Anda di halaman 1dari 7

Migrain berulang pada pembantu rumah tangga dengan status gizi kurang dan stresor kerja yang tinggi

Ade Anggi M, Lucky Maulana S Abstrak Latar Belakang: Migren adalah suatu kondisi kronis yang yang digolongkan sebagai sakit kepala episodik dengan intensitas sedang sampai berat dan berakhir dalam waktu 4-72 jam. Migren terjadi hampir pada 30 juta penduduk Amerika serikat dan 75% diantaranya adalah wanita. Migren dapat terjadi pada semua usia tetapi biasanya muncul pada usia 10-40 tahun dan angka kejadiannya menurun setelah usia 50 tahun. Kelainan ini biasanya bersifat idiopatik. Laporan kasus ini menggambarkan interaksi antara faktor internal dan eksternal terjadinya migren berulang dan underweight serta pentingnya penegakan diagnosis sebelum memberikan terapi pengobatan jangka waktu lama. Tujuan: Mengidentifikasi masalah klinis dan psikososial yang dihadapi pasien, serta melakukan penatalaksanaan secara komperehensif, holistik dan berkesinambungan pada pasien migren berulang dengan berat badan kurang. Metode: Pendekatan kedokteran keluarga dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, kunjungan rumah, evaluasi, dan intervensi kepada pasien serta referensi kepustakaan. Hasil : Penegakan diagnosis migren pada pasien ini didasarkan pada anamnesis pasien yang mempunyai riwayat sakit kepala di sebelah kiri berulang sejak dua tahun yang lalu, pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum pasien tampak sakit dan keluhan sakit kepala yang berdenyut. Sedangkan diagnosis underweight didasarkan pada IMT yaitu 17,59 kg/m2. Terapi yang diberikan pada pasien ini adalah dengan non farmakologis dan farmakologis serta dilakukan pembinaan keluarga Kesimpulan: Faktor risiko pasien ini di antaranya stresor kerja yang tinggi, kurang istirahat dan asupan gizi yang kurang. Kepatuhan berobat pasien ini sangat baik, hanya dari faktor ekonomi tidak mendukung. Kata kunci: Migren, gizi kurang, stressor kerja, dokter keluarga

Recurrent migraine in housekeeper with less nutritional status and a highwork stressors Ade Anggi M, Lucky Maulana S

Abstract Background: Migraine is a chronic disease characterized by episodic headache with moderate and severe intensity and be completed within 4-72 hours. Migraines occur in nearly 30 million. residents of the United States and 75% of whom are women. Migraines can occur at any age, but usually occurs between the ages of 10 and 40 years and the number of events is reduced after 50 years. Disorder is usually idiopathic. This case report describes the interaction between internal and external factors of recurrent migraines and weight, as well as the importance of diagnosis before giving long-term drug therapy. Objective: Identify clinical and psychosocial problems faced by patients, and conduct comprehensive management of recurrent migraine, holistic and sustainable weight loss in patients with less. Methods: The medical approach to family history, physical examination, home visits, evaluations, and interventions to the patient and reference literature. Results: The diagnosis of migraine in these patients based on patient history is the history of recurrent headaches on the left since two years ago, physical examination found the general condition of the patient looked ill and complained of throbbing headaches. While the diagnosis Underweight based on BMI 17, 59. Therapy was administered to this patient with non-pharmacological farmakolosi (analgesic mefenamic acid) as well as family intervention Conclusion: These risk factors include high working pressure of patients, lack of rest and nutrition are lacking. Patient medication adherence is very good, just from the economic factors do not support these patients. Key words: Migrain, underweight, work stressors, family physician

Pendahuluan Migren adalah suatu kondisi kronis yang digolongkan sebagai sakit kepala episodik dengan intensitas sedang sampai berat dan berakhir dalam waktu 4-72 jam. Migren merupakan salah satu keluhan nyeri kepala yang banyak dijumpai di masyarakat. Hal ini sangat mengganggu, bukan hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tapi dapat juga menghambat produktivitas di kehidupan sehari-hari. Migren dapat terjadi karena beberapa penyebab, seperti stres, perubahan hormon, makanan, dan faktor fisik. Gejala migren bervariasi antar individu, terdapat lima gejala yang dapat diidentifikasi yaitu gejala prodromal seperti serangkaian peringatan sebelum terjadi serangan seperti perubahan mood, perubahan perasaan atau sensasi (bau atau rasa), atau kelelahan dan ketegangan otot. Gejala yang kedua berupa aura yaitu gangguan visual yang mendahului serangan sakit kepala. Selanjutnya rasa sakit kepala yang umumnya satu sisi, berdenyut-denyut, dapat disertai mual dan muntah, sensitif terhadap cahaya dan suara, biasanya terjadi antara 4-72 jam pada orang dewasa, pada anak-anak berlangsung 1-48 jam. Intensitas nyeri bervariasi dari ringan sampai berat dan kadang sangat mengganggu pasien dalam menjalani aktivitas sehari-hari Gejala yang terakhir adalah postdromal, yaitu adanya tandatanda lain seperti tidak bisa makan, tidak bisa berkonsentrasi serta kelelahan.1 Klasifikasi migren berdasarkan International Headache society yaitu migren tanpa aura dimana penyebab migren ini tidak jelas (idiopatik) dengan manifestasi serangan nyeri kepala 4-72 jam, sangat khas yaitu nyeri kepala unilateral, berdenyut-denyut dengan intensitas sedang sampai berat. Disertai

mual, fonofobia dan fotofobia. Nyeri kepala diperberat dengan adanya aktivitas fisik. Jenis migen yang kedua adalah migren dengan aura. Nyeri kepala ini bersifat idiopatik, kronis dengan bentuk serangan dengan gejala neurologik (aura) yang berasal dari korteks serebri dan batang otak, biasanya berlangsung 5-20 menit dan berlangsung tidak lebih dari 60 menit. Nyeri kepala, mual, dengan atau tanpa fotofobia biasanya langsung mengikuti gejala aura atau setelah interval bebas serangan tidak sampai 1 jam. Aura dapat berupa gangguan mata homonimus, gejala hemisensorik, hemiparesis, disfagia atau gabungan gejala diatas. Migren hemiplegik familial, termasuk jenis migren dengan aura dengan kriteria klinik yang sama seperti diatas dan sekurangkurangnya salah satu anggota keluarga terdekatnya mempunyai riwayat migren yang sama. Migren basilaris, berasal dari batang otak atau kedua lobus oksipitalis. Migren aura tanpa nyeri kepala, memiliki gejala aura yang khas tetapi tanpa diikuti oleh nyeri kepala, dan biasanya pada individu berumur lebih dari 40 tahun.2 Migren terjadi hampir pada 30 juta penduduk Amerika serikat dan 75% diantaranya adalah wanita. Migren dapat terjadi pada semua usia tetapi biasanya muncul pada usia 10-40 tahun dan angka kejadiannya menurun setelah usia 50 tahun. Migren tanpa aura lebih sering terjadi dibandingkan dengan migren yang disertai aura dengan presentasi 9:1. 2 Migren dapat dipahami sebagai suatu gangguan primer otak yang terjadi karena adanya kelainan pada aktivitas saraf sehingga pembuluh darah mengalami vasodilatasi, yang disusul dengan adanya nyeri kepala berikut aktivasi saraf lanjutannya. Serangan migren bukanlah didasari oleh suatu primay vascular event.
3

Serangan migren bersifat episodik dan bervariasi antar individu.3,4 Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya migren adalah riwayat penyakit migren dalam keluarga, perubahan hormon pada wanita pada fase luteal siklus menstruasi, makanan yang bersifat vasodilator (anggur merah, natrium nitrat), vasokonstriktor (keju, coklat), serta zat tambahan pada makanan, stres, rangsangan sensorik seperti cahaya silau dan bau menyengat, alkohol dan merokok.1 Ilustrasi kasus Wanita 37 tahun, janda seorang pembantu rumah tangga datang ke KDK Kiara pada tanggal 12 Juli 2011 dengan keluhan sakit kepala disebelah kiri sejak dua hari sebelumnya. Keluhan ini dirasakan sejak dua tahun yang lalu dan hilang timbul. Pasien sempat pingsan dan dibawa kerumah sakit karena keluhan seperti ini. Sakit kepala sangat menggangu aktivitasnya. Untuk mengatasi sakit kepala ini, pasien terkadang membeli obat sakit kepala di warung (oskadon). Riwayat sakit kronis lain selain sakit kepala disangkal. Gejala klinis mengarah adanya keganasan disangkal. Tidak terdapat penurunan berat badan yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Gejala dan keluhan kearah hipertensi dan diabetes disangkal. Terdapat pola hidup dan kebiasaan yang menunjang diagnosis ke arah penyakit yang sebelumnya disebutkan. Wanita ini mengaku mengalami stresor kerja yang tinggi selama bekerja karena anak majikannya nakal dan sulit diatur, selain itu wanita ini harus menghidupi keempat anaknya yang berada di kampung dikarenakan suami wanita ini sudah meninggal beberapa tahun yang lalu dan anak belum ada yang bekerja.

Riwayat penyakit dahulu dan riwayat penyakit keluarga tidak ada yang menderita penyakit yang serupa dengan yang dialami pasien. Dari pemeriksaan fisik, didapatkan peningkatan tekanan darah 130/ 80 mmHg. Pemeriksaan konjungtiva didapatkan kesan pucat. Indeks massa tubuh pasien kurang dari normal (IMT: 17,59 kg/m2). Telah dilakukan pemeriksaan lab dan rontgen thorax ketika pasien masuk rumah sakit setahun yang lalu, tetapi pasien tidak membawa hasil pemeriksaan tersebut ke KDK Kiara. Wanita ini tinggal dirumah majikannya di lingkungan padat penduduk tetapi cukup bersih dan letak rumah di dalam gang. Penilaian terhadap lingkungan rumah majikan bersama dua orang majikan (suami dan istri), dua anak majikan serta seorang rekan kerja yang juga bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Lingkungan rumah majikan cukup bersih dan tidak lembab. Penerangan dan ventilasi rumah majikan wanita ini dirasakan kurang karena jendela jarang dibuka sehingga sinar matahari kurang masuk kedalam rumah, serta sirkulasi udara kurang tetapi memiliki pendingin ruangan (AC). Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik wanita ini didiagnosis dengan migren, status gizi kurang, dyspepsia dan suspek anemia dengan stresor kerja yang tinggi sebagai pembantu rumah tangga. Saat ini pengobatan non medikamentosa antara lain perubahan gaya hidup dengan pengaturan pola makan sesuai dengan perhitungan kalori untuk berat badan ideal [42 kg x 25 kkal/kg = 1225 kkal +20% (aktivitas sedang) +20% BB kurang yang setara dengan 1700 kkal], Selain itu perlu edukasi mengenai migren,
4

sindroma dispepsia dan hubungannya dengan pola makan sehari-hari, dan mengenai anemia yang diderita. Saran untuk cukup beristirahat dan tidak begadang pada malam hari dan makan disela waktu bekerja merupakan hal yang perlu diedukasikan kepada pasien. Medikamentosa yang diberikan adalah asam mefenamat 3x1 tablet untuk pengobatan sakit kepala, Antacid 3x1 tablet untuk pengobatan dyspepsia, suplemen zat besi dan vitamin B-12 untuk suspek anemia. Sementara pengobatan.

Diskusi Migren Migren adalah suatu kondisi kronis yang yang digolongkan sebagai sakit kepala episodik dengan intensitas sedang sampai berat dan berakhir dalam waktu 472 jam. Secara umum, gejala-gejala dari penyakit migren ini adalah terdapatnya peringatan sebelum terjadi serangan seperti perubahan mood, perubahan perasaan atau sensasi (bau atau rasa), atau kelelahan dan ketegangan otot, kemudian adanya rasa sakit kepala yang umumnya satu sisi, berdenyut-denyut, dapat disertai mual dan muntah, sensitif terhadap cahaya dan suara dan biasanya terjadi antara 4-72 jam, dengan intensitas nyeri bervariasi dari ringan sampai berat dan kadang sangat mengganggu pasien dalam menjalani aktivitas sehari-hari serta tanda-tanda lain seperti tidak bisa makan, tidak bisa berkonsentrasi serta kelelahan.1,2 Pada pasien ini di diagnosis migren berdasarkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik yang telah dilakukan. Dari anamnesis didapatkan pasien menderita sakit kepala di sebelah kiri sejak 2 tahun yang lalu, menandakan sakit kepala yang diderita merupakan gejala kronis. Sakit kepala

yang dirasakan hanya pada bagian kiri, berdenyut, disertai perasaan mual dan belangsung selama beberapa hari. Sakit kepala yang dirasakan wanita ini sangat mengganggu kegiatan sehari-hari sebagai pembantu rumah tangga. Faktor yang berpengaruh pada pasien ini diantaranya adalah stresor kerja yang tinggi pada pasien karena anak majikan pasien yang nakal dan sulit diatur serta kurangnya istirahat pada pasien dan seringnya pasien begadang menunggu majikan pulang bekerja. Pasien bangun pada pukul 4 pagi dan tidur pada pukul 11 malam. Dari pemeriksaan fisik, ditemukan keadaan umum pasien yang tampak sakit sedang dan lemas. Tekanan darah pasien 130/90 mmHg. Pada pasien ini, faktor pekerjaan yang berperan diperkuat pada kunjungan rumah pertama kali didapatkan rumah majikan pasien dengan ventilasi dan pencahayaan yang kurang. Rumah pasien berada didalam gang sempit dengan pemukiman yang padat. Rumah majikan pasien tampak berantakan dengan barangbarang yang menumpuk dan kandang binatang yang diletakkan di ruang tamu. Pasien bangun pada pukul 4 pagi dan mulai beraktivitas seperti mencuci pakaian, menyapu, mengepel, memasak, serta mengurus anak majikan. Sedangkan untuk faktor pendukung pada pasien ini yaitu pasien sangat kooperatif dan mempunyai motivasi untuk sembuh. Pasien meminum obat-obatan yang diberikan ketika kunjungan ke KDK sesuai dengan apa yang dianjurkan oleh dokter. Keterbatasan dana pada pasien ini menyebabkan pasien mengalami penundaan dalam pengobatan. Keluarga majikan kurang memberikan perhatian kepada pasien.
5

Penanganan non farmakologis pada pasien ini adalah edukasi tentang cukup istirahat, dan beristirahat disela waktu bekerja, serta tidak begadang pada malam hari. Penanganan farmakologis pada pasien ini menggunakan analgetik, asam mefenamat. Diperlukan kerjasama dengan berbagai pihak, khususnya dengan pelayanan kesehatan dan keluarga majikan untuk saling mendukung guna kesembuhan pasien. Kerja sama dengan pelayanan kesehatan lebih difokuskan terhadap pengobatan, rencana pemeriksaan dan penentuan diagnosis, sedangkan kerjasama dengan keluarga lebih bersifat membantu menyehatkan pasien dari segi pola makan sehat dan cukup istirahat, serta beristirahat di sela-sela waktu bekerja. Underweight Pada pasien ini didapatkan indeks massa tubuh sebesar 17,59 kg/m2. Hal ini berarti pasien dalam kondisi underweight. Ini berarti pola makan pasien kurang dari kebutuhan kalori pasien.5
Klasifikasi IMT (kg/m2) Underweight : < 18,5 Normal : 18,5 22,9 Overweight : > 23 At risk : 23 24,9 Obese I : 25 29,9 Obese II : 30 Risiko ko-morbiditas Rendah (tetapi meningkat bila ada masalah klinis lainnya) Rata-rata Meningkat Sedang Berat

Dari anamnesis didapatkan pasien mengakui bahwa konsumsi makan sehariharinya tidak teratur. Makan makanan seadanya, dan terkadang pasien tidak makan karena sibuk bekerja. Pasien juga mempunyai kebiasaan begadang sehingga berat badannya berkurang. Dari kunjungan rumah, tidak ditemukan adanya makanan dirumah pasien. Pasien memasak untuk kebutuhan makan majikan dan dirinya sendiri. Tetapi karena banyaknya pekerjaan yang

dilakukan oleh pasien, pasien terkadang hanya makan 1-2 kali dalam sehari. Dengan aktivitas pekerjaan pasien yang tergolong sedang yaitu sebagai pembantu rumah tangga yang harus mengerjakan pekerjaan rumah, kebutuhan kalori setiap harinya pun harus mencukupi aktivitasnya. Kebutuhan kalori pada pasien ini: Diketahui : TB = 154 cm, BB = 42kg Berat badan ideal (TB-100)-10% = 54,5-5,45 = 49,05 Kg Indeks Massa Tubuh = BB(Kg) = 42 = 17,72 Kg/M2 TB(M)2 (1,54)2 Kalori basal wanita : BBI x 25 kalori = 49 x 25 = 1225 kalori Aktivitas sedang : +20% x kalori basal = + 245 kalori BB kurang : +20% x kalori basal = +245 kalori Total Kebutuhan kalori : 1715 kalori 1700 kalori Maka kalori yang dibutuhkan pasien adalah 1700 kalori/hari. Untuk memenuhi kecukupan kalori tersebut, pasien disarankan mengkonsumsi makanan kaya lemak, karbohidrat, dan protein. Target peningkatan berat badan pasien adalah 49 kg sesuai dengan berat badan ideal dengan tinggi badan 154 cm. Peran keluarga yang sebaiknya dilakukan adalah dengan menyediakan makanan yang sesuai untuk peningkatan berat badan di rumah, dan menjaga agar setiap anggota keluarga tidak ada yang kekurangan asupan makanan. Jika dimungkinkan untuk melakukan konsultasi gizi apa saja yang dibutuhkan untuk peningkatan berat badan.

Kesimpulan Edukasi yang dapat diberikan pada pasien ini adalah edukasi tentang cukup istirahat, dan beristirahat disela waktu

bekerja, serta tidak begadang pada malam hari. Pasien membutuhkan gizi lebih karena mengalami underweight. Dalam hal ini pasien diperbolehkan memakan apa saja agar kebutuhan kalori tercukupi. Perlu diadakan pembinaan pada pasien karena dilihat pasien mempunyai keinginan yang kuat untuk sembuh, dan juga pasien kooperatif, namun keadaan ekonomi pasien yang membatasi pasien untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan selanjutnya. Peran dokter keluarga dalam hal ini adalah dengan memberikan edukasi pada pasien untuk pembuatan JAMKESMAS agar mendapat keringanan dalam membayar biaya pengobatan dan pemeriksaan Sedangkan dari segi keluarga majikan, majikan perlu memperhatikan pola makan dan kecukupan istirahat bagi pasien. Dokter keluarga juga berperan untuk menjembatani hubungan antara pasien dengan dokter spesialis mengenai konsultasi kesehatan pasien. Saran Saran untuk pasien dan keluarga majikan : Pasien disarankan untuk cukup beristirahat dan istirahat disela waktu bekerja Pasien disarankan untuk makan di sela waktu bekerja dan makan makanan yang bergizi Keluarga majikan disarankan untuk lebih memperhatikan kesehatan pasien Saran untuk dokter dan pelayanan kesehatan Memberikan pelayanan kesehatan yang lebih informatif dan edukatif serta memberikan solusi alternatif berhubungan dengan keadaan ekonomi pasien sehingga masalah pasien dapat ditangani secara holistik, komprehensif, terpadu dan berlanjut sesuai dengan prinsip pelayanan kedokteran keluarga.

Pelayanan kesehatan sebaiknya tidak memberatkan dan memaksa pasien dalam memberikan terapi. Referensi: 1. Dawn C. Buse, PhD, Marcia F.T. Rupnow, PhD, and Richard B. Lipton, MD. 2009. Assesing And Managing All Aspect of Migraine. URL : http://www.nebi.nlm.nih.gov/pmc/articl es/PMC2676125 2. Sidharta Priguna. 2004. Neurologi Klinis dalam Praktek Umum. Dian Rakyat:Jakarta 3. Maria Piance, et al. 2007. Genetics of Migrain and Pharmacogenomics: some consideration. URL : http://www.nebi.nlm.nih.gov/pmc/articl es/PMC2779399 4. Dewanto George, dkk. 2007. Diagnosis dan Tata Laksana Penyakit Saraf. EGC. Jakarta 5. Perkeni. 2006. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus tipe 2 di Indonesia 2006. [hal: 12-13]