Anda di halaman 1dari 22

BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Ilmu Sosial Dasar Para sarjana pendidikan, social dan kebudayaan telah melakukan penelitian tentang sistim pendidikan di Indonesia dan menemukan bahwa sistim tersebut adalah warisan sistim pendidikan pemerintah Belanda yakni kelanjutan dari politik balas budi (Etische Politik) yang merupakan ajaran Condrad Theodore Van Deventer , yaitu bertujuan menghasilkan tenaga trampil menjadi tukang-tukang yang mengisi birokrasi mereka dibidang administrasi, bidang tehnik dan yang lainnya, dengan tujuan eksploitasi kekayaan negara Indonesia untuk kepentingan pihak colonial Belanda waktu itu. Menurut para cendikiawan Indonesia, banyak tenaga ahli yang memiliki pengetahuan dan keahlian khusus serta mendalam tetapi mereka kurang memiliki wawasan luas. Padahal sumbangan pemikiran dan komunikasi ilmiah antar disiplin ilmu sangat penting dalam memecahkan berbagai masalah social masyarakat yang demikian kompleks. Ada juga yang menganggap perguruan tinggi dan sistim pendidikannya menjadi suatu yang Elite bagi masyarakat kita sendiri, sehingga kurang akrab dengan lingkungan masyarakat dan tidak mengerti dimensi lain diluar disiplin ilmu. Oleh itu, para cendikiawan memberikan mata kuliah Ilmu Sosial Dasar (ISD) sebagai pembentukan dan pelengkap sarjana paripurna dan untuk mengatasi kegusaran mereka terhadap sarjana yang dihasilkan. Mereka mengharapkan agar para sarjana memiliki 3 jenis kemampuan yaitu : Personal - diharapkan memiliki pengetahuan sehingga menunjukkan sikap, tingkah laku dan tindakan yang mencerminkan kepribadian Indonesia. Akademik - kemampuan untuk berkomunikasi secara ilmiah, menguasai peralatan analisa, berfikir logis, sistimatis dan analitis dan berkemampuan konsepsional untuk mengindentifikasi dan merumuskan masalah dan mampu mecari cara pemecahannya. Profesional - kemampuan yang tinggi dalam bidang profesi tenaga ahli yang bersangkutan. Interpreneur - kemampuan dalam menyediakan lapangan kerja Jiwa sosial - kemampuan memahami masalah masyarakat yang lain Kemampuan personal yang menjadikan ISD sebagai Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat. ISD menggunakan fakta, konsep dan teori berbagai ilmu sosial dalam memahami masalah sosial dalam masyarakat Indonesia.

B. Visi dan Misi Ilmu Sosial Dasar Visi dari ISD adalah untuk mewujudkan berkembangnya calon sarjana Indonesia sebagai manusia terpelajar kritis, peka dan arif dalam memahami adanya kesederjatan manusia yang juga dilandasi dengan nilai-nilai etika dan moral dalam kehidupan bermasyarakat. Misi dari ISD adalah memberikan landasan serta wawasan yang luas dan menumbuhkan sikap kritis peka dan arif pada calon sarjana untuk memahami keragaman dan kesederjatan manusia dalam kehidupan bermasyarakat selaku individu dan makhluk sosial yang beradab serta bertanggungjawab terhadap sumber daya dan lingkungannya. C. Tujuan Ilmu Sosial Dasar Tujuan utama ISD dipelajari adalah untuk menghasilkan warga negara Sarjana Indonesia yang berkualitas yakni : Taqwa kepada Tuhan, bersikap dan bertindak sesuai ajaran agama dan memiliki toleransi terhadap pemeluk agama lain Memiliki wawasan sejarah perjuangan bangsa sehingga dapat memperkuat semangat kebangsaan, cintakan tanah air, meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara, mempertinggi kebangsaan nasional dan kemanusiaan sebagai Sarjana Indonesia. Berjiwa Pancasila sehingga setiap tindakannya mencerminkan nilai-nilai Pancasila dan memiliki integritas kepribadian yang tinggi yang mendahulukan kepentingan nasional dan kemanusiaan sebagai Sarjana Indonesia. Memiliki wawasan budaya yang luas tentang kehidupan bermasyarakat dan secara bersama-sama mampu berperan dalam meningkatkan kualitasnya, maupun tentang lingkungan alam dan secara bersama-sama berperan serta didalam pelestariannya. Memiliki wawasan komprehensif dan pendekatan integral didalam menyikapi permasalahan kehidupan, baik sosial, ekonomi, politik, pertahanan keamanan, kebudayaan maupun hukum. Mengembangkan kesadaran calon sarjana mengenai pengetahuan tentang keanekaragaman dan kesederjatan manusia sebagai individu dan mahkluk sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Menimbulkan sikap kritis, peka dan arif untuk memahami keragaman dan kesederjatan manusia dengan kendala nilai estetika, selaku individu dan makhluk sosial yang beradab dalam mempraktikkan pengetahuan akademik dan keahliannya dimasyarakat.

BAB II : INDIVIDU,KELUARGA, DAN MASYARAKAT

A. Pengertian Individu Individu : yang tidak terbagi atau satu kesatuan yang paling kecil (tidak untuk manusia). Pengertian secara umum terdiri dari : a. Pertumbuhan individu sesuatu yang terkecil yang tidak dapat lagi, dengan pengertian ini, erat hubungannya sesama manusia, dan juga dapat tabiat atau jiwa majemuk yang berperan didalam pergaulan hidup manusia itu sendiri. Oleh sebab itu manusia sebagai kesatuan yang terbatas, dan untuk perkembangannya tidak dapat berdiri sendiri, melainkan hidup dan berhubungan dengan manusia lain. Individu memiliki 3 aspek yang melekat pada dirinya dan ketiga-tiganya sangat erat kaitannya, yaitu : aspek organic jasmaniah, aspek psikis rohaniah, dan aspek sosial kebersamaan. b. Aliran dalam pertumbuhan individu suatu proses perubahan yang menuju kearah yang lebih maju atau lebih dewasa, yang terdiri dari 3 tipe aliran yaitu, aliran asosiasi, aliran psikologis Gestalt, dan aliran sosiologi. Namun demikian terdapat juga aliran yang mempengaruhi pertumbuhan individu yang terdiri dari 4 faktor yaitu, aliran navistik, aliran Emphiris dan Environ Mentalistik, aliran Konvergensi dan Interaksionisme, dan aliran Biogenis Rekapitulasi. B. Keluarga Keluarga merupakan sebuah group yang terbentuk dari perhubungan antara laki-laki dan perempuan yang berlangsung dalam waktu yang lama untuk menghasilkan keturunan dan membesarkannya. Keluarga juga disebut unit/satuan masyarakat terkecil yang sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami, isteri, anakanak yang belum dewasa. Terdapat 3 latar belakang membentuk keluarga yaitu : a. Sigmund Freud (dorongan seks) b. Adler (karena kekuasaan) c. Kihajar Dewantara (saling memuliakan) C. Masyarakat Gaston Bonthoul sebagaimana yang diungkapkan oleh Prof.Mahadi, SH dalam diktat kuliah Sosiologi membedakan dua macam segi pengertian masyarakat : a. Segi pertama : menunjuk kepada corak lahir b. Segi kedua : memperlihatkan segi luar (Texterieur) dan dalam (Tinterieur) Segi luar (Texterieur)
3

Masyarakat kelihatan menempati sebagian daripada muka bumi ini. Segi dalam (Tinterieur) Terdiri dari 2 aspek : Susunan yang bertangga naik dan berjenjang turun (hierarki) Struktur mental

BAB III: MASALAH-MASALAH SOSIAL DAN MASALAH-MASALAH SOSIAL BUDAYA A. Pengertian Pada umumnya, masalah sosial ditafsirkan sebagai suatu kondisi yang tidak diinginkan oleh sebagian besar masyarakat. Hal ini disebabkan karena gejala tersebut merupakan kondisi yang tidak sesuai dengan harapan atau tidak sesuai dengan norma dan nilai serta tandar moral yang berlaku. Suatu kondisi juga dapat dikatakan sebagai masalah sosial karena menimbulkan berbagai penderitaan dan kerugian fisik dan nonfisik. Tiap-tiap masyarakat mempunyai masalah sosial sendiri yang dapat disebabkan oelh perbedaan tingkat perkembangan kebudayaan dan masyarakatnya, sifat kependudukannya, dan keadaan lingkungan alam dimana masyarakat itu hidup. B. Definisi Masalah Sosial & Masalah Sosial Budaya 1. Secara umum, masalah sosial dikatakan bahwa segala sesuatu yang menyangkut kepentingan umum. 2. Menurut para ahli, masalah sosial adalah satu kondisi atau perhubungan yang terwujud dalam masyarakat mempunyai sifat yang dapat menimbulkan kekacauan terhadap masyarakat secara keseluruhan. 3. Nisbet mengemukakan bahwa yang membedakan masalah sosial dengan masalah lainnya adalah masalah sosial selalu ada kaitannya dengan nilai moral dan pranata sosial serta hubungan manusia dalam konteks normative dimana hubungan manusia itu terwujud. 4. Leslie mengemukakan bahwa masalah sosial adalah suatu kondisi yang mempengaruhi kehidupan sebagian warga masyarakat sebagai sesuatu yang tidak diinginkan atau tidak disukai dan yang karenanya dirasakan perlu untuk diatasi atau diperbaiki. 5. Parrilo menyatakan bahwa untuk dapat memahami arti masalah sosial perlu memperhatikan empat komponen, yaitu : Masalah itu bertahan untuk suatu periode waktu Dirasakan dapat menyebabkan kerugian fisik atau mental baik pada individu maupun masyarakat Merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai atau mental sosial dari suatu atau berbagai kehidupan masyarakat Menimbulkan kebutuhan akan pemecahan 6. Raab dan Zelznich menyatakan bahwa tidak semua masalah dalam kehidupan manusia merupakan masalah sosial. Ia pada dasarnya adalah masalah yang terjadi didalam antar hubungan diantara warga masyarakat. Masalah sosial terjadi apabila :
5

Banyak terjadi hubungannya antara warga masyarakat yang menghambat pencapaian tujuan penting dari sebagian besar anggota masyarakat. Organisasi sosial menghadapi ancaman serius oleh ketidaksempurnaan mengatasi hubungan antar warga.

C. Perilaku Menyimpang 1. Pengertian : Suatu tindakan manusia yang bertentangan dengan nilai dan norma sosial akan menimbulkan berbagai masalah yang menghambat perkembangan nilai dan norma tersebut. 2. Macam-macam perilaku menyimpang : Menurut sifatnya - penyimpangan primer, yaitu penyimpangan yang bersifat temporer dan tidak berulang-ulang. - Penyimpangan sekunder, yaitu perilaku yang secara khas Nampak di depan umum dan secara umum dikenal sebagai seseorang yang berperilaku menyimpang. Menurut perilakunya - Penyimpangan individu - Penyimpangan kelompok 3. Bentuk-bentuk perilaku menyimpang Kejahatan Penyalahgunaan narkotika Penyimpangan seksual Homoseksual dan lesbian Perzinaan Perjudian Perkelahian pelajar (Tawuran) 4. Proses pembentukan perilaku menyimpang akibat sosialisasi tidak sempurna Peran keluarga yang tidak sempurna Peran lingkungan yang tidak mendukung Peran sekolah Peran media masa D. Masalah Sosial & Pendekatan Permasalahan Pendekatan masalah dengan menggunakan berbagai disiplin akademik dikenal sebagai pendekatan interdisipliner/multidisipliner. Pendekatan interdisipliner adalah pendekatan
6

dimana pada pelaksanaan studi sosial ini dilakukan interelasi (antar hubungan) berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial. Pendekatan multidisipliner dapat dikatakan sebagai pendekatan yang menggunakan disiplin akademik yang jumlahnya banyak, lebih dari satu disiplin ilmu. Pendekatan disipliner adalah pendekatan yang menggunakan hanya satu disiplin akademik.

BAB IV: KESAMAAN DERAJAT DAN STRATIFIKASI SOSIAL

A. Pengertian a) Kesamaan derajat : Merupakan cita-cita, dalam kenyataan menghadapi struktur masyarakat, tetapi citacita tersebut sebelum dikesampingan sehingga timbul kontradiksi dengan tidak adanya jaminan dari Negara tentang kesejahteraan ekonomi, perlindungan hak asasi manusia dan lain sebagainya, sehingga keinginan untuk memperoleh hak-hak yang sama dalam pergaulan masyarakat seperti diketahui keadaan demikian memicu adanya stratifikasi sosial dalam masyarakat. b) Stratifikasi sosial : Menurut Pitirim A.Sorokin, stratifikasi sosial adalah perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas secara bertingkar(hirarkis). Inti dari lapisan masyarakat tidak adanya keseimbangan dalam pembagian hak dan kewajiban, kewajiban dan tanggung jawab, nilai sosial, dan pengaruhnya diantara anggota masyarakat. Pitirim A.Sorokin pernah menyatakan bahwa system lapisan merupakan cirri yang tetap dan umum dalam masyarakat yang teratur. B. Terjadinya Stratifikasi Sosial Dasar adanya stratifikasi sosial adalah adanya barang sesuatu yang dihargai oleh masyarakat. Barang tersebut bisa berbentuk uang, harta/kekayaan, ilmu pengetahuan, kekuasaan, pemilikan benda-benda yang bersifat ekonomis, pekerjaan, dan seterusnya. Mereka yang memiliki jumlah yang banyak, secara sosiologis oleh masyarakat mereka dianggap berada pada lapisan atas. Sistem lapisan masyarakat dapat terjadi dengan sendirirnya dalam proses pertumbuhan masyarakat itu, tetepi ada pula yang dengan sengaja disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama. Sedangkan sistem pelapisan yang dengan sengaja disusun untuk mengejar satu tujuan bersama biasanya berkaitan dengan pembagian kekuasaan dan wewenang resmi dalam organisasi-organisasi formal. Apabila kekuasaan dan wewenang tidak dibagi secara teratur maka kemungkinan besar sekali akan terjadi pertentangan yang dapat membahayakan keutuhan masyarakat. C. Sistem Stratifikasi & Mobilitas Sosial Perpindahan seseorang dari satu lapisan ke lapisan lain bergantung kepada sifat system lapisan atau stratifikasi sosial pada masyarakat yang sifat system stratifikasi sosialnya

tertutup(closed social stratification) membatasi kemungkinan pindahnya seseorang dari suatu lapisan ke lapisan yang lebih baik merupakan gerak ke atas atau ke bawah. Sebaliknya pada masyarakat yang stratifikasi sosialnya terbuka (opened social stratification), setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan berusaha dengan kecekapan sendiri untuk naik lapisan atau bagi mereka yang tidak beruntung untuk jauh dari lapisan yang atas ke lapisan yang bawah. Perpindahan dari satu lapisan ke lapisan yang lain dinamakan mobilitas sosial(social mobility). Mobilitas sosial adalah perpindahan dari satu stratifikasi ke satu stratifikasi yang lain. Hal ini dapat dilihat pada masyarakat modern atau demokrasi dengan adanya arus bebas yaitu orang dari satu stratifikasi dapat berpindah ke stratifikasi lainnya. D. Dasar Stratifikasi Sosial Ukuran atau criteria yang bisa dipakai untuk menggolongkan anggota-anggota masyarakat kedalam suatu lapisan, adalah sebagai berikut : 1. Ukuran kekayaan 2. Ukuran kekuasaan 3. Ukuran kehormatan 4. Ukuran ilmu pengetahuan E. Unsur-unsur Stratifikasi Sosial Unsur sosial yang baku dalam sistem stratifikasi sosial ataupun lapisan masyarakat yaitu kedudukan(status) dan peranan(role). Kedudukan pula dibedakan dengan kedudukan sosial. Kedudukan dapat diartikan sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial, sedangkan kedudukan sosial adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakatnya sehubungan dengan orang lain, dalam arti lingkungan pergaulannya, prestisenya serta hak dan kewajiban. Mengenai kedudukan ini, ada 3 macam kedudukan yaitu : a) Ascribed status kedudukan seseorang dalam masyarakat tanpa memperhatikan perbedaan rohaniah dan kemampuan b) Achieved status yang diperoleh seseorang dengan usaha atau perjuangan oleh siapapun. c) Assignet status suatu kelompok memberikan kedudukannya yang lebih tinggi kepada seseorang yang telah memperjuangkan sesuatu untuk kepentingan masyarakat. Ralph H.Turner menggambarkan bahwa dalam memberikan kemungkinan peningkatan status sosial ini, maka ilmu pengetahuan mengenal 2 bentuk : a) Kontes mobility
9

b) Sponsored mobility F. Fungsi Stratifikasi Sosial 1. Stratifikasi sosial menjelaskan kepada seseorang tempatnya dalam masyarakat sesuai dengan pekerjaannya, bagaimana harus menjalankan dan efek serta sumbangannya kepada masyarakat. 2. Wujudnya distribusi penghargaan sehingga terbentuknya stratifikasi sosial dengan sendirinya 3. Penghargaan yang diberikan sesuai dengan pemenuhan persyaratan dan penilaian terhadap pelaksanaan tugas maka terbentuklah struktur sosial.

10

BAB V: PERTENTANGAN-PERTENTANGAN SOSIAL DAN INTEGRASI MASYARAKAT

A. Perbedaan Kepentingan Kepentingan adalah dasar dari timbulnya tingkah laku individu. Dengan berpegang kepada prinsip bahwa tingkah laku individu merupakan cara atau alat dalam memenuhi kepentingannya, maka kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh individu didalam masyarakat pada hakikatnya merupakan manifestasi pemenuhan dari kepentingan tersebut. Pada umumnya secara psikologis ada 2 jenis kepentingan yaitu : a) Memenuhi kebutuhan biologis b) Memenuhi kebutuhan sosial/psikologis Perbedaan-perbedaan tersebut disebabkan oleh 2 faktor yaitu, faktor pembawaan dan lingkungan sosial sebagai komponen utama bagi terbentuknya keunikan individu dalam hal kepentingannya meskipun dengan lingkungan yang sama. Perbedaan kepentingan ini antara lain berupa : a) b) c) d) e) f) g) h) Kepentingan individu untuk memperoleh kasih sayang Kepentingan individu untuk memperoleh harga diri Kepentingan individu untuk memperoleh penghargaan yang sama Kepentingan individu untuk memperoleh prestasi dan posisi Kepentingan individu untuk dibutuhkan oleh orang lain Kepentingan individu untuk memperoleh kedudukan didalam kelompoknya Kepentingan individu untuk memperoleh rasa aman dan perlindungan diri Kepentingan individu untuk memperoleh kemerdekaan diri

Perbedaan kepentingan ini tidak secara langsung menyebabkan terjadinya konflik tetapi mengenal beberapa fase yaitu : a) Fase disorganisasi b) Fase disintegrasi(konflik) Walter T.Martin dan kawan-kawannya mengemukakan tahapan pertama disintegrasi sebagai berikut : a) Ketidaksepahaman anggota kelompok tentang tujuan sosial yang hendak dicapai yang semula menjadi pegangan kelompok b) Norma-norma sosial tidak membantu anggota masyarakat lagi dalam mencapai tujuan yang disepakati

11

c) Norma-norma dalam kelompok dan yang dihayati oleh kelompok bertentangan satu sama lain d) Sanksi sudah menjadi lemah bahkan sanksi tidak dilaksanakan dengan konsekuen lagi e) Tindakan anggota masyarakat sudah bertentangan dengan norma kelompok B. Prasangka, Diskriminasi, & Ethosentrisme 1. Prasangka dan diskriminasi Prasangka dan diskriminasi merupakan dua hal yang ada relevansinya. Kedua tindakan tersebut dapat merugikan pertumbuhan, perkembangan dan bahkan integrasi masyarakat. Dari peristiwa kecil yang menyangkut dua orang dapat meluas dan menjalar, melibatkan sepuluh orang, golongan atau wilayah disertai yindakan kekerasan dan destruktif yang merugikan. Prasangka mempunyai dasar pribadi, di mana setiap orang memilikinya, sejak masih kecil unsur sikap bermusuhan sudah tampak. Melalui proses belajar dan semakin besarnya manusia, membuat sikap cenderung untuk membeda-bedakan. Perbedaan yang secara sosial silaksanakan antar lembaga atau kelompok dapat menimbulkan prasangka melalui hubungan pribadi akan menjalar, bahkan melembaga (turun menurun) sehingga tidak heran apabila prasangka ada pada mereka yang tergolong cendekiawan, sarjana, pemimpin atau negarawan. Jadi prasangka pada dasarnya pribadi dan dimiliki bersama. Oleh karena itu perlu mendapatkan perhatian dengan seksama, mengingat bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa atau masyarakat multi etnik. Suatu hal yang saling berkaitan, apabila seorang individu mempunyai prasangka rasial biasanya bertindak diskriminatif terhadap ras yang diprasangkainya. Tetapi dapat pula yang bertindak diskriminatif tanpa didasari prasangka, dan sebaliknya seorang yang berprasangka dapat saja bertindak tidak diskriminatif. Perbedaan terpokok antara prasangla dan diskriminatif ialah bahwa prasangka menunjuk pada aspek sikap sedangkan diskriminatif menunjuk pada tindakan. Menurut Morgan (1966) sikap ialah kecenderungan untuk berespons baik secara positif atau negatif terhadap orang, objek atau situasi. Sikap seseorang baru diketahui bila ia sudah bertindak atau bertingkah laku. Oleh karena itu bisa saja bahwa sikap bertentangan dengan tingkah laku atau tindakan. Jadi prasangka merupakan kecenderungan yang tidak tampak, dan sebagai tindak lanjutnya timbul tindakan, aksi yang sifatnya realistis. Dengan demikian diskriminatif merupakan tindakan yang realistis, sedangkan prasangka tidak realistis dan hanya diketahui oleh individu masing-masing.

12

2. Ethnosentrisme

Setiap suku bangsa atau ras tertentu akan memiliki ciri khas kebudayaan, yang sekaligus menjadi kebanggaan mereka. Suku bangsa, ras tersebut dalam kehidupan sehari-hari bertingkah laku sejalan dengan norma-norma, nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaan tersebut. Suku bangsa, ras tersebut cenderung menganggap kebudayaan mereka sebagai suatu yang prima, riil, logis, sesuai dengan kodrat alam dan sebagainya. Hal tersebut dikenal sebagai ethnosentrisme, yaitu suatu kecenderungan yang menganggap nilai-nilai dan normanorma kebudayaannya sendiri sebagai sesuatu yang prima, terbaik, mutlak, dan dipergunakannya sebagai tolok ukur untuk menilai dan membedakannya dengan kebudayaan lain.

C. Pertentangan-pertentangan Sosial/Ketegangan Dalam Masyarakat Istilah konflik cenderung menimbulkan respon-respon yang bernada ketakutan atau kebencian, padahal konflik itu sendiri merupakan suatu unsur yang penting dalam pengembangan dan perubahan. Konflik dapat memberikan akibat yang merusak terhadap diri seseorang, terhadap anggota-anggota kelompok lainnya, maupun terhadap masyarakat. Sebaliknya konflik juga dapat membangun kekuatan yang konstruktif dalam hubungan kelompok. Jonflik merupakan suatu sifat dan komponen yang penting dari proses kelompok, yang terjadi melalui cara-cara yang digunakan orang untuk berkomunikasi satu dengan yang lain. Konflik mengandung suatu pengertian tingkah laku yang lebih luas dari pada yang biasa dibayangkan orang dengan mengartikannya sebagai pertentangan yang kasar dan perang. Dasar konflik berbeda-beda. Dalam hal ini terdapat tiga elemen dasar yang merupakan ciriciri dari situasi konflik yaitu : 1. terdapatnya dua atau lebih unit-unit atau bagian-bagiam yang terlibat dalam konflik 2. unit-unit tersebut mempunyai perbedaan-perbedaan yang tajam dalam kebutuhankebutuhan, tujuan-tujuan, masalah-masalah, nilai-nilai, sikap-sikap, maupun gagasangagasan. 3. terdapatnya interaksi di antara bagian-bagian yang mempunyai perbedaan-perbedaan tersebut. Konflik merupakan suatu tingkah laku yang dibedakan dengan emosi-emosi tertentu yang sering dihubungkan dengannya, misalnya kebencian atau permusuhan. Konflik dapat terjadi pada lingkungan yang paling kecil yaitu individu, sampai pada ruang lingkup yang paling besar yaitu masyarakat :

13

1. Pada taraf di dalam diri seseorang, konflik menunjuk kepada adanya pertentangan, ketidakpastian, atau emosi-emosi dan dorongan-dorongan yang antagonistik dalam diri seseorang 2. Pada taraf dalam kelompok, konflik-konflik ditimbulkan dari konflik-konflik yang terjadi di dalam diri individu, dari perbedaan-perbedaan pada para anggota kelompok dalam tujuantujuan, nilai-niali dan norma-norma, motivasi-motivasi mereka untuk menjadi anggotaanggota kelompok dan minat-minat mereka 3. Pada taraf masyarakat, konflik juga bersumber pada perbedaan di antara nilai dan norma kelompok dengan nilai-nilai dan norma-norma kelompok lain di dalam masyarakat tempat kelompok yang bersangkutan berada. Perbedaan dalam tujuan, niali, dan norma serta minat; disebabkan oleh adanya perbedaan pengalaman hidup dan simber-sumber sosio ekonomis dalam suatu kebudayaan tertentu dengan yang ada di da;am kebudayaan-kebudayaan yang lain. Para penulis seperti Berstein, Coser, Follett, Simmel, Wilson, dan ryland; memandang konflik sebagai sesuatu yang tidak dapat dicegah timbulnya, yang secara potensial dapat mempunyai kegunaan yang fungsional dan konstrutif; namun sebaliknya, dapat pula tidak bersifat fungsional dan destruktif (Bernstein, 1965). Konflik mempunyai potensi untuk memberikan pengaruh yang positif maupun negatif dalam berbagai taraf interaksi manusia. D. Integrasi Sosial & Nasional Masyarakat Indonesia digolongkan sebagai masyarakat majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan golongan sosial yang dipersatukan oleh kesatuan nasional yang berwujudkan Negara Indonesia. Masyarakat majemuk dipersatukan oleh sistem nasional yang mengintegrasikannya melalui jaringan-jaringan pemerintahan, politik, ekonomi, dan sosial. Masalah besar yang dihadapi Indonesia setelah merdeka adalah integrasi diantara masyarakat yang majemuk. Integrasi bukan peleburan, tetapi keserasian persatuan. Masyarakat majemuk tetap berada pada kemajemukkannya, mereka dapat hidup serasi berdampingan (Bhineka Tunggal Ika), berbeda-beda tetapi merupakan kesatuan. Adapun hal-hal yang dapat menjadi penghambat dalam integrasi: 1. Tuntutan penguasaan atas wilayah-wilayah yang dianggap sebagai miliknya 2. Isu asli tidak asli, berkaitan dengan perbedaan kehidupan ekonomi antar warga negara Indonesia asli dengan keturunan (Tionghoa,arab) 3. Agama, sentimen agama dapat digerakkan untuk mempertajam perbedaan kesukuan 4. Prasangka yang merupakan sikap permusuhan terhadap seseorang anggota golongan tertentu
14

Integrasi Sosial adalah merupakan proses penyesuaian unsur-unsur yang berbeda dalam masyarakat menjadi satu kesatuan. Unsur yang berbeda tersebut meliputi perbedaan kedudukan sosial,ras, etnik, agama, bahasa, nilai, dan norma. Syarat terjadinya integrasi sosial antara lain: 1. Anggota masyarakat merasa bahwa mereka berhasil saling mengisi kebutuhan mereka 2. Masyarakat berhasil menciptakan kesepakatan bersama mengenai norma dan nilai sosial yang dilestarikan dan dijadikan pedoman 3. Nilai dan norma berlaku lama dan tidak berubah serta dijalankan secara konsisten Integrasi Nasional merupakan masalah yang dialami semua negara di dunia, yang berbeda adalah bentuk permasalahan yang dihadapinya. Menghadapi masalah integritas sebenarnya tidak memiliki kunci yang pasti karena latar belakang masalah yang dihadapi berbeda, sehingga integrasi diselesaikan sesuai dengan kondisi negara yang bersangkutan, dapat dengan jalan kekerasan atau strategi politik yang lebih lunak. Beberapa masalah integrasi internasional, antara lain: 1.perbedaan ideologi 2. kondisi masyarakat yang majemuk 3. masalah teritorial daerah yang berjarak cukup jauh 4. pertumbuhan partai politik Adapun upaya-upaya yang dilakukan untuk memperkecil atau menghilangkan kesenjangan itu, antara lain: 1. mempertebal keyakinan seluruh warga Negara Indonesia terhadap Ideologi Nasional 2. membuka isolasi antar berbagai kelompok etnis dan antar daerah/pulau dengan membangun saran komunikasi, informasi, dan transformasi 3. menggali kebudayaan daerah untuk menjadi kebudayaan nasional 4. membentuk jaringan asimilasi bagi kelompok etnis baik pribumi atau keturunan asing

15

BAB VI

: KEADILAN, KETIDAK ADILAN DAN HUKUM

A. Pengertian Keadilan & Hukum Ketidakadilan Menurut Socrates : Keadilan adalah, bilamana pemerintah dengan rakyatnya terdapat saling pengertian yang baik, bila para penguasa sudah mematuhi dan mempraktekkan ketentuan-ketentuan hukum, dan bila pimpinan Negara bersikap bijaksana dan member contoh kehidupan yang baik, lebih tegasnya, bilamana setiap warga sudah dapat merasakan bahwa pihak pemerintah (semua pejabat) sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. Menurut Kong Hu Cu : Keadilan adalah porsi/tempat yang sesuai dengan status/derajat seseorang. Menurut Aristotles : Keadilan adalah kelayakan dalam tindakan manusia.

B. Pengertian Hukum Menurut Utrecht : Hukum sebagai himpunan peraturan-peraturan (perintah dan larangan) yang mengurus tata tertib masyarakat dank arena itu harus ditaati oleh masyarakat itu. Menurut J.C.T.Simorangkir, SH dan Woerjono Sastropranoto : Hukum sebagai peraturan-peraturan yang memaksa, yang menentukan tingkah laku manusia dalam lingkungan masyarakat yang dibuat oleh badan-badan resmi yang berwajib, pelanggaran manusia terhadap peraturan-peraturan tadi berakibat diambilnya tindakan, yaitu dengan hukum tertentu. Hukum itu timbul apabila ada pertentangan atau bentrok antara kepentingan-kepentingan manusia selama tidak ada Conflict Of Human Interest.

C. Sumber-sumber Hukum 1. Undang-undang (Statue) 2. Kebiasaan (Costum) 3. Keputusan-keputusan Hakim (Yurisprudensi) 4. Traktat (Treaty) 5. Pendapat Sarjana Hukum

16

D. Pembagian Hukum 1. Menurut sumbernya Hukum Undang-Undang Hukum Kebiasaan Hukum Traktat Hukum Yurisprudensi 2. Menurut bentuknya Hukum Tertulis Hukum Tak Tertulis 3. Menurut tempat berlakunya Hukum Nasional Hukum Internasional Hukum Asing Hukum Gereja 4. Menurut tempat berlakunya Ius Constitutum (Hukum Positif) Ius Constituendum Hukum Asasi (Hukum Alam) 5. Menurut cara mempertahankan Hukum Material Hukum Formal (Hukum Proses/Hukum Acara) 6. Menurut sifatnya Hukum yang memaksa Hukum yang mengatur (pelengkap) 7. Menurut wujudnya Hukum Obyektif Hukum Subyektif 8. Menurut isinya Hukum Privat (Hukum Sipil) Hukum Publik (Hukum Negara)

17

BAB VII

: LEMBAGA KEMASYARAKATAN (LEMBAGA SOSIAL)

A. Pengertian Lembaga Kemasyarakatan 1. Pengertian Diantara para ahli/sarjana sosiologi, belum ada kata sepakat perihal istilah Indonesia yang tepat untuk sosial-institution. Beberapa istilah telah dikemukakan antara lain pranata Sosial dan bangunan Sosial. Dalam tulisan ini dipakai istilah Lembaga kemasyarakatan, oleh karena istilah ini lebih menunjuk sesuatu bentuk dan sekaligus juga mengandung pengertian pengertian yang abstrak perihal adanya norma-norma dan peraturan-paraturan tertentu yang menjadi ciri lembaga tersebut. Lembaga kemasyarakatan adalah himpunan norma-norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok didalam kehidupan masyarakat. Wujud yang kongkrit lembaga kemasyarakatan tersebut adalah asosiasi (Asosiation). Menurut Robert Maclver dan Charles H.Page mengartikan Lembaga kemasyarakatan sebagai tata cara atau prosedur yang telah diciptakan untuk mengatur hubungan antarmanusia yang berkelompok dalam suatu kelompok kemasyarakatan yang dinamakannya asosiasi. Contoh dari Lembaga Kemasyarakatan adalah Universitas sedangkan Universitas Indonesia ,Universitas Lampung, Universitas Sriwijaya dan lainlain merupakan contoh asosiasi. 2. Tujuan Lembaga Kemasyarakatan Tujuan Lembaga Kemasyarakatan diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Menjaga Keutuhan masyarakat 2. Pedoman dalam bertingkah laku dalam menghadapi masalah dalam masyarakat,terutama menyangkut kebutuhan pokok. 3. Merupakan pedoman sistem pengendalian sosial di masyarakat

B. Proses Pertumbuhan Lembaga Kemasyarakatan 1. Proses pertambahan lembaga kemasyarakatan Norma Norma masyarakat Norma-norma yang ada di dalam masyarakat mempunyai kekuatan mengikat yang berbeda-beda. Ada norma yang lemah, yang sedang sampai yang terkuat daya ikatnya. Ada empat pengertian norma yang memberikan pedoman bagi seseorang untuk bertingkah laku dalam masyarakat yaitu : 1. Cara (usage) menunjuk pada suatu bentuk perbuatan. 2. Kebiasaan (folkways) adalah perbuatan yang diulang-ulang dalam bentuk yang sama.
18

3. Tata kelakuan (mores) merupakan kebiasaan yang dianggap sebagai cara berperilaku dan diterima norma-norma pengatur. 4. Adat Istiadat (customs) adalah tata kelakuan yang kekal serta kuat integrasinya dengan pola-pola perilaku masyarakat. Ada sanksi penderitaan bila dilanggar. 2. Proses-proses yang terjadi dalam rangka pembentukannya sebagai lembaga kemasyarakatan adalah : a) Proses pelembagaan (institutionalization), yakni suatu proses yang dilewati oleh suatu norma kemasyarakatan yang baru untuk menjadi bagian dari salah satu lembaga kemasyarakatan. b) Norma- norma yang internalized artinya proses norma- norma kemasyarakatan tidak hanya berhenti sampai pelembagaan saja, tetapi mendarah daging dalam jiwa anggota anggota masyarakat. 3. Social Control (Pengendalian Social) Social Control adalah sistem atau proses yang dijalankan oleh masyarakat selalu disesuaikan dengan kaidah-kaidah yang berlaku dalam masyarakat, pngendalian social bisa bersifat : a) Pengendalian Preventif. Pengendalian preventif merupakan kontrol sosial yang dilakukan sebelum terjadinya pelanggaran atau dalam versi mengancam sanksi atau usaha pencegahan terhadap terjadinya penyimpangan terhadap norma dan nilai. Jadi, usaha pengendalian sosial yang bersifat preventif dilakukan sebelum terjadi penyimpangan. b) Pengendalian Represif. Pengendalian represif adalah pengendalian sosial yang dilakukan setelah terjadi pelanggaran dengan maksud hendak memulihkan keadaan agar bisa berjalan seperti semula dengan dijalankan di dalam versi menjatuhkan atau membebankan, sanksi. Pengendalian ini berfungsi untuk mengembalikan keserasian yang terganggu akibat adanya pelanggaran norma atau perilaku meyimpang. Untuk mengembalikan keadaan seperti semula, perlu diadakan pemulihan. Jadi, pengendalian disini bertujuan untuk menyadarkan pihak yang berperilaku menyimpang tentang akibat dari penyimpangan tersebut, sekaligus agar dia mematuhi norma-norma sosial. C. Ciri-ciri Lembaga Kemasyarakatan Menurut Gillin dan Gillin, lembaga kemasyarakatan mempunyai beberapa ciri umum,yaitu : a) Suatu lembaga kemasyarakatan adalah suatu organisasi pola-pola pemikiran dan polapola prilaku yang terwujud dalam aktivitas-aktivitas kemasyarakatan dan hasil-hasilnya. b) Suatu tingkat kekekalan tertentu merupakan ciri semua lembaga kemasyarakatan.
19

c) Lembaga kemasyarakatan mempunyai satu atau beberapa tujuan tertentu. d) Lembaga kemasyarakatan mempuyai alat-alat perlengkapan yang dipergunakan untuk memcapai tujuan lembaga yang bersangkutan. e) Lembaga bisanya juga merupakan ciri khas lembaga kemasyarakatan. f) Suatu lembaga kemasyarakatan mempunyai suatu tradisi tertulis atau yang tidak tertulis. D. Tipe-tipe Lembaga Kemasyarakatan Tipe-tipe Lembaga kemasyarakatan dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 1. Sudut perkembangannya. a) Crescive Institutions. b) Enacted Institutions. Grescive Institutions dan Enacted Institutions, disebut juga sebagai lembaga primer, merupakan lembaga-lembaga yang secara tidak sengaja tumbuh dari adapt istiadat masyarakat. 2. Sudut sistem nilai-nilai. a) Basic Institutions yang diterima masyarakat. b) Subsidiary Institutions. Basic Institutions dianggap sebagai lembaga kemasyarakatan yang sangat penting untuk memelihara dan mempertahankan tata tertib dalam masyarakat. 3. Sudut penerimaan masyarakat. a) Approved atau Social Sanctioned Institutions b) Unsanctioned Institutions Approved atau Social Sanctioned Institutions merupakan lembaga-lembaga yang diterima masyarakat seperti misalnya sekola, perusahaan dagang. Sebaliknya Unsanctioned Institutions yang ditolak masyarakat, walau kadang masyarakat tidak berhasil memberantasnya. Misalnya : Kelompok penjahat, pemeras,dan lain sebagainya. 4. Sudut fungsinya. a) Operative Institutions. b) Restricted Institutions. Operative Institutions berfungsi sebagai lembaga yang menghimpun pola- pola atau tata cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan, misalnya : lembaga industrialisasi. Restricted Institutions bertujuan untuk mengawasi adat istiadat yang tidak menjadi bagian mutlak lembaga itu sendiri. Contoh : Lembaga-lembaga hukum seperti kejaksaan, pengadilan dan lain sebagainya.

20

BAB VIII : INTERAKSI SOSIAL

A. Interaksi Sosial Definisi : 1. H.Booner interaksi sosial adalah hubungan antasa dua individu atau lebih, di mana kelakuan individu yang satu memengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya. 2. Gillin & Gillin : interaksi sosial adalah hubungan-hubungan antara orang-orang secara individual, antar kelompok orang, dan orang perorang dengan kelompok. 3. Interaksi sosial merupakan hubungan timbale balik antar individu dengan individu, antara kelompok dengan kelompok, antara individu dengan kelompok. B. Interaksi Sosial sebagai Faktor Utama dalam Kehidupan 1. Faktor Imitasi : Faktor ini dapat membawa seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah yang berlaku. Gabriel tarde yang beranggapan bahwa seluruh kehidupan sosial itu sebenarnya berdasarkan pada faktor imitasi saja. 2. Faktor sugesti : maksudnya adalah pengaruh psikis, dari diri sendiri dan orang lain, yang umumnya diterima tanpa adanya daya kritik. Terdapat 2 perbedaan dalam psikologi sugesti yaitu; autosugesti dan heterosugesti. 3. Faktor identifikasi : maksudnya dorongan untuk menjadi identik dengan orang lain ( sama) secara lahiriah dan batiniah. 4. Faktor simpati : merupakan perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang lain. Ia timbul atas dasar logis rasional, melainkan berdasarkan penilaian perasaan seperti juga pada proses identifikasi. C. Syarat-syarat Terjadinya Interaksi Sosial 1. Kontak sosial Kontak sosial yang positif adalah yang dapat mengarahkan pada suatu kerja sama, sedangkan kontak sosial yang negative dapat mengarahkan seseorang pada suatu pertentangan bahkan dapat menyebabkan tidak terjadinya interaksi sosial. Kontak sosial dapat terjadi dan berlangsung dalam 3 bentuk : antara orang perorang, antara orang perorang dengan suatu kelompok atau sebaliknya; dan antara kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya. 2. Komunikasi Merupakan proses menyampaikan pesan dari satu pihak ke pihak yang lain sehingga terjadi pengertian bersama. Disini ada dua pihak yang terlibat yaitu komunikator dan komunikasi.
21

D. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial Menurut Gillin & Gillin ada 2 macam proses sosial yang timbul sebagai akibat adanya interaksi sosial, yaitu : 1. Proses interaksi asosiatif Kerjasama terdiri dari 3 bentuk yaitu; bargaining, cooperation, dan coalition. Akomodasi terdiri dari; coercion, compromise, arbitration, mediation, conciliation, tolerantion, stelemate, dan adjudication. 2. Proses interaksi disosiatif Persaingan bersaing untuk mendapatkan keuntungan tertentu bagi dirinya dengan cara menarik perhatian atau mempertajam prasangka yang telah ada tanpa menggunakan kekerasan. Kontravensi kontravensi ditandai dengan adanya ketidakpastian terhadap diri seseorang, perasaan tidak suka yang disembunyikan dan kebencian terhadap keperibadian orang, akan tetapi gejala tersebut tidak sampai menjadi pertentangan atau pertikaian. Pertentangan terdiri dari bentuk-bentuk seperti; pertentangan peribadi, pertentangan rasional, pertentangan kelas sosial, dan pertentangan politik.

22