Anda di halaman 1dari 18

Studi Kasus

Diabetes Pada Pensiunan Tanpa Keterlibatan Peran Keluarga Pelayanan Kedokteran Keluarga

Abstrak : Diabetes Melitus merupakan suatu penyakit metabolik yang memerlukan penanganan khusus dan terus menerus, salah satunya adalah dengan pengaturan pola makan sehari-hari. Pelaksanaan pengaturan pola makan membutuhkan kepatuhan dari pasien DM tipe 2 dan keluarga yang mempunyai peran dalam memberikan dukungan terhadap kepatuhan diet pasien Diabetes Melitus, terutama keluarga inti. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa dengan pelayanan kedokteran keluarga yang holistik dan komprehensif dapat mengatasi permasalahan penyakit dalam keluarga . Pasien adalah kepala rumah tangga yang tinggal dalam keluarga inti bersama istrinya, karena ketiga anaknya telah menikah dan meninggalkan rumah. Masalah dalam keluarga ini adalah kurangnya pengetahuan baik pasien maupun keluarga mengenai penyakit yang yang dialami serta kurangnya kemauan untuk berobat dan kurangnya peran serta keluarga untuk memberi dukungan. Masalah pasien antara lain yaitu Diabetes melitus. Penatalaksanaan klinis yang dilakukan bersifat asimptomatik. Dilakukan edukasi penyakit Diabetes melitus yang meliputi faktor risiko, penyebab, gejala, terapi dan pencegahan . Kemudian diberikan penjelasan tentang pentingnya usaha untuk perbaikan kesehatan dan mencegah komplikasi. Penerapan pelayanan kedokteran keluarga secara holistik, komprehensif, dan berkesinambungan yang memandang pasien sebagai bagian dari keluarga, telah dijalankan dan berhasil memotivasi pasien dan keluarga, sehingga pasien dan keluarga mulai mencoba mengubah perilaku hidup menjadi perilaku hidup sehat dan pasien juga berjanji untuk meminum obat serta melakukan kontrol rutin setiap bulannya. Pada akhir studi, diabetes mellitus merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan hanya dapat mencegah terjadinya komplikasi dengan meningkatkan kesehatan keluarga yang keberhasilannya membutuhkan peran aktif baik pasien sendiri maupun keluarga dengah berperilaku hidup sehat. Kata kunci : diabetes mellitus, keluarga besar, pelayanan kedokteran keluarga

Studi Kasus

Abstract: Diabetes mellitus is a metabolic disease that requires special handling and continuous, one of which is by setting the daily diet. Implementation of dietary adjustments require adherence of type 2 DM patients and families who have a role in providing support for patients with diabetes mellitus diet adherence, especially the nuclear family. The purpose of this study is to prove that the services of family medicine is holistic and comprehensive to address the problems of disease in families. The patient is the head of household residing in a nuclear family with his wife, his three children had married and left home. The problem in this family is the lack of knowledge of both patients and families about the disease that are experienced and a lack of willingness to seek treatment and lack of participation of families to provide support. Patients' problems, among others, Diabetes mellitus. Clinical management is carried out is asymptomatic. Do Diabetes mellitus education that includes risk factors, causes, symptoms, treatment and prevention. Then given an explanation about the importance of efforts to improve health and prevent complications. Application of family medicine services in a holistic, comprehensive and continuous view of patients as part of the family, has been run and managed to motivate patients and families, so that patients and families begin to try to change the behavior of living into healthy behavior and the patient also promised to take medicine and do routine control of every month. At the end of the study, diabetes mellitus is a disease that can not be cured only can prevent complications by improving the health of families whose success requires the active role of both patients themselves or family Dengah healthy life behavior.

Key word: diabetes mellitus, extendeed family , family medicine

Pendahuluan

Studi Kasus

Diabetes melitus adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Sedangkan menurut WHO, dikatakan bahwa diabetes mellitus merupakan sesuatu yang tidak dapat dituangkan dalam satu jawaban yang jelas dan singkat tapi secara umum dapat dikatakan sebagai suatu kumpulan problema anatomik dan kimiawi yang merupakan akibat dari sejumlah faktor dimana didapati defisiensi absolut atau relatif dan gangguan fungsi insulin (Gustaviani, 2006). Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit menahun yang dewasa ini prevalensinya makin meningkat. Diabetes melitus tipe 2 merupakan jenis diabetes melitus yang paling sering ditemukan di praktek, diperkirakan sekitar 90% dan semua penderita diabetes melitus di Indonesia. DM adalah penyakit selama hidup, maka pengawasan dan pemantauan dalam penatalaksanaan DM pada setiap saat menjadi penting. Oleh karena itu maka penatalaksanaan penderita DM tidak dapat sepenuhnya diletakkan pada pundak dokter dan klinis saja. Diabetes mellitus (DM) merupakan kumpulan gejala yang timbul pada seseorang akibat tubuh mengalami gangguan dalam mengontrol kadar gula darah. Gangguan tersebut dapat disebabkan oleh sekresi hormon insulin tidak adekuat atau fungsi insulin terganggu (resistensi insulin) atau justru gabungan dari keduanya. Diabetes melitus tipe 2 merupakan jenis diabetes melitus yang paling sering ditemukan di praktek, diperkirakan sekitar 90% dan semua penderita diabetes melitus di Indonesia (Soegondo, 2005). Penyakit Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit tidak menular yang mengalami peningkatan terus menerus dari tahun ke tahun. WHO memprediksi kenaikan jumlah penderita Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik, diperkirakan jumlah penduduk Indonesia yang berusia di atas 20 tahun adalah sebesar 133 juta jiwa, dengan prevalensi DM pada daerah urban sebesar 14,7% dan daerah rural sebesar 7,2 % (Soegondo, 2006). Penelitian terakhir antara tahun 2001 dan 2005 di daerah Depok didapatkan prevalensi DM Tipe 2 sebesar 14,7% (Gustaviani, 2006). Pada tahun 2030 diperkirakan ada 12 juta penyandang diabetes di daerah urban dan 8,1 juta di daerah rural. Lebih lanjut dikatakan oleh Soegondo bahwa kasus pre-diabetes di Indonesia juga sangat tinggi yaitu mencapai 12,9 juta orang, angka ini merupakan yang ke-5 terbesar di dunia, diperkirakan akan naik hingga 20,9 juta di tahun 2025. Didapatkan bahwa hanya 50% dari penderita diabetes di Indonesia menyadari bahwa mereka menderita diabetes, dan hanya 30% dari penderita melakukan pemeriksaan secara teratur(Soegondo, 2006). Sedangkan dari data

Studi Kasus

Depkes, jumlah pasien diabetes rawat inap maupun rawat jalan di rumah sakit menempati urutan pertama dari seluruh penyakit endokrin (Depkes RI, 2005). Jumlahnya meningkat seiring dengan bentuk gaya hidup, pola konsumsi makanan yang tidak sehat termasuk diantaranya kurangnya aktivitas fisik dan konsumsi junk food, dan lain-lain (Wardani et al,2007). Soewondo (2005), menyatakan bahwa stres yang dialami penderita baik fisik maupun mental berhubungan dengan sakitnya dan secara tidak disadari atau tidak langsung dirasakan oleh orang tua dan keluarga penderita, maka akan timbul suatu kesalahan kesalahan sikap keluarga dan penderita. Lingkungan yang mempengaruhi perilaku tidak hanya terbatas pada lingkungan fisik saja, tetapi juga lingkungan psikologis, sosial, ekonomi dan budaya. Hal ini selanjutnya akan mempengaruhi cara hidup sehat manusia. Sehingga peran keluarga seperti sikap, perilaku dan partisipasi keluarga dipandang sebagai naluri untuk melindungi anggota keluarga yang sakit. Ada semacam hubungan yang kuat antara keluarga dan status kesehatan anggotanya bahwa peran serta keluarga sangat penting bagi setiap aspek perawatan kesehatan anggota keluarga mulai dari segi strategi pencegahan sampai fase rehabilitasi (Sundari dan Setyawati, 2006). Mengingat DM adalah penyakit selama hidup, makapengawasan dan pemantauan dalam penatalaksanaan DM pada setiap saat menjadi penting. Oleh karena itu maka penatalaksanaan penderita DM tidak dapat sepenuhnya diletakkan pada pundak dokter dan klinissaja. Dalam hal ini partisipasi penderita DM dan keluarganya sangat diperlukan khususnya dalam orientasinya pada upaya mengembalikan penderita DM ke dalam situasi sehat atau paling tidak mendekati normal (Waspadji, 2005). Tujuan pelaksanaan DM meliputi enam hal, yaitu memperpanjang hidup penderita dan menghilangkan gejala penyakit, mengusahakan penderita DM hidup bermasyarakat senormal mungkin, mengusahakan dan mempertahankan status metabolisme yang baik, mencegah komplikasi DM dan menghilangkan faktor resiko lain, dan skrining adanya komorbid(Asdie, 2000). Pada penderita diabetes tipe II, pengaturan makanan merupakan hal yang sangat penting. Bila hasil pengaturan makanan tidak sesuai dengan yang diharapkan, diperlukan obat-obat hipoglikemi OAD (oral anti-diabetic) atau insulin. Penderita diabetes tipe II yang kurus tidak memerlukan pembatasan jumlah energi yang terlalu ketat. Akan tetap, semua penderita diabetes tipe II harus mengurangi lemak dan kolesterol serta meningkatkan rasio asam lemak tak jenuh dengan asam lemak jenuh. Penatalaksanaan makanan untuk penderita diabetes melitus harus memperhatikan beberapa hal, yaitu prinsip, tujuan, dan syarat diet. Prinsip pemberian makanan bagi penderita diabetes melitus adalah mengurangi dan mengatur

Studi Kasus

konsumsi karbohidrat sehingga tidak menjadi beban bagi mekanisme pengaturan gula darah. Saat ini anjuran presentase karbohidrat berkisar antara 60-68% dari total energi makanan dengan anjuran penggunaan karbohidrat kompleks yang mengandung serat. Tujuan diet yaitu : memperbaiki kesehatan umum penderita, memberikan jumlah energi yang cukup untuk memelihara berat badan ideal/ normal, mempertahankan kadar gula darah sekitar normal. (Pranadji, Martianto, dan Subandriyo, 2006) Pelayanan kesehatan primer tidak saja meliputi masalah kematian (mortality), keluhan sakit (illness), penyakit (disease), ketidakmampuan (disability), kecacaatan (handicap), tetapi juga keadaan kesehatan yang positif yaitu upaya peningkatan kesehatan pada individu, keluarga dan kelompok masyarakat. Peranan dokter keluarga ialah berfungsi sebagai gatekeeper (penapisan), yaitu membuat keputusan yang tepat untuk tindakan penyelesaian masalah. Seyogyanya dokter praktik mencari kepastian dalam pencarian informasi untuk menegakkan diagnosis dengan memperhitungkan multi aspek dari kehidupan seseorang dan juga keluarganya, yang dikenal dengan istilah diagnosis holistik (Kekalih, 2008). Dalam mengatasi kasus ini yaitu kasus diabetes melitus yang terjadi pada seorang ibu rumah tangga, maka sangat diperlukan peran dari anggota keluarga lainnya terutama dengan kombinasi antara pengaturan diet, olah raga, obat anti diabetik, penilaian kontrol, dan pendidikan. Keberhasilan penatalaksanaan DM juga ditentukan oleh peranan aktif dari penderita DM sendiri, keluarganya dan masyarakatnya dalam pengontrolan DM, pencegahan, komplikasi akut maupun kronik serta pembiayaanya. Oleh karena itu diperlukan penanganan holistik dan komprehensif yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah klinis akut yang terjadi sehingga dapat mencegah komplikasi lanjut pada pasien (Kekalih, 2008).

Ilustrasi Kasus

Studi Kasus

Pasien adalah seorang kepala rumah tangga, laki-laki berusia 79 tahun datang ke Puskesmas Johar Baru pada tanggal 26 Juni 2011 untuk kontrol disertai keluhan merasa kesemutan pada ekstremitas bawah, pasien juga membawa hasil laboratorium terakhir pada tanggal yang sama, pemeriksaan GDS hasilnya 310mg/dL, didapatkan informasi bahwa 5 tahun yang lalu pasien mengalamai penurunan BB badan yang drastis, sering merasa lapar dan haus, lalu pasien disarankan oleh tetangganya untuk melakukan pemeriksaan gula darah di laboratorium, setelah diperiksa didapatkan gula darah sewaktu (GDS) 221mg/dL, lalu dianjurkan oleh petugas laboratorium untuk konsultasi dengan dokter, setelah konsultasi pasien diminta cek ulang gula darah tapi pasien diminta untuk puasa terlebih dahulu sebelum pemeriksaan. Setelah pemeriksaan kedua kalinya didapatkan hasil gula darah puasa(GDP) 167mg/dL dan gula darah 2 jam postprandial 230mg/dL, setelah itu pasien didiagnosa oleh dokter terkena penyakit gula (diabetes melitus). Lalu pasien disarankan untuk mengubah pola makan dan gaya hidup, serta selalu cek gula darah setiap bulannya. Naamun karena kurangnya kepedulian pasien untuk mengontrol kadar gula darahnya, pasien seringkali lupa meminum obat penurun gula darah. Pasien juga tidak teratur melakukan test gula darah. Pasien mengaku tidak pernah berolah raga secara rutin, baik senam aerobik umum ataupun senam khusus untuk penderita Diabetes.

Riwat psikososial pasien adalah tamatan SD, mampu menulis dan membaca. Pasien adalah seorang pensiunan . Saat ini kegiatan sehari-hari adalah mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti membersihkan rumah, mencuci pakaian, dan menyetrika. Kebiasaan waktu makan teratur, 2-3 kali sehari. Semenjak menderita penyakit diebetes, pasien mengurangi konsumsi makanan yang mengandung gula dan karbohidrat. Pasien mengaku tidak sarapan dan hanya mengkonsumsi kentang dan sayur-sayuran untuk makan siang dan malam. Sewaktu masih muda pasien sering mengkonsumsi makanan tiggi kadar gula, seperti nasi dalam jumlah banyak, serta minuman yang manis-manis seperti sirup, serta minumana kemasan yang mengandung tinggi kadar gula. Di sela-sela waktu makan sering makan selingan berupa keripik singkong, biskuit yang dibelinya diwarung. Jarang berolah raga

Studi Kasus

karena tidak mempunyai waktu khusus untuk melakukannya dan tidak terlalu paham pentingnya berolah raga. Namun aktivitas fisiknya senantiasa terjaga karena ia mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah harian. Merokok, konsumsi alkohol, dan konsumsi obat terlarang disangkal. Pasien menikah saat berusia 20 tahun. Menikah sebanyak tiga kali. Iastri pertama meninggal. Pasien kemudian menikah lagi, tapi lalu bercerai. Dan saat ini tinggal bersama istri ketiganya. Kebutuhan rumah tangga sehari-hari dipenuhi oleh cucunya yang bekerja sebagai artis sinetron, sedangkan istrinya bekerja sebagai pemungut barang-barang bekas untuk menambah kebutuhan hidup. Hubungan antara pasien dan istrinya baik, tidak ada masalah. Meskipun istrinya terkesan cuek, namun masih mau memenuhi kebutuhan hidup pasien sperti menyiapkan makanan dan mengurusi kebutuhan yang lain. Untuk masalah kesehatan pasien rajin ke Puskesmas Johar Baru untuk kontrol kadar gula dan mengambil obat pengontrol kadar gula. Tidak ada dana khusus di keluarga yang dikumpulkan untuk masalah kesehatan keluarga. Pasien menggunakan Gakin. DIAGNOSIS HOLISTIK Aspek I (Apek Personal) Pasien memiliki pengetahuan yang cukup tentang kebersihan dan kesehatan Aspek II (Aspek Klinis) Diabetes melitus yang tidak terkontrol Parestesi Kalus pada regio tarpal pedis

Aspek III (Resiko Individual) Pasien sering lupa untuk minum obat dan malas untuk kontrol Pasien tidak pernah berolah raga, baik yang umum ataupun senam khusus penderita diabetes. Aspek IV (Aspek Psikososial Keluarga)
Kebiasaan keluarga jika terdapat keluhan, baru berobat.

Studi Kasus

Tidak terdapat dana khusus untuk masalah kesehatan. Aspek V (Skala fungsional) Skala 1 (Mampu melakukan pekerjaan sehari-hari di dalam dan luar rumah).

GENOGRAM

Penilaian Terhadap Keluarga Dalam penatalaksanaan penyakit pasien sangat diperlukan peran serta yang aktif dari seluruh anggota keluarga terutama istri pasien yang merupakan satu-satunya keluarga yang masih tinggal bersama-sama. Peran keluarga saat ini lebih memperhatikan keadaan kesehatan pasien terutama dalam mengawasi pola makan dan gaya

Studi Kasus

hidup pasien. Karena keduanya akan sangat membantu dalam menurunkan gula darah pasien. Selain itu keluarga pun dituntut untuk selalu memberi dukungan dan selalu mengingatkan pasien agar meminum obat teratur dan rajin kontrol. Untuk itu, agar tujuan dapat tercapai dalam mengobati pasien dengan melibatkan keluarga dalam perawatan kesehatan pasien yang berkaitan dengan masalah fisik, psikologik, sosial dan lingkungan keluarga maka dilakukan kunjungan rumah pada tanggal 28 Juli 2011, 1 dan 5 Agustus 2011. Identifikasi Masalah Keluarga
1. Masalah dalam organisasi keluarga : dalam struktur keluarga pasien adalah kepala

keluarga adalah suami pasien yang berusia lansia yang sudah pensiun dan seorang ibu rumah tangga. Kesembilan anak mereka telah berkeluarga dan tidak tinggal bersama lagi. 2. Masalah dalam fungsi biologis: pasien memiliki riwayat penyakit keluarga diabetes melitus. Saat ini pasien menderita penyakit diabetes melitus.
3. Masalah dalam fungsi psikologis: pasien kurang diperhatikan oleh sang istri, karena

pekerjaan istrinya yang sebagai pemungut barang-barang bekas sangat menyita waktu. Sehingga pasien harus mengurus dirinya sendiri, untuk urusan menyiapak makanan dan meminum obat penurun gula darahnya. Untuk hal ini, pasien sering kali malas dan lupa. Anak-anak pasien telah berkeluarga dan jarang berkomunikasi sehingga dukungan keluarga untuk kesembuhan pasien juga dinilai kurang akibat tidak adanya kedekatan antar keluarga.
4. Masalah dalam fungsi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan: Sumber penghasilan

utama pada keluarga adalah dari cucu pasien yang bekerja sebagai seorang katris sinetron dan mendapatakan uang tambahan dari pekerjaan istri pasien sebagai pemungut barang bekas. Untuk biaya kesehatan, pasien memiliki kartu GAKIN, dari sini pemenuhan kebutuhan pasien sudah terpenuhi dengan baik.
5. Masalah lingkungan : Lingkungan rumah tidak cukup baik. Kebersihan lingkungan

kurang terjaga karena rumah pasien juga digunakan untuk menampung barang-barang bekas hasil pungutan istri untuk nanti dijual kembali.. 6. Masalah perilaku kesehatan : Keluarga cukup mengerti akan pentingnya kesehatan dan pemeliharaan kesehatan, namun usaha dalam merubah pola makan dan gaya hidup masih sangat kurang.

Studi Kasus

Diagnosis Keluarga Keluarga inti dengan kepala keluarga yang tidak mempunyai penghasilan yang tetap dari uang pensiunan, hanya mengandalkan pemberian cucunya dan pemasukan dari pekerjaan istri sebagai pemungut barang bekas, serta dengan perilaku anggota keluarga yang kurang memperhatikan kesehatan pasien. Tujuan Umum Penyelesaian Masalah Pasien dan Keluarga Membantu pasien untuk memahami dan menyelesaikan masalah kesehatan dan dapat terwujudnya keluarga yang sadar akan kebersihan dan kesehatan sehingga dapat mencegah komplikasi dari penyakitnya. Indikator Keberhasilan Pasien telah mengerti dan memahami tentang diabetes melitus, pasien bisa untuk merubah perilakunya dalam hal kontrol gula darah secara teratur ke Puskesmas dan mengatur pola makannya. Setiap anggota keluarga memahami pentingnya peranan keluarga disini dalam memberi dukungan dari keluarga sangat penting karena dapat meningkatkan semangat pasien dalam menjalani pengobatan dan mencegah komplikasi diabetes melitus. Tindak Lanjut Terhadap Pasien dan Keluarga Untuk pelaku rawat harus diberikan edukasi yang cukup mengenai penyakit diabetes melitus yang dialami dan komplikasi yang akan terjadi bila tidak terkontrol. Dalam hal ini istri pasien yang harus merawat suaminya dengan baik agar pasien mendapatkan semangat dan mengingatkan pasien untuk minum obat. Pasien diberikan edukasi untuk cek gula darah secara teratur dan kepatuhan minum obat serta pentingnya melakukan perilaku hidup sehat untuk penatalaksaan penyakitnya. Pelaku rawat (istri pasien) juga harus diberikan edukasi tentang diet makanan pada penderita diabetes melitus dan sehingga pelaku rawat dapat mengingatkan dan mengawasi pola makan.

Tindakan Terhadap Keluarga

Studi Kasus

Penatalaksanaan pasien ini memerlukan partisipasi seluruh anggota keluarga dalam mengatasi masalah yang dihadapinya, sehingga dapat memperbaiki pola hidup dalam keluarga dalam membentuk keluarga yang sejahtera. Pertamatama dijelaskan kepada keluarga pasien tentang penyakit Diabetes melitus yang meliputi faktor risiko, penyebab, gejala, terapi dan pencegahan . Kemudian diberikan penjelasan tentang pentingnya usaha untuk perbaikan kesehatan dan mencegah komplikasi. Keluarga juga harus mendapat pengetahuan yang sejelasjelasnya bahwa peran keluarga sangat besar dalam memberikan perhatian dan dukungan untuk penyembuhan pasien. Selanjutnya diberikan pula motivasi terhadap keluarga untuk memperhatikan pasien terutama agar selalu mengingatkan pasien untuk meminum obat dan cek gula darah secara teratur ke puskesmas atau pelayanan kesehatan lainnya. Selain itu keluarga juga memotivasi agar memperbaiki gaya hidup pasien yaitu dengan berolahraga dan mengatur pola makan pasien sesuai dengan diet pada penderita diabetes melitus. Dilakukan penilaian terhadap penguasaan masalah dan kemampuan beradaptasi yang dapat dilihat pada Tabel 1. Penilaian kemampuan mengatasi masalah secara keseluruhan dan kemampuan adaptasi dengan skala : 5: 4: 3: 2: 1: 99 : dapat diselesaikan sepenuhnya oleh pasien dan keluarganya penyelesaian hampir seluruhnya oleh keluarga dengan sedikit petunjuk dari orang lain / dokter / pelayanan kesehatan penyelesaian hanya sedikit atas partisipasi keluarga partisipasi keluarga hanya berupa keinginan saja karena tidak mampu, penyelesaian oleh orang lain / dokter / pelayanan kesehatan tidak ada partisipasi, tidak ada penyelesaian walaupun sarana ada tidak dapat dinilai.

Kesan dari kemampuan penyelesaian masalah awal dalam keluarga adalah 3 yaitu , dimana keluarga mampu menyelesaikan masalahnya dengan arahan dari petugas pelayan kesehatan. Pada akhir studi dilakukan penilaian kembali kemampuan keluarga menyelesaikan masalahnya. Nilai akhir koping keluarga yang didapat adalah 5. Dimana masalah dapat diselesaikan sepenuhnya oleh pasien dan keluarga. Pembahasan Pembinaan dengan pelayanan kedokteran keluarga ini dilakukan pada pasien Tn. S usia 79 tahun dengan keluhan sering merasa kesemutan pada anggota gerak bawah dan memiliki kalus pada telapak kaki. Pasien memiliki riwayat diabetes melitus sejak 5 tahun

Studi Kasus

yang lalu, yang tidak terkontrol, pasien mengaku merasa malas, jika tidak ada keluhan. Disini terlihat tidak ada nya kemauan dari diri pasien untuk meningkatkan kesehatannya sehingga kami sebagai petugas kesehatan memberi tahu kenapa pasien DM harus rajin kontrol, yaitu untuk mengetahui kadar gula darah, dan diberitahu bahwa DM itu tidak dapat disembuhkan hanya dapat dikontrol dengan cara meminum obat dan pola hidup yang sehat. Kami juga memberitahukan tentang Penyakit DM itu sendiri. Seorang sudah dapat dikatakan DM jika menderita dua dari tiga gejala dibawah ini: 1. Keluhan TRIAS: banyak minum(polidipsia), banyak makan(polifagia), banyak kencing (poliuria) serta penurunan berat badan yang tidak jelas sebabnya.
2. Kadar glukosa darah pada waktu puasa 126 mg/dL

3. Kadar glukosa darah dua jam sesudah makan 200 mg/dL (Tjokroprawiro, A. 2006). Dari anamnesa pasien mengatakan sering lupa untuk meminum obat, pasien ingat setelah makan, lalu pasien pun tidak langsung meminum obatnya, setelah merasakan lapar lagi baru pasien meminumnya. Dari sini terlihat bahwa pasien terlihat kurang mengetahui fungsi obat yang diberikan, sebagai petugas kesehatan kami menanyakan obat apa yang sering lupa untuk diminum, pasien mengatakan glibenklamid, lalu kami menjelaskan bagaimana cara kerja obat tersebut dan mengapa obat tersebut seharusnya diminum 30 menit sebelum makan, kami menjelaskan bahwa obat tersebut berfungsi untuk mengeluarkan zat insulin yang fungsinya memasukan gula ke dalam sel, maka jika diminum setelah makan obat ini tidak bekerja sebagaimana mestinya, dan tidak akan meurunkan kadar gula dalam darah. Dan kami menyarankan agar pasien meminta tolong kepada keluarga untuk mengingatkan. Dari anamnesa juga didapatkan pasien hampir tidak pernah berolahraga, karena pasien merasa sibuk untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangganya, dan malas jika hanya sendiri, pasien mau berolahraga jika ada yang menemani, kami sebagai pembina memberitahukan bahwa dengan berolahraga selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitifitas insulin, sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. Latihan jasmani yang dianjurkan berupa latihan jasmani yang bersifat aerobik seperti: jalan kaki, bersepeda santai, jogging dan berenang. Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani juga akan meningkatkan metabolisme. Lalu kami menyarankan agar pasien mengajak keluarga pasien untuk ikut olahraga selain sehat pasien juga dapat menjadi waktu yang tepat untuk berkomunikasi dengan keluarga. Lalu kebiasaan pasien yang lainnya diet yang tidak sesuai untuk DM tipe II, kami menanyakan pola konsumsi makan penderita, frekuensi makan besar 3 kali perhari tapi

Studi Kasus

pasien sering merasa lapar untuk itu pasien sedia cemilan biskuit manis, kadang dodol goreng , susu milo, susu full cream, susu kental manis, permen, atau roti tawar yg diolesi dengan susu kental manis, dari sini kami melihat yang dikonsumsi pasien sangat tinggi kadar glukosanya. Kemudian kami menjelaskan bagaimana diet untuk penderita DM tipe II yaitu diet rendah gula dengan makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori. Pada penderita diabetes tipe II, pengaturan makanan merupakan hal yang sangat penting. Bila hasil pengaturan makanan tidak sesuai dengan yang diharapkan, diperlukan obat-obat hipoglikemi OAD (oral anti-diabetic) atau insulin. Penderita diabetes tipe II yang kurus tidak memerlukan pembatasan jumlah energi yang terlalu ketat. Akan tetap, semua penderita diabetes tipe II harus mengurangi lemak dan kolesterol serta meningkatkan rasio asam lemak tak jenuh dengan asam lemak jenuh. Penatalaksanaan makanan untuk penderita diabetes melitus harus memperhatikan beberapa hal, yaitu prinsip, tujuan, dan syarat diet. Prinsip pemberian makanan bagi penderita diabetes melitus adalah mengurangi dan mengatur konsumsi karbohidrat sehingga tidak menjadi beban bagi mekanisme pengaturan gula darah. Saat ini anjuran presentase karbohidrat berkisar antara 60-68% dari total energi makanan dengan anjuran penggunaan karbohidrat kompleks yang mengandung serat. Tujuan diet yaitu : memperbaiki kesehatan umum penderita, memberikan jumlah energi yang cukup untuk memelihara berat badan ideal/ normal, mempertahankan kadar gula darah sekitar normal (Pranadji, Martianto, dan Subandriyo, 2006). Sebelumnya telah dikatakan pasien selalu mengatakan malas untuk kontrol dan berolahraga dan pasien juga mengatakan dirumah jarang berkomunikasi dengan anak dan menantunya karena sibuk dengan urusannya masing-masing. Pasien mengatakan anak pertama sibuk untuk mengurus cucunya menantunya sibuk bekerja dan anak yang terakhir juga sibuk dengan pekerjaannya selalu pulang malam sehingga sangat sulit untuk berkomunikasi. Pembina merasa ini salah satu penyebab muncul rasa malas yaitu kurangnya dukungan dari keluarga, oleh karena itu pembina menyarankan kepada keluarga agar menyempatkan sedikit waktu untuk berkomunikasi. Pembina telah menerangkan memberi tahu kenapa pasien DM harus rajin kontrol, yaitu untuk mengetahui kadar gula darah, dan pentingnya dukungan keluarga untuk penatalaksanaan DM sehingga dapat mencegah komplikasi. Dengan demikian pembina merasa sangat perlu untuk memberikan pemahaman pada pasien dan keluarga DM adalah penyakit selama hidup, maka pengawasan dan pemantauan dalam penatalaksanaan DM pada setiap saat menjadi penting. Oleh karena itu maka

Studi Kasus

penatalaksanaan penderita DM tidak dapat sepenuhnya diletakkan pada pundak dokter dan klinis saja. Dalam hal ini partisipasi penderita DM dan keluarganya sangat diperlukan untuk memberikan motivasi sehingga dapat mencegah komplikasi. Hasil Pembinaan 1. Pasien lebih paham tentang penyakit diabetes melitus, memahami pentingnya minum obat teratur, kontrol gula darah ke puskesmas secara teratur setiap bulannya.
2. Pasien mulai merubah pola makan dengan mengganti menu makan yang sesuai untuk

diet penderita DM tipe II salah satunya dengan tidak lagi mengkonsumsi susu kental manis.
3. Keluarga mulai melakukan perilaku sehat dengan jalan pagi bersama saat hari minggu 4. Hasil pembinaan keluarga secara keseluruhan menunjukkan peningkatan indeks

koping / penguasaan masalah dari 3 sebelum pembinaan menjadi 5 setelah pembinaan.


5. Konsep pelayanan kedokteran keluarga telah dijalankan dan perlu ditunjang dengan

kerjasama yang baik antara provider kesehatan serta keluarga. Saran Saran bagi kesinambungan pelayanan adalah : 1. Untuk pembina berikutnya Pembina selanjutnya sebaiknya dapat bekerja sama dengan tim Pembina sebelumnya, sehingga pembinaan yang diberikan selanjutnya dapat benar-benar melanjutkan pembinaan sebelumnya. Pembina selanjutnya sebaiknya tetap memotivasi keluarga pasien untuk ikut berperan serta menjadi pelaku rawat bagi pasien. 2. Untuk pasien dan keluarga Diperlukan kerja sama antara anggota keluarga dengan provider kesehatan dalam menyelesaikan semua permasalahan yang ditemukan. Pasien dan keluarganya agar lebih terbuka kepada pemberi pelayanan kesehatan jika ingin mengetahui tentang penyakitnya. 3. Pelaksanan pelayanan kesehatan Perlunya pelayanan kesehatan yang lebih menyeluruh, komprehensif, terpadu dan kesinambungan. Diperlukan suatu rekam medis yang benar dan teratur, serta

Studi Kasus

terkomputerisasi untuk menunjang pelayanan. Perlunya mengedukasi pasien dengan diabetes mellitus untuk meminum obat teratur dan kontrol rutin. Pelayanan kesehatan sebaiknya dalam memberikan obat DM tipe II tidak hanya untuk jangka waktu yang terlalu singkat perkunjungan pasien sebab hal ini dapat mempengaruhi kepatuhan berobat pasien. Penutup Dalam studi kasus ini diterapkan berbagai upaya untuk mencapai tujuan pelayanan kedokteran keluarga berupa pelayanan kesehatan yang holistik, komprehensif, terpadu, dan berkesinambungan. Pada kasus ini pengetahuan tentang kesehatan terutama dalam perilaku hidup sehat dan dukungan moril keluarga sangat perlu ditingkatkan, oleh karena itu pendekatan kedokteran keluarga penting dalam penanganan kasus semacam ini.

Daftar Pustaka Asdie, A.H., 2000. Patogenesis dan Terapi Diabetes Mellitus Tipe 2, Edisi pertama, Penerbit Medika Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2005.Jumlah Penderita Diabetes Indonesia Ranking ke-4 di Dunia, http://www.depkes.go.id/index.php Gustaviani R. Diagnosis dan klasifikasi diabetes melitus. Dalam : Sudoyo AW, Setiyohadi B, dkk (editor). Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi IV. Jilid III. Jakarta : Balai Penerbit FKUI, 2006: 1879-1885. Kekalih A. Diagnosis Holistik Pada Pelayanan Kesehatan Primer. Jakarta: Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI, 2008.

Studi Kasus

Pranadji, D, K. Martianto, D, H. Subandriyo, V, U. Perencanaan Menu Untuk Penderita Diabetes Melitus. Jakarta : Penebar Swadaya, 2006. Soegondo S et. al. 2006. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. pp: 7-9 Soewondo, P. 2005. Pemantauan Pengendalian Diabetes Melitus, dalam Penatalaksanaan Diabetes Terpadu, Edisi kelima, Balai Penerbit FK UI, Jakarta. Sundari, S.,Setyawati, I., 2006. Peran Keluarga dalam Perawatan Penderita Diabetes Mellitus secara Mandiri di Rumah, Journal Mutiara Medika, 6:2, 113-121. Tjokroprawiro, A. 2006. Hidup Sehat Dan Bahagia Bersama Diabetes Melitus. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Wardani, N, K,.Hadi,H.,Huriyati,E.,2007. Pola Makan dan Obesitas Sebagai Faktor Resiko DM Tipe 2 di Rumah Sakit Sanglah Denpasar, Journal Gizi Klinik Indonesia, 4:1,1-10. Waspadji, S. 2005. Mekanisme Dasar dan Pengelolaannya yang Rasional , dalam Penatalaksanaan Diabetes Terpadu, Edisi kelima, Balai Penerbit FK UI, Jakarta.

LAMPIRAN
LEAFLET DIABETES MELITUS

Studi Kasus

Studi Kasus