Anda di halaman 1dari 30

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Epidemiologi merupakan metode investigasi yang digunakan untuk

mendeteksi penyebab atau sumber dari penyakit, sindrom, kondisi atau resiko yang menyebabkan penyakit, cidera, cacat, atau kematian dalam suatu kelompok manusia. Dalam studi epidemiologi, ada dua kegiatan pokok dan terpisah yang harus dilakukan. Pertama adalah studi terhadap jumlah dan distribusi penyakit, kondisi, cedera, ketidakmampuan, dan kematian dalam populasi yang dilakukan dan dianalisis dengan mengkaji semua aspek waktu, tempat dan orang. Hal tersebut dikenal sebagai epidemiologi deskriptif. Kegiatan epidemiologi kedua sering dikatakan sebagai epidemiologi analitik yang harus menjawab pertanyaan kapan, dimana, dan siapa dalam semua investigasi. Pertanyaan kapan dijawab melalui penelitian terhadap semua aspek elemen waktu yang berhubungan dengan penyebab, kejadian luar biasa (KLB), penyebaran, distribusi, dan perjalanan penyakit serta kondisi. Selain itu, studi terhadap tempat kejadian juga penting untuk dikaji, sehingga dapat diketahui pengaruh dan interaksi di antara waktu dan tempat dari penyebab penyakit, KLB, penyebaran, dan distribusi dari suatu penyakit atau kejadian. Aspek siapa dipengaruhi oleh penyebaran, distribusi, dan perjalanan penyakit serta kondisi dan selalu diteliti secara mendalam bergantung pada banyaknya kerusakan yang

ditimbulkan penyakit tersebut pada kehidupan dan penderitaan manusia. Manusia memiliki berbagai pola perilaku dan keyakinan yang dapat dipengaruhi oleh tradisi, budaya, dan harapan sosial sampai ke suatu tingkat yang dapat menyebabkan penyebaran penyakit, meningkatkan kondisi dan kegiatan yang tidak sehat dalam keluarga, kelompok, dan populasi bahkan hingga menyebabkan terjadinya kematian yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Rentang pengalaman dan pajanan lingkungan yang didapat seseorang sepanjang hidupnya sangatlah luas dan beragam sehingga menghasilkan status kesehatan yang berbeda juga pada setiap orang atau kelompok populasi. Ketiga aspek di atas yaitu waktu, tempat, dan orang merupakan variabelvariabel/faktor resiko/ciri-ciri epidemiologi yang penting dipelajari untuk dapat menentukan upaya pencegahan dan penanggulangan terjadinya suatu penyakit. Oleh karena itu, makalah ini disusun untuk mempelajari dan membahas tentang faktor resiko dalam epidemiologi. B. Rumusan Masalah 1. Apakah pengertian faktor resiko dalam epidemiologi? 2. Apa saja faktor resiko yang berperan dalam epidemiologi? C. Tujuan 1. Untuk mengetahui dan memahami pengertian faktor resiko dalam

epidemiologi. 2. Untuk mengetahui dan memahami faktor resiko yang berperan dalam epidemiologi.

D. Manfaat 1. Agar mahasiswa dapat mengenali faktor resiko penyakit yang ada di masyarakat 2. Agar petugas kesehatan lebih sigap dalam mendeteksi terjadinya masalah kesehatan berdasarkan faktor resiko 3. Agar petugas kesehatan dapat menentukan tindakan pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN FAKTOR RESIKO Faktor resiko adalah karakteristik, tanda, atau kumpulan gejala penyakit yang secara statistik berhubungan dengan peningkatan kejadian kasus baru berikutnya yang dialami oleh individu atau sekelompok masyarakat. Epidemiologi memandang faktor resiko sebagai variabel-variabel atau ciriciri epidemiologi yang terdapat pada kelompok penduduk tertentu pada suatu waktu dan tempat tertentu serta agent yang menyebabkan terjadinya penyakit.
B. FAKTOR RESIKO DALAM EPIDEMIOLOGI

1. Waktu (Time) Variabel waktu (time) merupakan elemen dasar dalam ukuran epidemiologi dan sebagai pertimbangan dasar dalam investigasi yang digunakan untuk mengetahui penyebab penyakit, ketidakmampuan, dan kondisi. Variabel waktu harus diperhatikan ketika melakukan analisis

morbiditas dalam studi epidemiologi karena pencatatan dan laporan insidensi dan prevalensi penyakit selalu didasarkan waktu, apakah mingguan, bulanan atau tahunan. Mempelajari morbiditas berdasarkan waktu penting untuk mengetahui hubungan antara waktu dan insiden penyakit atau fenomena lain, misalnya

penyebaran penyakit saluran pernapasan yang terjadi pada waktu malam hari karena terjadinya perubahan kelembaban udara atau kecelakaan lalu lintas yang sebagian besar terjadi pada waktu malam hari. Pengetahuan tentang penyebaran masalah kesehatan menurut waktu akan membantu dalam memahami: a. Kecepatan Perjalanan Penyakit Perjalanan penyakit dikatakan berlangsung cepat apabila suatu penyakit dalam waktu yang singkat menyebar dengan pesat. b. Lama Terjangkitnya Suatu penyakit Lama terjangkitnya suatu penyakit dapat pula diketahui dengan memanfaatkan keterangan tentang waktu terjangkitnya penyakit dan keterangan tentang waktu lenyapnya penyakit tersebut. Penyebaran masalah kesehatan menurut waktu dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu: a. Sifat Penyakit yang Ditemukan Secara umum disebutkan bahwa penyakit infeksi lebih cepat menyebar daripada penyakit bukan infeksi. Hal yang berperan di sini adalah sifat bibit penyakit yang ditemukan yang dibedakan atas patogenisiti, virulensi, antigenisiti, dan infektiviti.

b. Keadaan Tempat Terjadinya Penyakit Hal yang paling penting pada penyakit infeksi adalah keadaan yang menyangkut ada tidaknya reservoir bibit penyakit, yang jika dikaitkan dengan keadaan tempat terjangkitnya penyakit disebut dengan nama environmental reservoir yakni lingkungan alam di sekitar manusia. c. Keadaan Penduduk Penyebaran masalah kesehatan menurut waktu juga dipengaruhi oleh keadaan penduduk, baik yang menyangkut ciri-ciri manusianya ataupun yang menyangkut jumlah dan penyebaran penduduk tersebut. d. Keadaan Pelayanan Kesehatan yang Tersedia Jika keadaan pelayanan kesehatan baik, maka penyebaran suatu masalah kesehatan dapat dicegah sehingga waktu terjangkitnya penyakit dapat diperpendek. Dalam analisis epidemiologis, hubungan antara waktu dan penyakit penting dipelajari karena perubahan-perubahan penyakit menurut waktu menunjukkan perubahan-perubahan faktor etiologis. Dilihat dari lamanya waktu terjadinya perubahan kesakitan, maka variabel waktu dibedakan menjadi :

a. Variasi Jangka Pendek Dalam variasi jangka pendek, pola perubahan angka kesakitan berlangsung hanya dalam beberapa jam, hari, minggu, dan bulan, meliputi :
1) Sporadis

: Kejadian ini relatif berlangsung singkat, umumnya

berlangsung di beberapa tempat dan pada waktu pengamatan masing-masing kejadian tidak saling berhubungan, misalnya penyebaran penyakit DHF
2) Endemis

: Penyakit menular yang terus menerus terjadi di suatu

tempat atau prevalensi suatu penyakit yang biasanya terdapat di suau tempat.
3) Pandemis

: Penyakit yang berjangkit/menjalar ke beberapa negara

atau seluruh benua, misalnya: Flu (1914), Kholera (1940), AIDS (1980), SARS (2003).
4) Epidemis/Wabah

: Kenaikan kejadian suatu penyakit yang

berlangsung secara cepat dan dalam jumlah yang secara bermakna melebihi insidens yang diperkirakan. Berdasarkan sifatnya, dikenal 2 macam epidemis, yaitu :
a)

Common Source Epidemis :

letusan penyakit yang disebabkan oleh terpaparnya sejumlah orang

dalam suatu kelompok secara menyeluruh dan terjadi dalam waktu relatif singkat.
b)

Propagated/Progresive

Epidemis : epidemis yang terjadi karena adanya penularan dari orang ke orang sehingga waktu lebih terjadinya lebih lama dan masa tunas juga lebih lama.

Berdasarkan cara transmisinya, epidemis/wabah dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :


a)

Epidemis dengan penyebaran

melalui media umum : lewat makanan, udara pernafasan, atau intravena/subcutan.


b)

Epidemis dengan penjalaran oleh transfer serial dari

pejamu ke pejamu : lewat rute pernafasan, anal-oral, genitalia, debu, vector,dsb. Variasi jangka pendek ini memberikan petunjuk bahwa : 1) Penderita-penderita terserang penyakit yang sama dalam waktu

bersamaan atau hamper bersamaan. 2) Waktu inkubasi rata-rata pendek.

b. Variasi Berkala 1) Kecenderungan Sekular (Secular Trends) Kecendrungan sekuler ialah terjadinya perubahan penyakit atau KLB dalam waktu yang lama. Lamanya waktu dapat bertahuntahun sampai beberapa dasawarsa. Kecenderungan sekuler dapat terjadi pada penyakit menular maupun penyakit infeksi yang tidak menular, misalnya terjadinya pergeseran pola penyakit menular ke penyakit yang tidak menular yang terjadi di negara maju pada beberapa dasawarsa terakhir. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh faktor faktor resiko berupa jumlah suspectable atau exposure (baik kuantitas maupun kualitasnya). Kelompok faktor tersebut biasanya bersifat biologis, misalnya : pengobatan lebih baik, perubahan adat kebiasaan yang

mengakibatkan perubahan exposure, perubahan exposure karena perubahan lingkungan, perubahan imunitas kelompok karena adanya migrasi dalam jumlah besar ataupun adanya program imunisasi dan peningkatan gizi. Adapun kelompok faktor yang bersifat non-biologis, misalnya : perbaikan UU, pelayanan kesehatan yang baik, peningkatan surveilans, dll.

10

Pengetahuan tentang perubahan tersebut dapat digunakan untuk meramalkan puncak kejadian/insidens,merencanakan upaya

penanggulangan penyakit, penilaian keberhasilan upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit yang sudah dikerjakan dengan membandingkan tinggi puncak insidens sebelum dan sesudah penanggulangan serta unuk mengetahui perubahan yang terjadi pada mortalitas. Dalam mempelajari kecenderungan sekuler tentang mortalitas, harus dikaitkan dengan sejauh mana perubahan insiden dan sejauh mana perubahan tersebut menggambarkan kelangsungan hidup penderita. Angka kematian akan sejalan dengan angka insiden (insidence rate) pada penyakit yang fatal dan bila kematian terjadi tidak lama setelah diagnosis, misalnya karsinoma paru-paru, karena memenuhi kriteria di atas. 2) Variasi Siklik Variasi siklik ialah terulangnya kejadian penyakit setelah beberapa tahun, tergantung dari jenis penyakitnya. Perubahan jumlah insidens banyak dipengaruhi oleh faktor resiko, berupa

11

perubahan imunitas kelompok karena bertambahnya kelompok penduduk yang suspectible karena kelahiran. Terdapat jenis penyakit dengan perubahan berkala yang berlangsung setiap 2-3 tahun, misalnya epidemi campak, namun ada juga yang lebih panjang intervalnya. Apabila imunitas suatu kelompok penduduk dapat ditingkatkan, misalnya dengan mengurangi jumlah

suspectible melalui program imunisasi, maka akan terlihat penurunan insidens dan perubahan berkala yang terjadi berlangsung dengan interval yang panjang. Variasi siklik biasanya terjadi pada penyakit menular karena penyakit non infeksi tidak mempunyai variasi siklik. 3) Variasi Musim Variasi musim ialah terulangnya perubahan frekuensi insidensi dan prevalensi penyakit yang terjadi dalam 1 tahun. Dalam mempelajari morbiditas dan mortalitas, variasi musim merupakan salah satu hal yang sangat penting karena siklus penyakit terjadi sesuai dengan perubahan musim dan berulang setiap tahun. Variasi musim sangat penting dalam menganalisis data epidemiologi tentang kejadian luar biasa untuk menentukan peningkatan insidensi suatu penyakit yang diakibatkan variasi

12

musim atau memang terjadinya epidemi. Bila adanya variasi musim tidak diperhatikan, kita dapat menarik kesimpulan yang salah tentang timbulnya KLB. Disamping itu, pengetahuan tentang variasi musim juga dibutuhkan pada penelitian epidemiologi karena penelitian yang dilakukan pada musim yang berbeda akan menghasilkan frekuensi distribusi penyakit yang berbeda pula. Penyakit-penyakit yang mempunyai variasi musim antara lain: diare, influenza, dan tifus abdominalis. Beberapa ahli memasukkan variasi musim ke dalam variasi siklik karena terjadinya berulang, tetapi di sini dipisahkan karena pada variasi musim, terulangnya perubahan insidensi penyakit dalam waktu yang pendek sesuai dengan perubahan musim, sedangkan pada variasi siklik fluktuasi perubahan insiden penyakit terjadi lebih lama yaitu suatu penyakit dapat terulang 1 atau 2 tahun sekali. 4) Variasi Random Variasi random diartikan sebagai terjadinya epidemi yang tidak dapat diramalkan sebelumnya, misalnya epidemi yang terjadi

13

karena adanya bencana alam seperti banjir, tsunami, dan gempa bumi. 2. Tempat (Place) Pengetahuan tentang tempat atau lokasi KLB atau lokasi penyakitpenyakit endemis sangat dibutuhkan ketika melakukan penelitian dan mengetahui sebaran berbagai penyakit di suatu wilayah sehingga dari keterangan yang diperoleh akan diketahui: a. Jumlah dan jenis masalah kesehatan yang ditemukan di suatu daerah. b. Hal-hal yang perlu dilakukan untuk mengatasi masalah kesehatan di suatu daerah. c. Keterangan tentang faktor penyebab timbulnya masalah kesehatan di suatu daerah. Hal yang sangat berguna dalam penelitian epidemiologi adalah penempatan penyakit, kondisi, pengklasterannya pada peta, serta perangkat lainnya untuk menempatkan berbagai kasus penyakit. Hal tersebut penting karena KLB penyakit tidak dapat terhenti total jika si pejamu berpindah-pindah tempat. Oleh karena itu setiap kasus dan sumber harus ditentukan letaknya. Perbandingan pola penyakit sering dilakukan antara :

14

a. Batas-batas daerah pemerintahan b. Kota dan pedesaan c. Daerah atau wilayah berdasarkan batas-batas alam d. Negara-negara
e. Regional

Batas suatu wilayah dapat ditentukan berdasarkan geografisnya yang meliputi : alamiah, administratif atau fisik, institusi, dan instansi. Dengan batas alamiah dapat dibedakan negara yang beriklim tropis, subtropis, dan negara dengan empat musim. Hal ini penting karena dengan adanya perbedaan tersebut mengakibatkan perbedaan dalam pola penyakit baik distribusi frekuensi penyakit maupun jenis penyakit. Dari batas administratif dapat ditentukan batas propinsi, kabupaten, kecamatan atau desa dengan sungai, jalan kereta api, jembatan dan lainnya sebagai batas fisik. Batas institusi dapat berupa industri, sekolah atau kantor, dan lainnya sesuai dengan timbulnya masalah kesehatan. Contoh kejadian penyakit berdasarkan tempat yaitu:
a. TBC, pada daerah penduduk padat dengan sosial ekonomi rendah b. Cholera, pada daerah penduduk padat dengan linkungan jelek c. Asbestosis , pada pekerja pabrik asbes.

15

Penyebaran masalah kesehatan menurut tempat, secara umum terdiri dari: a. Penyebaran satu wilayah Masalah kesehatan hanya ditemukan di satu wilayah saja. Batasan wilayah yang dimaksudkan tergantung dari sistem kepemerintahan yang dianut. Misalnya satu kecamatan saja, satu kelurahan saja, dsb. Pembagian menurut wilayah yang sering dipergunakan adalah desa dan kota. b. Penyebaran beberapa wilayah Penyebaran beberapa wilayah tergantung dari sistem kepemerintahan yang dianut. Misalnya beberapa kecamatan saja, beberapa kelurahan saja, dsb. c. Penyebaran satu negara (nasional) Masalah kesehatan ditemukan di semua wilayah negara tersebut. d. Penyebaran beberapa negara (regional) Masalah kesehatan dapat menyebar ke beberapa negara. Masuk atau tidaknya suatu penyakit ke suatu negara dipengaruhi oleh faktor :

16

1) Keadaan geografis negara, apakah ditemukan keadaan-keadaan

geografis tertentu yang menyebabkan suatu penyakit dapat terjangkit atau tidak di negara tersebut. 2) Hubungan komunikasi yang dimiliki, apakah letak negara tersebut berdekatan dengan negara yang terjangkit penyakit, bagaiman sistem transportasi antar negara, hubungan antar penduduk, apakah egara tersebut terbuka untuk penduduk yang berkunjung dan menetap, dsb. 3) Peraturan perundangan yang berlaku, khususnya dalam bidang kesehatan. e. Penyebaran banyak negara (internasional) Masalah kesehatan ditemukan di banyak negara, yang pada saat ini sering terjadi karena adanya kemajuan sistem komunikasi dan transportasi . 3. Orang (Person) Studi epidemiologi umumnya berfokus pada beberapa karakteristik demografi utama dari aspek manusia yaitu umur, jenis kelamin, ras/etnik, status perkawinan, pekerjaan, dan lain-lain. a. Umur

17

Variabel umur merupakan hal yang penting karena semua rate morbiditas dan rate mortalitas yang dilaporkan hampir selalu berkaitan dengan umur. Umur termasuk variabel penting dalam mempelajari suatu masalah kesehatan karena:
1) Berkaitan dengan daya tahan tubuh

Pada umumnya daya tahan tubuh orang dewasa lebih kuat daripada bayi dan anak-anak.
2) Berkaitan dengan ancaman terhadap kesehatan

Orang dewasa memiliki kemungkinan menghadapi ancaman penyakit lebih berat dari pada anak-anak karena pekerjaan yang dimilikinya.
3) Berkaitan dengan kebiasaan hidup.

Orang dewasa memiliki kemungkinan lebih besar untuk terkena penyakit akibat kesalahan kebiasaan hidup dibandingkan dengan anakanak. Dalam penelitian epidemiologi, variabel umur berguna untuk menunjukkan adanya perbedaan penyebaran penyakit di setiap kelompok umur yang disebabkan oleh:

18

1) Adanya faktor tertentu pada kelompok umur tersebut yang

menyebabkan mereka mudah terserang, misalnya campak pada anakanak karena kurangnya/tidak adanya kekebalan terhadap penyakit campak.
2) Adanya faktor tertentu pada kelompok umur lain yang menyebabkan

mereka sulit terserang. Misalnya campak jarang ditemukan pada orang dewasa karena orang dewasa memiliki kekebalan terhadap penyakit campak.
3) Adanya peristiwa tertentu yang pernah dialami oleh kelompok umur

tertentu, misalnya TBC paru banyak ditemukan pada penduduk berumur 20 tahun ke atas karena imunisasi BCG baru berjalan baik sejak 20 tahun yang lalu.

HUBUNGAN UMUR DENGAN MORTALITAS Walaupun secara umum kematian dapat terjadi pada setiap golongan usia tetapi dari berbagai catatan diketahui bahwa frekuansi kematian pada setiap golongan usia berbeda-beda, yaitu kematian tertinggi terjadi

19

pada golongan umur 0-5 tahun dan kematian terendah terletak pada golongan umur 15-25 tahun yang akan meningkat lagi pada umur 40 tahun ke atas. Dari gambaran tersebut dapat dikatakan bahwa secara umum kematian akan meningkat dengan bertambahnya usia. Hal ini disebabkan berbagai faktor, yaitu pengalaman terpapar oleh faktor penyebab penyakit, faktor pekerjaan, kebiasaan hidup atau terjadinya perubahan dalam kekebalan.

HUBUNGAN UMUR DENGAN MORBIDITAS Pada hakikatnya suatu penyakit dapat menyerang setiap orang pada semua golongan umur, tetapi ada penyakit-penyakit tertentu yang lebih banyak menyerang golongan usia tertentu. Penyakit-penyakit kronis mempunyai kecenderungan meningkat dengan bertambahnya usia, sedangkan penyakit-penyakit akut tidak mempunyai suatu

kecenderungan yang jelas. Anak berumur 1-5 tahun lebih banyak terkena infeksi saluran pernapasan bagian atas (ISPA) disebabkan perlindungan kekebalan yang diperoleh dari ibu yang melahirkannya hanya sampai pada 6 bulan pertama setelah melahirkan, sedangkan setelah itu kekebalan menghilang dan ISPA mulai menunjukkkan peningkatan.

20

Sebelum ditemukan vaksin, penyakit-penyakit seperti marbolo, varisela, dan parotis banyak terjadi pada anak-anak berumur muda, tetapi setelah program imunisasi dijalankan, umur penderita bergeser ke umur yang lebih tua. Walaupun program imunisasi telah lama dijalankan di Indonesia, tetapi karena kesadaran dan pengetahuan masyarakat masih rendah terutama di daerah pedesaan, maka sering kali target cakupan imunisasi tidak tercapai yang berarti masih banyak anak atau bayi yang tidak mendapatkan imunisasi. Gambaran ini tidak hanya terjadi di negara-negara berkembang seperti Indonesia, tetapi terjadi juga di negara maju. Penyakit kronis seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, dan karsinoma lebih banyak menyerang orang dewasa dan lanjut usia, sedangkan penyakit kelamin, AIDS, kecelakaan lalu lintas,

penyalahgunaan obat terlarang banyak terjadi pada golongan usia produktif yaitu remaja dan dewasa. Hubungan antara usia dan penyakit tidak hanya pada frekuensinya saja, tetapi pada tingkat beratnya penyakit, misalnya Staphilococcus dan Eschericia coli akan menjadi lebih berat bila menyerang bayi daripada golongan umur lain karena bayi masih sangat rentan terhadap infeksi.

21

HUBUNGAN

TINGKAT

PERKEMBANGAN

MANUSIA

DENGAN MORBIDITAS Dalam perkembangan secara alamiah, manusia mulai dari sejak dilahirkan hingga akhir hayatnya senantiasa mengalami perubahan baik fisik maupun psikis. Secara garis besar, perkembangan manusia secara alamiah dapat dibagi menjadi beberapa fase yaitu fase bayi dan anak-anak, fase remaja dan dewasa muda, fase dewasa dan lanjut usia. Dalam setiap fase perkembangan tersebut, manusia mengalami perubahan dalam pola distribusi dan frekuensi morbiditas dan mortalitas yang disebabkan terjadinya perubahan dalam kebiasaan hidup, kekebalan, dan faal. b. Jenis Kelamin Secara umum, setiap penyakit dapat menyerang manusia baik lakilaki maupun perempuan, tetapi pada beberapa penyakit terdapat perbedaan frekuensi antara laki-laki dan perempuan. Survei luar negeri menunjukkan bahwa angka kesakitan lebih tinggi pada kalangan waita, sedangkan angka kematian lebih tinggi pada pria pada semua golongan umur. Hal ini antara lain diduga disebabkan oleh faktor keturunan, perbedaan hormonal, faktor lingkungan (laki-laki lebih banyak menghisap rokok, minum minuman keras, dll) sehingga kematian lebih banyak terjadi pada laki-laki. Sebab-sebab adanya angka kesakitan

22

yang

lebih

tinggi

di

Amerika

Serikat

dihubungkan

dengan

kemungkinan bahwa wanita lebih bebas untuk mencari perawatan, sedangkan hal ini belum diketahui di Indonesia. Adanya perbedaan frekuensi antara laki-laki dan perempuan dapat disebabkan oleh perbedaan pekerjaan, kebiasaan hidup, kesadaran berobat, perbedaan kemampuan atau kriteria diagnostik beberapa penyakit, genetika atau kondisi fisiologis. Penyakit-penyakit yang lebih banyak menyerang laki-laki daripada perempuan antara lain: 1) Penyakit jantung koroner 2) Infark miokard 3) Karsinoma paru 4) Hernia inguinalis Penyakit-penyakit yang lebih banyak menyerang perempuan daripada laki-laki antara lain: 1) Tireotoksikosis 2) Diabetes melitus 3) Obesitas 4) Kolesisitis 5) Rematoid artritis

23

Selain itu, terdapat pula penyakit yang hanya menyerang laki-laki seperti karsinoma penis, orsitis, hipertrofi prostat, dan karsinoma prostat. Sedangkan penyakit yang hanya menyerang perempuan, yaitu penyakit yang berkaitan dengan organ tubuh perempuan seperti karsinoma uterus, karsinoma mamae, karsinoam serviks, kista ovarii, dan adneksitis.
c. Suku Bangsa/Golongan Etnik

Secara

umum

penyakit

yang

berhubungan

dengan

suku

bangsa/golongan etnik berkaitan dengan faktor genetik atau faktor lingkungan, misalnya: 1) Penyakit sickle cell anemia 2) Hemofilia 3) Kelainan biokimia sperti glukosa 6 fosfatase 4) Karsinoma lambung Disamping ketiga fakor yang telah diuraikan di atas terdapat pula faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap terjadinya penyakit berkaitan dengan suku bangsa/golongan etnik berkaitan, yaitu: sosial ekonomi, budaya/agama, jenis pekerjaan, paritas, golongan darah, infeksi alamiah, kepribadian.

24

d. Kelas Sosial Kelas sosial merupakan variabel yang sering dihubungkan dengan angka kesakitan atau kematian karena menggambarkan tingkat kehidupan seseorang yang ditentukan oleh pendidikan, pekerjaan, penghasilan, dan tempat tinggal sehingga angka kesakitan atau kematian tiap orang berbeda tergantung kelas sosialnya. Berdasarkan jenis pekerjaannya, kelas sosial dapat digolongkan menjadi 5 macam, yaitu : 1) Golongan I (professional) 2) Golongan II (menengah) 3) Golongan III (tenaga terampil) 4) Golongan IV (tenaga setengah terampil) 5) Golongan V (tidak mempunyai keterampilan) Penggolongan kelas social tersebut diterapkan di Negara Inggris, sedangkan di Indonesia penggolongan seperti ini sulit diterapkan karena jenis pekerjaan tidak member jaminan perbedaan dalam penghasilan. e. Sosial Ekonomi

25

Keadaan sosial ekonomi merupakan faktor yang mempengaruhi frekuensi distribusi penyakit tertentu, misalnya TBC, infeksi akut gastrointestinal, ISPA, anemia, malnutrisi, dan penyakit parasit yang banyak terdapat pada penduduk golongan sosial ekonomi rendah. Penyakit jantung koroner, hipertensi, obesitas, kadar kolesterol tinggi, dan infark miokard yang banyak terdapat pada penduduk golongan sosial ekonomi yang tinggi.

Adanya perbedaan penyebaran masalah kesehatan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu:
1) Perbedaan kemampuan ekonomi dalam mencegah atau mengobati

penyakit melaui pemanfaatan fasilitas kesehatan. 2) Perbedaan sikap hidup dan perilaku yang dimiliki.
f. Jenis Pekerjaan

Berbagai jenis pekerjaan akan berpengaruh pada frekuensi dan distirbusi penyakit. Hal ini disebabkan sebagian hidupnya dihabiskan di tempat pekerjaan dengan berbagai suasana dan lingkungan yang berbeda, misalnya pekerja pabrik asbes banyak menderita karsinoma paru dan gastrointestinal serta mesotelioma, sedangkan fibrosis paru

26

banyak terdapat pada pekerja yang terpapar oleh silikon bebas, atau zat radioaktif seperti petugas di bagian radiologi dan kedokteran nuklir. Pekerja di bidang pertambangan, konstruksi bangunan atau pertanian, dan pengemudi kendaraan bermotor mempunyai risiko yang lebih beasr untuk mengalami trauma atau kecelakaan dibandingkan dengan pekerja kantor. Pada dasarnya hubungan antara pekerjaan dengan masalah kesehatan disebabkan oleh: 1) Adanya risiko pekerjaan

Setiap pekerjaan mempunyai risiko tertentu sehingga penyakit yang diderita setiap orang akan berbeda pula. 2) Adanya seleksi alamiah dalam memilih pekerjaan

Seseorang yang bertubuh lemah secara naluriah menghindari macam pekerjaan fisik yang berat, demikian sebaliknya. 3) Adanya perbedaan status sosial ekonomi

Perbedaan pekerjaan menyebabkan perbedaan status sosial ekonomi sehigga menyebabkan perbedaan penyakit yang dideritanya. g. Budaya/Agama Dalam beberapa hal terdapat hubungan antara kebudayaan masyarakat atau agama dengan frekuensi penyakit tertentu, misalnya:

27

1)

Balanitis, karsnoma penis banyak terjadi pada orang yang tidak

melakukan sirkumsisi disertai dengan higiene perorangan yang jelek. 2) Trisinensis jarang terdapat pada orang Islam dan orang Yahudi

karena mereka tidak memakan babi.


3)

Kelainan fungsi hati jarang ditemukan pada pemeluk agama

Islam karena ajaran agama Islam tidak membenarkan meminum alkohol. h. Status Perkawinan Angka kesakitan dan kematian dinilai lebih banyak terjadi pada kelompok individu yang tidak kawin kemungkinan disebabkan oleh adanya kebiasaan hidup yang kurang sehat dari orang-orang yang tidak kawin.

i. Besarnya Keluarga Adanya sejumlah keluarga besar dengan penghasilan yang rendah merupakan faktor resiko yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas.

28

j. Paritas Terhadap hubungan antara tingkat paritas dengan penyakit-penyakit tertentu seperti : asma, bronchiale, ulkus peptikum, pilorik stenosis, dsb. k. Golongan Darah ABO Golongan darah juga dapat mempengaruhi insidensi suatu penyakit, misalnya orang-orang dengan golongan darah A meningkatkan risiko terserang karsinoma lambung, sedangkan golongan darah O lebih banyak terkena ulkus duodeni.

29

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
1. Faktor resiko merupakan variabel-variabel atau ciri-ciri epidemiologi yang

terdapat pada kelompok penduduk tertentu pada suatu waktu dan tempat tertentu serta agent yang menyebabkan terjadinya penyakit. 2. Faktor resiko yang berperan dalam epidemiologi meliputi waktu (time), tempat (place), dan orang (person).
3. Faktor

resiko

berguna

untuk

menentukan

upaya

pencegahan

dan

penanggulangan terjadinya suatu penyakit.

B. SARAN 1. Sebaiknya petugas kesehatan menguasai faktor resiko yang memungkinkan menimbulkan masalah kesehatan di masyarakat

30

2. Sebaiknya petugas kesehatan mampu melakukan deteksi dini terhadap munculnya masalah kesehatan berdasarkan faktor resiko

DAFTAR PUSTAKA Heru, H. 2009. Intisari Epidemiologi. Yogyakarta : Mitra Cendekia Press Sulistyaningsih. 2011. Epidemiologi Dalam Praktek Kebidanan. Yogyakarta : Graha Ilmu