghamili Noura bu an Fah ri? Bagaimana dengan test DNA? Bu an ah Noura menemu an orang tua andungnya ar ena test DNA? ucap Eqbal dengan mata berbinar. Amru dan Magdi menganggu -anggu an epala. A u merasa di dalam dada u ada caha ya. Benar test DNA! lirih u. Ini ide yang sangat menggembira an. A u nanti a an mencoba bertanya pada do ter apa ah janin yang di andung Noura bisa diperi sa DNA-nya. Agar etahuan siapa se benarnya ayahnya? Ji a bu an Fahri yang menghamili tentu DNA janin itu a an berb eda dengan DNA Fahri. Sebentar a u mau mengonta Do ter Fatema Za i, apa ah jani n bisa diperi sa DNA-nya. Kata Amru sambil memenjet handphone-nya dan meleta an di telinganya. Amru lalu terlibat pembicaraan dengan orang yang ditujunya. Tibatiba mu anya aga pucat, ia ber ata setengah berteria , Apa? Tida bisa! Menunggu sampai lahir?! Oh, begitu. Ya, terima asih atas informasinya. Bagaimana Amru? tanya Eqbal. Menurut eterangan Do ter Fatema Za i, janin yang masih berada di dalam andunga n tida bisa diperi sa DNA-nya. Karena harus pa ai sampel jaringan/sel tubuh. Ja

nin tida bisa diambil jaringan tubuhnya. Yang bisa diambil cuma sampel air etu ban, tida bisa untu pemeri saan DNA. Jadi harus menunggu janin itu dilahir an baru bisa diperi sa DNA-nya, jelas Amru yang membuat diri u lemas embali. Menung gu Noura sampai melahir an janinnya, bu an wa tu yang sing at di dalam penjara b uru seperti ini. Tapi a u tetap merasa lebih berbesar hati bahwa jalan untu me mbebas an diri dari tuduhan dan fitnah itu masih ada. A u a an membuat surat permohonan epada pengadilan agar sidang selanjutnya diun dur sampai Noura melahir an bayinya untu pemeri saan DNA. Ujar Amru dengan wajah optimis. Ji a pengadilan tida mengabul an? sahut Magdi. Kita lihat nanti. Oh ya Magdi, tolong bagaimana caranya eamanan Maria terjamin. Sebab walau bagaimana pun sebelum test DNA, Maria adalah sa si unci. Kau tentu tahu ma sud u? ata Amru. Insya Allah, jawab Magdi pelan. Mere a bertiga lalu pamintan. Amru berjanji a an menengo e penjara lagi ji a ada per embangan. * * * Sampai di dalam sel, sebelum Profesor Abdul Rauf dan teman-teman menanya an yan g terjadi di dalam sidang edua, a u langsung mengisah an semuanya. Termasu pem bicaraan berempat dengan Amru, Magdi dan Eqbal di ruang tamu penjara. Boleh an a u membuat suatu analisa? Siapa tahu ada gunanya, ujar Profesor Abdul R auf begitu a u selesai bercerita. Tentu, Profesor, jawab u senang. Pemohonanmu untu mengundur an sidang setelah Noura melahir an bayinya agar bisa diperi sa DNAnya tida a an di abul an pengadilan. Pengadilan a an tetap berjal an sesuai yang diingin an ha im. Dan ha im berjalan sesuai yang diingin an oleh eluarga Noura. Mere a sudah tahu sa si unci sudah tida berdaya. Seandainya pu n Maria bisa memberi an esa sian mere a sudah mempersiap an jurus yang a an men gejut an. Selama ini yang terjadi, tertuduh yang berada dalam posisi seperti dir imu jarang bisa menang. Apalagi au orang asing. Mere a juga tahu a an adanya te st DNA, ma a mere a a an mengguna an cara agar di pengadilan ini au alah. Tind a an yang a an au ambil adalah nai banding, menunggu bayi Noura bisa ditest DN Anya. Begitu au alah, ma a setelah itu re ayasa yang a an mere a main an susah dipredi si. Bisa jadi diam-diam mere a a an menggugur an andungan Noura dengan alasan eguguran dan membuangnya entah di mana yang penting tida bisa ditest D NAnya. Dan au tida a an bisa menuntut apa-apa. Atau tida begitu, tetap membia r an bayi itu lahir tapi permohonan bandingmu tida di abul an dengan alasan yan g sering ali tida masu . Atau di abul an tapi setelah menunggu se ian tahun, se telah dirimu mengalami penderitaan luar biasa dan se arat di dalam penjara. Seba b begitu au diputus an pengadilan bersalah au a an diperla u an sebagai orang bersalah mes ipun sedang mengaju an banding. Itu analisa u. A u tida ingin mena utimu tapi agar pengacaramu dan piha edutaanmu berusaha lebih ma simal untu membebas an dirimu dalam pengadilan tera hir nanti. A u merasa apa yang disampai an profesor benar. Dalam pengadilan Mesir sering a li terjadi hal-hal yang tida masu a al. Adanya sa si seorang lela i yang hobin ya berburu burung hantu adalah suatu yang ganjil. Dan seja apan di suthuh apar temen di Hadaye Helwan itu ada burung hantu? Menurut Profesor apa yang harus ami la u an? tanya u dengan hati cemas. Minta pertolongan Tuhan. Dan terus berusaha untu menang! ucap Profesor mantap. A u punya sesuatu yang ingin a u ata an, A hi. sahut Ismail. Boleh. ata u pelan. Mendengar semua isahmu seja au ditang ap sampai se arang, a u melihat ada satu e uatan yang mengaturnya. Mintalah epada Magdi untu menyelidi i e uatan bac ing dibela ang eluarga Noura. Kau masih beruntung arena asusmu bu an asus y ang oleh piha eamanan dianggap mengancam e uasaan seperti Profesor Abdul Rauf . Asal bisa menjina an e uatan di bela ang Noura ma a jalan pembebasanmu menja di lebih mudah. Firasat u mengata an, yang menghamili Noura adalah seseorang yan g sangat memalu an untu disebut, jadi mere a mencari ambing hitam. Dan ambing hitamnya adalah dirimu.Yang a u uatir an ji a bac ing Noura adalah orang penti ng di Keamanan Negara yang memang sangat ber uasa di negara ini.

Namun au jangan ecil hati Fahri, di atas segalanya Allahlah yang menentu an. Da ya dan e uatan manusia tiada berarti apa-apa di hadapan emaha uasaan Allah. Ji a Dia ber ehenda apa pun bisa terjadi. Haj Rashed menghibur. A u diam saja. Sem uanya lalu diam. Ruangan sel bawah tanah yang pengap dan dingin itu dice am suas ana senyap sesaat. Keheningan menebar an aroma eta utan yang menguji eimanan. Kini dalam ruangan sempit itu tinggal ami berempat. Marwan seja diambil sipir bersuara cempreng itu ta etahuan nasibnya. Apa ah dipindah an e penjara lain? Atau ah dibebas an? Atau malah telah menemui ematian. Hamada juga tida lagi t erdengar beritanya seja dua hari lalu. Yang paling cemas atas nasib Hamada adal ah Ismail. Katanya ia bermimpi melihat Hamada berpa aian putih di sebuah tanah y ang sangat lapang. Ia uatir itu adalah pertanda eburu an. Tapi Profesor malah menafsir an mimpi itu dengan hal yang menyenang an, tanah lapang adalah ebebasa n. Hamada berarti sudah dibebas an. * * * Hari beri utnya, ira- ira pu ul sepuluh pagi, a u dibawa sipir hitam e antor . Di sana epala penjara menyerah an sepucu surat. Ini surat dari Universitas Al Azhar. Selamat! Kata epala penjara dengan nada yang sangat sinis. A u menerima surat itu dengan tangan bergetar. A u teringat peristiwa tahun 1995 seperti yang dicerita an staf onsuler KBRI. Kubu a amplop surat co elat buram itu dan u el uar an isinya. Lalu ubaca huruf demi huruf. Selesai membaca surat itu a u ta m ampu menahan isa tangis u. Usaha u se ian tahun belajar mati-matian sea an siasia bela a. Karena tida asusila yang Anda la u an, ma a Anda di eluar an dari Un iversitas Al Azhar dan gelar licence yang telah Anda dapat dicabut seja surat i ni dibuat! Demi ian salah satu baris surat dari Universitas Al Azhar itu. Melihat a u sedih dan menetes an air mata, epala penjara malah tertawa mengeje . Ia te ntu sudah tahu isi surat itu. A u embali e penjara dengan memendam esedihan t iada tara. Al Azhar yang ucintai itu tida lagi menganggap u sebagai bagian dar i ana muridnya. Alang ah malang nasib u. Di dalam sel a u menangis sejadi-jadinya. A u belum pernah menangis sesedu itu. Profesor Abdul Rauf menghibur u seperti seorang ayah menghibur ana nya. Ia bert anya ada apa? A u ta uasa mencerita annya. A u terus menangis dengan sesa dad a yang tiada ter ira. A u teringat semua pengorbanan orang tua. Sawah warisan a e , harta satu-satunya, dijual demi agar a u bisa uliah di Al Azhar Mesir. Dan ini semuanya seperti sia-sia. A u merasa menjadi manusia yang paling tiada gun anya di dunia. Hampir satu jam a u menangis. Profesor Abdul Rauf masih terus men ghibur dan membesar an hati u. A hirnya a u cerita an berita du a itu padanya, d engan isa tangis yang tersisa. Kau percayalah pada u, Al Azhar sebenarnya tida semudah itu mengeluar anmu. Di sana masih banya ulama dan guru besar yang arif bija sana. Tapi Al Azhar tida bisa berbuat apa-apa ji a mendapat te anan dari penguasa. Apalagi ji a datang da ri Amn Daulah112. A u sangat ya in Al Azhar mengeluar anmu arena mendapat te an an. Itu sama seperti Universitas El-Menya wa tu mengeluar an diri u dan mencopot gelar guru besar u. Jadi sebenarnya se arang ini saya bu an seorang profesor la gi, arena gelar guru besar u telah dicabut. Re tor Universitas El-Menya adalah teman u wa tu mengambil do tor di Universits Lyon, Perancis. Dia tida mung in b erbuat buru pada u, tapi dia mendapat te anan dari penguasa agar memecat u dari dosen dan menandatangani surat pencabutan guru besar u. Untungnya a u mendapat gelar do tor dari Perancis, alau a u mendapat an gelar do tor dari salah satu u niversitas di sini ma a seluruh gelar a ademis u juga a an dipreteli. Ah sebenar nya gelar itu tida lah segalanya yang paling penting adalah emampuan ita. Mes ipun au di eluar an dan gelarmu dicopot tapi ilmu yang telah mele at dalam ota mu tida bisa mere a copot. Seandainya nanti au bebas dan embali e tanah airm u au masih bisa mengamal an ilmumu mes ipun tanpa gelar. Di dunia ini sangat ba nya orang yang su ses tanpa gelar a ademis. A u malah pernah membaca sejarah In donesia, bahwa salah seorang Wa il Presiden Indonesia yang sangat disegani yaitu Adam Mali , tida memili i gelar a ademis apapun. Tapi emampuannya tida dirag u an. Jadi janganlah masalah se ecil itu au tangisi. Kau harus menjadi seorang lela i sejati yang berjiwa besar. Dan a u ya in au mampu untu itu. 112 Keamanan Negara. Kata- ata profesor Abdul Rauf mampu menye a air mata sedih u. A u semestinya ma

lu pada diri u sendiri ji a menangisi hilangnya sebuah gelar. Ji a a u diharam a n belajar di Al Azhar, ma a Allah mung in a an membu a jalan untu belajar di te mpat yang lain, termasu belajar di dalam penjara. Bah an bisa jadi penjara adal ah universitas paling dahsyat di dunia. Banya terjadi orang-orang besar di duni a melahir an arya- arya monumental di penjara. Ibnu Taimiyah, ulama ter emu a p ada zamannya yang mendapat gelar Syai hul Islam menulis Fatawanya yang berjilid-ji lid di dalam penjara. Sayyid Qutb menulis tafsir Zhilalnya yang sangat indah bah asa dan isinya, juga di dalam penjara. Syai h Badiuz Zaman Said An-Nursi juga me nulis arya- aryanya yang monumental di dalam penjara. Kenapa a u tida berpi ir an positif seperti mere a? Penjara bu anlah penghalang untu ber arya dan berbua t. Seandainya a u tida bisa menelor an arya di dalam penjara, enapa a u tida mengguna an esempatan yang ada untu belajar pada Profesor Abdul Rauf. Beliau adalah guru besar bidang ilmu e onomi. Beliau juga pernah belajar di Perancis. D engan beliau a u semestinya bisa belajar satu rumus ilmu e onomi, atau bahasa Pe rancis mens ipun cuma satu osa ata.. Rasanya mempersiap an diri saja untu men i mati hidup di dalam penjara, itu lebih realistis dan lebih bai daripada berse dih, ber eluh esah dan meratapi nasib. Kuutara an emauan u pada beliau. Hari i tu juga a u mulai menimba ilmu pada beliau. Lumayan selain bonjour a u mendapat an sebuah alimat dari Victor Hugo saat merenungi suatu eadaan nyata bahwa tangan manusia banya mela u an suatu ejahilan. Hugo mengata an: Tempos edax, home ed acior! Artinya: Wa tu ejam tapi manusia lebih ejam lagi! * * * Tiga hari setelah itu, ira- ira satu jam menjelang bu a puasa, sipir bersuara cempreng memanggil u. A u yang biasanya tida pernah ta ut ali ini menyahut pan ggilannya dengan bulu udu merinding. A u bersyu ur eti a Si Cempreng tida be rbuat macam-macam pada u, ia hanya membawa u e ruang tamu penjara. Di sana ada Aisha, paman Eqbal, Maqdi, dan Amru yang telah menunggu. Sore ini ita a an sedi it berbincang dan bu a puasa bersama. ata Aisha. Untu bu a puasanya mung in a u tida bisa, jawab u. Kenapa? A u tida mung in ma an ena sementara teman-teman satu sel berbu a hanya dengan setegu air dan roti isy ering dengan jubnah adaluwarsa. Aisha langsung mengerti apa ma sud u. Dia langsung membagi beberapa bung us ma anan yang dibawa menjadi dua bagian. Ini untu mere a. Biar uantar dulu. Selesai mengantar bu a untu teman-teman satu sel, barulah a u mendengar an sem ua per embangan yang terjadi dari mere a. Ada abar urang menggembira an untu mu. Surat permohonan agar jadwal sidang ber i utnya diundur sampai janin Noura bisa diperi sa DNAnya ditola oleh pengadilan . Kata Amru dengan wajah menggurat an emuraman. A u tida aget. Sudah a u ira. Jawab u lirih. Kemudian a u menjelas an predi si -predi si Profesor Abdul Rauf dan saran dari Ismail. A u juga memili i predi si dan al ulasi yang tida jauh berbeda. Se arang senja ta ita tinggal esa sian Maria. Dan dia masih oma di rumah sa it. Kondisinya s angat memprihatin an, susah untu ita harap an. Kata Amru lemas. Saran Ismail itu cu up bagus. Memang dibela ang Noura adalah seorang perwira men engah di badan intelijen husus eamanan negara. Dia adi bungsu Madame Yasmin, ibu andung Noura. Dialah yang mendalangi semua ini. Si Kumis yang mau berbuat t ida bai pada Madame Aisha itu a hirnya bu a mulut juga. Tapi dia sulit disentu h. Kecuali oleh orang yang pang atnya lebih tinggi darinya. Kebetulan a u tida punya a ses e badan intelijen husus. A ses u hanya intel polisi biasa jadi tid a bisa berbuat banya . Si Kumis itu alau bu an desa an diplomati dari Jerman dia juga tida a an terproses secara hu um. Ucap Magdi. Hmm..a u ingat se arang. Syai h Ahmad punya sepupu yang juga bertugas di dalam b adan intelijen husus eamanan negara, namanya Ridha Shahata. Siapa tahu bisa me mbantu. Sahut u sedi it optimis. Saya sudah menghubungi Syai h Ahmad, tapi sayang Ridha Shahata sedang ditugas an e Iran selama dua bulan. Dia baru a an embali e Mesir se itar pertengahan Sy awal, eti a sidang telah usai. Tu as paman Eqbal Ha an Erba an.

Musim dingin yang be u membuat tulang-tulang u terasa ngilu. A u nyaris tida u at dengan eadaan sel yang sangat menyi sa. Tanpa disi sapun musim dingin dalam sel gelap, pengap, basah dan berbau pesing itu sangat menyi sa. Seluruh sumsum t ulang terasa pedih bernanah. A u memasu i hari-hari yang sangat berat. Suatu sore, satu jam sebelum bu a, tiga hari menjelang hari raya Idul Fitri Aish a menjengu bersama paman Eqbal, dia tampa terpu ul melihat eadaan u yang sang at mengenas an. Menjalani musim dingin dengan tanpa pelindung tubuh yang cu up t elah membuat seluruh persendian u a u. Selama ini a u nyaris tida pernah tidur ecuali dengan posisi jong o , tangan memegang edua a i erat-erat. Beberapa ali a u merasa sangat tersi sa bagai an orang yang sedang se arat. Suami u, izin anlah a u mela u an sesuatu untu mu! Kata Aisha dengan mata ber acaaca. Apa itu? Beberapa wa tu yang lalu Magdi mengata an harapan au bisa dibebas an sangat tipi s se ali. Maria masih juga oma. Mung in hanya mu jizat yang a an menyadar annya . Magdi berseloroh, ji a punya uang untu diberi an pada eluarga Noura dan piha ha im mung in au bisa diselamat an. Kalau au mengizin an a u a an bernegosia si dengan eluarga Noura. Bagi u uang tida ada artinya dibanding an dengan nyaw a dan eselamatanmu. Ma sudmu menyuap mere a? Dengan sangat terpa sa. Bu an untu membebas an orang salah tapi untu membebas a n orang tida bersalah! Lebih bai a u mati daripada au mela u an itu! Terus apalagi yang bisa a u la u an? A u ta ingin au mati. A u ta ingin ehila ngan dirimu. A u ta ingin bayi ini nanti tida punya ayah. A u ta ingin jadi j anda. A u ta ingin tersi sa. Apalagi yang bisa a u la u an? De at an diri pada Allah! De at an diri pada Allah! Dan de at an diri pada Allah! Kita ini orang yang sudah tahu hu um Allah dalam menguji hamba-hamba-Nya yang b eriman. Kita ini orang yang mengerti ajaran agama. Ji a ita mela u an hal itu d engan alasan terpa sa ma a apa yang a an dila u an oleh mere a, orang-orang awan yang tida tahu apa-apa. Bisa jadi dalam eadaan ritis se arang ini hal itu bi sa jadi darurat yang diperboleh an, tapi bu an untu orang seperti ita, Isteri u. Orang seperti ita harus tetap teguh tida mela u an hal itu. Kau ingat Imam Ahmad bin Hambal yang dipenjara, dicambu dan disi sa habis-habisan eti a teguh memegang eya inan bahwa Al-Qur an bu an ma hlu . Al-Qur an adalah alam Ilahi. Rat usan ulama pergi meninggal an Bagdad dengan alasan eadaan darurat memboleh an m ere a pergi untu menghindari si saan. Ji a semua ulama saat itu berpi iran sepe rti itu, ma a siapa yang a an memberi teladan epada umat untu teguh memegang eya inan dan ebenaran. Ma a Imam Ahmad merasa ji a i ut pergi juga ia a an berd osa. Imam Ahmad tetap berada di Bagdad mempertahan an eya inan dan ebenaran me s ipun harus menghadapi si saan yang tida ringan bah an bisa berujung pada ema tian. Sama dengan ita saat ini. Ji a a u yang telah belajar di Al Azhar sampai merela an isteri u menyuap ma a bagaimana dengan mere a yang tida belajar agama sama se ali. Suap menyuap adalah perbuatan yang diharam an dengan tegas oleh Ba

Azan maghrib ber umandang. Kami berbu a bersama. Pembicaraan sore itu belum men ghasil an sesuatu yang nyata untu membu ti an bahwa diri u sama se ali tida be rdosa mela u an perbuatan yang hina yang dituduh an epada u. Aisha pamit dengan air mata ta terbendung. A u a an cari jalan untu menyelamat an nyawamu, Suami u. A u ta mau jadi janda. A u ta ingin ana u ini nanti lahir dalam eadaan ya tim. A u ta ingin ehilangan dirimu. Kau adalah arunia agung yang diberi an ol eh Allah epada u. Kalimat dari bibirnya yang bergetar itu membuat hati u terasa pilu dan sedih. Ta lama lagi a an memili i seorang ana . Dan a u tida tahu apa ah masih a an sempat melihat wajah ana u itu apa tida ? Hanya Tuhanlah yang ta hu a an a hir nasib u. Apapun yang a an terjadi a u harus siap menerimanya.Untu membesar an hati, a u embali mengingat isah Nabi Yahya yang mati muda, epala nya dipenggal dan dihadiah an epada seorang pelacur. Kalau ehidupan dunia adal ah segalanya ma a esalehan seorang nabi tiada artinya. * * * 26. Ayat Ayat Cinta

ginda Nabi. Beliau bersabda, Arraasyi wal murtasyi fin naar! Artinya, orang yang m enyuap dan disuap masu nera a! Isteri u, hidup di dunia ini bu an segalanya. Ji a ita tida bisa lama hidup bersama di dunia, ma a insya Allah ehidupan a her at a an e al abadi. Jadi, umohon isteri u jangan au la u an itu! A u tida re la, demi Allah, a u tida rela! Aisha tersedu-sedu mendengar penjelasan u. Dalam tangisnya ia ber ata dengan pen uh penyesalan, Astaghfirullah astaghfirullaahal adhiim! Paman Eqbal i ut sedih dan m enetes an air mata. Aisha isteri u, apa ah au benar-benar mencintai u? tanya u. Aisha menganggu an epala. A u juga sangat mencintaimu. Dan a u ta ingin ita yang se arang ini saling menc intai ela di a hirat menjadi orang yang saling membenci dan saling memusuhi. Apa ma sudmu? Apa ah ada dua orang yang di dunia saling mencintai di a hirat just ru saling memusuhi? tanyanya. Ji a cinta eduanya tida berlandas an eta waan epada Allah ma a eduanya bisa saling bermusuhan ela di a hirat. Apalagi ji a cinta eduanya justru menyebab an terjadinya perbuatan ma siat bai ecil maupun besar. Tentu ela mere a berd ua a an berteng ar di a hirat. Seseorang yang sangat mencintai e asihnya sering mela u an apa saja demi e asihnya. Ta peduli pada apa pun juga. Ter adang jug a tida peduli pada pertimbangan dosa atau tida dosa. Ji a yang dila u an adala h dosa tentu a an menyebab an eduanya a an bermusuhan ela di a hirat. Sebab m ere a a an berseteru di hadapan pengadilan Allah Swt. Inilah yang telah dipering at an oleh Allah Swt dalam surat Az Zuhruf ayat 67: Orang-orang yang a rab saling asih mengasihi, pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lai n, ecuali orang-orang yang berta wa. Isteri u, a u ta ingin ita yang se arang ini saling menyayangi dan saling mencintai ela di a hirat justru menjadi musuh dan seteru. A u ingin ela di a hirat ita tetap menjadi sepasang e asih yang dimulia an oleh Allah Swt. A u ta mengingin an yang lain ecuali itu isteri u. Hidup dan mati sudah ada ajalnya. Allahlah yang menentu an bu an eluarga Noura juga bu an ha im pengadilan itu. Ji a memang ematian u ada di tiang gantungan itu bu an suatu hal yang harus dita ut an. Beribu-ribu sebab tapi ematian adala h satu yaitu ematian. Yang membeda an rasanya seseorang meregu ematian adalah besarnya ridha Tuhan epadanya. Isteri u, a u sangat mencintaimu. A u ta ingin ehilangan dirimu di dunia ini dan a u lebih ta ingin ehilangan dirimu di a h irat nanti. Satu-satunya jalan yang harus ita tempuh agar ita tetap bersama da n tida ehilangan adalah berta wa dengan sepenuh ta wa epada Allah Azza Wa Jal la. Tangis Aisha sema in menjadi-jadi. Ka... au benar Suami u, terima asih au telah mengingat an diri u. Sungguh berun tung a u memili i suami seperti dirimu. A u mencintaimu suami u. A u mencintaimu arena au adalah suami u. A u juga mencintaimu arena Allah Swt. Ayat yang au baca dan au jelas an andungannya adalah satu ayat cinta di antara se ian juta ayat-ayat cinta yang diwahyu an Allah epada manusia. Keteguhan imanmu mencinta i ebenaran, eta waan dan esucian dalam hidup adalah juga ayat cinta yang dian ugerah an Tuhan epada u dan epada ana dalam andungan u. A u berjanji a an se tia menempat an cinta yang ita bina ini di dalam cahaya erelaan-Nya. Kalimat- alimat yang terucap dari mulut Aisha menjadi penyeju jiwa yang tiada p ernah urasa sebelumnya. Ia seorang perempuan yang luna hatinya dan bersih nura ninya. Kisah percintaan alian membuat hati u sangat terharu. Aisha, memili i rasa cint a dan esetiaan pada suami yang luar biasa. Kau seperti ibumu. Kau mewarisi ele mbutan hati seperti nene mu yang asli Palestina. Ji a beliau masih ada pasti a a n sangat bangga memili i cucu sepertimu. Dan au Fahri, a u belum pernah melihat seorang lela i yang seteguh dirimu dan se uat dirimu dalam bertanggung jawab me mpertahan an cinta suci di dunia dan di a hirat. Kau benar, hidup yang sebenarny a adalah hidup di a hirat. Hidup yang e al abadi tiada penghabisannya. Sesunggu hnya sore ini a u mendapat an nasihat agung yang tiada ternilai harganya. Azan ber umandang dan ami bersiap untu bu a. Sambil menjawab azan, lirih ude ngar Aisha berdoa, Ya Allah e al an cinta ami di dunia dan di a hirat. Ya Allah masu an ami e dalam surga Firdaus-Mu agar ami dapat terus bercinta selama-l

amanya. Amin. Setelah mere a pulang di dalam sel penjara a u menyatu an diri dalam reng uhan tangan Tuhan. Mes ipun berada di dalam penjara a u masih merasa an eni matan- e ni matan yang elihatannya biasa-biasa namun luar biasa agungnya. Tuhan masih me mberi an sentuhan cinta dan asih sayang-Nya. A u tiada uasa berbuat apa-apa e cuali meleta an ening bersujud epada-Nya. Ilahi, setiap ali, bila urenung an emurahanMu yang begitu sederhana mendalam a upun tergugu dan membulat an sembah u padaMu113 * * * 113 Diadaptasi dengan sedi it perubahan dari puisi berjudul Saat-saat Sadar arya penyair Belgia, Emile Verhaeren (1855-1916), yang sangat ter enal pasca perang d unia pertama. Hari raya Idul Fitri tiba. A u meraya annya di dalam penjara berteman du a dan air mata. Tida seperti hari raya yang telah lalu. A u tida bisa berbicara lang sung dengan edua orang tua di Indonesia. A u hanya berpesan epada Aisha agar m inta tolong epada Rudi membeli an artu lebaran di Attaba dan mengirimnya tanpa memberitahu an eadaan u sebenarnya. A u ta ingin membuat mere a berdua berdu a tiada ter ira. A u telah berpesan pada Ketua PPMI agar ji a ada teman mahasisw a dari Jawa pulang ber enan mampir e rumah orang tua u dan mencerita an masalah yang menimpa u dengan bai dan bija sana. Yang sedi it mengurangi esedihan u pada hari raya itu adalah unjungan yang da tang silih berganti dari pagi sampai sore. Pagi se ali, ta lama setelah shalat Ied selesai Aisha, paman Eqbal dan bibi Sarah menjengu . Setelah itu teman-teman satu rumah alias Rudi d . Lalu Mas Khalid dan ana buahnya. Ketua Kelompo Stu di Walisongo (KSW) dan bala urawanya. Ta mir masjid Indonesia. Beberapa staf KB RI yang rendah hati. Teman-teman S2 dan S3. Dan beberapa enalan lainnya. Yang cu up mengejut an diri u adalah unjungan Nurul bersama Ustadz Jalal dan i sterinya. Nurul menyampai an rasa terima asihnya atas surat yang a u tulis untu nya. Dia minta doanya tiga hari lagi a an melangsung an a ad ni ah dengan salah seorang mahasiswa Indonesia. Siapa dia calon suamimu yang beruntung itu, alau a u boleh tahu? Tanya u pada Nu rul. Dia menundu an epala dan dia diam saja. Malu. Dia juga sedang menulis tesis. Juga awan de atmu. Kata Ustadz Jalal menanggapi p ertanyaan u. A u berpi ir sesaat mencari seseorang yang diisyarat an oleh Ustadz Jalal. Apa ah dia itu Mas Khalid? teba u. Teba anmu tida salah, jawab Ustadz Jalal. Dia orang yang shaleh, bai dan memili i ara ter dan dedi asi tinggi. ata u. Tapi cinta pertama sangat susah dilupa an. Lirih Nurul. Se ali lagi cinta sejati adalah yang telah dii at dengan tali suci perni ahan. J adi anlah Mas Khalid sebagai cinta pertama dan tera hirmu. pelan u. Insya Allah, a u sedang berusaha untu mela u an itu dengan segenap usaha. Doa a nlah perni ahan ami bara ah, dan ami bahagia dan menemu an mawaddah, lirih Nuru l. Sama-sama. Kita saling mendoa an, jawab u. A u bahagia mendapat unjungan yang membawa berita bai itu. Mas Khalid memang pasangan yang coco untu Nurul. Keduanya sama-sama berasal dari eluarga pesant ren. Dan epiawaian Mas Khalid dalam membaca itab uning ala pesantren salaf a an sangat berguna bagi pengembangan pesantren mili ayah Nurul. Mas Khalid bisa menjadi pengasuh pesantren yang bai . Dalam banya acara dis usi di Cairo dia pa ling sering diminta untu memimpin doa. Doanya panjang namun mampu membuat orang menetes an air mata di hadapan Tuhannya. Dan yang ta alah bahagianya hati u adalah unjungan Syai h Prof. Dr. Abdul Gh afur Ja far bersama puteranya yang bernama Umar. Beliau berpesan agar a u bersaba r dan tida pernah putus asa sedeti pun atas datangnya rahmat Allah Swt. Beliau

27. Diary Maria Hari beri utnya, pagi-pagi se ali, Tuan Boutros dan Madame Nahed datang. A u sa ma se ali tida menyang a mere a a an datang menjengu dan mengucap an selamat h ari raya. Ternyata ma sud edatangan mere a tida semata-mata ber unjung. Tuan B outros ber ata, Kedatangan ami berdua emari mau minta pertolonganmu se ali lagi untu esembuhan Maria. A u tida mengerti ma sud Tuan. Apa yang bisa a u la u an dalam eadaan seperti ini? jawab u. Kaset re aman suaramu itu bisa menyadar an Maria beberapa menit. Begitu sadar ia menanya an dirimu. Ia terus menanya an dirimu sampai ta sadar an diri embali. Do ter ahli syaraf yang menanganinya meminta agar bisa mendatang an dirimu bebe rapa saat untu menyadar an Maria. Dengan suara dan dengan sentuhan tanganmu ada emung inan Maria bisa sadar. Dan eti a mendapat an dirimu berada di sisinya, dia a an memili i semangat hidup embali. Maria itu ternyata persis seperti ibun ya yang tida mudah jatuh cinta. Namun se ali jatuh cinta dia ta bisa melupa an sama se ali orang yang dicintainya. Madame Nahed ini dulu juga sa it seperti Ma ria se arang, cuma tida separah Maria, ata Tuan Boutros. Tolonglah Ana u, a u ta mau ehilangan Maria. A u sudah pernah mengalami apa y ang dialami Maria. Hanya suaramu, sentuhanmu dan ehadiranmu di sisinya yang a a n membuat dirinya embali memili i cahaya hidup yang telah redup, desa Madame Na hed. Kalau hanya memperdengar an suara u padanya, insya Allah a u bisa. Tapi alau sa mpai menyentuhnya a u tida bisa. Anda tentu sudah tahu enapa? Tapi bagaimana a u bisa mela u an itu sementara a u berada di dalam penjara. Apa ah a an re aman lagi? jawab u. Kami a an minta izin epada piha epolisian untu membawamu e rumah sa it bebe rapa saat lamanya dengan jaminan, ata Tuan Boutros. Semoga bisa, sahut u pelan. Keduanya lalu eluar. A u menunggu di ruang tamu penjara dengan penuh harap ber doa mere a diizin an membawa u e rumah sa it menemui Maria. Dan semoga a u bisa menyadar an Maria sehingga nanti dia bisa menjadi sa si dalam persidangan penen tuan yang tida lama lagi a an dilangsung an. Entah bagaimana diplomasi mere a p ada piha epolisian dan jaminan apa yang mere a beri an a hirnya mere a diizin an membawa u e rumah sa it sampai maghrib tiba. Saat azan maghrib ber umandang a u harus sudah berada di dalam penjara lagi. Borgol u dilepas. A u melihat jam

meminta maaf atas etida berdayaan beliau mempertahan an diri u atas pengeluaran u dari Al Azhar. Beliau juga menjelas an bahwa sebenarnya Al Azhar mendapat an te anan dari eamanan untu mela u an hal itu pada u. Sebelum pulang beliau meme lu u erat-erat lalu mengecup ubun-ubun epala u. Ingat bai -bai Ana u, wa man yattaqillaha yaj al lahu ma hraja! 114 Pesan beliau epada u. Kunjungan Guru Besar Tafsir Universitas Al Azhar itu membuat diri u mem ang benar-benar terasa ada. Orang sepenting dia masih ber enan menengo u di pen jara. Sungguh pengalaman yang ta a an terlupa. Menjelang Isya , Syai h Ahmad dan isterinya, Ummu Aiman datang. Syai h Ahmad sedi it membawa berita bai untu u. Yaitu saudara sepupunya, Ridha Shahata, yang di tugas an eluar Mesir pulang lebih awal dari jadwal yang ditetap an arena dia t elah menyelesai an semua tugasnya dengan bai . Ridha Shahata berjanji a an memba ntu sebisanya. Yang paling penting menurut Ridha Shahata dari cerita Syai h Ahma d adalah bagaimana caranya Maria bisa memberi an esa siannya di depan pengadila n. A u lebih banya diam, dalam hati u ata an, Maria sangat susah diharap an, ji a memang a u harus mati di tiang gantungan berarti memang Tuhan ber ehenda dem i ian. 114 Dan siapa yang berta wa epada Allah ma a dia a an menjadi an untu nya jalan eluar. Sejujurnya u ata an, selama meraya an Iedul Fitri di Mesir a u belum pernah me ndapat an unjungan sebanya itu. Mes ipun berada di penjara, namun hari raya ya ng ulewati cu up mengesan. A u i hlas seandainya hari raya yang a u lewati adal ah hari raya tera hir u di dunia.

dinding yang ada di ruangan itu. Baru pu ul setengah delapan pagi. Maghrib se it ar pu ul lima empat lima. Ada wa tu sembilan jam setengah. Semoga wa tu yang ada itu cu up untu membantu Maria. Tuan Boutros dan Madame Nahed membawa u e mobil mere a. A u heran, sama se ali ami tida di awal. Apa mere a tida ta ut a u a an melari an diri. A u tanya a n hal itu pada Tuan Boutros. Beliau menjawab, Ji a au lari ma a ami se eluarga a an mati. Kami se eluarga yang menjadi jaminanmu. Apa Tuan tida uatir a u a an melari an diri? tanya u. A u sudah mengenal siapa dirimu. Kau bu an seorang pengecut yang a an mela u an hal itu, jawab Tuan Boutros mantap. Terima asih atas epercayaannya, tu as u. Rumah sa it tempat Maria dirawat adalah rumah sa it tempat a u dulu dirawat. Be gitu sampai di sana Madame Nahed yang juga seorang do ter langsung meminta teman nya untu memeri sa esehatan u. A u sempat minta pada Madame Nahed menghubungi Aisha yang tinggal di rumah paman Eqbal yang ta jauh dari rumah sa it. Seorang do ter memeri sa te anan darah u dan lain sebagainya dengan proses yang cepat. D ia minta a u mandi dengan air emerahan yang telah disiap an seorang perawat. La lu salin pa aian rumah sa it. A u mandi dengan cepat. Setelah itu a u disunti . Barulah a u diaja e amar di mana Maria tergeleta seperti mayat. A u ta uas a menatapnya. Maria yang ulihat itu tida seperti Maria yang dulu. Ia tampa be gitu urus. Mu anya pucat dan layu. Ta ada senyum di bibirnya. Matanya terpejam rapat. Air matanya terus meleleh. Entah enapa tiba-tiba mata u basah. Seorang do ter setengah baya meminta u untu berbicara dengan suara yang datang dari jiw a agar bisa masu e dalam jiwa Maria. Ini penya it cinta, hanya bisa disembuh an dengan getaran-getaran cinta, atanya pada u. A u dudu di ursi de at Maria berbaring. Mulut u ta jauh dari telinga Maria. A u memanggil-manggil namanya. Menyuruhnya untu membu a an mata. A u bercerita dan lain sebagainya. Satu jam sudah a u berbicara tapi Maria tetap tida sadar j uga. Do ter setengah baya mengaja u bicara. Dia minta agar a u mengucap an ata - ata yang mesra, ata- ata pernyataan cinta pada Maria sambil memegang-megang t angannya atau menyentuh eningnya. Kujawab, Maaf an diri u atas etida mampuan u mela u an hal itu. A u tida mung i n menyata an cinta dan menyentuh bagian tubuh seorang wanita, ecuali pada ister i u saja. Tolonglah, la u an itu untu merangsang syarafnya dan membuatnya sadar. Kau haru s mengata an dan mela u an sesuatu yang memili i efe pada syaraf dan memorinya. Dan lebih dari itu pada jiwanya. Utara anlah rasa cintamu padanya, mung in itu a an menolongnya. A u tida bisa mela u annya. A u tida menyesal. Ini tida sungguhan. A u harus bersi ap bagaimana? A u tida bisa mela u an hal itu, juga tida bisa untu mela u an suatu ebohongan. Bagaimana ji a a u mengung ap an rasa cinta la lu dia sadar. Kemudian dia tahu a u membohonginya apa ah itu bu an suatu penyi s aan yang ejam padanya? Do ter setengah baya diam. Ia lalu eluar dan beranja eluar untu berbicara p ada Tuan Boutros dan Madame Nahed. A u dudu terpe ur dalam etermanguan. La on hidup ini enapa begitu rumit? A u melihat bibir Maria bergetar menyebut sebuah nama. Hati u berdesir. Yang ia sebut adalah nama u. A u menjawab dengan menyebut namanya tapi ia tida juga membu a matanya. Ingin a u menggoyang-goyang tubuhny a agar ia sadar, agar ia tahu a u ada di de atnya tapi itu ta mung in a u la u an. Tuan Boutros mengaja u berbicara enam mata dengan Madame Nahed di sebuah ru angan. Tuan Boutros menyerah an sebuah agenda berwarna biru. Fahri, ini agenda pribadi Maria. Tempat ia mencurah an segala perasaan dan penga lamannya yang sangat pribadi yang ter adang ami tida mengetahuinya. Termasu c intanya padamu yang luar biasa. Kami tida pernah menyalah anmu dalam masalah in i. Sebab amu memang tida bersalah. Kamu tida pernah mela u an tinda an yang t ida bai pada Maria. Kami juga tida bisa menyalah an Maria. Bacalah beberapa h alaman yang telah ami tandai itu agar au mengetahui bagaimana perasaan Maria t erhadapmu sebenarnya, ata Tuan Boutros. A u menerima agenda pribadi Maria itu dan membaca pada halaman-halaman yang tel

ah ditandai dengan sedi it dilipat ujung atas halamannya. Kubu a lipatan 1: Senin, 1 O tober 2001, pu ul 22.25 Sudah dua tahun dia dan teman-temannya tinggal di flat bawah. Kamarnya tepat di bawah amar u. A u ta pernah ber enalan langsung dengannya, tapi a u mengenalny a. A u tahu namanya dan tanggal lahirnya. Yousef banya bercerita tentang diriny a dan teman-temannya. Setiap Jum at pagi dia dan teman-temannya bermain sepa bola di lapangan bersama Yousef dan ana -ana muda Hadaye Helwan. Mere a semua maha siswa Al Azhar dari Indonesia yang ramah dan menghormati siapa saja. Kata Yousef yang paling ramah dan dewasa adalah dia. Bahasa amiyah dan fushanya juga paling bai di antara eempat orang temannya. Ayah pernah dibuat terharu oleh si apnya yang tida mau merepot an dan menya it i tetangga. Ceritanya suatu hari ayah menagih iuran air e tempatnya. Ternyata i a sedang tida ena badan dan istirahat di amarnya. Teman-temannya mengaja aya h masu e amarnya. Di dalam amarnya ada sebuah ember untu menadah air yang m enetes dari langit-langit. Ayah langsung tahu bahwa tetesan air itu berasal dari amar mandi ami. Karena amilah yang tepat berada di atasnya. Dan leta amar mandi memang berada di samping amar u. Ayah bertanya padanya, Sudah berapa lama air ini merembes dan menetes di amarmu? Satu bulan? Kenapa au tida bilang epada u alau ada etida beresan di amar mandi ami dan merembes e tempatmu? Nabi ami mengajar an untu memulia an tetangga, beliau bersabda, Siapa yang berim an epada Allah dan hari a hir ma a mulia anlah tetangganya! Kami tahu erusa an itu perlu diperbai i. Dan perbai an itu memerlu an biaya yang tida sedi it. Kar ena lantai rumah Anda adalah langi-langit rumah ami, ma a biaya perbai an itu t entunya ita berdua yang menanggungnya. Kebetulan ami tida punya uang. Kami me nunggu ada uang baru a an memberitahu Anda. Ji a ami langsung memberitahu Anda ami ta ut a an merepot an Anda. Dan itu tida ami ingin an. Mendengar jawaban itu hati ayah sangat tersentuh dan terharu. Ayah terharu atas esabaran dia selama satu bulan. Ada air menetes di langit-langit amar tentu sa ngat mengganggu enyamanan. Ayah juga terharu a an edewasaannya dalam merasa be rtanggung jawab. Ayah merasa mendapat teguran. Bagaimana tida ? Setengah tahun s ebelumnya ada air menetes di langit-langit amar mandi ami. Berarti amar mandi penghuni rumah atas ami tida beres. Ayah dengan tegas langsung meminta orang atas memperbai inya tanpa memberi bantuan finansial sedi it pun. Sebab ayah mera sa itu sepenuhnya tanggung jawab orang atas. Seja itu e aguman ayah padanya da n pada teman-temannya sering ayah ung ap an. Dan seja ejadian itu a u jadi pen asaran ingin tahu lebih jauh tentang dirinya. Sudah dua tahun dia tinggal di bawah dan a u tida pernah bertegur sapa denganny a. Sering ali ami bertemu ta sengaja di jalan, di halaman apartemen, di gerban g, atau di tangga. Tapi ami ta pernah bertegur sapa. Dia lebih sering menundu . Ji a tanpa sengaja beradu pandangan saat bertemu dengan u dia cepat-cepat menu ndu atau mengalih an padangan. Dia bersi ap biasa. Tida tersenyum juga tida b ermu a masam. A hirnya tadi siang saat a u pulang dari uliah a u bertemu dia di dalam metro. Dia juga dari uliah. A u memberani an diri untu menyapanya dan m engaja nya bicara. Sebab rasa-rasanya rasa penasaran u ingin tahu sendiri einda han pribadinya seperti yang sering dicerita an Yousef dan ayah tida dapat a u t ahan lagi. A u menyapanya dengan tersenyum dan dia pun menjawab dengan bai dan halus. A u heran pada diri u sendiri bagaimana mung in a u tersenyum padanya. A u jarang bah an bisa di ata an anti memberi an senyum pada lela i yang bu an el uarga u. A u tida tahu enapa a u memberi an senyum u padanya dan a u tida mer asa menyesal bah an sebali nya. Yang membuat u senang adalah dia ternyata tahu n ama u. Saat itu a u ingin bertanya padanya enapa selama ini alau bertemu di ja lan atau ditangga tida pernah menyapa u. Tapi uurung an. Perbincangan dengannya tadi siang sangat ber esan di hati u. Dia memili i tutur bahasa yang halus dan epribadian yang indah. Ia tida mau a u aja berjabat tan gan. Bu an tida menghormati diri u, ata dia, justru arena menghormati diri u.

Lipatan 2: Minggu, 16 Desember 2001, pu ul 21.00 Kenapa a u menangis? Perasaan apa yang mendera hati u se arang?Begitu menyi sa. A u ta pernah merindu an seseorang seperti rindu u padanya. Sudah satu bulan a u tida melihatnya melintas di halaman apartemen. Sudah satu bulan dia menghila ng membuat hati u merasa terce am erinduan. Yousef bilang Fahri pergi umrah sej a pertengahan Ramadhan dan sampai se arang belum juga pulang. A u merasa memang telah jatuh cinta padanya. Cinta yang datang begitu saja tanpa a u sadari ehad irannya di dalam hati. Lipatan 3: Sabtu, 10 Agustus 2002 pu ul 11.15 Pulang dari restoran Cleopatra ugores an pena ini. Sebab a u tida bisa mengun g ap an gelega perasaan u secara tuntas ecuali dengan menoreh annya dalam diar y ini. A hirnya eraguan u padanya hilang, berganti dengan eya inan. Selama ini a u r agu apa ah dia bisa romantis. Sebab selama bertemu atau berbicara dengannya dia sama se ali tida pernah ber ata yang manis-manis. Selalu biasa, datar dan wajar . Dia selalu tampa serius mes ipun setiap ali a u tersenyum padanya dia juga m embalas dengan senyum sewajarnya. Tapi malam ini, apa yang dia la u an membuat hati u benar-benar sesa oleh rasa cinta dan bangga padanya. Dia sangat perhatian dan su a membuat ejutan. Kali i ni yang mendapat ejutan indah darinya adalah Mama dan Yousef. Mere a berdua men dapat hadiah ulang tahun darinya. Mes ipun di atas nama an seluruh anggota rumah nya tapi a u ya in dialah yang merencana an semuanya. Dia ternyata sangat romant is. Ta perlu banya ber ata- ata dan langsung dengan perbuatan nyata. Fahri, a u benar-benar tertawan olehmu. Tapi apa ah au tahu yang terjadi pada diri u? Ap a ah au tahu a u mencintaimu? A u malu untu mengung ap an semua ini padamu. Da n eti a au uaja dansa tida mau itu tida membuat u ecewa tapi malah sebali nya membuat a u merasa sangat bangga mencintai lela i yang uat menjaga prinsip dan esucian diri seperti dirimu. Lipatan 4: Minggu, 11 Agustus 2002 pu ul 22.00 A u sangat cemas memi ir an dia. Dia dia tergeleta eningnya panas. Kata Mama ter ena heat stro e. Kata teman-temannya dia seharian mela u an egiatan yang me lelah an di tengah musim panas yang sedang menggila. Oh, e asih u sa it A u menjengu nya Wajahnya pucat A u jadi sa it dan pucat Karena memi ir an dirinya A u sema in tahu siapa dia. Untu pertama alinya a u tadi masu amarnya i ut Mama dan Ayah menjengu nya. Dia seorang pemuda yang ulet, pe erja eras, dan mem ili i rencana e depan yang matang. A u masih ingat dia menyitir per ataan berte naga Thomas Carlyle: Seseorang dengan tujuan yang jelas a an membuat emajuan wal aupun melewati jalan yang sulit. Seseorang yang tanpa tujuan, tida a an membuat emajuan walaupun ia berada di jalan yang mulus!

Dia juga bisa menjadi pendengar yang bai . Sifat yang tida banya dimili i set iap orang. Ia sangat senang menyima a u membaca surat Maryam. Kelihatannya ia aget ada gadis opti hafal surat Maryam. A u bu an gadis yang mudah ter esan pa da seorang pemuda. Tapi entah enapa a u merasa sangat ter esan dengan si ap-si apnya. Dan entah enapa hati u mulai condong padanya. Hati u selalu bergetar men dengar namanya. Lalu ada perasaan halus yang menyusup e sana tanpa a u tahu per asaan apa itu namanya. Fahri, nama itu seperti embun yang menetes dalam hati. Ku rindu setiap pagi.

A u merasa tida salah mencintai dia. A u ingin hidup bersamanya. Merenda masa depan bersama dan membesar an ana -ana bersama. Membangun peradaban bersama. Oh Fahri, apa ah au mendengar suara-suara cinta yang bergemuruh dalam hati u? Lipatan 5: Sabtu, 17 Agustus 2002, pu ul 23.15

Lipatan 6: Minggu, 18 Agustus 2002, pu ul 17.30 Seolah-olah a ulah yang sa it, bu an dia. Tuhan, jangan au panggil dia. A u in gin dia mendengar dan tahu bahwa a u sangat mencintainya. Dia tergeleta tanpa daya berselimut ain putih. Kata Saiful pu ul setengah tig a malam dia sadar tapi ta lama. Lalu embali ta sadar an diri sampai a u datan g menjengu nya jam setengah delapan pagi tadi. Kulihat Saiful pucat. Ia belum ti dur dan belum ma an. Kuminta dia eluar mencari ma an. A u menganti an Saiful me njaganya. A u ta uasa menahan sedih dan air mata u. Dia terus mengigau dengan bibir bergetar membaca ayat-ayat suci. Wajahmu pucat. Air matanya meleleh . Mung in dia merasa an sa it yang tiada ter ira. A u ta uasa menahan rasa sedih yang berselimut rasa cinta dan sayang padanya. Kupegang tangannya dan uciumi. Kupegang eningnya yang hangat. A u ta ut se ali alau dia mati. A u tida mau dia mati. A u ta bisa menahan diri u untu tida menciumnya. Pagi itu untu pertama ali a u mencium seorang lela i. Yaitu Fahri . A u ta ut dia mati. Kuciumi wajahnya. Kedua pipinya. Dan bibirnya yang wangi. A u ta mung in melupa an ejadian itu. Kalau dia sadar mung in dia a an marah s e ali pada u. Tapi a u ta ut dia mati. Saat menciumnya a u ata an padanya bahwa a u sangat mencintainya. Tapi dia ta juga sadar. Ta juga menjawab. Pu ul delapan dia bangun dan dia elihatan aget melihat a u berada di sisinya. A u ingin mengata an a u cinta padanya. Tapi entah enapa melihat sorot matanya yang bening a u tida berani mengata annya. Tenggoro an u terce at. Mulut u ter unci hanya hati yang berbicara tanpa suara. Tapi a u berjanji a an mencari wa tu yang tepat untu mengata an semuanya padanya. A u ingin meni ah dengannya. Dan a u a an mengi uti semua einginannya. A u sangat mencintainya seperti seorang p enyembah mencintai yang disembahnya. Memang memendam rasa cinta sangat menyi sa tapi sangat mengasyi an. Love is a sweet torment! Lipatan tera hir: Jum at, 4 O tober 2002, pu ul 23.25

A u masih sangat elelahan baru pulang dari Hurgada. Baru setengah jam meleta an badan di atas asur a u mendapat an berita yang meremu redam an seluruh jiwa raga. Fahri telah meni ah dengan Aisha, seorang gadis Tur i satu minggu yang lal u. A u merasa dunia telah gelap. Dan hidup u tiada lagi berguna. Harapan dan imp ian u semua lenyap. A u ecewa pada diri u sendiri. A u ecewa pada hari-hari ya ng telah ujalani. Andai an wa tu bisa diputar mundur a u a an mengung ap an sem

A u belum pernah merasa an eta utan dan ecemasan sehebat ini? A u ta ingin ehilangan dirinya. Dia memang eras epala. Diingat an untu menjaga esehatanny a tida juga mengindah annya. A hirnya terjadilah peristiwa yang membuat diri u didera ecemasan luar biasa. Siang tadi pu ul setengah empat Saiful datang dengan wajah cemas. Minta tolong Fahri dibawa e rumah sa it. Fahri ta sadar an diri. A u telpon Mama di rumah s a it lalu bersama Yousef membawa Fahri e rumah sa it. A u menungguinya sampai j am delapan malam. Dan dia belum juga siuman. Ah, Fahri au jangan mati! A u ta mau ehilangan dirimu. Sembuhlah Fahri, a u a an ata an semua perasaan u padamu . A u sangat mencintaimu.

ua perasaan cinta u padanya dan mengaja nya meni ah sebelum dia bertemu Aisha. A u merasa ingin mati saja. Ta ada gunanya hidup tanpa didampingi seorang yang s angat ucintai dan usayangi. A u ingin mati saja. A u ingin mati saja. A u rasa a u tiada bisa hidup tanpa e uatan cinta. A u a an menunggunya di surga. Air mata u ta bisa ubendung membaca apa yang ditulis Maria dalam diary pribad inya. A u cepat-cepat menata hati dan jiwa u. A u ta boleh larut dalam perasaan haru dan cinta yang tiada berha umerasa annya. A u sudah menjadi mili Aisha. Dan a u harus setia lahir batin, dalam su a dan du a, juga dalam segala cuaca. Hanya au yang bisa menolongnya Ana u. Nyawa Maria ada di tanganmu, ucap Madame Nahed pelan dengan air mata meleleh di pipinya. Bu an a u. Tapi Tuhan, jawab u. Ya. Tapi au perantaranya. Kumohon la u anlah sesuatu untu Maria! A u sudah mela u annya semampu u. La u anlah seperti yang diminta do ter. Tolong. Andai a u bisa Madame, a u ta bisa mela u annya. Kenapa? A u sudah ata an semuanya pada do ter. Kalau begitu ni ahilah Maria. Dia tida a an bisa hidup tanpa dirimu. Sebagaiman a a u tida bisa hidup tanpa Boutros. Itu juga tida mampu a u la u an. A u sangat menyesal. Kenapa Fahri? Kau tida mencintainya? Kalau au tida bisa mencintainya ma a as ihanilah dia. Sungguh malang nasibnya ji a harus mati dalam eadaan sangat sengs ara dan menderita. Kasihanilah dia, Fahri. Kumohon demi rasa cintamu pada nabimu . Masalahnya bu an cinta atau asihan Madame. Lantas apa? A u sudah meni ah. Dan saat meni ah a u menyepa ati syarat yang diberi an isteri u agar a u menjadi an dia isteri yang pertama dan tera hir. Dan a u harus menun ai an janji itu. A u tida boleh melanggarnya. A u a an minta pada Aisha untu memberi an belas asihnya pada Maria. A u ya in Aisha seorang perempuan shalihah yang bai hati. Kebetulan itu dia, baru datang. Kau tunggulah di sini bersama Boutros. A u mau bicara empat mata dengan Aisha. Kata Madame Nahed sambil berjalan menyambut Aisha. Keduanya lalu berjalan memasu i sebuah ruangan. Entah apa yang a an di ata an Madame Nahed pada Aisha. Semoga Aisha tida terlu a hatinya. Dan a u sama se ali tida punya niat sedeti pun un tu mendua an Aisha dengan Maria. A u tida pernah berpi ir alau Maria mencinta i u sedemi ian rupa. * * * Setelah berbincang dengan Madame Nahed, Aisha mengaja u berbicara empat mata. Matanya ber aca- aca. Fahri, meni ahlah dengan Maria. A u i hlas. Tida Aisha, tida ! A u tida bisa. Meni ahlah dengan dia, demi ana ita. Kumohon! Ji a Maria tida memberi an esa siannya ma a a u ta tahu lagi harus berbuat apa untu menyelamat an ayah dari ana yang u andung ini. Setetes air bening eluar dari sudut matanya. Aisha, hidup dan mati ada di tangan Allah. Tapi manusia harus berusaha se uat tenaga. Tida boleh pasrah begitu saja. Meni ahlah dengan Maria lalu la u anlah seluruh petunju do ter untu menyelamat anny a. A u ta bisa Aisha. A u sangat mencintaimu. A u ingin au yang pertama dan tera hir bagi u. Kalau au mencintai u ma a au harus berusaha mela u an yang terbai untu ana ita. A u ini sebentar lagi menjadi ibu. Dan seorang ibu a an mela u an apa saja untu ayah dari ana nya. Meni ahlah dengan Maria. Dan au a an menyelamat an ba nya orang. Kau menyelamat an Maria. Menyelamat an ana ita. Menyelamat an diri u dari status janda yang terus membayang di depan mata dan menyelamat an nama b ai mu sendiri. A u mencintai alian semua. Tapi a u lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya. Buda hitam yang muslimah lebih bai dari yang bu an muslimah. A u ta mung in mela u

annya isteri u. A u ya in Maria seorang muslimah. Bagaimana au bisa ya in begitu? Dengan se ilas membaca diarynya. Ji a dia bu an seorang muslimah dia tida a an mencintaimu sedemi ian uatnya. Kalau pun belum menjadi muslimah secara lesan da n perbuatan, a u ya in fitrahnya dia itu muslimah. A u tida bisa berspe ulasi isteri u. A u tida bisa mela u annya. Dalam intera si sosial ita bisa toleran pada siapa saja, berbuat bai epada siapa saja. Tap i untu masalah eya inan a u tida bisa main-main. A u tida bisa meni ah ecua li dengan perempuan yang bersa si dan meya ini tiada Tuhan selain Allah dan Muha mmad adalah utusan Allah. Kalau untu bertetangga, berteman, bermasyara at a u b isa dengan siapa saja. Untu ber eluarga tida bisa Aisha. Tida bisa! Suami u a u sependapat denganmu. Se arang meni ahlah dengannya. Anggaplah ini ij tihad da wah dalam posisi yang sangat sulit ini. Nanti ita a an berusaha bersam a untu membawa Maria e pintu hidayah. Ji a tida bisa, semoga Allah masih memb eri an satu pahala atas usaha ita. Tapi a u sangat ya in dia telah menjadi seor ang muslimah. Ji a tida bagaimana mung in dia mau menerjemah an bu u yang membe la Islam yang au beri an pada Alicia itu. Itu firasat u. Kumohon meni ahlah dan selamat an Maria. Bu an ah dalam Al-Qur an disebut an, Dan barangsiapa yang memel ihara ehidupan seorang manusia, ma a seolah-olah dia telah memelihara ehidupan manusia seluruhnya.? A u diam tida bisa bicara apa-apa. A u tida pernah membayang an a an menghada pi suasana psi ologis yang cu up berat seperti ini. Aisha mengambil cincin mahar yang a u beri an di jari manis tangan anannya. Ini jadi an mahar untu Maria. Wa tunya sangat mendesa . Sebelum maghrib au har us sampai di penjara. Jadi au harus segera meni ah dan mela u an semua petunju do ter untu menyadar an Maria. Kata- ata Maria begitu tegas tanpa ada eraguan, setegas perempuan-perempuan Palestina eti a menyuruh suaminya berang at e med an jihad. Dengan sedi it ragu a u mengambil cincin itu. A u ta bisa menahan isa tangis u. Aisha memelu u, ami bertangisan. Suami u au jangan ragu! Kau sama se ali tida mela u an dosa. Ya inlah bahwa au a an mela u an amal shaleh, bisi Aisha. Setelah itu a u menemui Madame Nahed dan Tuan Boutros. Mere a berdua menyambut esediaan u dengan bahagia. Proses a ad ni ah dila sana an dalam wa tu yang sanga t cepat, sederhana, sesuai dengan permintaan u. Seorang ma dzun syar i mewa ili Tuan Boutros meni ah an diri u dengan Maria dengan mahar sebuah cincin emas. Sa siny a adalah dua do ter muslim yang ada di rumah sa it itu. Setelah itu do ter setengah baya memberi an petunju apa yang harus a u la u an untu membantu Maria sadar dari omanya. A u minta hanya a u dan Maria yang ada di ruang itu. A u wudhu dan shalat dua ra aat lalu berdoa di ubun-ubun epala Ma ria seperti yang a u la u an pada Aisha. A u hampir tida percaya bahwa gadis Me sir yang dulu lincah, ceria dan ini terbaring lemah tiada berdaya ini adalah is teri u. Segenap perasaan ucurah an untu mencintainya. A u membisi an e telin ganya ung apan-ung apan rasa cinta dan rasa sayang yang mendalam. A u lalu menci uminya seperti dia menciumi u wa tu a u sa it. Tapi dia tetap diam saja. A u lal u menangis melihat usaha u sepertinya sia-sia. A u ingin mela u an lebih dari it u tapi tida mung in. A u hanya bisa terisa sambil memanggil-manggil nama Maria . Tiba-tiba a u melihat sujud mata Maria meleleh an air mata. A u ya in Maria mula i mendengar apa yang a u ata an. A u embali menciumi tangannya. Lalu mencium eningnya. Maria, bangunlah Maria. Ji a au mati ma a a u juga a an i ut mati. Ban gunlah e asih u! A u sangat mencintaimu! uucap an dengan pelan di telinganya de ngan penuh perasaan. Kepalanya menggeliat, dan perlahan-lahan ia mengerjap an edua matanya. A u meme gang edua tanganya sambil ubasahi dengan air mata u. F..f..Fahri..? Ya, a u di sisimu Maria. Entah mendapat an e uatan dari mana, Maria bisa bicara mes ipun dengan suara ya ng lemah, A u mendengar au ber ata bahwa au mencintai u, benar ah?

Benar. A u sangat mencintaimu,Maria? Kenapa au pegang tangan u. Bu an ah itu tida boleh? Boleh! Karena au sudah jadi isteri u. Apa? Kau sudah jadi isteri u, jadi a u boleh memegang tanganmu? Siapa yang meni ah an ita? Ayahmu. Apa au tida mau jadi isteri u? Mata Maria ber aca- aca, Itu impian u. A u merasa ita tida a an bisa meni ah se telah au meni ah dengan Aisha. Terus bagaimana dengan Aisha? Dia yang mendorong u untu meni ahimu. Ini cincin yang ada di tanganmu adalah pem berian Aisha. Anggaplah dia sebagai a a mu. A u ta menyang a Aisha a an semulia itu. Fahri, a u mau minta maaf. Saat au sa it dulu a u pernah men... A u sudah tahu semuanya. Tadi saat au belum bangun a u sudah membalasnya. Maria tersenyum. A u ingin au mengulanginya lagi. A u ingin merasa annya dalam eadaan sadar. Pinta Maria dengan sorot mata berbinar. A u memenuhi permintaannya. Se eti a wajahnya elihatan lebih bercahaya dan segar. Maria. Ya. Berjanjilah au a an mengembali an semangat hidupmu. Setelah a u menemu an embali cinta u ma a dengan sendirinya a u menemu an embal i semangat hidup u. Saat ini, a u merasa an ebahagiaan yang belum pernah a u ra sa an sebelumnya. A u merasa menjadi wanita paling berbahagia di dunia setelah s ebelumnya merasa menjadi wanita paling sengsara. A u melihat jam dinding. Satu jam lagi a u harus sampai di penjara. Dengan mata ber aca a u ber ata, Maria, a u eluar sebentar memberitahu an eadaanmu pada do ter, ayah ibumu dan Aisha. Maria menganggu . Madame Nahed dan Tuan Boutros sangat berbahagia mendengar sada rnya Maria. Serta merta mere a berdua melang ah masu diiringi do ter setengah b aya. Kulihat Aisha dudu sendirian di bang u. A u mende atinya dan dudu di samp ingnya. Aisha diam saja. Matanya basah. Kau menangis Aisha? Aisha diam seribu bahasa seolah tida mendengar pertanyaan u. Kau menyesal dengan eputusanmu? Dia menggeleng an epala. Kenapa au menangis? Kau cemburu? Aisha menganggu . A u memelu nya, Maaf an a u Aisha, semestinya au tida meni ah dengan u sehingga au menderita seperti ini. Kau jangan ber ata begitu Fahri. Meni ah denganmu adalah ebahagian u yang tiada duanya. Kau tida bersalah apa-apa Fahri. Ta ada yang salah denganmu. Kau sudah berusaha mela u an hal yang menurutmu bai . Rasa cemburu itu wajar. Mes ipun a u yang mema samu meni ahi Maria. Tapi rasa cemburu u eti a au berada dalam am ar dengannya itu datang begitu saja. Inilah cinta. Tanpa rasa cemburu cinta tiad a. A u ta ut sebenarnya a u tida pantas dicintai siapa-siapa. Tida Fahri. Kalau seluruh dunia ini membencimu a u tetap a an setia mencintaimu. Terima asih atas segala etulusanmu Aisha. A u a an berusaha membalas cintamu de ngan sebai -bai nya. Aisha, sebentar lagi a u harus embali e penjara. A u belu m menjelas an eadaan u pada Maria. Kaulah nanti yang pelan-pelan menjelas an pa danya semuanya. Kau jangan ragu, Maria sangat menghormatimu. A u lalu masu e amar menemui Tuan Boutros dan Madame Nahed. A u mengingat an eduanya wa tu u telah habis. Mata Madame Nahed menatap u dengan ber aca- aca. A u pamitan padanya dan mencium tangannya. Dia ini jadi ibu u. Maria elihatanny a heran dengan yang ia lihat. Tuan Boutros menjelas an pada Maria bahwa diri u a da urusan penting se ali. A u menatap wajah Maria dalam-dalam. Dia menantap u pe nuh sayang. Air mata u henda eluar tapi utahan se uat tenaga. Tersenyumlah dulu sebelum pergi, Sayang. lirih Maria. A u tersenyum sebisanya. Mar ia tersenyum manis se ali. A u jadi teringat Aisha. Dua wanita itu memili i seny um yang sama manisnya. Nanti Aisha a an menungguimu dan banya bercerita denganmu. Kau jangan ter ejut j

i a ada hal-hal yang a an membuatmu ter ejut. A u pergi dulu. Jangan pernah au lupa an sedeti pun Maria, bahwa a u sangat mencintaimu. Cinta u epadamu sepert i cintanya seorang penyembah epada sesembahannya. A u mengambil ata- ata yang ditulis Maria dalam agendanya. Maria sangat senang mendengarnya. Seorang isteri sangat su a dihadiahi ata- ata indah tanda cinta d an asih sayang. Terima asih Fahri, au sungguh romantis dan menyenang an. A u melang ah eluar bersama Tuan Boutros untu embali e penjara. Di luar a u memelu Aisha erat-erat. Sesaat lamanya a u terisa dalam pelu annya. Aisha, tema ni Maria dan cerita an semua yang sedang a u alami dengan bija sana padanya. A u ya in au mampu mela sana annya. Semoga saat sidang nanti dia bisa memberi an esa siannya. Insya Allah, a u a an mela u an tugas u dengan bai Suami u. Jangan lupa nanti ma lam shalat tahajjud. Berdoalah epada Allah untu dirimu, diri u, ana ita, dan Maria. Di sepertiga malam Allah turun untu mendengar an doa hamba-hamba-Nya, pe san Aisha.

28. Sidang Penentuan Sidang penentuan itu pun datang. Amru dan Magdi datang dengan wajah tenang. Syai h Ahmad dan isterinya juga datang. Orang-orang Indonesia di Mesir banya yang d atang. Namun Maria, dan Aisha belum juga datang. Sudah dua puluh menit menunggu mere a belum juga elihatan. Noura dan eluarganya beberapa ali memandang u den gan pandangan yang merendah an. Apapun yang a an terjadi a u pasrah epada Tuhan . A hirnya ha im memulai sidang. Sambil menunggu Maria datang, Amru mengaju an Sya i h Ahmad dan isterinya sebagai sa si. Mere a berdua tampil bergantian memberi a n esa sian. Ummu Aiman, isteri Syai h Ahmad menangis saat memberi an esa siann ya. Ia merasa sangat sa it hatinya atas apa yang dila u an Noura. Sambil terisa dan sese ali menye a matanya Ummu Aiman ber ata, Entah dengan siapa Noura mela u an perzinahan. Tapi jelas bu an dengan Fahri. Apa yang di ata an Noura bahwa Fa hri memper osanya adalah fitnah yang sangat eji. Noura sungguh gadis yang tida tahu diri. Ia telah ditolong tapi memfitnah orang yang dengan tulus hati menolo ngnya. A u hanya bisa bersa si bahwa selama Noura di Tafahna ia mencerita an ej adian malam itu dan tida pernah menyebut bersama Fahri dari jam tiga sampai aza n pertama. Ia bercerita malam itu ia bersama Maria sampai pagi. Ji a pengadilan ini a hirnya memenang an seorang pemfitnah ma a ela di hari emudian seorang p emfitnah a an dibinasa an oleh eadilan Tuhan. Kulihat rea si Noura. Dia hanya menundu an epala. Sementara ayah dan ibunya me natap Ummu Aiman tanpa edip dengan tatapan garang dan ebencian. Ja sa penuntut mencerca Ummu Aiman dengan beberapa pertanyaan dan Ummu Aiman menjawabnya denga n tenang. Beberapa ali ia menjawab, Tida tahu! Keti a Ummu Aiman turun dari memberi an esa sian, Maria datang. Ia dudu di ata s ursi roda didorong oleh adi nya Yousef. Di iringi Aisha, Tuan Boutros, Madame Nahed, Paman Egbal, Bibi Sarah, dan seorang polisi berdasi yang gagah. Melihat Maria datang serta merta Syai h Ahmad berta bir dii uti oleh gemuruh ta bir oran g-orang Indonesia. Polisi berdasi langsung mende ati Syai h Ahmad berbincang seb entar lalu mende ati Amru. Dia tampa menyerah an beberapa ber as. Amru melihat ber as itu sebentar lalu tersenyum pada u. Amru meminta epada ha im untu mende ngar an esa sian Maria. Sa si unci dalam asus ini. Sebab dialah yang mengerti dengan pasti apa yang dila u an Noura malam itu. Benar ah Noura berada di amar u antara jam tiga sampai azan pertama atau ah justru Noura bersama Maria. Ha im mempersila an Maria berbicara setelah disumpah a an memberi an esa sian yang s ejujur-jujurnya. Maria pun berbicara dengan suara aga lemah. Wajahnya tampa me merah arena emosi. Ia berusaha menahan emosinya. Mi rofon yang dipegangnya cu u p membantu memperjelas suaranya. Pa Ha im dan seluruh yang hadir dalam sidang ini, saya berani bersa si atas nama Tuhan Yang Maha Mengetahui bahwa Noura malam itu, seja pu ul dua malam sampai

pagi berada di amar u. Ia sama se ali tida eluar dari amar u. Ia selalu bers ama u. Ji a dia mengata an pu ul tiga a u mengantarnya turun e rumah Fahri itu bohong bela a. Dalam rentang wa tu itu dia sama se ali tida eluar dari rumah u . Ji a Noura mengata an pemer osaan atas dirinya terjadi dalam rentang wa tu itu sungguh tida masu a al. Bagaimana mung in ada pemer osaan wa tu itu padahal d ia berada di amar u. Dan Fahri berada di amarnya. Untu membu ti an omongan sa ya ini, saya punya bu ti nyata. Begini, ira- ira pu ul tiga lebih sepuluh menit Noura menelpon e salah satu temannya dengan telpon rumah u. Dia menelpon teman satu elasnya bernama Khadija yang tinggal di Wadi Hof. Dia berbicara ira- ira sepuluh menit. Dan ami bawa bu ti tercatat dari antor tel om adanya perca apa n itu. Bah an re aman pembicaraan Noura dengan Khadija juga ada. Kebetulan Khadi ja juga datang bersama ami. Dia bisa menjadi sa si. Dengan bu ti uat ini, a u berharap Bapa Ha im bisa mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Apa ya ng di ata an Noura adalah fitnah bela a. Dia harus mendapat an ganjaran atas tud uhan ejinya. Entah setan apa yang membuat Noura yang dulu jujur dan bai hati ini berubah menjadi tu ang fitnah yang tida memili i nurani. Dia menyerah an e gadisannya pada orang lain lalu menuduh Fahri yang mela u annya. A u sangat meny esal menolong perempuan berhati busu seperti dia. Demi Allah Yang Maha Mengetah ui, a u tida rela atas tuduhan yang dilontar an Noura epada Fahri. A u tida r ela. Ji a sampai Fahri divonis salah ma a Noura a an menjadi musuh u di hadapan Allah di a herat ela ..ugh..ugh..ugh..! Maria batu lalu jatuh ta sadar an diri di ursi rodanya. Madame Nahed yang tahu a an hal itu langsung mengambil Maria dan menggelede nya eluar ruangan bersama Yousef. Mung in langsung membawanya e mbali e rumah sa it. Setelah Maria, Khadija memberi an esa sian memang benar pada malam itu se itar jam tiga lebih Noura menelponnya dan mencerita an isah sedihnya. Namun Noura mi nta agar tida memberitahu an Bahadur bahwa dia menelponnya. Amru lalu memberi a n selembar ertas dari antor tel om Mesir berisi perincian pemanggilan dan pene rimaan panggilan nomor telpon rumah Maria. Yang membuat heran adalah Amru membun yi an re aman pembicaraan Noura-Khadija via telpon malam itu. Setelah itu Amru m engaju an esa sian paling mengejut an yaitu esa sian lela i ce ing bernama Gam al yang pada saat pengadilan pertama menjadi sa si piha Noura. Kini Gamal bersa si embali: Pa Ha im dan hadirin semuanya. Saya ingin memberi an esa sian yang sejujurnya. Di tempat ini saya henda ber ata apa sebenarnya yang saya alami. Sebenarnya apa yang saya ata an pada pengadilan pertama tida benar. Saya minta maaf atas es a sian palsu saya. Saya hilaf. Dan pada esempatan ali ini saya menga u dengan sejujurnya saya tida tahu menahu mengenai masalah ini. Saya tida melihat nona Noura turun dan masu rumah Fahri. Sebab malam itu saya tidur di rumah bersama isteri dan ana saya. Saya bu an seorang pemburu burung hantu. Itu semua re ayas a bela a. Terima asih. Setelah mendengar semua esa sian itu Amru berpidato dengan bahasa yang luar bia sa uatnya. Ia meya in an epada siapa saja yang mendengarnya bahwa Noura seoran g pemfitnah. Ber ali- ali dengan bahasa yang uat dan tajam dia menghabisi Noura . Kulihat Noura pucat dan menetes an air mata. Selesai Amru bicara Noura ang at tangan dan minta epada ha im untu bicara. Ha im memberinya wa tu lima menit. N oura berdiri dan menuju podium. Di sana dia berbicara dengan epala menundu sam bil menangis terisa -isa : Pa Ha im dan hadirin se alian. Selamanya ebenaran a an menang. Ji a tida di pe ngadilan dunia ma a ela di pengadilan a hirat. Selamanya re ayasa manusia tia da artinya apa-apa dibanding e uasaan Tuhan. Hadirin, ji a ada gadis malang di dunia ini yang semalang-malangnya adalah diri u. Seja ecil sampai beberapa bul an yang lalu a u diasuh oleh orang yang bu an orang tua andung u. Wa tu bayi a u tertu ar di rumah sa it dengan bayi lain. A u hidup dalam eluarga bermoral se tan. Namun a u selalu tabah dan terus bertahan. Sampai a hirnya malam itu. A u i ngin mengata an apa yang sebenarnya terjadi. Malam itu sebelum a u diusir dan di seret si jahat Bahadur e jalan terlebih dahulu a u diper osanya hi s..hi s..! Nour a tersedu sesaat lamanya. Ruang pengadilan diselimuti eheningan berbalut epilu an dan rasa asihan. A u merasa bisa menyembunyi an aib yang menimpa u. A u ira tida a an terjadi ap

a-apa dengan u. Wa tu terus berjalan sampai a hirnya Allah mempertemu an diri u dengan edua orang tua andung u lewat bantuan banya orang termasu , Fahri, Mar ia, Nurul, Syai h Ahmad dan Ummu Aiman. Kedua orang tua andung u adalah orang t erpandang dan dari eluarga besar terhormat. Mere a menerima edatangan u dengan penuh rasa bahagia luar biasa. Peta a itu datang embali eti a perut u sema in membesar. Mere a menanya an pada u siapa yang telah menghamili u. A u ta mau b erterus terang bahwa Bahadur yang menghamili u dengan memper osa. A u sudah sang at benci dengan dirinya. A hirnya a u berbohong pada mere a yang menghamili u ad alah Fahri. Sebab a u sangat mencintai Fahri dengan harapan Fahri nanti mau meni ahi u. Namun yang ula u an ternyata ta lain adalah dosa besar yang sangat ej i a u telah menghancur an ehidupan orang yang ucintai dan di sisi lain a u tel ah membiar an penjahat yang menghamili u tertawa terbaha -baha . Semua re ayasa yang telah diatur rapi juga dipora -poranda an oleh e uasaan Allah Swt. Di sini , sebelum di a hirat nanti, a u a ui dengan sejujurnya Fahri tida bersalah. Dia bersih. Dan epadanya dan epada eluarganya serta siapa saja yang terzhalimi a tas ebodohan u a u mohon maaf yang sebesar-besarnya. A u memang dita dir an unt u hidup malang di dunia. Namun a u berte ad memperbai i diri agar tida malang di a hirat ela . Atas dasar semua bu ti yang ada dan penga uan Noura a hirnya mau tida mau Dewan Ha im memutus an diri u tida bersalah dan bebas dari da waan apa pun. Ta bir d an hamdalah bergemuruh di ruang pengadilan itu dilantun an oleh semua orang yang membela dan bersimpati pada u. Se eti a a u sujud syu ur epada Allah Swt. Aisy a memelu u dengan tangis bahagia tiada ter ira. Paman Eqbal dan bibi Sarah ta mampu membendung air matanya. Syai h Ahmad dan Ummu Aiman juga sama. Nurul dan s uaminya yaitu Mas Khalid datang memberi selamat dengan mata ber aca. Satu persat u orang-orang Indonesia yang di dalam ruangan itu memberi selamat dengan wajah h aru. Amru memberi tahu bahwa Kolonel Ridha Shahata, sepupu Syai h Ahmad yang mem ili i posisi cu up penting di Badan Kemanan Negara juga punya andil dalam memban tu mendapat an bu ti dari antor tel om dan mema sa Gamal ber ata jujur. Suatu b u ti bahwa dunia belum ehilangan orang-orang yang bai dan cinta eadilan. 29. Nyanyian dari Surga Begitu divonis bebas, a u dibawa oleh Aisha e rumah sa it Maadi untu diperi s a. Penyi saan dipenjara sering ali menyisa an cidera atau lu a. Do ter mengata a n a u harus dirawat di rumah sa it beberapa hari untu memulih an esehatan. Beb erapa jari a i u yang hancur harus ditangani serius. Ada gejala paru-paru basah yang uderita. Aisha memesan an amar elas satu bersebelahan dengan amar Mari a. Teman-teman dari Indonesia banya yang menjengu , mes ipun mere a sedang meng hadapi ujian semester ganjil Al Azhar. Sementara musim dingin sema in menggigit. Sudah tiga hari, seja jatuh ta sadar an diri saat memberi an esa sian di pen gadilan Maria belum juga siuman. Do ter mengata an ada elenjar syaraf di epala nya yang ta uat menahan emosi yang uat mendera. Ada pembeng a an serius pada pembuluh darah ota nya arena te anan darah yang nai drastis. A ibatnya dia om a. Untung pembuluh darah ota nya itu tida pecah. Kalau pecah ma a nyawanya bisa melayang. Se arang tida hanya Madame Nadia dan eluarganya saja yang merasa bertanggung j awab menunggui Maria. Aisha merasa punya panggilan jiwa ta alah uatnya. Ia sa ngat setia menunggui diri u dan menunggui Maria. Ia bah an sering tidur sambil d udu di samping Maria. Aisha menganggap Maria seperti adi nya sendiri. Beberapa ali a u mema sa an diri untu bang it dari tempat tidur dan menemani Aisha menu nggui Maria. Pada hari eempat seja Maria ta sadar an diri, tepatnya pada pu ul sembilan p agi handphone Aisha berdering. Aisha mengang atnya. Ia ter ejut mendengar suara orang yang menelponnya. Alicia? Di mana? Oh masya Allah, Subhanallah! Ya..ya...ba i . Kalau begitu au nai metro saja turun di Maadi. A u jemput di de at lo et t i et sebelah barat. O ey? Wa alai umussalam wa rahmatullah. Aisha lalu tersenyum pada u dan ber ata, Selamat untu mu Fahri, au telah mendapat an eni matan yang lebih agung dari ter bitnya matahari. Alicia sudah menjadi muslimah se arang. Apa yang au la u an sa

mpai au a hirnya jatuh sa it itu tida sia-sia. Jawabanmu itu mampu menjadi jem batan baginya menemu an cahaya Tuhan. Dia ingin menemuimu. Kira- ira pu ul seten gah sepuluh dia a an sampai di Mahattah Maadi. A u merasa an eagungan Tuhan di seluruh jiwa. A u merasa Dia tiada pernah meni nggal an diri u dalam segala cuaca dan eadaan. PadaMu Kutitip an secuil asa Kau beri an sela sa bahagia PadaMu Kuharap an setetes embun cinta Kau limpah an samudera cinta Aisha menengo amar Maria, ta lama ia embali lagi dan ber ata, Dia belum juga sadar. Hanya deta jantungnya yang masih terus be erja dan hembusan nafasnya ya ng masih mengalir menunju an dia masih hidup. Sungguh a u ta tega melihat dia terbaring begitu lemah tiada berdaya. Sering ali ada lelehan air mata di sudut m atanya. Entah apa yang dialaminya di alam ta sadarnya. Aisha melihat jam. Sayang, a u eluar sebentar ya menjemput Alicia. Ya, tapi jangan cerita tentang penjara. Lirih u. Aisha menganggu an epalanya lal u beranja eluar. Seperempat jam emudian Aisha datang bersama Alicia. A u nyaris tida percaya ba hwa soso yang datang bersamannya adalah Alicia. Sangat ontras dengan penampila nnya wa tu pertama ali bertemu di dalam metro dulu. Dulu pa aiannya etat mempe rtonton an aurat. Se arang dia mema ai jilbab, pa aiannya sangat anggun dan rapa t menutup aurat. Ta jauh berbeda dengan Aisha. A u datang emari sengaja untu menemuimu, Fahri. Untu mengucap an terima asih tiada ter ira padamu. Karena berjumpa denganmulah a u menemu an ebenaran dan e seju an yang a u cari-cari selama ini. Kata Alicia, mata birunya berbinar bahagia . Alicia lalu mengisah an pergola an batinnya sampai a hirnya masu Islam dua bu lan yang lalu. Selain itu a u membawa ini. Alicia membu a tas hitamnya yang aga besar. Ia mengel uar an dua buah bu u dan menyerah an pada u. A u ter ejut membaca tulisan yang a da di sampulnya. Nama u tertulis di sana. Jawabanmu tentang masalah perempuan dalam Islam jadi bu u itu. Dan terjemahan Mar ia jadi yang ini. Semuanya diterbit an oleh Islamic Centre di New Yor . Tiap bu u baru diceta 25 ribu exemplar. Dr. Salman Abdul Adhim dire tur penerbitannya m eminta nomor re eningmu, Maria dan Syai h Ahmad untu tranfer honorariumnya. Kau boleh bangga se arang dua bu u itu sedang diceta lagi arena satu bulan dilunc ur an langsung habis. Cerita yang dibawa Alicia benar-benar menghapus semua du a yang pernah urasa. Sangat mudah bagi Tuhan untu menghapus du a dan esedihan h amba-Nya. Kau tida ingin menemui Maria? tanya u. Ingin. Aisha, antar an Alicia melihat Maria. Aisha menggamit tangan Alicia e amar sebelah di mana Maria terbaring lemah. A u tida tahu seperti apa rea si Alicia bertemu Maria dalam eadaan seperti itu. Sambil berbaring a u memperhati an dengan se sama dua bu u yang diberi an Alicia itu. Bu u pertama, Women in Islam. Sebuah bu u ecil. Tebalnya cuma 65 halaman. Nama u terpampang sebagai pengarangnya. A u jadi malu pada diri sendiri, a u ha nya menulis ulang dan merapi an pelbagai macam bahan untu menjawab pertanyaan-p ertanyaan seputar perempuan dalam Islam. Bu an menulis suatu yang baru. Di dalam nya ulihat editornya dua orang: Alicia Brown dan Syai h Ahmad Taqiyuddin. Di ha laman tera hir bu u itu ada biodata u secara sing at. Lalu bu u edua berjudul, Why Does the West Fear Islam? ditulis Prof Dr. Abdul Wadud Shalabi. A u dan Mari a tercantum sebagai penerjemah. Editornya sama. Setengah jam emudian Alicia embali bersama Aisha. Semoga isteri eduamu itu cepat sembuh. Selamat atas perni ahan alian. Semoga di rahmati Tuhan. Oh ya a u ada pesan dari Dr. Salman Abdul Adhim, au a an diundan g untu memberi an cemarah di beberapa Islamic Centre di Ameri a se alian mendis usi an apa yang telah au tulis. Ti et, surat undangan dan jadwal egiatannya a da di hotel, tida terbawa, ata Alicia.

Wa tunya apan? Aisha menanggapi. Bulan depan. Selama sepuluh hari. Semoga dia benar-benar sudah sembuh. Semoga. Setelah itu Alicia minta diri dan berjanji a an datang lagi eeso an hari untu menyerah an ti et dan semua ber as yang a an diguna an untu mempermudah menguru si visa masu e Ameri a. Begitu banya perubahan silih berganti yang ita alami, ata Aisha setelah Alicia pergi. * * * Tengah malam, Aisha membangun an diri u. Kusiba selimut tebal. Kaca jendela tam pa basah. Musim dingin mulai merambat menuju punca nya. Aisha melindungi tubuhn ya dengan sweater. Untung penghangat ruangan amar elas satu berfungsi bai . Ta pi aca jendela tetap tampa basah. Berarti di luar sana udara benar-benar dingi n. Mung in telah mencapai 8 derajat. A u tida bisa membayang an seperti apa din ginnya utub utara yang puluhan derajat di bawah nol. Suasana malam senyap dan b e u. Fahri, ayo lihatlah Maria, dia mengigau aneh se ali..a u belum pernah melihat or ang mengigau seperti itu. Kata Aisha pelan. A u mengi uti aja an Aisha untu melihat eadaan Maria. Ta ada siapa-siapa di amar Maria saat ami masu . Kecuali Madame Nadia, yang pulas di sofa ta jauh d ari ranjang Maria. Ibu andung Maria itu elihatannya elelahan. Kami melang ah pelan mende ati Maria. Dan a u mengenal apa yang diigau an oleh Maria. A u pasan g telinga le at-le at dan memperhati an dengan se sama. Subhanallah, Maha Suci A llah! Yang terucap lirih dari mulut Maria, ta lain dan ta bu an adalah ayat-ay at suci dalam surat Maryam. Ia memang hafal surat itu. A u ta uat menahan haru . Sepertinya yang eluar dari bibirnya itu ayat-ayat suci Al-Qur an? Bagaimana bisa terjadi, Fahri? Heran Aisha. Kita dengar an saja bai -bai . Nanti a u jelas an padamu. Banya hal yang belum au etahui tentang Maria. Jawab u pelan. Kami pun menyima igauan Maria bai -bai . Mendengar an apa yang diucap an oleh Maria dalam alam tida sadarnya. Pelan. Urut. Indah dan lancar. Ta ada yang sal ah. Mes ipun tajwidnya masih belum lurus benar. Maria melantun an ayat-ayat yang mengisah an penderitaan Maryam setelah melahir an nabi Isa. Maryam dituduh mela u an perbuatan mung ar. Allah menurun an mu jizat-Nya, Isa yang masih bayi bisa berbicara. Fa atat bihi qaumaha tahmiluh, qaalu yaa Maryamu laqad ji ta syaian fariyya. Ya u hta Haaruna maa aana abuu i imra ata sauin wa maa aanat ummu i baghiyya. Fa asyaarat ilaih, qaalu aifa nu allimu man aanat fil mahdi shabiyya. Qaala inni abdullah aataniyal itaaba wa ja alani nabiyya. Wa ja alani mubaara an ainama untu wa aushaani bish shalati waz za aati maa dumtu hayya. (Ma a Maryam membawa ana itu epada aumnya dengan menggendongnya. Kaumnya ber ata, Hai Maryam, sesungguhnya amu telah mela u an sesuatu yang amat mung ar. Hai saudara perempuan Harun ayahmu se ali- ali bu anlah seorang yang jahat dan i bumu se ali- ali bu anlah seorang pezina. Ma a Maryam menunju epada ana nya. Mere a ber ata, Bagaimana ami a an berbicar a pada ana ecil yang masih dalam ayunan? Isa ber ata, Sesungguhnya a u ini hamba Allah, Dia memberi u Al Kitab dan dia men jadi an a u seorang nabi. Dan dia menjadi an a u seorang yang diber ati di mana saja a u berada, dan dia m emerintah an epada u mendiri an shalat menunai ah za at selama a u hidup)115 Seorang malai at pun ji a mendengar apa yang dilantun an Maria dalam alam bawah sadarnya itu a an luluh jiwanya, bergetar hatinya, dan menetes an air mata. Mar

ia sedang mengeluar an apa yang berco ol uat dalam memorinya. Dan itu adalah ay at-ayat suci yang menyeju an. Maria terus melantun an apa yang dihafalnya ayat demi ayat. Air mata u menetes setetes demi setetes. Cahaya eagungan Tuhan ber i lat- ilat dalam diri sema in lama sema in benderang. Bibir Maria terus bergetar. A u bertanya dalam diri, siapa sebenarnya yang menggera an bibirnya? Dia sedan g ta sadar apa-apa. Ia sampai pada a hir surat Maryam. Namun bibirnya tida jug a berhenti bergetar, terus melanjut an surat setelahnya. Surat Thaaha. Subhanall ah! 115 QS. Maryam: 27-31. Thaaha. Maa anzalna alai al Qur aana li tasyqa Illa tadz iratan liman ya hsya ( Thaaha. Kami tida menurun an Al-Qur an ini epadamu agar amu jadi susah Tetapi sebagai tadz irah bagi orang yang ta ut epada Allah )116 A u jadi tida mengerti sebenarnya berapa surat. Berapa juz yang telah dihafal Maria. Dulu saat pertama ali dia menyapa di dalam metro dia mengata an hanya ha fal surat Al Maidah dan Maryam saja. Se arang dia membaca surat Thaaha. A u bena r-benar ter esima dibuatnya. Masih banya rahasia dalam dirinya yang tida a u etahui. A u jadi tida tahu pasti eya inan dalam hatinya. Dengan air mata terus mengalir di sudut matanya yang terpejam ia melantun an ayat-ayat suci itu seper ti sedang asyi bernyanyi dalam mimpi. Malam yang dingin terasa hangat oleh aura getar bibir Maria. Ia mengaja pendengarnya berada di Mesir pada masa nabi Musa melawan Fir aun. Ia terus bernyanyi, seperti bidadari menyanyi an lagu surga. Innama ilaahu umullah al ladzi laa ilaha illa huwa wasia ulla syai in ilma Kadzali a naqushu alai a anbai ma sabaq wa qad aatainaa a min ladunna dzi ra 116 QS. Thaaha: 1-3. (Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tiada tuhan selain Dia, pengetahuannya meliputi segala sesuatu. Demi ianlah ami isah an epadamu sebagian isah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah ami beri an epadamu dari sisi Kami suatu peringatan )117 Sampai ayat ini bibir Maria berhenti bergetar. Lelehan air matanya sema in deras . Namun ia tida juga membu a mata. Entah apa yang ia rasa. A u hanya bisa i ut meleleh an air mata. Berdoa. Dan memegang erat tangannya. Sesaat lamanya ehenin gan tercipta. Tiba-tiba bibirnya bergera dan mendendang an zi ir dengan nada an eh: Allah. Allah. Allah. A u ingin Allah. Allah. Allah. Allah. A u rindu Allah. Allah. Allah. Allah. A u cinta Allah. Allah. Allah. Allah Allah. Allah. Allah. Allah. Allah. Allah. Allah. Allah. CahayaMu Allah.

Allah. Allah. Allah. SenyumMu Allah. Allah. Allah. Allah. BelaianMu Allah. 117 QS. Thaaha: 98-99 Allah. Allah. Allah. CiumanMu Allah. Allah. Allah. Allah. CintaMu Allah. Allah. Surgamu Allah. Allah. Surgamu Allah. Allah. Surgamu Allah. Surgamu Allah. Surgamu Allah. Surgamu Allah. Allah. Allah.Allah. Allah. Allah. Allah. Sema in lama volume suaranya sema in mengecil. Lalu hilang. Hati u berdesir eti a melihat bulu matanya yang lenti bergera -gera . Perlahan ia mengerjap. Allah . Allah. Allah. Sembari bibirnya berzi ir matanya tampa mulai terbu a perlahan. Dan a hirnya benar-benar terbu a. Subhanallah! Maria! sapa u pelan. Fa..Fahri? suaranya sangat lirih nyaris tiada terdengar. Ya. Apa yang au rasa an se arang, Sayang? Apanya yang sa it? Tolonglah a u? A u sedih se ali. Kenapa sedih? A u sedih ta diizin an masu surga! Jawaban Maria membuat a u dan Aisha aget bu an main. Dari mana dia tiba-tiba da pat e uatan untu ber ata sejelas itu? Apa ah dia a an mati? Tanya u dalam hati . Dan cepat-cepat a u membuang pertanyaan tida bai itu. Tapi enapa dia berula ng-ulang menyebut-nyebut surga. A u telah sampai di depan pintu surga, tetapi a u tida boleh masu ! ulangnya. Kenapa? Katanya a u tida termasu golongan mere a. Pintu-pintu itu tertutup bagi u. A u terlunta-lunta. A u menangis sejadi-jadinya. A u sungguh ta mengerti dengan apa yang au alami, Maria. Tapi bagaimana mulanya au bisa sampai di sana? A u tida tahu awal mulanya bagaimana. Tiba-tiba saja a u berada dalam alam yang tida pernah ulihat sebelumnya. Dari ejauhan a u melihat istana megah hijau be rsinar-sinar. A u datang e sana. A u belum pernah melihat bangunan istana yang luasnya tiada ter ira, dan indahnya tiada pernah terpi ir dalam bena manusia. L uar biasa indahnya. Ia memili i banya pintu. Dari jara sangat jauh a u telah m encium wanginya. A u melihat banya se ali manusia berpa aian indah satu persatu masu e dalamnya lewat sebuah pintu yang tiada terbayang an indahnya. Kepada m ere a a u bertanya, Istana yang luar biasa indahnya ini apa? Mere a menjawab, Ini s urga! Hati u bergetar. Dari pintu yang terbu a itu a u bisa sedi it melihat apa y ang ada di dalamnya. Sangat mena jub an. Ta ada ata- ata yang bisa menggambar an. Ta ada pi iran yang mampu melu is an. A u sangat tertari ma a a u i ut bar isan orang-orang yang satu persatu masu e dalamnya. Keti a a i mau melang ah masu seorang penjaga dengan senyum yang menawan ber ata pada u, Maaf, Anda tida boleh lewat pintu ini. Ini namanya Babur Rayyan. Pintu husus untu orang-orang yang berpuasa.118 Anda tida termasu golongan mere a! A u sangat ecewa. A u la lu berjalan e sisi lain. Di sana ada pintu yang juga sedang penuh dimasu i ana manusia berpa aian indah. A u mau i ut masu . Seorang penjaga yang ramah ber at a, Maaf, Anda tida boleh lewat pintu ini. Ini Babush Shalat. Pintu husus untu

orang-orang shalat. Dan Anda tida termasu golongan mere a! A u sangat sedih. Ha ti u ecewa luar biasa. A u melihat di ejauhan masih ada pintu. A u berjalan e sana dengan harapan bisa masu lewat pintu itu. Namun eti a henda masu seora ng penjaga yang wajahnya bercahaya ber ata, Maaf, Anda tida boleh masu lewat si ni. Ini Babuz Za at. Pintu husus untu orang-orang yang menunai an za at. Ada b anya pintu. Dan setiap ali a u henda masu selalu dicegah penjaganya. Sampai di pintu tera hir namanya Babut Taubah. A u juga tida boleh masu . Karena itu husus untu orang-orang yang taubatnya diterima Allah. Dan a u tida termasu m ere a. A u embali e pintu-pintu sebelumnya. Semuanya tertutup rapat. Orang-ora ng sudah masu semua. Hanya a u sendirian di luar. A u menggedor-gedor pintu ber nama Babur Rahmah. Ta ada yang membu a. A u hanya mendengar suara, Ji a au mema ng penghuni surga au tida perlu mengetu nya arena au pasti punya uncinya. B u alah pintu-pintu itu dengan unci surga yang au mili i! A u menangis sejadi-ja dinya. A u tida memili i uncinya. A u berjalan dari pintu satu e pintu yang l ain dengan air mata menetes di sepanjang jalan. A u putus asa. A u tergugu di de pan Babur Rahmah. A u mengharu biru pada Tuhan. A u ingin menari belas asihNya dengan membaca ayat-ayat sucinya. Yang uhafal adalah surat Maryam yang tertera di dalam Al-Qur an. Dengan mengharu biru a u membacanya penuh penghayatan. Selesa i membaca surat Maryam a u lanjut an surat Thaha. Sampai ayat sembilan puluh sem bilan a u berhenti arena Babur Rahmah terbu a perlahan. Seorang perempuan yang luar biasa anggun dan sucinya eluar mende ati u dan ber ata, 118 Imam Syamsuddin Al-Qurthubi (w. 671 H.) dalam itabnya At Tadz irah banya m enjelas an tentang des ripsi surga sesuai dengan yang dijelas an dalam hadits-ha dits nabi, termasu jumlah pintu surga dan nama-namanya. A u Maryam. Yang baru saja au sebut dalam ayat-ayat suci yang au baca. A u diut us oleh Allah untu menemuimu. Dia mendengar haru biru tangismu. Apa maumu? A u ingin masu surga. Boleh ah? Boleh. Surga memang diperuntu an bagi semua hamba-Nya. Tapi au harus tahu unci nya? Apa itu uncinya? Nabi pilihan Muhammad telah mengajar annya berulang-ulang. Apa ah au tida menge tahuinya? A u tida mengi uti ajarannya. Itulah salahmu. Kau tida a an mendapat an unci itu selama au tida mau tundu penuh i hlas men gi uti ajaran Nabi yang paling di asihi Allah ini. A u sebenarnya datang untu m emberitahu an epadamu unci masu surga. Tapi arena au sudah menjaga jara de ngan Muhammad ma a a u tida diper enan an untu memberitahu an padamu. Bunda Maryam lalu membali an badan dan henda pergi. A u langsung menubru nya d an bersimpuh di a inya. A u menangis tersedu-sedu. Memohon agar diberitahu unci surga itu. A u hidup untu mencari erelaan Tuhan. A u ingin masu surga hidup b ersama orang-orang yang beruntung. A u a an mela u an apa saja, asal masu surga . Bunda Maryam tolonglah berilah a u unci itu. A u tida mau merugi selama-lama nya. A u terus menangis sambil menyebut-nyebut nama Allah. A hirnya hati Bunda Ma ryam luluh. Dia dudu dan mengelus epala u dengan penuh asih sayang, Maria dengar an bai -bai ! Nabi Muhammad Saw. telah mengajar an unci masu surga . Dia bersabda, Barangsiapa berwudhu dengan bai , emudian mengucap an: Asyhadu a n laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh (A u bersa si tiada Tuhan selain Allah dan a u bersa si sesungguhnya Muhammad adalah hamba da n utusan-Nya) ma a a an dibu a an delapan pintu surga untu nya dan dia boleh mas u yang mana ia su a! 119 Ji a au ingin masu surga la u anlah apa yang diajar a n olah Nabi pilihan Allah itu. Dia nabi yang tida pernah bohong, dia nabi yang semua ucapannya benar. Itulah unci surga! Dan ingat Maria, au harus mela u ann ya dengan penuh eimanan dalam hati, bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah. Tanpa eimanan itu, yang au la u an sia-sia. Se arang pergilah u ntu berwudhu. Dan cepat embali emari, a u a an menunggumu di sini. Kita nanti masu bersama. A u a an membawamu e surga Firdaus! Setelah mendengar nasihat dari Bunda Maryam, a u lalu pergi mencari air untu wu dhu. A u berjalan e sana emari namun tida juga menemu an air. A u terus menye but nama Allah. A hirnya a u terbangun dengan hati sedih. A u ingin masu surga.

(Hai jiwa yang tenang Kembalilah amu epada Tuhanmu dengan hati puas lagi diridhai Ma a masu lah e dalam golongan hamba-hambaKu Ma a masu lah e dalam surga-Ku.120 ) Saat itu Madame Nahed, terbangun dari tidurnya dan bertanya sambil menguce edu a matanya, Kenapa alian menangis? Kaca jendela mengembun. Musim dingin sedang menuju punca nya. O, apa ah di surga sana ada musim dingin? Atau ah malah musim semi selamanya? Atau ah musim-musim di sana tida seperti musim yang ada di dunia?

Selesai, Rabu 8 O tober 2003 Pu ul 01: 03 dini hari. Bangetayu Wetan, Semarang

120 QS. Al-Fajr: 27-30 Kitab- itab yang mendampingi penulisan novel ini:

1. As-Sunnah wal Bid ah, (Sunah dan Bid ah), i, Ma tabah Wahbah, Cairo, Cet. I, 1999.

arya Syai h Prof. Dr. Yusuf Al-Qaradhw

A u ingin masu surga. A u ingin e sana, Bunda Maryam menunggu u di Babur Rahm ah. Itulah ejadian atau mimpi yang a u alami. Oh Fahri suami u, mau ah au meno long u? Apa yang bisa a u la u an untu mu, Maria? 119 Hadits riwayat Imam Muslim. Bantulah a u berwudhu. A u masih mencium bau surga. Wanginya merasu e dalam su ma. A u ingin masu e dalamnya. Di sana a u berjanji a an mempersiap an segalan ya dan menunggumu untu bercinta. Memadu asih dalam cahaya esucian dan erelaa n Tuhan selama-lamanya. Suami u, bantu a u berwudhu se arang juga! A u menuruti einginan Maria. Dengan se uat tenaga a u membopong Maria yang uru s ering e amar mandi. Aisha membantu membawa an tiang infus. Dengan tetap ub opong, Maria diwudhui oleh Aisha. Setelah selesai, Maria embali ubaring an di atas asur seperti semula. Dia menatap u dengan sorot mata bercahaya. Bibirnya t ersenyum lebih indah dari biasanya. Lalu dengan suara lirih yang eluar dari rel ung jiwa ia ber ata: Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh! Ia tetap tersenyum. Menatap u tiada ber edip. Perlahan pandangan matanya meredup . Ta lama emudian edua matanya yang bening itu tertutup rapat. Kuperi sa nafa snya telah tiada. Nadinya tiada lagi denyutnya. Dan jantungnya telah berhenti be rdeta . A u ta uasa menahan derasnya lelehan air mata. Aisha juga. Inna lillah i wa inna ilaihi raajiun! Maria menghadap Tuhan dengan menyungging senyum di bibir. Wajahnya bersih sea an diselimuti cahaya. Kata- ata yang tadi diucap annya dengan bibir bergetar itu embali terngiang-ngiang ditelinga: A u masih mencium bau surga. Wanginya merasu e dalam su ma. A u ingin masu e dalamnya. Di sana a u berjanji a an mempersiap an segalanya dan menunggumu untu bercinta. Memadu asih dalam cahaya esucian dan erelaan Tuhan selama-lamanya. Sambil terisa Aisha melantun an ayat: Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah irji ii ilaa Rabbi i raadhiyatan mardhiyyah Fad hulii fii ibaadii wad hulii jannatii

3. Fatawa Mu ashirah (Fatwa-fatwa Kontemporer) Juz II & III, arya Syai h Prof. Dr . Yusuf Al-Qaradhawi, Darul Qalam, Cairo. Cet. I, 2001.

6. Ma anatul Mar ah Fil Islam (Posisi Wanita dalam Islam), arya Prof. Dr. Muhamma d Biltaji, Darus Salam, Cairo, Cet.I, 2000. 7. Manahilul Irfan fi Ulumil Quran (Sumber Pengetahuan Ilmu-ilmu Al-Qur an), arya Syai h Prof. Muhammad Abdul Adhim Az-Zarqani, Muassasah At Tari h Al Arabiy, Bei rut-Lebanon, Cet. III, 1991.

9. Tuhfatul Aris wal Arus (Hadiah untu Pengantin Lela i dan Pengantin Perempuan), arya Syai h Muhammad Ali Qutb, Darul Anshar, Cairo, tanpa tahun.

8. Tuhfatul Arus aw Az Zawaj Al Islamiy As Sa id, (Hadiah Untu Pengantin atau Per awinan Islami Yang Bahagia), arya Syai h Mahmud Mahdi Al-Istanbuli, Al Ma tabah Al Islamiyyah, Amman, 1410 H.

5. Limadza Ya hafunal Islam? (Kenapa Mere a Ta ut Kepada Islam?), .Abdul Wadud Syalabi, Darul I tisham, Cairo, 1999.

4. Kitab Ar-Ruuh (Kitab Ruh) iro, Cet I, 1999.

arya Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, Darul Fajr, Ca arya Prof. Dr

2. At Tadz irah (Peringatan), , Alexandria, Cet. I, 1997.

arya Imam Syamsuddin Al-Qurthubi, Dar Ibnu Khadun