Anda di halaman 1dari 24

Pandangan Islam dalam Menghadapi Krisis Kemanusiaan pada Era Kontemporer Disusun untuk mengikuti Lomba Karya Tulis

al-Quran Mahasiswa

Ditulis oleh Hadza Min Fadhli Robby 10/298963/SP/24025

UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

Kata Pengantar Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,

Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan jalan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus
dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar (Al-Isra: 9) Puji syukur kepada Allah, Tuhan Yang Maha Memiliki Segala Ilmu, sehingga saya sebagai hambaNya masih diberikan kesempatan dan keberkatan dalam menulis karya tulis ilmiah alQur'an ini. Salawat serta salam juga tercurah bagi baginda Nabi Muhammad SAW, yang menjadi inspirasi dan teladan dalam menjalankan hidup saya hingga saat ini. Adapun tujuan saya dalam membuat karya tulis ilmiah al-Qur'an ini adalah semata-mata untuk membuktikan relevansi dari Kitabullah dalam era kontemporer. Saat ini, dimana Islam masih menerima berbagai macam steorotipe, seperti misalnya agama terbelakang, agama kekerasan, dan sebagainya, sebuah hal yang harus dilakukan oleh seorang intelektual muda Muslim adalah dengan membuktikan bahwa semua anggapan itu salah. Dengan menulis karya tulis ilmiah bertemakan, "Pandangan Islam dalam Menghadapi Krisis Kemanusiaan di Era Kontemporer", saya mencoba untuk menggali kembali firman-firman ilahi dan menerapkannya pada situasi era kontemporer, dimana dimensi krisis kemanusiaan semakin melebar dan sejauh ini, permasalahan krisis tersebut tidak dapat diselesaikan dengan baik oleh masyarakat dunia. Dengan menggunakan al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW sebagai alternative framework, penulis berharap menemukan sintesis baru terhadap permasalahan yang terjadi di dunia. Penulis juga hendak membuktikan bahwa Islam, dari awal mula ia diwahyukan oleh Tuhan hingga saat ini, masih merupakan sebuah ajaran yang secara nyata membela nilai kemanusiaan.

Selanjutnya, penulis hendak berterimakasih terhadap beberapa pihak yang telah mendukung penulis dalam upaya pengerjaan karya tulis ini, dimulai dari orangtua serta teman-teman, serta dosen-dosen di jurusan dan fakultas atas segala dukungannya. Semoga karya tulis ini dapat berguna sebagai sebuah literatur akademik kedepannya yang dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi mereka yang membutuhkan. Billahi fi sabilil haq! Yogyakarta, 3 November 2012

Hadza Min Fadhli Robby

DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar Isi Bab I - Pendahuluan 1.1 - Latar Belakang 1.2 - Rumusan Masalah 1.3 - Landasan Konseptual 1.4 - Metode Penelitian Bab II - Pembahasan 2.1 - Krisis Kemanusiaan pada Era Kontemporer: Bentuk dan Dinamika Didalamnya 2.2 - Masyarakat Global dalam Menghadapi Krisis Kemanusiaan 2.3 - Posisi Umat Islam dalam Menghadapi Krisis Kemanusiaan dalam Era Kontemporer Bab III - Analisis 3.1 - Permasalahan Penanganan Krisis Kemanusiaan dalam Sudut Pandang Islam 3.2 - Islam, Aksi Kemanusiaan dan Tanggungjawab Untuk Melindungi Bab IV - Kesimpulan 4.1 - Sintesis dan Rekomendasi 4.2 - Kesimpulan
4

Daftar Pustaka Daftar Riwayat Hidup

BAB I PENDAHULUAN 1.1 - Latar Belakang Setelah runtuhnya Tembok Berlin dan usainya Perang Dingin pada awal kurun 1990-an, masyarakat dunia beranggapan bahwa konflik di dunia telah usai, setidaknya kini tidak ada lagi persaingan yang kental antara negara-negara di dunia, yang waktu Perang Dingin dikategorikan dalam dua blok, yakni blok Barat dan blok Timur.Masyarakat dunia memiliki optimisme bahwa negara-negara di dunia akan segera bersatu dan mewujudkan perdamaian. Francis Fukuyama, seorang pakar politik asal Amerika Serikat, melihat bahwa dengan usainya Perang Dingin dan tegaknya ideologi demokrasi liberal yang menggantikan ideologi komunisme akan membawa dunia pada perkembangan puncak dalam kehidupan manusia - baik dari segi perkembangan ekonomi, perkembangan teknologi, perkembangan sosial-budaya hingga peradaban manusia, sehingga manusia akhirnya akan mencapai sebuah kondisi yang disebut sebagai The End of History.1 Namun, anggapan Fukuyama terkait hal tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar. Fakta menunjukkan, bahwa pada akhir abad ke-20 hingga awal abad ke-21 ini, konflik masih terus terjadi di dunia. Grafik dibawah menunjukkan bagaimana konflik di dunia memang tidak sepenuhnya hilang pasca Perang Dingin, meskipun memang menunjukkan penurunan yang signifikan.

Francis Fukuyama, The End of History and the Last Man, New York: The Free Press, 1992, p. xii
6

Gambar 1.1 - Tren Global dalam Konflik Bersenjata, 1946-20112 Pada awal kurun 1990-an, kita dapat melihat bagaimana masih terdapat beberapa konflik bersenjata terjadi di dunia, misal Perang Teluk yang terjadi antara Pasukan Koalisi AS dan Irak pada tahun 1991 dan Perang Balkan yang berlangsung pada tahun 1991-1999. Konflik-konflik terus berkembang, terutama setelah terjadinya peristiwa 9/11, dimana Amerika Serikat mendeklarasikan Perang Global terhadap Terorisme. Perang inilah yang kemudian membawa dunia menuju gelombang konflik yang besar lagi, dimana Amerika Serikat bersama koalisinya melakukan penyerangan ke Afghanistan dan Irak secara berturut-turut pada tahun 2001 dan 2003. Selain itu, juga terjadi konflik lain yang terjadi secara sporadis di seluruh dunia, seperti misalnya Perang Arab-Israel, Perang Sipil di Libya dan Suriah pada tahun 2011, dan perang lainnya di kawasan Afrika, Asia dan Amerika Latin. Selain konflik bersenjata, salah satu hal yang perlu diperhatikan dari teori Fukuyama bahwa kesejahteraan dan keamanan dunia akan terwujud pada dekade setelah Perang Dingin ternyata tidak terwujud sepenuhnya. Berbagai bencana kemanusiaan masih terus terjadi di berbagai wilayah di dunia, seperti misalnya bencana kekeringan dan kelaparan yang terjadi di Somalia, bencana alam di Asia-Pasifik serta bencana iklim yang terjadi di Eropa dan Wilayah Kutub. Semua konflik dan bencana kemanusiaan yang terjadi selama ini sebenarnya menyadarkan kita pada sebuah firman ilahi:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supay Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Ar-Rum: 41) Konflik dan bencana yang terjadi selama ini - dimana dalam konflik tersebut manusia terlibat secara aktif dalam melawan manusia lainnya dan manusia dengan sadar merusak alam, dan tidak melakukan perbaikan terhadapnya - merupakan sebuah refleksi atas tidak sadarnya manusia atas esensi eksistensinya di dunia ini. Manusia, sejak awal penciptaannya, telah
2

CSP Conflict Trend, Figure 6, <http://www.systemicpeace.org/CTfig06.htm>, diakses tanggal 3 November 2012


7

diperintahkan oleh Allah SWT untuk menjadi khalifah atau pemimpin di dunia ini dan diutus membawa rahmat bagi seluruh alam. Sesuai dengan firman ilahi:

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (AlAnbiyaa: 107) Oleh karena itu, dalam menghadapi segala konflik yang terjadi, peran umat Islam memiliki urgensi yang amat penting. Umat Islam, dengan berpegang pada asas al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW, selalu berpegang teguh untuk menegakkan kemanusiaan, dimanapun dan kapanpun mereka berada. Ketika masyarakat dunia sudah jenuh dengan terjadinya konflik secara meluas di dunia, mungkin umat Islam dapat menawarkan solusi alternatif dalam menyelesaikan krisis kemanusiaan di dunia. Keterlibatan perspektif Islam dalam penyelesaian krisis kemanusiaan, selain menjadi sebuah pertanda bahwa Islam merupakan ajaran yang relevan pada masa ini, juga menjadi sebuah bukti bahwa Islam bukan ajaran yang mempromosikan kekerasan dalam taraf yang tidak semestinya. Karya tulis ini bertujuan untuk membahas secara lebih rinci tentang krisis kemanusiaan dan dinamika yang terjadi hingga saat ini, bagaimana masyarakat global merespon krisis kemanusiaan tersebut, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan posisi masyarakat Islam dalam menghadapi krisis kemanusiaan, dan diakhiri dengan analisis kasus beserta sintesis dan rekomendasi yang dapat dipertimbangkan kedepannya bagi umat Islam dalam rangka berkontribusi demi perdamaian dunia. 1.2 - Rumusan Masalah Rumusan masalah yang penulis hendak ajukan dalam karya tulis ini adalah: "Bagaimana umat

Islam berkontrbusi untuk menyelesaikan krisis kemanusiaan yang terjadi di dunia saat ini dengan mengambil dasar pada al-Quran dan Sunnah Rasul SAW?" 1.3 - Landasan Konseptual Humanitarian action Menurut WHO, aksi kemanusiaan atau humanitarian action merupakan sebuah
8

tindakan untuk membantu, melindungi, dan mengadvokasi yang dilakukan secara imparsial untuk menanggapi kebutuhan setiap individu yang terkena dampak dari situasi darurat politik (complex politics emergencies) dan bencana alam.3 Humanitarian Policy Group (HPG) menyebutkan bahwa aksi kemanusiaan harus dilakukan dengan tiga dasar utama, yakni: kemanusiaan, imparsial, dan netral. 4 Responsibility to Protect (R2P) Menurut ICISS, responsibility to protect atau tanggungjawab untuk melindungi merupakan sebuah prinsip yang dibuat untuk menanggapi ancaman terhadap kehidupan seorang manusia dalam segala situasi dan kondisi, dan prinsip ini sepenuhnya terlepas dari segala kepentingan politik untuk memperjuangkan hak kelompok tertentu dan sebagainya.5 1.4 - Metode Penelitian Karya tulis ini akan menggunakan metode penelitian secara kualitatif, dimana secara spesifik akan menggunakan pendekatan sintesis realis, dimana sintesis realis akan menekankan pada refleksi dan kritik terhadap fenomena yang terjadi melalui proses analisis terhadap fakta-fakta dengan teori yang tersedia melalui serangkaian kajian literatur, sehingga pada akhir karya tulis ini, akan dihasilkan sebuah sintesis dan rekomendasi yang bertujuan untuk mengkaji dan merekonstruksi kebijakan yang telah diproduksi sebelumnya.6

ReliefWeb, Glossary of Humanitarian Terms, <http://www.who.int/hac/about/reliefweb-

aug2008.pdf>, diakses pada 3 November 2012


4

Kate Mackintosh, HPG Report: The Principles of Humanitarian Action in International Humanitarian Law, London: HPG, 2000, P. 5
5

Juan Garrigues, The Responsibility to Protect: From An Ethical Principle to An Effective Policy, FRIDE, Nov. 2007, p. 12
6

David Denyer and David Tranfield, 'Using qualitative research synthesis to build an actionable knowledge base', Journal of Management Decision, Vol. 44, No. 2, 2006, p. 221
9

BAB II PEMBAHASAN 2.1 - Krisis Kemanusiaan pada Era Kontemporer: Bentuk dan Dinamika Didalamnya Pada abad ke-21 ini, krisis kemanusiaan merupakan sebuah masalah yang masih belum bisa diselesaikan secara tuntas oleh masyarakat dunia. Bentuk dari krisis kemanusiaan yang terjadi hingga saat ini terjadi dalam beragam bentuk dan memiliki dimensi yang sangat kompleks, karena permasalahan krisis kemanusiaan tidak hanya menyentuh persoalan perang, namun juga bersinggungan dengan permasalahan lain, seperti misalnya permasalahan lingkungan (perubahan iklim), permasalahan kesehatan, dan permasalahan ekonomi. Kombinasi dari permasalahan ini diistilahkan sebagai complex political emergencies, dimana manusia menjadi aktor utama yang menyebabkan terjadinya krisis kemanusiaan secara berkepanjangan. Salah satu contoh utama dari complex political emergencies adalah konflik yang berlangsung di Somalia, dimana ketiadaan pemerintah yang kuat dan berdaulat, sistem ekonomi yang hancur, perang sipil yang berkepanjangan, serta terjadinya kekurangan sumberdaya yang meluas membuat kondisi di Somalia tidak bisa ditangani dengan mudah. Terdapat empat indikator utama ketika kita hendak melihat sebuah fenomena tersebut sebagai krisis kemanusiaan. Pertama, krisis kemanusiaan terjadi ketika terdapat kasus kelaparan massal yang disebabkan oleh kurangnya pasokan pangan. Kedua, adanya perpindahan penduduk massal secara paksa dari daerah tempat tinggalnya. Ketiga, sebagai konsekuensi dari perpindahan penduduk massal yang disebabkan oleh kekerasan, maka akan terdapat daerah-daerah tertentu yang menjadi kantong pengungsian yang terdapat di luar negara asal pengungsi dan tentunya ini menyebabkan kondisi yang kompleks di wilayah sekitar. UNHCR biasanya berperan penting dalam mengatur masalah pengungsian ini. Keempat, krisis kemanusiaan dilihat melalui ukuran dana yang dibutuhkan suatu wilayah untuk memperbaiki kondisi, dimana dana ini biasanya disusun oleh UN OCHA (UN Office for the Coordination of
10

Humanitarian Affairs)7 Dalam perkembangannya, krisis kemanusiaan terjadi dalam jumlah yang besar di benua Afrika, dimana 16 dari 30 negara (51%) yang terdapat di benua tersebut mengalami krisis kemanusiaan yang serius.8 Selanjutnya, wilayah yang mengalami krisis kemanusiaan yang cukup serius ialah wilayah Timur Tengah, dimana setelah terjadinya Arab Spring, dapat dilihat bahwa terdapat banyak penduduk di negara-negara seperti Tunisia, Yaman, Libya, dan Suriah mengungsi ke negara lain untuk berlindung dari adanya represi dari rezim otoriter. Wilayah lainnya yang mengalami krisis kemanusiaan ialah benua Asia, dimana masih terjadi beberapa kasus perpindahan secara paksa yang menyebabkan terjadinya pengungsian, seperti di negara Korea Utara dan Filipina. 2.2 - Masyarakat Global dalam Menghadapi Krisis Kemanusiaan Masyarakat global sebenarnya telah memiliki beragam inisiatif dalam menghadapi krisis kemanusiaan. Berdirinya lembaga swadaya masyarakat yang mulai bermunculan sejak pertengahan hingga akhir abad ke-20 telah membawa dampak yang signifikan terhadap penyelesaian krisis kemanusiaan di dunia. Inisiatif dari Persatuan BangsaBangsa (PBB) untuk mendirikan UN OCHA sebagai sebuah badan koordinasi yang mewadahi kepentingan dari berbagai lembaga swadaya masyarakat yang melakukan kegiatan kemanusiaan serta eksistensi dari lembaga kemanusiaan internasional lainnya, seperti ICRC (International Committee of Red Cross) telah berperan penting dalam mengurangi penderitaan manusia saat berlangsungnya krisis kemanusiaan, baik itu disebabkan oleh bencana ataupun konflik bersenjata dan juga berperan penting dalam upaya penyelesaian krisis dan rekonstruksi. Lembaga-lembaga kemanusiaan internasional dan lembaga swadaya masyarakat bekerja dalam tiga prinsip aksi kemanusiaan yang telah disebutkan di awal karya tulis, dimana dalam melakukan aksi kemanusiaan, prinsip kemanusiaan, imparsialitas dan kemanusiaan harus dijalankan secara konsekuen. Walaupun memiliki prinsip dasar kemanusiaan, sebenarnya secara operasional lembaga swadaya masyarakat yang
7

Maria Canadas Francesch et al, Alert 2010! Reports on conflict, human rights and peacebuilding, Barcelona: Escola de Cultura de Pau, p. 112-113
8

Ibid, p. 114
11

bergerak dalam bidang kemanusiaan memiliki tipologi dan tradisi yang berbeda, dimana tiga tipologi tersebut terdiri atas tipologi Wilsonian, Dunantist, dan religius. Lembaga swadaya masyarakat yang berbasis Wilsonian akan cenderung bergerak atas dasar kebutuhan untuk menyebarkan bantuan secara cepat, melakukan operasi dalam jangka waktu yang singkat dan sangat bergantung dengan negara (meminta sebagian anggaran pemerintah untuk dijadikan donor). Sebaliknya, dalam lembaga swadaya masyarakat yang berbasis Dunanist akan cenderung bergerak atas dasar kebutuhan untuk melakukan konstruksi kemanusiaan yang bersifat jangka panjang dan lebih independen dari pemerintah dibandingkan Wilsonian. Sedangkan lembaga swadaya masyarakat yang berbasis pada dasar iman dan kepercayaan melakukan operasionalnya secara konsisten dan berlanjut di wilayah konflik dan krisis. Lembaga swadaya masyarakat yang berbasis pada iman tidak menjadikan agenda penyebaran iman menjadi agenda utama meskipun dalam beberapa kasus, hal tersebut mungkin saja terjadi. Prioritas utama dari lembaga swadaya masyarakat berbasis iman tetap untuk membantu korban dari krisis kemanusiaan, terlepas dari apapun latar belakang dari korban tersebut.9 Saat ini, terdapat beragam tantangan yang saat ini dihadapi oleh lembaga kemanusiaan internasional dan lembaga swadaya masyarakat dalam menghadapi permasalahan krisis kemanusiaan. Menurut Stoddard, setidaknya terdapat tiga persoalan utama dalam pelaksanaan aksi kemanusiaan.10 Persoalan pertama ialah tentang keterlibatan

perusahaan dan korporasi besar dalam upaya untuk membantu pendanaan dan rekonstruksi krisis kemanusiaan. Adanya keterlibatan korporasi ini dikhawatirkan oleh lembaga swadaya kemanusiaan dikarenakan korporasi besar pastinya akan mencoba untuk mencari celah untung dari sektor rekonstruksi, seperti misalnya perbaikan bangunan, jalanan, bahkan hingga sektor vital, seperti sektor kesehatan, air bersih dan sebagainya. Persoalan kedua ialah tentang kontroversi mengenai peran lembaga swadaya
9

Abby Stodard, 'Humanitarian NGO: Challenge and Trends' dalam Joanna Macrae dan Adele Hammer (ed), HPG Report 14: Humanitarian Action and the global war on terror: a review of trends and issues, p. 27
10

Ibid, p. 30-35
12

masyarakat dalam mengadvokasi kepentingan dari kelompok masyarakat tertentu, seperti misalnya isu demokrasi dan HAM. Hal ini tentunya akan mempengaruhi netralitas dari lembaga swadaya tersebut, dimana pemerintah cenderung tidak akan menerima lembaga swadaya masyarakat yang mendukung kelompok masyarakat tertentu. Namun, di satu sisi, lembaga swadaya masyarakat merasakan bahwa kepentingan masyarakat yang menderita harus didahulukan dan lembaga swadaya masyarakat harus membela kepentingan masyarakat yang mungkin saja terus-menerus ditekan oleh pemerintah. Ketiga adalah persoalan tentang bagaimana bantuan yang diberikan oleh lembaga swadaya masyarakat kemudian justru membawa dan mengobarkan konflik yang serius di masyarakat. Di beberapa wilayah yang mengalami krisis kemanusiaan, seperti di Afghanistan, Bosnia, Mozambik, Sierra Leone dan lainnya, permasalahan mengenai penyalahgunaan bantuan telah berujung pada konflik antar kelompok dan kepentingan.11 2.3 - Posisi Umat Islam dalam Menghadapi Krisis Kemanusiaan dalam Era Kontemporer Ajaran Islam memiliki sebuah landasan utama dalam upaya untuk menyikapi krisis kemanusiaan, yakni upaya untuk saling membantu sesama manusia di masa senang maupun sulit dan upaya untuk mewujudkan keadilan sosial di tengah-tengah masyarakat. Intinya, Islam sangat mempromosikan ajaran tentang solidaritas sesama manusia, sebagaimana tergambar jelas dalam sebuah hadits Nabi: : ( )

Dari Anas Bin Malik ra., Rasulullah SAW. Bersabda: Tidak beriman seseorang sampai ia mencintai saudaranya lebih dari dirinya sendiri. (HR. Muttafaq Alaihi)

11

Peter Beaumont, War zone aid fuels more conflict, 14 Januari 2007

<http://www.guardian.co.uk/society/2007/jan/14/internationalaidanddevelopment.internationalnews>, diakses pada tanggal 4 November 2012


13

Selain itu, hadits Nabi yang lainnya juga mengajarkan umat Islam untuk selalu memulai inisiatif dalam melakukan kebaikan: . : ! : Dari Abu Dzar ra., Rasulullah SAW. Bersabda: Tidak ada satu pun jiwa anak keturunan Adam melainkan ia wajib bersedekah setiap hari dari mulai matahari terbit sampai terbit kembali. Ditanyakan, Wahai Rasulullah! Dari mana kami mempunyai harta untuk kami sedekahkan? Beliau menjawab, Sesungguhnya pintu-pintu kebaikan sangat banyak. Tasbh, tahmd, takbr, amar marf nahi munkar, engkau menyingkirkan gangguan dari jalan, engkau memperdengarkan kepada orang yang tuli, engkau memberi petunjuk kepada orang yang buta, memberi petunjuk jalan kepada orang yang meminta petunjuk untuk memenuhi kebutuhannya, berjalan dengan kekuatan kedua betismu untuk orang kelaparan dan minta bantuan, dan memikul dengan kekuatan kedua lenganmu untuk orang lemah. Semua itu adalah sedekah darimu untuk dirimu (HR. Ibnu Hibban) Dilandasi oleh adanya hadits ini, umat Islam kemudian membentuk beberapa pergerakan dan inisiatif guna melakukan advokasi dan asistensi terhadap permasalahan yang terjadi dalam krisis kemanusiaan sebagai sebuah pembuktian dari keimanan mereka. Kebanyakan inisiatif tersebut telah berlangsung dalam jangka waktu yang lama melalui keberadaan lembaga zakat, infaq, sadaqah dan wakaf (ZISWAF) yang berada di masing-masin negara, dimana lembaga ZISWAF ini memiliki peranan penting dalam menjalankan redistribusi kekayaan dari pihak yang mampu ke pihak yang membutuhkan, terutama bagi mereka yang sedang berada dalam krisis kemanusiaan. Sampai sekarang, lembaga-lembaga ZISWAF dari berbagai negara, seperti misalnya Arab Saudi, negara-negara Teluk, Malaysia dan Indonesia secara konsisten mendistribusikan bantuan ke Pada akhir kurun 1990-an, mulai bermunculan lembaga-lembaga kemanusiaan Islam yang mengikuti pola manajemen barat dalam upaya membangun struktur administrasi
14

dan mekanisme pengelolaan lembaga yang lebih baik lagi. Lembaga-lembaga kemanusiaan tersebut diantaranya adalah Islamic Relief, Muslim Aid, Aksi Cepat Tanggap (Indonesia), dan sebagainya. Lembaga-lembaga ini biasanya beroperasi secara spesifik, dimana mengumpulkan bantuan dari masyarakat melalui fund rising untuk kasus/krisis kemanusiaan tertentu. Walaupun begitu, lembaga-lembaga ini masih sangat bergantung pada keberadaan dari ZISWAF, dimana ZISWAF ini akan diinvestasikan dalam bentuk properti atau saham yang akan dapat digunakan secara terus-menerus untuk mendukung program asistensi kemanusiaan.12 Secara aktif, lembaga kemanusiaan yang didirikan oleh umat Islam menjangkau banyak kawasan di dunia terutama di beberapa wilayah kritis, seperti Jalur Gaza, Somalia, Suriah dan lainnya. Di daerah tersebut, lembaga kemanusiaan Islam memiliki peranan yang penting dan dipercaya oleh seluruh pihak di wilayah tersebut, baik dari masyarakat lokal, pemerintah hingga pemberontak, karena bergerak atas landasan keimanan yang sama.

12

Mamoun Abouarqoub dan Isabel Phillips, A Brief History of Humanitarianism in the Muslim World, Birmingham: Islamic Relief Worldwide, 2009, p.9
15

BAB III ANALISIS 3.1 Permasalahan Penanganan Krisis Kemanusiaan dari Sudut Pandang Islam Dalam bagian pembahasan tadi telah disebutkan beberapa persoalan utama terkait bagaimana masyarakat global masih menghadapi beberapa permasalahan terkait krisis kemanusiaan. Permasalahan ini terjadi pada level operasional, dimana terjadi interpretasi yang beragam dalam memandang sebuah fenomena, sehingga terkadang prinsip kemanusiaan yang telah digariskan dalam aksi kemanusiaan menjadi bias dan membingungkan bagi banyak pihak. Dalam bagian ini, penulis akan secara elaboratif membahas tentang bagaimana sebenarnya Islam memandang permasalahan yang terjadi dalam penanganan krisis kemanusiaan serta bagaimana dilema-dilema tersebut dapat diselesaikan guna mengakhiri penderitaan manusia. Dalam menghadapi persoalan pertama, yakni keterlibatan korporasi dan perusahaan besar yang akan menguasai sektor publik dalam penanganan krisis kemanusiaan, Islam sebenarnya secara jelas menolak adanya dominasi terhadap sektor publik oleh kelompok tertentu, terutama apabila sektor publik ini dieksploitasi pada masa-masa krisis kemanusiaan. Pada dasarnya, sektor publik seperti masalah air, tanah dan segala macamnya dimiliki oleh Allah SWT sebagai pencipta bumi dan langit, namun kewenangan oleh mengelolanya diserahkan oleh manusia secara adil dan berimbang. Sektor publik, dalam fiqh mu'amalah, merupakan sebuah sektor yang membawa kemaslahatan dan kepentingan yang besar bagi masyarakat umum sehingga perlu dilindungi bersama oleh masyarakat. Seperti yang telah disabdakan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits: ,, Orang muslim berserikat pada tiga hal: air, rerumputan (ladang) dan api (energi). (HR Ibnu Abbas) Dalam upaya menghadapi upaya korporasi yang mulai mengadakan proyek-proyek filantropis namun berbasis kepentingan industri, lembaga kemanusiaan Islam harus
16

secara aktif mengadvokasi korporasi-korporasi tersebut supaya tidak melakukan upaya dominasi yang dapat menambah penderitaan masyarakat. Dalam beberapa kasus, lembaga kemanusiaan Islam berperan dalam mendekati perusahaan-perusahaan tersebut dan pada akhirnya, perushaan-perusahaan besar kemudian mengalokasikan

dana/teknologinya secara percuma melalui lembaga kemanusiaan tersebut untuk memperbaiki sekitar dan mengelola komoditas seperti air bersama masyarakat sekitar. Salah satu lembaga yang secara aktif mendekat perusahaan-perusahaan tersebut melalui program Manajemen Corporate Social Responsibility adalah lembaga Aksi Cepat Tanggap yang berada di Indonesia .13 Dalam menghadapi persoalan kedua, yakni tentang bagaimana lembaga kemanusiaan secara aktif dapat mengadvokasi permasalahan kemanusiaan. Dalam Islam, hal-hal yang mendesak dan menjadi agenda penting dalam masyarakat harus diperjuangkan secara konsisten oleh lembaga kemanusiaan tersebut. Ketika sebuah institusi pemerintahan memang melakukan kezaliman dan pelanggaran terhadap kemanusiaan secara konsisten, hingga program-program yang dijalankan oleh lembaga kemanusiaan berujung pada kegagalan, maka lembaga kemanusiaan perlu mempertimbangkan opsi advokasi terkait hak-hak masyarakat untuk dilindungi. Syaikh Yusuf Qardhawi dalam bukunya Fiqhul Awlawiyat menyebutkan bahwa merupakan hal yang penting bagi umat Islam karena disebutkan dalam al-Qur'an, bahwa menegakkan keadilan dan kebenaran merupakan prioritas utama karena itu merupakan pengejawantahan dari sifat takwa14:

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu
13

CSR Management and Development, ACTforHumanity Website, <http://www.actforhumanity.or.id/ind/page/4fe3a670e0dde>, diakses 4 November 2012
14

Syaikh Dr. Yusuf Al-Qardhawy, Fiqhul Awlawiyat, Kairo: Al-Maktabah al-Wahbah, 1996, p.

219
17

menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Maidah: 8) Selain itu, dalam hadits Rasulullah disebutkan juga bahwa advokasi untuk mencegah kezaliman pada masa krisis kemanusiaan menjadi agenda penting yang harus dilakukan oleh lembaga kemanusiaan Islam: Sesungguhnya jihad yang paling besar adalah menegakkan kalimat adil (benar) didepan penguasa yang zalim (HR Abu Daud) Tentu saja, advokasi tersebut harus disampaikan secara benar dan proporsional, bukan melalui cara-cara kekerasan yang tentunya akan menyulut kekerasan lainnya, sehingga justru membawa kemudharatan bagi masyarakat umum. Dalam permasalahan ketiga, yakni masalah tentang konflik yang disebabkan oleh adanya perebutan masalah bantuan yang disebarkan oleh lembaga kemanusiaan. Perebutan dalam konflik sendiri seringkali disebabkan oleh adanya pihak yang merasa diuntungkan dari pembagian bantuan tersebut (hubungan antar-kelompok), atau adanya kecenderungan koruptif dari lembaga kemanusiaan. Hal yang perlu dilakukan untuk memperbaiki hal ini adalah bahwa lembaga kemanusiaan harus dapat konsisten terhadap prinsip-prinsip kemanusiaan, imparsialitas, dan netralitas.Islam memandang bahwa penyebaran bantuan ini harus disebarkan secara adil dan tidak memandang siapapun atau latar belakang dari penerima bantuan tersebut. Karena pada dasarnya, tujuan dari kemanusiaan Islam (Islamic humanitarianism) adalah melindungi dan memanusiakan manusia tanpa memandang asal dari manusia tersebut dan tanpa meminta imbalan, kecuali ridha Allah SWT. 3.2 Islam, Aksi Kemanusiaan dan Tanggungjawab untuk Melindungi Telah dijelaskan di bagian awal pembahasan bahwa krisis kemanusiaan sebenarnya bermula dari sebuah kondisi yang disebut sebagai complex political emergencies. Sebuah konflik bersenjata atau bencana alam akan bereskalasi menjadi sebuah complex
18

political emergencies manakala terdapat kondisi dimana: (1) masyarakat mengalami kemiskinan secara luas dan terjadi ketimpangan ekonomi, (2) tatakelola pemerintahan yang buruk, (3) tidak sedianya bahan pokok pangan, (4) pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia. Dalam menghadapi kondisi ini, lembaga kemanusiaan seringkali dihadapkan oleh berbagai dilema. Dilema tersebut adalah dimana lembaga kemanusiaan harus menghadapi pemerintahan otoriter yang berkuasa sebelum dapat menyentuh masyarakat. Hal ini sempat disinggung pada pembahasan di subbab sebelumnya. Seringkali, permasalahan krisis kemanusiaan tidak dapat diselesaikan karena pemerintahan otoriter menutup akses terhadap lembaga kemanusiaan, seperti pada kasus Myanmar dan Suriah. Lembaga kemanusiaan internasional, dengan pengecualian ICRC, hanya dapat membantu masyarakat secara parsial dan tidak sepenuhnya dapat membantu masyarakat untuk keluar dari permasalahannya. Ketika terjadi hal seperti ini, krisis kemanusiaan akan terus terjadi sepanjang waktu dan akan terus menimbulkan korban yang semakin banyak, karena pemerintah terus melakukan aksi kezaliman dan pelanggaran hak asasi manusia selama berlansgungnya complex political emergencies. Oleh karena itu, akhirakhir ini di masyarakat internasional muncul inisiatif untuk mengembangkan prinsip R2P (Responsibility to Protect), dimana prinsip ini menekankan pada perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia dalam segala kondisi dan mencoba untuk mereduksi/mengeliminasi bentuk ancaman atau tekanan terhadap hak-hak asasi tersebut. R2P dinilai penting dalam penyelesaian krisis saat ini, karena dianggap lebih efektif dalam menyelesaikan krisis kemanusiaan dan mengangkat penderitaan dari manusia dalam krisis tersebut. Dalam operasionalnya, R2P menganggap dasar kemanusiaan sebagai basis utama, bahkan lebih utama dari kedaulatan suatu negara, sehingga ketika suatu negara tidak dapat melindungi kemanusiaan di negaranya sendiri, maka inisiatif dari masyarakat internasional dapat menjalankan sebuah operasi untuk menerapkan R2P. Namun, terdapat perdebatan dalam menerapkan prinsip R2P ini. Salah satu contoh kasus yang relevan dapat dilihat di PBB, tentang bagaimana persoalan mengenai intervensi kemanusiaan di Suriah selalu berakhir hampa, dimana blok antara AS dan Rusia-Cina selalu berseteru terkait legalitas intervensi.

19

Legalitas intervensi ini menyangkut tentang bagaimana masing-masing blok kemudian menerjemahkan makna kedaulatan. Blok Rusia-Cina memandang bahwa kedaulatan merupakan sebuah hal penting yang perlu dihormati oleh negara lain, terlepas bagaimana negara tersebut memperlakukan masyarakatnya. Rusia dan Cina memandang bahwa tindakan yang dilakukan oleh Suriah mungkin benar dalam perspektif Suriah untuk menjaga kestabilan politik di dalamnya. Sedangkan, blok AS berpendapat bahwa kedaulatan Suriah sudah hilang, karena tentunya Suriah sudah kehilangan legitimasi dari rakyatnya sendiri yang disiksa. Dalam perspektif Islam, perlindungan terhadap kemanusiaan tertulis jelas dalam sebuah firman ilahi:

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa : "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekkah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau !". (An-Nisa:75) Sudah jelas termaktub dalam al-Qur'an, bahwa hak-hak asasi manusia yang disiksa dan dizalimi oleh pemerintahan otoriter harus dilindungi. Bahkan, umat Islam secara kolektif harus melakukan upaya jihad dalam berbagai sektor, seperti melalui sektor politik, ekonomi, hingga dalam skala tertinggi, yakni militer, untuk membebaskan masyarakat yang tertindas dari pemerintahan yang zalim. Tentunya firman ilahi ini snagat berhubungan dan memiliki korelasi yang erat dengan prinsip R2P yang mementingkan inisiatif melindungi, supaya kondisi complex political emergencies dapat secara berangsur-angsur pulih, dan pulihnya kondisi tersebut juga berdampak pada
20

berhentinya krisis kemanusiaan di sebuah wilayah sehingga manusia di wilayah tersebut dapat menjalankan kehidupannya dengan baik.

21

BAB IV KESIMPULAN Setelah melalui pembahasan yang panjang terkait pandangan Islam dalam permasalahan krisis kemanusiaan, penulis hendak memberikan beberapa rekomendasi terkait kepada pihak-pihak pemangku kepentingan berdasarkan fakta yang ada serta kesimpulan terkait makalah ini. Rekomendasi pertama, lembaga kemanusiaan Islam bersama dengan lembaga kemanusiaan lainnya yang berbasis keimanan lain, atau lembaga kemanusiaan berbasis sekuler hendaknya selalu melakukan koordinasi bersama dalam menyelesaikan permasalahan kemanusiaan, dimana permasalahan krisis kemanusiaan harus

diselesaikan menurut kebutuhan masyarakat sekitar dengan prinsip adil, profesional dan proporsional, dilakukan secara keberlanjutan dan jangka panjang, sehingga masyarakat dapat merasakan dampak baik dari upaya rekonstruksi yang dilakukan oleh lembaga kemanusiaan tersebut. Kedua, lembaga kemanusiaan Islam bersama dengan lembaga kemanusiaan lainnya harus secara aktif melakukan advokasi kepada pihak pemerintah terkait dalam upaya untuk memulihkan complex political emergencies yang memperumit penyelesaian dari krisis kemanusiaan, dengan menyampaikan kepentingan dari masyarakat secara lansgung dan meminta pemerintah untuk menghormati hak asasi manusia. Jikalau langkah ini dianggap tidak berhasil, maka dengan koordinasi bersama PBB, lembaga kemanusiaan dapat mengajukan opsi untuk melangsungkan R2P untuk mengakhiri penderitaan masyarakat di wilayah tersebut. Kesimpulan dari karya tulis ilmiah ini adalah bahwa Islam merupakan agama yang mendasarkan ajarannya atas dasar solidaritas membantu sesama manusia dan menegakkan keadilan demi tegaknya dunia yang diridhai oleh Allah SWT. Krisis kemanusiaan yang merupakan salah satu bagian dari dinamika sejarah manusia merupakan permasalahan yang menjadi tanggungjawab manusia sebagai khalifah filardh untuk diselesaikan menurut firman Allah SWT dalam al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW.

22

DAFTAR PUSTAKA Sumber Bacaan dan Buku Abby Stodard, 'Humanitarian NGO: Challenge and Trends' dalam Joanna Macrae dan Adele Hammer (ed), HPG Report 14: Humanitarian Action and the global war on terror: a review of trends and issues, p. 27 David Denyer and David Tranfield, 'Using qualitative research synthesis to build an actionable knowledge base', Journal of Management Decision, Vol. 44, No. 2, 2006, p. 221 Francis Fukuyama, The End of History and the Last Man, New York: The Free Press, 1992 Juan Garrigues, The Responsibility to Protect: From An Ethical Principle to An Effective Policy, FRIDE, Nov. 2007 Kate Mackintosh, HPG Report: The Principles of Humanitarian Action in International Humanitarian Law, London: HPG, 2000 Mamoun Abouarqoub dan Isabel Phillips, A Brief History of Humanitarianism in the Muslim World, Birmingham: Islamic Relief Worldwide, 2009 Maria Canadas Francesch et al, Alert 2010! Reports on conflict, human rights and peacebuilding, Barcelona: Escola de Cultura de Pau Syaikh Dr. Yusuf Al-Qardhawy, Fiqhul Awlawiyat, Kairo: Al-Maktabah al-Wahbah, 1996 Sumber Website CSR Management and Development, ACTforHumanity Website, <http://www.actforhumanity.or.id/ind/page/4fe3a670e0dde>, diakses 4 November 2012 Peter Beaumont, War zone aid fuels more conflict, 14 Januari 2007 <http://www.guardian.co.uk/society/2007/jan/14/internationalaidanddevelopment.internationaln
ews>, diakses pada tanggal 4 November 2012
23

ReliefWeb, Glossary of Humanitarian Terms, <http://www.who.int/hac/about/reliefwebaug2008.pdf>, diakses pada 3 November 2012

CSP Conflict Trend, Figure 6, <http://www.systemicpeace.org/CTfig06.htm>, diakses tanggal 3 November 2012

24