Anda di halaman 1dari 8

Contoh Korban Kesetaraan Gender?

RATNA Sarumpaet sempat keheranan. Pasalnya, para kaum perempuan, para kaum ibu tidak begitu antusias merespon pencalonannya sebagai presiden Republik Indonesia. Padahal menurut ekspektasi (perkiraan disertai harapan) Ratna, sebagai sesama perempuan, para kaum ibu itu seharusnya antusias merespon keberaniannya maju sebagai calon presiden. Namun kenyataannya, para kaum perempuan, para kaum ibu itu justru lebih tertarik memilih presiden berjenis kelamin laki-laki dan ganteng. Sebagaimana diucapkan Ratna pada forum seminar bertajuk Menimbang Kebijakan Pengesahan RUU Pornografi di Graha Mahbub Junaedi, Jl Salemba Tengah, Jakarta Pusat, hari Minggu 21 September 2008, Saya mencalonkan diri sebagai capres wanita, tetapi ibu-ibu lebih memilih SBY yang ganteng itu. Ratna juga mengeluh karena dia tidak mendapat dukungan dari kaum perempuan, kecuali dari korban Lapindo. (http://forum.detik.com/archive/index.php/t-60902.html). Mengapa hal itu bisa terjadi? Mungkin karena para kaum perempuan itu, para kaum Ibu itu masih bingung mengidentifikasi seorang Ratna Sarumpaet. Secara jenis kelamin (sex), Ratna Sarumpaet sudah pasti digolongkan sebagai perempuan. Apalagi ia terbukti pernah bersuami dan melahirkan sejumlah anak. Tetapi secara gender, para kaum ibu itu mungkin bingung mau memasukkan Ratna ke dalam kelompok lelaki (maskulin) atau perempuan (feminin)? Jadi, kalau kaum perempuan dan kaum Ibu itu lebih cenderung memilih presiden yang ganteng (laki-laki), mungkin karena mereka tidak mengalami kesulitan ketika melakukan identifikasi terhadap pilihannya. Bolehlah dikatakan, bahwa dari kasus ini Ratna Sarumpaet telah menjadi korban dari konsep kesetaraan gender. Sebuah konsep yang tidak dimengerti oleh orang banyak, sebuah konsep yang tidak dipedulikan oleh orang banyak. Tetapi hanya dimengerti dan dipedulikan oleh sebagian amat sangat kecil anggota masyarakat yang terbawa arus snobisme (bangga diri).

Tentang Gender Kosakata gender tiba-tiba saja menjadi sesuatu yang digandrungi oleh sebagian cewek-cewek (maaf, lafal ini sengaja digunakan sesuai dengan maqomnya) yang disebut sebagai aktivis perempuan. Menurut Suryanto, ada perbedaan antara istilah jenis kelamin (seks) dengan gender. Jenis kelamin merupakan pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu. Misalnya, laki-laki memiliki penis, memiliki jakala, dan memproduksi sperma. Sedangkan perempuan memiliki alat reproduksi seperti rahim, leher rahim, vagina, alat untuk menyusui dan memproduksi sel telur. Sedangkan gender adalah seperangkat peran yang menyampaikan kepada orang lain bahwa seseorang itu feminin atau maskulin. (http://suryanto.blog.unair.ac.id/2009/02/11/gender-apa-itu/) Jika jenis kelamin bersifat menetap (permanen), gender tidaklah demikian, tetapi dibentuk secara sosial. Atau dalam bahasa para aktivis kesetaraan gender, seperangkat peran yang dijalani seseorang (gender) merupakan konstruksi sosial. Secara ilmiah, gender merupakan konstruksi sosial adalah pendapat yang aneh. Menurut Inal

(http://www.forumsains.com/artikel/memahami-sains-memahami-gender/), perbedaan laki-laki dan perempuan bukan karena konstruksi sosial, tetapi karena secara biologis memang berbeda sehingga kecenderungan psikologis antar keduanya juga berbeda. Fenomena itu terwujud nyata di berbagai kebudayaan, kelas, etnis, agama, baik di masa kini maupun di masa lampau. Sayangnya, penjelasan ilmiah semacam itu dinilai tidak relevan oleh para aktivis kesetaraan gender, mereka justru mengkritik para ilmuwan dianggap sama sekali tak berpihak kepada kesetaraan gender. Lebih jauh mereka menganggap para ilmuwan dan lembaga keilmuan sama tak beresnya dengan institusi lain yang cenderung meminggirkan kaum perempuan sejak 1990-an. Bagi Helena Cronin (filsuf ilmu alam dan salah seorang direktur di Centre for Philosophy of the Natural and Social Science), mengabaikan penjelasan ilmiah soal gender, merupakan tindakan yang keliru. Dalam sebuah esainya yang diberi tajuk Darwinian Insights into Sex and Gender, Helena Cronin mengatakan, pemahaman ilmiah justru sangat berguna dalam membantu kita bagaimana seharusnya memandang persoalan kesenjangan gender. Secara ilmiah sudah dikatakan sejak lama, adalah keliru bila gender merupakan konstruksi sosial, merupakan bentukan sosial, merupakan rekayasa sosial. Bahkan secara empirik, juga telah dibantah. Misalnya, pada kasus yang terjadi pada tahun 1960, di Amerika Serikat. Ketika itu, seorang anak laki-laki bernama John mengalami kerusakan penis parah akibat tindakan sirkumsisi yang ceroboh. Untuk mengatasinya, dokter memutuskan melakukan amputasi dan mencoba mengubah si anak laki-laki tadi menjadi perempuan melalui kastrasi (kebiri), pembedahan, dan terapi hormon. Nama John diubah menjadi Joan, didandani sebagai perempuan, dan diberi boneka. Dia pun tumbuh menjadi seorang gadis. Tiga belas tahun kemudian (1973) seorang psikolog bernama John Money menyatakan, bahwa Joan adalah remaja (putri) yang sukses direkayasa dengan baik. Sekaligus membuktikan bahwa peran gender dapat dibangun lewat pendekatan sosial (konstruksi sosial). Namun di tahun 1997, pernyataan John Money terbantahkan. Menurut penuturan Joan, di masa kanak-kanak dia sangat tidak bahagia, dia selalu ingin memakai celana panjang, bercampur dengan laki-laki, buang air kecil sebagaimana layaknya anak lakilaki. Ketika usianya menginjak 14 tahun, Joan berhasil mengetahui kejadian yang sesungguhnya dan itu justru membuatnya lega. Dia pun menghentikan terapi hormon, mengubah kembali namanya menjadi John, kembali menjalani hidup sebagai laki-laki, menjalani operasi pengangkatan payudara, dan pada usia 25 tahun menikahi seorang janda serta mengadopsi anak. Melalui John yang direkayasa menjadi Joan dan kembali menjadi John, telah dapat dibuktikan bahwa yang berperan dalam penentuan gender adalah faktor bawaan, bukan rekayasa sosial. Bukti makin diperkuat dengan sejumlah penelitian di bidang neurologi dan genetika yang senantiasa mengarah pada kesimpulan serupa.

Tentang Ratna Sarumpaet Salah satu aktivitas menonjol dari Ratna Sarumpaet adalah menolak undangundang pornografi, sejak masih bernama RUU APP (Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi) hingga RUU Pornografi. Namanya tercantum dengan huruf kapital pada petisi AKKBB yang dipublikasikan antara lain oleh harian Kompas edisi 30

Mei 2008 lalu. Cewek kelahiran Tarutung (Sumatera Utara) tanggal 16 Juni 1949 ini, meski menolak UU Pornografi, namun emoh dikatakan mendukung pornografi. Pada salah satu media online, Ratna Sarumpaet pernah mengatakan, Jangan salah ya. Seperti yang digembar-gemborkan kalau Ratna Sarumpaet itu mendukung atau menikmati pornografi, saya justru menolak pornografi. Saya kan juga punya anak cucu, tapi di sini saya tidak setuju sama undang-undang pornografi karena tidak relevan dan ada masalah dalam undang-undang tersebut. Tapi saya nggak menyalahi juga sama orang yang setuju dengan undang-undang tersebut karena mungkin mereka melihat dari masalah moral seperti sekarang ini. Jadi buat saya yang jadi masalah itu adalah bagaimana memperbaiki moral bangsa(http://www.kapanlagi.com/h/0000256676.html) Dari pernyataan itu, kita bisa melihat betapa Ratna sedang berada dalam kebingungan yang amat sangat. Menurut pengakuannya, ia tidak mendukung dan tidak menikmati pornografi. Namun, ia hanya tidak setuju dengan undang-undang pornografi yang menurutnya bermasalah dan tidak relevan. Lha, Ratna khan seorang seniman, bukan pakar di bidang penyusunan undang-undang, bukan ilmuwan yang pernah meneliti dampak pornografi, dan sebagainya. Lalu untuk apa Ratna ngotot menolak undang-undang pornografi yang dikatakannya bermasalah dan tidak relevan itu? Jawabannya sudah jelas, yaitu islamophobia dan syariat phobia. Bagi Ratna dan organisme sejenisnya, undang-undang pornografi adalah syariat Islam, sehingga perlu ditolak, meski isinya sangat bagus sekalipun. Mungkin sikap Ratna akan berbeda bila rumusan undang-undang sejenis diberlakukan di negeri Belanda, Jepang, Amerika Serikat, dan sebagainya yang mayoritas penduduknya non Muslim. Lagi pula buat apa Ratna begitu ngotot menolak sebuah undang-undang, bukankah sudah menjadi tabiat bangsa Indonesia yang gemar melanggar aturan yang sudah dibuat. Kalau toh RUU itu disahkan menjadi undang-undang, paling hanya beberapa saat saja dipatuhi, setelah itu masyarakat akan kembali menemukan celah strategis untuk melanggarnya. Kebiasaan ini terjadi hampir di seluruh aspek kehidupan. Makanya, korupsi tidak bisa diberantas tuntas meski ada berbagai undang-undang dan lembaga yang menanganinya. Sehingga kerusakan lingkungan terus saja terjadi karena aturan yang ada diabaikan, barulah jika terjadi bencana seperti di Situ Gintung Tangerang Banten (27 Maret 2009), kewaspadaan terhadap lingkungan kembali ditonjolkan, meski hangat-hangattembelek. Berbeda dengan Ratna dan organisme sejenisnya, mereka yang mendukung diterbitkannya undang-undang pornografi, meski tahu undang-undang itu belum tentu efektif, setidaknya hal itu dapat dijadikan landasan membangun harapan terhadap Indonesia yang lebih baik, terbebas dari pornografi, terbebas dari pornoaksi, rendah kasus-kasus perkosaan dan pelecehan seksual, dan sebagainya. Menggantungkan harapan melalui sebuah rumusan undang-undang, apa salahnya? Yang salah, adalah mereka yang justru mempersoalkan orang-orang yang berharap. Mosok sih berharap saja tidak boleh? Kejam nian!.

Ivan, Ruben dan Olga Kalau Ratna Sarumpaet merupakan kaum perempuan yang menjadi korban konsep kesetaraan gender, bagaimana bila yang jadi korban adalah kaum laki-laki? Barangkali sosok korban itu bisa dilihat pada diri Ivan Gunawan, Ruben Onsu, dan Olga Sahputra. Ivan Gunawan adalah lelaki kelahiran Jakarta, 31 Desember 1981, yang kini merupakan salah satu perancang busana terkenal. Orangtuanya berprofesi sebagai diplomat.

Adji Notonegoro, sang paman, telah lebih dulu menjadi perancang busana terkenal di Indonesia. Secara jenis kelamin, Ivan Gunawan adalah laki-laki. Tetapi secara gender, belum tentu: bisa feminin, bisa maskulin. Kenyatannya, Ivan Gunawan begitu fleksibel mengganti peran. Kadang feminin, kadang maskulin. Tapi lebih sering feminin. Sebagai Muslim, Ivan juga pernah menjalankan ibadah umroh ke tanah suci. Namun feminitasnya tidak lekang, ketika itu ia menggunakan gamis berwarna pink (sebuah warna feminin). Olga Sahputra barangkali juga bisa dimasukkan ke dalam deretan korban kesetaraan gender. Dia sadar betul dirinya laki-laki, bahkan dia pernah mengatakan, Biarpun Olga klamar-klemer kayak gini, cewek masih bisa bunting sama Olga Selain menyadari dirinya laki-laki yang bisa menghamili wanita, Olga juga sadar bahwa dirinya punya gesture (gerak langkah) perempuan. Bahkan ia sadar, berperan sebagai perempuan dalam rangka memenuhi permintaan pasar (jadi presenter, pemain sinetron, pelawak). Dari sinilah, Olga bisa meraup ketenaran dan kekayaan. Begitu juga dengan Ruben Onsu, laki-laki kelahiran Jakarta, 15 Agustus 1983, ia menyadari betul dirinya secara jenis kelamin adalah laki-laki. Namun ia juga sadar betul secara gender (meski kita yakin ia tidak tahu apa-apa soal konsep gender), ia bisa berperan feminin. Ketiganya, Ivan, Olga dan Ruben punya ciri khas yang sama, yaitu cenderung kasar dalam menampilkan banyolan, ceplas-ceplos, bahkan vulgar. Tapi, anehnya gaya seperti inilah yang diminati penonton. Artinya, penonton, pelakon, dan produser samasama sakit. Nah, dari beberapa contoh para korban kesetaraan gender tadi, kita sudah semakin bisa memahami apa yang sedang diperjuangkan para aktivis perempuan (aktivis kesetaraan gender). Yaitu, mereka ingin menciptakan kaum perempuan seperti Ratna Sarumpaet, sedang kaum lelaki seperti Ivan-Olga-Ruben. Dari situ sikap islamo phobia (ketakutan kepada Islam) atau bahkan anti Islam disalurkan, untuk membentuk manusia-manusia yang dilaknat menurut ajaran Islam. Sebagaimana sifat berseteru, orang akan berupaya menampilkan apa-apa yang menjadi kebencian seterunya. Demikian pula para pembenci Islam tentu akan berupaya apa saja yang jadi larangan Islam, bahkan yang dilaknat oleh Islam. Di antara yang dilaknat oleh Islam adalah perempuan yang bergaya laki-laki dan juga laki-laki yang bergaya perempuan.

Laki-Laki Tidak Sama dengan Perempuan Dalil ayat Al-Quran dan Hadits menunjukkan, laki-laki tidak sama dengan wanita. Di antaranya ayat Al-Quran menegaskan: 1.

Dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. (Ali Imran : 36) 2.

Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. (AlBaqarah: 228)

Hal ini karena suami bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kesejahteraan rumah tangga. (Al Quran dan Terjemahannya, Depag RI hal 55) 3.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita). (An Nisaa: 34) Perbedaan antara lelaki dan perempuan serta kedudukan laki-laki sebagai pemimpin atas perempuan, dan kelebihan derajat laki-laki atas perempuan; itu semua ditentukan oleh Allah. Sehingga tidak boleh saling menyerupakan diri. Allah melaknat laki-laki yang menyerupakan diri sebagai wanita dan sebaliknya. Rasulullah menegaskan hal ini.

Allah melaknat laki-laki yang menyerupakan diri dengan wanita dan perempuanperempuan yang menyerupakan diri dengan laki-laki. (HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari Ibnu Abbas, Shohih). Lihat Shohih Bukhori kitab Libas.

6885 .
(020

Dan dari Ibnu Abbas juga, dia berkata: Nabi SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki, dan beliau bersabda, Usir mereka dari rumah kalian. Ibnu Abbas mengatakan , Maka Nabi pun mengusir si Fulan, sedangkan Umar mengusir si Fulanah. (HR Bukhari nomor 5886) .

. ( -) 11 /

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki. (HR Abu Daud dan Al Hakim, dari Abu Hurairah, Shohih). (Lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Polemik Presiden Wanita, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 1998). (haji/ tede).

- -

Anggota Komisi VIII DPR RI, Ingrid Kansil mengharapkan semua pihak bekerjasama untuk menciptakan pemahaman kesamaan gender. "Rancangan Undang-Undang Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) ini, saya mendorong seluruh pihak baik eksekutif, legislatif, yudikatif dan swasta untuk berperan dalam implementasi kesetaraan dan keadilan gender di seluruh bidang," kata Ingrid kepada ANTARA, Jakarta, Rabu (7/12). Untuk menciptakan pemahaman kesamaan gender agar tidak bias, ia mengusulkan perlunya revisi ulang terhadap kurikulum dan buku bacaan anak-anak sekolah, mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Menurut Ingrid, usulan itu nantinya diharapkan terjadinya pemahaman tentang kesamaan gender pada murid yang selama ini dinilai bias. "Menurut saya, pendidikan sekolah dengan kurikulum yang tepat dapat memberikan efek pada pemahaman persamaan gender pada murid sebagai tujuan, strategi dan praktek di kehidupan yang akan datang," kata Ingrid. Ia menambahkan, hasil riset Australia National University bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta menyebutkan bahwa kurang lebih 70 persen buku pegangan sekolah anak sangat bias gender. "Di dalam buku-buku sekolah anak pada tingkat SD hingga SMP cenderung menggambarkan bahwa perempuan bertugas pada urusan rumah atau domestik, sedangkan laki-laki bertugas di luar rumah dan lebih profesional," kata Ingrid. Selain itu, banyaknya pemahaman yang bias tentang gender karena pemahaman tersebut dalam penerapannya sudah salah sejak dini. Ia menyebutkan, hal itu terlihat dari pola perbedaan pengasuhan bagi anak perempuan dan laki-laki sampai pada pola pendidikan di usia dini. Begitu juga dengan pemberian layanan umum atau publik yang belum ramah anak. Misalnya, kata Ingrid, seluruh kantor dan mall-mall belum semuanya menyediakan ruang bagi ibu untuk menyusui serta ruang bermain bagi anak usia 0-5 tahun. Di bidang transportasi pun, masih banyak orang tua yang membawa anak-anak mereka dalam jumlah 2-3 orang di kendaraan bermotor tanpa memperdulikan keselamatan anak-anak mereka, dan anak-anak yang ditempatkan di depan saat mengendarai mobil Poin lain yang tidak kalah penting lagi, paparnya, seluruh tayangan televisi (sinetron, film anak-anak) seharusnya bisa memberikan contoh-contoh kesetaraan gender, bukan malah semakin memperkukuh bias gender pada pemahaman masyarakat. "Kondisi ini lah yang menurut saya sangat penting untuk didorong agar memberikan pemahaman, pelayanan dan perlindungan bagi anak-anak tanpa perbedaan," katanya. Artinya perbedaan pemahaman, pelayanan dan perlindungan bagi anak perempuan dan laki-laki hanya disesuaikan pada kebutuhan mereka saja, tetapi keduanya memiliki hak untuk mendapatkan seluruh pemahaman dan pelayanan yang setara," kata istri Menteri Koperasi dan UKM, Syarief Hasan itu. Saat ini, pembahasan RUU KKG masih dalam tahapan menerima masukan dari seluruh pemangku kepentingan. Salah satunya adalah menerima masukan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). (Arbi)

INILAH.COM, Bandung - Isu utama soal kesetaraan gender dimulai dari lingkungan paling kecil yaitu keluarga. Karena itu, pembelajaran awal soal gender harus ditanamkan melalui contoh orang tua kepada anaknya. Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Jabar Netty Prasetyani Heryawan menjelaskan, proses kehidupan sehari-hari menjadi kata kunci dalam proses pemberdayaan gender dimulai dari keluarga. Pasalnya pola pengasuhan keluarga sangat membekas kepada anak. "Karena itu sangat tidak aneh jika perilaku anak itu akan mirip dengan orang tuanya. Anak pria akan mencontoh ayahnya memperlakukan seorang perempuan dan anak perempuan akan mencontoh ibunya," kata Netty dalam acara Roadshow Konsep Gender dalam Pelaksanaan Kehidupan Berkeluarga-Sosialisasi Pengarusutamaan Gender Pemprov Jabar bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar di Ruang Sanggabuana Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Senin (20/6/2011). Menurut Netty, anak akan meniru orang tuanya dalam menyikapi soal isu gender. Misalnya kondisi ayah yang kerap selalu didahulukan dan mendapat hak khusus dalam sebuah keluarga. Sementara sang ibu harus melayani segala kebutuhan keluarga, termasuk ikut menjadi penopang ekonomi keluarga. "Seharusnya keluarga memberi contoh menghargai hak dan kewajiban masing-masing secara merata. Anak juga harus dibiasakan menghargai perannya, peran orangtua secara benar, sehingga akan mampu menyikapi isu gender juga secara benar," tandasnya. Sebelum mendengar sambutan Netty, Menteri dan Gubernur Jabar menonton sebuah film kartun bertema gender yang menggambarkan konsep pembelajaran gender dalam kehidupan keluarga sehari-hari. [jul]

Kelahiran Kartini pada 21 April 1879, dianggap sebagai awal lahirnya sebuah emansipasi, emansipasi wanita. Saat itu, emansipasi masih dianggap sebagai bentuk usaha menghargai dan memberikan kebebasan kepada para wanita untuk melakukan apa pun yang menjadi haknya, termasuk mendapat pendidikan. Revolusi pun terjadi. Wanita-wanita mulai menunjukan eksistensinya sebagai makhluk Tuhan yang diciptakan bukan sekadar pelayan yang mengurusi urusan rumah dan buta tanpa sentuhan pendidikan. Seiring berjalannya waktu, persepsi bahwa emansipasi wanita adalah bentuk kebebasan yang beraturan (sesuai kodrat sebagai seorang wanita), perlahan berekspansi membentuk sebuah pengertian publik yang menganggap emansipasi adalah bentuk persamaan hak wanita yang sejajar dengan kaum pria. Pernyataan inilah yang kemudian menjadi dasar terbentuknya istilah "Persamaan Gender". Pembahasan gender akan terkait langsung dengan seks dan kodrat. Pengertian dari tiga konsep ini sering disalahartikan dalam masyarakat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), seks diartikan sebagai jenis kelamin, yang secara biologis adalah alat kelamin pria (penis) dan alat kelamin wanita (vagina). Salah satu pengertian kodrat menurut KBBI adalah kekuasaan Tuhan; manusia tidak akan mampu menentang (atas dirinya) sebagai makhluk Tuhan. Sedangkan gender berasal dari kata gender (bahasa Inggris) yang diartikan sebagai jenis kelamin secara sosial budaya dan psikologis. Menurut Bemmelen (2002), ada beberapa ciri gender yang dilekatkan oleh masyarakat pada pria dan wanita, yaitu wanita memiliki ciri-ciri lemah, halus atau lembut, emosional dan lain-lain. Sedangkan pria memiliki ciri-ciri kuat, kasar, rasional dan lain-lain. Dalam aplikasinya, peran seorang wanita sesuai gender salah satunya adalah ibu rumah tangga yang berfungsi sebagai tenaga kerja domestik yang mengurusi urusan rumah tangga. Pria secara otomatis akan berperan sebagai kepala rumah tangga yang menjadi tenaga kerja publik sebagai pencari nafkah. Persamaan gender sebagai kesetaran hak yang dianggap solusi untuk sebuah emansipasi jelas salah karena sejatinya wanita dan pria memiliki posisi dan perannya masing-masing. Makna emansipasi wanita sebenarnya bukanlah persamaan hak dengan kaum pria melainkan perjuangan kaum wanita demi memperoleh hak memilih, mendapatkan keadilan, dan menentukan nasib sendiri. Kita patut bersyukur, saat ini kiprah wanita tidak lagi dipasung seperti dulu. Kaum hawa telah diizinkan menempuh pendidikan, mengeluarkan pendapat, ide, dan gagasannnya dalam ranah politik, ekonomi, dan bidang-bidang yang lain. Prestasinya pun cukup menggiurkan dalam sektor-sektor publik. Bahkan telah tercatat, bangsa ini pun pernah dipimpin oleh seorang wanita. Satu hal yang harus direnungkan lagi adalah bahwa segala sesuatu yang diciptakan di bumi ini memiliki kekurangan dan kelebihan. Begitu pun halnya seorang wanita. Emansipasi adalah perjuangan memperoleh keadilan bukan penuntutan persamaan gender. Karena sampai kapan pun, kodrat wanita tidak akan bisa jadi pria. Wanita tercipta dari tulang rusuk kiri yang dekat ke hati untuk dicintai, dekat ke tangan untuk dilindungi.