Anda di halaman 1dari 19

BLOK MEDIKOLEGAL DARI MEJA OPERASI KE MEJA HIJAU

KELOMPOK B13 KETUA SEKERTARIS ANGGOTA : NUR AINI HANIFIAH : SITI HAWALIA : META ADRIANI NAGUSMAN DANIL LEORA ANNASTITI H. RADI TRI HADRIAN PRISCA OCKTA PUTRI SRI FATMAWATI ZORAYA FEBRIANA S. (1102009208) (1102009266) (1102009171) (1102009199) (1102009158) (1102009232) (1102009220) (1102009273) (1102009310)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI 2012

SKENARIO 1

Dari Meja operasi ke Meja Hijau


Pasien perempuan 37 tahun datang dengan keluhan nyeri pada pinggang dan gangguan menstruasi, pasien datang ke RSUD Marabahan Kalimantan Selatan pada tanggal 10 Maret 2007. pasien diperiksa pertama kali di poliklinik kebidanan oleh dr. R, SpOG,sekaligus dokter yang menyarankan untuk dilakukan operasi. Diagnosis awal dari rekam medis diketahui bahwa pasien tersebut menderita suspek cysta ovarii yang ditunjang dengan hasil pemeriksaan USG dengan diagnosis hydronefrosis ginjal dan asites, dr. R mengatakan ibu gak usah pulang, langsung masuk opname saja. Merasa penyakitnya sudah berat pasien dan keluarganya menyetujui untuk rawat inap, dan dengan diantar oleh Ibu Nisma sebagai kepala perawat, pasien masuk ke Pav Kenangga II. Pasien disarankan membawa kain 3 buah dan blus.keesokan harinya pukul 07.00 WIB baru dipasang infus. Karena dr. R adalah dokter senior dengan banyak kesibukan dan akan mengikuti kongres di luar negeri maka operasi akan dilakukan oleh dr. S, SpOG selaku yunior dan bekas murid dr.R. Hal inipun sudah diberitahukan kepada pasien dan pasien stuju. Pada tanggal 11 Maret 2007 pukul 09.30 WIB pasien di bawa kekamar operasi . Disana sudah ada dr.S bersama dokter residen (calon dokter spesialis yang masih dalam pendidikan) maupun perawat kamar operasi. Di Ruangan itu pasien mendengar pembicaraan residen yang mengatakan bahwa sebenernya mereka bisa melakukan tetapi tiak boleh oleh dr.R. Setelah operasi selesai, asisten dokter menanyakan keadaan pasien, kemudian asisten dokter tersebut mengatakan kalo keadaan sehat dan diperbolehkan makan dan minum. Akhirnya pasien dibawa keluar kamar operasi, disana sudah ada suami dan 2 anak laki-laki pasien serta 2 teman dari suami pasien. Suami kemudian menanyakan hasil dari operasi tersebut, karena curiga melihat perut pasien masig besar setelah dioperasi. Asisten dokter mengatakan kalau hasil operasi dibawa oleh dr. S, SpOG. Kemudian suami mencari dokter tersebut tetapi tidak berhasil bertemu ketika didatangi di poliklinikpun diperoleh keterangan bahwa dr.S sedang ada rapat untuk persiapan haji. Sampai hari ke lima akhirnya suami pasien bertemu dengan dr.S saat melakukan visite. Suami pasien menanyakan hasil operasi yang telah dilakukan. Dr. S mengatakan bahwa hasil operasi tersebut tidak ada dan penyakit pasien masih ada di dalam. Seketika itu pasien menangis dan dr.S mengatakan seharusnya ibu bersyukur dengan adanya operasi tersebut jadi tahu penyakitnya nanti kalo sudah pulang, kalau kontrol nanti saya beri surat pengantar untuk diperiksa dan dioperasi di RSUD ulin Kalimantan selatan. 5 hari setelah pulang dari RSUD Marabahan, suami pasien dengan ditemani pengacara muda melaporkan kasus ini ke Polres, dan dengan membuat surat pengaduan kepada Ibu Menteri Kesehatan RI, Bapak Kepala Dinas Kesehatan Propinsi DIY, Bapak Kepala Dinas, MKEKI dan MKDKI pusat untuk melakukan tindakan tegas sesuai dengan perundangan yang berlaku,baik itu pemecatan maupun pencabutan ijin praktik terhadap dokter-dokter yang bersangkutan, baik itu tim dokter yang mengoperasi, ketua komite medik,direktur RSUD Marabahan, karena fakta telah terjadi malpraktek, dokter yang tidak profesional, bekerja tidak sesuai dengan standar disiplin, tidak memeriksa teliti rekam medis dan pemberian informed consent yang tidak jelas.

Pengacara pasien juga menuliskan dasar gugatannya berdasarkan: 1. Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 2. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana 3. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata 4. UU No 36 tahun 2009 tentang kesehatan 5. UU No 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran 6. UU No 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit 7. Kode Etik Kedokteran 8. UU No 8 tahun 1999 tentang perlindungan Konsumen

SASARAN BELAJAR TIU 1 TIU 2 TIU 3 TIU 4 TIU 5 : Memahami dan Menjelaskan MKEK : Memahami dan Menjelaskan MKDKI : Memahami dan Menjelaskan MALPRAKTEK : Memahami dan Menjelaskan INFORMED CONSENT : Memahami dan Menjelaskan REKAM MEDIS

TIU 1 : MEMAHAMI & MENJELASKAN MKEK DEFINISI Majelis Kehormatan Etik Kedokteran merupakan majelis profesi yang menyidangkan kasus dugaan pelanggaran etik dan/atau disiplin profesi di kalangan kedokteran. Fungsi & Tujuan MKEK Dalam hal seorang dokter diduga melakukan pelanggaran etika kedokteran (tanpa melanggar norma hukum), maka ia akan dipanggil dan disidang oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI untuk dimintai pertanggung-jawaban (etik dan disiplin profesi)nya. Persidangan MKEK bertujuan untuk mempertahankan akuntabilitas, profesionalisme dan keluhuran profesi. Saat ini MKEK menjadi satu-satunya majelis profesi yang menyidangkan kasus dugaan pelanggaran etik dan/atau disiplin profesi di kalangan kedokteran. Di kemudian hari Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), lembaga yang dimandatkan untuk didirikan oleh UU No 29 / 2004, akan menjadi majelis yang menyidangkan dugaan pelanggaran disiplin profesi kedokteran. MKDKI bertujuan menegakkan disiplin dokter / dokter gigi dalam penyelenggaraan praktik kedokteran. Domain atau yurisdiksi MKDKI adalah disiplin profesi, yaitu permasalahan yang timbul sebagai akibat dari pelanggaran seorang profesional atas peraturan internal profesinya, yang menyimpangi apa yang diharapkan akan dilakukan oleh orang (profesional) dengan pengetahuan dan ketrampilan yang rata-rata. Dalam hal MKDKI dalam sidangnya menemukan adanya pelanggaran etika, maka MKDKI akan meneruskan kasus tersebut kepada MKEK. Proses persidangan etik dan disiplin profesi dilakukan terpisah dari proses persidangan gugatan perdata atau tuntutan pidana oleh karena domain dan jurisdiksinya berbeda. Persidangan etik dan disiplin profesi dilakukan oleh MKEK IDI, sedangkan gugatan perdata dan tuntutan pidana dilaksanakan di lembaga pengadilan di lingkungan peradilan umum. Dokter tersangka pelaku pelanggaran standar profesi (kasus kelalaian medik) dapat diperiksa oleh MKEK, dapat pula diperiksa di pengadilan tanpa adanya keharusan saling berhubungan di antara keduanya. Seseorang yang telah diputus melanggar etik oleh MKEK belum tentu dinyatakan bersalah oleh pengadilan, demikian pula sebaliknya. Persidangan MKEK bersifat inkuisitorial khas profesi, yaitu Majelis (ketua dan anggota) bersikap aktif melakukan pemeriksaan, tanpa adanya badan atau perorangan sebagai penuntut. Persidangan MKEK secara formiel tidak menggunakan sistem pembuktian sebagaimana lazimnya di dalam hukum acara pidana ataupun perdata, namun demikian tetap berupaya melakukan pembuktian mendekati ketentuan-ketentuan pembuktian yang lazim. Dalam melakukan pemeriksaannya, Majelis berwenang memperoleh : 1. Keterangan, baik lisan maupun tertulis (affidavit), langsung dari pihak-pihak terkait (pengadu, teradu, pihak lain yang terkait) dan peer-group / para ahli di bidangnya yang dibutuhkan 2. Dokumen yang terkait, seperti bukti kompetensi dalam bentuk berbagai ijasah/ brevet dan pengalaman, bukti keanggotaan profesi, bukti kewenangan berupa Surat Ijin Praktek Tenaga Medis, Perijinan rumah sakit tempat kejadian, bukti hubungan

TIU 2 : MEMAHAMI DAN MENJELASKAN MKDKI Definisi MKDKI MKDKI merupakan lembaga otonom dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) yang dalam menjalankan tugasnya bersifat independen. Fungsi dan Tujuan MKDKI Fungsi MKDKI dan MKDKI-P adalah untuk penegakan disiplin kedokteran dan kedokteran gigi dalam penyelenggaraan praktik kedokteran. Penegakan disiplin yang dimaksud adalah penegakan aturan-aturan dan/atau penerapan keilmuan dalam pelaksanaan pelayanan yang harus diikuti oleh dokter dan dokter gigi. Tujuan penegakan disiplin adalah : 1. Memberikan perlindungan kepada pasien. 2. Menjaga mutu dokter / dokter gigi. 3. Menjaga kehormatan profesi kedokteran / kedokteran gigi. Tugas dan Kewenangan MKDKI MKDKI adalah lembaga yang berwenang untuk : a. menerima pengaduan pelanggaran disiplin dokter dan dokter gigi; b. menetapkan jenis pengaduan pelanggaran disiplin atau pelanggaran etika atau bukan keduanya; c. memeriksa pengaduan pelanggaran disiplin dokter dan dokter gigi; d. memutuskan ada tidaknya pelanggaran disiplin dokter dan dokter gigi; e. menentukan sanksi terhadap pelanggaran disiplin dokter dan dokter gigi; f. melaksanakan keputusan MKDKI; g. menyusun tata cara penanganan kasus pelanggaran disiplin dokter dan dokter gigi; h. menyusun buku pedoman MKDKI dan MKDKI-P; i. membina, mengkoordinasikan dan mengawasi pelaksanaan tugas MKDKI-P; j. membuat dan memberikan pertimbangan usulan pembentukan MKDKI-P kepada Konsil Kedokteran Indonesia; dan k. mengadakan sosialisasi, penyuluhan, dan diseminasi tentang MKDKI dan MKDKI-P dan mencatat dan mendokumentasikan pengaduan, proses pemeriksaan, dan keputusan MKDKI. Struktur MKDKI Untuk dapat diangkat sebagai anggota Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia harus dipenuhi syarat sebagai berikut : a. warga negara Republik Indonesia; b. sehat jasmani dan rohani; c. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia; d. berkelakuan baik; e. berusia paling rendah 40 (empat puluh) tahun dan paling tinggi 65 (enam puluh lima) tahun pada saat diangkat; f. bagi dokter atau dokter gigi, pernah melakukan praktik kedokteran paling sedikit 10 (sepuluh)

tahun dan memiliki surat tanda registrasi dokter; g. bagi sarjana hukum, pernah melakukan praktik di bidang hukum paling sedikit 10 (sepuluh) tahun dan memiliki pengetahuan di bidang hukum kesehatan; dan h. cakap, jujur, memiliki moral, etika, & integritas yang tinggi serta memiliki reputasi yg baik Proses Pengaduan Pelanggaran Pelanggaran disiplin kedokteran adalah pelanggaran terhadap aturan-aturan dan/atau ketentuan dalam penerapan disiplin ilmu kedokteran/kedokteran gigi. Dokter/dokter gigi dianggap melanggar disiplin kedokteran bila : Melakukan praktik dengan tidak kompeten Tidak melakukan tugas dan tanggung jawab profesionalnya dengan baik (dalam hal ini tidak mencapai standar-standar dalam praktik kedokteran) Berperilaku tercela yang merusak martabat dan kehormatan profesinya Suatu pengaduan diputuskan menjadi kewenangan MKDKI apabila : Dokter/dokter gigi yang diadukan telah terregistrasi di Konsil Kedokteran Indonesia. Tindakan medis yang dilakukan oleh dokter/dokter gigi yang diadukan terjadi setelah tanggal 6 Oktober 2004 (setelah diundangkannya UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran)
Terdapat hubungan profesional dokter-pasien dalam kejadian tersebut Terdapat dugaan kuat adanya pelanggaran disiplin kedokteran/kedokteran gigi Jika keempat kriteria tersebut terpenuhi, akan dilanjutkan dengan pemeriksaan oleh Majelis Pemeriksa Disiplin (MPD)

Dalam formulir pengaduan, terdapat beberapa informasi yang harus diberikan, antara lain : Identitas pengadu/pelapor; Identitas pasien (jika pengadu bukan pasien); Nama dan tempat praktik dokter/dokter gigi yang diadukan; Waktu tindakan dilakukan; Alasan pengaduan dan kronologis; Pernyataan tentang kebenaran pengaduan, dsb Keputusan MKDKI bersifat final dan mengikat dokter/dokter gigi yang diadukan, KKI, Departemen Kesehatan, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, serta instansi terkait. Dokter/dokter gigi yang diadukan dapat mengajukan keberatan terhadap keputusan MKDKI kepada Ketua MKDKI dalam waktu selambat-lambatnya 30 hari sejak dibacakan atau diterimanya keputusan tersebut dengan mengajukan bukti baru yang mendukung keberatannya

TIU 3 : MEMAHAMI DAN MENJELASKAN MALPRAKTEK Mengetahui definisi malpraktek dan investigasinya Malpraktek adalah praktek kedokteran yang salah atau tidak sesuai dengan standar profesi atau standar prosedur operasional. Malpraktek kedokteran kini terdiri dari 4 hal : (1) tanggung jawab kriminal, (2) malpraktek secara etik, (3) tanggung jawab sipil, dan (4) tanggung jawab publik. Unsur malpraktek : 1) Dokter itu mempunyai kewajiban terhadap pasien. 2) Dokter itu gagal dalam memenuhi kewajibannya terhadap pasien. 3) Sebagai akibat dari kegagalan dokter itu untuk memenuhi kewajibannya, maka sampai terjadi kerugian terhadap pasien. 4) Kegagalan seorang dokter untuk memenuhi kewajibannya adalah penyebab langsung dari luka yang timbul. Malpraktek meliputi : 1. Intentional (profesional misconducts) : penahanan pasien, buka rahasia kedokteran tanda hak, aborsi illegal, euthanasia, keterangan palsu, praktek tanpa izin/ tanpa kompetensi, sengaja tidak mematuhi standar. 2. Lack of skill : kompetensi kurang atau diluar kompetensi/ kewenangan, sering menjadi penyebab eror, sering dikaitkan dengan kompetensi institusi/ sarana, kadang dapat dibenarkan pada kondisi lokal tertentu. 3. Kelalaian medik : bukan kesengajaan, tidak melakukan yang seharusnya dilakukan, melakukan yang seharusnya tidak dilakukan oleh orang-orang yang sekualifikasi pada situasi kondisi yang identik. Kelalaian medik Kelalaian dapat terjadi dalam 3 bentuk, yaitu malfeasance, misfeasance dan nonfeasance: Malfeasance berarti melakukan tindakan yang melanggar hukum atau tidak tepat/layak (unlawful atau improper), misalnya melakukan tindakan medis tanpa indikasi yang memadai. Misfeasance berarti melakukan pilihan tindakan medis yang tepat tetapi dilaksanakan dengan tidak tepat (improper performance), yaitu misalnya melakukan tindakan medis dengan menyalahi prosedur. Nonfeasance adalah tidak melakukan tindakan medis yang merupakan kewajiban baginya. Bentuk-bentuk kelalaian di atas sejalan dengan bentuk-bentuk error (mistakes, slips and lapses), namun pada kelalaian harus memenuhi keempat unsur kelalaian dalam hukum khususnya adanya kerugian, sedangkan error tidak selalu mengakibatkan kerugian. Demikian pula adanya latent error yang tidak secara langsung menimbulkan dampak buruk .

Menurut Hubert W. Smith tindakan malpraktek meliputi 4D : (1) duty, (2) dereliction (adanya penyimpangan dalam pelaksanaan tugas), (3) direct caution (penyimpangan akan mengakibatkan kerusakan), (4) damage. 1. Duty (kewajiban) Tidak ada kelalaian jika tidak ada kewajiban untuk mengobati. Hal ini berarti bahwa harus ada hubungan hukum antara pasien dan dokter/ rumah sakit. Dengan adanya hubungan hukum, maka implikasinya adalah bahwa sikap tindak dokter/ perawat rumah sakit harus sesuai dengan standar pelayanan medik. Dokter harus bertindak berdasarkan : a. Adanya indikasi medis b. Bertindak secara hati-hati dan teliti c. Bekerja sesuai standar profesi d. Sudah ada informed consent 2. Dereliction of Duty (penyimpangan dari kewajiban) Jika seorang dokter melakukan penyimpangan dari apa yang seharusnya atau tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan menurut standard profesinya, maka dokter tersebut dapat dipersalahkan. 3. Direct Causation (penyebab langsung) Penyebab langsung yang dimaksudkan di mana suatu tindakan langsung yang terjadi, yang mengakibatkan kecacatan pada pasien akibat kealpaan seorang dokter pada diagnosis dan perawatan terhadap pasien. 4. Damage (kerugian) Damage yang dimaksud adalah cedera atau kerugian yang diakibatka kepada pasien. Aspek hukum malpraktek : 1. Penyimpangan dari standar profesi medis 2. Kesalahan yang dilakukan dokter, baik berupa kesengajaan ataupun kelalaian 3. Akibat yang terjadi disebabkan oleh tindakan medis yang menimbulkan kerugian materiil atau non materiil maupun fisik atau mental Investigasi Seorang dokter atau dokter gigi yang menyimpang dari standar profesi dan melakukan kesalahan profesi belum tentu melakukan malpraktik medis yang dapat dipidana, malpraktik medis yang dipidana membutuhkan pembuktian adanya unsur culpa lata atau kalalaian berat dan pula berakibat fatal atau serius (Ameln, Fred, 1991). Hal ini sesuai dengan ketentuan pasal 359 KUHP, pasal 360, pasal 361 KUHP yang dibutuhkan pembuktian culpa lata dari dokter atau dokter gigi. Dengan demikian untuk pembuktian malpraktik secara hukum pidana meliputi unsur : 1) Telah menyimpang dari standar profesi kedokteran; 2) Memenuhi unsur culpa lata atau kelalaian berat; dan 3) Tindakan menimbulkan akibat serius, fatal dan melanggar pasal 359, pasal 360, KUHP.

Adapun unsur-unsur dari pasal 359 dan pasal 360 sebagai berikut : 1) Adanya unsur kelalaian (culpa). 2) Adanya wujud perbuatan tertentu . 3) Adanya akibat luka berat atau matinya orang lain. 4) Adanya hubungan kausal antara wujud perbuatan dengan akibat kematian orang lain itu. Tiga tingkatan culpa: a. Culpa lata : sangat tidak berhati-hati (culpa lata), kesalahan serius, sembrono (gross fault or neglect) b. Culpa levis : kesalahan biasa (ordinary fault or neglect) c. Culpa levissima : kesalahan ringan (slight fault or neglect) (Black 1979 hal. 241) Dalam pembuktian perkara perdata, pihak yang mendalilkan sesuatu harus mengajukan bukti-buktinya. Dalam hal ini dapat dipanggil saksi ahli untuk diminta pendapatnya. Jika kesalahan yang dilakukan sudah demikian jelasnya ( res ipsa loquitur, the thing speaks for itself ) sehingga tidak diperlukan saksi ahli lagi, maka beban pembuktian dapat dibebankan pada dokternya.

TIU 4 : MEMAHAMI DAN MENJELASKAN INFORMED CONSENT 1. Mengetahui tentang Informed Consent Informed Consent adalah suatu persetujuan mengenai tindakan kedokteran yang akan dilakukan oleh dokter terhadap pasien. Persetujuan boleh dalam bentuk lisan maupun tertulis. Formulir informed consent merupakan tanda bukti yang disimpan dalam arsip rekam medis pasien. UU Republika Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, telah diatur tentang Informed Consent ini pada Pasal 45 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran atau Kedokteran Gigi yang isinya antara lain: Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan. 1. Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien mendapat penjelasan secara lengkap. 2. Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya mencakup: diagnosis dan tata cara tindakan medis. tujuan tindakan medis yang dilakukan. alternative tindakan lain dan resikonya. risikonya dan komplikasi yang mungkin terjadi. prognosis terhadap tindakan yang dilakukan 3. Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan baik secara tertulis maupun lisan. 4. Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang mengandung risiko tinggi harus diberikan dengan persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan. Tujuan : dalam hubungan antara pelaksana (dokter) dengan pengguna jasa tindakan medis (pasien) melindungi pengguna jasa tindakan medis (pasien) secara hukum dari segala tindaka medis yang dilakukan tanpa sepengetahuannya, maupun tindakan pelaksana jasa tindakan medis yang sewenang-wenang, tindakan malpraktek yang bertentangan dengan hak asasi pasien dan standar profesi medis, serta penyalahgunaan alat canggih yang memerlukan biaya tinggi atau over utilization yang sebenarnya tidak perlu dan tidak ada alasan medisnya.Memberikan perlindungan hukum terhadap pelaksana tindakan medis dari tuntutan-tuntutan pihak pasien yang tidak wajar, serta akibat tindakan medis yang tak terduga dan bersifat negatif, yang tak mungkin dihindarkan walaupun dokter telah bertindak hati-hati dan teliti serta sesuai dengan standar profesi medik. Sepanjang hal itu terjadi dalam batasbatas tertentu, maka tidak dapat dipersalahkan, kecuali jika melakukan kesalahan besar karena kelalaian atau karena ketidaktahuan yang sebenarnya tidak akan dilakukan demikian oleh teman sejawat lainnya. 1) Penghormatan terhadap harkat dan martabat pasien selaku manusia 2) Promosi terhadap hak untuk menentukan nasibnya sendiri 3) Untuk mendorong dokter melakukan kehati-hatian dalam mengobati pasien 4) Menghindari penipuan dan misleading oleh dokter 5) Mendorong diambil keputusan yang lebih rasional

6) Mendorong leterlibatan publik dalam masalah kedokteran dan kesehatan 7) Sebagai suatu proses edukasi masyarakat dalam bidang kedokteran dan kesehatan Hal-hal yang diinformasikan : 1) Hasil pemeriksaan 2) Resiko 3) Alternatif 4) Rujukan/ konsultasi 5) Prognosis Dalam penjelasan atas UU Nomor 29 Tahun 2004 tersebut disebutkan bahwa pada prinsipnya yang berhak memberikan persetujuan atau penolakan tindakan medis adalah pasien yang bersangkutan. Namun, apabila pasien yang bersangkutan berada di bawah pengampuan, persetujuan atau penolakan tindakan medis dapat diberikan oleh keluarga terdekat antara lain suami/istri/ibu kandung, anak-anak kandung atau saudara-saudara kandung. Jika sesuatu tindakan medis dilakukan tanpa izin pasien, ia digolongkan sebagai tindakan penganiayaan berdasarkan KUHP Pasal 351 ( trespass, battery, bodily assault ). Menurut Pasal 5 Permenkes No 290 / Menkes / PER / III / 2008, sebelum dimulai tindakan (1), persetujuan tindakan kedokteran dapat dibatalkan oleh yang memberi persetujuan dan pembatalan tersebut harus secara bertulis oleh yang memberi persetujuaan (2) Elemen-elemen yang terdapat dalam informed consent adalah penjelasan mengenai: Penyakit dan atau tindakan yang akan dilakukan. Harapan dari tindkan dan prognosisnya. Alternative tindakan dan tingkat harapan serta keberhasilannya. Resiko, komplikasi dan biaya. Dokter hanya boleh bertindak melebihi yang telah disepakati apabila gawat-darurat dan butuh waktu yang singkat. Elemen Informed Consent Threshold elements Elemen ini sifatnya lebih ke arah syarat, yaitu pemberi consent haruslah seseorang yang kompeten (cakap). Kompeten disini diartikan sebagai kapasitas untuk membuat keputusan medis. Kompetensi manusia untuk membuat keputusan sebenarnya merupakan suaut kontinuum, dari sama sekali tidak memiliki kompetensi hingga memiliki kompetensi yang penuh. Diantaranya terdapat berbagai tingkat kompetensi membuat keputusan tertentu (keputusan yang reasonable berdasarkan alasan yang reasonable). Secara hukum seseorang dianggap cakap (kompeten) apabila telah dewasa, sadar dan berada dalam keadaan mental yang tidak di bawah pengampuan. Dewasa diartikan sebagai usia telah mencapai 21 tahun atau telah pernah menikah. Sedangkan keadaan mental yang dianggap tidak kompeten adalah apabila mempunyai penyakit mental sedemikian rupa sehingga kemampuan membuat keputusan menjadi terganggu.

Information elements Elemen ini terdiri dari dua bagian yaitu, disclosure(pengungkapan) dan understanding (pemahaman). Pengertian berdasarkan pemahaman yang adekuat membawa konsekuensi kepada tenaga medis untuk memberikan informasi (disclosure) sedemikian rupa sehingga pasien dapat mencapai pemahaman yang adekuat. Dalam hal ini, seberapa baik informasi harus diberikan kepada pasien, dapat dilihat dari 3 standar : a. Standar Praktik Profesi Bahwa kewajiban memberikan informasi dan kriteria ke-adekuat-an informasi ditentukan bagaimana BIASANYA dilakukan dalam komunitas tenaga medis. Dalam standar ini ada kemungkinan bahwa kebiasaan tersebut di atas tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial setempat, misalnya resiko yang tidak bermakna (menurut medis) tidak diinformasikan, padahal mungkin bermakna dari sisi sosial pasien. b. Standar Subyektif Bahwa keputusan harus didasarkan atas nilai-nilai yang dianut oleh pasien secara pribadi, sehingga informasi yang diberikan harus memadai untuk pasien tersebut dalam membuat keputusan. Kesulitannya adalah mustahil (dalam hal waktu/kesempatan) bagi profesional medis memahami nilai-nilai yang secara individual dianut oleh pasien. c. Standar pada reasonable person Standar ini merupakan hasil kompromi dari kedua standar sebelumnya, yaitu dianggap cukup apabila informasi yang diberikan telah memenuhi kebutuhan umumnya orang awam. Consent elements Elemen ini terdiri dari dua bagian yaitu, voluntariness(kesukarelaan, kebebasan) dan authorization (persetujuan). Kesukarelaan mengharuskan tidak ada tipuan, misrepresentasi ataupun paksaan. Pasien juga harus bebas dari tekanan yang dilakukan tenaga medis yang bersikap seolah-olah akan dibiarkan apabila tidak menyetujui tawarannya. Bentuk Informed Consent a) Dinyatakan (expressed) Dinyatakan secara lisan Dinyatakan secara tertulis. Pernyataan tertulis diperlukan apabila dibutuhkan bukti di kemudian hari, umumnya pada tindakan yang invasif atau yang beresiko mempengaruhi kesehatan penderita secara bermakna. Permenkes tentang persetujuan tindakan medis menyatakan bahwa semua jenis tindakan operatif harus memperoleh persetujuan tertulis. b) Tidak dinyatakan (implied) Pasien tidak menyatakannya, baik secara lisan maupun tertulis, namun melakukan tingkah laku (gerakan) yang menunjukkan jawabannya. Meskipun consent jenis ini tidak memiliki bukti, namun consent jenis inilah yang paling banyak dilakukan dalam praktik sehari-hari.

Misalnya adalah seseorang yang menggulung lengan bajunya dan mengulurkan lengannya ketika akan diambil darahnya.

Proxy Consentadalah informed consent yang diberikan oleh orang yang bukan si pasien itu sendiri, dengan syarat bahwa pasien tidak mampu memberikan informed consent secara pribadi dan informed consent tersebut harus mendekati apa yang sekiranya akan diberikan oleh pasien, bukan baik buat orang banyak. Umumnya urutan orang yang dapat memberikan proxy consent adalah suami/istri, anak, orang tua, saudara kandung, dst. Proxy consent hanya boleh dilakukan dengan pertimbangan yang matang dan ketat. Contextual circumstances juga seringkalimempengaruhipolaperolehaninformedconsent. Seorang yang dianggapsudahpikun, orang yang dianggapmemiliki mental lemahuntukdapatmenerimakenyataan, dan orangdalamkeadaan terminal seringkalitidakdianggap cakap menerimainformasi yang benar apalagimembuatkeputusanmedis.Banyakkeluargapasienmelarangparadokteruntukberkatabenarke padapasiententangkeadaansakitnya. Keluhanpasiententangprosesinformedconsent : Bahasa yang digunakan untuk menjelaskan terlalu teknis Perilaku dokter yang terlihat terburu-buru atau tidak perhatian, atau tidak ada waktu untuk tanyajawab. Pasien sedang dalam keadaan stress emosional sehingga tidak mampu mencerna informasi Pasien dalam keadaan tidak sadar atau mengantuk. Keluhan dokter tentang informed consent : Pasien tidak mau diberitahu. Pasien tak mampu memahami. Resiko terlalu umum atau terlalu jarang terjadi. Situasi gawat darurat atau waktu yang sempit Prinsip-Prinsip Dalam Informed Consent Pada prinsipnya informed consent diberikan di setiap pengobatan oleh dokter. Akan tetapi, urgensi dari penerapan prinsip informed consent sangat terasa dalam kasus-kasus sebagai berikut o Dalam kasus-kasus yang menyangkut dengan pembedahan/operasi o Dalam kasus-kasus yang menyangkut dengan pengobatan yang memakai teknologi baru yang sepenuhnya belum dpahami efek sampingnya. o Dalam kasus-kasus yang memakai terapi atau obat yang kemungkinan banyak efek samping, seperti terapi dengan sinar laser, dll. o Dalam kasus-kasus penolakan pengobatan oleh klien o Dalam kasus-kasus di mana di samping mengobati, dokter juga melakukan riset dan eksperimen dengan berobjekan pasien

Isi Informed Consent Identitas pasien mencakup nama, umur, tanggal lahir ,alamat, no telpon. Adanya pernyataan dirinya sendiri atau wakil kerabat dari si identitas Pernyataan setuju/menolak untuk dilakukan tindakan medis berupa apa yg akan dilakukan Adanya penjelasan dari pasien bahwa pasien tersebut setuju /menolak dilakukan tindakan medis tersebut Tanda tangan dokter Tanda tangan nama wali /dirinya sendiri Saksi Tanggal dan tempat dibuat pernyataan

Didalam isi informed consent harus memuat hal hal sebagai berikut ini : 1. Dokter harus menjelaskan pada pasien mengenai tindakan, terapi dan penyakitnya 2. Pasien harus diberitahu tentang hasil terapi yang diharapkan dan seberapa besar kemungkinan keberhasilannya 3. Pasien harus diberitahu mengenai beberapa alternatif yang ada dan akibat apabila penyakit tidak diobati 4. Pasien harus diberitahu mengenai risiko apabila menerima atau menolak terapi 5. Risiko yang harus disampaikan meliputi efek samping yang mungkin terjadi dalam penggunaan obat atau tindakan pemeriksaan dan operasi yang dilakukan Syarat Informed Consent a) Pasal 1320 KUH Perdata b) Adanya kesepakatan antaran kedua belah pihak uang bebas dari paksaan. c) Kedua belah pihak sepakat untuk membuat suatu perjanjian. d) Adanya suatu hal tertanda yang di perjanjikan. e) Perjanjian yang mengenai suatu sifat yang halal.

TIU 5: MEMAHAMI DAN MENJELASKAN REKAM MEDIS Menjelaskan tentang Rekam Medis Rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien. Catatan adalah tulisan yang dibuat oleh dokter atau dokter gigi tentang segala tindakan yang dilakukan kepada pasien dalam rangka pemberian pelayanan kesehatan. Dokumen adalah catatan dokter, dokter gigi, dan/atau tenaga kesehatan tertentu, laporan hasil pemeriksaan penunjang, catatan observasi dan pengobatan harian dan semua rekaman, baik berupa foto radiologi, gambar pencitraan, dan rekaman elektro diagnostik. Isi Rekam Medis Isi rekam medis untuk pasien rawat jalan sekurang-kurangnya: a. Identitas pasien b. Tanggal dan waktu c. Hasil anamnesis, mencakup sekurang-kurangnya keluhan dan riwayat penyakit d. Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medik e. Diagnosis f. Rencana penatalaksanaan g. Pengobatan dan/atau tindakan h. Pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien i. Untuk pasien kasus gigi dilengkapi dengan odontogram klinik dan j. Persetujuan tindakan yang diperlukan Isi rekam medis untuk pasien rawat inap dan perawatan satu hari: a. Point a-g b. Persetujuan tindakan bila diperlukan c. Catatan observasi klinis dan hasil pengobatan d. Ringkasan pulang (discharge summary) e. Nama dan tanda tangan dokter, dokter gigi, atau tenaga kesehatan tertentu yang memberikan pelayanan kesehatan f. Pelayanan lain yang dilakukan oleh tenaga kesehatan tertentu dan g. Untuk pasien kasus gigi dilengkapi dengan odontogram klinik Resume Akhir Resume ini dibuat segera setelah pasien dipulangkan. Isi resume harus singkat menjelaskan informasi penting penyakit, pemeriksaan yang dilakukan dan pengobatannya. Isinya antara lain: 1. Mengapa pasien masuk RS (anamnesis) 2. Hasil penting pemeriksaan fisik diagnostik, laboratrium, rontgen dan lain-lain. 3. Pengobatan dan tindakan operasi yang dilaksanakan. 4. Keadaan pasien waktu keluar (perlu berobat jalan, mampu untuk bekerja, dan lain-lain) 5. Anjuran pengobatan dan perawatan (nama obat dan dosisnya, tindakan pengobatan lain, dirujuk kemana, perjanjian untuk datanglagi, dan lain-lain)

Tujuan pembuatan resume: 1. Untuk menjamin kontinuitas pelayanan medik dengan kualitas yang tinggi serta bahan yang berguna bagi dokter pada waktu menerima pasien untuk dirawat kembali. 2. Bahan penilaian staf medik RS 3. Untuk memenuhi permintaan dari badan-badan resmi atau perseorangan tentang perawatan seorang pasien. Misalnya, dari perusahaan Asuransi (setelah persetujuan Direktur) 4. Sebagai bahan informasi bagi dokter yang bertugas, dokter yang mengirim dan dokter konsultan. Untuk pasien yang meninggal dibuat laporan sebab kematian. Kegunaan rekam medis 1. Sebagai alat komunikasi antara dokter dan tenaga kesehatan lainnya yang ikut ambil bagian dalam member pelayanan, pengobatan, dan perawatan pasien. 2. Sebagai dasar untuk perencanaan pengobatan/perawatan yang harus dinerikan kepada pasien. 3. Sebagai bukti tertulis atas segala pelayanan, perkembangan penyakit dan pengobatan selama pasien erkunjung/dirawat di rumah sakit. 4. Sebagai dasar analisis, studi, evaluasi terhadap mutu pelayanan yang diberikan kepada pasien. 5. Melindungi kepentingan hokum bagi pasien, rumah sakit, maupun dokter dan tenaga kesehatan lainnya. 6. Menyediakan data-datakhusus yang sangat berguna untuk keperluan penelitian dan pendidikan. 7. Sebagai dasar di dalam perhitungan biaya pembayaran pelayanan medic pasien. 8. Menjadi sumber ingatan yang harus didokumentasikan, serta sebagai bahan pertanggung jawaban dan laporan. Pemanfaatan rekam medis harus mendapat persetujuan secara tertulis dari pasien atau ahli warisnya dan harus dijaga kerahasiaannya. Pemanfaatan rekam medis untuk keperluan pendidikan dan penelitian tidak diperlukan persetujuan pasien, bila dilakukan untuk kepentingan Negara. Penyimpanan, Pemusnahan dan Kerahasiaan Rekam Medis 1. Rekam medis pasien rawat inap RS wajib disimpan sekurang-kurangnya untuk jangka waktu 5 tahun terhitung dari tanggal terakhir pasien berobat atau dipulangkan.

2. Setelah batas 5 tahun, rekam medis dapat dimusnahkan, kecuali ringkasan pulang dan persetujuan tindakan medik. 3. Ringkasan pulang dan persetujuan tindakan medic harus disimpan dalam jangka waktu 10 tahun terhitung dari tanggal dibuat ringkasan tersebut. 4. Rekam medis pada sarana pelayanan kesehatan non RS wajib disimpan sekurangkurangnya untuk jangka 2 tahun terhitung dari tanggal terakhir pasien berobat. Setelah batas waktu tersebut rekam medis dapat dimusnahkan. Informasi tentang identitas, diagnosis, riwayat penyakit, riwayat pemeriksaan dan riwayat pengobatan dapat dibuka dalam hal : a. Untuk kepentingan kesehatan pasien b. Memenuhi permintaan apatur penegak hokum dalam rangka penegakan hukum atas perintah pengadilan c. Permintaan dan/atau persetujuan pasien sendiri d. Permintaan institusi/lembaga berdasarkan ketentuan perundang-undangan dan e. Untuk kepentingan penelitian, pendidikan, dan audit medis, sepanjang tidak menyebutkan identitas pasien. Sebelum dimusnahkan, berkas tersebut harus: a. Diambil informasi-informassi utama b. Menyimpan berkas anak-anak hingga batas usia tertentu sesuai dengan ketentuan yang berlaku c. Menyimpan berkas rekam medis/RM sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Ingris, Departemen kesehatan merekomendasikan masa retensi RM, minimum : RM obsterik 25 tahun RM anak-anak dan usia muda disimpan sampai ulang tahun ke-25 atau 8 tahun sesudah kunjungan terakhir. RM pasien gangguan mental, 20 tahun sesudah dokter yang merawat menyatakan sudah sembuh RM yang lain, 8 tahun dan resume akhir dibuat.

DAFTAR PUSTAKA 1. www.scribd.com 2. www.repository.com