Anda di halaman 1dari 4

PERENCANAAN BANGUNAN PANTAI

PENGAMANAN PANTAI DI BALI

1.

PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara kepulauan, dimana 2/3 dari seluruh luas wilayah Indonesia

berupa lautan yang secara otomatis juga memiliki banyak pantai. Pantai juga merupakan pusat aktivitas masyarakat di Indonesia, dimana banyak masyarakat yang bertempat tinggal di daerah pesisir pantai dan juga menggantungkan hidupnya dari pantai, antara lain masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan, petani rumput laut maupun pelaku pariwisata. Bali sebagai salah satu daerah tujuan wisata internasional juga sangat mengandalkan pantai sebagai daerah kunjungan wisata karena Pulau Bali dikenal luas memiliki pantai yang indah dengan berbagai kelebihan yang dikenal dengan sebutan 5S yaitu see, sand, surfing, sun and smile. Mengingat pentingnya daerah pantai bagi perkembangan perekonomian di Pula Bali, maka pemerintah melalui instansi terkait dalam hal ini Kementrerian Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Balai Wilayah Sungai Bali-Penida telah melakukan kegiatan pengamanan pantai. Diketahui Pulau Bali memiliki garis pantai sepanjang 436 km dimana 91 km diantaranya mengalami kerusakan akibat abrasi maupun pengambilan material pantai oleh masyarakat misalnya adanya penambangan pasir pantai. Hingga saat ini telah dilakukan rehabilitasi kerusakan pantai sepanjang 51 km. 2. PERMASALAHAN DAERAH PANTAI Pantai sebagai salah satu pusat aktivitas masyarakat, disamping memiliki potensi yang banyak juga memiliki beberapa permasalahan antara lain : a. Abrasi pantai Abrasi adalah terkikisnya pantai oleh

gelombang air laut. Abrasi banyak terjadi di sepanjang pantai di Pulau Bali maupun pulaupulau kecil disekitarnya. Apabila tidak ada penanganan terhadap proses abrasi maka akan terjadi penyempitan garis pantai yang bila dibiarkan terus menerus maka akan dapat menghilangkan suatu wilayah.

AGUNG NUR FAUZI

PERENCANAAN BANGUNAN PANTAI b. Sampah dan limbah Sampah dan limbah yang terjadi di daerah pantai, umumnya berada pada daerah muara sungai, dimana sampah dan limbah yang dibuang oleh masyarakat di sungai terbawa hingga ke pantai. Bila hal ini tidak ditangani maka akan sangat mengotori daerah pantai dan juga dapat mematikan terumbu karang dan binatang laut. c. Penambangan pasir pantai Selain karena abrasi, berkurangnya garis pantai dapat juga disebabkan oleh adanya aktivitas penambangan pasir pantai yang melebihi ambang batas.

d. Kumuh Kesan kumuh kerap disematkan pada daerah pantai, hal ini dapat disebabkan oleh banyaknya rumah-rumah penduduk serta kebiasaan masyarakat didaerah pantai yang membuang sampah di pantai.

e. Pelanggaran sempadan pantai Banyak bangunan yang berada disepanjang pantai tidak memperhatikan peraturan

mengenai sempadan pantai disamping ada kesan pembiaran oleh pemerintah terlebih bila bangunan yang melanggar sempadan pantai adalah bangunan hotel.

AGUNG NUR FAUZI

PERENCANAAN BANGUNAN PANTAI f. Penangkapan ikan dengan bom atau potas Penggunaan bom atau potas, selain

mematikan binatang laut berbagai ukuran juga merusak terumbu karang.

g. Kerusakan hutan bakau Kerusakan hutan bakau kerap terjadi karena ulah manusia, antara lain oleh adanya suatu pembangunan yang mengharuskan adanya perubahan tata guna lahan pantai.

Contohnya adalah pembangunan Waduk Muara Nusa Dua. Selain karena pembangunan, kerusakan hutan bakau dapat disebabkan oleh

sampah-sampah plastik yang terbawa oleh sungai masuk ke kawasan hutan bakau yang dapat mengganggu proses tumbuh tanaman bakau. 3. PENGELOLAAN DAERAH PANTAI Mengingat pantai memiliki potensi yang sangat besar dan juga banyaknya permasalahan yang terdapat pada daerah pantai, maka perlu dilakukan pengelolaan daerah pantai. Penanganan tidak hanya berupa penangan fisik namun juga non fisik yaitu dengan membuat peraturan perundangundangan yang mengatur tata cara pemanfaatan darah pantai. Beberapa penanganan yang telah dilakukan oleh pemerintah antara lain : a. Membuat peraturan perundang-undangan terkait daerah pantai Beberapa peraturan perundang-undangan yang telah dibuat oleh pemerintah antara lain: UU No.27 tahun 2007 tentang pengelolaan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil. Permen PU No.09/PRT/M/2010 tentang pedoman pengamanan pantai.

AGUNG NUR FAUZI

PERENCANAAN BANGUNAN PANTAI Dalam peraturan tersebut diatas, pengelolaan pantai ditinjau dlam beberapa aspek antara lain; aspek pembinaan & pengawasan, aspek pembangunan & pengembangan, dan aspek perlindungan dan pengamanan. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan peraturan tersebut di atas, secara garis besar pengelolaan pantai di Pulau Bali sudah mengikuti kaidah yang ada, namun masih terjadi beberapa kekurangan atau pelanggaran antara lain : Pelanggaran terhadap garis sempadan pantai yang berarti kurangnya fungsi pengawasan. Pelanggaran terhadap kebersihan pantai Kurangnya pemeliharaan terhadap fasilitas pengamanan pantai maupun fasilitas umum b. Melakukan penanganan fisik Beberapa penanganan fisik yang telah dilakukan antara lain : Membuat bangunan pengaman pantai Pembuatan bangunan pengaman pantai telah banyak dilakukan di Pulau Bali antara lain dengan membangun revetmen, groin, pemecah gelombang, jetty dan lain-lain Melakukan pengisian pasir pantai Pengisian pantai dilakukan bila pantai tersebut memiliki nilai ekonomis yang tinggi Melakukan pengerukan pantai Pengerukan pantai umumnya dilakukan pada lokasi pelabuhan pantai. Pananaman bakau Usaha lain untuk mencegah abrasi adalah dengan menanam pohon bakau yang telah terbukti efektif untuk mencegah terjadinya abrasi. Penanganan-penanganan fisik yang telah dilakukan banyak yang telah berhasil, namun ada juga beberapa yang tidak berhasil diantaranya adalah pengisian pasir di depan Kartika Plaza

AGUNG NUR FAUZI