P. 1
HIVAIDS & NAPZA

HIVAIDS & NAPZA

|Views: 30|Likes:
Dipublikasikan oleh Annisa Juwita

More info:

Published by: Annisa Juwita on Nov 04, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2012

pdf

text

original

HIV/AIDS DAN NAPZA SERTA KEBIJAKANNYA

Bidang P3KL Dinas Kesehatan Kota Serang

MISTERI AIDS
    Semua Orang Bisa Terkena AIDS Belum Ada Vaksin Pencegahannya Belum Ada Obatnya Penyebaranya Sangat Cepat

Pengetahuan tentang AIDS adalah langkah pertama untuk pencegahan penyebaran AIDS lebih meluas

Herpes simpleks

BAGAIMANA GAMBARAN SITUASI HIV/AIDS DIINDONESIA???????

KUMULATIF KASUS AIDS BERDASARKAN DAERAH PELAPOR SAMPAI AKHIR MARET 2006

5823
3
130 97 25 51 159 42 143 1 2 91

8

2

101

1 51

66 6 2 23 96 2101 118 746 143 42 249 431 19 57 29

788

16

14 provinsi dengan kasus AIDS terbanyak s/d Akhir Maret 2006
2500 2101 2000

1500

1000

Tanpa Irjabar
788 746

500

431 249 159 143 143 143 130 118 101 96
m ut ls e l ri Ja ten g ar Ka lb Ka lb ar Su

0
DK I Ja ba r Ja tim Pa pu Ba li a Ke p Su Su

91

lut lam pu ng Ma lu ku

14 provinsi dengan kasus AIDS terbanyak s/d Akhir Maret 2006
2500 2101 2000

1500

1000

Tanpa Irjabar
788 746

500

431 249 159 143 143 143 130 118 101 96
m ut ls e l ri Ja ten g ar Ka lb Ka lb ar Su

0
DK I Ja ba r Ja tim Pa pu Ba li a Ke p Su Su

91

lut lam pu ng Ma lu ku

Kumulatif Kasus AIDS di Indonesia berdasarkan Cara Penularan s/d 31 Desember 2005
4000 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0 Homosek Heterosek IDU

3719

2097

256

6
Transfusi

66
Perinatal

294
Tdk diket

BAGAIMANA ?

SITUASI HIV/AIDS & NAPZA DI KOTA SERANG

DI KOTA SERANG ( 2006 S/D OKTOBER 2008 )

- 50 KASUS IMS ( RS & PKM ) - 55 KASUS HIV KUMULATIF ( TERSEBAR DI 6 KECAMATAN KOTA SERANG ) - 24 KASUS AIDS - 12 KASUS AIDS MENINGGAL Di kota Serang (Januari s/d Desember 2008) - 11 KASUS IMS - 10 Kasus HIV - 15 Kasus AIDS

 SITUASI UMUM TH 2008 JUML. PDDK = 503.491JIWA LUAS WILAYAH = 266,7 KM2 KECAMATAN = 6 KECAMATAN KELURAHAN/DESA = 66 KEL/DESA BERBATASAN DG : UTARA = LAUT JAWA BARAT = KEC.PETIR SELATAN = KEC. WR KURUNG TIMUR = KEC CIRUAS

 JUML SARANA KESEHATAN : - PUSKESMAS - PUSTU - RUMAH SAKIT - LABKESDA - UNIT TRANFUSI DARAH
 JUML TENAGA KESEHATAN : - DOKTER UMUM - DOKTER GIGI - DOKTER SPESIALIS - PETUGAS IMS TERLATIH - PERAWAT - BIDAN

= 10 BH (1 DTP) = 13 BH = 3 BH = 1 BH = 1 BH

= 74 ORG = 37 ORG = 38 ORG = 10 ORG = 540 ORG = 374 ORG

 SARANA KHUSUS : - SARANA PEMBINAAN PSK
- LOKALISASI WTS - LAPAS/ RUTAN - HOTEL - SALON KECANTIKAN - RESTORAN / RM

= 0 BH

= 0 BH = 2 BH = 6 BH = 148 BH = 000 BH

GRAFIK HIV/AIDS TH 2006 S/D DES 2008 KOTA SERANG
16 14 12 10 8 6 4 2 0 HIV AIDS MATI
0 15 15

13 9 5 3 0 2007 13 15 9 2008 10 15 3 10

2006 5 0 0

GRAFIK KASUS HIV/AIDS KOTA SERANG BERDASARKAN FAKTOR RESIKO TH 2008
14 12 10 8 6 4 2 0

13

1 IDUS HOMO 1

1 HETERO 1

KASUS

13

GRAFIK HIV/AIDS KOTA SERANG BERDASARKAN KLP UMUR TH 2008
10 8 6 4 2 0
HIV/AIDS

10

3 2 0
< 15 TH 0 16-24 TH 25-34 TH 35-44 TH 2 10 3

0
> 45 0

PERMASALAHAN
 Kasus HIV/AIDS & IMS dari waktu kewaktu terus ada peningkatan  52 % kasus HIV telah menjadi AIDS  87 % kasus HIV terjadi pada kelompok Narkoba suntik  50 % Mati akibat AIDS  67 % Kasus HIV sebagian besar terjadi pada KLP umur 25-34 TH  Sosialisasi HIV/AIDS & IMS belum merata pada kelompok sasaran baik RISTI maupun masyarakat umum  Optimalisasi Klinik IMS di puskesmas belum optimal  Koordinasi dan singkronisasi kegiatan yang dibuat KPA Kota Serang baru dimulai  Melakukan jejaring dengan kelompok penasun

RENCANA TINDAK LANJUT  Sosialisasi pemanfaatan Klinik HIV/AID atau Teratai RSU Serang di masarakat terutama pada kelompok resiko tinggi  Desiminasi informasi pencegahan penularan HIV dari semua stakeholder dan lembaga swadaya masyarakat  Mengeliminasi peredaran narkoba dimasyrakat terutama oleh penegak hukum bersama masyarakat  Membentuk wadah koordinasi penanggulangan HIV/AIDS di bawah Komisi Penanggulangan AIDS Kota Serang

Upaya pencegahan penyebaran HIV/AIDS
 Sosialisasi melalui anak sekolah & Mahasiswa, Ibu PKK,Pekerja/Karyawan Pabrik/PNS/Polri/TNI  Tokshow/Radio Sport/Desinfo Koran Lokal  Optimalisasi Klinik IMS & Conseling Dasar serta Mobilisasi VCT  Seminar/Hearing dari berbagai klp organisasi masa dan klp Pelajar, Gait Pariwisata

Memperkuat Jaringan
 Pertemuan Kelompok Sebaya HIV/AIDS  Mendorong terbentuknya LSM peduli AIDS DI kota Serang

Peranserta masyarakat & LP/LS
 Melibatkan TOMAS,TOGA,untuk mengajak masyarakat terlibat dalam pencegahan penularan HIV/AIDS

KALAU BEGITU MARI KITA MEMAHAMI APASIH HIV/AIDS DAN BAGAIMANA PENCEGANYA ????

APA ITU AIDS

A cquired

I

mmune

D

eficiency

S

yndrome

Kumpulan gejala yang disebabkan menurunnya sistem kekebalan tubuh

APA PENYEBAB AIDS

H I

uman

mmunodeficiency

V

irus

PENULARAN HIV
HIV Dalam jumlah yang bisa menularkan ada di •CAIRAN SPERMA •CAIRAN VAGINA •DARAH Kegiatan yang menularkan: •Hubungan seksual yang tidak aman dengan orang yang terinfeksi HIV •Transfusi darah yang tercemar HIV •Mengunakan jarum suntik, tindik, tatto bersama-sama dengan penderita HIV dan tidak disterilkan •Dari Ibu hamil yang terinfeksi HIV kepada anak yang di kandungnya

FASE DAN GEJALA AIDS
FASE I (0-5 TAHUN TERINFEKSI)
Tanpa Gejala (asimtomatik) FASE II (5-7 TAHUN TEINFEKSI)

Muncul Gejala Minor: Hilang selera makan, tubuh lemah, keringat berlebihan di malam hari, pembengkakan kelenjar getah bening, diare terus menerus, flu tidak sembuh-sembuh
FASE III (7 TAHUN ATAU LEBIH) Masuk penyakit AIDS: Kekebalan tubuh sudah sangat sedikit dan muncul infeksi oportunistik: TBC, Radang Paru, Gangguan Syaraf, Kaposi Sarkoma (kanker Kulit)

Herpes simpleks

Herpes simpleks

Herpes zoster

Moluskum kontagiosum

Dermatitis seboroik

Kondiloma akuminata

Psoriasis

Erupsi papular

Sarkoma Kaposi

Sarkoma Kaposi

Retinopati HIV

 Manifestasi okuler tersering, 50%-70%.  Perdarahan retina, mikroaneurisma, cottonwool spots.  Sepanjang cabang pembuluh darah  Iskemia nerve fiber layer  Akibat mikrovaskulopati + kelainan hematologi (peningkatan aktivitas & rigiditas lekosit)

Retinitis CMV
 Well-established CMV retinitis : full-thicness retinal opacification, hard exudat, hemorrhages  Minimal overlying vitreus inflammation (imunosupresi)

Progessive Outer Retinal Necrosis ( PORN )

Toxoplasma retinochoroiditis
 Pada ODHA gambaran klinis berbeda dengan pada pasien imunokompeten  Lesi lebih besar (> 5 disc diameter)  Bilateral 18-38%  Soliter, multifocal, atau milier  Peradangan vitreus di atas lesi retinochoroiditis lebih ringan

Pneumocystis jiroveci choroiditis

Sarcoma kaposi pada mata dan gambaran mikroskopis

Herpes zoster
 Pada ODHA, HZ bisa melibatkan wajah, palpebra, kornea  Keratitis superficial kronis persisten  Tx : acyclovir IV dan topikal  Perlu pemeriksaan retina secara periodik, mengingat PORN ( progessive outer retinal necrotic )

Infeksi lain
 Mycrosporodia Keratitis Punctata Superficialis  Conjuctivitis granuloma soliter, karena cryptococcus, tuberculosa  Limfoma orbita/ocular  Karsinoma sel skuamosa konjungtiva

AIDS TIDAK MENULAR LEWAT
 Bersentuhan, senggolan, salaman, berpelukan, berciuman dengan penderita AIDS  Mengunakan peralatan makan bersamasama dengan penderita AIDS  Gigitan nyamuk  Terkena keringat, air mata, ludah penderita AIDS  Berenang bersama-sama dengan penderita AIDS

MENGURANGI RESIKO PENULARAN
 Bagi yang belum aktif melakukan kegiatan seksual: tidak melakukan hubungan seks sama sekali  Bagi yang sudah aktif melakukan kegiatan seksual: melakukan seks mitra tunggal, mengurangi mitra seks, menggunakan kondom, segera mengobati PMS kalau ada  Hanya melakukan transfusi darah yang bebas HIV  Mensterilkan alat-alat yang dapat menularkan: jarum suntik, tindik, tatto dll  Ibu yang terinfeksi HIV perlu mempertimbangkan

APA YANG BISA KITA LAKUKAN

 Menerapkan informasi pada diri sendiri  Berperilaku bertanggung jawab  Menyebarkan informasi tentang AIDS kepada orang lain  Mendukung kegiatan pencegahan AIDS di lingkungannya

Kita bisa kena AIDS tapi kita bisa mencegahnya

Surveilans HIV Generasi Kedua
HIV surveillance STI surveillance behavioural surveillance Data management

AIDS reporting

Data analysis

HIV estimates and projections

Use of data for action

“RISK” HIV INCIDENCE SURVEILLANCE SURVEILLANCE

HIV PREVALENCE SURVEILLANCE

AIDS AIDS CASE SURVEILLANCE DEATHS

90 80 70 60 50 40 30 20 10 0
“WINDOW” PERIOD INFECTION = VIRAL LOAD = HIV ANTIBODIES

ASYMPTOMATIC PERIOD

HIV ILLNESS or AIDS

DEATH

Persentase kumulatif Kasus AIDS di Indonesia berdasarkan Jenis Kelamin s/d akhir Maret 2006
Perempuan 18.1%
T dk diket 1%

957

4305

Laki-laki 80.9%

Proporsi Kasus AIDS di Indonesia, Papua dan Jabar berdasarkan Jenis Kelamin s/d 2006
INDONESIA 1:4
Perempuan 18.1%
T dk diket 1%

PAPUA 2:3
0%

957

38%

62%

4305
17%

Laki-laki 80.9%

Laki-laki

Perempuan

Tak Diketahui

83%

JAWA BARAT 1:5

Laki-laki

Perempuan

KUMULATIF KASUS AIDS DIPERKIRAKAN PADA 2010

93.968 – 130.000
159 253 2040 4099 1263 3296 573 2338 230 302 292 3615 639 61 25678 3620 1377 2621 12850 13884 924 5088 136 554 5392 410 294

1396

16

PERKIRAAN INFEKSI HIV TAHUN 2010 DI INDONESIA

16

HIV 110.000 In 2002

INFECTION

Pasangan

M.T.C.T

BAYI SEHAT

6.000 bayi/tahun

YATIM PIATU 3.000 bayi/tahun

HIV BABIES

SITUASI HIV AIDS PADA PEREMPUAN DAN ANAK
 Lebih 6,5 Juta Perempuan di Indonesia menjadi populasi rawan tertular dan menularkan  Lebih dari 24.000 Perempuan Usia Subur di Indonesia telah terinfeksi HIV  Lebih dari 9.000 Perempuan HIV+ hamil dalam setiap tahunnya di Indonesia dan  Lebih dari 30% diantaranya melahirkan bayi yang tertular bila tak ada PMTCT

STRATEGI
 UPAYA PENCEGAHAN DILAKUKAN DENGAN MEMUTUS RANTAI PENULARAN TERUTAMA PADA POPULASI RAWAN TERTULAR DAN MENULARKAN  UPAYA PELAYANAN DILAKUKAN SECARA KONFREHENSIF DAN TERPADU DALAM RANGKA MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP ORANG DENGAN HIV/AIDS DAN MENGURANGI DAMPAK SOSIAL DARI HIV/AIDS  MENINGKATKAN JANGKAUAN DAN KUALITAS PENGENDALIAN SECARA BERTAHAP BERDASARKAN EPIDEMIOLOGI DENGAN MENGGUNAKAN SETIAP SUMBER DAYA DAN MENGIKUTSERTAKAN SELURUH KOMPONEN MASYARAKAT (PARTNERSHIP)

KEBIJAKAN
 SEMUA TEHNOLOGI PENGENDALIAN HIV/AIDS DAPAT DITERAPKAN SETELAH MELALUI PROSES ADAPTASI DAN ADOPSI SERTA BILA DIPERLUKAN MELALUI PROSES UJI OPERASIONAL TERLEBIH DAHULU (CUP 100%, VCT, ART, PMTCT, HARM REDUCTION, SURVEILANS)  UPAYA PENGENDALIAN HIV/AIDS SENANTIASA MEMPERHATIKAN NILAI LUHUR KEMANUSIAAN, PENGHORMATAN HARKAT HIDUP MANUSIA, HAK AZAZI MANUSIA, SERTA MENCEGAH TERJADINYA STIGMATISASI DAN DISKRIMINASI.

KEBIJAKAN
 PEMERINTAH BERKEWAJIBAN MEMBERIKAN ARAH PENGENDALIAN HIV/AIDS SESUAI DENGAN KOMITMEN GLOBAL DAN NASIONAL, MENENTUKAN PRIORITAS PENGENDALIAN SERTA MEMOBILISASI SUMBER DAYA YANG CUKUP UNTUK PENGENDALIAN.  SEMUA KEGIATAN PENGENDALIAN HIV/AIDS HARUS MEMILIKI KEBIJAKAN TEKNIS YANG WAJIB DIBAKUKAN DALAM BUKU PEDOMAN DAN DISEBARLUASKAN KEPADA SEMUA PIHAK SERTA BILA DIPERLUKAN DITUANGKAN DALAM PERATURAN ATAU PERUNDANGAN

K.I.E

PMTCT

KONDOM 100%

KEGIATAN PENCEGAHAN

UP

HARM REDUCTION

P’AMANAN DARAH DONOR

TATA LAKSANA IMS

KEGIATAN PENCEGAHAN
 Peningkatan gaya hidup sehat melalui KIE, Life Skill Education, Pendidikan Kelompok Sebaya, konseling  Peningkatan Penggunaan kondom pada perilaku seksual rawan tertular dan menularkan  Pengurangan dampak buruk (Harm Reduction) pada pengguna Napza suntik  Penatalaksanaan IMS (Klinik IMS, Pemeriksaan Berkala, Pengobatan dengan Pendekatan Sindrom dan etiologi)  Skrining pengamanan darah donor  Kewaspadaan Universal pada setiap kegiatan medis  Pencegahan penularan dari ibu HIV+ kepada anaknya (PMTCT dan Pemberian Makanan Bayi)

KEGIATAN PELAYANAN
 Pelayanan mencakup kegiatan perawatan, dukungan dan pengobatan  Voluntary Counseling & Testing (VCT)  Anti Retro-viral Therapy (ART)  Hotline Service  Pengobatan Infeksi Opportunistic  Pelayanan Gizi  Pengobatan paliatif  Perawatan  Laboratorium  Program dukungan  Perawatan di rumah (Home Base Care)  Manajemen kasus oleh Case Manager

SURVEILANS

IT JAR.KOM.

ESTIMASI

LS & LP KPA

KEGIATAN PENUNJANG

COSTING

DIKLAT

LITBANG

PERATURAN & UU

KEGIATAN PENUNJANG
 2nd Generation Surveilans (Surv AIDS, Surv HIV, Surv IMS, Survei Surveilans Perilaku)  Estimasi populasi rawan dan infeksi HIV dan proyeksi  Costing  Penelitian dan pengembangan  Pengembangan peraturan dan perundangundangan  Pendidikan dan pelatihan  Kerjasama Lintas Sektoral melalui Komisi Penanggulangan AIDS (KPA)

25 RS Rujukan ARV
1. RS Adam Malik Medan 2. RSU Pekan Baru 3. RS Budi Kemuliaan Batam 4. RS M. Husein Palembang 5. RSCM Jakarta 6. RSPI SS Jakarta 7. RS Persahabatan Jakarta 8. RS Kanker Dharmais Jkt. 9. RS Duren Sawit Jakarta 10.RS Fatmawati Jakarta 11.RSAL Dr. Mintoharjo Jkt. 12.RSPAD Gat0t Subroto Jkt. 13.RS Polri Dr. Soekamto Jkt. 14. RS Hasan Sadikin Bdg. 15. RS Kariadi Semarang 16. RS Sardjito Yk. 17. RS Dr. Soetomo Sby. 18. RS Sanglah Bali 19. RS Malalayang Menado 20. RS W. Sudirohusodo Makasar 21. RS Dr. Soedarso Pontianak 22. RS Merauke 23. RS Sele be Solu Sorong 24. RS Jayapura 25. RS Mitra Masy. Timika

TAMBAHAN 50 RS TH 2005
1. RS. ZAINOEL ABIDIN, BANDA ACEH 2. RSUD TANJUNG PINANG, KEP RIAU 3. RSUD KARIMUN, KEP RIAU 4. RSU M JAMIL, PADANG 5. RS JIWA PALEMBANG 6. RS RADEN MATTAHER, JAMBI 7. RSU M YUNUS BENGKULU 8. RSU SUNGAI LIAT, BABEL 9. RS ABDOEL MOELOEK, LAMPUNG 10. RSU ULIN, BANJARMASIN

Epidemi HIV/AIDS Pada PENASUN

Cara Penularan HIV yang Utama di Indonesia
 Penggunaan alat suntik yang tidak steril secara bersama, terutama pada pengguna Narkoba Suntik  Kegiatan seks dengan banyak dan berganti pasangan tanpa menggunakan kondom

Perkembangan Kasus HIV/AIDS di Indonesia
s/d 31 Desember 1996 s/d 31 Desember 2001

Homo-biseksual 42.9%

Transfusi Darah 0.5%

IDU 19.7% Hemofili 0.2%

Hemofili 0.8% IDU 2.5% Transfusi Darah 1.7%

Homo-biseksual 13.9%
Heteroseksual 54.5% Tak diketahui 12.6% Tak diketahui 10.0% Perinatal 1.4%

Heteroseksual 39.5%

Prevalensi HIV di kalangan IDU di beberapa Tempat
100 93 90 80 76,2

70

60

57 53 48

50

40

30

24,5 17

20

10

6,4

7,3

0 YAKEBA (BALI) YAYASAN KITA (Bogor) LP Krobogan Bali Kampung Bali RSKO Kios Atma Jaya LP Cipinang LP Pondok Bambu Rutan Salemba

Siapakah IDU itu ?
Umur di bawah 25 tahun
70.0

Tinggal bersama keluarga

89.5

Pendidikan SMA atau lebih

62.4

Pendapatan di atas 500,000 per bulan

59.1

Sedang belajar atau kerja di sektor formal
0 10 20

22.9

30

40

50

60

70

80

90

100

Pe rse n

Bagaimana Perilaku Menyuntiknya ?

Pakai jarum bekas orang lain

25.2

Beri jarum ke orang lain setelah pakai

40.5

Pakai jarum bersama

46.4

Pakai jarum bersama lebih dari satu orang

14.4

0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

100

Bagaimana ….(lanjutan)

Pakai cairan bersam a

71,0

Pakai jarum bekas orang pakai dalam m inggu lalu

88,1

Melakukan nyuntik berisiko

23,3

64,8

6,2

Tanpa risiko 5,7

0,0

10,0

20,0

30,0

40,0

50,0 Persen

60,0

70,0

80,0

90,0

100,0

Perilaku seks?
70.0

Selalu pakai kondom
3.8

60.0

Tidak pakai kondom

50.0

Persen

40.0

30.0 54.8 20.0 0.5 25.7 10.0 20.5 15.7 3.8 2.4 4.8 53.3

0.0

Pernah berhubungan seks

Seks dengan isteri

Seks dengan pacar

Seks dengan WPS

Seks anal dengan pria/waria

Seks dengan lebih dari satu pasangan; pada seksual aktif

Pola Penyebaran HIV
Pria suka pria Waria Pria pekerja seks

Wanita Pekerja Seks

Pengunaan narkoba

Perempuan Risiko Rendah

Pelanggan WPS

Intervensi pada Kelompok Pengguna Napza Suntik (IDU)
Mengurangi risiko penularan HIV/AIDS melalui penggunaan jarum steril dan perilaku seks yang aman pada kelompok IDU

Perubahan perilaku yang diharapkan
 Berhenti menggunakan narkoba  Jika masih menggunakan narkoba, tidak menggunanan narkoba yang disuntikkan  Jika masih menggunakan narkoba suntikan, memakai peralatan suntik baru/sendiri  Jika masih berbagi jarum suntik dengan orang lain, membersihkan jarum suntik sebelum dan sesudah dipakai  Setia pada satu pasangan dan/atau memakai kondom saat berhubungan seks yang tidak aman

Prinsip-prinsip pencegahan HIV yang efektif di kalangan penasun
 Tujuan pragmatik jangka pendek  Pemanfaatan hirarki risiko  Pemanfaatan strategi yang beragam  Keterlibatan pengguna narkoba

Elemen-elemen pencegahan yang efektif
 Penjangkauan kepada penasun  Edukasi yang relevan dan kredibel  Akses yang meningkat ke jarum suntik dan kondom  Terapi pengalihan narkoba  Kebijakan, legislasi dan advokasi yang mendukung

JADI NAPZA ITU APAYAH ???????

Apakah itu Adiksi ?
 Kecanduan atau Adiksi adalah penggunaan zat ataupun obat secara kompulsif untuk alasan non-medis – ditandai dengan rasa menagih untuk menggunakan zat yang mengubah suasana hati, dan bukan untuk menghilangkan rasa sakit. (WHO)

Kalau Napza?
 Adalah kepanjangan dari Narkotika, alkohol, psikotropika dan zat aditif lainnya  Narkotika dan Psikotropika adalah zat psikoaktif yang berpengaruh pada otak/susunan saraf pusat (merangsang atau menekan)  Narkotika dan Psikotropika dapat menimbulkan perubahan perilaku,perasaan,pikiran,persepsi dan kesadaran

Kalau alkohol?
 Alkohol berasal dari fermentasi air dan ragi yang bereaksi dengan bermacam-macam gula dan beragam gandum  Alkohol juga mempunyai sifat psikoaktif  Zat aditif adalah zat atau bahan sintetis yang penggunaannya dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan psikis

KENYATAAN !!!!
 LEBIH dari 80% pecandu MULAI menggunakan NARKOBA dan Alkohol pada usia 12 – 15 tahun

KENAPA REMAJA?
 Masa Puberitas  Pertumbuhan Ego  Pencarian Identitas Diri

“PEER PRESSURE!”

Membedakan Taraf Masalah
 USER = Pemakai – ditandai dengan pemakaian sekali-sekali, coba-coba, tanpa masalah berarti. Semua aspek kehidupan normal-normal saja. ABUSER = Penyalahguna – ditandai dengan pemakaian agak bermasalah, menggunakan cukup rutin. Sebagian aspek kehidupan mulai/amat terganggu. ADDICT = Pecandu – ditandai dengan pemakaian bermasalah, menggunakan sangat rutin hingga setiap hari. Segala aspek kehidupan rusak. Seolah mereka hidup untuk pakaw dan pakaw untuk hidup.

Depresi susunan saraf pusat (central nervous system depresant)
    Alkohol Barbiturat Non barbiturat Minor tranquilizers

Efek utama
     Perasaan rileks dan tenang Meningkatkan relaksasi otot Mengurangi kegelisahan Mengurangi refleks Menurunkan denyut nadi dan tekanan darah

Perangsang susunan saraf pusat (central nervous system stimulans)
 Cocain crack

 Kafein  Nikotin  Sabu-sabu

Cara penggunaan
 Di makan  Di hisap / di hirup  Di suntikan

Efek utama
 Merangsang kesadaran dan meningkatkan perasaan  Meningkatkan detak jantung dan aliran darah  Meningkatkan gairah aktifitas  Menurunkan berat badan

Opiad
 Opium

 Heroin  morfin

Cara penggunaannya?
 Di hisap

 Di hirup

 Di suntik

Efek utama
     Di gunakn medis untuk mengatasi rasa nyeri Menekan batuk dan mengatasi rasa nyeri Euforia Mual, muntah dan gatal Pupil mata mengecil

Hallucinogen
 Mushroom

 LSD

 LSD PILLS

Cara penggunaan
    Di telan Di hirup Di hisap Di suntikkan

Efek utama
 Merubah tingkat kesadaran  Meningkatkan perabaan dan rasa sensitif  Penglihatan akan di terima secara berlebihan

Ihalants and volatile hidrokarbon
 Lem, gasolin, tiner

 Bahan bakar korek gas, bensin, dll

Cara penggunaan
 Di hirup

Efek utama
 Pusing, bicara kacau  Gaya berjalan seperti terombang ambing  Rasa kantuk

Cannabinols
 Marijuana

 Ganja

Cara penggunaan
 Di hisap

Efek utama
      Mengalami ueforia Peningkatan rasa, raba dan penciuman Berkurangnya kemampuan refleks Rasa santai Meningkatkan nafsu makan Pelebaran pada kornea yang menyebabkan mata merah

model adiksi
 Model moral: diambil di adopsi oleh keagamaan yang sesuai dengan sistem legal.  Model psikologi dan sosial budaya dari kecanduan: kemungkinan adanya “addictive personality” ( kepribadian adiktif”

Model penyakit adiksi (Disease concept)
 Model ini telah menjadi bagian penting dari progran alcoholic anonymous dan narcotic anonymous serta di jadikan sebagai model panduan untuk semua program perawatan.

Komunitas terapi (therapeutic communities)
Komunitas ini adalah lingkungan residensial, biasanya diasosiakan dengan penanganan alkohol dan napza, tujuan komunitas terapi ini adalah mengembalikan status sosial pecandu napza

Penanganan rawat inap dan residensial
 Walaupun lingkungan ini sering di asosiakan dengan rumah sakit, tetapi bisa saja penanganan ini ada di luar rumah sakit Penanganan rawat jalan dan perawatan harian  Sama seperti program rawat inap dan residensial, program rawat jalan dan perawatan harian biasanya berasosiasi dengan rumah sakit dan fasilitas klinik khusus yang menangani kesehatan mental.

Kelompok dukungan
 Dalam kecanduan napza juga terdapat beberapa jenis kelompok dukungan seperti AA dan NA yang berfungsi untuk memberikan sebuah wadah untuk para pecandu agar bisa berbagi kekuatan, pengalaman dan harapan.

Terima kasih
Take care, don’t do drugs and be safe…bye

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->