Anda di halaman 1dari 8

PEMBEBASAN PPN ATAS PEMBANGUNAN RUMAH IBADAH Surat Dirjen Pajak : S-235/PJ.

53/2005 Tanggal :4/4/2005 DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan surat Saudara nomor xxx tanggal 7 Juni 2004, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut : 1. Dalam surat tersebut dikemukakan bahwa sehubungan dengan adanya rencana pembangunan gereja Santo Alfonsus di Jalan Pademangan II Gg. VII No. 1 Jakarta Utara, maka Saudara selaku Ketua Panitia Pembangunan Gereja meminta penegasan bagaimana perlakuan pembebasan PPN-nya apabila pembangunan gereja yang dibangun oleh kontraktor termasuk bahan bangunannya (pasir, semen, besi, dll) dimana harga dalam kontrak sudah merupakan satu kesatuan antara bahan dan jasanya.

2. Peraturan Pemerintah Nomor 146 tahun 2000 tentang Impor dan atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu dan atau Penyerahan Jasa Kena Pajak tertentu yang Dibebaskan dari Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2003 jo. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 10/KMK.04/2001 tentang Pemberian dan Penatausahaan PPN Dibebaskan atas Impor dan atau Penyerahan BKP Tertentu dan atau Penyerahan JKP Tertentu sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 370/KMK.03/2003, mengatur antara lain: a. Bahan bangunan/material seperti pasir, semen, besi dan lain-lain yang digunakan untuk pembangunan rumah ibadah dan tempat pelayanan sosial termasuk BKP yang atas penyerahannya tidak dibebaskan dari pengenaan PPN. b. Jasa yang diserahkan oleh kontraktor untuk pembangunan tempat yang sematamata untuk keperluan ibadah dibebaskan dari pengenaan PPN. c. Orang atau badan yang menerima penyerahan JKP sebagaimana butir 2.b. tidak diwajibkan mempunyai Surat Keterangan Bebas PPN yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Pajak.

Demikian untuk dimaklumi. Sjarifuddin Alsah NIP 060044664 Tembusan : 1. a. Alfonsus dalam hal kontrak bahan bangunan dan jasa pemborongan bangunannya merupakan satu kesatuan. Atas jasa pemborongan pembangunan gereja St. Direktur Jenderal Direktur PPN dan PTLL. Untuk menentukan perlakuan PPN atas pembangunan Gereja St. b. Direktur Jenderal Pajak Direktur Peraturan Perpajakan .n.3. Berdasarkan ketentuan pada butir 2 dan butir 3 serta memperhatikan isi surat Saudara pada butir di atas. 2. A. ttd. maka harga bahan bangunan dan jasa pemborongan bangunannya harus dipisahkan. dengan ini ditegaskan bahwa : a. Alfonsus dibebaskan dari pengenaan PPN sedangkan atas bahan bangunan tetap terutang PPN.

memberikan bukti potong PPh kepada orang pribadi di atas.840 juta). meminta bukti potong pajak dan menyampaikan laporan SPT Tahunan PPh orang pribadi ke KPP (Kantor Pelayanan Pajak) dimana perorangan tersebut terdaftar. Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas. sumbangan dan hibah. melalui bendahara (atau pemegang kas) yang ditunjuk. yaitu institusi Gereja beserta yayasanyayasan yang dinaunginya. persekutuan. yang mana analoginya dapat diterapkan pada kasus-kasus lain yang serupa. berarti di saat gereja memperoleh penghasilan maka ia telah pula memenuhi persyaratan objektif. membayar PPh pasal 25/29 dari penghasilan yang belum atau kurang dipotong. Gereja menurut penjelasannya. perseroan lainnya. Karena syarat subjektif yaitu termasuk dalam definisi badan telah terpenuhi. Di kesempatan ini. Mulai dari sumber pendanaan yayasan. 15. Gereja membayarkan penghasilan kepada pendeta. majelis. Selanjutnya masing-masing dari mereka atau tiap-tiap perseorangan tersebut melaksakan kewajiban perpajakan dengan cara yakni mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP. gereja bisa menggunakannya untuk memperluas cakupan pelayanannya kepada masyarakat dengan badan hukum yayasan. persekutuan. tunjangan) di atas PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) dari gereja maupun sumber lainnya. perpuluhan. perkumpulan. yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Kewajiban perpajakan perseorangan Kewajiban pajak penghasilan bagi pendeta atau pastor. honor. persembahan jemaat. Hal ini dapat berupa perkumpulan. Meskipun demikian. badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun. membayar atau menyetor PPh yang dipungut ke bank persepsi atau kantor pos persepsi. Selanjutnya gereja diwajibkan memotong atau memungut PPh dari pembayaran tersebut. membayar PPN setiap pembelian BKP/JKP. pegawai gereja dan lain-lain). . gereja adalah kumpulan orang-orang yang merupakan kesatuan (walaupun) tidak melakukan kegiatan usaha.Aspek Pajak untuk Gereja dan Yayasan yang dinaunginya Pada kesempatan sebelumnya. dan pemungut pajak. firma. menghitung pajak penghasilannya. akan dipaparkan kembali contoh kasus yang lebih lengkap. perseroan komanditer. lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap. yayasan. majelis dan pegawai gereja muncul setelah mereka memperoleh penghasilan yang merupakan obyek pajak (gaji. Kewajiban perpajakan gereja Untuk keperluan operasional sehari-hari. Gereja dalam hal ini diwakili oleh bendahara (atau pemegang kas) wajib memiliki NPWP sebagai wajib pajak pemotong atau pemungut PPh. pemotong pajak. Dana yang terhimpun bisa digunakan untuk membiayai bermacam-macam keperluan. organisasi sosial politik atau organisasi lainnya. majelis gereja. Yayasan atau unit usaha milik gereja Dari dana yang terhimpun. dan hingga fasilitas penundaan pajak atas laba bersih (untuk yayasan pendidikan dikenal dengan istilah Sisa Lebih). operasional. dana pensiun. lembaga dan bentuk badan lainnya. Terpenuhinya kedua syarat ini menjadikan gereja sebagai Wajib Pajak. sempat ada pertanyaan mengenai aspek perpajakan untuk yayasan. Dengan kata lain. ada kategori penerimaan-penerimaan gereja yang bukan obyek PPh (pasal 4 ayat (3) UU PPh) antara lain kolekte. pastor. koperasi. Dipaparkan bahwa terdapat beberapa langkah dalam mengkaji hal tersebut. pegawai gereja dan pihak lainnya yang terutang PPh (jika dalam setahun jumlahnya telah melebihi PTKP yaitu Rp. Kewajiban perpajakan gereja yang diwakili oleh bendahara sebagai pemotong atau pemungut PPh yakni melakukan pemotongan atau pemotongan PPh pasal 21 atas pembayaran gaji atau upah atau honor dan sejenis kepada orang pribadi (pendeta atau pastor. melaporkan kewajiban pemotongan pajak tersebut melalui SPT ke KPP. melunasi bea meterai atas setiap dokumen yang merupakan obyek bea meterai. memotong PPh pasal 23 jika menggunakan jasa pihak ketiga. mereka telah termasuk sebagai wajib pajak. organisasi lainnya. semisal melalui bentuk badan hukum yayasan. WP adalah orang pribadi atau badan yang meliputi pembayar pajak. organisasi massa. kongsi. mulai dari operasional sehari-hari gereja hingga memperluas cakupan pelayanan kepada masyarakat.

Lingkup objek pajak yayasan sesuai Pasal 4 ayat (1) UU PPh meliputi : 1. 3. yayasan atau organisasi yang sejenis diperkenankan mengurangkan : 1. bunga obligasi. subsidi/bea siswa yang diberikan kepada siswa yang kurang mampu ataupun biaya pendidikan siswa yang kurang mampu yang dipikul oleh yayasan atau organisasi yang sejenis yang tidak . Pengurangan penghasilan bruto Untuk memperoleh penghasilan neto. 3. pekerjaan. menagih. pekerjaan. pekerjaan. atau penguasaan antara pihak yang memberi dengan pihak yang menerima. bantuan atau sumbangan dari Pemerintah. 4. biaya-biaya yang berhubungan langsung dengan usaha.) bantuan atau sumbangan (dalam rangka CSR. (b. menghitung dan memperhitungkan pajak. termasuk keuntungan pengalihan harta yang semula berasal dari bantuan. sepanjang tidak ada hubungannya dengan usaha. penyusutan atau amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh harta yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dan Pasal 11A UU PPh 3. keagamaan. penghasilan yang diterima atau diperoleh dari usaha. Kewajiban Perpajakan Yayasan Yayasan mendaftarkan diri sebagai WP untuk mendapatkan NPWP. 2. 5. harta tersebut harus dibukukan oleh pihak yang menerima sesuai dengan nilai sisa buku pihak yang memberikan.) harta hibahan yang diterima oleh yayasan atau organisasi yang sejenis sebagai badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 604/KMK. 2. kegiatan atau pemberian jasa untuk mendapatkan. menyelenggarakan pembukuan. memotong atau memungut pajak dari penghasilan atau obyek yang wajib dipotong atau dipungut. keuntungan dari pengalihan harta. Penerimaan atau penghasilan yang bukan merupakan Objek Pajak 1. 16/2001 tentang Yayasan). sumbangan atau hibah tersebut berupa harta yang dapat disusutkan atau diamortisasi. dan memelihara penghasilan atau biaya yang berhubungan langsung dengan operasional penyelenggaraan yayasan atau organisasi yang sejenis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) dan dengan memperhatikan Pasal 9 ayat (1) UU PPh. sumbangan atau hibah. pengembangan olahraga. kepemilikan.04/1994 tanggal 21 Desember 1994. Apabila bantuan. (a. 2. sewa dan imbalan lain sehubungan dengan penggunaan harta. membayar dan menyetor pajak dan melaporkan SPT masa dan tahunan. bunga deposito. atau jasa. promosi. diskonto SBI dan bunga lainnya.Pengertian yayasan adalah badan hukum yang terdiri dari kekayaan yang dipisahkan dan diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu di bidang sosial. kemanusiaan (Pasal 1 UU No. infrastruktur. Yayasan merupakan badan terpisah dari gereja sehingga menjadi WP (Wajib Pajak) tersendiri dan wajib ber-NPWP. dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh yayasan atau organisasi yang sejenis dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia. kegiatan. melaporkan usaha untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak apabila menyerahkan BKP/JKP. pembagian keuntungan dari kerja sama usaha. Dengan demikian. yayasan wajib melaksanakan kewajiban perpajakannya. dan sumbangan fasilitas pendidikan).

Selisih lebih dikenakan PPh dengan tarif umum (Pasal 17 UU PPh).bergerak di bidang pendidikan. selisih lebih yang diinvestasikan kembali dalam waktu 4 tahun tidak dikenakan pajak penghasilan. tidak terutang PPh. Obyek Pajak dan Pengurangan Penghasilan Bruto Yayasan di Bidang Pendidikan. Dana pembangunan gedung dan prasarana pendidikan Yayasan atau organisasi yang sejenis yang bergerak di bidang pendidikan formal mulai dari taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi dapat mengakui dana pembangunan gedung dan . biaya pelayanan kesehatan pasien yang kurang mampu yang dipikul oleh yayasan atau organisasi yang sejenis yang tidak bergerak di bidang pelayanan kesehatan. Khusus yayasan di bidang pendidikan. Bila menunjukkan selisih negatif. meliputi : Obyek Pajak dan Pengurangan Penghasilan Bruto Yayasan di Bidang Kesehatan Penghitungan Pajak Penghasilan Yayasan Penghasilan Kena Pajak Yayasan dilaporkan dalam bentuk SPT Tahunan adalah gunggungan penghasilan (kecuali penghasilan yang dikenakan PPh Final) dikurangi dengan biaya yang hasilnya bisa berupa selisih lebih atau selisih negatif.

2. yaitu selisih dari seluruh penerimaan yang merupakan obyek Pajak Penghasilan selain penghasilan yang dikenakan Pajak Penghasilan tersendiri. dikurangi dengan pengeluaran untuk biaya operasional sehari-hari yayasan. .sebagai penghasilan pada tahun pajak digunakannya. Pengenaan Pajak Penghasilan atas dana pembangunan gedung dan prasarana pendidikan yang tidak digunakan setelah lewat jangka waktu di atas ditambah dengan sanksi sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku. 5. Pembangunan gedung dan prasarana pendidikan adalah pembangunan fisik sarana pendidikan seperti : 1. 7. maka bunga atas pinjaman tersebut dapat dibebankan sebagai biaya yayasan. Apabila setelah lewat jangka waktu 4 (empat) tahun setelah berakhirnya tahun pajak diterimanya dana tersebut yayasan tidak menggunakan dana pembangunan gedung dan prasarana pendidikan dimaksud.yaitu dana yang akan digunakan untuk pembangunan gedung dan prasarana pendidikan yang berasal dari sisa lebih. 4. Pelaksanaan ketentuan tersebut dilakukan sebagai berikut : 1. Apabila pembangunan gedung dan prasarana pendidikan dibiayai dengan dana pinjaman. peralatan laboratorium. sarana olah raga. Yayasan memberitahukan rencana fisik sederhana dan rencana biaya pembangunan gedung dan prasarana pendidikan tersebut kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat dengan tindasan kepada Direktur Jenderal Pendidikan tinggi dan/atau Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah atau yang ditunjuk. maka dana pembangunan gedung dan prasarana pendidikan tersebut diakui sebagai penghasilan dan dikenakan Pajak Penghasilan pada tahun pajak berikutnya setelah lewat jangka waktu 4 (empat) tahun tersebut. 2. rumah dinas guru. dosen. Atas pengeluaran untuk pembangunan gedung dan prasarana pendidikan yang berasal dari dana pembangunan gedung dan prasarana pendidikan sebagaimana dimaksud di atas tidak boleh dilakukan penyusutan berdasarkan UU PPh. dan dilampiri dengan pernyataan. pembelian tanah untuk pembangunan prasarana pendidikan. Pembukuan atas penggunaan dana pembangunan gedung dan prasarana pendidikan pada tahun berjalan dilakukan dengan mendebet rekening aktiva dan rekening dana pembangunan gedung dan prasarana pendidikan serta mengkredit rekening kas atau hutang dan rekening modal yayasan. perpustakaan termasuk buku-buku. sisa lebih yayasan setiap tahun yang akan digunakan untuk pembangunan gedung dan prasarana pendidikan dialihkan ke rekening dana pembangunan gedung dan prasarana pendidikan. inventaris kantor. 6. dan sebesar dana yang telah digunakan tersebut merupakan biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto pada tahun pajak yang bersangkutan. 3. atau karyawan. asrama mahasiswa. dikurangi dengan pengeluaran untuk biaya operasional sehari-hari yayasan . gedung sarana pendidikan. pencatatan tersendiri atas dana pembangunan gedung dan prasarana pendidikan yang diterima dan yang digunakan setiap tahun.prasarana pendidikan . Dana pembangunan gedung dan prasarana pendidikan adalah dana yang akan digunakan untuk pembangunan gedung dan prasarana pendidikan yang berasal dari sisa lebih. yaitu selisih dari seluruh penerimaan yang merupakan obyek Pajak Penghasilan selain penghasilan yang dikenakan Pajak Penghasilan tersendiri. Pembukuan dan SPT Yayasan atau organisasi yang sejenis yang membentuk dana pembangunan gedung dan prasana pendidikan sebagaimana di atas wajib membuat : 1. Dana pembangunan gedung dan prasarana pendidikan wajib digunakan untuk pembangunan gedung dan prasarana pendidikan dalam jangka waktu 4 (empat) tahun setelah berakhirnya tahun pajak diterimanya dana tersebut.

. pernyataan bahwa dana pembangunan gedung dan prasarana pendidikan yang tidak digunakan pada tahun diterimanya tersebut akan digunakan untuk pembangunan gedung dan prasarana pendidikan selambat-lambatnya 4 (empat) tahun setelah berakhirnya tahun Pajak yang bersangkutan. 3.2. Laporan mengenai penyediaan dan penggunaan dana pembangunan gedung dan prasarana pendidikan dan menyampaikannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat dalam lampiran Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan.