Anda di halaman 1dari 10

ISLAM SEBAGAI IDEOLOGI DAN ISLAM SEBAGAI BUDAYA

ISLAM SEBAGAI IDEOLOGI DAN ISLAM SEBAGAI BUDAYA (Dalam perspektif kajian histories Islam di masyarakat Jawa )

Agama , ideologi dan budaya

Agama

Agama adalah suatu ciri kehidupan sosial manusia yang universal dalam arti bahwa semua masyarakat mempunyai cara-cara berpikir dan pola-pola perilaku yang memenuhi syarat untuk disebut ―agama‖ (religious). Terdapat banyak tema agama termasuk dalam superstruktur: agama terdiri atas tipe-tipe simbol, citra, kepercayaan, dan nilai-nilai spesifik dengan mana makhluk manusia menginterpretasikan eksistensi mereka. Akan tetapi, karena agama juga mengandung komponen ritual, maka sebagian agama tergolong juga dalam struktur sosial. ―Din‖ dalam bahasa Semit berarti undang-undang atau hukum. Dalam bahasa Arab kata ini mengandung arti menguasai menundukkan, patuh, utang, balasan, kebiasaan. Agama memang membawa peraturan-peraturan yang merupakan hukum yang harus dipatuhi, menguasai dan menundukkan untuk patuh kepada aturan Tuhan dengan menjalankan ajaran-ajarannya sebagai suatu kewajiban, merasa berutang bagi yang meninggalkan kewajiban yang telah biasa dilakukannya, memberi balasan baik bagi yang mematuhinya dan balasan tidak baik bagi yang melanggarnya. Sedangkan kata ―religi‖ berasal dari bahasa Latin, mempunyai arti mengumpulkan, membaca dan mengikat. Agama memang merupakan kumpulan cara-cara mengabdi kepada Tuhan dan kumpulan aturan-aturan lainnya yang dikumpulkan dalam kitab suci yang harus dibaca, dan di samping itu, agama juga mengandung arti ikatan-ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia, ikatan antara manusia dengan kekuatan yang lebih tinggi atau ikatan antara manusia dengan Tuhan-nya. Sedangkan komponen-komponen atau unsur – unsur penting yang ada atau yang harus ada dalam agama adalah: 1) Kekuatan gaib. 2) Keyakinan manusia 3) Respons yang bersifat emosional dari manusia. 4) Paham adanya yang kudus {sacred) dan suci dalam bentuk kekuatan gaib. Maka agama dapat diartikan sebagai jalan yang harus dilalui dan merupakan kebutuhan dasar manusia untuk dapat berhubungan dengan kekuatan gaib dan supranatural melalui aktivitas penyembahan dan pemujaan agar hidup bahagia dan sejahtera.

Ideologi dan budaya

Ideologi dapat berarti suatu faham atau ajaran yang mempunyai nilai kebenaran atau dianggap benar sebagai hasil kontemplasi (perenungan) manusia baik berdasarkan wahyu maupun hasil kontemplasi akal budi secara murni. Ideologi atau kebudayaan itu diwariskan turun-temurun. Sebaliknya dapat menurunkan nilai agama apabila dilakukan dengan tidak bertanggung jawab. disakralkan dan lebih dari itu dipercayainya sebagai doktrin yang harus diikuti. ideologi dan kebudayaan seringkali sulit untuk dibedakan.  Agama budaya Agama yang dibudayakan adalah ajaran suatu agama yang dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh penganutnya sehingga menghasilkan suatu karya/budaya tertentu yang mencerminkan ajaran agama yang dibudayakannya itu. Sebaliknya ideologi dan kebudayaan dapat diagamakan. melainkan agama itu sebagai kebutuhan manusia dan untuk kebaikan manusia. Agama (wahyu) pada dasarnya bukan ideologi — dan memang bukan ideologi—akan tetapi dapat dijadikan sebagai ideologi apabila agama (wahyu) itu sudah dipersepsi oleh seseorang atau sejumlah orang dan dijadikan sebagai pedoman dalam hidupnya. Karena ketiganya sama-sama dapat dijadikan sebagai pedoman hidup walaupun-masing-masing mempunyai nilai yang berbeda. pembudayaan suatu agama dapat mengangkat citra agama apabila pembudayaan itu dilakukan dengan tepat dan penuh tanggung jawab sehingga mampu mencerminkan agamanya. melahirkan ideologi dan kebudayaan. Inilah proses lahirnya agama budaya atau agama ardli. Memandang agama bukan sebagai peraturan yang dibuat oleh Tuhan untuk menyenangkan Tuhan. Agama dapat di ideologikan dan dibudayakan. dan faham Jabariah dan Qadariah di dunia Islam adalah contoh dalam hal ini. Adanya agama merupakan hakekat perwujudan Tuhan. Contoh : Ideologi sosialis-komunis dan liberalis-kapitalis di dunia Eropa Timur dan dunia Barat.  Agama Wahyu (langit) dan Agama Budaya (adat istiadat) Sedangkan ideologi dan kebudayaan yang diagamakan maksudnya adalah suatu ideologi atau kebudayaan yang mempunyai nilai kebenaran — walau sebenarnya relatif — atau dianggap benar atau dapat memberikan kepuasan. rasa dan karsa manusia dalam arti yang seluas-luasnya. di samping ideologi itu sendiri merupakan kebudayaan. Dengan demikian. ideologi itu mesti kebudayaan tetapi kebudayaan belum tentu menjadi ideologi. Atau dengan singkat dapat dikatakan bahwa membudayakan agama berarti membumikan dan melaksanakan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi agama wahyu itu bukan ideologi dan bukan pula . Maka dapat dijelaskan bahwa agama (wahyu) dapat dijadikan sebagai ideologi. antara agama (wahyu). Seperti dalam mengideologikan agama. Ideologi ini dapat melahirkan suatu kebudayaan. Ideologi ini biasanya merupakan hasil kerja para filosof atau orang yang mau dan mampu menggunakan akalnya untuk memikirkan tentang diri dan lingkungannya atau segala yang ada. karena kebudayaan adalah hasil dunia.

melakukan dan komitmen terhadap ajaran-ajaran agama berarti telah hidup sesuai dengan kehendak-Nya dan berada dalam kebenaran serta kedamaian-Nya. Sebaliknya. sedangkan monoteisme murni merupakan wahyu dan hasil ciptaan Tuhan (Satu zat yang diyakini keabsolutannya). . meyakini. Dapat dikatakan bahwa agama monoteisme murni merupakan jawaban yang paling tepat dan final dalam mencari agama serta kebenaran hakiki yang diciacitakan. agama akal. Ragam agama yang terakhir ini merupakan jawaban dari pertolongan Tuhan terhadap manusia setelah ―gagal‖ mencari kedamaian dan atau kebenaran hakiki melalui indera. agama-agama selain monoteisme murni merupakan hasil kontemplasi manusia. berarti “patuh” dan “menyerahkan diri”. adanya penyerahan diri (= kata aslama) karena adanya tujuan hidup damai (= silm). Islam telah memiliki ciri-ciri di atas. Untuk membuktikan bahwa Islam tidak memiliki ciri-ciri khusus di atas sama sulitnya dengan membuktikan adanya ciri-ciri tersebut dalam agama selain Islam. Agama wahyu disebut juga dengan agama langit. tunduk dan patuh kepada kehendak penciptanya disebut “Muslim”. Dialah Tuhan Yang Satu. Kemudian. Syarat mencapai suatu kebenaran dan kedamaian yang sebenarnya haruslah terlebih dahulu mengenal Islam secara tepat dan benar. berarti “selamat sejahtera”. Selanjutnya. Para linguist bahasa Arab menyatakan bahwa kata “Islam” berasal dari kata ―aslama”. Ideologi dan kebudayaan dapat merupakan pencerminan dari suatu agama apabila hal itu dilakukan oleh seorang yang taat beragama. Bila kita amati secara obyektif. Adanya kata pertama karena kata kedua. komitmen terhadap ajaran-ajarannya. tanpa wahyu pun manusia dapat menciptakan ideologi dan kebudayaan dan dapat pula melahirkan suatu agama yaitu agama budaya. bahkan tidaklah mungkin. menemukan agama monoteisme murni untuk dipeluk berarti telah memegang kunci kebenaran serta Kedamaian yang sebenarnya. Islam sebagai Ideologi Ditinjau dari segi munculnya. Kerasulan dan ajaran-ajaran yang menunjukkan kesatuan (Tauhid) yang murni. mengandung pengertian “damai”. Budha. Inilah yang sebenarnya dicari-cari manusia (fitrah). sebab kunci itu milik dan datang dari pemilik kebenaran yang sebenarnya. baik konsep Ketuhanan. termasuk aliran kepercayaan. agama-agama yang dipeluk umat manusia di dunia ini dapat diklasifikasi menjadi dua bagian yaitu agama wahyu dan agama budaya. Yang termasuk agama wahyu dapat disebutkan di sini misalnya agama Yahudi.kebudayaan. agama filsafat. Kedua asal kata Islam yakni ―aslama‖ dan ―silm‖ mempunyai hubungan pengertian yang mendasar. agama profetis dan revealed relegion. Kong Hu Cu. nonrevealed relegion dan natural relegion. Kata ini berakar pada kata “slim”. Yang termasuk agama budaya dapat disebutkan di sini misalnya: Agama Hindu. agama Kristen dan agama Islam. Di sinilah letak urgensinya studi awal terhadap agama. Orang yang menyatakan dirinya Islam atau berserah diri. Sedangkan agama budaya disebut juga sebagai agama bumi. Shinto dan sebagainya. Ditinjau dari sumbernya.

namun pada prinsipnya mengarah pemahaman yang sama. Namun nama ―Islam‖ mengandung pengertian yang mendasar. Al Qur’an mempergunakan kata Islam di berbagai tempat dengan pengertian yang berbeda-beda. Istilah ―Mohammadanisme‖ membuka peluang bagi timbulnya berbagai interpretasi serta persepsi terhadap Islam yang diidentikkan dengan agama-agama lain yang jelas berbeda konsepsi. dalam . Jadi pengertian Islam secara lughowi pada prinsipnya: Penyerahan diri secara bulat kepada Allah yang melahirkan satu sikap hidup tertentu.Terwujudnya suatu ―kedamaian‖ apabila adanya penyerahan serta kepatuhan (Islam) terhadap Sang Pencipta.a. Budha (Budhisme) dari nama pembawanya (Sang Budha Gautama). tetaplah sama. Kristen. Kalau di sana terdapat perbedaan-perbedaan. Sejak awal sejarah lahirnya manusia. Zoroaster (Zoroasteranisme) dari pendirinya. Mengenai konsep Tuhan Yang Satu dan ajaran penyerahan diri kepada Allah. terdapat satu bentuk petunjuk yang berupa wahyu ilahi melalui seorang rasul (agama Allah). diambil dari nama pembawanya 0esus Kristus). tunduk disertai dengan ikhlas hanya kepada Allah. Islam sebagai agama universal dan eternal merupakan wujud realisasi konsep Rahmatan lil Alamin (rahmat bagi seluruh umat). Para orientalis menyebut ―Islam‖ dengan istilah ―Muhammadan-isme‖ mereka mengasosiasikan sebutan ini dengan sebutan-sebutan bagi agama-agama selain Islam yang dianologikan pada pembawanya atau tempat kelahirannya. Menurut salah satu Literatur dengan judul ” Jejak Kanjeng Sunan.s. Mengenai konsep totalitas serta ke-sempurnaan agama Islam maupun keabsahannya dari agama-agama Allah yang lain yang datang sebelumnya. berserah diri disertai dengan amal saleh serta sikap tegar dan optimistis. Perjuangan Wali Songo ”(1999) yang diterbitkan oleh Yayasan Festival Walisongo. Hubungan semua rasul sejak Adam a. akan mendapatkan kedamaian. Keberadaan Islam di Indonesia secara historis tidak terlepas dari sejarah Islam masuk Pertama kali di Tanah Jawa. Dalam hal ini Allah telah berjanji kepada siapa pun yang menyerahkan diri disertai dengan amal saleh. kapan dan di mana saja. bagaikan mata rantai yang selalu datang berkesinambungan dan merupakan penyempurnaan ajaran sebelumnya sehingga agama Allah tersebut akan mampu menjawab seluruh hajat manusia di pelbagai zaman. Agama Islam bukanlah milik pembawanya yang bersifat individual ataupun milik dan diperuntukkan suatu golongan atau negara tertentu. karena perbedaan dalam memahami konsep-konsep yang bersifat umum dalam masalah-masalah mua’malah dan bukanlah masalah yang fundamental.w.. Yahudi (Yuda-isme) dari negerinya (Yudea). sebab dalam penyerahan (Islam) ini terdapat konsekuensi sikap muslim yang logis. tidak pernah gentar. Pengertian Islam secara umum: mengandung dimensi-dimensi iman yang tidak dikotori oleh unsur-unsur syirik. Islam sebagai Budaya dalam perspektif masyarakat Jawa. Agama-agama Allah tersebut pada prinsipnya Agama Islam (= agama yang menyerahkan diri hanya kepada Tuhan Yang Satu). Agama Nasrani diambil dari negeri kelahirannya (Nazaret). pesimis dan takut dalam hidupnya. berdasarkan ajaran yang mereka bawakan. sampai Muhammad s.

Hindu. Dengan definisi itu. yaitu : 1.sejarah Syeh Maulana Malik Ibrahim menceritakan bahwa masuknya Islam di Jawa Pertama kali dibawa oleh Syeh Maulana Malik Ibrahim dan sebagai pendiri Pondok Pesantren Pertama di Indonesia. tuyul (makhluk halus yang menyerupai anak-anak. Deskripsi singkat dari tiap-tiap tipologi keagamaan tadi dapat dikemukakan demikian. Kedua. Pertama. dan sebagainya. Perjuangan Wali Songo ”(1999). agaknya kata lain yang lebih cocok untuk menyubstitusi istilah santri adalah . Para ahli berpendapat bahwa sekitar tahun 1416 M agama Islam sudah mulai dikenal oleh masyarakat Jawa. Slametan Suro (bersih deso). yaitu masuk ke dalam tubuh manusia dan menyebabkan seseorang jatuh sakit atau gila). Slametan perkawinan. Dalam buku yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Penduduk setempat yang masih kotor-kotor. Menurut buku ” Jejak Kanjeng Sunan. Orang – orang Cina yang pola hidupnya hampir sama dengan orang Islam. walaupun mereka bukan orang Jawa asli tetapi mampu mengantisipasi keadaan masyarakat yang dihadapinya. hidupnya teratur dan makanannya enakenak. Slametan kematian. memaparkan tipologi atau kategori agama masyarakat Jawa melalui tiga varian yang disebutnya: Abangan. seperti: Slametan kelahiran. Santri. masyarakat Jawa pada umumnya adalah penganut animisme dan dinamisme yang juga sebagai pemeluk agama Hindu/Budha dan berada dibawah pemerintahan kerajaan Mojopahit. Orang – orang Islam yang berpakaian bersih. Masyarakat menganut struktur sosial yang berkasta. bahkan di antara mereka banyak yang sudah muslim. 2. bahkan menurut sumber Tiongkok. Geertz menulis sebuah buku yang amat menggemparkan jagat akademik Indonesia: The Religion of Java. kasta waisya. dan Islam. kasta ksatria dan kasta brahmana. Geertz mendefinisikan santri sebagai orang Islam yang taat pada ajaran-ajaran atau doktrin agama dan menjalankannya secara taat berdasarkan tuntunan yang diberikan agama. yaitu kasta sudra. Slametan desa. tiga varian keberagamaan masyarakat Jawa diambil dari istilah yang digunakan oleh orang Jawa sendiri ketika mendefinisikan kategori keagamaan mereka. Slametan khitanan. Menurut Geertz. 3. Abangan. seperti memedi (suatu istilah untuk makhluk halus secara umum).seperti yang dikutip diatas. Model masyarakat inilah yang menjadi obyek dakwah para penyebar agama Islam. tentang Agama masyarakat Jawa ini. Santri. ketika perutusan Tiongkok datang ke Jawa Timur 1413 M. Pada masa itu. mereka melihat adanya tiga masyarakat. tapi bukan manusia). Pengejawantahan dari kelompok sosial Abangan ini dapat dilihat dalam berbagai kepercayaan masyarakat Jawa terhadap berbagai jenis makhluk halus. tidak bersongkok dan tidak bersepatu. Kalangan Abangan juga sangat rajin dalam mengadakan berbagai upacara slametan. lelembut (makhluk halus yang mempunyai sifat kebalikan dari memedi. Sebagaimana sudah menjadi wacana yang amat familiar dalam dunia akademik. Istilah ini didefinisikan oleh Geertz sebagai teologi dan ideologi orang Jawa yang memadukan atau mengintegrasikan unsur-unsur animistik. dan Priyayi.

Akibatnya Islam menurut pendapat Geertz. dapat dikategorikan sebagai kalangan priyayi modern. menurut Muhaimin (2002) di Jawa.estetika. Islam adalah Tradisi asing yang dipeluk dan dibawa oleh para saudagar musafir di pesisir. yaitu ada yang disebut santri konservatif dan santri modern. . yakni kerajaan Jawa Hindu/Budha. melainkan ke salah satu wilayah bentukan politik. Santri konservatif atau santri kolot adalah kelompok santri yang cenderung bersikap toleran terhadap berbagai praktik keagamaan setempat yang merupakan warisan nenek moyang. kalangan santri ini justru sangat patuh terhadap doktrin Islam dan ritual. seni dan praktik mistik. telah berakar kuat di masyarakat Indonesia (khususnya di Jawa. tapi hanya menyelaraskannya‖. Pengaruh Islam dapat dikatakan tidaklah terlalu besar. religius dan sosial terbesar di Asia. Pengejawantahan dari kelompok sosial priyayi ini dapat dilihat dalam berbagai etiket. Tujuan yang hendak dicapai dengan adanya praktik mistik ini adalah mencapai kejernihan pengetahuan yang dalam. dengan titik kuat pada keyakinan dan keimanan. Etiket di kalangan Priyayi menyangkut bahasa lisan dan bahasa sikap. Komunitas muslim itu kemudian memeluk suatu sinkritisme yang menekankan aspek kebudayaan Islam. walau tak hanya disana). Ketiga. aspek seni dan kepercayaan priyayi dinyatakan dalam berbagai manifestasi. Tampaknya. Priyayi. Sementara itu. Sementara itu santri modern adalah mereka yang cenderung meninggalkan ritualitas konservatif tersebut. dalam penelitian Geertz. Bahasa lisan terlihat dari tingkatan bahasa yang dipakai dalam percakapan sehari-hari. seperti yang dinyatakan dalam bentuk tembang atau disebut juga dengan istilah wirama. baik karena banyak harta atau mempunyai jabatan tertentu. c) Priyayi. mereka yang mempunyai status sosial cukup tinggi. Tampaknya. yang terdiri atas : a) Abangan.Muslim sejati. Agama ini hanya menyentuh kulit luar budaya Hindu-Budha-Animistis yang telah berakar kuat. b) Santri. Bagi masyarakat Jawa. C (1975)” Islam tidak bergerak ke wilayah baru. Geertz mendefinisikan priyayi sebagai kelompok orang yang mempunyai garis keturunan (trah) bangsawan atau darah biru. yang menekankan unsur sinkritisme Islami dan umumnya berkaitan dengan elemen pedagang dan dengan elemen petani tertentu. yang menitik beratkan unsur Hinduisme dan berkaitan dengan elemen-elemen birokrat. Fenomena ini juga dijelaskan . yang walaupun pada masa itu mulai melemah. Santri konservatif ini juga diindikasikan dengan masih kuatnya mereka berpegang pada rujukan Kitab Kuning dalam kelompok santri konservatif ini. Berbeda dengan kalangan Abangan yang cenderung mengabaikan terhadap berbagai ritual Islam. seperti tradisi slametan. Hasil dari seluruh proses tersebut adalah masyarakat Jawa kontemporer dengan sejumlah kelompok sosio-religiusnya yang rumit. Adapun aspek mistik merupakan kelanjutan dari aspek seni tadi. yakni mereka yang mempunyai kaitan langsung dengan raja-raja Jawa dahulu. Saat ini. tipologi Santri ini juga mempunyai sub-sub tipologi atau subvarian. ‖Islam tidak menyusun bangunan peradaban. varian ini mengalami pemekaran makna yang cukup signifikan. atau mereka yang masih menitik beratkan unsur animistis dari keseluruhan sinkritisme Jawa dan berkaitan erat dengan elemen petani. Melalui proses panjang asimilasi secara damai dan berhasil membentuk kantong-kantong masyarakat pedagang di beberapa kota besar dan dikalangan petani kaya.

. Geertz. Karena pondasi sudah tidak ada lagi.pahing kliwon.wage. Adat istiadat yang berkembang di daerah Jawa tetap bernafaskan Islam. Jakarta: Rajawali. Di situ ada praktik magis berupa kepercayaan kepada roh.Keadaan kebudayaan masyarakat ini sebenarnya seirama dengan situasi etnis (suku bangsa) pendatang. la melihat adanya perpaduan antara kepercayaan asli masyarakat Jawa dan kepercayaan Islam yang datang belakangan. Geertz sampai pada muara kesimpulan bahwa yang dinamakan agama Jawa tidak lain adalah sinkretisme. Adanya kepercayaan animisme/dinamisme. Clifford. M. ketika seseorang menggali sumur. misalnya. budaya slametan. Sampai sekarang terlihat bahwa kebudayaan mereka berlatar belakang ajaran Islam. Ternyata pondasi sudah tidak ada lagi. Variasi agama di Jawa. Yang dapat diketahui sesudah berkembangnya agama Islam di Jawa. Akhirnya. Ketika emosi muncul tiba-tiba galian tanah yang mau dipakai untuk sumur tidak bisa dilanjutkan karena ada pondasi yang terbuat dari batu merah persis batu merah yang ada di candi Trowulan.RajaGrafindo persada. Jakarta. Mojokerto. Agama dalam Analisis dan Interpretasi Sosiologi. walaupun bentuk dan tata cara pelaksanaanya berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat lain dalam satu desa. Ishomuddin. 2001. besuknya. Sumber: Amin Abdullah. Normativitas atau Historisitas. 1996. Konflik dan Interaksi.pon. Sesampainya di sawah. tetapi masih ada lagi pengalaman nyata yang dialami oleh orang-orang Islam lainnya yang ada di Jawa dan bukan menjadi rahasia umum lagi. pitonan bayi. 1992. dalam praktik slametan yang biasanya dilakukan oleh kalangan Abangan.suatu pendekatan antropologi. PT. Studi Agama. Sosiologi Pespektif Islam. Malang: UMM Press. Pada praktik slametan terkandung berbagai unsur adat lokal dan Islam. Hal ini dapat dilihat. mereka mau menggali sumur di tempat sebelahnya. Sehingga Islam melebur dalam budaya masyarakat dan mampu mewarnai setiap gerak kehidupan yang ada tanpa melepaskan akidah dan syariatnya. mereka melanjutkan penggaliannya di tempat itu dengan keyakinan bahwa di tempat ini ada danyangnya (makhluk ghaib yang menjaga tempat itu). penerapan penanggalan Jawa : legi. . dan ada pula penyisipan unsur Islam. Beatty. bersih deso. Misalnya . saat itu agak emosi karena ada sesuatu yang kurang pas dengan pekerja sawahnya. Andrew. dimana secara tegas tidak diketahui secara pasti ketika itu. 1997. Dimana orang-orang Islam yang ada di Jawa. Maka dengan hormatnya mereka mengadakan ritual adat berupa permintaan maaf dan permohonan ijin kepada sang penunggu dengan sesaji berupa slametan. sebagian masih percaya dengan animisme dan dinamisme. dalam : Roland Robertson (ed). Agama di Jawa. yaitu doa yang dikumandangkan pada saat selesai melakukan acara slemetan. Kejadian semacam tadi tidak hanya dialami oleh satu orang saja. Akhirnya mereka berhenti dan pulang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Bahkan juga kesenian dan kebudayaan lainnya turut berkembang sehingga terlihat adanya percampuran antara Hindu dan Islam contoh pagelaran wayang kulit.

Alwi. Roland. Islam Inklusif. Ahmad. Agama: Dalam Analisa dan Interretasi Sosiologis. 1992. http://bayu96ekonomos.AG.com/anda-tertarik/artikel-sosial-budaya/islam-sebagaiideologi-dan-islam-sebagai-budaya/ . Jakarta.T. All. 2002. P. Wahid. Abdurrahman ET. Dialog : Kritik dan Identitas Agama.Muhaimin .wordpress. Membumikan Islam. Bandung: Mizan. Syafi`I Maarif. Roberson. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Achmad Fedyani Saifuddin. Jakarta: CV. Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama.. Islam Dalam Bingkai Budaya Lokal Potret dari Cirebon. Fajawali. Syihab. Yogyakarta: Seri Dian I Tahun I. Terj. Logos Wacana Ilmu. 1995. 1997. 1997. (ed).

ISLAM SEBAGAI PANDANGAN HIDUP (di Bidang budaya) LUSI SULASTRI 170110120086 Ilmu administrasi Negara Fakultas ilmu social dan ilmu politik .