Anda di halaman 1dari 4

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kematian adalah bagian dari proses kehidupan yang wajar, sama halnya dengan kelahiran dan perkawinan. Kematian pada hakikatnya peralihan hidup dari satu alam ke alam lainnya. Para ulama mendefinisikannya sebagai ketiadaan hidup atau antonim dari hidup. Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan terminal awal untuk menuju kepada kehidupan selanjutnya. Kematian tidak dapat ditolak oleh manusia dalam situasi, waktu, keadaan, maupun penggunakan kekuatan apapun. Seseorang yang lahir menandakan sebuah babak awal yang baru dimulai dalam sebuah kehidupan, seseorang yang telah meninggal berarti telah mengakhiri perjalanan hidup di dunia dan akan meneruskan perjalanan hidupnya di alam baka. Kematian dipercaya oleh setiap orang yang ada di dunia dan diakui oleh semua agama, semua orang di belahan dunia manapun adalah mutlak. Karena apapun yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah dan satu yang pasti ini adalah rencana Yang Maha Kuasa (Mahajudin, 2007; Basbeth, 2012).

Banyak dokter, pengacara dan masyarakat sering mengalami kesulitan dalam memahami perbedaan antara penyebab kematian, mekanisme kematian dan cara kematian. Secara sederhana, penyebab kematian adalah adanya trauma atau penyakit yang menimbulkan

kegagalan fisiologis pada tubuh dan menyebabkan kematian pada seseorang. Misalnya, penyebab kematian adalah luka tembak pada kepala, luka tusuk pada dada, adenokarsinoma pada paru, dan aterosclerosis koronaria. Sedangkan mekanisme kematian adalah kegagalan fisiologis yang dihasilkan oleh penyebab kematian yang menghasilkan kematian. Contohnya adalah perdarahan, septikemia, dan aritmia jantung. Beberapa hal yang harus dipikirkan adalah bahwa mekanisme kematian dapat disebabkan dari beberapa penyebab kematian dan sebaliknya, misalnya seseorang meninggal karena perdarahan masif dapat disebabkan oleh luka tembak, atau luka tusuk. Kebalikannya penyebab kematian misalnya luka tembak pada abdomen, dapat menghasilkan banyak kemungkinan mekanisme kematian seperti perdarahan atau peritonitis (Basbeth, 2012).

Umumnya isu utama yang muncul adalah identitas jenasah serta sebab kematian dan cara kematiannya. Fakta menunjukkan bahwa sertifikat kematian cukup mudah diperoleh oleh

karena tidak adanya ketentuan di Indonesia yang mengatur tentang kewajiban pemeriksaan jenasah untuk kepentingan sertifikasi kematian dan tidak adanya lembaga khusus yang berwenang menerbitkan sertifikat kematian. Dengan demikian, sertifikat kematian dapat diperoleh tanpa harus melalui pemeriksaan jenasah, bahkan tanpa harus diketahui penyebab kematiannya ataupun pemastian identitas si mati. Peraturan hanya mengatur tentang formalitas sertifikasi kematian yang memiliki banyak celah untuk dilanggar (Sampurna, 2008).

Pemeriksaan autopsi forensik harus dilakukan untuk memperoleh sebab kematian yang pasti, yang kemudian dapat membawa ke kesimpulan tentang cara kematiannya apakah terdapat unsur kesengajaan. Pemeriksaan forensik juga dapat digunakan untuk memastikan identitas korban apabila identitas korban memang menjadi isu utama. Pemeriksaan autopsi dan identifikasi seringkali masih dapat dilakukan dan memberikan hasil meskipun peristiwa telah lama terjadi atau korban telah dimakamkan. Pemeriksaan forensik terhadap tempat kejadian perkara juga dapat membantu mengungkap peristiwa yang melatar-belakangi kematian seseorang (Sampurna, 2008).

Sertifikat kematian atau sering juga disebut sertifikat medis adalah dokumen yang dikeluarkan oleh pejabat pemerintah seperti registrasi yang menyantumkan tanggal, lokasi dan penyebab kematian. Beberapa kegunaan dari Sertifikat Kematian, yaitu : (1) untuk acara pemakaman, (2) Pensiun, (3) Asuransi, (4) Warisan, (5) Hutang piutang, (6) Hukum, (7) Statistik (Wahyu, 2010). Registrasi kematian di Indonesia sudah dilaksanakan sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda, yg didasarkan pada sejumlah Regeling Reglemen (Stbld 1849 No. 25, Stbld 1917 No. 130, Stbld 1920 No. 751, Stbld 1933 No. 75 dan Stbld 1941 No. 44). Registrasi kematian yg didasarkan pada Regeling Reglemen tsb, pada awalnya hanya diberlakukan bagi golongan masyarakat tertentu (orang Eropa. Tionghoa, Indonesia bangsawan dan Indonesia Nasrani), dengan tujuan memberikan pengakuan dan perlindungan hukum bagi kaula Belanda dan merupakan bagian dari tugas pemerintahan umum dlm rangka pembinaan ketentraman dan ketertiban (Wahyu, 2010).

Budaya dan orientasi penyelenggaraan registrasi kematian tersebut berlanjut terus hingga Indonesia merdeka, dan terus walaupun telah diterbitkan Instruksi Presidium Kabinet Ampera No. 31/U/Int/XII/1966, Kepres No. 52 Tahun 1977 tentang Pendaftaran Penduduk dan Kepres No. 12 Tahun 1983 tentang Penataan dan Peningkatan Pembinaan Penyelenggaraan Catatan Sipil. UU No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan diterbitkan untuk mengganti Regeling Reglemen peninggalan kolonial Belanda yg sudah tidak sesuai dan sekaligus dimaksudkan untuk mereformasi kultur dlm penyelenggaraan Administrasi Kependudukan (termasuk Registrasi Kematian). Tidak hanya berorientasi pada penerbitan dokumen, tetapi juga membangun database kependudukan. Tidak hanya menunggu pelaporan (bersifat pasif), tetapi juga pada hal-hal tertentu wajib bersifat aktif (Wahyu, 2010). Statistik kematian di Indonesia sangat memprihatinkan, karena : (1) Sebagai besar kematian di rumah (>60 persen), (2) Tidak ada catatan medis/ tidak memadai, (3) Tidak adanya laporan kematian dari dinas kesehatan kabupaten ke propinsi, dari dinas propinsi ke pusat, (4) Laporan tidak terstandarisasi dengan baik, (5) Laporan tidak memadai untuk tingkat nasional (Wahyu, 2010). Esensi dari Registrasi Kematian : (1) Sbg wujud pengakuan negara atas status sipil dan status keperdataan seseorang. (2) Memberikan bukti hukum peristiwa kematian seseorang, (3) Membangun database kependudukan yang akurat, mutahir dan reliable. Permasalah yang dihadapi saat ini adalah: (a) tingkat partisipasi masyarakat yg masih belum memadai; (b) manfaat Akta Kematian yg masih terbatas; (c) belum ada sistem yg sinergis antar instansi terkait. Oleh karena itu kelompok kami akan membahas lebih lanjut mengenai sertifikat dan surat kematian sebagai laporan refrat.

B. Tujuan Penulisan Penulisan laporan ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar peran surat dan sertifikat kematian pada orang yang meninggal.

Referensi : 1. Sampurna, Bagus. 2008. Peran Ilmu Forensik dalam kasus-kasus Asuransi. Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences. Vol: I hal:17-20. 2. Mahajudin, S, Marlina. 2007. Panduan Untuk Pendampingan Di Akhir Hayat. Dikutip pada: 2 April 2012. Available at: http://www.palliativesurabaya.com/gambar/pdf/buku_pkb_vi-bagian_808082008.pdf

3. Basbeth, Ferryal. 2012. Penulisan Proximate Cause dan but for test Sebagai Sebab Mati dalam Sertifikat Kematian. Asosiasi Ilmu Forensik Indonesia: Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences. Vol: 2. Hal: 13-16 4. Wahyu, Bayu. 2010. Kematian Juga Punya Sertifikat. Dikutip pada: 2 April 2012. Available at: http://waroengkesehatan.blogspot.com/2010/12/menu-13-kematian-jugapunya-sertifikat.html