Anda di halaman 1dari 81

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar belakang Pada masa Pembangunan Jangka Panjang (PJP) II, yang disebut juga sebagai

era industrialisasi, salah satu fokus utama pembangunan adalah pengembangan Sumber Daya Manusia. Tenaga kerja merupakan segmen populasi yang menjadi penting dalam era ini, sehubungan dengan produktivitas khususnya industri. Oleh karena itu penyelenggaraan program kesehatan dan keselamatan kerja menjadi sangat penting dengan tujuan untuk mewujudkan produktivitas kerja yang optimal serta melindungi tenaga kerja dari risiko yang membahayakan kesehatan dan keselamatannya.1 Ratusan juta tenaga kerja diseluruh dunia pada saat bekerja dengan kondisi yang tidak nyaman dapat mengakibatkan gangguan kesehatan. Menurut International Labour Organization (ILO) setiap tahun tercatat 1,1 juta kematian yang disebabkan oleh penyakit atau kecelakaan akibat hubungan pekerjaan. Sekitar 300.000 kematian terjadi dari 250 juta kecelakaan dan sisanya adalah kematian akibat kerja dimana diperkirakan terjadi 160 juta penyakit akibat hubungan pekerjaan baru setiap tahunnya.2 Data Jamsostek menunjukkan bahwa angka kecelakaan kerja di Indonesia yang tercatat sebanyak 95.418 kasus (tahun 2004), 99.023 kasus (tahun 2005), 95.624 kasus (tahun 2006). Sementara tahun 2007 kematian angka kematian pekerja di Indonesia juga masih sangat tinggi, yaitu rata-rata mencapai lima orang perhari atau total 1.883 kasus kematian. Jumlah kecelakaan kerja sepanjang tahun 2007 sebanyak 83.714 kasus, di mana 75.325 diantaranya bisa disembuhkan, 6.506 kasus mengalami cacat atau rata-rata 18 tenaga kerja setiap hari.4 Data dari Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional (DK3N) menunjukkan bahwa kecenderungan kejadian kecelakaan kerja meningkat dari tahun ke tahun yaitu 82.456 kasus di tahun 1999 meningkat menjadi 98.905 kasus di tahun 2000 dan naik lagi mencapai 104.774 kasus pada tahun 2001. Dari kasus-kasus kecelakaan kerja 9,5% diantaranya (5.476 tenaga kerja) mendapat cacat permanen. Ini berarti setiap hari kerja ada 39 orang pekerja yang mendapat cacat baru atau rata-rata 17 orang meninggal karena kecelakaan kerja. 3

Secara umum, kecelakaan industri disebabkan oleh dua hal pokok yaitu perilaku kerja yang berbahaya (unsafe human act) dan kondisi - kondisi yang berbahaya (unsafe condistions). Beberapa hasil penelitian menunjukkkan bahwa faktor manusia memegang peranan yang cukup penting dalam timbulnya kecelakaan kerja. Hasil penelitian menyatakan bahwa 80%-85% kecelakaan keja disebabkan oleh kelalaian atau kesalahan faktor manusia. 2 Setiap pekerjaan mengandung resiko kesehatan dan keselamatan. Demikian juga sistem kerja di industri garmen mempunyai potensi penyakit dan kecelakaan kerja yang sangat tinggi. Seperti yang dilaporkan oleh David Mahone (CNA Insurance Companies, Chicago IL) diantara penyakit kerja yang terkait dengan kondisi lingkungan kerja yang tidak baik diantaranya adalah 70% operator jahit mengalami sakit punggung, 35% Melaporkan mengalami low back pain secara persisten, 25% menderita akibat Cumulative Trauma Disorder (CTD), 81% mengalami CTD pada pergelangan tangan, 14% mengalami CTDs pada siku 5% of CTDs pada bahu, dan 49% pekerja mengalami nyeri leher. Menurut penelitian yang dilakukan oelh universitas Indonesia didapatkan bahwa faktor-faktor determinan yang berhubungandengan timbulnya nyeri punggung adalah tinggi siku duduk, lama kerja, dan status perkawinan. Lama kerja > 5 tahun mempunyai resiko 7,3 kali lebih besar (OR=7,32;95%CI-3,19-16,52), tinggi siku duduk 3,60 kali (OR=3,60; 95%CI=1,548,40), menikah 4,12 kali (OR=4,12; 95% CI= 1,50-11,27) mempunyai risiko nyeri punggung. Terjadinya nyeri punggung ini dikaitkan dengan posisi kerja lebih menunduk yang pada penelitian tersebut, risiko untuk mendapatkan nyeri punggung pada pekerja dengan tinggi siku > 69 cm adalah 3,6 kali lebih besar dibandingkan dengan mereka yang mempunyai tinggi siku duduk 69 cm.4 Potensi ergonomi menjadi salah satu bahaya potensial yang banyak terpajan pada para pekerja. Permasalahan ergonomi kerja di industri garmen terutama sangat berhubungan dengan posisi postur tubuh dan pergelangan tangan yang tidak baik dan harus melakukan pekerjaan yang berulang-ulang pada hanya satu jenis otot sehingga sangat berpotensi menimbulkan cumulative trauma disorder (CTD)/Repetitive Strain Injuries (RSI). Zvonko Gradcevic, dkk. mengemukakan bahwa operasi kerja di bagian penjahitan adalah dari tangan-mesin-tangan dan sub operasi mesin berdasarkan cara kerja dan bagian yang dijahit menurut struktur produk garmennya. Koordinasi gerakan postur tubuh dan pergelangan tangan yang baik dan konsentrasi tinggi dibutuhkan dalam pekerjaan di bagian jahit. Dimana perubahan gerakan ini
2

berlangsung sangat cepat tergantung bagian yang dijahit dan tingginya frekuensi pengulangan gerakan untuk kurun waktu yang lama akan memicu timbulnya gangguan intrabdominal, mengalami tekanan inersia, tekanan pada pinggang dan tulang punggung serta tengkuk. 5 Oleh karena itu, diperlukan upaya kedokteran okupasi melalui program keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di industri garmen agar angka penyakit akibat kerja dapat diminimalisir. 5 1.1 Perumusan Masalah Terdapatnya bahaya potensial ergonomi pada linkungan kerja yang dapat mengganggu kesehatan pekerja PT.Bina Busana Internusa. Terdapatnya penyakit yang ditimbulkan akibat bahaya potensial ergonomi pada lingkungan kerja yang dapat mengganggu kesehatan pekerja PT. Bina Busana Internusa. 1.2 Tujuan Diketahuinya kinerja program Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) pada kesehatan kerja para pekerja PT.Bina Busana Internusa. 1.3.2.Tujuan Khusus 1. 2. 3. 4. Internusa 5. Diketahui usaha-usaha yang telah dilakukan oleh perusahaan dalam mengatasi masalah yang ada akibat bahaya potensial ergonomi di PT.Bina Busana Internusa. Teridentifikasinya bahaya potensial pada kesehatan kerja para pekerja Teridentifikasinya faktor-faktor risiko terhadap kesehatan dan dan bahaya potensial yang dominan di PT.Bina Busana Internusa. keselamatan kerja pada setiap alur produksi di PT.Bina Busana Internusa Teridentifikasinya masalah kesehatan kerja akibat bahaya potensial Diketahuinya upaya pelaksanaan program K3 di PT.Bina Busana ergonomi yang ada di PT.Bina Busana Internusa.

1.2.1 Tujuan Umum

6.

Tersusunnya saran untuk PT.Bina Busana Internusa sebagai upaya

pencegahan dan pengendalian penyakit akibat kerja khususnya dalam bidang ergonomi. 1.4 Manfaat 1.4.1 Manfaat bagi mahasiswa 1. 2. 3. Meningkatkan pengetahuan tentang kedokteran kerja. Mengidentifikasi bahaya potensial yang dapat ditemukan di

lingkungan kerja khususnya bahaya potensial ergonomi. Mengetahui upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya 1.4.2 Manfaat bagi perusahaan
1.

gangguan akibat bahaya potensial ergonomi. Memperoleh masukan yang dapat dimanfaatkan bagi program

pencegahan timbulnya kecelakaan atau gangguan akibat bahaya potensial ergonomi di lingkungan kerja. 2. Memperoleh masukan mengenai upaya pencegahan lain yang dapat dilakukan terhadap efektivitas program pencegahan bahaya potensial kesehatan dan keselamatan kerja. 1.4.3 Manfaat bagi universitas 1. 2. Sebagai perwujudan Tri Dharma Perguruan Tinggi Universitas Meningkatkan saling pengertian dan kerja sama antara mahasiswa, staf Pembangunan Nasional Veteran dalam pengabdian dalam masyarakat. pengajar, pimpinan fakultas dan universitas. 1.5.Metodologi Penilaian dilakukan dengan metode observasional deskriptif.

BAB II HASIL KUNJUNGAN 2. 1 Profil Perusahaan PT Bina Busana Internusa II didirikan pada tanggal 10 november 1989, yang memproduksi pakaian antara lain mens shirt, hospital uniform, office uniform dan working uniform. PT Bina Busana Internusa memiliki dua buah pabrik, pabrik pertama berlokasi Kawasan Berikat Nusantara Jl. Madura III Blok D No. 19A Cakung, Cilincing, Jakarta no telepon 021-440308 fax : 021-46820820 dengan luas 5.400m2. Pabrik yang kedua berlokasi di Jl. Pulo Buaran II blok Q No. 1 Pulogadung, Jakarta no telepon 021-46820820 fax : 0214626086 dengan luas 1.680m2. Kapasitas produksi pabrik ini 1.920.000 potong/tahun (pabrik I) dan 840.000 potong/tahun (pabrik II). Untuk mencapai target produksi, Bina Busana Internusa menggunakan tenaga kerja sebanyak 984 orang (pabrik I) dan 582 orang (pabrik II), penjual II : 582 orang, penjualan : 399 orang dan tenaga administrasi : 59 orang. Sasaran penjualan produk tidak hanya pada pasar lokal saja, tapi juga mencacap pasa luar seperti inggris dan jepang. Dengan sasaran pembeli di Nagai, Cosalt, Departemen store serta institusi pemerintah dan perusahaan swasta 2.2. Gambaran Umum 1. Sejarah Singkat Perusahaan Pada tanggal 16 oktober 1989 berdiri PT Mitracorp Pasifik Nusantara, yang merupakan head office dari beberapa anak perusahaan, diantaranya adalah PT Bina Busana Internusa dan PT Kharismitra Sukses. PT Bina Busana Internusa berdiri pada tanggal 10 november 1989, yang memproduksi kemeja Valino dan produksi garmen lainnya. PT Kharismitra Sukses berdiri pada tanggal 6 april 1990 dan bergerak sebagai Marketing dan Distribution kemeja Valino. Pada tanggal 2 januari 1997 PT Bina Busana Internusa dan PT Kharismitra Sukses digabungkan menjadi PT Bina Busana Internusa, PT Bina Busana Internusa memiliki 2 buah pabrik.

1. PT Bina Busana Internusa I Lokasi : Jl. Madura III Blok D No. 19A kawasan berikut Nusantara Cakung Cilincing Jakarta 14140, Indonesia. Pada saat ini PT Bina Busana Internusa I memproduksi seragam rumah sakit yang di pesan oleh Nagai Leben Jepang dan pakaian kerja oleh cosalt inggris, luas wilayah yang dipergunakan untuk lokasi ini adalah 5.400 m2, dengan kapasitas produksi 18 line dan menghasilkan 1.920.000 potong pakaian pertahun dan mempekerjakan sebanyak 984 orang untuk bagan produksi, 3 orang bagian marketing dan 3 orang untuk tenaga administrasi. Untuk sementara ini PT BBI I hanya menerima pesanan dari Nagai Leben Cosalt Inggris serta beberapa pekerjaan yang bersifat subkontraktor. 2. PT Bina Busana Internusa II Lokasi : Jl. Pulo Buaran II Blok Q No. I Kawasan Industri Pulo Gadung, Pulo Gadung Jakarta 13920, Indonesia PT Bina Busana Iinternusa II memproduksi kemeja Valino, Harry Martin, Cristian Kent, Vissuto, Sierra Morena, Compagnon, dan bergamo. Kemudian di distribusikan ke departement store yang ada di seluruh Indonesia Untuk sementara ini counter Valino memiliki 133 outlet, Harry Martin 154 outlet, Christian Kent 17 outlet, Vissuto 12 outlet, Sierra Morena 59 outlet, Compagnon 30 outlet, dan bergamo 8 outlet, luas untuk lokasi ini adalah 1.680 m2 . Dengan kapasitas produksi 8 line serta dapat memproduksi sekitar 840.000 potong pakaian pertahun. Mempekerjakan sebanyak 582 untuk bagian produksi, 601 orang bagian marketing, dan 61 orang untuk tenaga administrasi, untuk sementara ini kemeja yang di produksi oleh PT BBI II hanya didistribusikan ke departement store dan institusional. 2. Falsafah Perusahaan Komitmen PT Bina Busana Internusa adalah memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan. Selain itu juga mempunyai visi kedepan sebagai perusahaan yang memimpin produksi kemeja formal pria di tahun 2005, dengan tekad menjadi yang terbaik dan terbesar sebagai produsen kemeja yang berstandar internasional. Gabungan antara pelayanan yang handal, profesionalisme, teknologi serta di dukung oleh pengelolaan usaha serta pemasaran yang tepat mengenai sasaran.

PT Bina Busana Internusa mendukung sepenuhnya pembangunan di Indonesia dengan memberikan pelayanan terbaik serta menghasilkan produk yang bermutu tinggi, PT Bina Busana Internusa berusaha meningkatkan citra sebagai perusahaan yang bergerak di bidang garmen yang terkemuka dengan memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan. Sesuai dengan motto perusahaan MENJADI NO. I DENGAN MEMBERIKAN PELAYANAN YANG TERBAIK KEPADA PELANGGAN DAN PELANGGAN ADALAH ASET PERUSAHAAN, Untuk mewujudkannya, PT Bina Busana Internusa akan menambah jumlah produksinya yang di jual di seluruh Indonesia. Pada saat ini produksi kemeja yang dihasilkan oleh PT Bina Busana Internusa adalah : Valino, Harry Martin, Christian kent, Vissuto, sierra Morena, Compagnon, dan Bergamo. Banyaknya produk kemeja yang diproduksi oleh PT Bina Busana Internusa dengan demikian kebutuhan kemeja yang diinginkan oleh konsumen dari seluruh lapisan masyarakat akan terpenuhi. Komitmen PT Bina Busana Internusa adalah memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan. Selain itu perusahaan ini juga memiliki visi ke depan sebagai perusahaan yang memimpin produksi kemeja formal pria di tahun 2005, dengan tekad menjadi yang terbesar dan terbaik sebagai produsen. 2.3 Alur produksi Adapun alur produksi dari PT. Bina Busana Interusa adalah sebagai berikut : 1. Inspeksi Bahan Inspeksi dilakukan digudang penyimpanan. Bahan harus memenuhi 28 persyaratan untuk memenuhi standar. Jika ditemukan cacat pada bahan maka akan ditandai dengan stiker tanda panah merah. Petugas pada tahap ini berjumlah 1 orang. Sarana yang digunakan adalah meja dengan tinggi kurang lebih 1 meter dengan kemiringan 45. Bahan yang akan diperiksa ditaruh diatas meja yang secara otomatis bahan akan melewati meja dan tergulung kembali. Pekerja menginspeksi bahan secara seksama untuk melihat adanya cacat, hal ini dilakukan dalam waktu yang singkat dan berulang-ulang sehingga akan terdapat gerakan bola mata yang repetitive. Pekerja melakukan inspeksi dalam posisi berdiri tegak dengan pencahayaan bersumber dari lampu neon 40 watt yang ada dibalik meja dan ruangan. Setelah bahan melewati

proses inspeksi, kemudian bahan yanga memenuhi syarat akan masuk ke dalam proses produksi. Pada bagian ini terdapat berbagai bahaya potensial yang dapat timbul, baik dari segi fisik, kimia, ergonomi, maupun psikologis. Yang pertama adalah bahaya potensial dari debu, baik debu yang berada di dalam ruangan maupun debu bahan. Debu yang berasal dari bahan berupa debu kain alami (bahan katun) dan debu sintetik (polyester). Bahaya fisik lain adalah cahaya berlebih dari lampu neon TL 40 watt yang dapat menyilau mata. Kondisi gudang yang kurang ventilasi juga menyebabkan terbatasnya sirkulasi udara bagi para pekerja di tempat ini. Bahaya potensial kimia berasal dari zat kimia dari bahan baku berupa formaldehid yang berasal dari bahan baku. Dari segi psikologis didapatkan bahaya stress dan kebosanan karena jam kerja yang lama tanpa ganti shift. Gangguan kesehatan yang mungkin terjadi adalah gangguan muskuloskeletal (seperti low back pain), dehidrasi, ISPA, sefalgia, dispepsia, gangguan penglihatan berupa penurunan visus dan kelelahan otot mata dan varises tungkai. Resiko kecelakaan kerja berupa tangan terjepit mesin inspeksi atau tersengat listrik mesin. Upaya yang harusnya dilakukan dalam tahap ini adalah pemakaian alat pelindung diri berupa masker penutup kepala, meskipun tidak semua pekerja menggunakannya. Peraturan yang terdapat di bagian ini berupa standar operasional mesin. Fasilitas yang tersedia lamp neon TL 40 watt sebanyak 1 buah pada mesin inspeksi dan 20 buah di langit-langit, serta penyediaan sarana air minum. Dari segi ergonomi, bahaya potensial yang ada diakibatkan oleh posisi pekerja yang berdiri lama dengan posisi kepala menengadah dan menunduk yang lama, gerakan repetitif bola mata dan gerakan fokus bola mata yang cukup lama dalam mengamati bahan.

Gambar 1. Posisi Pekerja Pada Proses Inspeksi Bahan

2. Proses pembuatan pola Proses pembuatan pola dilakukan oleh 12 pekerja. Enam pekerja membentuk pola bahan dengan pensil dan penggaris secara manual sesuai model pakaian yang akan diproduksi. Kegiatan ini dilakukan dengan posisi duduk dan berdiri. Enam pekerja lainnya menggunakan mesin jahit dalam posisi duduk tanpa sandaran. Pada proses ini, dilakukan pembuatan pola yang telah diinstruksikan oleh desainer. Pembuatan pola dapat dibedakan dalam dua cara, yaitu manual, atau menggunakan komputer. Untuk cara yang pertama (manual), dikerjakan dengan posisi berdiri maupun duduk. Dari hasil pengamatan, tampak bahwa kursi pekerja tidak menggunakan sandaran, dan terbuat dari material kayu tampa bantalan sehingga kurang nyaman dan didapatkan ukuran tinggi meja adalah 75 cm. Potensial bahaya aspek ergonomis yang ada pada proses ini adalah terdapat ketidaksesuaian antropometri pekerja dengan meja maupun kursi yang digunakan. Hal ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini, dimana posisi duduk terlalu tinggi dan kaki menggantung.

Gambar 2. Posisi pekerja bagian pola secara manual

Gambar 3. Posisi pekerja pembuatan pola dengan komputer

Proses pembuatan pola yang menggunakan komputer pada bagian ini, pekerja dalam posisi duduk di atas kursi dengan bantalan cukup nyaman dan memiliki sandaran. Namun dari hasil pengamatan, posisi duduk pekerja kurang ergonomis, dapat dilihat pada posisi siku yang lebih rendah dari meja.

3. Cutting Proses selanjutnya adalah cutting dan marker. Bagian cutting dikerjakan oleh 10 orang pekerja. Area pemotongan ini mengharuskan seluruh pekerjanya menggunakan masker, namun ada beberapa pekerja yang tidak memakainya. Proses cutting menggunakan mesin cutting, dimana alat cukup tajam dan pekerja melakukan proses ini dengan cepat dan repetitif. Pekerja dilengkapi sarung tangan dari bahan

10

stainless yang digunakan pada tangan kiri. Proses cutting terbagi mejadi dua macam, yaitu untuk kain polos dan bermotif.
a. Bila bahan polos, langsung menuju proses numbering b. Bila bahan bermotif, maka akan melalui proses matching dan numbering.

Bagian cutting dapat dikerjakan dalam dua cara, yaitu manual dengan gunting dan dengan mesin. Pada proses ini pekerja melakukan tugasnya dalam posisi berdiri diikuti dengan kepala yang menunduk. Selain itu, dari hasil pengukuran, tinggi meja yang juga bisa diartikan jarak siku ke lantai adalah 95 cm. Ukuran ini terlalu rendah, sehingga membuat pekerja sedikit membungkuk untuk melakukan kerjanya. Pada alur produksi ini, bahaya fisik yang dapat terjadi berupa kebisingan dari mesin pemotong. Suara mesin pemotong dengan frekuensi 84dB dapat menyebabkan gangguan pendengaran berupa tinnitus maupun tuli perseptif. Bahaya fisik lain berupa debu kain alami dan sintetik, sirkulasi udara terbatas, vibrasi mesin cutting, dan listrik dari mesin pemotong. Bahaya kimia berasal dari pelarut benzene yang digunakan sebagai pembersih jika ada noda pada kain. Bahaya dari ergonomi yaitu posisi berdiri yang lama, posisi kepala yang menunduk lama, dan gerakan repetitif memotong lkain. Sedangkan dari bahaya psikologis yang dapat timbul adalah stres dan kebosanan karena jam kerja yang lama tanpa ganti shift. Gangguan kesehatan yang mungkin terjadi adalah gangguan muskoloskeletal (termasuk upper dan low back pain), dehidrasi, ISPA, dispepsia, gangguan pendengaran, varises tungkai, hiperkeratosis tangan dan dermatitis kontak iritan. Resiko kecelakaan kerja yang mungkin terjadi adalah tangan terpotong, tangan terjepit gunting atau tangan tersengat listrik mesin potong. Upaya yang harus dilakukan dalam tahap ini adalah pemakaian alat pelindung diri berupa masker, penutup kepala, penutup telinga, serta sarung tangan logam dan fasilitas seperti kipas angin atau exhaust fan untuk memperbaiki sirkulasi udara, lampu untuk penerangan yang cukup dan penyediaan sarana air minum. Hal-hal yang sudah dilakukan di perusahaan ini yaitu penggunaan alat pelindung diri berupa masker dan sarung tangan yang terbuat dari logam. Semua pekerja menggunakan alat pelindung diri ini. Peraturan yang terdapat di bagian ini berupa standar operasional mesin dan kebijakan menggunakan alas kaki. Fasilitas yang tersedia berupa lampu TL 40 watt sebanyak 96 buah, exhaust fan diameter 30
11

cm (10 buah setiap lantai), kipas angin diameter 30 cm (10 buah setiap lantai), penyediaan sarana air minum (2 buah setiap lantai).

Gambar 4. Posisi pekerja pada proses cutting


4. Proses Quality Control Pola

Bagian ini dikerjakan oleh 5 orang pekerja. Di bagian ini merupakan proses pengecekan kembali komponen-komponen bahan yang terdiri dari bagian depan, bagian belakang serta bagian tangan produk. Proses ini dilakukan secara manual menggunakan tangan dan bahan di seleksi satu per satu. Pada bagian ini terdapat 3 pekerja, dengan luas tempat kurang lebih 3 x 3 m, posisi saat bekerja yaitu berdiri lama, kepala menunduk, dan jarak mata untuk memeriksa objek kurang lebih 60 cm, memakai alat pelindung diri yaitu masker yang wajib dipakai dan disediakan oleh perusahaan. Terdapat perbedaan untuk karyawan yang bekerja tetap disini, yaitu menggunakan tatakan kaki yang terbuat dari karet. Sarana yang terdapat di bagian ini antara lain meja, dengan panjang 120 cm dan tinggi 100 cm. Bahaya fisik yang dapat timbul berupa debu alami dan sintetik. Bahaya ergonomi yang ada berupa posisi berdiri lama, posisi setengah membungkuk, gerakan repetitif tangan dalam membolak- balik bahan, dan gerakan repetitif bola mata dalam mengamati bahan. Gangguan kesehatan yang mungkin terjadi adalah gangguan musculoskeletal, low and upper back pain, cefalgia, ulnar twist serta carpal tunner syndrome, varises tungkai, dan hiperkeratosis tangan. Tidak ada resiko kecelakaan kerja yang dapat terjadi pada tahap ini. Upaya yang harusnya dilakukan dalam tahap ini adalah pemakaian alat pelindung diri berupa masker, dan hanya 1 orang yang tidak memakai masker kain ini.

12

5. Proses Matching and numbering

Bagian ini dikerjakan oleh 2 orang pekerja, bahaya yang timbul berasal dari posisi berdiri yang lama, posisi kepala dan badan menunduk lama, dan gerakan repetitif tangan menempelkan stiker angka. Bagian ini dikerjakan oleh 2 orang pekerja. Bahaya fisik yang ada berupa debu kain alami dan sintetik. Dari segi ergonomi, bahaya yang timbul berasal dari posisi berdiri yang lama, posisi kepala dan badan menunduk lama, dan gerakan repetitif tangan menempelkan stiker angka. Dari segi psikologis, gangguan yang timbul berasal dari rasa bosan karena jam kerja yang lama tanpa ganti shift, dan dapat timbul stres. Gangguan kesehatan yang mungkin terjadi adalah gangguan mukuloskeletal, upper and low back pain, ulnar twist serta carpal tunner syndrome dan gangguan pengelihatan berupa kelelahan mata. Upaya yang harusnya dilakukan dalam tahap ini adalah pemakaian alat pelindung diri berupa masker dan sarung tangan kain, dan para pekerja sudah menggunakannya. Fasilitas yang tersedia sudah berupa TL 40 watt sebanyak 96 buah, exhaust fan diameter 30 cm (10 buah setiap lantai), penyediaan sarana air minum ( 2 buah setiap lantai ).

Gambar 5. Posisi pekerja bagian numbering


6. Proses pembuatan manset

Pada proses ini, dilakukan pemotongan dengan mesin berat. Bagian ini dikerjakan oleh 5 orang pekerja. Kemudian dilakukan pressing dengan menggunakan mesin yang mengeluarkan panas. Mesin yang berat tersebut dijalankan oleh pekerja laki-laki dengan posisi berdiri terus menerus, kepala dan badan menunduk sekitar 20 dengan alat pelindung diri berupa sarung tangan stainless. Bahaya potensial fisika berasal dari vibrasi mesin pembuat manset, cahaya yang kurang terang, aliran listrik, dan sirkulasi udara yang kurang terbatas. Dari segi
13

ergonomi, bahaya yang timbul berasal dari posisi duduk lama, posisi kepala menunduk lama, gerakan repetitif mendorong dan menarik tangan dan ruang gerak yang sempit. Dari segi psikologi dapat timbul stress dan rasa bosan karena jam kerja yang lama tanpa ganti shift. Gangguan kesehatan yang mungkin terjadi adalah gangguan muskuloskeletal, dehidrasi, low dan upper back pain, dan kelelahan otot mata. Resiko kecelakaan kerja yang mungkin terjadi berupa tangan tergores atau terjepit mesin pembuat manset, atau tersengat listrik mesin pembuat manset. Upaya yang harusnya dilakukan dalam tahap ini adalah pemakaian alat pelindung diri berupa masker, serta sarung tangan logam dan fasilitas seperti kipas angin atau exhaust fan untuk memperbaiki sirkulasi udara, lampu untuk penerangan yang cukup dan penyediaan sarana air minum. Hal-hal yang sudah dilakukan di perusahaan ini yaitu penggunaan alat pelindung diri berupa masker dan sarung tangan yang terbuat adari logam. Peraturan yang terdapat di bagian ini berupa standar operasional mesin. Fasilitas yang tersedia berupa TL 40 watt sebanyak 96 buah, exhaust fan diameter 30 cm ( 10 buah setiap lantai ), kipas angin dengan diameter 30 cm ( 10 buah setiap lantai ), penyediaan sarana air minum ( 2 buah setiap lantai ).

Gambar 6. Posisi Pekerja pada Proses Manset


7. Proses pembuatan interlining

Proses interlining adalah proses pembuatan kerah dimana kain yang telah dipotong ditempelkan dengan bahan yang keras untuk membentuk kerah. Pembuatan interlining terdiri dari proses pembuatan pola kerah dengan mesin plong (1 pekerja), perekatan sementara dengan solder (8 pekerja) dan penempelan kerah ke kain bahan dengan mesin press (4 pekerja).

14

Proses pertama, yakni pembuatan pola kerah dengan mesin plong mempunyai berbagai bahaya potensial yaitu fisika, ergonomi dan psikologi. Bahaya potensial fisika yaitu debu dari kain berupa debu kain alami dan sintetik, sirkulasi udara yang terbatas, bising, panas dan listrik dari mesin plong. Bahaya potensial ergonomi adalah posisi berdiri lama dan setengah membungkuk, ruang gerak yang sempit, dan gerakan repetitif mengangkat benda berat. Sedangkan bahaya potensial psikologi adalah stress akan bahaya yang mungkin timbul dari mesin plong. Gangguan kesehatan yang mungkin terjadi adalah gangguan musculoskeletal akibat posisi ergonomi yang salah, dehidrasi karena suasana yang panas disekitar mesin, gangguan pendengaran karena bising yang dihasilkan oleh mesin plong, dan varises tungkai akibat posisi berdiri yang lama selama bekerja. Kecelakaan kerja yang mungkin timbul adalah jari dan tangan tergores, terjepit, terpotong, dan tesengat listrik mesin plong. Proses selanjutnya adalah merekatkan kedua bahan tersebut. Proses perekatan pertama dilakukan dengan solder di beberapa titik kemudian disetrika dan terakhir direkatkan secara permanen dengan pressing machine yang menggunakan panas yang tinggi. Proses berikutnya adalah perekatan sementara dengan solder dengan posisi berdiri lama, dan posisi setengah membungkuk. Berikutnya adalah proses penempelan kerah ke kain bahan dengan mesin press. Panas yang dihasilkan oleh mesin press yaitu sekitar 1600 C dan listrik dari mesin press dan posisi berdiri lama, posisi setengah membungkuk, dan gerakan repetitif memasukan dan mengambil kerah dari mesin press. Proses berikutnya adalah perekatan sementara dengan solder. Bahaya potensial fisika berupa panas dan listrik yang dihasilkan oleh alat solder. Bahaya potensial kimia adalah dari debu kain alami dan sintetik. Bahaya potensial ergonomi adalah posisi berdiri lama, dan posisi setangah membungkuk. Bahaya psikologi adalah stres akan bahaya yang ditimbulkan alat solder. Berikutnya adalah proses penempelan kerah ke kain bahan dengan mesin press. Bahaya potensial fisika adalah panas yang dihasilkan oleh mesin press yaitu sekitar 1600 C dan listrik dari mesin press. Bahaya kimia berasal dari debu kain alami dan sintetik. Bahaya potensial ergonomi adalah posisi berdiri lama, posisi setengah membungkuk, dan gerakan repetitif memasukan dan mengambil kerah dari mesin press. Dan bahaya potensial

15

psikologi yang terjadi adalah stres akibat panas yang ditimbulkan mesin press dan bahaya mesin press. Upaya yang harusnya dilakukan dalam tahap ini adalah pemakaian alat pelindung diri berupa masker, penutup kepala, penutup telinga dan fasilitas seperti kipas angin dan exhaust fan untuk memperbaiki sirkulasi udara, lampu untuk penerangan yang cukup dan penyediaan sarana air minum. Alat pelindung yang digunakan oleh pekerja adalah sarung tangan, sebagian menggunakan masker. Dilingkungan sekitar pekerja terdapat exhaust fan dengan diameter 30 cm sebanyak 10 buah setiap lantai, kipas angin diameter 30 cm sebanyak 10 buah setiap lantai, dan penyediaan sarana air minum sebanyak 2 buah setiap lantai untuk mengatasi dehidrasi. Kemudian terdapat standar operasional yang tertempel di mesin plong, dan mesin press.

Gambar 7. Posisi pekerja pada proses interlining


8. Proses sewing

Proses sewing terdiri dari kurang lebih 100 pekerja. Proses sewing dilakukan dengan menggunakan mesin jahit biasa. Pada proses penjahitan terdapat dua macam proses, yaitu front back dan assembling. Pada proses front back dilakukan penjahitan untuk keperluan aksesoris seperti pembuatan kantong kemeja. Kemudian pada proses assembling dilakukan penjahitan untuk menyatukan pakaian dengan komponen lainnya. Penjahit bekerja dengan posisi duduk membungkuk dengan kursi tanpa sandaran. Untuk mengatur kesesuaian antara tinggi meja dan kursi agar menghasilkan posisi yang ergonomis, terdapat alat pengatur ketinggian pada meja jahit dan kursi
16

yang terlalu pendek disambung dibagian terbawah kaki kursi. Pekerja menggunakan seragam berupa kain berbahan katun yang cukup menyerap keringat, ditambah penutup kepala, apron dan masker, mesin jahit juga dilengkapi dengan needle gate untuk melindungi tangan dari tusukan jarum. Pada proses ini juga dilakukan pembersihan bahan yang terdapat noda dengan menggunakan etanol dan benzene yang disemprotkan, alat semprot menghasilkan bising, sehingga pekerja dilengkapi dengan alat penutup telinga. Proses ini memiliki bahaya potensial fisika meliputi sirkulasi udara yang terbatas akibat banyaknya pekerja dan kurangnya ventilasi, bising dan vibrasi yang berasal dari mesin jahit, debu kain alami dan sintetik dan listrik dari mesin jahit. Bahaya potensial kimia berasal dari etanol dan pelarut benzene. Bahaya potensial ergonomi yang ada adalah posisi duduk lama dengan posisi badan setengah membungkuk, posisi kepala menunduk saat menjahit, gerakan repetitif kaki menginak pedal mesin jahit, gerakan repetitif tangan menarik dan mendorong kain, dan posisi jari tangan yang menekan selama menjahit karena memerlukan presisi yang baik, dan ruang gerak yang terbatas. Sedangkan bahaya potensial psikologi yang dapat terjadi adalah stres akibat tuntutan ketelitian dan konsentrasi yang tinggi. Gangguan kesehatan yang dapat timbul adalah gangguan muskuloskeletal, low back pain, dehidrasi, carpal tunner syndrome, dermatitis kontak iritan dan kelelahan pada mata. Resiko kecelakaan kerja yang dapat timbul berupa tangan tertusuk jarum mesin jahit, tangan tersengat listrik dari mesin jahit dan terjatuh dari kursi. Upaya yang harus dilakukan dalam tahap ini adalah pemakaian alat pelindung diri berupa masker, penutup kepala, penutup telinga, dan fasilitas seperti kipas angin atau exhaust fan untuk memperbaiki sirkulasi udara, lampu untuk penerangan yang cukup dan penyedia sarana air minum. Alat pelindung diri yang di gunakan adalah masker dan penutup kepala yang terbuat dari kain, namun sebagian kecil pekerja tidak menggunakan masker. Sarana yang disediakan adalah exhaust fan diameter 30 cm sebanyak 10 buah setiap lantai, kipas angin diameter 30 cm sebanyak 10 buah setiap lantai, dan penyediaan sarana air minum sebanyak 2 buah setiap lantai. Selain itu terdapat standar operasional mesin ada dan tertempel pada mesin dan terdapat aturan penjahitan merk pakaian.

17

Gambar 8. Posisi Pekerja bagian proses sewing


9. Proses Finishing dengan mesin kebut

Proses finishing dengan mesin kebut oleh 1 pekerja. Setelah pakaian selesai dijahit, kemudian dilakukan pembersihan baju dari sisa-sisa benang dengan menggunakan mesin kebut, yaitu berupa kotak dengan ukuran 75 x 100 cm. Mesin tersebut dapat menarik sisa debu dan benang. Tinggi meja terukur 110 cm, dimana standar yang harusnya digunakan pada pekerja wanita berdiri adalah setinggi 80-100 cm. Pakaian dimasukkan ke dalam mesin dan ditahan oleh kedua tangan pekerja tersebut. Mesin kebut menghasilkan bising sehingga pekerja dilengkapi dengan alat penutup telinga. Bahaya potensial fisika berupa bising, vibrasi dan listrik dari mesin kebut, debu kain alami dan sintetik. Bahaya potensial psikologi dapat berupa kebosanan karena jam kerja yang lama tanpa ganti shify. Gangguan kesehatan yang dapat timbul berupa gangguan muskuloskeletal, dehidrasi, low back pain, dan gangguan penglihatan berupa penurunan visus dan kelelahan mata. Resiko kecelakaan kerja yang ada berupa tangan tersetrum listrik mesin kebut, dan tangan tertusuk jarum.

18

Gambar 9. Pekerja mesin kebut Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa tangan melakukan gerakan repetitif dengan posisi terangkat. Bahaya potensial ergonomi berupa posisi berdiri lama, gerakan yang repetitif, dan posisi tangan terangkat 900. Tinggi meja terukur 110 cm, dimana standar yang harusnya digunakan pada pekerja wanita berdiri adalah setinggi 80-100 cm. Ukuran meja yang terlalu tinggi ini kurang ergonomis sehingga dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan kelelahan dan gangguan kesehatan. Upaya yang harusnya dilakukan dalam tahap ini adalah pelindung diri berupa masker, penutup kepala, penutup telinga, serta sarung tangan dan fasilitas seperti kipas angin atau exhaust fan untuk memperbaiki sirkulasi udara, lampu untuk penerangan yang cukup dan penyediaan sarana air minum. Sarana yang disediakan berupa exhaust fan diameter 30 cm sebanyak 10 buah setiap lantai, kipas angin dengan diameter 30 cm sebanyak 10 buah setiap lantai, penyediaan sarana air minum sebanyak 2 buah setiap lantai. Terdapat standar operasional untuk mengoperasikan mesin kebut.
10. Quality Control Pakaian Jadi

Proses Quality control pakaian jadi sebanyak 2 pekerja. Sebelum pengiriman beberapa kardus akan diambil secara random untuk dilakukan pengecekan ulang. Dibagian ini dilakukan gerakan repetitif tangan memegang dan memeriksa pakaian, posisi berdiri lama, posisi kepala dan punggung membungkuk lama. Bahaya potensial fisika berupa pencahayaan dan debu kain alami dan sintetik. Bahaya potensial ergonomi berupa gerakan repetitif tangan memegang dan
19

memeriksa pakaian, posisi berdiri lama, posisi kepala dan punggung membungkuk lama. Dari segi psikologi, bahaya potensial yang ada berupa kebosanan karena jam kerja yang lama tanpa ganti shift dan stres yang mungkin timbul. Gangguan kesehatan yang mungkin timbul berupa gangguan muskuloskeletal, dehidrasi, low back pain dan upper back pain, varises tungkai, dan keluhan otot mata. Tidak ada resiko kecelakaan kerja yang ada pada tahap ini. Upaya yang harusnya dilakukan dalam tahap ini adalah pemakaian alat pelindung diri berupa maker, penutup kepala, dan fasilitas seperti kipas angin atau exhaust fan untuk memperbaiki sirkulasi udara, lampu untuk penerangan yang cukup dan penyediaan sarana air minum. Hanya sebagian pekerja yang menggunakan masker dan penutup kepala. Sarana yang disediakan berupa exhaust fan diameter 30 cm sebanyak 10 buah setiap lantai, kipas angin dengan diameter 30 cm sebanyak 10 buah setiap lantai, penyediaan sarana air minum sebanyak 2 buah setiap lantai. Terdapat checklist untuk menilai dalam proses quality control.

Gambar 10. Posisi pekerja pada bagian Quality Control pakaian

11. Proses Ironing

Proses ironing dilakukan dengan setrika listrik. Sarana yang digunakan adalah meja setrika ukuran 60 x 100 cm dengan jarak antar pekerja kurang lebih 1 meter. Proses ironing pakaian jadi terdiri dari 8 pekerja. Menggunakan bahan kimia berupa etanol dan pelarut benzene sebagai pembersih. Pada bagian ini terjadi gerakan
20

repetitif menarik dan mendorong lengan saat menyetrika, posisi berdiri lama, posisi membungkuk lama, posisi kepala menunduk lama, dan ruang gerak yang sempit. Bahaya potensial fisika adalah suhu panas, sirkulasi udara terbatas, listrik, debu kain alami dan sintetik, dan kelembapan. Bahaya potensial kimia berupa etanol dan pelarut benzene sebagai pembersih. Bahaya potensial ergonomi adalah gerakan repetitif menarik dan mendorong lengan saat menyetrika, posisi berdiri lama, posisi membungkuk lama, posisi kepala menunduk lama, dan ruang gerak yang sempit. Dari segi psikologi, bahaya potensial yang ada adalah kebosanan karena jam kerja yang lama tanpa ganti shift, dan stres. Gangguan kesehatan yang mungkin terjadi adalah gangguan muskuloskeletal, dehidrasi, tension type headache, dan low back pain. Risiko kecelakaan kerja yang mungkin terjadi adalah tangan terkena luka bakar akibat setrika listrik. Upaya yang harusnya dilakukan pada tahap ini adalah pemakaian alat pelindung diri berupa masker, penutup kepala, serta sarung tangan kain dan fasilitas seperti kipas angin atau exhaust fan untuk memperbaiki sirkulasi udara, lampu untuk penerangan yang cukup dan penyediaan sarana air minum. Alat pelindung diri yang digunakan adalah sarung tangan dan masker kain, semua pekerja menggunakan APD ini. Sarana yang disediakan adalah lampu, exhaust fan diameter 30 cm sebanyak 10 buah setiap lantai, kipas angin dengan diameter 30 cm sebanyak 10 buah setiap lantai, penyediaan sarana air minum sebanyak 2 buah setiap lantai. Terdapat standar operasional dalam proses ironing.

Gambar 11. Posisi Pekerja pada Proses Ironing


21

12. Proses Packing

Proses packing, terdiri dari 8 pekerja. Pakaian yang telah disetrika kemudian dilipat dan dimasukkan kedalam polybag, kemudian pakaian yang telah dibungkus dimasukkan kedalam kardus. Dibagian ini terjadi gerakan repetitif memasukan pakaian kedalam plastik, gerakan repetitif membungkuk saat memasukan pakaian yang sudah terkemas ke dalam kardus, posisi berdiri lama, gerakan repetitif mengangkat beban hasil produksi dari membungkuk sampai berdiri. . Bahaya potensial fisika meliputi panas dan debu kain sintetik dan alami. Bahaya potensial ergonomi meliputi gerakan repetitif memasukan pakaian kedalam plastik, gerakan repetitif membungkuk saat memasukan pakaian yang sudah terkemas ke dalam kardus, posisi berdiri lama, gerakan repetitif mengangkat beban hasil produksi dari membungkuk sampai berdiri. Bahaya potensial psikologi yang dapat timbul berupa kebosanan karena jam kerja yang lama tanpa ganti shift, dan stres sebagai bahaya potensial psikologi. Gangguan kesehatan yang dapat timbul adalah gangguan muskuloskeletal, seperti low back pain dan upper back pain, dan dermatitis kontak iritan. Risiko kecelakaan kerja yang dapat timbul adalah terjatuh saat mengangkat dan memindahkan beban. Upaya yang harusnya dilakukan pada tahap ini adalah pemakaian alat pelindung diri berupa masker kain dan fasilitas seperti kipas angin atau exhaust fan untuk memperbaiki sirkulasi udara, lampu untuk penerangan yang cukup dan penyediaan sarana air minum. Alat pelindung diri yang disediakan adalah masker kain. Sarana yang disediakan adalah lampu, exhaust fan, kipas angin, dan penyediaan sarana air minum. Terdapat aturan pelipatan dan tampilan produk dan aturan alur barang produksi setelah packing.

22

Gambar 12. Posisi Pekerja pada saat Proses Packing

Inspeksi Bahan

Proses pembuatan pola

Cutting

Quality Contol pola

Proses Sewing

Proses Pembuatan Interlining

Proses pembuata n manset

Proses Matching & numberin g

Finishing

Quality control pakaian jadi

Proses Ironing

Packing

2.4. Program Kesehatan dan Keselamatan Kerja di PT BBI II 2.4.1. Program kesehatan Kerja

23

Perusahaan memiliki sebuah klinik yang terletak di dalam pabrik. Klinik perusahaan memberikan pelayanan mulai dari hari senin, rabu dan jumat. PT. BBI menyediakan sebuah poliklinik di dalam lokasi yang berada di lantai 2. Beranggotakan 1 orang perawat untuk menangani semua jenis penyakit baik yang bersifat biologis maupun fisik (kecelakaan) pada seluruh karyawan PT. BBI. Dibantu oleh 3 orang yang bertugas sebagai petugas P3K. Ketiga orang ini bukanlah orang yang berlatar belakang pendidikan medis, hanya karyawan biasa yang diberi pelatihan khusus oleh perawat untuk melakukan pertolongan pertama bagi luka-luka akibat kecelakaan kerja. Klinik ini melayani pengobatan biasa dan kecelakaan kerja kepada para pekerja. Pelayanan dilakukan selama jam kerja. Diluar jam kerja poliklinik, pelayanan kesehatan bagi pekerja hanya berupa penyediaan obat-obatan simptomatik yang dipegang oleh line manager . Bila diperlukan tatalaksana lanjutan kecelakaan kerja, pekerjaan dirujuk ke RS dengan surat pengantar. Perusahaan bekerjasama dengan RS Mediros dan RS St.Carolus sehingga jika pekerja berobat ke kedua rumah sakit tersebut, biaya pengobatan pekerja akan di tanggung oleh perusahaan sesuai dengan golongan/pangkat. Sementara jika pasien dibawa ke RS lain seperti RS Persahabatan yang letaknya tidak jauh dari pabrik maka penggantian biaya diberlakukan melalui sistem reimbursment yaitu biaya di tanggung dahulu oleh karyawan, yang kemudian diganti oleh perusahaan. Untuk kasus gawat darurat yang terjadi di pabrik, pertama-tama keadaan umum pasien pasien distabilkan terlebih dahulu kemudian dirujuk ke rumah sakit rujukan.

Gambar 13. Kondisi Klinik tempat Perawatan untuk pekerja Di klinik tersebut terdapat data-data penyakit dan data jumlah kunjungan pekerjaa ke poliklinik serta data kecelakaan kerja. Klinik perusahaan berukuran 2x4 m
24

dan dijalankan oleh 1 orang perawat yang belum pernah mendapatkan pelatihan mengenai kesehatan kerja sebelumnya. Program klinik perusahaan meliputi juga pemeriksaan kesehatan setiap enam bulan berupa pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan darah rutin dan kimia darah serta pemeriksaan penunjang lain seperti rontgent thoraks, dan pemeriksaan elektrokardiografi. Pemeriksaan kesehatan telinga dengan alat khusus (audiometri dan otoskop) tidak dilakukan. Sedangkan untuk kotak P3K, tersebar di berbagai macam lokasi yaitu di setiap tempat proses produksi mulai dari proses inspeksi bahan sampai proses packing untuk mempermudah pencapaian bila kecelakaan kerja terjadi.

Gambar 14. Kotak P3K yang terdapat disetiap ruangan produksi Salah satu kekurangan yang ditemukan adalah perusahaan belum memiliki data penyakit tersering yang terjadi di perusahaan. Di samping itu, tidak dapat sistem pelaporan kesehatan pekerja, yang ada hanyalah laporan jumlah kunjungan pekerja ke klinik perusahaan. Asuransi kesehatan juga tidak disediakan oleh pihak perusahaan bagi para pekerjanya.selain itu, program-program kesehatan kerja belum dilaksanakan oleh perusahaan. Kantin perusahaan ada dua buah dengan ukuran masing 4x5 m. Namun untuk makan siang pekerja perusahaan menggunakan sistem katering yang di bayar oleh perusahaan. Menu pekerja tergantung pihak katering yang berupa makanan pokok. Untuk pekerja yang lembur tidak mendapatkan makanan tambahan. Untuk air minum pekerja disediakan dispenser di beberapa tempat.

25

Gambar 15. Menu Makanan para Pegawai Perusahaan 2.4.2. Sanitasi dan Lingkungan PT BBI merupakan suatu kompleks bangunan yang terdiri dari 1 bangunan utama, 1 bngunan tempat produksi, dan 1 gudang penyimpanan yang terpisah dari 2 bangunan sebelumnya (dipisahkan oleh jalan umum). Pada bangunan utama terdapat kantor yang mengurusi administrasi dan marketing. Factory outlet, dan tempat ibadah. Bangunan utama ini cukup tertata rapi dan bersih serta sebagian besar ruangan menggunakan air conditioner. Sementara bangunan tempat produksi merupakan bangunan lantai 2 di mana selain terdapat ruangan tempat berlangsungnya proses produksi, juga terdapat klinik (di lantai 2), dan kantin (di lantai 1). Kesan kebersihan pada keseluruhan ruangan tempat produksi cukup baik. Alat-alat produksi di bangunan produksi lantai 1 tertata dengan cukup rapi dengan ruang gerak pekerja yang cukup leluasa (kurang lebih 1 meter). Hal ini disebabkan karena jumlah pekerja di ruangan ini relatif lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah pekerja di lantai 2. Sementara itu, alat-alat produksi di lantai 2 walau tersusun rapi cukup rapi namun jarak antara alat cukup dekat (kurang lebih setengah meter) sehingga ruang gerak pekerja agak terbatas. Lingkungan di sekitar kompleks bangunan utama dan bangunan tempat produksi cukup bersih. Pada halaman sekitar terdapat taman kecil yang bersih. Perusahaan menyediakan fasilitas toilet di kedua lantai produksi, masingmasing terdiri dari dua toilet besar laki-laki dan dua toilet perempuan. Setiap toilet berukuran 1x1,5x2 m. Masing-masing toilet besar terdiri dari 3 ruangan. Toilet tersebut terlihat kurang bersih dan terkesan kurang terurus. Dinding toilet dilapisi keramik. Jumlah kakus dalam toilet laki-laki adalah tiga jamban, dan di dalam toilet perempuan terdapat tiga jamban. Penerangan dan pertukaran udara dalam toilet cukup baik. Lantai dan dinding toilet terlihat bersih, pintu jamban dapat dibuka-tutup dengan
26

mudah. Terdapat satu wastafel di tiap toilet. Data mengenai septic tank tidak diketahui. Di gudang tempat penyimpanan kain, toilet juga berfungsi sebagai tempat untuk mencuci kain untuk melihat apakah kain ini lintur atau tidak. Di gudang, tidak terdapat perbedaan antara toilet laki-laki dan perempuan. Sarana penerangan di dalam ruangan pada siang hari berupa bagian langitlangit yang transparan sehingga memungkinkan masuknya cahaya matahari. Selain itu juga disediakan lampu-lampu jenis lampu putih atau Philips dengan kekuatan 40 watt meskipun hanya dinyalakan sebagian dengan mempertimbangkan efektivitas biaya. Jumlah lampu yang ada cukup banyak, namun penerangan pada malam hari tidak dapat kami nilai karena kunjungan dilakukan pada siang hari. Pertukaran udara di dalam bangunan pabrik secara keseluruhan masih kurang. Langit-langit bangunan pabrik cukup tinggi, namun jumlah exhaust fan masih kurang yaitu 6 buah setiap lantai (diameter 30 cm) untuk ruangan yang berukuran kurang lebih 60 x 20 m 2 . pihak perusahaan juga menyediakan fasilitas air minum melalui dispenser (berisi guci keramik) yang tersedia di beberapa sudut ruangan yang terdiri dari 2 buah di setiap lantai. Galon tampak kurang bersih dan gelas minum bersih yang tersedia sedikit. Sarana penerangan di dalam ruangan pada siang hari berupa bagian langitlangit yang transparan sehingga memungkinkan masuknya cahaya matahari. Selain itu juga disediakan lampu-lampu jenis lampu putih atau Philips dengan kekuatan 40 watt meskipun hanya dinyalakan sebagian dengan mempertimbangkan efektivitas biaya. Jumlah lampu yang ada cukup banyak, namun penerangan pada malam hari tidak dapat kami nilai karena kunjungan dilakukan pada siang hari.

27

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

Di Indonesia, industri garmen masih merupakan andalan industri nasional dalam menghasilkan pendapatan devisa negara. Para pekerja industri garmen mendapat paparan potensi bahaya yang dapat mengganggu kesehatannya.

28

Proses pembuatan garmen dimulai dari pengecekan kain di ruang penyimpanan kain kemudian proses desain dan pembuatan pola, grading dan marker, kemudian dilanjutkan ke proses pembuatan sampel dan pemotongan kemudian dilakukan proses pengepresan. Setelah bagian-bagian yang terpotong tadi dipres maka dilanjutkan ke proses produksi (penjahitan). Proses penjahitan ini dilakukan per piece (bagian) sehingga untuk menjahit satu kemeja terkadang bisa mencapai 100 variasi proses penjahitan. Oleh karena itu, produksi garmen dikenal dengan proses piece to piece. Setelah dijahit maka dilanjutkan proses penyempurnaan/penyelesaian akhir, seperti pemasangan kancing, label, pembersihan dan penyetrikaan dan kemudian dilakukan pengepakan dan pengiriman ke konsumen. Karakteristik pekerjaan di industri garmen umumnya adalah proses material handling (angkat-angkut), posisi kerja duduk dan berdiri, membutuhkan ketelitian cukup tinggi, tingkat pengulangan kerja tinggi pada satu jenis otot, berinteraksi dengan benda tajam seperti jarum, gunting dan pisau potong, terjadi paparan panas di bagian pengepresan dan penyetrikaan dan banyaknya debu-debu serat dan aroma khas kain, terpaan kebisingan, getaran, panas dari mesin jahit dan lainnya. Untuk itu desain tempat kerja di industri garmen akan sangat berpengaruh bagi kinerja karyawan. Hong Kong Christian Industrial Committee pada tahun 2004 melaporkan kondisi lingkungan kerja di 3 industri garmen China yang mensuplai produk garmen untuk retail di Jerman adalah sebagai berikut antara pemilik pabrik dan pekerja kurang memiliki kesadaran tentang keselamatan dan kesehatan kerja. Di ketiga pabrik yang disurvey tidak pernah diadakan latihan untuk penaggulangan kebakaran, para pekerja mengeluhkan kondisi AC (air condition) dan ventilasi yang tidak baik. Penempatan mesin yang terlalu rapat sehingga mengakibatkan peningkatkan suhu di tempat kerja. Para pekerja di bagian penjahitan mengalami alergi kulit dan gangguan pernapasan akibat menjahit beberapa jenis kain yang mempunyai banyak debu kain (floating fiber). Sumber bahaya lain adalah permasalahan ergonomi seperti lamanya waktu kerja
29

(duduk dan berdiri) pengulangan gerakan kerja dan lainnya. Cvetko Z. Trajkovi, dkk, juga menunjukkan sumber-sumber bahaya potensial yang ada di industri garmen terdapat pada ruang pemotongan, penjahitan dan finishing. Kondisi industri garmen di Kamboja juga tidak jauh berbeda seperti dimana ada beberapa permasalahan lingkungan kerja mencakup aspek mekanis, fisik, kimia, biologi dan ergonomi diantaranya adalah penataan tumpukan kain yang kurang baik di gudang penyimpanan sehingga gulungan kain mudah jatuh potensi sakit punggung karena mengangkat dan material handling yang tidak benar, banyaknya debu kain di area pemotongan kain, dan bahaya luka yang serius selama penggunaan mesin potong elektrik tanpa pengaman rantai yang baik. Selain itu, tidak adanya pengamanan mesin dan debu kain di area produksi dan finishing dan bahaya zat kimia dan lantai licin pada area pencucian. Didapatkan pencahayaan yang kurang baik di bagian produksi dan finishing dan permasalahan ergonomi pada posisi kerja duduk dan berdiri. Temperatur yang tinggi pada bagian penyetrikaan dan pencucian dan problem kelistrikan dan kebakaran di seluruh bagian. Sedangkan berdasarkan studi literatur yang dilakukan oleh S Calvin dan B Joseph, menyatakan bahwa beberapa potensi bahaya di industri garmen meliputi kecelakaan pada jari tangan (tertusuk jarum), terbakar dan lainnya. Bahaya fisik seperti paparan kebisingan, panas dan pencahayaan dan lainnya. Sangat sedikit laporan tentang kecelakaan kerja di industri garmen dari berbagai belahan dunia karena kurangnya kesadaran untuk mencatat dan melaporkan terjadinya kecelakaan. Permasalahan ergonomi kerja di industri garmen terutama sangat terkait dengan posisi postur tubuh dan pergelangan tangan yang tidak baik dan harus melakukan pekerjaan yang berulang-ulang pada hanya satu jenis otot sehingga sangat berpotensi menimbulkan cumulative trauma disorder (CTD)/Repetitive Strain Injuries (RSI). Zvonko Gradcevic, dkk. mengungkapkan bahwa operasi kerja di bagian penjahitan adalah dari tangan-mesin-tangan dan sub operasi mesin berdasarkan cara kerja dan bagian yang dijahit menurut struktur produk garmennya. Pekerjaan di bagian jahit membutuhkan koordinasi gerakan postur tubuh dan pergelangan tangan yang baik dan konsentrasi tinggi. Dimana perubahan gerakan ini berlangsung sangat cepat tergantung bagian yang dijahit dan tingginya frekuensi pengulangan gerakan untuk kurun waktu yang lama akan mendorong timbulnya gangguan intrabdominal, mengalami tekanan inersia, tekanan pada pinggang dan tulang punggung dan tengkuk.

30

Setiap pekerjaan mengandung resiko kesehatan dan keselamatan. Demikian juga sistem kerja di industri garmen potensi penyakit dan kecelakaan kerja juga sangat tinggi. Seperti yang dilaporkan oleh David Mahone (CNA Insurance Companies, Chicago IL) diantara penyakit kerja yang terkait dengan kondisi lingkungan kerja yang tidak baik diantaranya adalah 70% operator jahit mengalami sakit punggung, 35% Melaporkan mengalami low back pain secara persisten, 25% menderita akibat Cumulative Trauma Disorder (CTD), 81% mengalami CTD pada pergelangan tangan, 14% mengalami CTDs pada siku 5% of CTDs pada bahu, dan 49% pekerja mengalami nyeri leher.. Oleh karena itu, diperlukan upaya kedokteran okupasi melalui program keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di industri garmen agar angka penyakit akibat kerja dapat diminimalisir. 3.1. Kesehatan dan Keselamatan Kerja Sesuai dengan dasar hukum UU No. 1 tahun 1970 menjelaskan bahwa keselamatan & kesehatan kerja (K3) adalah suatu upaya-upaya praktis untuk memberikan jaminan keselamatan dan meningkatkan derajat kesehatan para pekerja/buruh dengan cara pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja, pengendalian bahaya di tempat kerja, promosi kesehatan, pengobatan dan rehabilitasi. Bidang K3 merupakan studi praktis yang berkaitan dengan implementasi sistem manajemen suatu perusahaan. Didalam UU No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan juga diatur tentang jaminan keselamatan & kesehatan kerja bagi seluruh karyawan yang bekerja. Namun pada kenyataannya masih banyak dijumpai perusahaan-perusahaan yang kurang memperhatikan tentang faktor keselamatan & kesehatan kerja, sehingga sering dijumpai kasus-kasus kecelakaan kerja yang merugikan pihak karyawan. Menurut data yang dituliskan oleh media online pos kota tercatat bahwa kasus kecelakaan kerja masih relatif tinggi, yakni mencapai 88.492 kasus (www.poskota.co.id/05/10/10). Kondisi tersebut tentu saja masih memprihatinkan mengingat hal tersebut bertolak belakang dengan visi & misi pemerintah mengenai jaminan keselamatan & kecelakaan kerja. Kasus-kasus kecelakaan kerja yang sering dijumpai yakni bidang industri, konstruksi, pertambangan, dan sisanya disektor lainnya. Kasus kecelakaan kerja yang masih hangat dibicarakan adalah kasus kecelakaan tabrakan kereta api Senja Utama dengan Kereta Argo yang terjadi pemalang menyebabkan korban meninggal dunia. Akan tetapi yang patut disayangkan mengenai hasil investigasi awal yang menyebutkan
31

bahwa faktor penyebab kecelakaan kerja karena "human error". Sebetulnya masih perlu banyak dikaji dan dilakukan analisa yang detail untuk mengidentifikasi kecelakaan kereta api tersebut dari dari data kronologis, serta data sekunder mengenai sistem kerja, peralatan, teknologi, material-material disekitar, kesehatan, dan lain sebagainya, supaya ditemukan suatu preventif akan solusi untuk dilakukan perbaikan, bukan hanya sekedar menyelesaikan maslah yang saat itu muncul dan hilang (selesai). Belajar tentang K3 tentu saja harus berorientasi pada implementasi/penerapan di area kerja. Secara konseptual Keselamatan & kesehatan kerja muncul berdasarkan konsep "triangle factor"

Implementasi mengenai keselamatan & kesehatan kerja secara praktis dirancang melalui suatu sistem yang dinamakan dengan Sistem Manajemen Keselamatan & Kesehatan Kerja (SM-K3) atau dalam paradigma modern dikenal dengan istilah "HSE / SHE " (Health Safety & Environment). Setiap perusahaan idealnya wajib menerapkan sistem manajemen K3 yang terintegrasi dan sistematis untuk menjamin faktor resiko terhadap keselamatan & kesehatan di lingkungan kerja. Penerapan sistem manajemen K3 dimulai dari: 3.1.1 Pembentukan Komitmen Komitmen merupakan modal utama dalam penerapan K3 secara riil mengenai arti penting keselamatan & kesehatan kerja. Pembentukan komitmen tentang arti pentingnya K3 harus dimulai dari level TOP MANAGEMENT supaya penerapan sistem K3 berjalan efektif dan optimal. Sesuai dengan UU No 1 tahun 1970 dijelaskan bahwa unsur pimpinan (direktur) bertanggungjawab untuk
32

melaksanakan keselamatan & kesehatan kerja. Unsur pimpinan inilah yang nantinya diharapkan mampu membuat kebijakan-kebijakan yang positif tentang K3 dan mampu menggerakan aspek-aspek penunjang/fasiltas sampai dengan karyawankaryawan level bawah untuk menjalankan fungsi K3 untuk mencapai "ZERO ACCIDENT" 3.1.2. Perencanaan Perencanaan disini dimaksudkan sebagai dasar penerapan program kerja K3 yang nantinya akan dilaksanakan secara menyeluruh oleh seluruh karyawan. Dalam menentukan program kerja K3, idealnya komite K3 melakukan assessment di area kerja mengenai maslah-masalah K3 di perusahaan tersebut. Cara mudah biasanya menggunakan teknik.tools berupa HIRARC (High Identification Risk Assessment & Risk Control), yaitu suatu cara/teknik mengidentifikasi potensi-potensi bahaya yang kemungkinan bisa menimbulkan kecelakaan kerja/penyakit kerja dan melakukan langkah penanggulangan sebagai kontrol/preventif. Dapat dilakukan dengan identifikasi potensi, penilaian faktor resiko dan pengendalian faktor resiko. 3.1.3. Pengorganisasian Bentuk komitmen dari pimpinan perusahaan selain melalui kebijakan tertulis, dapat juga memfasilitasi pembentukan komite K3 yang khusus menangani permasalahan K3 yang terdiri dari berbagai wakil dari divisi yang terlibat sesuai dengan kompetensinya masing-masing. Selain itu yang paling penting untuk menggerakan orhganisasi/komite K3 tersebut diperlukan seorang "ahli K3" yaitu seseorang yang berkompeten di bidang K3 yang telah tersertifikasi sebagai ahli K3. Mengapa demikian? karena dala penerapan program kerja serta aktivitas-aktivitas K3 tidak bisa lepas dari visi dan misi ahli K3 tersebut yang mampu menggerakan jalannya oranisasi kerja. Efektivitas komite K3 tentu saja diperhitungkan dari penerapan program-program K3 yang tersistematis dan mendapatkan support dari seluruh level karyawan. 3.1.4. Penerapan Penerapan K3 tentu saja berkaitan dengan pelaksanaan aktivitas programprogram kerja K3 secara optimal. Harus disertai evidence serta bukti-bukti lapangan mengenai penerpan program kerja tersebut. Contoh program kerja yang
33

bisa dilakukan yaitu semacam safety campaign, safety sign, safety training, safety talk, safety for visitor, safety for contractor, simulasi & evakuasi, safety alert, dll. 3.1.5. Pengendalian Setiap penerapan program-program K3 harus dilakukan pelaporan sebagai bukti evidence sehingga dapat dipertanggungjawabkan dan dapat dilakukan perbaikan secara bertahap. Pelaporan K3 harus disusun secara rapi sebagai penunjang administrasi K3 yang terintegrasi. 3.1.6. Evaluasi Proses evaluasi memang sangat diperlukan sebagai bentuk pengukuran efektivitas program/penerapan K3 sudah sedemikian efektif atau belum. Secara praktis biasanya dibentuk suati tim auditor untuk melakukan audit dan verifikasi mengenai penerapan yang dijalankan mengenai sistem manajemen K3.

Selamat berimplementasi untuk "membangun sistem manajemen K3 yang terintegrasi" 3.2 Tujuan K3 3.2.1 Tujuan Pencegahan Kecelakaan Kerja Di Dasarkan Pada 3 Hal :
1.

Perikemanusian. Pekerja bukan lah mesin yang dapat di perlukan sebagai benda mati. Sebagai

sesama manusia, pekerja juga menuntut untuk di perlakukan sebagai manusia yang utuh. Kecelakaan pd pekerja dpt mengakibatkan kesdihan bahkan kematian. Dampak dari kecelakaan kerja akan lebih lanjut dirsakan bila pekerja yg

34

bersangkutan adalah kepala keluarga yg bekerja untuk menafkahi keluargannya. Perasaan kehilangan bertambah dengan memberatnya beban ekonomi keluarga. 2. Mengurangi Ongkos Produksi Berkurang kecelakaan kerja akan mengurangi ongkos produksi yang disebabkan oleh biaya langsung & biaya tidak langsung dr suatu kecacatan. 3. Kelangsungan Produksi Kesanggupan perusahaan untuk berproduksi secara terus menerus

mrupakan keuntungan tersendiri bagi perusahaan. Bagaimanapun ringannya suatu kecelakaan, pada hakekatnya mengakibatkan hilangnya waktu produksi yg besarnya sesuai dengan derajat cacat yg terjadi. 3.2.2 Tujuan Umum dan Khusus A. Tujuan Umum K3 sesuai GDN UU No.1 th 1970 adalah : 1. Melindungi tenaga kerja di tempat kerja agar selalu terjamin keselamatan dan kesehatannya sehingga dpt diwujudkan peningkatan produksi dan produktifitas kerja. 2. Melindungi setiap orang lain yg berada di tempat kerja yg selalu dlm keadaan selamat dan sehat 3. Melinduungi bahan dan peralatan produksi agar di capai secara aman dan efisien. B. Tujuan khusus: 1. Mencegah atau mengurangi kecelakaan kerja kebakaran, peledakan dan PAK. 2. Mengamankam mesin, instalasi, pesawat, alat, bahan dan hasil produksi.
3. Menciptakan lingkungan kerja yang aman, nyaman, sehat dan penyesuaian

antara pekerjaan dengan manusia atau antara manusia dengan pekerjaan. 3.3 Ruang Lingkup Kesehatan dan Keselamatan Kerja Kesehatan Kerja meliputi berbagai upaya penyerasian antara pekerja dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya baik fisik maupun psikis dalam hal cara/metode kerja, proses kerja dan kondisi yang bertujuan untuk : 1.Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan kerja masyarakat pekerja di semua lapangan kerja setinggi-tingginya baik fisik, mental maupun kesejahteraan sosialnya.

35

2.Mencegah timbulnya gangguan kesehatan pada masyarakat pekerja yang diakibatkan oleh keadaan/kondisi lingkungan kerjanya. 3.Memberikan pekerjaan dan perlindungan bagi pekerja di dalam pekerjaannya dari kemungkinan bahaya yang disebabkan oleh faktor-faktor yang membahayakan kesehatan. 4.Menempatkan dan memelihara pekerja disuatu lingkungan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis pekerjanya. 3.3.1 Kapasitas Kerja, Beban Kerja, dan Lingkungan Kerja di Indonesia Kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja merupakan tiga komponen utama dalam kesehatan kerja, dimana hubungan interaktif dan serasi antara ketiga komponen tersebut akan menghasilkan kesehatan kerja yang baik dan optimal. Kapasitas kerja yang baik seperti status kesehatan kerja dan gizi kerja yang baik serta kemampuan fisik yang prima diperlukan agar seorang pekerja dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Kondisi atau tingkat kesehatan pekerja sebagai (modal) awal seseorang untuk melakukan pekerjaan harus pula mendapat perhatian. Kondisi awal seseorang untuk bekerja dapat depengaruhi oleh kondisi tempat kerja, gizi kerja dan lain-lain. Beban kerja meliputi beban kerja fisik maupun mental. Akibat beban kerja yang terlalu berat atau kemampuan fisik yang terlalu lemah dapat mengakibatkan seorang pekerja menderita gangguan atau penyakit akibat kerja. Kondisi lingkungan kerja (misalnya panas, bising debu, zat-zat kimia dan lain-lain) dapat merupakan beban tambahan terhadap pekerja. Beban-beban tambahan tersebut secara sendiri-sendiri atau bersama-sama dapat menimbulkan gangguan atau penyakit akibat kerja. Gangguan kesehatan pada pekerja dapat disebabkan oleh faktor yang berhubungan dengan pekerjaan maupun yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa status kesehatan masyarakat pekerja dipengaruhi tidak hanya oleh bahaya kesehatan ditempat kerja dan lingkungan kerja tetapi juga oleh faktor-faktor pelayanan kesehatan kerja, perilaku kerja serta faktor lainnya. 3.4 Pentingnya Kesehatan dan Keselamatan Kerja
36

Tidak jarang para karyawan dihadapkan pada persoalan di keluarga dan perusahaan. Tekanan persoalan dapat berupa aspek emosional dan fisik, terbatasnya biaya pemeliharaan kesehatan, dan berlanjut terjadinya penurunan produktivitas karyawan. Pihak manajemen seharusnya mampu mengakomodasi persoalan karyawan sejauh terkait dengan kepentingan perusahaan. Pertimbangannya adalah bahwa unsur kesehatan dan karyawan memegang peranan penting dalam peningkatan mutu kerja karyawan. Semakin cukup jumlah dan kualitas fasilitas kesehatan dan keamanan kerja maka semakin tinggi pula mutu kerja karyawan. Dengan demikian perusahaan akan semakin diuntungkan dalam upaya pengembangan bisnisnya. Setiap perusahaan sewajarnya memiliki strategi memperkecil dan bahkan menghilangkan kejadian kecelakaan kerja di kalangan karyawan sesuai dengan kondisi perusahaan. Strategi yang perlu diterapkan perusahaan meliputi : a. Pihak manajemen perlu menetapkan bentuk perlindungan bagi karyawan dalam menghadapi kejadian kecelakaan kerja. Misalnya karena alasan finansial, kesadaran karyawan tentang keselamatan kerja dan tanggung jawab perusahaan dan karyawan maka perusahaan bisa jadi memiliki tingkat perlindungan yang minimum bahkan maksimum. b. Pihak manajemen dapat menentukan apakah peraturan tentang keselamatan kerja bersifat formal ataukah informal. Secara formal dimaksudkan setiap aturan dinyatakan secara tertulis, dilaksanakan dan dikontrol sesuai dengan aturan. Sementara secara informal dinyatakan tidak tertulis atau konvensi dan dilakukan melalui pelatihan dan kesepakatan-kesepakatan. c. Pihak manajemen perlu proaktif dan reaktif dalam pengembangan prosedur dan rencana tentang keselamatan dan kesehatan kerja karyawan. Proaktif berarti pihak manajemen perlu memperbaiki terus menerus prosedur dan rencana sesuai kebutuhan perusahaan dan karyawan. Sementara arti reaktif, pihak manajemen perlu segera mengatasi masalah keselamatan dan kesehatan kerja setelah suatu kejadian timbul. d. Pihak manajemen dapat menggunakan tingkat derajad keselamatan dan kesehatan kerja yang rendah sebagai faktor promosi perusahaan ke khalayak luas. Artinya perusahaan sangat peduli dengan keselamatan dan kesehatan kerja. Sesuai dengan strategi di atas maka program yang diterapkan untuk menterjemahkan strategi itu diantara perusahaan biasanya dengan pendekatan yang
37

berbeda. Hal ini sangat bergantung pada kondisi perusahaan. Secara umum program memperkecil dan menghilangkan kejadian kecelakaan kerja dapat dikelompokkan : a. Telaahan Personal Telaahan personal dimaksudkan untuk menentukan karakteristik karyawan tertentu yang diperkirakan potensial berhubungan dengan kejadian keselamatan kerja: (1) faktor usia; apakah karyawan yang berusia lebih tua cenderung lebih lebih aman dibanding yang lebih muda ataukah sebaliknya, (2) ciri-ciri fisik karyawan seperti potensi pendengaran dan penglihatan cenderung berhubungan derajad kecelakaan karyawan yang kritis, dan (3) tingkat pengetahuan dan kesadaran karyawan tentang pentingnya pencegahan dan penyelamatan dari kecelakaan kerja. Dengan mengetahui ciri-ciri personal itu maka perusahaan dapat memprediksi siapa saja karyawan yang potensial untuk mengalami kecelakaan kerja. Lalu sejak dini perusahaan dapat menyiapkan upaya-upaya pencegahannya. b. Sistem Insentif Insentif yang diberikan kepada karyawan dapat berupa uang dan bahkan karir. Dalam bentuk uang dapat dilakukan melalui kompetisi antarunit tentang keselamatan kerja paling rendah dalam kurun waktu tertentu, misalnya selama enam bulan sekali. Siapa yang mampu menekan kecelakaan kerja sampai titik terendah akan diberikan penghargaan. Bentuk lain adalah berupa peluang karir bagi para karyawan yang mampu menekan kecelakaan kerja bagi dirinya atau bagi kelompok karyawan di unitnya. c. Pelatihan Keselamatan Kerja Pelatihan keselamatan kerja bagi karyawan biasa dilakukan oleh perusahaan. Fokus pelatihan umumnya pada segi-segi bahaya atau resiko dari pekerjaan, aturan dan peraturan keselamatan kerja, dan perilaku kerja yang aman dan berbahaya. d. Peraturan Keselamatan Kerja Perusahaan perlu memiliki semacam panduan yang berisi peraturan dan aturan yang menyangkut apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan oleh karyawan di tempat kerja. Isinya harus spesifik yang memberi petunjuk bagaimana suatu pekerjaan dilakukan dengan hati-hati untuk mencapai keselamatan kerja maksimum. Sekaligus dijelaskan beberapa kelalaian kerja yang dapat menimbulkan bahaya individu dan
38

kelompok karyawan serta tempat kerja. Dalam pelaksanaannya perlu dilakukan melalui pemantauan, penumbuhan kedisiplinan dan tindakan tegas kepada karyawan yang cenderung melakukan kelalaian berulang-ulang. Untuk menerapkan strategi dan program di atas maka ada beberapa pendekatan sistematis yang dilakukan secara terintegrasi agar manajemen program kesehatan dan keselamatan kerja berjalan efektif berikut ini. A. Pendekatan Keorganisasian 1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. 1. 2. 3. Merancang pekerjaan, Mengembangkan dan melaksanakan kebijakan program, Menggunakan komisi kesehatan dan keselamatan kerja, Mengkoordinasi investigasi kecelakaan. Merancang kerja dan peralatan kerja, Memeriksa peralatan kerja, Menerapkan prinsip-prinsip ergonomi. Memperkuat sikap dan motivasi tentang kesehatan dan keselamatan kerja, Menyediakan pelatihan kesehatan dan keselamatan kerja, Memberikan penghargaan kepada karyawan dalam bentuk program insentif.

B. Pendekatan Teknis

C. Pendekatan Individu

3.5 Konsep Dasar Kesehatan dan Keselamatan Kerja K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapan guna mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja. Menurut American Society of safety and Engineering (ASSE) K3 diartikan sebagai bidang kegiatan yang ditujukan untuk mencegah semua jenis kecelakaan yang ada kaitannya dengan lingkungan dan situasi kerja. Secara umum keselamatan kerja dapat dikatakan sebagai ilmu dan penerapannya yang berkaitan dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungan kerja serta cara melakukan pekerjaan guna menjamin keselamatan tenaga kerja dan aset perusahaan agar terhindar dari kecelakaan dan kerugian lainnya. Keselamatan kerja juga meliputi penyediaan

39

APD (Alat Pelindung Diri), perawatan mesin dan pengaturan jam kerja yang manusiawi. Dalam K3 juga dikenal istilah Kesehatan Kerja, yaitu : suatu ilmu yang penerapannya untuk meningkatkan kulitas hidup tenaga kerja melalui peningkatan kesehatan, pencegahan Penyakit Akibat Kerja meliputi pemeriksaan kesehatan, pengobatan dan pemberian makan dan minum bergizi. Istilah lainnya adalah Ergonomi yang merupakan keilmuan dan aplikasinya dalam hal sistem dan desain kerja, keserasian manusia dan pekerjaannya, pencegahan kelelahan guna tercapainya pelakasanaan pekerjaan secara baik. Dalam pelaksanaannya K3 adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat dan bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan dan PAK (Penyakit Akibat Kerja) yang pada akhirnya dapat meningkatkan sistem dan produktifitas kerja. Secara teoritis istilah-istilah bahaya yang sering ditemui dalam lingkungan kerja meliputi beberapa hal sebagai berikut :

HAZARD (Sumber Bahaya), Suatu keadaan yang memungkinkan / dapat menimbulkan kecelakaan, penyakit, kerusakan atau menghambat kemampuan pekerja yang ada

DANGER (Tingkat Bahaya), Peluang bahaya sudah tampak (kondisi bahaya sudah ada tetapi dapat dicegah dengan berbagai tindakan prventif. RISK (Resiko) , prediksi tingkat keparahan bila terjadi bahaya dalam siklus tertentu INCIDENT (Kejadian Bahaya), Munculnya kejadian yang bahaya (kejadian yang tidak diinginkan, yang dapat/telah mengadakan kontak dengan sumber energi yang melebihi ambang batas badan/struktur

ACCIDENT (Kecelakaan), Kejadian bahaya yang disertai adanya korban dan atau kerugian (manusia/benda)

Dalam K3 ada tiga norma yang selalu harus dipahami, yaitu : 1. 2. 3. Aturan berkaitan dengan keselamatan dan kesehtan kerja Di terapkan untuk melindungi tenaga kerja Resiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja Sasaran dari K3 adalah :
40

1. 2. 3.

Menjamin keselamatan operator dan orang lain. Menjamin penggunaan peralatan aman dioperasikan. menjamin proses produksi aman dan lancar. Tapi dalam pelaksaannya banyak ditemui habatan dalam penerapan K3 dalam dunia pekerja, hal ini terjadi karena beberapa faktor yaitu : A. Dari sisi masyarakat pekerja Tuntutan pekerja masih pada kebutuhan dasar (upah dan tunjangan K3 belum menjadi tuntutan pekerja kesehatan/kesejahtraan) B. Dari sisi pengusaha Pengusaha lebih menekankan penghematan biaya produksi dan meningkatkan efisiensi untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Itulah keuntungan apabila kita mengutakan keselamatan kerja baik di lingkungan keluarga maupun dilingkungan perusahaan. Dalam memaknai setiap aspek keselamatan berarti kita ikut menjaga keselamatan kita dan orang lain untuk mencapai makna keselamatan secara menyeluruh. 3.6 Kecelakaan Kerja 3.6.1 Definisi Kecelakaan Kerja Berikut ini adalah beberapa defenisi kecelakaan dan kecelakaan Kerja menurut beberapa ahli :

Defenisi Kecelakaan

Kerja menurut

Peraturan

Menteri Tenaga

Kerja

(Permenaker) Nomor: 03/Men/1998 adalah harta benda.

suatu kejadian yang tidak

dikehendaki dan tidak diduga semula yang dapat menimbulkan korban jiwa dan Menurut Foressman Kecelakaan Kerja adalah terjadinya suatu kejadian akibat kontak antara ernegi yang berlebihan (agent) secara acut dengan tubuh yang menyebabkan kerusakan jaringan/organ atau fungsi faali.

Sedangkan defenisi yang dikemukakan oleh Frank E. Bird Jr. kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak dikehendaki, dapat mengakibatkan kerugian jiwa serta kerusakan harta benda dan biasanya terjadi sebagai akibat dari adanya kontak dengan sumber energi yang melebihi ambang batas atau struktur.
41

Kecelakaan kerja (accindent) adalah suatu kejadian atau peristiwa yang tidak di inginkan yang merugikan terhadap manusia, merusakan harta benda atau kerugian proses (Sugandi, 2003)

Word Health Organization (WHO) mendefinisikan kecelakaan sebagai suatu kejadian yang tidak dapat dipersiapkan penanggulangan sebelumnya, sehingga menghasilkan cidera yang riil

Secara umum Kecelakaan kerja di bagi menjadi dua golongan :

Kecelakaan industri (Industrial Accident) yaitu kecelakaan yang terjadi di tempat kerja karena adanya sumber bahaya atau bahaya kerja. Kecelakaan dalam perjalanan (Community Accident) yaitu kecelakaan yang terjadi di luar tempat kerja yang berkaitan dengan adanya hubungan kerja.

3.6.2 Beberapa Teori Tentang Penyebab Kecelakaan Kerja Banyak Faktor yang dapat menjadinya sebabnya kecelakaan kerja. Ada faktor yang merupakan unsur tersendiri dan beberapa diantaranya adalah faktor yang menjadi unsur penyebab bersama-sama. Beberapa teori yang banyak berkembang adalah :
1.

Teori kebetulan murni (pure chance

theory) mengatakan bahwa

kecelakaan terjadi atas Kehendak Tuhan, secara alami dan kebetulan saja kejadiannya, sehingga tak ada pola yang jelas dalam rangkaian peristiwanya.
2.

Teori Kecenderungan (Accident Prone Theory), teori ini mengatakan

pekerja tertentu lebih sering tertimpa kecelakaan, karena sifat-sifat pribadinya yang memang cenderung untuk mengalami kecelakaan.
3.

Teori tiga faktor Utama (There Main Factor Theory), mengatakan

bahwa penyebab kecelakaan adalah peralatan, lingkungan kerja, dan pekerja itu sendiri.
4.

Teori Dua Factor (Two Factor Theory), mengatakan bahwa

kecelakaan kerja disebabkan oleh kondisi berbahaya (unsafe condition) dan perbuatan berbahaya (unsafe action)
5.

Teori Faktor manusia (human factor theory), menekankan bahwa pada

akhirnya semua kecelakaan kerja, langsung dan tdk langsung disebabkan kesalahan manusia.

42

6.

Teori

Domino

(domino

sequence

theory).

Thompkin

(1982)

memberikan gambaran di dalam teori domino Henirich, yang intinya adalah suatu kecelakaan timbul akibat suatu sebab yang sifatnya sebab akibat. Lebih lanjut, teori mengenai terjadinya kecelakaan kerja dapat di upayakan pencegahannya dengan mekanisme terjadinya kecelakaan kerja di uraikan domino seguence berupa berikut ini :
1.

Ancestry and social enviroment, yakni pada orang yang keras kepala

mempunyai sifat tidak baik yg diperoleh karena faktor keturunan, pengaruh lingkungan & pendidikan, mengakibbat seseorang bekerja kurang hati-hati & banyak membuat kesalahan.
2.

Fault of person, merupakan rangkaian dari faktor keturunan &

lingkungannya, yang menjurus pada tindakan yang salah dalam melakukan pekerjaan.
3.

Unsafe Act and or mechanical or Physical hazard, tindakan berbahaya

disertai bahaya mekanik dan fisik lain, memudahkan terjadinya rangkaian berikutnya.
4.

Accident, peristiwa kecelakaan yang menimpa pekerja dan umumnya Injury, kecelakaan mengakibatkan cedera/luka ringan maupn berat

disertai oleh berbagai kerugian.


5.

menuju kecacatan dan bahkan kematian. Dalam banyak literatur beberapa ahli menjabarkan bahwa meningkatkan kecelakaan kerja juga menggambarkan tentang kemerosotan suatu bangsa, berikut adalah beberapa indikasi kemunduran suatu bangsa menurut Thomas Lickona : 1. 2.
3.

Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja Penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk Pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan Meningkatnya perilaku yang merusak diri seperti narkoba, sex bebas, Kaburnya pedoman moral baik dan buruk Penurunan etos kerja Rendahnya rasa hormat kepada orangtua dan guru

4. 5. 6. 7.

dan alkohol

43

8. negara 9. 10.

Rendahnya rasa tanggung jawab baik sebagai individu dan warga Ketidakjujuran yang telah membudaya Adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama

Teori analisa kecelakaan dan penyakit akibat kerja :


1. Teori Domino (domino seguence theory). Thompkin (1982) memberikan

gambaran di dalam teori domino Henirich, yang intinya adalah :

2. Teori Faktor Manusia (Human Factor Theory), Teori ini menganggap bahwa semua kejadian kecelakaan di Kesalahan yang dilakukan berupa :
a.

sebabkan oleh manusia (Humam error).

Work over loaded. Yang di maksud Work over loaded di sini adalah

penjumlahan tugas yang harus dilaksanakan, lingkungan kerja, faktor internal (stress, emosi, perilaku) dan faktor eksternal (instruksi tidak jelas, kompensasi)
b.

Reaksi yang tidak tepat (inappropriate respons), i. Sikap mengabaikan standar keselamatan ii. Tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) iii. Mengabaikan petunjuk kerja.

c.

Aktifitas yg tidak tepat (inappropriate activities)


i. Salah dalam menilai besarnya resiko ii. Tidak ada training untuk pekerja

44

3. Teori Accident/incident (Peterson)

Teori ini merupakan pengembangan dari teori human actor : i. Dengan menambahkan faktor ergonomi (ergonomi traps) ii. Salah dalam mengambil keputusan (decision to error)
iii. Kegagalan sistem (system failure) termasuk kebijakan, pelatihan,

inspeksi, koreksi dan standar. 4. Teori Epidemiologi Terjadinya kecelakaan karena ketidak serasian antara: peran tenaga kerja (host), Alat
kerja (agent), Lingkungan kerja (Enviroment).

5. Teori Sistem Teori ini melihat ouput/produk yang di hasilkan oleh berbagai komponen yang dirangkai dalam suatu sistem. Dalam K3 output/produk atau kecelakaan. Komponen yang menghasilkan kecelakaan adalah: tenaga kerja, alat kerja, lingkungan kerja, fasilitas kerja & manajemen. 6. Teori Kombinasi Teori kombinasi merupakan dua ataulebih dari teori 2 di atas. Teori ini di perlukan jika suatu teori tidak cukup untuk menjelaskan suatu kejadian kecelakaan, di harapkan dgn melakukan gabungan beberap teori mejawab mengapa terjadi kecelakaan. 3.6.3 Penyebab Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja
Penyebab Langsung ( Immediate Causes)

Penyebab langsung Kecelakaan Adalah suatu keadaan yang biasanya bisa dilihat dan di rasakan langsung, yang di bagi 2 kelompok:
A. Tindakan-tindakan tidak aman (unsafe acts) yaitu Perbuatan berbahaya dari

dari manusia yang dalam bbrp hal dapat dilatar belakangi antara lain: 1. Cacat tubuh yang tidak kentara (bodilly defect) 2. Keletihan dan kelesuan (fatigiue and boredom) 3. Sikap dan tingkak laku yang tidak aman 4. Pengetahuan.
45

B. Kondisi yang tidak aman (unsafe condition) yaitu keadaan yang akan menyebababkan kecelakaan, terdiri dari: 1. Mesin, peralatan, bahan. 2. Lingkungan 3. Proses pekerjaan 4. Sifat pekerjaan 5. Cara kerja
Penyebab Dasar (Basic causes)

Penyebab Dasar (Basic Causes), terdiri dari 2 faktor yaitu : A. Faktor manusia/personal (personal factor)

Kurang kemampuan fisik, mental dan psikologi Kurangnya /lemahnya pengetahuan dan skill Stres Motivasi yang tidak cukup/salah Faktor fisik yaitu, kebisingan, radiasi, penerangan, iklim dll. Faktor kimia yaitu debu, uap logam, asap, gas dst Faktor biologi yaitu bakteri,virus, parasit, serangga. Ergonomi dan psikososial.

B. Faktor kerja/lingkungan kerja (job work enviroment factor)


3.6.4 Faktor Resiko Kecelakaan Kerja Menurut Henrich faktor penyebab kecelakaan disebabkan oleh faktor Tindakan-tindakan tidak aman (unsafe acts) 80 % dan Kondisi yang tidak aman (unsafe condition) 20%. Menurut Sumamur faktor penyebab kecelakaan disebabkan oleh faktor Tindakan-tindakan tidak aman (unsafe acts) 85 % dan Kondisi yang tidak aman (unsafe condition) 15 %. Menurut Hastuti dan Adiatma faktor penyebab kecelakaan disebabkan oleh faktor Tindakan-tindakan tidak aman (unsafe acts) 85 % dan Kondisi yang tidak aman (unsafe condition) 10% dan faktor alam (act of god) 5%. Menurut Phoon (1988), penyebab kecelakaan sangat banyak, beraneka ragam, dan kompleks. Faktor utama yang menyebabkan kecelakaan adalah: 1. 2. Lingkungan kerja Metode kerja
46

3.

Pekerja sendiri Namun pada akhirnya semua kecelakaan baik langsung maupun tidak langsung, diakibatkan kesalahan manusia. Selalu ada resiko kegagalan (risk of failures) pada SETIAP proses/ aktifitas pekerjaan. Dan saat kecelakaan kerja (work accident) terjadi, seberapapun kecilnya, akan mengakibatkan efek kerugian (loss). Karena itu sebisa mungkin dan sedini mungkin, kecelakaan/ potensi kecelakaan kerja harus dicegah/ dihilangkan, atau setidak-tidaknya dikurangi dampaknya. Kecelakaan disebabkan oleh dua golongan besar penyebab antara lain: 1. Tindak perbuatan manusia yang tidak memenuhi keselamatan (unsafe human acts) 2. Keadaan-keadaan lingkungan yang tidak aman (unsafe conditions) Penanganan masalah keselamatan kerja di dalam sebuah perusahaan harus dilakukan secara serius oleh seluruh komponen pelaku usaha, tidak bisa secara parsial dan diperlakukan sebagai bahasan-bahasan marginal dalam perusahaan. Salah satu bentuk keseriusan itu adalah resourcing, baik itu finansial dan MSDM. Secara umum penyebab kecelakaan di tempat kerja adalah sebagai berikut:
1. Kelelahan (fatigue) 2. Kondisi tempat kerja (enviromental aspects) dan pekerjaan yang tidak aman

(unsafe working condition)


3. Kurangnya penguasaan pekerja terhadap pekerjaan, ditengarai penyebab

awalnya (pre-cause) adalah kurangnya training 4. Karakteristik pekerjaan itu sendiri.


5. Hubungan antara karakter pekerjaan dan kecelakaan kerja menjadi fokus

bahasan yang cukup menarik dan membutuhkan perhatian tersendiri. Kecepatan kerja (paced work), pekerjaan yang dilakukan secara berulang (short-cycle repetitive work), pekerjaan-pekerjaan yang harus diawali dengan pemanasan prosedural, beban kerja (workload), dan lamanya sebuah pekerjaan dilakukan (workhours) adalah beberapa karakteristik pekerjaan yang dimaksud.
6. Penyebab-penyebab di atas bisa terjadi secara tunggal, simultan, maupun

dalam sebuah rangkain sebab-akibat (cause consequences chain). 3.6.5 Kerugian Akibat Kecelakaan Kerja

47

1. Kerusakan: Kerusakan karena kecelakaan kerja antara lain bagian mesin, pesawat alat kerja, bahan, proses, tempat, & lingkungan kerja. 2. Kekacauan Organisasi: Dari kerusakan kecelakaan itu, terjadilah kekacauan dai dalam organisasi dalam proses produksi.
3. Keluhan dan Kesedihan: Orang yang tertimpa kecelakaan itu akan mengeluh

& menderita, sedangkan kelurga & kawan-kawan sekerja akan bersedih.


4. Kelainan dan Cacat: Selain akan mengakibatkan kesedihan hati, kecelakaan

juga akan mengakibatkan luka-luka, kelainan tubuh bahkan cacat.


5. Kematian: Kecelakaan juga akan sangat mungkin merenggut nyawa orang &

berakibat kematian.
6. Kerugian-kerugian tersebut dapat diukur dengan besarnya biaya yang

dikeluarkan bagi terjadinya kecelakaan. Biaya tersebut dibagi menjadi biaya langsung & biaya tersembunyi.
7. Biaya langsung adalah biaya pemberian pertolongan pertama kecelakaan,

pengobatan, perawatan, biaya rumah sakit, biaya angkutan, upah selama tak mampu bekerja, kompensasi cacat & biaya perbaikan alat-alat mesin serta biaya atas kerusakan bahan-bahan. 8. Sedangkan biaya tersembunyi meliputi segala sesuatu yang tidak terlihat pada waktu atau beberapa waktu setelah kecelakaan terjadi. 3.6.6 Pencegahan Kecelakaan Akibat Kerja Kecelakaan-kecelakaan akibat kerja dapat dicegah dengan: 1. Peraturan perundangan, yaitu ketentuan-ketentuan yang diwajibkan mengenai kondisi-kondisi kerja pada umumnya, perencanaan, kontruksi, perwatan dan pemeliharaan, pengwasan, pengujian, dan cara kerja peralatan industri, tugastugas pengusaha dan buruh, latihan, supervisi medis, PPPK, dan pemeriksaan kesehatan. 2. Standarisasi, yaitu penetapan standar-standar resmi, setengah mati atau tak resmi mengenai misalnya kontruksi yang memnuhi syarat-syarat keselamatan jenis-jenis peralatan industri tertentu, praktek-praktek keselamatan & hygiene umum, atau alat-alat perlindungan diri. 3. Pengawasan, yaitu pengawasan tentang dipatuhinya ketentuan-ketentuan perundang-undangan yang diwajibkan.

48

4. Penelitian bersifat teknik, yang meliputi sifat dan ciri-ciri bahan-bahan yang berbahaya, penyelidikan tentang pagar pengaman, pengujian alat-alat perlindungan diri, penelitian tentang pencegahan peledakan gas dan debu, atau penelaahan tentang bahan-bahan dan desain paling tepat untuk tambang-tambang pengangkat dan peralatan pengangkat lainnya. 5. Riset medis, yang meliputi terutama penelitian tentang efek-efek fisiologis dan patologis faktor-faktor lingkungan dan teknologis, dan keadaan-keadaan fisik yang mengakibatkan kecelakaan. 6. Penelitian psikologis, yaitu penyelidikan tentang pola-pola kejiwaan yang menyebabkan terjadinya kecelakaan. 3.7 Hukum Keselamatan dan Kesehatan Kerja Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan instrumen yang memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan hidup, dan ma-syarakat sekitar dari bahaya akibat kecelakaan kerja. Perlindungan tersebut merupakan hak asasi yang wajib dipenuhi oleh perusahaan. K3 bertujuan mencegah, mengurangi, bahkan menihilkan risiko kecelakaan kerja (zero accident). Penerapan konsep ini tidak boleh dianggap sebagai upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang menghabiskan banyak biaya (cost) perusahaan, melainkan harus dianggap sebagai bentuk investasi jangka panjang yang memberi keuntungan yang berlimpah pada masa yang akan datang. Bagaimana K3 dalam perspektif hukum? Ada tiga aspek utama hukum K3 yaitu norma keselamatan, kesehatan kerja, dan kerja nyata. Norma keselamatan kerja merupakan sarana atau alat untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja yang tidak diduga yang disebabkan oleh kelalaian kerja serta lingkungan kerja yang tidak kondusif. Konsep ini diharapkan mampu menihilkan kecelakaan kerja sehingga mencegah terjadinya cacat atau kematian terhadap pekerja, kemudian mencegah terjadinya kerusakan tempat dan peralatan kerja. Konsep ini juga mencegah pencemaran lingkungan hidup dan masyarakat sekitar tempat kerja.Norma kesehatan kerja diharapkan menjadi instrumen yang mampu menciptakan dan memelihara derajat kesehatan kerja setinggi-tingginya. K3 dapat melakukan pencegahan dan pemberantasan penyakit akibat kerja, misalnya kebisingan, pencahayaan (sinar), getaran, kelembaban udara, dan lain-lain yang dapat menyebabkan kerusakan pada alat pendengaran, gangguan pernapasan,
49

kerusakan paru-paru, kebutaan, kerusakan jaringan tubuh akibat sinar ultraviolet, kanker kulit, kemandulan, dan lain-lain. Norma kerja berkaitan dengan manajemen perusahaan. K3 dalam konteks ini berkaitan dengan masalah pengaturan jam kerja, shift, kerja wanita, tenaga kerja kaum muda, pengaturan jam lembur, analisis dan pengelolaan lingkungan hidup, dan lain-lain. Hal-hal tersebut mempunyai korelasi yang erat terhadap peristiwa kecelakaan kerja. Eksistensi K3 sebenarnya muncul bersamaan dengan revolusi industri di Eropa, terutama Inggris, Jerman dan Prancis serta revolusi industri di Amerika Serikat. Era ini ditandai adanya pergeseran besar-besaran dalam penggunaan mesin-mesin produksi menggantikan tenaga kerja manusia. Pekerja hanya berperan sebagai operator. Penggunaan mesin-mesin menghasilkan barang-barang dalam jumlah berlipat ganda dibandingkan dengan yang dikerjakan pekerja sebelumnya. Revolusi IndustriNamun, dampak penggunaan mesin-mesin adalah pengangguran serta risiko kecelakaan dalam lingkungan kerja. Ini dapat menyebabkan cacat fisik dan kematian bagi pekerja. Juga dapat menimbulkan kerugian material yang besar bagi perusahaan. Revolusi industri juga ditandai oleh semakin banyak ditemukan senyawa-senyawa kimia yang dapat membahayakan keselamatan dan kesehatan fisik dan jiwa pekerja (occupational accident) serta masyarakat dan lingkungan hidup. Pada awal revolusi industri, K3 belum menjadi bagian integral dalam perusahaan. Pada era in kecelakaan kerja hanya dianggap sebagai kecelakaan atau resiko kerja (personal risk), bukan tanggung jawab perusahaan. Pandangan ini diperkuat dengan konsep common law defence (CLD) yang terdiri atas contributing negligence (kontribusi kelalaian), fellow servant rule (ketentuan kepegawaian), dan risk assumption (asumsi resiko) (Tono, Muhammad: 2002). Kemudian konsep ini berkembang menjadi employers liability yaitu K3 menjadi tanggung jawab pengusaha, buruh/pekerja, dan masyarakat umum yang berada di luar lingkungan kerja.Dalam konteks bangsa Indonesia, kesadaran K3 sebenarnya sudah ada sejak pemerintahan kolonial Belanda. Misalnya, pada 1908 parlemen Belanda mendesak Pemerintah Belanda memberlakukan K3 di Hindia Belanda yang ditandai dengan penerbitan Veiligheids Reglement, Staatsblad No. 406 Tahun 1910. Selanjutnya, pemerintah kolonial Belanda menerbitkan beberapa produk hukum yang memberikan perlindungan bagi keselamatan dan kesehatan kerja yang diatur secara terpisah berdasarkan masing-masing sektor ekonomi. Beberapa di antaranya yang menyangkut sektor perhubungan yang mengatur lalu lintas perketaapian seperti tertuang dalam
50

Algemene Regelen Betreffende de Aanleg en de Exploitate van Spoor en Tramwegen Bestmend voor Algemene Verkeer in Indonesia (Peraturan umum tentang pendirian dan perusahaan Kereta Api dan Trem untuk lalu lintas umum Indonesia) dan Staatblad 1926 No. 334, Schepelingen Ongevallen Regeling 1940 (Ordonansi Kecelakaan Pelaut), Staatsblad 1930 No. 225, Veiligheids Reglement (Peraturan Keamanan Kerja di Pabrik dan Tempat Kerja), dan sebagainya. Kepedulian Tinggi Pada awal zaman kemerdekaan, aspek K3 belum menjadi isu strategis dan menjadi bagian dari masalah kemanusiaan dan keadilan. Hal ini dapat dipahami karena Pemerintahan Indonesia masih dalam masa transisi penataan kehidupan politik dan keamanan nasional. Sementara itu, pergerakan roda ekonomi nasional baru mulai dirintis oleh pemerintah dan swasta nasional. K3 baru menjadi perhatian utama pada tahun 70-an searah dengan semakin ramainya investasi modal dan pengadopsian teknologi industri nasional (manufaktur). Perkembangan tersebut mendorong pemerintah melakukan regulasi dalam bidang ketenagakerjaan, termasuk pengaturan masalah K3. Hal ini tertuang dalam UU No. 1 Tahun 1070 tentang Keselamatan Kerja, sedangkan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan sebelumnya seperti UU Nomor 12 Tahun 1948 tentang Kerja, UU No. 14 Tahun 1969 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja tidak menyatakan secara eksplisit konsep K3 yang dikelompokkan sebagai norma kerja.Setiap tempat kerja atau perusahaan harus melaksanakan program K3. Tempat kerja dimaksud berdimensi sangat luas mencakup segala tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan tanah, dalam air, di udara maupun di ruang angkasa. Pengaturan hukum K3 dalam konteks di atas adalah sesuai dengan sektor/bidang usaha. Misalnya, UU No. 13 Tahun 1992 tentang Perkerataapian, UU No. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), UU No. 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan beserta peraturan-peraturan pelaksanaan lainnya. Selain sekor perhubungan di atas, regulasi yang berkaitan dengan K3 juga dijumpai dalam sektor-sektor lain seperti pertambangan, konstruksi, pertanian, industri manufaktur (pabrik), perikanan, dan lain-lain.Di era globalisasi saat ini, pembangunan nasional sangat erat dengan perkembangan isu-isu global seperti hak-hak asasi manusia (HAM), lingkungan hidup, kemiskinan, dan buruh. Persaingan global tidak hanya sebatas kualitas barang tetapi juga mencakup kualitas pelayanan dan jasa. Banyak perusahaan multinasional hanya mau berinvestasi di suatu negara jika negara bersangkutan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan hidup. Juga kepekaan terhadap
51

kaum pekerja dan masyarakat miskin. Karena itu bukan mustahil jika ada perusahaan yang peduli terhadap K3, menempatkan ini pada urutan pertama sebagai syarat investasi. Ada minimal 53 dasar hukum tentang K3 dan puluhan dasar hukum tentang Lingkungan yang ada di Indonesia. Tetapi, ada 4 dasar hukum yang sering menjadi acuan mengenai K3 yaitu: 1. Pertama, dalam Undang-Undang (UU) No. 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja, disana terdapat Ruang Lingkup Pelaksanaan, Syarat Keselamatan Kerja, Pengawasan, Pembinaan, Panitia Pembina K-3, Tentang Kecelakaan, Kewajiban dan Hak Tenaga Kerja, Kewajiban Memasuki Tempat Kerja, Kewajiban Pengurus dan Ketentuan Penutup (Ancaman Pidana). Inti dari UU ini adalah, Ruang lingkup pelaksanaan bekerja di K-3 sana; ditentukan Adanya bahaya oleh kerja di 3 tempat unsur: itu. Adanya Tempat Kerja untuk keperluan suatu usaha; Adanya Tenaga Kerja yang Dalam Penjelasan UU No. 1 tahun 1970 pasal 1 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2918, tidak hanya bidang Usaha bermotif Ekonomi tetapi Usaha yang bermotif sosial pun (usaha Rekreasi, Rumah Sakit, dll) yang menggunakan Instalasi Listrik dan atau Mekanik, juga terdapat bahaya (potensi bahaya tersetrum, korsleting dan kebakaran dari Listrik dan peralatan Mesin lainnya). 2. Kedua, UU No. 21 tahun 2003 tentang Pengesahan ILO Convention No. 81 Concerning Labour Inspection in Industry and Commerce (yang mana disahkan 19 Juli 1947). Saat ini, telah 137 negara (lebih dari 70%) Anggota ILO meratifikasi (menyetujui dan memberikan sanksi formal) ke dalam Undang-Undang, termasuk Indonesia (sumber: www.ILO.org). Ada 4 alasan Indonesia meratifikasi ILO Convention No. 81 ini, salah satunya adalah point 3 yaitu baik UU No. 3 Tahun 1951 dan UU No. 1 Tahun 1970 keduanya secara eksplisit belum mengatur Kemandirian profesi Pengawas Ketenagakerjaan serta Supervisi tingkat pusat (yang diatur dalam pasal 4 dan pasal 6 Konvensi tersebut) sumber dari Tambahan Lembaran Negara RI No. 4309. 3. Ketiga, UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, khususnya Paragraf 5 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja, pasal 86 dan 87. Pasal 86 ayat 1berbunyi: Setiap Pekerja/ Buruh mempunyai Hak untuk memperoleh perlindungan atas (a) Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
52

Aspek Ekonominya adalah Pasal 86 ayat 2: Untuk melindungi keselamatan Pekerja/ Buruh guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Sedangkan Kewajiban penerapannya ada dalam pasal 87: Setiap Perusahaan wajib menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang terintegrasi dengan Sistem Manajemen Perusahaan. 4. Keempat, Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per-05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen K3. Dalam Permenakertrans yang terdiri dari 10 bab dan 12 pasal ini, berfungsi sebagai Pedoman Penerapan Sistem Manajemen K-3 (SMK3), mirip OHSAS 18001 di Amerika atau BS 8800 di Inggris. Beberapa UU yang mengatur tentang K3 : Pasal 86 (1) atas: a. Keselamatan & kesehatan kerja b. Moral & kesusilaan c. Perlakuan yang sesuai dengan harkat & martabat manusia d. Untuk melindungi keselamatan kerja/buruh guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya K3. (2) Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) & ayat (2) dilaksanakn sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. UU No.14/1969 Setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan UU No.13/2003

Pasal 9

Tiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan atas: (1.) (2.) (3.) (4.) Pasal 10
53

Keselamatan Kesehatan Kesusilaan Pemeliharaan moril kerja serta perlakuan yang sesuai dengan martabat

manusia & moral agama

Pemerintah membina norma perlindungan tenaga kerja yang meliputi : (1.) (2.) (3.) (4.) Norma keselamatan kerja Norma kesehatan kerja Norma kerja Pemberian ganti kerugian, perawatan & rehabilitasi dalam hal

kecelakaan kerja UU No.1/1970 Agar pekerja & setiap orang lainnya yang berada ditempat kerja selalu Agar sumber-sumber produksi dapat dipakai & digunakan secara aman Agar proses produksi berjalan secara lancar tanpa hambatan. UU No.3/1992 Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi berhubungan dengan

(1.) (2.) (3.)

berada dalam keadaan sehat & selamat. & efisien.

(1.)

hubungan kerja termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja, demikian pula kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat kerja & pulang kerumah melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui. (2.) Jaminan kecelakaan kerja Tenaga kerja yang tertimpa kecelakaan kerja berhak menerima jaminan kecelakaan kerja meliputi: 1. Biaya pengangkutan. 2. Biaya pemeriksaan pengobatan dan/atau perawatan. 3. Biaya rehabilitasi. 4. Santunan berupa uang meliputi : a. Santunan sementara tidak mampu bekerja. b. Santunan cacat sebagian untuk selamanya. c. Santunan cacat total untuk selamanya baik fisik maupun mental. d. Santunan kematian 3.8 Evaluasi Kesehatan Kerja
54

Sumber daya manusia (SDM) dalam perusahaan adalah aset berharga bagi setiap perusahaan yang harus dijaga dengan baik untuk mencapai produktivitas & profitabilitas usaha. Meskipun saat ini sedang terjadi krisis finansial global, dengan SDM yang sehat & berkualitas tingkat terjadinya penyakit atau kecelakaan akibat kerja dapat ditekan untuk mencegah kerugian bagi perusahaan, SDM, keluarga, & masyarakat. Sedangkan bagi SDM, pekerjaan adalah aset yang harus dijaga sehingga agar dapat tetap optimal dalam bekerja, SDM harus menjaga kondisi kesehatannya. Oleh karenanya, UU no.1/1970 mewajibkan perusahaan untuk memberikan perlindungan untuk keselamatan & kesehatan bagi SDM yang ada di perusahaannya. Termasuk di dalam hal tersebut adalah:
(1.) Pemeriksaan kesehatan calon SDM suatu perusahaan, dengan tujuan untuk

meyakinkan bahwa SDM dalam kondisi sehat, termasuk tidak mengidap penyakit apapun yang dalam membahayakan atau mengganggu saat kerja atau menularkannya ke orang lain. Selain itu, SDM dapat diketahui apakah secara standar kesehatan mampu melakukan pekerjaan yang akan dilakukannya dengan baik sehingga terhindar dari kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja.
(2.) Pemeriksaan kesehatan berkala SDM, yang berfungsi untuk memastikan

kesehatan dari SDM agar dapat bekerja dengan optimal & mengetahui sejak awal jika ada pengaruh dari kerja terhadap kesehatan sehingga dapat dicegah dan diobati lebih dini. Pemeriksaan kesehatan berupa pemeriksaan kondisi kesehatan (fisik) oleh dokter. Sebagai tambahan, dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium dan rontgen/radiologi. Jenis pemeriksaan tambahan dapat dipilih sesuai kebutuhan perusahaan ataupun jenis pekerjaan/kondisi kesehatan SDM, sehingga dapat menekan biaya pemeriksaan kesehatan yang ditanggung. Selanjutnya, seluruh hasil pemeriksaan dikonsultasikan dengan dokter untuk dapat dilakukan tindak lanjut di tingkat perseorangan maupun perusahaan untuk pencegahan dan pengobatan. Dengan demikian, diperlukan layanan kesehatan yang menyeluruh bagi SDM yang ada di perusahaan sesuai dengan peraturan perundangan dan standar kedokteran oleh dokter. Sebagai tambahan, dapat diberikan:
(1.) Pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk memberikan pengobatan tingkat dasar

terhadap SDM yang mengalami sakit sehingga dapat mencegah penyakit yang
55

lebih parah dan penularan penyakit pada SDM lain yang ada di perusahaan ataupun klien/konsumen.
(2.) Penyuluhan untuk mencegah kecelakaan dan penyakit yang berhubungan dengan

pekerjaan, maupun informasi kesehatan secara umum. 3.2. Konsep Ergonomi Ergonomi atau Ergonomics (bahasa Inggrisnya) sebenarnya berasal dari kata Yunani yaitu Ergo yang berarti kerja dan Nomos yang berarti aturan atau hukum. Ergonomi dimaksudkan sebagai disiplin keilmuan yang mempelajari manusia dalam kaitannya dengan pekerjaannya (Wignjosoebroto S., 2000). Tarwaka (2004) mendefinisikan Ergonomi sebagai berikut Ergonomi adalah ilmu, seni dan penerapan teknologi untuk menyerasikan atau menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktivitas maupun istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia baik fisik maupun mental sehingga kualitas hidup secara keseluruhan menjadi lebih baik. Fokus utama dari ergonomi adalah manusia dalam interaksinya dengan lingkungan kerja sekitarnya artinya lingkungan kerja yang dirancang harus mempertimbangkan atau disesuaikan dengan unsur manusia sebagai pusat sistem tersebut (human center). Mengaplikasikan aspek-aspek ergonomi atau human engineering, maka dapat dirancang sebuah stasiun kerja yang bisa dioperasikan oleh rata-rata manusia (Wignjosoebroto S., 2000). Disiplin ergonomi khususnya yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia (anthropometri) telah menganalisa, mengevaluasi dan membakukan jarak jangkauan yang memungkinkan rata manusia untuk melaksanakan kegiatannya dengan mudah dan gerakan-gerakan yang sederhana. Contoh aplikasi disiplin ergonomi dapat dilihat dalam proses perancangan peralatan kerja (tools) untuk penggunaan yang lebih efektif. Perkakas kerja seperti obeng atau gunting misalnya dengan pegangan (handles) yang berbentuk kurva pada dasarnya merupakan hasil dari human engineering studies. Desain handle yang berbentuk kurva dan disesuaikan dengan bentuk genggaman tangan akan memudahkan cara pengoperasian peralatan tersebut. Dengan demikian manusia tidak lagi harus menyesuaikan dirinya dengan mesin yang dioperasikan (the man fits to the design), melainkan sebaliknya yaitu mesin dirancang dengan terlebih dahulu memperhatikan

56

kelebihan dan keterbatasan manusia yang mengoperasikannya (the design fits to the man). Secara umum tujuan dari penerapan ergonomi (Tarwaka, 2004), yaitu: a. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan cidera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental, mengupayakan promosi dan kepuasan kerja. b. Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak sosial, mengelola dan mengkoordinir kerja secara tepat guna dan meningkatkan jaminan sosial baik selama kurun waktu usia produktif maupun setelah tidak produktif. c. Menciptakan keseimbangan rasional antara berbagai aspek yaitu aspek teknis, ekonomis, antropologis dan budaya dari setiap sistem kerja yang dilakukan sehingga tercipta kualitas kerja dan kualitas hidup yang tinggi. Secara singkat, tujuan yang akan dicapai dengan penerapan ergonomi adalah peningkatan efektifitas dan efisiensi dari kegiatan yang dilakukan oleh manusia dengan tetap mengacu pada terciptanya keselamatan, kenyamanan dan kesehatan kerja. Mencapai tujuan tersebut, digunakan pendekatan utama berupa pemanfaatan informasi tentang kemampuan dan keterbatasan manusia dalam lingkungan kerja serta evaluasi terhadap lingkungan kerja yang sudah ada. 3.2.2. Antropometri luas akan dalam digunakan memerlukan sebagai interaksi pertimbanganmanusia. Data

1. Antropometri dan Aplikasinya Dalam Ergonomi

Antropometri secara pertimbangan dalam hal :

errgonomis

antropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara luas antara lain
Perancangan areal kerja (work station, interior mobil, dan lain-lain) Perancangan peralatan kerja seperti mesin, equipment, perkakas (tools) dan

sebagainya. Perancangan produk-produk konsumtif seperti pakaian, kursi / meja komputer dan lain-lain. Perancangan lingkungan kerja fisik.

57

Antropometri secara luas akan digunakan sebagai pertimbangan ergonomis dalam memerlukan interaksi manusia. Data antropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara luas dalam hal : perancangan areal kerja, perancangan peralatan kerja, perancangan produk konsumtif, perancangan lingkungan kerja fisik. Data ini akan menentukan bentuk, ukuran dan dimensi yang tepat yang berkaitan dengan produk yang dirancang dan manusia yang akan mengoperasikan atau menggunakan produk tersebut Antropometri merupakan bagian dari ilmu ergonomi yang berhubungan dengan dimensi tubuh manusia yang meliputi bentuk, ukuran dan kekuatan dan penerapannya untuk kebutuhan perancangan fasilitas aktivitas manusia. Data antropometri sangat diperlukan untuk perancangan peralatan dan lingkungan kerja. Kenyamanan menggunakan alat bergantung pada kesesuaian ukuran alat dengan ukuran manusia. Jika tidak sesuai, maka dalam jangka waktu tertentu akan mengakibatkan stress tubuh antara lain dapat berupa lelah, nyeri, pusing. 2. Pertimbangan desain antropometri dan faktor manusia Cara penggunaan antropometri dalam ergonomi fisik adalah dapat digunakan untuk memperkirakan posisi tubuh yang baik dalam bekerja. Pengukuran dimensi struktur tubuh (pengukuran dalam dalam berbagai posisi standar dan tidak bergerak seperti berat, tinggi saat duduk/berdiri, ukuran kepala, tinggi, panjang lutut saat berdiri/duduk, panjang lengan. Hal ini dapat dilakukan dengan tujuan mencegah terjadinya fatigue/ kelelahan pada pekerja pada saat melakukan pekerjaannya. Setiap manusia mempunyai bentuk yang berbeda - beda, seperti : TinggiPendek, Kurus-Gemuk, Tua-Muda, Normal-Cacat, Manusia mempunyai keterbatasan Fisik, Contoh : Letak tombol operasional / kontrol panel yang tidak sesuai dengan bentuk tubuk menyebabkan terjadinya sikap paksa / salah operasional. 3. Pedoman yang mengatur ketinggian landasan kerja pada posisi duduk perlu pertimbangan sebagai berikut : Pekerjaan dilakukan pada waktu yang lama. Jika memungkinkan menyediakan meja yang dapat diatur turun dan naik. Ketinggian landasan dan tidak memerlukan fleksi tulang belakang yang berlebihan.
58

Landasan kerja harus memungkinkan lengan menggantung pasa posisi rileks dari bahu, dengan lengan bawah mendekati posisi horizontal atau sedikit menurun. 4. Sikap tubuh dalam bekerja Sikap pekerjaan harus selalu diupayakan agar merupakan sikap ergonomik. Sikap yang tidak alamiah harus dihindari dan jika hal ini tidak mungkin dilaksanakan harus diusahakan agar beban statis menjadi sekecil-kecilnya. Untuk membantu tercapainya sikap tubuh yang ergonomik sering diperlukan pula tempat duduk dan meja kerja yang kriterianya disesuaikan dengan ukuran anthropometri pekerja. Menurut Anies (2005) yang dikutip oleh Sinambela (2006) ada beberapa hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan sikap tubuh dalam melakukan pekerjaan, yaitu : Semua pekerjaan hendaknya dilakukan dalam sikap duduk atau sikap berdiri secara bergantian. Semua sikap tubuh yang tidak alami harus dihindarkan. Seandainya hal ini tidak memungkinkan hendaknya diusahakan agar beban statik diperkecil. Tempat duduk yang dibuat harus sedemikian rupa sehingga tidak membebani melainkan dapat memberikan relaksasi pada otot-otot yang sedang tidak dipakai untuk bekerja dan tidak menimbulkan penekanan pada tubuh (paha). Hal ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya gangguan sirkulasi darah dan mencegah keluhan kesemutan yang dapat mengganggu aktifitas. Sikap tubuh dalam bekerja terdiri dari : posisi duduk, setengah duduk, dan posisi berdiri. Dalam pengkajian ini, kami akan fokus pada sikap kerja posisi duduk beserta masalah ergonomi yang potensial timbul. 3.2.3. Sikap posisi duduk 1. Sikap kerja duduk Posisi duduk pada otot rangka (muscolusskeletal) dan tulang belakang (vertebral) terutama pada pinggang (sacrum, lumbar dan thoracic) harus dapat ditahan oleh sandaran kursi agar terhindar dari nyeri (back pain) dan terhindar cepat lelah (fatique). Menurut Richard Ablett (2001) seperti yang dikutip Santoso (2004) saat ini terdapat 80% orang hidup setelah dewasa mengalami nyeri pada bagian tubuh
59

belakang (back pain) karena berbagai sebab, dan arena back pain ini mengakibatkan 40% orang tidak masuk kerja. Selain itu, ketika duduk kaki harus berada pada alas kaki dan dalam sikap duduk dapat bergerak dengan relaksasi. Pada posisi duduk tekanan tulang belakang akan meningkat dibanding berdiri atau berbaring, bila posisi duduk tidak benar. Diasumsikan menurut Eko Nurmianto (1998) seperti yang dikutip Santoso (2004) tekanan posisi tidak duduk 100%, maka tekanan akan meningkat menjadi 140% bila sikap duduk tegang dan kaku, dan tekanan akan meningkat menjadi 190% apabila saat duduk dilakukan membungkuk ke depan. Oleh sebab itu perlu sikap duduk yang benar dan dapat relaksasi (tidak statis). 2. Sikap kerja setengah duduk Sikap ini mempunyai keuntungan secara Biomekanis dimana tekanan pada tulang belakang dan pinggang 30% lebih rendah dibandingkan dengan posisi duduk maupun berdiri terus menerus. Kerja suatu saat duduk dan suatu saat berdiri. Kerja perlu menjangkau sesuatu > 40 cm ke depan atau 15 cm diatas landasan. Berdasarkan hasil penelitian Gempur (2003) bahwa tenaga kerja bubut yang telah terbiasa bekerja dengan posisi berdiri tegak diubah menjadi posisi berdiri setengah duduk tanpa sandaran dan setengah duduk pakai sandaran, menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat kelelahan otot biomekanik antar kelompok.

Gambar 15. Posisi duduk

Masalah ergonomi pada posisi duduk

60

Masalah kesehatan apakah yang dapat ditimbulkan akibat posisi duduk seperti ini? Ternyata, sekitar 60% orang dewasa mengalami nyeri pinggang bawah karena masalah duduk. Suatu penelitian menunjukkan bahwa pekerjaan dengan duduk lama (separuh hari kerja) dapat menyebabkan hernia nukleus pulposus, yaitu saraf tulang belakang yang "terjepit" di antara kedua ruas tulang belakang sehingga menyebabkan nyeri pinggang juga rasa kesemutan yang menjalar ke tungkai sampai ke kaki. Bahkan, bila keadaan semakin parah, dapat menyebabkan kelumpuhan. Penyebab sakit nyeri punggung umumnya disebabkan peregangan otot atau ligamen karena postur tubuh ketika duduk dalam posisi tidak tepat. Nyeri punggung mulai terasa saat terjadi cedera, atau setelah terjadinya peradangan. Punggung yang baik memiliki tiga kurva, yaitu pada leher, punggung bagian atas, dan punggung bagian bawah. Oleh karenanya, otot bagian perut, otot paha, dan otot kaki harus kuat agar mampu menyangga kurva punggung yang baik. Punggung juga sangat sensitif terhadap ketegangan otot akibat stress seharihari. Dalam keadaan lemah dan kaku, otot punggung mengalami kejang, sehingga menyebabkan aliran darah yang mengangkut oksigen menjadi terhambat dan otot kekurangan oksigen. Akibatnya, penderita mengalami nyeri yang semakin menyakitkan apabila tidak segera mendapat penanganan dari dokter. Penyebab lain biasanya akibat penggunaan alas sepatu hak tinggi yang banyak digunakan oleh wanita, kurang olahraga, cedera dan ketegangan otot, serta proses penuaan (osteoarthritis) yang menyebabkan bantalan tulang (diskus) keluar dari tempat yang semestinya dan menghasilkan pertumbuhan tulang baru yang menimbulkan radang tersendiri dengan disertai rasa nyeri. Penatalaksanaan yang terbaik pada nyeri punggung pada umumnya berdasarkan penyebab gangguan itu sendiri. Fisioterapi merupakan salah satu cara terapi untuk mengatasi masalah nyeri pungggung, di samping kerap pula digunakan untuk rehabilitasi medik pasien penyakit stroke. Teknik fisioterapi menitikberatkan pada tujuan untuk menstabilkan atau memperbaiki gangguan fungsi alat gerak atau fungsi tubuh yang terganggu yang kemudian diikuti dengan proses atau metode terapi gerak.

Mengenal Struktur Punggung

61

Punggung adalah salah satu organ tubuh yang bekerja nonstop selama 24 jam. Dalam keadaan tidur pun, punggung tetap menjalankan fungsinya untuk menjaga postur tubuh. Punggung tersusun dari 24 buah tulang belakang (vertebrae), dimana masing-masing vertebrae dipisahkan satu sama lain oleh bantalan tulang rawan atau diskus. Seluruh rangkaian tulang belakang ini membentuk tiga buah lengkung alamiah yang menyerupai huruf S. Lengkung paling atas adalah segmen servikal (leher), yang dilanjutkan dengan segmen toraks (punggung tengah), dan segmen paling bawah yaitu lumbar (punggung bawah). Lengkung lumbar inilah yang bertugas untuk menopang berat seluruh tubuh dan pergerakan. Otot punggung ditunjang oleb punggung, perut, pinggang dan tungkai yang kuat dan fleksibel. Seluruh otot tersebut berfungsi untuk menahan agar tulang belakang dan diskus tetap dalam posisi normal. Kelemahan pada salah satu otot akan menambah ketegangan pada otot lain dan akhirnya menimbulkan masalah punggung. Sedangkan diskus atau bantalan tulang rawan berfungsi sebagai penahan guncangan ini terdapat di antara vertebrae, sehingga memungkinkan sendi-sendi untuk bergerak secara halus. Setiap diskus memiliki bagian tengah seperti bunga karang yang berongga kecil-kecil dan bagian luar yang keras dan mengandung serat saraf untuk rasa nyeri. Selain itu, juga terdapat cairan yang mengalir ke dalam dan keluar diskus. Cairan ini berfungsi sebagai pelumas sehingga memungkinkan punggung bergerak bebas. Diskus yang sehat bersifat elastis, sehingga akan mudah kembali ke bentuk semula jika tertekan di antara kedua vertebrae. Pada saat tidur, sangat sedikit cairan yang keluar dari diskus. Itulah yang menyebabkankekakuan otot saat seseorang bangun dari tidur. Gerakan mendadak yang dilakukan ketika baru bangun tidur dapat mengakibatkan cedera punggung.

62

Gambar 16. Posisi tulang belakang saat duduk Posisi Duduk yang Baik Hal-hal yang harus dihindari selama duduk supaya tidak terjadi nyeri pinggang bawah antara lain jangan duduk pada kursi yang terlalu tinggi, duduk dengan membengkokkan pinggang, atau duduk tanpa sandaran di pinggang bawah (pendukung lumbal). Selain itu, selama duduk perlu menghindari duduk dengan mencondongkan kepala ke depan karena dapat menyebabkan gangguan pada leher, duduk dengan lengan terangkat karena dapat menyebabkan nyeri pada bahu dan leher, serta duduk tanpa sokongan lengan bawah karena dapat menyebabkan nyeri pada bahu dan pinggang. Buruknya postur tubuh, kegemukan (obesitas) dan gerakan yang kurang tepat selama bertahun-tahun, akan mengakibatkan kelainan pada otot dan diskus, bahkan dapat berakibat nyeri punggung yang berkepanjangan. Postur tubuh yang baik akan melindungi dari cedera sewaktu melakukan gerakan karena beban disebarkan merata keseluruh bagian tulang belakang, ungkap Barbara Dorsch. Postur tubuh yang baik, lanjut dia, akan dicapai jika telinga, bahu, dan pinggul berada dalam satu garis lurus ke bawah. Berdasarkan data British Chiropractic Association, sekitar 32% populasi dunia menghabiskan waktu lebih dari 10 jam sehari untuk duduk di depan meja kerja. Separuh dari populasi tenrsebut tidak pernah meninggalkan meja kerja, bahkan saat makan siang. Sementara itu, dua pertiga populasi menambah porsi duduk tegak saat berada di rumah. Duduk dalam posisi tegak 90 derajat, kerap menyebabkan timbulnya pergerakan sendi belakang sehingga posisi tubuh tidak seimbang. Maka itu, posisi duduk santai dengan postur miring 135 derajat adalah posisi terbaik. Dalam posisi
63

ini, tulang belakang akan berada dalam posisi ideal, di mana tulang belakang bagian bawah akan berbentuk seperti huruf S. Posisi duduk dengan sudut kemiringan 135 derajat akan memperbaiki sirkulasi darah di bagian bawah tubuh, sehingga dapat terhindar dari gangguan varises, selulit, dan penggumpalan darah di kaki serta mengurangi kelelahan di kaki. Tubuh akan terasa lebih rileks, sehingga mengurangi terjadinya ketegangan otot, papar Barbara. Duduk dengan posisi kemiringan 135 derajat juga akan menghasilkan mobilitas yang lebih baik, mudah bergerak di atas kursi, dan lebih mudah untuk naik turun kursi. Terdata hampir 60% seluruh keluarga di Amerika memakai komputer, dan lebih dari 80% pekerjaan diselesaikan dengan menggunakan komputer. Keadaan ini, tidak bisa dipungkiri bahwa berjuta-juta masyarakat Amerika dilanda dengan rasa sakit yang misterius, yang dihubung-hubungkan dengan pemakaian komputer yang salah dan berlebihan. Masalah ini umumnya dikenal sebagai Repetitive Strain Injury atau RSI. Jika anda memakai komputer secara teratur lebih dari dua jam per hari, jika anda seorang yang kelebihan berat badan, diabetes atau radang sendi, memiliki postur tulang belakang yang kurang baik, duduk untuk waktu yang lama, dan merokok, anda berisiko tinggi mengalami RSI. Gejala RSI sangat tidak kentara dimana 80% orang mengalaminya, bahkan mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Untuk mengetahui apakah anda memilikinya, ada gejala umum yang biasa menyertai seperti kelelahan, lemah, daya tahan yang menurun, kurang konsentrasi, tangan dingin, menghindari aktivitas dan olah raga dan lain-lain. Penempatan kursi, meja, mouse, keyboard dan layar komputer yang benar akan membantu membuat perubahan dalam mencegah RSI. Berikut beberapa tips yang dapat membebaskan anda dari RSI. Berikut ini hal-hal penting yang harus diperhatikan: - Posisi paha horizontal, sejajar dengan lantai
- Posisi telapak kaki menapak ke tanah. Bila tidak, berarti posisi duduk Anda

terlalu tinggi.
- Bantalan kursi menopang punggung bagian bawah, sehingga punggung tetap

tegak.
64

- Rubah posisi duduk Anda secara berkala selama bekerja, karena duduk dalam

posisi yang tetap dalam jangka waktu lama bisa menyebabkan ketidaknyamanan.
- Punggung santai tapi tidak membungkuk, kepala tak membungkuk atau terlalu

condong ke depan. Monitor


- Pastikan layar monitor dalam kondisi bersih, sehingga tak ada noda yang

menghalangi pandangan mata.


- Atur setelan brighthness dan kontras layar secukupnya sehingga nyaman bagi

mata.
- Atur posisi tak layar monitor agar tak memantulkan cahaya yang menyilaukan

mata.
- Atur posisi bagian atas layar sejajar atau sedikit di bawah pandangan mata. - Jarak antara mata ke layar antara 50-60 cm.

Posisi Meja - Letakkan keyboard pada posisi yang membuat lengan terasa rileks - Posisi siku dengan meja membentuk sudut 90 derajat - Pergelangan tangan pada posisi netral, lurus dan nyaman - Saat mengetik, pergelangan tangan berada pada posisi yang tetap, namun bisa menjangkau tombol keyboard dengan jari - Tempatkan mouse dekat dengan keyboard, sehingga tak perlu menggerakan tangan terlalu jauh untuk meraihnya

Gambar 17. Posisi duduk pekerja dengan monitor


65

Istirahat dan ganti posisi Jalan-jalan sebentar dapat mengurangi stress dan ketegangan pada otot dengan meregangkan badan. Anda akan merasakan perbedaan yang besar pada badan anda.

Gambar 18. Posisi duduk saat menjahit Dalam merancang sistem kerja yang ergonomis hal hal berikut perlu diperhatikan, atara lain: Ketinggian Kerja (Working Heights) Dimensa-dimensa yang dipertimbangkan dalam merancang sistem kerja secara ergonomi meliputi data antropometri, data pola prilaku kerja dan persyaratan spesifik pekerjaan. Ketinggian kerja, misalnya tinggi meja kerja, merupakan faktor yang menentukan dalam merancang tempat kerja. Kalau meja kerja terlalu tinggi maka pekerja akan mengalami hambatan misalnya pekerja harus menaikkan bahu pada saat bekerja atau dengan kata lain posisi bahu tidak berada dalam posisi normal. Posisi bahu seperti bahu seperti ini pada suatu waktu akan mengakibatkan rasa sakit di leher dan bahu si pekerja. Sebaliknya jika ukuran meja kerja terlalu pendek maka pekerja harus membungkuk dan ini akan menimbulkan rasa sakit pada bagian punggung. Oleh karena itu, ketinggian meja kerja perlu disesuaikan dengan ukuran tinggi pekerja baik dalam posisi saat kerja dalam keadaan duduk ataupun berdiri. Berdasarkan data antropometri, maka ukuran tinggi meja kerja yang cocok dapat digambarkan yaitu pekerja dengan posisi duduk tinggi meja berkisar diantara 50 100 mm dibawah siku. Rata rata tinggi siku (jarak dari lantai
66

dengan siku dimana lengan atas dalam posisi vertikal) adalah 1050 mm untuk pria dan 980 mm untuk wanita. Dapat disimpulkan bahwa tinggi meja kerja adalah berkisar 950 1000 mm untuk pekerja pria dan 880 930 mm untuk wanita. Dikaitkan dengan karakteristik pekerjaan direkomendasikan secara ergonomi:
a. Untuk pekerjaan yang halus (dedicate) misalnya menggambar, maka

dianjurkan agar siku diletakkan pada meja kerja. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi beban statis pada otot bagian belakang. Meja kerja yang cocok untuk pekerjaan ini adalah meja dengan ukuran 50 100 mm berada di atas siku. b. Pada pekerjaan manual dimana operator membutuhkan tempat di meja untuk peralatan, bahan dan berbagai kontainer maka ukuran meja kerja yang cocok adalah meja dengan ukuran 100 150 mm berada dibawah siku. c. Untuk pekerjaan berat yang membutuhkan kekuatan tnaga badan bagian atas yang relatif besar misalnya pekerjaan kayu atau merakit produk ukuran besar / berat maka ukuran meja kerja yang cocok adalah 150-400 mm berada di bawah siku. Rekomendasi ini berlaku untuk ukuran tinggi rata-rata. Untuk pekerja dengan ukuran tubuh yang lebih pendek atau lebih tinggi dari ukuran tinggi rata-rata maka meja kerja tersebut memerlukan penyesuaian-penyesuaian yang tergantung kepada kondisi dan barangkali kemampuan finansial dari perusahaan atau orang yang menggunakan meja kerja tersebut. Kalau mungkin bisa saja dirancang suatu meja kerja yang dapat disesuaikan setiap saat sesuai dengan ukuran pekerja yang menggunakan. Hasil penelitian Gandjean dan Burandt terhadap pekerja kantor yang bekerja secara tradisional (261 orang pekerja pria dan 117 pekerja wanita) mengemukakan bahwa terdapat hubungan antara tinggi meja kerja dengan perasaan sakit pada otot. Dalam penelitian ini dilakukan juga sampling pekerja untuk mendapatkan posisi pekerja pada saat duduk. Hasil pengamatan 4920 kali, dapat digambarkan sebagai berikut: Posisi Duduk Pekerja Jumlah Pekerja**)
67

Duduk pada ujung tempat duduk 15% Duduk pada pertengahan tempat duduk 52% Duduk pada bagian belakang tempat duduk 33% Duduk sambil bersandar 42% Duduk sambil tangan berada diatas meja 40% **) Presentase melebihi 100% karena ada pekerja duduk dengan lebih dari posisi yang diamati.

satu

Hasil penelitian selanjutnya menunjukan bahwa rasa sakit yang dirasakan oleh pekerja dengan kondisi tersebut yaitu : Bagian Tubuh Yang Sakit Kepala Leher/bahu Punggung Bagian belakang pinggul (buttocks) Paha Lutut/kaki Jumlah Pekerja 14% 24% 57% 16% 19% 29%

Hubungan antara tinggi meja dengan rasa sakit pekerja berdasarkan dari beberapa penelitian yang telah dilakukan menyatakan bahwa : a. Sebanyak 24% dari pekerja pengetikan menyatakan rasa sakit pada leher dan bahu karena meja mereka gunakan menurut mereka terlalu rendah.
b. Rasa sakit pada bagian lutut oleh 24% dari pekerja yang diamati. Sebagian besar

pekerja yang diamati ini bertubuh pendek dan pada umumnya mereka duduk pada bagian ujung depan. Dari tempat duduk dan tidak menggunakan pengganjal kaki. c. Ukuran meja yang paling tepat menurut pekerja adalah ukuran meja dengan tinggi sekitar 740-780 mm dan lebih baik meja tersebut dapat disesuaikan dan disediakan pengganjal kaki untuk pekerja yang bertubuh pendek. d. Secara umum pekerja menyatakan jarak kursi dengan bagian atas meja adalah sekitar 270 300 mm. e. Perasaan sakit pada punggung yang dirasakan oleh 57% dari pekerja yang diamati dan 42% dari pekerja sering menggunakan sandaran, hal ini menunjukan perlunya secara periodik bagian punggung untuk istirahat dan untuk ini perlu direncanakan sandaran kursi yang baik. Berdasarkan uraian diatas rekomendasi ergonomi terhadap rancangan meja kerja kantor dapat dikemukakan sebagai berikut:
68

a. Meja kerja tanpa menggunakan mesin tik tinggi meja 740-780 mm untuk pria dan 700 740 mm untuk wanita dengan asumsi kursi yang digunakan dapat disesuaikan dan tempat pengganjal kaki disediakan. b. Agar kaki dapat bergerak bebas maka lebar horizontal tempat kaki di bawah meja sebaiknya 680 mm sedangkan tinggi vertikal 690 mm. c. Untuk meja dengan mesin tik, maka ukuran tinggi yang dianjurkan adalah 650 mm. Tinggi meja yang direkomendasikan dengan mempertimbangkan sifat pekerjaan dilakukan sambil dudukdapat dilihat pada tabel berikut: Tabel Ukuran Tinggi Meja Pekerjaan ( Pekerja pada posisi duduk) Tipe Pekerjaan Membutuhkan ketelitian Membaca dan menulis Kerja manual butuh tenaga atau tempat peralatan Ketikan Tinggi Meja (mm) Pria 900-1100 740-780 680 600-700 Wanita 800 1000 700-740 650 600-700

Suatu tempat kerja yang memungkinkan operator dapat bekerja kadangkadang duduk dan kadang-kadang sangatlah direkomendasikan ditinjau dari segi fisiologik dan orthopedik.

69

Gambar 19. Data anthropometri untuk perancangan produk atau fasilitas (Sumber: Wignjosoebroto S., 2000) Keterangan gambar, yaitu: 1 = dimensi tinggi tubuh dalam posisi tegak (dari lantai sampai dengan ujung kepala) 2 = tinggi mata dalam posisi berdiri tegak 3 = tinggi bahu dalam posisi berdiri tegak 4 = tinggi siku dalam posisi berdiri tegak (siku tegak lurus) 5 = tinggi kepalan tangan yang terjulur lepas dalam posisi berdiri tegak (dalam gambar tidak ditunjukkan) 6 = tinggi tubuh dalam posisi duduk (diukur dari alas tempat duduk pantat sampai dengan kepala) 7 = tinggi mata dalam posisi duduk 8 = tinggi bahu dalam posisi duduk 9 = tinggi siku dalam posisi duduk (siku tegak lurus) 10 = tebal atau lebar paha 11 = panjang paha yang diukur dari pantat sampai dengan ujung lutut 12 = panjang paha yang diukur dari pantat sampai dengan. bagian belakang dari lutut atau betis
70

13 = tinggi lutut yang bisa diukur baik dalam posisi berdiri ataupun duduk 14 = tinggi tubuh dalam posisi duduk yang diukur dari lantai sampai dengan paha 15 = lebar dari bahu (bisa diukur baik dalam posisi berdiri ataupun duduk) 16 = lebar pinggul ataupun pantat 17 = lebar dari dada dalam keadaan membusung (tidak tampak ditunjukkan dalam gambar) 18 = lebar perut 19 = panjang siku yang diukur dari siku sampai dengan ujung jari-jari dalam posisi siku tegak lurus 20 = lebar kepala 21 = panjang tangan diukur dari pergelangan sampai dengan ujung jari 22 = lebar telapak tangan 23 = lebar tangan dalam posisi tangan terbentang lebar-lebar kesamping kiri-kanan (tidak ditunjukkan dalam gambar) 24 = tinggi jangkauan tangan dalma posisi berdiri tegak, diukur dari lantai sampai dengan telapak tangan yang terjangkau lurus keatas (vertikal) 25 = tinggi jangkauan tangan dalam posisi duduk tegak, diukur seperti halnya nomor 24 = tetapi dalam posisi duduk (tidak ditunjukkan dalam gambar) 26 = jarak jangkauan tangan yang terjulur kedepan diukur dari bahu sampai ujung jari tangan

71

BAB IV PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil kunjungan, diketahui bahwa perusahaan PT. BBI merupakan salah satu produsen pakaian jadi yang memiliki pasar cukup luas di Indonesia dan sebagian besar hasil produksinya diekspor ke negara-negara tetangga. Tahap awal yang telah dilakukan adalah pengenalan lingkungan kerja sesuai dengan hasil tinjauan pada saat kunjungan. Dilanjutkan dengan evaluasi lingkungan kerja untuk mendeteksi potensi-potensi bahaya yang mungkin timbul dan menentukan prioritas masalah. Pada akhirnya dapat ditentukan pengendalian lingkungan yang bertujuan untuk mencegah efek yang merugikan kesehatan yang juga dapat diusulkan pada perusahaan terkait. Dari alur produksi, diketahui bahwa terdapat 11 simpul, yaitu inspeksi bahan, pembuatan pola, cutting, quality control pola, matching of numbering, pembuatan manset, interlining, sewing, finishing, quality control pakaian jadi ,ironing, packing. Dari 11 simpul ini, terlihat beberapa potensi-potensi bahaya yang ditemukan selama proses produksi, antara lain hazard Fisik, Kimia, Ergonomi, dan Psikologi. Dari beberapa potensi bahaya ini, terdapat satu potensi bahaya yang hampir selalu ada pada setiap titik alur produksi, yaitu debu kain. Hal ini dapat dipahami, karena perusahaan ini bergerak di bidang tekstil dimana objek produksinya berbahan baku yang terbuat dari kapas. Selain itu, potensi bahaya fisik lain yang tampak, adalah bising dan vibrasi. Masalah ini tampak sangat menonjol di bagian cutting dimana menggunakan mesin yang suara mesinnya berukuran 84 dB. Dan terdapat juga masalah pada bagian finishing karena menggunakan mesin kebut. Dari pengamatan kami, pada keseluruhan proses produksi di PT.BBI ini, cenderung memiliki potensi bahaya psikologis yang cukup tinggi, karena aktivitas pekerjaan di perusahaan ini bersifat repetitif, sehingga meningkatkan kemungkinan kejenuhan dan rasa stress para pegawai. Pihak perusahaan cukup memberikan perhatian dan usahanya pada beberapa bahaya potensial yang mungkin timbul dalam proses-proses produksi. Beberapa upaya yang telah dilakukan oleh perusahaan kepada para pegawai adalah dengan memberikan alat pelindung diri, misalnya masker yang terbuat dari kain yang diganti kurang lebih tiap 3 hari sekali, sarung tangan yang terbuat dari metal untuk para

72

pekerja yang bekerja memotong bahan, dan penutup telinga untuk para pegawai yang menggunakan mesin kebut dengan intensitas bunyi yang cukup tinggi. Hal ini menunjukkan kepedulian perusahaan terhadap kesehatan para pekerja sudah cukup baik, namun masih terlihat adanya beberapa pegawai yang tidak disiplin dalam menggunakan alat pelindung diri. Keadaan seperti ini sebagian besar disebabkan karena rasa malas dan kurangnya pengetahuan tentang kesehatan dari para pegawai tersebut, sehingga alat pelindung diri yang tersedia tidak digunakan secara optimal. Untuk mengatasi masalah kesehatan kerja yang mungkin terjadi, PT. BBI menyediakan sebuah poliklinik di dalam lokasi kerja yang berada di lantai 2. Idealnya, untuk perusahaan yang memiliki jumlah karyawan lebih dari 500 orang, minimal harus mempunyai 1 orang dokter perusahaan yang selalu ada setiap hari dengan jam kerja 6 jam/hari. Dokter perusahaan biasanya dibantu oleh sedikitnya 2 perawat yang juga selalu ada setiap harinya. Dan juga disetiap bagian-bagian produksi mempunyai kader-kader kesehatan yang sudah terlatih sebagai perpanjangan tangan dokter. Untuk PT. BBI sendiri, petugas pelayanan kesehatan yang terdapat adalah 1 orang perawat yang selalu ada setiap hari dengan 3 orang kader kesehatan yang tidak memiliki latar belakang medis, namun diberikan pelatihan khusus untuk membantu memberikan P3K. Di dalam perusahaan PT.BBI sendiri tidak terdapat dokter perusahaan, namun jika terdapat karyawan yang membutuhkan rujukan atau pemeriksaan lebih lanjut, dilakukan pemeriksaan di dokter Poliklinik yang terletak 500 m dari perusahaan. Di poliklinik tersebut terdapat pelayanan dokter umum, dokter gigi dan tempat pemeriksaan laboratorium. Dari data penyakit dan kecelakaan kerja yang tercatat oleh poliklinik perusahaan tahun 2010, kecelakaan kerja paling banyak terjadi adalah tergunting. Bagian tubuh yang sering cidera adalah jari tangan. Dan pada bagian produksi, kejadian tergunting yang sering terjadi adalah ketika proses cutting yang menggunakan gunting secara manual. Belum ada pencegahan yang dilakukan selama ini. Ketika proses menggunting, karyawan tidak menggunakan alat pelindung jari. Menurut kepala bagian, pelindung tangan untuk proses manual tidak disediakan. Alat perlindungan tangan yang disediakan hanya untuk pekerjaan dengan menggunakan mesin. Untuk jenis kecelakaan kedua terbanyak adalah kejadian tertusuk jarum. Bagian tubuh yang terkena biasanya adalah jari dan bagian produksi yang sering mengalami kejadian ini adalah sewing. Selama ini, belum ada pencegahan untuk kejadian ini juga, para pegawai tidak menggunakan pelindung jari saat proses
73

memasukan jarum atau menjahit. Menurut kepala bagian, alat pelindung diri telah disediakan meskipun jumlahnya terbatas. Kecelakaan kerja yang terbanyak ketiga adalah terkena setrika atau solder. Bagian tubuh yang sering terkena adalah telapak tangan dan bagian produksi yang sering mengalami kejadian ini adalah bagian reksi. Pencegahan pada bagian ini yang dilakukan oleh perusahaan sudah ada dan menurut kepala bagian pelindung tangan seperti sarung tangan memang disediakan tapi kebanyakan para karyawan tidak menggunakan sarung tangan tersebut. Sedangkan untuk kecelakaan terbanyak keempat dan kelima adalah tangan terjepit mesin dan tangan tertusuk obeng. Bagian poduksi yang sering mengalami kejadian ini adalah pada bagian interlining dan bagian perbaikan mesin. Untuk jenis penyakitnya sendiri, batuk atau pilek dan alergi menempati urutan penyakit pertama dan kedua yang sering dialami oleh pegawai. Dilihat dari hubungan antara industri pakaian yang sarat akan debu, maka wajar bila kedua penyakit ini merupakan penyakit yang paling banyak dialami oleh para pegawai. Pihak poliklinik menjelaskan bahwa masker telah disediakan oleh perusahaan untuk pegawai, namun masih banyak pegawai yang malas menggunakannya, sehingga penyakit terbanyak masih diduduki oleh batuk, pilek dan alergi. Untuk urutan ketiga penyakit yang sering dialami pegawai adalah penyakit pusing. Pusing yang dialami oleh pegawai dapat disebabkan oleh hazard bising yang terdengar secara terus-menerus selama bekerja dan memang belum ada pemisahan area untuk titik produksi yang memiliki tingkat bising yang tinggi. Sedangkanpenyakit keempat tersering adalah penyakit pegal dan maag. Penyakit pegal dapat disebabkan oleh posisi sewaktu bekerja yang tidak nyaman atau pekerjaan yang bersifat repetitive. Pegal sangat erat kaitannya dengan potensi bahaya ergonomis pada tiap proses produksi. Pihak poliklinik menyebutkan bahwa keluhan pegal sering timbul pada pegawai yang bekerja pada bidang sewing karena posisi duduk yang terlalu lama. Dan jika dilihat dari waktu, pada bulan Mei tercatat keluhan pegal yang paling banyak, yaitu sebanyak 26 orang. Menurut pendapat kepala bagian, hal ini disebabkan karena jumlah pemesanan dan pekerjaan yang banyak pada bulan tersebut. Selanjutnya akan dibahas lebih dalam mengenai aspek ergonomis yang terdapat pada masing-masing lingkungan kerja. Pada pembahasan khusus ini akan dibahas lebih terperinci perihal ergonomis posisi duduk pada pegawai PT. BBI di masing-masing bagian kerjanya. Untuk lingkungan kerja yang tidak ditemukan masalah ergonomik posisi duduk tidak dilakukan pembahasan lebih lanjut.
74

Pembuatan Pola Proses pembuatan pola secara manual dalam posisi duduk. Dari hasil pengamatan, terlihat bahwa kursi pekerja pada pembuatan pola ini tidak menggunakan sandaran, dan terbuat dari kayu tanpa adanya bantalan sehingga kurang nyaman. Potensial bahaya aspek ergonomis pada proses ini adalah terdapat ketidaksesuaian antropometri pekerja dengan meja dan kursi yang digunakan. Hal ini dapat dilihat pada gambar sebelumnya, terlihat bahwa posisi duduk yang terlalu tinggi dan kaki pegawai menggantung. Dari hasil kunjungan, didapat ukuran tinggi meja adalah 75 cm, sedangkan menurut literature yang ada, ukuran tinggi meja yang ideal untuk aktivitas yang membutuhkan ketelitian tinggi adalah 90-110 cm bagi pekerja laki-laki. Pada gambar sebelum juga terlihat sudut atau jarak yang dibentuk oleh siku dan meja yang terlalu jauh, yaitu melebihi 10 cm. Pekerja juga terlihat agak membungkuk karena berusaha mencapai daerah jangkauan yang cukup luas. Pada proses pembuatan pola yang menggunakan komputer, memiliki tingkat potensial bahaya yang lebih sedikit dibanding secara manual. Pada bagian ini, posisi pekerja adalah duduk di atas kursi dengan bantalan cukup nyaman dan memiliki sandaran. Dari hasil pengamatan posisi duduk, posisi duduk pekerja kurang ergonomis, terlihat dari posisi siku yang lebih rendah dari meja. Sebenarnya, hal ini dapat diatasi dengan sedikit meninggikan posisi duduk. Cara ini secara tidak langsung juga dapat mengatasi masalah posisi pekerja yang membungkuk. Ini dikarenakan posisi duduk yang terlalu rendah dibandingkan dengan posisi meja dan layar komputer.

Proses Sewing Pada proses sewing, terdiri dari kurang lebih 100 pekerja. Bahaya potensial

ergonomi yang nampal adalah posisi duduk yang lama dengan posisi badan setengah membungkuk. Gangguan kesehatan yang dapat timbul dalam posisi seperti ini adalah gangguan musculoskeletal dan low back pain.

75

Berdasarkan pengamatan secara langsung dan hasil evaluasi lingkungan kerja diperoleh data bahwa pada aspek ergonomi terdapat faktor resiko gangguan ergonomi, yaitu posisi duduk yang lama dengan posisi membungkuk dan posisi statis yang lama. Pekerjaan dalam posisi statis sebenarnya lebih berbahaya dibandingkan pekerjaan dengan gerakan dinamis, karena berkaitan dengan sirkulasi darah yang berkurang. Namun jika tenaga hanya sekitar 20%, aliran darah masih dapat dipertahankan normal. Masalah kesehatan apakah yang dapat terjadi karena posisi duduk ini. Sekitar 60% orang dewasa mengalami nyeri pinggang bawah karena masalah duduk. Suatu penelitian di sebuah rumah sakit menunjukkan bahwa pekerjaan dengan duduk lama (separuh hari kerja) dapat menyebabkan hernia nukleus pulposus, yaitu saraf tulang belakang "terjepit" di antara kedua ruas tulang belakang dapat menyebabkan selain nyeri pinggang juga rasa kesemutan yang menjalar ke tungkai sampai ke kaki. Bahkan jika parah, dapat menyebabkan kelumpuhan. Mengapa duduk lama dapat menyebabkan nyeri pinggang bawah. Duduk lama dengan posisi yang salah menyebabkan otot-otot pinggang menjadi tegang dan bisa merusak jaringan lunak sekitarnya. Bila kejadian ini berlanjut terus-menerus, dapat menyebabkan penekanan pada bantalan saraf tulang belakang yang berakibat menjadi hernia nukleus pulposus. Jika tekanan pada bantalan saraf pada orang berdiri dianggap 100%, maka pada orang yang duduk tegak menyebabkan tekanan pada bantalan saraf sebesar 140%. Tekanan ini menjadi lebih besar lagi menjadi sekitar 190% bila duduk dengan posisi badan membungkuk ke depan. Namun, pada orang yang duduk tegak, dapat lebih cepat letih karena otot-otot punggungnya lebih tegang. Sementara orang yang duduk membungkuk kerja otot memang lebih ringan, tetapi tekanan pada bantalan saraf menjadi lebih besar. Setelah duduk selama 15-20 menit, otot-otot punggung biasanya mulai letih. Maka, mulai dirasakan nyeri pinggang bawah. Jika merasakan adanya nyeri pinggang bawah, hal pertama yang harus dilakukan adalah berdiri. Berelaksasi setiap 20-30 menit juga sangat penting untuk mencegah ketegangan otot. Berdiri dan meluruskan pinggang bawah beberapa kali juga dapat sangat menolong. Jalan-jalan satu jam sekali juga sangat menolong mengurangi ketegangan otot. Hal-hal yang harus dihindari waktu duduk agar tidak terjadi nyeri pinggang bawah antara lain adalah jangan duduk di kursi yang terlalu

76

tinggi, jangan duduk dengan membengkokkan pinggang, atau duduk tanpa sandaran di pinggang bawah (pendukung lumbal). Selain itu, perlu menghindari duduk dengan mencondongkan kepala ke depan karena dapat menyebabkan gangguan pada leher, duduk dengan posisi lengan yang terangkat juga dapat menyebabkan nyeri pada bahu dan leher, serta duduk tanpa sokongan lengan bawah dapat menyebabkan nyeri pada bahu dan pinggang. Bagaimanakah duduk yang benar, Sebaiknya duduk dengan posisi punggung lurus dan bahu berada di belakang serta bokong menyentuh belakang kursi. Seluruh lengkung tulang belakang harus terdapat selama duduk. Caranya, duduklah di ujung kursi dan bungkukkan badan seolah terbentuk huruf C. Setelah itu, tegakkan badan buatlah lengkungan tubuh sebisa mungkin. Tahan untuk beberapa detik kemudian lepaskan posisi tersebut secara ringan (sekitar 10 derajat). Posisi duduk seperti inilah yang terbaik. Duduklah dengan lutut tetap setinggi atau sedikit lebih tinggi panggul (gunakan penyangga kaki bila perlu) sebaiknya kedua tungkai tidak saling menyilang. Jaga agar kedua kaki tidak menggantung. Hindari rileks. Bila duduk dengan kursi beroda dan berputar, jangan memutarkan pinggang selama duduk, sebaiknya putarkan seluruh tubuh. Bila berdiri dari posisi duduk, usahakan berdiri dengan meluruskan kedua tungkai. Hindari membungkukkan badan ke depan pinggang, segera luruskan punggung dengan melakukan 10 kali gerakan membungkukkan badan selama berdiri. Selain tindakan pencegahan tersebut di atas, yang terpenting adalah perlu adanya program kegiatan olahraga senam untuk mengurangi maupun mencegah nyeri pinggang bawah pada setiap pekerja sebelum memulai hari kerjanya. Di samping itu, hal penting lain yang tidak boleh dilupakan adalah desain kursi yang ergonomis. Perusahaan LA Times mengurangi kerugian jutaan dollar AS akibat nyeri pinggang bawah, leher, bahu, dan pergelangan tangan di antara pekerjaan sebesar 50 persen, dengan memperbaiki sistem ergonomi (antara lain desain kursi yang sesuai dan sikap duduk) dan sering istirahat. Sikap duduk yang benar adalah pertama duduk dengan sikap membungkuk ekstrem. Kemudian setelah beberapa detik, secara perlahan tegakkan punggung dan lengkungkan. (Jangan
77

duduk

dengan

posisi

yang

sama

lebih

dari

20-30

menit.

Selama duduk, istirahatkan siku dan lengan pada kursi atau meja, jaga bahu tetap

mempertahankan terlalu lama posisi ini karena dapat menyebabkan ketegangan otot punggung). Kemudian, relaksasikan lengkung lumbal sekitar 10 persen agar sikap tubuh benar. Bekerjalah dengan sikap seperti ini selama duduk. Secara garis besar pada perusahaan PT. BBI ini masih ditemukan masalahmasalah pada aspek ergonomi yang perlu diperbaiki untuk dapat memaksimalkan potensi pekerja, dan dibutuhkan analisis lebih lanjut baik melalui wawancara langsung pada pekerja maupun pemeriksaan fisik sederhana untuk mengetahui ada tidaknya gangguan terkait aspek ergonomik pada para pekerja PT. BBI.

78

BAB V KSEIMPULAN DAN SARAN 5.1. KESIMPULAN


1. Terdapatnya bahaya potensial fisik, kimia, ergonomi, dan psikososial terhadap

kesehatan dan keselamatan pekerja PT.Bina Busana Internusa.


2. Bahaya potensial yang dominan pada PT.Bina Busana Internusa ini adalah bahaya

potensial ergonomik yang erat kaitannya dengan posisi duduk yang lama dan statis.
3. Bahaya potensial fisik yang paling sering muncul adalah paparan debu, hampir pada

seluruh bagian alur produksi, kemudian diikuti dengan bahaya bising, khusunya pada alur finishing. Kecelakaan kerja yang sering terjadi adalah tertusuk jarum dan tergunting.
4. Salah satu masalah kesehatan yang sering timbul pada berbagai fase produksi akibat

bahaya potensial ergonomi adalah penyakit musculoskeletal akibat terdapatnya gaya statis yang terlalu lama saat duduk ditambah dengan posisi yang kurang nyaman pada bantalan tempat duduk para pegawai yang terlalu keras tanpa sandaran.
5. Penyakit musculoskeletal dapat mengganggu kinerja karyawan dan dalam jangka

waktu yang lama sehingga dapat menjadi masalah yang serius.


6. Masalah - masalah yang timbul antara lain, kurangnya kesesuaian antara desain dan

ukuran alat-alat kerja/mesin dengan antropometri tubuh pegawai, sehingga menyebabkan timbulnya potensi bahaya masalah muskuloskeletal. Salah satu penyebab masalah ini adalah perusahaan membeli peralatan kerja (meja,kursi,mesin) tanpa penyesuaian dengan ukuran antropometri pegawai, serta tidak memilih alat kerja yang ukurannya dapat diatur/diubah-ubah sesuai pengguna.
7. Pada dasarnya pengendalian masalah ergonomi yang terjadi di perusahaan ini belum

dapat diatasi secara optimal. PT. BBI memiliki sebuah poli klinik dimana hanya terdapat 1 orang perawat beserta 3 orang kader kesehatan yang membantu, dan tidak terdapat dokter umum. Hal ini dinilai kurang dan tidak sesuai dengan ukuran perusahaan yang pegawainya telah mencapai kurang lebih 500 orang . 5.2. SARAN
79

5.2.1. Kepada Pekerja


1.

Menghindari posisi bekerja duduk yang tidak tegak dan dalam keadaan Menghindari posisi duduk dengan kaki yang menggantung. Menyediakan sandaran punggung yang nyaman pada setiap bangku

statis terlalu lama. 2. 3.

dan mendesain tempat duduk dan lingkungan kerja sehingga sandaran punggung tersebut dapat memberikan kesempatan istirahat yang maksimal. 4.
5.

Menggunakan alat pelindung diri dan alat kerja yang telah disediakan Perlu dibudayakan olah raga pagi bersama minimal 1 kali seminggu

dengan benar. atau setidaknya melakukan stretching sebelum mulai bekerja dan mengganti posisi saat bekerja setiap 30 menit untuk menghindari terjadinya kelelahan otot. 5.2.2. Kepada Perusahaan
1.

Upaya preventif, meliputi pemeriksaan kesehatan berkala, penyerasian Upaya promotif, meliputi pelatihan tenaga kerja dan penyuluhan,

manusia dengan mesin dan alat kerja ,perlindungan diri terhadap pekerjaan.
2.

pemeliharaan tempat, cara dan lingkungan kerja serta olah raga fisik dan rekreasi.
3.

Perlu dilakukan perubahan desain peralatan kerja sesuai dengan

standart ergonomi yang baik contohnya dengan menyediakan kursi/bangku yang memiliki sandaran yang ergonomis. Hal ini mungkin dapat dicapai dengan jalan memesan secara khusus peralatan kerja sehingga ukurannya bisa disesuaikan. 4. 5. Sesuaikan ketinggian kerja bagi setiap pekerja pada ketinggain siku Sediakan kursi dimeja tempat bekerja harus melakukan tugas yang atau sedikit dibawahnya. memerlukan ketelitian atau pemeriksaan rinci terhadap bahan kerja. Juga tempat berdiri bagi pekerja yang memerlukan gerakan badan dan tenaga lebih besar. Harus tersedia ruangan yang cukup dibawah meja untuk kaki. 6. 7. Benda-benda diatas meja harus dalam posisi yang sesuai agar mudah Biarkan para pekerja untuk sering melakukan pekerjaan duduk dan dicapai dan tidak terlalu padat. pekerjaan berdiri secara bergantian.

80

8. 9.
10.

Sediakan kursi atau bangku untuk pekerja yang berdiri, agar sekali-kali Sebaiknya dilakukan pengaturan jam kerja dan rotasi kerja secara Perbanyaklah dan peliharalah sistem ventilasi untuk mendapatkan Libatkanlah pekerja dalam rancangan tempat kerjanya.

diberi kesempatan untuk duduk. berkala untuk meminimalisir bahaya potensial ergonomi yang dapat terjadi. kualitas udara yang lebih baik ditempat kerja. 11.

5.2.3. Kepada Departemen Tenaga Kerja Republik Indonesia Perlunya pengawasan yang berkelanjutan terhadap pelaksanaan program keselamatan dan kesehatan kerja pada setiap perusahaan di Indonesia.

81