Anda di halaman 1dari 8

PERTEMUAN VI

A. Pendahuluan Di dalam teori-teori pertumbuhan ekonomi, kapital (seperti mesin, gedung, pabrik, infrastruktur fisik, dan material) disebut sebagai salah satu faktor produksi atau sumber pertumbuhan ekonomi yang sangat penting. Untuk membeli atau membuat kapital diperlukan investasi. Bahkan dapat dikatakan bahwa, walaupun tenaga kerja dan input lainnya tersedia, tanpa kapital laju sustainable development dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi sulit dicapai. Secara empiris, pentingnya investasi atau perluasan kapital bagi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi memang terbukti. Keterbatasan dana dari sumber dalam negeri untuk membiayai investasi karena rendahnya tabungan masyarakat (saving-gap) mengakibatkan lambannya laju roda pembangunan ekonomi, bahkan dapat terjadi stagnasi ekonomi. Karena keterbatasan tersebut, sementara kebutuhan dana untuk investasi domestik terus meningkat, ngara-negara berkembang pada umumnya terpaksa menggantungkan pada arus modal asing, seperti Penanaman Modal Asing (PMA) atau bahkan pinjaman luar negeri (off shore loan). Tidak sedikit NSB yang terjerumus ke dalam krisis hutang luar negeri. Indonesia dalam perjalanan proses pembangunan ekonominya juga mengalami hal yang serupa. Keterbatasan sumber dana dalam negeri untuk membiayai pembangunan, Indonesia juga menggantungkan kepada pinjaman luar negeri. Pada akhir pemerintahan Orde Lama, besarnya hutang luar negeri Indonesia baru sebesar dua milyar dolar Amerika Serikat. Ketika pemerintahan Orde Baru lengser, total hutang luar negeri Indonesia membengkak mencapai 148 dolar Amerika Serikat (termasuk hutang pemerintah dan swasta). Pembangunan ekonomi Indonesia yang sebagian besar didanai dengan pinjaman luar negeri telah mengakibatkan Indonesia

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM.

PEREKONOMIAN INDONESIA

terjerat ke dalam krisis hutang luar negeri yang dikenal dengan sebutan krisis moneter.

B. Pembentukan Tabungan Perdefinisi, tabungan nasional adalah jumlah dari tabungan pemerintah di dalam Anggaran Pendapatan dan belanja Negara (APBN) yang merupakan selisih antara penerimaan dalam negeri (antara lain dari berbagai macam pajak) dengan pengeluaran rutin (seperti gaji pegawai negeri dan subsidi bahan-bahan kebutuhan pokok), dan dari keuntungan bersih BUMN, dan tabungan masyarakat. Besarnya tabungan pada tingkat pendapatan tertentu tercerminkan dari nilai s (MPS = S/ Y) = marginal propensity to save), yang menggambarkan besarnya hasrat masyarakat untuk menabung pada berbagai tingkat pendapatan. Pada tingkat pendapatan tertentu, semakin besar nilai c (MPC = marginal propensity to consume) atau hasrat pertambahan konsumsi sebagai akibat adanya pertambahan pendapatan, semakin besar bagian dari pendapatan yang digunakan untuk konsumsi (C) , dan semakin kecil nilai untuk menabung (S), atau sebaliknya. Persamaan berikut ini memperlihatkan hubungan tabungan, konsumsi terhadap pendapatan : Y = C + S .... 6.1 Y = C + I .... 6.2 S = s Y .... 6.3 C = c Y ....... 6.4 Dalam kondisi keseimbangan : C + S = Y = C = I atau S = I .... 6.5

Contoh 1: Diketahui C = 150 + 0,75 Y, bila investasi autonomos I = 250 tentukan pendapatan nasional keseimbangan berikut konsumsi dan tabungan keseimbangannya Jawab :

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM.

PEREKONOMIAN INDONESIA

Dengan menggunakan persamaan pendapatan nasional dari sisi pengeluaran : Y=C+I Y = 150 + 0,75 Y + 250 Y 0,75 Y = 400 0,25 Y = 400 YEQ = 400 = 1.600 0,25 dan

CEQ = 150 + 0,75 (1.600) = 1.350 SEQ = - 150 + 0,25 (1.600) = 250

Bila menggunakan syarat keseimbangan model dua sektor S = I , karena S = - 150 + 0,25 Y , dan I = 250 maka - 150 + 0,25 Y = 250 0,25 Y = 400 YEQ = Contoh 2 : Diketahui C = 80 + 0,6 Y dan I = 120. Tentukan nilai-nilai keseimbangannya (YEQ , CEQ dan SEQ). Jawab : Dengan cara yang sama kita peroleh YEQ = 500 , CEQ = 380 Y=C+I Y = 80 + 0,6 Y + 120 Y 0,6 Y = 200 0,4 Y = 200 YEQ = 200 = 500 0,4 dan 400 = 1.600 0,25

CEQ = 80 + 0,6 (500) = 380 SEQ = - 80 + 0,4 (500) = 120

Bila menggunakan syarat keseimbangan model dua sektor S = I , karena S = - 80 + 0,4 Y , dan I = 120 maka - 80 + 0,4 Y = 120

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM.

PEREKONOMIAN INDONESIA

0,4 Y = 200 YEQ =

200 = 500 0,4

B. Peranan Tabungan terhadap Pertumbuhan Ekonomi Mengikuti kerangka pemikiran dari model Harrod Domar, di dalam suatu ekonomi tertutup (tanpa sektor luar negeri) dalam kondisi full employment, dan tanpa mobilitas kapital , tabungan menjadi sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi, yang mekanismenya lewat pertumbuhan investasi (saving-investment link). Oleh karena itu investasi dapat dikatakan sebagai fungsi dari tabungan I = f (S). Semakin tinggi tingkat tabungan yang dapat diciptakan, semakin besar kemampuan negara untuk melakukan investasi. Selanjutnya, peningkatan investasi menambah lebih banyak lagi kapital dan lewat proses multiplier menghasilkan laju pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan per kapita yang lebih tinggi. Dengan rasio S/Y tetap tidak berubah, peningkatan pendapatan menambah kemampuan masyarakat untuk menabung, dan seterusnya. Suatu ekonomi yang terbuka, peningkatan tabungan domestik tidak harus membuat investasi juga meningkat, atau dalam perkataan lain tabungan domestik tidak langsung ditransfer ke investasi. Dengan mobilitas kapital yang tinggi (tidak ada hambatan terhadap arus modal masuk dan keluar), tabungan dan investasi masing-masing berdiri sendiri, tidak saling mempengaruhi. Meskipun dengan tabungan tetap, investasi domestik dapat meningkat karena adanya modal masuk dari luar negeri. Namun studi-studi empiris yang ada menunjukkan adanya hubungan yang positif antara tabungan dan investasi. Hal ini didasarkan kepada beberapa alasan. Pertama, peningkatan produktivitas dan shocks lainnya memberikan efek yang sama terhadap tabungan dan investasi yang diinginkan, sekalipun dalam kondisi di mana mobilitas kapital antar negara sempurna. Kedua, peningkatan tabungan domestik akan membuat investasi meningkat , terutama di negara besar. Ketiga, capital control melindungi sumber pajak domestik dan neraca pembayaran luar negeri (Balance Of Payment = BOP) sehingga mengurangi kemungkinan defisit BOP. Terakhir, biaya transaksi yang tinggi untuk membeli sekuritas dan investasi di luar

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM.

PEREKONOMIAN INDONESIA

negeri, risiko perubahan nilai tukar, dan keterbatasan informasi antar negara mengenai investasi membuat tabungan domestik tidak begitu saja lari ke luar negeri untuk maksud investasi. Hubungan antara pertumbuhan GDP dan tingkat tabungan tidak hanya positif tetapi juga signifikan. Dengan kemajuan teknologi dan akumulasi SDM (human capital) pertumbuhan tabungan lewat efek investasi akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara permanen. Tabungan dan pendapatan mempunyai hubungan dua arah (casual link) : pendapatan meningkat tabungan meningkat pertumbuhan ekonomi pendapatan meningkat.

Gambar 6.1 Hubungan Antara Perubahan Pendapatan dan Perubahan Tabungan Dengan s Tetap Dalam Persamaan Linier

S S=sY

Garis Tabungan

C. Upaya-upaya Meningkatkan Sumber Dana Investasi di NSB Menurut Baldwin dan Meier, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam rangka mewujudkan keberhasilan pembangunan di NSB :

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM.

PEREKONOMIAN INDONESIA

1. Indogenous factor (adanya kekuatan dari dalam) untuk berkembang.


Masyarakat tersebut berkehendak untuk menaikkan tingkat hidupnya, faktor eksternal hanya bersifat pelengkap bagi keinginan masyarakat untuk berkembang.

2. Mobilitas faktor produksi. Ketidaksempurnaan pasar akan sangat


membatasi pergerakan faktor-faktor produksi dari penggunaan yang produktif ke penggunaan yang lebih produktif. Untuk itu perlu dihilangkan ketidaksempurnaan pasar.

3. Akumulasi

kapital.

Dalam

perkembangan

ekonomi

diperlukan

pembentukan kapital riil. Untuk mengukur banyaknya kapital yang dibutuhkan bagi perkembangan ekonomi perlu diperhatikan, tingkat pertambahan penduduk, target kenaikkan pendapatan riil per kapita, ICOR, dan lain sebagainya. Untuk meningkatkan sumber dana investasi pada NSB, dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut : a. Menaikkan tingkat tabungan dengan cara mengurangi tingkat konsumsi, misalnya dengan menaikkan pajak. b. Pemerintah menjual obligasi negara. c. Membatasi impor barang-barang konsumsi, bahkan impor barangbarang modal yang belum begitu diperlukan. d. Menjaga inflasi pada tingkat yang wajar, terutama dalam mengurangi tingkat konsumsi riil. e. Memindahkan f. pengangguran tersembunyi (disguished unemployment) dari sektor pertanian ke sektor industri dan jasa. Mengadakan pinjaman luar negeri. trade). g. Mendorong ekspor dengan cara memperbaiki nilai tukar (term of

4. Kriteria atau arah investasi yang sesuai dengan kebutuhan. Kriteria umum
investasi adalah mengenai produktivitas untuk perkembangan lebih lanjut, yaitu produktivitas sosial marjinal yang tinggi. Untuk itu ada tiga hal yang biasanya diperhatikan, yaitu : a. Investasi terendah). harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga memaksimalkan perbandingan antara output dan capital (COR

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM.

PEREKONOMIAN INDONESIA

b. Proyek-proyek yang dipilih harus memberikan perbandingan yang memaksimalkan c. Investasi penggunaan tenaga kerja terhadap investasi neraca (produktivitas tenaga kerja yang tertinggi). hendaknya mengurangi kesulitan-kesulitan pembayaran luar negeri (BOP) antara ekspor dan investasi.

5. Penyerapan kapital. Kemampuan penyerapan kapital ditentukan oleh dua


hal : a. Adanya atau tersedianya faktor-faktor produksi komplementer yang bekerja sama dengan kapital. b. Syarat-syarat yang diperlukan untuk menghindari inflasi dan untuk mempertahankan neraca pembayaran.

6. Stabilitas dan nilai serta lembaga-lembaga yang ada. Pola investasi


merupakan hasil-hasil pertimbangan politis, kebudayaan, agama, nilai dan lainnya. Jadi, lembaga-lembaga non ekonomi untuk pembangunan sama pentingnya dengan syarat-syarat ekonomis. Pembangunan ekonomi dapat melaju cepat bila diciptakan kebutuhan-kebutuhan baru, motif-motif baru, metode produksi baru, demikian pula lembaga-lembaga yang ada dalam masyarakat. Apabila ada halangan nonekonomis mengenai pembangunan tersebut, sebaiknya diadakan penyesuaian dengan tingkat pembangunannya. Dewasa ini, persaingan ekonomi semakin ketat. Perkembangan perekonomian ditekankan pada optimasi kemampuan daya pikir manusia dan teknologi yang dijadikan senjata pokoknya.

Soal :

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM.

PEREKONOMIAN INDONESIA

1. Pada saat Y = 0 besarnya konsumsi 150. Setiap terjadi tambahan pendapatan, sebesar 80% -nya akan diterjemahkan sebagai tambahan konsumsi. Tentukan : a. b. Besarnya MPC dan MPS Fungs C dan S YBEP Nilai-nilai keseimbangan (YEQ, CEQ, dan SEQ) bila I = 250 Gambarkan kurvanya. 2. Pada saat S = 0 besarnya Y = 300 dan pada saat Y = 0 besarnya konsumsi = 75. Tentukan : a. b. Besarnya MPC dan MPS Fungs C dan S Nilai-nilai keseimbangan (YEQ, CEQ, dan SEQ) bila I = 250 Gambarkan kurvanya. 3. Perhatikan gambar dibawah ini :

c. d. e.

c.
d.

C, S, I

Y=E C=a+bY

100
a. b. Besarnya MPC 400 MPS dan Fungs C dan S Nilai investasi autonomosnya bila YEQ = 1.200 Besarnya CEQ, dan SEQ Lengkapi gambar kurvanya.

Tentukan : 45o

c. d.
e.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM.

PEREKONOMIAN INDONESIA