Anda di halaman 1dari 33

BAB 1 PENDAHULUAN

I. Latar Belakang Al_Quran merupakan sumber pokok ajaran Islam sebagai petunjuk bagi manusia (Hudan Linnasi), sebagai pedoman hidup manusia untuk menuju kehidupan sejahtera di dunia dan di akhirat. Rasulullah SAW ketika akan wafat berwasiat bahwa Ia tidak meninggalkan warisan harta kecuali Al-Quran dan As Sunnah, barangsiapa yang berpegang teguh pada kedua sumber tersebut di atas pasti tidak akan sesaat untuk selama-lamanya. Sunnah adalah sumber Hukum Islam ( Pedoman Hidup Kaum Muslimin ) yang kedua setelah Al-Qur'an. Bagi mereka yang telah beriman kepada Al-Qur'an sebagai sumber hukum, maka secara otomatis harus percaya bahwa Sunnah sebagai sumber Islam juga. Ijtihad adalah suatu cara untuk mengetahui hukum sesuatu melalui dalil-dalil agama yaitu Al-Qur'an dan Al-hadits dengan jalan istimbat. Adapun mujtahid itu ialah ahli fiqih yang menghabiskan atau mengerahkan seluruh kesanggupannya untuk memperoleh persangkaan kuat terhadap sesuatu hukum agama. Oleh karena itu kita harus berterima kasih kepada para mujtahid yng telah mengorbankan waktu,tenaga, dan pikiran untuk menggali hukum tentang masalahmasalah yang dihadapi oleh umat Islam baik yang sudah lama terjadi di zaman Rosullulloh maupun yang baru terjadi.

II. Tujuan

1. Untuk memenuhi salah satu tugas pendidikan agama islam mengenai sumber

nilai Islam
2. Untuk dapat mengetahui dan memahami tentang sumber nilai islam. 3. Untuk dapat mempelajari tentang pentingnya sumber nilai islam untuk

kehidupan sehari-hari.

BAB 2 ISI

I. Sumber Nilai Islam Ketika rasulullah saw mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman beliau bertanya kepada Muadz, Dengan pedoman apa anda memutuskan suatu urusan?. Jawab Muadz : Dengan Kitabullah. Tanya Rasul : Kalau tidak ada dalam al- Quran? Jawab Muadz : Dengan Sunnah Rasulullah. Tanya Rasul : Kalau dalam Sunnah juga tidak ada? Jawab Muadz L. Saya berijtihad dengan pikiran saya. Sabda Rasul : Maha Suci Allah yang telah memberikan bimbingan kepada utusan Rasul-Nya, dengan satu sikap yang disetujui Rasul-Nya. (HR. Abu Dawud dan Turmudzi) Yang perlu dicatat adalah bahwa sekalipun ketiga-tiganya adalah sumber nilai, akantetapi antara satu dengan yang lainnya mempunyai tingkatan kualitas dan bobot yangberbeda-beda dengan pengaruh hukum yang berbeda-beda pula. Apabila ada yangbertentanga satu dengan yang lain, maka hendaknya dipilih Al-Quran terlebih dahulu kemudian yang kedua al-Hadits.

I.1 Al-Quran Al-Quran bersifat global (mujmal) yang memerlukan perincian. Misalnya perintah shalat, shaum maupun haji hanyalah dengan kalimat singkat : aqimis shalat, kutiba alaikum as-shiam, wa atimmu alhajj, sedangkan tentang tatacara mengerjakannya tidak dijelaskan di dalam Al-Quran. Untuk menjelaskannya, datanglah Rasulullah SAW memberikan penjelaskan, dari mulai tatacara shalat, berrumah tangga, berekonomi sampai urusan bernegara. Penjelasan rasul itu disebut Sunnah Rasul. Setelah Rasul wafat, permasalahan umat tetap bermunculan misalnya persoalan bayi tabung, inseminasi, euthanasia, dll. Persoalan demikian

belum terakomodir di dalam Al-Quran maupun hadits, oleh karena itu memerlukan sumber hukum yang ketiga, yakni ijtihad. a. Pengertian Al-Quran Al-Quran merupakan wahyu dari Allah SWT yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dengan menggunanakan bahasa Arab. Agar fungsi Al-Quran sebagai hidayah (guidance) atau way of life benar-benar efektif, maka Al-Quran bukan saja perlu diterjemahkan tetapi perlu jiuga ditafsirkan. Cara menafsirkan AlQur;an bisa menggunakan dua pendekatan, yakni tafsir Tahlili dan tafsir Maudhui. Kini banyak tokoh-tokoh Islam aliran rasional Liberal, yang menafsirkan Al-Quran dengan dominasi akal. Pendekatannya ada tiga yakni tafsir Mateforis, tafsir Hermenetika dan tafsir dengan pendekatan Sosial Kesejarahan.

b. Pembuktian Al-Quran sebagai Wahyu dalam Persepketif Sains :

Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur;an yang berisi informasi tentang alam semesta yang dapat dijadikan bukti bahwa Al-Quran adalah wahyu Allah, bukan karya manusia, beberapa di antaranya adalah : Tentang awal kejadian langit dan bumi. Di dalam QS. 21 : 30 Allah menegaskan : Apakah orang-orang lafir tidak mengetahui, sesungguhnya langit dan bumi dahulunya adalah satu yang padu, maka kemudian kami lontarkan. Dan Kami jadikan semua makhluk hidup dari air, apakah mereka tidak mau beriman. Tentang pergerakan gunung dam lempengan bumi. QS :Dan kamu melihat gunung, kamu menyangka gunung itu diam. Tidak gunung itu bergerak sebagaimana geraknya awan. Nabi Yusuf berkata : Ya ayahku ada sebelas planet yang bersujud kepadaku. Allah sebagai pencipta alam ini menegaskan di dalam Al-Quran bahwa planet itu ada sebelas. Padahal para ahli astronomi berpendapat hanya ada sembilan planet. Siapa yang benar ? Allah sebagai penciptanya atau manusia yang hanya mencari dan menemukannya. Pasti Allah yang benar. Baru pada tahun-tahun terakhir ini para ahli astronomi menemukan bahwa planet itu ada sebelas. Mana mungkin Al-quran mampu memberi informasi tentang alam yang menjadi

ilmu pengetahuan modern, seandainya Al-Quran bukan karya Allah. Ayat-ayat di atas membuktikan bahwa dilihat dari perspektif sains, Al-Quran pasti karya Allah, firman Tuhan bukan karya nabi Muhammad SAW.

c. Bahasa Al-Quran :

Allah menegaskan Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Quran dalam bahasa Arab. Ini penegasan dari Allah SWT, bahwa Al-Quran adalah bahasa Arab, bahasa yang dipakai oleh nabi Muhammad dan oleh masyarakat Arab. Tujuannya sudah pasti agar Al-Quran mudah dipahami. Akan tetapi, menurut Isa Bugis, Al-Quran bukan bahasa Arab tetapi bahasa wahyu. Alasannya adalah karena Muhammad adalah keturunan nabi Ismail dari isteri kedua, sehingga Muhammad berdarah Babylon, bukan berdarah Arab asli dengan demikian maka bahasa nabi Muhammad adalah bukan bahasa Arab tetapi serumpun dengan bahasa Arab, itulah yang disebut "bilisni qaumih" (berbicara dengan bahasa kaumnya). Menurut penulis, pendapat di atas tidak tepat. Alasan pertama, sebagaimana dijelaskan oleh Ismail al-Faruqi adalah bahwa, suku Arab asli (al-Aribah) ialah suku Qanaan, Yarub, Yasyjub dan Saba'. Kemudian datanglah suku Arab Mustaribah I (Pendatang I), yakni suku Adnan, Maad dan Nizar. Lantas datang pula suku Arab Mustaribah II (Pendatang II) yakni suku Fihr atau Quresy. Jadi suku Quresy adalah bagian dari Suku Arab, bukan suku lain. Suku-suku pendatang lantas berbaur dan mempelajari bahasa yang ada yakni bahasa Arab, bukan mempelajari bahasa Babylon. Alasan kedua, Bangsa Arab termasuk bangsa Semit. Dewasa ini yang disebut dikatagorikan bahasa Semit adalah setengah kawasan bagian Utara, bagian Timurnya berbahasa Akkad atau Babylon dan Assyiria, sedangkan bagian Utara adalah bahasa Aram, Mandaera, Nabatea, Aram Yahudi dan Palmyra. Kemudian di bagian Baratnya adalah Foenisia, Ibrani Injil. Di belahan Selatan, yakni di bagian utaranya berbahasa Arab sedangkan sebelah selatan berbahasa Sabe atau Hymyari, dan Geez atau Etiopik. Hampir semua bahasa di atas telah punah , hanya bahasa Arab yang masih hidup".

Apakah ada bahasa selain Arab yang serumpun dengan bahasa arab dapat dilihat antara lain dari bentuk hurufnya. Huruf Arab ternyata berbeda sekali dengan dengan huruf bahasa Foenesia, Aramaea, Ibrani, Syiria Kuno, Syiria Umum, Kaldea dan Arab. Para pembaca bisa melihat perbedaan huruf-huruf tersebut pada buku "Atlas Budaya" karya Ismail Al-Faruqi bersama isterinya. Al-Qur'an menggunakan huruf Arab bukan huruf lainnya, dengan demikian maka bahasa dan tulisan Al-Qur'an memang mutlak bahasa Arab bukan bahasa yang serumpun bahasa Arab. Kalau mau dikatakan serumpun maka harus dikatakan serumpun dengan bahasa Semit bukan serumpun bahasa Arab. Sebagai tambahan penjelasan, menurut Ismail Al-Faruqi, bahasa Semit yang masih hidup sampai saat ini adalah bahasa Arab. Dengan demikian maka bahasa Al-Qur'an adalah bahasa Arab, bahasanya orang Arab bukan serumpun dengan bahasa Arab. Hujjah lain dari kelompok Isa Bugis adalah bahwa jika Al-Quran berbahasa Arab maka semua orang Arab pasti mengerti Al-Quran, tetapi pada kenyataannya tidak semua orang Arab mengerti Al-Quran, kalau begitu Al-Quran bukanlah bahasa Arab. Hujjah inipun lemah. Mengapa demikian? Keadaan ini sama saja dengan orang Indonesia. Tidak semua orang Indonesia mampu memahami karya sastera berbahasa Indonesia, ini karena buku-buku sastera itu menggunakan bahasa Indonesia kelas tinggi. Pada umumnya orang-orang Arab dalam percakapan mereka sehari-hari menggu-nakan bahasa Arab Yaumiyah sedangkan Al-Quran menggunakan bahasa Arab Fush. Di samping itu untuk dapat memahami suatu teks tidak cukup dengan mengetahui kosa kata (mufradat) tetapi harus berbekal ilmu pengetahuan tentang isi teks. Sarjana sastera Indonesia misalnya, tidak otomatis dapat memahami teks buku-buku Ilmu Kimia. Begitu pun sarjana Kimia tidak otomatis memahami teks tentang filsafat. Untuk mampu memahami teks ilmu pengetahuan, harus memiliki syarat-syarat, antara lain memahami substansi materi, memiliki frame of reference yang teratur, serta memiliki paradigma berfikir yang menunjang. Ketidakmengertian sebahagian orang Arab terhadap teks-teks AlQuran tidak menunjukkan bukti bahwa Al-Quran bukan bahasa Arab.

Hujjah ketiga Isa Bugis adalah bahwa kata Arabiyyan dengan doble ya merupakan ya nisbat yang menunjukkan serumpun dengan bahasa Arab tetapi bukan bahasa Arab. Sepengetahuan penulis, kata arabiyyan berarti bahasa yang dinisbahkan kepada orang Arab, atau bahasanya orang Arab, yakni bahasa Arab. Wahbah Zuhayly, ketika menafsirkan ayat tersebut menyataklan bahwa kata arabiyyan bermakna nuzila bilisnin arabiyyin mubn, yaqra-u bi lugah al-arabi, yang artinya al-Quran diturunkan dengan lisan orang Arab, di baca dengan bahasa Arab. Senada dengan itu, Muhammad Ibn Muhammad Abu Syahbah dalam bukunya: Al-Madkhal li Dirsah Al-Qurn al-Karm menjelaskan bahwa Al-Quran itu adalah kitab arabiyyah al-akbar atau kitab berbahasa Arab yang maha besar. Kelompok Isa Bugis pun lantas beralih dengan mengatakan bahwa Al-Quran bahasa Quresy bukan bahasa Arab. Pendapat demikian ditentang oleh Ahmad Satori sebagai doktor dalam sastra Arab. Ia menegaskan bahwa bahasa orang Arab adalah bahasa Arab. Perbedaan bahasa Quresy dengan bahasa suku Tamim dan lain-lainnya hanyalah dalam dialek bukan dalam makna. Dengan demikian hujjah Isa Bugis yang menyatakan al-Qur'an bukan bahasa Arab, seluruhnya tertolak.

d. Fungsi Al-Quran

Aturan Allah yang terdapat di dalam Al-Qur'an memiliki tiga fungsi utama, yakni sebagai hud (petunjuk), bayyint (penjelasan) dan furqn (pembeda). Sebagai hud, artinya Al-Quran merupakan aturan yang harus diikuti tanpa tawar menawar sebagaimana papan petunjuk arah jalan yang dipasang di jalanjalan. Kalau seseorang tidak mengetahui arah jalan tetapi sikapnya justeru mengabaikan petunjuk yang ada pada papan itu, maka sudah pasti ia akan tersesat ( QS. 13: 37). Petunjuk yang ada pada Al-Quran benar-benar sebagai ciptaan Allah bukan cerita yang dibuat-buat (QS. 12:111). Semua ayatnya harus menjadi rujukan termasuk dalam mengelola bumi. Dengan menggunakan kedua macam hukum secara beriringan yakni hukum alam dan hukum Al-Quran, ditujukan antara lain untuk menampakkan kejayaan

Islam dan mengalahkan segenap tata aturan ciptaan manusia (liyudlhirah alddini kullih) sebagaimana ditunjukkan oleh kemenangan negeri Madinah atas negeri Mekah yang Jahiliyah (futuh Mekah). Supaya tujuan itu bisa dicapai maka hukum Allah (Al-Quran) harus benar-benar dijadikan undang-undang oleh para khalifah fil ardl dalam mengelola bumi. Sedangkan Al-Quran sebagai bayyint berfungsi memberikan penjelasan tentang apa-apa yang dipertanyakan oleh manusia. Dalam fungsinya sebagai bayyint, Al-Qur'an harus dijadikan rujukan semua peraturan yang dibuat oleh manusia, jadi manusia tidak boleh membuat aturan sendiri sebab sistem aturan produk akal manusia sering hanya bersifat trial and error. Fungsi ketiga Al-Quran adalah sebagai furqn atau pembeda antara yang haq dan yang bthill, antara muslim dan luar muslim, antara nilai yang diyakini benar oleh mukmin dan nilai yang dipegang oleh orang-orang kufurr. Untuk bisa memahami dan menggali fungsi-fungsi Al-Quran, baik sebagai hud, bayyint maupun furqn secara mendalam, maka Al-Quran perlu dipelajari bagian demi bagian secara cermat dan tidak tergesa-gesa (QS. 75 : 1617, QS. 17 : 105-106), memahami munsabah atau hubungan ayat yang satu dengan yang lain, surat yang satu dengan surat yang lain. Selanjutnya fungsi lain Al-Quran sebagai Syifa (obat, resep). Ibarat resep dokter, pasien sering sulit membaca resep dokter apalagi memahaminya, akan tetapi walaupun begitu, pasien tetap percaya bahwa resep itu benar mustahil salah karena dokter diyakini tidak mungkin bohong. Inilah kebenaran otoritas. Demikian pula dengan Al-Quran, ia a adalah resep dari Allah yang sudah pasti benar mustahil salah karena Allah adalah Maha Benar. Dengan demikian walaupun ada beberapa ayat Al-Qur;an yang untuk sementara waktu belum dapat difahami oleh ratio, tak apa tetapi tetap harus dilaksanakan, sebab kalau menunggu dapat memahaminya secara penuh bisa keburu mati. Juga obat dari dokter kadang rasanya manis kadang pahit, tetapi dokter berpesan agar obat tersebut dimakan sesuai aturan dan sampai habis, sebab kalau tidak tepat aturan dan tidak sampai habis, penyakitnya tidak akan sembuh. Demikian pula dengan Al-Quran sebagai obat, tidak selalu harus sejalan dengan

perasaan (feeling) kemauan (willing) dan ratio (thinking). Allah menghendaki agar seorang mukmin mengamalkan seluruh ayat Al-Quran tanpa terkecuali. Pemilahan dan pemilihan ayat-ayat tertentu untuk diamalkan sedangkan ayat yang lainnya dibiarkan adalah sikap kufur (Numinu biba;dlin wa nakfuru bibadlin). Tepat apa yang dinyatakan Al-Quran, bahwa sebab seorang tidak menerima kebenaran Al-Quran sebagai wahyu Ilahi adalah salah satu diantara dua sebab, yaitu : a. Tidak berpikir dengan jujur dan sungguh-sungguh. b. Tidak sempat mendengar dan mengetahui Al-Quran secara baik (67:10, 4:82). Oleh Al-Quran disebut Al-Maghdhub ( dimurkai Allah ) karena tahu kebenaran tetapi tidak mau menerima kebenaran itu, dan disebut adhdhollin ( orang sesat ) karena tidak menemukan kebenaran itu. Sebagai jaminan bahwa Al-Quran itu wahyu Allah, maka Al-Quran sendiri menantang setiap manusia untuk membuat satu surat saja yang senilai dengan Al-Quran (2:23, 24, 17:88). Sebagai pedoman hidup, Al-Quran banyak mengemukakan pokok-pokok serta prinsip-prinsip umum pengaturan hidup dalam hubungan antara manusia dengan Allah dan mahluq lainnya. Didalamnya terdapat peraturan-peraturan seperti : beribadah langsung kepada Allah (2:43,183,184,196,197; 11:114), berkeluarga (4:3, 4,15,19,20,25; 2:221; 24:32; 60:10,11), bermasyarakat ( 4:58; 49:10,13; 23:52; 8:46; 2:143), berdagang (2:275,276,280; 4:29), utang-piutang (2:282), kewarisan (2:180; 4:7-12,176; 5:106), pendidikan dan pengajaran (3:159; 4:9,63; 31:13-19; 26:39,40), pidana (2:178; 4:92,93; 5:38; 10:27; 17:33; 26:40), dan aspek-aspek kehidupan lainnya yang oleh Allah dijamin dapat berlaku dan dapat sesuai pada setiap tempat dan setiap waktu (7:158; 34:28; 21:107). Setiap Muslim diperintahkan untuk melakukan seluruh tata nilai tersebut dalam kehidupannya (2:208; 6:153; 9:51). Dan sikap memilih sebagian dan menolak sebagian tata nilai itu dipandang Al-Quran sebagai bentuk pelanggaran dan dosa (33:36). Melaksanakannya dinilai ibadah (4:69; 24:52; 33:71), memperjuangkannya dinilai sebagai perjuangan suci (61:10-13; 9:41), mati karenanya dinilai sebagai mati syahid (3:157, 169), hijrah karena

memperjuangkannya dinilai sebagai pengabdian yang tinggi (4:100, 3:195), dan tidak mau melaksanakannya dinilai sebagai zhalim, fasiq, dan kafir (5:44,45,47). Sebagai korektor Al-Quran banyak mengungkapkan persoalan-persoalan yang dibahas oleh kitab-kitab Taurat, Injil, dan lain-lain yang dinilai Al-Quran sebagai tidak sesuai dengan ajaran Allah yang sebenarnya. Baik menyangkut segi sejarah orang-orang tertentu, hukum-hukum,prinsip-prinsip ketuhanan dan lain sebagainya. Sebagai contoh koreksi-koreksi yang dikemukakan Al-Quran tersebut antara lain sebagai berikut : a. Tentang ajaran Trinitas (5:73). b. Tentang Isa (3:49, 59; 5:72, 75). c. Tentang penyaliban Nabi Isa (4:157,158). d. Tentang Nabi Luth (29:28-30; 7:80-84) perhatikan, (Genesis : 19:3336). e. Tentang Harun (20:90-94), perhatikan, (keluaran : 37:2-4). f. Tentang Sulaiman (2:102; 27:15-44), perhatikan (Raja-raja 21:4-5) dan lain-lain. 2. Sejarah Kodifikasi dan Perkembangannya Allah akan menjamin kemurnian dan kesucian Al-Quran, akan selamat dari usaha-usaha pemalsuan, penambahan atau pengurangan-pengurangan. (15:9;75:17-19). Dalam catatan sejarah dapat dibuktikan bahwa proses kodifikasi dan penulisan Quran dapat menjamin kesuciannya secara meyakinkan. Quran ditulis sejak Nabi masih hidup. Begitu wahyu turun kepada Nabi, Nabi langsung memerintahkan para sahabat penulis wahyu untuk menuliskannya secara hati-hati. Begitu mereka tulis, kemudian mereka hafalkan sekaligus mereka amalkan. Pada awal pemerintahan khalifah yang pertama dari Khulafaur Rasyidin, yaitu Abu Bakar Shiddiq, Quran telah dikumpulkan dalam mushhaf tersendiri. Dan pada zaman khalifah yang ketiga, ?Utsman bin ?Affan, Quran telah sempat diperbanyak. Alhamdulillah Quran yang asli itu sampai saat ini masih ada. Dalam perkembangan selanjutnya, tumbuh pula usaha-usaha untuk

menyempurnakan cara-cara penulisan dan penyeragaman bacaan, dalam rangka menghindari adanya kesalahan-kesalahan bacaan maupun tulisan. Karena

penulisan Quran pada masa pertama tidak memakai tanda baca (tanda titik dan harakat). Maka Al-Khalil mengambil inisiatif untuk membuat tanda-tanda yang baru,yaitu huruf waw yang kecil diatas untuk tanda dhammah, huruf alif kecil diatas sebagai tanda fat-hah, huruf alif yang kecil dibawah untuk tanda kasrah, kepala huruf syin untuk tanda shiddah, kepala ha untuk sukun, dan kepala ?ain untuk hamzah. Kemudian tanda-tanda ini dipermudah, dipotong, dan ditambah sehingga menjadi bentuk yang sekarang ada. Dalam perkembangan selanjutnya tumbuhlah beberapa macam tafsir Quran yang ditulis oleh ulama Islam, yang sampai saat ini tidak kurang dari 50 macam tafsir Quran. Juga telah tumbuh pula berbagai macam disiplin ilmu untuk membaca dan membahas Quran. 3. Ilmu-ilmu yang Membahas Hal-hal yang Berhubungan dengan alQuran antara lain : a. Ilmu Mawathin Nuzul, yaitu ilmu yang membahas tentang tempat-tempat turunnya ayat Quran. b. Ilmu Asbabun Nuzul, yaitu ilmu yang membahas sebab-sebab turunnya ayat Al-quran. c. Ilmu Tajwid, yaitu ilmu yang membahas tentang teknik membaca AlQuran. d. Gharibil Quran, yaitu ilmu yang membahas tentang kalimat-kalimat yang asing artinya dalam Al-Quran. e. Ilmu Wajuh wa Nadhar, yaitu ilmu yang membahas tentang kalimat yang mempunyai banyak arti dan makna apa yang dikehendaki oleh sesuatu ayat dalam Al-Quran. f. Ilmu Amtsalil Quran, yaitu ilmu yang membahas tentang perumpamaanperumpamaan dalam Al-Quran. g. Ilmu Aqsamil Quran, yaitu ilmu yang mempelajari tentang maksudmaksud sumpah Tuhan dalam Al-Quran. 4. Pembagian Isi al-Quran Al-Quran terdiri dari 114 surat; 91 surat turun di Makkah dan 23 surat turun di Madinah. Ada pula yang berpendapat, 86 turun di Makkah, dan 28 di Madinah. Surat yang turun di Makkah dinamakan Makkiyyah, pada umumnya

suratnya pendek-pendek, menyangkut prinsip-prinsip keimanan dan akhlaq, panggilannya ditujukan kepada manusia. Sedangkan yang turun di Madinah disebut surat Madaniyyah, pada umumnya suratnya panjang-panjang, menyangkut peraturan-peraturan yang mengatur hubungan seseorang dengan Tuhan atau seseorang dengan lainnya ( syariah ). Diperkirakan 19/30 turun di Madinah. Atas inisiatif para ulama maka kemudian Al-Quran dibagi-bagi menjadi 30 juz. Dalam tiap juz dibagi-bagi kepada setengah juz, seperempat juz, maqra dan lain-lain. 5. Nama-nama al-Quran Al-Kitab = Tulisan yang Lengkap ( 2:2 ). Al-furqan = Memisahkan yang Haq dari yang Bathil ( 25:1 ). Al-Mauidhah =Nasihat ( 10:57 ). Asy-Syifa = Obat ( 10:57 ). Al-Huda = Yang Memimpin ( 72:13 ). Al-Hikmah = Kebijaksanaan ( 17:39 ). Al-Hukmu = Keputusan ( 13:37 ). Al-Khoir = Kebaikan ( 3:103 ). Adz-Dzikru = Peringatan ( 15:9 ). Ar-Ruh = Roh ( 42:52 ). Al-Muthohharoh = Yang Disucikan ( 80:14 ). 6. Nama-nama Surat Berdasarkan Urutan Turunnya. a. Makkiyah. Al-?Alaq, Al-Qalam, Al-Muzammil, Al-Muddatstsir, Al-Fatihah, Al-Masad (Al-Lahab), At-Takwir, Al-Ala, Al-Lail, Al-Fajr, Adh-Dhuha, Alam Nasyrah (Al-Insyirah), Al-?Ashr, Al-?Adiyat, Al-Kautsar, At-Takatsur, Al-Maun, AlKafirun, Al-Fil, Al-Falaq, An-Nas, Al-Ikhlas, An-Najm, ?Abasa, Al-Qadar, AsySyamsu, Al-Buruj, At-Tin, Al-Quraisy, Al-Qariah, Al-Qiyamah, Al-Humazah, Al-Mursalah, Qaf, Al-Balad, Ath-Thariq, Al-Qamar, Shad, Al-Araf, Al-Jin, Yasin, Al-furqan, Fathir, Maryam, Thaha, Al-Waqiah, Asy-Syuara, An-Naml, Al-Qashash, Al-Isra, Yunus, Hud, Yusuf, Al-Hijr, Al-Anam, Ash-Shaffat, Lukman, Saba, Az-Zumar, Ghafir, Fushshilat, Asy-Syura, Az-Zukhruf, AdDukhan, Al-Jatsiyah, Al-Ahqaf, Adz-Dzariyah, Al-Ghasyiah, Al-Kahf, An-Nahl,

Nuh, Ibrahim, Al-Anbiya, Al-Muminun, As-Sajdah, Ath-Thur, Al-Mulk, AlHaqqah, Al-Maarij, An-Naba, An-Naziat, Al-Infithar, Al-Insyiqaq, Ar-Rum, Al-Ankabut, Al-Muthaffifin, Az-Zalzalah, Ar-Rad, Ar-Rahman, Al-Insan, AlBayyinah. Turunnya surah-surah Makkiyyah lamanya 12 tahun, 5 bulan, 13 hari, dimulai pada 17 Ramadhan 40 tahun usia Nabi. ( Febr.610 M ). b. Madaniyyah. Al-Baqarah, Al-Anfal, Ali-Imran, Al-Ahzab, Al-Mumtahanah, An-Nisa, AlHadid, Al-Qital, Ath-Thalaq, Al-Hasyr, An-Nur, Al-Haj, Al-Munafiqun, AlMujadalah, Al-Hujurat, At-Tahrim, At-Taghabun, Ash-Shaf, Al-Jumat, Al-Fath, Al-Maidah, At-Taubah dan An-Nashr ( 7. Susunan Al-Quran dalam Sistematika yang ada Sekarang. Al-Fatihah, Al-Baqarah, Ali-Imran, An-Nisaa, Al-Maa-idah, Al-Anaam, AlAraaf, Al-Anfaal, At-Taubah, Yunus, Hud, Yusuf, Ar-Rad, Ibrahim, Al-Hijr, An-Nahl, Al-Isra, Al-Kahfi, Maryam, Thaha, Al-Anbiyaa, Al-Hajj, AlMuminun, An-Nuur, Al-Furqaan, Asy-Syuara, An-Naml, Al-Qashash, AlAnkabut, Ar-Ruum, Luqman, As-Sajadah, Al-Ahzab, Saba, Faathir, Yaa Siin, Ash-Shaffaat, Shaad, Az-Zumar, Al-Mumin, Fushshilat, Asy-Syuura, AzZukhruf, Ad-Dukhaan, Al-Jaatsiyah, Al-Ahqaaf, Muhammad, Al-Fat-h, AlHujurat, Qaaf, Adz-Dzaariyaat, Ath-Thuur, An-Najm, Al-Qamar, Ar-Rahmaan, Al-Waaqiah, Al-Hadiid, Al-Mujaadilah, Al-Hasyr, Al-Mumtahanah, Ash-Shaff, Al-Jumuah, Al-Munaafiquun, At-Taghaabun, Ath-Thalaq, At-Tahrim, Al-Mulk, Al-Qalam, Al-Haaqqah, Al-Maaarij, Nuh, Al-Jin, Al-Muzzammil, AlMuddatstsir, Al-Qiyaamah, Al-Insaan, Al-Mursalaat, An-Naba, An-Naaziaat, ? Abasa, At-Takwiir, Al-Infithar, Al-Muthaffifiin, Al-Insyiqaaq, Al-Buruuj, AthThaariq, Al-Alaa, Al-Ghaasyiyah,Al-Fajr, Al-Balad, Asy-Syams, Al-Lail, AdhDhuhaa, Alam Nasyrah, At-Tiin, Al-?Alaq, Al-Qadar, Al-Bayyinah, Al-Zalzalah, Al-?Aadiyaat, Al-Qaariah, At-Takaatsur, Al-?Ashr, Al-Humazah, Al-Fiil, AlQuraisy, Al-Maaun, Al-Kautsar, Al-Kaafiruun, An-Nashr, Al-Lahab, Al-Ikhlash, Al-Falaq, An-Naas. 1.2 HADIST

Hadist sebagai sumber sumber ajaran Islam yang ke-dua setelah AlQuran, telah menjadi perhatian khusus dikalangan para intelektual Muslim ataupun Barat (Orientalis) terutama perdebatan mereka tentang keotentikan Hadist-hadist nabi yang menyebabkan timbulnya kelompok-kelompok penentang Hadist (Inkarussunah). Untuk memahami lebih jelas dan lebih memahamkan maka dalam makalah ini perihal Hadist, ada beberapa sub bagian yang insya alloh akan kami jelaskan secara rinci sebagaimana berikut. 1. Ilmu Hadist Ilmu Hadits merupakan ilmu pengetahuan yang ke-dua setelah ilmu alQuran yang mesti diketaui oleh setiap insan muslim. Berpegang kepada kedua sumber ilmu pengetahuan islam yang paling mendasar ini merupakan cara islam menyelamatkan diri dari tersesat yang salah. Mempelajari al-Quran tidak bisa terlepas dari perhatian terhadap Ilmu AlHadist terutama sekali tentang ayat-ayat tasy-ri dan Qodho. Mempelajari AlHadist memelukan perhatian yang sangat teliti. Hal ini disebabkan berbagai asalan : a. Al-Hadist sebagai sumber Syariah yang kedua merupakan sumber ajaran yang lahir dari seseorang manusia, tidak lahir seperti Al-Quran, yang selalu dicatat oleh sahabat rosul setiap kali muncul. b. Al-hadist sampai kepada kita melalui proses periwayatan para sahabat, tabiin dan seterusnya, dalam kadar keperibadian yang berbeda-beda ditinjau dari kriteria para ahli ilmu hadist. c. Al-Hadist sampai kepada kita lewat kurun waktu yang tidak terlepas dari sejarah peradapan manusai yang tidak punya jaminan untuk tegaknya kebenaran. 2. Pengertian Hadist Untuk memahami pengertian hadist dapat dilakukan melalui dua cara yaitu : a. Melalui pendekatan kebahasaan (Linguistik) Melalui pendekatan kebahasaan hadist berasal dari Hadatsa yuhdistu- hadtsanwa hadi-tsan kata tersebut mempunyai arti yang bermacam-macam, yaitu : 1. Aljadid minal Asya : artinya sesuatu yang baru. Kata tersebut lawan dari kata al-qodim artinya sesuatu yang telah lama, kuno, klasik. Pengunaan dalam arti

demikian kita temukan dalam ungkapan hadits albina dengan arti jadid al bina artinya bangunan baru. 2. Al-khobar : artinya maa ya kaddasa bihi wayaqol, artinya sesauatu yang dibicarakan atau diberitakan dialihkan dari seseorang ke orang lain. 3. Al-Qorib artinya pada waktu yang dekat, pada waktu yang singkat, pengertian ini digunakan pada ungkapan qorib al-ahd bi a- islam yang artinya orang yang baru masuk islam. Ada sebagian ulama yang menyatakan adanya arti baru dalam kata hadits kemudian mereka menggunakan kata tersebut sebagai lawan kata qodim (lama) dengan maksud qodim sebagai kitab Alloh, sedangkan yang baru yaitu apa yang didasarkan kepada belia nabi muhammad sholalloohu alaihi wa sallam. Syaikh islam ibnu hajar berkata : Yang dimaksud dengan hadits menurut pengertian syara adalah apa yang disandarkan kepada nabi sholalloohu alaihi wa sallam, dan hal itu seakan-akan sebagai bandingan al quran adalah qodim yang dimana terdapat di dalam syarah al bukhori. b. Melalui pendekatan Istilah (terminologis) Selanjutnya kata hadist dari segi istilah (terminologi) di temukan pendapat yang berbeda. Hal ini disebabkan berbedanya cara memandang yang digunakan oleh masing-masing dalam melihat sesuatu masalah : 1. Para ulama hadist misalnya mengartikan bahwa hadist adalah ucapan, perbuatan, dan keadaan Nabi Muhammad Sholallohu Alaihi Wa Sallam. 2. Sementara ulama hadist lain seperti Atthibi berbeda, bahwa hadist bukan hanya perkataan, perbuatan serta ketetapan rosullulah akan tetapi termasuk perkataan, perbuatan dan ketetapan para sahabat dan tabiin. 3. Ulama ahli usul fiqh mengartikan hadist dalam perkataan perbuatan serta ketetapan rosulullah yang berkaitan dengan hukum. 4. Ulama ahli fiqih mengidentikan hadist dengan sunnah yaitu sebagai salah satu hukum taklifi, bila dikerjakan dapat pahala bila ditinggalkan tidak apa-apa. Dalam kaitan ini Ulama fiqih berpendapat bahwa hadist adalah bersifat syariyah untuk perbuatan yang dituntut pengertiannya, akan tetapi tuntutan tersebut sudah secara pasti yang melakukannya pahala yang meninggalkannya tidak apa-apa.

Dalam kitab Manhaj Al Muhadditsiin Fii Dhabth As Sunnah karya dr. Mahmud ali fayyad yang diterjemahkan drs. A. Zarkasyi chumaidy hadist yaitu segala yang dinisbatkan kepada Nabi Sholalloohu Alaihi Wa Sallam, baik perkataan, perbuatan maupun keizinannya. Para Muahadditsin (Ulama Ahli Hadits) berbeda-beda pendapatnya dalam mentarifkan al hadits. Perbedaan pendapat tersebut disebabkan karena terpengaruh oleh terbatas dan luasnya obyek peninjauan mereka masing-masing. Dari perbedaan sifat peninjauan mereka itu melahirkan dua macam tarif al hadits, yaitu : pengertian yang terbatas di satu pihak dan pengertian yang luas di pihak lain. 1. Tarif atau pengertian yang terbatas, sebagaimana dikemukakan oleh jumhurul muahadditsin, yaitu :

.
Ialah sesuatu yang disandarkan kepada nabi muhammad sholalloohu alaihi wa sallam, baik berupa perkataan, perbuatan, pernyataan (taqrir) dan yang sebagainya. Dari pengertian diatas terdapat empat macam unsur yakni ; a. Perkataan yaitu perkataan yang pernah beliau Nabi Muhammad Sholalloohu Alaihi Wa Sallam ucapkan dalam berbagai bidang, seperti bidang hukum (Syariah), akhlaq, aqidah, pendidikan dan sebagainya. Sebagaimana contoh perkataan beliau yang mengandung hukum Syariah, misalnya sabda beliau :

) . )
hanya amal-amal perbuatan itu dengan niat, dan hanya bagi setiap orang itu memperoleh apa yang ai niatkan .... Dan seterusnya. b. Perbuaatan yaitu perbuatan Nabi Muhammad Sholllaooohu Alaihi Wa

Sallam, merupakan penjelasan praktis terhadap peraturan-peraturan Syariah yang belum jelas cara pelaskanaannya. Perbuatan beliau dalam masalah cara bersholat dan cara berhadap kiblat dalam sholat di atas kendaraan yang sedang berjalan, telah dipraktekkan oleh nabi dengan perbuatan beliau di hadapan para sahabat. Dapat kita ketahui berdasarkan berita dari sohabat Jabir RA. Yaitu :

: .) . )
Dulu rodululloh sholalloohu aliahi wa sallam bersabda di atas kendaraan (dengan menghadap kiblat) menurut kendaraan itu menghadap. Apabila beliau hendak sholat fardu, beliau sebentar, terus mengahdap kiblat. c. Taqrir ialah keadaan beliau mendiamkan, tidak mengadakan sanggahan atau menyetujui apa yang telah dilakukan atau diperkatakan oleh para sahabat di hadapan beliau. Contoh taqrir nabi tentang perbuatan sahabat dalam acara jamuan makan, menyajikan makanan daging biawak dan mempersilahkan kepada nabi untuk menikmatinya bersama para undangan. Beliau menjawab :

(,, , !( : ), .)
Tidak (maaf) berhubung binatang ini tidak terdapat di kampung kaumku, aku jijik padanya ! Kata kholid : segera aku memotongnya dan memakannya sedang rosulullooh sholalloohu alaihi wa sallam, melihat kepadaku. d. Sifat-sifat, keadaaan-keadaan dan himmah (hasrat) Rosulullah Sholallohu alaihi wa sallam. Diantara sifat-sifat Rosululloh yang termasuk dalam Hadts yaitu : 1. Sifat-sifat dan bentuk jasmaniah beliau yang telah dilukiskan oleh para sahabat dan ahli tarikh .

, ) . )
Rosululloh itu adalah sebaik-baik manusia mengenai paras mukanya dan bentuk tubuhnya. Beliau bukan orang tinggi dan bukan pula orang pendek. (Riwayat Bukhary Musilim) 2. Silsilah-silsilah, nama-nama dan tahun kelahiran. 3. Himmah (hasrat) beliau yang belum sempat direalisir.

2.

Tarif atau pengertian al Hadits yang luas yaitu mencakup perkataan,

perbuatan dan taqrir yang dimarfukan atau disandarkan kepada Nabi, para sahabat dan tabiiy. marfu mauquf (disandarkan kepada sahabat), maqthu (disandarkan kepada tabiiy). Secara terminologi al Hadits menurut Muhadditsin (ahli hadist), sinonim dengan sunnah. Keduanya diartikan sebagai segala sesuatu yang diambil dari Rosululloh Sholallohu alaihi wa sallam sebelum dan sesudah diangkat menjadi Rosul akan tetapi bila disebut kata hadits, umumnya dipakai sebagai segala sesuatu yang diriwayatkan dari Rosul setelah kenabian, baik serupa sabda, perbuatan maupun taqrir. Hadits dan sunnah merupakan dua hal yang identik. Keduannya sehingga sering digunakan secara bergantian untuk menyebut hal ikhwal tentang Nabi Sholallohu alahi wa sallam. Akan tetapi kajian terhadap berbagai literature awal menunjukkan sunnah dan hadits merupakan dua hal yang berbeda. Hadits telah digunakan sebagai dasar dalam pengambilan hukum atau juga sebagai dasar orang islam untuk membuktikan kebenaran yang diridloi oleh alloh shubhanahu wa taala. Dan digunakan secara luas dalam studi keislaman untuk merujuk kepada suri tauladan atau teladan dan otoritas beliau nabi muhammad sholallohu alahi wa sallam atau sebagai sumber ajaran islam yang kedua setelah al-Quran. 3. Pengkelompokan Hadist Berdasarkan Jumlah Perawi a. Hadist Mutawatir Hadist Mutawatir adalah suatu hadist hasil tanggapan dari panca indera yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rowi yang menurut adat kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat dusta. Dengan adanya pengertian ini dapat difahami bahwa syarat untuk menentukan hadist mutawatir yaitu hadist diterima berdasarkan tanggapan panca indra, jumlah perowinya harus mencapai ketentuan yang tidak mungkin mereka bersepakat bohong. Mengenahi ketentuan jumlah perowi untuk memenuhi syarat tersebut para muhadditsin berselisih pendapat. Adanya keseimbangan jumlah rawi-rawi pada thobaqoh pertama dengan jumlah rawi-rawi pada thobaqoh berikutnya.

Pendapat lain Hadits Mutawatir secara terminologi hadits yang diriwayatkan oleh rowi yang banyak dan tidak mungkin mereka mufarokat berbuat dusta pada hadits itu, mengingat banyaknya jumlah mereka. b. Hadist Ahad Hadist Ahad adalah hadist yang jumlah rawi pada thobaqoh pertama, kedua, ketiga dan seterusnya terdiri dari tiga orang atau dua orang atau bahkan seorang. Haidts Ahad yaitu hadits yang diriwayatkan oleh satu atau dua perowi, hadits Ahad ini tidak memenuhi hadits mutawatir ataupun masyhur. Hadits ini tidak sampai pada jumlah periwayatan hadits mashur. Imam syafiI menyebut hasits ini dengan istilah khusus, yaitu khobar al khas. Yang mana hadist ini dikelompokkan oleh ahli hadist menjadi tiga bagian yaitu hadist Masyhur, Hadist Aziz dan Hadist Ghorib. c. Hadits Masyhur yaitu hadits yang memiliki jalur terbatas oleh lebih dua perowi namun tidak mencapai batas mutawatir. 4. Pembagian Hadist berdasarkan Dasar Alasan Berhujjah a. Hadits Shohih yaitu hadits yang dinukil (diriwayatkan) oleh rowi yang adil, sempurna ingatan, sanadnya bersambung-sambung, tidak berilat dan tidak janggal. Maksud dari adil yaitu selalu berbuat taat, menjahui dosa dosa kecil, tidak melakukan perkara yang menggugurkan iman. b. Hadits Hasan, yaitu hadits yang dibnukikan oleh orang adil (tapi) tidak begitu kokoh ingatannya, bersambung-sambung sanadnya yang tidak terdapat ilat serta kejanggalan dalam matannya. c. Hadits Dhaif yaitu hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat shohih Hadits Qutsiy sinonim dengan hadits Ilahiy yaitu setiap hadits yang mengandung sandaran Rosululloh saw. kepada Alloh swt. Perbedaan antara hadits Qudsiy dan nabawi yaitu bahwa hadits Nabawi yang terakhir dinisbatkan kepada Rosul saw. dan diriwayatkan dari beliu, sedangkan hadits Qudsiy dinisbatkan kepada Alloh swt. 5. Sejarah Pertumbuhan Hadist Dan Perkembangannya Perjalanan sejarah Hasit tidak sama dengan pejalanan sejarah AlQuran. Al-Quran setiap kali diturunkan dicatat oleh para penulisnya sari ataupun syarat-syarat hasan.

kalangan sahabat nabi. Sedangkan hadist pada awal sejarahnya pernah dilarang untuk ditulis oleh para sahabat nabi. Hal ini dilakukan Nabi semata untuk memelihara Al-Quran agar tidak tercampur baur dengan Hadist. Karena pada masa itupun Al-Quran masih belum terhimpun pada mushaf. Perjalanan Hadist melewati pase-pase yang spesifik yaitu : a. Pase Penulisan Dan Pentadwinan Pada permulaannya hadist hanya boleh diriwayatkan secara lisan bahkan Rosululloh sendiri mengingatkan sahabatnya untuk tidak menuliskan hadist bahkan kalau sudah terlanjur harus dihapus sengan sabdanya :

: . - : : - (/1) - 185 308)


Dari hadist diatas dapat memberikan penegasan akan berbagai hal sebagaimana berikut : 1. Penulisan al-Quran tidak boleh tercampur aduk dengan al-Hadist, 2. Periwayatan Hadist pada masa itu hanya boleh dengan lisan dan 3. Orang tidak boleh membuat hadist palsu. Dengan demikian periwayatan hadist pada masa itu hanya terjadi melalui lisan. Namun ketika Abdulloh bin Amr bin Ash (7 sebelum Hijjriah65 Hijriyah) yang selalu menulis apa saja yang didengarkan dari Rosululloh ditegur orang Kurais, beliau mengadukan masalahnya kepada Rosululloh dan Rosululloh menjawab :

: (356 / 3) -
Tulislah, demi dzat yang nyawaku ada ditangan kekuasaannya, tidaklah keluar daripada-Nya selain haq. (Riwayat Abu Dawud dengan Sanad Shohih). Mulai saat itu mulailah dilakukan penulisan hadist secara legal.

Dengan

kegiatannya

Abdulloah

bin

Amr

bin

Ash

dapat

mengumpulkan hadist yang didengarkan dari rosululloh sebanyak 1000 hadist. Hadist-Hadist tersebut dihafalkan disaksikan oleh keluarganya. Naskah yang ditulisnya itu bernama As-Shofiyah As-Shodiqoh. Cucu beliau yang bernama Amr bin Syuaib meriwayatkan Hadist tersebut 500 buah hadist. Naskah asli dari As-Shofiyah As-Shodiqoh tidak sampai kepada kita menurut bentuk aslinya. Namun kutipannya banyak ditemukan dalam kitab Musnad Sunan Abu Daud, Sunan Nasai, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibnu Majah. Penulis hadist lainnya adalah : Jabir bin Abdullah al Anshari 16 H s/d 17 H. Naskah beliau bernama Shahiful Jabir dan yang berikutnya adalah Humam bin Munabbah (40 H. s/d 131 H.) Dia adalah seorang Tabiin Gurunya adalah Abu Hurairoh, Hadist yang dikumpulkan termaktub dalam Asshahifah Asshahihah. Berisi 138 Hadist. Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya menukil seluruh hadist Human Bin Munabbah. Imam Al-Buhari menukil dalam beberapa bab. Ketiga nsakah Asshahifah Asshahihahitu muncul pada abad pertama Hijjriyyah, dan Shahiful tersebut adalah merupakan cikal bakalnya penulisan Hadist Rosulillah Sholallohu Alaihi Wa Sallam. b. Hadist pada masa Kholifah Abu Bakar dan Umar Upanya mengembangkan penulisan Hadist pada masa ini tidak banyak, karena konsentrasi Kholifah pada masa itu terarah pada masayrakat muslim yang mulai memudar dengan wafatnya Rosululloh, bahkan ketika Kholifah Umar mengusulkan penulisan Al-Quran kedalam Mushaf, Kholifah Abu Bakar tidak langsung menerima usulan tersebut dengan alasan bahwa itu adalah sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rosul. Kondisi semacam itu membuat posisi Hadist tidak berada pada perioritas perhatian Kholifah Abu Bakar dan Kholifah Umar. c. Hadist pada Masa Kholifah Usman dan Ali Pada masa ini alhamdulillah muali menjadi perhatian sahabat dan tabiin untuk dikumpulkan, karena keadaan para penghafal Hadist sudah tersebar diberbagai penjuru wilayah kekuasaan Islam dan keadaan hadist tersebar di pelosok-pelosok Negeri Islam.

Di Madinah ada Abdullah bin Umar, di Mekah ada Abdullah bin Abbas, di Fusthat ada Abdullah bin Amr bin Ash, di Basrah ada Anas bin Malik. Di Kaffah ada Abu Musa Al-Asyari, murid-murid Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Masud. Masing-masing meraka berfatwa berdasarkan Hadist yang ada yang mereka miliki. Di kalangan Syiah ada fatwa-fatwa, di kalangan Khawarij ada fatwa-fatwa, di umat lain pun ada fatwa-fatwa. Fatwa-fatwa tersebut seringkali datu sama lain yang bertentangan. d. Hadist mengalami Pemalsuan Pada masa inilah kehawatiran Abu Bakar dan Umar bin Khotob menjadi kenyataan. Kalangan Syiah disinyalir banyak mengunakan Hadist palsu untuk kepentiangan politik. Dan hal seperti ini terus berkembang sampai kepada akhir abad pertama Hijriyyah. Oleh karena itu Kholifah Umar bin Abdul Aziz pada awal abad kedua Hijriyyah muali menaruh perhatian akan keberadaan Hadist yang demikian. Beliau menulis surat ke Wilikota Masinah Abi Bakar bin Muhammad bin Umar bin Hazmin (ibnu Haszmin) untuk meneliti hadisthadist Rosululloh dan menuliskannya. Dan dari mereka muncul Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhry (Ibnu Zuhry wafat 124 H.) sebagai pentadwin hadist yang tidak mencampurkannya dengan fatwa sahabat maupun Tabiin. e. Hadist Pada Masa Ulama Muta-Akhirin Mualai Abad IV H. s/d Masa Kini Abad ke-4 adalah adad pemisah pengertian Ulama hadiost Mutawoddumin dan Ulama hasit Mutaakhirin. Sampai pada abad ke-3 Hijjriyah para Ulama Hadist telah berjasa dalam mentadwinkan hadist, sehingga hadist tersebar keseluruh pelosok kekuasaan Islam telah melakukan penulisan, analisa serta mengkristalkan hadist dari hadist palsu dan tercampur mana baur dengan fatwa sohabat maupun tabiin sehingga mereka dapat memisahkan mana hadist shohih, hasan, dan dhoif, serta dapat menentukan mana yang maqbul dan mana yang mardud. Mereka oleh Muhaddistin berikutnya dipandang Ulama senior yang mereka juluki dengan penghormatan Ulama Mutaqoddumin. Sedangkan Ulama hadist berikutnya mereka berikan predikat Ulama Muta-Akhirin.

Par Ulama Muta-Akhirin melakukan usaha penulisan hadist dengan cara menuqil (memindahkan) hadist dari kitab-kitab yang disusun oleh Ulama Mutaqoddimin. Kitab-kitab msyhur yang ditulis pada abad ke-empat ini adalah : 1. Mujam Al-Kabir, 2. Mujam Al-Ausath, dan 3. Mujam Al-Shoghir. Ketiga kitab ini ditulis oleh: imam Sulaiman bin Ahmada At-Tobarony (meninggal tahun 360 H.) 4. Sunan Ad-Daru Quthny karya Imam Abdul Hasan bin Umar bin Ahbad Addaruquthny (306 385), 5. Shohih Abi Awwanah karya Abu Awwanah Yaqub bin Ishaq bin Ibrohim Al-Asfaroyiny (wafat 354 H.) dan 6. Shohih Ibnu Huzaimah karya Ibnu Huzaimah Muhammad bin Ishaq (wafat 311 H). Kitab-kitab Muta-Akhirin ini lebih cebnderung kepada teknik penulisan antara lain ada yang cenderung menampilkan Hadist-hadist hukum seperti : 1. Sunanul Kubro karya Abu Bakar Ahmad bin Husein Ali AlBalhaqi (384 458 H.), 2. Muntaqol Akhbar karya Majduddin Al-Harrany (wafat 652 H.), 3. Nailul Author syawah Mutaqol Akhbar oleh Muhammad bin Ali As-Syaukany (1171 1250 H). Ada juga kumpulan hadist-hadist targhib wat tarhib seperti : 1. Attarghib wat Tarhib oleh Imam Zakiyuddin Abdul Adzin Almundziry (wafat 656 H.), 2. Riyadhus Sholihin oleh Imam Muhyiddin Abi Zakariya AnNawawy (wafat 676 H.) dan 3. Dalilul Fa-Lihin oleh Ibnu Allan Assiddiqy (wafat 1057 H.). Ada juga yang menyusun hadist dalam rangka membuat kamus hadist yaitu : 1. Dakho-irul Mawa-rist Fid Dala-lati Ala Mawa-dhiil Ahaadist oleh Al-Alla-mah As-Syayyid Abdul Ghani Al-Maqdisy An-Nabulisy di dalamnya terdapat kitab atrof 7 Kutubus Sittah & Al-Muwattho (1143 H.), 2. Alja- Mius Shoghir Fi Ahadistil Nadzir Basyir an leh Imam Jamaluddin AsSuyuthy (849 911 H.), 3. Al-Mujamal Mafahros Ilaifadziil Hadistin Nabawy oleh Dr. A.J. Winsinc dan 4. Miftah Kunujis Sunnah oleh Ustdz Muhammad Fuadz Abdul baqi. 6. Kedudukan hadist Dalam Ilmu Ke Islaman Lain. Al-Hadist adalah sumebr pengetahuan Islam yang kedua setelah AlQuran. Dalam kaitan ini hadist mempunyai andil dalam berkiprah untuk

tumbuh dan berkembangnya ilmu pengetahuan dalam Islam. Dasar pemikiran tersebut vertumpu pada berbagai alsan anatara lain : a. c. Penegasan Alloh tentang perintah mentaati rosul secara penuh Para Shahabat sepakat menjadikan hadist sebagai nara sumber dalam b. Kedudukan Hadist sebagai wahyu Idhofy menetapkan fatwa atau Ijtihad, dan pelaksanaan qodho diantara mereka. Sebagai contoh bahwa Abu Bakar bila diduntut untuk menetapkan suatu ketetapan hukum selalu mencarinya dalam Al-Quran. Ketika beliau tidak menemukannya maka beliau mencoba mencarinya dalam Hadist Nabi. Bila masih tidak ditemukan beliau mencoba mencari tahu dari para sahabat apakah ada diantara mereka yang tahu bahwa Rosululloh pernah menetapkan hukum untuk hal yang sama. Bila ternyata kata sahabat : ada, maka Abu bakar menetapkan ketetapan itu dengan berdasar kepada Hadits Rosul, meskipun yang ditemukan oleh sahabatnya. Demikian pula kholifah Umar yang selalu mengikuti pola tindakan Abu Bakar dalam mengambil keputusan. Dari segi kaitan Fungsinya terhadap Al-Quran hadist dapat ditetapkan : a. Sebagai Mubayyin (penjelas) terhadap apa yang secara umum telah diungkapkan dalam Al-Quran. Sebagaimana hadist tentang cara melakukan sholat dan Manasik Hajji. b. Dalam berbagai hal yang Al-Quran telah memberikan keterangan baik secara rinci maupun secara Ijma, hasit merupakan sumber Hukum yang berdiri sendiri. Hal ini terjadi pada kasus Qodho. Artinya pasa saat Rosululloh menetapkan keputusan hukum umumnya keputusan hukum itu ditetapkanberdasarkan Ijtihad Rosul. Dengan demikian maka Ijtihad Rosul tersebut adalah Sunnah /Hadist Rosul yang berdiri sendiri. c. Hadist sebagai dasar hukum melakukan Ijtihad, seperti yang maknya tersirat pada point nomor dua, yaitu bahwa Ijtihad Rosul sebagai uswah hasanahnya Rosul dalam bidang Hukum. Rosululloh bersabda kepada Muadz bin Jabal ketika dalamd dialognya tentang Bimaa Tahkum salah satu jawaban Muadz Ajtahidu Royi. Alhamdulillah Alladzi Waf-faqo Rusula Rosulillah Bimaa yardhoo Rosuululloh.

Yang artinya kurang lebih : Segala puji bagi Alloh yang telah memberi taufiq pada utusan Rosululloh dengan apa yang Rosululloh setuju. 7. Unsur-Unsur Hadist Ada beberapa unsur-unsur yang terdapat dalam hadits diantaranya yaitu : a. Rowi yaitu orang yang menyampiakan menuliskan suatu kitab apa-apa yang pernah didengar dan diterimanya dari seorang gurunya. b. Matnul Hadits yaitu pembicaraan (kalam) atau materi berita yang di over oleh sanad yang terakhir, baik pembicaraan itu sabda Rosululloh saw. sahabat ataupun tabiin. c. Sanad yaitu jalan yang dapat menghubungkan materi hadits kepada Junjungan kita Nabi Muhammad saw. I.2 IJTIHAD Pengertian Ijtihad Secara etimologis, kata ijtihad berasal dari kata berbahasa Arab ijtihad yang berarti penumpahan segala upaya dan kemampuan. Maka ijtihad di sini hampir identik dengan makna jihad, hanya saja kata jihad lebih berkonotasi fisik, sementara jihad menggunakan akal (rayu). Secara terminologis, ulama ushul mendefinisikan ijtihad sebagai mencurahkan kesanggupan dalam mengeluarkan hukum syara yang bersifat amaliyah dari dalil-dalilnya yang terperinci baik dalam al-Quran maupun Sunnah (Khallaf, 1978: 216). Orang yang melakukan ijtihad disebut mujtahid. Kata atau istilah yang sangat terkait dengan ijtihad adalah rayu, yangb secara harfiah berarti melihat. Kata rayu bisa juga berarti perenungan (tadabbur) dan pemikiran secara kontemplatif (al-tafkir bi al-aql). Kedua kata tersebut (ijtihad dan rayu) sebenarnya sangat terkait dan sulit untuk dipisahkan, mengingat tentang aktivitas ijtihad mustahil dilepaskan dari penggunaan rayu. Karena itu, bisa dikatakan rayu sebagai sumber ijtihad dan ijtihad merupakan jalan yang ditempuh rayu dalam menghasilkan suatu hukum. Dari sinilah, para ulama sering menggabungkan dua kata tersebut menjadi satu, yakni ijtihad bi al-rayi. Istilah ini juga ditemukan dalam hadis Muadz yang ketika ditanya Nabi mengenai apa yang ia lakukan dalam memutuskan perkara ketika tidak ditemukan aturannya dalam al-Quran dan Sunnah, ia menjawab Aku berijtihad degan rayi-ku.

Kedudukan Ijtihad Ijtihad diberlakukan dalam berbagai bidang, yakni mencakup akidah, muamalah (fiqih), dan falsafat. Akan tetapi, yang menjadi permasalahan di sini adalah mengenai kedudukan hasil ijtihad. Persoalan tersebut berawal dari pandangan

mereka tentang ruang lingkup qathi tidaknya suatu dalil. Ulama ushul memandang dalil-dalil yang berkaitan dengan akidah termasuk dalil qathi, sehingga dibidang ini tidak dilakukan ijtihad. Mereka mengatakan bahwa kebenaran mujtahid di bidang ilmu kalam hanya satu. Sebaliknya, golongan mutakalimin memandang bahwa di bidang ilmu kalam itu terdapat hal-hal yang zhaniyat, karena ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan persoalan tersebut adalah ayat-ayat mutasyabihat. Oleh karena itu, dalam menyelesaikan persoalan tersebut diperlukan ijtihad. Bahkan, mereka menyatakan bahwa setiap mujtahid itu benar; kalaupun melakukan kekeliruan, ia tetap mendapatkan pahala. Namun, pendapat tersebut ditolak oleh ulama ushul. Sekalipun sama-sama menyatakan bahwa setiap mujtahid itu benar, namun kebenaran disini terbatas dalam bidang fiqih. Menurut Harun Nasution, arti ijtihad seperti yang telah dikemukakan di atas adalah ijtihad dalam arti sempit. Dalam arti luas menurutnya, ijtihad juga berlaku pada bidang politik, akidah, tasawuf, dan falsafah. Telah kita ketahui bahwa ijtihad telah berkembang sejak zaman Rasul. Sepanjang fiqih mengandung pengertian tentang hukum syara yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf, maka ijtihad akan terus berkembang. Perkembangan itu berkaitan dengan perbuatan manusia yang selalu berubah-ubah, baik bentuk maupun macamnya. Dalam hubungan inilah, asy-Syahrastani mengatakan bahwa kejadiankejadian, dan kasus-kasus dalam peribadatan dan muamalah (tindakan manusia) termasuk yang tidak dapat dihitung. Secara pasti dapat diketahui bahwa tidak setiap kasus ada nashnya. Apabila nashnya sudah berakhir, sedangkan kejadian-kejadiannya berlangsung terus tanpa terbatas; dan tatkala sesuatu yang terbatas tidak mungkin dapat mengikuti sesuatu yang tidak terbatas, maka qiyas wajib dipakai sehingga setiap kasus ada ijtihad mengenainya. Dalam masalah fiqh, ijtihad bi ar-rayu telah ada sejak zaman Rasulullah saw. Beliau sendiri memberi izin kepada Muadz ibnu Jabal untuk ber-ijtihad ketika Muads diutus ke Yaman. Umar ibnu al Khatthab sering menggunakan ijtihad bi al rayu apabila ia tidak menemukan ketentuan hukum dalam Al-Quran dan as sunnah. Demikian pula para sahabat lainnya dan para tabiin sehingga pada perkembangan selanjutnya muncul dua golongan yang dikenal dengan golongan ahl ar-rayu sebagai bandingan golongan ahli hadis. Umar Ibnu Khatthab dipandang sebagai pemuka ahl ra-rayu. Setelah Rasulullah wafat dan meninggalkan risalah Islamiyyah yang sempurna, kewajiban berdakwah berpindah pada sahabat. Mereka melaksanakan kewajiban itu dengan memperluas wilayah kekuasaan Islam dengan berbagai peperangan. Mereka berhasil menaklukan Persia, Syam, Mesir, dan Afrika Utara. Akibat perluasan wilayah itu, terjadilah akulturasi bangsa dan kebudayaan sehingga muncul berbagai masalah baru yang memerlukan pemecahan. Keadaan seperti itu mendorong pemuka sahabat untuk ber-ijtihad.

Fungsi Ijtihad

Meski Al Quran sudah diturunkan secara sempurna dan lengkap, tidak berarti semua hal dalam kehidupan manusia diatur secara detail oleh Al Quran maupun Al Hadist. Selain itu ada perbedaan keadaan pada saat turunnya Al Quran dengan kehidupan modern. Sehingga setiap saat masalah baru akan terus berkembang dan diperlukan aturan-aturan turunan dalam melaksanakan Ajaran Islam dalam kehidupan beragama sehari-hari. Jika terjadi persoalan baru bagi kalangan umat Islam di suatu tempat tertentu atau di suatu masa waktu tertentu maka persoalan tersebut dikaji apakah perkara yang dipersoalkan itu sudah ada dan jelas ketentuannya dalam Al Quran atau Al Hadist. Sekiranya sudah ada maka persoalan tersebut harus mengikuti ketentuan yang ada sebagaimana disebutkan dalam Al Quran atau Al Hadits itu. Namun jika persoalan tersebut merupakan perkara yang tidak jelas atau tidak ada ketentuannya dalam Al Quran dan Al Hadist, pada saat itulah maka umat Islam memerlukan ketetapan Ijtihad. Tapi yang berhak membuat Ijtihad adalah mereka yang mengerti dan paham Al Quran dan Al Hadist. Tujuan Ijtihad Untuk memenuhi keperluan umat manusia akan pegangan hidup dalam beribadah kepada Allah SWT di suatu tempat tertentu atau pada suatu waktu tertentu. Persyaratan Melakukan Ijtihad Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan kriteria atau ketentuan bagi siapa saja yang melakukan ijtihad. Dari berbagai pendapat yang ada, berikut ini akan disebutkan persyaratan khusus bagi seseorang yang melakukan ijtihad yaitu: 1. Menguasai ilmu alat yang dalam hal ini adalah bahasa Arab beserta ilmuilmunya, karena sumber pokok hukum Islam adalah al-Quran dan Sunnah yang berbahasa Arab. 2. Menguasai al-Quran yang merupakan sumber pokok hukum Islam. Seorang mujtahid juga harus menguasai ilmu-ilmu al-Quran, termasuk ilmu asbabun nusul (latar belakang diturunkannya ayat-ayat al-Quran). 3. Menguasai Sunnah atau hadis Nabi sebagai sumber hukum Islam kedua. 4. Mengetahui ijma ulama. Seorang mujtahid harus mengetahui ijma ulama, karena dengan ijma ini berarti ia akan mengetahui peristiwa hukum apa saja yang ketentuan hukumnya telah di-ijma-kan ulama, sehingga ia tidak memutuskan hukum yang sudah ada ketentuannya. 5. Mengetahui qiyas. Qiyas disepakati oleh jumhur ulama sebagai salah satu cara menemukan hukum. 6. Mengetahui maqashid al-syariah (maksud-maksud ditetapkannya hukum).

7. Mengetahui ushul fikih. 8. Mengetahui ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), karena masalah-masalah baru bermunculan seiring perkembangan dan kemajuan IPTEK.

Lapangan Ijtihad Secara sederhana dapat diketahui bahwa lapangan ijtihad adalah masalah-masalah yang ketentuan hukumnya tidak dijelaskan al-Quran dan Sunnah. Masalah-masalah yang dapat diijtihadkan adalah sebagai berikut: 1. Masalah-masalah yang ditunjukan oleh nash yang zhanniy (tak pasti), baik dari segi keberadaannya (wurud) maupun dari segi penunjukannya terhadap hukum (dalalah). Masalah-masalah yang ditunjuk oleh nash yang zhanniy itulah yang menjadi lapangan ijtihad. Sedang masalah-masalah yang ditunjuk oleh nash yang qathiy tidak boleh dijadikan lapangan ijtihad. 2. Masalah-masalah baru yang belum ditegaskan hukumnya dalam nash. 3. Masalah-masalah baru yang belum di-ijma-kan. 4. Masalah-masalah yang diketahui illat (alasan) hukumnya seperti dalam masalah muamalah. Masalah-masalah yang tidak diketahui illat hukmnya tidak boleh dijadikan sasaran ijtihad, seperti ketentuan-ketentuan dalam beribadah.

Jenis-jenis ijtihad

Ijma'
Ijma' artinya kesepakatan yakni kesepakatan para ulama dalam menetapkan suatu hukum hukum dalam agama berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits dalam suatu perkara yang terjadi. Adalah keputusan bersama yang dilakukan oleh para ulama dengan cara ijtihad untuk kemudian dirundingkan dan disepakati. Hasil dari ijma adalah fatwa, yaitu keputusan bersama para ulama dan ahli agama yang berwenang untuk diikuti seluruh umat.

Qiys
Qiyas artinya menggabungkan atau menyamakan artinya menetapkan suatu hukum suatu perkara yang baru yang belum ada pada masa sebelumnya namun memiliki kesamaan dalah sebab, manfaat, bahaya dan berbagai aspek dengan perkara terdahulu sehingga dihukumi sama. Dalam Islam, Ijma dan Qiyas sifatnya darurat, bila memang terdapat hal hal yang ternyata belum ditetapkan pada masa-masa sebelumnya

Beberapa definisi qiys (analogi) 1. Menyimpulkan hukum dari yang asal menuju kepada cabangnya, berdasarkan titik persamaan di antara keduanya. 2. Membuktikan hukum definitif untuk yang definitif lainnya, melalui suatu persamaan di antaranya. 3. Tindakan menganalogikan hukum yang sudah ada penjelasan di dalam [AlQur'an] atau [Hadis] dengan kasus baru yang memiliki persamaan sebab (iladh).

Istihsn

Beberapa definisi Istihsn 1. Fatwa yang dikeluarkan oleh seorang fqih (ahli fikih), hanya karena dia merasa hal itu adalah benar. 2. Argumentasi dalam pikiran seorang fqih tanpa bisa diekspresikan secara lisan olehnya 3. Mengganti argumen dengan fakta yang dapat diterima, untuk maslahat orang banyak. 4. Tindakan memutuskan suatu perkara untuk mencegah kemudharatan. 5. Tindakan menganalogikan suatu perkara di masyarakat terhadap perkara yang ada sebelumnya...

Maslahah murshalah
Adalah tindakan memutuskan masalah yang tidak ada naskhnya dengan pertimbangan kepentingan hidup manusia berdasarkan prinsip menarik manfaat dan menghindari kemudharatan.

Sududz Dzariah
Adalah tindakan memutuskan suatu yang mubah menjadi makruh atau haram demi kepentinagn umat.

Istishab
Adalah tindakan menetapkan berlakunya suatu ketetapan sampai ada alasan yang bisa mengubahnya,

Urf
Adalah tindakan menentukan masih bolehnya suatu adat-istiadat dan kebiasaan masyarakat setempat selama kegiatan tersebut tidak bertentangan dengan aturanaturan prinsipal dalam Alquran dan Hadis.
1.4 SIKAP MUSLIM TERHADAP HUKUM ISLAM Tunduk Kepada Syariat Allah Sikap Seorang Mukmin

Diwajibkan bagi seorang Mukmin untuk menerima semua hukum Allah swt serta tunduk kepadanya baik dalam perkara-perkara yang bisa dicerna oleh akalnya maupun tidak. Seorang mukmin haruslah meyakini bahwa tidaklah Allah menentukan halal atau haram pada sesuatu kecuali didalamnya terdapat kebaikan dan kemaslahatan bagi hamba-hamba-Nya. Firman Allah swt:

(36) Artinya: Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. Al-Ahzab [33] : 36) (51) Artinya: Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan Kami taat". dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung. (QS. An-Nuur [24] : 51) Dalil-Dalil Diharamkannya Khamr, Judi dan Zina Sebagaimana telah diketahui oleh kaum muslimin bahwa khamr (minuman keras), perjudian dan perzinahan adalah perbuatan-perbuatan yang diharamkan Allah swt berdasarkan kitab, sunnah dan ijma ahli ilmu. Beberapa dalil tentang pengharaman khamr dan perjudian, diantaranya: Firman Allah swt:

)09( (91) Artiny : Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan

kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS. Al-Maidah [5] : 90-91) Abu Daud dan Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Umar berkata,"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Semoga Allah melaknat khamr, peminumnya, yang menuangkannya, penjualnya, pembelinya, pemerasnya, orang yang diperaskannya, orang yang membawanya dan orang yang dibawakan kepadanya'." Kata-kata laknat didalam hadits tersebut menunjukkan perbuatan itu tergolong dosa besar di sisi Allah swt. Adapun dalil tentang diharamkan perzinahan dan termasuk dosa besar, diantaranya firman Allah swt:

(32) Artinya: Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Isra [17] : 32) Sedangkan diantara dalil hadits adalah apa yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim; Dari 'Abdullah dia berkata, "Aku bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam; 'Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?' Beliau menjawab, 'Bila kamu menyekutukan Allah, padahal dialah yang menciptakanmu'. Aku berkata, 'tentu itu sungguh besar'. Aku bertanya lagi, 'Kemudian apa?' Beliau menjawab, 'Apabila kami membunuh anakmu karena takut membuat kelaparan'. Aku bertanya lagi, 'kemudian apa?' beliau menjawab, 'Berzina dengan istri tetanggamu'." Kesempurnaan iman seorang Muslim juga ditentukan dengan penerimaan dan ketundukannya kepada syariat Allah swt. Keraguan sedikit saja terhadapnya maka ia telah merusak keimanannya. al Lajnah ad Daimah didalam fatwanya No. 19446 menyebutkan bahwa barangsiapa yang berkeyakinan selain itudiharamkannya khamrsementara dia mengetahui keharamannyamaka ia murtad karena mengingkari apa yang telah diketahui keharamannya secara umum dalam agama islam berdasarkan dalil-dalil syari dan ijma ahli ilmu. SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP HADIST Kedudukan As Sunnah di dalam Al Quran Perlu diketahui bahwa patuh dan taat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah patuh dan tekun menjalankan Sunnahnya, mengamalkan. Dan patuh kepada Sunnah berarti patuh dan taat kepada Allah shubhaana wa taala . Berikut ini dalil-dalilnya: 1. Perintah taat kepada Allah dan kepada rasul-Nya, disebutkan secara bergandengan di dalam al-Quran:

Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintahnya) (QS. 8:20) Dan di dalam ayat yang lain disebutkan, artinya: Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (Qs.8:24) 2. Allah menegaskan, bahwa petunjuk (hida- yah) itu sangat tergantung kepada ketaatan dan ittiba kepada Nabi Nya. Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitabNya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk (QS. 7:158) Dan firman Nya, Katakanlah, Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, kewajiban kamu adalah apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk (An Nur: 54) 3. Allah telah menetapkan rahmat Nya bagi para pengikut Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan menjanjikan keberuntungan dan kesuksesan di dunia dan di akhirat atasnya. Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orangorang yang bertaqwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayatayat Kami. (QS. 7:156) 4. Sahnya iman seseorang sangat tergantung kepada kepatuhan terhadap keputusan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,, menerima dan lapang dada atas keputusan itu. Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. 4:65) 5. Allah telah memperingatkan bahwa menyelisihi Rasul shallallahu alaihi wa sallam merupakan sebab kehancuran dan terjerumus dalam fitnah. Sebagaimana yang telah difirmankan, Artinya: Maka hendaklah orang- orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.(QS. 24:63) 6. Allah telah menetapkan bahwa cinta Allah dan ampunan-Nya hanya bisa diraih dengan mengikuti Rasul -Nya: Katakanlah, Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.(QS.3:31) Demikian penjelasan dari al-Quran yang mengajak kita semua kaum muslimin untuk berpegang kepada sunnah Nabishallallahu alaihi wa sallam. Karena segala ucapan beliau yang berkaitan dengan agama bukanlah berasal dari kemauan hawa nafsunya, tetapi atas bimbingan wahyu Allah. Penjelasan dari As Sunnah (Hadits) o Amat banyak hadits Nabi yang memerintahkan setiap muslim untuk mengikuti sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan melarang berbuat bidah (menyelisihi sunnah). Di antara sabda Nabi yang menegaskan hal itu adalah: Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Artinya: Seluruh umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan. Lalu ditanyakan, Siapakah yang enggan wahai Rasulullah? Beliau menjawab, Barang siapa yang taat kepadaku, maka masuk surga, dan barang siapa yang bermaksiat kepada-ku maka dia telah enggan (masuk surga) (HR. Al Bukhari) o Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Artinya, Biarkan aku dengan apa yang telah kutinggalkan untuk kalian (terimalah ia), sesungguhnya yang telah membinasakan orang sebelum kalian adalah (disebabkan) mereka banyak bertanya

dan banyak menyelisihi nabi mereka. Jika aku melarang kalian dari mengerjakan sesuatu maka jauhilah, dan jika aku memerintahkan sesuatu maka laksanakanlah sesuai kemampuan kalian. (Muttafaq Alaih) o Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam (dalam hadits Irbadh bin Sariyah), Hendaklah kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafa ar Rasyidin yang telah mendapatkan petunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham (perpegang eratlah terhadapnya), dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena setiap yang diada-adakan adalah bidah dan setiap bidah adalah sesat. (HR Abu Dawud dan at Tirmidzi dan berkata at Tirmidzi, Hasan Shahih) Sikap Shahabat Nabi terhadap As-Sunnah o Berkata Abu Bakar as Shiddiq radhiyallahu anhu, Tiada sesuatu pun yang pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kecuali aku melakukannya dan tidak pernah aku meninggalkannya. Aku khawatir jika aku meninggalkan sedikit saja yang beliau perintahkan, maka aku akan menyimpang. o Berkata Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu ketika memegang hajar aswad, Sungguh aku tahu engkau hanyalah batu yang tidak memberi madharat dan manfaat, kalau bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu. o Abdullah Ibnu Masud radhiyallahu anhu mengatakan, Sederhana dalam melaksanakan sunnah, lebih baik daripada banyak dan giat di dalam melakukan bidah. o Ibnu Umar radiyallahu anhuma apabila sedang meniru Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka orang yang melihatnya mengira ada sesuatu yang tidak beres padanya (seperti tidak wajar). Bahkan Nafi, maula (klien) beliau mengatakan, Kalau aku melihat Ibnu Umar sedang mengikuti sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam sungguh aku mengatakan, ini adalah sesuatu yang gila. o Ibnu Abbas juga pernah berkata, Wahai manusia, aku khawatir kalau turun hujan batu dari langit, (lantaran) aku katakan pada kalian sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu kalian menyanggah dengan mengatakan Abu Bakar berkata begini dan Umar berkata begitu!. Wallahu alam (Al Balagh Edisi 18 Muharram)

Departemen Agama RI. Al-Quran Dan Terjemahnya. Gema Risalah Press Banduung Jakarta Barat Drs. Atang ABD. Hakim, MA dan Dr. Jain Mubarok, Metodologi Studi Islam, Bandung : PT Remaja Pesdakarya, 2000 Dr. M. Ali Fayyad. Metodologi Penetapan kesahihan Hadits. Bandung. Pustaka Setia : 1998. Abdul Wahab Kholaf, Prof. Dr., Ilmu Ushul Fiqh, 2002

DAFTAR PUSTAKA Inyong. 2012. Sumber Nilai Islam. Tersedia di : http://bwi03.wordpress.com/sumber-nilaiislam/. [diakses pada tanggal : 23 April 2012]. Darkness, Prince. 2007. Al-Quran Sebagai Sumber Hukum Islam Pertama dan Utama. Tersedia di : http://forum.dudung.net/index.php?topic=3414.0. [diakses pada tanggal : 23 April 2012]. SyafeI, Makhmud. 2001. Al-Quran Sebagai Sumber Nilai Islam. Tersedia di : http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/MKDU/195504281988031MAKHMUD_SYAFE'I /AL-QUR%92AN_SEBAGAI_SUMBER_NILAI_ISLAM_(4_HALAMAN).pdf. [diakses pada tanggal : 23 April 2012].