Anda di halaman 1dari 55

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEM MANUFACTUR

Disusun Oleh : Martina J.K (08540007)

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2012

MODUL I PRODUCT DESIGN Engineering design dari produk dan proses merupakan salah satu faktor yang paling kritis dalam sistem manufacturing modern. Oleh karena itu, pemahaman tentang proses design dan CAD tools sangat dibutuhkan agar produk dan proses yang didesain dapat dilaksanakan di lantai kerja. I. Tujuan Praktikum 1. Mendapatkan informasi tentang produk yang akan dibuat 2. Mendesain produk yang akan diproduksi 3. Membuat bill of material dari desain produk tersebut
II. Tinjauan Pustaka

Desain Produk, atau dalam bahasa keilmuan disebut juga Desain Produk Industri, adalah sebuah bidang keilmuan atau profesi yang menentukan bentuk/form dari sebuah produk manufaktur, mengolah bentuk tersebut agar sesuai dengan pemakainya dan sesuai dengan kemampuan proses produksinya pada industri yang memproduksinya. Tujuan dasar dari segala upaya yang dilakukan oleh seorang/sebuah team desainer produk dalam kerjanya adalah untuk membuat hidup lebih nyaman, menyenangkan, dan efisien. Kursi kantor yang nyaman, pisau dapur yang nyaman dipakai oleh orang berusia lanjut dan mainan yang aman dimainkan dan dapat merangsang anak-anak untuk belajar adalah contohcontoh hasil kreasi para desainer produk yang dihasillkan dengan mempelajari manusia pada saat melakukan aktivitasnya dalam bekerja, di rumah, ataupun di lain tempat. Dengan mempelajari bagian-bagian produk yang langsung berinteraksi dengan manusia pemakainya tersebut, diharapkan selain dapat dihasilkan produk-produk yang aman terhadap penggunanya juga aman terhadap lingkungan. Pada akhirnya dari sentuhan seorang/team desainer produk lahirlah sebuah produk yang elegant yang membuat masyarakat ingin untuk membelinya. Berbagai cara dapat dilakukan untuk memunculkan ide-ide dalam mendapatkan informasi tentang produk yang akan dibuat. Salah satu cara yang paling sering digunakan adalah brainstorming atau gugah pendapat. Ide-ide yang dikemukakan dalam gugah pendapat ini ialah mengenai alternatif produk yang telah diidentifikasi sebelumnya. Setiap alternatif yang dikemukakan harus lebih unggul dari apa yang dilakukan saat ini, misalkan dalam contoh pembuatan computer ukuran notebook dipertimbangkan juga

penggunaan teknologi very large scale integrated circuit. Pemilihan bahan dan kompleksitas desain serta pilihan-pilihan lain yang memberikan kenyamanan pada produk tersebut. (Baroto, Teguh. 2002.) Pada saat sekarang, pada masyarakat industri khususnya kegiatan merancang dan pembuatan benda merupakan kegiatan yang terpisah. Proses pembuatan tidak akan berjalan baik sebelum kegiatan perancangan selesai dilakukan. Dari hasil perencanaan akan diketahui deskripsi benda yang akan dibuat, maka dari itu, kegiatan merancang adalah hal yang penting dan mutlak dilakukan sebelum proses produksi suatu benda. Computer Adided Design adalah proses desain dengan bantuan computer. Dalam proses ini akan memberikan kreativitas dan pengendalian proses desain mulai tahap yang paling sederhana sampai tahap yang bisa diimplementasikan. Dalam desain menggunakan komputer ini waktu akan lebih efektif dibandingkan desain manual, karena garis-garis yang telah dibuat dapat dengan mudah dimodifikasi. Selain itu, pada komputer ini dapat dilakukan desain yang memiliki kompleksitas tinggi dan waktu pengerjaan yang relatif pendek. Bill of material atau BOM menjelaskan struktur atau hirarkis dari komponen dan part yang membentuk produk akhir. Bill of material menjelaskan bagaimana produk akhir disusun dari komponen-komponennya secara berjenjang. Dengan demikian hasil penguraian ini ialah daftar panjang tentang part/komponen apa yang harus dibuat, berapa banyak yang harus dibuat dan kapan harus selesai dibuat sehingga jadwal perakitan produk akhir dapat terdukung. (Hakim, Arman. 2009 .)
III. Prosedur Praktikum

Survey Product Alur kerja adalah sebagai berikut : 1. Praktikan akan menetapkan kategori produk yang akan diproduksi Praktikan melakukan survei dengan mengunjungi Yayasan Pendidikan Anak Usia Dini Kelompok bermain dan Taman Kanak-kanak Aisyiyah 33 Cita insane di Jalan Candi Panggung no 23 Malang. Survey ini dilakukan dengan membagikan beberapa kuisioner kepada para pengajar disana. Berikut form survey yang telah disebar beserta jawaban dari responden :

: Kepala Sekolah : Yayasan Pendidikan Anak Usia Dini Kelompok bermain dan Taman Kanak-kanak Aisyiyah 33 Cita insan di Jalan Candi Panggung no 23 Malang 1. Bagaimana menurut Anda keadaan sarana dan prasarana untuk menunjang proses belajar dan megajar? Sarana dan prasarana disini cukup membantu proses belajar dan megajar meskipun ada beberapa properti sekolah yang sudah tidak layak digunakan. Akan tetapi karena alokasi dana utuk memperbaiki atau mengganti dengan yang baru masih belum ada makanya masih tetap digunakan. 2. Menurut Anda produk yang diharapkan dapat menunjang lingkungan belajar yang menyenangkan dan aman bagi siswa apa? Sertakan pula alasannya! Adanya pengganti rak buku di ruang kelas A karena rak yang ada sudah mulai keropos dan membahayakan siswa

NAMA RESPONDEN LOKASI

NAMA RESPONDEN LOKASI

: Guru : Yayasan Pendidikan Anak Usia Dini Kelompok bermain dan Taman Kanak-kanak Aisyiyah 33 Cita insan di Jalan Candi Panggung no 23 Malang 1. Bagaimana menurut Anda keadaan sarana dan prasarana untuk menunjang proses belajar dan megajar? Semua kebutuhan sarana dan prasarana sudah hampir memadai meskipun masih ada beberapa yang sudah rusak dan harus diganti agar tidak membahayakan siswa 2. Menurut Anda produk yang diharapkan dapat menunjang lingkungan belajar yang menyenangkan dan aman bagi siswa apa? Sertakan pula alasannya! Menurut saya rak buku lebih diperlukan untuk mengganti yang sudah hampir rusak

Berikut kondisi rak buku di kelas :

Gambar 1.1 Kondisi Rak Buku di Ruang Kelas A

Gambar 1.2 Kondisi Rak Buku di Ruang Kelas A

2. Praktikan menyertakan desain produk yang akan diproduksi : Nama Produk : Rak Buku

Gambar 1.3 Desain Rak Buku


3. Praktikan menyebutkan dan menggambarkan Bill Of Material dari desain

produk yang telah ditentukan Tabel 1.1 Bill of Material

FORM BILL OF MATERIAL

Produk : Rak Buku Bill of Material dari Produk

Tanggal : 10 Mei 2011

a. Alas buku ukuran 100 x 30 x 1,5 cm sebanyak 3 unit

b. Penutup Samping ukuran 122,97 x 40 x 1,5 cm sebanyak 2 unit c. Penyangga buku 100 x Struktur Produk 10 x 1,5 cm sebanyak 6 unit d. Penyangga alas 1 ukuran 27,92 x 3 x 3 sebanyak 6 unit

RAK BUKU

ALAS BUKU (3)

PENUTUP SPG (2) (2)

PYG. BUKU (6) (3)

PYG. 1 (6) (6)

PYG 2 (6) (6)

(3

Gambar 1.4 Struktur Produk IV. Analisa 1. Dari hasil survei dan penelitian di tempat diperoleh hasil bahwa :

Gambar 1.5 Kondisi Rak Buku di Ruang Kelas A Baik dari tim pengajar maupun kepala sekolah, menginginkan adanya penambahan rak buku, guna menghindari terjadinya kecelakaan pada murid. Dan membuat kondisi kelas, yang lebih aman. Jadi mengenai informasi produk yang dibutuhkan adalah rak buku untuk anak-anak PAUD. Dimana dari serangkaian foto-foto yang kami peroleh, kondisi rak sudah keropos. Hal ini dikarenakan tidak ada alokasi dana untuk perbaharuan property.
2. Berdasarkan hasil survei, property yang dibutuhkan adalah rak buku.

Berikut adalah gambar desain produk per part produk

Nama Produk : Rak Buku

Gambar 1.6 Produk Jadi (Rak Buku)


3. Setelah gambar berhasil dibuat hal selanjutnya adalah menentukan Bill of

Material dari desain produk tersebut : Tabel 1.2 Bill of Material Rak Buku Nama Part Jumlah Bahan Ukuran (cm) Alas Buku 3 Kayu 100 x 30 x 1,5 Penutup Samping 2 Kayu 122,97 x 40 x 1,5 Penyangga Buku 6 Kayu 100 x 10 x 1,5 Penyangga alas 1 6 Kayu 27,92 x 3 x 3 Pengangga alas 2 6 Kayu 100 x 3 x 3 Struktur Produk
RAK BUKU

Status Buat Buat Buat Buat Buat

ALAS BUKU (3)

PENUTUP SPG (2) (2)

PYG. BUKU (6) (3)

PYG. 1 (6) (6)

PYG 2 (6) (6)

(3

Gambar 1.7 Struktur Produk Rak Buku

V. Kesimpulan 1. Dari hasil survey dan kondisi dilokasi penelitian, mereka mengharapkan adanya penambahan rak buku untuk mengganti rak buku yang ada karena kondisinya sudah keropos dan membahayakan untuk siswa bila tetap digunakan. Oleh karena itu praktikan memutuskan untuk membuatkan rak buku. Sehingga produk yang diharapkan oleh PAUD tersebut terpenuhi. 2. Gambar mengenai desain produk lebih detail dapat dilihat pada Bab Prosedur Praktikum. Gambaran umum produk jadi adalah sebagai berikut :

Gambar 1.8 Desain Produk Rak Buku 3.Bill of Material dari desain produk diatas dapat dilihat pada Tabel 1.1 dan Gambar 1.2 untuk struktur produknya. Dapat disimpulkan untuk membuat 1 buah produk rak tersebut membutuhkan kayu sejumlah 7 buah dengan masing-masing ukuran 200 x 20 x 2 cm, dimana kayu tersebut digunakan untuk membuat 5 part diantaranya alas buku sebanyak 3 buah, penutup samping sebanyak 3 buah, penyangga buku sebanyak 6 buah, penyangga alas 1 sebanyak 6 buah dan penyangga alas 2 sebanyak 6 buah

MODUL II PRODUCT PLANNING Process planning merupakan perencanaan terhadap proses pembuatan suatu produk yaitu bagaimana produk itu dibuat meliputi perencanaan proses, penentuan mesin dan peralatan yang digunakan. I. Tujuan Praktikum
1. Pembuatan Operation Process Chart dari produk yang akan diproduksi

2. Menganalisa operasi pembuatan produk untuk menemukan masalah ketidakefisienan dalam pembuatan produk
3. Perancangan urutan operasi yang efisien (process plan)

II. Tinjauan Pustaka Peta Proses Operasi ini merupakan suatu diagram yang menggambarkan langkah-langkah proses yang akan dialami bahan baku mengenai urutan-urutan operasi dan pemeriksaan. Sejak dari awal sampai menjadi produk jadi utuh maupun sebagai komponen, dan juga memuat informasi-informasi yang diperlukan untuk analsis lebih lanjut, seperti waktu yang dihabiskan, material yang digunakan, serta tempat, alat atau mesin yang dipakai. Dengan adanya informasi-informasi yang bisa dicatat melalui Peta Proses Operasi, banyak manfaat yang akan diperoleh, diantaranya : 1. Mengetahui kebutuhan akan mesin dan penganggarannya 2. Memperkirakan kebutuhan akan bahan baku (dengan memperhitungkan efesiensi di tiap operasi/pemeriksaan) 3. Menentukan tata letak pabrik 4. Melakukan perbaikan cara kerja yang sedang dipakai 5. Sebagai alat untuk latihan kerja dan sebagainya. Dalam menyusun Peta Proses Operasi yang baik, terdapat beberapa prinsip yang perlu diikuti, yaitu :

1. Pertama-tama pada baris paling atas dinyatakan kepalanya Peta Proses Operasi yang diikuti oleh identifikasi lain seperti nama obyek, nama pembuat peta, tanggal dipetakan cara lama atau cara sekarang, nomor peta dan nomor gambar 2. Material yang akan diproses diletakkan di atas garis horizontal, yang menunjukkan bahwa material tersebut masuk ke dalam proses 3. Lambang-lambang ditempatkan dalam arah vertikal, yang menunjukkan terjadinya perubahan proses 4. Penomoran terhadap suatu kegiatan operasi diberikan secara berurutan sesuai dengan urutan operasi yang dibutuhkan untuk pembuatan produk tersebut atau sesuai dengan proses yang terjadi 5. Penomoran terhadap suatu kegiatan pemeriksaan diberikan secara tersendiri dan prinsipnya sama dengan penomoran untuk kegiatan operasi. Agar diperoleh gambar peta operasi yang baik, produk yang biasanya paling banyak memerlukan operasi, harus dipetakan terlebih dahulu, berarti dipetakan dengan garis vertikal di sebelah kanan halaman kertas. Secara sketsa, prinsip-prinsip pembuatan Peta Proses Operasi ini bisa digunakan sebagai berikut :
Arah material yang masuk dari proses Material yang dibeli (Mt)

Mt Bagian dari bagian yang dirakit

Mt

Mt

Bagian yang dirakit

O-N

M Produk utama

I-N

Mt

Gambar 2.1 Contoh Aliran Proses

Urutan perubahan dalam proses

Keterangan : W = Waktu yang dibutuhkan untuk suatu operasi atau pemeriksaan, biasanya dalam jam O-N = Nomor urut untuk kegiatan operasi tersebut I-N = Nomor urut untuk kegiatan pemeriksaan tersebut M = Menunjukkan mesin atau tempat dimana kegiatan tersebut dilaksanakan Setelah semua proses digambarkan dengan lengkap, pada akhir halaman dicatat tentang ringkasannya yang memuat informasi-informasi seperti : jumlah operasi, jumlah pemeriksaan dan jumlah waktu yang dibutuhkan. PETA ALIRAN PROSES Setelah gambaran tentang keadaan umum dari proses yang terjadi diperoleh, seperti yang diperlihatkan dalam peta proses operasi, langkah berikutnya adalah analisis setiap komponen pembentukan suatu produk lengkap dengan lebih terperinci. Informasi-informasi yang diperlukan untuk analisis setiap komponen tersebut di atas dapat diperoleh melalui Peta Aliran Proses. Dapat juga dikatakan bahwa Peta Aliran Proses adalah suatu diagram yang menunjukkan urutan-urutan dari operasi, pemeriksaan, transportasi, menunggu dan penyimpanan yang terjadi selama proses berlangsung, serta didalamnya memuat pula informasi-informasi yang diperlukan untuk analisa seperti waktu yang dibutuhkan dan jarak perpindahan yang terjadi. Prinsip-prinsip pembuatan aliran proses Ada beberapa prinsip yang bisa digunakan untuk membuat suatu Peta Aliran Proses yang lengkap, sebagai berikut : 1. Pertama-tama pada baris paling atas dinyatakan kepalanya Peta Aliran Proses yang diikuti dengan pencatatan beberapa identifikasi lain seperti nomor/nama komponen yang dipetakan, nama obyek, peta orang atau

peta bahan, nama pembuat peta, tanggal dipetakan cara lama atau cara sekarang, nomor peta dan nomor gambar 2. Di sebelah kiri atas kertas dicatat mengenai ringkasan yang memuat, jumlah total dan waktu total dari setiap kegiatan yang terjadi dan juga mengenai total jarak perpindahan yang dialami bahan atau orang selama proses atau prosedur berlangsung. 3. Setelah bagian kepala selesai dengan lengkap kemudian di bagian badan diuraikan proses yang terjadi lengkap beserta lambang-lambang dan informasi-informasi mengenai jarak perpindahan, jumlah yang dilayani, waktu yang dibutuhkan dan kecepatan produksi (jika mungkin) juga ditambahkan dengan kolom analisa, catatan dan tindakan yang diambil berdasarkan analisis tersebut. Ada suatu cara sederhana tetapi cukup efektif untuk menganalisis peta aliran proses yaitu dengan mengajukan enam buah pernyataan pada setiap kejadian dari suatu peta aliran proses. Cara tersebut disebut Dot and Check Technique sebagi berikut Tabel 2.1 Dot and Check Technique No 1 2 3 4 5 Pertanyaan Apa tujuannya Dimana kejadiannya Kapan dikerjakan Siapa yang mengerjakan Bagaimana mengerjakannya Berikutnya Mengapa Mengapa Mengapa Mengapa Mengapa Tindakan yang mungkin dilakukan Menghilangkan aktivitas yang tidak perlu Menggabungkan atau merubah tempat kerja Menggabungkan atau merubah waktu dan urutan proses Menggabungkan atau merubah orang Menyerderhanakan atau memperbaiki metode

Analisis bagan aliran proses perlu mempertimbangkan beberapa jenis pertanyaan berikut ini :

1. Apa. Apa kebutuhan pelanggan? Operasi apa yang sebenarnya diperlukan? Dapatkan beberapa operasi dihilangkan atau dikombinasikan atau disederhanakan? Apakah produk harus dirancang ulang untuk memudahkan produksi? 2. Siapa. Siapa yang akan melaksanakan setiap operasi? Dapatkah operasi dirancang ulang untuk mengurangi yang jam kerja karyawan atau menggunakan keterampilan rendah? Dapatkah operasi

dikombinasikan untuk memperluas pekerjaan dan dengan demikian meningkatkan produktivitas atau memperbaiki kondisi kerja? Siapa pemasoknya? Apakah harus digunakan pemasok yang berbeda atau dapatkah pemasok yang ada dapat digunakan secara lebih efektif? 3. Dimana. Dimana masing-masing operasi dilaksanakan? Dapatkah tata letak diperbaiki untuk mengurangi jarak angkut atau untuk membuat operasi lebih mudah dicapai? 4. Kapan. Kapan setiap operasi akan dilaksanakan? Apakah ada penundaan atau penyimpan yang berlebihan? Apakah beberapa proses menimbulkan kemacetan-kemacetan? 5. Bagaimana. Bagaimana operasi akan dilakukan? Dapatkah digunakan metode, prosedur, atau peralatan yang lebih baik? Apakah operasi harus direvisi untuk membuatnya lebih mudah atau menyita waktu yang lebih sedikit? III. Prosedur Praktikum 1. Membuat proses operasi dari produk yang akan diproduksi, lembar proses operasi sebagai berikut :

Tabel 2.2 Lembar Proses Operasi


PETA PROSES OPERASI Nama Objek : Rak Buku Nomor Peta :

Dipetakan oleh: Kelompok Praktikum PSM Tanggal Dipetakan : 12 Februaru 2012

Ringkasan

Kegiatan

Jumlah 11 17 6 6 1

Waktu (menit) 12.5 0.34 0.3 0.12 2 274

Total

2.

Buat Lembar Rute (Proses Operasi) Perkomponen dari produk Tabel 2.3 Lembar Rute (Proses Operasi ) Perkomponen Nama komponen Nomor komponen Operasi Uraian : alas buku :1 Tanggal : 12 Februari 2012 Dikeluarkan oleh : kel prak. PSM Dept Perakitan/Peralatan Manual Manual

yang dibuat

Material ada di dalam gudang Raw materal Pengukuran diangkut dari gudang ke lantai produksi Adanya inspeksi Inspeksi pada raw material sebelum diproses lebih lanjut (di sini ada pemilahan bahan baku yang sesuai Adanya proses Pengukuran, pengukuran, pemotongan dan Pemotongan, penghalusan Penghalusan (pengampelasan) sesuai gambar teknik Inspeksi kembali Inspeksi setelah raw material di proses

Manual

Meteran, alat tulis, penggaris siku, busur, alat potong, ampelas

Manual

Tabel 2.4 Lembar Rute (Proses Operasi ) Perkomponen Nama komponen Nomor komponen Operasi : penyangga buku :2 Tanggal : 12 Februari 2012

Dikeluarkan oleh : kel. Prak PSM Dept Perakitan/Peralatan Manual Manual

Uraian

Material ada di dalam gudang Raw materal Pengukuran diangkut dari gudang ke lantai produksi Adanya inspeksi Inspeksi pada raw material sebelum diproses lebih lanjut (di sini ada pemilahan bahan baku yang sesuai Adanya proses Pengukuran, pengukuran, pemotongan dan Pemotongan, penghalusan Penghalusan (pengampelasan) sesuai gambar teknik Inspeksi kembali Inspeksi setelah raw material di proses Adanya proses Perakitan pemasangan penyangga buku pada alas buku Inspeksi kembali Inspeksi setelah proses

Manual

Meteran, alat tulis, penggaris siku, busur, alat potong, ampelas

Manual

Palu, paku

Manual

penggabungan

Tabel 2.5 Lembar Rute (Proses Operasi ) Perkomponen Nama komponen : Penutup Balik Nomor komponen Operasi :3 Tanggal : 12 Februari 2012 Dikeluarkan oleh ; kel. Prak PSM Dept Perakitan/Peralatan Manual Manual

Uraian

Material ada di dalam gudang Raw materal Pengukuran diangkut dari gudang ke lantai produksi Adanya inspeksi Inspeksi pada raw material sebelum diproses lebih lanjut (di sini ada pemilahan bahan baku yang sesuai Adanya proses Pengukuran, pengukuran, pemotongan dan Pemotongan, penghalusan Penghalusan (pengampelasan) sesuai gambar teknik Inspeksi kembali Inspeksi setelah raw material di proses Pemasangan alas Perakitan buku pada penutup balik

Manual

Meteran, alat tulis, penggaris siku, busur, alat potong, ampelas

Manual

Meteran, paku

palu,

Inspeksi dari Inspeksi hasil penggabungan alas buku pada penutup balik

Manual

Tabel 2.6 Lembar Rute (Proses Operasi ) Perkomponen Nama komponen : Penyangga alas 1 Nomor komponen Operasi :4 Tanggal : 12 Februari 2012

Dikeluarkan oleh ; kel. Prak PSM Dept Perakitan/Peralatan Manual Manual

Uraian

Material ada di dalam gudang Raw materal Pengukuran diangkut dari gudang ke lantai produksi Adanya inspeksi Inspeksi pada raw material sebelum diproses lebih lanjut (di sini ada pemilahan bahan baku yang sesuai Adanya proses Pengukuran, pengukuran, pemotongan dan Pemotongan, penghalusan Penghalusan (pengampelasan) sesuai gambar teknik Inspeksi kembali Inspeksi setelah raw material di proses

Manual

Meteran, alat tulis, penggaris siku, busur, alat potong, ampelas

Manual

Tabel 2.7 Lembar Rute (Proses Operasi ) Perkomponen Nama komponen : penyangga alas 2 Nomor komponen Operasi :5 Tanggal : 12 Februari 2012

Dikeluarkan oleh : kel. Prak PSM Dept Perakitan/Peralatan Manual Manual

Uraian

Material ada di dalam gudang Raw materal Pengukuran diangkut dari gudang ke lantai produksi Adanya inspeksi Inspeksi pada raw material sebelum diproses lebih lanjut (di sini ada pemilahan bahan baku yang sesuai Adanya proses Pengukuran, pengukuran, pemotongan dan Pemotongan, penghalusan Penghalusan (pengampelasan) sesuai gambar teknik Inspeksi kembali Inspeksi setelah raw material di proses Proses Perakitan pemasangan penyangga alas 1 dan 2 pada penutup balik supaya kuat

Manual

Meteran, alat tulis, penggaris siku, busur, alat potong, ampelas

Manual

Palu, paku

Inspeksi hasil Inspeksi penggabungan

Manual

Tabel 2.8 Lembar Rute (Proses Operasi ) Perkomponen Nama komponen : Penutup samping Nomor komponen : 6 Operasi Uraian Tanggal : 12 Februari 2012

Dikeluarkan oleh : kel. Prak PSM Dept Perakitan/Peralatan Manual Manual

Material ada di dalam gudang Raw materal Pengukuran diangkut dari gudang ke lantai produksi Adanya inspeksi Inspeksi pada raw material sebelum diproses lebih lanjut (di sini ada pemilahan bahan baku yang sesuai Adanya proses Pengukuran, pengukuran, pemotongan dan Pemotongan, penghalusan Penghalusan (pengampelasan) sesuai gambar teknik Inspeksi kembali Inspeksi setelah raw material di proses Pemasangan Perakitan penutup samping pada produk

Manual

Meteran, alat tulis, penggaris siku, busur, alat potong, ampelas

Manual

Palu, paku

setengah jadi Inspeksi hasil Inspeksi penggabungan Proses Finishing pengecatan pada produk Pemasangan atribut Finishing Manual Alat cat

Aksesoris pelengkap, alat bantu perekat Manual

Inspeksi terakhir Inspeksi termasuk dalam finishing

3. NO

Langkah ketiga menganalisa operasi pembuatan produk, analisa ini menggunakan peta aliran proses! Tabel 2.9 Peta Aliran Proses Keterangan Part Name Alas Buku Penyangga Buku Penutup Balik Waktu (menit) 0.02 0.05 0.02 2.5 0.02 0.02 0.05 0.02 1.3 0.02 0.2 0.02 0.02 0.05 0.02 0.4

Material ada di dalam gudang Raw material diangkut dari gudang ke lantai produksi Inspeksi pada raw material Proses pengukuran, pemotongan, dan penghalusan Inspeksi setelah raw material diproses Material ada di dalam gudang Raw material diangkut dari gudang ke lantai produksi Inspeksi pada raw material Proses pengukuran, pemotongan, dan penghalusan Inspeksi setelah raw material diproses Proses pemasangan penyangga buku pada alas buku Inspeksi setelah proses penggabungan Material ada di dalam gudang Raw material diangkut dari gudang ke lantai produksi Inspeksi pada raw material Proses pengukuran, pemotongan, dan

penghalusan Inspeksi setelah raw material diproses Proses pemasangan alas buku pada penutup balik Inspeksi hasil penggabuangan alas buku dan penutup balik Material ada di dalam gudang Raw material diangkut dari gudang ke lantai produksi Inspeksi pada raw material Proses pengukuran, pemotongan, dan penghalusan Inspeksi setelah raw material diproses Material ada di dalam gudang Raw material diangkut dari gudang ke lantai produksi Inspeksi pada raw material Proses pengukuran, pemotongan, dan penghalusan Inspeksi setelah raw material diproses Proses pemasangan penyangga alas 1 dan 2 pada penutup balik Inspeksi hasil penggabungan Material ada di dalam gudang Raw material diangkut dari gudang ke lantai produksi Inspeksi pada raw material

0.02 0.2 0.02 0.02 0.05 0.02 2 0.02 0.02 0.05 0.02 2 0.02 0.5 0.02 0.02 0.05 0.02

Penyangga Alas 1 Penyangga Alas 2 Penutup Samping

Proses pengukuran, pemotongan, dan penghalusan Inspeksi setelah raw material diproses Pemasangan penutup samping pada produk setengan jadi Inspeksi hasil penggabungan Proses pengecatan pada produk Pemasangan atribut Inspeksi terakhir termasuk dalam finishing

2 0.02 0.8 0.02 2 0.25 0.02

Alas Buku G 0.0 1 2


0.0 5 0.0 2

Penyangga Penyangga Penyangga 4. Buatlah Rancangan Peta Proses Berdasarkan Hasil analisa yang telah dilakukan! Penutup Balik G Material ada di 0.0 2 2 gudang Raw material diangkut ke 0.0 T-2 lantai produksi 5 Inspeks raw 0.0 I-3 2 material Proses pengukuran, 1, 3 pemotongan & penghalusan 0.0 Inspeksi
2

Buku

T-1 I-1

G Material ada di 0.0 3 gudang 2 Raw material diangkut ke T-3 lantai produksi0.0 Inspeks 5 raw 0.0 I-6 material 2 Proses pengukuran, 0, pemotongan & 4 penghalusan 0.0 Inspeksi
2

G Material ada di 0.0 4 gudang Raw material 2 diangkut ke T-4 lantai produksi 0.0 Inspeks 5 raw 0.0 I-9 material
2

alas 1

G Material ada di 0.0 5 gudang 2 Raw material diangkut ke T-5 lantai produksi 0.0 Inspeks 5 Iraw 0.0 11 material 2 Proses pengukuran, 2 pemotongan & penghalusan 0.0 Inspeksi
2

alas 2

Penutup samping G Material ada di 0.0 6 gudang 2 Raw material diangkut ke T-6 lantai produksi Inspeks Iraw 0.0 14 material
2

Material ada di gudang Raw material diangkut ke lantai produksi Inspeks raw material Proses pengukuran, pemotongan & penghalusan Inspeksi

2,5 0.0 2

O -1 I-2

O -2 I-4

O -4 I-7

Proses pengukuran, 2 pemotongan & penghalusan Inspeksi 0.0


2

O -6 I10

O -7 I12

Proses pengukuran, pemotongan & penghalusan Inspeksi 0.0


2

O -9 I15

0.2

O -3 I-5

Pemasanga n penyangga buku pada alas buku Inspeksi Pemasanga n alas buku pada penutup balik Inspeksi

0.0 2

0. 2 0.0 2

O -5 I-8

0.5 0.0 2

O -8 I13

Pemasangan penyangga alas 1 dan 2 pd penutup balik Inspeksi

Inspeksi terakhir setelah masuk finishing Pemasanga n atribut

I-17
o11

0.0 2

0.2 5

Keterangan: : Aktivitas Ganda : Operasi : Delay (menunggu) : Inspeksi : Menyimpan


Pemasangan penutup samping pd produk setengan Inspeksi jadi setelah penggabunga n
O10

pengecat an

OI1

0.8 0.0 2

I-16

Gambar 2.2 Peta Proses Operasi

IV. Analisa dan Pembahasan Berdasarkan lembar proses produksi pada bab sebelumnya, yang merupakan penjelasan detail runtutan kegiatan pembuatan produk rak buku, maka dapat membuat Operation Proses Chart dari produk yang akan kita produksi dengan urutan prosesnya yang dimulai dari proses penggukuran material, pemotongan, penghalusan sampai pada proses inspeksi. Peralatan yang digunakan/yang dibutuhkan dalam pembuatan produk rak buku adalah mesin sender, jig saw, mistar dan pensil. Kemudian analisis dilakukan dengan menggunakan peta aliran proses yang dimulai dengan proses bahan baku di gudang, pemindahan bahan baku ke lantai produksi sampai pada proses inspeksi. Dari peta aliran proses pada tiap komponen, dapat diamati bahwa waktu yang digunakan untuk membuat per komponen cukup tinggi. Apalagi bila dikumulatifkan untuk satu unit produk. Ini dikarenakan waktu inspeksi yang terlalu banyak. Adanya inspeksi berguna untuk mengecek apakah hasil proses sudah memenuhi target, akan tetapi itu menyebabkan banyak waktu terbuang percuma. Ini dapat diatasi dengan menggunakan operasi penggabungan kerja antara proses dengan inspeksi sehingga waktu dapat diminimalisir. Selain itu, pada peta aliran proses tidak diperhitungakan waktu mengganggur ketika produk menunggu proses selanjutnya. Dari peta proses ini pun dapat ditarik kesimpulan bahwa produk dikerjakan per komponen secara bergantian. Apabila beberapa komponen dapat dikerjakan secara bersamaan dengan alokasi mesin dan tenaga kerja yang berbeda, maka akan dapat mengoptimalkan waktu proses sehingga untuk memproduksi satu unit produk dapat mengurangi waktu proses.

V. Penutup 5.1 Kesimpulan


1. Pada Pembuatan Operation Process Chart dari produk yang akan

diproduksi dapat

dilihat pada bab sebelumnya yang merupakan

penjelasan detail runtutan kegiatan pembuatan produk rak buku. Gambar dari OPC akan diperlihatkan pada gambar 2.3

Gambar 2.3 Peta Proses Operasi

2. Setelah melakukan pembuatan Operation Process Chart dalam

pembuatan produk maka diketahui bahwa

ditemukan masalah

ketidakefisienan dalam pembuatan produk sehingga pembuatan produk rak buku tersebut tidak sesuai dengan rencana keefisiensian. Dalam pembuatan produk terlihat dengan adanya waktu inspeksi yang terlalu banyak sehingga proses tersebut membutuhkan banyak waktu. Hal ini dapat diantisipasi dengan penggabungan inspeksi dengan prosesnya. Selain itu, produk juga dikerjakan secara bergantian tiap partnya, sehingga lebih dapat mengefisienkan waktu dengan pengerjaan part secara bersamaan, tentunya setelah diperhitungkan juga dengan kondisi mesin dan tenaga kerja.
3. Perancangan urutan operasi yang efisien (process plan) dapat

dilihat pada gambar 2.4

Alas Buku G -1

Penyangga Buku G Material -2 ada di 0.0 2 gudang Raw material diangkut ke lantai T-2 0.0 produksi 5 Inspeks raw I-3 0.0 material
2

Penutup Balik Material G ada di -3 0.0 gudang 2 Raw material diangkut ke lantai T-3 0.0 produksi 5 Inspeks raw 0.0 I-6 material
2

Penyangga alas 1 Material G ada di 0.0 -4 gudang 2 Raw material diangkut ke lantai T-4 produksi 0.0 Inspeks raw 5 material 0.0 I-9
2

Penyangga alas 2 Material G ada di -5 0.0 gudang 2 Raw material diangkut ke lantai T-5 produksi 0.0 Inspeks raw 5 I-11 material 0.0
2

Penutup samping Material G ada di -6 0.0 gudang 2 Raw material diangkut ke lantai T-6 produksi Inspeks raw I-14 material 0.0
2

0.0 2 0.0 5 0.0 2

T-1 I-1

Material ada di gudang Raw material diangkut ke lantai produksi Inspeks raw material Proses pengukuran, pemotongan & penghalusan Inspeksi setelah proses

2,5

O1 I-2

0.0 2

Proses pengukuran, 1, pemotongan & 3 penghalusan Inspeksi setelah proses

O2 I-4

Proses pengukuran, pemotongan & penghalusan Inspeksi setelah proses Pemasangan penyangga buku pada alas buku Inspeksi setelah penggabunga n

0, 4 0.0 2

O4 I-7

Proses pengukuran, pemotongan & 2 penghalusan Inspeksi setelah proses


0.0 2

O6

Proses pengukuran, pemotongan & 2 penghalusan Inspeksi setelah proses


0.0 2

O7 I-12

Proses pengukuran, pemotongan & penghalusan Inspeksi setelah proses


0.0 2

O9 I-15

0.0 2

I-10

0.2

O3

0.0 2

I-5

0.2

O5

Pemasangan alas buku pada penutup Inspeksi balik setelah penggabunga n


0.5

Inspeksi terakhir setelah masuk finishing Pemasanga n atribut

I-17
o11

0.0 2

0.0 2

I-8

0.2 5

Pemasangan pengecat penyangga alas 1 an dan 2 pd penutup Inspeksi balik setelah 0.0 I-13 penggabunga 2 Pemasangan n penutup O0.8 samping pd 10 produk setengan Inspeksi 0.0 jadi 2 setelah I-16 penggabunga O8

OI1

Keterangan: : Aktivitas Ganda : Operasi : Delay (menunggu) : Inspeksi : Menyimpan

Gambar 2.4 Peta Proses Operasi

Laporan Praktikum PSM

MODUL III PERENCANAAN LINTASAN PRODUKSI Setelah proses direncanakan maka harus dilakukan perencanaan lintasan produksi yang berupa rencana stasiun kerja. Keseimbangan lintasan merupakan hal yang sangat penting di dalam perencanaan hasil produksi. Hal ini dikarenakan apabila lintasan tidak seimbang, maka target produksi yang sudah direncanakan sulit tercapai. Perencanaan keseimbangan lintasan produksi yang dilakukan dimaksudkan untuk meminimalkan waktu menganggur (idle time) pada lintasan produksi. VI. Tujuan Praktikum 4. Penentuan jumlah stasiun kerja dan perhitungan waktu siklus secara teoritis berdasarkan target produksi yang diberikan 5. Implementasi lintas produksi dan pelaksanaan produksi dan perhitungan waktu siklus aktual dan jumlah keluaran lintas 6. Analisis perbedaan antara perhitungan teoritis dengan aktual dan upayaupaya perbaikan VII. Tinjauan Pustaka Keseimbangan lintasan perakitan adalah proses penempatan pekerjaan pada stasiun kerja (SK) sehingga target laju produksi dapat terpenuhi. Umumnya satu operator akan ditugaskan untuk satu stasiun kerja. Jika didapati pada salah satu stasiun kerja memiliki beban kerja yang tidak sama dengan stasiun kerja yang lain, maka dikatakan bahwa stasiun kerja tidak seimbang. Dalam keadaan seperti ini akan mengakibatkan proses produksi menjadi terhambat karena stasiun kerja yang lain harus menunggu proses selesai. Lintas produksi yang efisien adalah lintas produksi yang dapat memenuhi target laju produksi. Output dengan jumlah stasiun kerja yang minimum artinya bahwa jumlah operator juga minimum. Pengaturan pekerjaan pada stasiun kerja diatas perakitan tergantung pada : - Ukuran part yang akan dirakit - Precedence requirement - Luas lantai yang tersedia - Elemen kerja - Sifat pekerjaan yang akan dilakukan

Martina J.K_08540007

Laporan Praktikum PSM

Single Production Stage Untuk mengkonversikan ukuran kapasitas ke dalam peralatan yang dibutuhkan, diperlukan informasi tambahan mengenai estimasi permintaan untuk setiap periode dan estimasi waktu proses untuk setiap work station dimana peralatan akan digunakan. N = T. P/D.E P = tingkat produksi work station, unit per periode T = waktu proses per unit D = durasi periode operasional, jam E = efisiensi peralatan merupakan persentase running time per periode N = jumlah mesin yang dibutuhkan work station Untuk mengestimasikan tingkat produksi perlu dipikirkan juga bahwa jumlah total produk yang diproses merupakan jumlah dari produk yang sesuai dengan spesifikasi yang diberikan dan produk yang mengalami cacat produksi. Bila diberikan prosentasi produk yang cacat, total produk yang harus diproses dapat dihitung dengan mudah. P=Pg/1-p P = total produk yang diproses Pg = jumlah produk yang memenuhi spesifikasi p =prosentase produk yang cacat Perhitungan tingkat efisiensi peralatan pada work station merupakan proses yang sangat sulit. Secara umum efisiensi mesin merupakan perbandingan antara running time peralatan dan periode operasional. Biasanya running time selalu lebih kecil dibandingkan dengan durasi periode operasional karena adanya waktu untuk setup dan down peralatan. Pengukuran efisiensi untuk setiap peralatan tergantung dari : 1. Macam peralatan yang digunakan 2. Bagaimana peralatan dioperasikan 3. Kebijaksanaan perawatan yang digunakan Tingkat efisiensi peralatan : E= H/D = 1 , DT + ST/D E = tingkat efiesiensi peralatan kerja H = running time yang diharapkan per periode D = durasi waktu operasional

Martina J.K_08540007

Laporan Praktikum PSM

DT = downtime ST = setup time untuk pengerjaan order yang berbeda per periode

Sussesive Production Stage Proses produksi merupakan kumpulan proses yang mengolah bahan mentah menjadi bahan jadi yang mempunyai nilai lebih. Biasanya material mengalir dari proses satu ke proses yang lain, yang dikerjakan dengan menggunakan peralatan satu ke peralatan yang lain dengan tingkat efisiensi yang berbeda-beda untuk masing-masing peralatan. Jumlah aliran material yang masuk pada setiap work station akan berkurang mengingat setiap work station akan menghasilkan produk yang cacat. Mengingat lini produksi melewati lebih dari satu work station, maka perhitungan jumlah peralatan yang dibutuhkan, produksi yang diharapkan dan efisiensi peralatan dilakukan untuk setiap work station. Khusus untuk mengetahui jumlah produk tiap work station, perhitungan dilakukan mundur mulai dari work station terakhir ke work station awal. Perhitungan mundur ini dilakukan mengingat bahwa setiap work station akan menghasilkan produk cacat yang perlu juga dihitung, sedangkan produk yang diserahkan kepada customer merupakan produk yang memenuhi spesifikasi pada work station terakhir. Penentuan Operator Requirement Jumlah operator yang dibutuhkan untuk seluruh proses produksi dapat dihitung dari jumlah peralatan yang akan digunakan. Bila jumlah operator untuk setiap mesin tidak berubah/tetap, kebutuhan tenaga kerja mudah dihitung. Untuk kasus dimana operator yang mengoperasikan mesin merupakan operator yang mempunyai spesifikasi khusus, maka jumlah operator akan mengalami penambahan atau pengurangan sesuai dengan kebutuhan mesin. Ini akan menyulitkan perkiraan kebutuhan tenaga kerja. VIII. Prosedur Praktikum 5. Tentukanlah jumlah stasiun kerja dan perhitungan waktu siklus secara teoritis (perhitungan perencanaan sebelum diaktualkan) berdasarkan target produksi yang diberikan. Mesin-mesin/peralatan yang digunakan dalam proses pembuatan rak buku ini adalah sebagai berikut : Tabel 3.1 Kebutuhan Mesin/Peralatan tiap Workstasiun No. SK Nama SK Mesin/Peralatan Jumlah

Martina J.K_08540007

Laporan Praktikum PSM

1 2 3 4

Pengukuran Pemotongan Penghalusan Inspeksi

Perakitan

- penggaris/meteran - pensil - multipurpose - planner - sander - amplas - penggaris/meteran - palu - palu - lem kayu

- paku - kuas Pengecatan dan - cat kayu finishing - atribut

(buah) 3 3 1 1 1 6 3 2 2 2 54 (paku no 3) 2 2 2

Data berikut, berisikan informasi mengenai jumlah stasiun kerja, dan estimasi waktu pengerjaan secara teoritis di tiap stasiun kerja berdasarkan pengerjaan tiap komponen. Tabel 3.2 Waktu Produksi atau Pemrosesan dan Perakitan Tiap Komponen (jam) Alas Buku 0.02 0.05 2.5 0.04 0.2 Penyangga Buku 0.02 0.05 1.3 0.06 Penutup Balik 0.02 0.05 0.4 0.06 0.2 2 0.25 TOTAL Waktu Siklus = Waktu Kegiatan Pemilihan Raw Material + Waktu Kegiatan Pengangkutan + Waktu Kegitan Pengukuran, Martina J.K_08540007 Penyangga Alas 1 0.02 0.05 2 0.04 0.5 Penyangga Alas 2 0.02 0.05 2 0.06 Penutup Samping 0.02 0.05 2 0.08 0.8

Nama Kegiatan Pemilihan Raw Material Pengangkutan Pengukuran pemotongan Penghalusan Inspeksi Assembly Pengecatan Finishing

Total 0.12 0.3 10.2 0.34 1.7 2 0.25 14.91

Laporan Praktikum PSM

Pemotongan dan Penghalusan + Waktu Kegiatan Inspeksi + Waktu Kegitana Assembly + Waktu Kegiatan Pengecatan + Waktu Kegitan Finishing = 0.12 + 0.3 + 10.2 + 0.34 + 1.7 + 2 + 0.25 = 14.91jam /1 unit produk.

6. Implementasikan lintas produksi dan pelaksanaan produksi dan perhitungan waktu siklus aktual dan jumlah keluaran lintasan Data berikut, berisikan informasi mengenai jumlah stasiun kerja, dan estimasi waktu pengerjaan secara aktual di tiap stasiun kerja berdasarkan pengerjaan tiap komponen. Tabel 3.3 Waktu Produksi atau Pemrosesan dan Perakitan Tiap Komponen (jam) Nama Kegiatan Pemilihan Raw Material Pengangkutan Pengukuran pemotongan Penghalusan Inspeksi Assembly Pengecatan Finishing Alas Buku Penyangga Buku Penutup Balik Penyangga Alas 1 0.08 0.025 2.5 0.04 0.25 1.5 0.06 0.5 0.06 0.3 2.1 0.04 0.7 2 0.25 TOTAL Proses pembuatan rak buku dalam praktikum nantinya akan disesuaikan dengan langkah-langkah pada proses operasi (OPC) yang telah dirancang sebelumnya, dan memperhitungkan estimasi waktu yang telah direncanakan sebelumnya. 7. Analisis perbedaan antara perhitungan teoritis dengan actual dan buatlah upaya-upaya perbaikan! Berikut data perbandingan antara perhitungan teoritis dengan kondisi aktual. 2 0.06 2.3 0.06 0.4 Penyangga Alas 2 Penutup Samping

Total 0.08 0.025 10.9 0.32 1.65 2 0.25 15.225

Martina J.K_08540007

Laporan Praktikum PSM

Tabel 3.4 Perbandingan Waktu Siklus Teoritis dengan Kondisi Real Perbandingan Result Teoritis Kondisi Real Selisih Waktu Siklus (jam) 14.91 15.225 0.315

Dari tabel 3.4 diperoleh informasi bahwa ketidaksesuaian waktu antar kondisi perencanaan dan kondisi aktualnya. Kondisi real mengalami situasi keterlambatan waktu dari estimasi waktu yang dijadwalkan. Beberapa indikasi yang menjadi faktor keterlambatan ini antara lain : Jumlah mesin yang terbatas Operator yang tidak disiplin Dan kesalahan-kesalahan dalam proses produksi Kemudian, ususlan upaya-upaya perbaikan pada proses produksi berikutnya : Jumlah mesin untuk mesin potong dan mesin penghalus sebaiknya ditambah unitnya. Karena proses tersebut yang memakan waktu lama dibandingkan pada proses-proses yang lain. Operator harus disiplin dan menjalankan prosedur kegiatan sesuai dengan OPC yang telah direncanakan sebelumnya agar estimasi waktu yang direncanakan dapat terpenuhi. IX. Analisa Pembahasan Penentuan stasiun kerja dan perhitungan waktu siklus secara teoritis. Terdapat 6 stasiun kerja dalam memproduksi rak buku, yaitu : Stasiun kerja 1 untuk kegiatan pengukuran bahan baku Stasiun kerja 2 untuk kegiatan pemotongan Stasiun kerja 3 untuk kegiatan penghalusan Stasiun kerja 4 untuk kegiatan perakitan Stasiun kerja 5 untuk inspeksi awal dan akhir Stasiun kerja 6 untuk pengecatan dan finishing Kemudian mengenai kalkulasi dari waktu siklus secara teoritis terhadap proses produksi rak buku ini yakni sekitar 14.91 jam/1 unit produk. Implementasi mengenai lintasan produksi dan pelaksanaan pembuatan rak buku ini, yakni setiap proses langkah-langkahnya disesuaikan dengan proses operasi (OPC) yang telah dirancang sebelumnya, dan memperhitungkan estimasi waktu yang telah direncanakan sebelumnya. Dan

Martina J.K_08540007

Laporan Praktikum PSM

kalkulasi untuk waktu siklus secara aktual/real terhadap proses produksi rak buku ini yakni sebesar 15.225 jam/1 unit produk. Sedangkan dari hasil analisis perhitungan waktu siklus teoritis dan waktu siklus actual, dapat diketahui terdapat perbedaan waktu siklusnya walaupun tidak terlalu signifikan. Hal ini disebabkan karena kurangnya kedisiplinnya dari masing-masing operator, sehingga pelaksanaan di shop floor tidak sesuai dengan OPC yang sudah direncanakan sebelumnya, dan akan berimplikasi terhadap perencanaan produksi. Selisih dari perhitungan waktu siklus secara teoritis dengan waktu siklus secara actual sebesar 0.315 jam untuk setiap pembuatan 1 unit produk. Karena antara perhitungan, kondisi actual lebih besar dibandingkan waktu teoritis, maka dengan kata lain adanya keterlambatan deadline penyelesaian saat memproduksi rak buku ini. X. Kesimpulan 1) Jumlah stasiun kerja dalam proses pembuatan rak buku ini sebanyak 6 stasiun kerja dengan rincian sebagai berikut ; Stasiun kerja 1 untuk kegiatan pengukuran bahan baku Stasiun kerja 2 untuk kegiatan pemotongan Stasiun kerja 3 untuk kegiatan penghalusan Stasiun kerja 4 untuk kegiatan perakitan Stasiun kerja 5 untuk inspeksi awal dan akhir Stasiun kerja 6 untuk pengecatan dan finishing Sedangkan untuk waktu siklus secara teoritis yang dibutuhkan dalam pembuatan rak buku sebesar 14.91 jam/1 unit produk dengan rincian seperti yang disajikan pada tabel 3.3. 2) Pembuatan rak buku ini berdasarkan implementasi dari OPC yang sudah dibuat sebelumnya agar estimasi waktu penyelesaian sesuai dengan rencana yang dijadwalkan. Setelah implemtasi tersebut didapatkan waktu siklus sebesar 15.225 jam/1 unit produk dengan rincian seperti yang telah disajikan pada Tabel 3.4 3) Rencana waktu penegerjaaan satu unit produk berbeda dengan waktu pengerjaan dalam menyelesaikannya. Kondisi real mengalami keterlambatan waktu penyelesaian dari waktu yang sudah direncanakan dengan selisih sebesar 0.315 jam. Sedangkan indikasi yang menjadi faktor keterlambatan dalam proses produksi rak buku ini adalah jumlah mesin yang terbatas, operator yang tidak disiplin dan kesalahan-kesalahan dalam proses produksi. Oleh karena itu perlu adanya usulan dalam bentuk upayaMartina J.K_08540007

Laporan Praktikum PSM

upaya perbaikan pada proses produksinya. Seperti jumlah mesin untuk mesin potong dan mesin penghalus sebaiknya ditambah unitnya. Karena pada proses tersebut yang memakan waktu yang lama di bandingkan pada proses-proses yang lain. Operator harus disiplin dan menjalankan prosedur kegiatan sesuai dengan OPC yang telah direncanakan sebelumnya agar estimasi waktu yang direncanakan dapat terpenuhi.

MODUL IV MERANCANG TATA LETAK DAN FASILITAS PRODUKSI Martina J.K_08540007

Laporan Praktikum PSM

Perencanaan tata letak produksi disebut pula sebagai tata letak mesin (machine lay-out) sehingga perlu dipikirkan mengenai sistem pemindahan material (material handling). Proses pemindahan material merupakan aktivitas dalam penentuan hubungan atau keterkaitan antara satu fasilitas dengan fasilitas produksi lain atau satu departemen dengan departemen yang lain. Studi mengenai pengaturan tata letak fasilitas produksi selalu dutujukan dengan meminimalkan total cost. Di samping itu perencanaan dari layout fasilitas produksi akan memeberikan kemudahan-kemudahan pada saat dikehendaki adanya ekspansi pabrik maupun kebutuhan supervisi. I. Tujuan Penelitian 1. Merancang tata letak fasilitas 2. Penentuan unit pendukung (kantor, utilitas, parkir, dll) II.Tinjauan Pustaka Macam dan Tipe Tata Letak Fasilitas Produksi Secara umum tata letak fasilitas produksi dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam yaitu : tata letak berdasarkan aliran produksi (product lay-out), tata letak berdasarkan posisi (fixed position lay-out). Sebagian besar industry akan mengatur layout fasilitas produksinya berdasarkan kombinasi-kombinasi dari ketiga macam tipe layout tersebut. Prinsip Dasar perencanaan Aliran Bahan Dalam perencanaan aliran bahan ada tiga prinsip dasar yang harus diikuti agar bisa diperoleh aliran yang efektif yaitu : memaksimalkan lintasan aliran langsung (directed flow paths). Yang dimaksud dengan lintasan aliran langsung adalah aliran yang tidak mengalami perpotongan lintasan dari awal sampai akhir tujuan atau tidak ada aliran balik (back tracking). Gambar berikut menunjukkan bahwa dengan adanya perpotongan akan menyebabkan adanya kemacetan atau juga hambatan yang tidak diinginkan.
A B C D

Gambar 4.1 Lintasan aliran secara langsung

Martina J.K_08540007

Laporan Praktikum PSM

Gambar 4.2 Lintasan aliran yang saling berpotongan (interrupted flow path) Pengukuran Aliran Bahan dengan Analisa kuantitatif Dalam analisa kuantitatif, aliran bahan diukur berdasarkan kuantitas material yang dipindahkan seperti berat, volume, jumlah produk, frekuensi perpindahan atau satuan kuantitatif lainnya. Untuk mendokumentasikan hasil pengukuran aliran bahan biasanya dinyatakan dalam bentuk travel chart atau disebut juga from to chart. Langkah-langkah membuat from to chart sebagai berikut : 1. Mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan jenis produk/komponen yang dibuat, spesifikasi dari produk (berat, jumlah yang diproduksi, dll), langkahlangkah proses produksi, tipe dan spesifikasi mesin, departemen atau fasilitas produksi yang terlibat di dalamnya. 2. Daftar semua departemen menurun sepanjang baris dan menyilang sepanjang kolom mengikuti pola aliran bahan yang digunakan (apakah menggunakan pola aliran lurus, U atau pola S) 3. Tetapkan sebuah ukuran aliran yang dapat menunjukkan volume perpindahan bahan. Jika produk-produk atau item yang berpindah sama berkenaan dengan kemudahan perpindahan, maka frekuensi/jumlah perpindahan dapat digunakan. Tetapi jika produk-produk yang berpindah memiliki ukuran berat, nilai, resiko kerusakan, atau bentuk yang berbeda-beda maka kuantitas yang dicatat pada from to chart harus dapat menunjukkan besarnya volume perpindahan. 4. Membuat analisa aliran material dari satu fasilitas/departemen ke departemen yang lainnya untuk menentukan volume perpindahan antar departemen. Analisa aliran material antar departemen tersebut dapat dibuat dalam bentuk flow chart atau kartu aliran 5. Membuat sebuah table yang akan diisi dengan besarnya volume perpindahan antar departemen III. Prosedur Praktikum 1. Kumpulkan data volume of handling serta langkah-langkah yang harus dilalui untuk proses produksi sesuai hasil praktikum modul 2. Volume handling dapat dinyatakan dalam unit % capacity, jumlah berat beban yang dipindahkan. Table berikut ini merupakan volume of handling dari data yang diperlukan untuk proses analisis:

Martina J.K_08540007

Laporan Praktikum PSM

Tabel 4.1 Volume of Material Handling

Bagian Produk Alas buku Penyangga buku Penutup balik Penyangga alas 1 Penyangga alas 2 Penutup samping Finishing

Perpindahan Berat Material (%) 17 10 11 7 6 9 40

Departement 1-2 1-2 1-2 1-2 1-2 1-2 2-3

2. Buatlah travel chart berdasarkan jumlah ukuran handling volume, dengan asumsi bahwa jarak perpindahan bahan di sini sama. Pembuatan travel chart dibuat dengan model matriks. Lakukan trial maksimal 3 kali untuk mendapatkan total momen handling paling kecil. Tabel 4.2 Volume Travel Chart Rak Buku Trial 1

From
1

To 2 60

3 40

Total 60 40 0 100

2 3 Total

60

40

Tabel 4.3 Volume Produk Berdasarkan Jarak Diagonal Trial 1

Martina J.K_08540007

Laporan Praktikum PSM

Jarak dari Diagonal 1 2 Total

FORWARD Distance from diagonal 60+40 =100 0 100

BACKWORD Distance from diagonal 0 0 0

100

Selanjutnya dilakukan analisis terhadap Moment handling di atas dengan gerakan balik (backword) dibebankan dua kali dibandingkan gerakan maju (forward)

Tabel 4.4 Analisis Moment Handling dari Trial 1

Jarak dari diagonal 1 Total

FORWARD Distance from diagonal 100 x 1 = 100 100

BACKWORD Distance from diagonal 0x2=0 0

Dari hasil analisis trial 1 didapatkan nilai untuk forward sebesar 100 dan backward sebesar 0 dengan total 100

Tabel 4.5 Volume Travel Chart Rak Buku Trial 2

From
1

To 3

2 60

Total 60 0 40 100 BACKWORD Distance from diagonal 40

3 2 Total

40 40

60

Tabel 4.6 Volume Produk Berdasarkan Jarak Diagonal Trial 2

Jarak dari Diagonal 1

FORWARD Distance from diagonal 0

Martina J.K_08540007

Laporan Praktikum PSM

2 Total

60 60

0 40

100

Selanjutnya dilakukan analisis terhadap Moment handling di atas dengan gerakan balik (backword) dibebankan dua kali dibandingkan gerakan maju (forward)

Tabel 4.7 Analisis Moment Handling dari Trial 2

Jarak dari diagonal 1 2 Total

FORWARD Distance from diagonal 0 60 x 2 = 120 120

BACKWORD Distance from diagonal 40 x 2 = 80 0 80

Dari hasil analisis trial 1 didapatkan nilai untuk forward sebesar 120 dan backward sebesar 0 dengan total 80

Tabel 4.8 Volume Travel Chart Rak Buku Trial 3

From
2

To 3 40

Total 40 0 60 100 BACKWORD Distance from diagonal 0 60 60

3 1 Total

60 60

40

Tabel 4.9 Volume Produk Berdasarkan Jarak Diagonal Trial 3

Jarak dari Diagonal 1 2 Total

FORWARD Distance from diagonal 40 0 40

100

Martina J.K_08540007

Laporan Praktikum PSM

Selanjutnya dilakukan analisis terhadap Moment handling di atas dengan gerakan balik (backword) dibebankan dua kali dibandingkan gerakan maju (forward)

Tabel 4.10 Analisis Moment Handling dari Trial 3

Jarak dari diagonal 1 2 Total

FORWARD Distance from diagonal 40 x 1 = 40 0 40

BACKWORD Distance from diagonal 0 60 x 4 = 240 240

Dari hasil analisis trial 1 didaptkan nilai untuk forward sebesar 40 dan backward sebesar 0 dengan total 240. Hasil perhitungan Moment Handling memberikan nilai paling kecil adalah pada trial 1 dengan total nilai sebesar 100, maka secara otomatis urutan departemen inilah yang terpilih untuk merencanakan tata letak pabrik. Pembuatan tata letak pabrik dilakukan berdasarkan hasil dari perhitungan Moment Handling yang memeberikan perpindahan material yang paling minimal. Dalam pembuatan tata letak produksi atau tata letak fasilitas akan menggunkaan pola aliran U.

3. Kumpulkan data informasi mengenai peralatan dan bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan rak buku tersebut. Informasi yang dibutuhkan antar lain:

Tabel 4.11 Peralatan dan Bahan yang Digunakan

Peralatan Jumlah Penggaris/meteran 3 Pensil Multipurpose Planner Sander Martina J.K_08540007 3 1 1 1

Bahan Kayu Paku no 3 Lem kayu Dempol Atribut

Jumlah Satuan 6 lembar 54 1 1 buah plastik platik

Laporan Praktikum PSM

Amplas Palu Kuas

6 2 2

Tiner

tabung sedang

4. Buatlah tata letak fasilitas produksi sesuai dengan tipe aliran produksi produk yang dibuat. Serta plihlah total momen handling terkecil berdasarkan volume travel chart yang sudah di dapat. Tipe aliran produksi sesuai dengan stasiun kerja yang dibuat pada modul sebelumnya, maka di dapatkan alirannya seperti pada gambar berikut :

Gambar 4.3 Tata Letak Fasilitas Produksi berdasarkan Aliran Produksi

5. Buatlah struktur organisasi yang ada dipabrik serta tentukan berbagai macam fasilitas untuk pelayanan kebutuhan pabrik

Martina J.K_08540007

Laporan Praktikum PSM

Direktur Utama

Direktur Produksi

Direktur Pemasaran

Direktur Personalia

Manajer PPIC

Manajer Logistik

Manajer QC

Manajer R&D

Gambar 4.4 Struktur Organisasi di dalam Pabrik

6. Buatlah template tata letak pabrik berdasarkan fasilitas produksi yang dibutuhkan serta unit pendukung dari suatu pabrik seperti departemen/bagian/seksi yang dipengaruhi struktur organisasi

Martina J.K_08540007

Laporan Praktikum PSM

Gambar 4.5 Kantor Manajemen Untuk laintai 1 digunakan sebagai kantor manajemen khusus staf. Sedangkan lantai 2 digunakan sebagai kantor manajemen untuk kantor director dengan keterangan sebagai berikut : A : Ruang Direktur Utama B : Ruang Direktur Produksi C : Ruang Direktur Pemasaran D : Ruang Direktur Personalia E : Ruang Tambahan F : Ruang Manajer PPIC G : Ruang Manajer Logistik H : Ruang Manajer QC I : Ruang Manajer R&D J : Meeting Room H : Cafetaria

Martina J.K_08540007

Laporan Praktikum PSM

Gambar 4.6 Tata Letak fasilitas dan Unit Pendukung IV Analis Pembahasan 1. Dalam membuat sebuah tata letak fasilitas, hal yang harus dilakukan adalah melakukan pendataan mengenai fasilitas penting yang dibutuhkan ketika merancangnya. Hal ini dilakukan dengan membuat bagan/struktur bidang-bidang yang diperlukan dalam sebuah perusahaan seperti pada gaambar 4.4 tentang struktur organisasi perusahaan.
Berdasarkan dari proses produksi (OPC) dan dengan kondisi keterbatasan luas lantai yang tersedia hal ini dapat di antisipasi dengan menerapkan pola aliran bentuk U. Dengan pola aliran seperti ini perpindahan material dan pengawasan material ketika diproduksi menjadi lebih mudah. Aliran material produksi disajikan pada gambar 4.3.

2. Sedangkan dibutuhkan juga fasilitas tambahan, yaitu beberapa hal atau bagian yang keberadaan nya dibutuhkan untuk membantu proses produksi di lantai produksi. Fasilitas tambahan tersebut antara lai :
Kantor manajemen untuk direktur utama, pemasaran dan personalia untuk melayani karyawan Kantor untuk bagian produksi yang dekat dengan lantai produksi Lab Inspeksi

Martina J.K_08540007

Laporan Praktikum PSM

Warehouse bahan baku dan produk jadi Kantin, muholah, toilet dan tempat parkir Sehingga hasil layout pabrik dan unit pendukungnya seperti yang disajikan pada gambar 4.6

DAFTAR PUSTAKA Baroto, Teguh. 2002. Perencanaan dan Pengendalian Produksi. UMM Press: Malang Hakim, Arman. 2009 . Perencanaan dan Pengendalian Produksi . Yogyakarta : Graha Ilmu

Martina J.K_08540007