Anda di halaman 1dari 74

HUBUNGAN PRILAKU MASYARAKAT DENGANKEJADIAN MALARIA DI PUSKESMAS PERAWATAN SENGAYAM KECAMATAN PAMUKAN BARAT KABUPATEN KOTABARU

SKRIPSI

Oleh : H.ATAILLAH NPM: 10021 B-S1

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH BANJARMASIN PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN BANJARMASIN, 2012

HUBUNGAN PRILAKU MASYARAKAT DENGAN KEJADIAN MALARIA DI PUSKESMAS PERAWATAN SENGAYAM KECAMATAN PAMUKAN BARAT

KABUPATEN KOTABARU
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Ketulusan Pada Program Studi S.1 Keperawatan

Oleh : H.ATAILLAH NPM: 10021 B-S1

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH BANJARMASIN PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN BANJARMASIN, 2012

PENGESAHAN SKRIPSI

Skripsi ini oleh : Nama NPM : H.Ataillah : 10021 B-S1

Judul Skripsi : Hubungan Perilaku Masyarakat Dengan Kejadian Malaria Di Puskesmas Perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru Telah melaksanakan ujian skripsi pada tanggal 06 september 2012, dan dinyatakan berhasil mempertahankan di hadapan Dewan Penguji dan dierima sebagai persyaratan untuk mendapatkan gelar sarjana Keperawatan pada Program Studi S.1 Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Banjarmasin DEWAN PENGUJI: Penguji I : Hiryadi, Ns, M.Kep.Sp.Kep.Kom (Pimpinan Sidang) NIK. 022.011.099 Penguji II: Nurhamidi, SKM, M.Kes (Anggota) 19660917 198902 1 001 Penguji III: Arif Mukhyar, M.Pub.Il.Law (Anggota) 19760526 200312 1 003 Penguji IV : dr.H.Ris Mohammad Abrar (Anggota) NIP.197405142005011013 Mengesahkan di : Banjarmasin Tanggal : Ketua Stikes Muhammadiyah Banjarmasin

Mengetahui Kaprodi S.1 Keperawatan

M. Syafwani, S.Kp., M.Kep.Sp.Jiwa Solikin, Ns,M.Kep,Sp.Kep.MB NIK. 012 012 096 NIK. 035 003 00 PERNYATAAN ORISINALITAS

Saya yang bertandatangan di bawah ini Nama Mahasiswa NPM Prodi : H.Ataillah : NPM: 10021 B-S1 : S.1 Keperawatan

Judul Proposal

: Hubungan Perilaku Masyarakat Dengan Kejadian Malaria Di Puskesmas Perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa proposal ini merupakan hasil karya cipta sendiri bukan flagiat, begitu pula hal yang terkait di dalamnya baik mengenai isinya, sumber yang di kutip/dirujuk, maupun tekhnik di dalam pembuatan dan penyusunan proposal ini.

Pernyaatan ini akan saya pertimbangkan sepenuhnya, apabila di kemudian hari terbukti bahwa ini bukan hasil karya cipta saya atau flagiat atau jiblakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut berdasarkan UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 25 (2) dan pasal 70.

Dibuat di

: Banjarmasin September yang

Pada tanggal : 2012 menyatakan, Saya

H.Ataillah

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama Mahasiswa NPM Prodi Jenis Karya : H.Ataillah : NPM: 10021 B-S1 : S.1 Keperawatan : Skripsi

Sebagai civitas akademika Stikes Muhammadiyah Banjarmasin, yang turut serta mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan

kepada STIKES Muhammadiyah Banjarmasin Hak Bebas Royalti atas karya Ilmiah saya yang berjudul Hubungan Perilaku Masyarakat Dengan Kejadian Malaria Di Puskesmas Perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru Dengan adanya Hak Bebas Royalti ini maka, Stikes Muhammadiyah Banjarmasin mempunyai kebebasan secara penuh untuk menyimpan, melakukan editing, mengalihkan ke format / media yang berbeda, melakukan kelolaan berupa database, serta melakukan publikasi tugas akhir saya ini dengan pertimbangan tetap mencantumkan nama penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta dengan segala perangkat yang ada (bila diperlukan) Pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya Dibuat di : Banjarmasin Pada tanggal : September 2012 Saya yang menyatakan, H.Ataillah

PROGRAM STUDI S.1 KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHARAN MUHAMMADIYAH BANJARMASIN Skripsi, September 2012 H.Ataillah. 2012. Hubungan Prilaku Masyarakat Dengan Kejadian Malaria Di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru. Skripsi, Program Khusus S1 Keperawatan Ners B STIK Muhammadiyah Banjarmasin. Pembimbing: (I) Hiryadi, Ns, M.Kep. Sp.Kom (II) Nurhamidi, SKM, M.Kes (III) Arif Mukhyar, M.Pub.Il.Law. ABSTRAK

Latar belakang penelitian ini tingginya angka kejadian malaria di Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru yang merupakan daerah endemis malaria dan banyaknya masyarakat dengan gejala klinis malaria. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Prilaku Masyarakat Dengan Kejadian Malaria Di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru. Rancangan penelitian yang digunakan Kohort Restropektif. Populasi penelitian adalah masyarakat Di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru dan Jumlah sampel 134 orang. Hasil penelitian berdasarkan analisis univariat didapatkan bahwa sebagian besar perilaku masyarakat berada dalam kategori baik sebanyak 78 responden (58,2%) dan kejadian malaria yang berkategori positif sebanyak 56 responden (41,8%). Adapun analisis bivariat, dari hasil uji statistik Chi Square didapatkan tingkat signifikan p=0,000 dan Chi Square Hitung didapatkan nilai = 35,904 dan Chi Square tabel = 3,841 pada tingkat kemaknaan 0,05 (p < dan r > ). Dengan demikian dapat disimpulkan H0 ditolak secara statistik ada Hubungan antara Prilaku Masyarakat Dengan Kejadian Malaria Di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru, nilai Odds Ratio = 29.919, artinya masyarakat dengan prilaku baik mempunyai peluang 29,9 kali dibanding masyarakat dengan prilaku kurang baik. Saran untuk masyarakat agar menambah wawasan masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan dilingkungan sekitarnya. Kata Kunci: Perilaku, Kejadian, Malaria Daftar Rujukan : 16 (2004-2012) KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Hubungan Perilaku Masyarakat Dengan Kejadian Malaria Di Puskesmas Perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru. Dalam penyusunan skripsi ini, penulis mendapat banyak pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini perkenankanlah penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Safwani Skp, M.Kep, Sp Kep Jiwa, Ketua STIKES Muhammadiyah Banjarmasin atas kesempatan yang diberikan untuk menempuh pendidikan S.1 Keperawatan. 2. Bapak Hiryadi, Ns, M.Kep.Sp.Kep.Kom, Pembimbing dan Penguji Materi yang telah banyak memberikan masukan dan bimbingan selama pembuatan skripsi ini. 3. Bapak Nurhamidi, SKM, M.Kes, Pembimbing dan Penguji Metode Penelitian yang telah memberikan banyak masukan, bimbingan dan motivasi selama pembuatan skripsi ini. 4. Bapak Arif Mukhyar, M.Pub.Il.Law, Pembimbing dan Penguji Teknik Penulisan yang telah banyak memberikan masukan dan bimbingan selama pembuatan skripsi ini 5. Bapak dr.H.Ris Mohammad Abrar, Penguji wawasan yang telah banyak memberikan masukan dan bimbingan dalam pembuatan skripsi ini. 6. Kepala Puskesmas Perawatan Sengayam beserta seluruh staf atas kerjasama dan bantuan yang telah diberikan. 7. Istri tercinta yang selalu memberikan dorongan dan bantuan agar terus maju sehingga skripsi ini selesai. 8. Kedua orang tua dan saudara-saudara yang selalu memberikan semangat, dukungan dan doa untuk keberhasilanku. 9. Serta semua pihak yang turut membantu penyelesaian skripsi ini. Penulis menyadari banyak sekali kekurangan dalam penyusunan skripsi ini, oleh sebab itu arahan, saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak sangat penulis harapkan, semoga karya tulis ini bermanfaat bagi semua pihak.

Banjarmasin, September 2012

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL . .....i LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................................... ii LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ................................................................ iii LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS. ...................................................iv LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI..... .........................v ABSTRAK ................ ....vi KATA PENGANTAR... .. vii DAFTAR ISI ......................................................................................................... ix DAFTAR TABEL ............................................................................................... xii DAFTAR MATRIKS ......................................................................................... xiii DAFTAR SKEMA ............................................................................................. xiv

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xv BAB 1 PENDAHULUAN .................................................................................................. 1 1.1 Latar Belakang ............................................................................................ 1 1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................... 8 1.3 Tujuan Penelitian......................................................................................... 9 1.4 Manfaat Penelitian....................................................................................... 9 1.5 Keaslian Penelitian .................................................................................... 10 BAB 2 LANDASAN TEORITIS .................................................................................... 12 2.1 Konsep Malaria ......................................................................................... 12 2.1.1 Definisi Malaria .12 2.1.2 Etiologi ............................. .13 2.1.3 Daur Hidup Parasit Malaria .......................................................... 15 2.1.4 Patogenesis ........................................................................................ 18 2.1.5 Manifestasi Klinik .22 2.1.6 Diagnosis Malaria ............ .24 2.1.7 Faktor-FaktorPenyebabTerjadinya Malaria ................................. 27 2.1.8 Pengobatan Malaria.. .29 2.1.9 Pencegahan Malaria ......... .31 2.1.7 Kejadian Malaria .......................................................................... 31 2.2 Konsep Perilaku ........................................................................................ 32 2.2.1 Pengertian Perilaku ............................................................................... 32 2.2.2 Perilaku Masyarakat Dalam Kejadian Malaria ..................................... 33 2.3 Kerangka Konseptual ................................................................................ 34 2.4 Hipotesis .................................................................................................... 34

BAB 3

METODE PENELITIAN ................................................................................... 35 3.1 Rancangan Penelitian ................................................................................ 35 3.2 Definisi Operasional .................................................................................. 35 3.3 Populasi dan Sampel ................................................................................. 37 3.4 Jenis Data dan Sumber Data...................................................................... 37 3.5 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ................................................ 38 3.6 Teknik Pengolahan Data ........................................................................... 39 3.7 Analisis Data ............................................................................................. 39 3.8 Etika Penelitian ......................................................................................... 40 BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................................. 42 4.1 Hasil Penelitian ......................................................................................... 42 4.1.1 Karakteristik Responden .................................................................. 42 4.1.2 Analisa Univariat ............................................................................. 44 4.1.3 Analisa Bivariat ............................................................................... 45 4.2 Pembahasan ............................................................................................... 45 4.3 Keterbatasan Penelitian ............................................................................. 48 BAB 5 PENUTUP ............................................................................................................ 49 5.1 Simpulan.................................................................................................... 49 5.2 Saran ......................................................................................................... 49 LEMBAR KUESIONER .................................................................................... 51 DAFTAR RUJUKAN ......................................................................................... 53 LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

2.1 Periode Prapaten dan Massa Inkubasi Plasmodium .................................. 22 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin .............................. 42 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur ............................................ 42 4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ...................... 43 4.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan ..................................... 43 4.5 Perilaku Masyarakat .................................................................................. 44 4.6 Kejadian Malaria ....................................................................................... 44 4.7 Hubungan Perilaku Masyarakat dengan Kejadian Malaria ....................... 45

DAFTAR MATRIKS

Matriks

Halaman

3.2 Definisi Operasional .................................................................................. 35

DAFTAR SKEMA

Skema

Halaman

2.1 Kerangka Konseptual ................................................................................ 34

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

2.1 Siklus Plasmodium .................................................................................... 17

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Malaria merupakan suatu penyakit infeksi yang menginvansi sistem hematologi melalui vektor nyamuk. Malaria dapat juga ditularkan secara langsung melalui transfusi darah, jarum suntik serta dari ibu hamil kepada banyinya. Pada manusia terdapat 4 spesies Plasmodium yaitu falciparum, vivax, malariae dan ovale. Gambaran krakteristik dari malaria demam periodik, anemia, trombositopeni dan spenomegali. Berat ringannya manifestasi malaria tergantung jenis plasmodium yang menyebabkan infeksi dan imunitas penderita. Diagnostik malaria sebagaimana penyakit pada umumnya didasarkan pada gejala klinis, penemuan fisik diagnostik, laboratorium darah, uji imunoserologis dan ditemukannya parasit

(plasmodium) di dalam darah tepi penderita sebagai gold standard.

Malaria merupakan penyakit protozoa yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. Penyakit ini paling penting diantara penyakit parasit yang terjangkit pada manusia yang menjangkiti 103 negara yang endemis dengan jumlah populasi lebih dari 2,5 milyar orang dan menyebabkan 1 hingga 3 juta kematian setiap tahunnya. Penyakit malaria kini telah terbasmi di Amerika Utara, Eropa, dan Rusia; namun demikian, kendati ada upaya pengendalian yang luar biasa, penyakit ini tampak timbul kembali pada banyak kawasan tropis. Disamping itu resistensi parasit malaria terhadap pengobatan menyebabkan peningkatan permasalahan disebagian besar daerah malaria. Malaria tetap terdapat pada saat ini seperti yang terdapat untuk berabad-abad lamanya, menjadi beban utama bagi masyarakat yang tinggal dikawasan tropis (Horisson, 1999).

Malaria ditemukan hampir di seluruh bagian dunia, terutama di negara-negara yang beriklim tropis dan subtropis, seperti beberapa bagian Benua Afrika dan Asia Tenggara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), memperkirakan saat ini di seluruh dunia sekitar 300 juta sampai 600 juta kasus klinis malaria

dijumpai setiap tahun (WHO,2000) dan penyakit menular melalui vektor nyamuk Anopheles tersebut mampu membunuh anak setiap 20 detiknya dan menjadi penyakit paling mematikan (Muhktar, 2003).

Sedangkan untuk kejadian Penyakit malaria di Afrika memakan korban belasan ribu jiwa. Menurut Laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam 6 bulan terakhir tercatat satu anak meninggal akibat malaria per 45 menit atau 1.920 anak per hari. Afrika menyumbang sekitar 90 persen dari 800.000 kematian akibat malaria setiap tahun. Menurut WHO setiap tahun di seluruh dunia terdapat sekitar 240 juta kasus penyakit yang di tularkan melalui gigitan nyamuk.

Malaria disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium dan merupakan infeksi protozoa paling penting di seluruh dunia. Dua pertiga kasus yang dilaporkan terjadi di Afrika, sub benua India, Vietnam, Pulau Solomon, Kolumbia dan Brazil. Antara 10.000-30.000 penduduk negara industri juga mendapatkan malaria setiap tahun melalui perjalanan ke daerah endemik. Sekitar 2000 kasus terjadi setiap tahun di Inggris dengan 10-15 kematian (Plasmodium falciparum).

Terdapat empat spesies malaria pada manusia Plasmodium Vivax dominan di India, Pakistan, Bangladesh, Sri Langka, dan Amerika Tengah, plasmodium Falcifarum dominan di Afrika dan Papua Nugini. Keduanya memiliki prevelansi di Asia Tenggara, Amerika Selatan dan Oceania. Plasmodium Ovale dan Plasmodium Malariae terjadi terutama di

Afrika.(http://www.who.int/topics/malaria/en). Di Indonesia telah berhasil menekan jumlah kasus malaria dari 4,96 per 1000 penduduk pada tahun 1990 menjadi 1,96 per 1000 penduduk pada tahun 2010. Walaupun secara nasional telah berhasil menurunkan lebih 50 persen kasus malaria, tetapi pada tingkat propinsi dan kabupaten/kota masih terjadi disparitas ( perbedaan) yang cukup besar. Menurut Data WHO

menyebutkan tahun 2008 terdapat 544.470 kasus malaria, tahun 2009 terdapat 1.100.000 kasus klinis dan pada tahun 2010 meningkat menjadi 1.800.000 kasus malaria klinis dan telah mendapatkan pengobatan. Bahkan di beberapa wilayah di dapatkan prevelensi ibu hamil dengan malaria sebesar 18% sehingga bayi yang di lahirkan memiliki resiko berat badan lahir lebih rendah 2 kali lebih besar dibandingkan ibu hamil tanpa malaria.

Menurut Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS, 2007) menunjukan 91,8 persen rumah tangga bebas malaria. Namun berdasarkan Riskesdas 2010 rumah tangga bebas malaria turun menjadi 71,6 persen artinya malaria semakin meluas. Rumah tangga bebas malaria tertinggi di Provensi

Yogyakarta (85,5 persen) dan terendah di Provensi Papua Barat (22,8 persen). Menurut Riskesdas 2010 menyebutkan tahun 2009 dan 2010 berdasarkan

kasus baru malaria adalah 22.9 per mil. Provensi Papua menunjukan angka tertinggi yaitu 261.5 persen kasus baru. Sementara besaran angka kasus baru di luar Jawa-Bali adalah 45.2 per mil/ hampir 6 kali angka kasus baru di JawaBali (7,6%) (www.menkokesra.go.id).

Di Kalimantan Selatan penderita malaria dari 2009 sampai akhir 2010 mengalami peningkatan. Untuk 2009 terdapat 12.479 orang terjangkit sedangkan yang meninggal mencapai 15 orang sedangkan tahun 2010 mencapai 15.827 orang dengan jumlah meningal mencapai 37 orang.Dari 13 Kab/Kota Kasus terbanyak berasal dari Kabupaten Kotabaru 894 orang disusul Kabupaten Tanah Laut sebanyak 667 orang, sebanyak 372 orang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan 305 orang, Kabupaten Tanah Bumbu 202 orang dan Kota Banjarbaru 117 orang sedangkan daerah lainya masih di bawah 100 kasus.Sedangkan 15 korban gigitan malaria yang terbanyak berasal dari Kabupaten banjar 7 orang, Tanah Laut dan Kabupaten HSS masing-masing 2 orang dan Tabalong 1 orang.

Masih tingginya angka kejadian malaria di propinsi Kalimantan Selatan dipengaruhi oleh berbagai macam faktor diantaranya berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dra. Mardiana dan Tim dari Puslitbang Ekologi dan Status Kesehatan Balai litbang kesehatan kementerian kesehatan RI pada tahun 2010 yang berjudulFAKTOR RESIKO AKIBAT PENAMBANGAN BATUBARA TERHADAP KEJADIAN MALARIA DAN KECACINGAN DI KALIMANTAN SELATAN . Berdasarkan penelitian yang dilakukan disimpulkan bahwa banyaknya areal hutan yang baru dibuka dan penambangan batubara yang banyak di jumpai didaerah Propinsi Kalimantan Selatan ternyata berdampak pada tingginya angka kejadian malaria pada daerah yang berada dekat dengan areal pertambangan.

Sementara itu dari sediaan darah yang diperiksa sebanyak 2.193 orang yang positif mengidap penyakit malaria. Terbanyak malaria tertiana 705 orang,tropikana 285 orang, perpana 9 orang dan gabungan 69 orang. Sedangkan katagori kejadian luar biasa (KLB) yang terserang malaria yaitu Tanjung Selor, Bajau Tengah, Badaun dan desa Baru di Kecamatan Daha Barat (www.kalselprov.go.id).

Sedangkan berdasarkan data yang ada pada Puskesmas Perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru pada tahun 2008 terdapat 125 kasus malaria , pada Tahun 2009 terdapat 192 kasus malaria dan pada tahun 2010 terdapat 143 kasus malaria, dimana semua kasus malaria diatas dideteksi dengan pemerikasaan laboraturium baik menggunakan Mikroskop ataupun RDT (Rapid Diagnostic Test). Kalau diperhatikan kasus malaria yang terjadi di wilayah kerja Puskesmas Perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru masih tinggi bila dibandingkan dengan target Indonesia Sehat 2010 sebesar 5/1000 penduduk, sehingga masih perlu perhatian dan penanganan yang serius.

Malaria adalah penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh plasmodium yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual di dalam darah. Dapat berlangsung akut atau kronik. Infeksi malaria dapat berlangsung tanpa komplikasi atau mengalami komplikasi sistemik yang dikenal sebagai malaria berat (P.N. Harijanto, 2006). Penyakit malaria terjadinya disebabkan oleh makhluk hidup Genus Plasmodia, Famili Plasmodiidae dari Ordo Coccidiidae. Sampai saat ini di Indonesia dikenal empat spesies parasit malaria pada manusia yaitu Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium malariae dan Plasmodium ovale Seorang penderita dapat dihinggapi lebih dari satu jenis plasmodium, infeksi demikian disebut infeksi campuran (mixed infection). Yang terbanyak terdiri dari dua campuran, yaitu Plasmodium falciparum dengan Plasmodium vivax atau Plasmodium malariae. Infeksi campuran biasanya terjadi di daerah yang angka penularannya tinggi (DEPKES RI, 2006).

Sedangkan secara Epidemologi malaria ada 3 faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit malaria yaitu : Host (Umumnya manusia), Agent (Penyebab Penyakit dan Environment (lingkungan). Dari factor-faktor tersebut terbagi lagi dalam beberapa bagian yang nanti akan diperjelas pada pembahasan di bab II. Sedangkan pada faktor lingkungan ada satu bagian faktor yang menjadi dasar penulis mengankat permasalah ini yaitu factor Lingkungan Sosial Budaya yang erat kaitannya dengan Prilaku masyarakat.

Sedangkan alasan penulis dalam memilih Puskesmas Perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat sebagai tempat penelitian karena wilayah

Puskesmas sengayam termasuk daerah Endemis Malaria yang angka kejadian malarianya tinggi dan termasuk zona merah malaria untuk wilayah kabupaten kotabaru, wilayah kerja puskesmas Sengayam juga berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Timur yang angka kejadian malarianya juga tinggi. Selain itu pada tahun 2011 Puskesmas Sengayam di pilih menjadi tempat dilakukannya Survai Malariometrik (MS) yang dilakukan oleh tim

Laboratorium dari Balai Litbag P2B2 Propinsi Kal-Sel , untuk mewakili Kabupaten Kotabaru sebagai daerah sampel penelitian.

Berdasarkan Studi Pendahuluan di lakukan pada Puskesmas Perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru pada tanggal 15 Nopember 2011 sampai tanggal 30 Nopember maka di dapatkan 13 pasien yang didiagnosa didiagnosa Klinis Malaria oleh dokter , dan dari 13 pasien Malaria tersebut setelah dilakukan yang

Klinis

pemeriksaan

Laboraturium terdapat 9 orang yang positif malaria. Setelah dilakukan wawancara dengan 9 orang yang positif malaria tersebut maka ada beberapa kebiasaan atau sikap pasien yang merupakan salah satu faktor pendukung penyebaran malaria. Dari 9 orang tersebut semuanya mengaku pernah tidur diladang dan tidak menggunakan kelambu, ada juga yang mempunyai kebiasaan mancing pada malam hari.

Jadi Kebiasaan masyarakat Atau Prilaku pasien di atas erat hubungannya dengan kejadian Malaria pada pasien tersebut, karena 4 orang dari 13 yang didiagnosa klinis malaria dan setelah dilakukan pemeriksaan laboraturium dan negatip mengaku tidak pernah tidur diladang atau hutan dan tidur selalu menggunakan obat nyamuk serta kelambu.

Dengan demikian fenomena yang terjadi diatas saling behubungan. Untuk lebih menyakinkan maka Penulis akan melakukan penelitian secara mendalam pada kedua fenomena yang terjadi pada wilayah kerja Puskesmas Perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru.

Menurut Hendrik L. Blum (1974) ada empat faktor utama yang mempengaruhi derajat kesehatan yaitu faktor lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan. Dari empat faktor tersebut, faktor perilaku merupakan faktor terbesar kedua setelah lingkungan yang dapat

mempengaruhi kesehatan individu, kelompok atau masyarakat.

Beberapa penelitian menyatakan bahwa buruknya kebiasaan dan sikap masyarakat merupakan salah satu faktor pendukung penyebaran malaria. Contoh prilaku masyarakat yang dapat mempermudah terjadinya kejadian malaria yaitu kebiasaan masyarakat berada diluar rumah pada malam hari, kebiasaan tidur tidak menggunakan kelambu dan tidur tanpa menggunakan obat anti nyamuk (Suwasno, 2002).

Melihat dari uraian diatas, maka penulis beranggapan

bahwa penyebab

tingginya kejadian malaria di wilayah kerja Puskesmas Perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru ada hubungannya dengan prilaku masyarakat setempat, Dimana secara umum wilayah kotabaru merupakan daerah endemis malaria demikian pula untuk wilayah kerja Puskesmas Perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten

Kotabaru yang juga berbatasan langsung dengan Propinsi Kalimantan Timur atau tepatnya berbatasan langsung dengan kabupaten paser yang mana daerah tersebut juga endemis malaria(DEP-KES Kaltim).

Berhubungan dengan prilaku masyarakat, yang mana mayoritas penduduk yang ada di wilayah kerja Puskesmas Perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat bekerja sebagai petani. Ada satu kebiasan masyarakat yang dianggap berhubungan erat dengan kejadian malaria yaitu kebiasaan tidur diladang atau kebun yang berbatasan langsung dengan hutan di wilayah pegunungan meratus. Baik itu ladang sendiri atau punya perusahan perkebunan yang ada di wilayah ini. Sehingga mempermudah gigitan nyamuk Anopheles yang mempunyai sifat eksofili dan eksofagi.

Berdasarkan fenomena diatas maka penulis berkeyakinan bahwa faktor prilaku masyarakat masih menjadi masalah terhadap kejadian malaria di wilayah Puskesmas Perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat. Sehingga dapat digambarkan bahwa prilaku masyarakat masih menjadi faktor

yang perlu diperhatikan kalau kita ingin menekan angka kejadian penyakit malaria. Oleh sebab itu maka penulis ingin membuktikan keyakinan tersebut diatas apakah benar ada hubungan prilaku masyarakat dengan kejadian malaria di wilayah Puskesmas Perawatan Sengayam.

Adapun prilaku masyarakat yang akan diteliti oleh penulis meliputi kebiasaan masyarakat tidur diladang atau kebun yang berada dekat hutan, berada diluar rumah pada malam hari, pemakaian kelambu pada saat tidur dan penggunaan obat anti nyamuk.

Maka Berdasarkan masalah di atas peneliti memandang perlu untuk melakukan penelitian untuk mengetahui sejauh mana Hubungan Faktor Prilaku Masyarakat dengan kejadian Malaria di Wilayah kerja Puskesmas Perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah diatas maka dapat diketahui bahwa malaria merupakan masalah penting dan perlu perhatian dalam usaha penegakan dan pengendaliannya. Dengan demikian angka mortalitas dan morbiditas malaria dapat ditekan serendah mungkin, untuk lebih

memfokuskan penelitian dalam proposal ini penulis membatasi permasalahan pada apa Hubungan Prilaku Masyarakat dengan kejadian Malaria di Wilayah Kerja Puskesmas Kabupaten Kotabaru. Perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Untuk menganalisis hubungan prilaku masyarakat dengan kejadian malaria di wilayah kerja Puskesmas Perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru.

1.3.2.Tujuan Khusus 1.3.2.1 Mengidentifikasi prilaku masyarakat di wilayah kerja

Puskesmas Perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru. 1.3.2.2 Mengidentifikasi Kejadian Malaria di wilayah kerja Puskesmas Perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru. 1.3.2.3 Menganalisis Hubungan prilaku masyarakat dengan kejadian malaria di wilayah kerja Puskesmas Perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru.

1.4. Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang ingin diperoleh dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut: 1.4.1 Secara Teoritis Hasil penelitian diharapkan menjadi bahan masukan atau sumbangan pengembangan ilmu keperawatan khususnya dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pada umumnya. 1.4.2.Secara Praktis 1.4.2.1 Bagi Puskesmas Dapat menjadi bahan sumbangan pikiran bagi Pukesmas dalam upaya pengembangan ilmu keterampilan terutama tentang pengetahuan dan dalam

keberhasilan

pencegahan dan penekanan kejadian penyakit Malaria.

1.4.2.2 Bagi Profesi Dapat dijadikan sebagai salah satu sumber informasi untuk penelitian selanjutnya dan pengembangan keperawatan

diwaktu atau dimasa yang akan datang. 1.4.2.3 Bagi Masyarkat.

Sebagai masukan kepada masyarakat tentang hal-hal yang berhubungan dengan prilaku dalam pencegahan dan penularan penyakit malaria agar penyakit malaria dapat ditekan kejadian yang mana pada akhirnya tidak ada lagi kejadian penyakit malaria di wilayahnya. 1.5 Keaslian Penelitian Beberapa penelitian sebelumnya telah menganalisis hubungan prilaku dengan kejadian malaria. Penelitian Amirsyah dkk (2002) digugus kepulauan Aceh menemukan bahwa kebiasaan penduduk yang masih suka berada diluar rumah pada malam hari sehingga merupakan salah satu faktor penyebab transmisi malaria.

Penelitian lainnya dilakukan oleh Curtis di Cina (1994) menyebutkan bahwa kelambu celup deltametrin dapat melindungi penduduk dari gigitan nyamuk Anopheles Dirus yang bersifat endofagik dan eksofilik, dan di Malasyia Yap et al (1990) melaporkan bahwa pemakaian obat nyamuk bakar mengandung bahan aktif d - allethrin dan d - transfluthrin dapat mengurangi gigitan nyamuk sebanyak 70 %. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa adanya kebiasaan dan sikap masyarakat merupakan salah satu faktor pendukung penyebaran malaria.

Berdasarkan data yang ada di perpustakaan Stikes Muhammadiah Banjarmasin ada beberapa Penelitian yang pernah dilakukan yang berhubungan dengan Prilaku masyarakat diantaranya Penelitian yang disusun oleh Yuanita Pandang Sari pada tahun 2008 dengan judul Faktorfaktor yang berhubungan dengan prilaku masyarakat terhadap upaya pencegahan penyakit DBD dikelurahan sungai malang Amuntai dari penelitian tersebut memang dinyatakan bahwa memang ada hubungan antara prilaku Masyarakat dengan kejadian DBD. Sedangkan anatara penyakit DBD dan Malaria ada sedikit persamaan pada vektornya dan

untuk prilaku masyarakat mungkin tidak jauh beda.

Dari beberapa penelitian di atas terdapat perbedaan dengan apa yang akan dilakukan penulis diataranya : Tempat penelitian , Waktu penelitian yang akan dilakukan Walaupun Varibel Faktor Prilaku Masyarakat sama, maka hal tersebutlah yang menjadiakan Motivasi bagi penulis untuk meneliti hal tersebut Apakah Kejadian di tempat penelitian di atas juga terjadi di tempat yang akan dilakukan penulis untuk penelitian.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Malaria 2.1.1 Definisi Malaria Malaria adalah penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh plasmodium yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual di dalam darah. Dapat berlangsung akut atau kronik. Infeksi malaria dapat berlangsung tanpa komplikasi atau mengalami komplikasi sistemik yang dikenal sebagai malaria berat (P.N. Harijanto,2006).

Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit plasmodium yang hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia. Penyakit ini secara alami ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina (Depkes,2009). Menurut Arif Mansjoer, et.al (2004) malaria adalah penyakit yang bersifat akut maupun kronik, disebabkan oleh protozoa genus plasmodium ditandai dengan demam, anemia dan splenomegali.

Malaria merupakan suatu penyakit berpotensial fatal yang disebabkan oleh infeksi parasit Plasmodium. Plasmodium ini ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles sp. betina yang telah terinfeksi dengan parasit tersebut (Parmet S. et al, 2007). Sedangkan, Finch, R.G. et al (2005) mengatakan bahwa malaria merupakan suatu infeksi yang menyerang pada sistem darah manusia. Berdasarkan Chew S.K. (1992), terdapat empat spesies plasmodium yang bisa menginfeksi manusia yaitu, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, Plasmodium malariae, dan Plasmodium falciparum. Walaupun begitu, studi terbaru telah menemukan suatu spesies Plasmodium baru yang bisa menginfeksi

manusia. Spesies Plasmodium yang kelima ini dikenali sebagai Plasmodium knowlesi (Marano & Freedman, 2009).

Menurut penulis malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh plasmodium melalui gigitan nyamuk anopheles betina yang sering ditandai dengan demam menggigil dan berkeringat. Penyakit ini tidak hanya menyebabkan seseorang yang terjangkit menderita secara fisik tetapi juga menyebabkan penurunan produktivitas kerja yang berdampak pada menurunnya penghasilan ekonomi seseorang.

2.1.2 Etiologi Penyebab infeksi malaria ialah plasmodium, yang selalu menginfeksi manusia juga menginfeksi binatang seperti golongan burung, reptil dan mamalia. Termasuk genus plasmodium dari famili plasmodidae. Plasmodium ini pada manusia menginfeksi eritrosit (sel darah merah) dan mengalami pembiakan aseksual di jaringan hati dan di eritrosit. Pembiakan seksual terjadi pada tubuh nyamuk yaitu anopheles betina. Secara keseluruhan ada lebih dari 100 plasmodium yang menginfeksi binatang (82 pada jenis burung dan reptil dan 22 pada binatang primata).

Penyakit malaria pada manusia ada lima jenis dan masing-masing disebabkan oleh spesies parasit yang berbeda. Jenis malaria itu adalah 2.1.2.1 Malaria tertiana (paling ringan), yang disebabkan oleh Plasmodium vivax dengan gejala demam dapat terjadi setiap dua hari sekali setelah gejala pertama terjadi, ini dapat terjadi setelah dua minggu setelah infeksi. 2.1.2.2 Demam rimba (jungle fever), malaria aestivo-autumnal atau disebut juga malaria tropika, disebabkan oleh Plasmodium falsiparum. Plasmodium ini merupakan sebagian besar penyebab kematian akibat malaria. Organisme bentuk ini

sering menghalangi jalan darah ke otak, menyebabkan koma, mengigau dan kematian. 2.1.2.3 Malaria Kuartana yang disebabkan Plasmodium malariae, memiliki masa inkubasi lebih lama daripada penyakit malaria tertiana atau tropika, gejala pertama biasanya terjadi antara 18 sampai 40 hari setelah infeksi terjadi. Gejala ini kemudian akan berulang lagi tiap tiga hari. 2.1.2.4 Malaria yang mirip malaria tertiana, malaria ini paling jarang ditemukan, dan disebabkan oleh Plasmodium ovale. Pada inkubasi malaria, protozoa tumbuh di dalam sel hati, beberapa hari sebelum gejala pertama terjadi, organisme tersebut menyerang dan menghancurkan sel darah merah sehinggga menyebabkan demam. 2.1.2.5 Malaria yang kelima adalah malaria yang disebabkan oleh Plasmodium Knowlesi. Malaria jenis ini sangat mirip dengan jenis malaria yang disebabkan oleh P.Malarie. Pada awal para peneliti berpendapat bahwa plasmodium ini hanya menyerang kera macaque yang berekor panjang di hutan tropis di Asia Tenggara. Tapi sekarang peneliti menemukan bahwa parasite ini telah ditemukan di Thailand dan Malaysia. Sedangkan di Indonesia jenis malaria ini ditemukan di derah Kalimantan Timur.

Parasit malaria yang terbanyak di Indonesia adalah Palsmodium falsiparum dan Plasmodium vivax atau campuran keduanya, sedangkan Plasmodium ovale dan Plasmodium malariae pernah ditemukan di Sulawesi, Irian Jaya dan Timor Leste. Malaria dijumpai hampir di seluruh pulau di Indonesia.

2.1.3 Daur Hidup Parasit Malaria Parasit malaria memerlukan dua hospes untuk siklus hidupnya, yaitu manusia dan nyamuk anopheles (Depkes,2009): 2.1.3.1Siklus pada manusia Pada waktu nyamuk anopheles infektif menghisap darah manusia, sporozoit yang berada di kelenjar liur nyamuk akan masuk ke dalam peredaran darah selama lebih kurang jam. Setelah itu sporozoit akan masuk ke dalam sel hati dan meenjadi tropozoit hati. Kemudian berkembang menjadi skizon hati yang terdiri dari 10.000 30.000 merozoit hati (tergantung spesiesnya).

Siklus ini disebut ekso-eritrositer yang berlangsung selama lebih kurang dua minggu. Pada P. Vivax dan P. Ovale, sebagian tropozoit hati tidak langsung berkembang menjadi skizon, tetapi ada yang menjadi bentuk dorman yang disebut hipnozoit. Hipnozoit tersebut dapat tinggal di dalam sel hati selama berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. Pada suatu saat bila imunitas turun, akan menjadi aktif sehingga dapat menimbulkan relaps (kambuh).

Merozoit yang berasal dari skizon hati yang pecah akan masuk ke peredaran darah dan menginfeksi sel darah merah. Di sel darah merah, parasit tersebut berkembang dari stadium tropozoit sampai skizon (8-30 merozoit, tergantung spesiesnya). Proses perkembangan aseksual ini disebut skizogoni. Selanjutnya eritrosit yang terinfeksi (skizon) pecah dan merozoit yang keluar akan menginfeksi sel darah merah lainnya. Siklus ini disebut siklus eritrositer.

Setelah dua sampai tiga siklus skizogoni darah, sebagian merozoit yang menginfeksi sel darah merah dan membentuk stadium seksual (gametosit jantan dan betina). 2.1.3.2Siklus pada nyamuk anopheles betina Apabila nyamuk anopheles betina menghisap darah yang mengandung gametosit, di dalam tubuh nyamuk, gamet jantan dan betina melakukan pembuahan menjadi zigot. Zigot berkembang menjadi ookinet kemudian menembus dinding lambung nyamuk. Pada dinding luar lambung nyamuk ookinet akan menjadi ookista dan selanjutnya menjadi sporozoit. Sporozoit ini bersifat infektif dan siap ditularkan kepada manusia.

Gambar 2.1 Siklus Hidup Plasmodium

Sumber Data: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes RI

2.1.4 Patogenesis Gejala klinis yang muncul pada infeksi malaria disebabkan secara tunggal oleh bentuk aseksual Plasmodium yang bersirkulasi di dalam darah. Parasit ini menginvasi serta menghancurkan sel darah merah, menetap di organ penting dan jaringan tubuh, menghambat sirkulasi mikro, serta melepaskan toksin yang akan menginduksi pelepasan sitokin yang bersifat

proinflammatory sehingga terjadi rigor malaria yang klasik (Roe & Pasvol, 2009). Patologi malaria berhubungan dengan anemia, pelepasan sitokin, dan pada kasus Plasmodium falciparum, kerusakan organ multipel yang disebabkan oleh gangguan mikrosirkulasi. Parasitemia Plasmodium falciparum adalah lebih parah berbanding yang lain karena ia akan memparasitisasi eritrosit berbagai usia. Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale hanya menginfeksi retikulosit dan eritrosit muda sedangkan Plasmodium malariae hanya menyerang pada eritrosit yang lebih tua. Oleh karena seleksi ini, infeksi Plasmodium falciparum menimbulkan gejala klinis yang hebat sekali (Finch, R.G. et al, 2005). Kakkilaya (2006) mengatakan malaria Plasmodium falciparum ditandai oleh pembentukan sticky knob pada permukaan sel darah merah, adhesi sel darah merah pada sel endotelial di venul post kapiler, dan pembentukan rosette dengan sel yang belum terinfeksi. Ini akan menyebabkan adhesi pada kapilar otak, ginjal, usus, hati dan organ lain. Selain daripada menyebabkan obstruksi mekanik, skizont yang telah ruptur ini akan merangsang pelepasan toksin dan menstimulasi pelepasan sitokin yang lebih.

Menurut Rosenthal

(2008), suatu karakteristik khas

Plasmodium

falciparum adalah cytoadherence, di mana eritrosit yang terinfeksi dengan parasit matang akan melekat pada sel endotel mikrovaskular. Proses ini dikatakan sebagai suatu kelebihan untuk parasit karena ini bisa menghambat jalur masuknya eritrosit abnormal ke dalam limpa untuk

dihancurkan. Konsentrasi tinggi eritrosit yang terinfeksi oleh Plasmodium falciparum dalam sirkulasi darah serta interplay antara faktor penjamu dan parasit ini yang akan menyebabkan manifestasi infeksi malaria berat seperti malaria serebral, non-cardiogenic pulmonary edema, dan gagal ginjal.

Chotivanich, K. et al (2002) dalam suatu studinya tentang peran limpa dalam malaria parasite clearance mengatakan bahwa sel darah merah yang telah terinfeksi oleh malaria mengandung parasit yang semakin membesar dan bersifat kaku. Dimulai kira-kira dari 13 16 jam pertama sehingga pertengahan siklus aseksual, sel darah merah yang terinfeksi akan melekat pada endotelial vaskular sehingga dapat mencegah parasit masuk ke dalam limpa yang bersifat untuk membersihkan darah. Parasit pada tahap awal berukuran kecil dan fleksibel, sehingga tidak mengganggu konfigurasi membran sel darah merah ataupun mengekspresikan antigen parasitnya secara eksternal. Tetapi, parasit pada tahap lanjut, yaitu trofozoit dan skizont matang, berukuran lebih besar sehingga mengubah bentuk diskoid sel darah merah yang terinfeksi serta memasukkan neoantigen seperti ringinfected erythrocyte surface antigen (RESA) dan Plasmodium falciparum erythrocyte membrane 1 (Pf EMP 1) pada membran sel darah merah penjamu. Adhesin antigenik parasit Pf EMP 1 tersebut diekspresikan di permukaan luar sel darah merah, dan perubahan ini yang menyebabkan deformitas pada sel darah merah sehingga terjadi peningkatan antigenicity.

Setelah infeksi yang berulang, akan terjadi pembentukan imunitas parsial. Ini akan membantu penjamu untuk bertoleransi dengan parasitemia dengan penyakit minimal. Walaupun begitu, imunitas ini akan hilang jika penjamu tidak terinfeksi lagi dalam beberapa tahun. Terdapat beberapa faktor genetik yang memberi imunitas terhadap malaria. Orang yang tidak mempunyai antigen Duffy pada membran sel darah merah (sering pada

Afrika Barat) tidak rentan terhadap infeksi Plasmodium vivax. Beberapa hemoglobinopati termasuk sickle cell trait juga memberi proteksi terhadap efek parah malaria. Defisiensi besi juga bisa mengurangi keparahan infeksi malaria. Selain itu, limpa juga mempunyai peranan yang penting dalam mengontrol infeksi dan orang yang telah menjalani operasi splenektomi mempunyai risiko yang tinggi untuk infeksi malaria yang luar biasa (Finch, R.G. et al, 2005). 2.1.4.1 Demam Mulai timbul bersamaan dengan pecahnya skizon darah yang mengeluarkan bermacam-macam antigen. Antigen ini akan merangsang sel-sel makrofag, monosit atau limposit yang mengeluarkan berbagai macam sitokin, antara lain TNF (tumor nekrosis faktor). TNF akan dibawa aliran darah ke hipotalamus yang merupakan pusat pengatur suhu tubuh dan terjadi demam. Proses skizogoni pada ke empat plasmodium memerlukan waktu yang berbeda-beda, P. Falsifarum memerlukan waktu 36-48 jam, P. Vivax/ovale 48 jam, dan P. Malariae 72 jam. Demam pada P. Falsiparum dapat terjadi setiap hari, P. Vivax/ovale selang waktu satu hari dan P. Malariae demam timbul selang waktu dua hari. 2.1.4.2 Anemia Terjadi karena pecahnya sel darah merah yang terinfeksi maupun yang tidak terinfeksi. Plasmodium falsiparum menginfeksi semua jenis sel darah merah, sehingga anemia dapat terjadi pada infeksi akut dan kronis. Plasmodium vivax dan plasmodium ovale hanya menginfeksi sel darah muda yang jumlahnya hanya 2% dari seluruh jumlah sel darah merah, sedangkan plasmodium malariae menginfeksi sel darah merah tua yang jumlahnya hanya 1% dari jumlah sel darah merah. Sehingga anemia yang disebabkan oleh P.

Vivax, P. Ovale dan P. Malariae umumnya terjadi pada keadaan kronis.

2.1.4.3 Splenomegali Limpa merupakan organ retikuloendothelial, dimana plasmodium dihancurkan oleh sel-sel makrofag dan limposit. Penambahan selsel radang ini akan menyebabkan limpa membesar.

2.1.4.4 Malaria Berat Malaria Berat akibat P. Falsiparum mempunyai patogenesis yang khusus. Eritrosit yang terinfeksi P. Falsiparum akan mengalami proses sekuestrasi yaitu terkumpulnya eritrosit yang berparasit di dalam pembuluh darah kapiler. Selain itu pada permukaan eritrosit yang terinfeksi akan membentuk knob yang berisi berbagai antigen P. Falsiparum. Pada saat terjadi proses sitoadherensi, knob tersebut akan berikatan dengan reseptor sel endotel kapiler. Akibat dari ini terjadilah obstruksi (penyumbatan) dalam pembuluh kapiler yang menyebabkan terjadinya iskemia jaringan. Terjadinya sumbatan ini juga diperberat oleh proses terbentuknya rosette yaitu bergerombolnya sel darah merah lainnya. Pada proses sitoadherensi ini diduga juga terjadi proses imunologik yaitu terbentuknya mediator-mediator antara lain sitokin (TNF, interleukin) dimana mediator tersebut mempunyai peranan dalam gangguan fungsi pada jaringan tertentu.

2.1.5 Manifestasi Klinik Menurut P. N. Harijanto (2007: 1756) manifestasi klinik malaria tergantung pada imunitas penderita, tingginya tranmisi infeksi malaria. Berat/ringannya infeksi dipengaruhi oleh jenis plasmodium (P. Falsiparum

sering memberikan komplikasi), daerah asal infeksi (pola resisten terhadap pengobatan), umur (usia lanjut dan bayi sering lebih berat), ada dugaan konstitusi genetik, keadaan kesehatan dan status nutrisi, kemoprofilaksis dan pengobatan sebelumnya.

Masa inkubasi adalah rentang waktu sejak sporozoit masuk sampai timbulnya gejala klinis yang ditandai dengan demam. Masa inkubasi bervariasi tergantung spesies plasmodium. Sedangkan masa prapaten adalah rentang waktu sejak sporozoit masuk sampai parasit dapat dideteksi dalam darah dengan pemeriksaan mikroskopik (Depkes,2009).

Tabel 2.1 Periode Prapaten dan Masa Inkubasi Plasmodium No 1. 2. 3. 4. Jenis Plasmodium P. falsiparum P. vivax P. ovale P. malariae Periode Prapaten 12 hari 15 hari 17 hari 28 hari Masa Inkubasi 9-14 hari 12-17 hari 16-18 hari 18-40 hari

Sumber Data: Direktorat Jenderal Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes RI

Gejala klinis adalah penyakit malaria yang ditemukan berdasarkan gejalagejala klinis dengan gejala utama demam menggigil secara berkala dan sakit kepala kadang-kadang dengan gejala klinis lain sebagai berikut (Hiswani,2004):

2.1.5.1 Badan terasa lemah dan pucat karena kekurangan darah dan berkeringat. 2.1.5.2 Nafsu makan menurun.

2.1.5.3 Mual-mual kadang-kadang diikuti muntah. 2.1.5.4 Sakit kepala yang berat, terus-menerus, khususnya pada infeksi dengan P. falsiparum. 2.1.5.5 Dalam keadaan menahun (kronis) gejala di atas disertai pembesaran limpa. 2.1.5.6 Malaria berat, seperti gejala di atas disertai dengan kejang-kejang dan penurunan kesadaran. 2.1.5.7 Gejala klasik malaria merupakan suatu paroksisme biasanya terdiri atas 3 stadium yang berurutan yaitu: a. Stadium dingin (cold stage) Stadium ini dimulai dengan menggigil dan perasaan yang sangat dingin. Gigi gemeretak dan penderita biasanya menutup tubuhnya dengan segala macam pakaian dan selimut yang tersedia, nadi cepat tetapi lemah. Bibir dan jari jemarinya pucat kebiru-biruan, kulit kering dan pucat. Penderita mungkin muntah dan pada anak-anak sering terjadi kejang. Stadium ini berlangsung antara 15 menit sampai satu jam. b. Stadium demam (hot stage) Setelah merasa kedinginan, pada stadium ini penderita merasa kepanasan. Muka merah, kulit kering dan terasa sangat panas seperti terbakar, sakit kepala menjadi-jadi dan muntah kerap terjadi, nadi menjadi kuat lagi. Biasanya suhu badan dapat meningkat sampai 41 0C atau lebih. Stadium ini berlangsung antara dua sampai empat jam. Demam disebabkan oleh pecahnya skizon darah yang telah matang dan masuknya merozoit darah ke aliran darah. c. Stadium berkeringat (sweating stage)

Pada stadium ini penderita berkeringat banyak sekali sampaisampai tempat tidurnya basah. Suhu badan meningkat dengan cepat, kadang-kadang sampai di bawah suhu normal. Penderita biasanya dapat tidur nyenyak. Pada saat bangun dari tidur merasa lemah tetapi tidak ada gejala lain, stadium ini berlangsung antara dua sampai empat jam.

Gejala-gejala yang disebutkan di atas tidak selalu sama pada setiap penderita, tergantung pada spesies parasit dan umur dari penderita, gejala klinis yang berat biasanya terjadi pada malaria tropika yang disebabkan oleh plasmodium falcifarum. Hal ini disebabkan oleh adanya kecenderungan parasit untuk berkumpul pada pembuluh darah organ tubuh seperti otak, hati dan ginjal sehingga menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah pada organ-organ tubuh tersebut. Gejala mungkin berupa koma/pingsan, kejang-kejang sampai tidak berfungsinya ginjal. Kematian paling banyak disebabkan oleh jenis malaria ini.

2.1.6 Diagnosis Malaria Diagnosis Malaria ditegakkan seperti diagnosis penyakit lainnya berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium. Diagnosis pasti malaria harus ditegakkan dengan pemeriksaan sediaan darah secara mikroskopik dan atau tes diagnostik cepat (RDT-Rapid Diagnostik Test). Khusus untuk tes RDT dapat dilakukan dengan berbagai syarat yakni RDT dapat dilakukan pada puskesmas terpencil di daerah endemis malaria, yang belum dilengkapi dengan mikroskop atau sarana laboratorium serta pada Puskesmas di daerah endemis malaria yang mempunyai fasilitas rawat inap, dan digunakan di luar jam kerja rutin. Jadi pemeriksaan RDT tidak dapat menggantikan pemeriksaan Mikroskopik.

2.1.6.1 Anamnesis Pada anamnesis sangat penting diperhatikan: 2.1.6.2 Keluhan utama: demam, menggigil, berkeringat dan dapat disertai sakit kepala, mual, muntah, diare dan nyeri otot atau pegal-pegal. 2.1.6.3 Riwayat berkunjung dan bermalam satu sampai empat minggu yang lalu ke daerah endemik malaria. 2.1.6.4 Riwayat tinggal di daerah endemik malaria. 2.1.6.5 Riwayat sakit malaria. 2.1.6.6 Riwayat minum obat malaria satu bulan terakhir. 2.1.6.7 Riwayat mendapat transfusi darah.

Selain hal di atas pada penderita tersangka malaria berat dapat ditemukan keadaan di bawah ini: a. Gangguan kesadaran dalam berbagai derajat. b. Keadaan umum yang lemah (tidak bisa duduk/berdiri) c. Kejang-kejang d. Panas sangat tinggi e. Mata atau tubuh kuning f. Perdarahan hidung, gusi atau saluran pencernaan g. Nafas cepat dan atau sesak nafas h. Muntah terus-menerus dan tidak dapat makan atau minum i. Warna air seni seperti teh tua dan dapat sampai kehitaman j. Jumlah air seni kurang (oliguria) sampai tidak ada (anuria) k. Telapak tangan sampai pucat 1) Pemeriksaan fisik a) Demam (pengukuran dengan termometer 37,5 0C) b) Konjungtiva atau telapak tangan pucat c) Pembesaran limpa (splenomegali)

d) Pembesaran hati (hepatomegali) 2) Diagnosis atas dasar pemeriksaan laboratorium a) Pemeriksaan dengan mikroskop Pemeriksaan sediaan darah (SD) tebal dan tipis untuk menentukan: (1) Ada tidaknya parasit malaria (positif atau negatif) (2) Spesies dan stadium plasmodium (3) Kepadatan parasit (4) Semi kuantitatif (-) = Negatif (tidak ditemukan parasit dalam 100 LPB/lapangan pandang besar (+) = Positif 1 (ditemukan 1-10 parasit dalam 100 LPB)

(++) =Positif 2 (ditemukan 11-100 parasit dalam 100 LPB) (+++) = Positif 3 (ditemukan 1-10 parasit dalam 1 LPB) (++++) = Positif 4 (ditemukan >10 parasit dalam 1 LPB) (5) Kuantitatif Jumlah parasit dihitung per mikro literdarah pada sediaan darah tebal (leukosit) atau sediaan darah tipis (eritrosit). b) Pemeriksaan dengan test diagnostik cepat (Rapid Diagnostik Test) Mekanisme tes ini berdasarkan deteksi antigen parasit malaria, dengan menggunakan metode imunokromatografi, dalam bentuk dipstik. Tes ini sangat bermanfaat pada unit gawat darurat, pada saat terjadi kejadian luar biasa dan di daerah terpencil yang tidak tersedia fasilitas laboratorium serta untuk survei tertentu.

2.1.7 Faktor-FaktorPenyebabTerjadinya Malaria

Secara Epidemologi Kejadian Malaria dapat terjadi karena adanya 3 faktor yaitu : 2.1.7.1 Agent (Penyebab Malaria) Yang dimaksud dengan Agent (Penyebab Malaria) adalah Sejenis Parasit yang menyebabkan penyakit malaria yaitu Genus Plasmodium, family Plasmodiidae dan Order Coccidiidae. Ada beberapa jenis Plasmodium yang dikenal di Indonesia yaitu : a. Plasmodium falciparum: penyebab penyakit tropika yangsering menyebabkan malaria berat/malaria otak yang fatal, gejala seranganya timbul berselang setiap dua hari (48 jam) sekali. b. Plasmodium vivax: penyebab penyakit malaria tertiana yang gejala serangannya timbul berselang setiap tiga hari. c. Plasmodium malaria: penyebab penyakit malaria quartana yang gejala serangannya timbul berselang setiap empat hari. d. Plasmodium ovale: jenis ini jarang ditemui di Indonesia, banyak dijumpai di Afrika dan Pasifik Barat. 2.1.7.2 Host (Manusia dan Nyamuk) a. Manusia (Host Intermediate) Faktor-faktor yang berpengaruh pada manusia: 1) Ras atau Suku bangsa 2) Kurangnya suatu ensim tertentu 3) Kekebalan 4) Umur dan Jenis Kelamin b. Nyamuk Anopheles (Host Definitive) 1) PerilakuNyamuk 1) Tempat hinggap atau istirahat 2) Tempat menggigit 3) Obyek yang digigit

2) Faktor lain 4) Umur nyamuk 5) Kerentanan nyamuk terhadap infeksi gametosit 6) Frekwensi menggigit manusia 7) Siklus Gonotropik 2.1.7.3 Environment (Lingkungan) a. LingkunganFisik 1) Suhu udara 2) Kelembaban udara 3) Hujan 4) Angin 5) Sinar Matahari 6) Arus air b. Lingkungan Kimiawi c. Lingkungan Biologik d. Lingkungan social budaya 1) Kebiasaan untuk berada diluar rumah sampai larut malam 2) Penggunaan Kelambu 3) Penggunaan Zat penolak nyamuk 4) Penggunaan kawat/kasa pada rumah 5) dll

2.1.8 Pengobatan Malaria Pengobatan yang diberikan adalah pengobatan radikal malaria dengan membunuh semua stadium parasit yang ada di dalam tubuh manusia (Depkes,2009: 12). Adapun tujuan pengobatan radikal untuk mendapat kesembuhan klinis dan parasitologik serta memutuskan rantai penularan.

Semua obat malaria tidak boleh diberikan dalam keadaan perut kosong karena bersifat iritasi lambung. Oleh sebab itu penderita harus makan terlebih dahulu setiap akan minum obat anti malaria. 2.1.8.1 Pengobatan ACT (Artemisinin base Combination Therapy) Secara global WHO telah menetapkan dipakainya pengobatan malaria dengan memakai obat ACT (Artemisinin base Combination Therapy). Golongan artemisinin (ART) telah dipakai sebagai obat utama karena efektif dalam mengatasi plasmodium yang resisiten dengan pengobatan. Selain itu artemisinin juga bekerja membunuh plasmodium dalam semua stadium termasuk gametosit. Juga efektif terhadap semua spesies P. Falsiparum, P. Vivax maupun lainnya. Kombinasi obat malaria yang diberikan dapat berupa kombinasi dosis tetap (fixed dose) atau kombinasi tidak tetap (non-fixed dose). Contoh kombinasi dosis tetap adalah Co-Artem yaitu kombinasi artemeter (20 mg) + lumefantrine (120 mg). Dosis Co-artem empat tablet 2 x 1 sehari selama tiga hari. Kombinasi tetap yang lain ialah dihidroartemisisnin (40 mg) + piperakuin (320 mg) yaitu Artekin. Dosis untuk dewasa: dosis awal dua tablet, delapan jam kemudian dua tablet, 24 jam dan 32 jam masing-masing dua tablet. Contoh kombinasi tidak tetap yang ada di Indonesia ialah kombinasi artesunate + amodiakuin dengan nama dagang Artesdiaquine atau Artesumoon. Dosis untuk orang dewasa yaitu artesunate (50 mg/tablet) 200 mg pada hari I-III (4 tablet). Untuk amodiaquine (200 mg/tablet) yaitu tiga tablet hari I dan II dan dua tablet hari III. Artesumoon ialah kombinasi yang dikemas sebagai blister dengan aturan pakai tiap blister/hari diminum selama tiga hari.

2.1.8.2 Pengobatan Malaria Dengan Obat-obatan Non-ACT Walaupun resistensi terhadap obat-obat standar golongan non ACT telah dilaporkan dari seluruh propinsi di Indonesia, beberapa daerah masih cukup efektif terhadap klorokuin maupun sulfadoksin pirimetamin (kegagalan masih kurang 25%). Contoh obat non-ACT ialah: a. Kloroquin difosfat/sulfat 250 mg garam (150 mg basa). Dosis 25 mg basa/kg BB untuk tiga hari, terbagi 10 mg/kg BB hari I dan II, 5 mg/kg BB pada hari III. Pada orang dewasa biasa dipakai dosis empat tablet hari I dan II dan dua tablet hari III. Dipakai untuk P. Falsiparum maupun P. Vivax. b. Sulfadoksin-Pirimetamin (SP) 500 mg sulfadoksin + 25 mg pirimetamin. Dosis orang dewasa tiga tablet dosis tunggal (satu kali). Atau dosis anak memakai pirimetamin 1,25mg/kg BB. Obat ini hanya dipakai untuk P. Falsiparum dan tidak efektif untuk P. Vivax. c. Kina sulfat Satu tablet 220 mg. Dosis yang dianjurkan ialah 3 x 10 mg/kg BB selama tujuh hari, dapat dipakai untuk P. Falsiparum maupun P. Vivax. Kina dipakai sebagai obat cadangan untuk mengatasi resistensi terhadap klorokuin dan SP. d. Primakuin Satu tablet 15 mg. Dipakai sebagai obat pelengkap/pengobatan radikal terhadap P. Falsiparum maupun P. Vivax. Pada P. Falsiparum dosisnya 45 mg (tiga tablet) dosis tunggal untuk membunuh gamet; sedangkan untuk P. Vivax dosisnya 15 mg/kg BB selama 14 hari yaitu untuk membunuh gamet dan hipnozoit (anti-relaps).

2.1.9 Pencegahan Malaria Tindakan pencegahan infeksi malaria sangat penting untuk individu yang non-imun, khususnya pada turis nasional maupun internasional. Kemopropilaksis yang dianjurkan ternyata tidak memberikan perlindungan secara penuh. Oleh karenanya masih sangat dianjurkan untuk memperhatikan tindakan pencegahan dengan Profilkasis serta meghindarkan diri dari gigitan nyamuk yaitu dengan cara: 2.1.9.1 Tidur dengan kelambu, sebaiknya dengan kelambu impregnated (dicelup pestisida: pemethrin atau deltamethrin). 2.1.9.2 Menggunakan obat pembunuh nyamuk: gosok, spray, asap, elektrik. 2.1.9.3 Mencegah berada di alam bebas dimana nyamuk dapat menggigit atau memakai proteksi (baju lengan panjang, kaus/stocking). Nyamuk akan menggigit diantara jam 18.00 sampai jam 06.00. Nyamuk jarang pada ketinggian di atas 2000 m. 2.1.9.4 Memproteksi tempat tinggal/kamar tidur dari nyamuk dengan kawat anti-nyamuk.

2.1.10 Kejadian Malaria Pengertian kejadian Malaria adalah seorang yang positif terkena penyakit malaria yang dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium. Kejadian malaria dilaporkan dengan angka-angka. Dalam hal hal ini ada batasanbatasan dimana suatu daerah dikatakan kejadian malarianya tinggi atau rendah. Ada istilah Kejadian Luar Biasa Malaria (KLB Malaria) yaitu suatu keadaan dimana jumlah penderita kasus malaria yang meningkat dua kali lipat atau lebih dibandingkan dengan bulan yang sama, jumlah kasus melebihi jumlah kasus maksimum (Pola Maksimum dan minimum),

gejala malaria falciparum dominan, adanya kematian dan atau keresahan masyarakat karena malaria.

2.2 Konsep Perilaku 2.2.1 Pengertian Perilaku Perilaku adalah bentuk respons atau reaksi terhadap stimulus atas rangsangan dari luar organisme (orang) namun dalam memberikan respon sangat tergantung pada karakteristik atau faktor-faktor lain dari orang yang bersangkutan. Meskipun stimulusnya sama bagi beberapa orang, namun respon tiap tiap orang berbeda (Nototmodjo S 2007).

Menurut Hendrik L.Blum (2009) ada empat faktor utama yang mempengaruhi derajat kesehatan yaitu faktor lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan keturunan. Dari empat faktor tersebut, faktor perilaku merupakan faktor terbesar kedua setelah lingkungan yang dapat mempengaruhi kesehatan individu atau masyarakat. Faktor-faktor yang membedakan respon terhadap stimulus yang berbeda disebut determinan perilaku. Determinan perilaku ini dapat dibedakan menjadi dua, yakni: a. Determinan atau faktor internal, yakni karakteristik orang yang bersangkutan yang bersifat bawaan nisalnya tingkat emosional, jenis kelamin dan sebagainya. b. Determinan atau faktor eksternal, yakni lingkungan, baik lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya. Faktor lingkungan ini sering merupakan faktor yang dominan yang mewarnai perilaku seseorang (Journal penelitian UNIB, Diakses 7Mei 2012)

Perilaku di pandang dari segi biologis, adalah suatu kegiatan atau aktifitasorganisme yang bersangkutan, jadi perillaku manusia pada hakikatnya adalah suatu aktivitas dari pada manusia itu sendiri Bentuk perilaku ada dua macam yaitu: a. Bentuk pasif adalah respon internal yaitu yang terjadi di dalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat dilihat orang lain b. Bentuk aktif adalah apabila perilaku itu jelas dapat di observasi secara langsung.

2.2.2 Perilaku Masyarakat dalam kejadian malaria Perilaku masyarakat adalah suatu kegiatan atau aktivitas masyarakat yang bersangkutan. Perilaku kesehatan yaitu hal-hal berkaitan dengan tindakan atau kegiatan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya termasuk juga tindakan-tindakan untuk mencegah penyakit, keberhasilan perorangan, memilih makanan, sanitasi dan sebagainya (journal penelitian UNIB diakses 7 Mei 2012). Perilaku masyarakat yang dapat mempermudah terjadinya kejadian malaria seperti: kebiasaan tidur di ladang atau kebun, kebiasaan keluar rumah sampai larut malam, kebiasaan tidur tidak menggunakan kelambu dan tidur tidak menggunakan obat anti nyamuk, dimana vektornya bersifat eksofilik dan eksofagik akan memudahkan kontak dengan nyamuk. Tingkat kesadaran masyarakat tentang bahaya malaria akan mempengaruhi kesediaan masyarakat untuk memberantas malaria seperti penyehatan lingkungan, menggunakan kelambu, memasang kawat kasa dan menggunakan racun nyamuk (Hasan Husin,2007).

2.3 Kerangka Konseptual

Positif Malaria Perilaku Positif

Negatif
Malaria

Positif Malaria Perilaku Negatif Negatif

Malaria

Skema 2.1 Kerangka Konseptual

2.4 Hipotesis Penelitian Ada Hubungan Antara perilaku masyarakat dengan kejadian malaria di wilayah kerja Puskesmas Perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru.

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian Dalam penelitian ini jenis penelitian yang digunakan adalah analitik yang bertujuan untuk menganalisa terjadinya malaria yang berhubungan dengan perilaku masyarakat. Sedangkan desain yang digunakan dalam penelitian ini ialah Kohort Restropektif yang berarti suatu penelitian yang mempelajari hubungan antara faktor resiko (independent) dan faktor efek (dependent) dimana melakukan pemberian kuisioner pada perilaku masyarakat dengan tekhnik wawancara, melakukan pengukuran ini sekali dan kemudian dipelajari kebelakang prilaku masyarakat. 3.2Definisi Operasional Definisi operasional merupakan definisi variabel-variabel yang akan diteliti secara operasional di lapangan (Agus Riyanto, 2011). (Saryono, 2010) mengemukakan definisi operasional dibuat untuk memudahkan pengumpulan pengumpulan data dan menghindarkan perbedaan interpretasi serta membatasi ruang lingkup variabel. Dengan definisi operasional, maka dapat ditentukan cara yang dipakai untuk mengukur variabel, tidak terdapat arti atau istilah-istilah ganda yang apabila tidak dibatasi akan menimbulkan tafsiran yang berbeda.

Matriks 3.1. Definisi Operasional Variabel Inde pen dent 1. rilaku Masyarakat P Suatu kegiatan masyarakat yangberkaitan dengan tindakan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya termasuk juga tindakantindakan untuk mencegah penyakit. Dependent 1. Kejadian Malaria Penyakit infeksi yang 1. Positif 2. Negatif Data Hasil Ordinal pemeriksaan laboratorium Hasil pemeriksaan malaria dibagi: 1. Positif 2. Negatif
1. Kebiasaan

Definisi Operasional

Parameter

Alat Ukur

Skala

Kategori

Wawanca-

Ordinal

1. Baik (20-26) 2. Kurang Baik (13-19)

tidur

di ra dengan

ladang atau panduan kebun 2. Keada di luar rumah pada mallam hari 3. Memakai Kelambu 4. Memakai obat anti kuesioner

nyamuk

disebabkan oleh plasmodium yang hidup

dalam manusia.

darah

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi Populasi merupakan keseluruhan sumber data yang diperlukan dalam suatu penelitian. Populasi dalam penelitian dapat berupa manusia, hewan, tumbuhan dan lain-lain (Saryono,2010) Populasi pada penelitian ini adalah masyarakat Sengayam dengan gejala klinis malaria yang berjumlah 134 orang. Data ini didapat dari hasil pemeriksaan di laboraturium puskesmas Sengayam yang dilakukan tim survey dari P2B2 pada saat melakukan MS di wilayah kerja Puskesmas Perawatan sengayam Kecamatan Pamukan Barat kabupaten Kotabaru.

3.3.2 Sampel Sampel merupakan sebagian dari populasi yang diharapkan dapat mewakili atau representatif populasi. Sampel sebaiknya memenuhi kriteria yang dikehendaki, sampel yang dikehendaki merupakan bagian dari populasi target yang akan diteliti secara langsung (Agus Riyanto, 2011). Pada penelitian ini pengambilan sampel secara Accidental Sampling dimana semua kasus yang ada pada populasi akan dijadikan sampel yaitu 134 sampel.

3.4 Jenis Data dan Sumber Data Jenis dan sumber data penelitian ini berasal dari : 3.4.1 Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari hasil laboratorium Puskesmas Perawatan Sengayam dan Laporan hasil Pemeriksaan malaria yang dilakukan oleh tim dari Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu.

3.5 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 3.5.1 Teknik pengumpulan data Teknik pengumpulan data dilaksanakan dengan teknik wawancara dengan panduan kuesioner tertutup yang dijawab oleh responden. Pada Variabel Independen yaitu perilaku masyarakat menggunakan kuesioner yang berjumlah 13 pertanyaan, dimana kuesioner yang dibuat menggunakan pernyataan dari keluarga dengan memakai skala Guttman yaitu dengan jawaban ya atau tidak, pertanyaan tersebut menggunakan variasi pertanyaan positip dan pertanyaan negatip yang kemudian diberi nilai atas jawaban responden. Jika pada pertanyaan positip responden menjawab ya diberi nnilai 2 dan menjawab tidak diberi nilai 1, pertanyaan positip terletak pada no 2,3,5,7,8, jika pada pertanyaan negatip responden menjawab ya diberi nilai 1 dan menjawab tidak diberi nilai 2, pertanyaan negatip terletak pada no 1,4,6,9,11,12,13. Sedangkan pada variabel kejadian malaria menggunakan data sekunder hasil dari Laporan

Pemeriksaan malaria yang dilakuakn tim dari Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu. 3.5.2 Instrumen penelitian Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner dan lembar observas. Kuesioner digunakan untuk mengetahui perilaku masyarakat. Kuesioner tersebut berisi pertanyaan tertutup yang kemudian dibagikan

kepada responden dan responden tinggal memberikan jawaban atas pertanyaan yang ada di kuesioner tersebut. Sedangkan lembar observasi digunakan untuk mengetahui pasien dengan gejala klinis malaria atau positif malaria yang diperoleh dari hasil laboratorium puskesmas Sengayam.

3.6 Teknik Pengolahan Data 3.6.1 Teknik pengolahan data Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan komputer dengan langkah-langkah pengolahan data yang dilakukan adalah sebagai berikut (Soekidjo Notoatmojo, 2010) : 3.6.1.1 Editing Hasil wawancara atau lembar observasi dari lapangan harus dilakukan penyuntingan (editing) terlebih dahulu. Secara umum editing merupakan kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian formulir atau kuesioner. 3.6.1.2 Coding Setelah semua kuesioner diedit atau disunting, selanjutnya dilakukan pengkodean atau coding, yakni mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan. 3.6.1.3 Memasukkan data (data entry) atau processing Data, yakni jawaban-jawaban dari masing-masing responden yang dalam bentuk kode (angka atau huruf) dimasukkan dalam program atau software komputer. 3.6.1.4 Pembersihan data (cleaning)

Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden selesai dimasukkan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinankemungkinan adanya kesalahan kode, ketidaklengkapan da sebagainya. 3.7 Analisis data 3.7.1 Analisis Univariate Menganalisa data untuk mendapatkan gambaran data distribusi frekuensi masing-masing variabel yaitu variabel independen (prilaku) dan variabel dependen (malaria). Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif dalam bentuk narasi, persentase dan tabel distribusi frekuensi variabel-variabel penelitian. 3.7.2 Analisis Bivariate Menganalisa data untuk melihat hubungan antara variabel independen (prilaku) terhadap variabel dependen (malaria). Untuk mencari hubungan anatara variabel dependen terhadap variabel independen, dilakukan dengan menggunakan uji statistik chi square pada probabilitas p = 0,05 dengan tingkat kepercayaan 95%. Adapun rumus uji statistik chi square adalah: (Oij Eij) X = Eij

Keterangan : Oij

= Eij

Frekuensi Teramati pada sel ij = Frekuensi Harapan pada sel ij

Apabila nilai p 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima berarti ada hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Apabila p

0,05, maka Ho diterima dan Ha ditolak berarti tidak ada hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.

3.8 Etika Penelitian Dalam Pada penelitian ini, peneliti terlebih dahulu mengajukan permohonan ijin kepada Puskesmas Perawatan Sengayam untuk mendapatkan persetujuan, kemudian dilakukan observasi/wawancara langsung kepada seluruh responden dengan tetap mengacu pada etika penelitian. 3.8.1 Informed Consent (lembar persetujuan) Lembar persetujuan diberikan pada subyek yang akan diteliti. Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan riset yang dilakukan. Jika subyek bersedia diteliti maka harus menandatangani lembar persetujuan, jika subyek menolak untuk diteliti maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati haknya. 3.8.2 Anonimity (tanpa nama) Untuk menjaga kerahasiaan identitas, peneliti tidak akan mencantumkan nama subyek pada lembar observasi, lembar tersebut hanya diberi nomor kode tertentu. 3.8.3 Confidentility (kerahasiaan) Peneliti menjamin kerahasiaan informasi yang diperoleh dari responden. 3.8.4 Mendapat penjelasan tentang penelitian yang melibatkan responden.

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian Dalam penelitian ini yang menjadi responden adalah masyarakat Sengayam dengan gejala klinis malaria pada tanggal 14-25 Agustus 2012 yang berjumlah 134 responden. Berdasarkan data primer yang telah dikumpulkan dengan kuesioner terhadap responden didapatkan hasil sebagai berikut : 4.1.1 Karekteristik responden 4.1.1.1 Jenis kelamin responden Dari pengumpulan data yang telah dilakukan terhadap 134 responden diperoleh data sebagai berikut: Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin No. 1. 2. Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Jumlah 102 32 134 Persentasi (%) 76,1 23,9 100

Berdasarkan tabel 4.1 dapat dilihat sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 102 responden (76,1%). 4.1.1.2 Umur responden. Dari pengumpulan data yang telah dilakukan terhadap 134 responden diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur


No. 1. Usia 20-30 Tahun Jumlah 11 78 45 134 Persentasi (%) 8,2 58,2 33,6 100

2.
3.

31-40 Tahun
>40 Tahun

Jumlah

Berdasarkan tabel 4.2 dapat dilihat sebagian besar responden berusia 31-40 tahun sebanyak 78 responden (58,2%). 4.1.1.3 Tingkat pendidikan responden Dari pengumpulan data yang telah dilakukan terhadap 134 responden diperoleh data sebagai berikut: Tabel 4.3 Karakteristik Pendidikan No. 1. 2. 3. 4. 5. Pendidikan Tidak Sekolah SD SMP SMA Akademi/PT Jumlah Jumlah 2 84 25 14 9 134 Persentasi (%) 1,5 62,6 18,7 10,5 6,7 100 Responden Berdasarkan Tingkat

Berdasarkan tabel 4.3 dapat dilihat sebagian besar responden berpendidikan SD sebanyak 84 responden (62,6%). 4.1.1.4 Jenis pekerjaan responden Dari pengumpulan data yang telah dilakukan terhadap 134 responden diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 4.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan No. 1. 2. 3. 4. 5. Pekerjaan Tidak Bekerja Petani Nelayan Swasta PNS/TNI/POLRI Jumlah Jumlah 6 78 11 30 9 134 Persentasi (%) 4,5 58,2 8,2 22,4 6,7 100

Berdasarkan tabel 4.4 dapat dilihat sebagian besar pekerjaan responden petani sebanyak 78 responden (58,2%). 4.1.2 Analisis Univariat 4.1.2.1 Prilaku Masyarakat Dari pengumpulan data yang dilakukan terhadap 134 responden diperoleh data sebagai berikut : Tabel 4.5 Prilaku Masyarakat No. 1. 2. Prilaku Masyarakat Baik Kurang Baik Jumlah Jumlah 78 56 134 Persentasi (%) 58,2 41,8 100

Berdasarkan tabel 4.5 dapat dilihat sebagian besar responden berprilaku baik sebanyak 78 responden (58,2%). 4.1.2.1 Kejadian Malaria Dari pengumpulan data yang dilakukan terhadap 134 responden diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 4.6 Kejadian Malaria No. 1. 2. Kejadian Malaria Positif Negatif Jumlah Jumlah 91 43 134 Persentasi (%) 69,4 30,6 100

Berdasarkan tabel 4.6 dapat dilihat sebagian besar kejadian malaria positif sebanyak 93 responden (69,4%).

4.1.3 Analisis Bivariat Analisis ini digunakan untuk melihat hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen yang dilakukan dengan menggunakan uji statistik chi square. Tabel 4.7 Hubungan Prilaku Masyarkat dengan Kejadian Malaria Prilaku Kurang Baik Baik Total Kejadian Positif 54 37 91 % 96,4 47,4 Negatif 2 41 43 df = 1 % 3,6 52,6 Total 56 78 134 % 100 100 100

Chi Square 2 Hitung = 35,904 Asymp. Sig = 0,000

Nilai 2 Tabel = 3,841 Taraf signifikan = 0,05

Pada hasil uji Chi Square didapatkan nilai nilai Asymp. Sig. (2-sided) = 0,000 dengan taraf signifikansi 5% (0,05). Karena nilai p < 0,05 (0,000 < 0,05) maka dapat disimpulkan Ho ditolak ada hubungan yang bermakna antara Prilaku Masyarakat dengan Kejadian Malaria. Nilai Odds Ratio = 29.919, artinya masyarakat dengan prilaku baik mempunyai peluang 29,9 kali dibanding masyarakat dengan prilaku kurang baik.

4.2 Pembahasan 4.2.1 Prilaku Masyarakat Hasil penelitian menunjukkan bahwa prilaku masyarakat sebagian besar dalam kategori baik sebanyak 78 responden (58,2%). Aspek-aspek dari 78 responden yang memiliki prilaku baik, diantaranya 45 responden memakai kelambu sewaktu tidur di malam hari, 24 responden memiliki kebiasaan memakai obat anti nyamuk dan 9 responden tidak sering keluar pada malam hari. Pada aspek prilaku

kurang baik dari 56 responden, diantarnya 27 responden tinggal disekitar lokasi persawahan, 12 responden pernah tidur diladang atau kebun dan 17 responden disekitar tempat tinggalnya sampah dibuang sembarangan. Faktor yang mempengaruhi prilaku masyarakat menjadi baik adanya stimulus dari luar yang memberikan respon kepada masyarakat setempat untuk berprilaku baik agar terhindar dari malaria. Teori yang mendukung hasil penelitian menurut notoatmodjo (2007), prilaku adalah bentuk respon atau reaksi terhadap stimulus atau rangsangan dari luar organism (orang) namun dalam memberikan respon sangat tergantung pada karakteristik atau faktor-faktor lain dari orang yang bersangkutan. Meskipun stimulusnya sama bagi beberapa orang, namun respon tiap-tiap orang berbeda. Hasil penelitian lain yang mendukung hasil penelitian diatas, menurut penelitian yang dilakukan oleh Eka (2009), prilaku masyarakat dalam penerimaan terhadap penderita gangguan jiwa ditempat tinggalnya, sangat dipengaruhi oleh persepsi, lingkungan dan budaya setempat.

4.2.2 Kejadian Malaria Berdasarkan hasil penelitian kejadian malaria yang berkategori positif sebanyak 91 responden (69,4%). Faktor yang mempengaruhi kejadian malaria sebagian besar dikarenakan oleh lingkungan dan prilaku masyarakat setempat untuk menjaga kebersihan di lingkungannya. Teori yang mendukung hasil penelitian ini menurut Hiswani (2004), faktor yang menyebabkan terjadinya malaria secara epidemiologi dikarenakan adanya 3 faktor yaitu, Agent (penyebab Malaria), Host (Manusia dan Nyamuk) dan environment (lingkungan).

Penelitian lainnya yang mendukung penelitian diatas, menurut Rahman (2007) kebiasaan membuang sampah sembarangan dengan penyebaran wabah malaria, dikarenakan lingkungan yang kotor dan lembab akan mudah menjadi tempat nyamuk bersarang. 4.2.3 Hubungan Prilaku Masyarakat Dengan Kejadian Malaria Di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru. Berdasarkan hasil Chi Square dengan kemaknaan p < 0,05 didapatkan hasil p=0,000 ada hubungan antara Prilaku Masyarakat Dengan Kejadian Malaria Di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru. Nilai Odds Ratio = 29.919, artinya masyarakat dengan prilaku baik mempunyai peluang 29,9 kali dibanding masyarakat dengan prilaku kurang baik.

Berdasarkan prilaku masyarakat dengan kejadian malaria menunjukkan bahwa prilaku masyarakat yang dikategorikan kurang baik sebanyak 56 responden dengan kejadian malaria yang dikategorikan positif berjumlah 54 responden (96,4%) dan prilaku masyarakat yang dikategorikan baik sebanyak 78 responden dengan kejadian malaria yang dikategorikan

negatif berjumlah 41 responden (52,6%). Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian malaria disuatu daerah tidak hanya dikarenakan oleh prilaku masyarakat yang baik atau tidak baik, melainkan ada faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi seperti faktor kelembaban udara didaerah tersebut, hujan, kekebalan pada manusia, umur, jenis kelamin serta asupan Gizi seseorang dalam kehidupannya sehari-hari. Menurut teori yang dikemukakan oleh Hiswani (2004), faktor yang menyebabkan terjadinya malaria secara epidemiologi dikarenakan adanya 3 faktor yaitu, Agent (penyebab Malaria), Host (Manusia dan Nyamuk) dan environment (lingkungan).

Hasil penelitian lain yang mendukung hasil penelitian diatas, menurut penelitian yang dilakukan oleh Eka (2009), prilaku masyarakat dalam penerimaan terhadap penderita gangguan jiwa ditempat tinggalnya, sangat dipengaruhi oleh persepsi, lingkungan dan budaya setempat.

4.3

Keterbatasan Penelitian 4.3.1 Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian Kohort Restropektif yang berarti suatu penelitian yang mempelajari hubungan antara faktor resiko (independent) dan faktor efek (dependent).

4.3.2 Instrument Penelitian Penelitian ini memiliki keterbatasan dan kekurangan, dimana penelitian ini hanya bersifat analitik. Pengumpulan data pada penelitian ini adalah menggunakan kuesioner yang bersifat subjektif sehingga kebenaran data sangat bergantung pada kejujuran responden dan ketekunan dalam mengisi kuesioner. 4.3.3 Variabel Penelitian Keterbatasan dari variabel penelitian ini dimana kejadian malaria tidak hanya dipengaruhi oleh prilaku masyarakat.

BAB 5 PENUTUP

5.1

Simpulan Berdasarkan pada hasil penelitian hubungan prilaku masyarakat dengan kejadian malaria di Wilayah kerja Puskesmas perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru. dapat disimpulkan sebagai berikut: 5.1.1 Sebagian besar prilaku masyarakat di Wilayah kerja Puskesmas perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru dikategorikan baik sebanyak 78 responden (58,2%). 5.1.2 Sebagian besar kejadian malaria di Wilayah kerja Puskesmas perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru

dikategorikan positif sebanyak 91 responden (69,4%). 5.1.3 Ada hubungan antara prilaku masyarakat dengan kejadian malaria di Wilayah kerja Puskesmas perawatan Sengayam Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru, dengan nilai p = 0,000. 5.2 Saran. Berdasarkan uraian kesimpulan diatas peneliti dapat memberikan beberapa saran yaitu:

5.2.1

Bagi Responden Menambah wawasan Responden untuk informasi tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan dilingkungan sekitarnya.

5.2.2

Bagi Institusi Sebagai tambahan kepustakanan dalam penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan ilmu keperawatan dan asuhan keperawatan.

5.2.3

Bagi puskesmas

Perlu lebih ditingkatkan lagi penyuluhan tentang cara pencegahan malaria di wilayah kerjanya guna menekan angka kejadiannya. 5.2.4 Bagi Masyarakat Menambah wawasan Masyarakat untuk informasi tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan di lingkungan sekitarnya. 5.2.5 Bagi Peneliti Lainnya Bagi peneliti yang akan datang diharapakan agar lebih

menyempurnakan hasil penelitian ini dengan variabel-variabel lainnya.

KUESIONER HUBUNGAN PERILAKU MASYARAKAT DENGAN KEJADIAN MALARIA DI PUSKESMAS PERAWATAN SENGAYAM KECAMATAN PAMUKAN BARAT KABUPATEN KOTABARU

Nomor Responden Hari Tanggal

: : :

Petunjuk : Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan mengisi pada tanda titik-titik dan memberi tanda cheeklist () pada salah satu kotak jawaban yang anda anggap benar. A. Data Responden 1. Umur : ................................................................................................. 2. Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan 3. Alamat :

4.

Tingkat Pendidikan Tidak / Belum Sekolah SD SMP SMA Akademi / Perguruan Tinggi

5.

Pekerjaan

PNS / TNI / POLRI Petani Nelayan Swasta Tidak bekerja Dan lain-lain

B. Perilaku Masyarakat No 1. 2.

3.

4.

5.

6.

7.

Pertanyaan Apakah anda sering keluar pada malam hari: Apakah anda memakai kelambu sewaktu tidur di malam hari: Apakah anda mempunyai kebiasaan memakai obat anti nyamuk (semprot, oles, bakar, atau elektrik) pada malam hari: Apakah disekitar tempat tinggal anda sampah dibuang sembarangan: Apakah anda sering membersihkan ruangan dalam rumah anda Apakah di sekitar tempat tinggal anda banyak terdapat tumbuhan seperti semak, salak, bakau, lumut atau ganggang: Apakah ventilasi di rumah anda dilengkapi dengan

Ya

Tidak

8.

9.

10.

11.

12. 13.

kawat kasa: Apakah kondisi dinding rumah anda apabila di lihat dari kerapatan dindingnya tidak ada lubang sebesar 1,5 cm: Apakah di sekitar tempat anda tinggal banyak terdapat air yang menggenang: Apakah lingkungan tempat tinggal Saudara/i beresiko untuk terjangkit penyakit malaria? Apakah di sekitar tempat anda tinggal banyak terdapat sampah yang menumpuk Apakah tempat tinggal anda dekat dengan lokasi persawahan: Apakah anda pernah tidur di ladang atau kebun

DAFTAR RUJUKAN Agus Riyanto. 2011. Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika. Amirul Hasan. 2009. Proposal Penelitian Tentang Malaria. (online).

http://penantiantiadaakhirbuatsangjelita.blogspot.com/2009/07/malaria.htm l. diakses 23 Januari 2012, pukul 10.15 WIB. Arif Mansjoer. 2004. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Keenam. Jilid 1. Jakarta: Media Aesculapius. Aru W. Sudoyo. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Eko Saputra. 2011. Jurnal urip Santoso. Pengaruh Lingkungan Terhadap Nyamuk Anopheles Pada Proses Transmisi Malaria. (online).

http://uripsantoso.wordpress.com/2011/01/13/pengaruh-lingkunganterhadap-nyamuk-anopheles-pada-proses-transmisi-malaria/ Januari 2012, pukul 11.15 WIB. Hasan Husin. 2007. Analisis Faktor Risiko Kejadian Malaria di Puskesmas Sukamerindu Kecamatan Sungai Serut Kota Bengkulu Provinsi Bengkulu. Tesis (online). Semarang: Program Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang. http://eprint.undip.ac.id/17530/1/Hasan_Husin.pdf, diakses 7 Januari 2012, pukul 12.15 WIB. Hiswani. 2004. Gambaran Penyakit dan Vektor Malaria di Indonesia. From URL. (online). http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-hiswani11.pdf.html, diakses 23

diakses 7 Januari 2012, pukul 12.25 WIB. Saryono. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Penuntun Praktis Bagi Pemula. Yogyakarta: Mitra Cendikia. Soekidjo Notoatmodjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes RI. 2009. Pedoman Penatalaksanaan Kasus Malaria di Indonesia.Gebrak Malaria. Jakarta: Depkes RI. --------------------. 2008. Pedoman Penatalaksanaan Kasus Malaria di Indonesia. Jakarta: Depkes RI. Wikipedia Bahasa Indonesia. 2012. Lingkungan. Ensiklopedia Bebas. (online). http://id.wikipedia.org/wiki/lingkungan, diakses 19 Januari 2012, pukul 20.20 WIB. Wikipedia Bahasa Indonesia. 2012. Pekerjaan. Ensiklopedia Bebas. (online). http://id.wikipedia.org/wiki/pekerjaan, diakses 19 Januari 2012, pukul 20.15 WIB. Wikipedia Bahasa Indonesia. 2012. Tradisi. Ensiklopedia Bebas. (online). http://id.wikipedia.org/wiki/tradisi, diakses 19 Januari 2012, pukul 20.25 WIB.

Hasil Uji Validitas Instrument Perilaku Masyarakat Pertanyaan No 1 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 0,865 0,774 0,852 0,642 0,714 0,763 0,755 0,671 0,826 0,695 0,731 0,748 0,653 Nilai r Hitung 2 Nilai r Tabel 3 Jumlah responden 10, tara Signifikansi 5% nilai r tabel= 0,632 r hitung > r tabel r hitung > r tabel r hitung > r tabel r hitung > r tabel r hitung > r tabel r hitung > r tabel r hitung > r tabel r hitung > r tabel r hitung > r tabel r hitung > r tabel r hitung > r tabel r hitung > r tabel r hitung > r tabel Kesimpulan

4 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid

Instrument perilaku

Hasil Uji Reliabilitas Cronbachs Alpha 0,760

N of items 13

Hasil Uji Chi Square


Case Processing Summary Cases Valid N perilaku * kejadian 134 Percent 100.0% N 0 Missing Percent .0% N 134 Total Percent 100.0%

perilaku * kejadian Crosstabulation kejadian positif perilaku kurang baik Count % within perilaku baik Count % within perilaku Total Count % within perilaku 54 96.4% 37 47.4% 91 67.9% negatif 2 3.6% 41 52.6% 43 32.1% Total 56 100.0% 78 100.0% 134 100.0%

Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 35.636 134 1 .000
b

Exact Sig. (2sided)

Exact Sig. (1sided)

df
a

sided) 1 1 1 .000 .000 .000

35.904

33.691 42.999

.000

.000

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 17,97. b. Computed only for a 2x2 table