Anda di halaman 1dari 11

STATUS ASMATIKUS

Disusun Oleh: Abdul Majid Halim (108103000049) Hani Handayani (108103000012 ) Leliana Saleh (108103000008) Lili Hidayati Pangulu (108103000021) Pembimbing: dr. Alvin Kosasih, Sp.P
KEPANITERAAN KLINIK SMF PULMONOLOGI RSPG CISARUA BOGOR PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2012

STATUS ASMATIKUS Asma merupakan salah satu penyakit kronis yang paling sering pada usia anak-anak, dideritai kirakira 5-10% anak-anak dan menjadi penyebab kepada sejumlahkurang lebih 400,000 rawat inap di rumah sakit tiap tahun. Pada tahun 1997, National Heart, Lung, and Blood Institute of America mendefinisikan asma sebagaipenyakit inflamasi kronis pada salur pernafasan yang melibatkan banyak jenis seltermasuk sel mast, eosinofil, dan limfosit T. Inflamasi ini menyebabkan episodeberulang serangan wheezing , dyspnea, dan batuk. Serangan asma berhubungandengan obstruksi yang lebih banyak terjadi di salur pernafasan kecil sampai sedang,bersifat reversibel (sebagian atau seluruhnya) dengan pengobatan atau spontan. Asma juga berhubungan dengan peningkatan terjadinya hiperrespons dari salur pernafasan terhadap macam-macam stimulus atau rangsangan. Status asmatikus merupakan suatu eksasebasi akut dari asma yang tidak beresponsterhadap pengobatan awal dengan bronkodilator. Status asmatikus bervariasi dariyang ringan sampai ke yang berat, yaitu bronkospasme, inflamasi salur pernafasan,dan sumbatan oleh mukus yang menyebabkan gangguan pernafasan; retensikarbon dioksida; hipoksemia; dan gagal nafas. Tanda klinis yang biasa adalah wheezing persisten dengan retraksi. Tapi, tidak semua anak-anak dengan asmaberat ada wheezing , sebagian dari mereka mungkin hanya menderita batuk, dyspnea, atau muntah. Atau dalam arti lain, tidak semua pasien dengan wheezing menderita asma; mereka mungkin menderita salah satu dari macam-macam penyebab yang bisa menyebabkan obstruksi salur pernafasan

PATOFISIOLOGI Terpaparnya seseorang yang beresiko terhadap alergen atau rangsanganmenyebabkan suatu reaksi inflamasi dari salur pernafasan, yaitu terjadinyadegranulasi sel mast, pelepasan mediator inflamasi, infiltrasi dari eosinofil danlimfosit T yang teraktivasi. Pelbagai mediator inflamasi bisa terlibat termasuklahinterleukin (IL)-3, IL-4, IL-5, IL-6, IL-8, IL-10, dan IL-13; leukotriene; dan granulocytemacrofage colony-stimulating factors (GM-CSFs). Ini semua akhirnya akanmerangsang lagi sel mast, netrofil dan eosinofil.

Gambar: Presentasi antigen oleh sel dendritik, dengan respons limfosit dan sitokinyang akhirnya menyebabkan inflamasi salur pernafasan dan simptoms asma.

Secara fisiologis, asma akut terdiri dari 2 komponen, yaitu respons bronkospastikawal ( early bronchospastic response); dan respons inflamasi akhir (later inflammatory response).

Early bronchospastic response Dalam beberapa menit setelah terpapar alergen, terjadi degranulasi sel mast sambilterjadinya pelepasan mediator inflamasi, termasuk histamin, prostaglandin D2,leukotriene C4. Semua bahan ini akan menyebabkan kontraksi dari otot salur pernafasan, peningkatan permeabilitas kapiler, sekresi mukus, dan aktivasi refleksneuronal. Fase ini ditandai dengan terjadinya bronkokonstriksi yang biasanya bisa diobati dengan bronkodilator, seperti agen beta-2-agonis. .

Dalam fase awal asma akut, hiperventilasi bisa mengakibatkan alkalosis repiratorik. Ini karena unit paru yang terobstruksi secara relative jumlahnya lebih sedikit berbanding unit paru yang tidak terobstruksi. Hiperventilasi mengakibatkan terjadinya pembuangan karbon dioksida melalui unit paru tidak terobstruksi. Tapi, semakin lama jumlah unit paru yang terobstruksi menjadi lebih banyak, dan ini akan mengakibatkan penurunan kemampuan pembuangan karbon dioksida di paru, yang akhirnya akan menyebabkan terjadinya hiperkarbia.

Later inflammatory response Terjadinya pelepasan mediator inflamasi akibat menempelnya adhesion molecules di epitelium salur pernafasan dan endotel kapiler. Sel-sel inflamasi seperti eosinofil,netrofil, dan basofil akan berhubungan dengan epitelium dan endothelium dan akhirnya akan bermigrasi ke jaringan salur pernafasan. Eosinofil akan melepaskan eosinophilic cationic protein (ECP) dan major basic protein (MBP). Kedua ECP danMBP akan menginduksi deskuamasi dari epitelium saluran pernafasan dan akan menyebabkan terpaparnya ujung-ujung saraf. Proses ini akan menginduksi lebihbanyak terjadinya hiperrespons pada asma. Bronkospasme, sumbatan mukus, dan edema pada salur pernafasan perifer menyebabkan peningkatan resistensi salur pernafasan dan obstruksi. Udara yangt erperangkap akan mengakibatkan hiperinflasi paru, ventilation/perfusion mismatch (V/Q mismatch), dan meningkatnya dead space ventilation. Paru akan mengembangpada saat hampir akhir inspirasi pada akhir kurva compliance pulmonal, dengan compliance yang menurun dan kerja untuk bernafas yang meningkat.

EPIDEMIOLOGI Di seluruh dunia, insidensi terjadinya asma diperkirakan ada kurang lebih 20 juta kasus, di mana 15% dari angka tersebut terjadi pada anak-anak. Peningkatan insidens kasus asma di seluruh dunia adalah akibat dari polusi dan industrialisasi. Dari hipotesis higienis, perbaikan dalam imunisasi dan kesehatan masyarakat akan berkontribusi dalam peningkatan insidens kasus asma. Angka mortalitas untuk asma telah meningkat mendadak. Dari tahun 1993-1995,angka rata-rata kematian menurut umur karena asma telah meningkat sebanyak40%. Pada bayi, asma pada laki-laki lebih parah dari perempuan. Pada anak-anak yang lebih tua, keparahan dan insidensi asma kurang lebih sama banyak pada laki-laki dan perempuan. Tapi pada dewasa, insidens asma lebih banyak pada wanita. Anak-anak yang menderita asma pada tahun pertama setelah kelahiran dan pada umur 9-16 tahun akan cenderung untuk menderita asma yang lebih parah.

PENYEBAB Asma terjadi akibat sejumlah faktor, termasuk faktor predisposisi genetik, dan faktor lingkungan. Alergen inhalasi (biasanya pada pasien dengan riwayat atopi) Infeksi virus Polusi udara (debu, asap rokok, sisa industry) Medikasi (beta-blocker, aspirin, NSAI ) Gastroesophageal reflux disease (dari suatu penelitian refluks dari isi lambung, teraspirasi atau tidak, bisa menginduksi asma pada anak-anak dandewasa yang beresiko) Suhu dingin Latihan atau olahraga

KLINIS Untuk menentukan riwayat penyakit dari seorang anak dengan tanda dan gejala dari eksaserbasi akut asma, yang harus dipertanyakan atau diperhatikan adalah seperti berikut: Adakah terdapat penyakit yang dideritai sekarang, seperti infeksi saluran penafasan atas atau pneumonia: Riwayat penyakit respiratori kronis (contoh: dysplasia bronkopulmonal) Riwayat penyakit akibat respiratory syncytial virus (RSV) Riwayat atopi Riwayat alergi Riwayat asma dalam keluarga Apakah ada hewan peliharaan atau perokok di rumah

Faktor pencetus yang diketahui Obat-obat yang dikonsumsi Faktor resiko untuk terjadinya asma berat atau status asmatikus persisten Riwayat peningkatan kekerapan penggunaan obat bronkodilator tanpaperbaikan klinis Riwayat dirawat di ICU, dengan atau tanpa intubasi Eksaserbasi asma tetap terjadi walaupun menggunakan kortikosteroid Riwayat sering mengunjungi IGD atau dirawat inap Perbaikan kurang dari 10% dalam peak expiratory flow rate (PEFR)dari Baseline walaupun dengan pengobatan Riwayat pingsan atau kejang dalam eksaserbasi akut

Saturasi oksigen kurang dari 92% walaupun dengan bantuan oksigen

Pemeriksaan fisik Pemeriksaan awal dilakukan untuk menentukan kondisi pasien dan mencari resikountuk terjadinya gagal nafas. Episode akut asma bisa bermula dengan simptom yang ringan seperti dyspnea.Dengan obstruksi saluran pernafasan yang semakin memburuk, respiratory distress, termasuk retraksi, penggunaan otot abdomen sewaktu ekspirasi, dan tidak bisa berbicara satu atau dua kata bisa ditemukan. V/Q mismatch mengakibatkan penurunan saturasi oksigen dan hipoksia. Tanda vital bisa menunjukkan takikardia dan hipertensi. Peak flow rate. Haruslah diperiksa sebagai tanda vital pada anak-anak yang kooperatif. Jika tidak diberi pengobatan, obstruksi saluran nafas yang lama dan usaha untuk bernafas yang meningkat bisa menyebabkan bradikardia, hipoventilasi, dan cardiorespiratory arrest .

Pemeriksaan umum Takikardia dan takipnea, tekanan darah mungkin meningkat. Pasien dengan eksaserbasi ringan terjadi hipoksia dan penurunan saturasi oksigen. Fase ekspirasi memanjang dengan wheezing bisa ditemukan. Anak dengan status asmatikus bisa dehidrasi karena asupan makanan atau minuman buruk, muntah, dan usaha untuk bernafasa yangmeningkat. Retraksi interkostal, subkostal, penggunaan otot abdomen bisa dilihat Pasien dengan asma sedang sampai berat biasanya tidak bisa berbicara dengan ayat penuh. Tingkat kesadaran bervariasi dari sadar penuh sampai koma. Jika hipoksemia memburuk, pasien yang letargi menjadi agitasi. Dengan meningkatnya obstruksi pada unit paru, hipoksemia memburuk laluhiperkarbia terjadi. Kedua hipoksemia dan hiperkarbia bisamengakibatkan kejang dan koma, dan merupakan tanda akhir dari respiratory compromisey.

Pemeriksaan sistem respiratorik Wheezing , terjadi akibat udara melalui salur pernafasan yang menyempit akibat obstruksi. Terjadi sewaktu ekspirasi, karena turbulensi udara. Pada auskultasi selalu ditemukan wheezing bilateral pada ekspirasi.Suara nafas inspirasi bisa normal, berkurang atau tidak ada tergantung keparahan penyakit. Silent chest bisa ditemukan pada pasien yang sudah terjadi impending respiratory failure, di mana sudah terjadi obstruksi yang berat atau terlalu lelah untuk menghasilkan wheezing

Jika tension pneumothorax terjadi, tanda deviasi trakea ke arah berlawanan, menghilang atau menurunnya suara nafas pada bagian yang abnormal, pergeseran lokasi bunyi jantung dan hipotensi bisa ditemukan. Pada pasien status asmatikus sedang sampai berat, penggunaan otot abdomen bisa mengakibatkan sakit abdomen.

DIAGNOSIS BANDING Benda asing di salur pernafasan Sindrom aspiraasi Bronkiektasis Cystic fibrosis Congestive Heart Failure Cedera inhalasi Limfadenopati Infeksi RSV Trakeomalasia

PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemilihan jenis pemeriksaan tergantung dari data riwayat penyakit dan kondisipasien. Pulse oximetry memberikan evaluasi saturasi oksigen, yang sangat penting karenapenyebab kematian utama pada status asmatikus adalah hipoksia. Keuntungan penggunaan pulse oximetry adalah ia mudah didapatkan, tidak invasive, menunjukkan monitoring yang berterusan, dan merupakan indikator yang baik untuk hipoksemia akibat V/Q mismatch. Pengukuran elektrolit serum adalah sangat penting, terutama untuk memonitor kadar kalium serum. Obatan yang digunakan untuk mengobati status asmatikus bisa menyebabkan hipokalemia. Nilai pH yang rendah bisa menyebabkan peningkatan transien dari kalium.Kadar glukosa serum bisa meningkat akibat stress, penggunaan agen beta-agonis,seperti epinefrin, dan penggunaan kortikosteroid. Namun, akibat penyimpanan yang tidak baik, hipoglikemia bisa terjadi pada anak-anak yang lebih muda. Pemeriksaan hitung sel darah lengkap dan diferensial, bisa menunjang kepada peningkatan jumlah sel darah putih, dengan atau tanpa pergeseran ke kiri. Hitungsel darah lengkap juga bisa mengindikasikan ada infeksi bakteria; tapi dengan penggunaan beta-agonis dan kortikosteroid bisa mengubah komposisi dari sel darah putih dengan meningkatkan hitung sel darah putih perifer. Memonitor peak flow merupakan suatu pengukuran objektif terhadap obstruksi salur pernafasan pada anak yang cukup berusia dan kooperatif, dan bisa mentolerir pemeriksaan ini tanpa memperparah penyakit yang dideritainya.

Pemeriksaan radiologi Pemeriksaan foto thoraks diindikasikan pada anak-anak dengan presentasi yang atipikal atau yang tidak berespon terhadap terapi. Pada anak-anak yang sudah diketahui menderitas asma, pemeriksaan foto thoraks dilakukan jika curiga menderita pneumonia, pneumothoraks, pseudomediastinum atau atelektasis yang signifikan.

TINDAKAN/PROSEDUR Intubasi trakeal dan ventilasi mekanis diindikasikan pada gagal nafas. Ventilasi non-invasif bisa dicoba terlebih dulu untuk mengurangi paksaan untuk bernafas dan kelelahan, agar tidak dilakukan intubasi. Pemasangan chest tube mungkin perlu untuk penanganan pneumothorax.

PENATALAKSAAN Menurut guidelines yang didapatkan dari National Asthma Education and Prevention Program (NAEPP) of America Expert Panel, penanganan atau perawatan terhadap seseorang anak dengan asma termasuklah rawat jalan yang intensif dengan medikasi dan intervensi lingkungan. Rawat inap di rumah sakit merupakan suatu kagagalan dalam penanganan pasien rawat jalan. Penanganan pasien dengan status asmatikus adalah seperti berikut: Oksigen Oksigenasi digunakan untuk membantu mengkoreksi V/Q mismatch . Bisa diberikan menggunakan nasal kanul atau face mask . Jika terjadi hipoksemia yang signifikan, nonbreathing mask bisa digunakan untuk memberikan sebanyak-banyaknya 98% oksigen. Tujuan pemberian oksigen adalah untuk mencapai saturasi oksigen di atas 90%. Beta-agonis inhalasi Albuterol atau salbutamol, dan terbutalin merupakan terapi akut untuk asma. Obat-obat ini menstimulas cyclic adenosine monophosphate (AMP) untuk memediasi terjadinya bronkodilatasi. Saluran pernafasan mempunyai banyak reseptor beta. Dengan menstimulasi reseptor ini, otot salur an pernafasan berelaksasi, pembersihan mukosiliar meningkat, dan produksi mukus menurun. Administrasi obat ini melalui nebulisasi inhalasi biasanya merupakan cara yang paling efektif. Kortikosteroid Kortikosteroid seperti metilprednisolon, prednisolon atau prednisone,merupakan terapi yang penting dalam pengobatan status asmatikus. Ia digunakan untuk mengurangi inflamasi salur pernafasan yang berat danedema pada asma. Selain itu kortikosteroid dikatakan membantu meningkatkan efek obat beta-agonis. Kortikosteroid bisa diberikan secara intravena atauoral. Walaupun kebanyakan

dokter memberikan kortikosteroid secara intravena pada kasus status asmatikus , terdapat penelitian yang mengatakan. bahwa pemberian kortikosteroid secara oral adalah sama efektif dengan pemberian kortikosteroid secara intravena. Antikolinergik Agen antikolinergik menghalang terjadinya bronkokonstriksi dengan menghambat cyclic guanosine monophosphate (GMP). Ia juga mengakibatkan menurunnya produksi mukus dan meningkatkan pembersihanmukosiliar.

Bedah Status asmatikus umumnya ditangani dengan terapi medikasi, tapi jika terjadinya pneumothoraks akan dilakukan thorakostomi atau thorakosentesis.

Diet Beberapa anak dengan asma biasanya mempunyai beberapa episode asma akibatalergi terhadap bahan makanan tertentu. Konsultasi dengan ahli nutrisi mungkinakan membantu dalam menentukan penanganan pasien secara diet.

Penanganan Lanjut Pasien Yang Dirawat Di Rumah Sakit

Indikasi dirawat di ICU Kesadaran dan sensoris terganggU Penggunaan terapi beta-agonis inhalasi Pasien kelelahaN Kemasukan udara atau inspirasi yang menurun mendadak Peningkatan PCO 2walaupun dengan pengobatan Adanya faktor resiko Kondisi pasien tidak membaik walaupun terapi mencukup

Indikasi untuk intubasi dan ventilasi mekanis Apnea ataurespiratory arrest Kesadaran menurun Impending respiratory failure , ditandai dengan peningkatan PCO

2 dankelelahan/capek, penurunan pergerakan udara, dan penurunankesadaran Hipoksemia signifikan, yang berespon buruk atau tidak beresponkepada terapi oksigen tambahan

Kateter arteri yang menetap (indwelling arterial catheters): tindakan memasang kateter arteri bisa digunakan untuk memonitor tekanan darahyang berterusan, dan untuk mengambil sampel untuk analisa gas darah arteri pada pasien dengan ventilasi mekanis. Gas darah dimonitor untuk menilai respon pasien terhadap ventilasi mekanis.

Pasien yang di rawat jalan Follow-up pasien yang dirawat jalan dan perawatan yang berterusan terhadappasien yang pernah dirawat di ICU pediatrik karena status asmatikus yang parah adalah sangat penting untuk mengoptimalkan hasil jangka panjang dankualitas hidup dan meminimalkan episode eksaserbasi asma parah. Antara yang penting dan harus diperhatikan adalan obat-obatan untuk diambildi rumah, seperti antiinflamasi. Kortikosteroid sekarang dianggap sebagaisalah satu terapi utama untuk pengobatan maintenance terhadap asma. Ada studi mengatakan bahwa penggunaan anti-inflamasi yang kurang berhubungan dengan asma yang lebih parah. Ini karena terjadinya remodeling dari saluran pernafasan, dan perubahan dari proses inflamasi pada tubuh yang persisten Untuk eksaserbasi akut disarankan untuk menggunakan bronkodilator. Perubahan atau kontrol terhadap lingkungan juga perlu pada anak dengan asma yang berhubungan dengan alergi yang berkaitan dengan lingkungan.

Medikasi Obat-obatan termasuklah bronkodilator untuk terapi inhalasi seperti albuterol; steroidinhalasi; dan obatan oral seperti antagonis leukotriene, dan/atau teofilin. Terapi kortikosteroid jika diindikasikan harus disertai instruksi bertulis dari dokter mengenaicara-cara untuk mengkonsumsinya.

Pindah ruangan Anak yang dirawat di ICU karena status asmatikus yang parah bisa dipindah keruangan yang biasa jika pasien telah memenuhi criteria berikut: Pasien telah diekstubasi.

Pasien telah tidak bergantung kepada terapi beta-agonis berterusan secara intravena (seperti terbutalin, aminofilin) dan kondisinya stabil dengan penggunaan terapi beta-agonis inhalasi/aerosol secara intermiten.

Pasien bisa mentoleransi pengurangan penggunaan albuterol berterusan; dengan menggunakan nebulisasi albuterol secara intermiten pada frekuensi yang bisa dilakukan di ruangan biasa. Status hemodinamiknya telah stabil.

KOMPLIKASI Komplikasi yang bisa terjadi termasuklah: Cardiac arrest Gagal nafas atau respiratory arrest Hipoksemia dengan cedera susunan saraf pusat yang hipoksik dan iskemik Pneumothoraks atau pneumomediastinum Toksisitas dari obat-obatan

EDUKASI PASIEN Asma merupakan suatu penyakit kronis. Pasien dan keluarganya haruslah diberiedukasi mengenai asma yang diderita pasien dan perawatan lanjutan ataU follow-up Informasi mengenai perawatan atau pengobatan maintenance, monitoring dankontrol terhadap lingkungan pasien adalah sangat penting, terutama untukmencegah eksaserbasi dari asma.