Anda di halaman 1dari 5

GILAR IMAM ARIYADI 10660002

Cerita keagamaan saya dimulai saat saya dilahirkan di muka bumi ini setelat beberapa saat katanya ayah saya langsung adzan di telinga saya tapi saya sendiri tidak tahu karena saya tidak ingat kejadian itu. Sampai sekarang saya belum tahu hal itu benar atau salah karena saya tidak pernah menanyakan hal itu lagi. Lambatlaun saya tumbuh dan berkembang saya mulai belajar mengaji tapi tepatnya saya lupa umur berapa mulai membaca Iqra jilid 1. Tempatnya saya masih ingat yaitu di musola kecil dikampung halaman. selain belajar mengaji sayapun mulai belajar sholat, tapi sholatnya saya tidak tahu menggunakan versi siapa. Dalam aturan mengaji ditempat saya memiliki urutan dasar yaitu harus dimulai dengan membaca Iqro jilid 1 sampai Jilid 6. Setelah itu barulah boleh membaca Al qur'an. Perjalanan dalam membaca Iqro

dimulai dari jilid 1 di musola dekat rumah saya, yang mengajarkan adalah pak RT tapi tak cukup lama karena pak RT sering ada urusan jadi di gantikan oleh anaknya pak RT. belum selesai saya membaca Iqro sampai jilid 6 saya merasa bosan, dan dalam hati saya bertanya 'kenapa mengaji tidak ada liburnya, padahal sekolah ada liburnya' entah berapa lama saya berharap kalau mengaji ingin ada liburnya. sampai hal yang kuinginkan akhirnya terjadi juga yaitu libur mengaji, ternyata libur untuk waktu yang sangat lama sampai-sampai orang tuaku menyuruh saya

mengaji di musola lain yaitu di musola RT tetangga yang letaknya lebih jauh. disana saya langsung belajar mengaji dan membaca Al quran karena sebelum saya mengaji di tempat ini sebelumnya saya diajari membaca Al quran oleh orang tua saya. Yaitu saat libur mengaji di musola yang dekat. Dalam membaca Al quran di tempat mengaji yang baru ini saya merasa kurang nyaman karena teman-teman disini sombong dan sering nakal. Di tempat ini juga saya mengikuti proses mengaji tidak lama. Karena belum selesai baca semua Al quran saya pindah ketempat mengaji yang lain. Seingat saya ditempat mengaji yang ketiga ini Cuma di ajarin baca Al quran saja tudak ada ajaran keagamaan lain seperti ajaran untuk tingkah laku yang baik dan benar. Atau malahan saya yang lupa. Di tempat yang ketiga ini berlangsung cukup lama tapi, belum sampai katam saya sudah berhenti dari tempat mengaji. Hal ini terjadi karena pengajar ngajinya sakit dan jadi libur cukup lama, karena terlalu lama libur jadi saya malas untuk berangkat lagi. Lagi-lagi saya pindah tempat mengaji lagi ditempat yang baru. Ditempat keempat ini saya mengaji di TPQ. Ditempat ini saya diajari banyak hal termasuk ajaran moral dan bahasa arab. Yah meski dulu tak paham-paham betul tentang bahasa arab, setidaknya tau tentang bahasa arab dan arti bacaan ayatayat Al quran. Yang unik dari tempat ini adalah saat bulan Ramadhan tempat mengaji ini pindah kemasjid dan digabung dengan santri-santri

masjid. Karena sebelum mengaji disini saya cukup lama tidak membaca Al quran jadi saya mengulangnya dari awal dan dari Iqro jilid 1. Hal tersebut membuat saya mals juga. Padahal waktu itu saya ingin menyelesaikan bacaan Al quran karena dulu dalam pikiran saya kalau sudah selesai baca Al quran tidak perlu baca lagi. Tapi ternyata hal itu salah karena saya pernah menanyakan hal tersebut pada nenek saya. Waktu itu saya bermain kerumah nenek saya, dan melihat nenek saya sedang membaca Alquran. Dalam benak saya berfikir kok nenek masih baca Alquran apa dia belum selesai baca Alquran. Lalu saya menanyakan hal tersebut. dan nenek saya menjawab ya sudah selesai, tapi saya mengulangi lagi membaca Alquran dan penjelasan lain, tapi saya sudah lupa, dan dari jawaban tersebut saya sudah puas. Kembali pada mengaji. Di tempat keempat ini saya termasuk murid yang rajin, karena hampir selalu berangkat terus meski sering hujan lebat pada musim hujan saya masih terus berangkat. Saat hujan lebat inilah saya masih ingat tentang doa adzan tidak pada jam sholat ternyata untuk meminta pada Allah SWT untuk menghentikan hujan yang lebat tersebut, dan benar saja waktu itu hujannya berhenti dan saya sangat kagum dengan kekuatan doa. Semakin lama di TPQ ini semakin banyak anak-anaknya tidak seperti dulu waktu saya masuk paling anak-anaknya sekitar 20-30 saja karena waktu itu baru berdiri TPQ nya dan belum ada namanya.

Lagi-lagi belum katam atau selesai membaca Al quran saya sudah keluar dari tempat ini karena jamnya bentrok sama jam les sekolah. Mengaji saya dulu sempat pindah lagi ke pengajian ibu-ibu di RT saya karena di ajak oleh ibu saya. Di tempat ini berbeda pengajiannya karena lebih banyak mengajarkan moral atau ahlak. Dan dalam membaca Alquran dilakukan secara bersamaan, tidak seperti tempat mengaji yang sebelumnya baca alqurannya satu demi satu dengan di bimbing oleh guru ngaji. Di tempat mengaji ibu-ibu ini saya tidak lama mengikutinya karena saya merasa bosan tidak ada banyak teman disini karena adanya ibu-ibu. Akhirnya saya pindah mengaji ke Masjid disana saya melihat hal baru yaitu Kitab kuning yaitu Kitab Alquran yang bersampul warna kuning. Dan tulisannya berbeda karena tidak ada harokatnya atau gundulan. Saya bertanya kepada pengajar disitu apakah saya boleh ikut membaca Al quran tersebut. katanya harus selesai membaca alquran dulu baru diajarin membaca bacaan tersebut. Itulah pengalaman mengaji saya dalam membaca ayat Al quran. Berikut pengalaman saya dalam proses sholat. Awal saya belajar sholat waktu kecil dulu diajarkan oleh orangtua saya. Waktu dulu saya awal belajar sholat sudah diajarkan perbedaan dalam sholat yaitu perbedaan dalam doa sholat. Dulu saya tidak terlalu memperdebatkan kedua doa tersebut karena waktu itu Ibu saya bilang hal itu sama saja karena yang penting adalah niatnya baik dan benar,

dan waktu itu juga ibu bilang gerakan sholat juga ada yang sedikit berbeda. Tapi ibu saya tidak mengajariku pergerakan yang lain karena yang paling banyak di pakai ditempat tinggal saya saja cara sholat yang di ajarkan. Dan ibu saya tidak menjelaskan darimana kedua doa sholat itu berbeda juga perbedaan sholat itu terjadi. Awal-awal sholat ibu saya memasang doa-doa sholat di depan tempat sholat dirumah. Hal tersebut karena dulu saya sangat sulit menghafalkan doa-doa. Jadi sholat saya dulu sambil belihat tembok karean disitu dipasang tatacara dan doa sholat. Di tempat mengaji saya juga diajari tatacara sholat, tapi hanya diajarkan pergerakan doa sholat satu jenis saja, dan tidak disebutkan asal mula tatacara sholat itu. Selain di tempat mengaji saya juga di ajari tata sholat di SD, saya masih ingat dulu waktu di SD anutan sholatnya tatacara gerak dan doa ada di poster yang dipasang diruang kelas. Pertama melihat gerakan sholat yang berbeda adalah dari saudara tetangga saya yang mudik, awalnya saya heran mengapa begitu sholatnya berbeda dengan kami. Dan awalnya saya kira orang alim yang sholatnya berbeda ternyata karena beda saja tata cara sholatnya dengan dalil lain. Memasuki SMP baru diajarkan tentang sholat yang berbeda dengan dalil-dalilnya. Dan pernah ada pertanyaan kenapa berbeda-beda dan kita harus sholat dengan cara yang mana yang kita pakai. Ternyata jawabannya mirip dengan jawaban yang dulu pernah saya tanyakan pada ibu saya. Semua itu sama yang penting niatnya yang baik.