Anda di halaman 1dari 19

Revisi

SEJARAH KODIFIKASI AL-QURAN


Makalah
Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Studi Al-Quran Dosen Pengampu : Dr. Hj. Yuyun Afandi, Lc.

Disusun Oleh :

Muh. Asroruddin A.J.


NIM : 095112032

PROGRAM PASCASARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) WALISONGO

2009

MAKALAH STUDI AL-QURAN DAN HADITS : Sejarah Kodifikasi Al-Quran


Disusun Oleh : Muh. Asroruddin / 095112032
A. PENDAHULUAN Telah kita maklumi bersama bahwa Al-Quran itu diturunkan secara berangsur-angsur. Setiap kali ayat-ayat Al-Quran turun Rasulullah saw. Menyuruh penulis wahyu untuk menulisnya. Kebanyakan dari sahabat menghafalnya akan tetapi walaupun ditulis oleh para penulis wahyu, namun ia tidak terkumpul dalam suatu mushaf. Al-Quran semenjak diturunkan kepada Rasulullah saw. hingga saat ini masih utuh dan masih terjaga, karena Allah telah menjamin kemurnian dan kesucian Al-Qur'an, akan selamat dari usaha-usaha pemalsuan, penambahan atau pengurangan-pengurangan sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah dalam surat Al-Hijr: 9 sebagai berikut :


Maksudnya : Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya (QS. AlHijr:9). Dalam catatan sejarah dapat dibuktikan bahwa proses kodifikasi dan penulisan Qur'an dapat menjamin kesuciannya secara meyakinkan. Qur'an ditulis sejak Nabi masih hidup. Begitu wahyu turun kepada Nabi, Nabi langsung memerintahkan para sahabat penulis wahyu untuk menuliskannya secara hati-hati. Begitu mereka tulis, kemudian mereka hafalkan sekaligus mereka amalkan. Dalam makalah ini penulis akan menggambarkan sejarah kodifikasi/ pengumpulan Al-Quran pada masa Rasulullah SAW dan setelah beliau wafat, baik pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq hingga Utsman bin Affan, dan beberapa hal terkait dengan sejarah pengumpulan Al-Quran. B. POKOK PERMASALAHAN

Pokok permasalahan yang akan penulis angkat dalam makalah ini terkait dengan judul makalah adalah : 1. SAW? 2. Bagaimana sejarah kodifikasi Al-Quran ditinjau dari proses pengumpulan dan pembukuan pada masa Khalifah Abu Bakar AshShiddiq, dan Utsman bin Affan? C. SEJARAH KODIFIKASI AL-QURAN 1. Pengertian Pengumpulan/Kodifikasi Quran Kata penghimpunan/kodifikasi Al-Quran (Jam Al-Quran) terkadang dimaksudkan sebagai pemeliharaan dan penjagaan dalam dada (penghafalan), dan terkadang dimaksudkan sebagai penulisan keseluruhannya, huruf demi huruf, kata demi kata, ayat demi ayat dan surat demi surat (penulisan). Yang kedua ini medianya adalah shahifahshahifah dan lembaran-lembaran lainnya, sedangkan yang pertama medianya adalah hati dan dada (Al-Zarqani, Manahil al-Urfan fi Ulum Al-Quran, 2002 hal. 259). Selanjutnya, penghimpunan Al-Quran dalam pengertian penulisannya berlangsung tiga kali. Pertama pada masa Rasulullah SAW. Kedua pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan ketiga pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan. Pada yang terakhir inilah dilakukan penyalinan menjadi beberapa mushaf dan dikirim ke berbagai daerah. Dari paparan di atas telah kita maklumi bersama bahwa Al-Quran sebagai Kitab Suci kaum muslim dibukukan (dikodifikasi) hingga menjadi mushaf yang surat-surat, ayat-ayat dan tanda bacaannya tersusun seperti yang sekarang kita gunakan, telah melalui tahapan-tahapan dan proses yang cukup lama, diantaranya yaitu tahap pengumpulan ayat-ayat AlQuran pada masa Rasulullah SAW., kemudian melalui proses pembukuan pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq serta melalui proses Bagaimana sejarah kodifikasi Al-Quran pada masa Rasulullah

penyempurnaan bacaan dan penggandaan Al-Quran yang dilakukan pada masa menjabatnya Utsman bin Affan sebagai Khalifah. Hal senada dijelaskan oleh Manna Khalil Al-Khattan (2001:178179) dalam bukunya Mabahis fi Ulumil Quran, ia menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Pengumpulan al-Quran (Jamul Quran) oleh para ulama dibagi menjadi dua pengertian yaitu sebagai berikut : Pertama: pengumpulan dalam arti hifzuhu (menghafalnya dalam hati). Jummaul Quran artinya huffazuhu (penghafal-penghafalnya, orang yang menghafalkannya di dalam hati). Inilah makna yang dimaksudkan dalam firman Allah kepada Nabi, Nabi senantiasa menggerakkan kedua bibir dan lidahnya untuk membaca Al-Quran ketika hal itu diturunkan kepadanya sebelum selesai membacakannya, karena ingin menghafalnya. Firman Allah SWT.

. . .
Artinya : Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk membaca Al-Quran karena hendak cepat-cepat menguasainya. Sesungguhnya atas tanggung jawab Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaan itu. Kemudian, atas tanggungan Kamilah penjelasannya. (QS. al-Qiyamah : 1619). Kedua: pengumpulan dalam arti kitabatuhu kullihi (penulisan AlQuran seluruhnya) baik dengan memisahkan-memisahkan ayat-ayat dan surat-suratnya, atau menertibkan ayat-ayat semata dan setiap surah ditulis dalam satu lembaran secara semua surat. 2. Pengumpulan Al-Quran Pada Masa Rasulullah SAW. terpisah, atau menertibkan ayat-ayat dan suratnya dalam lembaran-lembaran yang terkumpul yang menghimpun

Dalam usaha kodifikasi Al-Quran Rasulullah

mempunyai

beberapa orang pencatat wahyu, di antaranya, empat orang sahabat yang kemudian menjadi para khalifah rasyidun (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali), Muawiyah, Zaid bin Tsabit, Khalid bin Walid, Ubai bin Kaab dan Tsabit bin Qeis. Beliau menyuruh mereka mencatat setiap wahyu yang turun, sehingga al-Quran yang terhimpun di dalam dada menjadi kenyataan tertulis (as-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Al-Quran, 1990. Hal. 78). Pengumpulan Al-Quran pada zaman Rasulullah SAW ditempuh dengan dua cara, yaitu al-Jamu fis sudur, dan yang kedua adalah al-jamu fi suthur (http://www.geocities.com/denwij/kodifikasi.htm). Pertama : al Jam'u fis Sudur. Para sahabat langsung menghafalnya diluar kepala setiap kali Rasulullah SAW menerima wahyu. Hal ini bisa dilakukan oleh mereka dengan mudah terkait dengan kultur (budaya) orang arab yang menjaga Turast (peninggalan nenek moyang mereka diantaranya berupa syair atau cerita) dengan media hafalan dan mereka sangat masyhur dengan kekuatan daya hafalannya. Kedua : al Jam'u fis Suthur, yaitu wahyu turun kepada Rasulullah SAW ketika beliau berumur 40 tahun yaitu 12 tahun sebelum hijrah ke Madinah. Kemudian wahyu terus menerus turun selama kurun waktu 23 tahun berikutnya dimana Rasulullah SAW. setiap kali turun wahyu kepadanya selalu membacakannya kepada para sahabat secara langsung dan menyuruh mereka untuk menuliskannya sembari melarang para sahabat untuk menulis hadis-hadis beliau karena khawatir akan bercampur dengan Al-Quran. Rasul SAW bersabda "Janganlah kalian menulis sesuatu dariku kecuali Al-Quran, barangsiapa yang menulis sesuatu dariku selain Al-Quran maka hendaklah ia menghapusnya " (Hadis dikeluarkan oleh Muslim (pada Bab Zuhud hal 8) dan Ahmad (Hal. 1). Biasanya sahabat menuliskan Al-Quran pada media yang terdapat pada waktu itu berupa ar-Riqa' (kulit binatang), al-Likhaf (lempengan batu), al-Aktaf (tulang binatang), al-`Usbu ( pelepah kurma). Sedangkan

jumlah sahabat yang menulis Al-Quran waktu itu mencapai 40 orang. Adapun hadis yang menguatkan bahwa penulisan Al-Quran telah terjadi pada masa Rasulullah s.a.w. adalah hadis yang di Takhrij (dikeluarkan) oleh al-Hakim dengan sanadnya yang bersambung pada Anas r.a., ia berkata: "Suatu saat kita bersama Rasulullah s.a.w. dan kita menulis AlQuran (mengumpulkan) pada kulit binatang ". Dari kebiasaan menulis Al-Quran ini menyebabkan banyaknya naskah-naskah (manuskrip) yang dimiliki oleh masing-masing penulis wahyu, diantaranya yang terkenal adalah: Ubay bin Ka'ab, Abdullah bin Mas'ud, Mu'adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Salin bin Ma'qal. Adapun hal-hal yang lain yang bisa menguatkan bahwa telah terjadi penulisan Al-Quran pada waktu itu adalah Rasulullah SAW melarang membawa tulisan Al-Quran ke wilayah musuh. Kisah masuk Islamnya sahabat `Umar bin Khattab r.a. yang disebutkan dalam buku-buku sejarah bahwa waktu itu `Umar mendengar saudara perempuannya yang bernama Fatimah sedang membaca awal surah Thahaa dari sebuah catatan (manuskrip) Al-Quran kemudian `Umar mendengar, meraihnya kemudian membacanya, inilah yang menjadi sebab ia mendapat hidayah dari Allah sehingga ia masuk Agama Islam. Sepanjang hidup Rasulullah s.a.w Al-Quran selalu ditulis bilamana beliau mendapat wahyu karena Al-Quran diturunkan tidak secara sekaligus tetapi secara bertahap. 3. Kodifikasi Al-Quran Pada Masa Abu Bakar Ash-Shiddiq dan a. Pada Masa Abu Bakar Ash-Shiddiq Setelah Rasulullah saw. wafat dan Abu Bakar menjadi Khalifah, dan Musailamah Al-Kadzab mengaku dirinya Nabi. Dia mengembangkan khurafat dan kebohongan-kebohongannya. Dia dapat mempengaruhi Banu Hanifah dari penduduk Yamamah lalu mereka menjadi murtad. Setelah Abu Bakar mengetahui tindakan Musailamah

Utsman bin Affan

itu, beliau menyiapkan suatu pasukan tentara yang terdiri dari 4000 pengendara kuda yang menggempur mereka. Kemudian banyak di antara para sahabat yang gugur, selain itu syahid pula 70 orang penghafal Al-Quran. Serangan terhadap Musailamah tersebut dinamakan peperangan Yamamah (Ash-Shiddiqie, Sejarah Ilmu dan Pengantar Ilmu al-Quran dan Tafsir, 2000. Hal. 80). Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya sebab-sebab yang melatar belakangi pengumpulan naskah-naskah Al Quran yang terjadi pada masa Abu Bakar yaitu atsar yang diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit r.a. yang berbunyi: Suatu ketika Abu Bakar menemuiku (Zaid bin Tsabit) untuk menceritakan perihal korban pada perang Yamamah, ternyata Umar juga bersamanya. Abu Bakar berkata : Umar menghadap kepadaku dan mengatakan bahwa korban yang gugur pada perang Yamamah sangat banyak khususnya dari kalangan para penghafal Al Quran, aku khawatir kejadian serupa akan menimpa para penghafal Al Quran di beberapa tempat sehingga suatu saat tidak akan ada lagi sahabat yang hafal Al Quran, menurutku sudah saatnya engkau wahai khalifah memerintahkan untuk mengumpulkan Al Quran, lalu aku (Abu Bakar) berkata kepada Umar : bagaimana mungkin kita melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw.? Umar menjawab: Demi Allah, ini adalah sebuah kebaikan. Selanjutnya Umar selalu saja mendesakku untuk melakukannya sehingga Allah melapangkan hatiku, maka aku setuju dengan usul Umar untuk mengumpulkan Al Quran. Zaid berkata: Abu Bakar berkata kepadaku : engkau adalah seorang pemuda yang cerdas dan pintar, kami tidak meragukan hal itu, dulu engkau menulis wahyu (Al Quran) untuk Rasulullah saw., maka sekarang periksa dan telitilah Al Quran lalu kumpulkanlah menjadi sebuah mushaf. Zaid berkata : Demi Allah, andaikata mereka memerintahkan aku untuk memindah salah satu gunung tidak akan lebih berat dariku

dan pada memerintahkan aku untuk mengumpulkan Al-Quran. Kemudian aku teliti Al-Quran dan mengumpulkannya dari pelepah kurma, lempengan batu, dan hafalan para sahabat yang lain). Kemudian Mushaf hasil pengumpulan Zaid tersebut disimpan oleh Abu Bakar, peristiwa tersebut terjadi pada tahun 12 H. Setelah ia wafat disimpan oleh khalifah sesudahnya yaitu Umar, setelah ia pun wafat mushaf tersebut disimpan oleh putrinya dan sekaligus istri Rasulullah s.a.w. yang bernama Hafsah binti Umar r.a. (http://www.geocities.com/denwij/kodifikasi.htm) Semua sahabat sepakat untuk memberikan dukungan mereka secara penuh terhadap apa yang telah dilakukan oleh Abu Bakar berupa mengumpulkan Al Quran menjadi sebuah Mushaf. Kemudian para sahabat membantu meneliti naskah-naskah Al Quran dan menulisnya kembali. Sahabat Ali bin Abi Thalib berkomentar atas peristiwa yang bersejarah ini dengan mengatakan : Orang yang paling berjasa terhadap Mushaf adalah Abu Bakar, semoga ia mendapat rahmat Allah karena ialah yang pertama kali mengumpulkan Al Quran, selain itu juga Abu Bakarlah yang pertama kali menyebut Al Quran sebagai Mushaf. Menurut riwayat yang lain orang yang pertama kali menyebut Al Quran sebagai Mushaf adalah sahabat Salim bin Maqil pada tahun 12 H lewat perkataannya yaitu : Kami menyebut di negara kami untuk naskah-naskah atau manuskrip Al Quran yang dikumpulkan dan di bundel sebagai Mushaf dari perkataan Salim inilah Abu Bakar mendapat inspirasi untuk menamakan naskah-naskah Al Quran yang telah dikumpulkannya sebagai al-Mushaf as Syarif (kumpulan naskah yang mulya). Dalam Al Quran sendiri kata Suhuf (naskah ; jamanya Sahaif) tersebut 8 kali, salah satunya adalah firman Allah QS. Al Bayyinah (98):2

Artinya : Yaitu seorang Rasul utusan Allah yang membacakan beberapa lembaran suci. (Al Quran) b. Pada Masa Usman bin Affan Pada masa pemerintahan Usman bin Affan terjadi perluasan wilayah Islam di luar Jazirah Arab sehingga menyebabkan umat Islam bukan hanya terdiri dari bangsa Arab saja (Ajamy). Kondisi ini tentunya memiliki dampak positif dan negatif. Salah satu dampaknya adalah ketika mereka membaca Al Quran, karena bahasa asli mereka bukan bahasa Arab. Fenomena ini ditangkap dan ditanggapi secara cerdas oleh salah seorang sahabat yang juga sebagai panglima perang pasukan Muslim yang bernama Hudzaifah bin al-Yaman. Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas r.a. bahwa suatu saat Hudzaifah yang pada waktu itu memimpin pasukan Muslim untuk wilayah Syam (sekarang Syiria) mendapat misi untuk menaklukkan Armenia, Azerbaijan (dulu termasuk Soviet) dan Iraq menghadap Usman dan menyampaikan kepadanya atas realitas yang terjadi dimana terdapat perbedaan bacaan Al Quran yang mengarah kepada perselisihan. Ia berkata : wahai Usman, cobalah lihat rakyatmu, mereka berselisih gara-gara bacaan Al Quran, jangan sampai mereka terus menerus berselisih sehingga menyerupai kaum Yahudi dan Nasrani . Lalu Usman meminta Hafsah meminjamkan Mushaf yang di pegangnya untuk disalin oleh panitia yang telah dibentuk oleh Usman yang anggotanya terdiri dari para sahabat diantaranya Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin alAsh, Abdurrahman bin al-Haris dan lain-lain.

10

Kodifikasi dan penyalinan kembali Mushaf Al Quran ini terjadi pada tahun 25 H, Usman berpesan apabila terjadi perbedaan dalam pelafalan agar mengacu pada Logat bahasa suku Quraisy karena Al Quran diturunkan dengan gaya bahasa mereka. Setelah panitia selesai menyalin mushaf, mushaf Abu Bakar dikembalikan lagi kepada Hafsah. Selanjutnya Usman memerintahkan untuk membakar setiap naskah-naskah dan manuskrip Al Quran selain Mushaf hasil salinannya yang berjumlah 6 Mushaf. Mushaf hasil salinan tersebut dikirimkan ke kota-kota besar yaitu Kufah, Basrah, Mesir, Syam dan Yaman. Usman menyimpan satu mushaf untuk ia simpan di Madinah yang belakangan dikenal sebagai Mushaf al-Imam. Tindakan Usman untuk menyalin dan menyatukan Mushaf berhasil meredam perselisihan dikalangan umat Islam sehingga ia menuai pujian dari umat Islam baik dari dulu sampai sekarang sebagaimana khalifah pendahulunya Abu Bakar yang telah berjasa mengumpulkan Al Quran. Adapun Tulisan yang dipakai oleh panitia yang dibentuk Usman untuk menyalin Mushaf adalah berpegang pada Rasm al-Anbath tanpa harakat atau Syakl (tanda baca) dan Nuqtah (titik sebagai pembeda huruf).

c. Tanda Yang Mempermudah Membaca Al-Quran Sampai sekarang, setidaknya masih ada empat mushaf yang disinyalir adalah salinan mushaf hasil panitia yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit pada masa khalifah Usman bin Affan. Mushaf pertama ditemukan di kota Tasyqand yang tertulis dengan Khat Kufy. Dulu sempat dirampas oleh kekaisaran Rusia pada tahun 1917 M dan disimpan di perpustakaan Pitsgard (sekarang St.PitersBurg) dan umat Islam dilarang untuk melihatnya.

11

Pada tahun yang sama setelah kemenangan komunis di Rusia, Lenin memerintahkan untuk memindahkan Mushaf tersebut ke kota Opa sampai tahun 1923 M. Tapi setelah terbentuk Organisasi Islam di Tasyqand para anggotanya meminta kepada parlemen Rusia agar Mushaf dikembalikan lagi ketempat asalnya yaitu di Tasyqand (Uzbekistan, negara di bagian Asia Tengah). Mushaf kedua terdapat di Museum al Husainy di

kota Kairo Mesir dan Mushaf ketiga dan keempat terdapat di kota Istambul Turki. Umat Islam tetap mempertahankan keberadaan mushaf yang asli apa adanya. Sampai suatu saat ketika umat Islam sudah terdapat hampir di semua belahan dunia yang terdiri dari berbagai bangsa, suku, bahasa yang berbeda-beda sehingga memberikan inspirasi kepada salah seorang sahabat Ali bin Abi Thalib yang menjadi khalifah pada waktu itu yang bernama Abul-Aswad as-Dualy untuk membuat tanda baca (Nuqathu Irab) yang berupa tanda titik. Atas persetujuan dari khalifah, akhirnya ia membuat tanda baca tersebut dan membubuhkannya pada mushaf. Adapun yang mendorong Abul-Aswad ad-Dualy membuat tanda titik adalah riwayat dari Ali r.a bahwa suatu ketika Abul-Aswad ad-Dualy menjumpai seseorang yang bukan orang Arab dan baru masuk Islam membaca kasrah pada kata Warasuulihi yang seharusnya dibaca Warasuuluhu yang terdapat pada QS. At-Taubah (9) 3 sehingga bisa merusak makna. Abul-Aswad ad-Dualy menggunakan titik bundar penuh yang berwarna merah untuk menandai fathah, kasrah, Dhammah, Tanwin dan menggunakan warna hijau untuk menandai Hamzah. Jika suatu kata yang ditanwin bersambung dengan kata berikutnya yang berawalan huruf Halq (idzhar) maka ia membubuhkan tanda titik dua horizontal seperti adzabun alim dan membubuhkan tanda titik dua Vertikal untuk menandai Idgham seperti ghafurrur rahim.

12

Adapun yang pertama kali membuat Tanda Titik untuk membedakan huruf-huruf yang sama karakternya (nuqathu hart) adalah Nasr bin Ashim (W. 89 H) atas permintaan Hajjaj bin Yusuf asTsaqafy, salah seorang gubernur pada masa Dinasti Daulah Umayyah (40-95 H). Sedangkan yang pertama kali menggunakan tanda Fathah, Kasrah, Dhammah, Sukun, dan Tasydid seperti yang-kita kenal sekarang adalah al-Khalil bin Ahmad al-Farahidy (W.170 H) pada abad ke II H (Http://www.pengobatan.com/ajaran_islam/sejarah_ kodifikasi.htm). Pada literatur lain disebutkan bahwa untuk menyempurnakan cara-cara penulisan dan penyeragaman bacaan, dalam rangka menghindari adanya kesalahan-kesalahan bacaan maupun tulisan. Karena penulisan Qur'an pada masa pertama tidak memakai tanda baca (tanda titik dan harakat). Maka Al-Khalil mengambil inisiatif untuk membuat tanda-tanda yang baru, yaitu huruf waw yang kecil diatas untuk tanda dhammah, huruf alif kecil diatas sebagai tanda fathah, huruf alif yang kecil dibawah untuk tanda kasrah, kepala huruf syin untuk tanda shiddah, kepala ha untuk sukun, dan kepala ain untuk hamzah. Kemudian tanda-tanda ini dipermudah, dipotong, dan ditambah sehingga menjadi bentuk yang sekarang ada. Dalam perkembangan selanjutnya tumbuhlah beberapa macam tafsir Qur'an yang ditulis oleh ulama Islam, yang sampai saat ini tidak kurang dari 50 macam tafsir Qur'an. Juga telah tumbuh pula berbagai macam disiplin ilmu untuk membaca dan membahas Qur'an (Http://www.pengobatan.com/ajaran_islam/sejarah_kodifikasi.htm). Kemudian pada masa Khalifah Al-Makmun, para ulama selanjutnya berijtihad untuk semakin mempermudah orang untuk membaca dan menghafal Al Quran khususnya bagi orang selain Arab

13

dengan menciptakan tanda-tanda baca tajwid yang berupa Isymam, Rum, dan Mad. Sebagaimana mereka juga membuat tanda Lingkaran Bulat sebagai pemisah ayat dan mencamtumkan nomor ayat, tanda-tanda waqaf (berhenti membaca), ibtida (memulai membaca), menerangkan identitas surah di awal setiap surah yang terdiri dari nama, tempat turun, jumlah ayat, dan jumlah ain. Tanda-tanda lain yang dibubuhkan pada tulisan Al Quran adalah Tajzi yaitu tanda pemisah antara satu Juz dengan yang lainnya berupa kata Juz dan diikuti dengan penomorannya (misalnya, al-Juzutsalisu: untuk juz 3) dan tanda untuk menunjukkan isi yang berupa seperempat, seperlima, sepersepuluh, setengah Juz dan Juz itu sendiri. Sebelum ditemukan mesin cetak, Al Quran disalin dan diperbanyak dari Mushaf Utsmani dengan cara tulisan tangan. Keadaan ini berlangsung sampai abad ke16 M. Ketika Eropa menemukan mesin cetak yang dapat digerakkan (dipisah-pisahkan) dicetaklah Al-Quran untuk pertama kali di Hamburg, Jerman pada tahun 1694 M. Naskah tersebut sepenuhnya dilengkapi dengan tanda baca. Adanya mesin cetak ini semakin mempermudah umat Islam memperbanyak mushaf Al Quran. Mushaf Al Quran yang pertama kali dicetak oleh kalangan umat Islam sendiri adalah mushaf edisi Malay Usman yang dicetak pada tahun 1787 dan diterbitkan di St. Pitersburg Rusia. Kemudian diikuti oleh percetakan lainnya, seperti di

Kazan pada tahun 1828, Persia Iran tahun 1838 dan Istambul tahun 1877. Pada tahun 1858, seorang Orientalis Jerman, Fluegel, menerbitkan Al Quran yang dilengkapi dengan pedoman yang amat bermanfaat.

14

Sayangnya, terbitan Al Quran yang dikenal dengan edisi Fluegel ini ternyata mengandung cacat yang fatal karena sistem penomoran ayat tidak sesuai dengan sistem yang digunakan dalam mushaf standar. Mulai Abad ke-20, pencetakan Al Quran dilakukan umat Islam sendiri. Pencetakannya mendapat pengawasan ketat dari para Ulama untuk menghindari timbulnya kesalahan cetak. Cetakan Al Quran yang banyak dipergunakan di dunia Islam dewasa ini adalah cetakan Mesir yang juga dikenal dengan edisi Raja Fuad karena dialah yang memprakarsainya. Edisi ini ditulis berdasarkan Qiraat Ashim riwayat Hafs dan pertama kali diterbitkan di Kairo pada tahun 1344 H/ 1925 M. Selanjutnya, pada tahun 1947 M untuk pertama kalinya Al Quran dicetak dengan tekhnik cetak offset yang canggih dan dengan memakai huruf-huruf yang indah. Pencetakan ini dilakukan di Turki atas prakarsa seorang ahli kaligrafi turki yang terkemuka Said Nursi.

D. ANALISIS Al-Quran adalah wahyu yang diturunkan dari langit oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril a.s. Sejarah penurunannya selama 23 tahun secara berangsur-angsur telah memberi kesan yang sangat besar dalam kehidupan seluruh manusia. Di dalamnya terkandung pelbagai ilmu, hikmah dan pengajaran yang tersurat maupun tersirat. Sebagai umat Islam, kita haruslah berpegang kepada Al-Quran dengan membaca, memahami dan mengamalkan serta menyebarluas ajarannya. Bagi mereka yang mencintai dan mendalaminya akan mengambil iktibar serta pengajaran, lalu menjadikannya sebagai panduan dalam meniti kehidupan dunia menuju akhirat yang kekal abadi. Sebagai umat Islam juga kita sudah sepatutnya merasa bertanggung jawab untuk membela dan menjaga Al-Quran dari pihak-pihak yang berusaha dan sengaja merubah keautentikannya, sebagaimana terjadi beberapa waktu

15

lalu telah beredar beberapa surat baru yang dibuat oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Ini merupakan pekerjaan rumah buat kita, terutama kita selaku kaum terpelajar untuk tetap menjaga Al-Quran dari usaha-usaha merubah ayat-ayat bahkan surat-surat yang telah ada. Karena bagaimanapun juga kita aku bersama masih teramat banyak di antara saudara-saudara kita yang masih awam akan hal-hal seperti ini. Sudah bisa kita bayangkan kalau seandainya saudara-saudara kita itu membaca dan mempelajari Al-Quran yang telah diubah tersebut. Terkait dengan sejarah kodifikasi Al-Quran yang telah penulis paparkan di atas yaitu tentang masa penulisan ayat-ayat Al-Quran pada masa hayat Rasulullah. Pada saat itu tidak begitu banyak terdapat masalah pada saat proses penulisan ayat-ayat Al-Quran, karena para sahabat yang bertugas menulis ayat-ayat Al-Quran langsung dibimbing oleh Rasulullah. Bahkan Rasulullah saw. melarang sahabat menulis hadits hadits jika Rasulullah memerintahkan mereka untuk menulis ayat-ayat Al-Quran. Hal ini untuk menghindari tercampurnya penulisan Hadits dengan ayat Al-Quran. Demikian juga dalam hal ibadah dan muamalah, para sahabat dan ummat Islam pada saat itu tidak begitu mendapatkan kesulitan dalam penerapan sehari-hari. Karena jika para sahabat dan kaum muslimin pada saat itu mendapatkan permasalahan, mereka langsung menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah saw. Akan tetapi keadaan mulai sedikit berubah setelah Rasulullah saw. wafat, termasuk dalam hal menjaga keutuhan Al-Quran. Diantaranya yaitu banyaknya sahabat yang meninggal pada saat perang Yamamah yang terjadi pada tahu 12 H. yaitu sekitar 70 orang penghafal. Atas dasar inilah Usman menjadi khawatir kemudian menghadap Abu Bakar dan menyampaikan kekhawatirannya akan hal ini dan menyarankan untuk mengumpulkan (jam) al-Quran. Abu Bakar yang pada saat itu menjabat sebagai khalifah merasa ragu untuk melaksanakan hal tersebut, karena Rasulullah tidak pernah melakukan

16

hal tersebut. Keraguan Abu Bakar ini mungkin merupakan suatu hal yang wajar terjadi, karena bagaimanapun juga Rasulullah sebagai panutan tidak pernah mencontohkan, apalagi untuk memerintahkan. Akan tetapi atas desakan Usman dan juga Allah telah melapangkan dadanya, maka Abu Bakar menyetujui untuk mengumpulkan ayat-ayat yang tercecer menjadi sebuah mushaf dengan pertimbangan agar ayat-ayat AlQuran tersebut dapat terjaga. Ada beberapa hal yang perlu disampaikan di sini terkait keputusan yang diambil Abu Bakar untuk mengumpulkan al-Quran menjadi sebuah mushaf. Melihat kondisi yang berkembang pada saat itu, yaitu dengan banyaknya para penghafal yang gugur dalam peperangan, bahkan dalam sejarah banyak sekali terdapat peperangan yang terjadi saat itu, keputusan tersebut memang layak dan pantas, walaupun pada dasarnya Rasulullah tidak pernah memerintahkan. Karena jika hal tersebut tidak dilakukan, justru akan menimbulkan hal negatif, yaitu hilangnya ayat-ayat Allah. Sebenarnya dalam proses kodifikas yang dilakukan oleh Abu Bakar tidak merubah sedikitpun isi Al-Quran. Mereka hanya menyalin tulisantulisan Al-Quran dari daun, pelepah maupun tulang-tulang yang tercecer kedalam satu mushaf. Dalam masalah tulis menulis, Abu Bakar mengandalkan Zaid bin Tsabit yang pada saat itu dikenal cerdas, pintar dan dapat dipercaya sehingga tidak diragukan lagi keasliannya. Pada saat pembukuan Al-Quran semasa Khalifah Usman bin Affan, tidak hanya menyalin naskah yang ada, tetapi merefisi berbagai qiraat yang berkembang pada waktu itu. Tetapi inti dari keduanya adalah sama, mereka sama ingin membela dan memperjuangkan Islam dan ajarannya. E. KESIMPULAN Sebagai kesimpulan dari paparan di atas, penulis dapat menarik beberapa poin yaitu: 1. Pengumpulan Al-Quran pada masa Rasulullah SAW tidak begitu banyak mendapatkan masalah, karena setiap kali Rasulullah mendapatkan

17

wahyu, para sahabat yang telah ditunjuk (di antaranya Ubay bin Ka'ab, Abdullah bin Mas'ud, Mu'adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Salin bin Ma'qal) langsung menghafal dan menulisnya pada kulit binatang, pelapah kurma, lempengan batu, ataupun pada tulang-tulang binatang. 2. Pada saat peperangan Yamamah sekitar 700 orang penghafal gugur, selain itu banyak peperangan lain yang juga banyak memakan korban dari pihak muslim dan sebagian penghafal Al-Quran, atas dasar itu dan juga atas saran Umar bin Khattab, Abu Bakar memutuskan untuk mengumpulkan ayat-ayat al-Quran yang masih tercecer ke dalam satu mushaf. 3. Karena banyak terdapat perbedaan qiraat pada masa Pemerintahan Usman bin Affan, ia kemudian berinisiatif untuk mengumpulkan mushafmushaf dari seluruh negeri dan melakukan sedikit melakukan perubahan yaitu dengan menggantinya dengan bahasa Arab Quraisy, karena bagaimanapun juga Al-Quran kebetulan turun pada kaum muslim Quraisy. Langkah ini diambil guna menyamakan qiraah, dan keputusan tersebut diterima dan disambut baik oleh kaum muslimin pada waktu itu. 4. Mushaf-mushaf yang qiraatnya berbeda tersebut dimusnahkan oleh Usman dan menggandakan mushaf yang telah diperbaharui tersebut menjadi 6 dan disebarkan ke Kufah, Basrah, Mesir, Syam dan Yaman, dan satu mushaf lagi disimpan oleh Usman yang kemudian belakangan disebut sebagai Mushaf Al-Imam. F. PENUTUP Demikian makalah ini penulis susun, mudahan ada manfaatnya bagi pembaca, khususnya bagi penulis sendiri. Saran dan kritik yang bersifat konstruktif sangat penulis harapkan untuk melengkapi makalah ini.

18

G. DAFTAR PUSTAKA As-Shalih, Subhi, Membahas Ilmu-Ilmu Al-Quran, Pustaka Firdaus: Jakarta, 1990 Ash-Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu AlQuran dan Tafsir, PT. Pustaka Rizki Putra: Semarang, 2000. Al-Khattan, Manna Khalil, Mabahis fi Ulumil Quran, diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Mudzakir AS, Cet. 6, Pustaka Litera AntarNusa; Bogor, 2001. Al-Said, Labib, The Recited Koran, The Darwin Press.Inc; New Jersey, 1975. Al-Zarqani, Muhammad Abdul Adzim, Syeikh, Manahil al-Urfan fi Ulum alQuran, Gaya Media Pratama; Jakarta, 2002. Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, CV. Jumanatul AliArt: Bandung, 2005. Mustafa Al-Azami, Muhammad, The History of The Quranic Text : From Revalation to Compilation, Gema Insani; Jakarta, 2006. Http://www.geocities.com/denwij/kodifikasi.htm Http://dennyhendrata.wordpress.com/2006/09/28/sejarah-kodifikasi-al-quran/ Http://www.pengobatan.com/ajaran_islam/sejarah_kodifikasi.htm

19