Anda di halaman 1dari 2

Mengalih ubah Mindset Petani Kelapa

Sebagai daerah agraris, Wonosobo kaya akan potensi alam. Beragam komoditas tanaman pertanian dan perkebunan tumbuh subur di bumi kota pegunungan ini. Seakan tak ada tanaman yang tak tumbuh ditancap di areal tanah pertanian Wonosobo. Pohon kepala, boleh di bilang, merupakan salah satu dari sekian banyak tanaman jenis perkebunan yang sangat baik dibudidayakan di daerah setempat. Terutama di wilayah Barat seperti Sukoharjo, Leksono dan wilayah Selatan yakni Kaliwiro, Wadaslintang dan Kalibawang.

Di daerah yang punya topografi tanah berbukit-bukit itu, tak terhitung jumlah tanaman kelapa. Setiap petani, bisa dipastikan menanam pohon kelapa di lahan miliknya. Selain cara penanamannya mudah, perawatan pohon kelapa juga relatif tidak terlalu sulit dan tidak memerlukan lahan yang luas. Pohon kelapa biasanya ditanam di pinggir sungai, tanah jurang atau di pinggir-pinggir sawah. Bahan pohon kelapa identik sebagai tanaman pembatas lahan antar satu lahan dengan lahan lainnya. Tanpa banyak perawatan pohon kelapa mudah hidup. Pemupukan juga tidak serumit tanaman lain. Pasalnya, paling-paling, setahun sekali pupuk diberikan tanaman tersebut sudah tumbuh subur. Panen kelapa juga tidak mengenal musim. Pasalnya, setiap saat pohon kelapa bisa berbuah. Jika buah kelapa tua dipetik, buah muda yang ada di atasnya akan menyusul dipanen periode berikutnya. Demikian seterusnya. Panen Melimpah Meski jumlah tanaman pohon kelapa di Wonosobo cukup banyak, sayang sejauh penelusuran penulis, baik di buku profil potensi daerah Wonosobo dan website www.e-wonosobo.com yang merupakan situs masyarakat, belum ditemukan data statistik secara detail, seberapa luas lahan, jumlah pohon dan hasil panen kelapa di Wonosobo. Karena itu, sulit diukur seberapa banyak omzet yang dicapai petani kelapa di Wonosobo dalam setiap bulannya. Tapi, yang jelas tiap pasaran Pahing di Kaliwiro, Pon di Kalibawang dan Manis di Wadalintang, hasil panen kelapa petani di sana menggunung di pasar. Itu membuktikan bahwa jumlah buah kelapa yang dipanen petani melimpah. Namun meski panen melimpah, ironisnya harga kelapa tak kunjung membaik - kalau tidak boleh dibilang - sangat murah. Pasalnya, 1 buah kelapa super paling-paling laku Rp 400- Rp 600 di tingkat petani. Padahal ongkos petik dan angkut kelapa juga terhitung tak sedikit. Maka wajar jika banyak petani yang mengeluh dengan rendahnya harga buah kelapa. Harga Rp 400- Rp 600 bisa ludes hanya untuk upah tukang petik dan ongkos mobil pengangkut buah kelapa ke pasar. Petani kelapa pun cuma bisa gigit jari, karena tidak bisa ikut menikmati panen kelapanya. Inilah nasib petani kelapa yang terus terpuruk, karena harga buah kelapa dari tahun ke tahun tak kunjung membaik. Perlu Diberdayakan Untuk mendongkrak harga kelapa, sebagian petani mensiasati dengan menderes pohon kelapa untuk dibuat gula kelapa. Karena 1 kilogram gula kelapa bisa laku antara Rp 7.000-Rp 8.000.

Namun membuat gula kepala bukan perkara gampang. Sebab butuh tenaga penderes dan banyak kayu untuk bahan bakar mengolah gula kelapa. Cara itu juga bukan tanpa resiko. Sebab jika pas harga kelapa naik petani tidak bisa panen kelapa karena manggar sebagai bahan tumbuh buah kelapa sudah dideres dan tidak bisa berbuah lagi. Sebagian petani juga memilih menjual degan (kelapa muda) untuk bahan minuman segar.Harga degan memang relatif tinggi, karena 1 buah degan laku Rp 1.500 - Rp 2.000. Jika dibanding kelapa tua, harga degan sebesar itu sudah lumayan besar. Namun, akibatnya sama dengan petani yang menderes pohon kelapanya, jika harga buah kelapa naik, maka mereka sudah tidak bisa panen lagi, karena buah kepala sudah dipanen di kala muda. Rupanya, untuk mensiasati harga kelapa yang tak kunjung membaik, perlu ada upaya mengalihubah mindset petani kelapa melalui upaya pemberdayaan yang lebih menguntungkan. Yakni dengan memanfaatkan limbah kelapa berupa sabut, tempurung, glugu (pohon kelapa), lidi dan daun kelapa untuk bahan kerajinan tangan serta alat rumah tangga. Sabut kelapa bisa disulap menjadi keset. Tempurung bisa dibuat aneka kerijanan batik pejal dan alat rumah tangga. Kayu glugu untuk bagal (tangkai) sabit dan cangkul, behan mebeler serta bermacam mainan anak-anak. Lidi untuk dibikin sapu dan daun kelapa untuk hiasan rumah tangga. Intinya, selain buahnya, semua unsur dari pohon kepala bisa dialihubah menjadi bahan kerajinan. Di beberapa daerah, seperti Kebumen dan Cilacap, cara itu sudah banyak dilakukan untuk mengangkat martabat petani kelapa. Dengan cara itu, martabat petani kelapa pun bisa membaik dan tidak terus terpukul akibat harga kelapa yang selalu rendah di pasaran. Sayang kini petani kelapa Wonosobo masih berkutat sekadar memanfaatkan buahnya saja untuk dijual. Kiranya sudah mendesak Pemkab Wonosobo melalui dinas terkait, memfasilitasi petani kelapa untuk memberdayakan diri dengan memanfaatkan limbah buah kelapa sebagai barang berharga menjadi kerajinan tangan dan alat rumah tangga yang bernilai jual tinggi. Ditulis oleh : Muharno Zarka, alumnus IAIN Walisongo Semarang, kini penggiat Kolmaster Wonosobo