Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM SENSOR DAN TRANSDUSER

HUKUM LAMBERT BEER

NAMA NIM KELAS

: ANANG TEGUH RIADI : 09306141026 : FISIKA B 2009

PROGRAM STUDI FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2011

I.

JUDUL HUKUM LAMBERT BEER

II.

TUJUAN 1. Mengetahui karakteristik sensor cahaya ( LDR ) dengan menggunakan larutan KMnO3. 2. Mengetahui hubungan antara tegangan listrik dengan konsentrasi larutan.

III.

DASAR TEORI Banyaknya sinar radiasi yang diabsorbsi oleh suatu larutan analit dapat dihubungkan dengan konsentrasi analit tersebut. Hubungan ini dapat dijelaskan dengan menggunakan Hukum Lambert-Beer. Pada tahun 1729 Bouguer dan tahun 1760 Lambert menyatakan bahwa apabila energi elektomagnetik diabsorbsi oleh suatu larutan maka kekuatan energi yang akan ditransmisikan kembali akan menurun secara geometri (secara eksponensial) dengan jarak atau panjang yang ditempuh oleh gelombang tersebut. Perhatikan gambar berikut ini. Cahaya dengan intensitas Io melewati suatu larutan dengan konsentrasi c, dan ketebalan wadah larutan b, dan cahaya yang keluar memiliki intensitas I.

cahaya dengan intensitas Io melewati larutan dengan ketebalan b dan konsentrasi c, sinar yang keluar memiliki intensitas I. Berikut grafik antara prosentasi transmitansi %T dengan panjang lintasan.

Berikut grafik antara absorbansi dengan panjang lintasan.

Plot antara nilai absorbansi dengan konsentrasi akan diperoleh grafik yang sama, akan tetapi mengalami deviasi pada konsentrasi yang tinggi. Inilah sebabnya dalam penentuan konsentrasi dengan menggunakan spektrometri biasanya kita menggunakan konsentrasi yang tidak terlampau besar.

Apa pentingnya nilai e atau absorbtivitas molar? jika persamaan diatas ditulis dalam bentuk e maka akan tampak seperti e=A/bc atau dengan kata lain e adalah ukuran berapa jumlah cahaya yang telah diabsorbsi oleh analit per unit konsentrasinya.

Absorbtivitas molar nilainya adalah tetap untuk setiap zat, dan senyawa dengan nilai e yang besar serta senyawa dengan konsentrasi rendah akan tetapi nilai e nya besar akan lebih mudah dideteksi. IV. DATA HASIL PERCOBAAN : No 1. 2. 3. 4. 5. 6. Konsentrasi KMnO3 (%) 100 50 25 12.5 6.25 3.125 Tegangan (V) 5.6 6.0 7.2 7.6 8.2 8.4

V.

ANALISIS DATA :

GRAFIK HUBUNGAN KONSENTRASI LARUTAN DENGAN TEGANGAN

Grafik Hubungan Tegangan terhadap Konsentrasi


9 t e g a n g a n 8 7 6 5 4 3 Series1

Karakteristik sensor LDR : Linieritas Sensor linier pada konsentrasi 12.5 % s/d 50 %

( )

2 v o 1 l 0 0 t

20

40

60 konsentrasi(%)

80

100

120

Respon sensor

= -1.6y + 20 = 37.5x 285 -1.6y = 37.5x 305 y = -23.44x + 190.63 Sensitivitas S= S = -23.44 Range dan Span Range masukan dari 3.125 % s/d 100 % Range keluaran dari 8.4 s/d 5.6 Span masukan = Imax Imin = 100 % - 3.125% = 96.875 % Span keluaran = Omax-Omin = 5.6 8.4 = -2.8

VI.

PEMBAHASAN

Percobaan kali ini berjudul Hukum Lambert Beer , bertujuan untuk mengetahui karakteristik sensor cahaya (LDR) dengan menggunakan larutan KMnO3, dan mengetahui hubungan antara tegangan dengan konsentrasi larutan. Pada dasar teori disebutkan bahwa banyaknya sinar radiasi yang diabsorbsi oleh suatu larutan analit dapat dihubungkan dengan konsentrasi analit tersebut. Dan apabila sinar dari radiasi diserap oleh suatu larutan maka energi yang ditransmisikan kembali akan menurun secara geometri. Dalam percobaan ini dilakukan variasi konsentrasi larutan KMnO3 untuk mendapatkan keluaran berupa tegangan. Konsentrasi larutan KmnO3 divariasi dari

konsentrasi 100% s/d 3.125 %. Larutan diradiasi dengan menggunakan lampu led dan disensor dengan LDR. Berikut gambar rangkaiannya :

larutan

LED LDR
Gambar 2.1 rangkaian percobaan Hukum Lambert- Beer

Dari grafik terlihat bahwa sensor LDR linier pada konsentrasi 12.5 % s/d 50 %. Respon sensor dihitung berdasarkan grafik. Grafik berbentuk linier, sehingga dianalisis dengan persamaan garis lurus. Dan didapatkan hasil bahwa respon sensor adalah y = 23.44 + 190.63. Sensitivitas sensor merupakan perbandingan output terhadap input. Sensitivitas sensor LDR pada percobaan ini adalah S = -23.44. Range masukan dari 3.125 % s/d 100 % dengan span masukan 96.875 dan range keluaran dari 8.4 s/d 5.6 dengan span keluaran -2.8. Grafik yang terbentuk merupakan grafik hubungan antara konsentrasi terhadap tegangan. Terlihat bahwa grafik linier ke kiri. Hal ini menunjukkan secara matematis gradien grafik negatif yang berarti bahwa semakin besar input, outputnya semakin kecil. Dengan kata lain bahwa semakin encer larutan, tegangan yang terukur semakin besar. Semakin encer larutan, cahaya yang terabsorbsi semakin sedikit. Hal ini berarti cahaya yang masuk ke sensor semakin besar sehingga tegangan yang terukur semakin besar. Pada percobaan ini terjadi beberapa kendala sehingga dimungkinkan terjadi banyak kesalahan. Kendala yang paling besar adalah memposisikan LED dan sensor pada posisi yang sama untuk setiap pengukuran. Bila posisi LED dan sensor berubah sedikit, tegangan yang terukur sudah berubah, sehingga dikhawatirkan tegangan yang berubah bukan karena konsentrasi, namun karena perubahan posisi sensor dan LED. Kendala yang kedua adalah penutupan larutan saat percobaan. VII. KESIMPULAN 1. Karakteristik sensor cahaya (LED) terhadap larutan KMnO3 terlihat dari grafik hasil percobaan. Karakteristik sensor cahaya :
Linieritas Sensor linier pada konsentrasi 12.5 % s/d 50 %

Respon sensor

= -1.6y + 20 = 37.5x 285 -1.6y = 37.5x 305 y = -23.44x + 190.63 Sensitivitas S= S = -23.44 Range dan Span 1. Range masukan dari 3.125 % s/d 100 % 2. Range keluaran dari 8.4 s/d 5.6 3. Span masukan = Imax Imin = 100 % - 3.125% = 96.875 % 4. Span keluaran = Omax-Omin = 5.6 8.4 = -2.8 2. Hubungan antara tegangan dengan konsentrasi larutan berdasarkan grafik adalah semakin encer larutan, tegangan yang terukur semakin besar. Hal ini karena semakin encer larutan, cahaya yang masuk ke sensor semakin banyak sehingga tegangan yang terukur semakin besar.

Jogjakarta, 12 Desember 2011 Praktikan,

Anang Teguh Riadi NIM. 09306141026