Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

Pada abad 19 hampir semua penyakit pada medula spinalis diseut mielitis. Dengan bertambah majunya pengetahuan neuropatologi, sehingga yang tergolong benar-benar karena radang saja yang dapat dikatakan mielitis.

1

Lues Dalam hal ini mielitis itu adalah bagian dari suatu lues serebrospinalis. maka penyakit itu disebut mielitis asendens.2. Virus Dalam hal ini mielitis itu adalah bagian dari suatu ensefalomielitis akuta/subakuta (karena virus).Etiologi 1. Definisi Menurut Plum & Oslan (1981) serta Banister (1978) mielitis adalah terminologi non spesifik. Mielitis neuroptika (Devic). Tetapi Adam dan Victoe (1985) menuliskan bahwa mielitis adalah proses radang infektif maupun non-infektif yang menyebabkan kerusakan pada neuron substansi alba dan melibatkan meninges/menyebabkan nekrosis pada substansia grisea dan alba. Beberapa istilah yang digunakan untuk dapat menunjukkan denga tepat distribusi proses radang tersebut : Mengenai substansia alba Grisea : disebutkan Poliomielitis Substansia alba : Leukomielitis Mengenai seluruh : Potongan melintang medula spinalis : Mielitis transversa Bila gambaran klinisnya memperlihatkan tendensi untuk meluas ke atas. artinya tidak lebih dari radang medula spinalis. 2. Reaksi oto-imunologik Dalam hal ini mielitis itu adalah bagian dari suatu : a. Istilah mielitis dipakai untuk menggambarkan setiap kelainan medula spinalis baik secara tersendiri maupun berkaitan dengan penyakit infeksi sebagai akibat dari reaksi alergi atau proses demielinisasi alergi. 3.BAB II ISI II. II. 2 .1. Ensefalomielitis diseminata akuta. b.

2. Mielitis karena kokkus seperti dapat dilihat pada luka tembus dan pada osteomielitis dari tulang belakang. c. Pada leptomening tampak edem. Mielitis itu adalah bagian dari suatu sklerosis multipleks. 6. Mielitis itu adalah bagian dari ensefalomielitis para infeksiosa. Mielitis pasca varisela. : Mielitis tansversa paling sering menghinggapi medula spinalis segmen torakal bagian bawah. 3 . Tampak pula kelainan degeneratif pada sel-sel ganglia.3. Makroskopis pada bagian tersebut akan tampak edem dan hiperemi. Medula psinalis Pada medula spinalis tampak edem dan pembulu-pembuluh darah yang melebar dengan infiltrat perivaskular (limfosit/leukosit) di substansia grisea dan alba. Mielitis pasca penyakit eksantematosa lain. Patologi P. Disamping itu tampak adanya hiperplasi dari mikroglia.A. Makroskopis akan tampak : 1. pada aksonakson dan pada selubung mielin. bahkan ada bagian-bagian yang tampak memperlihatkan mielomalasia. 7. e. pembuluh-pembuluh darah yang melebar dengan infiltrat perivaskular. 5. seperti dapat dilihat pada : a.4. Traktus-traktus panjang di sebelah atas atau bawah daripada segmen yang sakit dapat memperlihatkan kelainankelainan degeneratif. II. Mielitis tuberkulosa Pada dasarnya penyakit ini adalah suatu meningitis tuberkulosa yang timbul karena meluasnya suatu spondilitis tuberkulosa. b. Mielitis variola. Mielitis pasca morbili. Mielitis pasca vaksinasi. d.

gangguan miksi. Terdapat pula gangguan miksi.Gejala Klinis Simtomatologi Penyakit ini biasanya muali secara mendadak (akut atau subakut). Pungsi lumbal : Likour biasanya jernih. Suatu monoplegi tanpa gangguan sensibilitas dan gangguan miksi. Kahn dan VDRL adalah negatif (kecuali pada mielitis luetika). II. apalagi bila monoplegi tersebut adalah suatu monoplegi yang flaksid (suatu monoplegi yang spastik mungkin disebabkan oleh suatu lesi di korteks serebri). dan total protein yang sedikit meningkat. Suatu tetraplegi dengan anestesi tetraplogik. defekasi dan fungsi seksual. Refleks dinding parut adalah negatif di bawah lesi.II. Lesi di Medula Spinalis a. b. Babinski pada mulanya adalah negatif.5. defekasi dan fungsi seksual. Biasanya terdapat sedikit panas dan nyeri di daerah punggung. memberi petunjuk akan adanya suatu lesi pada medula spinalis setinggi torako-lumbal.Lokasi Topikal Medula Spinalis 1. Nonne +. defekasi atau gangguan fungsi seksual. Kemudian terjadi paresis atau paralisis pada kedua kaki. Suatu paraplegi dengan anestesia paraplegik. defekasi dan gangguan fungsi genitalia. Demikian pula dengan gangguan sensibilitas. KPR dan APR dalam fase akut adalah negatif. memberi petunjuk akan adanya suatu lesi pada medula spinalis setinggi servikal.4. gangguan miksi. kemudian menjadi positif. 4 . Batas atas dari bagian tubuh yang memperlihatkan anestesi mungkin terdapat seikit hiperestesi dan tulang belakang pada daerah setinggi itu terdapat nyeri tekan. Queckenstedt positif. Pandy ++. dengan tekanan dalam batas normal. Pada mielitis asendens gejala-gejala kemlumpuhan dengan cepatnya dapat meluas ke atas. WR. Disamping itu terdapat pula gangguan sensibilitas sesuai dengan tingginya lesi. c. memberikan petunjuk akan adanya suatu lesi di kornu anterior. sedikit pleiositosis (mononuklear).

Untuk mengetahui setinggi apa letak lesi itu di medula spinalis servikal. 4). Levator skapula. Lesi setinggi C5 Disamping tetraplegik. dan tak lama kemudian penderita meninggal. 3). Anestesia tetraplegik (gambar 32). b. Tentukanlah batas atas dari gangguan sensibilitas tersebut. 2). Sindrom Brown-Sequard (gambar 35). lesi C5 akan menimbulkan sesak nafas karena adanya paralisis dari otot-otot antar-iga. dapatlah ditempuh jalan yang berikut ini : a. 2). Kedudukan bahu adalah lebih tinggi daripada biasa. 5 . Karena akan terdapat anhidrosis yang mencakup hampir seluruh tubuh. Paralisis flaksid otot-otot tertentu : 1). Diagfragma sendiri tidaklah lumpuh. maka suhu tubuh akan meningkat. frenikus. Keadaan ini timbul karena masih baiknya fungsi dari M. Contoh-contoh seperti : 1). atau torakolumbalis. Dengan demikian dapatlah diperoleh keterangan tentang tingginya lesi pada medula spinalis. Anestesia selangkang (“saddle anaesthesia”) (gambar 34). Bandingkanlah peta yang kita peroleh pada penderita dengan peta Foerster. Lesi setinggi C4. disamping tetraplegi akan menimbulkan paralisis dari N. Anestesia paraplegik (gambar 33). Batas dermatom dari gangguan sensibilitas pada kulit : Kita cocokkan peta gangguan sensibilitas yang kita peroleh dengan peta Foerster (gambar 12).

Dilalator pupillae. tarsalis superior. Lesi pada kornu Lesi pada kornu akan menimbulkan : a). Gangguan fungsi genitalia akan menimbulkan impotensia. gangguan miksi dan defekasi. 4). Pada kornu lateralis C8-T2 terletak sentrum silio-spinale. Di samping itu akan kita temukan pula tetraplegi flaksid (yang kemudian dapat menjadi spastik). b). Kita akan dapat jumpai retensio urine. interossei. Enoftalmus. yang timbul karena lemahnya M. M. Disamping itu mungkin pula terdapat retensio alvi yang dapat berkembang menajdi rektum otomat. Refleks anus yang menjadi negatif. yang kemudian menjadi inkontinensia paradoksa dan kandung kencing otomat.3). Ptosis. Miosis. M. orbitalis. yang timbul karena lemahnya 6 . Lesi pada tempat ini akan menimbulkan sindrom Horner di sisi homolateral. Anestesia selangkang b). c). defekasi dan fungsi genitalia. gangguan sensibilitas. yang timbul karena lemahnya M. Pada sindrom Horner akan kita jumpai : a). ekstensor pollisis. Disamping itu pada wajah di sisi ipsilateral akan kita jumpai : suhu kulit yang meningkat dan anhidrosis. Lesi setinggi Torakal I Lesi setinggi Torakal I akan menimbulkan paralise dari M. Gangguan miksi. c).

b. Lesi pada medula spinalis Lesi lintang medula spinalis Lesi pada medula spinalis akan menimbulkan : a. Tanda I aseque positif Penderita akan mengeluh tentang iskhialgia. 2. Anestesia tetraplegik. c. Gangguan miksi. Bila terdapat penderita dengan keluhan nyeri pada satu kaki maka hendaknya kita mengadakan pemeriksaan untuk menentukan apakah nyeri itu adalah suatu iskhialgia ataukah nyeri yang berasal dari suatu koksitis. defekasi dan gangguan fungsi genitalia. Lesi pada kauda Lesi pada kauda akan menimbulkan : a). bila lesi lintang tersebut berada di bagian torakal atau di bagian lumbal dari medula spinalis (gambar 33). Anestesia/hipestesia selangkang (“saddle hypaestesia”) (gambar 34). sensibilitas itu terganggu dalam semua kualitas. Pada koksitis akan kita jumpai tanda Patrick yang positif. c). Anestesia simetris. Di bawah lesi. yaitu nyeri yang menjalar pada satu kaki.5). (hiperstesia) selangkang yang tidak 7 . bila lesi lintang tersebut berada di bagian servikal dari medula spinalis (gambar 32). b). Anestesia paraplegik.

Gambar 8 .

tetapi di kanan tidak). Lesi dalam hal ini terletak pada konus. Pada guillain-Barre tidak ada.Pada anestesia selangkang. defekasi dan fungsi genitalia.6.Diagnosa Banding 1. Pada mielitis terdapat Babinski positif. Pada mielitis transversa terdapat gangguan sensibilitas dengan batas-batas yang jelas. Guillain-Barre Pada mielitis transversa terdapat gangguan miksi. S5 adalah terganggu dalam semua kualitas. sensibilitas dermatom S3. 9 . namun daerah yang sensibilitasnya ternganggu tidaklah simetris (di kiri misalnya terganggu. S4. Pada Guillain-Barre Babinski selalu negatif. Pada Guillain-Barre tidak demikianlah adanya. Lesi pada kauda ekuina juga menimbulkan hipestesia selangkang. II.

akibat proses auto-imun dengan respon inflamasi pada radiks dan saraf tepi Radiks dan saraf tepi Medula spinalis biasanya torak T2 – T6 2. Patogenesis 10 .1. Definisi GB MIELITIS Suatu kondisi polioneuropati Radang pada medula spinalis yang akut dimana terjadi Paralisis asendens. hiperemi. selubung mielin. pasca vaksinasi  Kekambuhan sklerosis multipleks  Degeneratif/nekrosis Auto imun Auto-antigen dari GB namanya myelin basic protein yang diproduksi oleh sel-sel Schwan di SST. Etiologi Infeksi traktus respiratorius . Tempat lesi/kerusakan 3. sehingga auto antibodi tersebut merusak sel-sel saraf (auto Ag). Medula spinalis meradang tanpa edem.Mielitis yang penyebabnya tidak diketahui  Infeksiosa.Virus karena virus . aksis 4. Kongesti pada medula spinalis/trombosis pembuluh darah didapat pula degenerasi ganglion. perlunakan.Akibat sekunder dari penyakit meninges dan medula spinalis . Karena itu ditemukan demielinisasi segmental pada radiks anterior dan post dari saraf tepi. Karena terjadi ketidak seimbangan antara Th (helper)↑ dan Ts↓ (supresor) dari limfosit T (N Th↓ Ts↑) sehingga limfosit B mampu untuk berproliferasi dan membentuk auto antibodi.

Nyeri punggung (+) .Kelemahan asendens (+) (+) (+) tidak jelas . Tanda-tanda Subjektif .Biasanya hanya tungkai bawah (spastis) (-) LMN ↑ (+) Kelemahan asendens : Dimulai dari kesemutan pada keuda kaki → para paresis → meluas ke atas tubuh → tangan → wajah → kelumpuhan pada otot pernafasan. (-) defekasi (-) .Monitor VS . Hematomieli 11 . gangguan defekasi .Steroid . Bisa meninggal karena gagal nafas.Fisioterapi .Babinsky . .Perbaiki kondisi tubuh . (-) LMN ↑ (+) LCS ↑↑ peningkatan protein tanpa pleositosis .Seperti Gloves and Stoking (flaksid) Tanda-tanda Objektif .N .Protein sedikit meningkat disertai pleositosis. .Medikamentosa  Neurotropik  Steroid  Gama-Globulin → untuk menangkap dan menetralisis kompleks Ag-Ab.Batas gangguan sensibilitas .Antibiotik sesuai dengan kuman Terapi 2.Gangguan fungsi genital jelas .5.IgG .Penanggulangan sistitis.Gangguan miksi.Tipe kerusakan .

Sklerosis multipleks Biasanya mengenai anak muda dan biasanya mulai dengan suatu neuritis retrobulbaris. 4. Kelumpuhan dapat membaik dan kemudian dapat memburuk.Pada hematomieli terdapat trauma dalam anemnesa. 7. hendaknya diawasi dengan cermat. 3. Kahn. Hematomieli biasanya terdapat di medula spinalis servikalis (Intumesensia servikalis) dan lebih banyak mengenai substansia grisea daripada substansia alba. Mielitis karena kokkus-kokkus Dalam hal ini tentu ada sumber infeksi kokkus tersebut. 6. Pada ensefalomielitis diseminata akuta tentu lesinya adalah multipel. 12 . VDRL dan TPHA positif. 5. Mielitis sebagai bagian dari ensefalomielitis pada parainfeksiosa. sebab mungkin sekali ada tersembunyi di belakangnya suatu sklerosis multipleks. 8. Mielitis luetika Pada mielitis luetika terdapat lues dalam anamnesa. bahkan dapat lebih payah daripada semula. seperti suatu karbunkel atau osteomielitis. Tampak pula nistgamus. Dalam hal ini tentu akan terdapat pula tanda-tanda yang menunjukkan akan adanya lesi otak atau di batang otak. Mielitis sebagai bagian dari reaksi auto-imunologik. Disamping itu pungsi lumbal akan memperlihatkan adanya suatu pleiositosis (poliomorfonuklear). Dalam hal ini tentu masih ada sisa-sisa penyakit eksantemateus atau bekas vaksinasi. ensefalomielitis diseminata akuta). Serologis : WR. Mielitis sebagai bagian dari virus ensefalomielitis parainfeksiosa. Seorang penderita yang mendapat Devic secara berulangkali. Disamping mielitis akan tampak pula neuritis retrobulbaris pada mielitis neuroptika (Devic).

sakrum dan pada trokhantor mayor.Terapi Penderita yang banyak kehilangan protein karena terdapat dekubitus dan albuminuria. Disamping itu diberikan pula penisillin secara parenteral. maka perlu pula diberikan ferrum atau bila perlu dapat pula diberikan transfusi darah. Setelah itu kulit dikeringkan dan diberikan bedak. Bila tak dapat diberikan per oral dapat pula diberikan metil prednisolon intravena dengan dosis 0. maka dapat dipertimbangkan untuk memberikan atropin atau belladonna. Pemberian glukokortikoid atau ACTH. tuber ischii. Selain itu ACTH dapat diberikan secara intramuskular dengan dosis 40 unit dua kali dan 20 unit dua kali per hari (selama 3 hari). Dekubitus biasanya timbul pada tumit. biasanya diberikan pada penderita yang datang dengan gejala awitannya sedang berlangsung dalam waktu 10 hari pertama atau bila terjadi progresivitas defisit neurologik. Untuk mencegah timbulnya dekubitus itu maka pakaian penderita hendaknya diubah setiap sua jam siang dan malam (kalau perlu bahkan dapat setiap jam). Kemudian luka itu dibersihkan dengan perhidrol dan ditutup dengan bioplasenton. Timbulnya dekubitus hendaknya dapat dicegah dengan cara membersihkan kulit penderita dua kali sehari dengan air dan sabun. 13 .7. Bantal kecil dapat pula ditaruh di bawah betis penderita. Pengobatan dekubitus itu sendiri dapat dilakukan seperti berikut : Jaringan yang telah nekrotik sebainya diangkat saja.II. Bila terdapat anemia. maka makanan penderita hendaknya banyak mengandung protein dan banyak mengandung vitamin. Bila penderita banyak keringatan. Pun penderita hendaknya banyak minum (sampai 3 – 4 liter sehari).8 mg/kg/hari dalam waktu 30 menit. Glukokortikoid dapat diberikan dalam bentuk prednison oral 1 mg/kg berat badan/hari sebagai dosis tunggal selama 2 minggu lalu secara bertahap dan dihentikan setelah 7 hari. Disamping itu dapat pula dipasang suatu “Cradlen” sehingga pakain penderita tidak langsung menekan pada kulit penderita.

yang kemudian dapat meluas menjadi suatu pielonefritis dan sepsis. Sebagai pedoman bila dalam waktu 3 – 4 minggu setelah awitan penyakit terlihat tanda-tanda perbaikan maka prognosisnya cukup baik.Untuk mencegah efek samping kortikosteorid. Komplikasi lain yang sangat kita takuti adalah timbulnya sistitis. Komplikasi yang sering dilihat pada penyakit ini adalah : 1. Tentu pengobatan dengan antibiotika dan pemasangan suatu respirator dapat dicoba. Tindakan ini telah menurunkan angka kematian karena penyakit ini. Selain itu sebagai alternatif dapat diberikan antasid per oral. II. Terapi ada pula yang menjadi baik. 14 . Sistitis.8.Prognosis Prognosis tergantung dari kerasnya penyakit dan etiologi penyakit tersebut. yang dapat meluas menjadi suatu pielonefritis dan sepsis. penderita diberi diet rendah garam dan simetidin 300 mg 4 kali/hari atau ranitidin 150 mg 2 kali/hari. Suatu mielitis karena piokokkus atau suatu mielitis asendens biasanya fatal dan berakhir dengan kematian penderita. Dekubitus 2.

Parestesia ekstremitas atas jarang dijumpai. Gejala neurologi awal adalah parestesia pada anggota gerak bawah atau parestesia pada tubuh dengan pola segmental. malaise. mialgia. 3.BAB III KESIMPULAN 1. Mielitis adalah proses radang infektif maupun non-infektif yang menyebabkan kerusakan pada neuron substansi alba dan melibatkan meninges/menyebabkan nekrosis pada substansia grisea dan alba. Seringkali terdapat nyeri punggung yang menjalar sepanjang batas atas lesi medula spinalis yang bersangkutan. 2. Pengobatan pada mielitis : Pencegahan dekubitus Pencegahan sistitis Pemberian antibiotik Pemberian kortikosteroid 15 . Gejala klinis demam.

Harsono. Jakarta. Jogjakarta. 1991. Prof. dr. 1995. Mark Mumentaler. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Saraf. Neurologi. Ngoerah I Gg Ng. Surabaya. Airlangga University press. Binarupa Aksara. DSS. Gd.DAFTAR PUSTAKA 1. Indonesia.2000 3. Kapita Selekta Neurologi FK UGM. dr. 2. 16 .