Anda di halaman 1dari 7

Bintang Kertas

Oleh : Erizka Dwi Permadi


Pagi itu Chika masih saja dandan di depan meja riasnya. Sampai hujan es campur cendol juga masih aja belum beres dandannya. Padahal udah ada 10 message, 15 misscalled, 30 ping, 17 bbm, 12 twitter dari temen temennya supaya chika buruan berangkat. Akhirnya chika selesai dandan rambut panjangnya diurai dengan pita putih, kaos putih plus white flat shoes. Ga salah temen temennya memvonis dia sebagai Miss.White. Chika adalah murid kelas 3 SMA Harapan Kosong Jakarta Selatan. Dia suka banget sama yang namanya warna putih. Hari ini dia akan pergi berlibur bersama teman teman sekelasnya ke villanya Steven di Puncak. Steven adalah cowo cakep,baik,gokil,rame yang jadi sahabatnya Chika sejak kelas satu SMA. Ayo Chik! Lama banget sih lo. Gua udah jamuran ini nungguin lo dari satu jam yang lalu. Steven menyalakan mobilnya. Terus gua harus bilang wow gitu? jawab Chika tanpa rasa bersalah O aja buat Chika. Celetuk Steven. Steven lalu ngegas mobilnya bagaikan tenanga seribu becak. Chika pun mengibarkan bendera putih alias nyerah kalo Steven udah ngegas mobilnya itu abis bawanya tuh kenceng banget. Di tengah perjalanan Chika melihat mobil Belvi. Belvi adalah temen sekelas Chika dan Steven juga. Belvi itu cowok yang gantengnya nampol abis, putih, tingggi, keren, pinternya selangit, modis, ga playboy, ga menel, dan tajir pula. Cewek mana yang bias nolak dia. Tapi dia itu labil kadang baik kadang super cuek,dingin, dan juga jutek sama cewek. Tapi itulah yang bikin Belvi terlihat lebih keren, kata kata itulah yang berulang kali sering Chika ucapkan. Sudah banyak cewek yang angkat tangan sama kecuekannya itu tapi Chika ga nyerah gitu aja. Dari kelas 1 sampai sekarang kelas 3 di hatinya tetep ada Belvi seorang. Stev mobilnya Belvi kenapa berhenti di pinggir jalan tuh? Tanya Chika panik sambil mau membuka pintu mobil. Udah biarin aja paling juga mau kencing di pohon itu tuh. Jawab Steven nyantai sambil nunjuk ke arah pepohonan. Akhirnya Chika dan Steven melanjutkan perjalanan dan mengabaikan Belvi. Sesampainya di vila Chika uring uringan sendiri nungguin Belvi yang belum juga datang. Kekhawatiran pun semakin memuncak saat hpnya ga bias dihubungi alias non aktif.

Lo kenapa sih Chik? Kaya abis kecopetan dompet deh. Tanya Angel sambil membawakan orange juice untuknya. Belvi kenapa yah jel? Belum dateng juga tadi sih gua liat mobilnya berhenti di pinggir jalan. Jawab chika dengan seribu kekhawatiran. Udah slow aja kali chik. Tuh orang ga bakal kenapa kenapa. Ga usah lebay deh lo! Ujar Steven dengan penuh percaya diri dan sambil menemplen pelan kepala chika. Hey sorry gua telat yah? Belvi menyapa sambil menebar senyum mautnya. Chika pun meleleh bagaikan lilin yang dibakar 10 kompor. Chika sangat bahagia mendengar suaranya dan bisa berlibur di villa bersama Belvi. Dia pun ga berhenti - berhentinya menebar senyuman terus ke semua anak kelas kareana terlalu bahagia. Tapi mereka udah ga heran dengan tungkah laku Chika yang seperti tui karena udah yang kesekian kalinya dia kayak gitu. Pada sore harinya Chika terdiam dan duduk di kursi putih di depan vila. Dia melihat taman bunga di seberang vila. Dia pengen banget naik sepeda ngelilingin taman bunga itu. Heh bengong aja lo! ujar Belvi sambil menepuk pundak Chika dari belakang. Kita bersepeda ke taman itu yuk chik! ajak Belvi sambil nujuk ke arah taman bunga yang di seberang villa. Serius lo? Chika menanggapi dengan antusias. Seriuslah. Ayo cabut! Belvi menarik tangan Chika menuju ke bagasi untuk ngambil sepeda. Chika pun tersenyum bahagia sambil berlari mengikuti Belvi. Hari ini Belvi berbeda dari yang biasanya, hari ini dia lebih banyak tersenyum dan ga cuek seperti biasanya. Chik bunganya bagus nih pas sama warna baju lo, putih. Ujar Belvi sambil ngasih sepucuk bunga mawar putih ke Chika. Iya bagus. Eh tunggu kok ada kalung di dalemnya sih? Tanya chika heran sambil mengeluarkan kalung berbentuk bintang dari bunga tersebut. Gatau deh Chik. Hadiah dari malaikat kali haha. Belvi tertawa sambil terus mengayuh sepedanya meninggalkan Chika. Eh bel tungguin gua kali! Chika mengejar Belvi sambil menggengam kalungnya. Chika dan Belvi berkeliling taman bunga itu dengan penuh canda tawa. Sesekali mereka berhenti di tengah tengah kumpulan bunga, lalu mereka mebuat rangkaian bunga, terus kejar kejaran ala film bolywood. Mereka pun kelelahan, lalu mereka duduk di bawah pohon

rindang. Di sana ada suara indah burung burung kecil yang bernyanyi menambah kebahagiaan Chika saat itu. Kemudian mereka bersama sama menatap langit sore yang indah. Chik lo kenapa suka banget sama warna putih sih? Tanya Belvi sambil menatap langit. Bukannya anak anak sekelas udah tau yah alesannya? Chika berbalik nanya Yee tapi gua pengennya denger dari lo lansung aja ah. Belvi terus menatap langit. Gua suka warna putih soalnya warna putih itu mewakili banyak hal yang gua suka. Tersenyum sambil memejamkan mata. Contohnya? Tanya Belvi yang terus saja masih menatap langit. Gua putihnya salju, walau salju itu dingin tapi di balik kedinginannya itu terdapat keindahan kan? Terus gua juga suka putihnya bintang di kegelapan malam. Walau langit malam itu gelap tapi kalo ada cahaya putih bintang bintang itu langitnya jadi rame deh ga kesepian lagi dan ga nyeremin lagi. O. celetuk Belvi. Belvi lalu tertawa terpingkal. aah jahat dikasih O doang. Chika mendorong badan Belvi. Itu sebabnya lo suka bikin bintang kertas? tanya belvi penasaran. Iya salah satunya karena gua suka bintang. Gua ga akan pernah bisa menggapai bintang. Jadi, gua coba buat bikin bintang kertas sebagai pengganti bintang yang asli. Dan gua selalu menaruh harapan di setiap bintang bintang kertas yang gua bikin itu. Mungkin aja suatu saat nanti harapan harapan gua bisa terkabul melalui bintang kertas itu. Jawab Chika sambil terus memejamkan mata menikmati sejuknya udara sore hari. Benar miss white, menggapai bintang itu sulit sama halnya dengan mendapatkan kehidupan. Mungkin kita Cuma bisa berharap dan terus berharap. Menunggu kapan tiba waktunya harapan itu terwujud. Ujar Belvi sambil melihat Chika yang ternyata tertidur bersandar di bahunya. Lo adalah bintang gua miss white. Gua ga bakal pernah bisa menggapai lo, gua ga bakal bisa bersama lo. Biarkan gua jadi bintang kertas lo dimana lo bisa nyimpen semua harapan lo di setiap bintang kertas itu. Ujar Belvi dalam hatinya. Saat Chika terbangun dari tidurnya ternyata Belvi udah ga ada di sampingnya yang ada hanya kalung bintang, mawar putih, dan sebuah bintang kertas di sampingnya. Dia pun lansung

bergegas mencari Belvi. Dia mengelilingi taman tapi tetap aja ga nemuin Belvi. Akhirnya dia pun kembali ke vila. Sesampainya di vila Chika menanyakan Belvi ke teman temannya. Angel, Stev lo liat Belvi ga? tanya Chika Engga liat. Lo darimana aja sih? Dari tadi gua cariin ga ada. ujar Steven sambil sambil memasang wajah sok bete. Ehehe mau tau banget? Rahasia ah haha. Canda chika sambil tersenyum Udah deh mending sekarang lo mandi dulu sana! Acara kelasnya udah mau mulai tau. Chika pun menuju ke kamarnya. Sambil jalan menuju ke kamarnya, matanya berpatroli mencari Belvi. Tapi ga ada satu pun tanda yang menujukkan kehadiran Belvi. Setelah beres bersiap siap. Lagi lagi Chika mengenakan pakaian serba putih bukan Chika namanya kalo ga ada warna putih dalam penampilannya. Lalu berjalan menuju tempat Barbeque di depan vila. Chik putih putih udah kaya kuntilanak aja lo. Canda Steven O aja buat lo Stev! balas Chika Tapi tetep cantik ko Chika si Miss.White gitu loh. Steven tersenyum centil ke Chika. Idiiiih gombal. Balas Chika ketus. Lalu mereka tertawa bersama. Eh Chik mau makan apa? Jagung bakar apa barbeque? Gua ambilin nih mumpung gua lagi baik dan tidak sombong haha. Tanya steven sambil menebar senyuman seribu makna. Iiiih cuco deh lo. Jagung bakar aja deh stev. Thanks yah. Jawab Chika Chika menghela nafasnya, dan menikmati sepoian angin malam puncak yang sejuk tapi dingin. Heh pake jaket nih! Nanti sakit loh. Belvi melepas jaketnya dan memakaikannya ke Chika. Belvi? Chika sedikit terkejut Kemana aja lo? Kenapa tadi lo ninggalin gua?parah banget tanya Chika dengan muka super bete. Oh iya gua lupa haha. Ujar Belvi sambil menepuk dahinya. Bercandalah Chik, tadi tuh gua udah bangunin lo tapi lo ga bangun bangun. Tidurnya kayak kebo sih lo. Belvi memberi senyuman garing.

Eh liat tuh Chik! Banyak bintang kesukaan lo. Belvi menunjuk ke atas langit. Chika pun ikut melihat ke atas. Ih indah banget yah? Chika berdecak kagum, kemarahannya pada Belvi pun hilang setelah melihat bintang bintang itu. Kalo gua bikin bintang kertas di hadapan bintang bintang ini, mungkin ga yah harapan gua bakal terwujud? tanya Belvi Mungkin aja Bel. Kan ga ada yang mungkin di dunia ini. Apa salahnya kalo kita mencobanya siapa tahu berhasil. Jawab Chika yang sambil terus menatap bintang bintang. Lalu Chika melihat Belvi,dan ternyata wajahnya terlihat pucat. Bel lo kenapa? Kok lo pucet sih? Lo sakit Bel? tanya Chika khawatir. Belum sempat Belvi menjawab Steven menarik Chika untuk foto bersama. Setelah foto foto Chika kembali ke tempat tadi untuk melihat Belvi, tapi ternyata Belvi udah ga ada di sana. Chika bersama Steven bergegas mencari Belvi tapi Belvi tidak ada dimana pun. Mereka menanyakan ke teman teman yang lain juga ga ada satu pun yang tau. Mobilnya Belvi juga udah ga ada di vila. Apa Belvi udah pulang yah Chik? tanya steven Tapi masa iya dia ga pamitan dulu sama kita. Ujar Chika sambil terus mencoba menghubungi hpnya Belvi. Aduh nomernya juga ga aktif stev. Chika mulai panik Tenang Chik tenang. Kita coba cari keluar aja yuk! ajak Steven sambil mengambil kunci mobil. Steven dan Chika mencari cari Belvi keluar vila tapi tetap ga ketemu juga. Akhirnya mereka kembali ke villa lagi. Chik, Belvi ga bakal kenapa kenapa kok. Lo tenang aja. Besok kita coba cari lagi yah. Ujar Steven Iya Stev. Lagian sekarang udah malem banget, lo juga butuh istirahat kan. Sesampainya di vila, Steven mengantar Chika ke kamarnya. Chika terlihat sangat sedih dan juga khawatir karena sudah dua kali Belvi tiba tiba menghilang. Keesokan harinya Chika terbangun dan lansung bergegas ke kamar Belvi. Tapi ternyata Belvi masih belum datang. Hpnya pun masih aja ga aktif. Akhirnya sepulang dari vila Chika, Angel, dan Steven pergi ke

rumah Belvi. Di sana ternyata sangat ramai dan berkibar sebuah bendera kuning. Chika pun lemas ketika melihatnya, air matanya jatuh dengan sendirinya. Stev Belvi ada kan? Panggilin dia Stev, please panggilin dia. Suruh dia keluar Stev! Ujar Chika sambil menahan air matanya. Chik yang sabar yah. Lo pasti bisa ngelewatin ini semua. Ujar Angel sambil memeluk Chika Lepasin gua! Itu bukan Belvi kok bukan kita pasti salah rumah deh. Ayo pergi! ujar Chika sambil mencoba untuk bangun. Steven dan Angel mencoba untuk mengajak Chika masuk ke dalam. Dan di sana chika melihat om Frans dan tante Netta (kedua orang tua Belvi) menangis di depan seseorang yang telah ditutupi kain putih dah di sampingnya terpajang foto seseorang yang udah ga asing lagi bagi Chika yaitu Belvi. Chika pun terjatuh, air matanya mengalir deras, dan dia hanya bisa bersandar di samping dinding. Kemudian kedua orang tua Belvi menghampiri Chika. Belvi telah bebas dari rasa sakitnya. Sekarang dia sudah bahagia di alam sana. Terima kasih kamu telah menghantarkan Belvi ke tempat peristirahatn terakhirnya dengan kebahagiaan. Dia sangat menyayangi kamu Chika. Ujar tante Netta. Chik Belvi sebenernya udah lama ngidap penyakit kanker hati. Awal SMA kelas satu aja kankernya udah stadium akhir. Tapi karena dia kuat dia masih bisa bertahan. Itu sebabnya dia selalu cuek dan dingin sama cewek karena umurnya ga lama lagi. Dan belakangan ini kankernya semakin parah chik, mangkanya dia suka tiba tiba menghilang. Itu berarti penyakitnya lagi kambuh Chik dan dia gam au ada orang yang tau jadi dia menghilang gitu aja. Cerita steven ke Chika menahan air mata yang terus mengalir dari matanya. Jadi lo udah tau semua ini? Kenapa lo ga cerita dari awal Stev? Kenapa? air mata terus keluar dari mata Chika. Belvi sebenernya juga suka sama lo chik. Dia berulang kali pesen ke gua supaya gua jagain lo supaya gua bisa selalu ada di samping lo. Ujar steven sambil terus menahan tangis. Lalu tante Netta mengajak Chika ke kamar Belvi. Dan ternyata di sana terdapat banyak foto Chika yang tersusun rapi di dinding membentuk kalimat I Love U . Di sebelahnya terdapat lemari putih yang berisi semua bintang bintang kertas yang sering Chika berikan pada Steven. Belvi menitipkan kotak ini untuk kamu. Ujar tante Netta sambil memberikan kotaknya ke Chika. Di dalamnya ada sebuah lampion berbentuk bintang dan sebuah surat.

Dear Miss.White Chika,

Miss White lo adalah bintang bersinar gua. Lo sulit untuk gua gapai. Gua bagaikan malam yang gelap. Terus lo dateng menjadi bintang bintang yang ngebuat langit gelap itu ga menakutkan lagi dang a kesepian lagi. Itu sebabnya gua kasih kalung bintang yang gua simpen di mawar putih waktu itu. Kelak jika ada malam yang tak berbintang kalung itu pengganti bintang bintang itu. Ga salah Chik lo suka warna putih Chik. Putihnya mawar melambangkan kesucian, dibalik putihnya salju terdapat keindahan, awan yang putih melengkapi keindahan birunya langit, warna putih juga menutupi kepergian gua ke temapt peristirahatan gua yang terakhir. Maaf gua ngerahasiain penyakit gua ini. Maaf juga gua udah bersikap dingin dan cuek. Tapi bukan maksud gua nyakitin lo. Gua Cuma gam au ada orang yang suka sama gua, itu karena umur gua ga lama lagi. Makasih buat semuanya Chik. Makasih atas semua kenangan indah yang lu kasih ke gua. Gua sayang banget sama lo. Biarkan gua jadi bintang kertas lo, tempat dimana lo bisa nyimpen semua harapan lo. Di dalam kotak ada sebotol bintang kertas yang gua buat sendiri loh Chik gua persembahin buat lo. Dan di dalam kotak ada sebuah lampion putih berbentuk bintang. Terbangin lampion itu bersama harapan harapan lo yang lo simpen dalam bintang kertas.. Everlasting love forever and ever when love comes only you in my life. You is my first and last love chika