Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH PROSES BELAJAR DALAM PENYULUHAN

Tugas Mata Kuliah PENDIDIKAN ORANG DEWASA Dosen Pengampu: Dr. Ir Suwarto, M.Si

Disusun Oleh : FITRA JULIYANTO NIM. S621208001

PROGRAM PASCA SARJANA (S2) PENYULUHAN PEMBANGUNAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012

PENDAHULUAN Istilah penyuluhan berasal dari kata Extension yang pertama kali digunakan di Inggris pada tahun 1840 pada ungkapan University Extension atau Extension of University. Kata Extension sendiri secara harfiah berarti perluasan/penyebarluasan. Dalam konteks ini, penyuluhan berarti penyebarluasan ilmu kepada masyarakat. Sedangkan dalam Bahasa Indonesia istilah penyuluhan berasal dari kata dasar Suluh atau Obor yang berarti pemberi terang di tengah kegelapan. Dari asal kata tersebut, penyuluhan dapat diartikan sebagai pemberi penjelasan atau penerangan kepada masyarakat agar dapat mencari solusi dalam masalah atau kegelapan yang mereka hadapi. Menurut Mardikanto (1993) penyuluhan dapat diartikan sebagai proses penyebarluasan informasi yang berkaitan dengan upaya perbaikan cara-cara berusahatani demi tercapainya peningkatan pendapatan dan perbaikan kesejahteraan keluarganya. Dari pengertian diatas penyuluhan dapat diartikan secara sederhana sebagai proses penyebaran informasi untuk mengubah perilaku dalam upaya meningkatkan keadaan pembelajar menjadi lebih baik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penyuluhan merupakan sebuah proses pembelajaran. Proses pembelajaran inilah yang akan dibahas dalam makalah ini. Dari pembahasan proses pembelajaran ini diharapkan mampu menjelaskan jenis, prinsip, falsafah, dan teknik pembelajaran yang sesuai dalam penyuluhan berdasarkan prinsip dan falsafah penyuluhan. Penyuluhan yang diangkat oleh penulis dalam makalah ini adalah penyuluhan pertanian, sesuai dengan bidang pekerjaan yang didalami oleh penulis. PENGERTIAN (Suparta, 2010) Belajar merupakan proses interaksi aktif individu dengan lingkungannya, yang menghasilkan perubahan pengetahuan dan perilaku. Dengan belajar, seseorang dapat mengantisipasi dan mengambil tindakan untuk memperbaiki keadaannya. Rangkaian kegiatan yang dapat mengubah pengetahuan dan perilaku seseorang itulah yang disebut sebagai proses belajar. Interaksi dalam proses belajar antara seorang pembelajar dengan lingkungannya menggunakan panca indra dan turut aktif dalam proses belajar tersebut, sehingga pembelajar mendapatkan makna dan pengertian dari proses belajar yang dilaksanakan. Hasil proses belajar tersebut dapat dikatakan sebagai pengalaman belajar. Penyuluhan merupakan sebuah proses pembelajaran yang diperuntukkan bagi orang dewasa dan remaja. Menurut J.P. Leagans (1961) dalam Chauhan (2007) pendidikan penyuluhan adalah ilmu terapan terdiri atas hasil-hasil penelitian, akumulasi pengalaman lapangan dan prinsip-prinsip terkait yang diambil dari sintesa ilmu perilaku dengan teknologi tepat guna kedalam tubuh dari filsafat, prinsip-prinsip, yang isi dan metoda-metodanya fokus pada masalah-masalah pendidikan diluar sekolah bagi orang dewasa dan remaja. Dalam UU RI No. 16, tentang SP3K (2006), sistem penyuluhan pertanian merupakan seluruh rangkaian pengembangan kemampuan, pengetahuan, keterampilan serta sikap pelaku utama (pelaku kegiatan pertanian) dan pelaku usaha melalui penyuluhan. Penyuluhan pertanian adalah suatu proses pembelajaran bagi pelaku utama (pelaku kegiatan pertanian) serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumberdaya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, 1

pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Dari dua pengertian penyuluhan di atas dapat dikatakan bahwa dalam penyuluhan terdapat proses pembalajaran bagi orang dewasa yang bertujuan untuk memberdayakan pembelajar sehingga mampu meningkatkan kesejahteraannya. Proses pembelajaran yang terjadi dalam penyuluhan merupakan proses pembelajaran non formal. Sebagaimana Knowless (1998) mengungkapkan bahwa penyuluhan merupakan proses pembelajaran non formal yang memungkinkan pesertanya berasal dari tingkat umur yang berbeda-beda. Akan tetapi jika dilihat dari tujuan dari penyuluhan pertanian itu sendiri, peserta penyuluhan selalu diikuti oleh peserta yang dapat dikategorikan sebagai orang dewasa. Dimana orang dewasa disini memiliki arti bahwa orang tersebut telah bertanggung jawab atas kehidupan dirinya sendiri. Untuk mencapai tujuan dari penyuluhan, proses pembelajaran dalam penyuluhan harus menerapkan falsafah dan prinsip pendidikan orang dewasa yang memiliki ciri khas tersendiri dalam prosesnya. Pendidikan orang dewasa (andragogi) adalah ilmu mengenai memimpin atau membimbing orang dewasa atau ilmu mengajar orang dewasa (Padmowiharjo, 2006 dalam Suwarto, 2012). KONSEP PENDIDIKAN ORANG DEWASA Keberhasilan suatu penyuluhan dalam mengubah perilaku ditentukan dari proses pembelajaran yang terjadi dalam penyuluhan itu sendiri. Untuk itu, perlu difahami falsafah dan prinsip pembelajaran yang ada dalam penyuluhan. Dikarenakan peserta didik dalam penyuluhan adalah orang dewasa maka falsafah dan prinsip pendidikan orang dewasalah yang perlu dipahami. Lindeman dalam Knowless (1978), menjelaskan bahwa terdapat lima asumsi kunci tentang pembelajar orang dewasa. Berdasarkan dukungan banyak hasil penelitian kelima asumsi tersebut kemudian menjadi landasan teori pembelajaran orang dewasa modern. Kelima asumsi kunci tersebut yaitu : 1. Orang dewasa termotivasi untuk belajar sebagaimana kebutuhan pengalaman mereka dan menarik sehingga pembelajaran lebih memuaskan. Karena itu, hal ini merupakan titik awal yang sesuai untuk mengorganisir aktivitas pembelajaran orang dewasa. 2. Orientasi pembelajaran orang dewasa itu terpusat pada kehidupan. Untuk itu, unitunit yang sesuai untuk mengorganisir pembelajaran orang dewasa adalah situasi kehidupan nyata, bukan subyek. 3. Pengalaman adalah sumber terkaya untuk pembelajaran orang dewasa. Karena itu, metodologi inti pendidikan orang dewasa adalah analisa terhadap pengalaman. 4. Orang dewasa memiliki kebutuhan dasar untuk mengarahkan dirinya sendiri (selfdirecting). Untuk itu, peran guru adalah untuk terlibat dalam sebuah proses yang saling membutuhkan dengan orang dewasa dibandingkan dengan hanya mentransfer pengetahuannya kepada pembelajar dan mengevaluasi penyesuaian mereka terhadap pengetahuan itu. 5. Perbedaan-perbedaan individual antara orang-orang dewasa meningkat bersama usia. Untuk itu, pendidikan harus membuat ketetapan optimal untuk perbedaan dalam gaya, waktu, tempat, dan langkah pembelajaran. 2

Dari ke lima asumsi dasar tersebut, Knowless (1978) juga mengungkapkan empat asumsi utama yang membedakan antara pendidikan orang dewasa dengan pendidikan bagi anak-anak. 1. Perubahan dalam Konsep Diri Knowless mengasumsikan bahwa seseorang tumbuh dan mematangkan konsep dirinya sendiri menjauh dari suatu ketergantungan penuh menuju peningkatan pengarahan dirinya sendiri sehingga mandiri. Hal ini menunjukkan bahwa jika seseorang telah mendapatkan konsep dirinya dengan mengarahkan dirinya sendiri, maka orang itu secara psikologi menjadi dewasa. Hal yang sangat kritis akan terjadi ketika seorang dewasa tidak dapat mengarahkan dirinya sehingga mengalami ketertekanan pada konsep dirinya sehingga ia akan bereaksi berbalik dengan kemarahan dan penolakan. 2. Peranan Pengalaman Asumsinya, seorang individu dewasa memiliki penampungan yang berisikan kumpulan pengalaman yang menyebabkan orang dewasa menjadi sumber belajar yang kaya. Pada saat bersamaan pengalaman tersebut memberikannya dasar yang luas dan menghubungkannya pada pelajaran baru. Berdasalkan hal ini, pada teknologi pendidikan orang dewasa terjadi penurunan penggunaan teknik transmittal seperti yang digunakan pada pembelajaran konvensional dan lebih meningkatkan penggunaan teknik yang bertumpu pada pengalaman. 3. Kesiapan dalam Belajar Asumsinya, semakin dewasa seseorang, kesiapannya dalam belajar tidak ditentukan oleh kebutuhan dan paksaan akademik serta pengembangan biologisnya, tetapi lebih ditentukan pada perubahan tuntutan tugasnya untuk menampilkan perkembangan peranan sosialnya. Dengan kata lain, orang dewasa siap untuk mempelajari semua hal yang dibutuhkannya dalam tahap perkembangan yang ditujunya dalam peranannya sebagai pekerja, pasangan, orangtua, anggota organisasi, pemimpin, pengguna waktu luang, dan yang semacamnya. Hal ini menunjukkan pentingnya pemilihan waktu tepat antara pengalaman belajar bersama dengan perkembangan tugas pembelajar/peserta didik. 4. Orientasi Belajar Knowles mengasumsikan bahwa orientasi belajar orang dewasa cenderung terpusat pada masalah yang dihadapinya. Umumnya, orang dewasa mengikuti aktivitas belajar karena sedang mengalami kekurangmampuan dalam mengatasi permasalahan hidup yang ada saat itu. Dengan asumsi ini, maka dibutuhkan suatu penyesuaian kurikulum pembelajaran yang materinya didasarkan pada subyek masalah yang dihadapi pembelajar. Dari asumsi-asumsi diatas, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menciptakan kondisi pembelajaran bagi orang dewasa sehingga menjadi lebih efisien dan efektif. 1. Partisipasi Aktif. Orang dewasa akan dapat belajar dengan baik apabila secara penuh mengambil bagian dalam aktivitas pembelajaran. 2. Materinya Menarik. Orang dewasa akan belajar dengan baik apabila materinya menarik bagi dia dan ada dalam kehidupan sehari-hari. 3. Bermanfaat. Orang dewasa akan belajar dengan sebaik mungkin apabila apa yang dipelajari bermanfaat dan dapat diterapkan. 3

4. Dorongan dan Pengulangan. Dorongan semangat dan pengulangan terus-menerus akan membantu orang dewasa untuk belajar lebih baik. 5. Kesempatan Mengembangkan. Orang dewasa akan belajar sebaik mungkin apabila dia mempunyai kesempatan yang memadai untuk mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilannya. 6. Pengaruh Pengalaman. Proses belajar orang dewasa dipengaruhi oleh pengalamanpengalamannya yang lalu dan daya pikirnya. 7. Saling Pengertian. Saling pengertian yang lebih baik akan membantu pencapaian tujuan pembelajaran. 8. Belajar Situasi Nyata. Orang dewasa akan lebih banyak belajar dari situasi kehidupan nyata. 9. Pemusatan Perhatian. Orang dewasa tidak dapat memusatkan perhatian untuk waktu yang lama kalau hanya mendengar saja. 10. Kombinasi Audio dan Visual. Orang dewasa mencapai retensi (penyimpanan) tertinggi melalui kombinasi kata-kata dan visual. (Rosita E. K., 2011). Knowless dalam Smith (2002) mengungkapkan setiap kelompok pendidikan orang dewasa harus menjadi tempat menggali pengalaman belajar untuk hidup kooperatif, tujuan kelompok tersebut menentukan tujuan dari masyarakat. Untuk itu pembelajaran orang dewasa setidaknya dapat menghasilkan hal-hal berikut : 1. Orang dewasa harus memperoleh pemahaman yang matang tentang diri mereka sendiri. Mereka harus memahami kebutuhan mereka, motivasi, minat, kemampuan, dan tujuan. Mereka harus dapat melihat diri mereka sendiri secara objektif dan matang. Mereka harus menerima diri dan menghargai diri mereka sendiri sebagaimana adanya mereka, dan tetap berjuang sungguh-sungguh untuk menjadi lebih baik. 2. Orang dewasa harus mengembangkan sikap penerimaan, cinta, dan rasa hormat terhadap orang lain. Ini adalah sikap di mana semua hubungan manusia tergantung. Dewasa harus belajar untuk membedakan antara orang dan ide-ide, dan untuk menantang ide-ide tanpa mengancam orang. Idealnya, sikap ini akan melampaui penerimaan, cinta, dan rasa hormat, empati dan keinginan tulus untuk membantu orang lain. 3. Orang dewasa harus mengembangkan sikap dinamis terhadap kehidupan. Mereka harus menerima kenyataan perubahan dan harus berpikir tentang diri mereka yang juga selalu berubah. Mereka harus terbiasa melihat setiap pengalaman sebagai kesempatan untuk belajar dan menjadi terampil dengan belajar darinya. 4. Orang dewasa harus belajar untuk bereaksi terhadap penyebab, bukan gejala, perilaku. Solusi untuk masalah terletak pada penyebabnya, tidak pada gejalanya. Kami telah belajar untuk menerapkan pelajaran ini di dunia fisik, tetapi belum belajar untuk menerapkannya dalam hubungan manusia. 5. Orang dewasa harus mendapatkan keterampilan yang diperlukan untuk mencapai potensi kepribadian mereka. Setiap orang memiliki kapasitas yang jika terealisasi, akan memberikan kontribusi pada kesejahteraan dirinya dan masyarakat. Untuk mencapai potensi ini diperlukan keterampilan dari beragam bidang ilmu, sosial, rekreasi, sipil, artistik, dan sejenisnya. Ini harus menjadi tujuan pendidikan untuk memberikan setiap individu keterampilan yang diperlukan baginya untuk memanfaatkan sepenuhnya kapasitasnya. 4

6. Orang dewasa harus memahami nilai-nilai penting di ibukota pengalaman manusia. Mereka harus akrab dengan warisan pengetahuan, ide-ide besar, tradisi besar, dari dunia di mana mereka hidup. Mereka harus memahami dan menghormati nilai-nilai yang mengikat manusia bersama-sama. 7. Orang dewasa harus memahami masyarakat mereka dan harus terampil dalam mengarahkan perubahan sosial. Dalam demokrasi rakyat berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi seluruh tatanan sosial. Hal ini penting, karena itu, bahwa setiap pekerja pabrik, salesman setiap politisi setiap setiap ibu rumah tangga, cukup tahu tentang pemerintahan, ekonomi, hubungan internasional, dan aspek lain dari tatanan sosial untuk dapat ambil bagian di dalamnya cerdas. Dari uraian diatas, terdapat beberapa prinsip yang perlu dikedepankan dalam sebuah proses belajar pada kegiatan penyuluhan yang terkait dengan pendidikan orang dewasa, antara lain: 1. Penyuluh harus dapat berperan sebagai fasilitator, bukan sebagai guru. Sebagai mana makna fasilitator yang berasal dari kata bahasa inggris to facilitate yang artinya membuat mudah (memudahkan), maka seorang fasilitator memiliki peranan membantu sasaran suluh agar mudah belajar. Penyuluh berperan sebagai pembimbing atau pihak yang mempermudah jalannya proses belajar. Disini penyuluh dapat menjadi motivator, katalisator, dan konsultan 2. Materi penyuluhan harus berdasarkan pada kebutuhan belajar yang dirasakan oleh sasaran suluh. Sasaran suluh yang notabene adalah orang dewasa pada umumnya melihat pendidikan sebagai proses peningkatan ketrampilan yang akan segera bermanfaat dalam kehidupan sesuai fungsinya dalam masyarakat. Sehingga pendidikan orang dewasa lebih difokuskan pada kebutuhan-kebutuhan masyarakat akan materi yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah.yang mereka hadapi. Beberapa hal yang juga perlu diperhatikan dalam pemilihan materi yang dibutuhkan oleh sasaran suluh adalah secara teknis dapat dilakukan, secara ekonomis dapat memberikan keuntungan, dan tidak bertentangan dengan nilai sosial dan budaya sasaran suluh. 3. Efektivitas proses belajar, bukan diukur dari banyaknya knowledge transfered, namun lebih pada tumbuh dan berlangsungnya proses dialog/diskusi dan sharing informasi/pengalaman antar peserta kegiatan penyuluhan, lebih pada terjadinya upaya pembelajaran bersama di antara sasaran penyuluhan, dengan kata lain proses belajar harus bersifat partisipatif. Suasana belajar diupayakan bersifat informal dan mendorong masing-masing pesertanya untuk saling menghargai kerjasama 4. Perlu memperhatikan perbedaan individu atau karakteristik sasarn suluh. Sasaran suluh adalah orang dewasa di mana masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda antara lain berpengalaman atau belum berpengalaman, usia muda atau tua, emosional atau kalem, bugar atau kurang bugar, berpendidikan atau kurang berpendidikan, dan lain sebagainya. 5. Penggunaan media menekankan pada keterlibatan panca indera sasaran suluh secara optimal pada proses pembelajaran. Pembelajaran akan lebih efektif apabila didukung dengan peragaan-peragaan (media pembelajaran) yang konkret. Dengan peragaan maka pemahaman sasaran suluh akan lebih dalam. Peragaan yang dilakukan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga sasaran suluh tidak hanya memahami sesuatu hanya terbatas pada luarnya saja, tetapi juga harus sampai pada macam seginya, dianalisis, disusun, dikomparasi sehingga dapat memperoleh gambaran yang lengkap. 5

6. Tempat atau lingkungan belajar merupakan segala sesuatu yang dapat mendukung proses pembelajaran. Lingkungan pembelajaran dapat berfungsi sebagai sumber pembelajaran atau sumber belajar. Oleh karena itu, dalam kegiatan penyuluhan, seorang penyuluh harus dapat membawa, mengatur atau menciptakan lingkungan sebaik-baiknya sehingga tercipta lingkungan sebagai komponen pembelajaran yang penting kedudukannya secara baik dan memenuhi syarat. Berkaitan proses belajar yang berlangsung dalam kegiatan penyuluhan perlu juga diperhatikan pentingnya: 1. Proses belajar yang tidak harus melalui sistem sekolah, yang memungkinkan semua peserta dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar bersama. 2. Tumbuh dan berkembangnya semangat belajar seumur hidup, dalm arti pentingnya rangsangan, dorongan, dukungan, dan pendamping terus menerus secar berkelanjutan. 3. Tempat dan waktu penyuluhan, harus disepakati lebih dahulu dengan calon peserta kegiatan dengan lebih memperhatikan kepentingan atau kesediaan mereka. Pemilihan waktu dan tempat penyuluhan tidak boleh ditetapkan sendiri oleh penyuluh/fasilitatornya menurut kegiatan dan waktu yang disediakannya. 4. Tersediannya perlengkapan penyuluhan (alat Bantu dan alat peragaaan terutama yang berkaitan dengan: pangliatan/pencahayaan dan paendengaran). Perlengkapan yang disediakan, sebaiknya berupa alat Bantu dan peraga berupa contoh riil yang dapat disediakan dan dapat digunakan sesuai kondisi setempat. 5. Materi ajaran tidak harus bersumber dari textbook, tetapi dapat dari media masa seperti: Koran, tabloid, laporan, radio, telavisi,pertunjukan kesenian, perjalanan, termasuk cerita rakyat maupun pesan-pesan generasi tua/para pendahulu, maupun pengalaman kerja dan pengalaman sehari-hari. 6. Materi ajakan tidak harus baru (up to date), tetapi dapat juga cerita kuno, atau praktekpraktek lam yang sebenarnya sudah pernah dilakukan tetapi lama ditinggalkan. 7. Sumber bahan ajar, tidak harus berasal dari orang-orang pintar, tokoh masyarakat atau pejabat, melainkan dari siapa saja (termasuk pihak-pihak yang sering direndahkan). 8. Pengembangan kebiasaan untuk bersama-sama mengkaji atau mengkritisi setiap inovasi (dari manapun sumbernya), kaitannya dengan peluang dan ancaman, manfaat/keuntungan yang akan diharapkan dari resiko yang akan ditanggung, serta tungkat kesesuaian dengan keadan alami/fisik, kemampuan ekonomi, daya nalar, agama, adapt, kepercayaan, dan norma kehidupan masyarakat setempat. 9. Keberhasilan fasilitator atau nara sumber tidak selalu harus diterima sebagai penentu tetapi cukup sebagai pemberi pertimbangan bagaimanapun keputusan sangat tergantung kepada masing-masing individu atau kesepakatan masyarakat setempat. PENYULUH DALAM PENDIDIKAN ORANG DEWASA Efektifitas masksimum dalam penyuluhan dihasilkan melalui kemahiran menciptakan peluang-peluang atau situasi-situasi yang membuat masyarakat mendapatkan kemampuan yang diperlukannya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan minat mereka sehingga dengan kemampuan tersebut masyarakat memperoleh hasil-hasil dengan sukses. Hal ini, pada intinya, merupakan tugas pokok yang dihadapkan kepada para penyuluh. Rogers (1969) dalam Knowles (1978), mengungkapkan tiga kualitas sikap yang dibutuhkan oleh seorang fasilitator (dalam hal ini penyuluh) yaitu : (1) kenyataan atau keaslian, (2) kepedulian, penghargaan, kepercayaan, dan rasa hormat yang tidak berlebihan, 6

dan (3) pemahaman yang tegas serta sensitivitas dan akurasi pendengaran. Ia juga menjelaskan petunjuk bagi seorang fasilitator dalam belajar sebagai berikut. 1. Fasilitator harus memiliki banyak aktivitas untuk menyesuaikan suasana hati atau iklim awal dari kelompok atau kelas belajar. 2. Fasilitator harus membantu menampakkan dan memperjelas tujuan-tujuan dari setiap individu dalam kelas sebagaimana tujuan umum dari kelompok. 3. Fasilitator harus mempercayai keinginan setiap peserta didik (petani) untuk menerapkan semua tujuan tersebut yang mempunyai arti bagi mereka, seperti kekuatan motivasi dibalik pentingnya belajar. 4. Fasilitator harus berusaha mengorganisir dan mempermudah ketersediaan sumber belajar seluas mungkin. 5. Fasilitator harus menghormati dirinya sendiri sebagai sumber yang fleksibel untuk digunakan oleh kelompok. 6. Dalam menanggapi setiap ekspresi dalam kelas kelompok, fasilitator harus menerima setiap konten intelektual dan sikap emosional, berusaha memberikan setiap aspek mendekati derajat tingkat penekanan yang dimilikinya pada setiap individu atau kelompok. 7. Ketika iklim penerimaan kelas telah mapan/stabil, fasilitator dapat turut menjadi seorang peserta belajar, anggota kelompok, mengungkapkan pandangannya seperti individu lain dalam kelompok. 8. Fasilitator harus mengambil inisiatif dalam membagi dirinya dengan kelompok, perasaanya dan juga pemikirannya, tidak dengan cara-cara permintaan yang memaksa tetapi hanya dengan menunjukkan pendapat pribadinya yang dapat digunakan ataupun tidak digunakan oleh peserta didik. 9. Sepanjang proses belajar tersebut, fasilitator harus tetap siaga terhadap ungkapanungkapan yang menandakan perasaan-perasaan yang kuat atau mendalam. 10. Dalam fungsinya sebagai seorang fasilitator belajar, fasilitator harus berusaha untuk mengenali dan menerima keterbatasan dirinya. Knowles (1978) merumuskan bahwa seorang fasilitator/agen perubahan (penyuluh) harus menyiapkan lebih lanjut suatu rangkaian prosedur untuk melibatkan peserta didik dalam sebuah proses yang melibatkan 7 elemen sebagai berikut. 1. Memantapkan kondisi yang mendukung untuk belajar Kondisi tersebut meliputi lingkungan belajar baik fisik lingkungan, kekayaan dan kemudahan sumber belajar, dan hubungan baik antar peserta didik dan antara fasilitator dengan peserta didik, sehingga mampu memberikan rasa aman dan nyaman. 2. Membuat sebuah mekanisme untuk perencanaan timbal balik Perencanaan belajar dibuat bersama-sama dengan peserta didik sehingga rencana kegiatan belajar dapat mengakomodir kebutuhan peserta didik dan juga tujuan pembelajaran yang ingin dicapai oleh fasilitator. 3. Menemukan kebutuhan belajar Kebutuhan belajar setiap individu dewasa berbeda-beda sehingga perlu diakumulasikan dan ditemukan kesamaan/kemiripan dan perbedaan kebutuhan belajar tersebut sehingga dapat ditentukan prioritas atau tahapan belajar dalam memenuhi seluruh kebutuhan belajar tersebut. 4. Merumuskan sasaran hasil program yang dapat memuaskan kebutuhan belajar Sasaran hasil program belajar ditentukan berdasarkan kebutuhan belajar. 7

5. Merancang sebuah pola pengalaman belajar Pola pengalaman belajar dibagi kedalam tahapan-tahapan/episode-episode pertemuan yang disesuaikan dengan kesiapan belajar peserta didik serta unit-unit masalah yang ditemukan. Pada rancangan ini, ditentukan bentuk pendekatan yang sesuai (individual, kelompok, dan aktivitas massa). 6. Mengkondisikan pola pengalaman belajar tersebut dengan teknik dan bahan-bahan yang sesuai Fasilitator harus mempersiapkan/merencanakan teknik-teknik serta bahan-bahan dan materi yang dibutuhkan pada setiap pola pengalaman belajar. 7. Mengevaluasi hasil belajar dan menemukan kembali kebutuhan belajar Evaluasi hasil belajar tidak hanya oleh fasilitator tetapi juga dilakukan oleh peserta didik, sejauh mana mereka menyerap materi pembelajaran. Dari evaluasi tersebut, akan ditemukan kebutuhan-kebutuhan belajar selanjutnya. METODA BELAJAR DALAM PENYULUHAN Scmidt (1974) menekankan agar pemilihan metode pendidikan orang dewasa harus selalu mengacu pada tujuan yang ingin dicapai oleh program pendidikan yang pada dasarnya terbagi menjadi dua, yaitu menata pengalaman masa lampau yang telah dimilikinya dengan cara baru, dan memberikan pengalaman baru dalam hal pengetahuan, sikap dan keterampilan. Ragam Metode Penyuluhan dapat dibedakan menjadi 4 yaitu : 1. Media Massa Jika membicarakan penggunaan media massa dalam penyuluhan, yang patutdipertimbangkan adalah peranan dalam program penyuluhan dan penggunaannya secaraefektif. Yang penting adalah efek yang diharapkan dan cara menggunakannya untuk menjamin agar arti pesan menjadi jelas. Surat kabar, majalah, radio dan televisi merupakanmedia yang paling murah untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat. Walaupundemikian, perlu diamati pengaruhnya sebelum diputuskan penggunaanya dalam penyuluhan.Media penting untuk menyadarkan akan adanya inovasi disamping untuk mendorong minat.Walaupun demikian, media tampaknya hanya menunjukkan bahwa media massa dapatmempercepat proses perubahan, tetapi jarang dapat mewujudkan perubahan dalam perilaku.Media massa dapat memenuhi beberapa fungsi di dalam masyarakat dan turut berperan mengubah masyarakat tersebut yang mencakup: a. Menentukan Jadwal Diskusi Yang Penting Sebagai contoh, media memberi perhatian terhadap masalah yangdihadapi masyarakat saat terjadi kelaparan dan usaha-usaha yang dilakukan pemerintah untuk mengatasinya. Majalah pertanian dan program siaran radio pedesaan juga dapat memainkan peran penting dalam mendorong petani untuk membicarakan masalah demikian dengan penyuluh / pemuka desa. b. Mengalihkan Pengetahuan Pengetahuan akan berhasil dialihkan bilamana sesuai dengankebutuhan. Gagasan baru yang disebar melalui media lebih cepat diterima jika berkaitan dengan pengetahuan yang ada, daripada melakukan modifikasiterhadap pengetahuan. 8

beberapa macam pengetahuan dapat dialihkan melaluimedia, sedangkan pengetahuan dan keterampilan yang lain tidaklah demikian. c. Membentuk dan Mengubah Pendapat Media massa dapat memainkan peran penting dalam mengembangkan pendapat bila anggota masyarakat belum memiliki pandangan yang kuatmengenai isu tertentu. Media juga akan memperoleh pengaruh penting dalam perubahan pendapat bila posisi yang diajukan hanya berbeda sedikit dengan pendapat baru. d. Mengubah Perilaku Media massa dapat digunakan untuk mengubah pola perilaku, terutamayang kecil dan relatif kurang penting, atau perubahan untuk memenuhikeinginan yang ada. Periklanan sangat berhasil dengan cara ini. 2. Metode Kelompok Metode penyuluhan kelompok lebih menguntungkan dari media massa, karena umpan balik lebih baik yang memungkinkan pengurangan salah pengertian yang bisa berkembangantara penyuluh dan petani. Interaksi ini memberi kesempatan untuk bertukar pengalamanmaupun pengaruh terhadap perilaku dan norma para anggota kelompok. Metode kelompok satu sama lain berbeda didalam kesempatan memperoleh umban balik dan interaksi. Biaya perkapita penggunaan metode kelompok cenderung lebih tinggi daripada media massaterutama jika bekerja dengan kelompok kecil. Oleh sebab itu metode ini digunakan hanya biladiperlukan umpan balik / interaksi antar petani untuk mencapai sasaran. Ceramah, demontrasi, widyakarya dan diskusi kelompok merupakan metodekelompok yang dipertimbangkan dalam bagian ini. a. Ceramah / Pidato Merupakan sarana penting untuk mengalihkan informasi didalam penyuluhan. Ceramah / pidato mempunyai beberapa keuntungan khas sebagai berikut:

Penceramah dapat memperhatikan tanggapan hadirin ketika berbicara dan dapatsegera mengubah pendekatannya. Hadirin dapat mengetahui penceramah dengan baik dan memperoleh kesan yang jelasmengenai topik pembicaraan. Ceramah memberi kesempatan kepada hadirin untuk memajukan pertanyaan dan mendiskusikan isu-isu lebih mendalam. Kekurangan ceramah adalah bahwa yang diungkapkan biasanya mudah dilupakandibandingkan dengan yang tertulis. b. Demontrasi Demontrasi dapat mendorong petani mencoba sendiri inovasi baru. Penyebab masalahdapat ditunjukkan disertai kemungkinan pemecahannya tanpa rincian teknis yang rumit.keuntungan demontrasi adalah kesanggupan melihat suatu metode baru untuk dituangkandalam praktek. Tidak diperlukan adanya saling mempercayai yang tinggi antara petani dan penyuluh, karena petani dapat melihat sendiri segala sesuatunya dengan jelas. Agen penyuluhan pun tak perlu terlalu melibatkan diri pada penguraian pesan yang kemungkinan bisa keliru diartikan. Demontrasi sangat berguna bagi orang yang tak bisa berpikir secaraabstrak. Agart efektif, demontrasi harus diintegrasikan ke dalam program penyuluhan. Caralain juga dapat digunakan 9

Penceramah dapat mengubah isi pidatonya disesuaikan dengan keperluan dan minathadirin maupun tingakat pendidikan mereka.

untuk mendorong petani menyaksikan demontrasi dan memutuskan penggunaan informasi baru tersebut di lahan mereka. c. Diskusi Kelompok Diskusi kelompok merupakan metode penyuluhan yang sangat penting, karenamemberi kesempatan untuk mempengaruhi perilaku pesertanya. Peranan agen penyuluhan berbeda, tidak seperti pada pidato / ceramah yang menempatkan agen penyuluhan sebagaisumber informasi sehingga statusnya lebih tinggi daripada hadirin. Pada kelompok diskusi,agen penyuluhan merupakan bagian dari anggota kelompok yang turut memecahkan masalah. Diskusi kelompok membantu proses alih teknologi dari ahlinya kepada kelompok walaupun media cetak dan bahan audio visual serta pidato lebih murah dan tertata rapi sertaumumnya lebih efektif. Walaupun demikian, diskusi kelompok membantu anggotanyamemadukan pengetahuan dengan memberikan kesempatan mengajukan pertanyaan,menghubungkan informasi baru dengan yang telah mereka ketahui, dan jika perlu, memperbarui pandangan mereka dapat mendiskusikannya dengan penyuluh. 3. Penyuluhan Individu Keuntungan metode penyuluhan individu adalah : a. Memberikan informasi yang diperlukan merupakan cara yang sangat baik untuk memecahkan suatu masalah yang khusus, seperti pengambilan keputusan dalam penanaman modal yang besar. b. Ada keinginan untuk mengintegrasikan informasi dari petani dengan informasi dariagen penyuluhan. c. Agen penyuluhan dapat membantu petani untuk menjernihkan pikirannya danmemilih antara beberapa tujuan yang masih simpang siur. d. Agen penyuluhan dapat meningkatkan kepercayaan petani pada dirinya denganmenunjukkan perhatiannya secara pribadi, situasinya, serta gagasangagasanya. 4. Gabungan dari Berbagai Media dan Penggunaan alat Bantu Audio Visual Keuntungan menggunakan alat bantu audio visual adalah a. Alat bantu dapat menangkap perhatian dari hadirin. b. Melalui alat bantu, bisa disarikan butir penting dari pembicaraan dengan jelas. c. Pesan lebih mudah ditangkap melalui beberapa panca indra dibanding yang hanyamelalui salah satu panca indera saja. d. Kemungkinan untuk mengurangi terjadinya penafsiran yang keliru. e. Beberapa alat bantu dapat membantu menyusun pesan secara sistematis. KESIMPULAN Proses belajar dalam penyuluhan pertanian diterapkan dalam pendidikan orang dewasa atau adult education. Dalam system belajar yang demikian maka kedudukan dari penyuluh dengan masyarakat adalah sejajar atau horizontal, karena proses belajar dilakukan secara bersama-sama baik penyuluh itu sendiri maupun orang yang diberikan penyuluhan selain itu peran penyuluh hanya sebatas sebagai fasilitator yang membantu dalam proses belajar, baik sebagai motivator, moderator atau sekedar sebagai narasumber. Sebelum dilakukan proses belajar dalam penyuluhan, salah satu aspek yang harus dilakukan pertama kali adalah dalam hal menentukan maksud dan tujuan dari proses belajar 10

tersebut. Hal ini dimaksudkan agar penyuluh maupun klien atau orang yang diberikan penyuluhan dapat memahami dengan seksama apa yang akan mereka pelajari bersama. Keberhasilan dalam proses belajar, tidaklah diukur dari seberapa banyak terjadi transfer of knowledge, tetapi lebih memperhatikan terhadap seberapa jauhnya tingkat dialog (diskusi,sharing) antar peserta kegiatan penyuluhan itu sendiri. Hal yang tidak kalah pentingnya dalam proses belajar penyuluhan pertanian adalah ketersediaan fasilitas belajar yang memadai. Fasilitas tersebut antara lain tempat atau ruangan, waktu, alat untuk menunjang pelaksanaan penyuluhan. Keberhasilan proses pembelajaran pada kegiatan penyuluhan sangat bergantung pada kemampuan penyuluh mengelola kegiatan tersebut. Pemahaman terhadap prinsipprinsip pembelajaran, yang di antaranya telah disebutkan di atas, merupakan salah satu modal dasar bagi penyuluh agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan efektif.

Daftar Pustaka -------, 2011. Metode Penyuluhan Pertanian. http://id.scribd.com/doc/76580369/isi. E. K., Rosita. 2011. Pemahaman Perilaku dan Strategi Pembelajaran bagi Orang Dewasa. Bimbingan Teknis Tenaga Pelatih Konservasi dan Pemugaran, Balai Konservasi Peninggalan Borobudur. Suprayitno, Adi Riyanto. 2009. Proses Pembelajaran dalam Penyuluhan. http://arsury.blogspot.com/2009/02/beberapa-prinsip-proses-pembelajaran.html Ronigedt, Akhmad. 2012. Proses Belajar Dalam Penyuluhan Pertanian. http://akhmadronigedt.blogspot.com/2012/09/proses-belajar-dalampenyuluhan.html Knowles, Malcolm. 1978. The Adult Learner : A Neglected Species, Second Edition. Gulf Publishing Company, USA. Smith, M. K.. 2002. 'Malcolm Knowles, informal adult education, self-direction and andragogy', the encyclopedia of informal education, www.infed.org/thinkers/etknowl.htm. Suwarto. 2012. Pendidikan Orang Dewasa : Hand Out. Program Pasca Sarjana (S2) Penyuluhan Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat, Universitas Sebelas Maret.

11

Anda mungkin juga menyukai