Anda di halaman 1dari 90

PENGARUH EMULGATOR NOVEMER DAN VISCOLAM TERHADAP KESTABILAN FISIK KRIM DARI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL AKAR MURBEI

(Morus alba L.) DAN BUAH MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa Boerl.)

ANDI SYAMSUL BAKHRI N111 07 054

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2011

PENGARUH EMULGATOR NOVEMER DAN VISCOLAM TERHADAP KESTABILAN FISIK KRIM DARI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL AKAR MURBEI (Morus alba L.) DAN BUAH MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa Boerl.)

SKRIPSI untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat untuk mencapai gelar sarjana

ANDI SYAMSUL BAKHRI N111 07 054

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2011

PENGARUH EMULGATOR NOVEMER DAN VISCOLAM TERHADAP KESTABILAN FISIK KRIM DARI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL AKAR MURBEI (Morus alba L.) DAN BUAH MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa Boerl.)

ANDI SYAMSUL BAKHRI N111 07 054

Disetujui oleh : Pembimbing Utama, Pembimbing Pertama,

Dra. Hj. Aisyah Fatmawaty, M.Si., Apt. NIP. 19541117 198301 2 001

Dra. Rosany Tayeb, M.Si, Apt.. NIP. 19561011 198603 2 002

Pada tanggal

2011

iii

PENGESAHAN
PENGARUH EMULGATOR NOVEMER DAN VISCOLAM TERHADAP KESTABILAN FISIK KRIM DARI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL AKAR MURBEI (Morus alba L.) DAN BUAH MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa Boerl.)

Oleh : ANDI SYAMSUL BAKHRI N111 07 054 Dipertahankan Dihadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin Pada tanggal : 2011 Panitia Penguji Skripsi : 1. Dra. Hj. Nursiah Hasyim, CES., Apt. (Ketua) 2. Drs. Ermina Pakki, M.Si., Apt. (Sekretaris) 3. Prof. Dr. Gemini Alam, M.Si., Apt. (Anggota) 4. Dra. Hj. Aisyah Fatmawaty, M.Si., Apt. (Ex Officio) 5. Dra. Rosany Tayeb, M.Si, Apt. (Ex Officio) Mengetahui : Dekan Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin : .......................... : .......................... : .......................... : .......................... : ..........................

Prof. Dr. Elly Wahyudin, DEA, Apt. NIP. 19560114 198601 2 001 iv

PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini adalah karya saya sendiri, tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Apabila dikemudian hari terbukti bahwa pernyataan saya ini tidak benar, maka skripsi dan gelar yang diperoleh, batal demi hukum.

Makassar,

Mei 2011

Penyusun

ANDI SYAMSUL BAKHRI

UCAPAN TERIMA KASIH Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah swt karena atas berkah dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini sebagai persyaratan untuk menyelesaikan studi di Fakultas Farmasi, Universitas Hasanuddin. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini banyak rintangan dan hambatan yang dihadapi, namun dengan doa dan bantuan dari berbagai pihak, skripsi ini dapat terselesaikan. Oleh karena itu, perkenankanlah penulis mengungkapkan rasa terima kasih dan

penghargaan yang tulus kepada Ibu Dra. Hj. Aisyah Fatmawaty, M.Si, Apt. selaku pembimbing utama, dan Ibu Dra. Rosany Tayeb, M.Si, Apt. selaku pembimbing pertama yang dengan ikhlas telah meluangkan waktu dan pikirannya untuk memberikan petunjuk dan bimbingan kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya juga penulis sampaikan kepada ; Prof. Dr. Elly Wahyudin, DEA, Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi, lbu Dra. Ermina Pakki, M.Si., Apt. selaku penasehat akademik yang telah memberikan bimbingan dan masukan yang bermakna selama hampir empat tahun ini. Penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh staf Fakultas Farmasi yang telah banyak memberikan dukungan, petunjuk dan bimbingannya kepada penulis terkhusus untuk Kak Sumiati. vi

Rasa hormat dan terima kasih yang tak terhingga penulis haturkan kepada ayahanda terhormat H. Habib A.P. dan ibunda tersayang Hj. St. Bone yang telah banyak memberikan pengorbanan baik moril maupun materil yang tidak akan mampu penulis balas sampai akhir hayat, di dalam doa yang senantiasa dipanjatkan sebagai pemacu penulis dalam menghadapi tantangan maupun rintangan selama ananda menjalani dunia perkuliahan. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada Kakanda dan Adinda Syam Sofyan dan A. Sri Handayani yang selalu memberikan curahan kasih sayang yang sebesar-besarnya dan tak henti-henti memberikan semangat. Tak lupa mereka yang menjadi teman

seperjuangan dalam penelitian ini Sjalri Achmad Ariendi dan Isma Aziza serta yang terkhusus Andi Irna Sari yang selalu hadir menemani dan tak henti memberikan semangat. Kepada teman-teman mixtura 07, khususnya Sherwin Armanda, Ardian, Alfian Partang, Erzam Fauzan, Rangga Meidianto, Rizky Amalia Salam, Dewita Fatiah, Achmad Himawan, Wiwi Hasmita, dan Kak Andi Arjuna, S.Si, Apt., Kak Andi Dian Permana, S.Si., Kak Armini Syamsidi, S.Si serta semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu terima kasih atas bantuan dan kebersamaannya dalam suka dan duka selama penulis menuntut ilmu serta dalam penyelesaian skripsi ini. Terima kasih untuk segala sesuatu yang pernah kita lewati bersama baik suka maupun duka.

vii

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, banyak kekurangan dan kelemahan. Di dunia tak ada satupun yang sempurna karena kesempurnaan hanya milik-Nya. Maka dari itu saran dan kritik membangun sangat penulis harapkan guna tambahan wawasan agar dalam pengerjaan penelitian selanjutnya dapat lebih baik. Akhirnya semoga karya kecil ini dapat bermanfaat bagi

pengembangan ilmu pengetahuan terutama di bidang farmasi, amin.

Makassar,

2011

Penulis

viii

ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh variasi emulgator Novemer dan Viscolam terhadap kestabilan fisik krim pemutih tipe m/a dari kombinasi ekstrak etanol akar murbei (Morus alba L) dan ekstrak etanol buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa Boerl.). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formula krim tipe m/a yang stabil secara fisik. Pada penelitian ini akar murbei diekstraksi menggunakan etanol 70% dengan cara refluks sedangkan buah mahkota dewa menggunakan etanol 70% dengan cara maserasi. Selanjutnya diformulasi menjadi sediaan krim tipe m/a menggunakan emulgator Novemer dengan konsentrasi berturutturut 0,5%; 1%; dan 2% dan emulgator Viscolam dengan konsentrasi berturut-turut 2%, 3%, dan 4% terhadap bobot total krim. Evaluasi kestabilan fisik krim meliputi uji organoleptis, viskositas, dan inversi fase sebelum dan setelah kondisi penyimpanan dipercepat selama 24 jam secara bergantian pada suhu 4oC dan 40oC sebanyak 6 siklus. Untuk krim dengan emulgator Novemer dengan konsentrasi 1% dan 2% memperlihatkan tidak adanya perubahan warna, bau, pemisahan fase, dan inversi fase sedangkan untuk konsentrasi 0,5% terjadi pemisahan fase. Untuk krim dengan emulgator Viscolam dari ketiga formula memperlihatkan adanya pemisahan dan dinyatakan tidak stabil secara fisik. Formula krim yang paling stabil secara fisik adalah krim dengan emulgator Novemer 2%. .

ix

ABSTRACT A research of influence emulsifying agent Novemer and Viscolam concerning physic stability o/w type whitening cream from combination Morus alba root extract and Phaleria macrocarpa fruit extract have been conducted. The aim of this research was to obtain cream formula of which type o/w which is physically stable. In this research, Morus alba root was extracted using 70% ethanol by reflux while Phaleria macrocarpa fruit using 70% ethanol by maceration. Furthermore, type cream formulated into m/a type by emulsifying agent Novemer with consecutive concentration 0.5%, 1% and 2% and emulsifying agent Viscolam with consecutive concentrations of 2%, 3% and 4% of the total weight cream. Evaluation of physical stability of creams include organoleptic test, viscosity, and the phase inversion before and after accelerated storage conditions for 24 hours alternately at 4C and 40C for 6 cycles. For emulsifying agent Novemer cream with a concentration of 1% and 2% showed no change in color, odor, breaking, and phase inversion while for concentration of 0.5% the phase separation or breaking occurs. For the cream with emulsifying agent Viscolam of the three formulas showed the existence of breaking and otherwise physically unstable. Formula cream is the most physically stable is cream with emulsifying agent Novemer 2%.

DAFTAR ISI halaman HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI ............................................ UCAPAN TERIMA KASIH ............................................................... ABSTRAK ....................................................................................... ABSTRACT ..................................................................................... DAFTAR ISI .................................................................................... DAFTAR TABEL ............................................................................. DAFTAR GAMBAR ......................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................... BAB I PENDAHULUAN ................................................................ BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................ II.1 II.1.1 II.1.2 II.1.3 II.1.4 II.1.5 II.2 II.2.1 II.2.2 II.2.3 Uraian tentang Murbei ........................................ Klasifikasi Tanaman ............................................ Nama Lain ........................................................... Morfologi Tanaman .............................................. Kandungan Kimia ................................................ Khasiat Tanaman ................................................ Uraian tentang Mahkota Dewa ........................... Klasifikasi Tanaman ............................................ Nama Lain ........................................................... Morfologi Tanaman .............................................. xi iii iv vii viii ix xv xvi xviii 1 5 5 5 5 6 6 7 8 8 8 9

II.2.4 II.2.5 II.3 II.3.1 II.3.2 II.4 II.5 II.6 II.6.1 II.6.2 II.6.3 II.7 II.8 II.8.1 II.8.2 II.8.3 II.8.4 II.9 II.9.1 II.9..2 II.9.3 II.9.4 II.9.5

Kandungan Kimia ................................................ Khasiat Tanaman ................................................ Uraian Kulit .......................................................... Anatomi dan Fisiologi Kulit ................................. Hubungan Melanin dengan Pigmentasi ............... Kosmetik .............................................................. Pengertian Krim ................................................... Emulgator ............................................................ Pengertian Emulgator ......................................... Pembagian Emulgator ........................................ Mekanisme Emulgator ........................................ Kondisi Penyimpanan Dipercepat ....................... Kestabilan Emulsi ................................................ Kriming dan Sedimentasi .................................... Viskositas ............................................................ Perubahan Ukuran Tetes Terdispersi ................. Inversi Fase ......................................................... Uraian Bahan Tambahan .................................... Emulgator Novemer ........................................... Emulgator Viscolam ........................................... Asam Stearat ....................................................... Setil Alkohol ......................................................... Gliserin ................................................................ xii

10 10 10 10 17 20 24 24 24 25 27 28 29 29 30 31 31 33 33 34 35 35 36

II.9.6 II.9.7 II.9.8 II.9.9 II.9.10 II.9.11

Propilenglikol ....................................................... Metil Paraben ...................................................... Propil Paraben ..................................................... Isopropil Meristat ................................................. Alfa Tokoferol ...................................................... Oleum Jasmin ......................................................

37 37 38 38 39 40 41 41 41 41 41 42 42 44 45 45 45 45 45 45 45 46 46

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN ........................................... III.1 III.2 III.2.1 III.2.2 III.2.3 III.2.4 III.2.5 III.2.6 Alat dan Bahan yang Digunakan ......................... Prosedur Kerja .................................................... Pengambilan Sampel .......................................... Pengolahan Sampel Penelitian ............................ Ekstraksi .............................................................. Formulasi Krim .................................................... Pembuatan Formula ............................................ Penentuan Tipe Krim ...........................................

III.2.6.1 Daya Hantar Listrik .............................................. III.2.6.2 Metode Dispersi Larutan Zat Warna .................... III.2.7 Evaluasi Kestabilan .............................................

III.2.7.1 Pemeriksaan Organoleptis .................................. III.2.7.2 Pengukuran pH Krim ........................................... III.2.7.3 Pengukuran Viskositas ........................................ III.2.7.4 Pengukuran Tetes Terdispersi ............................ III.2.7.5 Inversi Fase ........................................................ xiii

III.2.8

Pengumpulan dan Analisis Data ..........................

46 47 47 48 54 54 55 56 59

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................. IV.1 IV.2 Hasil Penelitian .................................................... Pembahasan .......................................................

BAB V PENUTUP .......................................................................... V.1 V.2 Kesimpulan .......................................................... Saran ...................................................................

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................ LAMPIRAN ......................................................................................

xiv

DAFTAR TABEL TABEL halaman 41 41 60 60 60 60 60 61 61 61 62 62

1. Rancangan Formula Dengan Emulgator Novemer ...................... 2. Rancangan Formula Dengan Emulgator Viscolam ...................... 3. Hasil Pengamatan Sampel (Ekstrak akar murbei) ........................ 4. Hasil Pengamatan Sampel (Ekstrak buah mahkota dewa) ........... 5. Hasil Pengamatan Organoleptis Krim (emulgator Novemer) ....... 6. Hasil Pengamatan Organoleptis Krim (emulgator Viscolam) ...... 7. Hasil Pengamatan Tipe Emulsi (emulgator Novemer) ................ 8. Hasil Pengamatan Tipe Emulsi (emulgator Viscolam) ................ 9. Hasil Pengukuran viskositas (cps) (emulgator novemer) ............ 10. Hasil Pengukuran viskositas (cps) (emulgator Viscolam) ........... 11. Hasil Pengukuran pH krim (emulgator Novemer) ....................... 12. Hasil Pengukuran pH krim (emulgator Viscolam) .......................

xv

DAFTAR GAMBAR GAMBAR 1. Penampang anatomi kulit ....................................................... 2. Proses melanogenesis di dalam epidermal melanosom ......... 3. Gambar struktur asam sterat .................................................. 4. Gambar struktur setil alkohol .................................................. 5. Gambar struktur gliserin ......................................................... 6. Gambar struktur propilenglikol ................................................ 7. Gambar struktur metil paraben ............................................... 8. Gambar struktur propil paraben .............................................. 9. Gambar struktur isopropil meristat .......................................... 10. Gambar struktur alfa tokoferol ................................................ 11. Sediaan krim variasi konsentrasi emulgator Novemer sebelum kondisi penyimpanan dipercepat dan setelah penyimpanan dipercepat ....................................................... 12. Sediaan krim variasi konsentrasi emulgator viscolam sebelum kondisi penyimpanan dipercepat dan setelah penyimpanan dipercepat ........................................................ 13. Hasil uji tipe emulsi M/A emulgator Novemer dengan metode daya hantar listrik sebelum kondisi penyimpanan dipercepat ............................................................................... 14. Hasil uji tipe emulsi M/A emulgator Novemer dengan metode daya hantar listrik setelah kondisi penyimpanan dipercepat ............................................................................... 15. Hasil uji tipe emulsi M/A emulgator Viscolam dengan metode daya hantar listrik sebelum kondisi penyimpanan dipercepat ............................................................................... xvi halaman 14 18 35 35 36 37 37 38 38 39

62

63

63

63

64

16. Hasil uji tipe emulsi M/A metode pengenceran air sebelum dan setelah kondisi penyimpanan dipercepat dengan menggunakan emulgator Novemer ....................................... 17. Hasil uji tipe emulsi M/A metode dispersi warna sebelum kondisi dan setelah penyimpanan dipercepat dengan menggunakan emulgator Novemer ........................................... 18. Hasil uji tipe emulsi M/A metode pengenceran air sebelum kondisi penyimpanan dipercepat dengan menggunakan emulgator Viscolam ..................................................................... 19. Hasil uji tipe emulsi M/A metode dispersi warna sebelum kondisi penyimpanan dipercepat dengan menggunakan emulgator Viscolam .............................................................. 20. Histogram pH krim sebelum dan setelah kondisi penyimpanan dipercepat. ....................................................... 21. Histogram perubahan pH krim setelah kondisi penyimpanan dipercepat ........................................................ 22. Histogram viskositas krim (cps) sebelum dan setelah kondisi penyimpanan dipercepat ............................................ 23. Histogram perubahan kekentalan krim (cps) setelah kondisi penyimpanan dipercepat ............................................ 24. Hasil pengamatan tetes tedispersi sebelum dan setelah kondisi penyimpanan dipercepat menggunakan emulgator Novemer .............................................................. 25. Hasil pengamatan tetes tedispersi sebelum kondisi penyimpanan dipercepat menggunakan emulgator Viscolam ............................................................................... 26. Tanaman murbei (Morus alba L.) ........................................... 27. Buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa Boerl.) ................

64

64

65

65 66 66 67 67

68

69 70 70

xvii

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran


1. 2.

halaman 58 59

Skema Kerja Pembuatan Krim ............................................... Skema Kerja Pengujian Krim ..................................................

xviii

BAB I PENDAHULUAN Produk pemutih kulit, yang merupakan produk cosmetic medic, sekarang ini sangat diminati di Wilayah Asia. Penelitian menunjukkan bahwa 55% dari 85% wanita Indonesia yang berkulit gelap ingin agar kulitnya menjadi lebih putih. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa 70%80% perempuan di Asia (yaitu : Cina, Thailand, Taiwan, dan Indonesia) ingin mempunyai kulit yang lebih putih. Perempuan Asia dan khususnya Indonesia ingin mempunyai kulit putih dengan anggapan kulit putih lebih baik dari kulit yang gelap, dan anggapan kulit yang cantik adalah kulit yang putih (1). Sediaan pemutih biasanya bekerja secara langsung dengan jalan menghambat produksi melanin dalam melanosit, mengurangi jumlah melanin yang sudah terbentuk dalam melanosit, merangsang ekskresi melanin dalam epidermis, memutus rantai oksidasi, mereduksi dopakuinon kembali menjadi DOPA, meracuni melanosit secara selektif dan competitif inhibitor dengan DOPA serta menghambat enzim tirosinase (2). Salah satu bentuk sediaan pemutih di pasaran dalam bentuk krim. Krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Salah satu tipe krim yang sering digunakan adalah krim tipe m/a yang baik untuk sistem penghantaran obat, menyenangkan dalam penampilannya

dan rasa yang nyaman selama penggunaan serta lebih mudah dicuci dengan air (3). Krim pemutih kulit dapat mengandung bahan-bahan berbahaya seperti merkuri, hidrokuinon, kortikosteroid, asam kojat, asam azelik yang dapat menggangu kesehatan. Ahli dermatologi sudah sering kali mendapatkan kejadian yang diakibatkan penggunaan krim pemutih dari bahan tersebut. Efek samping yang dihasilkan antara lain dermatitis, melasma, keracunan merkuri, gagal ginjal hingga kanker kulit (4). Untuk itu perlu dilakukan pencarian bahan aktif alternatif yang memiliki efek samping yang lebih kecil. Salah satu bahan alam yang memiliki aktivitas sebagai pemutih adalah akar murbei (Morus alba L.). Ekstrak akar dari murbei pada konsentrasi 500 ppm telah menghambat 60% aktivitas enzim tirosinase. Oksiresveratrol merupakan senyawa yang ditemukan dalam ekstrak akar tersebut (5). Penggunaan krim tipe m/a yang umumnya lebih disukai memiliki risiko pemaparan sinar matahari yang besar. Pemaparan terhadap sinar dengan panjang gelombang dalam daerah UV A (320 400 nm) akan menstimulasi pembentukan melanin pada lapisan dermis yang bekerja sebagai lapisan pelindung pada kulit sehingga menyebabkan pigmentasi. UVA dapat berpenetrasi ke dalam dermis menyebabkan elastosis (kehilangan struktur pendukung dan elastisitas kulit) (6). Untuk itu perlu dilakukan kombinasi krim pemutih tipe m/a dengan tabir surya. Salah satu bahan alam yang dapat digunakan sebagai tabir

surya adalah buah mahkota dewa. Buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa Boerl.) mengandung phalerin, suatu senyawa benzofenon yang diketahui dapat menyerap sinar UVA. Melyati telah melakukan penelitian aktivitas ekstrak buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa Boerl.) sebagai tabir surya dengan memperoleh rata-rata persen transmisi eritema sebesar 0,14 dimana suatu bahan dikatakan sebagai sunblock total apabila harga % transmisi eritema < 1 (7). Berdasarkan hal tersebut di atas, maka akar murbei (Morus alba L.) berpotensi diformulasikan dalam bentuk sediaan kosmetik pemutih berbentuk krim tipe m/a dengan kombinasi ekstrak buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa Boerl.) sebagai tabir surya. Krim membutuhkan kestabilan fisik selama penggunaan dan untuk mendapatkan kestabilan emulsi maka dibutuhkan emulgator yang tepat. Saat ini telah diperdagangkan emulgator Novemer sebagai bahan multifungsi yaitu pemodifikasi aliran, penstabil, pengemulsi, dan coemulsifies. Novemer merupakan emulgator mengandung kombinasi air 45-51%, acrylates/acrylamide copolymer 26-28%, mineral oil 22-24%, polysorbate85 1-3%). Kelebihannya adalah memudahkan proses

emulsifikasi, stabil untuk emulsi tipe m/a, tidak memerlukan perhitungan HLB, dapat diformulasi pada suhu rendah, dapat mempertahankan kualitas produk dibawah kondisi penyimpanan dipercepat dan efisien pada penggunaan konsentrasi rendah (8).

Selain emulgator Novemer, terdapat pula Viscolam yang mengandung sodium polyacrylatdimetyl taurate, hidrogeneted polidecene, dan tridecet 10 yang dapat digunakan sebagai emulgator. Bahan ini

sering digunakan sebagai polimer cair didasarkan pada konsep Hydro Swelling Droplets dimana pada proses pembuatan emulsi secara langsung dapat terjadi pembesaran ukuran tetesan air tanpa perlu pemanasan atau modifikasi pH (29). Sediaan kosmetika yang stabil adalah suatu sediaan yang masih berada dalam batas yang dapat diterima selama periode waktu penyimpanan dan penggunaan, dimana sifat dan karakteristiknya sama dengan yang dimilikinya pada saat dibuat. Ketidakstabilan fisika dari

sediaan ditandai dengan adanya pemucatan warna, timbul bau, perubahan atau pemisahan fase, pecahnya emulsi, perubahan

konsistensi, terbentuknya gas dan perubahan fisik lainnya (25). Permasalahan yang timbul adalah apakah krim dari ekstrak murbei (Morus alba L.) dengan kombinasi ekstark buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa Boerl.) yang diformulasikan menggunakan emulgator

novemer dan Viscolam memenuhi kestabilan fisik suatu krim. Untuk itu, telah dilakukan penelitian pengaruh variasi emulgator novemer dan Viscolam terhadap kestabilan fisik krim dari ekstrak murbei (Morus alba L.) dengan kombinasi ekstark buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa Boerl.) sehingga diperoleh emulgator dan konsentrasi yang sesuai untuk memformulasikan krim yang stabil secara fisik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Uraian Tentang Murbei (Morus alba L.) II.1.1 Klasifikasi Tanaman (9) Dunia Divisi : Plantae : Spermatophyta

Anak divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledoneae

Anak kelas : Dialypetalae Bangsa Suku Marga Jenis : Urticales : Moraceae : Morus : Morus alba L.

II.1.2 Nama Lain (9) Sumatera Jawa Sulawesi Selatan Cina Vietnam Inggris : Kerta, kitau : Murbai, besaran, lampaung : Pappanre Ulle, Daun Sabbe : Sangye : Maymon, dau tam : Morus leaf, morus fruit, mulberry leaf, mulberry bark, mulberry twigs, white mulberry, mulberry.

II.1.3 Morfologi Tanaman (9) Tumbuh baik pada ketinggian lebih dari 100 m dpl. dan memerlukan cukup sinar matahari. Tumbuhan yang sudah dibudidayakan ini menyukai daerah-daerah yang cukup basah seperti di lereng gunung dan pada tanah yang berdrainase baik. Kadang ditemukan tumbuh liar. Pohon, tinggi sekitar 9 m, percabangan banyak, cabang muda berambut halus. Daun tunggal, letak berseling, bertangkai yang panjangnya 4 cm. Helai daun bulat telur sampai berbentuk jantung, ujung runcing, pangkal tumpul, tepi bergerigi, pertulangan menyirip agak menonjol, permukaan atas dan bawah kasar, panjang 2,5 20 cm, lebar 1,5 12 cm, warnanya hijau. Bunga majemuk bentuk tandan, keluar dari ketiak daun, mahkota bentuk taju, warnanya putih. Dalam satu pohon terdapat bunga jantan, bunga betina, dan bunga sempurna yang terpisah. Murbei berbunga sepanjang tahun. Buahnya banyak berupa buah buni, berair, dan rasanya enak. Buah muda warnanya hijau, setelah masak menjadi hitam. Biji kecil, warna hitam. Tumbuhan ini dibudidayakan karena daunnya digunakan untuk makanan ulat sutera. Daun muda enak disayur dan berkhasiat sebagai pembersih darah bagi orang yang sering bisulan. Perbanyakan dengan setek dan okulasi. II.1.4 Kandungan Kimia (9) 1. Daun Daun mengandung ecydsterone, inokosterone, lupeol,

betasitosterol, rutin, moracetin, isoquersetin, scopoletin, scopolin, alfa

betahexenal, cis beta hexenol, cis lamda hexenol, benzaidehide, eugenol, lanaloolbenzyl alkohol, butylamine, aseton, trigonelline, kolin, adenin, asam amino, tembaga, zink, vitamin (A, B1, C dan kareton), asam klorogenik, asam fumarat, asam folat, asam formyltetrahydrofolik, dan mioinositol, juga mengandung phytoestrogens. 2. Ranting Ranting mengandung tanin dan vitamin A. 3. Buah Buah mengandung cyanidin, isoquercetin, sakarida, asam linoleat, asam stearat, asam oleat, dan vitamin (karoten, B1, B2 dan C). 4. Kulit batang Kulit batang mengandung triterpenoids : , - amyrin, sitosterol, sitosterol- - glucoside. Flavanoids : morusin, cyclomorusin, kuwanone A, B, C, oxydihyromorusin. Coumarins : umbelliferone dan scopoletin. 5. Kulit akar Kulit akar mengandung derivat flavone mulberrin,

mulberrochromene, cyclomulberrin, cyclomulberrochromene, morussin, dan mulberofuran A. 6. Biji Biji mengandung urease. II.1.5 Khasiat Tanaman (9) Murbei (Morus alba L) banyak dimanfaatkan untuk pengobatan Demam, Flu, Malaria, Batuk, Rematik, Darah tinggi (hipertensi), Kencing manis (diabetes melitus), Kaki gajah (elephantiasis), Radang mata merah (conjunctivitis acute), Memperbanyak ASI, Keringat malam, Muntah darah,

Batuk darah, Batuk berdahak, Kolesterol tinggi (hiperkolesterolemia), Tidak datang haid, Gangguan saluran cerna, Sesak napas (asma), Cacingan, Muka bengkak (edema), Sukar kencing (disuria), Neurastenia, Jantung berdebar (palpitasi), Rasa haus dan mulut kering, Sukar tidur (insomnia), Telinga berdenging (tinnitus), Sembelit, Tuli, Vertigo, Hepatitis, Kurang darah (anemia), Rambut beruban, Sakit kepala, Sakit

tenggorokan, Sakit gigi, Sakit pinggang (lumbago), dan Menyuburkan pertumbuhan rambut. II.2 Uraian Tentang Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl) II.2.1 Klasifikasi Tanaman (10) Dunia Divisi : Plantae : Spermatophyta

Anak divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledoneae

Anak kelas : Dialypetalae Bangsa Suku Marga Jenis : Thymelaeales : Thymelaeaceae : Phaleria : Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl

II.2.2 Nama Lain (11) Inggris Cina : The crown of God : Pau

Jawa Tengah : Makuto Mewo, Makuto Rojo, Makuto Ratu Banten Jawa Barat : Raja Obat : Buah Simalakama

II.2.3 Morfologi Tanaman (11) Berupa tanaman perdu, tajuk tanaman bercabang-cabang, tinggi sekitar 1,5-2,5 meter, namun bisa mencapai 5 meter. Akarnya berupa akar tunggang. Batangnya terdiri atas kulit dan kayu, dengan kulit batang berwarna coklat kehijauan, kayunya berwarna putih, batang bergetah. Diameter batang mencapai 15 cm, percabangan batang cukup banyak. Daunnya merupakan daun tunggal, bentuk lonjong langsing, memanjang berujung lancip, warna hijau, permukaan licin, panjang daun bisa mencapai 7-10 cm, dengan lebar 3-5 cm. Bunga majemuk tersusun dalam kelompok 2-4 bunga. Pertumbuhannya menyebar di batang atau ketiak daun, berwarna putih, bentuk seperti terompet kecil, baunya harum, ukurannya kira-kira sebesar bunga tanaman cengkeh, bunganya ke luar sepanjang tahun. Buah berbentuk bulat, ukurannya bervariasi dari sebesar bola pingpong sampai sebesar apel merah, berwarna merah menyala, buah terdiri atas kulit buah, daging, cangkang dan biji. Kulit buah pada waktu muda berwarna hijau, dan setelah tua menjadi merah marun, ketebalan kulit buah sekitar 0,5-1 mm. Daging buah berwarna putih. Cangkang buah berwarna putih. Biji buah bulat, berwarna putih, diameternya mencapai 1 cm.

10

II.2.4 Kandungan Kimia (11) Di dalam daun dan kulit buah, tanaman ini mengandung alkaloid, terpenoid, saponin, flavonoid, polifenol dan senyawa resin II.2.5 Khasiat Tanaman (11) Sampai saat ini banyak penyakit yang berhasil disembuhkan dengan mahkota dewa, yaitu beberapa fungsi penyakit berat seperti sakit lever, kanker, sakit jantung, kencing manis, asam urat, reumatik, sakit ginjal, tekanan darah tinggi, lemah syahwat, dan ketagihan narkoba, serta penyakit ringan seperti eksim, jerawat, dan luka gigitan serangga. Tanaman ini mampu berperan sebagai oxytosin atau sintosinon yang dapat memacu kerja otot rahim. I.3 Uraian Kulit

II.3.1 Anatomi dan Fisiologi Kulit Kulit menutupi dan melindungi permukaan tubuh, dan bersambung dengan selaput lendir yang melapisi rongga-rongga dan lubang-lubang masuk. Luas kulit orang dewasa 1,5 m2 dengan berat kira-kira 15% berat badan. Kulit merupakan organ yang esensial dan vital serta merupakan cermin kesehatan dan kehidupan (12,13). Pembagian kulit secara garis besar tersusun atas 3 lapisan yaitu: 1) Lapisan epidermis atau kutikula Struktur kimia dari sel-sel epidermis manusia terdiri dari protein 27%, lemak 2%, garam mineral 0,5%, air dan bahan-bahan larut air 70,5%. Protein terpenting adalah albumin, globulin, musin, elastin,

11

kolagen dan keratin. Secara kasar 40% dari bahan-bahan yang larut air terdiri dari asam amino bebas (14). Epidermis terbagi menjadi 5 lapisan yaitu (15); a. Stratum korneum, selnya tipis, datar seperti sisik dan terus menerus dilepaskan. Sel pada stratum korneum tersusun oleh keratin yang berasal dari protein, juga merupakan penyusun utama rambut dan kuku manusia. b. Stratum lusidum, selnya mempunyai batas tegas tetapi tidak ada intinya. c. Stratum granulosum, selapis sel yang jelas tampak berisi inti dan juga granulosum. d. Stratum spinosum, yaitu sel dengan fibril halus yang menyambung sel yang satu dengan yang lainnya di dalam lapisan ini. e. Sel basal, yaitu sel yang terus menerus memproduksi sel epidermis baru. Sel basal terdiri sel-sel yang kolumnar dengan protoplasma basofilik inti lonjong dan besar yang dihubungkan satu dengan yang lain oleh jembatan antar sel, dan sel pembentuk melanin yang merupakan sel-sel berwarna muda, dengan sitoplasma basofilik dan inti gelap dan mengandung butir pigmen (melanosom). 2) Lapisan dermis Secara garis besar dibagi menjadi dua bagian yakni pars papilare, yaitu bagian yang menonjol ke epidermis, berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah dan pars retikulare, yaitu bagian di bawahnya yang

12

menonjol ke arah subkutan, bagian ini terdiri atas serabut-serabut penunjang misalnya serabut kolagen, elastin dan retikulin (12). Kelenjar kulit terdapat di lapisan dermis, terdiri atas (12) : a. Kelenjar keringat (glandula sudorifera) Ada dua macam kelenjar keringat, yaitu (14,12): 1. Kelenjar keringat ekrin terletak dangkal di dermis yang salurannya bermuara langsung pada permukaan kulit yang tidak ada rambutnya. Bentuknya kecil, langsing, bergulung-gulung dan sekresinya

dipengaruhi oleh saraf kolinergik, faktor panas, dan stress emosional. Sekretnya berupa cairan encer dan jernih, yaitu keringat yang mengandung 95-97% air dan mengandung beberapa mineral seperti garam, NaCl, granula minyak, glusida dan sampingan dari metabolism seluler. Terdapat di seluruh badan sekitar 2 juta, dan terbanyak di seluruh di telapak tangan dan kaki, dahi dan aksilia serta menghasilkan keringat 14 liter dalam waktu 24 jam pada orang dewasa. 2. Kelenjar keringat apokrin lebih besar daripada ekrin, hanya terdapat di daerah tertentu yang mensekresikan sedikit cairan dan muaranya berdekatan dengan muara kelenjar sebasea pada saluran folikel rambut seperti aksila, pubis, labia minora, dan saluran telinga luar. Sekresinya dipengaruhi oleh oleh saraf adrenergik dan menghasilkan cairan yang agak kental dan berbau khas pada setiap orang.

13

b. Kelenjar palit (glandula sebasea) Terletak di seluruh permukaan kulit manusia kecuali di telapak kaki dan tangan. Kelenjar ini biasanya terdapat di samping akar rambut dan muaranya terdapat pada lumen akar rambut (folikel rambut) yang dapat bersama kelenjar keringat apokrin dan sekresinya dipengaruhi oleh hormon androgen. Berfungsi menghasilkan minyak kulit (sebasea) yang berguna meminyaki kulit dan rambut agar tidak kering. Sifat sekresinya adalah holokrin artinya mensekresikan bersama-sama dengan sel-sel yang dilepaskan dari dindingnya (14,12). 3) Lapisan subkutis Lapisan subkutis adalah kelanjutan dermis, terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak di dalamnya. Sel-sel lemak merupakan sel bulat, besar, dengan inti terdesak ke pinggir sitoplasma lemak yang bertambah (12). Vasikularisasi di kulit diatur oleh 2 pleksus, yaitu pleksus yang terletak di bagian atas dermis (pleksus superfisial) dan yang terletak di subkutis (pleksus profunda). Pleksus superfisial mengadakan anastomosis di papil dermis, anastomosis di sedangkan bagian pleksus profunda darah juga mengadakan lebih besar.

pembuluh

berukuran

Bergandengan dengan pembuluh darah terdapat saluran getah bening (12).

14

Batang rambut Pembukaan dari saluran keringat

Sel yang lepas dari stratum korneum Stratum korneum (lapisan tanduk) Stratum lusidum Stratum granulosum Stratum spinosum

Epidermis

Stratum basale Daerah membran paling dasar Kelenjar sebaseus Pembuluh darah

Dermis

Folikel rambut

Saluran keringat Kelenjar keringat

Subkutan (hypodermis) jaringan adiposa

Gambar 1. Gambar anatomi kulit (Sumber : Light D, 2004. Cells, Tissues, and Skin. Chelsea House Publishers, Philadelphia, pg. 95).

Fungsi utama kulit ialah proteksi, absorpsi, ekskresi, persepsi, pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), pembentukan pigmen,

pembentukan vitamin D dan keratinisasi. (12) : 1. Fungsi proteksi Kulit menjaga bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisis atau mekanis, misalnya tekanan; gesekan; tarikan; gangguan kimiawi, misalnya zat-zat kimia terutama yang bersifat iritan, contohnya lisol, karbol, asam dan alkali kuat lannya; gangguan yang bersifat panas, misalnya radiasi, sengatan sinar ultraviolet; gangguan infeksi luar terutama kuman/bakteri maupun jamur.

15

Perlindungan tersebut dimungkinkan karena adanya bantalan lemak, tebalnya lapisan kulit dan serabut-serabut jaringan penunjang yang berperanan sebagai pelindung terhadap gangguan fisis. Selain itu, adanya fungsi mantel asam yang dapat berfungsi sebagai penyangga (buffer) yang berusaha menetralisir bahan kimia yang terlalu asam atau terlalu alkalis yang masuk ke kulit, membunuh dengan sifat asamnya atau setidaknya menekan pertumbuhan mikroorganisme yang membahayakan kulit, dan dengan sifat lembabnya sedikit banyaknya mencegah kekeringan kulit (14). 2. Fungsi absorbsi Kulit yang sehat tidak mudah menyerap air, larutan dan benda padat, tetapi cairan yang mudah menguap lebih mudah diserap, begitu pun yang larut lemak. Penyerapan dapat berlangsung melalui celah antara sel, menembus sel-sel epidermis atau melalui muara saluran kelenjar; tetapi lebih banyak yang melalui sel-sel epidermis daripada yang melalui muara kelenjar. 3. Fungsi ekskresi Kelenjar-kelenjar kulit mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna atau sisa metabolisme dalam tubuh berupa NaCl, urea, asam urat dan amonia. 4. Fungsi persepsi Kulit mengandung ujung-ujung saraf sensorik di dermis dan subkutis. Terhadap rangsangan panas diperankan oleh badan-badan ruffini di dermis dan subkutis. Terhadap dingin diperankan oleh badan-

16

badan Krause yang terletak di dermis, rabaan oleh badan taktil Meissner terletak di papilla dermis dan tekanan oleh badan Paccini di epidermis. 5. Fungsi pengaturan suhu tubuh (termoregulasi) Mekanismenya yaitu mengeluarkan keringat dan mengerutkan (otot berkontraksi) pembuluh darah kulit. Kulit kaya akan pembuluh darah sehingga memungkinkan kulit mendapat nutrisi yang cukup baik 6. Fungsi pembentukan pigmen Sel pembentuk pigmen (melanosit) terletak di lapisan basal dan sel ini berasal dari rigi saraf dimana jumlah melanosit serta besarnya butiran pigmen (melanosomes) menentukan warna kulit ras maupun individu. 7. Fungsi keratinisasi Lapisan epidermis dewasa mempunyai 3 jenis sel utama yaitu keratinosit, sel langerhans dan melanosit. Keratinosit akan mengadakan pembelahan, memperbanyak diri, berdiferensiasi, terdesak menuju ke permukaan kulit sehingga terjadi perputaran perubahan dari sel basal menjadi spinosum dan seterusnya terdegradasi menjadi lapisan tanduk (14,12). Proses pendewasaan dari stratum germinativum sampai menjadi sel tanduk dalam stratum korneum dinamakan keratinisasi yang lamanya 14-21 hari dan sering disebut juga Cell Turn Over Time (14). 8. Fungsi pembentukan vitamin D Dengan mengubah 7 hidroksi kolesterol dengan bantuan sinar matahari.

17

II.3.2 Hubungan Melanin dengan Pigmentasi Melanin adalah pigmen pembangun warna kulit yang paling menentukan warna kulit. Jumlah, tipe, ukuran dan distribusi pigmen melanin ini akan menentukan variasi warna kulit berbagai golongan bangsa di dunia. Melanin disintesis dalam dua bentuk yaitu eumelanin yang memberikan warna gelap, terutama hitam, coklat dan variasinya. Pigmen ini tidak larut hampir disemua macam pelarut, mempunyai berat molekul yang tinggi, mengandung nitrogen, terjadi karena oksidasi polimerisasi dari bentuk intermediate yang berasal dari DOPA. Sedangkan pheomelanin yang memberikan warna cerah, kuning sampai merah, larut dalam alkali, mengandung nitrogen dan sulfur. Terutama terdiri dari Benzotiazin dan Benzotiazol, berasal dari sistenildopa, misalnya terdapat pada rambut manusia dan melanoma. Batasan kecepatan aktivitas katalisis dalam produksi kedua tipe melanin adalah oksidasi tirosin oleh tirosinase. In vivo, tirosinase mengubah tirosin menjadi DOPAkuinon dengan produk antara DOPA yang tetap terikat pada bagian aktif. DOPA dibutuhkan untuk aktivitas tirosinase karena DOPA

memungkinkan pengikatan oksigen pada bagian aktif dari tirosinase. Proses ini meliputi oksidasi katalisis dari DOPA menjadi DOPAkuinon. Jika sisteina atau glutation hadir, maka bereaksi dengan DOPAquinone untuk menghasilkan cysteinylDOPA dan derivatnya benzothiazine dari

pheomelanin. Seperti sisteina disusutkan, DOPAquinone menyiklik ke dalam DOPAchrome. TYRP-2 mengkatalisasi tautomerisasi dari

18

DOPAchrome

ke

5,6-dihydroxyindole-2-carboxylic

(DHICA),

yang

dioksidasi kemudiannya ke subunit DHICA-melanin. Oksidasi DHICA ke eumelanin dianggap sebagai katalisasi oleh TYRP-1. Ketidakhadiran dari TYRP-2 menyebabkan separuh asam karbon dari DOPAchrome akan lepas dan berubah secara spontan menjadi 5,6-dihydroxyindole (DHI). DHICA bersama dengan DHI meliputi subunit-subunit dari eumelanin (14,16).

Gambar 2. Proses melanogenesis di dalam epidermal melanosom (Sumber : Ebanks, Jody P., dkk., Department of Pharmaceutical Sciences, University of Cincinnati College of Pharmacy, USA).

Sifat utama dari melanin adalah kemampuannya untuk menyerap dan memantulkan radiasi sinar UV (280-400 nm) dan melindungi kerusakan DNA. Hasil antara pada biosintesis melanin dapat juga membahayakan, kuinon yang dihasilkan oleh reaksi tirosinase adalah sitotoksik dan perantara kematian sel bila terakumulasi dalam jumlah

19

yang banyak. Lebih lanjut melanin juga meningkatkan radiasi UVA (320-400 nm) yang menginduksi perombakan DNA. Melanin bereaksi dengan DNA yaitu fotoreaktif dan mampu menghasilkan oksigen reaktif yang merusak respon terhadap UVA. Berdasarkan panjang

gelombang, sinar UV dibagi menjadi 3 yaitu: UVA (320-400 nm), UVB (290-320 nm), dan UVC (200-290 nm) (17). Radiasi UVA dalam jumlah besar dapat menyebabkan pigmentasi baik pigmentasi yang segera (immediate tanning atau immediate pigment darkening) atau pigmentasi yang lambat (delayed tanning reaction). Pada pigmentasi cepat terjadi perubahan-perubahan pada melanosom yang ada pada melanosit dan keratinosit akibat reaksi foto-oksidasi, sehingga melanin yang tidak berwarna atau berwarna merah muda dioksidasi menjadi lebih gelap. Pada pigmentasi lambat terjadi peningkatan jumlah melanosit, ukuran melanosit, aktivitas melanosit dan aktivitas enzim tirosinase sehingga dihasilkan melanin baru yang ditransfer ke keratinosit. Radiasi sinar UVC mempunyai efek pigmentasi yang lemah (18). Bahan-bahan depigmentasi mungkin bekerja dengan satu dari beberapa cara berikut (19): 1. Dengan menghancurkan atau dekarakterisasi melanosit 2. Dengan mengganggu biosintesis melanin dan prekursor. 3. Dengan menginaktivasi atau mencegah biosintesis dari enzim tirosinase 4. Dengan mengganggu transfer granul melanin pada sel Malpighi.

20

5. Dengan mengubah melanin pada melanosom dari bentuk teroksidasi berwarna hitam menjadi bentuk reduksi yang berwarna cerah. Bahan depigmentasi yang ideal harus mempunyai kemampuan yang cepat dan efek pemutihan yang selektif, pada melanosit yang hiperaktif, tanpa efek samping yang singkat atau jangka panjang, dapat melenyapkan pigmen yang tidak diinginkan secara permanen, beraksi pada satu atau lebih langkah-langkah dari proses pigmentasi (20). II.4 Kosmetik Kosmetik berasal dari kata Yunani kosmetikos yang berarti keterampilan menghias, mengatur. Menurut JELLINEX, kosmetologi

adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari hukum-hukum kimia, fisika, biologi dan mikrobiologi tentang pembuatan, penyimpanan dan

penggunaan bahan kosmetika. Defenisi kosmetik dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 445/MenKes/Permenkes/1998 adalah sediaan atau paduan bahan yang siap untuk digunakan pada bagian luar badan (epidermis, rambut, kuku, bibir, dan organ kelamin bagian luar), gigi dan rongga mulut untuk membersihkan, menambah daya tarik, mengubah penampakan, melindungi supaya tetap dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak dimasukkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit. Dalam defenisi kosmetik diatas, yang dimaksud dengan tidak dimaksudkan untuk mengobati ayau menyembuhkan suatu penyakit adalah sediaan tersebut seyogianya tidak mempengaruhi struktur dan faal kulit (14).

21

Namun bila bahan kosmetik tersebut adalah bahan kimia meskipun berasal dari alam dan organ tubuh yang dikenai (ditempeli) adalah kulit, maka dalam hal tertentu kosmetik itu akan mengakibatkan reaksi-reaksi dan perubahan faal kulit tersebut. Tak ada bahan kimia yang bersifat indeferens (tidak menimbulkan efek apa-apa) jika dikenakan pada kulit (Lubowe, 1955, Kligman, 1982, Celleno, 1988). Karena itu, pada tahun 1955 Lubowe menciptakan istilah Cosmedics yang merupakan gabungan dari kosmetik dan obat yang sifatnya dapat mempengaruhi faal kulit secara positif, namun bukan obat. Pada tahun 1982 Faust mengemukakan istilah Medicated Cosmetics (14). Untuk memperbaiki dan mempertahankan kesehatan kulit

diperlukan jenis kosmetik tertentu bukan hanya obat. Selama kosmetik tersebut tidak mengandung bahan berbahaya yang secara farmakologis aktif mempengaruhi kulit, penggunaan kosmetik jenis ini menguntungkan dan bermanfaat untuk kulit itu sendiri (14). Penggolongan kosmetika antara lain : (14) A. Penggolongan menurut Peraturan Menteri Kesehatan R.I., berdasarkan kegunaan dan lokalisasi pemakaian pada tubuh, kosmetika digolongkan menjadi 13 golongan. 1. Preparat untuk bayi; minyak bayi, bedak bayi, dan lain lain. 2. Preparat untuk mandi; minyak mandi, bath capsules, dan lain-lain. 3. Preparat untuk mata; maskara, eye shadow, dan lain-lain. 4. Preparat wangi-wangian; parfum, toilet water dan lainlain.

22

5. Preparat untuk rambut; cat rambut, hairspray, pengeriting rambut dan lain-lain. 6. Preparat pewarna rambut; cat rambut, hairbleach, dan lain-lain. 7. Preparat make up (kecuali mata); pemerah bibir, pemerah pipi, bedak muka dan lain-lain. 8. Preparat untuk kebersihan mulut; mouth washes, pastagigi, breath freshener dan lain-lain. 9. Preparat untuk kebersihan badan; deodoran, feminism hygiene spray dan lain-lain. 10. Preparat kuku; cat kuku, krem dan lotion kuku, dan lain-lain. 11. Preparat cukur; sabun cukur, after shave lotion, dan lain-lain. 12. Preparat perawatan kulit; pembersih, pelernbab, pelindung dan lainlain. 13. Preparat untuk suntan dan sunscreen; suntan gel, sunscreen foundation dan lain-lain. B. Penggolongan menurut sifat dan cara pembuatan : 1. Kosmetik modern, diramu dari bahan kimia dan diolah secara modern (termasuk antaranya adalah cosmedics) 2. Kosmetik tradisional : a. Betul-betul tradisional, misalnya mangir, lulur, yang dibuat dari bahan alam dan diolah menurut resep dan cara yang turuntemurun.

23

b. Semi tradisional, diolah secara modern dan diberi bahan pengawet agar tahan lama. c. Hanya namanya yang tradisional, tanpa komponen yang benarbenar tradisional dan diberi zat warna yang menyerupai bahan tradisional. C. Penggolongan menurut kegunaanya bagi kulit : 1. Kosmetika perawatan kulit (skin-care cosmetics) Jenis ini perlu untuk merawat kebersihan dan kesehatan kulit. Termasuk di dalamnya: a. Kosmetik untuk membersihkan kulit (cleanser): sabun, cleansing cream, cleansing milk, dan penyegar kulit (freshener) b. Kosmetik untuk melembabkan kulit (moisturizer), misalnya

moisturizer cream, night cream, anti wrinkle cream. c. Kosmetik pelindung kulit, misalnya sunscreen cream dan sunscreen foundation, sun block cream/lotion d. Kosmetik untuk menipiskan atau mengampelas kulit (peeling), misalnya scrub cream yang berisi butiran-butiran halus yang berfungsi sebagai pengampelas (abrasiver). 2. Kosmetika riasan (dekoratif atau make-up) Jenis ini diperlukan untuk merias dan menutup cacat pada kulit sehingga menghasilkan penampilan yang lebih menarik serta

menimbulkan efek psikologis yang baik, seperti percaya diri (self

24

confidence). Dalam kosmetik riasan, peran zat pewarna dan pewangi sangat besar. II.5 Pengertian Krim Krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Istilah ini secara tradisional telah digunakan untuk sediaan setengah padat yang mempunyai konsistensi relatif cair diformulasi sebagai emulsi air dalam minyak atau minyak dalam air. Sekarang ini, batasan tersebut lebih diarahkan untuk produk yang terdiri dari emulsi minyak dalam air atau dispersi mikrokristal asam-asam lemak atau alkohol berantai panjang dalam air, yang dapat dicuci dengan air dan lebih ditujukan untuk penggunaan kosmetik dan estetika (22). Krim m/a merupakan krim yang bagus untuk sistem penghantaran obat, menyenangkan dalam penampilannya dan rasa yang nyaman setelah penggunaan. Krim ini tidak berminyak dan bersifat dapat dicuci baik untuk tujuan topikal, menyebar lebih cepat dan area fase air menguap dari kulit sehingga menyejukkan jaringan yang terinflamasi (3,23). II.6 Emulgator II.6.1 Pengertian Emulgator (27) Emulgator adalah surfaktan yang mengurangi tegangan antar muka antara minyak dan air dan mengelilingi tetesan-tetesan terdispersi dengan

25

lapisan yang kuat yang mencegah koalisensi dan pemecahan fase terdispersi. II.6.2 Pembagian Emulgator (27) 1. Emulgator sintetik atau surfaktan yang membentuk film monomolekuler a) Anionik Aktivitas permukaan bahan pengemulsi ini terletak pada anion yang bermuatan negatif. Contoh bahannya yaitu kalium, natrium dan garam ammonium dari asam laurat dan asam oleat yang larut dalam air dan merupakan bahan pengemulsi m/a yang baik. Bahan ini mempunyai rasa yang kurang menyenangkan dan mengiritasi saluran cerna sehingga membatasi penggunaannya hanya untuk penggunaan luar. Contoh lainnya yaitu garam yang dibentuk dari asam lemak dengan amin organik seperti trietanolamin yang juga adalah pengemulsi m/a yang dibatasi untuk sediaan luar. Emulgator ini kurang mengiritasi jika dibandingkan dengan sabun alkali. b) Kationik Aktifitas permukaan bahan kelompok ini terletak pada kation yang bermuatan positif. Bahan ini juga memiliki sifat bakterisida yang khas, sehingga cocok untuk produk emulsi antibakteri seperti lotio dan krim kulit. pH dari sediaan emulsi dengan pengemulsi kationik yaitu antara 4 - 8. Rentang pH ini juga menguntungkan karena termasuk dalam pH normal kulit. Contohnya yaitu senyawa amonium kuarterner.

26

c) Nonionik Surfaktan yang luas penggunaannya sebagai bahan pengemulsi karena memiliki keseimbangan lipofilik dan hidrofilik dalam molekulnya. Selain ini tidak seperti tipe anionik dan kationik, emulgator nonionik tidak dipengaruhi perubahan pH dan penambahan elektrolit. Sifat yang paling penting adalah efek yang ringan pada tubuh; surfaktan nonionik jarang mengiritasi dibanding surfaktan anionik. Pada umumnya surfaktan nonionik tidak bereaksi dengan asam, basa dan garam. Contoh yang paling banyak digunakan yaitu ester gliseril, ester polioksietilenglikol, ester asam lemak sorbitan (Span) dan turunan polioksietilennya (Tween). 2. Emulgator alam (27) Kebanyakan derivat emulgator ini berasal dari alam (seperti hewan dan tumbuhan) antara lain akasia, gelatin, lesitin, dan kolesterol. Kebanyakan bahan alam lainnya cukup aktif digunakan sebagai pembantu emulgator atau penstabil. a) Akasia Adalah gom karbohidrat yang larut dalam air dan membentuk emulsi m/a. Emulsi yang dibuat dengan emulgator akasia stabil pada jarak pH yang luas. Karena mengandung karbohidrat, maka perlu diperhatikan penggunaan pengawet pada emulsi akasia untuk melawan serangan mikroba dengan memilih pengawet yang sesuai.

27

b) Gelatin Sebuah protein yang telah digunakan selama bertahun-tahun sebagai emulgator. Gelatin memiliki dua titik isoelektrik, tergantung dari metode preparasinya. Disebut gelatin tipe A, derivat dari prekursor yang diberi perlakuan asam, yang memiliki titik isoelektrik antara pH 7 dan 9. Gelatin tipe B, diperoleh dari prekursor yang diberi perlakuan alkali, memiliki titik isoelektrik kira-kira pada pH 5. Gelatin tipe A bekerja baik sebagai emulgator pada pH sekitar 3 dimana emulgator ini bermuatan positif. Sedangkan gelatin tipe B paling baik digunakan pada pH sekitar 8 dimana emulgator ini bermuatan negatif. c) Lesitin Emulgator yang berasal dari tanaman (seperti kacang kedelai) dan hewan (seperti kuning telur) dan mengandung berbagai fosfat. Komponen utama dari kebanyakn lesitin adalah fosfatidilikolin dan istilah lesitin juga sering digunakan untuk menggambarkan sampel fosfatidilikolin. Lesitin dapat menjadi emulgator yang paling baik untuk pembentukan minyak secara alami seperti kedelai dan jagung. Kestabilan tinggi emulsi m/a dapat dibentuk dengan minyak ini. Lesitin murni dari kedelai atau kuning telur secara prinsipil digunakan sebagai emulgator untuk emulsi intravena. II.6.3 Mekanisme Emulgator (27) 1. Lapisan Monomolekuler Surfaktan atau ampifil menurunkan tegangan antarmuka karena teradsorbsi pada antarmuka minyak air membentuk film monomolekuler.

28

Film ini membungkus tetes terdispersi dengan suatu lapisan tunggal yang seragam berfungsi mencegah bergabungnya tetesan. Idealnya film ini harus fleksibel sehingga dapat terbentuk kembali jika pecah atau terganggu. Tipe emulsi yang dibentuk dapat berupa tipe m/a atau a/m, tergantung pada sifat emulgator yang digunakan. 2. Lapisan Multimolekuler Koloid hidrofil terhidrasi dapat dianggap sebagai bahan aktif permukaan karena terdapat pada antarmuka minyak-air tetapi berbeda dengan surfaktan sintetik, koloid hidrofilik tidak menyebabkan penurunan tegangan antarmuka yang nyata tetapi membentuk film multimolekuler pada antarmuka tetesan. Aksi sebagai emulgator terutama disebabkan film yang dibentuknya kuat sehingga mencegah koalesensi. Film multimolekuler ini bersifat hidrofilik sehingga cenderung membentuk emulsi tipe m/a. 3. Lapisan Partikel Padat Partikel padat yang terbagi halus yang terbasahi oleh minyak dan air dapat bertindak sebagai emulgator dengan membentuk suatu film partikel halus di sekeliling tetes terdispersi pada antarmuka sehingga mencegah koalesensi. Serbuk yang lebih mudah terbasahi oleh air membentuk emulsi tipe m/a sedangkan yang lebih terbasahi oleh minyak membentuk emulsi tipe a/m. II.7 Kondisi Penyimpanan yang Dipercepat Pengujian ini dimaksudkan untuk mendapatkan informasi yang

29

diinginkan pada waktu sesingkat mungkin dengan cara menyimpan sampel pada kondisi yang dirancang untuk mempercepat terjadinya perubahan yang biasanya terjadi pada kondisi normal. Cara khusus ini berguna untuk mengevaluasi shelf life emulsi dengan siklus antara 2 suhu. Pengujian tersebut dilakukan dengan freez-thaw test yaitu penggunaan siklus suhu 4C dan 40C atau 45C selama 24 jam sebanyak 6 siklus (25). Efek normal penyimpanan suatu emulsi pada suhu yang lebih tinggi adalah mempercepat koalesensi atau terjadinya kriming dan hal ini biasanya diikuti dengan perubahan viskositas. Kebanyakan emulsi menjadi lebih encer pada suhu tinggi dan menjadi lebih kental bila dibiarkan mencapai suhu kamar. Pembekuan dapat merusak emulsi daripada pemanasan, karena kelarutan emulgator baik dalam fase air maupun fase minyak, lebih sensitif pada pembekuan daripada pada pemanasan sedang (23). II.8 Kestabilan Emulsi (23) Sebelum penyimpanan, kestabilan emulsi dipengaruhi oleh suhu dan waktu. Bentuk ketidakstabilan emulsi selama penyimpanan ditunjukkan dengan terjadinya kriming, perubahan viskositas, perubahan ukuran tetes terdispersi serta inversi fase. II.8.1 Kriming dan Sedimentasi Kriming atau sedimentasi terjadi ketika tetesan terdispersi atau flokulat terpisah dibawah pengaruh gravitasi untuk membentuk lapisan

30

emulsi yang lebih terkonsentrasi (krim). Proses ini yang pasti terjadi dalam setiap emulsi cairan bila ada perbedaan densitas antar fase sebagai konsekuensi dari Hukum Stokes. Sebagian besar minyak kurang padat dibanding air sehingga tetesan minyak dalam emulsi m/a naik ke permukaan untuk membentuk lapisan atas krim. Dalam emulsi a/m, krim berasal dari sedimentasi tetesan air dan membentuk lapisan bawah. Menurut Hukum Stokes, tingkat kriming dapat diminimalkan dengan mengurangi ukuran tetesan dan/atau mengentalkan fase kontinu (3). Dasar dari hubungan tetesan atau partikel sedimen dalam cairan diatur dengan Hukum Stokes. Persamaan lainnya dapat dikembangkan melalui sistem bulk, tetapi persamaan Stokes masih tetap digunakan karena faktor titik luaran yang mempengaruhi angka sedimentasi atau kriming. Poin tersebut adalah diameter dari tetesan terdispersi, viskositas dari medium pendispersi, dan perbedaan kerapatan antara fase terdispersi dan fase pendispersi (27). II.8.2 Viskositas Viskositas emulsi merupakan kriteria yang penting untuk mempelajari kestabilan emulsi dan tidak berhubungan dengan viskositas absolut tetapi dengan perubahan kekentalan pada berbagai periode waktu. Tetesan-tetesan pada emulsi yang baru dibuat tergabung dengan segera dan menunjukkan peningkatan kekentalan. Setelah perubahan ini kebanyakan emulsi menunjukkan perubahan viskositas yang

31

berhubungan dengan waktu. Jika viskositas tidak berubah dengan waktu emulsi dianggap ideal meskipun kebanyakan sistem masih dapat diterima kestabilannya bila menunjukkan sedikit kenaikan viskositas dalam waktu antara 0,04 dan 400 hari. Kebanyakan emulsi menjadi encer pada suhu tinggi dan mengental kembali bila ditempatkan pada suhu kamar. II.8.3 Perubahan Ukuran Tetes Terdispersi Perubahan rata-rata ukuran tetes terdispersi atau distribusi ukuran tetes terdispersi merupakan parameter yang penting untuk mengevaluasi suatu emulsi. Analisis ukuran tetes terdispersi dapat dilakukan dengan beberapa metode. Salah satunya adalah pengukuran diameter tetes terdispersi dengan mikroskop yang memberikan nilai rata-rata tergantung pada jumlah tetes untuk setiap ukuran. II.8.4 Inversi Fase Emulsi dikatakan mengalami inversi ketika perubahan emulsi dari M/A ke A/M atau sebaliknya. Inversi dapat dilihat ketika emulsi disiapkan dengan pemanasan dan pencampuran dua fase kemudian didinginkan. Hal ini terjadi karena adanya daya larut bahan pengemulsi tergantung pada perubahan temperatur. Telah ditunjukkan bahwa nilai ini

dipengaruhi oleh nilai HLB dari surfaktan. Semakin tinggi nilai HLB, semakin besar tahanan untuk berubah (inversi) (27). Perbandingan volume fase dari suatu emulsi mempunyai

pengaruh sekunder terhadap kestabilan produk. Hal ini dikenal dengan volume relatif dari air dan minyak dalam emulsi. Partikel-partikel

32

berbentuk bulat yang sama besar dalam suatu susunan yang longgar mempunyai porositas 48% dari total volume sediaan. Ostwald dan teman-temannya telah membuktikan bahwa jika seseorang berusaha untuk menggabungkan lebih dari 74% minyak dalam suatu emulsi M/A, bola-bola minyak seringkali menggabung dan emulsi tersebut pecah. Harga ini dikenal sebagai titik kritis yang didefenisikan sebagai konsentrasi dari fase dimana zat pengemulsi tidak dapat menghasilkan suatu emulsi yang stabil dari tipe yang diinginkan. Dalam beberapa emulsi yang stabil harga tersebut mungkin lebih besar dari 74% yang disebabkan karena bentuk dan ukuran bola yang tidak beraturan. Tetapi umumnya suatu perbandingan fase volume 50/50 menghasilkan emulsi yang paling stabil (27). Kemungkinan besar faktor yang paling penting dalam

menstabilkan suatu emulsi adalah sifat fisik dari lapisan pengemulsi pada antarmuka. Suatu lapisan pengemulsi harus kuat dan elastis dan harus terbentuk dengan cepat selama proses pengemulsian agar menjadi efektif. Suatu zat pengemulsi atau kombinasi zat pengemulsi yang baik mengakibatkan penurunan tegangan antarmuka awal untuk menghasilkan bola-bola kecil yang sama dan terbentuk dengan cepat sehingga melindungi bola-bola tersebut untuk tidak berkumpul kembali selama pembuatan. Lapisan tersebut kemudian perlahan-lahan

meningkat kekuatannya setelah beberapa hari atau beberapa minggu (27).

33

II.9 Uraian Bahan Tambahan II.9.1 Emulgator Novemer Emulgator novemer terdiri atas air 45 51%, acrylat/ acrylamid kopolimer 26 28%, mineral oil 22 24% dan polisorbat 85 1 3% yang dirancang untuk mengeraskan, mensuspensikan, menstabilkan,

mengemulsi dan memberikan rasa sejuk pada kulit. pH kestabilan pada rentang 5.5 - 11.0 (8). Kelebihan - kelebihan novemer yaitu dapat diformulasi pada suhu rendah, tidak menggunakan produk perhitungan kondisi HLB, dapat

mempertahankan

kualitas

dibawah

penyimpanan

dipercepat, stabil pada emulsi yang mengandung bahan aktif berupa elektrolit, dapat mensuspensikan bahan seperti zink oksida,

memberikan rasa lembut pada kulit, emulsifikasi yang singkat, dan efisien pada konsentrasi rendah. Konsentrasi yang direkomendasikan untuk sistem emulsi adalah 1-4% (8). 1. Polisorbat 85 Polisorbat 85 merupakan surfaktan nonionik yang berfungsi sebagai bahan pengemulsi. Dikenal dengan nama kimia polyoxyethylene 20 sorbitan trioleate, penampakan fisik berupa cairan kuning sawo. Larut dalam etanol, tidak larut dalam parafin, agak larut dalam minyak sayur dan terdispersi dalam air. Rumus molekul : C100H188O28 dan berat molekul : 1839 (26).

34

2. Acrylate copolymer Penampakannya berupa cairan kental, kerapatan relatif 1.00 kg/L to 1.04 kg/L, tidak reaktif, terhidrolisis pada pH 10 dan memiliki berat molekul : 5,700. Avcrylate copolymer mengandung > 98% monomer acrylic hidrofobik yang memberikan kemampuan daya larut air

diperkirakan kurang dari 1 ppm dan 2 % diethylamino etil methacrylate yang memberikan gaya adhesi yang bagus serta menjaga penyelubungan formula (8). 3. Mineral oil Berupa cairan kental, transparan, tidak berfluoresensi; tidak berwarna; hampir tidak berbau; hampir tidak mempunyai rasa. Praktis tidak larut dalam air dan etanol (95%) P; larut dalam kloroform P dan dalam eter P. Digunakan dalam kosmetik dan sering ditambahkan pada emulsi m/a (26). II.9.2 Emulgator Viscolam Viscolam mengandung sodium polyacrylatdimetyl taurate,

hidrogeneted polidecene, dan tridecet 10 yang dapat digunakan sebagai emulgator. Sodium polyacrylatdimetyl taurate merupakan bahan yang tidak berwarna atau berwarna putih kekuningan yang dapat meningkatkan viskositas dari fase air. Emulgator Viscolam ini sering digunakan sebagai polimer cair didasarkan pada konsep Hydro Swelling Droplets dimana pada proses pembuatan emulsi secara langsung dapat terjadi

35

pembesaran ukuran tetesan air tanpa perlu pemanasan atau modifikasi pH (29). II.9.3 Asam stearat

Rumus molekul : C18H36O2, Berat molekul : 284.47 Gambar 3. Rumus struktur asam stearat (Sumber : Rowe, Raymond C, dkk., 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipients. Sixth Edition, American Pharmaceutical Association. Washington DC.).

Asam stearat berupa zat padat keras mengkilap menunjukkan susunan hablur; kuning pucat atau putih; mirip lemak lilin. Praktis tidak larut dalam air; larut dalam 20 bagian etanol (95%) P, dalam 2 bagian kloroform P dan dalam 3 bagian eter P. Memiliki titik lebur tidak kurang dari 54 C. Asam stearat adalah bahan yang stabil; perlu diberi tambahan antioksidan. Asam stearat digunakan sebagai emolien dalam kosmetika, sebagai emulgator dalam sediaan krim bila sebagian dinetralkan dengan basa atau trietanolamin, pemadat (26). II.9.4 Setil alkohol

Rumus molekul : C16H34O, Berat molekul : 242.44 Gambar 4. Rumus struktur setil alkohol (Sumber : Rowe, Raymond C, dkk., 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipients. Sixth Edition, American Pharmaceutical Association. Washington DC.).

36

Setil alkohol berupa serpihan putih, berbentuk kubus atau granul dengan bau khas yang lemah. Setil alkohol praktis tidak larut dalam air, mudah atau sedikit larut dalam alkohol, larut dalam eter, bercampur bila dilebur bersama minyak hewani atau nabati, paraffin cair dan lemak bulu domba cair. Memiliki titik lebur 45 - 52 C. Setil alkohol digunakan sebagai emolien, stabil terhadap asam, basa, cahaya dan udara dan tidak menjadi tengik. Konsentrasi sebagai emolien 2-5% (26). II.9.5 Gliserin

Rumus molekul : C3H8O3, Berat molekul : 92.09 Gambar 5. Rumus struktur gliserin (Sumber : Rowe, Raymond C, dkk., 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipients. Sixth Edition, American Pharmaceutical Association. Washington DC.).

Gliserin berupa cairan bersih, tidak berwarna, tidak berbau, kental, higroskopis, memiliki rasa manis, sekitar 0,6 kali sukrosa. Gliserin sukar larut dalam aseton, praktis tidak larut dalam benzen, kloroform, dan minyak, larut dalam air, metanol, dan etanol 95%. Memiliki titik lebur 17,8 C. Campuran gliserin dengan air, etanol (95%), dan propylen glikol membentuk campuran yang stabil. Gliserin terutama digunakan sebagai humektan dan emolien. Gliserin juga digunakan sebagai pelarut atau kosolven dalam krim dan emulsi (26).

37

II.9.6 Propilenglikol

Rumus molekul : C3H8O2, Berat molekul : 76.09 Gambar 6. Rumus struktur propilenglikol (Sumber : Rowe, Raymond C, dkk., 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipients. Sixth Edition, American Pharmaceutical Association. Washington DC.).

Propilenglikol berupa cairan kental yang jernih, tidak berwarna, praktis tidak berbau dengan sedikit rasa manis menyerupai gliserin. Propilenglikol digunakan sebagai humektan dalam sediaan kosmetik dengan konsentrasi hingga 15% (26). II.9.7 Metil paraben

Rumus molekul : C8H8O3, Berat molekul : 152.15 Gambar 7. Rumus struktur metil paraben (Sumber : Rowe, Raymond C, dkk., 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipients. Sixth Edition, American Pharmaceutical Association. Washington DC.).

Metil paraben berupa serbuk hablar halus, putih; hampir tidak berbau; tidak mempunyai rasa, kemudian agak membakar diikuti rasa tebal. Dapat larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air mendidih, dalam 3,5 bagian etanol (95%) P dan dalam 3 bagian aseton P; mudah larut dalam eter P dan dalam larutan alkali hidroksida, larut dalam 60 bagian gliserol P panas dan dalam 40 bagian minyak lemak nabati panas,

38

jika didinginkan larutan tetap jernih. Mempunyai titik lebur 125-128C. Metil paraben (0,18%) dikombinasikan dengan propil paraben (0,02%) sebagai pengawet pada beberapa formulasi. Metil paraben dan golongan paraben lainnya incomp dengan surfaktan nonionik, dan cara

mengatasinya dengan penambahan propilenglikol 10% (26). II.9.8 Propil paraben

Rumus molekul : C10H12O3, Berat molekul : 180.20 Gambar 8. Rumus struktur propil paraben (Sumber : Rowe, Raymond C, dkk., 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipients. Sixth Edition, American Pharmaceutical Association. Washington DC.).

Propil paraben berupa serbuk hablur putih; tidak berbau; tidak besar. Sangat sukar larut dalam air; larut dalam 3,5 bagian etanol (95%) P clan dalam 3 bagian aseton P, dalam 140 bagian gliserol P dan dalam minyak lemak, mudah larut dalam larutan alkali hidroksida. Memiliki titik lebur 95-98C. Digunakan sebagai pengawet (26). II.9.9 Isopropil meristat

Rumus molekul : C17H34O2, Berat molekul : 270.5 Gambar 9. Rumus struktur isopropil meristat (Sumber : Rowe, Raymond C, dkk., 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipients. Sixth Edition, American Pharmaceutical Association. Washington DC.).

39

Isopropil miristat berupa cairan bersih, tidak berwarna, praktis tidak berbau pada cairan viskositas rendah. Terdiri dari ester dari propan-2-ol dan asam lemak jenuh berat molekul tinggi, terutama asam miristat. Larut dalam aseton, kloroform, etanol (95%), etil asetat, lemak, alkohol lemak, minyak, hidrokarbon cair, toluena, dan lilin. Banyak melarutkan lilin, kolesterol, atau lanolin. Praktis tidak larut dalam gliserin, glikol, dan air. Digunakan sebagai emolien, pembawa minyak, penetran kulit, dan pelarut. Stabil pada campuran air dan gliserin (26). II.9.10 Alfa tokoferol

Rumus molekul : C29H50O2, Berat molekul : 430.72 Gambar 10. Rumus struktur alfa tokoferol (Sumber : Rowe, Raymond C, dkk., 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipients. Sixth Edition, American Pharmaceutical Association. Washington DC.).

Berupa cairan seperti minyak, kuning jernih, tidak berbau atau sedikit berbau. Praktis tidak larut dalam air, larut dalam etanol (95%) P dan dapat bercampur dengan eter P dengan aseton P, dengan minyak nabati dan dengan kloroform P. Tidak stabil terhadap cahaya dan udara. Tokoferol digunakan sebagai antioksidan dalam sediaan kosmetik (26).

40

II.9.11 Oleum jasmin Minyak essensial yang berasal dari tanaman J.grandiflorum yang mengandung metil antranilat, benzil alkohol, benzil asetat, dan terpen linalol, dan linalil asetat.

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN III.1 Alat dan Bahan yang Digunakan Alat-alat yang digunakan adalah alat-alat gelas, homogenizer (Turrax) lemari pendingin, mikroskop (L-301A), penangas air, pengaduk elektrik (Philips), perangkat uji konduktivitas (bola lampu, kabel, sumber arus listrik), pH meter (Lutron), termometer, (Sartorius), viskometer (Brookfield). Bahan-bahan yang digunakan adalah alfa tokoferol, air suling, asam stearat, ekstrak akar murbei dan buah mahkota dewa, emulgator novemer dan viscolam , gliserin, isopropil meristat, metil paraben, oleum jasmin, propilenglikol, propil paraben, setil alkohol. III.2 Prosedur Kerja III.2.1 Pengambilan sampel Sampel akar murbei (Morus alba L) diperoleh dari Kecamatan Sabbangparu, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan dan sampel buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa Boerl.) diperoleh dari Djogyakarta dalam bentuk simplisia kering. III.2.2 Pengolahan Sampel Akar murbei dicuci dengan air mengalir hingga bersih dan dipotong kecil-kecil kemudian dikeringkan dengan cara dipanaskan menggunakan oven. 41 timbangan analitis

42

III.2.3 Ekstraksi Sampel akar yang telah kering sebanyak 100 gram direndam dengan heksan 1000 ml dalam labu alas bulat. Labu alas bulat disambungkan ke kondensor kemudian direfluks selama 2-4 jam. Selanjutnya disaring dengan kain lalu ekstrak heksan yang diperoleh kemudian dikumpulkan dan diuapkan cairan penyarinya dengan

menggunakan rotavapor dan diangin-anginkan sampai diperoleh ekstrak heksan kental. Selanjutnya residu dikeringkan pada suhu kamar sampai bebas heksan, kemudian direndam dengan 1000 ml etanol 70% dalam labu alas bulat. Disambungkan ke kondensor kemudian direfluks selama 2-4 jam. Selanjutnya disaring lalu ekstrak etanol yang diperoleh kemudian diuapkan penyarinya dengan menggunakan rotavapor dan dianginanginkan sampai diperoleh ekstrak etanol kering. Diperoleh rendamen sebesar 12,532%. Simplisia buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) ditimbang 150 gram dan dimasukkan ke dalam bejana maserasi, lalu direndam dengan 1 liter etanol 70% sampai semua simplisia terendam, didiamkan selama 3-5 hari sambil sesekali diaduk, kemudian filtrat disaring. Ulangi perlakuan yang sama sebanyak 2-3 kali dan filtrat yang terkumpul dipekatkan dengan rotavapor. Diperoleh rendamen sebesar 11,2357%. III.2.4 Formulasi Krim Dibuat masing-masing 3 rancangan formula krim tipe m/a dari kombinasi ekstrak akar murbei dan buah mahkita dewa yang terdiri dari

43

formula yang menggunakan variasi emulgator novemer 0.5%, 1%, dan 2% dan variasi emulgator viscolam 2%, 3%, dan 4%. Rancangan formula lebih lengkap dapat dilihat pada tabel 1 dan 2.
Tabel 1. Rancangan Formula Dengan Emulgator Novemer

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13.

Nama Bahan Ekstrak etanol akar murbei Ekstrak etanol buah mahkota dewa Asam stearat Setil alkohol Gliserin Isopropil meristat Propilenglikol Novemer Metil paraben Propil paraben -tokoferol Oleum jasmin Air suling

Formula Krim (% b/b) I II III 0,1 0,1 0,1 0,5 0,5 2 3 5 2 10 1 0,2 0,02 0,05 0,005 76,125

0,5 2 3 5 2 10 2 0,2 0,02 0,05 0,005 75,125

2 3 5 2 10 0,5 0,2 0,02 0,05 0,005 76,625

Tabel 2. Rancangan Formula Dengan Emulgator Viscolam

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13.

Nama Bahan Ekstrak etanol akar murbei Ekstrak etanol buah mahkota dewa Asam stearat Setil alkohol Gliserin Isopropil meristat Propilenglikol Viscolam Metil paraben Propil paraben -tokoferol Oleum jasmin Air suling

I 0,1 0,5

Formula Krim (% b/b) II III 0,1 0,1 0,5 2 3 5 1 10 3 0,2 0,02 0,05 0,005 74,125 0,5 2 3 5 1 10 4 0,2 0,02 0,05 0,005 73,125

2 3 5 1 10 2 0,2 0,02 0,05 0,005 75,125

44

III.2.5 Pembuatan Formula Masing-masing bahan ditimbang sesuai dengan perhitungan. Dibuat fase minyak dengan cara melebur asam stearat, setil alkohol, secara berturut-turut dalam cawan porselen di atas penangas air. Setelah melebur sempurna, dilarutkan propil paraben serta ditambahkan isopropil meristat sambil diaduk hingga homogen dan dibiarkan hingga suhunya 70
0

C. Dibuat fase air dengan cara mencampurkan metil paraben dan air

suling dalam gelas piala, lalu dipanaskan di atas penangas air. Kemudian ditambahkan propilenglikol dan gliserin sambil diaduk. Dibiarkan sampai suhu mencapai 70 0C. Setelah suhu kedua fase mencapai 700C, krim dibuat dengan cara menambahkan fase minyak ke dalam fase air sambil diaduk dengan pengaduk elektrik. Setelah suhu mencapai 500 C, ditambahkan emulgator novemer/viscolam. Setelah itu diaduk dengan mixer (untuk emulgator novemer) secara berselang (intermitten shaking : 2 menit pengadukan dengan selang waktu istirahat 20 detik) dan dengan homogenaizer (untuk emulgator viscolam) pada kecepatan 4000 rpm hingga terbentuk basis krim. Ditambahkan ekstrak akar murbei dan ekstrak buah mahkota dewa serta oleum jasmin dan alfa tokoferol sambil terus diaduk sampai homogen.

45

III.2.6 Penentuan Tipe Krim III.2.6.1 Daya Hantar Listrik Krim yang telah dibuat dimasukkan dalam gelas piala, kemudian dihubungkan dengan rangkaian arus listrik, apabila lampu menyala maka tipe krim adalah m/a (minyak dalam air) . III.2.6.2 Metode Dispersi Larutan Zat Warna Krim yang telah dibuat dimasukkan dalam vial, kemudian ditetesi beberapa tetes metilen biru. Jika metilen biru terdispersi secara dominan pada krim maka tipe krim adalah m/a. III.2.7 Evaluasi Kestabilan III.2.7.1 Pemeriksaan Organoleptik Krim yang telah dibuat diperiksa warna, bau, dan tekstur sebelum dan sesudah dilakukan penyimpanan yang dipercepat. III.2.7.2 Pengukuran pH krim Dilakukan pengukuran pH dengan menggunakan pH meter yang meliputi pH krim sebelum dan sesudah dilakukan kondisi penyimpanan yang dipercepat. III.2.7.3 Pengukuran Viskositas Pengukuran viskositas dilakukan terhadap sediaan krim yang telah dibuat sebelum dan sesudah kondisi penyimpanan dipercepat.

Pengukuran viskositas dilakukan menggunakan viskometer Brookfield pada 50 putaran per menit (rpm), menggunakan spindle no.7.

46

III.2.7.4 Pengukuran Tetes Terdispersi Sediaan yang telah jadi dilakukan pengukuran tetes terdispersi sebelum dan sesudah diberi kondisi penyimpanan dipercepat.

Pengamatan ukuran tetes terdispersi dilakukan menggunakan mikroskop. III.2.7.5 Inversi Fase Sediaan yang telah jadi, diuji inversi fase sebelum dan setelah kondisi penyimpanan dipercepat menggunakan metode daya hantar listrik dan metode dispersi zat warna. III.2.8 Pengumpulan dan Analisa Data Data dari hasil penelitian dikumpulkan dan dilakukan analisis data

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1 Hasil Penelitian Penelitian ini mengenai pengaruh variasi konsentrasi emulgator Novemer dan Viscolam terhadap kombinasi ekstrak etanol akar murbei (Morus alba L.) dan ekstark buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa [Scheff.] Boerl.) dengan tipe krim minyak dalam air (m/a) untuk melihat kestabilan dari krim pemutih tersebut. Dari penelitian sebelumnya terhadap aktivitas penghambatan enzim tirosinase dari ekstrak etanol akar murbei (Morus alba L.) menunjukkan bahwa ekstrak etanol akar murbei (Morus alba L.) memiliki aktivitas penghambatan terhadap enzim tirosinase dengan nilai IC50 yang diperoleh adalah sebesar 1,39 bpj. Sedangkan penelitian sebelumnya terhadap aktivitas ekstrak buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa Boerl.) sebagai tabir surya menunjukkan rata-rata persen transmisi eritema sebesar 0,14 dimana suatu bahan dikatakan sebagai sunblock total apabila harga % transmisi eritema < 1. Akar murbei yang telah dikeringkan direfluks dengan etanol 70% sedangkan buah mahkota dewa dimaserasi dengan etanol 70%

dimana masing-masing menghasilkan estrak kering. Hasil pengamatan dan pengujian yang dilakukan lebih lengkap dapat dilihat pada tabel 3 12.

47

48

IV.2

Pembahasan Bahan pengemulsi atau emulgator merupakan bahan yang

digunakan dalam emulsi untuk menjaga kestabilan fisik sediaan dengan mencegah terjadinya koalesensi atau menyatunya tetesan-tetesan dari masing-masing fase. Berdasarkan penelitian sebelumnya oleh Isma Aziza yang

mengukur aktivitas penghambatan enzim tirosinase menggunakan ekstrak etanol akar murbei (Morus alba L.) dengan berbagai konsentrasi diperoleh IC50 sebesar 1,39 bpj. Berdasarkan hal tersebut maka ditentukan konsentrasi ekstrak yang digunakan dalam krim sebesar 0,1%. Untuk penentuan konsentrasi ekstrak buah mahkota dewa sebagai tabir surya berdasarkan pada penelitian Melyati yang menggunakan 0,5% ekstrak yang menghasilkan krim tabir surya yang stabil secara fisik dengan rata-rata persen transmisi eritema sebesar 0,14 dimana suatu bahan dikatakan sebagai sunblock total apabila harga % transmisi eritema < 1 (7). Untuk pembuatan krim diformulasikan dalam tipe minyak dalam air (m/a) dengan kombinasi ekstrak akar murbei (Morus alba L.) dan ekstrak buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa Boerl.) menggunakan variasi emulgator Novemer 0,5%; 1%; dan 2% serta Viscolam 2%; 3%; dan 4%. Untuk pemilihan konsentrasi Novemer 0,5% diambil dibawah konsentrasi yang ada pada literatur (1-4%) dengan alasan ingin membuktikan apakah

49

pada konsentrasi tersebut krim yang dihasilkan masih dapat stabil secara fisik. Untuk konsentrasi Viscolam diambil sesuai literatur (2-5%). Setelah diformulasikan dalam bentuk krim tipe m/a, dilakukan pengujian kestabilan fisik krim yang diformulasi menggunakan variasi konsentrasi emulgator Novemer dan Viscolam. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh variasi konsentrasi emulgator Novemer dan Viscolam terhadap kestabilan fisik krim. Hasil pengamatan organoleptis terhadap krim I, II, dan III yang diformulasikan dengan emulgator Novemer dengan konsentrasi

berturut-turut 0,5%, 1%, dan 2% tidak menunjukkan perubahan warna dan tekstur. Hal ini disebabkan karena dasar krim bersifat inert sehingga tidak terjadi interaksi antara basis dengan emulgator Novemer yang mengandung acrylat yang memiliki reaksi netral dan polisorbat 85 yang merupakan surfaktan nonionik, yang pada umumnya tidak bereaksi dengan asam, basa dan garam. Untuk pengamatan organoleptis terhadap krim I, II, dan III yang diformulasikan dengan emulgator Viscolam dengan konsentrasi berturut-turut 1%, 2%, dan 3% menunjukkan perubahan warna dan tekstur serta mengalami pemisahan fase setelah kondisi penyimpanan dipercepat. Hasil Novemer pengujian sebelum tipe dan emulsi sesudah krim dengan emulgator dipercepat

penyimpanan

memperlihatkan bahwa semua krim mempunyai tipe emulsi m/a, baik dengan uji pengenceran, uji dispersi zat warna menggunakan metilen biru

50

dan uji daya hantar listrik. Pada krim dengan emulgator Viscolam hasil uji tipe emulsi sebelum penyimpanan dipercepat memperlihatkan bahwa semua krim mempunyai tipe emulsi m/a yaitu pada uji pengenceran, uji warna menggunakan metilen biru, dan uji daya hantar listrik sedangkan sesudah penyimpanan dipercepat tidak dilakukan uji tipe emulsi karena krim telah mengalami pemisahan fase. Hasil pengujian tipe emulsi dapat dilihat pada gambar 5-11. Uji pengenceran memperlihatkan bahwa emulsi dapat diencerkan dengan air suling. Hal ini disebabkan karena volume fase terdispersi (fase minyak) yang digunakan dalam krim ini lebih kecil dari fase pendispersi (fase air), sehingga jumlah fase air yang dominan membuat krim dapat terencerkan maka krim dikatakan emulsi tipe m/a. Uji dispersi warna memperlihatkan metilen biru dapat terdispersi ke dalam krim. Hal ini disebabkan metilen biru dapat larut pada fase pendispersi (fase air) yang jumlahnya lebih dominan dari fase minyak sehingga krim dikatakan tipe m/a. Uji daya hantar listrik menunjukkan hasil positif berupa nyala lampu. Uji ini didasarkan pada prinsip bahwa air menghantarkan arus listrik sedangkan minyak tidak, sehingga dapat disimpulkan tipe emulsi m/a (23). Hasil pengukuran pH krim menunjukkan adanya perubahan pH

krim sebelum dan setelah penyimpanan dipercepat. Sebelum kondisi penyimpanan dipercepat, pada konsentrasi formula krim dengan

emulgator Novemer 0,5%; 1%; dan 2% diperoleh nilai pH berturut-turut sebesar 6,75; 6,87; 6,95. Sesudah kondisi penyimpanan dipercepat,

51

mempunyai pH berturut-turut sebesar 6,95; 7,01; 7,08. Untuk formula krim dengan emulgator Viscolam diperoleh pH sebelum penyimpanan dipercepat berturut-turut 6,37; 6,43; 6,53. Untuk pH setelah penyimpanan dipercepat tidak dilakukan pengukuran karena pada krim terjadi pemisahan fase atau breaking. Hasil pengukuran pH setelah kondisi penyimpanan dipercepat pada krim dengan emulgator Novemer menunjukkan peningkatan pada semua formula krim. Adanya

peningkatan pH pada sediaan dapat diakibatkan oleh adanya reaksireaksi kimia yang terjadi dalam sediaan dalam proses penyimpanan. pH krim yang diperoleh mendekati pH fisiologis kulit, yaitu antara 4,5 6,5 (pH-balanced) dimana sediaan kosmetik yang dibuat harus mendekati pH fisiologis kulit atau sama dengan pH tersebut. Semakin alkalis atau semakin asam bahan yang mengalami kontak dengan kulit, semakin sulit untuk menetralisirnya dan kulit akan menjadi lelah karenanya dan dapat menyebabkan kulit menjadi kering, pecah-pecah, sensitif, dan mudah terkena infeksi (14). Viskositas krim merupakan kriteria penampilan pokok,

penggunaannya tidak berkenaan dengan nilai viskositas absolut, tetapi melihat pada perubahan viskositas selama penyimpanan. Semakin kecil perubahan viskositas maka semakin stabil krim tersebut. Pengamatan viskositas krim sebelum dan setelah penyimpanan pada dipercepat variasi

menunjukkan

terjadinya

kenaikan

viskositas

semua

konsentrasi. Hal ini merupakan efek normal penyimpanan suatu emulsi

52

pada suhu yang lebih tinggi adalah mempercepat koalesensi dan hal ini biasanya diikuti dengan perubahan viskositas. Selain itu, perbedaan temperatur secara bergantian pada saat proses penyimpanan dipercepat dapat menyebabkan terjadinya penguapan air dari sediaan sehingga viskositas krim meningkat. Kebanyakan emulsi menjadi lebih encer pada suhu tinggi dan menjadi lebih kental bila dibiarkan mencapai suhu dingin. Dari histogram perubahan viskositas menggunakan emulgator Novemer (Gambar 12-15) memperlihatkan dari ketiga formula krim yang memiliki perbedaan viskositas krim sebelum dan sesudah kondisi penyimpanan dipercepat paling kecil adalah krim dengan konsentrasi emulgator novemer 2% sehingga krim ini yang paling stabil secara fisik. Untuk krim dengan emulgator Viscolam memperlihatkan adanya pemisahan atau breaking sehingga ketiga formula krim dinyatakan tidak stabil secara fisik. Pada pengamatan tetes terdispersi (Gambar 16-17) dapat

menunjukkan kestabilan suatu krim. Rentang ukuran tetes terdispersi suatu emulsi adalah 0,1 100 m, semakin kecil ukuran tetes terdispersi suatu emulsi maka semakin stabil pula emulsi tersebut . Hasil pengamatan tetes terdispersi tidak dilakukan perhitungan ukuran tetes terdispersi. Hal ini dikarenakan ukuran tetes terdispersi dari semua krim sangat kecil baik sebelum maupun setelah diberi kondisi penyimpanan dipercepat. Dari pembahasan di atas maka diketahui bahwa ada pengaruh penggunaan variasi emulgator Novemer 1% dan 2% terhadap

53

kestabilan fisik krim dengan bahan aktif dari kombinasi ekstrak akar murbei (Morus alba S.) dan ekstrak buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa Boerl.) yaitu berpengaruh terhadap perubahan kekentalan namun tidak berpengaruh terhadap pemisahan fase atau dapat dinyatakan stabil secara fisik. Untuk krim dengan emulgator

Novemer 0,5% dinyatakan tidak stabil secara fisik karena terjadi pemisahan fase setelah kondisi stres. Hal ini terjadi karena konsentrasi emulgator yang digunakan terlalu rendah sehingga pembentukan emulsinya tidak stabil. Untuk krim dengan emulgator Viscolam dengan konsentrasi 2%, 3%, dan 4% dinyatakan tidak stabil secara fisik karena terjadi pemisahan fase setelah kondisi penyimpanan dipercepat. Hal ini terjadi dikarenakan surfaktan nonionik yang sering digunakan adalah suatu ester yang dapat terhidrolisis atau berinteraksi dengan

komponen lain dari emulsi. Setelah terhidrolisis surfaktan nonionik akan menghasilkan asam lemak yang merupakan bagian dari fase minyak dan akan menambah jumlah fase minyak sehingga dapat

menyebabkan

kurang

tertutupnya

tetesan

minyak

yang

menyebabkan terjadinya pemisahan fase (25). Selain itu, konsentrasi yang terlalu rendah dapat mengakibatkan emulsi yang terbentuk tidak stabil dalam kondisi penyimpanan dipercepat.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN V.1 Kesimpulan Dari hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan : 1. Kombinasi ekstrak akar murbei (Morus alba L.) dan ekstrak buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa Boerl.) yang diformulasikan dalam bentuk sediaan krim menggunakan variasi konsentarasi emulgator Novemer mengalami peningkatan pH dan viskositas setelah kondisi penyimpanan dipercepat. 2. Krim dengan emulgator Viscolam dengan konsentrasi 2%, 3%, dan 4% serta krim dengan konsentrasi emulgator Novemer 0,5% mengalami pemisahan fase setelah kondisi penyimpanan dipercepat dan dinyatakan tidak stabil secara fisik. 3. Untuk krim dengan emulgator Novemer dengan konsentrasi 1% dan 2% memperlihatkan tidak adanya perubahan warna, bau, pemisahan fase, dan inversi fase 4. Krim dengan emulgator Novemer 2% merupakan krim yang paling stabil secara fisik.

54

55

V.2 Saran Berdasarkan kesimpulan di atas, disarankan : 1. Sebaiknya dilakukan uji iritasi terhadap krim dari kombinasi ekstrak akar murbei (Morus alba L.) dan ekstrak buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa Boerl.) 2. Sebaiknya dilakukan uji aktivitas penghambatan enzim tirosinase dari ekstrak akar murbei (Morus alba L.) setelah menjadi krim. 3. Dilakukan uji lanjutan terhadap krim karena mengalami kenaikan pH untuk mengetahui interaksi yang terjadi.

DAFTAR PUSTAKA 1. Nandityasari, Ika. 2009. Hubungan Antar Ketertarikan Iklan Ponds di Televisi Dengan Keputusan Membeli Produk Ponds Pada Mahasiswa. Surakarta : Universitas Muhammadiyah 2. Djajadisastra, Joshita., Pemutih yang tepat dan aman bagi wanita Indonesia, Departemen Farmasi FMIPA UI. 2004 3. Swarbrick J, editor. 2007. Encyclopedia of Pharmaceutical Technology 3 ed. Informa Healthcare USA. New York. Hal 1548 1561. Available as PDF file. 4. Arbab, A.H.H. and Mahmoud M.E. (2010), Review on Skin Whitening Agents, Khartoum Pharmacy Journal, 13, 5-9 5. Luanratana, O and Panwipa G (2005), Anti Tyrosinase Activities of The Extracts From Thai Mulberry Twigs and The Whitening Cream. Journal of The National Research Council of Thailand, 37(2). 6. Lowe, N.J., & Shaath, N.A. 1990. Sunscreens : Development, Evaluation, and Regulatory Aspects. Marcel Dekker, Inc. New York. 215 7. Fatmawaty, A. 2007, Evaluasi Kestabilan Fisik Krim Tabir Surya Campuran Ekstrak Buah Mahkota Dewa (Phaleria Macrocarpa (Scheff.) Boerl.) Dan Rimpang Kencur (Kaempferia Galanga L) Menggunakan Surfaktan Nonionik. Makassar, Fakultas Farmasi, 7-8 8. The Lubrizol Corporation. Personal Care. NovemerTM* EC-1 Polymer. [serial on internet]. 23 November 2010. pg 1. Avalaibel from: http://www.lubrizol.com/PersonalCare/Products/Novemer/NovemerEC1.html. 9. Dalimarta, S., Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, Jilid II, Trubus Agriwidya, Jakarta. 2000, 163. 10. Winarto, W.P. 2003. Mahkota dewa Budi Daya dan Pemanfaatan Untuk Obat. PT. Penebar Swadaya. Jakarta. 3,9 11. Harmanto, N. 2001. Mahkota dewa Obat Pusaka Para Dewa. Jilid 3. Puspa Swara. Jakarta. 62,63

56

57

12. Pearce, E. Anatomi dan Fisologi untuk Paramedis. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 2005. hal. 239-241. 13. Freedberg, I.M. Dermatology in General Medicine. Volume I. Ed. 6. McGraw Hill Medical Publishing Division. New York. 2002. hal 133-141. 14. Tranggono, R.I., dan Fatma L. Buku Pegangan ilmu Pengetahuan Kosmetik. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 2007. 15. Freedberg, I.M. Dermatology in General Medicine. Volume I. Ed. 6. McGraw Hill Medical Publishing Division. New York. 2002. hal 133-141. 16. Ebank, J.P., Randall W. and Raymond E.B. Z. Mekanisme Pewarnaan Kulit. Department of Dermatology, University of Cincinnati College of Medicine. USA. 2009. 17. Briganti, S., Camera, E., & Picardo, M.,. J Pigment Cell Res. Innovative Technology Chemical and Instrumental Approaches to Treat Hyperpigmentation. 2003. hal. 16: 101 -110. 18. Liebermen, H.A. Pharmaceutical Dosage Forms, Disperse System. Vol II. Marcel Dekker Inc. New york. 1988. 233, 234 19. Draelos, Z.D. dan Lauren A. Thaman. Cosmetic Formulation of Skin Care Products. Vol. 30. Taylor and Francis Group. New York. 2006. hal. 209-205. 20. Sriwidodo. Cermin Dunia Kedokteran. PT. Kalbe Farma. Pusat Penelitian dan Pengembangan. Available as PDF file. 21. Parrott, E.L., Pharmaceutical Technology. Fundamental Pharmaceutics. [Third Revition]. Burgess Publishing Company. Minneapolis. 1971. hal. 313. 22. Baumann, L. Cosmetic Dermatology Principles and Practice. The Mc Graw Hill Companies. New York. 2002. hal. 29-30. 23. Lachman,L. ,Herbert A. L., dan Joseph L.K. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Ed. 2. Penerbit Universitas Indonsia Press. Jakarta. 1994. Hal. 1029-1044, 1102-1105. 24. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Farmakope Indonesia. Ed. IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. 1995. Hal.

58

25. Djajadisastra, Joshita. Cosmetic Stability. [book on internet]. 2004. [accessed 13 Desember 2010]. Pg 21 [31]. Avalaibel from: http://eprints.ui.ac.id/3512/1/eb9ed76c0b741237c496cf55275ef17bb7e 2bc41.pdf 26. Rowe, R.C., Paul J.S and Sian C.O. Handbook of Pharmaceutical Excipients. Ed. 6. Pharmaceutical Press and the American Pharmacists Association. 2009. Available as PDF file. 27. Gennaro, A.R., et al. Remingtons Pharmaceutical Sciences. 21th Edition. Mack Publishing Company. Easton. Pennysylvania. 2005. Hal.327-331, Available as PDF file. 28. Martin, A., Swarbrick, J., an Cammarat, A.Farmasi Fisika, Dasar-Dasar Kimia Fisik dalam Ilmu Farmasetik. Edisi Keempat. UI Press. Jakarta. 1993. 29. SNF Cosmetics. Flocare. [book on internet]. 2008. [accessed 07 Mei 2011]. Pg 4 [11]. Availaibel from: http://www.carbocel.cn/products/ TDS.cfm?nav=020500&CatTDS=54

59

Lampiran I Skema Kerja Pembuatan Krim a. Skema Kerja Pembuatan Krim Alat dan Bahan
- Disiapkan - Ditimbang sesuai perhitungan

asam stearat, setil alkohol, isopropil meristat, propil paraben Dilebur hingga 70C

Fase Minyak

Fase Air
Metil paraben

Dipanaskan hingga 70 C kemudian ditambahan propilenglikol dan gliserin Untuk Emulgator Viscolam diaduk menggunakan homogenaizer dengan kecepatan 4000 rpm

Fase air dicampur ke fase minyak Novemer ditambahkan pada suhu 50C (pengadukan secara intermitten shaking)

Dasar Krim
Ditambahkan sejumlah basis dengan ekstrak akar murbei & ekstrak buah mahkota dewa dan dihomogenkan

Sediaan Krim dari Ekstrak akar murbei


Ditambahakan oleum jasmin, dan tokoferol

Pengujian

60

Lampiran II Skema Pengujian Krim Sediaan Krim

Uji Tipe Emulsi

Uji Kestabilan Fisik


Freez-Thaw Test pada Suhu 40C dan 400C Selama 24 Jam

Metode Dispersi Warna

Metode Pengenceran

Metode Hantaran Listrik

Setelah 6 Siklus

Analisis Secara Organoleptis

Viskositas

Tetes Terdispersi

Inversi Fase

Pemisahan fase

Analisis Data

Pembahasan

Kesimpulan

61

Tabel 3. Hasil Pengamatan Sampel (Ekstrak akar murbei)

Pengamatan

Hasil

Warna Bau

Kuning Tidak berbau

Tabel 4. Hasil Pengamatan Sampel (Ekstrak buah mahkota dewa)

Pengamatan

Hasil

Warna Bau

Kuning Tidak berbau

Tabel 5. Hasil Pengamatan Organoleptis Krim (emulgator Novemer )

Kondisi

Krim 0,5% 1% 2% Kondisi

Pengamatan Sebelum Penyimpanan Setelah Penyimpanan Dipercepat Dipercepat Warna Tekstur Warna Tekstur krem krem krem halus halus halus krem krem krem halus halus halus

Tabel 6. Hasil Pengamatan Organoleptis Krim (emulgator Viscolam )

Krim 2% 3% 4%

Pengamatan Sebelum Penyimpanan Setelah Penyimpanan Dipercepat Dipercepat Warna Tekstur Warna Tekstur krem krem krem halus halus halus

(-) : Krim mengalami pemisahan fase (breaking) Tabel 7. Hasil Pengamatan Tipe Emulsi (emulgator Novemer ) Tipe Emulsi Sebelum Penyimpanan Dipercepat Setelah Penyimpanan Dipercepat Krim Uji Hantaran Uji Uji Dispersi Uji Hantaran Uji Uji Dispersi Listrik Pengenceran Warna Listrik Pengenceran Warna 0,5% M/A M/A M/A M/A M/A M/A 1% M/A M/A M/A M/A M/A M/A 2% M/A M/A M/A M/A M/A M/A

62

Tabel 8. Hasil Pengamatan Tipe Emulsi (emulgator Viscolam ) Tipe Emulsi Sebelum Penyimpanan Dipercepat Setelah Penyimpanan Dipercepat Krim Uji Hantaran Uji Uji Dispersi Uji Hantaran Uji Uji Dispersi Listrik Pengenceran Warna Listrik Pengenceran Warna 2% M/A M/A M/A 3% M/A M/A M/A 4% M/A M/A M/A (-) : Krim mengalami pemisahan fase (breaking) Tabel 9. Hasil Pengukuran viskositas (cps) (emulgator Novemer )
Krim Kondisi Sebelum Penyimpanan Dipercepat 7200 6400 7600 12800 12000 12000 16000 16800 16800 Sesudah Penyimpanan Dipercepat 12800 12400 12000 19200 19600 18400 20800 21600 21600

0,5%

1%

2%

Tabel 10. Hasil Pengukuran viskositas (cps) (emulgator Viscolam )


Krim 2% Kondisi Sebelum Penyimpanan Dipercepat 3200 3200 2400 4000 5200 3200 5200 5600 4800 Sesudah Penyimpanan Dipercepat -

3%

4%

(-) : Krim mengalami pemisahan fase (breaking) Tabel 11. Hasil Pengukuran pH krim (emulgator Novemer )

Krim

Kondisi

0,5% 1% 2%

Basis tanpa penambahan ekstrak 6,80 6,88 7,04

Sebelum kondisi dipercepat 6,75 6,87 6,95

Sesudah kondisi Dipercepat 6,95 7,01 7,08

63

Tabel 12. Hasil Pengukuran pH krim (emulgator Viscolam )

Krim

Kondisi

Keterangan : (-) : Krim mengalami pemisahan fase (breaking).

2% 3% 4%

Basis tanpa penambahan ekstrak 6,36 6,42 6,50

Sebelum kondisi dipercepat 6,37 6,43 6,53

Sesudah kondisi Dipercepat -

II

III

II

III

Gambar 11. Sediaan krim variasi konsentrasi emulgator novemer sebelum kondisi penyimpanan dipercepat (A) dan setelah penyimpanan dipercepat (B). Krim (I) dengan konsentrasi 0,5%, krim (II) dengan konsentrasi 1%, dan krim (III) dengan konsentrasi 2%.

III

II

II

III

Gambar 12. Sediaan krim variasi konsentrasi emulgator viscolam sebelum kondisi penyimpanan dipercepat (A) dan setelah penyimpanan dipercepat (B). Krim (I) dengan konsentrasi 2%, krim (II) dengan konsentrasi 3%, dan krim (III) dengan konsentrasi 4%.

64

II

III

Gambar 13. Hasil uji tipe emulsi M/A emulgator Novemer dengan metode daya hantar listrik sebelum kondisi penyimpanan dipercepat. Krim (I) dengan konsentrasi 0,5%, krim (II) dengan konsentrasi 1%, dan krim (III) dengan konsentrasi 2%.

II

III

Gambar 14. Hasil uji tipe emulsi M/A emulgator Novemer dengan metode daya hantar listrik setelah kondisi penyimpanan dipercepat. Krim (I) dengan konsentrasi 0,5%, krim (II) dengan konsentrasi 1%, dan krim (III) dengan konsentrasi 2%.

II

III

Gambar 15. Hasil uji tipe emulsi M/A emulgator Viscolam dengan metode daya hantar listrik sebelum kondisi penyimpanan dipercepat. Krim (I) dengan konsentrasi 2%, krim (II) dengan konsentrasi 3%, dan krim (III) dengan konsentrasi 4%.

65

II

Gambar 16. Hasil uji tipe emulsi M/A metode pengenceran air sebelum (I) dan setelah (II) kondisi penyimpanan dipercepat dengan menggunakan emulgator Novemer 0,5% (A), 1% (B), dan 2% (C).

B C

B A C

II

Gambar 17. Hasil uji tipe emulsi M/A metode dispersi warna sebelum kondisi (I) dan setelah (II) penyimpanan dipercepat dengan menggunakan emulgator Novemer 0,5% (A), 1% (B), dan 2% (C).

Gambar 18. Hasil uji tipe emulsi M/A metode pengenceran air sebelum kondisi penyimpanan dipercepat dengan menggunakan emulgator Viscolam 2% (A), 3% (B), dan 4% (C).

Gambar 19. Hasil uji tipe emulsi M/A metode dispersi warna sebelum kondisi penyimpanan dipercepat dengan menggunakan emulgator Viscolam 2% (A), 3% (B), dan 4% (C).

66

Histogram pH, Viskositas, dan Tetesan Terdispersi Krim

Histogram pH Krim Dengan Emulgator Novemer


8 6 4 2 0 0,5 1 2
Sebelum penyimpanan dipercepat Setelah penyimpanan dipercepat

pH Krim

Basis tanpa ekstrak

Konsentrasi Emulgator (%)


Gambar 20. Histogram pH Krim Sebelum dan Setelah Kondisi Penyimpanan Dipercepat.

Histogram Perubahan pH Krim Dengan Emulgator Novemer


Perubahan pH krim
0,25 0,2 0,15 0,1 0,05 0 0,5 1 2

Konsentrasi emulgator (%)


Gambar 21. Histogram Perubahan pH Krim Setelah Kondisi Penyimpanan Dipercepat.

67

Histogram Viscositas (cps) Krim Dengan Emulgator Novemer


Viscositas krim (cps)
25000 20000 15000 10000 5000 0 0,5 1 2
Sebelum penyimpanan dipercepat Setelah penyimpanan dipercepat

Konsentrasi emulgator (%)


Gambar 22. Histogram Viskositas Krim (cps) Sebelum dan Setelah Kondisi Penyimpanan Dipercepat.

Histogram Perubahan Viscositas (cps) Krim dengan emulgator Novemer


Perubahan Viscositas Krim (cps)
8000 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 0,5 1 2

Konsentrasi emulgator (%)

Gambar 23. Histogram Perubahan Kekentalan Krim (cps) Setelah Kondisi Penyimpanan Dipercepat.

68

Sebelum penyimpanan dipercepat

Setelah penyimpanan dipercepat

Sebelum penyimpanan dipercepat

Setelah penyimpanan dipercepat

Sebelum penyimpanan dipercepat

Setelah penyimpanan dipercepat

Gambar 24. Hasil pengamatan tetes tedispersi sebelum dan setelah kondisi penyimpanan dipercepat menggunakan emulgator Novemer dengan konsentrasi 0,5% (A), 1% (B), dan 2% (C).

69

Sebelum penyimpanan dipercepat

Sebelum penyimpanan dipercepat

Setelah penyimpanan dipercepat

Gambar 25. Hasil pengamatan tetes tedispersi sebelum kondisi penyimpanan dipercepat menggunakan emulgator Viscolam dengan konsentrasi 2% (A), 3% (B), dan 4% (C).

70

Gambar 26. Tanaman Murbei (Morus alba L.)

Gambar 27. Buah Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa Boerl.)