Anda di halaman 1dari 8

Pengertian hukum perdata

Menurut Subekti, : Hukum perdata dalam arti luas meliputi semua hukum privat materiil, yaitu segala hukum pokok yang mengatur kepentingankepentingan perseorangan . (Subekti, 1980, hlm. 9). Sri Soedewi Masjchoen Sofwan mengatakan, Hukum Perdata adalah hukum yang mengatur kepentingan antara warga negara perseorangan yang satu dengan warga negara perseorangan yang lain . (Sofwan, 1975, hlm. 1) Wirjono Prodjodikoro mengatakan, Hukum Perdata adalah suatu rangkaian hukum antara orang-orang atau badan hukum satu sama lain tentang hak dan kewajiban . (Prodjodikoro, 1975, hlm. 7 11). Sejarah Berlakunya KUH Perdata Menurut buku Riduan Syahrani, S.H. yang berjudul Seluk Beluk dan Asas-Asas Hukum Perdata bahwa terbentuknya Kitab UndangUndang Hukum Perdata tidak bisa dipisahkan dengan sejarah terbentuknya Kitab Undang-undang Hukum Perdata Belanda. Dan sejarah terbentuknya Kitab Undang-undang Hukum Perdata Belanda tidak bisa dipisahkan dengan terbentuknya Code Civil Perancis. Hukum Perancis pun tidak bisa dipisahkan dari hukum yang berasal dari kerjaan romawi. Sejarah mencatat bahwa kerajaan Romawi mempunyai peradaban sangat tinggi di masanya Maka tidak mengherankan apabila pada masa itu Kerajaan Romawi telah mempunyai hukum dan peraturan yang berlaku bagi warganya. Salah satu wilayah yang pernah menjadi warganya (terjajah) adalah negara Perancis, maka warga Perancis juga harus menggunakan hukum yang berasal dari kerajaan Romawi. Setelah zaman kerajaan berakhir dan Perancis membentuk negara sendiri, pada tanggal 21 Maret 1804 hukum di negara Perancis dikodifikasikan dengan nama Code Civil des Francais. Kemudian tahun 1807, kodifikasi ini diundangkan lagi dengan nama Code Napoleon. Sewaktu Perancis menduduki Belanda, Code Napoleon ini berlaku pula sebagai kitab undang-undang resmi di negara Belanda. Setelah merdeka dan Perancis meninggalkan Belanda, Belanda juga mengkodifikasi hukum yang berasal dari Code Napoleon dan Hukum Belanda Kuno. Pada tahun 1838, pemerintah kerajaan Belanda telah mengkodifikasikan BW (Bugelijk Wetboek) atau Kitab Undang-Undang Hukum Sipil dan WvK (Wetboek Koophandel) atau Kitab Undang-Undang Hukum Dagang. Tahun 1839, satu tahun sejak berlakunya Burgerlijk Wetboek (BW) di Belanda, Raja Belanda membentuk panitia yang diketuai oleh Mr. Paul Scholten seorang sarjana hukum Belanda, untuk memikirkan bagaimana caranya agar kodifikasi di negara Belanda dapat pula dipakai untuk daerah jajahan, yaitu Hindia Belanda dalam hal ini Indonesia. Setelah panitia Scholten ini bubar, MA di Hindia Belanda, waktu itu Mr. H.L. Wichers, ditugaskan membantu Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk memberlakukan Kitab Hukum yang baru itu, sambil memikirkan pasal-pasal yang mungkin masih perlu diadakan. Semua peraturan yang telah dirumuskan tersebut kemudian dengan Pengumuman Gubjen Hindia Belanda tanggal 3 Desember 1847, dinyatakan berlaku mulai pada 1 Mei 1848 di Hindia Belanda dalam hal ini Indonesia. Pemberlakuan tersebut berdasarkan azas konkordansi yang diatur dalam Pasal 131 IS (Indische Staatsregeling), yang mengemukakan bahwa bagi setiap orang Eropah yang ada di Hindia Belanda diberlakukan hukum perdata yang berlaku di Belanda. Kemudian BW mulai berlaku tanggal 1 Oktober 1917 kepada golongan Bumiputra dan golongan Timur Asing, dengan sukarela dapat menundukkan dirinya kepada BW dan KUH Dagang baik sebagian maupun untuk seluruhnya. Berdasarkan azas konkordansi, maka kodifikasi hukum perdata Belanda menjadi contoh bagi kodifikasi hukum perdata Eropa di Indonesia. Pada masa penjajahan Jepang, Jepang tidak membawa hukum baru bagi negara jajahannya. Pemerintah Militer Jepang mengeluarkan UU No. 1 Tahun 1942 yang dalam pasal 2 menetapkan bahwa semua undang-undang, di dalamnya termasuk KUHPer Hindia Belanda, tetap berlaku sah untuk sementara waktu. Setelah proklamasi kemerdekaan yang mendadak, Pemerintah Indonesia belum membuat peraturan hukum yang baru mengenai hukum perdata dan pidana. Oleh sebab itu, setelah merdeka Indonesia masih menggunakan Hukum zaman Hindia Belanda yang dikodifikasikan. Sesuai UUD 1945 Pasal II Aturan Peralihan, segala badan negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut undang-undang. Setelah itu, kembali ke UUD 1945 berdasarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Indonesia masih memberlakukan KUHPerdata zaman Hindia Belanda yang disesuaikan sedikit demi sedikit hingga saat ini. Jadi berdasarkan uraian tentang sejarah berlakunya KUH Perdata dapat disimpulkan bahwa unsurunsur KUH Perdata Indonesia berasal dari : hukum Romawi, hukum Prancis kuno, dan hukum Belanda kuno.

Memuat peraturan-peraturan hukum yang mengatur tentang seseorang manusia sebagai pendukung hak dan kewajiban (subyek hukum),tentang umur,kecakapan untuk melakukan perbuatan hukum,tempat tinggal(domisili)dan sebagainya.

Hukum Keluarga (familierecht)

Memuat peraturan-peraturan hukum yang mengatur hubungan hukum yang timbul karena hubungan keluarga / kekeluargaan seperti perkawinan,perceraian,hubungan orang tua dan anak,perwalian,curatele,dan sebagainya.

Hukum Harta Kekayaan (vermogenrecht)

Memuat peraturan-peraturan hukum yang mengatur hubungan hukum seseorang dalam lapangan harta kekayaan seperti perjanjian,milik,gadai dan sebagainya.

Hukum Waris(erfrecht)

Memuat peraturan-peraturan hukum yang mengatur tentang benda atau harta kekayaan seseorang yang telah meninggal dunia,dengan perkataan lain:hukum yang mengatur peralihan benda dari orang yang meninggal dunia kepada orang yang masih hidup.

TEORI TEORI YURIDIS BADAN HUKUM. Teori Fiksi oleh von Savigny. Badan Hukum itu semata-mata buatan negara saja.kecuali negara,badan hukum itu hanya suatu fiksi saja yakni sesuatu yang sesungguhnya tidak ada tetapi orang menghidupkannya dalam bayangannya untuk dapat menerangkan sesuatu hal. Teori Kekayaan bertujuan(zweekvermogen) oleh Brinz. Hanya manusia saja yang dapat menjadi subjek hukum. Tapi tak dapat disangkal adanya hak-hak atas sesuatu kekayaan sedangkan tiada satupun yang menjadi pendukungnya. Jadi ada hak dengan tiada subjeknya. Kekayaan yang dianggap milik suatu badan hukum sebenarnya milik suatu tujuan. Teori organ oleh Otto von Gierke. Badan hukum itu adalah suatau jelmaan yang sungguh-sungguh ada di dalam pergalan hukum,yang membentuk kemauannya dengan perantaraan alat-alat (organ)yang ada padanya, seperti manusia. Pendeknya berfungsinya badan hukum dipersamakan dengan berfungsinya manusia. Teori Milik Bersama(Propriete collective) oleh Planiol dan Molengraaff. Hak dan Kewajiban badan hukum itu pada hakikatnya adalah hak kewajiban anggota bersam-sama.Maka dari itu badan hukum adalah suatu konstruksi yuridis saja. Pada hakikatnya badan hukum itu sesuatu yang abstrak.

Coorporasi adalah kumpulan manusia yang mempunyai organisasi tertentu dan mempunyai tujuan tertentu yang bertindak dalam lalu lintas hukum sebagai satu kesatuan. Corporasi adalah Badan Hukum yang mempunyai anggota tapi mempunyai hak dan kewajiban sendiri. Yayasan adalah tiap kekayaan (vermogen) yang tidak merupakan kekayaan orang atau kekayaan badan yang diberi tujuan tertentu. Yayasan adalah Badan Hukum yang tidak mempunyai anggota. Dalam pergaulan hukum yayasan itu bertindak sebagai pendukung hak dan kewajiban tersendiri, yang dilaksanakan oleh pengurus (bestuur)nya untuk menyelenggarakan tujuannya.

Syaratnya :

a. adanya kekayaan terpisah; b. adanya tujuan tertentu; c. adanya kepentingan sendiri; d. adanya organisasi yang teratur. (Rido, 1977:56)

A.

Sistematika Hukum Perdata menurut ilmu pengetahuan

Hukum Perorangan atau Badan Pribadi (personenrecht)

PENGERTIAN Keluarga ialah kesatuan masyarakat kecil yang terdiri dari suami istri dan anak yang berdiam dalam suatu rumah tangga. Hukum keluarga ialah mengatur hubungan hukum yang bersangkutan dengan kekeluargaan sedarah dan perkawinan. Jauh dekat hubungan darah mempunyai ati penting dalam perkawinan, pewarisan dan perwakilan dalam keluarga. Kekeluargaan disini terdapat dua macam, yang pertama di tinjau dari hubungan darah dan yang kedua ditinjau dari hubungan perkawinan. Kekeluargaan ditinjau dari hubungan darah atau bisa

diesebut dengan kekeluargaan sedara ialah pertalian keluarga yang terdapat antara beberapa orang yang mempunyai keluruhan yang sama. Kekelurgaan karena perkawinan ialah pertalian keluarga yang terdapat karena perkawinan antara seseorang dengan kelurga sedarah dari istri (suaminya). B. KARAKTER ATAU CORAK HUKUM KELUARGA 1. Corak komunal atau kebersamaan terlihat apabila warga desa melakukan kerja bakti atau gugur gunung, nampak sekali adanya kebiasaan hidup bergotong royong, solidaritas yang tinggi atau saling bantu membantu. Rasa solidaritas yang tinggi menyebabkan orang selalu lebih mengutamakan kepentingan umum dari pada kepentingan diri sendiri. Bahkan pada suku bangsa Jawa terdapat pepatah adat yang dengan tepat menggambarkan corak komunal yaitu dudu sanak dudu kadang, ning yen mati melu kelangan ( bukan anggota keluarga, bukan saudara sekandung, tetapi kalau ia meninggal merasa turut kehilangan ). 2. Corak religio magis terlihat jelas sekali pada upacara upacara adat dimana lazimnya diadakan sesajen sesajen yang ditujukan pada roh roh leluhur yang ingin diminta restu bantuannya. Juga acara selamatan pada setiap kali menghadapi peristiwa penting seperti : kelahiran, khitanan, perkawinan, mendirikan rumah, pindah rumah, sampai kematian. 3. Corak konkret tergambar dalam kehidupan masyarakat bahwa : pikiran penataan serba konkrit dalam realitas kehidupan sehari hari menyebabkan satunya kata dengan perbuatan ( perbuatan itu betul betul merupakan realisasi dari perkataannya ). Misalnya hanya memakai jual apabila nyata nyata terlihat adanya tindakan-tindakan pembayaran kontan dari si pembeli serta penyerahan barang dari si penjual. 4. Corak visual atau kelihatan menyebabkan dalam kehidupan sehari hari adanya pemberian tanda tanda yang kelihatan sebagai bukti penegasan atau peneguhan dari apa yang telah dilakukan atau yang dalam waktu dekat akan dilakukan. C. FUNGSI DAN TUJUAN KELUARGA 1. Mengatur dan mengetahui hubungan hukum dengan kekeluargaan saudara dan perkawinan. 2. Mengetahui dan memahami sumber hukum keluarga yakni sumber hukum keluarga tertulis dan sumber hukum keluarga yang tidak tertulis serta ruang lingkup hukum keluarga. BAB IIIPEMBAHASAN A. SUMBER HUKUM KELUARGA 1. Sumber hukum keluarga tertulis a. Kaidah kaidah hukum yang bersumber dari undang undang, yurispondensi dan traktat. b. KUHPerdata c. Peraturn perkawinan campuran d. UU No.32 / 1954 tentang pencatatan nikah, talak dan rujuk 2. Sumber hukum keluaga yang tidak tertulis : Kaidah kaidaah yang timbul, tambah dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. B. RUANG LINGKUP HUKUM KELUARGA Ruang Lingkup Hukum Keluarga ini ada tiga bagian : a. Perkawinan Perkawinan ialah eksistensi institusi atau melegalkan hubungan hukum antara seorang laki laki dengan perempuan. Tujuannya adalah membetuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Tuhan Yang Maha Esa. Masalah perkawinan, ketentuan secara rinci telah ditur dlam undang undang nomor 1 tahun 1974 yang dilaksanakan dengan peraturan pemerintah no. 9 tahun 1975. Dalam undang undang itu ditetapkan perkawinannya sendiri. Akibar perkawinan dan tentag perkawinan campuran. Pasal 1 menyatakan bahwa perkawinan ialah ikatan lahir batin antara pria dan wanita dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga. Sahnya perkawinan itu kalau memenuhi syarat passal 2 dimana pasal ini menunjukkan bahwa perkawinan di Indonesia tidk semata mata berkenaan dengan hanya hubungan keperdataan kodrati pribadi. Dalam pasal itu juga turut cmpur agama atau kepercayaan individu bertujuan melaksanakan ibadt agamanya masing masing. Adapun syarat syarat usia perkawinan itu antara lain : - Pihak priaa sudah mencapai usia 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai 16 tahun - Penyimpangan dari ketentuan itu harus mendapat dispensisasi pengadilan atau pejabat yang ditunjuk oleh kedua orang tua para pihak. - Kalau orang tuanya telah meninggal dunia, keluarga terdekat dari gadis keturunan ke atas yang diminta dispensasinya b. Putusanya perkawinan

Pada suatu waktu dapat terjadi putusnya hubungan, baik tidak sengaja maupun sengaja dilkukan karena sesuatu sebab yang mengganggu berlanjutnya hubugan itu. Perkawinan dapat putus, karena : a. Kematian b. Perceraian c. Atas keputusan pengadilan Putus karena kematian merupakan suatu proses terakhir dalam melaksanakan kodrat manusia. Namun, putus karena perceraian dan atau atas pengadilan merupakan suatu sebab yang dicari cari. Selain dari hal hal tersebut di atas, yang perlu diperhatikan dalam masalh perkawinan berkenaan dengan adanya Pasal 57 undang undang nomor 1 tahun 1974 menyatakan bahwa perkawinan campuran ialah perkawinan dua orang Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegarran Indonesia. Ketentuan pasal ini membedakan adanya hukum yang berbeda kewarganegaraan. Kalau ditinjau dari Hukum Tata negara , Undag nomor 1 tahun 1974 ini mulai berlaku sejak di undang pada tanggal 1 april 1975. Berarti, sejak saat itu bagi seorang warga negara Indonesia yang mau melaksanakan perkawinan dengan seorang asing, mereka memaasuki campuran. Adapun syarat syarat perkawinan itu sama yang di cantumkan dalam syarat syarat perkawinan biasa. Hanya saja, kedudukan kewarganegaraan akan dapat berubah seperti yang di tetapkan dalam undangan undangan kewarganegaraannya akan dapat berubah seperti yang ditetapkan dalam undang undang kewarganegaraan nomor 62 tahun 1958. c. Harta benda dalam perkawinan. Secara luas hukum keluarga mencakup hal hal sebagai berikut : 1. Keturunan ( Pertalian Darah ) Soerojo Wignjodipoero, S.H., ( 1990 ; 108 ) menyebutkan sebagai berikut: Keturunan ( kewangsaan ; Prof. Djojodigoeno, S.H ) adalah ketunggalan leluhur artinya ada perhubungan darah orang yang seorang dengan orang lain. Dua orang atau lebih yang mempunyai hubungan darah. Jadi yang tunggal leluhur adalah keturunan yang seorang dari orang lain . Pada umumnya kita melihat adanya hubungan hukum yang didasarkan kepada hubungan kekeluargaan ( kekerabatan ) antara orang tua dengan anak anaknya. Juga kita melihat pada umumnya ada akibat akibat hukum yang berhubungan dengan keturunan (pertalian darah) bergandengan dengan ketunggalan leluhur. Akibat akibat hukum ini tidaklah semua sama diseluruh daerah. Akan tetapi meskipun akibat akibat hukum yang berhubungan dengan ketunggalan leluhur ini diseluruh daerah tidak sama, namun dalam kenyataannya terdapat suatu pandangan yang sama terhadap masalah keturunan ini di seluruh daerah di Indonesia yaitu: Bahwasanya keturunan adalah merupakan unsur essensial serta mutlak bagi sesuatu Clan ( Suku ) atau kerabat yang menginginkan dirinya tidak punah, yang menghendaki supaya ada generasi penerusnya . Oleh karena itu, maka apabila ada sesuatu Clan atau Suku ataupun kerabat merasa khawatir akan menghadapi kenyataan tidak memiliki keturunan, Clan atau Suku ataupun kerabat ini pada umumnya akan melakukan pemungutan anak ( ADAPSI ) untuk menghindari kepunahannya atau bahkan berdasarkan persetujuan istrinya seorang suami akan menikah lagi untuk mendapatkan keturunannya. Individu sebagai keturunan ( anggota keluarga ) dari suatu keluarga mempunyai hak hak dan kewajiban tertentu yang berhubungan dengan kedudukannya dalam kehidupan suatu keluarga untuk melakukan perbuatan - perbuatan dilingungan masyarakat antara lain misalnya : a. Boleh ikut menggunakan nama keluarga b. Boleh ikut menggunakan dan berhak atas kekayaan keluarga c. Wajib saling pelihara memelihari dan saling bantu membantu d. Dapat saling mewakili dalam melakukan perbuatan dengan pihak ketiga dan lain sebagainya.

SIFAT DAN KEDUDUKAN KETURUNAN Dalam hal hukum adat kekeluargaan maka apabila dilihat dari keberadaan keturuna, maka sifat dan kedudukan keturunan dapat bersifat : a. Lurus Apabila orang yang satu itu langsung dari keturunan yang lain, mislnya antar kakek, bapak, dengan anak. Antara kakek, bapak dan anak disebut lurus kebawah kalau dilihat dari keturunan kakek bapak anak. Sedangkan disebut lurus keatas apabila rangkaiaannya dilihat dari anak bapak kakek. b. Menyimpang atau bercabang Apabila antara kedu orang atau lebih di anggap terdapat ketunggalan leluhur, maka dapat dilihat dari

faktor faktor sebagai berikut, misalnya bapak ibunya sama ( saudara kandung ) atau sekakek, senenek, dan sebagainya. 2. Hubungan anak dengan orang tuanya Anak kandung memiliki kedudukan yang penting di dalam setiap masyarakat adat. Di samping oleh orang tuanya anak itu dilihat sebagai generasi penerus anak itu juga di pandang sebagai wadah di mana semua harapan orang tuanya di kelak kemudian hari wajib di tumpahkan juga di pandang sebagai pelindung orang tuanya kelak kalau orang tuanya itu sudah tidak mampu lagi secara fisik untuk mencari nafka sendiri. Orang karenanya maka sejak anak itu masih di dalam kandungn hingga ia dilahirkan, bahkan kemudian dalam pertumbuhan selanjutnya dalam masyarakat adat terdat banyak upacara upacara adat yang sifatnya religio magis yang penyelenggaraannya berurutan mengikuti pertumbuhan fisik anak tersebut yang semua itu bertujuan untuk melindungi ana beserta ibu yang mengandung serta melhirkannya dari segala bahaya dan gangguan-gangguan, serta kelak setelah anak dilahirkan agar dapat menjelma menjadi seorang anak dapat memenuhi harapan orang tua yang melahirkan dn mengurusnya. Ada beberapa contoh kebiasaan masyarakat di Jawa Barat melakukan upacara upacara sehubungan dengan yang di atas terutaa pada masyarakat adat priangan yang secara kronologis selalu melakukan upacara upacara sebagai berikut : a. Ketika anak masih dalam kandungan b. Pada saat anak lahir c. Pada saat tali ari ari putus d. Setelah anak berumur 40 hari e. Pada hari hari kelahiran. Menurut hukum adat, anak kandung sah adalah anak yang dilahirkan dalam perkawinan yang sah, mempunyai Ibu yaitu wanita yang melahirkannya dan mempunyai Bapak yaitu suami dari wanita yang melahirkannya. Hal ini adalah merupakan keadaan yang norml dan sah. Namun, sayang ternyata dalam kenyataannya di masyarakat kita banyak terjadi kejadian dimana kelahiran seorang anak tidak normal atau tidak sah, di antaranya adalah : a. Anak lahir di luar perkawinan b. Anak yang lahir karena hubungan zinah c. Anak lahir setelah percaraian. 3. Kekuasaan orang tua Masalah kekuasaan orang tua yang berupa hak dan kewajibannya menurut pasal 45 UU nomor 1 tahun 1974 dinyatakan bahwa : Kedua orang tua wajib untuk memelihara anak anak mereka dengan sebaik baiknya. Kewajiban itu berlaku sampai anaknya, menikah atau dapat berdiri sendiri walaupun hubungan hukum perkawinan antara kedua orang tuanya telah putus. Kalau seorang anak telah dewasa, menurut kemampuannya ia wajib memelihara orang tua dan keluarga dalam garis lurus keatas kalua memerlukan ke atas ( pasal 46 ). Seorang anak yang belum mencapai 18 tahun atau belum pernah menikah, dirinya berada dalam kekuasaan orang tua. Orang tua mewakili anak mengenai segala perbuatan hukum kecuali perbuatan hukum yang memerlukan penyelesaian di pengadilan. Pasal 48 menyatakan bahwa Orang tua tidak di perbolehkan atau menggadaikan barang barang tetap yang dimiliki anaknya yang belum berumur 18 tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan kecuali apabila kepentigan anak itu menghendakinya. Salah seorang atau kedua orang tua dapat dicabut kekuasaannya terhadap anak atas permintaan : a. Orang tua yang lain ( dalam perceraian ) b. Keluarga anak dalam garis lurus keatas c. Saudara kandung yang telah dewasa. d. Pejabat yang berwenang dengan keputusan pengadilan, karena : 1) Sangat melalaikan kewajiabn terhadap anak, dan 2) Berkelakuan buruk sekali. Walaupun telah dicabut kekuasaanya, maka orang tua masih tetap berkewajiban untuk memberi biaya pemeliharaan kepada anak anaknya ( pasal 49 ). 4. AKIBAT YANG TIMBUL ANTARA ANAK DENGAN ORANG TUANYA Hubungan anak dengan orang tua menimbulkan akibat-akibat hukum tertentu antara lain: a. Adanya larangan antara orang tuanya dengan anak . b. Adanya kewajiban sling memelihara antara orng tua dengan anakanya (hak alimentasi). Didalam hukum adat hubungan hukum antara anak dengan orang tuanya khususnya dengan ayahnya dapat diputuskan dengan perbuatan hukum tertentu, misalnya anak tersebut dibuang oleh bapaknya. Perbuatan ini di Bali disebut Pegat Mapianak dan pada orang Batak Angkola disebut mengalip alip, demikian pula dengan hukum adat ada kemungkinan bahwa seorang anak diserahkan pada orang lain untuk dapat pemeliharaan. Yang dimikian dinamakan sebagai anak piarah. Kemudian menurut hukum adat di Jawa yang bersifat

Parrental kewajiban membiayai penghidupan dan pendidikan seorang anak yang belum dewasa tidak semata mata dibebankan kepada ayah anak tersebut akan tetapi juga dituskan kepada ibunya. Apabila salah dari orang tuanya tidak menepati kewajibannya hal itu dapat dituntut mengennai biaya selama anak tersebut masih belum dewasa ( putusan mahkama agung tanggal 03 september 1958 Reg.no.216 K / Sip / 1958 ). Ada pula kebiasaan mempercayakan pemeliharaan anaknya itu kepada orang lain. Anak yang pengasuhnya di percayakan kepada orang lain demikian ini setiap waktu dapat di ambil kembali oleh orang tuanya, lazimnya di Jawa dan beberapa daerah lainnya orang lain disebut adalah seorang warga keluuaga yang berada, dan sebab pengasuhnya, pengasuhan anak dipercayakan kepada orang lain itu pada umumnya dikarenakan orang tua yang bersangkutan terlalu sibuk, ibu bapaknya atau kurang mampu untuk memenuhi kewajibannya sebagai orang tua kepada anaknya berupa membebaskan anak hingga dewasa. 5. HUBUNGAN ANAK DENGAN KELUARGANYA Pada umumnya hubungan anak dengan keluarganya ini sangat tergantung dari ke adaan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Seperti yang kita ketahui di indonesia terdapat persekutuanpersekutuan yang susunan masyarakatnya berdasarkan 3 (tiga) macam garis keturunan, yaitu : a. Garis keturunan bapak (PATILINEAL) b. Garis ketrunan ibu ( matrilinel ) c. Garis keturunan ibu bapak ( parental ) Dalam persetuan hukum yang masyarakatnya menganut garis keturunan ibu bapak (Parental) atau disebut juga masyarakat Bilateral hubungan anak dengan pihak bapak maupun ibunya adalah sama eratnya ataupun sama derajatnya, sehingga dengan susunan bilateral ini maka mengenai larangan perkawinan, warisan, kewajiban memelihara dan lain lain hukum terhadap kedua belah pihak keluarga adalah sama. Lain halnya dalam persekutuan hukum yang sifatnya uni lateral ( baik patrilinear maupun matriinear ) hubungan hukum dari pihak ibu maupun dari bapak lebih penting atau lebih tinggi derajatnya. Akan tetapi dalam hal ini bukan berarti bahwa hubungan kekeluargaan dari salah atu pihak tidak di akui, masalahnya hanya berhubungan dengan derajat saja yang berada secara graduasi. 6. ANAK TIRI Anak tiri adalah anak kandung bawaan Istri Janda atau bawaan dari Suami Duda yang mengikat tali perkwinan. Sedangkan di dalam Perkawinan Leviraat ( Ganti Suami ), (Pareakhon, Mangabia Batak Toba), ( Lakoman Batak Karo ), (Anggau-Sumatera Selatan), ( Nyikok, Semalang Lampung ) ( dimana seorang isteri kawin dengan saudara suami yang telah meninggal ), kedudukan Anak tiri di sini tetap berkedudukan sebagai anak dari bapak dari ibu yang melahirkannya. Begitu juga apabila terjadi kawin duda bernak dengan saudara isteri yang telah meninggal atau kawin Sororat ( Ganti Isteri ), ( Ganchi Habu Batak Karo ), (Singkat Rere-Batak Toba), ( Nungkat, Nuket-Lampung ), ( Karang Wulu, Medun Ranjang Jawa ) kedudukan anak tetap sebagai anak dari ayah yang isterinya terdahulu melairkan. Di masyarakat Jawa pun yan Parental anak tiri adalah akhli Waris dari orang tua yang menyebabkan kelahirannya, kecuali anak anak tiri tersebut di angkat oleh Bapak Tiri sebagai penerus keurunannya ( Mulang Djurai Rejang ) ( Ngukup Anak Suku Mayan Siung Dayak ). 7. MEMELIHARA ANAK YATIM ( PIATU ) Apabila di dalam suat keluarga salah satu dari orang tuanya baik bapak atu ibunya tidak ada lagi , maka apabila masih ada anak-anak yang belum dewasa dalam susunan keturunan bapak ibu (parental),maka orang tuanya yang masih hiduplah yang memelihara anak-anaknya tersebut lebih lanjut.dan jika keduanya tidak ada lagi maka yang memelihara anak-anak yang di tinggalkan adalah salah satu dari keluarga pihak bapak atua pihak ibu yang terdekat misalnya, dalam kebiasaan adalah keadaannya yang paling memungkinkan untuk keperluan itu dan sebaiknya, anak-anak yang sudah besar (dewasa) pada umumnya memilih sendiri ingin di pelihara oleh pihak siapa. Lain halnya dengan keluarga yang menganut sistem susunan masyarakat Unilateral ( baik Patrilinieal maupun matrilineal ) adalah : a. Daerah Minangkabau yang menganut sistem kekeluargaan Matrilineal, Jika bapaknya yang meninggl maka ibunya meneruskan kekuasaan terhadap anak-anaknya yang masih belum dewasa itu. b. Daerah Tapanuli yang menganut sistem Patrilineal jika bapaknya meninggal dunia, Ibunya meneruskan memelihara anak anaknya dalam

lingkungan bapaknya. Apabila janda tersebut ingin pulang ( kembali ) ke lingkungan keluarganya sendiri atau ingin menikah lagi maka ia dapat meninggalkan lingkungan keluarga almahum suaminya tetapi anakanaknya tetap tinggal dalam kekuaaan keluarga almarhum suaminya. 8. MENGANGKAT ANAK ( ADOPSI ) Jika dari suau perkawinan tidak di dapatkan keturunan yang akan jadi penerus silsilah orang tua dan kerabat maka keluarga tersebut di anggap putus keturunan.apabila dri seorang istri tidak terdpat keturunan maka para anggota kerabat dapat mendesak agar si suami mencari wanita lain atau mengangkat anak kemanakan dari anggota kerabat untuk menjadi penerus kehidupan keluarga bersangkutan. Menurut Soerojo Wignjodopoero, S.H., mengangkat anak adalah sebagai berikut : Mengangkat anak atau Aborsi adalah suatu perbuatan pengambilan anak oang lain ke dalam lingkungan keluarga sendiri demikian rupa sehingga hubugan antara anak yang mengambil anak dengan anak yang diambil timbul suatu hubungan hukum kekeluargaan yang sama seperti hubungan yang ada diantara orang lain dengan kandungannya sendiri. Sedangkan menurut Prof. H. Hilman Hadikusuma, S.H. (1995 : 149) menyebutkan sebagai berikut : Anak Angkat adalah anak orang lain yang di anggap anak sendiri oleh orang tua angkat dengan resmi menurut hukum adat setempat dikarenakan tujuannya untuk melangsungkan keturunan dan atau pemeliharaan atas harta kekayaan rumah tangga. 9. PERWALIAN Masalah perwalian diatur dalam pasal 50, 51, 52, 53, dan 54 undangan undangan nomor 1 tahun 1974. Seorang anak yang belum mencapai usia delapan belas tahun atau belum menikah, yang tidak berada di bawah kekuasaan orang tua, berada dibawah kekuasaan wali. Kekuasaan wali dapat dicabut dengan keputusan pengadilan, karena : a. Sangat melalaikan kewajiban dan b. Berkelakuan buruk sekali. 10. PENDEWASAAN Pendewasaan merupakan suatu pernyataan bahwa seseorang yang belum mencapai usia dewasa atau untuk beberapa hal tertentu dipersamakan kedudukan hukumnya dengan seorang yang telah dewasa. Pendewasaan itu dapat diberikan atas keputusan pengadilan bagi yang telah berusia delapan belas tahun. 11. PENGAMPUAN Seorang yang telah dewasa dan sakit ingatan, menurut undang undang harus diletakkan dibawah pengampuan ( Curatele ). Yang berhak meminta seseorang dibawah pengampuan, karena gila : a. Setiap anggota keluarga b. Suami atau istri c. Jaksa, kalau orang itu dapat membahayakan umum. Sementara itu, yang berhak meminta pengampuan bagi orang yang kebrosan ialah : a. Anggota keluarga yang angat dekat b. Suami atau istri Permintaan itu harus di ajukan kepada pengadilan. Kedudukan seseorang yang berada dibawah pengampuan adalah sama dengan seseorang yang belum dewasa. Akan tetapi, seorang karena keborosan dirinya masih dapat membuat surat wasiat serta menikah.

Untuk kawin di perlukan izin dari sementara orang ( pasal 35-49 ).

2. Syarat Materiil Relative ialah mengenai ketentuan-ketentuan yang merupakan larangan bagi seseorang untuk kawin dengan orang tertentu.ketentuanketentuan ini ada tiga macam:

Larangan untuk kawin dengan orang yang sangat dekat didalam kekeluargaan, sedarah atau karena perkawinan.

Larangan untuk kawin dengan orang yang mana orang tersebut pernah melakukan zinah.

Larangan untuk memperbaharui perkawinan setelah adanya perceraian jika belum lewat waktu 1 tahun. 2. Syarat Formil

Syarat ini dapat dibagi dalam syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum dilangsungkan perkawinan, dan syarat-syarat yang harus dipenuhi berbarengan dengan dilangsungkannya perkawinan itu.

1. Syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum dilangsungkan perkawinan adalah:

Pemberitahuan tentang maksud untuk kawin.

Pengumuman tentang maksud untik kawin.

2. Syarat-syarat yang harus dipenuhi berbarengan dengan dilangsungkannya perkawinan, syarat-syarat ini diatur dalam pasal 71-82 yang antara lain menetukan:

Calon suami istri harus memperlihatkan akta kelahirannya masing-masing.

Jika perkawinan itu untuk kedua kalinya, harus diperlihatkan akta perceraian, akta kematian atau didalam hal ketidak hadiran suami ( istri ) yang dahulu.

Bukti bahwa pengumuman kawin telah berlangsung, tanpa pencegahan.

Dispensasi untuk kawin, didalam dispensasi itu diperlukan jika ada perselisihan pendapat antara pegawai catatan sipil dan calon suami istri tentang soal lengkap atau tidaknya surat-surat yang diperlukan untuk kawin. B. Putusnya Perkawinan

Ialah berakhirnya perkawinan yang dibina oleh pasangan suami istri yang disebabkan oleh kematian, perceraian, atas putusan pengadilan. Menurut BW juga disebabkan tidak hadirnya suami istri selama 10 tahun, dan diikuti dengan perkawinan baru.

Alasan putusnya perkawinan:

Salah satu pihak berbuat zina, pemabuk, penjudi yang sukar untuk disembuhkan.

Salah satu pihak meninggalkan selama 2 tahun berturut-turut tanpa izin dan tanpa alasan yang sah atau diluar kemampuannya.

Salah satu pihak cacat badan atau penyakit sehingga tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai istri.

1. Syarat Materiil Dan lain sebagainya. Syarat Materil ada dua syarat Materiil Absolute dan syarat Materiil Relative.

Akibat putusnya perkawinan:

1. Syarat Materiil Absolute ialah syarat yang mengenai pribadi seorang yang harus dilakukan untuk perkawinan pada umumnya. Syarat ini adalah sebagai berikut:

Baik suami istri tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya.

Monogamy

Bapak bertanggung jaawab atas biaya pemeliharaan dan pendidikan anakanaknya.

Persetujuan antara kedua calon suami istri.

Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan kepada istrinya. C. Harta Benda Dalam Perkawinan

Orang yang hendak kawin harus memenuhi batas umur minimal ( pasal 29 ). Harta benda yang dipearoleh selama perkawinan menjadi harta bersama. Seorang perempuan yang pernah kawin dan hendak kawin lagi harus mengindahkan waktu 300 hari setelah perkawinan yang dahulu dibubarkan ( pasal 34 ).

Harta bawaan masing-masing dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah perkawinan dibawah penguasaan masing-masing, sepanjang tidak ditentukan lain.

Bila perkawinan putus maka pembagian harta benda berdasarkan hukum masingmasing.

perjanjian, tujuan pokoknya belum selesai karena baru menimbulkan hak dan kewajiban antara para pihak artinya hak belum beralih sebab masih harus dilakukan penyerahan bendanya terlebih dahulu.

1. Pengertian Hukum Benda Yang dimaksud dengan Benda dalam konteks hukum perdata adalah segala sesuatu yang dapat diberikan / diletakkan suatu Hak diatasnya, utamanya yang berupa hak milik. Dengan demikian, yang dapat memiliki sesuatu hak tersebut adalah Subyek Hukum, sedangkan sesuatu yang dibebani hak itu adalah Obyek Hukum. Benda yang dalam hukum perdata diatur dalam Buku II BWI, tidak sama dengan bidang disiplin ilmu fisika, di mana dikatakan bahwa bulan itu adalah benda (angkasa), sedangkan dalam pengertian hukum perdata bulan itu bukan (belum) dapat dikatakan sebagai benda, karena tidak / belum ada yang (dapat) memilikinya . Pengaturan tentang hukum benda dalam Buku II BWI ini mempergunakan system tertutup, artinya orang tidak diperbolehkan mengadakan hak hak kebendaan selain dari yang telah diatur dalam undang undang ini. Selain itu, hukum benda bersifat memaksa (dwingend recht), artinya harus dipatuhi, tidak boleh disimpangi, termasuk membuat peraturan baru yang menyimpang dari yang telah ditetapkan. Lebih lanjut dalam hukum perdata, yang namanya benda itu bukanlah segala sesuatu yang berwujud atau dapat diraba oleh pancaindera saja, melainkan termasuk juga pengertian benda yang tidak berwujud, seperti misalnya kekayaan seseorang. Istilah benda yang dipakai untuk pengertian kekayaan, termasuk didalamnya tagihan / piutang, atau hak hak lainnya, misalnya bunga atas deposito . Meskipun pengertian zaak dalam BWI tidak hanya meliputi benda berwujud saja, namun sebagian besar dari materi Buku II tentang Benda mengatur tentang benda yang berwujud. Pengertian benda sebagai yang tak berwujud itu tidak dikenal dalam Hukum Adat kita, karena cara berfikir orang Indonesia cenderung pada kenyataan belaka, berbeda dengan cara berfikir orang Barat yang cenderung mengkedepankan apa yang ada di alam pikirannya. Selain itu, istilah zaak didalam BWI tidak selalu berarti benda, tetapi bisa berarti yang lain, seperti : perbuatan hukum (Ps.1792 BW), atau kepentingan (Ps.1354 BW), dan juga berarti kenyataan hukum (Ps.1263 BW). 2. Dasar Hukum Pada masa kini, selain diatur di Buku II BWI, hukum benda juga diatur dalam: a) Undang Undang Pokok Agraria No.5 Tahun 1960, dimana diatur hak hak kebendaan yang berkaitan dengan bumi, air dan kekayaan yang terkandung didalamnya. b) Undang Undang Merek No.21 Tahun 1961, yang mengatur tentang hak atas penggunaan merek perusahaan dan merek perniagaan. c) Undang Undang Hak Cipta No.6 Tahun 1982, yang mengatur tentang hak cipta sebagai benda tak berwujud, yang dapat dijadikan obyek hak milik. d) Undang Undang tentang Hak Tanggungan tahun 1996, yang mengatur tentang hakatas tanah dan bangunan diatasnya sebagai pengganti hipotik dan crediet verband . 3. Asas-Asas Hukum Benda a. Hukum Memaksa Aturan yang berlaku menurut undang undang wajib dipatuhi atau tidak boleh disimpangi oleh para pihak. b. Dapat dipindahkan Semua hak kebendaan dapat dipindahkan. Menurut perdata barat, tidak semua dapat dipindahkan (seperti hak pakai dan hak mendiami) tetapi setelah berlakunya UUHT, semua hak kebendaan dapat dipindahtangankan. c. Individualitas Hak kebendaan selalu benda yang dapat ditentukan secara individu, artinya berwujud dan merupakan satu kesatuan bukan benda yang ditentukan menurut jenis jumlahnya, misalnya memiliki rumah, hewan,dll. d. Totalitas Dalam asas totalitas ini mencakup suatu asas perlekatan. Seseorang memiliki sebuah rumah, maka otomatis dia adalah pemilik jendela, pintu, kunci, gerbang, dan benda benda lainnya yang menjadi pelengkap dari benda pokoknya (tanah). e. Tak Dapat Dipisahkan Seorang pemilik tidak dapat memindahtangankan sebagian dari wewenang yang ada padanya atas suatu hak kebendaan seperti memindahkan sebagian penguasaan atas sebuah rumah kepada orang lain. Penguasaan atas rumah harus utuh, karena itu pemindahannya juga harus utuh. Tetapi, Eigendom dapat dibebani dengan hak lain seperti hak tanggungan atau hak memungut hasil. Jika hak hak tersebut dilepaskan, hal ini tidak berarti pemilik melepaskan sebagian wewenangnya, karena hak miliknya masih utuh. f. Prioritas Asas ini timbul sebagai akibat dari asas nemoplus yaitu asa yang menyatakan bahwa seseorang hanya dapat memberikan hak yang tidak melebihi apa yang dimilikinya atau seseorang tidak dapat memindahkan haknya kepada orang lain lebih besar pada hak yang ada pada dirinya. g. Asas Percampuran. Percampuran terjadi bila dua atau lebih hak melebur menjadi satu. h. Pengaturan dan Perlakuan yang Berbeda Terhadap Benda Bergerak dan Tidak Bergerak. Pengaturan dan perlakuan dapat disimpulkan dari cara membedakan antara benda bergerak dengan benda tidak bergerak serta manfaat atau pentingnya pembedaan antara kedua jenis benda tersebut. i. Asas Publisitas Asas ini berkaitan dengan pengumuman status kepemilikan suatu benda tidak bergerak kepada masyarakat. Sedangkan untuk benda tidak bergerak tidak perlu didaftarkan, artinya cukup melalui penguasaan dan penyerahan nyata. j. Perjanjian Kebendaan Perjanjian kebendaan, perjanjian yang mengakibatkan berpindahnya hak kebendaan. Perjanjian disini bersifat obligatoir, artinya dengan selesainya

4. Macam-macam Benda Doktrin membedakan berbagai macam benda menjadi : a. Benda berwujud dan benda tidak berwujud arti penting pembedaan ini adalah pada saat pemindah tanganan benda dimaksud, yaitu : Kalau benda berwujud itu benda bergerak, pemindah tanganannya harus becara nyata dari tangan ke tangan. Kalau benda berwujud itu benda tidak bergerak, pemindah tanganannyaharus dilakukan dengan balik nama. Contohnya, jual beli rokok dan jual beli rumah. Penyerahan benda tidak berwujud dalam bentuk berbagai piutang dilakukan dengan : Piutang atas nama (op naam) dengan cara Cessie. Piutang atas tunjuk (an toonder) dengan cara penyerahan surat dokumen yang bersangkutan dari tangan ke tangan. Piutang atas pengganti (aan order) dengan cara endosemen serta penyerahandokumen yang bersangkutan dari tangan ke tangan ( Ps. 163 BWI). b. Benda Bergerak dan Benda Tidak Bergerak Benda bergerak adalah benda yang menurut sifatnya dapat dipindahkan (Ps.509 BWI). Benda bergerak karena ketentuan undang undang adalah hak hak yang melekat pada benda bergerak (Ps.511 BWI), misalnya hak memungut hasil atas benda bergerak, hak memakai atas benda bergerak, saham saham perusahaan. Benda tidak bergerak adalah benda yang menurut sifatnya tidak dapat dipindahpindahkan, seperti tanah dan segala bangunan yang berdiri melekat diatasnya. Benda tidak bergerak karena tujuannya adalah benda yang dilekatkan pada benda tidak bergerak sebagai benda pokoknya, untuk tujuan tertentu, seperti mesin mesin yang dipasang pada pabrik.Tujuannya adalah untuk dipakai secara tetap dan tidak untuk dipindah-pindah (Ps.507 BWI). Benda tidak bergerak karena undang undang adalah hak hak yang melekat pada benda tidak bergerak tersebut, seperti hipotik, crediet verband, hak pakai atas benda tidak bergaerak, hak memungut hasil atas benda tidak bergerak (Ps.508 BWI). Arti penting pembedaan benda sebagai bergerak dan tidak bergerak terletak pada : penguasaannya (bezit), dimana terhadap benda bergerak maka orang yang menguasai benda tersebut dianggap sebagai pemiliknya (Ps.1977 BWI); azas ini tidak berlaku bagi benda tidak bergerak. penyerahannya (levering), yaitu terhadap benda bergerak harus dilakukan secara nyata, sedangkan pada benda tidak bergerak dilakukan dengan balik nama ; kadaluwarsa (verjaaring), yaitu pada benda bergerak tidak dikenal daluwarsa, sedangkan pada benda tidak bergerak terdapat kadaluwarsa : dalam hal ada alas hak, daluwarsanya 20 tahun; dalam hal tidak ada alas hak, daluwarsanya 30 tahun pembebanannya (bezwaring), dimana untuk benda bergerak dengan gadai, sedangkan untuk benda tidak bergerak dengan hipotik. dalam hal pensitaan (beslag), dimana revindicatoir beslah (penyitaan untuk menuntut kembali barangnya),hanya dapat dilakukan terhadap barang barang bergerak . Penyitaan untuk melaksanakan putusan pengadilan (executoir beslah) harus dilakukan terlebih dahulu terhadapbarang barang bergerak, dan apabila masih belum mencukupi untuk pelunasan hutang tergugat, baru dilakukan executoir terhadap barang tidak bergerak. c. Benda dipakai habis dan benda tidak dipakai habis Pembedaan ini penting artinya dalam hal pembatalan perjanjian. Pada perjanjian yang obyeknya adalah benda yang dipakai habis, pembatalannya sulit untuk mengembalikan seperti keadaan benda itu semula, oleh karena itu harus diganti dengan benda lain yang sama / sejenis serta senilai, misalnya beras, kayu bakar, minyak tanah dlsb. Pada perjanjian yang obyeknya adalah benda yang tidak dipakai habis tidaklah terlalu sulit bila perjanjian dibatalkan, karena bendanya masih tetap ada,dan dapat diserahkan kembali, seperti pembatalan jual beli televisi, kendaraan bermotor, perhiasan dlsb . d. Benda sudah ada dan benda akan ada Arti penting pembedaan ini terletak pada pembebanan sebagai jaminan hutang, atau pada pelaksanaan perjanjian. Benda sudah ada dapat dijadikan jaminan hutang dan pelaksanaan perjanjiannya dengan cara menyerahkan benda tersebut. Benda akan ada tidak dapat dijadikan jaminan hutang, bahkan perjanjian yang obyeknya benda akan ada bisa terancam batal bila pemenuhannya itu tidak mungkin dapat dilaksanakan (Ps.1320 btr 3 BWI) . e. Benda dalam perdagangan dan benda luar perdagangan Arti penting dari pembedaan ini terletak pada pemindah tanganan benda tersebut karena jual beli atau karena warisan. Benda dalam perdagangan dapat diperjual belikan dengan bebas, atau diwariskan kepada ahli waris,sedangkan benda luar perdagangan tidak dapat diperjual belikan atau diwariskan, umpamanya tanah wakaf, narkotika, benda benda yang melanggar ketertiban dan kesusilaan. f. Benda dapat dibagi dan benda tidak dapat dibagi Letak pembedaannya menjadi penting dalam hal pemenuhan prestasi suatu perjanjian, di mana terhadap benda yang dapat dibagi, prestasi pemenuhan perjanjian dapat dilakukan tidak sekaligus, dapat bertahap, misalnya perjanjian memberikan satu ton gandum dapat dilakukan dalambeberapa kali pengiriman, yang penting jumlah keseluruhannya harus satu ton. Lain halnya dengan benda yang tidak dapat dibagi, maka pemenuhan prestasi tidak dapat dilakukan sebagian demi sebagian, melainkan harus secara seutuhnya, misalnya perjanjian sewa menyewa mobil, tidak bisa sekarang diserahkan rodanya, besok baru joknya dlsb. g. Benda terdaftar dan benda tidak terdaftar Arti penting pembeaannya terletak pada pembuktian kepemilikannya. Benda terdaftar dibuktikan dengan bukti pendaftarannya, umumnya berupa

sertifikat/dokumen atas nama si pemilik, seperti tanah, kendaraan bermotor, perusahaan, hak cipta, telpon, televisi dlsb. Pemerintah lebih mudah melakukan kontrol atas benda terdaftar, baik dari segi tertib administrasi kepemilikan maupun dari pembayaran pajaknya. Benda tidak terdaftar sulit untuk mengetahui dengan pasti siapa pemilik yang sah atas benda itu, karena berlaku azas siapa yang menguasai benda itu dianggap sebagai pemiliknya. Contohnya, perhiasan, alat alat rumah tangga, hewan piaraan, pakaian dlsb. 5. Hak Kebendaan 5.1. Sifat / Karakter Hak kebendaan. Perbedaan antara hak kebendaan yang diatur dalam Buku II BWI dengan hak perorangan yang diatur dalam Buku III BWI adalah sebagai berikut : a) Hak kebendaan bersifat mutlak (absolut), karena berlaku terhadap siapa saja, dan orang lain harus menghormati hak tersebut, sedangkan hak perorangan berlaku secara nisbi (relatief), karena hanya melibatkan orang / pihak tertentu saja, yakni yang ada dalam suatu perjanjian saja. b) Hak kebendaan berlangsung lama, bisa jadi selama seseorang masih hidup, atau bahkan bisa berlanjut setelah diwariskan kepada ahli warisnya, sedangkan hokum perorangan berlangsung relatif lebih singkat, yakni sebatas pelaksanaan perjanjian telah selesai dilakukan. c) Hak kebendaan terbatas pada apa yang telah ditetapkan dalam peraturan perundangan yang berlaku, tidak boleh mengarang / menciptakan sendiri hak yang lainnya, sedangkan dalam hak perorangan, lingkungannya amat luas, apa saja dapat dijadikan obyek perjanjian, sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan dan ketertiban umum. Oleh karena itu sering dikatakan hokum kebendaan itu bersifat tertutup, sedangkan hukum perorangan bersifat terbuka. Ciri ciri Hak Kebendaan adalah : mutlak / absolute mengikuti benda dimana hak itu melekat, misalnya hak sewa tetap mengikuti benda itu berada, siapapun yang memiliki hak diatasnya. hak yang ada terlebih dahulu (yang lebih tua), kedudukannya lebih tinggi; misalnya sebuah rumah dibebani hipotik 1 dan hipotik 2, maka penyelesaian hutang atas hipotik 1 harus didahulukan dari hutang atas hipotik 2. memiliki sifat diutamakan, misalnya suatu rumah harus dijual untuk melunasi hutang, maka hasil penjualannya lebih diutamakan untuk melunasi hipotik atas rumah itu.dapat dilakukan gugatan terhadap siapapun yang mengganggu hak yang bersangkutan. pemindahan hak kebendaan dapat dilakukan kepada siapapun. 5.2. Penggolongan Hak Kebendaan Hak atas Kebendaan dibagi dalam 2 (dua) macam, yaitu : Hak Kebendaaan yang memberi kenikmatan. Hak Kebendaan Yang bersifat Memberi Jaminan 5.3. Perolehan Hak Kebendaan Ada beberapa cara untuk memperoleh hak kebendaan, seperti : a. Melaui Pengakuan b. Melalui Penemuan c. Melalui Penyerahan d. Dengan Daluwarsa e. Melalui Pewarisan f. Dengan Penciptaan g. Dengan cara ikutan / turunan

1.

Hak kebendaan yang memberi kenikmatan, terbagi kembali atas

a)

Hak kebendaan yang memberi kenikmatan atas benda sendiri, contoh: Hak Milik

b)

Hak kebendaan yang memberi kenikmatan atas barang milik orang lain, contoh: Bezit

2.

Hak kebendaan yang memberi jaminan, juga terbagi atas

a) b)

Hak kebendaan yang memberi jaminan atas benda bergerak, contoh: Gadai Hak kebendaan yang memberi jaminan atas benda tidak bergerak, contoh: hipotik

Dasar hukum jaminan adalah perjanjian pemberian jaminan kebendaan antara debitor dan kreditor dengan tujuan menjamin pemenuhan, pelaksanaan atau pembayaran suatu kewajiban, prestasi atau utang debitor kepada kreditor.

Pasal 1131 KUHPerdata berisi sebagai berikut: Segala kebendaan si berutang, baik yang bergerak maupun yang tak bergerak baik yang sudah ada maupun yang baru aka nada di kemudian hari menjadi tanggungan untuk segala perikatan perseorangan.

Berdasarkan pasal 1131 tersebut KUHPerdata hanya mengatur dua macam jaminan, yaitu jaminan terhadap benda bergerak yang disebut gadai dan jaminan benda tidak bergerak yang disebut hipotik.

Gadai menurut Pasal 1150 KUHperdata adalah Suatu hak yang diperoleh seorang berpiutang atas suatu barang bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh seorang yang berutang atau oleh seorang lain atas namanya, dan yang memberikan kekuasaan kepada si berpiutang itu untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara didahulukan daripada orang-orang berpiutang lainnya, dengan kekecualian biaya untuk melelang barang tersebut dan biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkannya setelah barang itu digadaikan, biaya-biaya mana harus didahulukan. Dari pengertian gadai tersebut dapat disimpulkan bahwa gadai mempunyai cirriciri antara lain;

5.4. Hapusnya Hak Kebendaan Hak kebendaan dapat hapus / lenyap karena hal hal : a. Bendanya Lenyap / musnah b. Karena dipindah-tangankan c. Karena Pelepasan Hak d. Karena Kadaluwarsa e. Karena Pencabutan Hak

Jaminan gadai benda-benda bergerak

Mempunyai sifat yang didahulukan Mempunyai sifat droit de suite yaitu selalu mengikuti bendanya dimanapun atau di tangan siapapun benda itu

HUKUM BENDA DAN HAK KEBENDAAN

berada Memberikan kekuasaan langsung terhadap benda jaminan dan dapat dipertahankan terhadap siapapun juga. Adanya pemindahan kekuasaan dari benda yang dijadikan jaminan (unsure inbezitstglling) dari pemberi gadai kepada pemegang gadai. Gadai merupakan perjanjian accessoir yaitu perjanjian tambahan yang tergantung dari perjanjian pokok Gadai tidak dapat dibagi-bagi.

Hukum benda dan hak kebendaan perlu dipahami disamping hukum perorangan, hukum keluarga, dan hukum perikatan. Hal ini dikarenakan hukum benda dalam lingkup pengaturannya mengatur mengenai: Harta kekayaan yang diperoleh seseorang/keluarga selama perkawinan yang dapat berupa benda maupun hak, diatur dalam hukum benda

Hukum perikatan mengatur hubungan hukum yang objeknya dalam lapangan harta kekayaan yang dapat menimbulkan hak kebendaan diatur dalam hukum benda

Harta kekayaan hasil karya intelektual dikategorikan benda bergerak dalam hukum benda

PENGERTIAN KEBENDAAN DAN HAK KEBENDAAN

PERBEDAAN PEMBAYARAN DAN PENANGGUNGAN

Kebendaan : Setiap benda dan hak atas benda yang dapat dikuasai dengan hak milik. Hak kebendaan (hak atas benda) : hak mutlak atas suatu benda yang memberikan kekuasaan langsung atas suatu benda dan dapat dipertahankan oleh siapapun juga. Hak kebendaan yang diatur dalam K.U.HPerdata dengan juga mengingat adanya UUPA dapat dibedakan atas:

Pembayaran merupakan keharusan dari berutang (debitur) untuk melakukan pembayaran/pelunasan hutangnya terhadap kreditur sedangkan pada penanggungan dilakukan semata untuk kepentingan si berpiutang (kreditur), seperti dalam jaminan perorangan dimana terjadi perjanjian pihak ketiga dengan kreditur dan pihak ketiga menanggung pelunasan utang debitur. Pada jaminan perorangan, mekanisme penanggungan utang debitur oleh pihak ketiga tidaklah aman bagi kreditur.

Contohnya: bezit danhak milik yang telah dibahas terdahulu. FUNGSI JAMINAN 2. Fungsi jaminan adalah sebagai sarana perlindungan bagi keamanan atau kepastian pelunasan hutang debitur kepada kreditur. Jaminan secara yuridis mempunyai fungsi untuk mengkover hutang. Oleh karena itu, jaminan di samping faktor-faktor lain (watak, kemampuan, modal, jaminan dan kondisi ekonomi), dapat dijadikan sebagai sarana perlindungan untuk para kreditur dalam kepastian atau pelunasan utang calon debitur atau pelaksanaan suatu prestasi oleh debitur. Pasal 1131 KUHPerdata berisi sebagai berikut: Hak kebendaan yang bersifat jaminan akan dibahas secara garis besar karena secara rincinya akan dibahas dalam hukum jaminan tersendiri. Contohnya: Hak gadai, hak hipotik dan Fidusia. Hak kebendaan yang bersifat jaminan

ASAS KEBENDAAN DAN ASAS ASSESOIR

Hukum jaminan yang objeknya kebendaan merupakan subsistem hukum benda yang mengandung sejumlah asas Asas kebendaan

Segala kebendaan si berutang, baik yang bergerak maupun yang tak bergerak baik yang sudah ada maupun yang baru aka nada di kemudian hari menjadi tanggungan untuk segala perikatan perseorangan.

Berdasarkan pasal 1131 tersebut KUHPerdata hanya mengatur dua macam jaminan, yaitu jaminan terhadap benda bergerak yang disebut gadai dan jaminan benda tidak bergerak yang disebut hipotik.

Bersifat Absolut, yang dapat dipertahankan setiap orang, pemegangnya berhak menuntut setiap orang yang

1.

Gadai menurut Pasal 1150 KUHperdata adalah:

mengganggu haknya Droit de suite : hak kebendaan mengikuti bendanya, ditangan siapa benda itu berada Droit de Preference yaitu hak yang lebih didahulukan gugatan hak kebendaan disebut gugat kebendaan. Apabila haknya ada yang menganggu maka ia dapat melakukan bermacam-macam gugat/actie misalnya: penuntutan

Suatu hak yang diperoleh seorang berpiutang atas suatu barang bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh seorang yang berutang atau oleh seorang lain atas namanya, dan yang memberikan kekuasaan kepada si berpiutang itu untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara didahulukan daripada orang-orang berpiutang lainnya, dengan kekecualian biaya untuk melelang barang tersebut dan biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkannya setelah barang itu digadaikan, biaya-biaya mana harus didahulukan. Dari pengertian gadai tersebut dapat disimpulkan bahwa gadai mempunyai cirri-ciri antara lain;

kembali.penggantian kerugian, pemulihan keadaan semula 1. 2. 3. Jaminan gadai benda-benda bergerak Mempunyai sifat yang didahulukan Mempunyai sifat droit de suite yaitu selalu mengikuti bendanya dimanapun atau di tangan siapapun benda itu berada Memberikan kekuasaan langsung terhadap benda jaminan dan dapat dipertahankan terhadap siapapun juga. Adanya pemindahan kekuasaan dari nemda yang dijadikan jaminan (unsure inbezitstglling) dari pemberi gadai kepada pemegang gadai. Gadai merupakan perjanjian accessoir yaitu perjanjian tambahan yang tergantung dari perjanjian pokok Gadai tidak dapat dibagi-bagi.

Asas assesoir


HAK MILIK

4. Bersifat relatif Bukan hak yang berdiri sendiri Bergantung pada perjanjian pokoknya 6. 5.

7. Benda dan hak kebendaan adalah objek hak milik, pengaturan mengenai hak milik diatur dalam pasal 570 K.U.HPerdata. Pengaturan menurut pasal tersebut pada intinya berisi sebagai berikut: Leluasa untuk dinikmati kegunaannya Pemegang Hak milik bebas untuk berbuat dengan kedaulatan sepenuhnya Sepanjang tidak bertentangan dengan UU/peraturan umum tidak menggangu hak Dapat dicabut demi kepentingan umum dengan pembayaran ganti rugi

Unsur inbezitstelling ini dinyatakan dalam Pasal 1152 ayat (2) KUHPerdata yang menyebutkan:

Tak sah adalah hak gadai atas segala benda yang dibiarkan tetap dalam kekuasaan ini si berutang atau si pemberi gadai, ataupun yang kembali atas kemauan si berpiutang.

Benda bergerak yang dapat menjadi jaminan gadai adalah:

CIRI-CIRI HAK MILIK Merupakan hak induk Merupakan hak yang selengkap-lengkapnya/terpenuh Mengandung inti dari semua hak kebendaan yang lain Bersifat tetap, dan tidak akan lenyap

1. 2.

Benda bergerak berwujud Benda bergerak tak berwujud

Suarat piutang aan toonder Surat piutang aan order Surat piutang op naam

PEMBATASAN HAK MILIK Pengaturan mengenai pembatasan hak milik diatur dalam pasal 6 UUPA, dengan pembatasan sebagai berikut: Hak pemegang gadai adalah: Hak-hak dan kewajiban pemegang gadai

Tidak boleh dikuasai pribadi tetapi harus seimbang dengan kepentingan umum Tidak boleh menimbulkan kerugian bagi orang lain Harus dipelihara sebaik-baiknya Pemerintah mengawasi hak monopoli atas tanah Hukum Perdata : Hak Kebendaan yang Bersifat Jaminan

1.

2. 3.

Pemegang gadai berhak menjual benda yang digadaikan atas kekuasaannya sendir (eigenmachtige verkoop) apabila pemberigadai wanprestasi (Pasal 1155 ayat 1). Pemegang gadai berhak mendapatkan pengembalian ongkosongkos untuk menyelamatkan barang gadaiannya. Pemegang gadai mempunyai hak retensi.

Seperti telah disebutkan, hak kebendaan itu ada 2 macam, yaitu: Kewajiban pemegang gadai: 1. Hak kebendaan yang memberikan kenikmatan

1. 2.

Pemegang gadai bertanggung jawab atas hilangnya benda yang digadaikan karena kelalaiannya (Pasal 1157 ayat(1)). Pemegang gadai tidak boleh memakai barang yang digadaikannya untuk kepentingan sendiri. 4.

hipotik membuat perjanjian tentang asuransi yang diberitahukan kepada perusahaan asuransi, supaya perusahaan asuransi terikat dengan janji tersebut.

Janji untuk tidak dibersihkan

Hapusnya gadai: Janji ini diberikan kepada semua pemegang hipotik dengan syarat diadakan dalam penjualan secara sukarela yang dikehendaki oleh pemilik bendanya. Janji untuk tidak dibersihkan hanya dapat dilakukan oleh pemegang hipotik pertama (Pasl 1210 ayat 2).

1. 2.

Apabila hutangnya sudah dibayar lunas. Apabila barang yang digadaikan keluar dari kekuasaan pemegang gadai (Pasal 1152 ayat (3))

Hapusnya Hipotik Memuat Pasal 1209 KUHPerdata, hipotik hapus karena: 3. Hipotik Jaminan terhadp benda tidak bergerak disebut hipotik.

1. 2. 3.

Pasal 1162 KUHPerdata menyebutkan:

Hapusnya perikatan pokok Pelepasan hipotiknya oleh si berpiutang Penetapan tingkat oleh hakim karena adanya pembersihan tanahnya dari beban-beban hipotik.

Hipotik adalah suatu hak kebendaan atas benda-benda tak bergerak, untuk mengambil penggantian daripadanya bagi pelunasan suatu perikatan.

Hipotik terhadap benda tak bergerak, khususnya terhadap tanah sudah dihapus dan diganti dengan hak tanggungan berdasarkan undang-undang No.4 tahun 1996 tentang hak tanggungan.

Fidusia Pada mulanya lembaga jaminan Fidusia ini untuk menutupi kesulitan lembaga jamian gadai, karena dalam gadai benda yang digadaikan itu berpindah kekuasaannya kepada pemegang gadai. Pada dasarnya ada persamaan ada persamaan cirri-ciri gadai dan hipotik, tapi ada juga perbedaannya yaitu: Apabila seseorang hanya mempunyai satu-satunya barang untuk menopang hidupnya dijadikan jaminan gadai, maka orang tersebut akan jatuh miskin. Oleh karena itu kita mengadopsi bentuk jaminan baru dimana benda bergerak yang dijadikan objek jaminan tidak diserahkan kekuasaannya kepada si berpiutang yaitu bentuk fiduciare eigendomsoverdracht (penyerahan hak milik atas dasar kepercayaan) berdasarkan Arrest Hoge Read 1929. Dalam perjalanannya Fidusia semakin dibutuhkan untuk meningkatkan dunia usaha yang memerlukan dana harus diimbangi dengan adnaya ketentuan hukum yang jelas dan lengkap yang mengatur mengenai lembaga jaminan. Selain itu kita masih mempergunakan yurisprudensi (Bagian menimbang UU No. 42/1999), maka dibentuklah undang-undang No. 42 tahun 1999 tentang jaminan Fidusia.

1. 2. 3.

4. 5.

Gadai jaminan terhadap benda bergerak hipotik jaminan benda tak bergerak. Pada gadai ada unsur inbezitstelling pada hipotik tidak ada. Perjanjian gadai dapat secara bebas, boleh lisan, boleh tertulis. Perjanjian hipotik terikat oleh bentuk tertentu yaitu harus dibuat dengan akte otentik. Perjanjian biasanya hanya satu kali, perjanjian hipotik boleh lebih dari satu kali. Menjual atas kekuasaan sendiri benda gadai diatur dalam undang-undang, dalam hipotik menjual benda yang dihipotikkan harus dijanjikan terlebih dahulu.

PengertianPasal 1 sub 1 menyebutkan:

Asas-asas Hipotik

Fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tetap dalam penguasaan pemilik benda.

Hipotik mengenal dua asas, yaitu: Jaminan Fidusia adalah jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud maupun tidak berwujud dan benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan menurut UU No.4/1996 (Pasal 1 sub 2)

1. 2.

Asas publiciteit, Asas ini menyebutkan bawha hipotik harus didaftarkan supaya diketahui umum. Asas specialiteit, Hipotik harus dirinci secara jelas misalnya tanah: luas, letak, batas-batasnya harus jelas disebutkan.

UU No 42 tahun 1999 tentang jaminan Fidusia tidak berlaku bagi: Isi akta HipotikIsi akta hipotik dibagi atas dua bagian, yaitu: 1. 2. 1. Isi yang wajib 3. 4. Baran g dibebani hipotik itu harus disebut/ditulis secara rinci danjelas. Pembebanan benda dengan jaminan Fidusia harus dibuat dengan akta notaries dalam bahasa Indonesia dan merupakan akta jaminan Fidusia (Pasal 5 ayat 1). Hak tanggungan yang berkaitan dengan tanah dan bangunan Hipotik atas kapal yang terdaftar dengan isi kotor berukuran 20 m3 atau lebih Hipotik atas pesawat terbang dan Gadai (pasal 3)

2.

Isi yang facultatief

Isi facultatief ini memuat janji-janji antara pemberi hipotik dan pemegang hipotik.

Benda yang dibebani dengan jaminan Fidusia wajib didaftarakan (Pasal 11 ayat 1).

Janji-janji yang biasa dimuat dalam akta hipotik, antara lain:

Hapusnya Jaminan Fidusia

1. 2.

Janji untuk menjual benda atas kekuasaannya sendiri apabila hutang pokoknya tidak dilunasi (Pasal 1178 ayat 2). Janji tentang sewa

Menurut Pasal 25 UU No. 42 tahun 1999, Fidusia dapat hapus apabila:

Pemberi hipotik dibatasi dalam kekuasaannya untuk menyewakan benda yang dibebani tanpa iji pemegang hipotik mengenai cara maupun waktunya (Pasal 1185 ayat 1).

1. 2. 3.

Hapusnya utang yang dijamin dengan Fidusia. Pelepasan hak atas jaminan Fidusia oleh Penerima Fidusia Musnahnya benda yang menjadi obyek jaminan Fidusia.

3.

Janji tentang asuransi

Apabila ada peristiwa yang tidak diduga-duga sebelumya misalnya: kebakaran, banjir antara pemberi dan pemegang