Anda di halaman 1dari 24

BAB.

I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Antara manusia dan kebudayaan terjalin hubungan yang sangat erat,

sebagaimana yang di ungkapkan oleh Dick Hartoko bahwa manusia menjadi manusia merupakan kebudayaan. Hanya semua tindakan yangsifatnya naluriah saja yang bukan merupakan kebudayaan, tetapi tindakan demikian prosentasenya sangat kecil. Tindakan yang berupa kebudayaan tersebut di biasakan dengan cara belajar. Terdapat beberapa proses belajar kebudayaan yaitu proses internalisasi, soaialisasi dan enkulturasi. Selanjutnya hubungan antara manusia dengan kebudayaan juga dapat dilihat dari kedudukan manusia tersebut terhadap kebudayaan yaitu sebagai : 1) Penganut kebudayaan 2) Pembawa kebudayaan 3) Manipulator kebudayaan 4) Pencipta kebudayaan. Pembentukan kebudayaan dikarenakan manusia dihadapkan pada persoalan yang meminta pemecahan dan penyelesaian. Dalam rangka survive maka manusia harus mampu memenuhi apa yang menjadi kebutuhannya sehingga manusia melakukan bernagai cara. Hal yang dilakukan oleh manusia inilah kebudayaan. Kebudayaan yang digunakan manusia dalam menyelesaikan

masalah-masalahnya bisa kita sebut sebagai way of life, yang digunakan individu sebagai pedoman bertingkah laku. Dewasa ini manusia kebanyakan melupakan makna kehidupannya, hakekat diciptakannya manusia oleh Tuhan, dan adat istiadat atau yang lazimnya sering disebut dengan istilah kebudayaan. Hal tersebut seringkali banyak disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi dalam perkembangannya. Beberapa Diantaranya seperti kemajuan teknologi yang pesat, modernisasi atau globalisasi yang semakin meningkat. Dalam sejarah manusia yang sebelumnya memiliki kebudayaan yang bersifat primitif dan kental akan seni, agama, dan tata kelakuan yang telah diturunkan turun- temurun ke generasi berikutnya berangsur-angsur mulai berubah seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi. Manusia yang dulu saling menyapa ketika bertemu di jalan sekarang jarang terjadi karena lebih sibuk dengan handphonenya. Bertumbuhnya sifat individualisme yang banyak terjadi khususnya dalam masyarakat perkotaan merupakan salah satu contoh yang kongkrit dari akibat perkembangan teknologi yang pesat dan terus mempengaruhi kebudayaan. Berlimpahnya kemakmuran dan megahnya bangunan belum merupakan lambang kemajuan suatu kebudayaan manusia dalam arti sebenarnya. Kemajuan dan perkembangan yang hanya terbatas pada material saja akan menyebabkan kepincangan dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, manusia dan kebudayaan memiliki hubungan yang erat karena kebudayaan berasal dari pemikiran manusia yang diatur atau dibatasi oleh aturan tertentu.

1.2

Rumusan Masalah
Apakah yang dimaksud dengan kebudayaan?

Bagaimana proses transformasi kebudayaan? Bagaimana hubungan manusia dengan kebudayaan? Bagaimana hakikat manusia Indonesia Bagaimana hakikat kebudayaan 1.3 Tujuan Penulisan Untuk mengetahui pengertian kebudayaan secara jelas dan lengkap. Untuk mengetahui definisi wujud kebudayaan. Untuk mengetahui unsur-unsur yang terkandung dalam kebudayaan serta penjelasannya secara rinci. Untuk mengetahui transformasi kebudayaan. Untuk megetahui hubungan manusia dan kebudayaan itu sendiri. 1.4 Manfaat Dapat mengetahui secara detail baik dari pengertian, wujud, unsur, serta transformasi pada hubungan manusia dengan kebudayaan, dan mengetahui lebih pasti tentang hubungan manusia dan kebudayaan.

BAB. II PEMBAHASAN

2.1 Kebudayaan 2.1.1 Pengertian kebudayaan

Kebudayaan berasal dari kata cultuure (Belanda) culture (Inggris) dan colere (Latin) yang artinya mengolah, mengerjakan, menyuburkan, dan mengembangkan terutama pengolahan tanah yang kemudian berkembang menjadi segala daya dan aktifitas manusia manusia untuk mengolah dan mengubah alam. Dari bahasa Indonesia (Sansekerta) buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Pendapat lain budaya adalah sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk budi-daya, yang berarti daya dari budi, karena itu mereka membedakan antara budaya dan kebudayaan. Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta,karsa dan rasa. Kebudayaan adalah hasil dar cipta,karsa dan rasa tersebut, beberapa pendapat ahli antropologi dunia tentang definisi kebudayaan :

E.B.Tylor (Primitive Culture) : keseluruhan kompleks yang mengandung ilmu pengetahuan lain seperti kebiasaan manusia yang bermasyarakat.

R.Linton (The Cultural Background of Personality) : konfigurasi dari tingkah laku yang pembentukannya didukung dan diteruskan anggota masyarakat tertentu.

C.Klukhonn dan W.H Kelly (Hasil Tanya jawab dengan ahli antropologi sejarah) : Hukum, psikologi yang implisit, rasional, irasional terdapat pada setiap waktu sebagai pedoman yang potensial bagi tingkah laku manusia.

Melville J.Herskovits (Ahli antropologi Amerika) : bagian dari lingkungan buatan manusia Man Made Part of the Environment.

Dowson (Age of the Gods) : cara hidup bersama(Culture is common way of life).

J.P.H Dryvendak : kumpulan cetusan dari jiwa manusia yang beraneka ragam dan berlaku dalam suatu masyarakat tertentu.

Ralph Linton (1893-1953) : sifat sosial manusia yang turun temurun Mans sosial heredity.

Beberapa definisi yang dikemukakan oleh pakar Indonesia :

Prof. Dr. Koentjaara Ningrat : keseluruhan manusia dari kelakuan dan hasil kelakuan yang teratur oleh tata kelakuan yangharus didapat degan belajar.Dan yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat.

Sultan Takdir Alisahbana : manifestasi dari cara berfikir. Dr. Moh. Hatta : ciptaan dari suatu bangsa. Mangunsarkoro : segala yang bersifat hasil kerja manusia dalam artian yang seluas-luasnya.

Drs. Sidi Gazalba : cara berfikir dan merasa yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan dari segolongan manusia yang membentuk satu kesatuan sosial dengan suatu ruang dan suatu waktu.

Definisi di atas berbeda-beda namun memiliki prinsip yang sama yaitu mengakui adanya ciptaan manusia,meliputi perilaku dan hasil kelakuan manusia,yang diatur oleh tata kelakuan yang diperoleh dengan belajar yang semuanya tesusun dalam kehidupan masyarakat. Di dalam masyarakat kebudayaan diartikan The general body of the art yang meliputi seni sastra, seni musik, seni pahat, seni rupa, dan pengetahuan filasafat. Dan akhirnya mendapatkan kesimpulan bahwa kebudayaan adalah hasil budi manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup atau segala sesuatu yang diciptakan manusia baik yang konkrit maupun abstrak. Menurut Prof. M. M. Djojodiguno (Asas-asas Sosiologi,1958) bahwa kebudayaan atau budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, rasa, dan karsa.
Cipta : kerinduan manusia untuk mengetahui rahasia segala hal yang ada

dalam pengalamannya. Hasil cipta berupa Ilmu pengetahuan.


Karsa : kerinduan manusia untuk menginsafi dari mana manusia sebelum

lahir dan kemana sesudah mati.Hasilnya berupa norma-norma keagamaan atau kepercayaan.
Rasa : kerinduan manusia akan keindahan dan dorongan untuk menikmati

keindahan. Hasilnya berbagai macam kesenian. Kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia untuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar, yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat. Dan dijelaskan sebagai berikut :

Kebudayaan adalah segala sesuatu yang dilakukan dan dihasilkan manusia

yang meliputi kebudayaan material (bersifat jasmaniah) dan kebudayaan non material (bersifat rohaniah). Kebudayaan tidak diwariskan secara generative(biologis) melainkandngan cara belajar. Kebudayaan diperoleh manusai sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan adalah kebudayaan manusia.

2.1.2

Wujud Kebudayaan

Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan atau tindakan dan hasil karya manusia untuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar, yang tersusun dalam kehidupan manusia. Adapun wujud kebudayaan itu sendiri menurut J. J. Honigmann yang dibedakan berdasarkan gejalanya: Ideas Activities Artifact Sedangkan menurut Koentjaraningrat wujud kebudayaan ada 3 macam yaitu : Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan nilainilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya. Wujud kebudayaan sebagai komleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
7

Keterangan diatas menandakan bahwa kebudayaan hanya dapat diperoleh dalam anggota masyarakat yang mana pewarisannya melalui cara belajar. Adapun wujud kebudayaan dapat bersifat material dan non material. Dan kesimpulan tersebut memperlihatkan adanya perbedaan pokok antara manusia dan hewan yaitu :
Kelakuan manusia diakui oleh akalnya sedangkan hewan oleh nalurinya. Kehidupan manusia dapat berlangsung dengan bantuan peralatan sebagai

hasil kerja akalnya sedangkan hewan pada fisiknya.


Perilaku manusia didapar dan dibiasakan melalui proses belajar sedangkan

hewan melalui proses nalurinya.


Manusia memiliki alat komuikasi berupa bahasa sedangkan hewan tidak.

Pengetahuan manusia bersifat akumulatif karena masyarakatnya yang bekembang.

2.1.3

Unsur-unsur Kebudayaan

Dari berbagai unsur kehidupan dapat disimpulkan bahwa kebudayaan merupakan hal yang luas karena kebudayaan merupakan hasil dari alam, pemikiran manusia dan tindakannya. Namun keanekaragaman tersebut dapat digolongkan menjadi sesuatu yang umum atau universal. Ada 7 unsur besar yang dapat disebut sebagai isi pokok disetiap kebudayaan, menurut Koentjaraningrat yaitu :
Bahasa. Sistem pengetahuan.

Organisasional. Sistem peralatan hidup dan teknologi. Sistem mata pencarian hidup. Sistem religi. Sistem kesenian.

Dalam butir keenam, religi dalam analisis Koentjaraningrat termasuk sistem kebudayaan universal. Hal ini dapat dipandang dari sudut religi yang merupakan sebagian dari kebudayaan karena merupakan keyakinan dan gagasan gagasan tentang Tuhan dalam agama Indonesia seperti penyembahan dewa, ruh halus dan berbagai bentuk upacara yang terkait denagn sistem keyakinan tersebut. Namun dalam hal Islam religi bukanlah kebudayaan karena merupakan suatu ciptaan Ilahi/Tuhan bukan hasil karya manusia baik monument ataupun phenomena1 Penyebaran (difusi) unsur-unsur kebudayaan dapat berlangsung melalui perpindahan maupun datangnya kelompok-kelompok menusia dengan berbagai tujuan dan terjadilah penyebaran unsur-unsur kebudayaan. Sebagai contoh : Pedagang-pedagang Islam dari Arab, India, dan Gujarat secara langsung/tidak langsung telah menyebarkan kebudayaan Islam pada kelompok masyarakat yang mereka jumpai dalam kegiatan perdagangan mereka di nusantara pada abad 7 dan 8. Hubungan-hubungan pedagang tersebut dengan penduduk dikatakan hubungan symbolistik dari bahasa Inggris yang artinya hubungan serasi dari berbagai unsur Hal ini dapat dikatakan bahwa hubungan penduduk dengan Islam pada awal
1

Manusia dan kebudayaan di Indonesia. Teori dan konsep Dr. Hj. Sofia Rangkuti-

Hasibuan, M.A 2002 Dian Rakyat. Hal 149-150.

sejarah datangnya Islam ke nusantara adalah hubungan symbiotic dimana kedua kelompok dapat hidup berdampingan dengan aman dan saling menguntungkan dengan adanya perdagangan diantara mereka. Namun dari hubungan tersebut terjadi juga semacam penerobosan kebudayaan dengan jalan damai atau penetrasi pacifique (penerobosan dengan dasar damai ). Dalam hal ini unsur-unsur kebudayaan pendatang turut masuk kedalam kebudayaan.

2.1.4

Transformasi Budaya

Kebudayaan merupakan suatu kumpulan yang berintegrasi dari cara-cara berlaku yang dimiliki bersama, kebudayaan yang bersangkutan secara unik mencapai penyesuaian kepada lingkungan tertentu. Kebudayaan tidak bersifat statis melainkan bersifat adinamis dalam masyarakat Jawa dikenal satu budaya yang disebut Cokro manggilingan yaitu percaya bahwa manusia seperti jalannya roda pedati, terkadang ada diatas dan terkadang ada di bawah. Dalam budaya dikenal istilah cultural lag yaitu penggambaran keadaan masyarakat yang dengan mudah nya menyerap budaya yang bersifat materil tetapi belum mampu menyerap yang bersifat non materil. Berikut ini merupakan bentuk-bentuk perubahan kebudayaan antara lain :

Evolusi

: perubahan kebudayaan yang terjadi secara lambat namun arah

perubahannya akan mencapai bentuk yang lebih sempurna.

Revolusi : proses perubahan yang sangat cepat sehingga dirasakan oleh masyarakat.

10

Inovasi Difusi

: proses perubahan yang berasal dari diri masyarakat itu sendiri. : perubahan budaya yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar

masyarakat seperti masuknya unsur-unsur budaya lain. Perubahan disebabkan karena pewarisan budaya dari generasi ke generasi berikutnya. Hal ini terjadi proses pada individu, proses itu antara lain : Internalisasi : proses dari berbagai pengetahuan yang berada diluar diri individu masuk menjadi bagian dari individu. Sosialisasi : proses penyesuaian diri seseorang ke dalam kehidupan kelompok dimana individu tersebut berada,sehingga kehadirannya dapat di terima oleh anggota kelompok lain. Enkulturasi : proses ketika individu memilih nilai-nilai yang dianggap baik dan pantas dalam masyarakat, sehingga dapat dipakai sebagai pedoman untuk bertindak. Ketiga proses ini dapat bervariasi antara individu satu dengan yang lain.Variasi budaya ini sering disebut dengan istilah sub culture (Cabang Kebudayaan). Adat istiadat dan kebudayaan itu mempunyai nilai pengontrol dan nilai sangsional terhadap tingkah laku anggota masyarakat. Tingkah laku yang tidak cocok dengan norma atau peraturan diatas dianggap masalah sosial. Perilaku yang menyimpang (deviant behavior) yaitu salah satu bentuk dari permasalahan sosial, maka dalam perkembangannya sering pula menimbulkan budaya baru. Jika perilaku tersebut terjadi berulang-ulang maka masyarakat telah terbiasa dengan hal itu.

11

Peristiwa asimilasi dan akulturasi juga dapat menimbulkan perubahan budaya, tetapi kedua peristiw aini mempunyai cirri khas yang tersendiri antari lain : Dalam asimilasi unsur-unsur budaya lama dari masing-masing budaya asal sudah tidak nampak lagi. Sedangkan akulturasi unsur-unsur budaya yang berbeda itu saling bersentuhan dan saling meminjam, tetapi ciri khas masing-masing budaya tidak hilang tetap dipertahanakan. Tidak semua kelompok maupun individu mampu menerima perubahan yang terjadi. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor yaitu :
Faktor kebutuhan. Faktor keuntungan langsung yang dapat dinikmati. Faktor senang terhadap sesuatu yang baru. Faktor sifat inovatif yang selalu ingin bekreasi.

Faktor-faktor tersebut merupakan faktor yang mampu menerima perubahan budaya.sedangkan faktor-faktor yang mampu menolaknya yaitu :
Anggapan bahwa hal baru itu merugikan. Anggapan bahwa hal baruitu bertentangan dengan nilai yang sudah dianut

sebelumnya. Orang-orang muda dan kelompok wiraswasta cenderung lebih mudah menerima perubahan. Sebaliknya kelompok masyarakat yang telah mapan dan tokoh-tokoh agama yang cenderung lambat menerima perubahan.

12

2.2 Manusia dan Kebudayaan Dalam kehidupan ini setiap manusia baik dalam keluarga, organisasi, maupun dalam masyarakat pasti mempunyai budaya-budaya sendiri yang telah tertanam dalam diri mereka masing-masing dan berbeda menurut asal daerah mereka dibesarkan sebelumnya. Beraneka ragamnya ras manusia, perbedaan tempat, dan banyaknya perbedaan keyakinan pada manusia, mengakibatkan munculnya beraneka ragam kebudayaan yang dibawa oleh masing-masing manusia. Sebelum membahas tentang hubungan manusia dan kebudayaan alangkah baiknya jika tahu terlebih dahulu apa hakekat manusia dan kebudayaan sendiri bagi manusia. Manusia pada hakekatnya mempunyai makna yaitu manusia dalam kehidupannya itu tidak akan pernah bisa hidup tanpa bantuan dari manusia lain, hal atau kesadaran seperti inilah yang seharusnya dimiliki oleh setiap manusia agar pada setiap individu tidak seorang pun pada dirinya merasa paling, misalnya paling cantik, paling kaya, paling kuat, atau yang semisal itu. Semua manusia di dunia ini pada dasarnya sama mereka menginginkan kebaikan, kebagusan, keindahan pada diri mereka masing-masing. Tapi, perbedaan lingkungan, pergaulan, serta pendidikan semua itu membuat berbagai perbedaan mendasar pada pembentukan pribadi bagi setiap individu manusia. Seperti halnya dengan budaya juga mempunyai berbagai macam definisi yang dikemukakan oleh para ahli dibidang tersebut diantaranya seperti :
Prof. Dr. Koentjaraningrat mengatakan kebudayaan adalah keseluruhan

manusia dari kelakuan dan hasil kelakuan yang teratur oleh tata kelakuan

13

yang harus didapatnya dengan belajar dan yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat.
Dr. Moh. Hatta, kebudayaan adalah ciptaan hidupdari suatu bangsa.

Sultan Takdir Alisyahbana mengatakan kebudayaan adalah suatu manifestasi dari suatu tata cara berpikir.2 Definisi-definisi di atas merupakan beberapa dari banyaknya definisidefinisi yang telah dikemukakan oleh para ahli. Dari berbagai macam definisi yang telah dikemukakan tersebut mempunyai maksud yang sama, yaitu berasal dari manusia, meliputi perilaku, dan hasil kelakukan, yang telah diatur oleh tata kelakuan dalam suatu masyarakat. Setelah mengetahui apa hakekat manusia diciptakan dan makna dari kebudayaan. Maka hubungan diantara keduanya dapat disimpulkan bahwa, pertama manusia dapat dikatakan sebagai makhluk yang berbudaya. Hal itu dikerenakan manusia mempunyai 2 hal penting yaitu pikiran dan perasaan, yang keduanya itu saling mengimbangi dalam kehidupan suatu individu. Kedua, manusia sebagai makhluk termulia, dibandingkan dengan makhluk tuhan yang lain. Karena manusia diberi dengan adanya pikiran dan perasaan. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat At-tin ayat 4-6: Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia itu dalam sebaik-baik ciptaan, kemudian akan Kami kembalikan dia ke tempat yang serendahrendahnya kecuali mereka orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan. (At-Tin; 4-6)

Ilmu Budaya Dasar. Dr.Djoko Widagdho. dkk. hal. 12

14

Kebudayaan yang terus berkembang seiring dengan berkembangnya zaman, yang sebelumnya diawali dari kebudayaan yang primitif hingga sekarang yang modern memiliki 2 fungsi yang bertentangan, yaitu budaya sebagai sarana kemajuan dan sebagai ancaman bagi manusia. Alasan yang mencakup keduanya yaitu dengan budaya, kehidupan suatu individu akan terdorong menjadi lebih modern misalnya seseorang yang gaptek, karena pengaruh kebudayaan dalam penyebaran informasi seseorang itu menjadi ahlinya dalam beberapa tahun atau bahkan beberapa bulan. Budaya dapat dikatakan sebagai ancaman bagi manusia, Karena dengan berkembangnya suatu budaya dapat mengubah pola pergaulan suatu masyarakat khususnya para remajanya. Bahkan beberapa orang mengira bahwa semakin berkembang suatu budaya semakin banyak dosa yang dibuat, begitu juga sebaliknya budaya yang masih primitif budaya itu masih dianggap suci. Maka dari itu, hubungan antara manusia dan kebudayaan sangat erat sekali, karena kebudayaan itu muncul dengan adanya suatu pengalaman dari manusia. Dan perkembangan budaya harus disertai dengan etika agar ke depannya tidak mengarah ke hal-hal yang tidak diinginkan.

2.2.1 Hakikat Manusia Berbicara tentang manusia maka satu pertanyaan klasik yang sampai saat ini belum memperoleh jawaban yang memuaskan adalah pertanyaan tentang siapakah manusia itu. Banyak teori telah dikemukakan, di antaranya adalah pemikiran dari aliran materialisme, idealisme, realisme klasik, dan teologis.

15

Aliran materialisme mempunyai pemikiran bahwa materi atau zat merupakan satu-satunya kenyataan dan semua peristiwa terjadi karena proses material ini, sementara manusia juga dianggap juga ditentukan oleh proses-proses material ini.Sedangkan aliran idealisme beranggapan bahwa jiwa adalah kenyataan yang sebenarnya. Manusia lebih dipandang sebagai makhluk kejiwaan/kerohanian. Aliran realisme klasik beranggapan bahwa jiwa adalah kenyataan yang sebenarnya. Manusia lebih dipandang sebagai makhluk kejiwaan/kerohanian, dan aliran teologis membedakan manusia dari makhluk lain karena hubungannya dengan Tuhan. Di samping itu, beberapa ahli telah berusaha merekonstruksikan kedudukan manusia di antara makhluk lainnya. Juga berusaha membandingkan manusia dengan makhluk lainnya. Dari hasil perbandingan tersebut ditemukan bahwa semua makhluk mempunyai dorongan yang bersifat naluriah yang termuat dalam gen mereka. Sementara yang membedakan manusia dari makhluk lainnya adalah kemampuan manusia dalam hal pengetahuan dan perasaan. Pengetahuan manusia jauh lebih berkembang daripada pengetahuan makhluk lainnya, sementara melalui perasaan manusia mengembangkan eksistensi kemanusiaannya.

2.2.2 Hakikat Kebudayaan Kebudayaan sering kali di pahami dengan pengertian yang tidak tepat. Beberapa ahli ilmu sosial telah berusaha merumuskan berbagai definisi tentang kebudayaan dalam rangka memberikan pengertian yang benar tentang apa yang

16

dimaksud dengan kebudayaan tersebut. Akan tetapi ternyata definisi-definisi tersebut saja kurang memuaskan. Terdapat dua aliran pemikiran yang berusaha memberikan kerangka bagi pemahaman tentang pengertian kebudayaan ini, yaitu aliran idesional dan aliran behaviorisme/materealisme. Dari berbagai definisi yang telah dibuat tersebut, koentjaraningrat berusaha merangkum pengertian

kebudayaan dalam tiga wujudnya, yaitu kebudayaan sebagai wujud cultural system, social system, dan artifact. Kebudayaan sendiri disusun atas beberapa komponen yaitu komponen yang bersifat kognitif, normatif, dan material. Dalam memandang kebudayaan, orang sering kali terjebak dalam sifat chauvinisme yaitu membanggakan kebudayaannya sendiri dan menganggap rendah kebudayaan lain. Seharusnya dalam memahami kebudayaan kita berpegangan pada sifat-sifat kebudayaan yang variatif, relatif, dan universal, dan counterculture.

2.2.3 Kerohanian dalam Penghubung Budaya Bagi kebanyakan manusia kerohanian dan agama memainkan peran utama dalam kehidupan mereka, baik dalam kehidupan sehari-hari seperti biasa maupun dalam kegiatan berbudaya . Sering dalam konteks ini manusia tersebut dianggap sebagai orang manusia terdiri dari sebuah tubuh, pikiran, dan juga sebuah roh atau jiwa yang kadang memiliki arti lebih daripada tubuh itu sendiri dan bahkan kematian. Seperti juga sering dikatakan bahwa jiwa (bukan otak ragawi) adalah letak sebenarnya dari kesadaran (meski tak ada perdebatan bahwa otak memiliki pengaruh penting terhadap kesadaran). Keberadaan jiwa manusia tak dibuktikan ataupun ditegaskan, konsep tersebut tersebut disetujui sebagian orang dan ditolak

17

oleh lainnya. Juga adalah perdebatan diantara organisasi agama mengenai benar/tidaknya hewan memiliki jiwa, beberapa percaya mereka memilikinya, sementara lainnya percaya bahwa jiwa semata-mata hanya milik manusia, serta ada juga yang percaya akan jiwa kelompok yang diadakan oleh komunitas hewani dan bukanlah individu. Bagian ini akan merincikan bagaimana manusia dan budayanya berhubungan diartikan dalam istilah kerohanian, serta beberapa cara bagaimana definisi ini dicerminkan melaui ritual dan agama. a. Animisme

Animisme adalah kepercayaan bahwa objek dan gagasan termasuk hewan, perkakas, dan fenomena alam mempunyai atau merupakan ekspresi roh hidup.. Kebanyakan sistem kepercayaan animisme memegang erat konsep roh abadi setelah kematian fisik. Dalam beberapa sistem roh tersebut dipercaya telah beralih kesuatu dunia yang penuh dengan kesenangan, dengan panen yang terus-menerus berkelimpahan atau bahkan permainan yang berlebih-lebih b. Mistikme

Barangkali merupakan praktek kerohanian dan pengalaman tetapi tidak harus bercampur dengan theisme atau lembaga agama lain yang ada diberbagai masyarakat. Pada dasarnya gerakan mistik termasuk vedanto, yoga, buddhisme awal (lihat pula kerajaan manusia) tradisi memuja eleusis, perintah mistik kristiani dan pengkhotbah seperti meister eckhart, dan keislaman sufisme. Mereka memusatkan pada pengalaman tak terlukiskan dan kesatuan dengan supranatural (lihat pencerahan kekekalan). Dalam mistikme monotheis pengalaman mistik memfokuskan kesatuan dengan Tuhan.

18

c.

Politheisme

Konsep dewa sebagai makhluk yang sangat kuat kepandainnya atau supernatural, kebanyakan dikhayalkan sebagai anthropomorfik atau zoomorfik yang di ingin disembah atau ditentramkan oleh manusia dan ada sejak permulaan sejarah, dan kemungkinan digambarkan pada kesenian zaman batu pula. Dalam masa sejarah, tata cara pengorbanan berevolusi menjadi adat agama berhala dipimpin oleh kependetaan (misal : Agama vedik), pemraktekan kependetaan berkelanjutan dalam Hinduisme, yang namun telah mengembangkan teologi monotheis, seperti penyembahan berhala theismemonistik, Mesir, Yunani, Romawi, Jerman. Dan yang lain d. Monotheisme

Gagasan dari suatu Tuhan tunggal yang menggabungkan dan melampaui semua dewa-dewa kecil tampak berdiri sendiri dalam beberapa kebudayaan, kemungkinan terwujud pertama kali dalam bidaah/klenik Akhenaten (lebih dikenal sebagai henotheisme tahap umum dalam kemunculan

monotheisme). Konsep dari kebaikan dan kejahatan dalam sebuah pengertian moral timbul sebagai sebuah konsekuensi Tuhan tunggal sebagai otoritas mutlak. Dalam agama Yahudi Tuhan adalah pusat dalam pemilihan orang Yahudi sebagai rakyat, dan dalam kitab suci Yahudi takdir komunitas dan hubungannya dengan Tuhan mempunyai dengan Tuhan mempunyai hak istimewa yang jelas (harus diutamakan) di atas takdir individu. Kekristenan bertumbuh keluar dari agama Yahudi dengan menekankan takdir individual khususnya setelah kematian dan

19

campur tangan pribadi Tuhan dengan adanya inkarnasi yaitu dengan menjadi mannusia selama sementara. Islam walaupun menolak kepercayaan kristiani untuk tritunggal dan inkarnasi ketuhanan sangatlah mirip dengan kekristenan dalam melihat manusia sebagai wali/wakil dari Tuhan dan satu-satunya makhluk inkarnasi yang memiliki kehendak bebas (atau dapat berdosa) atau melakukan hal yang bertentangan dengan alam. Dalam semua agama Abraham manusia adalah penguasa atau pengurus diatas seluruh muka bumi dan semua makhluk lain sedikit lebih rendah daripada malaikat (lihat rantaian makhluk-makhluk) dan memiliki moral hati nurani yang unik. Hinduisme juga belakangan mengembangkan teologi monotheis seperti theisme monistik, yang berbeda dari pikiran barat mengenai monotheis. Agama monotheistik mempunyai kemiripan dalam kepercayaan bahwa umat manusia diciptakan oleh Tuhan diikat oleh kewajiban kasih sayang dan dirawat oleh pemeliharaan baik kaum/pihak ayah.

20

BAB. IV PENUTUP

4.1

Kesimpulan Kebudayaan berasal dari kata cultuure (Belanda) culture (Inggris) dan

colere (Latin) yang artinya mengolah, mengerjakan, menyuburkan, dan mengembangkan terutama pengolahan tanah yang kemudian berkembang menjadi segala daya dan aktifitas manusia manusia untuk mengolah dan mengubah alam. Kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan atau tindakan dan hasil karya manusia untuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar, yang tersusun dalam kehidupan manusia. Dari berbagai unsur kehidupan dapat disimpulkan bahwa kebudayaan merupakan hal yang luas karena kebudayaan merupakan hasil dari alam, pemikiran manusia dan tindakannya. Kebudayaan hanya dapat diperoleh dalam anggota masyarakat yang mana pewarisannya melalui cara belajar. Penyebaran (difusi) unsur-unsur kebudayaan dapat berlangsung melalui perpindahan maupun datangnya kelompok-kelompok menusia dengan berbagai tujuan dan terjadilah penyebaran unsur-unsur kebudayaan. Suatu kumpulan yang berintegrasi dari cara-cara berlaku yang dimiliki bersama, kebudayaan yang bersangkutan secara unik mencapai penyesuaian kepada lingkungan tertentu juga bisa membentuk sebuah kebudayaan dalam jangka waktu tertentu. Manusia pada hakekatnya mempunyai makna yaitu manusia dalam kehidupannya tidak akan pernah bisa hidup tanpa bantuan dari manusia lain. Umat manusia selalu mempunyai perhatian yang hebat akan dirinya sendiri. Kecakapan

21

manusia untuk untuk mengintrospeksi diri keinginan individu untuk menjelajahi lebih mengenai intisari diri mereka tanpa kecuali menghasilkan berbagai penyelidikan mengenai kondisi manusia merupakan pokok jenis manusia secara keseluruhan. Renungan diri adalah dasar dari filsafat dan sudah ada sejak pencatatan sejarah. Manusia kerap menganggap dirinya sebagai species dominan di Bumi dan yang paling maju dalam kepandaian dan kemampuannya mengelola lingkungan. Kepercayaan ini khususnya sangat kuat dalam kebudayaan Barat dan berasal dari bagian dalam cerita penciptaan di kitab injil yang mana Adam secara khusus diberikan kekuasaan atas Bumi dan semua makhluk. Berdampingan dengan anggapan kekuasaan manusia, kita sering menganggap ini agak radikal karena kelemahan dan singkatnya kehidupan manusia. Ahli filsafat Yahudi Protagoras telah membuat pernyataan terkenal bahwa Manusia adalah ukuran dari segalanya apa yang benar benarlah itu apa yang tidak tidaklah itu Aristoteles mendiskripsikan manusia sebagai hewan komunal yaitu menekankan pembangunan masyarakat sebagai pusat pembawaan alam manusia. Istilah yang juga menginspirasikan taksonomi spesies, Homo species pandangan dunia dominan pada abad pertengahan Eropa berupa keberadaan manusia yang diciricirikan oleh dosa dan tujuan hidupnya adalah untuk mempersiapkan diri terhadap pengadilan akhir setelah kematian. Pencerahan/pewahyuan digerakkan oleh keyakinan baru bahwa dalam perkataan Immanuel Kant Manusia dibedakan di atas semua hewan dengan kesadaran dirinya yang mana ia adalah hewan rasionil Pada abad ke-20, Sigmund Freud melancarkan serangan serius kepada

22

positivisme mendalilkan bahwa kelakuan manusia mengarah kepada suatu bagian besar yang dikendalikan oleh pikiran bawah sadar. 4.2 Saran Dari titik pandang ilmiah Homo sapiens memang berada diantara spesies yang paling tersama ratakan di Bumi. Dan hanya ada sejumlah kecil species tunggal yang menduduki lingkungan beraneka ragam sebanyak manusia. Ruparupa usaha telah di buat untuk mengidentifikasikan sebuah ciri-ciri kelakuan tinggal yang membedakan manusia dari semua hewan lain misalnya kemampuan untuk membuat dan mempergunakan perkakas, kemampuan untuk mengubah lingkungan, bahasa dan perkembangan struktur sosial majemuk. Beberapa ahli antropologi berpikiran bahwa ciri-ciri yang siap diamati ini (pembuatan perkakas dan bahan) di dasarkan pada kurang mudahnya mengamati proses mental yang kemungkinan unik di antara manusia, kemampuan berfikir secara simbolik dalam hal abstrak atau secara logika Adalah susah namun untuk tiba pada suatu kelompok atribut yang termasuk semua manusia dan hanya semua manusia dan harapan untuk menemukan ciri-ciri unik manusia yang adalah masalah darirenungan diri manusia lebih daripada suatu masalah zoologi.

23

DAFTAR PUSTAKA
Literatur : Al-Quran Arif, Syaiful. 2010. Refilosofi Kebudayaan : Pergeseran Pascastruktural. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media. Koentjaraningrat. 2005. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan. Rangkuti, Sofia, Hasibuan, Dr. Hj. 2002. Manusia dan kebudayaan di Indonesia. Dian Rakyat. Soekanto, Soejono. 2010. Sosiologi : Sebuah Pengantar. Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada Widagdho, Joko. 2001. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.

Situs Web : http://id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi diakses pada 05 April 2012 jam 20:00 http://agushidayat89.blogspot.com/2009/06/hakekat-manusia-dankebudayaan.html diakses pada 07 April 2012 jam 15:00 http://sosial-budaya.blogspot.com/2009/05/manusia-dan-kebudayaan.html diakses pada 07 April 2012 jam 15:00 http://uus-daud-yusuf.blogspot.com/2010/06/efinisi-kebudayaan-menurut-paraahli.html diakses pada 09 April 2012 jam 10:00

24