Anda di halaman 1dari 7

Diare Akut Tanpa Dehidrasi pada Anak usia 1 Tahun 10 Bulan Dengan Status Gizi Kurang dan Perilaku

Jajan Yang Tidak Sehat serta Lingkungan Tidak Mendukung Abstrak Latar Belakang Diare adalah penyakit saluran cerna dan merupakan salah satu masalah kesehatan utama dari masyarakat Indonesia. Di Indonesia dapat ditemukan sekitar 60 juta kejadian diare setiap tahun, 70-80% kasus adalah anak dibawah lima tahun ( 40 juta kejadian). Metode Studi dilakukan menggunakan metode deskriptif dengan anamnesis serta pemeriksaan fisik kemudian dilanjutkan dengan kunjungan rumah serta pertemuan dengan pasien dan keluarga secara berkala pada seorang anak laki-laki usia 1 tahun 10 bulan. Diidentifikasi masalah-masalah yang ada pada pasien serta dilakukan tata laksana komprehensif berdasarkan masalah tersebut. Hasil Hasil yang didapatkan pasien mengalami diare akut tanpa dehidrasi, rhinofaringitis akut dan gizi kurang. Intervensi yang dilakukan yaitu dengan memberi edukasi mengenai penyakit pasien, pola hidup bersih dan sehat, pola makan bergizi seimbang dan memberi edukasi kepada keluarga mengenai perilaku berobat secara preventif. Hasilnya, pasien dan keluarga mengerti mengenai penyakit dan risiko kekambuhan serta mengetahui mengenai pola hidup bersih dan sehat. Diskusi Dari hasil binaan ditemukan adanya faktor penghambat yaitu usia pasien yang masih sangat muda, dan kurangnya pengetahuan orang tua mengenai pola hidup bersih dan sehat, kondisi rumah dan sanitasi lingkungan yang kurang baik. Faktor pendukung yang ditemukan yaitu keluarga yang kooperatif terhadap pembinaan, keinginan orang tua untuk mulai melakukan pencegahan dan kepedulian orang tua dengan kesembuhan pasien. Kesimpulan Pendekatan holistik dan komprehensif pada kasus ini diperlukan untuk pemberian pelayanan dengan pendekatan kedokteran keluarga yang berkesinambungan sehingga pelayanan kesehatan yang diberikan menjadi optimal. Kata kunci : Diare, rhinofaringitis akut, gizi kurang, dokter keluarga, intervensi

Non-Acute Diarrhea Dehydration in One Year Ten Months Children with Lack of Nutrition Status, Unhealthy Meal Behavior and Unsupportive Environment Abstract Background Diarrhea is a disease in the gastrointestinal tract, which is still one of the major health problems of people in Indonesia. In Indonesia 60 million incidence of diarrhea happened each year, 7080% of these patients are children under five years ( 40 million events). Method The study was conducted using descriptive methods to perform history and physical examination followed by home visits and meetings with patients and families regularly on a boy aged one year ten months. The problems that exist in patients was identified and a comprehensive code of conduct based on the problem also implemented. Result The result is the patient having acute diarrhea dehydration, acute rhinofaringitis and lack of nutrition. Intervention provided consists of education about the patient's illness, a clean and healthy lifestyle, nutritious balanced diet and education to families about the preventive treatment of behavior. The result is patients and families understand the disease and the risk of recurrence as well as learn about clean and healthy lifestyle. Discussion From what could be found in the results, the inhibiting factor is the lack of patients knowledge and parents about a clean and healthy lifestyle, housing conditions and poor environmental sanitation. Supporting factors, which was found, consists of the cooperative family toward the development, the desire of parents to start doing prevention and the parents concern with the patient's recovery. Conclusion Holistic and comprehensive approach in this case is required for delivering a service with a sustainable approach to family medicine so that health services are provided to be optimal. Key words: Diarrhea, acute rhinofaringitis, malnutrition, family physicians, intervention

Pendahuluan Prevalensi penyakit diare meningkat dalam dekade terakhir ini, baik di negara maju maupun berkembang. Peningkatan ini di sebabkan oleh beberapa faktor diantaranya lingkungan (tingkat kebersihan), infeksi, dan faktor makanan. Di Indonesia sendiri sebagai negara berkembang memiliki prevalensi penyakit diare yang cukup tinggi terutama pada anak-anak. Pada anak penyebab tertinggi penyakit diare disebabkan oleh faktor infeksi dan faktor makanan. Masyarakat Indonesia yang sebagian besar tinggal di daerah yang memiliki tingkat kebersihan rendah sehingga berpotensi untuk tumbuh dan berkembang berbagai penyakit, salah satunya diare. Minimnya tingkat kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan merupakan hal yang mendasari peningkatan jumlah berbagai penyakit. Kebersihan tempat tinggal dan lingkungan tempat anak bermain yang luput dari perhatian dapat meningkatkan risiko penyakit seperti diare dan infeksi saluran nafas atas. Faktor makanan juga memberikan andil dalam timbulnya berbagai penyakit. Pada anak-anak faktor makan di bagi menjadi dua yaitu kebersihan makanan dan malabsorbsi makanan. Kebersihan makanan harus di jaga mulai dari proses memilih bahan pangan, proses pemasakan hingga penyajian makanan, apabila di antara proses tersebut tercemar maka dapat mengakibatkan penyakit bagi anak yang mengkonsumsinya. Sedangkan faktor malabsorbsi terbagi lagi atas malabsorbsi lemak, karbohidrat dan protein. Malabsorbsi 3

makanan dapat mengganggu osmolaritas usus sehingga terjadi gangguan pada penyerapan air dan elektrolit di usus yang dapat menyebabkan diare. Hingga saat ini pemerintah terus berupaya memerangi penyakit diare dengan berbagai upaya antara lain sanitasi air bersih, meningkatkan kebersihan lingkungan serta upaya pencegahan dan penanganannya, diharapkan tingkat prevalensi penyakit diare di Indonesia dapat di tekan seminimal mungkin.1 Metode Laporan kasus dengan mengambil data primer (dilakukan dengan melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik kemudian dilanjutkan dengan kunjungan rumah serta pertemuan dengan pasien secara berkala) dan data sekunder (dengan melihat rekam medis dan status antropometris). Diidentifikasi masalah-masalah yang ada pada pasien serta dilakukan tata laksana komprehensif berdasarkan masalah tersebut. Tujuan Tujuan studi kasus ini adalah mengidentifikasi masalah klinis, keluarga dan lingkungan yang di hadapi pasien dan melakukan penatalaksanaan berbasis keluarga. Pelayanan kedokteran keluarga merupakan pendekatan yang tepat dalam tatalaksana penyakit diare pada anak dengan gizi kurang, terutama karena kegiatannya mencakup semua tingkat pencegahan dengan pendekatan secara holistik dan komprehensif. Ilustrasi Kasus

Anak 1 tahun 10 bulan datang dengan keluhan bab cair yang dirasakan sejak 2 hari sebelumnya dan batuk berdahak disertai pilek sejak 4 hari sebelumnya. Gejala batuk pilek ini pernah dirasakan sekitar 2 bulan yang lalu. Pasien sering mengkonsumsi makanan jajan dari luar rumah. Ayah pasien adalah seorang perokok berat. Gejala tidak mengarah ke penyakit atopik, riwayat penyakit asma disangkal. Pasien memiliki status gizi kurang dengan berat badan 9 kg dan tinggi badan 85 cm. Riwayat penyakit dahulu didapati adanya riwayat penyakit rhinofaringitis 2 bulan yang lalu. Riwayat penyakit keluarga tidak ada yang memiliki riwayat penyakit asma ataupun rhinofaringitis. Dari pemeriksaan fisik didapatkan frekuensi nadi yakni 96 x/ menit, frekuensi nafas 28 x/ menit, dan suhu 36,2 oC. Status gizi kurang, dilihat dari hasil BB/TB : 74%. Pemeriksaan status generalis tidak ditemukan kelainan. Kesimpulan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik yang telah dilakukan, didiagnosis dengan diare akut tanpa dehidrasi, rhinofaringitis akut berulang, gizi kurang. Pada kunjungan rumah, dilakukan pengumpulan data yang masih diperlukan, berupa genogram (gambar 1)

Gambar 1. Genogram keluarga Pasien tinggal bersama kedua orang tua di sebuah rumah dengan lingkungan padat penduduk. Rumah kontrakan seluas 4x8 m2. Sumber nafkah keluarga berasal dari pekerjaan ayah sebagai tukang ojek. Pengeluaran keluarga umumnya untuk biaya listrik, air dan makan. Umumnya makanan dimasak sendiri oleh ibu. Air yang digunakan bersih dan dimasak terlebih dahulu. Pada penilaian food recall ditemukan asupan yang kurang dari kebutuhan kalori ideal yang harus di dapat. Sehari-hari pasien diasuh oleh ibunya. Interaksi dengan ayah dan ibu sangat baik. Penilaian terhadap keadaan rumah penerangan dirasa cukup, hanya sinar matahari dan ventilasi kurang baik sehingga rumah dirasa lembab dan berdebu. Pasien saat ini belum sekolah, setiap sore bermain dengan anak seusianya di sekitar rumah. Saat ini diberikan konseling untuk memperhatikan pola makan anak dan bahaya jajan sembarangan, menghindari debu, paparan polutan, menjaga kebersihan dan sirkulasi rumah. Selain itu, dijelaskan juga mengenai pola makan dengan gizi seimbang dan pola asuh yang baik dalam keluarga. Pengobatan medikamentosa yang diberikan yaitu Babycough syrup (2-3x5 ml/hari), Lacto B (3x1 sachet/hari) dan Curcuma syrup (1-2x5 ml/hari). Diskusi Diare Menurut WHO (1990) diare merupakan buang air besar encer lebih dari 3x sehari. Penyebab diare itu sendiri antara 4

lain infeksi, malabsorbsi, makanan dan psikologis. Pada anak-anak terutama pada balita penyebab tertinggi adalah infeksi dan malabsorbsi makanan. Infeksi pada anak dapat di sebabkan faktor lingkungan yang berkaitan erat dengan tingkat kebersihan yang memicu munculnya penyakit. Malabsorbsi makanan pada anak mulai dari yang ringan hingga yang berat dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga anak dengan mudah terserang berbagai penyakit. Penyakit diare itu sendiri di bagi menjadi ; diare akut dan diare kronis. Diare akut biasanya disebabkan oleh makanan yang tidak bersih, parasit ataupun karena penyakit infeksi. Pada diare kronis pertama kali harus dicurigai adanya parasit seperti nematoda, giardia atau trichomonas. Parasit ini dapat diketahui dengan pemeriksaan feses. Kehilangan cairan dan elektrolit merupakan akibat dari diare yang perlu diwaspadai. Air, sodium, chloride, bicarbonat dan potassium merupakan unsurunsur utama yang hilang dari tubuh. Kehilangan air, sodium dan chloride akan menyebabkan dehidrasi. Kehilangan bikarbonat akan menimbulkan asidosis metabolik, sedangkan kehilangan potassium akan menyebabkan kelemahan dan 1 penurunan nafsu makan. Rhinofaringitis akut Secara definisi, rhinitis adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersinbersin, keluarnya cairan dari hidung, rasa gatal dan tersumbat. Sedangkan faringitis adalah iritasi atau infeksi pada saluran faring atau tonsil (amandel) yang umumnya disebabkan oleh virus (sekitar 40-60%), 5

diikuti oleh bakteri streptococcus beta hemolyticus, streptococcus viridans, streptococcus pyogenes (sekitar 15%), dan jamur. Hidung dan faring sama-sama merupakan bagian dari saluran napas, sehingga infeksi kuman di hidung dapat menjalar ke faring, begitupun sebaliknya. Suatu keadaan di mana terdapat baik gejala rhinitis maupun faringitis disebut rhinofaringitis. Terdapat beberapa keadaan yang dapat menyebabkan keluhan rhinofaringitis tidak kunjung sembuh. Yang pertama adalah terkait dengan faktor non-infeksi, yakni pola makan (makanan panas dan berminyak, makanan pedas), kekeringan (kurang minum, demam), daya tahan tubuh menurun (istirahat kurang), termasuk kecenderungan alergi pada orang-orang tertentu (alergi dingin, debu). Penyebab kedua adalah adanya kemungkinan sinusitis, yaitu peradangan pada selaput permukaan rongga wajah di sekitar hidung. Faktor lingkungan yang banyak diperhatikan adalah paparan terhadap polutan, debu, asap rokok, asap kendaraan bermotor dapat menyebabkan prevalensi penyakit atopik yang tinggi. Kebiasaan jajan makanan sembarangan di luar rumah juga dianggap sebagai faktor risiko timbulnya keluhan batuk, asupan makanan bergizi seimbang yang kurang, juga dapat menyebabkan pasien rentan terhadap paparan alergen. Karena kurang perhatian dan tidak terkontrolnya pola makan pasien, akibatnya pola makan menjadi tidak teratur dan lebih senang jajan sembarangan. Kurangnya pengetahuan mengenai penyakit yang

dialaminya, dan perhatian keluarga sehingga pasien tidak tahu mengenai pola makan yang teratur selain karena usia yang sangat muda (1 tahun 10 bulan) dan kebiasaan berobat keluarga yang masih bersifat kuratif hanya jika ada keluhan. Keluarga pasien tidak memiliki tingkat pemahaman yang cukup mengenai penyakit yang diderita pasien sehingga diperlukan konseling mengenai penyakitnya.1 Pola asuh yang baik Penatalaksanaan non farmakologis meliputi modifikasi pola asuh. Ikut serta menjalankan peran serta sebagai pelaku rawat, merupakan cara yang paling tepat untuk mencegah terjadinya pola asuh yang kurang baik, menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan anak tidak terkontrol dengan baik. Penatalaksanaan pasien dengan gizi kurang pun tidak terlepas dari penatalaksanaan pola asuh yang baik. Modifikasi pola asuh paling utama untuk menstabilkan asupan makanan dengan gizi seimbang, lebih menjelaskan kepada orangtua pasien akan bahaya makan jajanan di luar rumah, perlunya makanan dengan gizi seimbang, lebih memperhatikan kebersihan dan sirkulasi udara di rumah. Menjelaskan kepada orangtua, khususnya ayah akan bahaya dari asap rokok bagi keluarga. Tabel. sasaran pola asuh yang baik
Modifikasi Orangtua Rekomendasi

Perilaku kesehatan

Lingkungan rumah

pola asuh yang baik. Pasien dan keluarga mengerti pentingnya upaya preventif dalam penanganan penyakit (melakukan gaya hidup sehat sesuai dengan penyakit pasien) Kebersihan rumah dan lingkungan terjaga. Ventilasi dan sirkulasi udara rumah baik.

1 minggu

1 minggu

Dari catatan food recall pasien didapatkan konsumsi 812,5 kal (hari 1), 715 kal (hari 2) dan 712,5 kal (hari 3) sementara kebutuhan harian pasien perhari adalah 1326 kal. Maka, dianjurkan untuk mengkonsumsi menu makanan bergizi sesuai dengan contoh menu yang telah kami uraikan di contoh menu gizi seimbang. Kategori status gizi menurut persen (%) terhadap median indeks BB/TB (WHO 2005) :2 1. 2. 3. 4. 5. GIZI LEBIH GIZI NORMAL KEP RINGAN KEP SEDANG KEP BERAT > 110% 80% -110% 70% - 79% 60% - 69% < 60%

Psikososial

Pelaku rawat mengerti masalah penyakitnya, penyebab dan akibat untuk anak. Orangtua lebih memperhatikan makanan yang dikonsumsi anak dan dapat menerapkan

1 minggu

1 minggu

Pada pasien ini perlu dilakukan perubahan gaya hidup, perubahan gaya hidup ini termasuk di antaranya adalah perubahan pola makan. Pasien didorong untuk menambah jumlah asupan kalori sampai 500 kalori perhari sehingga sesuai dengan kebutuhannya. Dengan penatalaksanan pola makan ini, diharapkan adanya peningkatan berat badan. Target peningkatan berat badan adalah mencapai berat badan ideal. 6

Dalam menjalankan perubahan pola makan ini terdapat beberapa kendala antara lain usia (umur pasien masih sangat muda) sehingga akan sulit untuk menyampaikan pemahaman tentang berat badan ideal. Untuk pengaturan pola makan yang baik ini, semua tergantung pada pelaku rawat yaitu orangtua. Kepala keluarga disarankan lebih membagi tugas, dan aturan yang baik di rumah demi tercapainya pemecahan masalah ini. Kesimpulan Penyakit diare dapat menyebabkan kematian bila tidak di tangani dengan tepat. Pencegahan dan penanganan yang tepat dapat menurunkan risiko penyakit diare. Pencegahan intrinsik dan ekstrinsik di perlukan dalam penanganan penyakit ini. Penanganan holistik yang meliputi medikamentosa maupun nonmedikamentosa dan pencegahan faktor risiko serta komplikasi sehingga menurunkan timbulnya gejala. Laporan kasus ini menyimpulkan bahwa ada hubungan antara lingkungan dangan riwayat penyakit sebagai respon fisiologis, pola asuh yang kurang baik, kebiasaan jajan sembarangan serta perilaku dan pengetahuan orang tua dalam penyakit dan tatalaksananya. Saran Saran untuk pasien dan keluarga pasien: Pelaku rawat harus menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumah agar pasien terhindar dari paparan polutan yang menyebabkan terjadinya keluhan serupa,

dan lebih memperhatikan pemberian makanan bergizi seimbang. Keluarga sebaiknya mulai menerapkan upaya preventif dalam mengatasi masalah kesehatan keluarga.

Saran untuk dokter dan petugas kesehatan : Memberikan pelayanan kesehatan yang lebih informatif dan edukatif sehingga penanganan masalah pasien dapat dilakukan secara holistik, komprehensif, terpadu dan berkesinambungan sesuai dengan prinsip pelayanan kedokteran keluarga. Referensi : 1. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Hasan Rusepno, DR et al (editor). 1985. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak, Percetakan Info Medika, Jakarta. 2. Tabel status gizi anak WHO. 2009. Diunduh pada tanggal 30 Juli 2011. Available from: http://scribd.com/ 3. Nutrition Growth Development. Sub bab Pediatric Nutrition Care hal 1-10, penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta.