Anda di halaman 1dari 17

Bab 1 Pendahuluan 1.1.

Latar Belakang Teknologi komunikasi dan informasi atau teknologi telematika (information and communication technology ICT) telah diakui dunia sebagai salah satu sarana dan prasarana utama untuk mengatasi masalah-masalah dunia. Teknologi telematika dikenal sebagai konvergensi dari teknologi komunikasi (communication), pengolahan (computing) dan informasi (information) yang diseminasikan mempergunakan sarana multimedia. Masalah di Indonesia yang paling utama adalah bagaimana memecahkan masalah kesenjangan digital yang masih sangat besar dengan menumbuh-kembangkan inovasi atau teknopreneur industri telematika. Technopreneurship atau wirausaha teknologi merupakan proses dan pembentukan usaha baru yang melibatkan teknologi sebagai basisnya, dengan harapan bahwa penciptaan strategi dan inovasi yang tepat kelak bisa menempatkan teknologi sebagai salah satu faktor untuk pengembangan ekonomi nasional. Pengusaha bidang teknologi (Technopreneur), khususnya teknologi informasi (TI) membutuhkan adanya kebebasan dalam berinovasi, tanpa harus terkekang oleh regulasi yang malah menghambat. Semakin pemerintah mengendurkan ketatnya regulasi yang mengatur gerakan grass root komunitas TI di Indonesia, maka akan memberikan dampak positif berupa tumbuhnya TI itu sendiri dan juga aspek bisnisnya. Hal ini sangat penting karena dilandasi pengalaman di lapangan, di mana seringkali terjadi benturan antara kepentingan badan usaha sebagai unit bisnis yang menuntut untuk selalu bersikap dan berperilaku sebagai wirausahawan dan melakukan perubahan-perubahan, menyesuaikan antara fakta yang ada dengan tuntutan perubahan serta memperbesar usaha, tetapi di sisi lain ada kepentingan-kepentingan Pemerintah yang mungkin saja berlawanan dengan kepentingan sebagai suatu unit bisnis. Padahal dalam technopreneurship diperlukan semangat kompetisi yang dominan, agar tidak tertinggal dari turbulensi bisnis global. Dalam kurun waktu yang panjang, ilmu pengetahuan ditempatkan pada kotak tersendiri secara eksklusif, seolah-olah diasingkan dari kegiatan ekonomi. Dunia ilmu

pengetahuan atau kita sebut dengan pendidikan, dianggap bukan menjadi bagian dari suatu sistem ekonomi. Dunia pendidikan dipandang sebagai suatu dunia tersendiri tempat dibangunnya nilai-nilai luhur, sementara dunia ekonomi dipandang sebagai dunia yang penuh dengan kecurangan, ketidakadilan, bahkan seolah dunia tanpai nilai (value). Cara pandang yang dikotomis tersebut,dalam kurun waktu yang lama belum dapat terjembatani secara baik. Masing-masing pihak lebih mementingkan dan meng claim sebagai pihak yang paling benar. Yang perlu kita ketahui adalah bahwa dalam era ekonomi yang berbasis ilmu pengetahuan, pendidikan merupakan wujud dari keberhasilan pembangunan nasional suatu negara. Bahkan pendidikan dapat menjadi keunggulan daya saing suatu negara. Dengan kata lain, pendidikan memegang peran strategis dalam memajukan ekonomi bangsa. Dan hal ini telah dibuktikan oleh negara-negara industri baru seperti Singapore, Taiwan dan Malaysia, di mana dengan membangun sarana dan prasarana pendidikan secara serius dalam sepuluh tahun terakhir, kualitas kehidupan bangsa-bangsa tersebut terus meningkat. Bagaimana dengan Indonesia ?. Selama berpuluh tahun, pendidikan dijadikan alat politik penguasa, mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Akibatnya pendidikan berjalan lamban (too slow), sehingga tidak dapat mengejar tuntutan perubahan. Pendidikan belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perubahan yang terjadi atau masih sangat sedikit (too little). Bahkan pendidikan seringkali terlambat (too late) dalam mengadaptasi perubahan, sehingga pendidikan tertinggal dan belum mampu menjawab tantangan masa depan. Faktor penyebabnya adalah karena kebijakan yang ada disamping tambal sulam, juga dibuat secara tergesa-gesa. Bahkan pemerintah dinilai belum memiliki visi dan komitmen yang jelas tentang pendidikan. Sehingga dapat dikatakan bahwa Indonesia baru dan sedang melakukan perubahan orientasi pendidikan dari pendidikan yang berbasis akademis kepada pendidikan yang berbasis kompetensi. Disinilah pokok bahasan tentang technopreneurship tersebut perlu dikembangkan. Memang tidak mudah untuk dilaksanakan, namun menjadi sebuah tantangan bagi kita untuk memajukan bangsa ini pada masa yang akan datang.

Bab II Permasalahan
Ada dua kendala terbesar technopreneurship Indonesia, yaitu dalam hal pendidikan dan ekosistem. Berdasarkan pengamatan saya yang masih terbatas, teknik-teknik entrepreneurship yang dimiliki Indonesia tidak berkembang sebaik negara lain yang technopreneurship-nya juga tengah menggeliat. Sebenarnya Indonesia masih perlu banyak berbenah guna mengembangkan pendidikan entrepreneurship dalam berbagai bidang, baik dalam sains, teknologi, atau teknik. Pembenahan harus dilakukan supaya lebih banyak mahasiswa yang terjun ke dalam bidang entrepreneurship sehingga bidang ini dapat berkembang dengan lebih baik 2.1 Pemecahan Masalah Ada satu cara untuk mengetahui entrepreneurship yang sukses. Entrepreneurship yang sukses pasti memiliki beberapa elemen seperti pelatihan, mentor, program, dan investor yang mendukung kelangsungan usaha mereka. Semua elemen itulah yang pasti ada dalam kisah sukses tiap entrepreneur, yang tentunya tak diraih dalam waktu singkat.

Bab III Tujuan dan Manfaat Tujuan Adapun penulisan paper ini bertujuan sebagai berikut : Memperkenalkan umumnya Memberikan pengetahuan kepada pembaca tentang perkembangan Technopreneurship secara global baik di Indonesia maupun di negara lainnya Menciptakan mahasiswa sebagai technopreneur muda yang handal berdaya saing guna mengurangi tingkat pengangguran intelektual Memberikan informasi tentang perkembangan technopreneurship di Era ini. Technopreneurship dikalangan mahasiswa pada

Manfaat Adapun manfaat penulisan paper ini sebagai berikut : Meningkatkan kualitas SDM mahasiswa dalam penguasaan IPTEK yang dapat di handalkan di tengah kompetisi global Membangun karakter technopreneur pada mahasiswa Memacu ide ide cemerlang mahasiswa untuk menciptakan sesuatu dengan pemanfaatan teknologi

BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Pengertian Technopreneurship Ditilik dari asal katanya, Technopreneurship merupakan istilah bentukan dari dua kata, yakni Teknologi dan Enterpreneurship. Secara umum, kata Teknologi digunakan untuk merujuk pada penerapan praktis ilmu pengetahuan ke dunia industri atau sebagai kerangka pengetahuan yang digunakan untuk menciptakan alat-alat, untuk mengembangkan keahlian dan mengekstraksi materi guna memecahkan persoalan yang ada. Sedangkan kata Entrepreneurship berasal dari kata Entrepreneur yang merujuk pada seseorang atau agen yang menciptakan bisnis/usaha dengan keberanian menanggung resiko dan ketidakpastian untuk mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan cara mengidentifikasi peluang yang ada (Zimmerer & Scarborough,2008). Jika kedua kata diatas digabungkan, maka kata Teknologi disini mengalami penyempitan arti, karena Teknologi dalam Technopreneurship mengacu pada Teknologi Informasi, yakni teknologi yang menggunakan Komputer sebagai alat pemrosesan. Posadas (2007) mendefinisikan istilah technopreneurship dalam cakupan yang lebih luas, yakni sebagai wirausaha di bidang teknologi yang mencakup teknologi semikonduktor sampai ke asesoris Komputer Pribadi (PC). Sebagai contoh adalah bagaimana Steven Wozniak dan Steve Job )mengembangkan hobi mereka hingga mereka mampu merakit dan menjual 50 komputer Apple yang pertama, atau juga bagaimana Larry Page dan Sergey Brin mengembangkan karya mereka yang kemudian dikenal sebagai mesin pencari Google. Mereka inilah yang disebut sebagai para teknopreneur dalam definisi ini. Menurut Daniel Mankani (2003) Technopreuner adalah orang-orang yang mengidentifikasikan masalah dan memanfaatkan kesempatan. Ada dua karakter utama yaitu : Melakukan hal-hal yang tidak mencari keuntungan semata Merasa nyaman bekerja dengan atau menggunakan teknologi

Mereka yang bekerja keras

Menurut Malcom Gladwll (2008) adalah kaidah 10.000 jam Setiap orang yang sukses ditentukan juga seberapa lama dia berlatih dan berusaha

4.2 Karakteristik Entrepreneurship


1. Selalu mengeksploitasi ketidakpastian 2. Penemu ( Inventor ), bukan semata-mata meniru atau memungut dari alam

3. Tidak hanya berhenti pada peluang, tetapi membangun institusi. Bisnisnya

terus hidup, semangat kewirausahawan terus tumbuh, kendati entrepreneur sudah mati 4. Seorang yang berani menghadapi resiko. Hidup, baginya adalah kumpulan resiko yang harus dihadapi, bukan dihindari 5. Berpikir simple; kompleksitas baginya hanya menghambat laju geraknya 6. Rela tumbuh dari bawah; karena dari situlah penghayatan timbul

7. Tahu apa artinya cash on hand, konservatif terhadap hutang

8. Modal utama dan awalnya bukanlah selalu uang, melainkan panjang akal ( kreativitas) dan reputasi ( kapabilitas dan integritas )

4.3 Konsep dan Wawasan Teknopreneurship

Ide atau gagasan usaha tidak selalu datang begitu saja tanpa disangka-sangka, sehingga orang tidak bisa tahu kapan ide itu akan datang. Oleh sebab itu, Ide atau gagasan usaha harus di kejar, dipikirkan dan dicari. Ide atau gagasan usaha sebaik apapun, tetap harus diuji terlebih dahulu. Uji Kelayakan bisnis berguna untuk mengetahui seberapa jauh ide atau gagasan usaha bisa

diterapkan di lapangan atau tidak. Bagi teknopreneur yang baru memulai sebuah usaha dalam skala kecil, Uji kelayakan tidak perlu dilakukan berdasarkan suatu metode atau teknik yang terlalu ruwet dan teoritik. Faktor-faktor penting yang perlu diperhatikan dalam menilai kelayakan usaha : Faktor kelayakan Pasar Faktor kesukaan / hobi Faktor Keahlian Faktor Dana Faktor Bahan Baku Faktor SDM dan Teknologi Faktor Kepribadian Entrepreneur ( The Concise Oxford French Dictionary) : to undertake to set about to begin

Entrepreneur / Wirausaha adalah orang yang pandai / berbakat dalam mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkan produk yang dihasilkan dan mengatur permodalan operasinya. (Kamus Umum Bahasa Indonesia ). Entrepreneur adalah Orang yang berani memulai, menjalankan &

mengembangkan usaha dengan cara memanfaatkan segala kemampuan dalam hal membeli bahan baku dan sumber daya yang diperlukan, membuat produk dengan nilai tambah yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, dan menjual produk, sehingga bisa

memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi para karyawan, dirinya sendiri, perusahaan dan masyarakat sekitarnya. => Entrepreneur memiliki sekaligus 3 (tiga) kemampuan : -

Kemampuan Membeli Kemampuan Membuat Kemampuan Menjual

Karakteristik Entrepreneur yang memiliki N-Ach yang tinggi : (McClelland) Lebih menyukai pekerjaan dengan resiko yang realistis Bekerja lebih giat dalam tugas-tugas yang memerlukan kemampuan mental Tidak bekerja lebih giat karena adanya imbalan uang Ingin bekerja pada situasi dimana dapat diperoleh pencapaian pribadi (personal achievement) Menunjukkan kinerja yang lebih baik dalam kondisi yang memberikan umpan balik yang jelas dan positif. Cenderung berpikir ke masa depan serta memiliki pemikiran jangka panjang. Ukuran N-Ach mampu menunjukkan seberapa besar jiwa entrepreneur seseorang. Orientasi Entrepreneur : 5 (lima) dimensi orientasi entrepreneurial:
1. Otonomi, semangat dan kebebasan untuk mandiri (locus of Control Internal) 2. Sikap inovatif, melakukan inovasi yang kreatif dalam kondisi yang mendukung

ataupun tidak.
3. Pengambilan resiko, keinginan dan keberanian dalam pengambilan resiko yang

moderat.

4. Proaktif, bertindak antisipatif (dengan perencanaan) terhadap setiap peluang /

kesempatan.
5. Bersaing

Agresif,

Menempatkan

posisi

dalam

peta

persaingan

untuk

menumbuhkan semangat berprestasi.

Faktor-faktor

Internal

individu

yang

berpengaruh

terhadap

sikap

entrepreneurial :

Kecerdasan Emosional (Emotional Quotient) Aktivitas dan Potensi Otak Motivasi Belajar Proses Belajar

4.4 Entrepreneur vs Teknopreneur Meskipun pada esensinya sama, namun terdapat sedikit pembedaan antara entrepreneur dan Teknopreneur, yakni : Entrepreneur Traditional: Hal utama yang digunakan dalam kesuksesan pengembangan bisnisnya adalah jaringan, lobi, dan pemilihan demografi pasar sasaran. Teknopreneur (Entrepreneur Modern) : Hal penting dalam pengembangan bisnisnya adalah pendidikan dan keahlian, serta teknologi menjadi unsur utama dalam pengembangan produk suksesnya. Beberapa contoh Entrepeneur yang sukses dibidangnya antara lain : Larry Page dan Sergey M Brin : Google Cofounder Steven Chen, Chad Hurley, Jawed Karim : YouTube Cofounder

Wozniac dan Steve Jobs : Apple Computer Cofounder Bill Gates : Microsoft Cofounder Bill Joy : Sun Microsystem Cofounder Lawrence Joseph Larry Ellison : Oracle Corporation Cofounder Jerry Yang dan David Filo : Yahoo Cofounder Sabeer Bhatia dan Jack Smith : Hotmail Cofounder Jeff Bezos : Amazon Cofounder David Axmark : MySQL Cofounder Mark Zuckerberg, Eduardo Saverin, Dustin Moskovitz, Chris Huges : Facebook Cofounder

Jack Dorsey dan Evan Williams : Twitter Cofounder

4.5 The Social Evolution of the Internet a. The Beginner Sebagai pengguna biasa, mengeri dasar-dasar teknologi b. Basic Understading Mengerti cara penggunaan dan resiko pengunaan teknologi internet c. Standing Upright Mengerti cara kerja internet dah hubunganya dengan dunia bisnis d. Breakthrough Berhasil menentukan strategis dan perencanaan bisnis e. Experienced Memiliki pengalaman penggunana internet dalam berbisnis

f. Bisnis Owner Menghasilkan uang sendiri melalui implementasi TI

4.6 Tipe Software Close Software Tidak diperkenankan dengan alasan apapun untuk menggunakan software dalam kategori ini tanpa adanya kepemilikan yang syah dalam arti 100% asli Share Software ( Freeware ) Ketika browsing di Internet mendapati sebuah software dalam kategori freeware Open Source Karakteristik Open Source : Pendistribusian ulang secara Cuma-Cuma Kode bersumber Bebas dimodifikasi Integritas Pencipta Kode Sumber Tidak adanya diskriminasi terhadap individu atau kelompok Tidak adanya diskriminasi terhadap bidang-bidang perberdayaan Pendistribusian lisensi Lisensi tersebut tidak diperbolehkan bersifak spesifik terhadap suatu produk Lisensi tersebut tidak diperbolehkan membatasi software lain Lisensi harus menjadi teknologi sentral

Contoh penggunaan Open Source yang sering digunakan adalah LINUX, UBUNTU, dan lain-lain. Banyak Hal yang bisa dilakukan dengan menggukan Internet untuk memulai teknopreneurship kita antara lain : Informasi Market Komunikasi dengan buyer / supplier melalui e-mail Internet untuk pemasaran, internet marketing, situs jejaring social, facebook, twitter, dan lain-lain Iklan di internet Etalase toko online Blog pemasaran Menawarkan jasa / barang di indonetwork.co.id, tokobagus.com, iklan baris, dan lain-lain Menjalankan E-Commerce Internet untuk transaksi usaha keuangan

Bagaimana E-Commerce bisa berjalan antara lain : Ada produk yang dijual Memiliki rating yang dapat dipercaya Memiliki infrastruktur dan perangkat Memiliki toko online Adanya Payment Gateway Good corporate management Customer support dan After sales services

Quality control, packaging Relationship dengan ekspedisi terpecaya Marketing, branding, differentiation product

Adapun cara dalam membuat sebuah Toko Online antara lain :

Domain name, gunakan domain .com jika memilih orientasi internasional dan .co.id untuk Indonesia

Lakukan hostin ISP Gunakan template / script e-commerce untuk website Daftar untuk mendapatkan payment gateway sebagai cara / alat pembayaran

BAB V PENUTUP

Jadi dapat disimpulkan bahwa kondisi Technopreneurship yang ada di Indonesia masi berketergantungan terhadap teknologi buatan Barat. Tetapi di era globalisasi saat ini bisnis di Indonesia dapat berkembang open source dengan untuk Technopreneurship dan menggunakan teknolgi

menoptimalisasikan teknopreneur-teknopreneur yang ada di Indonesia. Dan apakah benar Technopreneurship mampu menjadi solusi bisnis di masa kini ? dan jawabannya adalah iya dengan menggunakan teknologi open source. Dan juga untuk dapat menuju negara yang sama seperti negara-negara tetangga kita lainnya, maka hal pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan dekonstruksi pemahaman Technopreneurshi, dan bagaimana cara untuk mengoptimalisasikan Technopreneurship yang ada di Indonesia, dan bagaimana melihat peluang-peluang bisnis yang ada, dan cara yang efektif dalan berTechnopreneurship. Ini penting sekali karena kita semua tahu bahwa persepsi menentukan aksi. Dengan pemahaman Technopreneurship seperti yang lebih mengacu pada pemanfaatan Teknologi informasi untuk pengembangan wirausaha maka akan memungkinkan bermunculannya para Technopreneurship sejati yang akan membawa negara kita berjalan bersama-sama dengan India, Korea Selatan maupun Taiwan.

DAFTAR PUSTAKA

-Dana, L.P. 2007. Asian Models of Entrepreneurship from Indian Union and the Kingdom of Nepal to the Japanese Archipelago: Context, Policy, and Practice. New Jersey: World Scientific Publishing Co. -United Nations. 2001. Economic and Social Commission for Asia and the Pacific. Strengthening technology incubation system for creating high technology-based enterprises in Asia and the Pacific. United Nations Publications. -Bernard Golden.2005.Succeeding with open source Addison-Wesley information technology series. Addison-Wesley. -Ellen Siever, Stephen Figgins, Robert Love, Arnold Robbins. 2009. 6 Edition. Linux in a Inc. -Daniel Mankani. 2003. Technopreneurship: the successful entrepreneur in the new economy. Prentice Hall. -Dennis Posadas. 2007. Rice & chips: technopreneurship and innovation in Asia. Pearson Prentice Hall,University of California. -Siow Yue Chia, Jamus Jerome Lim, Institute of Southeast Asian Studies, KonradAdenauer-Stiftung. 2002. Editor Siow Yue Chia, Jamus Jerome Lim. Information technology in Asia: new development paradigms. Institute of Southeast Asian Studies. - Chwee Huat Tan.2001.Edition 2. Financing for entrepreneurs and businesses. NUS Press Nutshell LINUX IN A NUTSHELL O'Reilly Series Nutshell Serie sIn a nutshell. O'Reilly Media,

- Poh Kam Wong, C. Y. Ng.2001.Editor Poh Kam Wong, C. Y. Ng. Industrial policy, innovation and economic growth: the experience of Japan and the Asian NIEs. NUS Press. - Ramkishen S. Rajan.2003.Editor Ramkishen S. Rajan. Sustaining competitiveness in the new global economy: the experience of Singapore. Edward Elgar Publishing. http://ceritarara.wordpress.com/