Anda di halaman 1dari 11

1

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Industri parfum merupakan industri yang sedang trend saat ini. Di zaman sekarang parfum sudah menjadi kebutuhan utama bagi para konsumen dunia, semua orang pasti membutuhkan parfum, tentunya saat menghadiri pertemuan-pertemuan penting. Bunga mawar mengandung minyak yang dapat digunakan sebagai bahan baku industri parfum. Mawar mengandung minyak yang merupakan salah satu jenis minyak atsiri. Minyak atsiri ini diperoleh sebagai hasil dari proses penyulingan dan penguapan lumataan daun-daun mahkota bunga Mawar. Minyak mawar inilah yang banyak dimanfaatkan sebagai parfum dalam industri parfum. Minyak mawar terdiri dari geraniol yang mempunyai aroma wangi dengan rumus kimianya adalah dengan rumus bangun

CH3.C[CH3]:CH.CH2.CH2.C[CH3]:CH.CH2OH dan 1-sitronelol serta rose champor (atau parafin tanpa bau). Teknik penyulingan mawar pada mulanya berasal dari Persia yang kemudian menyebar ke wilayah Arab dan India. Pada saat ini, sebanyak 70%-80% kebutuhan minyak mawar dunia dipenuhi oleh pusat penyulingan mawar yang terletak di Bulgaria, sementara sesanya disuplai dari Iran dan juga Jerman. Penyulingan minyak mawar di Bulgaria, Iran, dan Jerman sama-sama menggunakan jenis mawar damaskus Rosa damascena Trigintipetala, sedangkan penyulingan minyak mawar di Perancis menggunakan jenis mawar yang lain, yaitu Rosa centifolia. Minyak mawar berwarna kuning pucat atau kuning keabu-abuan disebut juga minyak Rose Absolute untuk membedakannya dengan minyak mawar yang sudah diencerkan. Penyulingan menghasilkan minyak mawar dengan perbandingan 1:3000 sampai 1:6000 dari berat bunga, sehingga kirakira dibutuhkan sebanyak 2000 bunga mawar untuk menghasilkan minyak mawar sebanyak 1 gram. Tentunya parfum mawar yang dijual di pasaran

merupakan minyak mawar hasil pengenceran. Semakin encer parfum tersebut, maka harganya semakin murah, sebaliknya semakin pekat maka harganya semakin mahal. Parfum dari minyak mawar sangat disukai oleh konsumen karena wanginya yang khas ( B. Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui potensi dan pembuatan minyak atsiri dari bunga mawar. .

BAB II ISI
A. Bunga Mawar

Gambar 1. Bunga mawar. Mawar adalah tanaman semak dari genus Rosa sekaligus nama bunga yang dihasilkan tanaman ini. Mawar liar yang terdiri lebih dari 100 spesies kebanyakan tumbuh di belahan bumi utara yang berudara sejuk. Spesies mawar umumnya merupakan tanaman semak yang berduri atau tanaman memanjat yang tingginya bisa mencapai 2 sampai 5 meter. Walaupun jarang ditemui, tinggi tanaman mawar yang merambat di tanaman lain bisa mencapai 20 meter. Sebagian besar spesies mempunyai daun yang panjangnya antara 5-15 cm, dua-dua berlawanan (pinnate). Daun majemuk yang tiap tangkai daun terdiri dari paling sedikit 3 atau 5 hingga 9 atau 13 anak daun dan daun penumpu (stipula) berbentuk lonjong, pertulangan menyirip, tepi tepi beringgit, meruncing pada ujung daun dan berduri pada batang yang dekat ke tanah. Mawar sebetulnya bukan tanaman tropis, sebagian besar spesies merontokkan seluruh daunnya dan hanya beberapa spesies yang ada di Asia Tenggara yang selalu berdaun hijau sepanjang tahun. Bunga terdiri dari 5 helai daun mahkota dengan perkecualian Rosa sericea yang hanya memiliki 4 helai daun mahkota. Warna bunga biasanya putih dan merah jambu atau kuning dan merah pada beberapa spesies. Ovari berada di bagian bawah daun mahkota dan daun kelopak.

Gambar 2. Buah agregat. Bunga menghasilkan buah agregat (berkembang dari satu bunga dengan banyak putik) yang disebut rose hips. Masing-masing putik berkembang menjadi satu buah tunggal (achene), sedangkan kumpulan buah tunggal dibungkus daging buah pada bagian luar. Spesies dengan bunga yang terbuka lebar lebih mengundang kedatangan lebah atau serangga lain yang membantu penyerbukan sehingga cenderung menghasilkan lebih banyak buah. Mawar hasil pemuliaan menghasilkan bunga yang daun mahkotanya menutup rapat sehingga menyulitkan penyerbukan. Sebagian buah mawar berwarna merah dengan beberapa perkecualian seperti Rosa pimpinellifolia yang menghasilkan buah berwarna ungu gelap hingga hitam. Pada beberapa spesies seperti Rosa canina dan Rosa rugosa menghasilkan buah rose hips yang sangat kaya dengan vitamin C bahkan termasuk di antara sumber vitamin C alami yang paling kaya. Buah rose hips disukai burung pemakan buah yang membantu penyebaran biji mawar bersama kotoran yang dikeluarkan. Beberapa jenis burung seperti burung Finch juga memakan biji-biji mawar. Pada umumnya mawar memiliki duri berbentuk seperti pengait yang berfungsi sebagai pegangan sewaktu memanjat tumbuhan lain. Beberapa spesies yang tumbuh liar di tanah berpasir di daerah pantai seperti Rosa rugosa dan Rosa pimpinellifolia beradaptasi dengan duri lurus seperti jarum yang mungkin berfungsi untuk mengurangi kerusakan akibat dimakan

binatang, menahan pasir yang diterbangkan angin dan melindungi akar dari erosi. Walaupun sudah dilindungi duri, rusa kelihatannya tidak takut dan sering merusak tanaman mawar. Beberapa spesies mawar mempunyai duri yang tidak berkembang dan tidak tajam. Mawar dapat dijangkiti beberapa penyakit seperti karat daun yang merupakan penyakit paling serius. Penyebabnya adalah cendawan Phragmidium mucronatum yang menyebabkan kerontokan daun. Penyakit yang tidak begitu berbahaya seperti Tepung Mildew disebabkan cendawan Sphaerotheca pannosa, sedangkan penyakit Bercak Hitam yang ditandai timbulnya bercak-bercak hitam pada daun disebabkan oleh cendawan Diplocarpon rosae. Mawar juga merupakan makanan bagi larva beberapa spesies Lepidoptera Mawar tumbuh subur di daerah beriklim sedang walaupun beberapa kultivar yang merupakan hasil metode penyambungan (grafting) dapat tumbuh di daerah beriklim subtropis hingga daerah beriklim tropis. Selain sebagai bunga potong, mawar memiliki banyak manfaat, antara lain antidepresan, antiviral, antibakteri, antiperadangan, dan sumber vitamin C. Minyak mawar adalah salah satu minyak atsiri hasil penyulingan dan penguapan daun-daun mahkota sehingga dapat dibuat menjadi parfum. Mawar juga dapat dimanfaatkan untuk teh, jelly, dan selai ( B. Pembuatan Minyak Atsiri Mawar Dengan Teknik Penyulingan Salah satu cara untuk mengisolasi minyak atsiri dari bahan tanaman penghasil minyak atsiri adalah dengan penyulingan, yaitu pemisahan komponen yang berupa cairan dua macam campuran atau lebih berdasarkan perbedaan titik didih. Proses tersebut dilakukan terhadap minyak atsiri yang tidak larut dalam air. Berdasarkan kontak antara uap air dan bahan yang akan disuling, metode penyulingan minyak atsiri dibedakan atas tiga cara, yaitu: (1) penyulingan dengan air, (2) penyulingan dengan uap dan air, dan (3) penyulingan dengan uap. .

Penyulingan dengan air serta penyulingan dengan uap dan air lebih sesuai bagi industri kecil karena lebih murah dan konstruksi alatnya sederhana. Namun penyulingan dengan uap dan air memiliki kelemahan, yaitu membutuhkan uap air yang cukup besar. Hal ini karena sejumlah besar uap akan mengembun dalam jaringan tanaman sehingga bahan bertambah basah dan mengalami aglutinasi. Untuk mengatasi kelemahan ini, telah dikembangkan model penyulingan uap dan air yang dikombinasikan dengan sistem kohobasi. Pada sistem ini pemanasan air dalam ketel penyulingan dilakukan secara langsung terhadap dasar ketel. Dengan sistem ini, bahan bakar dapat dihemat sampai 25%, karena air yang digunakan hanya 40% dari yang normal. Untuk penyulingan minyak atsiri dengan kapasitas 1.000 liter, sistem pemanasan air dalam ketel harus ditambah dengan pemanasan air semi boiler. Pemanasan air semi boiler dapat dilakukan dengan cara memasang pipa-pipa kecil yang mengalirkan panas dari asap sisa bakar (flue gas) pada air dalam ketel. Berdasarkan sifat fisik dan kimia, minyak atsiri dapat dibuat dengan cara penyulingan, ekstraksi dengan pelarut mudah menguap, pembuatan dengan lemak padat, dan ekspresi. Sedangkan minyak bunga mawar sendiri dihasilkan dengan cara penyulingan dengan air. Ada beberapa yang harus diketahui dalam proses penyulingan bunga mawar antara lain : 1. bunga mawar tidak dapat disuling dengan mengalirkan uap panas, karena mahkota bunga akan mengumpul sehingga uap tidak dapat berpenetrasi. Untuk mencegah peristiwa penggumpalan ini, biasanya bunga langsung disuling dengan cara penyulingan air. Dengan cara penyulingan ini, bunga akan bersirkulasi dengan air mendidih. 2. minyak mawar sebagian larut dalam air suling, dan hanya sebahagian terpisah dari kondensat. Oleh karena itu air suling yang dihasilkan dari proses penyulingan air, harus disuling kembali, untuk memisahkan minyak yang larut dalam air suling tersebut ( )

C.

Pembuatan Minyak Atsiri Dengan Metode Enfleurasi Pembuatan minyak mawar banyak dilakukan dengan cara penyulingan dan menggunakan pelarut seperti yang dilakukan di Turki dan Bulgaria (Atawia et al, 1998). Metode penyulingan memiliki kelemahan yang berpengaruh terhadap kualitas minyak yang dihasilkan karena adanya panas dan uap air. Dilaporkan bahwa komponen fenil etil alkohol tidak terdapat dalam minyak mawar Bulgaria yang diekstraksi dengan cara penyulingan, karena komponen ini larut dalam air destilat (Ketaren, 1985). Untuk meningkatkan rendemen dan minyak bunga, Moates dan Reynolds (1991) menyarankan penggunaan teknik solvent extraction atau enfleurasi. Teknik enfleurasi merupakan salah satu cara pengambilan minyak atsiri bunga dari lemak sebagai absorben yang telah jenuh dengan aroma wangi bunga, di mana proses penyerapan aroma oleh lemak terjadi dalam keadaan tanpa pemanasan. Metode ini sudah sejak lama digunakan di wilayah Perancis Selatan, yang sangat terkenal dengan kualitas parfumnya. Penggunaan teknik enfleurasi pada pembuatan minyak melati dilaporkan dapat meningkatkan rendemen minyak hingga 4-5 kali lebih besar bila dibandingkan dengan cara solvent extraction atau pun penyulingan. Dalam menggunakan teknik enfleurasi untuk produksi minyak bunga, jenis lemak yang berperan sebagai absorben sangat menentukan rendemen dan kualitas minyak bunga yang diperoleh. Tjiptadi dan Wahyu (1986) melaporkan bahwa campuran lemak sapi dan lemak babi dengan perbandingan 1:2 mempunyai konsistensi yang baik bila digunakan sebagai absorben dalam proses enfleurasi bunga sedap malam. Dari uraian tersebut di atas, diharapkan bahwa penggunaan absorben lemak hewan dapat meningkatkan rendemen absolut dan mutu minyak mawar. Tahap pertama dilakukan untuk mencari campuran lemak hewan yang sesuai sebagai absorben dalam proses enfleurasi bunga mawar dengan karakteristik seperti mentega putih (Suyanti et al., 2001). Jenis lemak yang bisa digunakan seperti campuran lemak sapi, lemak kambing atau lemak ayam. Dilakukan pembersihan lemak hewan yang digunakan dalam proses pembuatan absorben. Lemak dibersihkan dari kotoran menggunakan tangan

kemudian digiling halus sambil dicuci dengan air bersih yang mengalir. Selanjutnya lemak dicairkan secara perlahan-lahan di atas pemanas air pada suhu dan ditambahkan benzoin 0,6% serta tawas 0,15-0,30%. Kotoran

yang telah menggumpal dipisahkan dan lemak disaring dengan kain saring kemudian didiamkan pada suhu ruang (27). Proses pencampuran

dilakukan dengan pengadukan (mixer) pada kecepatan rendah dalam 10 menit pertama dan kemudian kecepatan ditingkatkan hingga campuran lemak tampak merata setelah pengadukan selama 2 jam. Selanjutnya lemak dimurnikan dengan cara netralisasi (untuk memisahkan asam lemak bebas dari minyak), pemucatan (untuk menghilangkan zat warna yang tidak disukai dalam minyak), dan deodorisasi (untuk menghilangkan bau yang tidak diinginkan dalam minyak). Lemak yang dihasilkan dianalisis asam lemak bebas, warna, dan aroma. Lemak yang memiliki konsistensi mendekati mentega putih, dan memiliki kadar asam lemak bebas rendah akan digunakan sebagai absorben. Pada tahap kedua dilakukan proses enfleurasi bunga mawar dengan absorben berbagai komposisi campuran lemak hewan hasil tahap pertama. Bunga disusun dalam chasis (50x40x5cm) yang sudah dilapisi lemak sebagai absorben secara merata dengan ketebalan 0,3 cm (200 g lemak). Permukaan lemak digores dengan ujung pisau untuk memperluas permukaan lemak. Bunga mawar yang telah disortir dan dibersihkan dari tangkainya ditimbang sebanyak 200 g dan disebarkan di atas permukaan lemak secara teratur sehingga seluruh permukaan lemak ditutupi oleh bunga. Chasis kemudian ditutup dan dibiarkan dalam jangka waktu tertentu. Kemudian bunga dikeluarkan dari chasis, permukaan lemak diratakan kembali dan digores dengan ujung pisau (arah berlawanan). Proses enfleurasi dilakukan selama 7 hari dengan selang pergantian bunga setiap 12 dan 24 jam. Setelah enfleurasi selesai dilaksanakan, lemak kemudian diambil dari chasis dengan spatula dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Lemak dilarutkan dalam alkohol dengan perbandingan 1:2 dan dipanaskan pada suhu sambil

diaduk sehingga lemak terpisah dan menghasilkan filtrat. Kemudian filtrat didinginkan dalam pendingin ( ) sampai filtrat terpisah dari lemak yang

mengendap. Pendinginan dilanjutkan sampai suhu 5 dan -

, filtrat

disaring dan menghasilkan minyak bunga dalam lemak. Pemisahan minyak bunga dalam lemak dilakukan dengan proses evaporasi vakum dan pelarut absolut.

10

BAB III KESIMPULAN


Kesimpulan yang dapat di ambil dari makalah ini adalah mawar merupakan sumber minyak atsiri yang sangat berpotensi dan pembuatan minyak mawar sebaiknya menggunakan metode enfleurasi agar hasil yang didapat lebih banyak dan dengan kualitas yang bagus pula.

11

DAFTAR PUSTAKA

. 2011. Pemanfaatan Mawar Untuk Parfum. http://tamanku.com/. Diakses tanggal 1 Maret 2012. . 2012. Mawar. http://id.wikipedia.org/wiki/Mawar/. Diakses tanggal 1 Maret 2012. . 2011. Minyak Mawar. http://ismoyoagubg.wordpress.com/. Diakses tanggal 1 Maret 2012. Atawia,B.A, S.A.S Hallabo and M.K Morsi. 1998. Effect of Type of Solvent on Quantity and Quality of Jasmine Concrete and Absolute. Egyptian J. Food Sci 16(1-2):213-224. Kataren S. 1985. Minyak Atsiri. Pengantar Teknologi. PN Balai Pustaka. Jakarta. Hlm.283-292. Moates G.K and J. Reynolds. 1991. Comparison of Rose Extracts Produced by Different Extraction Techniques. J.Ess. Oil Res. 3:289-294. Suyanti, S.Prabawati, E.D. Astuti, dan Sjaifullah. 2001. Pengaruh Jenis Absorben dan Frekuensi Penggantinan Bunga Terhadap Mutu Minyak Melati. J.Hort. 11(1):51-57. Tjiptadi dan Wahyu. 1986. Teknis Enleurasi Minyak Atsiri Dari Bungabungaan. Laporan Hasil Penelitian dan Pengembangan. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Hasil Pertanian. 8 Hlm.