Administrasi Perpajakan

Tarif Pajak, Nomor Pokok Wajib Pajak dan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak

By. Suryanto,SE,.M.Si. Nenden Kostini, S.E., M.Si. Ratih Purbasari, S.Sos.,M.S.M. Rasmini, SE., M.Si.

Pengertian Tarif Pajak

Tarif pajak adalah tarif yang menghitung besarnya pajak terutang (pajak yang harus dibayar). Besarnya pajak dapat dinyatakan dalam persentase. (Waluyo dan wirawan ilyas)

Jenis-jenis tarif pajak
NPWP

Tarif Pajak Tetap yaitu tarif berupa jumlah tertentu yang sifatnya tetap (sama

besarnya) dan tidak dipengaruhi oleh besarnya jumlah dasar pengenaan pajak, objek pajak, maupun subjek pajak/wajib pajak.

Tarif pajak proporsional/sebanding (Persantase Tunggal) yaitu tarif berupa

persentase tetap yang dikenakan terhadap jumlah berapa pun yang menjadi dasar pengenaan pajak

Tarif Pajak Progresif (persentase meningkat) yaitu tarif pajak yang persentasenya

menjadi lebih besar seiring peningkatan jumlah yang menjadi dasar pengenaan pajaknya.
a)

Tarif progresif - proporsional sama besar.

tarif progresif yang besar peningkatan tarifnya

Ada dua Tarif progresif - proporsional , yaitu Tarif progresif - proporsional Absolut

d Rp.500. 6.000. 10. 20.000x10% ) Rp. 3.000 s. 30.000 (Rp.000.d Rp. 7.000 Rp.500.000x15% + Rp. 20.000. 30.d Rp.000 = 15% Peningkatan Tarif 5% Jumlah Pajak Rp.000. 10.000 (Rp.000.000. 10.000 Rp.000x15%) Rp.d Rp.000x20%) Rp. 20.Jenis-jenis tarif pajak NPWP Contoh : Tarif progresif .000 (Rp.000 Rp. 4.000 (Rp.000 Tarif Pajak s.000.000.000.000.d Rp. 10.000.000. 10.000.000x20% ) Rp.000x10% +Rp.000.000.d Rp. 20.000 s.000. 40.000x10% +Rp. 40.000.000x25%) Contoh: Tarif progresif .000 Rp.000 (Rp.000.000x25% ) .000 Tarif Pajak s. 10.000 s.000x15% + Rp.000.000 (Rp. 20.000 = 15% s.000 s.000 = 10% Peningkatan Tarif Jumlah Pajak Rp.000x15% ) Rp. 10. 1. 10.000. 10.000.000x20% + Rp. 20. 40.000 = 25% 5% 5% 5% Rp.000.000x10% +Rp.000 = 25% 5% 5% Rp.000.000.000. 40.proporsional Absolut DPP Rp.d Rp.000 (Rp.d Rp. 10. 10.000.000.000.000 = 20% Di atas Rp. 10. 30. 40.000 = 20% s.000 (Rp. 10.000 Di atas Rp.000. 1.000x10%) Rp.000.proporsional Berlapisan DPP Rp. 30.000.000.000. 30.000. 30.000.000 = 10% Di atas Rp. 2.000.000. 10. 10.000. 10. 10.000.

000. Tarif progresif .d Rp. 30.000 Tarif Pajak s.000.000x15%) Rp.d Rp.d Rp.000x10%) Rp. 20. 30.000x40%) .d Rp. 10.000 Rp.000. 3. yaitu Tarif progresif .000 Rp.000.000. 20. 20. 30.000 (Rp. 1.000x25%) Rp. 7.000.000 = 10% s.000 Rp.000 (Rp.000.000 = 25% s. 10. 40. 40.000. 40.000.000 = 40% Peningkatan Tarif 5% 10% 15% Jumlah Pajak Rp.000.000.000.progresif Berlapisan tarif progresif yang besar peningkatan tarifnya Ada dua Tarif progresif – progresif .progresif Absolut DPP Rp.000.000 = 15% s.000 (Rp.000.progresif Absolut dan Contoh : Tarif progresif . 10.000 (Rp.Jenis-jenis tarif pajak NPWP b) Tarif progresif – progresif semakin besar.000. 16.500.

000x10% +Rp.000x25% + Rp.000.Jenis-jenis tarif pajak NPWP Contoh : Tarif progresif . 10.000 (Rp.000x25% ) Rp.d Rp. 10.000x10% ) Rp. 30.d Rp.000.000 (Rp.000.000.000.500.000. 10.000.000 Rp.000 = 15% Di atas Rp.000 (Rp.000.000x15% + Rp.000.000.000. 10. 30.000. 20. 10. 10. 10. 9.000.d Rp. 30.000 s. 10.000 Rp.d Rp. 10.000.progresif Berlapisan DPP Rp. 2.000.000x40% ) .000 Rp.000 = 10% Di atas Rp.000 = 25% Di atas Rp. 40.000.000. 10.000. 40.000x15% + Rp.000. 20.000.000.000 (Rp.000 Tarif Pajak s.000. 10. 20.000 s.000 = 40% Peningkatan Tarif 5% 10% 15% Jumlah Pajak Rp. 5.000x15% ) Rp. 10.000.000x10% +Rp. 10.000. 1.000 s.000x10% +Rp.

1.000x40%) .000 (Rp. 5.000 = 35% Di atas Rp.000 (Rp.000 (Rp.000.000.Jenis-jenis tarif pajak c) Tarif progresif – degresif semakin kecil. 40.000.000.000.000. 30. 40. 30.d Rp.degresif Absolut dan Contoh : Tarif progresif . 10.000.000.000 = 25% s. 10.degresif Berlapisan Tarif progresif yang besar peningkatan tarifnya Ada dua Tarif progresif – degresif .000 (Rp.000 Rp. Tarif progresif . 16.000 = 10% s.000. 20.000 Rp. 20. 30. 10.000 s.000.000 = 40% 15% 10% 5% Rp.500.000. 30.000 Rp.000x10%) Rp. 10. yaitu Tarif progresif .degresif Absolut DPP Tarif Pajak Peningkatan Tarif Jumlah Pajak Rp.000.000x35%) Rp.000.000.000.d Rp. 20.000x25%) Rp.d Rp.

000.000 s. 30.000 Rp.000.000x10% ) Rp. 10. 10.000 = 10% Di atas Rp.d Rp. 30.000. 1. 30.000 (Rp. 10. 10.000.000x10% +Rp.000 (Rp. 20.000 Tarif Pajak s. 10.000.000 Rp.000x10% +Rp. 10.000.000.000 (Rp.000x25% + Rp. 40. 20.000.000x10% +Rp.000.000 = 40% Peningkatan Tarif 15% 10% 5% Jumlah Pajak Rp.000. 11.000x25% + Rp. 20.000.Jenis-jenis tarif pajak NPWP Contoh : Tarif progresif .000. 10.000x25% ) Rp.d Rp.000.000.d Rp.000.000 s. 10.000.500. 10.000.000 = 25% Di atas Rp.000.000.000 = 35% Di atas Rp.000. 10.000x35% + Rp.000x40% ) . 10.000x35% ) Rp. 10. 10. 7.000.000 (Rp.000. 3.000 Rp.000.degresif Berlapisan DPP Rp.

a) Tarif degresif . yaitu tarif degresif .proporsional Berlapisan .proporsional tarif degresif yang besar penurunan tarifnya sama besar.proporsional .Jenis-jenis tarif pajak NPWP Tarif Pajak Degresif yaitu tarif pajak yang persentasenya semakin kecil walaupun jumlah yang menjadi dasar pengenaan pajaknya semakin besar/meningkat.proporsional Absolut dan Tarif degresif . Ada dua Tarif degresif .

40.000.000.000 Rp.000x25% ) Rp.500.d Rp.d Rp. 2.000x15%) Rp.500. 10. 2.d Rp.000 = 20% s.000x25%) Rp. 10.000 = 15% Di atas Rp. 10.000x25% +Rp.000x15% ) Rp.000 = 25% s. 40.000. 20.000.000x10% ) .000x15% + Rp.000. 20. 10.000.000.000.000.000x10%) Contoh: Tarif degresif .000 (Rp.000.000 = 10% 5% Rp.000x20% ) Rp. 30.d Rp.000 (Rp. 20.000.000.000.000.000. 4. 7.000.000.500. 10.000 Rp. 30. 40.500.000.000. 10.000 s.000.000 (Rp.000x20%) Rp.000 (Rp. 10. 10.000 Tarif Pajak s.000. 4.000x25% +Rp.000 = 20% Di atas Rp.000.000.000 = 10% Peningkatan Tarif 5% 5% 5% Jumlah Pajak Rp.000 s. 10.000. 10. 6.000 Rp.000 Rp.000.000. 10. 10. 10. 4. 10.000 (Rp.000 (Rp. 40. 20.000x20% + Rp. 10.proporsional Absolut DPP Rp.000 s.000.000.proporsional Berlapisan DPP Rp.000 (Rp.000.000.000 = 25% Di atas Rp.000 Rp.000.000. 30.000.000.Jenis-jenis tarif pajak NPWP Contoh : Tarif degresif . 30. 30. 30. 10.000 = 15% Peningkatan Tarif 5% 5% Jumlah Pajak Rp. 4.d Rp.d Rp.000x20% + Rp. 20. 20.000.d Rp.000 (Rp.000 Tarif Pajak s.000x25% +Rp.000.

progresif Berlapisan .progresif .progresif tarif degresif yang besar penurunan tarifnya semakin besar. Ada dua Tarif degresif .Jenis-jenis tarif pajak NPWP b) Tarif degresif .progresif Absolut dan Tarif degresif . yaitu tarif degresif .

30. 7. 4. 10.000.progresif Berlapisan DPP Rp.000x25% ) Rp. 10.000 (Rp. 20.000 = 10% 15% Rp.000x25%) Rp.000 (Rp.000 s. 10. 10.000. 7. 10. 40. 30.000x35% + Rp.000.000.000x25% + Rp.000 Rp. 4.000 Rp.000.000.000.000 (Rp. 10. 30. 20. 10.500.000.000. 40. 10.000.000.000.000x40%) Rp. 10.000.000 (Rp. 30.000.d Rp.d Rp. 20.000.000x35% ) Rp.000 Rp.000 (Rp.000x40% +Rp.000. 7.000. 10. 20.000x35% + Rp.000.000. 10.000x40% +Rp. 10.000.000 Tarif Pajak s. 4. 30.000x10%) Contoh: Tarif degresif .000.000 s.000.000.000 (Rp.000.Jenis-jenis tarif pajak NPWP Contoh : Tarif degresif . 40. 11.000 = 10% Peningkatan Tarif 5% 10% 15% Jumlah Pajak Rp.000.000x10% ) .d Rp.000 = 35% s.000x35%) Rp.000.000x40% +Rp.000.000 = 40% Di atas Rp. 10.000.000.000.d Rp.d Rp.000 Tarif Pajak s.000.000 = 35% Di atas Rp.000x40% ) Rp.000 = 40% s.000.000. 10.000 = 25% Di atas Rp.d Rp. 10. 20.000 Rp. 10.500.progresif Absolut DPP Rp.000.d Rp. 20.000. 10.000.000 Rp. 30.000.000 s.000 = 25% Peningkatan Tarif 5% 10% Jumlah Pajak Rp. 40.000 (Rp.000.000 (Rp.

degresif . Ada dua Tarif degresif .degresif Berlapisan . yaitu tarif degresif degresif Absolut dan Tarif degresif .Jenis-jenis tarif pajak NPWP b) Tarif degresif .degresif tarif degresif yang besar penurunan tarifnya semakin kecil.

000.000x25%) Rp.000 = 15% Peningkatan Tarif 15% 10% Jumlah Pajak Rp.000.d Rp.Jenis-jenis tarif pajak NPWP Contoh : Tarif degresif .000.000 diatas Rp.degresif Berlapisan DPP Rp.000 Rp. 10.000. 40. 10. 10. 20.000x25% + Rp.000.000 Rp.000 = 40% Di atas Rp. 10.d Rp.000. 10.000. 9. 10.000. 30.000x25% + Rp.000.000.000x40% +Rp.000 (Rp.000.000. 20.000.000 Tarif Pajak s. 20. 4.000 = 10% 5% Rp. 30.000 (Rp.000.000.000.500.000.000x25% ) Rp.000 s.000.d Rp.d Rp.d Rp. 30. 6. 20.000x40% +Rp.000.000 = 10% Peningkatan Tarif 15% 10% 5% Jumlah Pajak Rp.000. 10.000. 10. 40.000 = 25% s.000 (Rp. 10.000x40% ) Rp.000.000x10% ) .000. 10. 30.000 (Rp.000 (Rp. 4.000x15% + Rp.000 Rp.d Rp.000x40% +Rp.000.000 (Rp.000. 4.000.000x15% ) Rp.000 = 15% Di atas Rp.degresif Absolut DPP Rp. 4. 5.000.000.000.000 (Rp. 30.000. 30. 20.500. 10.000 Tarif Pajak s.000.000 (Rp. 10.000 Rp.000 Rp.000 = 25% Di atas Rp.000. 10. 20.000.000x10%) Contoh: Tarif degresif . 40.000 s.000x40%) Rp.000.000x15%) Rp.000.000. 30. 10. 10. 10.000 = 40% s.000.000. 10.

30. 40. 35.000.000 Rp. 5.000 Batas Tidak Kena Pajak Rp.000.000 DPP Tarif Pajak 10% 10% 10% 10% 10% Jumlah Pajak 0 Rp.500.000 Rp.000 Rp.000.000.000 Rp. 5.000 Rp.000 Rp.000.000.000.000 Rp.500.000 Rp. 15.000 Rp. 1. 5.000 0 Rp.000 Rp.000.Jenis-jenis tarif pajak NPWP Tarif bentham yaitu tarif pajak yang memodifikasi tarif proporsional dengan memberikan jumlah tertentu sebagai batas tidak kena pajak yang tidak dikenakan pajak. 20. 10. 25.000 Rp. 2.000. 5. 3. 5.000 .000 Rp. 500. 5.000. 5.000. Objek Pajak Rp.000 Rp.000.000.000.000 Rp.500.

100.000. Rp.d. 200.00 Di atas Rp.00 s.00 s. Rp. 5. 100. 25.000.00 Di atas Rp.000.d.000. 50. 200. 25.000.000.00 Di atas Rp.000.000. 4. Pajak Penghasilan a) PPh UU No 17 tahun 2000  Wajib Pajak Pribadi No. 50.000. 2.000.000.000.000. 3.000.d Rp.d. Tarif Progresif berlapisan Tarif 5% 10% 15 % 25 % 35 % Jumlah Penghasilan s. 1.00 . Rp.00 Di atas Rp.Penerapan Tarif Pajak Di Indonesia 1.000.00 s.000.

1.000.000.00 Di atas Rp.d. Tarif Progresif–Progresif berlapisan Tarif 10 % 15 % 30 % Jumlah Penghasilan s. 100.Penerapan Tarif Pajak Di Indonesia 1.000. Rp.00 s. 3.000. 2.00 Di atas Rp. Rp.000. 50.000. Pajak Penghasilan a) PPh UU No 17 tahun 2000  Wajib Pajak Badan No.00 . 50.000. 100.000.d.

500. 3. Rp.000.00 .000.00 Di atas Rp. Pajak Penghasilan b) PPh UU No 36 tahun 2008  No.000.000. 1.000.d.000.d Rp.000. 50. 250.000.000.00 Tarif Progresif berlapisan Tarif 5% 15% 25 % 30 % Di atas Rp.000. 4. 50.000. Wajib Pajak Pribadi Jumlah Penghasilan s.00 s.00 s.000.Penerapan Tarif Pajak Di Indonesia 1.d. 2. 250.00 Di atas Rp. Rp. 500.

Penerapan Tarif Pajak Di Indonesia 1. Tahun 2009 2010 dst Tarif 28 % 25% Tarif Proporsional . Pajak Penghasilan b) PPh UU No 36 tahun 2008  Wajib Pajak Badan dan BUT (Tunggal) No. 1. 2.

Pajak Penjualan atas Barang Mewah /PPnBM Proporsional • Dengan Peraturan Pemerintah menjadi paling rendah • Dengan Peraturan Pemerintah menjadi paling tinggi Tarif = 10 % = 75 % 6. Pajak Pertambahan Nilai / PPN Tarif Proporsional (10%) • Dengan Peraturan Pemerintah menjadi paling rendah = 5 % • Dengan Peraturan Pemerintah menjadi paling tinggi = 15 % 5.6000) & Cek dan bilyet giro . 4. PBB Tarif Proporsional (0.Penerapan Tarif Pajak Di Indonesia 2.5 %) Tarif Pajak Bumi dan Bangunan untuk Perdesaan dan Perkotaan (0.3%) BPHTB Tarif Proporsional (5 %) 3. Bea Materai Tarif Tetap  Kuitansi dan tanda terima uang ( Rp.

Kebijakan Tarif Pajak  Kebijakan tarif pajak mempunyai hubungan erat dengan fungsi pajak dalam masyarakat. yaitu fungsi budgeter dan fungsi regulered (mengatur)  Tarif pajak juga dapat digunakan untuk tujuan politis .

Nomor Pokok Wajib Pajak dan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak .

Pendahuluan Setiap WP yang telah memenuhi persyaratan subyektif dan obyektif wajib mendaftarkan diri dan kepadanya diberikan NPWP Bagi penguasah kena pajak yaitu yang penyerahannya (penyerahan BKP/JKP) terutang PPN maka diwajibkan untuk melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak (PKP) dan kepadanya diberikan Surat Pengukuhan .

Melaporkan pajak dengan mengisi SPT 6. Menghitung dan memperhitungkan pajaknya 4. Menyetorkan pajak dengan menggunakan SSP 5.Pendahuluan Sistem perpajakan memberikan kepercayaan kepada WP untuk memenuhi kewajiban perpajakan melalui langkah-langkah sebagai berikut: 1. Mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP 3. Dan lain sebagainya sesuai peraturan perpajakan . Menetapkan dirinya sebagai WP 2.

16 Tahun 2000 dan UU No. . 9 Tahun 1994. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana yan telah diubah dengan UU No.Dasar Hukum UU No. UU No. 28 Tahun 2007.

PPKP Adalah pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak yang telah tercatat dalam tata usaha Kantor Pelayanan Pajak dan telah diberikan Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak.Pengertian Umum NPWP NPWP Adalah nomor yang diberikan kepada WP sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas WP. .

Dipergunakan untuk mengetahui identitas Pengusaha Kena Pajak yang sebenarnya. 2. Untuk melaksanakan hak dan kewajiban di bidang Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang . Identitas WP dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya 3. Dengan memiliki NPWP dapat memperoleh pelayanan dari instansi lain dan untuk kepentingan Direktorat Jenderal Pajak/pemerintah Fungsi PPKP: 1. Sebagai alat pengawasan dan tata tertib pembayaran pajak 4. Sarana dalam administrasi perpajakan 2.Fungsi NPWP dan PPKP Fungsi NPWP: 1.

PPKP 1.Manfaat NPWP dan PPKP NPWP 1. Kantor KPKN. 2. Kantor Bea dan cukai. Untuk memperoleh pembayaran dari KPKN dan sebagainya. Untuk dapat menjadi rekanan pemerintah dalam mendaftarkan/memperoleh tender proyek pemerintah. Untuk memudahkan berhubungan dengan instansi yang mewajibkan mencatumkan NPWP. Kantor PLN. seperti Kantor imigrasi. . dan sebagainya. kantor TELKOM. Untuk memperoleh pinjaman modal dari bank 2.

Sedangkan bagi Pengusaha Badan. wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP dan kepadanya diberikan Pengukuhan PKP 2. Pengusaha Orang Pribadi berkewajiban melaporkan usahanya pada Kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal Pengusaha (apabila pada tempat tinggal tersebut ada kegiatan usaha) dan tempat kegiatan usaha dilakukan. karena hidup terpisah berdasarkan keputusan hakim atau dikehendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan penghasilan dan harta. Setiap Pengusaha yang dikenakan PPN berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. kewajiban melaporkan usahanya tersebut adalah pada Kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat kedudukan Pengusaha dan tempat kegiatan usaha .Pendaftaran NPWP dan PPKP NPWP 1. Semua WP berdasarkan system self assessment wajib mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jenderal Pajak untuk dicatat sebagai WP sekaligus untuk mendapatkan NPWP 2. PKP 1. Kewajiban mendaftarkan diri tersebut berlaku pula terhadap wanita kawin yang dikenai pajak secara terpisah.

Wajib Pajak yang juga dikenakan pajak berdasarkan UU PPN dan PPnBM melaporkan usahanya ke kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat kegiatan usaha Wajib Pajak 4. Wajib Pajak mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP ke Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal WP pribadi atau tempat kedudukan WP Badan. juga wajib mendaftarkan diri ke kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat-tempat kegiatan usaha Wajib Pajak 3.Tempat Pendaftaran NPWP dan PPKP 1. . Dalam hal tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak berada dalam dua atau lebih wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak. 2. Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha di beberapa tempat. Direktorat Jenderal Pajak dapat menetapkan Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar.

Bentuk NPWP NPWP terdiri dari 15 digit (15 Kolom). yaitu: 2 (dua ) digit pertama 6 (enam) digit berikut 1 (satu) digit berikut 3 (tiga) digit berikut 3 (tiga) digit berikut Kode WP OP atau WP Badan Nomor urut Chek digit Kode KPP WP pusat atau cabang .

2. 3. Dianggap perlu oleh Ditjen Pajak . Diajukan permohonan oleh WP atau ahli warisnya bahwa syarat subyektif dan obyektifnya sudah tidak ada Badan usaha dilikuidasi WP BUT menghentikan usahanya di Indonesia 4. sebaliknya kalau kedua syarat tersebut hilang maka NPWP/SPPKP dapat dihapuskan. yaitu apabila: 1.Penghapusan NPWP dan SPPKP Kewajiban berNPWP/SPPKP karena dipenuhinya syarat obyektif dan subyektif.

Administrasi Perpajakan .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful