Anda di halaman 1dari 2

Hofstedes Cultural Dimension (Teori Dimensi Budaya Hofstedes)

Geert Hofstede (Gerard Hendrik Hofstede) lahir pada 2 oktober 1928 di Haarlem, Belanda. Beliau merupakan peneliti Belanda yang berpengaruh di bidang studi organisasi dan budaya organisasi lebih konkrit, ekonomi budaya dan manajemen. Beliau merupakan pelopor terkenal dengan penelitiannya lintas-budaya kelompok dan organisasi dan memainkan peran utama dalam mengembangkan kerangka kerja sistematis untuk m,enilai dan membedakan budaya nasional dan organisasi. Karyanya yang paling terkenal yakni Cultural Dimension Theory yang menyebutkan kelompok-kelompok budaya nasional dan regional mempengaruhi prilaku masyarakat dan organisasi. Adapun dimensi yang dimaksud teori tersebut yakni : 1. Power Distance/Jarak Kekuasaan menyangkut tingkat kesetaraan masyarakat dalam kekuasaan. Jarak kekuasaan akan mempengaruhi setara atau tidaknya setiap orang. Misalnya, di Indonesia sendiri budaya senioritas menunjukkan bahwa ada jarak kekuasaan yang tinggi, yang menyebabkan tidak setaranya setiap orang dalam organisasi. 2. Individualism/Individualisme vs Collectivism/Kolektivisme menyangkut ikatan di masyarakat. Pada masyarakat yang individual setiap pihak diharapkan mengurus dirinya sendiri dan keluarganya secara mandiri. Misalnya di Indonesia ada budaya gotong royong yang berbedhingga nantinya dalam organisasi memudahkan pemberian tugas dalam organisasi. 3. Masculinity/Maskulin vs Femininity/Feminin yang menyangkut perbedaan gaya antara jenis kelamin. Pada budaya maskulin yang ditonjolkan adalah ketegasan dan kompetitif, sedangkan pada wanita adalah kesopanan dan perhatian. Di Indonesia sendiri maskulinitas sangat kental terlihat. Terbukti kebanyakan perusahaan di Indonesia memiliki pimpinan kaum laki-laki. 4. Uncertainty Avoidance/ Penghindaran Ketidakpastian yang menunjukkan rasa nyaman suatu budaya terhadap ketidakpastian. Contohnya, Wirausaha merupakan pekerjaan yang menuntut kita untuk dapat menghadapi ketidakpastian. Di Indonesia sendiri, khususnya bali Wirausaha kurang diminati oleh kaum pribumi karena budaya yang takut akan resiko dan ketidakpastian. 5. Long-term Orientation/ Orientasi Jangka Panjang menyangkut pola pikir masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari kerjasama orang asia yang harus menjalin hubungan kekeluargaan sebelum nantinya membicarakan kerjasama bisnis. Ini disebabkan karena orang asia lebih berorientasi ke masa depan/jangka panjang. Beda dengan orang Eropa yang memiliki semboyan time is money yang berarti mereka ingin secepatnya melakukan kerjasama agar lebih cepat mendapat keuntungan.

BISNIS INTERNASIONAL
Hofstedes Cultural Dimension

Oleh : I Dewa Gede Darma Putra 1006105081

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS UDAYANA 2012