Anda di halaman 1dari 17

Bab I Pendahuluan

1.1 Latar belakang


Di zaman globalisasi yang semakin maju akan membuat segala sesuatu juga berubah begitu instan. Tanpa memandang umur, jenis kelamin, dan status. Perubahan yang terjadi menimbulkan banyak permasalahan salah satunya adalah masalah kehamilan yang tidak diinginkan. Tidak ada satu pun yang menginginkan KTD (Kehamilan Tidak Diinginkan), tetapi kenyataannya saat ini masih banyak kasus aborsi yang terjadi. Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia(World Health OrganizationWHO) pada tahun 2006 menyebutkan bahwa tingkat kasus aborsi spontan maupun tidak spontanyang terjadi di Indonesia paling tinggi di Asia Tenggara, mencapai 2 juta kasus dari jumlah kasus di negara-negara ASEAN yang mencapai 4,2 juta kasus per tahun. Dari estimasi data tersebut disinyalir akan terus bertambah tiap tahunnya jika tidak segera disikapi. Permasalahan ini juga masih menjadi sorotan pokok dalam dunia kesehatan. Kejadian tersebut terjadi pada 38% dari seluruh wanita yang hamil, di mana angka kehamilan diperkirakan sebesar 200 juta per tahunnya. 30% wanita yang mengalami hal tersebut menghentikan kehamilannya dengan sengaja, dimana 40% dengan cara tidak aman yang menyumbang 50% angka kematian ibu. Ironisnya, 53% kehamilan tidak diinginkan tersebut terjadi pada wanita yang menggunakan alat kontrasepsi, di mana mayoritas sebesar terjadi pada wanita di atas usia 20 tahun berdasarkan Journal of the American Medical Association. Berdasarkan sudut pandangan agama pun terdapat penafsiran yang berbeda-beda, akan permasalahan ini padahal yang namanya pemikiran ( hasil ijtihad) selalu bersifat relative, bisa jadi benar atau sebaliknya. Bisa saja benar pada suatu kondisi, tetapi kurang tepat pada kondisi lain. Segala sesuatu permasalahan yang tidak dapat jalan keluar harus dikembalikan pada Al- quran dan Al- hadits.

1.2. Rumusan Masalah 1.2.1. Apa pengertiaan kehamilan yang tidak diingnkan? 1.2.2. Bagaimana faktor dan dampak penyebab terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan? 1.2.3. Apa solusi dan masalah dalam polemik kehamilan yang tidak diinginkan? 1.2.4. Apa dan bagaimana pandangan islam terhadap polemik kehamilan yang tidak diinginkan ?

1.3. Tujuan Makalah ini disusun untuk mengetahui hubungan polemik kehamilan yang tidak diinginkan dengan islam.

Bab II Isi
2.1. Pengertian KTD ( Kehamilan yang Tidak Diinginkan)
Kehamilan yang tidak diinginkan adalah suatu kondisi dimana pasangan tidak menghendaki adanya proses kelahiran, biasanya diakibatkan oleh suatu perilaku seksual. Kehamilan yang tidak diinginkan yaitu kehamilan yang tidak diharapkan oleh salah satu atau kedua calon orang tua bayi. Penolakan atas kehamilannya dapat menganggu secara fisik dan psikis. Kehamilan yang tidak diinginkan biasanya terjadi pada wanita-wanita yang sudah berpasangan dan banyak terjadi pada pasangan yang belum menikah. Pasangan suami istri biasanya akan menimbulkan masalah jika kehamilan sang istri tidak dikehendaki. Misalnya masalah ketidaksiapan, hal ini akan menimbulkan depresi ringan sampai berat pada ibu. Ini juga bisa berpengaruh pada janin, bahkan berakibat keguguran atau terlahir cacat. Selain itu juga dapat menghadapi tekanan dari lingkungan sosial misalnya celaan dan hinaan dari masyarakat luas.

2.2. Pandangan Islam Terhadap Polemik KTD


Dalam syariat islam kehamilan diluar nikah adalah sebuah dosa besar. Dan jika melakukan hal tersebut orang yang bersangkutan haruslah dihukum rajam. Tidak hanya melanggar syariat islam juga melanggar adat ketimuran. Karena hal tersebut merupakan suatu aib bagi pelaku, keluarga dan orang sekitarnya. Tapi sayangnya sekarang ini, cenderung mempersalahkan wanita dalam kehamilan diluar nikah. Padahal wanita yang hamil bisa saja merupakan korban perkosaan atau korban keadaan (dipaksa lewat bujukan untuk melakukan hubungan seksual oleh pacarnya, atau temannya, atau keluarganya). Kehamilan yang tidak diinginkan akan menyebabkan adanya peristiwa aborsi. Aborsi inilah yang menjadi permasalahan dalam polemik KTD, biasanya cara aborsi paling
3

banyak dilakukan oleh pasangan yang belum menikah yang telah melakukan hubungan seks dan sebagian dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah. Kehamilan di luar nikah merupakan hasil reproduksi yang didahului oleh praktik hubungan zina. Islam telah mengharamkan perbuatan zina,tetapi pengharaman aborsi masih diperdebatkan. Permasalahan aborsi ini dibahas,dalam sumber hukum islam, ijtihad, dan hukum negara. 1. Al- Quran dan Al-Hadits Al Quran yang menjadi sumber utama dalam menerapkan hukum, tidak secara detail (terperinci) menerangkan tentang boleh tidaknya aborsi. Ayat yang ada menjelaskan tentang proses penciptaan manusia, perkembangan janin dalam rahim ibu, penghormatan kepada manusia, serta larangan membunuh anak. Hal ini dapat dilihat antara lain dalam QS Al-Mukminun, 23: 12-14: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal dari tanah) [12] Kemudian kami jadikan saripati itu air mani yang disimpan dalam tempat yang kokoh (rahim) [13] Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah. Lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging. Dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang. Lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta Yang Maha Baik [14]. Q.S Al-Isra, 17:70 Dan telah Kami muliakan anak cucu adam (manusia) dan Kami mudahkan mereka untuk bisa berjalan di darat dan di laut, dan Kami limpahkan rizki kepada mereka yang baik-baik dan Kami utamakan mereka dari kebanyakan makhluk-makhluk lainnya yang kami ciptidakan. QS. Al-Anam, 6:151 Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena kemiskinan, Kami melimpahklan rizki kepadamu dan kepada mereka. Sedangkan Hadis Nabi yang menjadi acuan tentang penciptaan dan perkembangan janin dalam rahim ibu adalah hadis riwayat Muslim dari Abdullah bin Masud berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda: Sesungguhnya setiap orang di antara kalian melalui proses percampuran di dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk
4

niftah, berikutnya selama jumlah waktu yang sama (40 hari) dibentuk menjadi alaqah, kemudian terbentuk menjadi mudgah selama waktu yang sama (40 hari), kemudian malaikat diutus dan meniupkan ruh kepadanya, lalu memerintahkan mencatat empat kalimat: rezeki, ajal, amal, dan nasibnya menjadi orang yang sengsara atau bahagia. 2. Ijtihad Berdasakan Al Quran dan hadis di atas, muncullah ikhtilaf (perbedaan pendapat) di kalangan ulama tentang hukum penghentian kehamilan atau

aborsi.Pandangan pengharaman aborsi dari berbagai kalangan yaitu: a) Menurut al-Ramly dalam Nihyatul Muhtj Keharaman aborsi sebelum peniupan ruh, tidak bisa disebut khilful aula tapi lebih kepada kemungkinan makruh tanzh dan makruh tahrm. Jika semakin dekat dengan peniupan ruh, maka akan semakin kuat pula makruh tahrim-nya. Dan tidak diragukan keharamannya, bila aborsi dilakukan pada masa peniupan ruh dan setelahnya. b ) Syaikh Jadul Haq Syaikh Jadul Haq secara rinci menjelaskan pernyataan beberapa mazhab fiqh tentang aborsi. Dalam mazhab hanafi, menurut al-Hashkafi aborsi sebelum kandungan berumur 120 hari secara umum diperbolehkan, jika ada alasan yang sah. Di samping itu, ada sebagian besar dari mereka yang memakruhkan dengan alasan yang sah pula, seperti: untuk memelihara air susu ibu (ASI) agar tetap mengalir bagi bayi yang disusui, kekhawatiran pada keselamatan ibuatau kesulitan medis saat melahirkan. Sementara mayoritas ulama mazhab Malikiyah melarang aborsi sekalipun kandunagn belum berumur 400 hari. Karena menurut mereka proses kehidupan telah dimulai sejak pertemuan sperma dan ovum. Proses ini harus dihormati dan dimuliakan serta tidak ada siapapun yang menghalanginya.

c). Ibnu Hajar al-Haitsami (ulama Mazhab Syafiiyah) Ibnu Hajar al-Haitsami membolehkan aborsi sebelum kandungan berumur 42 hari. Lebih dari itu dilarang. Ibnu Hajar mendasarkan pendapatnya pada hadis riwayat Muslim dari Abdullah bin Masud dan Huzaifah bin Asid al-Gifari: Jika nuthfah melewati 42 malam, maka Allah mengutus malaikat untuk membentuk rupa, pendengaran, penglihatan, kulit, daging dan tulangnya. d). Muhammad bin Abu Said Muhammad bin Abbu Said berpendapat mengizinkan selama kandungan belum mencapai 80 hari, dengan alasan sama seperti azl. Berbeda lagi dengan pendapat e). Sayyid Saqib, Dalam Mazhab Zaidiyah (kalangna Syiah) Sesudah nuthfah menetap di rahim dan melewati usia 120 hari, penghentian kandungan adalah

haram.Menggugurkannya sama dengan membunuh jiwa manusia dan ini dikenakan sanksi di dunia dan di akhirat. Namun menggugurkannya sebelum 120 hari, maka dibolehkan sepanjang ada alasan. Dan jika tidak ada alasan apapun, maka tindakan tersebut makruh. Dengan demikian, madzhab-mazhab hukum dalam Islam berbeda pendapat tentang masa dilakukannya aborsi, bahkan dalam satu madzhab pun juga terjadi perbedaan. Hal ini menunjukkan masalah aborsi termasuk khilafiyyah. Secara umum, ulama dari semua mazhab menetapkan haram mutlak tindakan aborsi yang dilakukan setelah janin berusia 120 hari (pasca peniupan ruh), karena pada saat itu janin sudah bernyawa. Bila menggugurkan kandunagn di masa ini berarti jelas membunuh manusia, kecuali dalam kondisi darurat, seperti menyelamatkan nyawa ibu dan kondisi darurat lainnya.Namun, ketika dihadapkan pada dua pilihan keselamatan ibu atau anak dalam kandungan, maka keselamatan ibulah yang harus diselamatkan. Artinya,

dibolehkan melakukan aborsi dalam kondisi daruriyyat maupun hajjiyyat. Hal ini sesuia dengan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun2005. Mengenai pendapat MUI selengkapnya dapat dilihat dalam kutipan berikut: Pertama, aborsi haram hukumnya sejak terjadinya implantasi blastosis pada dinding rahim ibu (nidasi), Kedua, aborsi dibolehkan karena adnya uzur, baik bersifat darurat ataupun hajat; Ketiga, aborsi haram hukumnya dilakukan pada kehamilan yang terjadi akibat zina. Keadaan darurat yang berkaitan dengan kehamilan yang membolehkan aborsi adalah sebagai berikut: 1) Perempuan hamil menderita sakit fisik berat seprti kanker stadium lanjut, TBC dengan cavern dan penyakit-penyakit fisik berat lainnya yang harus ditetapkan oleh Tim Dokter; 2) Dalam keadaan di mana kehamilan mengancam nyawa si ibu. Keadaan hajat yang berkaitan dengan kehamilan yang dapat melakukan aborsi adalah sebagai berikut: 1) Janin yang dikandung dideteksi menderita cacat genetik yang apabila lahir kelak sulit disembuhkan. 2) kehamilan akibat perkosaan yang ditetapkan oleh Tim yang berwenang yang di dalamnya terdapat antara lain: keluarga korban, dokter, dan ulama. Kebolehan aborsi sebagaimana dimaksud di atas harus dilakukan sebelum janin berusia 40 hari. Dari kutipan pendapat para ulama berbagai madzhab di atas dan juga mencermati Fatwa MUI tersebut dapat disimpulkan bahwa aborsi dalam keadaan tertentu yang dapat dibenarkan oleh syara dibolehkan, walaupun terjadi perbedaan batas usia kehamilan.

2.3. Sikap Pemerintah Indonesia

Indonesia yang berlandaskan pancasila, dimana mengandung makna- makna yang sangat baik untuk dijalankan dikehidupan nyata tetapi ini tidak sesuai dengan kenyataan. Banyak permasalahan yang terjadi,salah satu masalah yang bertentangan dengan isi pancasila adalah aborsi yang terjadi dalam kehamilan yang tidak diinginkan. Masalah aborsi banyak sekali menuai kontroversi dari berbagai kalangan. Ada diantaranya beberapa kalangan yang sepakat praktek aborsi ini dilegalkan, seperti yang telah dilakukan oleh beberapa negara di Asia, Eropa dan Amerika. Tentunya hal ini dilandaskan pada beberapa pertimbangan dan sesuai dengan indikasi tertentu, semisal; janin menderita cacat yang serius, pemerkosaan di bawah umur dengan pertimbangan masa depan si korban dan sebagainya. Namun, di sisi lain terjadi polemik dan muncul penolakan dengan tegas dari beberapa kalangan, khususnya kalangan agama terhadap praktek aborsi. Hal ini dipandang sangat bertentangan dengan agama, tidak bermoral, keluar dari norma normatif dan melanggar hukum. Tindakan ini sama halnya dengan praktek pembunuhan atau penghilangan nyawa calon jabang bayi yang belum tentu berdosa. Permasalahan ini ditanggapi pemerintahan negara Indonesia membuat peraturan hukum tentang aborsi, yaitu: a. UU Nomor 1 Tahun 1946 dan Pasal 346-349 KUHP menyatakan bahwa praktek aborsi tidak bisa dibenarkan dan bagi orang yang melakukannya harus di tindak tegas karena bertentangan dengan hukum b. UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Dalam Pasal 15 ayat 1 dinyatidakan bahwa dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya, dapat dilakukan tindakan medis tertentu(baca: aborsi). Di luar ketentuan itu termasuk tindakan kriminal(abortus provokatus kriminalis). Sayangnya hal ini belum cukup efektif untuk menekan tingkat aborsi di Indonesia menjadi berkurang. Justru sebaliknya, praktek aborsi secara ilegal semakin marak dilakukan dan menjadi jalan keluar satu-satunya daripada harus menanggung malu karena KTD. Hal ini menyebabkan tingkat kematian banyak terjadi karena praktek aborsi yang

tidak aman yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak berkompeten dan mempunyai pengetahuan medis yang minim. Biasanya tingkat kematian tertinggi terjadi bila praktek aborsi ini ditangani oleh dukun tradisional.

Bab III Pembahasaan


3.1. Faktor- Faktor KTD
Tidak bisa dipungkiri, kebanyakan dari mereka yang mengalami KTD dan aborsi mempunyai pengetahuan seks yang kurang. Kurangnya informasi tentang seksualitas ini menyebabkan angka terjadinya KTD meningkat. Sehingga hal ini juga berdampak pada kasus aborsi yang semakin besar. Ironisnya lagi pada tahun 2006 seorang seksolog Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila mengatakan, di Indonesia sebanyak enam puluh persen aborsi dilakukan remaja. Umumnya diantara mereka sangat minim memperoleh pendidikan seks yang sehat. Akibatnya, karena dorongan seksual yang tidak bisa dibendung, banyak diantaranya yang akhirnya melakukanhubungan seks bebas dan hamil di luar nikah. Sebab kehamilan diluar nikah pada remaja dikategorikan dalam dua dimensi, yakni dimensi pasif (wanita hamil sebagai korban perkosaan dan pemaksaan sejenis), dan dimensi aktif (wanita memang berkeinginan melakukan hubungan seksual). Kedua dimensi dimuka, dipicu oleh sebab-sebab yang luas. Beberapa diantaranya adalah maraknya pornografi di tengah masyarakat, kemudahan memperoleh akses ke sumber-sumber pemuasan seksual, kebebasan dalam pergaulan, dan pergeseran nilai-nilai moral. Sebab-sebab itu tidak akan melahirkan hubungan seksual pranikah bila remaja memiliki kendali internal (Internal Locus of Control) yang kuat. Lemahnya kendali internal disebabkan kegagalan pendidikan seks baik dalam keluarga, sekolah atau masyarakat. Akibat dari lemahnya kendali internal, remaja mudah terpengaruh oleh hal-hal yang berasal dari luar dirinya seperti provokasi media, dan pengaruh teman sekitarnya. Hal-hal dilematis dalam polemic kehamilan yang tidak diingnkan 1. Dipertahankan

10

Calon ibu lebih mepertahankan sang janin karena beberapa factor berikut : a. Mental, rasa ketidaktegaan calon orang tua untuk mengakhiri nyawa janinnya. b. Sosial, berdasarkan hukum bahwa kehidupan merupakan hak setiap orang. c. Psikologis, sang calon ibu memiliki trauma yang membuatnya tidak dapat megakhiri kehamilan meskipun kehamilan yang tidak diinginkan. d. Ekonomi, sang calon ibu tidak memiliki ekonomi yang cukup untuk melakukan aborsi. 2. Diterminasi/diakhiri Berikut jenis dan dampak dari dilakukannya terminasi atau mengakhiri nyawa janin. Abortus provocatus, menggugurkan kandungan Abortus legal tidak disediakan di Indonesia, Abortus legal Yaitu pengguguran kandungan yang dilakukan menurut syarat dan cara-cara yang dibenarkan oleh undang-undang. Populer juga disebut dengan abortus provocatus therapcutius, karena alasan yang sangat mendasar untuk melakukannya adalah untuk menyelamatkan nyawa/menyembuhkan si ibu. Abortus illegal, Yaitu pengguguran kandungan yang tujuannya selain dari pada untuk menyelamatkan/ menyembuhkan si ibu, dilakukan oleh tenaga yang tidak kompeten serta tidak memenuhi syarat dan cara-cara yang dibenarkan oleh undangundang. Abortus golongan ini sering juga disebut dengan abortus provocatus criminalis, karena di dalamnya mengandung unsur kriminal atau kejahatan. Infeksi, pendarahan, emboli, dan shock. Morbiditas dan mortalitas ibu meningkat. Morbiditas adalah jumlah kesakitan yang dialami oleh orang-orang. Sedangkan, mortalitas adalah jumlah kematian yang dialami oleh orang-orang. Jika calon ibu lebih memilih mengakhiri nyawa janin maka ia memiliki resiko morbiditas dan mortalitas yang tinggi.

3.2. Dampak KTD


Masalah ini tentunya tidak luput dari kesenjangan gender, karena di sini jelas sekali bahwa pihak yang paling dirugikan dan harus menanggung beban paling berat adalah perempuan. Mereka tidak hanya menderita secara fisik tetapi juga psikologis. Kondisi ini

11

sama-sama menyakitkan. Secara fisik resiko pendarahan, cacat fisik bahkan sampai menyebabkan kematian bisa saja terjadi. Namun, dampak psikologis juga tidak kalah menyakitkan. Bagi mereka yang melakukan aborsi akibat pemerkosaan sudah pasti akan mengalami trauma yang besar, rasa malu, ganggguan mental yang berkepanjangan dan jelas tidak mungkin bisa dilupakan. Sebaliknya bagi mereka yang melakukan aborsi akibat hamil di luar nikah, muncul persepsi negatif di masyarakat, dianggap tidak bermoral, melanggar norma, dan dikucilkan dari masyarakat. Bagaimana dengan posisi laki-laki di sini? sudah tentu mereka tidak terlalu beresiko tinggi dan tidak terlalu tampak dirugikan. Memang secara fisik kehamilan hanya dialami oleh perempuan, tetapi bukan berarti posisi laki-laki di sini bisa dengan seenaknya lepas dari tanggungjawab. Banyak kasus yang terjadi dimana sosok laki-laki di sini sering lepas dari tanggungjawab dan menyerahkan semua beban pada pihak perempuan. Biasanya mereka hanya bertanggungjawab pada segi ekonominya saja, menanggung biaya aborsi sudah itu lepas tangan. Mereka kebanyakan tidak mau cari repot dengan KTD ini. Orang yang hamil diluar nikah dinilai sebagai keburukan, yang kalaupun terjadi harus di sembunyikan. Masyarakat patriarkal sekarang ini, cenderung mempersalahkan wanita dalam kehamilan diluar nikah. Padahal wanita yang hamil bisa saja merupakan korban perkosaan atau korban keadaan (dipaksa lewat bujukan untuk melakukan hubungan seksual oleh pacarnya, atau temannya, atau keluarganya). Kehamilan usia dini, selain berakibat kurang baik bagi tubuh, juga berakibat hilangnya kesempatan untuk mendapat pendidikan formal. Padahal, pendidikan formal yang baik merupakan salah satu syarat (meskipun tidak harus) agar dapat bersaing di masa depan. Menurut kami, alangkah baiknya jika sekolah-sekolah tetap mau menerima siswa yang hamil, atau minimalnya memberikan cuti, bukannya mengeluarkan. Alangkah malangnya siswa yang hamil/menghamili, yang telah mengalami berbagai masalah yang berat, harus diperberat masalahnya dengan 'ditutup' masa depannya melalui pengeluaran siswa oleh pihak sekolah. Begitu besarnya kasus kehamilan di luar nikah dikalangan

12

remaja, yang tidak saja merugikan remaja itu sendiri tapi juga masyarakat karena kehilangan remaja-remja potensialnya. Melihat kondisi di atas kiranya sangat penting memberikan pendidikan seks yang sehat sejak dini. Hal ini sebagai antisipasi terhadap kondisi lingkungan yang menyebabkan seseorang melakukan seks bebas di luar nikah. Tujuannya adalah untuk memberikan pengetahuan tentang dampak negatif dari sebuah perbuatan yang belum mampu di pertanggungjawabkan baik secara mental maupun sosial. Bagi yang sudah terlanjur melakukannya dan mengalami KTD, selayaknya diberikan dorongan agar mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya, baik kepada pihak laki-laki ataupun perempuan agar tidak terjadi kesenjangan gender. Sehingga nantinya hal ini juga mampu mengurangi praktek aborsi secara ilegal yang beresiko tinggi pada kematian. Kita mulai pecegahan ini dengan caramengurangi Kemiskinan,memperbaiki penyediaan kontrasepsi,mengincar kelompok beresiko tinggi, danmeningkatkan pendidikan terutrama dalam pendidikan agama.

3. 3. Hubungan Islam dan KTD


Islam adalah agama yang sempurna, dimana tidak adanya pemaksaan. Allah SWT sangat sayang kepada semua umat manusia, buktinya umat yang bukan agama muslim selalu mendapatkan rejeki. Ini menunjukkan bahwa Allah Maha Pemberi rejeki tanpa memandang apa. Tergantung bagaimana lagi manusianya untuk berpikir karena semuanya sudah diberi Allah SWT. Islam adalah agama yang begitu mudah, dimana perintah dan larangan- Nya harus kita jalankan dan taati. Apabila menaati perintah-Nya akan mendapatkan kebaikan baik di dunia maupun di akhirat sedangkan jika melanggar larangan-Nya mendapatkan kemashalatan baik di dunia dan akhirat. Salah satu akibat dari melanggar perintah dan larangan-Nya adalah kehamilan yang tidak diinginkan. Kehamilan yang tidak diinginkan ini terjadi karena pergaulan bebas para remaja.. Pergaulan bebas umum didasari pada pacaran, dalam islam tidak ada istilah pacaran yang ada hanya taaruf (saling kenal-

13

mengenal). Allah tidak pernah memerintahkan manusia untuk pacaran karena memiliki dampak yang tidak baik, Allah hanya memerintahkan manusia satu dengan yang lain untuk saling kenal mengenal. KTD yang dapat menimbulkan peristiwa aborsi, mengakibatkan adanya hukum islam yaitu haram untuk melakukan aborsi apabila aborsi hasil dari perbuatan zina atau janin berumur lebih dari 120 hari. Namun,apabila ada hal-hal tertentu yang menyangkut masalah keselamatan jiwa maka hukumnya boleh melakukan aborsi.

14

Bab IV Penutup
4.1 Kesimpulan
Kehamilan yang tidak diinginkan adalah suatu kondisi dimana pasangan tidak menghendaki adanya proses kelahiran, biasanya diakibatkan oleh suatu perilaku seksual. Kehamilan yang tidak diinginkan biasanya dialami oleh pasangan yang sudah menikah dan pasangan yang belum menikah yang telah melakukan hubungan seks. Hal ini terjadi karena berbagai faktor-faktor yaitu ketidaktahuan atau rendahnya pengetahuan tentang perilaku seksual yang dapat menyebabkan kehamilan, akibat pemerkosaan diantaranya

pemerkosaan oleh teman kencannya (date-rape), tidak menggunakan alat kontrasepsi, kegagalan alat kontrasepsi akibat mereka menggunakan alat kontrasepsi tanpa disertai pengetahuan yang cukup tentang metode kontrasepsi yang benar atau kegagalan alat pengaruh media informasi, semakin

kontrasepsinya sendiri (efektivitas/ efikasi),

longgarnya norma-norma dan nilai-nilai budaya agama serta kurangnya pengawasan orang tua baik di rumah maupun di luar rumah. Selain itu, faktor penyakit skizfrenia yang dimilik oleh calon orang tua serta terkenanya sindrom down pada calon janin. Faktor yang paling utama adalah kurangnya iman dalam diri, iman yang kuat akan memandu kita dalam menjalani kehidupan yang begitu banyak cobaan. Kehamilan yang tidak diinginkan memiliki dampak tersendiri bagi pelaku dan orang lain yang ada disekitarnya. Bagi pelaku yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan akan mengalami depresi akibat ketidaksiapan dan akan melakukan aborsi, khususnya bagi pasangan yang tidak menikah tapi melakukan hubungan seks. Adapun dampak -dampaknya a. Dampak fisik : pendarahan,komplikasi kehamilan bermasalah, dll. b. Dampak psikologis : tidak percaya diri, malu, stres dll. c. Dampak sosial : drop-out sekolah, dikucilkan masyarakat, dll.

15

Semua permasalahan yang terjadi, disebabkan manusia melanggar larangan dan perintah Nya. Perintah dan larangannya memiliki maksud baik kepada manusia, laranganNya harus dijauhi karena memiliki dampak yang tidak baik untuk umat manusia contohnya KTD memiliki dampak yang sangat tidak baik bagi perkembangan pelaku dan orang yang ada di sekitarnya. Solusi yang paling efektif mencegah polemik KTD adalah dengan menjauhi pergaulan bebas. Begitu juga dengan pandangan islam, dalam syariat islam kehamilan diluar nikah adalah sebuah dosa besar. Dan jika melakukan hal tersebut orang yang bersangkutan haruslah dihukum rajam. Tidak hanya melanggar syariat islam juga melanggar adat ketimuran. Karena hal tersebut merupakan suatu aib bagi pelaku, keluarga dan orang sekitarnya.

4.2 Saran
Dapat disimpulkan bahwa KTD sangat merugikan semua pihak, dan yang paling dirugikan adalah kaum hawa. Oleh karena itu, sebagai umat muslim yang beragama, hendaknya kita dapat menjaga diri agar tidak terjerumus ke lembah hitam. Karena sesuai hokum alam, bahwa penyesalan selalu dating diakhir. Dengan menumbuhkan iman yang kuat dan islam yang kokoh dalam diri kita, setidaknya kita bias terhindar dari hal-hal buruk yang dapat menimpa siapa saja.

16

Daftar Pusaka
Kartono, dkk.2010.Makalah Polemik KTD. http://www.scribd.com/doc/35350463/KEHAMILAN http://www.scribd.com/doc/28016606/Kehamilan-Tidak-Diinginkan-KTD-MerupakanSuatu-Masalah http://www.gemari.or.id/file/68remaja7-10.PDF http://jen-ien.net/wp-content/uploads/2009/10/kelompok-berkelanjutan.pdf http://www.gemari.or.id/file/68remaja7-10.PDF http://jen-ien.net/wp-content/uploads/2009/10/kelompok-berkelanjutan.pdf http://www.scribd.com/doc/28016606/Kehamilan-Tidak-Diinginkan-KTD-MerupakanSuatu-Masalah

17