Anda di halaman 1dari 6

PEMBORAN BERARAH (DIRECTIONAL DRILLING)

Pemboran berarah (directional drilling) adalah metode pemboran yang mengarahkan lubang bor menurut suatu lintasan tertentu ke sebuah titik target yang terletak tidak vertikal di bawah mulut sumur. Untuk menemukan jebakan hidrokarbon sebenarnya selalu diinginkan lubang yang vertikal. Alasan-alasan penggunaan directional drilling 1. Reservoir berada di bawah perkotaan, lalu lintas yang ramai, tempat-tempat bersejarah ataupun lahan perkebunan (pertanian). Kalau dilakukan pemboran vertikal di perkotaan, perumahan serta tempat-tempat bersejarah adalah sulit karena harus dilakukan pembongkaran untuk membuat lokasi pemboran. Karena itu lokasi dibuat pada tempat-tempat yang memungkinkan kemudian pemboran diarahkan ke Reservoirnya seperti yang terlihat pada Gambar. 1. Begitu juga untuk daerah pertanian (perkebunan) yang subur , bila Reservoir luas sering digunakan sistem cluster (berkelompok). Dengan system ini akan menghemat pemakaian tanah untuk lokasi pemboran. 2. Reservoir hidrokarbon berada di bawah perairan yang dekat dengan daratan Daripada membuat suatu platform atau pemboran dengan tongkang maka mendirikan menara di daratan dan pemboran diarahkan ke Reservoirnya

Presented by : www.m-darajat.blogspot.com

yang berada di bawah danau adalah pertimbangan yang sangat baik dari segi teknis seperti terlihat pada Gambar 2.

GAMBAR 1 RESERVOIR BERADA DI BAWAH PERKOTAAN

GAMBAR 2 RESERVOIR DI BAWAH PERAIRAN

Presented by : www.m-darajat.blogspot.com

3. Reservoir berada di bawah kubah garam Bila Reservoir berada di bawah kubah garam, jangan dibuat sumur vertikal menembus kubah garam tersebut, karena dapat menimbulkan permasalahan selama pemboran maupun pada saat sedang produksi. Masalah yang akan timbul selama pemboran adalah terjadinya kehilangan lumpur (lost circulation) akibat dari kubah garam yang memiliki porositas yang besar sehingga lumpur bor cenderung untuk masuk ke dalam kubah garam tersebut, bila terjadi lost circulation maka akan menimbulkan kick yang akan berujung pada terjadinya semburan liar (blow out). Selain itu, selama pemboran kubah garam akan menyebabkan runtuhnya dinding sumur karena sifat fisik kubah garam yang tidak kompak (massive) sehingga nantinya akan menyebabkan pipa pemboran terjepit. Kubah garam juga menyebabkan tersumbatnya

lubang perforasi pada casing produksi.

GAMBAR 3 SALT DOME DRILLING

Presented by : www.m-darajat.blogspot.com

4. Reservoir berada di bawah patahan Reservoir hidrokarbon yang berada di bawah patahan jangan digunakan vertical drilling yang menembus patahan. Hal ini dapat menimbulkan permasalahan pemboran yakni terjadi lost circulation pada saat menembus patahan tersebut. Walaupun disaat pemboran permasalahan tersebut dapat diatasi namun kemudian akan timbul permasalahan lagi dimana lubang akan terpotong oleh patahan.

GAMBAR 4 FAULT CONTROLLING 5. Reservoir berada di bawah laut lepas pantai Bila semua sumur dibuat vertikal di lepas pantai maka haruslah dibuat platform untuk satu sumur. Untuk pelaksanaan ini sangat mahal biayanya. Jadi untuk menghemat biaya dibuatlah satu sumur vertikal dan lainnya dibuat berarah menuju Reservoir yang telah ditentukan untuk satu platform. Sistem ini disebut offshore cluster system.

Presented by : www.m-darajat.blogspot.com

GAMBAR 5 OFFSHORE DRILLING 6. Relief well Bila suatu sumur mengalami blow out dan terbakar, maka dibuat satu atau dua sumur berarah menuju formasi yang menyebabkan terjadinya blow out tersebut, dimana melalui sumur yang dibuat tadi dipompakan fluida untuk mematikan sumur yang terbakar. Sumur ini disebut relief well.

GAMBAR 6 RELIEF WELL

Presented by : www.m-darajat.blogspot.com

7. Side Wall Tracking Pada suatu pemboran sumur, terkadang ada barang-barang yang jatuh, pipa terjepit atau putus yang tidak dapat diangkat ke permukaan. Maka pada umumnya lubang yang sudah dibor tersebut disemen, kemudian lubang sumur dibelokkan dan diarahkan kembali menuju Reservoir yang akan ditembus.

GAMBAR 7 SIDE WALL TRACKING

Presented by : www.m-darajat.blogspot.com