Anda di halaman 1dari 22

Latar Belakang

Jumlah penduduk yang semakin meningkat dewasa ini diikuti aktivitas perkotaan yang makin berkembang menimbulkan dampak adanya kecenderungan buangan/limbah padat yang meningkat dan bervariasi. Pengelolaan limbah padat perkotaan merupakan salah satu tantangan penyedia layanan yang paling penting yang dihadapi kota-kota di Afrika antara lain di Zimbabwe dan Afrika Selatan serta di Asia (Indonesia dan Cina). Terjadinya penumpukan sampah disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya semakin tinggi kendaraan pengangkutan yang jumlah maupun kondisinya kurang memadai; system pengelolaan TPA yang kurang tepat dan tidak ramah lingkungan; serta belum diterapkannya pendekatan reduce, reuse, dan recycle

Fakta Masalah
Emisi Gas Rumah Kaca dipengaruhi oleh proses manajemen limbah padat yang mana emisinya terhitung 3,6 % total emisi gas rumah kaca dunia per tahun. (Suratman) Ketidakteraturan pengumpulan sampah mengakibatkan munculnya wabah kolera yang terjadi pada tahun 20082009 yang menginfeksi lebih dari 3.500 nyawa manusia di Zimbabwe. Nur Afni Hanya 44% dari 1.280 tempat pembuangan sampah di Afrika Selatan diberi kuasa melalui izin pembuangan limbah padat, namun jarang diaudit dan sering tidak diketahui pengelolaannya atau operasionalnya. (Nur Asda) Hanya 40% sampah perkotaan yang diangkut oleh TPA di Indonesia (Andi Sani)

Pertanyaan Masalah
1. Limbah padat apa saja yang terdapat di Indonesia, Zimbabwe, dan Afrika Selatan? 2. Bagaimana dampak pengelolaan limbah padat terhadap Emisi rumah kaca?

3. Bagaimana pengelolaan limbah padat ditinjau dari aspek penyimpanan/ pewadahan dan pengumpulan?
4. Apa saja faktor penyebab dan dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh pengelolaan limbah padat? 5. Bagamana konsep dan solusi dalam pengelolaan limbah padat di Indonesia, Zimbabwe, Afrika Selatan dan secara global?

Tujuan
1. Untuk mengetahui limbah padat apa saja yang terdapat di Indonesia, Zimbabwe, dan Afrika Selatan 2. Untuk mengetahui dampak pengelolaan limbah padat terhadap Emisi rumah kaca 3. Untuk mengetahui pengelolaan limbah padat ditinjau dari aspek penyimpanan/ pewadahan dan pengumpulan 4. Untuk mengetahui faktor penyebab dan dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh pengelolaan limbah padat 5. Untuk mengetahui konsep dan solusi dalam pengelolaan limbah padat di Indonesia, Zimbabwe, Afrika Selatan dan secara global

HASIL PENELITIAN
Jenis Limbah padat Organik dan Non organik di beberapa kota di dunia berdasarkan jurnal penelitian
Tipe Sampah No Negara Organik Contoh Indonesia (Jakarta, 1. Makassar, Surabaya, Bandung) (Andi Sani) Limbah biomassa 2. Zimbabwe (Kota Chinhoyi) (Nur Afni) (potongan kayu, gulma) dan sisa makanan 3 Limbah makanan, 3. Afrika Selatan (Kota Alice) (Nur Asda) kompos dan Bangkai binatang 10 Limbah umum, limbah B3 Limbah elektronik, limbah bahan bangunan, Limbah spare part mobil, material pakaian dan kertas 90 47 Plastik, Logam, bahan kimia, kertas dan lainnya. 53 Daun-daun dan makanan 79,45 (%) Non Organik Contoh Kertas, Karton, plastik, logam, debu, karet, kaca dan tekstil 20,55 (%)

Hasil Penelitian
Emisi gas dan manajemen limbah (Suratman)

Berkaitan dengan operasional Limbah Padat


1. Sistem Penyimpanan Sementara / Pewadahan
2. Tahap Pengangkutan dan

Pengumpulan Limbah

Di Kota Chinhoyi, Zimbabwe

Faktor penyebab dan dampak kesehatan


Ada beberapa faktor penyebab jika ditinjau dari manajemen / operasional limbah padat diantaranya: 1. Sistem Pewadahan dan Pengumpulan Limbah Padat
Di Indonesia, pengumpulan limbah padat tidak dilakukan pemisahan baik sebelum atau selama pembuangan di rumah tangga maupun TPA di beberapa wilayah. (Andi Sani) 2. Sistem pengangkutan sampah di Indonesia menggunakan alat pengangkut / truk banyak yang masih tidak tertutup sehingga menimbulkan bau dan sampah yang diangkut biasanya diterbangkan oleh angin. (Andi Sani) Kota Chinhoyi (Zimbabwe) pemerintah kota tidak mengumpulkan limbah dari rumah-rumah penduduk, pengyang seharusnya dilakukan sekali seminggu ternyata dilakukan dua kali seminggu. tidak menentu dan tidak konsisten.

Faktor penyebab Masalah


3. Pembuangan Akhir dan Pengolahan limbah padat
TPA di Indonesia lebih dari 90 % menggunakan metoda Open Dumping, kurang dari 10% Berupa TPA Controlled Landfll dan Sanitary Landfll (Andi Sani) Konstruksi tempat pembuangan limbah di kota Chinhoyi tidak dilakukan sesuai dengan peraturan yang ditetapkan. Tempat pembuangan tidak dipadatkan dan tanpa lapisan dasar sehingga bisa berdampak pada pencemaran air bawah tanah. (Nur Afni) Pembuangan limbah seperti limbah rumah sakit yang tidak seharusnya dibuang di lokasi TPA Kota Alice, Afsel tak terkendali. (Nur Asda)

Dampak Kesehatan
Terhadap kesehatan dan keselamatan (Andi Sani) Menjadi tempat pengembangbiakan bibit penyakit. Sampah yang menutup saluran air menyebabkan banjir. Sampah yang dibakar terus menerus dapat menyebabkan infeksi saluran pernafasan atas (ISPA). Terhadap air dan tanah Sampah yang mencemari sungai mematikan kehidupan akuatik dan menyebabkan pendangkalan. Pencemaran air permukaan dan air tanah. Bakteri pathogen dan E.coli dapat berkembang biak Terhadap kualitas udara Pembakaran sampah menyebabkan penyakit ISPA, kanker (gasdioxin). Timbulnya gas-gas beracun (H2S, NH3, dan lain-lain) Pemanasan global: CO2, CH4 (Gas Rumah Kaca) Masalah lingkungan : Umumnya TPA dengan metode Open Dumping mengakibatkan pencemaran air permukaan dan air tanah (dari air lindi), udara (bau dan asap), seta tanah (sampah dan air lindi). TPA Open Dumping juga dapat menjadi sarang penyakit.

Dampak Kesehatan di Beberapa Negara


Di Alice (Afrika selatan ), Pemulung yang mengumpulkan sampah dan petugas TPA memiliki risiko tinggi terhadap infeksi penyakit seperti infeksi kulit dan infeksi darah akibat kontak langsung dengan limbah, dan dari luka yang terinfeksi. Infeksi Mata ,kanker dan ISPA akibat paparan debu, paparan senyawa berbahaya dan bau busuk khususnya selama operasi TPA. Infeksi usus yang ditularkan oleh lalat di tempat sampah.. Keracunan dan luka bakar akibat kontak dengan sejumlah kecil limbah bahan kimia berbahaya campur dengan limbah umum. Cedera lainnya akibat kecelakaan kerja di tempat pembuangan sampah atau dari ledakan gas metana di lokasi TPA. Di Chinhoyi (Zimbabwe) sampah open dump yang berisiko terhadap kesehatan bagi warga yang bermukim di daerah tersebut. Lalat adalah vector pembawa yang efektif bagi sanitasi patogen untuk penyakit seperti kolera dan diare, sebab lalat mampu terbang hingga 5 kilometer.

Dampak Kesehatan
Konstruksi tempat pembuangan dan tanpa lapisan dasar tidak dipadatkan berdampak pada pencemaran air bawah tanah yang merupakan alternatif sumber air yang penting bagi warga dekat TPA Chinhoyi Asap pembakaran sampah dapat menyebabkan ISPA bagi penduduk dan merusak keanekaragaman hayati, menimbulkan polusi udara, dan emisi gas perusak ozon, seperti SO, NO2, dan SO2. Gas-gas ini juga dapat menimbulkan ancaman bagi kesehatan manusia di Kota Alice. Nyamuk Aedes yang bersarang pada limbah mengirimkan filariasis, demam kuning, DBD dll kepada warga sekitar . Indonesia, limbah pabrik kelapa sawit seperti tandang kosong, mempunyai dampak terhadap kesehatan jika tidak diolah dengan baik pencemaran lingkungan seperti membusuknya tandang kosong yang akan mengundang vektor seperti lalat dan tikus. Pembakarannya juga menimbulkan polusi dan membahayakan kesehatan (Asbudi)

Solusi dan Konsep


Solusi pengelolaan limbah padat yang diterapkan oleh beberapa negara
1. Sistem Pengumpulan Sampah Di Afrika Selatan khususnya di Kota Alice Pemerintah telah membuat kebijakan mengenai pengelolaan limbah padat. Adanya peraturan mengenai kategorisasi limbah menurut jenisnya, sampah yang cepat membusuk dipisahkan dengan sampah yang tidak cepat membusuk
2. Sistem Pengangkutan Pengangkutan kegiatan operasi yang dimulai dari titik pengumpulan terakhir dari suatu siklus pengumpulan sampai ke TPA dengan pola individual langsung, atau dari tempat pemindahan (Trasfer Depo, Trasfer Station), penampungan sementara (TPS) atau tempat penampungan komunal sampai ke tempat pengolahan/pembuangan akhir

Solusi dan Konsep


3. Sistem Pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir TPA Alice diberi pagar agar meminimalisasi efek bau yang dibawa oleh angin dan menghindari adanya pemulung illegal yang mengambil sampah yang dapat tertular oleh penyakit serta menghindari pembakaran limbah. Pagar juga difungsikan juga sebagai pengahalang binatang seperti Anjing dan sapi yang memakan plastik yang beracun dan akhirnya mati. Penimbangan berat sampah yang masuk ke lokasi TPA dengan jembatan timbang, yang didaftar menurut kategori, berat (dengan ton atau kilogram), dan sumber, nama perusahaan pengangkutan dan waktu dan tanggal pengiriman. Data ini penting karena: - Sebagai dasar untuk menentukan bagaimana TPA harus dikelola dalam hal peralatan yang diperlukan dan - menentukan usia dan mengetahui kapasitas tampunganTPA - mendeteksi adanya limbah berbahaya sehingga dapat dipindahkan - Jembatan timbang berguna sebagai kendaraan pengumpul sampah pada saat sampah tiba di lokasi TPA, beban limbah juga diperiksa untuk limbah yang tidak selaras dengan kriteria penerimaan landfill. Dari aspek keamanan, TPA harus memiliki petugas penjaga atau manajer untuk mengawasi jalannya pembuangan dan pengolahan sampah di TPA (Nur Asda)

Sistem Pemilahan dan Pengolahan Limbah Padat (daur ulang dan pengomposan)
Sebagai solusi 47,1% limbah domestik di Chinhoyi maka pemisahan sumber dan skala besar pengomposan komponen yang mudah terurai Daur ulang limbah domestik yang dapat terurai menjadi kompos. Penggunaan kompos dapat membantu dalam mengurangi pencemaran. Sedangkan pengomposan komponen limbah domestik yang dapat terurai, dapat membantu mengurangi limbah padat yang paling efektif dalam segi biaya. Manfaat lainnya sebagai bio-pupuk di seluruh dunia Penggunaan teknologi pupuk vermikultur (pertanian cacing tanah) Teknologi dapat memulihkan energi panas yang terkandung dalam limbah, sehingga dapat menggantikan bahan bakar fosil yang terbatas untuk pembangkit listrik tenaga konvensional, dengan berkontribusi terhadap pengurangan emisi CO2. Pemanfaatan gas benilai kalori tinggi, seperti metana melalui proses bio methanation. (Nur Afni)

Solusi mengenai pengelolaan limbah padat berbagai Negara


Di Indonesia (Andi Sani)

Bagan ini juga diterapkan di Zimbabwe dan Afrika Selatan

Solusi mengenai pengelolaan limbah padat Secara Global (Suratman


)

ECODESIGN REDUCE

REUSE
RECYCLING RECOVERY DISPOSAL

Solusi mengenai pengelolaan limbah padat Secara Global


Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, dan Saudi Arabia mengadopsi sebuah system manajemen pengelolaan Limbah secara seragam dan Pengelolaan ini juga dianut secara global oleh Negara-negara di dunia.

Kesimpulan
1. Masing-masing negara seperti Indonesia, Afrika Selatan, China dan Zimbabwe memiliki limbah padat baik organik maupun anorganik.

2. Beberapa factor penyebab masalah limbah diantaranya pengelolaan limbah yang tidak sesuai dengan standar minimum pengelolaan limbah, mulai dari sistem pewadahan dan pengumpulan limbah padat, sistem pengangkutan, pembuangan akhir dan pengolahan limbah padat 3. Dampak kesehatan dari pengelolaan limbah padat yang buruk berupa pencemaran udara dari pembakaran limbah dan bau busuk yang menyengat, pencemaran air dari mikroorganisme, serta pencemaran tanah. Pencemaran udara yang terakumulasi menjadi sebab timbulnya efek rumah kaca dan global warming. Kesemuanya memiliki kontribusi dalam timbulnya penyakit seperti kolera, malaria, infeksi mata, diare, ISPA, filariasis, demam kuning perkotaan, demam berdarah, dan beberapa infeksi lainnya.
1. Indonesia, Afrika, dan Zimbabwe telah memiliki manajemen pengelolaan limbah padat mulai dari tingkat rumah tangga sampai di TPA. Di Afrika Selatan dan Zimbabwe pengelolaan sampah hampir sama dengan Indonesia. Sedangkan secara global berupa Integrated Waste Management

Hierarchy.

Saran
Perlu adanya regulasi mengenai pengelolaan limbah padat oleh pemerintah dan swasta seperti perusahaan agar tidak membahayakan kesehatan manusia berupa konsep baru dalam pengelolaan manajemen Limbah Padat Pemerintah dari setiap Negara seharusnya mengadopsi dan mematuhi Pengelolaan Limbah Padat Terpadu bertaraf internasional (ISWM), yang merupakan pencegahan, daur ulang, pengomposan, dan program pembuangan limbah yang komprehensif dan berusaha untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan. Pemberdayaan masyarakat berupa pendidikan dan keterampilan dalam mengolah limbah padat agar dapat bernilai secara ekonomi dan mengurangi limbah padat yang sampai di tempat pembuangan akhir sampah.