Anda di halaman 1dari 14

MANUSKRIP Gangguan Depresi Berat Dengan Ciri Psikotik, Suspek Osteoarthritis Genu Pada Geriatri Tanpa Dukungan Dari

Keluarga Inti ABSTRAK Depresi adalah suatu kondisi yang lebih dari suatu keadaan sedih, bila kondisi depresi seseorang sampai menyebabkan terganggunya aktivitas sosial sehari-harinya maka hal itu disebut sebagai suatu Gangguan Depresi. Sekitar 15 persen penduduk di Indonesia diketahui mengalami depresi yang disebabkan tekanan hidup yang semakin berat. Artinya satu dari tujuh masyarakat Indonesia mengalami depresi. 50 persen penderita gangguan jiwa melakukan usaha bunuh diri.1 Namun masyarakat banyak yang malu kalau datang ke rumah sakit jiwa. Padahal kalau terlambat sulit disembuhkan, Tidak sedikit keluarga korban gangguan jiwa yang menganggap kesambet Cara menanggulangi depresi berbeda-beda sesuai dengan keadaan pasien, namun biasanya merupakan gabungan dari farmakoterapi dan psikoterapi atau konseling. Dukungan dari orangorang terdekat terutama anggota keluarga serta dukungan spiritual juga sangat membantu dalam penyembuhan. Pada tulisan ini akan di paparkan ilustrasi kasus pasien yang mengalami depresi berat akibat stressor terputusnya komunikasi dengan keluarga inti dan akan dilakukan penatalaksanaan dengan pendekatan kedokteran keluarga. Hasil pembinaan menunjukkan bahwa dengan adanya partisipasi dan dukungan dari tantenya, pasien bisa menunjukkan gejala perbaikan untuk masalah kesehatan yang dialami meskipun belum ada dukungan dan partisipasi dari keluarga inti pasien.1,2

Kata Kunci : Depresi, Gangguan jiwa.

MANUSKRIP Disorders Depression With Psychotic Features, osteoarthritis genu Suspect In Geriatric Without Support From Family Core ABSTRACT Depression is a condition that more than a sad state, when the condition of depression a person to cause the disruption of their daily social activities then it is called as a disorder Depression. About 15 percent of the population in Indonesia are known to experience depression caused by living an increasingly heavy pressure. That is one of seven Indonesian people are depressed. 50 percent of people with mental illness attempt suicide.1 Yet many people are embarrassed when it comes to a mental hospital. However, if late difficult to cure, not a few families of victims of mental disorders considered kesambet How to cope with depression varies according to the patient, but usually a combination of pharmacotherapy and psychotherapy or counseling. Support from the people closest mainly family members and spiritual support is also very helpful in healing. In this paper will describe the illustrations in the case of patients who experienced severe depression due to breakdown of communication with family stressors core and will be carried out with the management of the family medicine approach. Coaching results show that with the participation and support from her aunt, the patient may show symptoms of improvement for the health problems experienced despite lack of support and participation of the patient's nuclear family.1,2

Keywords: Depression, Mental disorders.

PENDAHULUAN Sekitar 15 persen penduduk di Indonesia diketahui mengalami depresi yang disebabkan tekanan hidup yang semakin berat. Artinya satu dari tujuh masyarakat Indonesia

sehat bukan saja fisik tetapi mental dan sosial, sehingga dokter harus jadi `agent of change` dengan mengintervensi kondisi bangsa ini, seperti dengan sistem yang ditata lebih baik sehingga bangsa Indonesia menjadi sehat secara fisik, mental dan sosial, Fachmi Idris dalam penyampaian Program IDI

mengalami depresi. 50 persen penderita gangguan jiwa melakukan usaha bunuh diri dan 10-15 persen pasien tersebut meninggal akibat bunuh diri. Masyarakat banyak yang malu kalau datang ke rumah sakit jiwa. Padahal kalau terlambat sulit disembuhkan, dr.Gerald Mario SpKJ, Ketua Komite Medik RS Jiwa Dr.Soeharto Heradjan Jakarta. Tidak sedikit keluarga korban gangguan jiwa yang menganggap kesambet, diganggu mahluk halus, diguna-guna atau disantet sehingga karena keterlambatannya, menjadi parah dan akhirnya dipasung atau dibawa ke dukun.
1

menyongsong seabad Kebangkitan Nasional pada 2008.2 Pelayanan kedokteran tidak lagi dilakukan melalui Puskesmas, diganti dokter keluarga, yaitu satu entitas dokter yang terdiri dari dokter, bidan dan perawat menjaga 2.500 orang, sehingga ada `personal care` yang menonjol.2 Dengan dokter keluarga,kondisi pasien secara indivindual akan diketahui secara mendalam baik dari sisi fisik, mental, dan sosial dengan dokter yang mendatangi ke rumah pasien.2 Beberapa gejala Gangguan Depresi adalah perasaan sedih, rasa lelah yang berlebihan setelah aktivitas rutin yang biasa, hilang minat dan semangat, malas beraktivitas, dan

Survei yang dilakukan Persatuan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa (PDSKJ)

menyebutkan sekitar 94 persen masyarakat Indonesia mengidap depresi dari mulai tingkat ringan hingga paling berat.
2

Mendasar dari kondisi seperti itu, IDI memiliki sebagai program agent of untuk treatment melakukan (pelayan

gangguan pola tidur. Depresi merupakan salah satu penyebab utama kejadian bunuh diri. Penyebab suatu kondisi depresi meliputi; Faktor organobiologis, Faktor psikologis dan Faktor sosio-lingkungan.3 Pada penatalaksanaannya, depresi tidak hanya dilakukan oleh dokter dan pasiennya sendiri,

revitalisasi peran dokter Indonesia tidak lagi kesehatan fisik) tetapi juga menjadi agent of change (agen perubahan) untuk memperbaiki kondisi mental dan sosial masyarakat.Karena

tapi sangat membutuhkan partisipasi keluarga dalam memberikan support kepada pasien, mengawasi pengaturan minum obat dan kontrol ke dokter, sehingga pada

Faktor

organobiologis

karena di

ketidakseimbangan

neurotransmiter

otak terutama serotonin

Faktor psikologis karena tekanan beban psikis, dampak pembelajaran perilaku terhadap suatu situasi sosial

penatalaksanaannya diperlukan komitmen dari seluruh anggota keluarga untuk membantu tatalaksana pasien depresi1,2

Faktor sosio-lingkungan misalnya karena kehilangan pasangan hidup, kehilangan

TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Depresi Depresi adalah suatu kondisi yang lebih dari suatu keadaan sedih, bila kondisi depresi seseorang sampai menyebabkan terganggunya aktivitas sosial sehari-harinya maka hal itu disebut sebagai suatu Gangguan Depresi. Menurut Kelliat B.A (1996)
2

pekerjaan, paska bencana, dampak situasi kehidupan sehari-hari lainnya Faktor-faktor yang diketahui berkaitan dengan terjadinya depresi: 1. Berbagai penyakit fisik 2. Faktor psikis 3. Faktor sosial dan lingkungan Depresi 4. Faktor obat 5. Faktor usia 6. Faktor genetik Depresi Sebagai Bagian dari Gangguan Alam Perasaan Kelainan fundamental dan kelompok gangguan alam perasaan yang membedakan

merupakan salah satu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan sedih yang berlebihan, murung, tidak bersemangat,

merasa tidak berharga, merasa kosong, dan tidak ada harapan, berpusat pada kegagalan dan menuduh diri, dan sering disertai iri dan pikiran bunuh diri.4 Etiologi Depresi Penyebab pasti depresi belum diketahui, namun meliputi: penyebab
5

dengan kelompok gangguan kejiwaan lainnya adalah adanya perubahan suasana perasaan (mood), biasanya ke arah depresi (dengan atau tanpa anxietas yang menyertainya), atau ke arah elasi. Perubahan efek ini biasanya disertai dengan suatu perubahan pada keseluruhan suatu kondisi depresi

tingkat aktifitas, dan kebanyakan gejala lainnya adalah sekunder terhadap perubahan

itu, atau mudah dipahami hubungannya dengan perubahan tersebut. (Muslim, 2001) 6

Tabel 2.3 Klasifikasi Gangguan Perasaan (mood) (Rusdi, Jakarta, 2001) 2 Kode F.32. F.32.0 F.32.00 F.32.01 F.32.1 F.32.10 F.32.11 F.32.2 F.32.3 F.32.8 F.32.9 F.33 F.33.0 F.33.00 F.33.01 Jenis Gangguan Suasana Perasaan (mood) Episode depresi Episode depresi ringan Tanpa gejala somatik Dengan gejala somatik Episode depresi sedang Tanpa gejala somatik Dengan gejala somatik Episode depresi berat tanpa gejala psikotik Episode depresi berat dengan gejala psikotik Episode depresi lainnya Episode depresi yang tidak tergolongkan (unspecified) Gangguan depresi berulang Gangguan depresi berulang, episode kini ringan Tanpa gejala somatik Dengan gejala somatik

F.33.1 F.33.01 F.33.11 F.33.2 F.33.3 F.33.4 F.33.8 F.33.9

Gangguan depresi berulang, episode kini sedang Tanpa gejala somatik Dengan gejala somatik Gangguan depresi berulang, episode kini berat tanpa gejala psikotik Gangguan depresi berulang, episode kini berat dengan gejala psikotik Gangguan depresi berulang, kini di atas remisi Gangguan depresi berulang lainnya Gangguan depresi berulang yang tidak tergolongkan (unspecified)

Gejala dan Penegakan Diagnosis Depresi Beberapa gejala Gangguan Depresi adalah perasaan sedih, rasa lelah yang berlebihan setelah aktivitas rutin yang biasa, hilang minat dan semangat, malas beraktivitas, dan

depresi atau (2) kehilangan minat atau kemampuan menikmati sesuatu. 2 1. Keadaan emosi depresi/tertekan sebagian besar waktu dalam satu hari, hampir setiap hari, yang ditandai oleh laporan subjektif (misal: rasa sedih atau hampa) atau pengamatan orang lain (misal: terlihat seperti ingin menangis). 2. Kehilangan minat atau rasa nikmat

gangguan pola tidur. Depresi merupakan salah satu penyebab utama kejadian bunuh diri. 2 Menurut Diagnostic and Statistical Manual IV - Text Revision (DSM IV-TR) (American Psychiatric Association, 2000), seseorang menderita gangguan depresi jika: A. Lima (atau lebih) gejala di bawah telah ada selama periode dua minggu dan merupakan

terhadap semua, atau hampir semua kegiatan sebagian besar waktu dalam satu hari, hampir setiap hari (ditandai oleh laporan subjektif atau pengamatan orang lain) 3. Hilangnya berat badan yang signifikan saat tidak melakukan diet atau

perubahan dari keadaan biasa seseorang; sekurangnya salah satu gejala harus (1) emosi

bertambahnya

berat

badan

secara

gangguan nyata dalam kehidupan sosial, pekerjaan atau area penting dalam kehidupan seseorang. 2 Untuk menegakkan diagnosa depresi

signifikan (misal: perubahan berat badan lebih dari 5% berat badan sebelumnya dalam satu bulan) 4. Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari 5. Kegelisahan atau kelambatan psikomotor hampir setiap hari (dapat diamati oleh orang lain, bukan hanya perasaan subjektif akan kegelisahan atau merasa lambat) 6. Perasaan lelah atau kehilangan kekuatan hampir setiap hari 7. Perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan atau tidak wajar (bisa merupakan delusi) hampir setiap hari 8. Berkurangnya kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi, atau sulit membuat keputusan, hampir setiap hari (ditandai oleh laporan subjektif atau pengamatan orang lain) 9. Berulang-kali kematian muncul hanya pikiran takut akan mati),

seseorang, maka yang dipakai pedoman adalah ada tidaknya gejala utama dan gejala penyerta lainnya, lama gejaa yang muncul, dan ada tidaknya episode depresi ulang (Rusdi Maslim, 2001). Sebagaimana tersebut berikut ini : 7 1. Gejala utama pada derajat ringan, sedang dan berat 1) Afek depresi 2) Kehilangan minat dan kegembiraan 3) Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan yang mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas. 2. Gejala penyerta lainnya: 1) Konsentrasi dan perhatian berkurang 2) Harga diri dan kepercayaan diri berkurang 3) Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna

(bukan

berulang-kali muncul pikiran untuk bunuh diri tanpa rencana yang jelas, atau usaha bunuh diri atau rencana yang spesifik untuk mengakhiri nyawa sendiri Gejala-gejala tersebut juga harus

4) Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis

menyebabkan gangguan jiwa yang cukup besar dan signifikan sehingga menyebabkan

5) Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri 6) Tidur terganggu 7) Nafsu makan berkurang

(4)

Hanya

sedikit

kesulitan

dalam

pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa dilakukannya. II) Pedoman Diagnostik Episode Depresi Sedang (1) Sekurang-kurangnya harus ada 2 dan 3

Untuk episode depresi dan ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa sekurangkurangnya 2 minggu untuk penegakkan diagnosis, akan tetapi periode lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat. 2 Kategori diagnosis depresi ringan (F.32.0), sedang (F.32.1) dan berat (F.32.2) hanya digunakan untuk episode depresi tunggal (yang pertama). Episode depresi berikutnya harus diklasifikasikan di bawah salah satu diagnosis gangguan depresi berulang (F.33).
2

gejala utama (2) Ditambah sekurang-kurangnya 3 atau 4 dari gejala lainnya (3) Lamanya seluruh episode berlangsung minimum 2 minggu (4) Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan, dan urusan rumah tangga. III) Pedoman Diagnostik Episode Depresi Berat Tanpa Gejala Psikotik (1) Semua 3 gejala utama depresi harus ad

I) Pedoman Diagnostik Episode Depresi Ringan (1) Sekurang-kurangnya harus ada 2 dan 3 gejala utama depresi seperti tersebut di atas (2) Ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya (3) Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya lamanya seluruh episode berlangsung sekitar 2 minggu sekurang-kurangnya (3) Bila ada gejala penting (misal retardasi psikomotor) yang menyolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak gejalanya secara rinci. Dalam hal demikian, penilaian secara (2) Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya dan beberapa

diantaranya harus berintensitas berat

menyeluruh terhadap episode depresi berat masih dapat dibenarkan.

(4) Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali terbatas. IV) Pedoman Diagnostik Episode Depresi Berat dengan Gejala Psikotik Episode depresi berat yang memenuhi kriteria menurut No. 3 di atas (F.32.2) tersebut di atas, disertai waham, halusinasi atau stupor depresi.Waham biasanya pada taraf yang sangat

1. Deniel 2. Anger 3. Bergaining 4. Depresi 5. Accpetance Istrumen Pemeriksaan Tingkat Depresi Menurut Mengel dan Scwibert (2001), hingga saat ini belum ada preparat biokimia yang handal untuk pemeriksaan depresi yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat depresi seseorang. 8 Tingkat depresi dibagi menjadi empat tingkatan (Beck Depression Inventory): 1. Skor <11 = Tidak ada depresi 2. Skor 11-15 = Depresi ringan 3. Skor 16-25 = Depresi sedang 4. Skor > 25 = Depresi berar

melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang mengancam dan pasien merasa bertanggung jawab atas hal itu. Halusinasi auditorik atau alfatorik biasanya berupa suara yang menghina atau menuduh, atau bau kotoran. Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor. Depresi sebagai Bagian dari Reaksi

Kehilangan Murray (1991) menyatakan bahwa kehilangan, berpisah dengan barang, orang, status, sesuatu yang dicintainya, atau tempat dimana ia berada adalah faktor pencetus terjadinya depresi. Kehilangan dapat berupa kehilangan yang nyata atau aktual ataupun yang dirasakan sementara ataupun menetap. E. Kubler Ross (1998), menyatakan bahwa reaksi kehilangan ada 5 tahap, yaitu :

Cara menanggulangi depresi berbeda-beda sesuai biasanya dengan keadaan pasien, gabungan namun dari

merupakan

farmakoterapi dan psikoterapi atau konseling. Dukungan dari orang-orang terdekat serta dukungan spiritual juga sangat membantu dalam penyembuhan.

ILUSTRASI KASUS Pasien seorang wanita berusia 60 tahun datang dibawa oleh tantenya (tante dalam silsilah keluarga) dengan keluhan sering berbicara sendiri sejak tiba dijakarta ( 3 hari sebelum ke Klinik). Sebelumnya pasien pergi meninggalkan rumah yang merupakan warisan orang tuanya di daerah cikampek yang sebelumnya ditinggali pasien dengan adik laki-laki pasien beserta anak dan istrinya. Pasien bertengkar dengan adik dan kakak kandungnya karena masalah warisan, pasien juga gagal dalam berumah tangga dan ditinggal pergi oleh suaminya tanpa status yang jelas. Anak pasien juga pergi setelah menikah dan tidak ada kabarnya. Saat ini pasien tinggal dijakarta dirumah saudara jauhnya yang dalam silsilah keluarga adalah paman pasien. Pasien dan pamannya dari segi umur bisa dikatakan sebaya. Dirumah pasien tinggal bertiga dengan paman dan tantenya. Seluruh kebutuhan pasien dipenuhi oleh pamannya yang sudah tidak bekerja dan memiliki pemasukan bulanan dari gaji pensiun sebagai guru. Terdapat perbedaan kondisi ekonomi keluarga pasien saat ini dengan kehidupan pasien sebelumnya.

PEMBAHASAN Pada pasien ini ditegakkannya diagnosis depresi berat karena sesuai dengan 7 dari 9 kriteria depresi menurut DSM IV-TR. Dimana disebutkan diagnosis dapat ditegakkan jika ditemukan minimal 5 gejala dalam waktu lebih dari 2 minggu. Kriteria tersebut adalah: 1. Keadaan emosi depresi/tertekan sebagian besar waktu dalam satu hari, hampir setiap hari, yang ditandai oleh laporan subjektif (misal: rasa sedih atau hampa) atau pengamatan orang lain (misal: terlihat seperti ingin menangis). 2. Kehilangan minat atau rasa nikmat

terhadap semua, atau hampir semua kegiatan sebagian besar waktu dalam satu hari, hampir setiap hari (ditandai oleh laporan subjektif atau pengamatan orang lain) 5. Kegelisahan atau kelambatan psikomotor hampir setiap hari (dapat diamati oleh orang lain, bukan hanya perasaan subjektif akan kegelisahan atau merasa lambat) 6. Perasaan lelah atau kehilangan kekuatan hampir setiap hari 7. Perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan atau tidak wajar (bisa merupakan delusi) hampir setiap hari

8. Berkurangnya kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi, atau sulit membuat keputusan, hampir setiap hari (ditandai oleh laporan subjektif atau pengamatan orang lain) 9. Berulang-kali kematian muncul hanya pikiran takut akan mati),

cukup

baik

namun

penatalaksaan

sesungguhnya adalah mengeleminir stressor yang ada yaitu primary support group yang dalam kasus ini anak dan saudara kandung justru cukup sulit. Maka edukasi untuk membantu pasien melupakan masalahnya dan memulai hidup baru dengan tantenya dijakarta menjadi hal yang paling penting. Sedangkan untuk lututnya diduga

(bukan

berulang-kali muncul pikiran untuk bunuh diri tanpa rencana yang jelas, atau usaha bunuh diri atau rencana yang spesifik untuk mengakhiri nyawa sendiri Selain itu, terdapat suatu gangguan depresi dengan ciri psikotik. Gejala psikotik yang biasanya muncul biasanya berhubungan

osteoarthritis karena usia pasien lebih dari 40 tahun, adanya nyeri lutut dan krepitasi. Namun untuk pastinya pasien disarankan foto rontgen antero posterior pada genu dan diharapkan ditemukannya osteofit. Dan untuk menyingkirkan diagnosis bandingnya

dengan suasana hatinya. Pada pasien ini sering mengatakan perasaan tidak berguna dan dicampakkan, adanya suara-suara (halusinasi) yang menyuruh agar pergi keluar saja dari rumah dan ketika sudah diluar rumah pasien emndengar suara agar terus berjalan tanpa memikirkan situasi jalanan. Ciri psikotik yang biasanya muncul pada pasien depresi dengan cirri psikotik dimana biasanya terdengar suara yang memerintahkan agar pasien mati saja, dan hinaan serta celaan yang merendahkan tak kunjung reda terdengar di telinga pasien, walaupun sumbernya tidak ada. Penatalaksaan pada pasien ini sudah tepat dengan membrikan anti depresan dan

dianjurkan untuk memeriksa kadar asam urat.

Untuk

penatalaksanaanya

sudah

tepat

diberikan antinyeri topical dan dianjurkan istirahat untuk pemulihan metabolisme dan laserasi yang ditimbulkannya pada sendi. Anjuran olah raga latihan olah raga teratur yang bertujuan untuk memperbaiki gerak sendi dan memperkuat otot yang biasanya atropik pada sekitar sendi osteoarthritis yang jika tidak diatasi akan memperburuk

osteoarthritisnya. Kompres dengan air hangat untuk mengompres sendi-sendi yang sakit beberapa kali sehari dan berikan masase yang lembut . Dan jika tidak ada perbaikan

anticemas serta edukasi yang diberikan sudah

dianjurkan untuk kontrol untuk pertimbangan obat minum dan pemeriksaan lanjutan.

mencelakai dirinya atau orang lain namun juga untuk mencegah salah satu hal yang paling dihindari yaitu mencegah pasien

mencoba mengobati diri sendiri dengan KESIMPULAN Pasien mengalami depresi berat karena primary alkohol atau narkoba karena zat ini dapat meningkatkan gejala depresi dan masalah

menghadapi

beberapa

menimbulkan masalah lain.

support group yang terus menerus. Mulai dari ditinggal pergi suami, orang tua meninggal, hubungan buruk dengan adik dan kakak kandung dan kehilangan komunikasi dengan anak kandung. Hal-hal tersebut menjadi stressor yang terus menerus terhadap pasien sehingga akhirnya pasien mengalami depresi. Gejala-gejala tersebut menyebabkan gangguan jiwa yang cukup besar dan signifikan sehingga menyebabkan gangguan nyata dalam SARAN Untuk penyembuhan pasien jangka pendek, aktivitas dapat

Sebaiknya dalam

diberikan agar

kesehariannya

melupakan masalahnya. Serta keluarga pasien saat ini (paman dan tante) pasien

berkomunikasi

aktif

dengan

terutama saat pasien terlihat berbicara sendiri. Mengedukasi aktif keluarga dengan agar pasien

kehidupan sosial, pekerjaan atau area penting dalam kehidupan pasien. Cara menanggulangi depresi berbeda-beda sesuai dengan keadaan dan stressor pasien, pada pasien ini

berkomunikasi

terutama saat pasien terlihat berbicara sendiri. Selain itu juga sebaiknya pasien dibantu untuk bersosialisasi dengan

penanganannya merupakan gabungan dari farmakoterapi dan psikoterapi atau konseling. Serta dukungan dari orang-orang terdekat yang dalam hal init ante pasien serta dukungan spiritual juga sangat membantu dalam

tetangga dilingkungan rumah dan ditempat ibadah seperti dengan pemuka agama. Paman dan tante pasien sebaiknya

memberikan pengertian secara perlahan kepada pasien tentang kondisi ekonomi mereka. Karena pasien terbiasa dengan kehidupan yang serba ada. Mengedukasi keluarga pasien (keluarga saat ini) untuk menghubungi anak dan

penyembuhan. Keputusan tante pasien untuk membaw pasien kedokter sudah sangat tepat untuk

menghindarkan hal-hal yang tidak dinginkan bukan hanya menghindarkan pasien untuk

saudara kandung pasien dan menjelaskan keadaan pasien saat ini, dan diharapkan keluarga pasien (anak,kakak dan adik) mau membantu proses kesembuhan

yang lebih informatif dan edukatif serta memberikan solusi alternatif berhubungan dengan keadaan ekonomi pasien sehingga penanganan masalah pasien dapat

pasien. Karena stressor utama penyebab penyakit pasien adalah primary support group Mengedukasi pasien dan keluarga untuk tetap mempertahankan kepatuhan minum obat dan kontrol teratur, tetap

dilakukan secara holistik, komprehensif, terpadu dan berkesinambungan sesuai dengan keluarga prinsip pelayanan kedokteran

REFERENSI 1. Wikipedia ensiklopedia bebas. 5 agustus 2011. Diunduh dari http://id.wikipedia.org/wiki/Depresi, 11

mempertahankan perubahan gaya hidup, dan memotivasi diri untuk lebih semangat dalam menjalani pengobatan Mengedukasi pasien untuk membuat

agustus 2011 2. Creasoft. Depresi. 19 april 2008. Diunduh dari http://creasoft.wordpress.com/2008/04/19/ depresi/ , 11 agustus 2011 3. Liza M, dr.MP.Pd.I CHt. DEPRESI. Diunduh dari http://www.scribd.com/doc/15436401/DE PRESI , 9 agustus 2011 4. Giri Agung. Mengenal Type dan Kepribadian Manusia. Diunduh dari http://www.scribd.com/doc/53163069/41/ E-DEPRESI-1-Pengertian-depresi , 9 agustus 2011 5. Sprayaelisa. Kenali Penyebab dan Cara Mengatasi Depresi. Diunduh dari

program latihan olah raga teratur yang bertujuan untuk memperbaiki gerak sendi dan memperkuat otot yang biasanya atropik pada sekitar sendi osteoarthritis yang jika tidak diatasi akan memperburuk osteoarthritisnya. Kompres dengan air hangat untuk mengompres sendi-sendi yang sakit beberapa kali sehari dan berikan masase yang lembut. Beristirahat dengan merelaksasikan kaki antara satu pekerjaan dengan pekerjaan lainnya atau beristirahat ketika suatu pekerjaan sudah terlalu lama dilakukan. Dan jika nyeri tidak bisa diatai segeralah kedokter Saran untuk dokter dan petugas kesehatan, agar memberikan pelayanan kesehatan

http://www.scribd.com/doc/24147184/Ken ali-Penyebab-Dan-Cara-MengatasiDepresi , 9 agustus 2011 6. Dedi S. Depresi. 31 maret 2011. Diunduh dari http://pemulihanjiwa.com/depresi.html , 11 agustus 2011 7. Yayasan Spiritia. DEPRESI. 1 juni 2011. Diunduh dari http://spiritia.or.id/li/bacali.php?lino=558 , 11 agustus 2011 8. Grandfa. Tanggulangi Depresi Secara Cepat. Diunduh dari http://id.shvoong.com/medicine-andhealth/neurology/1670144-tanggulangidepresi-secara-tepat/ , agustus 2011