Anda di halaman 1dari 12

TUBERKULOSIS PARU PADA BATITA DENGAN RESIKO PENULARAN TINGGI DALAM KELUARGA DENGAN TINGKAT SOSIOEKONOMI RENDAH

Yenny Rachmawati*, Dewi Friska** * Mahasiswa Tingkat Lima Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Tahun Ajaran 2009/2010 **Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Abstrak Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit yang paling mematikan di dunia, dan menjadi masalah kesehatan dunia yang penting karena diperkirakan sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. Di Indonesia tuberkulosis menjadi penyebab kematian tertinggi akibat penyakit infeksi1. Anak merupakan kelompok yang rentan terhadap infeksi tuberkulosis dan beresiko tinggi terinfeksi jika berkontak dengan penderita tuberkulosis dewasa2. Penatalaksanaan tuberkulosis anak memerlukan kesinambungan antara pengobatan medikamentosa, gizi, serta sosioekonomi. Tujuan : Penatalaksanaan TB paru secara komprehensif pada anak dengan resiko penularan tinggi dan keluarga dengan sosioekonomi rendah. Metode : Manuskrip ini disusun berdasarkan hasil kunjungan rumah, evaluasi, intervensi berupa edukasi keluarga serta referensi dari kepustakaan. Hasil dan Kesimpulan : Penegakkan diagnosis tuberkulosis pada pasien ini sesuai dengan sistem skoring TB anak. Penatalaksanaan pasien mengikuti alur penatalaksanaan tuberkulosis di puskesmas, dan menerapkan strategi DOTS. Sumber penularan dalam keluarga terdeteksi, dan anggota keluarga lain dianjurkan melakukan skrining. Pencegahan ketidakpatuhan minum obat diatasi dengan pemberian KDT dan pengawasan minum obat. Kata kunci : Tuberkulosis, anak, penularan Abstract Tuberculosis remains one of the deadliest disease in the world, and has become a global health problem because about one third of the world’s population has been infected by Mycobacterium tuberculosis. In Indonesia, tuberculosis has become the highest cause of death in infection disease. Children are susceptible for being infected and have a high risk for infection if exposed to adults with smear-positive pulmonary TB. Treatment for pediatrics tuberculosis needs comprehensive management, between drugs therapy, nutrition, and also socioeconomic approach. Purpose: Comprehensive management of pediatrics tuberculosis with high risk infection and poor socialeconomic family. Method : This manuscript formulated based on home visits, evaluation, family educational intervention, and references.

Sebagian besar kasus tidak terdiagnosis dan tidak terdeteksi5. and other family members are recommended for doing scrining test. TB menjadi penyebab kematian tertinggi setelah penyakit jantung dan saluran pernapasan pada semua golongan usia1. dan gelandangan2.Result and Conclusion : This patient was diagnosed tuberculosis based on pediatrics tuberculosis scoring system.000 penduduk mendapatkan infeksi TB baru setiap tahunnya2. Prevention from unfinish medication settled by giving fixed dose combination and direct observed treatment. Sebagian besar penderita TB adalah usia produktif (15-55 tahun). dengan masa terapi yang lama dan resiko penularan serta terjadinya putus obat yang tinggi. serta manula1-2. maka dalam manuskrip ini akn dibahas mengenai upaya-upaya yang Di negara berkembang. terdapat sekitar 9. namun WHO memperkirakan terdapat sekitar satu juta kasus baru tuberkulosis anak dan 400. Oleh karena itu. Tuberkulosis selalu terjadi sebanding dengan masalah sosial sosial polulasi seperti gizi buruk. Tuberkulosis merupakan penyakit sosial dengan implikasi medis. and consistent with DOTS strategy. kematian akibat tuberkulosis merupakan 25% kematian akibat penyakit yang sebenarnya bisa dicegah. antara lain perempuan.1993)1. prevalensi penularan sebesar 8% dan menunjukkan 1000 individu per 100. Keywords : Tuberculosis. Walaupun jumlah kasus TB anak pertahun secara tepat belum diketahui. Di Indonesia. children. Pada negara berkembang dengan insidens TB yang tinggi. anak. penatalaksaan tuberkulosis juga melibatkan seluruh lapisan sosial dalam populasi. . Namun terdapat kelompok-kelompok khusus yang lebih rentan terhadap infeksi tuberkulosis. kepadatan penduduk.000 kematian pertahun pada anak dengan tuberkulosis. dan bersama-sama berkontribusi lebih dari 50% kasus TB yang terjadi di dunia2. Pada tahun 2006. infection PENDAHULUAN Tuberkulosis diperkirakan telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia (WHO. Indonesia sendiri menempati peringkat ketiga setelah India dan Cina. The treatment follow tuberculosis treatment guidelines on primary healthcare. Sembilan puluh lima persen kasus tuberkulosis terjadi di negara 3 berkembang . Berdasarkan hasil survei tuberkulin di Indonesia pada tahun 2006 didapatkan.2 juta kasus TB. serta kebanyakan berasal dari kelompok sosioekonomi rendah. resiko infeksi pada anak yang mempunyai kontak dengan penderita tuberkulosis dewasa sekitar 30-50%4. Source of infection in the family has been detected.

tetapi ukuran nodus limfe tetap normal. dengan melakukan pemeriksaan5. Namun.5. Beberapa anak menunjukkan gejala demam antara 1 hingga 3 minggu. dan mempunyai BTA positif dari pemeriksaan dahak. Terdapat empat faktor yang menentukan kemungkinan transmisi M. penting untuk memastikan orang dewasa yang memiliki kontak dekat dengan pasien tuberkulosis anak bukan merupakan sumber penyebaran infeksi. Teknik yang dapat mengurangi jumlah droplet dalam suatu ruangan. dan status imunitas individu3. Perkiraan waktu terjadinya komplikasi pada infeksi tuberkulosis pada . anak yang menderita tuberkulosis tipe dewasa. TINJAUAN PUSTAKA Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculosis1. umumnya 4 sampai 8 minggu3. mayoritas anak dengan tuberkulosis tidak infeksius. tuberculosis. Kebanyakan kasus tuberkulosis pada anak terjadi dalam waktu 1 tahun setelah infeksi5. efektif dalam mencegah penyebaran kuman. organisme menyebar dari kompleks primer melalui aliran darah dan limfatik ke bagian tubuh lain. Perkiraan waktu terjadinya komplikasi pada infeksi tuberkulosis primer pada bayi dan anak terdapat pada gambar 2. Selama perkembangannya. sementara kuman M. lesi parenkim paru tidak tampak pada foto dada.Tuberkulosis menyebar dari orang ke orang melalui udara dalam bentuk droplet. Pada fokus metastasis ini dapat terjadi reaktivasi pada kehidupan lanjut.5. waktu pajanan seseorang bernapas dalam udara yang terkontaminasi. Oleh karena itu.3. bersin. konsentrasi organism dalam udara ditentukan oleh volume ruangan dan ventilasi. Seperti pada dewasa. periode inkubasi antara waktu kuman terinhalasi dan munculnya hipersensitivitas tipe lambat biasanya antara 3 dan 12 minggu.5. Droplet dihasilkan saat seseorang dengan tuberkulosis paru batuk. Pada kebanyakan kasus infeksi tuberkulosis inisial. anak menunjukkan test tuberkulin positif.dapat dilakukan dalam penatalaksanaan tuberkulosis pada anak secara komprehensif. Gambar 2. Ventilasi dengan udara bebas sangat penting. ataupun bicara. meliputi infiltrat atau kavitas pada lobus atas. bisa menjadi infeksius. dan anak tidak menunjukkan gejala5. dimana kuman tersebut bereplikasi. tuberculosis mati dengan paparan sinar matahari langsung3. Droplet cukup kecil untuk mencapai alveolus dalam paru. Tidak seperti penderita dewasa. yaitu jumlah organism yang dikeluarkan ke udara.

tingkat kerusakan parenkim paru tidak seberat kerusakan yang terjadi pada pasien dewasa. Tuberkulosis anak mempunyai permasalahan khusus yang berbeda dengan orang dewasa. serta keadaan imunokompromais. Kuman BTA baru dapat dilihat dengan mikroskop bila jumlahnya paling sedikit 5. kesulitan penegakan diagnosis pasti disebabkan oleh 2 hal. Manifestasi hematologis yang paling sering adalah meningkatnya leukosit darah perifer. tetapi lebih mengarah ke gejala sistemik. Berkurangnya nafsu makan. permasalahan yang dihadapi adalah masalah diagnosis. Faktor yang mempengaruhi timbulnya sakit TB antara lain. pencegahan. serta diare persisten yang tidak sembuh dengan pengobatan merupakan gejala lain yang dapat muncul. gejala TB pada anak seringkali tidak khas1. cairan serebrospinal.7. yaitu sedikitnya jumlah kuman dan sulitnya pengambilan specimen5. Tuberkulosis yang mengenai bagian tubuh manapun bisa menunjukkan gejala dan tanda yang tidak berkaitan . Anak yang telah terinfeksi. pendidikan rendah. keringat malam. pengobatan. batuk kronik. pengambilan spesimen sulit dilakukan.anak spesifik dengan organ atau jaringan yang terkait. usia ≤ 5 tahun. malnutrisi. lemah. Manifestasi klinis TB sangat bervariasi. Jumlah kuman TB di sekret bronkus pasien anak lebih sedikit daripada dewasa karena lokasi kerusakan jaringan TB paru primer terletak di kelenjar limfe hilus dan parenkim paru bagian perifer. Gejala sistemik yang paling mudah diukur adalah demam. kepadatan hunian. pejamu. walaupun batuknya berdahak . penurunan berat badan. atau pada biopsi jaringan2. bergantung pada faktor kuman TB. Pada TB anak. Pada anak. biasanya dahak akan ditelan sehingga diperlukan bilasan lambung yang diambil melalui Nasogastrik Tube (NGT) dan harus dilakukan oleh petugas berpengalaman6. Berbeda dengan TB dewasa. serta interaksi keduanya. Selain itu terdapat juga faktor sosial yang berperan pada epidemiologi TB seperti status sosioekonomi yang rendah. tidak selalu mengalami sakit TB.000 kuman dalam 1 ml dahak. Pada anak. Diagnosis pasti TB ditegakkkan dengan metemukan kuman M.5. serta peningkatan laju endap darah2. serta TB pada infeksi HIV. tuberculosis pada pemeriksaan sputum atau bilasan lambung. dan kurangnya dana untuk pelayanan masyarakat6. Selain itu. Kesulitan kedua. cairan pleura. infeksi baru yang ditandai dengan konversi uji tuberkulin positif.

kakan panggul.Oleh karena gejala yang tidak khas pada tuberkulosis anak dan sulitnya mendapatkan spesimen. Anak didiagnosis TB jika jumlah skor ≥ 6 ( skor maksimal 13) 7. pasien dapat langsung didiagnosis tuberkulosis 3. dirujuk ke RS untuk evaluasi lebih lanjut Berdasarkan riwayat pajanan. Pasien pada kelas ini mempunyai riwayat kontak dengan pasien tuberkulosis dewasa.6: Kelas 0. Berat badan dinilai saat pasien datang (moment opname) 4. atau BB/U < 60% BB/keadaan gizi Demam tanpa ≥ 2 minggu sebab jelas Batuk ≥ 3 minggu Pembesaran ≥ 1 cm jumlah kelenjar limfe ≥1 tidak nyeri koli. Tabel 1. Pasien usia balita yang mendapat skor 5. BB/U < 80% Klinis gizi buruk atau BB/TB < 70%. Kontak TB positif. infeksi. Pasien pada kelas ini mempunya riwayat kontak TB. Dinas kesehatan dan WHO menyusun sistem skoring untuk menegakkan diagnosis TB pada anak6. inguinal Pembengka-kan Ada pembengtulang/sendi. tidak terinfeksi. Kelas 2. falang Foto rontgen Normal/tdk Kesan TB toraks jelas Catatan: 1. maka penegakkan diagnosis TB pada anak sulit dilakukan. dan timbulnya sakit TB. Pasien pada kelas ini tidak mempunyai riwayat kontak dengan pasien tuberkulosis dewasa dan menunjukkan hasil test tuberkulin negatif. BTA (-) atau tdk tahu 3 BTA (+) Positif (>10 mm. atau >5 mm pada keadaan imunosupresi) BB/TB < 90%. tidak sakit. Tidak ada kontak TB dan tidak terinfeksi. Jika dijumpai skrofuloderma. maka tuberkulosis anak diklasifikasikan menjadi3. Infeksi tuberkulosis laten. Kelas 1. Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh Dokter 2. namun tidak menunjukkan gejala infeksi TB . Sistem Skoring Diagnosis Tuberkulosis Anak6 Parameter Kontak TB Uji Tuberkulin 0 Tidak jelas (-) 1 2 Laporan keluarga. Pada kelas ini diberikan kemoprofilaksis primer berupa pemberian isoniazid dengan dosis 5-10 mg/kgBB/hari dosis tunggal. Semua anak dengan reaksi cepat BCG harus dievaluasi dengan sistem scoring TB anak 6. Foto rontgen toraks bukan alat diagnostik utama pada TB anak 5. Kemudian dialkukan uji tuberkulin ulang pada akhir bulan ketiga. lutut .aksila. tetapi hasil tuberkulin tes negatif. Berdasarkan hal tersebut. selama 6 bulan. hasil tes tuberculin positif.

dosis disesuaikan dengan dosis masing-masing obat per berat badan - Bila BB < 5 kg. Pemberian paduan obat ini bertujuan untuk mencegah terjadinya resistensi obat dan unutk membunuh kuman intraseluler dan ekstraseluler. pada anak. menyembuhkan lebih dari 99% kasus tuberkulosis anak yang sensitive obat. yaitu fase intensif (2 bulan pertama) dan fase lanjutan6.6. Pasien TB dewasa secara rutin diberikan empat macam obat sebagai terapi inisial. Kelas 3. Namun. Kemoprofilaksis diberikan selama 6-12 bulan. Pengobatan TB dibagi menjadi dua fase. terutama karena terbatasnya sediaan obat pediatrik. mencegah kematian. tambahan obat menimbulkan masalah toleransi. terapi pada anak biasanya dimulai dengan tiga obat. dengan penambahan pirazinamid selama 2 bulan pertama. sebaiknya dirujuk ke RS . Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien. Pemberian obat jangka panjang ditujukan juga untuk mengurangi kemungkinan terjadinya relaps5. atau jika pasien menderita tuberkulosis yang mengancam nyawa seperti meningitis TB5. Rumusan FDC pada anak6 Berat badan (kg) 2 bulan RHZ (75/50/150 mg) 4 bulan RH (75/50 mg) 5-9 10-14 15-19 20-32 1 2 3 4 bungkus bungkus bungkus bungkus 1 2 3 4 bungkus bungkus bungkus bungkus Catatan : Bila BB ≥ 33 kg. Tuberkulosis. dan dibuat suatu sediaan obat kombinasi dengan dosis yang telah ditentukan yaitu fix dose combination (FDC) atau kombinasi dosis tetap (KDT). Pada kelas ini profilaksis sekunder diberikan hanya pada anak yang termasuk dalam kelompok resiko tinggi menjadi sakit TB. mencegah kekambuhan. Rumusan FDC pada anak seperti terapat pada table 26. Prinsip umum yang digunakan dalam penatalaksanaan tuberkulosis dewasa juga diterapkan pada penatalaksanaan tuberkulosis pada anak5. yaitu keadaan imunokompromais.dan tidak memenuhi kriteria diagnosis TB anak berdasarkan sistem skoring. maka OAT pada anak diberikan setiap hari. Beberapa penilitan menunjukkan bahwa pemberian 6 bulan regimen dasar berupa rifampisin dan isoniazid. aktif secara klinis. Tabel 2. mencegah penularan. dengan tambahan ethambutol. Untuk mempermudah pemberian obat pada anak dan mengurangi ketidakteraturan minum obat. dan tambahan obat keempat diberikan hanya bila terdapat resiko resistensi obat akibat karakteristik epidemiologi anak atau dewasa yang menjadi sumber infeksi. Oleh karena itu. dan terapi mencakup penggerusan obat atau pembuatan suspensi yang sulit untuk dilakukan. dengan insidens terjadinya efek 5 samping sebesar < 2% . Kelas ini meliputi seluruh pasien dengan tuberkulosis secara klinis dengan prosedur diagnosis lengkap dan memenuhi kriteria dalam sistem skoring. serta mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT.

setelah itu mendapatkan susu formula dan . pasien sudah mendapatkan imunisasi dasar wajib sesuai usia. selama 3 bulan terakhir. Pasien mendapat ASI sampai usia 6 bulan. dan pemeriksaan LED. ILUSTRASI KASUS Pasien. dan panjang lahir 48 cm. Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan. dengan berat lahir 2600 gram. kemudian dilakukan foto thoraks dikatakan terdapat infiltrate perihiler dan perikardial. mantoux test didapatkan hasil positif. Pasien kemudian dilakukan pemeriksaan darah. Efek samping yang cukup sering pada pemberian isoniazid dan rifampisin adalah gangguan gastrointestinal. Orang tua pasien mengeluh pasien sering batuk pilek berulang sejak 3 bulan yang lalu. An. Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu. dikatakan terjadi peningkatan LED. 1 tahun 6 bulan. disamping secara cepat menekan penularan. 4. Pasien merupakan anak pertama. Oleh karena itu. lahir spontan. Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat. Evaluasi hasil pengobatan dilakukan setelah 2 bulan terapi. penanggulangan TB pada anak juga menerapkan system DOTS. Evaluasi radiologis dalam 2-3 bulan hanya dilakukan pada TB dengan kelainan radiologis yang nyata atau luas. serta demam. evaluasi radiologis. Penerapan strategi DOTS secara baik. Pasien dirujuk dari puskesmas kecamatan untuk pengobatan rutin TB paru. dengan nafsu makan yang tidak banyak. berat badan pasien tidak bertambah. Sampai saat ini. Evaluasi yang terpenting adalah evaluasi menghilang atau membaiknya gejala. 3. juga mencegah berkembangnya MDR-TB. Evaluasi pengobatan dilakukan dilakukan dengan cara evaluasi klinis.- Obat tidak boleh diberikan setengah dosis tablet Perhitungan pemberian tablet diatas sudah memperhitungkan kesesuaian dosis per kg berat badan. A. kadang disertai demam. Penting untuk diperhatikan bahwa kepatuhan minum obat pada anak tidak lebih baik dibandingkan dengan pasien dewasa. hepatotoksisitas. ruam dan gatal. Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen6 : 1. Pasien dikatakan putus obat bila berhenti menjalani pengobatan selama ≥ 2 minggu6. termasuk pengawasan langsung pengobatan. Laju endap darah dapat digunakan sebagai evaluasi bila pada awal pengobatan nilainya tinggi6. Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya. kecuali campak dikarenakan saat penyuntikan pasien sedang sakit. namun sebaiknya pasien dikontrol tiap bulan. 5. di bawa ke puskesmas untuk pengobatan TB paru. Komitmen politis 2. Tidak ada keluhan pada kebiasaan buang air kecil dan buang air besar pasien. Selain itu. ditolong bidan.

INH 50 mg. Ayah pasien juga pernah didiagnosis menderita TB paru pada tahun 2009. Selanjutnya dilakukan kunjungan rumah untuk menilai faktor resiko yang terdapat pada pasien dan lingkungan keluarga. didapatkan permasalahan utama pada pasien adalah tuberkulosis paru. serta pemanfaatan pelayanan kesehatan yang bersifat kuratif. dilakukan evaluasi mengenai pemenuhan kebutuhan gizi harian pasien dan skrining perkembangan pasien menggunakan denver. Pasien tinggal di lingkungan rumah yang padat penduduk. Rumah pasien berukuran 10 x 8 meter. Rumah pasien hanya memiliki satu jendela yang terletak di ruang tamu. dan telah dinyatakan sembuh. Orang tua pasien dan anggota keluarga lain diberi edukasi mengenai pentingnya kebersihan lingkungan . ventilasi dan pencahayaan rumah yang kurang. serta efek samping obat. komplikasi. kebiasaan merokok dalam rumah. kebersihan lingkungan rumah yang buruk. Dalam satu rumah. buah. Faktor dalam keluarga yang dapat mempengaruhi hal tersebut antara lain kurangnya pengetahuan orang tua pasien mengenai tuberkulosis serta faktorfaktor yang berpengaruh dalam pencegahan dan penatalaksanaan tuberkulosis. Faktor tersebut meliputi kontak TB pada anggota keluarga. Selain itu. pasien makan nasi tim atau keluarga. dan saat ini sedang dalam terapi OAT minggu ke tiga dengan regimen pengobatan RHZES. cara penularan. Pirazinamid 150 mg. Anggota keluarga yang lain juga diikutsertakan dalam membantu paman pasien untuk berhenti merokok.makanan pelengkap susu. Dari kunjungan rumah tersebut didapatkan jarak antara rumah pasien dengan pusat kesehatan cukup dekat dan terjangkau. Selain itu. Pencahayaan dan ventilasi dalam rumah sangat kurang. Saat ini makanan formula. dan susu Tumbuh kembang pasien normal sesuai usia. Intervensi yang diberikan berupa terapi medikamentosa dan nonmedikamentosa. terkesan Pada pemeriksaan fisik didapatkan status gizi pasien baik dan pemeriksaan fisik lain dalam batas normal. Seluruh anggota keluarga yang tinggal serumah disarankan untuk melakukan skrining tuberkulosis. dan dihuni oleh 9 orang. Berdasarkan data dari kunjungan pertama. cara pencegahan. satu orang paman pasien mempunyai kebiasaan merokok dalam rumah. Edukasi ditujukan kepada orang tua pasien dan anggota keluarga lain megenai tuberkulosis mulai dari penyebab. termasuk juga resiko penularan tuberculosis ke anggota keluarga lain dan resiko terjadinya putus obat. Lantai menggunakan lantai keramik. penatalaksanaan. terdapat paman pasien yang didiagnosis menderita TB paru putus obat. Saat ini pasien mendapatkan terapi medikamentosa berupa Rifampisin 75 mg. dan dinding dari tembok.

Dilakukan pencatatan pada pasien baru untuk mengevaluasi jadwal pemberian obat serta mengevaluasi hasil pengobatan pasien. Sesuai dengan alur tatalaksana tuberkulosis anak di puskesmas. juga tidak nyaman bagi pasien dan harus dilakukan minimal 2 hari berturut-turut. namun biayanya mahal dan secara teknologi lebih rumit. Jika . tuberculosis. Terdapat juga demam yang hilang timbul menyertai batuk pilek berulang tersebut. Foto thoraks menunjukkan terdapatnya infiltrate perihiler dan perikardial dengan kesan kemungkinan proses spesifik. serta pemeriksaan penunjang yang sesuai dengan sistem sioring diagnosis tuberkulosis pada anak.rumah. Terdapat kontak TB didalam keluarga dengan BTA (+) dan hubungan yang erat. Evaluasi dilakukan setelah pemberian terapi selama 2 bulan. tuberculosis diperlukan waktu sekitar 6-8 minggu. Namun. Selain itu. serta saat ini paman pasien yang didiagnosis TB paru putus obat dan sedang dalam terapi OAT minggu ketiga. didapatkan nilai delapan.angsung pada anak sebagian besar negative karena jumlah kuman yang sedikit. sehingga dapat ditegakkan diagnosis tuberkulosis yaitu skor ≥6. Pada pasien ini yang dievaluasi antara lain berkurang atau menghilangnya batuk pilek berulang yang kadang disertai demam. Idealnya perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan sebagai standar emas penegakkan diagnosis TB seperti bilas lambung untuk pemeriksaan BTA dan kultur M. Berdasarkan penilaian dengan sistem skoring tuberkulosis anak. Pasien dirujuk ke puskesmas keluharan untuk terapi tuberkulosis berikutnya dengan pertimbangan letak pusat kesehatan yang lebih dekat dan terjangkau untuk memudahkan pasien mendapatkan obat secara teratur. pemeriksaan fisik. DISKUSI Diagnosis tuberkulosis pada pasien ini ditegakkan berdasarkan gejala klinis. hasil pemeriksaan mikroskopik . maka pasien dengan jumlah skor yang lebih atau sama dengan harus ditatalaksana sebagai pasien TB dan mendapat OAT. hal tersebut tidak dilakukan. serta nafsu makan membaik. Saat ini terdapat pemeriksaan yang lebih cepat. Penatalaksanaan pasien di puskesmas sesuai dengan program DOTS. Dan bersama-sama mencari pemecahan masalah tersebut. Tes tuberkulin yang dilakukan menunjukkan hasil positif. sedangkan untuk biakan M. yaitu ayah pasien pada tahun 2009 dan dinyatakan sembuh. penambahan berat badan. ventilasi serta pencahayaan yang cukup dalam pencegahan tuberkulosis. Dari anamnesis didapatkan keluhan batuk pilek berulang sejak tiga bulan. Evaluasi yang dilakukan adalah evaluasi klinis berupa menghilangnya atau berkurangnya gejala. Dari pemeriksaan fisik tidak diadapatkan kelainan pembesaran kelenjar limfe superfisialis ataupun pembengkakan tulang. selain karena dibutuhkan petugas yang berpengalaman.

Oleh karena itu. dan komplikasinya. perlunya pengawas minum obat. maka terapi TB diteruskan. anggota keluarga yang lain belum melakukan dengan alasan belum sempat karena bekerja. tuberculosis. Karena pengobatan TB memerlukan kesinambungan pengobatan dalam jangka waktu yang cukup lama. yaitu orang dewasa yang menderita TB aktif dan kontak erat dengan pasien. Untuk pasien. yang untuk pemenuhan kebutuhan sehari-harinya masih membutuhkan bantuan orang lain. dan telah dinyatakan sembuh. sehingga obat yang didapat terdiri dari rifampisin. yaitu ibu dan nenek pasien. namun pasien dirujuk ke rumah sakit untuk evaluasi lebih lanjut. Ayah pasien didiagnosis TB paru aktif pada tahun 2009. maka pasien mendapatkan KDT 1 bungkus setiap hari. terdapat dua orang dalam keluarga yang didiagnosis TB paru aktif dan berkontak erat dengan pasien. maka harus dicari sumber penularan yang menyebabkan anak tersebut tertular. cara penularan. dijelaskan juga mengenai pentingnya keteraturan minum obat. Selain itu. pengobatan. vitamin. yaitu 9 kg. serta pentingnya skrining pada anak di sekitarnya atau yang kontak erat dan juga anggota keluarga yang lain. Pada kasus tuberkulosis anak. penatalaksanaan tuberkulosis juga memerlukan peran serta orang tua dan anggota keluarga lainnya. Tanpa penangan gizi yang baik. cara pencegahan. Paman pasien didiagnosis TB paru aktif pada tahun 2010. Untuk kemudahan pemberian obat dan mengurangi ketidakpatuhan minum obat. Dalam kasus ini. Dan sesuai dengan berat badan pasien saat awal pengobatan. dan saat ini sedang dalam terapi TB paru putus obat minggu ketiga. Khusus pada orang tua pasien. serta efek samping obat yang perlu diperhatikan. maka terapi TB diteruskan. Keadaan gizi pasien saat pemeriksaan .respon pengobatan positif. telah ditentukan pengawas minum obat. Saat ini pasien dalam pengobatan fase intensif. Pengobatan TB tidak lepas dari masalah sosioekonomi. maka biaya yang dibutuhkan cukup besar. Namun baru ibu dan nenek pasien yang melakukan pemeriksaan. diperlukan juga penanganan gizi yang baik. dan pirazinamid. isoniazid. Dan jika pasien tidak berespon terhadap terapi. 1 tahun 6 bulan. penyebab. pengobatan dengan medikamentosa saja tidak akan mencapai hasil yang optimal. Oleh karena itu. pasien diberikan obat kombinasi dosis tetap. edukasi mengenai penyakit TB juga ditujukan untuk anggota keluarga lain selain orang tua pasien. meliputi asupan makanan. Edukasi yang diberikan berupa penjelasan mengenai penyakit tuberkulosis. yaitu keluhan. dan mikronutrien. putus obat. Selain karena usia pasien. diberikan juga edukasi pada keluarga mengenai penularan kuman M. minggu kedua. keluarga sudah memahami pentingnya skrining pada seluruh anggota keluarga. Hingga kunjungan kedua.

Pemberian KDT ditujukan untuk mencegah ketidakpatuhan minum obat. Sesuai dengan alur tatalaksana tuberkulosis di puskesmas. lingkungan tempat tinggal psaien menjadi penting untuk dievaluasi. Keluarga telah diberikan edukasi mengenai penularan tuberkulosi serta pentingnya skrining anggota keluarga lain. Pasien tinggal dalam lingkungan pada penduduk. Namun hingga kunjungan kedua paman pasien masih belum menghentikan kebiasaan merokok. Namun hal ini tidak memungkinkan untuk dilakukan pada dua kamar tidur lainnya. efek rokok untuk perokok dan anggota keluarga lainnya yang ikut menghirup asap rokok telah diberikan kepada seluruh anggota keluarga pada kunjungan pertama. Diharapkan seluruh anggota keluarga berpartisipasi dalam membantu paman pasien untuk berhenti merokok. Rumah pasien juga dihuni oleh banyak orang. Pada kunjungan kedua. Sumber penularan pada pasien dalam keluarga telah ditemukan. dan didapatkan kesan perkembangan normal sesuai usia. Pada kamar pasien tidak terdapat jendela serta terdapat banyak tumpukan barang. terdapat paman pasien yang mempunyai kebiasaan merokok. Pada keluarga. dengan skor 8. dengan ventilasi dan pencahayaan yang kurang. dan beberapa anggota keluarga sudah melakukan pemeriksaan. Oleh karena itu edukasi mengenai pemenuhan asupan makanan dapat langsung disesuaikan dengan kebutuhan gizi harian pasien berdasarkan berat badan dan usia. Penaatalaksanaan pasien ini menerapkan strategi DOTS. Sebagai salah satu faktor yang berperan dalam epidemiologi tuberkulosis. Keluarga sudah bersedia memperbaiki pengelolaan lingkungan rumah untuk . keluarga pasien bersedia melakukan renovasi untuk membuat jendela pada kamar pasien. karena lokasi yang langsung berhimpitan dengan rumah tetangga. serta edukasi mengenai pentingnya ventilasi dan penetrasi cahaya ke dalam rumah. yang menjadikan ruangan kamar tidur pasien temapt yang baik untuk media pertumbuhan kuman M. Pada pasien juga dilakukan skrining gangguan perkembangan dengan pemeriksaan denver. Pada kunjungan pertama sudah diberikan edukasi kepada seluruh anggota keluarga mengenai pengelolaan lingkungan dan penerangan lingkungan rumah dan hubungannya dengan media yang baik untuk tumbuhnya kuman TB. yaitu hanya terdapat satu jendela yang terletak pada ruang tamu. pasien ditatalaksana sebagai pasien TB dan mendapat terapi OAT yang sesuai dengan berat badan pasien pada KDT yang direncanakan akan diberikan selama 6 bulan. tuberculosis. KESIMPULAN Diagnosis tuberkulosis paru pada pasien ini sudah sesuai dengan sistem skoring tuberkulosis anak.tergolong dalam gizi baik. dan telah ditetapkan ibu dan nenek pasien sebagai pengawas minum obat. Edukasi mengenai bahaya merokok..

Selain itu juga disarankan untuk melakukan kontrol rutin untuk menilai respon pengobatan.com/viewarticle/ 484123 6. Fujiwara P. Basir D. silahkan. dan sebagainya. Bagi keluarga. 25(3).al. Sub Direktorat TB Departemen Kesehatan RI dan World Health Organization.or.php? lng=in&pg=57 [1 Juni 201] 2. dan skriningnya sehingga keluarga yang mempunyai anggota keluarga yang menderita TBC dapat mempunyai pengetahuan yang cukup tentang penyakit ini.pdf [ 1 Juni 2010] 4. Ravn P. 257. et al.gov/tb/publications/PD F/1376. Am J Respir Crit Care Med. 2006 September. Petugas kesehatan disarankan untuk lebih waspada terhadap kemungkinan infeki TB pada anak dengan gejalagejala batuk berulang. pencegahan. Nakaoka H. Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak. Lawson L.tbindonesia. Maret 2008. Petugas kesehatan juga lebih teliti dalam mencari sumber kontak dalam keluarga. Available at : http://www. Available at : http://www. Anonim. 2007. SARAN Pasien disarankan untuk minum obat teratur dan tidak putus obat. 12(9): 1383-8. Available at : http://www. 95-101. Diagnostic Standards and Classification of Tuberculosis in Adults and Children. 2000. Bersama-sama menjaga kebersihan rumah dan mengusahan adanya ventilasi dan penetrasi cahaya yang baik dalam rumah. . Semin Respir Crit Care Med. berat badan tidak tumbuh.pdf [1 Juni 2010] 3. disarankan untuk melakukan skrining TB pada anggota keluarga yang lain. sehingga penyelesaian masalah kesehatan dalam keluarga dapat lebih tepat (tolong kalau bisa dibuat kata kata yang lebih bagus. Available at : http://www. Tuberkulosis. Petugas kesehatan juga harus dapat memberikan penjelasan yang sejelas jelasnya mengenai gejala penyakit TB. Coulter B. Risk for Tuberculosis Among Children.cdc.com/articles. 2004. et. Starke JR.cdc. Lembar Fakta Tuberkulosis. Bass J. Horsburgh CR.id/pdf/Lembar_Fa kta_TB. Hopewell P.medscape.infeksi. Emerging Infectious Disease. Maret 2005. 39-42. Available at : www. UKK Respirologi PP IDAI : Jakarta.htm?s_cid=eid05_1606_e [1 Juni 2010] 5. dalam hal ini ditekankan kepada ibu dan ennek pasien sebagai pelaku rawat dan pengawas minum obat. Rahajoe NN.pecegahan dan penatalaksanaan TB dalam keluarga. 53-9. edisi 2. he he) DAFTAR PUSTAKA 1. penatalaksanaannya. Makmuri MS. Kartasasmita GB. Tuberculosis in Children. 161: 1376-95. 60-3. Squire B.gov/ncidod/EID/vol12n o09/05-1606. Dunlap NE.