Anda di halaman 1dari 11

DI SUSUN OLEH :

NAMA : NINDYA ANGGI WULANDARI NPM : 19110055 KELAS : 3KA 34 (KELAS MALAM) JUDUL MAKALAH : Pengaruh bahasa pergaulan dalam perkembangan bahasa
indonesia

UNIVERSITAS GUNADARMA KAMPUS J

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadiran Allah SWT. Yang telah melimpahkan rahmat dan hidyahNya kepada kita semua sehingga peneltian ini saya dapat menyelesaikan pada waktunya. Walaupun hasilnya masih jauh dari apa yang menjadi harapan pembimbing. Namun sebagai awal pembelajaran dan agar menambah spirit dalam mencari pengetahuan yang luas dilapangan, bukan sebuah kesalahan jika kami mengucapkan kata syukur. Terimakasih saya ucapkan kepada dosen Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah memberikan arahan terkait penelitian ini. Tanpa bimbingan dari beliau mungkin saya tidak akan dapat menyelesaikan tugas ini sesuai dengan format yang berlaku. Kesalahan yang terdapat di dalam jelas ada. Namun bukanlah kesalahan yang tersengaja melainkan karena khilafan dan kelupaan. Dari kesemua kelemahan saya kirannya dapat dimaklumi. Terimakasih saya ucapkan pula kepada teman-teman yang telah memberikan banyak saran dan pengetahuannya sehingga menambah hal baru bagi saya. Terutama sumbangannya dalam hal materil berupa referensi mengenai penelitian Bahasa Indonesia. Demikian, harapan saya semoga hasil pengkajian ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Dan menambah referensi yang baru sekaligus ilmu pengetahuan yang baru pula, amien!!!

Bekasi, 2012

Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman Judul .. Kata Pengantar .. DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN:


1 2

Latar Belakang Rumusan Makalah ... Tujuan Penelitian ..... Teknik Pengumpulan Data . Landasan Teori . PEMBAHASAN:

3 4 4 4 5

BAB II

Bentukan Kata Bahasa Gaul . . 6 Struktur Bahasa Gaul .....8

BAB III PENUTUP KESIMPULAN .... 10

BAB I PENDAHULUAN I. 1 Latar belakang Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, yang berfungsi sebagai alat komunikasi mempunyai peran sebagai penyampai informasi. Kebenaran berbahasa akan berpengaruh terhadap kebenaran informasi yang disampaikan. Berbagai fenomena yang berdampak buruk pada kebenaran berbahasa yang disesuaikan dengan kaidahnya, dalam hal ini berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar mempunyai beberapa konsekuensi logis terkait dengan pemakaiannya sesuai dengan situasi dan kondisi. Pada kondisi tertentu, yaitu pada situasi formal penggunaan bahasa Indonesia yang benar menjadi prioritas utama. Penggunaan bahasa seperti ini sering menggunakan bahasa baku. Kendala yang harus dihindari dalam pemakaian bahasa baku antara lain disebabkan oleh adanya gejala bahasa seperti interferensi, integrasi, campur kode, alih kode dan bahasa gaul yang tanpa disadari sering digunakan dalam komunikasi resmi. Hal ini mengakibatkan bahasa yang digunakan menjadi tidak baik. Berbahasa yang baik yang menempatkan pada kondisi tidak resmi atau pada pembicaraan santai tidak mengikat kaidah bahasa di dalamnya. Ragam berbahasa seperti ini memungkinkan munculnya gejala bahasa baik interferensi, integrasi, campur kode, alih kode maupun bahasa gaul. Dewasa ini pemakaian bahasa Indonesia baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia film mulai bergeser digantikan dengan pemakaian bahasa anak remaja yang dikenal dengan bahasa gaul. Interferensi bahasa gaul kadang muncul dalam penggunaan bahasa Indonesia dalam situasi resmi yang mengakibatkan penggunaan bahasa tidak baik dan tidak benar. Bahasa gaul merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk pergaulan. Istilah ini mulai muncul pada akhir ahun 1980-an. Pada saat itu bahasa gaul dikenal sebagai bahasanya para bajingan atau anak jalanan disebabkan arti kata prokem dalam pergaulan sebagai preman. Sehubungan dengan semakin maraknya penggunaan bahasa gaul yang digunakan oleh sebagian masyarakat modern, perlu adanya tindakan dari semua pihak yang peduli terhadap eksistensi bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa pengantar dalam dunia pendidikan. Dewasa ini, bahasa prokem mengalami pergeseran fungsi dari bahasa rahasia menjadi bahasa gaul. Dalam konteks kekinian, bahasa gaul merupakan dialek bahasa Indonesia non-formal yang terutama digunakan di suatu daerah atau komunitas tertentu. Penggunaan bahasa gaul menjadi lebih dikenal khalayak ramai setelah Debby Sahertian mengumpulkan kosa-kata yang digunakan dalam komunitas tersebut dan menerbitkan kamus yang bernama Kamus Bahasa Gaul pada tahun 1999.

I. 2 Rumusan masalah
1. Bagaimana bentukan kata bahasa gaul yang digunakan sehari-hari ? 2. Bagaimana struktur bahasa gaul sebagai tutur remaja di Indonesia yang tercermin ?

I. 3 Tujuan Penelitian Secara umum, tujuan penelitian ini adalah untuk memeriksa pemakaian bahasa gaul dalam dialog remaja Indonesia yang digunakan ketua HMI dalam rapat formal. I. 4 Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah teknik observasi sebagai teknik utama. Observasi dilakukan dengan cara simak-catat, yaitu peneliti mencatat data bahasa dan konteksnya yang meliputi (1) topiknya, (2) suasananya, (3) tempat pembicaraan, serta (4) lawan bicaranya. I. 5 Landasan Teori Bahasa adalah suatu sistem lanuang berupa bunyi, bersifat arbitrer, digunakan oleh suatu masyarakat tutur untuk bekerja sama. berkornunikasi, dan mengindenfikasi diri (Chaer, 2000:1). Menurut pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah berupa bunyi yang digunakan oleh rnasyarakat untuk berkornunikasi. Keraf (1991:1) mengatakan bahwa bahasa mencakup dua bidang, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap berupa arus bunyi, yang mempunyai makna. Menerangkan bahwa bahasa sebagai alat komunikasi antaranggota masyarakat terdiri atas dua bagian utama yaitu bentuk (arus ujaran) dan makna (isi). Menurut pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap yang merupakan alat komunikasi antaranggota masyarakat berupa bentuk dan makna. Ramlan (1985:21) mengatakan morfologi adalah bagian dari tata ilmu bahasa yang membicarakan atau yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata. Berdasarkan pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu.

BAB II PEMBAHASAN SEJARAH BAHASA PERGAULAN


Bahasa prokem Indonesia atau bahasa gaul atau bahasa prokem yang khas Indonesia dan jarang dijumpai di negara-negara lain kecuali di komunitas-komunitas Indonesia. Bahasa prokem yang berkembang di Indonesia lebih dominan dipengaruhi oleh bahasa Betawi yang mengalami penyimpangan/ pengubahsuaian pemakaian kata oleh kaum remaja Indonesia yang menetap di Jakarta. Kata prokem sendiri merupakan bahasa pergaulan dari preman. Bahasa ini awalnya digunakan oleh kalangan preman untuk berkomunikasi satu sama lain secara rahasia. Agar kalimat mereka tidak diketahui oleh kebanyakan orang, mereka merancang kata-kata baru dengan cara antara lain mengganti kata ke lawan kata, mencari kata sepadan, menentukan angka-angka, penggantian fonem, distribusi fonem, penambahan awalan, sisipan, atau akhiran. Masing-masing komunitas (daerah) memiliki rumusan sendiri-sendiri. Pada dasarnya bahasa ini untuk memberkan kode kepada lawan bicara (kalangan militer dan kepolisian juga menggunakan). Contoh yang sangat mudah dikenali adalah dagadu yang artinya matamu. Perubahan kata ini menggunakan rumusan penggantian fonem, dimana huruf M diganti dengan huruf D, sedangkan huruf T diubah menjadi G. Sementara huruf vokal sama sekali tidak mengalami perubahan. Rumusan ini didasarkan pada susunan huruf pada aksara jawa yang dibalik dengan melompati satu baris untuk masing-masing huruf. Bahasa ini dapat kita jumpai di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Belakangan ini bahasa prokem mengalami pergeseran fungsi dari bahasa rahasia menjadi bahasa pergaulan anak-anak remaja. Dalam konteks kekinian, bahasa pergaulan anak-anak remaja ini merupakan dialek bahasa Indonesia non-formal yang terutama digunakan di suatu daerah atau komunitas tertentu (kalangan homo seksual atau waria). Penggunaan bahasa gaul menjadi lebih dikenal khalayak ramai setelah Debby Sahertian mengumpulkan kosa-kata yang digunakan dalam komunitas tersebut dan menerbitkan kamus yang bernama Kamus Bahasa Gaul pada tahun 1999. Bahasa prokem merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa dalam pergaulan anak-anak remaja. Istilah ini muncul pada akhir tahun 1980-an. Pada saat itu ia dikenal sebagai 'bahasanya para bajingan atau anak jalanan' disebabkan arti kata prokem dalam pergaulan sebagai preman. Saat ini bahasa prokem telah banyak terasimilasi dan menjadi umum digunakan sebagai bentuk percakapan sehari-hari dalam pergaulan di lingkungan sosial bahkan dalam media-media populer seperti TV, radio, dunia perfilman nasional, dan seringkali pula digunakan dalam bentuk pengumuman-pengumuman yang ditujukan untuk kalangan remaja oleh majalah-majalah remaja populer. Karena jamaknya, kadang-kadang dapat disimpulkan bahasa prokem adalah bahasa utama yang digunakan untuk komunikasi verbal oleh setiap orang dalam kehidupan sehari-hari,

Pengaruh bahasa pergaulan dalam perkembangan bahasa indonesia


Secara tidak langsung dan tanpa disadari perkembangan bahasa Indonesia dari waktu ke waktu mengalami perubahan. Kemunduran dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar kian terasa. Dengan munculnya bahasa gaul, bahasa Indonesia seperti terkalahkan. Penggunaan bahasa gaul di era gobalisasi ini menurunkan eksistensi bahasa Indonesia sehingga membuat para remaja semakin sulit mengetahui bahasa Indonesia yang baik dan benar. Maraknya penggunaan bahasa gaul yang digunakan dapat membuat orang-orang tak sadar bahwa bahasa itu bukan bahasa yang baik dan benar. Mereka akan beranggapan bahwa bahasa gaul itu menjadi hal yang biasa. Semakin terbiasa menggunakan bahasa gaul semakin terlupakan bahasa Indonesia. Eksistensi Bahasa Indonesia sekarang ini perlu dibina dan dimasyarakatkan oleh setiap warga negara Indonesia. Hal ini diperlukan agar bangsa Indonesia tidak terbawa arus oleh pengaruh budaya asing maupun bahasa gaul yang tidak sesuai dengan bahasa dan budaya bangsa Indonesia. Pengaruh alat komunikasi yang begitu canggih harus diwaspadai dan dihadapi dengan mempertahankan jati diri bangsa Indonesia. Semua ini menyangkut tentang kedisiplinan berbahasa nasional, pemakai bahasa Indonesia yang berdisiplin adalah pemakai bahasa Indonesia yang patuh terhadap semua kaidah atau aturan pemakaian bahasa Indonesia yang sesuai dengan situasi dan kondisinya. Disiplin berbahasa Indonesia akan membantu bangsa Indonesia untuk mempertahankan dirinya dari pengaruh negatif atas kepribadiannya sendiri.

Contoh-contoh dampak negative masuknya bahasa asing selain diatas antara lain:

1. Anak-anak mulai mengentengkan/menggampangkan untuk belajar bahasa Indonesia. 2. Rakyat Indonesia semakinlama kelamaan akan lupa kalau bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan. 3. Anak-anak mulai menganggap rendah bacaan Indonesia. 4. Lama kelamaan rakyat Indonesia akan sulit mengutarakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. 5. Mampu melunturkan semangat nasionalisme dan sikap bangga pada bahasa dan budaya sendiri. Contoh-Contoh pengaruh positif bahasa asing bagi perkembangan anak antara lain : 1. Mampu meningkatkan pemerolehan bahasa anak. 2. Semakin banyak orang yang mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris maka akan semakin cepat pula proses transfer ilmu pengetahuan 3. Menguntungkan dalam berbagai kegiatan (pergaulan internasional, bisnis, sekolah). 4. Anak dapat memperoleh dua atau lebih bahasa dengan baik apabila terdapat pola sosial yang konsisten dalam komunikasi, seperti dengan siapa berbahasa apa, di mana berbahasa apa, atau kapan berbahasa apa. 5. Anak akan melalui tahap perkembangan bahasa yang relatif sama meskipun setiap anak dapat mencapai tahap-tahap tersebut pada usia yang berbeda. 6. Sangat baik untuk kondisi fisik dan kemampuan kerja otak.

STRUKTUR BAHASA GAUL Struktur bahasa gaul Indonesia banyak diterbitkan dari bahasa Indonesia namun perbendaharaan katanya banyak bezanya. Kosa kata bahasa gaul Indonesia diperkaya oleh gabungan kata-kata terbitan atau pinjaman dari bahasa-bahasa asing seperti bahasa Hokkien, Inggeris, dan Belanda, dan juga bahasa-bahasa etnik setempat seperti bahasa Betawi, Sunda, dan Jawa. Adakalanya, katakata baru dicipta begitu sahaja tanpa asal-usul tertentu. Kebanyakan besar perbendaharaan kata bahasa gaul Indonesia dikembangkan dari bahasa Indonesia formal melalui beberapa cara [1], contohnya:

Penyengauan kata kerja aktif, pemendekan atau pengguguran awalan asal dan membubuh -in' di akhir kata: o memikirkan (pikir) mikirin o menanyakan nanyain (pengguguran "me-") Membubuh -in di akhir kata kerja transitif pasif: o diajari diajarin o dipukuli dipukulin membubuh ke- di awal kata kerja tidak transitif, menggantikan ter-: o tertangkap ketangkep o terpeleset (tergelincir) kepeleset Menggugurkan satu atau beberapa huruf dari kata: o habis abis o tahu tau

Menyingkatkan dua atau lebih perkataan menjadi satu: o terima kasih makasih o jaga image (jaga maruah diri) jaim Menggantikan a dengan e dalam sesetengah kata (pengaruh Jawa): o benar bener o pintar pinter o malas males Menyingkatkan diftong menjadi huruf ekasuku: o kalau kalo o pakai pak Pembubuhan/pengguguran konsonan bisu dan hentian glotis pada awal atau akhir kata: o pakai pak atau pakk o enggak nggak, ngga, gak, ga, kaga, ogah, wegah Menyingkat menjadi tiga huruf pertama sampil menyisip -ok- selepas huruf pertama (berakhir dengan konsonan terdekat jika huruf ketiga adalah vokal): o bapak bokap o jual jokul o brak Bokr

Sesetengah perkataan dipinjam dan diubahsuai begitu sahaja dari bahasa Inggeris, contoh:

sorry sori friend prn swear suer brother bruer atau bro sister suez atau sis

Banyak juga perkataan yang direka tanpa mengikut panduan-panduan tadi langsung, kebanyakan ada asal-usul tersendiri. Contohnya:

cuk - tidak peduli, meremeh-temehkan. Dipopularkan oleh penyanyu Indonesia, Ruth Sahanaya, dalam lagu hit 1980-an Astaga; mungkin sekali berasal dari perkataan Melayu cuai. do'i - teman lelaki/wanita. Berasal dari perkataan dia, diubah dengan memasukkan huruf 'o' di tengah dan menggugurkan huruf 'a'; kemudian diubah menjadi Doski. bokp - filem lucah. Berasal dari singkatan BF (Blue Film). BF disebut 'b-f', tapi dalam bahasa pasar disebut b-p. Perkataan bokep diperoleh dengan memasukkan sisipan -ok- di antara sebutan 'b-p'. jayus - basi, dangkal. Sepatutnya mencuit hati, tetapi tidak. jijay - jijik. Adakala disebut untuk meluahkan rasa amat jijik. Digunakan dalam ungkapan jijay bajay. Begitu juga dengan najis dan najis jaya (adakalanya diubah menjadi ji-ji (atau jijik) apabila menyapa kanak-kanak) ABG / abg = anak baru gede - dewasa muda. Satu contoh singkatan ungkapan diubah menjadi kata baru.

Evolusi kata

Pra-1980-an
Kumpul kebo dalam erti harfiahnya ialah berkumpul seperti kerbau. Istilah ini memaksudkan pasangan yang tinggal sebumbung di luar nikah.

1980-an
1980-an merupakan zaman "bahasa prokm". Pada masa itu, kata-kata sedemikian dibentuk dengan memasukkan sisipan -ok- selepas konsonan pertama sesuatu perkataan baku lalu menggugurkan suku kata terahkur, maka lahirnya perkataan serba baru. Istilah "prokem" itu juga berbentuk prokem kerana dibentuk dengan membubuh -ok- ke dalam preman lalu menggugurkan -an. Contohnya, perkataan bapak dipecah menjadi b-ok-apak dan digugurkan -ak di akhrinya, maka terbentuknya bokap yang masih digunakan bagi erti "bapa" sehingga hari ini. Perkataan sekolah pula diubah menjadi skokul, namun kata ini lama-kelamaan menjadi lapuk dan tidak digunakan lagi sejak 1990-an, sebaliknya berubah menjadi sekul atau skul, yang mirip perkataan Inggeris school. Perkataan-perkataan lain seperti mmbl, kc, dan sifat ayat Nih y, dan teriakan Alamakjan! turut muncul pada dekad yang sama.

BAB III PENUTUP


KESIMPULAN

Bahasa gaul Indonesia memaksudkan bentuk-bentuk bahasa bahasan yang ditutur di kawasankawasan bandar di Indonesia. Biarpun asal-usulnya amat jelas, bahasa gaul Indonesia berbeza sekali daripada bahasa Indonesia baku dari segi bentuk kata dan tatabahasa. Istilah bahasa gaul dicipta pada hujung 1990-an yang mana perkataan "gaul" membawa erti sosial atau bergaya. Sebelum ini pernah terbitnya istilah bahasa prokem pada awal 1980-an yang bermaksud bahasa samseng. Prokem ialah bentuk slanga perkataan preman yang berasal dari bahasa Belanda. Bahasa gaul Indonesia ditutur secara meluas dalam perbualan seharian, persekitaran sosial, media popular dan sesetengah bahan bacaan remaja dan majalah budaya pop. Bagi yang tinggal di kawasan bandar Indonesia, bahasa gaul Indonesia sering dijadikan bahasa perhubungan utama dalam kehidupan seharian. Walaupun agak janggal jika bertutur dalam bahasa formal, namun penggunaan "bahasa Indonesia yang baik dan benar" meluas dalam media, lembaga kerajaan, sekolah, universiti, tempat kerja, di kalangan golongan atasan dan bangsawan Indonesia dan situasi-situasi formal yang lain. Bahasa gaul Indonesia adalah fenomena bahasa yang sentiasa berevolusi, kerana perbendaharaan katanya amat berbeza daripada bahasa Indonesia mahupun bahasa Malaysia dan juga banyak sekali kata-kata baru, baik asli mahupun asing, yang agak senang diterapkan dalam perbendaharaan kata yang makin luas. Apapun, seperti bahasa-bahas lain, peredaran zaman menyebabkan sesetengah kata menjadi jarang digunakan ataupun lapuk kerana dianggap ketinggalan zaman atau tidak lagi menepati trend terkini.