Anda di halaman 1dari 5

Untuk mendapatkan hasil dari suatu penelitian atau riset yang baik dam memuaskan semua pihak, maka

perlu dibuat dengan sifat kriteria sebagai berikut : 1. Obyektif / Objektif / Akurat Pastikan hasil riset adalah hasil terbaik yang dapat dipercaya, dapat diandalkan, teliti, cermat dan akurat sesuai dengan tujuan penelitian atau riset. 2. Tepat Waktu Usahakan penelitian dapat rampung sesuai dengan jadwal perencanaan waktu yang telah dibuat, yaitu tidak kelamaan dan tidak kecepetan. Penyelesaian setiap tahap dan langkah dalam pelaksanaan penelitan sebaiknya tidak keluar dari yang telah direncanakan. 3. Relevan Hasil penelitian atau riset dapat menjawab pertanyaan masalah yang dihadapi dan dapat menjadi bahan informasi acuan untuk pihak-pihak yang membutuhkannya. 4. Efisien Gunakan dana pelaksanaan riset atau penelitian dengan penuh tanggung jawab. Sesuaikan dana yang telah dianggarkan dengan kondisi di lapangan, dan jangan sampai melewati batas yang telah ditentukan. Dari sisi waktu dan tenaga juga sebaiknya digunakan seefisien mungkin. Penelitian atau riset yang baik akan memiliki nilai yang baik pada kriteria pada 4 point di atas. Hasil yang kurang pada satu atau lebih faktor kriteria akan dapat membuat penelitian menjadi tidak valid. Penelitian yang valid artinya bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti. Artinya, jika objek berwarna merah, sedangkan data yang terkumpul berwarna putih maka hasil penelitian tidak valid. Sedangkan penelitian yang reliable bila terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda. Kalau dalam objek kemarin berwarna merah, maka sekarang dan besok tetap berwarna merah. Berdasarkan ada tidaknya Intervensi Intervensi adalah campur tangan peneliti terhadap salah satu atau beberapa kelompok faktor yang mempengaruhi variabel. Dengan adanya intervensi peneliti maka fenomena yang akan diamati tidak terjadi secara alamiah sebagaimana bila dibiarkan tanpa campur tangan peneliti.

Penelitian yang didalamnya terdapat perlakuan yang direncanakan peneliti maka penelitian tersebut termasuk penelitian eksperimen (=penelitian percobaan=experimental study), sedang jika peneliti melakukan penelitian tanpa ada intervensi dimana pengamatan dilakukan pada situasi alamiah maka penelitian tersebut termasuk penelitian non ekperimen (penelitian non eksperimen=non experimental study)

b. Berdasarkan Perbandingan Ambil suatu misal jika seorang peneliti melakukan penelitian untuk mengetahui dinamika emosional atau spritual pada sekolompok pasien / ibu melahirkan dengan bayi cacat dengan yang sehat maka penelitian in termasuk penelitian pembandingan dua kelompok (atau lebih).

Sedangkan penelitian pembandingan dalam satu kelompok pada satu atau dua titik waktu, ambil contoh jika seorang peneliti meneliti tingkat stress sebelum dan sesudah di terapkan hipnoterapi pada Ibu akan melahirkan.

Penelitian perbandingan kelompok tunggal dengan pengalaman atau lingkungan yang berbeda antara lain misalnya jika seorang peneliti melakukan penelitian dengan membandingkan frekuensi detak jantung antara dua kelompok orang dengan perlakuan berbeda misalnya satu kelompok berenang, dan satu kelompok sit up.

Jika suatu penelitian dengan mengajukan hipotesis ada hubungan antara tingkat nyeri pasien kanker dengan tingkat optimisme untuk sembuh maka penelitian yang sedang dilakukan adalah penelitian perbandingan rangking relatif.

c. Berdasarkan Tempo Pengumpulan Data Peneliti mungkin mengambil data satu saat (single time), mungkin juga peneliti mengambil data terusmenerus sampai waktu tertentu (longitudinal/multiple time). Jenis pertama banyak dilakukan oleh para peneliti baik kalangan profesional maupun kalangan mahasiswa karena lebih murah dan segera dapat dilihat hasilnya, misalnya penelitian untuk menghitung jumlah rokok yang dikonsumsi 1 bulan terakhir pada sekelompok responden perokok.

Sedangkan penelitian dengan pengambilan data longitudinal dilakukan misalnya pada kasus peneliti inign mendeskripsikan proses penyembuhan luka bakar. Dimana tahapan demi tahapan fase penyembuhan harus diikuti peneliti sepanjang waktu ke depan seiring perubahan yang terjadi pada luka digambarkan.

Klasifikasi di atas mengelompokkan jenis penelitian dari sudut pandang ada tidaknya internvensi, pembandingan, dan tempo pengumpulan data.

Untuk keperluan pemahaman tentang variasi jenis-jenis rancangan penelitian perlu juga kiranya membedakan jenis penelitian dari sudut pandang lain. Sudut pandang yang relatif banyak digunakan adalah dari sudut pandang jumlah kontak, kurun waktu penelitian, dan sifat alamiah dari penelitian .d.

d.Jumlah Terjadinya Kontak Dari sisi kuantitas terjadinya kontak untuk observasi oleh peneliti dengan sumber data dikenal ada penelitian cross sectional study, penelitian before and after , dan penelitian longitudinal.

Penelitian cross sectional Penelitian ini disebut juga single-point study, penelitian satu-waktu, atau penelitian se-saat, karena peneliti melakukan pengambilan data data satu waktu saja, tidak mengambil data terus menerus seiring waktu ke depan. Pemilihan desain ini didasarkan atas satu alasasn atau beberapa, baik mungkin alasan teknis-efisiensi pembiayaan, ataupun alasan metodologis. Dari sisi metodologis peneliti mengambil jenis ini karena pertanyaan penelitian cukup dijawab dengan penelitian cross sectional, dan tidak perlu longitudinal atau lainnya.

Misalnya : a. Berapa insiden HIV Positif di Kab Malang pada tahun 2010? b. Alasan-alasan mahasiswa keperawatan merokok?

Untuk pertanyaan di atas peneliti tidak perlu melakukan pengambilan data sepanjang tahun, atau menanyakan alasan merokok pada tahun 2010 dan alasan merokok pada tahun 2011, karena data yang dibutuhkan untuk kedua pertanyaan penelitian di atas cukup dilakukan secara cross sectional.Dari sisi ekonomi penelitian cross sectional biasanya lebih murah, mudah dan cepat dibandingkan dengan penelitian longitudinal. Karena itu penelitian cross sectional lebih banyak kita temukan.

Penelitian Pre Test dan Post Test Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen dimana data dikumpulkan dari sumber data (subyek penelitian) baik sebelum perlakuan (intervensi) maupun sesudah perlakuan. Ini dilakukan misalnya pada suatu penelitian dengan rumusan masalah : Bagaimana dampak pengurangan insentif terhadap kualitas layanan perawat di Rumah Sakit Aisyah Malang.

Penelitian tersebut memberi intervensi yaitu : penurunan insentif terhadap perawat. Populasi penelitiannya adalah : perawat-perawat di Rumah Sakit Aisyah; sedangkan yang di test adalah kualitas layanan perawat-perawat.

Sebelum intervensi kualitas layanan di ukur (pre test), kemudian setelah lengkap diperoleh data kualitas layanan maka dilakukan tindakan berupa insentif perawat diturunkan (intervensi), kemudian setelah insentif diturunkan dilakukan pengukuran berikutnya terhadap kualitas layanannya (post test).

Penelitian Longitudinal

Pada lingkup tertentu penelitian longitudinal relatif paling jarang di lakukan, dibanding penelitian crosssectional dan penelitian pre test-post test. Penelitian ini bermanfaat untuk melihat pola atau kecenderungan (trend) fenomena terkait dengan waktu. Pada penelitian longitudinal pengambilan data dari populasi yang sama dilakukan berulang kali dengan jarak waktu pengambilan yang sama.

e. Arah Kurun Waktu Dari sisi arah kurun pengambilan data, rancanagan penelitian mungkin bersifat retrospektif, atau prospektif atau mungkin bersifat prospektif-retrospektif. Rancangan Penelitian Retrospektif Kata retrospektif berasal dari Bahasa Inggris: restrospective artinya arah ke masa lalu. Jadi bermakna fokus penuh pada fenomena di masa lalu. Rancangan penelitian restrospektif dimulai dari suatu gejala suatu variabel tergantung pada saat ini (ambil misal : kanker usus) dan kemudian mengkaitkan akibat ini dengan beberapa penyebab yang diduga sebelumnya terjadi di masa lalu (misalnya konsumsi makanan mengandung karsinogenik) Rancangan Penelitian Prospektif Kata prospektif berasal dari Bahasa Inggris: prospective artinya melihat menuju ke masa depan. Rancangan penelitian prospektif dimulai dari suatu penelitian terhadap yang diduga sebagai penyebab (misalnya konsumsi diit karsinogenik) dan kemudian di ikuti di masa yang kemudiannya untuk mengobservasi yang diduga sebagai akibat (misalnya: kanker usus) . Rancangan Penelitian Retrospektif Prospektif. Penelitian jenis ini memusatkan pada kecenderungan dalam suatu fenomena di masa lalu dan

menelitinya ke masa depan. Data dikumpulkan secara retrospektif dari rekaman dan catatan atau sumber data lain yang sudah ada, baru kemudian dilakukan intervensi dan kemudian populasi penelitian di ikuti untuk mengetahui dan memastikan dampak dari intervensi.

B. Bagaimana Rancangan Penelitian yang Paling Baik ? Tidak rancangan yang paling baik yang dapat diterapkan untuk semua rumusan masalah penelitian, rancangan penelitian yang paling baik adalah yang sesuai untuk menjawab pertanyaan penelitian. Misalnya penelitian dengan rumusan masalah bagaimana perbedaan keluhan kesehatan antara perokok pasif dan perokok aktif. Pilihan rancangan yang paling baik tidak bisa dijawab dengan mengatakan rancangan penelitian prospektif lah yang paling baik, atau justeru di jawab rancangan retrospektif lah yang paling baik. Tidak bisa demikian. Lalu bagaimana rancangan penelitian yang paling baik ?

Syarat Rancangan Penelitian yang Baik Ada beberapa syarat rancangan penelitian yang baik. Syarat-syarat tersebut adalah EMMA; yaitu efisien (efficient), biaya kecil (minimum budget), bias rendah (minimum bias), informasi banyak (maximum information), dan menerjemahkan masalah penelitian ke dalam suatau rencana penelitian secara tepat (accurate research plan). Pada penelitian observasional dibedakan tiga pendekakan: 1. Cross Sectional 2. Case Control 3. Kohort 1. Cross Sectional Desain penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan sebuah sample dari populasi dalam suatu waktu. Setelah itu, memeriksa status paparan dan status penyakit pada titik waktu yang sama dari masingmasing individu dalam sample tersebut. Artinya, tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subjek pada saat pemeriksaan. Keuntungan : o Memungkinkan penggunaan populasi dari masyarakat umum tidak hanya para pasien yang mencari pengobatan, hingga generalisasinya cukup memadai. o Dalam teknisnya mudah dilakukan, murah, dan hasilnya cepat dapat diperoleh. o Dapat dipakai untuk meneliti banyak variable sekaligus. o Jarang terancam loss to follow up (drop out). o Dapat dimasukkan ke dalam tahapan pertama suatu penelitian kohort atau eksperimen, tanpa atau dengan sedikit sekali menambah biaya. o Dapat dipakai sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya yang bersifat lebih konklusif. o studi ini bisa digunakan untuk penelitian analitik dalm bidang kesehatan. Kekurangan Sulit untuk menentukan sebab-akibat karena pengambilan data risiko dan efek dilakukan pada saat yang bersamaan (temporal relationship tidak jelas). Dibutuhkan jumlah subyek yang cukup banyak, terutama bila variable yang dipelajari banyak. Tidak menggambarkan perjalanan penyakit, insidens, maupun prognosis. Tidak praktis untuk meneliti kasus yang sangat jarang. Lebih banyak menjaring subyek yang mempunyai masa sakit yang panjang daripada yang mempunyai masa sakit yang pendek.

2. Case Control

Suatu penelitian analitik yang menyangkut bagaimana faktor risiko dipelajari dengan teknik retrospective. Efek (penyakit atau status kesehatan) diidentifikasi pada saat ini, kemudian faktor risiko diidentifikasi ada atau terjadinya pada waktu yang lalu. Keuntungan o Cocok untuk mempelajari penyakit yang jarang ditemukan o Hasil cepat, ekonomis o Subjek penelitian bisa lebih sedikit o Memungkinkan mengetahui sejumlah faktor risiko yang mungkin berhubungan dengan penyakit o Kesimpulan korelasi lebih baik, karena ada pembatasan dan pengendalian faktor risiko o Tidak mengalami kendala etik. o Kekurangan o Bias o Tidak diketahui pengaruh variabel luar yang tidak terkendali dengan teknik matching o Pemilihan kontrol dgn mathcing akan sulit bila faktor risiko yang di matchingkan banyak o Kelompok kasus dan kontrol tidak random 3. Cohort Penelitian survei yang digunakan untuk mempelajari dinamika korelasi antara factor risiko dengan efek melalui pendekatan longitudinal ke depan atau prospektif. Artinya, faktor risiko yang akan dipelajari diidentifkasi terlebih dahulu, kemudian diikuti ke depan secara prospektif timbulnya efek, yaitu penyakit atau salah satu indicator status kesehatan. Keuntungan o Dapat mengatur komparabilitas antara dua kelompok (kelompok subjek dan kelompok kontrol) sejak awal penelitian. o Dapat secara langsung menetapkan besarnya angka risiko dari suatu waktu ke waktu yang lain o Ada keseragaman observasi, baik terhadap factor risiko maupun efek dari waktu ke waktu. o Kekurangan Memerlukan waktu yang cukup lama Memerlukan sarana dan pengelolaan yang rumit Kemungkinan adanya subjek penelitian yang drop out dan akan mengganggu analisis hasil. Karena factor risiko yang ada pada subjek akan diamati sampai terjadinya efek (mungkin penyakit) maka hal ini berarti kurang atau tidak etis.